MASK

"Semua orang memakai topeng untuk kau cintai.

Jika kupakai topeng burukrupa, akankah kau mencintaiku?"

.

.

CHAPTER 6

.

.

.

.

Angin hari ini berhembus kencang dibanding biasanya, membuat daun-daun saling bergesekan. Kicauan burung-burung terbang rendah menemani pemuda bermarga Kim. Marga yang ia gunakan semenjak kekasihnya meninggal. Berkali-kali terbesit dipikirannya untuk ikut terlelap dalam tidur panjang kekasih hatinya itu.

Namun, nyatanya ia masih disini duduk termenung di samping gundukan tanah dimana nama kekasihnya tertulis dengan jelas. Rumput-rumput liar mulai tumbuh disana pertanda tak ada satu pun yang menengoknya setelah ia datang terakhir kali. Bahkan bunga krisan yang ia berikan tempo hari sudah kering dan beberapa kelopaknya berguguran.

Di bawah teriknya matahari, Suho mulai mencabuti rumput-rumput yang membuat tempat kekasihnya terlelap tidak cantik lagi. Lalu menaruh karangan bunga krisan putih yang baru disana. Sebagai simbol kesetiaannya tak pernah luntur seiring berjalannya waktu, walaupun sang kekasih memilih pergi mendahuluinya. Terkadang kepergian adalah kepulangan dalam arti yang lain. Dalam suasana yang hening, ia berdoa sebentar dengan penuh khitmad.

Saat ia mengakhiri doa-nya, tiba-tiba angin berhembus lembut membelai pipinya yang putih. Suho tersenyum simpul. "Maafkan aku, aku sangat ingin bertemu dengamu. Tapi ada yang harus kulakukan disini. Adiku...si datar albino, dia terjebak dalam kisah yang sama dengan kita, lucu bukan?" monolognya sambil tetawa getir.

"...semua tetap sama, appa tetap keras, eomma tetap tak bisa melakukan apa pun, dan adikku tetap nakal seperti dulu. Oh iya kau ingat Jongin? Jongin sahabat Sehun yang sering kau katai anak pungut karena kulitnya hitam tak seperti appa eommanya. Sampai Tuan Kim memanggil pemadam kebakaran karena setelah kau katai Jongin menangis terus di atas pohon yang cukup tinggi dan tak mau turun. Aku ingat hari itu kita dan Sehun tertawa puas berhasil mengerjai Jongin kecil. Dia terlalu polos, jelas-jelas wajahnya mirip appa eomma-nya, dia hitam karena gen kakeknya."

"Sekarang dia sudah bisa memolosi seorang gadis. Kau pasti terkejut bukan? Aku juga, kurasa Sehun berhasil mencemari otaknya menjadi mesum, lebih mesum malah. Jika kau ada disini pasti kau akan menggodanya habis-habisan tentang pengalaman pertamanya dengan seorang gadis." Suho menghentikan ocehanya, air matanya turun tanpa bisa di bendung lagi. Ia mengusap air matanya dan berpamitan pulang kembali ke gereja, "Kurasa ini sudah cukup siang, anak-anak sudah mencariku pasti. Aku pulang dulu, aku akan mendoakanmu walaupun tidak bisa sering-sering kesini."

Sesampainya di depan gereja, sebuah biru tua terparkir. Suho mempercepat langkahnya masuk ke dalam gereja dan tamparan langsung mendarat keras di pipinya. PLAAKKK! Kyungsoo menatap nyalang ke arahnya. Suho yang masih kaget tak berkutik di tempatnya sambil memegangi pipinya yang memerah. Namun suara Kyungsoo kesakitan membuatnya tersadar kembali. "Aww...tanganku!" rintih Kyungsoo memegangi tangan kananya yang lupa jika sedang sakit malah ia gunakan untuk menampar.

"Kau tak apa?" tanya Suho khawatir.

Tak menggubris pertanyaan Suho, Kyungsoo malah berseru dengan nada tinggi. "Katakan padaku kenapa kau menjual anak-anak panti ke keparat itu? Kenapa? Apa uang sumbangan disini kurang? Hah? Jawab aku Suho-ssi!"

