MASK
"Semua orang memakai topeng untuk kau cintai.
Jika kupakai topeng burukrupa, akankah kau mencintaiku?"
.
.
CHAPTER 5
.
.
.
.
Beberapa tamu undangan sedang mengobrol dan menikmati jamuan di pelataran villa milik keluarga Oh diiringi iringan musik romatis. Lengkap dengan lilin-lilin yang berjejer rapi dan lampu kerlap kerlip berlatar langit malam menaungi pesta kali ini. Pesta memang belum usai, namun Sehun sudah tak berada di tengah pesta. Ia memilih masuk ke kamar utama bersama Luhan. Sudah dua jam lalu malah, tapi tak ada satu pun tamunya yang menanyakan kepergiaannya. Mereka terlalu asik menikmati pesta.
"Hunie~" panggil Luhan merasakan gerakan di ranjang yang ia tiduri. Sambil menaikan selimut menutupi dadanya, ia mencoba bangun. Ia dapat melihat dengan jelas punggung telanjang Sehun yang sedang duduk di pinggiran ranjang. Sehun duduk membelakanginya.
Sehun tetap diam, tak menyahuti. Tak mengucapkan sepatah kata pun. Lampu bersinar temaram membuat Luhan tidak tau apa yang sedang Sehun lakukan. Mungkin ia hanya duduk tanpa melakukan apa pun.
"Hunie~" panggil Luhan sekali lagi sembari merapatkan selimutnya kemudian merangkak mendekat ke arah Sehun.
Grep! Tangan kecil Luhan melingkar di sepanjang perut datar Sehun. "Istirahatlah, kau pasti lelah," ujar Sehun datar. Ia masih tak bergeming di tempatnya. Luhan bersandar pada punggung lebar itu.
"Baba menanyakan kapan kau akan menikahiku" ucap Luhan lirih namun dapat Sehun dengar dengan jelas.
"Jangan terlalu berharap banyak denganku."
"Keluargaku sudah tahu dengan hubungan kita, mereka berharap banyak denganmu. Pamanku juga pernah bertemu dengan appa-mu di China"
Sehun menoleh sekilas. "Mundurlah selagi bisa. Aku bukan pilihan yang tepat. Aku akan membawa banyak masalah dalam hidupmu."
"Tapi kau satu-satunya pilihan terbaik."
"Aku punya banyak wanita di luar sana, kau tau benar tentang itu."
"Jongin sudah memberitahuku, kau tidak benar-benar dengan gadis itu di hotel."
"Jika kau bersamaku keluargamu jadi taruhannya, Lu," ujar Sehun penuh penekanan seolah sebuah gertakan.
"Keluargaku kenapa?"
"Kau tidak tau yang terjadi pada calon kakak iparku. Kembalilah ke pria yang kau temui kemarin. Ia dapat membahagiakanmu."
"Aku hanya menyapanya. Kau cemburu?"
"Jika aku bilang ya, apa kau percaya?"
Sehun dapat merasakan dari punggungnya bahwa Luhan melakukan gerakan menganggguk, "Mmm... aku hanya mencintaimu. Percayalah."
"Aku juga. Tapi kau harus mundur, Lu...cepat atau lambat"
"Aku tidak akan mundur."
"Jika kau begini terus, aku akan bercumbu dengan lebih banyak wanita. Sampai kau mundur meninggalkanku."
"Kenapa kau begitu kukuh membuatku meninggalkanmu? Kenapa tidak kau saja?"
"Karena aku tidak bisa meninggalkanmu," ucap Sehun lirih sarat akan kefrustasian. Luhan mengerutkan keningnya tak paham dengan ucapan kekasihnya.
Sehun melepas tangan Luhan yang ada di perutnya. Mengambil celana jeans yang tercecer di lantai, lalu memakainya asal. Sebelum keluar kamar, Sehun menuntun Luhan untuk kembali berbaring. "Kembalilah tidur, badanmu pasti sakit semua." Di akhiri dengan satu kecupan kilat di pucuk kepala Luhan.
Di luar villa, Jongin menepuk-nepuk kemejanya yang penuh debu. Mengacak-acak rambutnya yang sudah tak beraturan. Dua kancing tertatas sengaja ia buka. Ia berjalan dengan raut wajah kesal sembari mengusap kasar darah yang keluar dari sudut bibirnya. Para undangan lainnya otomatis menatap ngeri ke arahnya. Bagaimana tidak penampilan Jongin sekarang tidak ada bedanya dengan gengster yang habis bertarung.
Jongin menerobos masuk ke dalam villa, diikuti Xiumin yang berjalan mengikuti kemana pun tuannya pergi. Dengan santainya ia membuka kamar utama yang tak di kunci. "Dimana Luhan?" serunya sembari memandangi kesekeliling ruangan. Hell, ini lebih mirip apartement. Ruang tamu, pantry, kamar tidur, dan jangan lupakan ukurannya yang terlalu luas.
