MASK
"Semua orang memakai topeng untuk kau cintai.
Jika kupakai topeng burukrupa, akankah kau mencintaiku?"
.
.
CHAPTER 3
.
.
.
.
Pemuda duduk sofa dengan tenang, sedangkan Kyungsoo yang bersamanya sekarang masih berdiri di hadapannya tanpa ada keinginan untuk duduk. Kyungsoo mengambil handphonenya dan menyalakan timer. 15 menit. Angka timer mulai menghitung mundur.
"Bisakah kau juga duduk? Akan lebih nyaman jika kita mengobrol sambil duduk"
"Tidak usah. Aku masih kuat kalau hanya 15 menit"
Kyungsoo mulai berjalan ke balkon membawa sekotak rokok. Memandangai lampu-lampu kota yang bersinar kelap kerlip kontras dengan warna langit yang hitam pekat. Mau tak mau pemuda tersebut beranjak dari sofanya mengikut ke balkon.
"Aku tak suka city light , mereka menghalangiku melihat bintang di langit" ucap Kyungsoo seraya mengambil satu putung rokok dan membakar ujungnya. Menghisapnya penuh kenikmaan lalu mengeluarkannya dari mulut.
"Tinggalah di desa kalau begitu"
Asap mulai mengepul dari mulut Kyungsoo, suara batuk-batuk mulai terdengar. "Bisakah kau merokok tanpa mengeluarkan asap?" pinta pemuda itu sambil tangannya sibuk mengibas kesana kemari meghalau asap rokok yang Kyungsoo tiupkan.
Kyungsoo tertawa renyah. "Oh maaf...aku tidak tau kau tidak suka rokok. Tapi aku tidak peduli..hahahaha"
"Oh iya waktumu tinggal 10 menit lagi sepertinya."
Pemuda itu mengangkat kedua tangannya seolah berkata dirinya menyerah, "Oke..oke...jujur aku penasaan di balik topengmu ini. Kemarin kita terlalu bergairah dan lupa kita masih memakai topeng sampai permainan usai – "
"Intinya saja" intrupsi Kyungsoo.
"Apa kau cantik?"
"Tidak, aku sudah bilang di awal bukan? Jika aku cantik mana mungkin aku masih perawan...aku pasti sudah di gilir oleh berandalan-berandalan keparat di gang sempit dan sepi"
"Itu terdengar mengerikan dan tidak manusiawi"
"Tsk...Seperti kau manusiawi saja! pria-pria sepertimu juga memburu kami, bedanya kalian membayar. Tapi itu tidak sebanding. Di samping kamar ini mungkin seorang jalang sepertiku sedang melayanani pria kelimanya demi menghidupi keluarganya. Orang kaya sepertimu mana tau ya...Kkkkk" di akhiri suara Kyungsoo cekikikan sendiri.
"...dan kalian kadang mencurangi kami. Membayar mahal tapi hasil uang bersama. Alhasil tarif hanya untuk satu orang tapi di dalam kamar melayani lebih dari satu orang," Kyungsoo menghisap rokoknya lagi.
"Aku tidak begitu"
"Benarkah?" Kyungsoo betanya dengan nada mengejek. Ia melangkah mendekat, reflek pemuda itu mundur satu langkah. Tangan Kyungsoo langsung mengalung di leher pemuda yang kini sedang menahan nafas.
Tangan kanannya masih memegang putung rokok, sedangkan tangan kirinya perlahan turun melewati lengan. Membawa tangan berotot itu menyentuh bibirnya. "Kau menggigitku disini, bahkan lidahku juga kau gigit"
"Disini" beralih ke leher. Turun hingga mencapai dadanya. "..dan disini"
Berhenti disana agak lama. Pemuda itu mulai terbuai dengan sensasi kenyal, membuatnya gatal jika tidak mengelus pelan dari luar kemeja. Tapi Kyungsoo menghentikan aksi cabulnya lalu membawanya turun melewati pinggang berbelok ke belakang dan berhenti di bokongnya.
