MASK

"Semua orang memakai topeng untuk kau cintai.

Jika kupakai topeng burukrupa, akankah kau mencintaiku?"

.

.

CHAPTER 2

.

.

.

.

Kyungsoo berjalan memasuki bangunan apartemen sederhana di pinggiran kota. Menaiki tangga dengan susah payah sembari merapatkan jaket yang ia pinjam dari Chen. Ya Tuhan, kenapa pagi ini begitu dingin, runtuknya dalam hati. Sesampainya di depan pintu apartemen, tangan mungilnya menekan-nekan kombinasi angka hingga pintu otomatis terbuka. Luhan dengan baju rapi berkacak pinggang dengan wajah segarang mungkin, walaupun wajah cantiknya tidak akan bisa menampilkan wajah seram. Rambutnya di kucir serampangan, Kyungsoo tebak pasti Luhan sudah akan berangkat kuliah pagi.

"Darimana kau nona Do? Kau ke club lagi? Kau minum lagi?" Kyungsoo tak mengubris rentetan pertanyaan Luhan. Kyungsoo malah masuk ke kamar dan menguncinya.

"Berhentilah keluyuran tiap malam, kyung! Aku takut terjadi apa-apa denganmu...di luar sana banyak orang jahat. Angin malam tidak baik untuk kesehatanmu, apalagi kau pulang pagi...hawanya sangat dingin." Oceh Luhan di depan pintu kamar Kyungsoo.

"Berhentilah mengurusiku, Lu! Kau bukan ibuku!" teriak Kyungsoo dari dalam kamar.

"Memang, tapi aku temanmu. Sebelum berangkat kuliah makanlah sesuatu dulu. Di dapur ada tumis ikan dan sup, kau bisa menghangatkannya sendiri bukan?"

"Eumm.." Kyungsoo mengangguk lemas. Dari luar Luhan tak mendengarnya jadi Kyungsoo menggumpulkan energinya untuk berteriak lagi. "Terima kasih, Lu!"

"Kau mau kupanggilkan Chanyeol?" tawar Luhan merasa tidak enak sempat memarahi Kyungsoo. Kyungsoo tak menanggapi apapun, jadi ia putuskan menelpon Chanyeol untuk menemaninya. Jika pulang pagi seperti ini, berarti Kyungsoo sedang dalam mood jelek, satu-satunya tempat bercerita dan dapat menghiburnya adalah Chanyeol. Luhan tidak tahu hubungan apa yang mereka jalin, tapi dirinya berdoa semoga Chanyeol dapat memperbaiki Kyungsoo.

.

.

MASK

.

.

Chanyeol mendapat telepon dari Luhan untuk menemani Kyungsoo. Dirinya berniat ke apartemen Kyungsoo setelah perkulihannya selesai. Tapi ketika jam kuliahnya berakhir Kyungsoo lagi-lagi sudah di depan kelasnya. Chanyeol menghembuskan nafas pelan sarat akan kelegaan, setidaknya gadis ini masih bisa berdiri didepannya tanpa kurang apa pun. Yang sedikit aneh hanyalah rok yang ia gunakan, Kyungsoo tipe gadis yang memilih celana jeans agar memudahkannya berlarian kesana-kemari layaknya kucing kurang kerjaan yang menangkap kupu-kupu. Oh iya, kecuali ke club. Chanyeol sangat tahu kegemaran Kyungsoo memakai dress seksi saat ke club.

"Temani aku ke rumah sakit!" pinta Kyungsoo dengan suara serak.

Wajah Chanyeol berubah menjadi khawatir, jangan-jangan temannya ini sakit dan kesini bukan dengan cara berjalan melainkan merangkak. Chanyeol bergidik ngeri dengan pikirannya sendiri. "Kau sakit?"

"Bukan aku, bodoh! Sunny ...anak itu harus di cek ginjalnya agar segera mendapatkan pendonor"

"Tapi..." belum selesai Chanyeol menyelesaikan kalimatnya, Kyungsoo sudah berjalan meninggalkannya. Dengan langkah yang tertatih dan berkali-kali berhenti.