"Menjual apa? aku tidak mengerti?" tanya Suho bingung.

Kyungsoo menarik nafasnya pelan lalu melipat tangannya di dada, "Biar kutanya, para anak-anak panti yang hampir dewasa kau salurkan untuk bekerja bukan?"

"Ya, itu untuk mengurangi beban panti kami. Karena jarang ada yang mengadopsi anak-anak yang sudah dewasa."

"Apa kau tau siapa yang memperkerjakan mereka?"

Suho mengangguk yakin, "Ya, dia donatur utama kami. Ia pengusaha kaya yang menyumbang hampir 70% biaya panti ini."

"Apa kau tau kemana anak-anak panti di bawa mereka?"

"Bekerja menjadi karyawannya. Ia membutuhkan banyak pegawai untuk usaha barunya."

"Aku tidak tau kau bicara jujur atau berbohong padaku hanya untuk menutupi tingkah menjijikan kalian."

"Jaga ucapanmu, Nona Do Kyungsoo!" Suho mulai ikut terpancing.

Namun Kyungsoo tak gentar, ia tetap melanjutkan pidatonya hari ini. "Byun Baekhyun salah satu anak panti ini..oh maaf maksudku mantan anak panti ini. Aku menemukannya di club dipaksa melayani empat pria. Ini yang kau sebut pekerjaan?"

"Tunggu...apa katamu tadi? Baekhyun?" Suho langsung ingat gadis yang jika tersenyum matanya membuat bulat sabit sangat cantik.

"Ya. Kau ingat pernah ada wanita bunuh diri disini. Baekhyun menceritakannya padaku bahwa wanita itu mencoba memberitahu kalian jika dirinya di jual menjadi jalang. Tapi kalian menolak kehadirannya bukan? Lalu ia bunuh diri disini karena frustasi tak ada yang menyelamatkannya. Kasus itu pun di tutup, di anggap bunuh diri biasa dan menganggap wanita itu gila. Kau juga membungkam anak-anak panti agar tidak bertanya lebih lanjut! Kau tau benar hal itu Suho-ssi!" ucap Kyungsoo sambil menunjuk-nunjuk dada Suho dengan jari telunjuknya. "Katakan yang kuucapkan tadi salah! Ayo katakan!" suara Kyungsoo terdengar semakin emosi.

Suho kelihatan sangat shock saat Kyungsoo selesai bicara, ia jatuh terduduk di kursi panjang gereja. Ingatannya seakan di paksa kembali ke kejadian tesebut. Ia butuh dijelaskan dan menjelaskan sekarang. Keadaan Suho yang seperti orang linggung sekarang. "Duduklah! Akan ku ceritakan yang kutahu," pinta Suho.

"Sebuah karangan untuk pembelaanmu?" tanya Kyungsoo terdengar mengejek.

Suho yang tak terima segera membalas dengan kerasnya, "Demi Tuhan, Kyungsoo-ssi! Aku tak akan membual atau menutupi apa pun!"

"Dosaku sudah terlalu banyak di masa lalu, aku akan membantumu jika aku mampu," suara Suho mulai melemah.

Kyungsoo pun akhirnya ikut duduk mencoba mendengarkan, "Ceritakan kalau begitu!"

"Wanita yang kau ceritakan bunuh diri tadi memang mengaku di jual sebagai wanita penghibur. Namun Sooman ahjussi menolak percaya dan mengusir wanita itu. Seperti katamu tadi, aku memang disana. Tapi aku pendeta baru, aku tidak tau pokok masalahnya dan terlebih Sooman ahjussi mengaku wanita itu bukan anak panti. Tentu aku orang baru hanya bisa percaya."

"Pendeta macam apa yang tega mengusir wanita?"

"Sooman ahjussi bukan pendeta. Dia orang yang di tunjuk mengelola panti dan gereja ini. Aku dan pendeta senior hanya sebagai semacam guru agama disini dan membantu jika diminta, mengatur uang belanja kebutuhan misalnya."

Kyungsoo mencoba untuk mengerti posisi Suho, "Bagaimana pun sekarang kau sudah tau kenyataannya bukan? kumohon hentikan mengirim anak-anak kepadanya!"