Sehun yang baru saja menutup pintu kamar tidur memandangi Jongin yang berpenampilan awut-awutan. "Kau memang sudah bosan hidup sepertinya," sidirnya berjalan ke pantry. Mengambil minuman kaleng soda dari kulkas lalu duduk di kursi pantry.
"Mana Luhan?" tanya Jongin sekali lagi.
"Di kamar," balas Sehun. Jongin segera bergegas menuju kamar, meminta bantuan mengobati luka-lukanya. "Jangan mengganggunya. Dia sedang tidur." ucapnya lagi.
"Yakkkk..! Lalu siapa yang mengobatiku?" teriak Jongin membuat Xiumin yang berdiri di sudut ruangan ingin menyela untuk menawarkan dirinya. Tau maksud bodyguard cantiknya itu, Jongin langsung berujar, "Maaf Xiumin-ssi, akan canggung jika kau yang mengobatiku."
Xiumin mendadak pundung. "Kemari!" pinta Sehun yang sudah berpindah ke sofa lengkap dengan kotak obat, yang entah kapan ia mengambilnya. Jongin langsung ikut duduk manis di samping Sehun. "Masih suka merengek pada ibumu saja, sok-sok an bertarung. Mana yang sakit?"
"Kau tidak melihat luka melintang menganga lebar di punggungku yang seksi?" semprot Jongin memerkan punggungnya pada Sehun. Sehun menilik punggung Jongin yang masih berbalut kemeja. Benar kemeja bagian punggungnya sobek. Ada luka bekas benda tajam disana, tidak terlalu dalam tapi cukup perih pasti. "Apa mengambil tas Luhan harus bertarung dengan preman-preman?"
"Aku malah sampai lupa bagian tas Luhan."
"Biar ku tebak. Wanita?" ucap Sehun sambil melepas kemeja Jongin, tapi Jongin memegangi kemejanya menolak untuk melepasnya. "Yups. Kau mau apa?"
"Mengobati punggungmu bodoh! Kau pikir aku akan memperkosamu? Aiiihhh,..mana sudi aku. Cepat lepas!" ujar Sehun galak.
"Xiumin-ssi!" panggil Jongin.
"Ne.." sahut Xiumin hormat.
"Bisakah kau menunggu di luar?" pinta Jongin secara halus.
"Tapi, Tuan Kim Jongin – " Xiumin tidak melanjutkan penolakannya namun memandangi Sehun dan Jongin bergantian.
"Kami berteman sejak kecil, dia tidak berbahaya."
"B-bukan itu yang saya khawatirkan..."
Jongin diam sebentar, lalu terkoneksi apa yang ingin Xiumin sampaikan. Jongin mengusap dahinya kasar, "Ya Tuhan, kami ini normal. Sungguh, kami tidak akan melakukan apa pun."
"Saya hanya khawatir. Kalau begitu saya permisi dulu, tuan-tuan!" Xiumin undur diri di selingi tatapan curiga ke arah Sehun.
Sepeninggal Xiumin, Sehun mulai membasuh punggung Jongin dengan alkohol. Karena lukanya tidak begitu dalam jadi ia tak perlu menjahitnya, cukup di beri obat merah. "Datang terlambat, tidak memeberi kado, lupa tas Luhan, kemari babak belur. Kemana otak warasmu, Kim? Kau gadaikan untuk meniduri jalang?"
"Daripada aku meniduri Luhan. Kau rela?" balas Jongin dan langsung lukanya di tekan dengan kapas dengan sangat kuat. "AAAaawww...sakit idiot!"
Sehun masih belum puas, ia meletakan kapas di luka melintang itu lalu di balut kain kasa dan di tepuk dengan keras. Jeritan Jongin terdengar lagi. "AAAoww...bercanda...! bercanda...!" koreksi Jongin takut di siksa lagi.
"Mana lagi?" tanya Sehun dingin.
"Sebenarnya bibirku sedikit sobek. Tapi nanti saja, aku bisa sendiri. Melihat moodmu sedang jelek."
Sehun menghela nafas pelan. Lalu bersandar pada punggung sofa mencoba merilexkan dirinya sendiri. Matanya menatap lampu yang mengantung di atap. "Jangan ke club lagi. Cari wanita yang benar!" nasehat Sehun tiba-tiba.
"Aku memang tak akan ke club lagi. Aku sudah membuat kegaduhan disana. Mana aku belum di jepit," keluh Jongin mendapat lirikan maut dari Sehun.
"Aku punya penjepit tikus. Berminat?"
"Tidak, terima kasih dan berhenti berbicara seperti tidak suka bermain dengan gadis di luar sana"
"Aku tidak meniduri mereka. Aku hanya bermain. Aku hanya meniduri kekasihku saja, asal kau tau. Apa yang kau tiduri kekasihmu? Bukan kan? Aku lebih baik darimu."
"Hey, aku hanya meniduri satu wanita saja," ujar Jongin tak mau kalah.
"Tapi dia bukan milikmu, bodoh! Dia melakukannya karena uangmu dan dia tidak melayanimu saja," cerca Sehun lagi.