Chanyeol tidak bodoh, dengan langkah yang lebar segera ia menyusul Kyungsoo. Menghentikan langkahnya. Lalu menyeretnya ke toilet pria terdekat. Kyungsoo memberontak sambil meringis menahan sakit.

Beberapa pria yang sedang menyalurkan kebutuhan dasarnya untuk buang air terkaget-kaget melihat seorang pemuda menyeret gadis ke salah satu bilik toilet. Saling memandang satu sama lain seolah bertanya apa yang sedang terjadi. "Bukankah itu Chanyeol?" salah satu dari mereka memberanikan bertanya. "Sepertinya begitu" jawab pria lainnya membenarkan celananya.

Di dalam bilik toiled, Chanyeol memaksa Kyungsoo duduk di kloset. "Apa ada yang ingin kau ceritakan kepadaku, kyung?" tanya Chanyeol dengan mengangkat sedikit alisnya. Kyungsoo sangat tahu Chanyeol sedang mode marah sekarang.

"Tidak" jawab Kyungsoo datar.

BRAKKK! Gebrakan keras Chanyeol layangkan ke dinding bilik toilet. "Jangan membuatku marah, Kyung! Jujurlah padaku atau kulihat sediri dengan mataku!"

Kyungsoo diam saja. Chanyeol yang sudah geram menarik paksa rok Kyungsoo hingga jatuh ke lantai memperlihatkan celana dalam putih yang terdapat bercak darah disana. Dengan kasar ia juga menarik celana dalam itu hingga mengantung di lutut Kyungsoo yang di tekuk.

Chanyeol melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dia tahu benar apa yang sedang terjadi pada Kyungsoo. "Ini pasti hanya sebuah mimpi buruk." guman Chanyeol memejamkan matanya sesaat. Mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Ketika matanya terbuka lagi Kyungsoo sudah bersiap memakai celananya kembali. "Kau sudah puas? Kau sudah melihatnya bukan?"

"Kau sudah berjanji padaku, Kyung! Harusnya aku tak membiarkanmu melakukan pekerjaan kotor apa pun" ucap Chanyeol geram.

Kyungsoo tak bersuara lagi. Dirinya tau ini salah, ia sudah berjanji pada Chanyeol akan menjaga kehormatannya dan menyerahkannya ketika sudah menikah nanti. Itu janjinya pada Chanyeol ketika dirinya ketahuan bekerja di club. Kyungsoo tau Chanyeol hanya tidak ingin dirinya tersakiti dan terjebak sebagai penjaja seks karena begitu mudahnya mendapatkan uang dari sana.

Ketika Kyungsoo ingin meminta maaf, namun dirinya malah memekik terkaget ketika bibir vaginanya yang masih perih tersentuh sebuah jari. "Akh..Oh astaga!"

Kyungsoo dapat merasakan jari-jari Chanyeol berputar di pinggiran varginanya lalu mulai merambat sedikit masuk. Diiringi sensasi dingin dan lengket di setiap jari Chanyeol melewatinya. Membuat varginanya berkedut karena rangsangan yang tak sengaja di berikan jari-jari panjang Chanyeol.

Terpaksa Kyungsoo mengigit bibirnya sendiri untuk meredam desahannya. Sedangkan tangannya memegang pundak lebar Chanyeol yang sibuk menunduk mengoleskan cairan bening nan lengket ke varginanya.

"Ini akan meredakan sakitmu. Jangan menggunakan jeans. Gesekannya akan memperparah. Maaf kan aku membentakmu!"

Chanyeol mengusap air matanya lalu merapikan kembali rok dan celana dalam Kyungsoo lagi. "Memang kau tak punya orangtua yang memarahimu. Memang ini tubuhmu. Ini hakmu, Kyung. Tapi kumohon ingatlah disini ada aku...yang masih peduli padamu. Yang menegurmu karena sering merokok, memarahimu karena nilaimu jelek, memakimu karena sering bolos kuliah, melarangmu melakukan seks. "

"Bukannya aku sok mengatur hidupmu, aku tau benar tak punya hak atas itu. Aku hanya tidak ingin orang lain memandang rendah dirimu. Membicakan hal yang buruk tentangmu. Aku hanya ingin si penyihir jahat kecil ini hidup dengan baik. "

Kyungsoo berdiri di bantu Chanyeol. "Aku akan mengurus semuanya besok. Sekarang aku akan mengantarmu ke apartemen."