"Kau meremas dan menamparku disini"
Perjalanan belum berakhir rupanya, tangan itu terus berjalan ke pusat gairah. "Dan siksaan yang kau berikan bertumpuk disini. Selama hampir seminggu aku tidak bisa duduk dengan nyaman. Berjalan seperti pinguin di kutub. Tak bisa memakai celana jeans kesukaanku sampai hari ini. Kau sama saja tuan"
Kyungsoo melepaskan tangannya lalu menjauh. Membuang rokoknya dengan kesal. Kemudian berjalan ke arah pintu sambil menyaut handphonenya yang masih menghitung waktu yang tersisa. 6 menit. "Jangan temui aku lagi, tolong! Jika kau menyesal mengeluarkan uangmu, aku akan mengirimu setengahnya."
Ketika tangan Kyungsoo mencapai gagang pintu, tubuhnya di paksa berbalik. Dimana pemuda itu sudah berdiri disana dan langsung mendekapnya. Bibirnya memangut bibir lainnya yang terkatup rapat. Tak peduli ciumannya tak berbalas, dengan semangat pemuda itu terus menikmati bibir kesukaannya.
"Aku tidak peduli uangku. Aku yakin kau seorang gadis cantik, aku hanya penasaran dengan itu," bisiknya.
Kyungsoo mendorong tubuh yang mendekapnya. "Sebegitu pentingkah wajahku? Jika aku cantik kau mau apa? kau mau menikahku begitu?"
"Ya, jika kau masuk dalam kriteriaku yang lain. Lagi pula aku tidak pakai pengaman kemarin" jawabnya asal. Kyungsoo tau dia tak benar serius dengan ucapannya.
"Sayangnya aku tidak dalam masa subur, jadi silahkan bermimpi!" seru Kyungsoo. "Asal tuan tahu...memilih pasangan hidup bukan hanya rupanya saja. Semua orang akan menua. Ketampanan dan kecantikan bisa pudar. Pikiranmu terlalu picik jika hanya memandang rupa saja" lanjutnya setengah berteriak.
"Jadi apakah tuan yang baik hati ini masih mau melihat wajahku?" tanya Kyungso marah sampai ke ubun-ubun. Jika ada yang menjatuhkan telur di atas kepalanya, Kyungsoo yakin sekarang telur itu sudah matang sempurna.
"Ya, walaupun kau tidak cantik seperti katamu. Setidaknya aku bisa mengenalimu jika kita bertemu di suatu tempat nanti, dan mengobrol bersama mungkin" ia mulai melepas topengnya sendiri. Menarik simpul tali di belakang kepalanya. Perlahan Kyungsoo mampu melihat alis tajam diiringi kedua mata yang sama tajamnya.
Pemuda itu membuang topengnya ke lantai. "Tak apa jika kau tak mau membuka topengmu. Tapi kau bisa mengenaliku sekarang. Sapa aku jika kita bertemu, okey?" ucapnya sambil mengusak rambut Kyungsoo.
Bibir Kyungsoo terkatup rapat, lidahnya kelu tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Namun dalam hatinya terus berteriak satu nama. Kim Jongin. Yang di gadang-gadang sebagai kekasih sahabatnya, Luhan.
.
.
MASK
.
.
Suho yang baru saja selesai memberikan arahan untuk para anak-anak panti baru berjalan ke gereja untuk bersih-bersih dan berdoa. Siapa tau ada tamu yang membutuhkan bantuannya. Alangkah terkejutnya dirinya menemukan gadis yang sering membuatnya kesal tidur meringkuk di kursi gereja.
Suho mencolek-colek lengan Kyungsoo untuk membangunkannya. "Hey...nona Do...nona Do~ " Namun Kyungsoo tak juga bangun.
Suho mencari akal. "Nona Do...Chanyeol ingin menikahimu" bisik Suho tepat di telingga Kyungsoo. Kyungsoo masih diam tak merespon.
"Nona Do..Nona Do..Nona Dooo re miii faa soooo laa siiii doooooooooo~" seru Suho dan berhasil membuat Kyungsoo tersadar dari tidurnya karena suara yang memekakan telingga itu sangat menganggu. Namun mata Kyungsoo masih mengatup dan belum bergerak. Jadi Suho tidak tau jika ia sudah bangun.