"Ya...kau benar. Aku sudah tak bisa lagi ke club dan dia juga. Ahhh, aku jadi merindukannya, padahal baru beberapa jam yang lalu melihat mata bulatnya."
Sehun hanya geleng-geleng kepala mendengar penuturan kawannya ini. "Itu berita bagus, bung! Kalau dia juga tidak bisa ke club lagi, dia tak akan melayani siapa pun. Punya pria lain – ." Sehun menepuk selangkangan Jongin yang sedikit menggembung. "...dan punyamu. Dia akan jadi wanita normal lagi."
"Akhhh...hati-hati dengan tanganmu albino! Disini penerus Kim dihasilkan," protes Jongin. "Tapi dia bisa bekerja di luar club. Sekarang banyak media untuk menjual diri."
"Aku tidak tau kenapa kau begitu tertarik dengannya. Aku juga tidak tau kenapa kau melepas keperjakaanmu padanya. Seorang Kim Jongin anak baik dan terhormat akhirnya tidak bisa menahan gejolak hasratnya lagi. Wow..." Sehun mengucapkannya dengan wajah datar mencoba seolah-olah dirinya terkejut. Sangat tidak cocok memang.
"...Tapi kurasa dia tidak dapat melayani siapa pun jika tidak di club tersebut. Dia teman Luhan bukan?" lanjut Sehun.
Jongin membenarkan duduknya, "Bagaimana kau tau? Aku bahkan baru tau wajah dan namanya hari ini"
"Rahasia. Tapi percaya pada ucapanku tadi. Dia putri orang yang cukup terpandang. Dia tak akan mengambil resiko, walaupun dia sangat butuh uang dari hidung belang sepertimu."
"Aku bukan hidung belang."
"Kalau begitu apa hidungmu mancung?"
"Tidak juga. Aisshhh...Kau membuatku kesal saja! Tapi terima kasih infonya, aku akan menyusun rencana."
"Jangan gegabah, Kim! Kurasa dia bukan wanita biasa, mengingat kau pulang babak belur seperti ini karenanya. Ini bukan karena aku perhatian padamu, tapi appamu perdana menteri. Appamu pasti langsung menyeretku ke penjara sebagai tersangka utama, jika mendenga putra satu-satunya terbunuh."
"Kau berlebihan tuan muda Oh. Ngomong-ngomong kau sudah berbaikan dengan Luhan?"
"Ya, Jika dia masih marah pasti dia tidak akan mau datang kesini dan kutiduri," Jongin ingin sekali menjahit mulut Sehun yang seenaknya berucap. Apa yang ia pikirkan pasti langsung ia katakan tanpa penyaring.
"Jika Luhan hanya untuk kau tiduri saja lebih baik berikan padaku. Akan kunikahi secepatnya. Appaku sudah mengincarnya menjadi menantu sejak gosipku tersebar.."
Sehun terkekeh pelan. "Lalu kau tiduri juga kan...apa bedanya?"
"Bedanya aku menikahinya. Dia sudah sah dimata hukum."
"Ya...ya...ya...Jika Luhan mau silahkan saja."
"Tsk...seperti kau rela saja! Aku tidak bodoh, di balik sikap acuhmu itu kau sangat mencintainya bukan?"
"Aku serius, jika Luhan mau denganmu akan ku relakan. Daripada jadi seperti Yixing noona dan Luhan bilang pamannya sudah bertemu dengan appaku."
Jongin mendadak ikut prihatin mengingat kisah tragis Yixing noona. Awalnya ayahnya Sehun tidak ada masalah, namun mendekati hari pernikahan semuanya menjadi kacau. Keluarga Yixing noona ketauan menipu Tuan Oh, dokumen rahasia perusahaan leyap dan perushaan Tuan Oh cabang China berpindah kepemilikan ke keluarga Zhang. Jongin tidak tau detailnya tapi ayah Sehun keburu murka memilih menghabisi kelurga Zhang lewat kaki tangannya. Hanya tersisa Yixing noona.
Pada akhirnya keluarga Zhang tak ada yang tersisa, Jongin melihat sendiri Suho hyung menjerit-jerit melihat kekasihnya mengakiri hidupnya dengan menusuk dirinya sendiri dengan samurai. Terlebih kejadian itu di kamar Suho hyung, Jongin sangat paham bagaimana terpukulnya. Jongin dengar Yixing noona tak mampu membalaskan dendam keluarganya karena ia mencintai Suho hyung. Ia tak mampu menyakiti orang yang ia sayangi. Merasa malu dengan dirinya sendiri, Yixing noona memilih jalan bunuh diri.
"Well, itu terdengar buruk. Aku tidak bisa membayangkan Luhan bunuh diri karena cinta bodoh kalian. Itu mengerikan. Mengingat tabiat appa-mu dan sampai sekarang belum bertindak, pasti sudah ada hadiah besar menunggumu."