"Tidak. Kita lakukan sekarang...kasian gadis – "

"Kumohon, menurutlah padaku sekali saja! Dan berapa kekurangan biaya rumah sakit? Aku akan membantumu" pinta Chanyeol dengan suara lembut sarat akan permohonan.

"Aku sudah punya lima ratus juta won di rekening Chen. Aku juga punya sisa tabunganku di rekeningku sendiri"

Mata lebar Chanyeol menatap Kyungsoo tak percaya."Kau – "

"Aaah..sudalah. Kurasa tak ada gunanya memarahimu. Maafkan aku, jika aku sekaya itu kau tak perlu seperti ini." Chanyeol membuang mukanya ke bawah, tak ada yang bisa ia lakukan sekarang. Ia tidak bisa melindungi Kyungsoo, penyelamatnya.

"Tak apa, itu bukan masalah. Nanti akan tiba saatnya aku menjualmu ke om-om" balas Kyungsoo membuat Chanyeol tersenyum tipis.

.

.

.

.

"Kau mau bubble tea, Jongin?" tanya Luhan yang sudah di depan meja pemesanan di salah satu cafe dekat apartement Jongin.

Jongin menggeleng, "Tidak, terima kasih"

"Baiklah, nanti jika kau mau jangan minta punyaku ya.." ujar Luhan lalu tertawa riang seolah baru saja berhasil mengancam anak kecil.

Mereka berdua memilih bangku dekat dengan jendela di pojok ruangan cafe. Jongin merasa tidak nyaman duduk di cafe ini, bukan karena Luhan. Melainkan karena sejak kepindahannya ke apartement baru tepatnya tiga hari yang lalu, dirinya merasa selalu di awasi.

"Mungkin minggu depan akan ada artikel tentang kita berdua" ucap Jongin sambil terus mengawasi sekeliling.

"Benarkah?" Luhan jadi ikut celingak-celinguk.

Jongin mengangguk samar. "Aku tidak masalah dengan hal itu, hanya saja Sehun pasti akan mengamuk sambil membakar koleksi bukuku. Itu mengerikan, aku tidak bisa membayangkannya"

"Kurasa dia tidak akan marah. Paling dia akan bilang 'silahkan jika kau memilih jongin tapi jangan harap bertemu denganku lagi' " Luhan mengucapkannya sambil menarik alisnya ke atas menggunakan tangannya supaya alisnya mirip dengan Sehun. Panjang dan menukik tajam.

" dan kau tetap memilih Sehun, padahal tiap hari kau mengeluh kelakuan buruk Sehun padaku. Jika aku seorang reporter, kurasa aku sudah kaya hanya dengan menulis aib Sehun." Timpal Jongin seraya tertawa getir.

"Hey...hey..hey.. kau sudah kaya Tuan Kim. Apa menjadi putra perdana menteri masih kurang kaya? "

"Kekayaan bukanlah yang aku inginkan. Kau tidak tau rasanya menjadi seorang pria tapi di kawal bodyguard berbadan kekar. Bisa-bisa para wanita malah jatuh cinta pada bodyguardku. Mereka tidak berguna menurutku, aku sendiri bisa bela diri dan badanku tidaklah kurus seperti Sehun."

"Yaakkk! Sehun tidak kurus, akan ku adukan kau!"

"Tsk...bela saja terus."

"Makanya cari kekasih sana agar ada yang membelamu. Ngomong-ngomong mana bodyguardmu?"

"Mereka kuberhentikan tanpa sepengetahuan ayahku. Jika kau putus dengan Sehun, aku akan menerimamu jadi kekasihku"

Luhan jadi berubah murung. "Akan ku pertimbangkan. Jujur kau lebih perhatian dan pengertian dibading Sehun."