Tiba-tiba ide jail melintas di kepala Kyungsoo. Rasakan ini Suho-ssi, batin Kyungsoo tertawa girang. Kyungsoo membuka matanya, Suho masih dalam posisi di sebelah telinganya. Hanya dalam hitungan detik.
Chuppp!
Suho bengong seketika. Kyungsoo bahagia tiada tara. Ia sudah mengotori seorang pendeta gereja.
"Yaakkkk! Kyungsoo-ssi! Aku ini pendeta gereja, jangan kau kotori aku!" maki Suho jengkel sambil mengusap-usap bibirnya dengan tisu.
Kyungsoo malah tertawa heboh."Hahahahaha...biar ku tebak ini ciuman pertamamu pasti"
"Ya Tuhan lama-lama aku bisa gila jika dekat-dekat denganmu!"
"Anggap saja ciuman pertemanan kita, suatu cinta kasih untukmu." Kyungsoo duduk sambil bersila di atas kursi dan langsung mendapat teguran dari Suho. Tapi Kyungsoo tetap nekat.
"Kenapa kau disini lagi? kau di usir Luhan? Kau gelandangan sekarang?" cerca Suho duduk menjauh dari Kyungsoo.
"Tidak, aku hanya menumpang tidur. Aku sedang banyak pikiran," jawab Kyungsoo dengan nada sedih namun setelahnya ia berseru semangat kembali. "Oh iya bagaimana dengan Sunny? Kau sudah mendapatkan pendonor untuk ginjal-nya?"
"Sudah. Tinggal menentukan tanggal. Ngomong-ngomong ucapkan terima kasihku pada Luhan sudah membiayai semuanya. Padahal dia sudah tau lama sebelum kau, kenapa baru sekarang membantu.." sadar ada yang salah akan kata-katanya Suho segera berucap kembali, "Aahh...bukan maksudku – "
"Tak apa, mungkin Luhan butuh waktu mengumpulkan uang. Jika uangnya masih kurang kau bisa hubungi aku atau Chanyeol. Belakangan ini Luhan sedang sibuk, ia meminta bantuanku"
"Ya, akan ku hubungi secepatnya."
Suho menengok ke arah Kyungsooo yang merubah posisinya menjadi memeluk lututnya di atas kursi. Matanya terlihat lelah dan sedih. "Kau kenapa? Kau bilang kau banyak pikiran? Gadis nakal sepertimu bisa murung juga ya? Mau membuat pengakuan dosa?" tawar Suho melupakan insiden ciuman pertamanya.
"Apa orang jahat akan selalu benasib buruk?" tanya Kyungsoo tiba-tiba.
Suho mengernyitkan dahinya. Ia tidak tau setan mana yang merasuki Kyungsoo hingga bertanya dengan pertanyaan macam ini. "Tidak juga, jika ia mau bertaubat"
"Apa gadis nakal sepertiku akan diampuni juga dosanya? Apa aku juga akan dapat kebahagiaan?"
"Semua orang terlahir dengan membawa sifat baik dan buruk. Tidak ada orang yang benar-benar baik, begitupun sebaliknya. Hanya saja ada salah satu yang lebih dominan"
"Jika aku bilang aku iri pada Luhan, apa kau akan memakiku dengan nasehat sok sucimu?"
Suho tertawa maklum. "Dia cantik, baik hati, keluarganya harmonis, pintar, semua orang menyukainya...wajar jika kau iri padanya. Jadi mana bagian yang membuatmu iri?"
"Semuanya. Aku juga ingin cantik, aku juga ingin keluarga yang harmonis yang mengabariku...mencariku jika aku tidak memberikan kabar, aku juga ingin pintar, aku juga ingin di puji tanpa ku minta. "
"Tuhan sudah memberikan kebahagiaan dengan porsinya sendiri-sendiri. Kau mungkin tak seberuntung Luhan, tapi Tuhan mengantinya dengan memberikan Chanyeol di dekatmu. Dia sering membantumu bukan?"