Pembicaraan mereka terhenti karena suara kembang api mulai berdentum dari luar ruangan. Pertanda Sehun sudah genap bertambah usia. Para tamu bersorak dan betepuk tangan. Doa-doa di panjatkan kepadanya. Sehun berjalan ke arah jendela kaca besar, menengok perayaan ulang tahunnya sendiri.
"Berapa usiamu sekarang?" tanya Jongin.
"Genap dua puluh lima," sahut Sehun tanpa menoleh.
"Tidak muda lagi. Jika kita tidak telat masuk universitas karena kau mengikutiku berkeliaran sebagai penari jalanan di negeri orang. Seharusnya kau sudah bekerja di perusahaan."
"Tak masalah. Kapan lagi sahabatku yang sopan, kaku dan penurut melakukan hal gila."
"Mau ku beri hadiah doa? Walaupun mungkin tidak di kabulkan karena – "
"Katakan saja, siapa tau terkabul," potong Sehun.
"Semoga kita semua berakhir dengan cerita yang bahagia. Ku doakan tidak ada nyawa yang melayang sia-sia dan tak ada jiwa yang merasa bersalah. Lagi."
"Amien..." guman Sehun lirih. Doa tersebut di tutup dengan sepasang mata yang menangis.
.
.
MASK
.
.
Untuk sementara waktu Baekhyun akan diungsikan di apartemen Chanyeol. Baekhyun yang masih tidak bisa dimintai keterangan apapun, membuat Chanyeol dan Kyungsoo menunggunya bicara hari ini. Setelah itu ia akan melapor ke ayah Kyungsoo untuk menanganinya.
Mereka bertiga makan dengan tenang pagi ini. Baekhyun juga sudah berpakaian dengan layak berkat Kyungsoo yang langsung meluncur ke apartemennya untuk mengambil beberapa potong baju yang bisa di pakai. Baekhyun makan sambil sesenggukan. Chanyeol tidak jadi marah hari ini. Kyungsoo dengan tangan kanan di perban sekarang sedang kesusahan menggunakan sumpit memilih menghentikan makannya karena sudah jengkel.
"Baekhyun-ssi, setelah ini kita akan mengantarmu ke kantor polisi. Ceritakan saja yang terjadi padamu."
"Ja-jangan..." Baekhyun menghentikan makannya lalu mengusap air matanya.
"Beri aku alasan yang logis kenapa aku tak boleh melaporkannya?" kata Kyungsoo yang membuat Baekhyun sedikit bergertar ketakutan.
"Mereka..mereka...seperti ...mafia. Polisi ...polisi tidak akan bisa..menangkapnya," ucap Baekhyun terpotong-potong.
"Ceritakan semuanya..pelan-pelan saja," pinta Chanyeol halus.
"Kau di jual orang tuamu?" tanya Kyungsoo.
Baekhyun menggeleng, "Aku dari panti asuhan..."
"Ohh...maafkan aku baekhyun-ssi," ucap Kyungsoo merasa tidak enak. "Tapi bagaimana bisa kau sampai di club?"
Chanyeol menawarkan minuman tapi Baekhyun tolak. Ia hanya mengambil nafas panjang untuk bersiap bercerita."Di panti asuhan kami banyak anak-anak baru yang masih kecil. Jarang ada yang datang mengadopsi. Sehingga kami yang sudah dewasa akan di rekrut oleh para penyumbang utama untuk bekerja. Untuk mengurangi beban panti."
"Anak laki-laki yang sudah dewasa di kirim ke pabrik-pabrik pembuatan senjata. Sedangkan kami yang perempuan akan di pisahkan dan di jual ke club atau ke orang-orang kaya."
"Kenapa kau tidak kabur?"
"Aku takut, mereka mengancam akan menghentikan dana untuk panti asuhan. Aku juga tidak punya kekuatan untuk melawan. Kalau pun bisa kabur, aku tidak tau harus kabur kemana...hiks...hiks..." Kyungsoo langsung berlutut dan memeluk Baekhyun. Memberikannya support secara psikis.
"Kita harus memberitahu panti asuhanmu. Tidak ada yang boleh lagi seenaknya di jual," kata Chanyeol.
"Percuma saja. Dulu ketika aku masih tinggal disana, ada wanita seusiaku sekarang berpakaian mini dan robek sana sini masuk ke ruangan Sooman ahjussi, pemilik panti kami. Aku mendengar wanita itu mengamuk di dalam. Bahkan Suho-ssi pendeta baru kami ikut masuk ke dalam mendengar keributan itu."
"Tunggu..Suho-ssi?" seru Kyungsoo tak percaya.
"Biar dia lanjutkan dulu, Kyung!" ucap Chanyeol yang sebenarnya juga terkejut.
"Aku tidak begitu jelas mendengarnya. Tapi aku mendengarnya mengumpat, menyebut kata jalang dan bunuh diri. Ketika mereka bertiga keluar, aku bersembunyi di dalam kamar. Mengintip dari celah-celah pintu. Nadi tangan wanita itu sudah bersimbah darah dan langsung di larikan ke rumah sakit."