"Tapi semua wanita tetap akan memilih pria jahat. Itu klasik sekali"

"Hahaha...dia bukan pria jahat, Jongin. Dia hanya butuh sedikit pelukan, maka hati es-nya akan meleleh" Luhan mengatakannya dengan mata berbinar-binar.

Jongin memangguk mengiyakan. "Mungkin kau ada benarnya. Dulu Sehun tak sedingin sekarang dan tidak pernah bermain wanita. Aku mengenalnya dengan baik. Well, kau tau kan kita berdua seperti pasangan homo karena terlalu sering bersama. Bahkan sejak kami berdua masih memakai popok."

Luhan membuang nafasnya berat. "Walaupun dia dingin tapi rayuannya mematikan. Sudah berkali-kali aku menemukan ia bercumbu dengan wanita lain di apartement-nya. Tapi aku tak habis pikir kenapa dia masih mengikatku sebagai kekasihnya."

"Aku lebih heran lagi kau masih jadi kekasihnya sampai detik ini."

"Sudahlah, aku akan mempertahankannya selagi aku bisa."

"Sudah puas membicarakanku?" sebuah suara datar menghentikan percakapan Jongin dan Luhan. Sehun yang baru datang langsung duduk di samping Luhan. Dengan wajah datarnya dan raut sedikit kesal.

Luhan segera menawarkan memesankan minuman untuk kekasihnya. "Kau mau minum, Hunie?"

"Tidak" tolak Sehun tanpa menoleh.

"Mau makan?" tawar Luhan lagi.

"Tidak" tolak Sehun sekali lagi.

"Baiklah" Luhan akhirnya pasrah menawari. Sejenak kita tundukan kepala kita. Kita doakan semoga Luhan kuat menghadapi manusia es ini.

"Ayahmu mencarimu." Ucap Sehun singkat jelas padat.

"Lalu?" Jongin menanggapi dengan malas. Sudah hal biasa jika ayahnya mencarinya, mungkin kali ini karena masalah bodyguard.

"Dia mengobrak-abrik apartemenku" lanjut Sehun.

"Kau tak boleh menyebutnya begitu, kau harus menyebutnya 'beliau' atau tuan Kim" koreksi Luhan pada Sehun. Dan sudah pasti Sehun mengabaikannya.

"Si Pak Tua mulai lagi. Kali ini karena apa?" tanya Jongin penasaran. Berarti ini bukan hanya masalah bodyguard saja.

Sehun mengeluarkan hanpdhonenya, mengetikan sesuatu di layar. Lalu melemparnya ke meja dengan malas. Posisi duduknya pun berubah menjadi menyender ke punggung kursi sambil melipat tangannya di dada.

Jongin membacanya dengan cermat setiap kata dalam artikel di handphone Sehun. Namanya dan Sehun tertera di judul artikel. Sama-sama memberitakan mengenai perempuan. Hanya saja dirinya dengan Luhan di sambut dukungan dari para masyarakat Korea. Sedangkan Sehun sebaliknya. Kemudian Jongin memandang Sehun dengan pandangan penuh pertanyaan. "Ku kira akan terbit minggu depan dan apa ini kau juga terlibat skandal ? dengan artis bikini?"

"Berita apa?" tanya Luhan ingin tau.

"Kita di gosipkan pacaran, Lu!" jelas Jongin. "Dan Sehun malah di gosipkan dengan seorang model majalah dewasa" lanjutnya.

"Apa kita butuh konferensi pres untuk meluruskan ini?" suara Luhan memandangi kedua pemuda itu bergantian.

"Tidak!" seru Jongin dan Sehun berbarengan.

"Bukan itu masalahnya, Lu...skandal seperti ini akan segera berlalu. Hanya saja kenapa si Pak Tua...ahh maksudku ayahku mengobrak-abrik apartemen Sehun. Itu pertanyaannya" ungkap Jongin mencoba menjelaskan pada Luhan. Bagi dirinya gosip bukanlah masalah tapi Luhan yang merupakan orang biasa akan mengalami goncangan jika ada haters ataupun orang-orang yang termakan gosip. Intinya kehidupan Luhan akan menjadi sorotan setelah ini.