"Maaf, Kyungsoo-ssi...bukannya aku tak percaya padamu, tapi aku tak punya kekuasaan apa pun disini. Jika kau mau, kau bisa menceritakannya ke Sooman ahjussi, walaupun kurasa Sooman ahjussi akan sulit mengabulkan keinginanmu. Karena jika kita menolak mengirim anak-anak ke mereka, mereka akan menghentikan sumbangan."

"Kau benar. Jika setuju di hentikan pun, pasti mereka tidak akan tinggal diam. Mereka akan merasa di rugikan. Tapi apa salahnya mencoba? Aku perlu bertemu dengannya untuk berunding."

"Sooman ahjussi sedang berlibur, ia agak stess belakangan ini."

"Baiklah, jika dia kembali hubungi aku secepatnya. Kali ini aku mempercayaimu dan maaf soal tadi."

Suho mengangguk seakan maklum dengan kelakuan nona muda ini. "Oh iya minggu depan Sunny akan di operasi. Aku lupa mengabarimu...datanglah!"

"Sepertinya kedatanganku tidak berpengaruh apa pun."

"Sunny berhak tau siapa malaikatnya, datanglah jika senggang!"

Kyungsoo tak membalas apa pun. Ia tidak tau apa maksud Suho mengatakannya. Ini hanya perasaan dirinya saja atau memang Suho tau jika selama ini ia dibalik semua sumbangan atas nama Luhan.

Melihat Kyungsoo yang hanya bengong saja, Suho bertanya untuk mengganti topik. "Dimana Chanyeol? Tumben dia tidak membuntutimu?"

"Aku menyuruhnya menjaga Baekhyun di apartemen."

"Kau datang jalan kaki? Aku tak melihat mobilmu di luar gerbang? Memang ada mobil terparkir disana tapi kurasa itu bukan mobilmu, setauku mobilmu berwarna hitam...kau ganti mobil?"

"Terima kasih sudah sejeli itu memperhatikanku bahkan hafal mobilku. Aku di antar seseorang lebih tepatnya ia memaksa mengantar."

"Kekasih Luhan?" Tanya Suho setengah menggoda Kyungsoo.

"Hanya teman ternyata," koreksi Kyungsoo.

Suho mengangguk-angguk tersenyum penuh arti. "Kau harus sabar menghadapinya, walaupun begitu hatinya sepolos anak kecil. Banyak-banyaklah beri pengertian, dia mudah salah paham."

"Kau seperti mengenalnya sudah lama," tutur Kyungsoo merasa janggal dengan ucapan Suho.

"Sudahlah pulang sana! Darah tinggiku selalu kumat jika kau datang kesini. Tolong urus anak-anak nakal di depan itu, aku bosan menasehatinya."

"Aku pamit kalau begitu, kabari aku secepatnya!"

Jongin yang menunggu di mobil melihat Kyungsoo keluar gereja namun ia tak langsung berjalan ke luar gerbang. Ia mampir untuk menjewer kuping salah satu anak laki-laki dengan tangan kirinya, sampai anak itu menjerit kesakitan dan meminta ampun. Anak-anak lain hanya menunduk takut. Mungkin Kyungsoo juga memarahi mereka karena Jongin melihat Kyungsoo sempat berteriak marah-marah ke anak-anak itu.

"Kau kejam sekali!" ujar Jongin ketika Kyungsoo sudah duduk di sebalahnya.

"Aku memang seperti itu, " sahut Kyungsoo masa bodo.

"Baiklah nona kejam, ayo kita ke apartemenku!" ujar Jongin muali memakai sabuk pengaman dan menyalakan mesin. Melihat kondisi tangan Kyungsoo, ia ingin membantu memakaikan sabuk pengaman untuknya. Namun Kyungsoo langsung menolak, "Aku bisa sendiri, jalankan saja mobilmu!"

Jongin heran kenapa Kyungsoo tidak seperti gadis-gadis lainnya yang suka di bantu hal-hal kecil seperti memakaikan sabuk pengaman. Biasanya akan menjadi adegan romantis, kenapa ini tidak?