"Besoknya polisi datang tapi hanya sekedar meminta kesaksian. Kudengar dari kamar atas, polisi menutup kasus itu sebagai bunuh diri dan menganggap wanita tadi gila."
"Suho-ssi melarang kami membicarakan tentang hal itu lagi. Sampai akhirnya aku merasakannya sendiri..." Kyungsoo mengeratkan pelukannya, memberikan tepukan ringan menenangkan. Suara Baekhyun menangis terdengar semakin kencang. Kyungsoo melihat sendiri bagaimana tubuhnya di koyak memuaskan empat orang sekaligus, ia sangat paham rasanya.
"Kau aman bersama kami disini!" ucap Kyungsoo. "Sementara tinggallah bersama Chanyeol, dia pria baik. Aku jamin itu."
Baekhyun menunduk sambil memainkan jari-jarinya, "Aku akan mencari pekerjaan untuk sewa tinggalku disini.. Terima kasih banyak"
"Jangan terlalu dipaksakan, kau boleh tinggal selama kau mau," kata Chanyeol sambil tersenyum lebar. Diam-diam mata sipit Baekhyun tak berkedip dengan baik.
"Kalau begitu kutinggal dulu, aku ada jadwal kuliah hari ini. Setelah itu akan ku colok mata pendeta gadungan itu!" seru Kyungsoo bersemangat sambil bersiap meneteng tasnya.
"Kurasa tanganmu tidak hanya luka. Pergilah ke dokter, mungkin ada tulangmu yang bergeser atau semacamnya. Perlu ku antar?" tawar Chanyeol. Kyungsoo menggeleng sambil mengecup bibir lebar Chanyeol lalu melarikan diri sebelum Chanyeol murka. "Yakkk! Do Kyungsoo! Disini ada Baekhyun-ssi!"
Baekhyun pipinya menjadi merah melihat kelakuan Kyungsoo dan Chanyeol. "Kalian tampak serasi "
Chanyeol mengusap tengkuknya merasa malu dan bingung menjelaskan darimana. "Kami bukan sepasang kekasih seperti yang orang pikirkan. Biar kubersihkan piringnya... Kau istirahat saja di dalam atau menonton TV saja!" Chanyeol mulai memberesi piring-piring kotor yang ada di meja.
"Biar aku saja, ini pekerjaan wanita... " Baekhyun mengambil alih piring-piring Chanyeol. Chanyeol masih bersih kukuh memegang piring-piring itu, hingga saling tarik pun tak terelakkan.
"Biar aku saja! "
"Biar aku saja, tolong! "
Sadar mereka berdua seperti anak kecil berebut mainan, suasana menjadi sangat canggung. Akhirnya Chanyeol mengalah melepaskan piring piring itu. "Baiklah.. Terima kasih sudah mau mencuci kan, Baekhyun-ssi! Jika butuh sesuatu aku ada di kamar, jangan sungkan minta tolong padaku"
Chanyeol bergegas pergi namun pikirannya menimbang-nimbang sesuatu, akhirnya ia berbalik lagi. "Mmm.. Baekhyun-ssi panggil aku Chan atay yeol saja dan.. Hhhmm... Mungkin ini terlalu dini mengatakannya, tapi kumohon jangan tertarik padaku." Baekhyun menatap Chanyeol binggung tapi ia pun mengangguk mengiyakan.
"Chanyeol-ssi! ...Maksudku Chan, aku menemukan sobekan kertas berisi nomor telepon di saku jaketmu. Ini! Siapa tau itu nomor penting" Baekhyun menyerahkan sobekan kertas berisi deretan angka tersebut pada Chanyeol.
"Terimaksih. Ku harap ini bukan nomor layanan sedot WC," gurau Chanyeol namun dalam pikirannya melayang pada pria yang di temui di kantor polisi tempo hari. Apakah ia ingin aku menghubunginya agar bisa bertanya nomor Kyungsoo?
.
.
.
.
"Kau tadi malam menginap di apartemen Chanyeol?" tanya Luhan sembari menulis beberapa pertanyaan untuk kelompok yang sedang presentasi. Kyungsoo juga heran bagaimana Luhan bisa membagi fokusnya begitu.
"Ya, Kau sendiri? Ketika aku pulang mengambil baju, kau belum pulang, " Kyungsoo bertanya balik dan berhasil membuat Luhan gelagapan.
"A-aku... Menginap di rumah teman. Pestanya selesai larut malam, aku takut pulang."
"Oh astaga lehermu merah-merah, Lu! Kau tidur di hutan?"
Luhan meraba lehernya, "Ini hanya digigit nyamuk"
Kyungsoo menahan tawanya, "Pfffftt... Nyamuk apa yang membuatmu tampak kelelahan seperti ini? "
"Nyamuk-nyamuk di dinding..," jawab Luhan asal.
"Yang diam diam merayap dalam celana dalam" lanjut Kyungsoo.
"Hey, itu terdengar tidak asing," komentar Luhan merasa tidak asing dengan kata-kata itu. Seperti sebuah lagu, pikirnya. "Kyung, temani aku membeli kopi setelah ini. Aku butuh asupan kafein," ucap Luhan sambil menguap.