"Kau belum liat berita selanjutnya Jongin!" Sehun menggeser layar handphonenya menampilkan berita selanjutnya.

Jongin tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya lalu tersenyum puas mendapat jawaban atas pertanyaannya. "Wow...jadi si artis bikini terciduk memakai narkoba setelah di gosipkan denganmu. Lalu ayahku mengobrak abrik apartemenmu untuk mengecek apakah kau menggunakan narkoba sebelum polisi menggeledah juga. Tak kusangka ayahku begitu perhatian denganmu"

"Yups. Dia melakukannya untukmu asal kau tau. Jika namaku yang sudah jelek ini terseret kau juga akan ikut terseret. Makanya dia juga mencarimu, karena apartemenmu kosong dan para bodyguard kau pecat seenak dubur-mu" ujar Sehun.

"Ngomong-ngomong duburku tidak enak," balas Jongin tak terima.

Sehun menatapnya tak suka. "Berhenti membicarakan dubur, sebelum kupaksa rektrummu berkedut-kedut meremas penisku!"

"Shiittt! Kau yang duluan, Tuan Oh!" maki Jongin. "Lupakan soal dubur. Aku penasaran, kau benar berkencan dengan si artis bikini di hotel?" tanya Jongin sambil melirik Luhan yang sudah was-was mendapat jawaban dari Sehun.

"Ya" sahut Sehun.

Mata Luhan mulai berair, merasa Jongin menangkap basah dirinya hampir menangis. Luhan langsung ijin ke kamar mandi sambil mencoba menahan air matanya yang sudah tak terbendung. "Maaf, sepertinya aku perlu ke kamar mandi"

Sehun mengangguk acuh. Jongin memutar bola matanya malas melihat Sehun santai-santai saja. "Kejar dia, albino bodoh!" perintah Jongin.

"Kau saja sana, pangeran kegelapan!" balas Sehun tak terima dikatai albino.

Jongin lelah dengan kedua orang ini. Mengejar Luhan juga tak ada gunanya, yang dibutuhkan Luhan sekarang Sehun bukan dirinya. Akhirnya ia mengikuti Sehun yang menyeder pada punggung kursi. "Aku tidak tau bagaimana otak tidak warasmu itu berjalan. Jelas-jelas hari itu kau bersamaku di club"

"Tsk...Lalu kenapa kau menanyakannya tadi?"

"Aku hanya ingin Luhan tidak berpikir tidak-tidak. Makanya aku mengkonfirmasi kebenarannya padamu...tapi kau malah menjawab iya," keluh Jongin.

Sehun tertawa kecil. "Aku hanya penasaran sampai mana batas kesabarannya"

"Jangan menyakitinya, dia gadis yang baik. Kau tak akan menemukan yang seperti Luhan" tegur Jongin.

"Kurasa Luhan lebih cocok untukmu. Ngomong-ngomong kau menghilang kemana saat di club?"

"Aku bukan yang menghilang. Kau yang meninggalkanku, dasar tidak tau diri!"

"Kau bukan anak kecil jadi tidak masalah bukan? Buktinya kau masih utuh sekarang. Tapi kuperingatkan jangan terlalu sering kesana. Jika kau ketauan ke club, ayahmu akan murka."

"Menyedihkan bukan hidupku. Seperti robot, tidak boleh ini tidak boleh itu." ucap Jongin dengan mata menerawang.

"Dan sekarang aku menitipkan Luhan padamu dulu. Aku bersyukur dia di gosipkan denganmu, apa jadinya jika dia denganku..." lanjut Sehun.

"Kurasa banyak orang yang menentang kalian. Apalagi Luhan bukan dari kalangan atas dan keturunan China. Ayahmu yang sama datarnya denganmu itu akan mengusir Luhan kembali ke daratan China. Tapi, kau juga harus memikirkan perasaan Luhan."