"Apa apartemenmu kosong?"

"Kenapa? Kau ingin tambah ronde yang tadi?" tanya Jongin usil.

Kyungsoo memutar bola matanya malas. "Harusnya aku tak mengiyakan tawaranmu.."

"Arraseo...arraseo...ada Xiumin-ssi, bodygurdku. Dia datang untuk mengecek apakah aku pulang dengan selamat sampai apartemen dan mengawalku jika aku pergi ke luar. Jika aku tidak kemana-mana, ia akan berjaga saja tapi aku kadang-kadang mengusirnya untuk pulang. Kasian dia hanya berdiri tanpa melakukan apa pun."

"Kenapa ia tida mengawalmu sekarang."

"...kecuali saat kuliah. Aku tidak mau terlihat mencolok."

"Tsk..apa nyawamu begitu penting untuk negeri ini sampai dikawal bodyguard?"

"Tidak juga. Hanya saja nyawaku berharga untuk kedua orang tuaku. Aku anak tunggal."

"Ngomong-ngomong bodyguardmu apakah berjaga di dalam apartemen?"

Jongin mengangguk, Kyungsoo bernafas lega. Dengan begitu Jongin tak bisa melakukan hal-hal mesum kepadanya. Ia pasti malu kan jika ada bodyguardnya...Huahahaha! dalam hati Kyungsoo bersorak gembira. Jongin menolek ke arah Kyungsoo, "Tidak usah sedih begitu, aku akan menyuruhnya berjaga di depan apartemen saja jika itu menganggumu. Kau pasti khawatir tidak dapat bercinta denganku karena ada Xiumin-ssi."

"Tidak...tidak..jangan usir dia..." buru-buru Kyungsoo bersuara menolak. Jika tidak ada bodyguardmu, kau pasti akan menyerangku dimana pun, batin Kyungsoo

"Ahh...rupanya kau suka bercinta sambil di tonton orang. Menarik!" puji Jongin sambil tertawa berhasil membuat Kyungsoo kesal.

Kyungsoo memijat kepalanya yang mulai pening karena berbincang dengan Jongin. "Terserah kau saja, Tuan Kim! Aku lelah meladeni mulut mesummu yang menyebalkan!"

Jongin menghentikan tawanya. Melirik Kyungsoo yang wajahnya tampak kesal. Tangan kirinya tetap memagang kemudi sedangkan tangan kanannya memegang tangan kiri Kyungsoo yang menganggur di pahanya. "Maaf, aku hanya bercanda. Aku tak bermaksud membuatmu kesal!"

Kyungsoo menoleh sebentar, lalu memandangi tangan kirinya yang sudah bertaut dengan tangan kanan Jongin. "Gunakan tangamu untuk menyetir saja!"

"Jangan khawatir, aku bisa menyetir dengan satu tangan." Kyungsoo memilih diam tak menanggapi."Kau masih marah?" tanya Jongin hati-hati.

"Aku tidak marah. Aku hanya lelah saja," balas Kyungsoo lemah.

"Aku hanya bercanda, percayalah! Kau bukan bekerja untuk ku tiduri setiap hari, jadi jangan khawatir. Ya...mungkin sesekali, tapi kau kau bekerja lebih seperti asistenku dan temanku. Aku tak punya orang yang kupercayai untuk mengurusku."

"Akan kujelaskan lebih rinci lagi tugasmu saat di apartemen nanti. Jangan terlalu cemas, okey!" lanjut Jongin sambil tersenyum.

.

.

MASK

.

.

Beberapa pria berjas hitam rapi wara-wiri di club, mengumpulkan informasi apa pun yang bisa mereka gunakan sebagai petunjuk. Chen yang masih setia memoles gelas-gelasnya hingga licin. Salah satu dari mereka menghampirinya. "Kau tau mobil hitam yang dua hari ini terparkir tanpa berpindah posisi?"