Cafe yang Luhan dan Kyungsoo datangi cukup ramai, membuat mereka berdua bingung mencari tempat duduk. Apalagi Luhan tak hanya membeli kopi saja ternyata, kentang goreng ukuran ekstra, macaroon, dan yang tak habis pikir Luhan masih memesan sepotong cake dengan lelehan coklat mengkilat. Bisa di bayangkan seberapa penuhnya nampan mereka berdua. Karena tangan Kyungsoo berbalut perban, kali ini Luhan membawa nampan penuh itu sendirian.
"Sepertinya kita tak bisa duduk," ucap Kyungsoo yang mulai pegal berdiri sambil celingak-celinguk.
"Ehhh, Jonginnnn!" pangil Luhan bersemangat menemukan Jongin duduk sendirian. Mendengar panggilan Luhan yang cukup keras Jongin yang sedang minum, tiba-tiba macet di tenggorokan hampir menyembur keluar jika tak segera ia telan.
"Noooo! Nooo!... Please Luhan Noooo..!" guman Kyungsoo meratapi nasib sialnya. Dengan semangat ala prajurit perang Luhan langsung duduk di kursi depan Jongin.
"Ayo, Kyung kemari! Kita dapat tempat duduk sekarang!" ucap Luhan riang. Jika bisa Kyungsoo sekarang lebih memilih makan sambil berdiri. Makan semeja dengan orang yang tadi malam penisnya hampir ia jepit.. Oohhh, katakan ini hanya mimpi buruk di siang hari.
"Kyung?" cicit Jongin.
"Ahhh... Ini teman apartemenku. Namanya Kyungsoo." Luhan memperkenalkan Kyungsoo yang sudah duduk denga wajah was-was.
Bukannya menghiraukan Luhan, Jongin malah fokus pada tangan kanan Kyungsoo yang berbalut perban. "Tanganmu juga terluka? Harusnya kupatahkan saja - " ucapannya terpotong karena Kyungsoo menatapnya garang. Seakan menyuruhnya berhenti bicara tidak jelas.
"...harusnya kau di rawat di rumah sakit. Tanganmu masih sakit bukan," koreksi Jongin.
Luhan menatap Jongin bingung. "Mmmm... Perkenalkan ini Kim Jongin. Dia temanku."
"Ya, teman, " ulang Jongin penuh penekanan agar Kyungsoo tidak salah mengira lagi.
"Sepertinya aku lupa minta tambahan saus untuk kentang gorengku." Luhan langsung ngeloyor pergi kembali ke meja pemesanan.
Sekarang hanya tinggal Kyungsoo dan Jongin yang saling menatap, ingin segera menyuarakan isi pikirannya masing-masing. Jongin sudah membuka mulutnya namun suara Kyungsoo lah yang pertama terdengar, "Jika kau bicara tentang penis dan vargina... Lebih baik diam saja."
Reflek Jongin menutup mulutnya, namun sedetik kemudian kembali terbuka. Satu pertanyaan lagi hinggap di kepalanya. Namun lagi lagi Kyungsoo sudah buka suara duluan. "Luhan tidak tau apa-apa tentang diriku di malam hari."
"Aku belum bertanya, "
"Sudah jelas kau akan menanyakan itu."
Ketika Luhan datang, mereka berdua kembali diam seakan tidak kenal dan canggung satu sama lain. "Kenapa kalian diam saja, kalian bisa mengobrol atau bertukar nomor jika kalian mau,"
"Ide Bagus / Ide buruk," sahut Jongin dan Kyungsoo bersamaan.
"Oohh maaf, bukan maksudku tidak mau. Aku agak risi dengan orang asing," kata Kyungsoo takut membuat Luhan curiga.
"Orang asing ? Bahkan kita sudah tidur besama, " gerutu Jongin samar-samar terdengar. Kyungsoo langsung menginjak kaki Jongin di bawah meja. Jongin mengaduh tanpa suara.
"Kau mengatakan sesuatu, Jongin?" tanya Luhan.
"Ah.. Tidak, mungkin temanmu baru bertemu denganku hari ini. Jadi aku masih asing baginya."
"Aku kebelakang sebentar ya, Lu!" pamit Kyungsoo berjalan menjauh menuju toilet terdekat.
"Sepertinya aku juga ingin ke kamar kecil sebentar. Nikmati makananmu dulu, aku ada panggilan alam." Jongin berjalan cepat segera menyusul Kyungsoo.
Luhan hanya bisa mengangguk seperti orang dungu. "Mereka berdua kenapa? Aku merasa aneh," guman Luhan sambil melahap kentang gorengnya.
Beruntung Kyungsoo belum sampai masuk toilet wanita. Jongin langsung menahan tangannya. "Akhh... Tanganku sakit bodoh!"
"Maaf." Jongin melepaskan tangan kanan Kyungsoo tapi berpindah memegang tangan kiri Kyungsoo.