"Ya, dia seperti ibu peri"
"Kau ingin bahagia atau sedih itu pilihanmu sendiri. Ini hanyalah masalah sudut pandang, Nona Do. Mau ku buatkan teh?"
Kyungsoo menggelang lemah. "Suho-ssi..kau mau kuceritakan sesuatu?". Suho diam, Kyungsoo mengartikannya sebagai jawaban 'ya'. "Aku tidur dengan seorang pria kekasih sahabatku, aku menyerahkan keperawananku padanya."
"Tunggu, bukankah kau sudah punya kekasih? Maksudku Chanyeol, kenapa bisa –"
"Aku dan Chanyeol hanya teman. Chanyeol tak akan meniduriku ngomong-ngomong"
Suho mau berucap kembali, tapi keburu Kyungsoo menyahut lagi dengan galak. "Dengarkan saja okey...malam itu..."
Flash Back
"Apa kau ingin aku mandi dulu?" tanya Kyungsoo setelah memasuki kamar. Jongin yang duduk di ranjang menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Kyungsoo. "Aku berkeringat dan bau sperma orang lain"
"Langsung saja" pinta Jongin sambil bersiap membuka kancing kemejanya sendiri. Namun entah bagaimana seorang Kim Jongin kesusahan hanya karena sebuah kancing baju. Mungkin tangannya yang licin.
Mengetahui hal tersebut, Kyungsoo berdiri mendekat di hadapan Jongin dan membantu membukakan. "Apa tuan masih di pakaikan baju oleh eomma tuan?"
Jongin tak membalas malah tangannya melingkar di pinggang Kyungsoo. Mendorongnya untuk semakin mendekat ke arahnya. Sambil memberikan elusan lembut sepanjang lekukan indah yang Tuhan ciptakan.
Kyungsoo membuka kancing satu persatu dengan telaten. Hingga dada bidang bewarna tan terpampang jelas di hadapannya. "Tuan sering berjemur atau karena terlalu lama di depan pemanggang daging?" cerca Kyungsoo sambil meraba dada bidang tersebut, yang Kyungsoo akui itu sangat menggodanya.
"Kau mengejekku ya?" tanya Jongin balik namun tak ada nada tersinggung di dalam suaranya.
"Yaa..." jawab Kyungsoo tanpa ragu di iringi dengan senyuman manisnya. Kedua tangannya melepaskan kemeja tersebut hingga membuat Jongin sukses topless.
Dengan tidak sabar Jongin menarik Kyungsoo ke pangkuannya. Meraup bibir hati yang mencuri perhatiannya sejak tadi. Kyungsoo mengikuti permainan lawannya. Hingga ia merasakan bibirnya digigit. "Akh..."
Jongin tak tanggung tanggung langsung melesakan lidahnya masuk. Bertarunng dengan lidah Kyungsoo, bukan hanya menghisap tapi juga disertai gigitan jika Kyungsoo mencoba menyudahi ciumannya.
Di saat Kyungsoo sibuk meladeni ciumannya, tangan Jongin menyusup ke punggung Kyungsoo menarik resleting dress ke bawah. Sampai punggung Kyungsoo terbuka bagian belakang. Ia dapat merasakan kulit punggung yang halus dan kaitan bra yang masih terpasang kuat disana.
Merasaka dingin di arena pungungnya yang terbuka. Kyungsoo menarik wajahnya dan lidahnya digigit lagi karena Jongin tak suka atas sikapnya. "Kenapa? Jangan berhenti, layani aku!" suara Jongin terdengar memerintah.
Kyungsoo yang masih sayang dengan lidah dan bibirnya, ia masih makan dengan mulut ngomong-ngomong. Tidak mungkin terus-terusan lidah dan bibirnya di gigit. Bisa-bisa dirinya tidak makan dengan mulutnya seminggu penuh. Akhirnya, ia berinisiatif turun dari pangkuan lalu memberikan ciuman di rahang ke bawah. Berhenti sebentar di jakun, memberikan hisapan pada jakunnya yang terus naik turun karena gairah.