"Jika begini saja ia menangis, aku tidak yakin nantinya ia akan kuat hidup denganku. "

"Terserah kau saja"

"Ayo ke club lagi malam ini!" ajak Sehun bersemangat,

"Sepertinya tadi ada yang melarangku jangan sering-sering kesana" ucap Jongin dengan nada mengejek.

.

.

.

.

Suasana di club yang ramai tidak sesuai dengan perasaan Chen sekarang. "Sepertinya ada yang kurang, apa ya?" monolog Chen sambil berpose berpikir. "Kau sedang memikirkan apa, hyung?" tanya salah satu bartender baru di club ini.

Tiba-tiba wajah Chen berubah cerah seperti berhasil mendapatka ilham. "Ahhh jaket kesayanganku. Pantas saja ada yang kurang. Si nona keras kepala pasti lupa mengembalikan. Tadi ngomong-ngomong kemana perginya ya? Aku tak melihatnya belakangan ini"

"Si nona dua belas maksud, hyung?" sahut juniornya itu.

"Iya, yang hobi mengeluarkan sumpalan payudaranya" jelas Chen lebih spesifik. "Ah, semoga saja dia kapok karena kemarin lalu bertobat menjadi biarawati. Biarawati? Kurasa itu terlalu berlebihan."

"Hyung, kurasa ada yang mencarimu"

Benar saja, pemuda yang kemarin menitipkan dompet padanya sekarang duduk di depannya. "Kau mencariku? Bukankah dompetmu sudah ku kembalikan?" tanya Chen heran.

"Iya, dan terima kasih. Kau tidak akan membocorkan identitasku kan?"

Chen malah tertawa terbahak-bahak. Sedangkan si bartender baru yang masih di sebelahnya hanya bisa geleng-geleng kepala heran akan kelakuan seniornya. "Tentu tidak, mana berani aku. Bisa- bisa malah aku yang masuk bui"

"Sekali lagi terima kasih"

"Kau sendirian? Mau mencari perawan lagi? Ups maaf...maksudku..mmm...ya..." Chen menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, merasa tidak enak karena ucapannya terlalu kasar.

Pemuda itu tersenyum. "Tidak. Aku hanya mampir sekedar untuk minum."

Chen tersenyum penuh arti seperti mengatakan 'kau tak bisa membohongiku'. "Sejak bermalam denganmu, dia belum kesini lagi sampai detik ini."

"Aku tak menanyakannya," sangkal pemuda tadi.

"Aku hanya memberi tahu," balas Chen tak mau kalah.

Pemuda tadi diam tak mau berdebat lebih panjang. Akhirnya Chen buka suara lagi sambil menaruh gelas berisi minuman racikannya, "Cobalah! Aku sering membuatkan ini padanya, mungkin selera kalian. Semoga bisa mengobati rasa rindumu..."

Melihat tatapan tidak enak dari balik topeng di hadapannya, buru-buru Chen berkata lagi. "Aku hanya bercanda...hahahaha"

"Terima kasih..Mmmm - "

"Chen...namaku Chen, aku sudah bekerja lama disini dan tak masalah jika namaku di ketahui orang. Jika kau ada acara pesta kau bisa mengontakku, akan ku buat semua tamumu mabuk dengan minumanku."

"Baiklah, Chen. Terima kasih atas minumanmu... Boleh aku bertanya sesuatu?"

"Tentu" Chen berusaha seramah mungkin dan mencoba akrab.

"Apa kau tau kenapa gadis yang bermalam denganku menyebutkan nominal sebanyak itu? Maaf, bukannya aku menyesal...aku menikmatinya. Aku hanya penasaran saja"

"Mungkin dia asal sebut saja dan kau mengiyakan tanpa dinego. Asal kau tau dia seorang gadis gila."

Pemuda itu terkekeh sendiri, "Kali ini aku setuju denganmu, dia memang gila".

"Kurasa arti gila yang kumaksud berbeda denganmu. Dia gadis yang bebas, akan sangat sulit jika kau mendapatkannya. Mungkin kau bisa memiliki tubuhnya tapi tidak untuk hatinya. Kau masuk pria yang beruntung, kau datang di saat yang tepat. Saat ia sedang di puncak kegilaannya."