"Apa maumu? Jika ini soal uangmu, aku akan menyelesaikan pembayarannya nanti. Maaf kemarin aku banyak urusan."
"Tidak, jangan di kembalikan... Kita teruskan saja yang sempat tertunda kemarin," tolak Jongin.
Kyungsoo menatapnya tak percaya. "KAU GILAAA!" umpat Kyungsoo berhasil membuat orang-orang yang berlalu lalang melirik mereka berdua. Apalagi disini ada Jongin. Untung Xiumin sepakat tidak mengikutinya ketika kuliah, Jongin tidak mau kehadiran Xiumin membuatnya mencolok. Jika dia ada disini, Kyungsoo sudah pasti patah tulang karena berani memaki tuannya.
Tak mau jadi pusat perhatian, Jongin menarik Kyungsoo ke toilet laki-laki yang cenderung lengang dibanding toilet perempuan penuh orang antri berdandan. Nasib baik berpihak pada Jongin rupannya. Toilet sepi, tanda ia bisa melancarkan aksinya tanpa perlu masuk berita di koran. Bayangkan seorang anak terpandang berbuat mesum di toilet, apa kata appa-nya nanti?
Jongin mengangkat tubuh Kyungsoo untuk duduk di wastafel. "Aku merindukanmu. Kau bisa tanyakan Sehun jika kau tak percaya"
"Kenapa aku harus menanyakannya pada Sehun?"
"Hanya saran saja, jika kau tak percaya."
"Baikalah.. Baiklah... Aku percaya Tuan Kim. Lalu apa maumu?"
Jongin tersenyum simpul. "Melanjutkan yang kemarin tentunya."
Tanpa aba-aba bibir Jongin sudah menempel. Kali ini dirinya melumat dengan lembut diselingi kecupan kecupan manis nan panjang. Kyungsoo merasa ada rasa anyir khas darah di mulutnya, ia pun menghentikan ciuaman Jongin.
Benar, sudut bibir Jongin berdarah. Kyungsoo mencari tisu di kantong celananya lalu mengusapkan ke bibir Jongin dengan tangan kirinya. "Apa sakit?" tanya Kyungsoo khawatir.
Jongin ingin menjawab iya, tapi melihat Kyungsoo begitu cemas akhirnya yang keluar dari mulutnya adalah, "Tidak... "
"Kau terluka karena tadi malam bukan? Mana yang luka lagi?" Kyungsoo mengecek dengan meraba-raba wajah dan tubuh Jongin.
"Tenang saja, hanya punggungku yang tergores. Aku tidak sampai patah tulang atau hilang ingatan."
Kyungsoo langsung meraba bagian punggung Jongin. Ia dapat merakan tekstur yang berbeda melintang sepanjang punggungnya. "Bodoh, harusnya kau tak usah menolong jalang sepertiku !"
"Daripada memakiku seperti itu, lebih baik ucapakan terimakasih saja."
Kyungsoo memandang mata Jongin sambil berucap, "Gumawo, Jonginie!"
Cup! Jongin mengecup bibir hati itu. "Sama-sama," balas Jongin menggendong Kyungsoo ke bilik toilet. "Tapi anak nakal tetap harus di hukum."
Jongin duduk di kloset dan menarik Kyungsoo ke pangkuannya. Menciumi leher jenjang putih itu dengan bersemangat."Kau terlihat lezat," bisik Jongin. "Mmmhhh.. Luhaannn sedang menunggu kitaaaa.. ," balas Kyungsoo sambil meremas pundak Jongin.
"Aku seperti buronan," ucap Jongin. "Langsung saja kalau begitu, " lanjut Jongin meminta Kyungsoo menyingkir sebentar. Membuka kancing dan menurunkan zipper celananya lalu menariknya sedikit ke bawah. Membuat kejatanannya terbebas dari sesaknya celana yang ia pakai. Kyungsoo juga melakukan hal yang sama, hanya saja ia melepas semua celana jeansnya dan menggantungnya di gantungan pintu bilik. "Celana jeansku merepotkan,"
Setelah itu Kyungsoo langsung duduk di pangkuan Jongin. Milik Jongin langsung melesak ke dalam tubuhnya yang sempit. Kyungsoo sampai menggigit bibirnya agar tidak memekik keras. Jongin tau itu menyakitkan, apalagi ini termasuk awal. Baru dua kali dibobol olehnya. Ia pun berinisiatif memeluknya sambil mengelus pelan rambut hitam Kyungsoo yang tergerai.
Jongin mulai menggerakan miliknya hingga mau tak mau membuat tubuh Kyungsoo melonjak-lonjak seirama dengan gerakannya. Kyungsoo berusaha tidak mendesah karena bagaimana pun ini toilet umum, mungkin saja di luar bilik ada banyak orang. Walaupun sangat sulit apalagi miliknya ternyata masih merasakan sakit padahal ini kali kedua ia dimasuki batang penis sebesar punya Jongin. Penuh dan nyeri mendominasi varginanya. Posisi mereka pun ikut membuat Kyungsoo kurang nyaman.