Jongin mendongak sambil memejamkan matanya. Ia tidak pernah mersakan hal seperti ini. Apalagi bibir basah Kyungsoo terus turun sesekali berhenti di titik-titik yang tepat. Di nipple-nya, menghisap secara bergantian si kembar membuat Jongin sampai gemetaran. Terus turun melewati garis perutnya sampai mencapai bawah pusar. Kyungsoo baru berhenti lagi.
Kyungsoo memandang wajah Jongin yang masih tertutup topeng. Ia tahu pemuda itu sedang ketar-ketir atas aksinya. Bibirnya selalu bisa di andalkan. Melihat Kyungsoo diam sambil memandanginya seolah meminta perintah selanjutnya. "Bukalah~" ujar Jongin dengan suara berat.
Kyungsoo membuka ikat pingang Jongin dengan santai, lalu suara zipper yang di turunkan terdengar nyaring di kamar yang sunyi ini. Ia dapat melihat sesuatu menggembung disana, tertutup celana dalam hitam mahal. Kenapa ia tahu itu mahal? Karena Chanyeol pernah membeli selusin celana dalam sama persis yang Jongin pakai sekarang. Berita buruknya, setengah dari tabungan Chanyeol ludes. Jadi mengingat nominal tabungan Chanyeol tidak sedikit, sudah di pastikan harganya sangat mahal.
Tersadar dari pikirannya tentang Chanyeol. Kyungsoo jadi semakin ragu menarik keluar benda yang menggembung itu. "Kenapa?" tanya Jongin bingung melihat Kyungsoo hanya bengong melihati selakangannya.
"Tidak apa-apa" balas Kyungsoo membulatkan tekatnya. Ini bukan pertama kalinya ia memberikan service, tapi entah kenapa malam ini ia mulai ada perasaan takut menyusupi batinnya. Apa karena hari ini service spesialpikirnya.
Kyungsoo menarik celana Jongin kebawah. "Hati-hati! " pekik Jongin memperingatkan. Namun semuanya sudah terlanjur, pipinya tertampar keras oleh benda panjang berurat dan berdiri dengan gagahnya.
"Maaf" cicit Jongin merasa bersalah karena terlambat memperingatkan.
"Aku tidak atau ada yang sebesar ini, walaupun panjangnya standar. Overall, kau berhasil membuatku terkejut" komentar Kyungsoo takjub layaknya juri pencarian bakat.
"Mmm...dia belum pada ukuran maksimal sebenarnya" kata Jongin hati-hati. Diam-diam Kyungsoo merutuki dalam hati, dirinya yang bodoh salah memilih lawan bermain. "Kau menyesal?"
"Sedikit" ucap Kyungsoo tersenyum kecut. Namun, tangannya mulai memanjakan dengan mengocok maupun meniup-niup ujungnya. Membuat sang pemilik bernafas tak beraturan. Menimbulkan suara geraman antara nikmat dan tersiksa. Kyungsoo beralih dengan mulutnya. Ia mencoba mengoral seperti biasanya walaupun kali ini sedikit kepayahan karena benda yang ada di tenggorokannya terus memancang. Berakhir dengan tersedak.
Merasa miliknya berkedut-kedut akan memutahkan laharnya, Jongin langsung mencabutnya. Kyungsoo yang bingung, kenapa malah di cabut padahal 'akan sampai'. Biasanya ia akan diminta menampung dan menelannya. Ada apa dengan tuannya ini?
Pertanyaan Kyungsoo terjawab ketika dirinya di dorong ke ranjang hingga terlentang. Bajunya di lucuti dengan sangat cepat. Kyungsoo jadi berpikir bagaimana ia bisa melucuti orang lain dengan cepat tapi membuka kancing bajunya sendiri saja kesusahan. Mungkin lain kali ia akan menanyakannya, di dalam situasi yang lebih normal tentunya.