"Apa aku berkata aku jatuh cinta padanya?"

"Secara verbal, tidak. Ya anggap saja aku sedang memperingatkanmu"

"Memang aku memang tertarik padanya. Tapi kurasa bukan perasaan suka seperti yang kau bicarakan. Ya pasti bukan." Ucapnya seperti mencoba menyakinkan dirinya sendiri.

Chen melirik jam tangannya. Hampir pukul satu dini hari. "Mungkin dia tidak datang juga hari ini..." kata Chen mengungkapkan dugaannya.

Tapi nyatanya Kyungsoo yang hari ini berbalut kemeja putih longgar dengan rok pendek melekat pas pada pahanya berdiri dengan tas besarnya sebesar tas-tas anak sekolahan. "Oh hay, Chen!" sapanya melihat Chen mengernyit heran ke arahnya.

"Kukira kau jadi biarawati" cerca Chen tanpa dosa.

"Kuharap itu menjadi kenyataan" timpal Kyungsoo menanggapi gurauan Chen.

Chen menyatukan kedua telapak tangannya dan kepalanya menunduk sambil berucap,"Amienn"

"Boleh aku mengerjakan laporan disini?" kata Kyungsoo mengeluarkan laptop dan jaket dari tasnya, tak sadar ada sepasang mata memperhatikannya sedari tadi. "Dan terima kasih jaketnya" Kyungsoo mengembalikan jaket Chen.

Chen memeluk jaketnya erat erat penuh dengan perasaan rindu. "Apa kau kedinginan, nak? Aku merindukanmu !" ucap Chen pada jaketnya.

"Tau begitu tak akan ku kembalikan. Kupotong potong jadi serbet untuk dapurku"

"Apa kau sedang sibuk?"

"Ya, laporanku menumpuk. Aku stress... Aku butuh minum... Jadi aku kesini, mengerjakan sambil minum minum. Kau pasti tidak tau bagaimana stresnya aku karena terus di kurung si park dobi... Dia mengikuti ku kemana pun aku pergi. Apa selama aku tidak datang, ada om om yang mencariku? Jika ada katakan aku sedang cuti "

"Aku yang mencarimu"

"Sudah kubilang katakan saja aku - "

Kyungsoo menghentikan ocehannya karena ketika menoleh pemuda yang ia kenal duduk sambil tersenyum ke arahnya. Lalu Kyungsoo beralih memandang Chen yang masih Setia bermesraan dengan jaketnya. Jadi sedari tadi bukan Chen yang menyahut.

Kyungsoo melirik takut takut ke arah pemuda yang duduk disebelahnya. "Ya ampun, dosa apa yang kuperbuat? Kau kenapa ada disini? Bukannya iblis sudah menyeretmu ke neraka? "

"Aku sudah tidak perawan, pergi sana! " usir Kyungsoo galak.

Kyungsoo tersentak kaget ketika tiba-tiba kursinya ditarik mendekat ke arah kursi sebelahnya. Wajah mereka berdua hanya tinggal beberapa inci saja. Kyungsoo sampai dapat mendengar deru nafas yang terus memberat. "Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu. Aku pria yang penuh rasa penasaran. Beri aku sedikit waktumu, tak masalah jika aku juga harus membayar. "

"Baiklah Tuan yang penasaran seperti arwah gentayangan... Kau hanya punya waktu 15 menit. Aku harus menyelesaikan laporanku, aku kesini hari ini bukan untuk mencari uang. "

.

.

.

note:

Chapter ini normal pov bukan dari sudut pandang Kyungsoo lagi. Maaf jika tidak sesuai ekspektasi kalian dan acak acakan. Saya sudah berusaha semampu saya. Sembari saya ngurusin lamaran kakak saya (akhirnya ibu saya bakal punya mantu), mungkin ff ini akan update perminggu.

Adegan dewasanya di pending dulu ya... Insya'allah chapter besok ketauan siapa pria beruntung itu. Mungkin ada yang bisa nebak siapa?

Terakhir, saya ucapkan terimakasih sudah membaca ff alakadarnya ini. ヽ(´▽`)/