"Tahan sebentar! Aku akan sampai! Ngghhhh.. " suara berat itu terdengar tepat di telinga Kyungsoo. Ingin sekali ia mengumpat, ini bukan pertama kalinya ia bercinta dengan pria ini. Jadi ia tau, walaupun sudah berkedut-kedut tanda akan mencapai puncak tapi itu artinya masih butuh puluhan hentakan lagi hingga akhirnya menyembur deras.
"Aku lelahhhh... " Kyungsoo mengakat wajahnya dari pelukan Jongin. Ia akan membantu bergerak lebih cepat. Kalau tidak begitu bisa-bisa Luhan sudah pulang. Jongin memegangi pinggul Kyungsoo yang naik turun. Matanya terpejam dengan mulut terbuka sesekali desahan keluar dari mulutnya tanpa bisa di kendalikan. Persetan dengan semua mendengar desahannya, ia sudah sangat lelah sekarang.
Tempo yang mereka mainkan sangat cepat dan berbuah cairan tumpah ruah menyelimuti pangkal paha masing-masing. Kyungsoo sudah ambruk dalam pelukan Jongin. "Jangan ada ...ronde lanjutan... Please!" pinta Kyungsoo dengan nafas tersenggal-senggal.
Jongin mengusap keringat Kyungsoo yang membuat anak rambutnya menempel di sekitar wajah. "Aku tidak sejahat itu," balas Jongin. "Mungkin lain kali. Karena aku menawarimu bekerja padaku. Kau sudah tak bisa ke club karena keributan kemarin. Bekerjalah padaku! Aku akan memenuhi kebutuhan hidupmu dan membayarmu dua kali lipat jika aku mengajakmu tidur. Bagaimana?"
"Kau memang bajiangan gila Tuan Kim Jongin!" umpat Kyungsoo dengan sisa sisa tenaganya.
"Aku akan memperlakukanmu dengan baik."
"Di luar banyak yang lebih baik dariku, yang bahkan mau kau tiduri tanpa uang."
"Sayangnya aku hanya menginginkanmu"
Luhan sudah menghabiskan separuh dari pesanannya. Menunggu dengan sangat bosan. Apakah toilet cafe antrinya sama panjangnya antri konser EXO? Setelah setengah jam lebih Jongin mulai menampakkan hidungnya. Luhan memasang wajah cemberut.
"Maafkan aku, aku bertemu teman lama di toilet jadi kami mengobrol sebentar.. Hmmm.. Oke sedikit lama," koreksi Jongin melihat ekspresi Luhan mempertanyakan kata sebentar.
"Kenapa bajumu kusut begitu, Jongin?" tanya Luhan heran. Tadi masih rapi sebelum ke kamar mandi.
"Benarkah?" Jongin berbalik tanya seolah terkejut sambil membenarkan yang dirasa kusut.
"Kau juga berkeringat banyak sampai merembes ke bajumu," ujar Luhan lagi.
"Lu.. Aku pria berkeringat adalah hal wajar," jelas Jongin.
"Ngomong-ngomong kau melihat Kyungsoo di sekitar toilet? Dia belum kembali sampai sekarang," raut wajah Luhan berubah khawatir.
"Tidak."
"Maaf aku lama.." suara Kyungsoo yang muncul dengan wajah lebih kusut seperti habis lari maraton. Salahkan Jongin yang masih sempat-sempatnya menciuminya lagi usai bercinta tadi. Kesalahan jadi double karena Kyungsoo tak membawa tas yang berisi alat make up-nya. Jadi berbekal mencuci wajah dan mengikat rambutnya agar tidak terlihat berantakan. Itu pun dengan bantuan Jongin untuk mengikat.
"Tak apa. Kau juga digigit nyamuk, Kyung?" Kyungsoo memandang Luhan dengan mata bulatnya yang melotot. Luhan menunjuk lehernya sendiri, Kyungsoo ikut meraba lehernya.
"Nyamuk-nyamuk di dinding..," jawab Kyungsoo
"Yang diam diam merayap dalam celana dalam," tambah Jongin.
"Sepertinya aku mendengar lelucon ini tadi pagi," ujar Luhan merasa dua orang temannya ini bersekongkol.
.
TBC
.
.
.
Note:
Terimakasih review kalian di chapter kemarin. Hampir ada yang betul tebakannya. Saya sampai nangis saking terharu. Akhirnya ada yang hampir bener, makkk!
Soal hubungan hunhan, jujur saya bingung mau nyelipin dimana... Jadi mohon di maafkan, moment hunhannya dikit. Niatnya hanya untuk pendukung saja, karena saya membutuhkan mereka berdua di puncak konflik.
Bikin cerita berchapter ternyata susah yap. Kadang saya nulis satu paragraph tapi ternyata kontra ama chapter sebelumnya atau harusnya bagian itu buat kejutan di akhir eh ketulis. Dan berakhir ketik hapus ketik hapus... Jempol saya sampek gendut karena kebanyakan ngetik di hp.
Ngomong-ngomong disini ada ngeship chanbaek ngga nih?