Jongin juga melepaskan celananya yang masih menggantung dengan buru-buru. Menindih Kyungsoo yang sudah telanjang duluan. Membuka paha Kyungsoo lebar-lebar, lalu menciumi bibirnya dengan bringas. Sedangkan tangannya di bawah mencari lubang surganya. Kyungsoo dapat merasakan saluran kencingnya hingga dua lubang disana diraba-raba secara bergantian. Mencari mana lubang yang tepat dan berhenti pada satu lubang. Kyungsoo dapat merasakan benda tengang yang ia hisap tadi menyentuh disana.
"Tung-gu...tunggu...! tunggu!" ucap Kyungsoo buru-buru menghentikan Jongin sudah bersiap menerobos. "Kau akan menganalku?" tanya Kyungsoo tak percaya.
Jongin menggeleng dengan polosnya. Kyungsoo semakin mengernyit bingung."Kau bodoh atau apa? Jelas-jelas kau berputar-putar di pinggir – " Kyungsoo tak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Oh ya Tuhan, spesies bajingan seperti apa kau ini? tidak bisa membedakan mana vargina mana tempatku buang kotoran? Kau ini mantan gay atau bagaimana?" maki Kyungsoo kesal.
Jongin memalingkan wajahnya. "Ini pertama untukku" ucapnya lirih.
Kyungsoo ingin sekali mengorek isi telinganya, siapa tau ada kecoa tersangkut disana. Sampai-sampai ia tidak dapat mendengar dengan benar. "K-ka-Kau...perjaka?" seru Kyungsoo tak bisa menutupi keterkejutannya.
Jongin bangkit dari posisi menindihnya. Duduk sambil menunduk. Ia bingung harus apa kali ini. "Aku tidak pernah bermain sampai ke inti" ucapnya jujur setengah putus asa.
Kyungsoo yang tak habis pikir bagaimana pemuda ini yang membuat pertahanannya bercerai berai. Bahkan mendominasi permainan sejak tadi, ternyata masih nol besar. Kyungsoo memandangi Jongin yang masih tertunduk, harga dirinya pasti terluka karena makiannya. Ia pun bangkit dari posisi berbaringnya, menggapai wajah tertunduk itu. Lalu mengecup bibir plumnya.
"Jadi ini alasanmu?"
"Ya, aku ingin jadi orang pertama juga"
"Aaakhhhhh..." jerit Jongin merasa ada yang menggenggam adiknya.
"Berbaringlah atau duduklah dengan nyaman. Aku akan melayanimu. " Akhirnya Jongin memilih duduk setengah berbaring. Kyungsoo merangkak mendekat, memposisikan lubang vaginanya tepat di atas penis Jongin yang masih tegak ditangannya. Dengan menahan semua bebannya pada lutut, Kyungsoo mulai bersiap-siap.
Tangannya Kyungsoo satunya memeriksa daerah kewanitaannya. Belum terlalu basah dan masih sangat rapat. Haruskah ia mulai memasukan sekarang? Di mata Jongin, Kyungaoo terlihat gelisah sendiri.
"Shit! Aku butuh jari untuk melonggarkannya dulu."Umpat Kyungsoo namun yang Jongin tak dapat mendengarnya dengan jelas. Karena bosan menungunggu ia berinisiatif menggerakan pinggulnya ke atas. Hingga penisnya menerobos lubang yang ada di atasnya dengan satu kali hentakan.
"A-AKKHHHHH... SSSSSAAKITTTT BODOHHHH! DIMANA KAU SIMPAN OTAKMU?" teriak Kyungsoo merintih menahan sakit yang amat sangat. Ia pun mencari pegangan terdekat yaitu tiang penyangga ranjang.
Sedangkan Jongin jadi ikutan panik karena darah merembes sampai melumuri pangkal penisnya yang di luar. "Kau bilang akan melanyaniku, jadi aku membantumu dan ternyata posisinya sangat pas"
Sementara Kyungsoo yang masih sibuk dengan rasa sakitnya. Di sisi lain Jongin juga tersiksa terus di jepit si dalam. Ia pun memutuskan untuk mendorong pelan Kyungsoo untuk berbaring. Dengan hati hati. Sekarang Jongin yang ada di atas, memimpin permainan ini.