"Yang ada di basement paling pojok? Itu mobilku yang mogok, ada apa?" Chen bertanya balik dengan tenang namun tetap waspada. Ia tau benar itu mobil Kyungsoo yang belum ia ambil sejak kejadian itu. Hari ini Kyungsoo mengabarinya bahwa mobilnya akan ia ambil, tapi pipi gembil Kyungsoo tak juga nampak.

"Aku mencurigai itu mobil wanita yang membawa kabur gadis kami,"

"Jika dia kabur membawa gadis kalian tidak mungkin ia meninggalkan barang bukti. Ya itu menurutku sih," ujar Chen mulai mempengaruhi mereka.

"Pimpinan kami akan sangat marah jika tau hal ini. Apalagi beberapa anggota kami terluka parah melawan dua orang yang melindungi gadis itu," keluhnya duduk di depan meja bar Chen.

Pria berjas hitam lainnya datang menghadap pria tadi. "Wanita yang bersama pria yang menghabisi kami ternyata mantan anggota pengawal keluarga presiden. Namun ia sudah mengundurkan diri sejak dua tahun yang lalu. Kita beruntung, wanita itu tidak memakai topeng saat bertarung. Saat ini kami terus melacak pria yang berasamanya, kemungkinan besar pria itu adalah tuanya. Dengan begitu kita tau kemana gadis itu kabur."

"Mantan anggota pengawal keluarga presiden?" cicit pria itu. "Kurasa pria itu bukan dari keluarga yang biasa. Jika benar pria itu dari kalangan pemerintahan, hentikan saja pencarian ini. Aku tak mau mengabil resiko yang besar hanya karena gadis jalang!"

Chen diam-diam mendengarkan dengan seksama. Dalam hati ia bersyukur Kyungsoo masih aman saat ini walaupun mungkin ia tak bisa bertemu dengan gadis gila itu lagi. Mendadak dirinya merindukan ocehan Kyungsoo.

"Ketatkan penjagaan kalau begitu!" suara bass dari pemuda jakung yang tiba-tiba muncul dengan pakaian biasa. Kaos biasa dilapisi jaket merah maroon, celan jeans, sepatu sneakers, dan topeng penutup wajahnya namun di balik tampilannya yang biasa Chen dapat melihat pistol di saku celana jeansnya. Semua pria yang berjas hitam langsung menduduk hormat. Apa pemuda ini pimpinannya?

"Kita berurusan dengan orang penting. Ada kemungkinan mereka penasaran dengan kelompok kita. Tunggu sampai gadis itu melapor ke polisi." Pemuda itu memberi kode Chen untuk di buatkan minuman. Chen akui gayanya sangat cool.

"Bagaimana jika gadis itu melapor ke panti? mereka berhenti mengirim gadis-gadis ke kita?"

Ia meminum minumannya sekali teguk dan pemuda itu berucap dengan entengnya. "Beri saja uang, si Tua bangka tidak akan menolak dan tetap tunduk. Jika dia terlalu menyusahkan, tembak saja kepalanya. Aku akan mengambil alih panti itu."

"Baik, Tuan. Apa Tuan ingin layanan wanita disini?" tawar pria berjas hitam.

"Tidak. Aku akan segera pergi, tempatku bukan disini. Aku tidak sudi dengan wanita yang sudah dimasuki banyak pria, " tolak pemuda itu dengan nada dingin. "Apa benar mobil hitam itu mobilmu?" tanyanya pada Chen.

"Ya, itu mobilku."

"Katakan sekali lagi," pintanya sambil menodongkan pistol ke pelipis Chen. Chen tak bisa menyembunyikan wajah tegangnya, tangannya tiba-tiba berkeringat dingin. "Mungkin anak buahku akan percaya tapi kau tak bisa membohongiku. Jika benar mobilmu mogok harusnya kau akan segera memanggil mobil derek atau menghubungi bengkel terdekat bukan membiarkannya sampai hari ini. Lagi pula itu mobil yang cukup mahal dengan pelindung kaca antri peluru. Maaf saja bukannya aku merendahkanmu, tapi kurasa kau tak akan membuang uang hanya untuk membeli mobil seperti itu."