"Maaf soal yang tadi. Walaupun aku belum pernah melakukannya tapi aku pernah membacanya di koleksi bukuku. Aku saja yang memimpinmu. Bersiaplah mendesah untukku!"
Kyungsoo tidak tau apa yang sedang si pikirkan pemuda ini. Dia bahkan tidak biaa membedakan lubang, menerobos dengan gegabah, sekarang ia mau memimpin. Apa tadi dia bilang koleksi buku? Buku apa? Seks ? Semoga bukan seks bdsm, rape, atau mengerikan lainnya, doa Kyungsoo dalam hati.
Di awali dengen mengekspor payudaranya. Meremas dengan keras, memilin, hingga menghisapnya dengan rakus disertai gigitan gigitan. Sisanya Kyungsoo di garap habis habisan, mendesah sampai suaranya serak.
"Ouhhhhhhhhhh... ouhhhhhh...A-akh.. Ahh. Aaaaahhhhhh... No.. No.. No.. - "
"...Please stop! Stopp! Owww...ouuchhh..Please its too big! Ngghhhhhh aahhhh ...! "
Flashback off
"Aku sekarang tau buku macam apa yang ia baca." Kyungsoo menceritakan semuanya kecuali bagian ia di bayar mahal dan mejual keperawanannya untuk Sunny.
"Aku tidak tau bagaimana pergaulanmu di luar sana. Jika untuk bersenang-senang, kumohon berhentilah dan jangan menceritakan hal hal erotis seperti itu lagi. Aku tidak kuat mendengarnya"
"Ya, akan ku coba berhenti. Dia tidak sebaik Chanyeol. Aku juga tak begitu senang dengan kepribadiannya. Dia seperti punya dua kepribadian, tenang di luar tapi di ranjang dia jadi seorang maniak. Mungkin karena sudah bertaun tahun menumpuk dan baru terlampiaskan sekarang... Ahhh entalah bagaimana pun dia sudah milik Luhan"
"Aku jadi penasaran bagaiman dia masih.. Mmm.. You know what i mean , sedangakan dia sudah punya Luhan. Kau juga, bagaimana gadis nakal sepertimu masih suci selama ini? Maaf jika ini terdengar merendahkan mu nona Do"
"Tak apa, kau bukan satu-satunya yang terkejut. Mungkin Luhan tidak mau."
"Apa kau menyesal datang terlambat?"
Kyungsoo tersenyum simpul dan kembali tidur meringkuk di kursi."Aku tidak tau sepertinya datang di awal pun tidak pengaruh apa pun. Kami hanya main-main"
"Aku tidak mengerti, jika kalian hanya bermain-main. Lalu dimana letak masalahnya? " tanya Suho bingung.
"Ia menemuiku lagi. Aku sudah menyuruhnya pergi. Saat itu ia mengungkapkan identitasnya. Membuka topengnya. Aku mengenalinya. Saat itulah aku tau dia kekasih Luhan. Aku merasa bersalah pada Luhan."
"Dan kau terlanjur juga tertarik padanya. Walaupun awalnya hanya bermain-main." Suho dapat sekilas melihat anggukan Kyungsoo. suho menghembuskan nafasnya pelan, "Tidak ada yang bisa di salahkan disini. Kau yakin dia kekasih Luhan? Pastikan dulu, baru kau boleh mengambil keputusan. Kau berhak menyukai dan disukai, kau juga berhak bahagia"
"Thanks, Suho-ssi. Baru kali ini aku percaya kau pendeta asli"
Suho menangkap bayangan seorang pemuda berdiri tak jauh dari kursinya. Ingin menghampiri dirinya namun enggan karena masih mengobrol. "Jika kau sudah agak baikan, pulanglah! Chanyeol maupun Luhan sudah pasti mencarimu! Aku tinggal dulu, ada sesuatu yang ku urus"
"Hmm" sahut Kyungsoo
Suho memberikan isyarat untuk pemuda yang tak lain adiknya untuk mengikutinya keluar ruangan. Pemuda itu menurut, membuntutinya hingga berhenti di kamar pribadi Suho.
"Hyung... "
"Apa? " Suho menyahut sambil mengecek buku laporan dana panti yang masuk. "Biar ku tanya dulu, Luhan masih kekasihmu bukan? "
"Tentu saja"
"Lalu bagaimana kau bisa kau tidur dengan wanita tadi? "
"Wanita mana ? Wanita yang tidur tadi?"
"Iya, dia sahabat Luhan. Kau juga sering ke club bukan? Dia mengaku tidur dengan kekasih Luhan? Berarti itu kau, anak nakal! " Suho menutup buku laporannya dengan kasar. Ia tidak bisa menghitung dengan benar jika sedang marah begini.
"Pasti ada yang salah disini. Aku memang sering bercumbu dengan wanita lain tapi tidak sampai menidurinya"
"Dia juga berkata begitu, pria yang menidurinya juga masih perjaka"
"Ya Ampun, hyung... Mana mungkin aku perjaka, jika kekasih ku saja secantik Luhan. Aku juga tidak akan membual hal bodoh seperti itu. "
"Yakkk! Sehunna, bicara yang jelas! Lalu siapa kekasih Luhan yang dia maksud? "
"Mana ku tau, hyunggg! Mungkin si pangeran kegelapan. Semua orang mengira ia kekasih Luhan"
Sehun tersadar akan kata-katanya sendiri. Jongin, mana mungkin. Suho berubah jadi ikut serius melihat adiknya seperti menemukan titik terang kesalahpahaman ini.
"Apa gadis tadi seorang jalang? "
"Dia putri tunggal kepala kepolisian Seoul Utara. Untuk apa menjadi jalang? Dan bagaimana kau berpikiran buruk seperti itu?
"Begini, hyung... Mungkin yang dimaksud adalah Jongin. Beberapa hari yang lalu aku melihatnya mentransfer uang ke suatu rekening pribadi. Jumlahnya lumayan... "
"Kim Jongin, sahabat dari kecilmu itu? Yang sering eomma gendong? Yang putra perdana menteri? Ngomong-ngomong berapa nominalnya? Apa ratusan won? "
"Sepertinya iya"
Mungkinkah uang yang sering diberikan atas nama Luhan sebenarnya uangnya? Pikir Suho semakin bingung. Nominalnya pun ratusan sama dengan biaya untuk Sunny. "Apakah kekasihmu punya uang ratusan won di rekeningnya?"
"Hyung, menuduhku menghambur-hamburkan uang untuk Luhan? Aku tak pernah mengirimnya uang, hyung... Aku tak mau dia manja."
"Bukan begitu, anak ayam! Luhan membiayai pengobatan salah satu anak panti disini. Pencakokan ginjal, biayanya lumayan banyak. Ratusan won."
Sehun terlihat kaget. "Mana mungkin dia melakukannya... Seminggu yang lalu saja ia mengirimi uang ke keluarganya dengan sisa uang beasiswa. Aku pun pernah mengecek rekeningnya dan tidak menyentuh angka ratusan"
"Sebenarnya ada apa, hyung?" tanya Sehun lagi.
"Nanti akan ku ceritakan. Kau kenapa kemari? Appa akan mencoretmu juga dari daftar hak waris, jika tau kau disini"
"Pulanglah, hyung! Eomma merindukanmu, eomma sering menangis jika teringat hyung. "
"Ini jalanku, Sehun! Cobalah mengerti "
"Cobalah memikirkan ku juga, hyung! Aku juga tidak mau. Bagaimana dengan Luhan, hyung! Appa pasti juga melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan kepada Yixing noona"
"Sehunn! "
TBC
.
.
Note:
Gimana udah puyeng belum bacanya? Otak author juga pendarahan ini. Kalau ada yang bingung, bisa ditanyakan. Kasih masukan juga boleh banget.
Satu per satu cast nya bakal author keluarkan. Spoiler aja ntar ada Kris ama baekhyun juga... Mereka harus ada biar tambah rumit.