Gigi Chen gemertuk tanda dirinya sedang marah saat ini. Selain tak bisa melindungi Kyungsoo tapi juga harga dirinya. Jika tak ada pistol yang mengancamnya sudah pasti pemuda ini Chen pukul lalu ia cekoki selusin botol bir agar perutnya kembung seperti sapi gelongongan.

Pemuda itu menurunkan pistolnya. "Kali ini aku melepaskanmu," ujarlah lalu menyuruh pria-pria berjas hitam pergi mengikutinya, "Periksa mobil itu! Firasatku mengatakan seseorang akan mengambil mobil itu cepat atau lambat."

Sesampainya di parkiran basement mobil itu masih terparkir disana namun seseorang sedang membuka pintu mobil itu. Suara mesin mobil mulai terdengar. Pemuda itu dengan anak buahnya berdiri tak jauh dari situ bersiap menyeret paksa pengemudi di dalamnya. "Saya akan menangkapnya, Tuan!

"Tunggu! Jangan lakukan apa pun!"

"Tapi Tuan – "

"Apa sekarang kalian berani memerintahku? Cepat kembali ke mobil kalian!" serunya membuat para pria berjas hitam kucar kacir kembali ke mobil mereka.

Di tempat yang sama Chanyeol mengemudikan mobil Kyungsoo dengan santainya. Ia memang melihat gerombolan pria berjas hitam dengan satu pemuda berjaket merah maroon yang kelihatan mencolok di parkiran, namun ia melewatinya seakan bukan urusannya. Merasa dirinya sedang awasi, Chenyeol pun mengecek dari kaca spion. Pemuda berjaket tadi masih melihati mobilnya dari kejauhan.

"Apa mobil Kyungsoo aneh? Ahh pasti anak itu jarang mencucinya sampai keliatan dekil...Kira-kira Baekhyun ingin makan apa ya? Sup iga? Cake? Bibimbap? Atau Ramyeon? Ahh aku jadi bingung, jika Kyungsoo pasti semuanya ia makan," guman Chanyeol melajukan mobilnya ke kedai makanan terdekat.

Chanyeol melakukan sambungan telepon ke nomor Kyungsoo. Dengan menekan tombol speaker. Sebenarnya ada headset handsfree yang dilengkapi dengan bluetooth di tas-nya, namun itu terlalu merepotkan untuk mencarinya dalam tas. "Kyung?" panggil Chanyeol.

"Ya, Chan.." suara Kyungsoo mulai terdengar.

"Aku sudah mengambil mobilmu. "

"Gumawo, Chanie!"

"Kira-kira Baekhyun suka makan apa? aku ingin membelikannya makanan," tanya Chanyeol dengan suara agak keras, takut Kyungsoo tidak dengar.

"Uuhhh...ahhhh...e-entahlah, Channn ~... beli saja ramyeonnnn..aahhhh. Aaku suka ramyeon..."

"Aku tidak menanyakan kau suka mana, Kyung...Aku menanyakan untuk Baekhyun," jelas Chanyeol.

"Beri saja dia cake coklat atau strawberryyyyy...aahhh. Yaakkk...lepaskan tanganmu Kim! Aku mau – "

"Kyung? Kau masih disana?"

"Belikan apa saja, Chan.." Tut..tut...tuttttt...

Chanyeol menatap bingung handphonenya yang sambungan telponnya sudah terputus. "Kim? Sejak kapan margaku Kim? Ku harap itu nama dokter yang sedang memeriksa tangannya..."

Akhirnya Chanyeol kembali ke apartemennya dengan membawa banyak kantung makanan karena bingung memilih yang mana. Ketika ia pulang Baekhyun baru selesai mandi terlihat dari handuk yang melingkar di lehernya dan rambutnya yang di gelung ke atas. Untuk sementara Baekhyun memakai pakaian Kyungsoo yang untungnya untuk badan Baekhyun yang kecil, hanya saja tidak semuanya pas ternyata.

Chanyeol menaruk kantung makanannya di meja lalu menyiapkan piring dan mangkuk. "Makanlah bersamaku, Baek!" pinta Chanyeol melihat Baekhyun terlihat canggung sejak ia kembali.

Baekhyun ikut membantu menuang makanan ke piring-piring yang sudah Chanyeol siapkan. Dari dekat Chanyeol tahu sekarang bagian yang tidak pas dimana. Walaupun Baekhyun lebih kurus dari Kyungsoo tapi di bagian lain Baekhyun lebih gemuk. "Besok ikutlah denganku berbelanja pakaian untukmu."

"Tapi aku besok akan mencari pekerjaan dan baju Kyungsoo-ssi cukup pas untukku. Jadi tidak usah beli lagi."

"Aku akan mengantarmu ke toko eommaku, kau bisa membantunya menjaga toko. Dan...bukannya baju Kyungsoo tidak pas hanya saja – " Chanyeol menghentikan ucapannya, menimbang-nimbang kalimat yang pas yang tidak menyinggung.

"Hanya saja apa?"

Chanyeol menggeleng karena tak berani mengungkapkannya, "Tidak jadi. Biar Kyungsoo saja yang membelikanmu. Tapi kau aku akan tetap mengantarmu ke toko eommaku. Sekarang makanlah!"

Baekhyun berbinar-binar melihat ada cake rasa strawberry disana. Chanyeol langsung mengambilkan menyodorkannya kepada Baekhyun. "Makanlah tidak usah malu. Aku memang membelikannya untukmu, " ucap Chanyeol sambil tersenyum senang karena dari semua yang ia beli ada yang Baekhyun sukai.

.

.

.

Sedari apartemen Jongin, Kyungsoo pulang ke apartemen Chanyeol. Ia sudah mengabari Luhan bahwa ia akan sering menginap di apartemen Chanyeol. Ia ingin menengok Baekhyun, pasti ia merasa canggung karena hanya di temani Chanyeol yang notabene laki-laki.

Kyungsoo melirik jam ponselnya. Sudah jam setengah satu dini hari rupanya, pantas lampunya sudah di matikan. Baekhyun pasti juga sudah tidur. Di tengah kegelapan apartemen Chanyeol, ia melihat lampu balkon masih menyala dengan siluet Chanyeol duduk disana. Secangkir entah teh atau kopi dengan asap mengepul di tangannya.

Kyungsoo pun menaruh tasnya di kursi lalu bejalan menghampiri Chanyeol dengan langkah mengendap-endap, ia berniat mengagetkan Chanyeol. "Kau tidak pulang ke apartemenmu?" ujar Chanyeol tanpa menoleh.

Kyungsoo berhenti mengendap-ngendap karena terlanjur tertangkap. Ia duduk di sebelah Chanyeol. "Tidak, aku merindukan tidur sambil memelukmu..Kkkkk," jawab Kyungsoo diiringi tawa cekikikan.

Chanyeol ikut tertawa sebentar, "Dasar, aku tidak mau tidur denganmu. Kau bau pria lain."

Kyungsoo berlagak membaui badannya sendiri. "Kau benar aku bau pria...sepertinya ini bau pria bermarga park, " canda Kyungsoo.

"Bukan marga Kim?" goda Chanyeol balik sambil meminum coklat panasnya. "Kau menyebutkannya di sambungan telepon tadi," lanjutnya.

"Suho-ssi bermarga Kim," ujar Kyungsoo mencoba mengelabuhi Chanyeol. Untung saja dirinya ingat marga Suho, yang kebetulan juga bermarga Kim.

"Baiklah kalau kau tak mau mengaku. Ngomong-ngomong soal Suho kau sudah mencolok matanya?"

"Aku sudah menamparnya dan kurasa Suho tak tau apa pun. Kurasa akan susah menghentikan anak-anak panti untuk di salurkan. Aku akan menemui Sooman ahjussi orang yang di tunjuk mengelola panti itu tapi tidak sekarang. Ia sedang berlibur, Suho akan menghubungiku ketia ia kembali."

"Bagaimana pun sebaiknya laporkan pada appamu, walaupun kata Baekhyun mereka kelompok mafia atau semacamnya. Apalagi appamu sedang menangani kasus berbau geng dan kelompok seperti itu...aku tidak tau ini kebetulan atau apa, yang pasti aku menghawatirkan keselamatanmu."

"Jika tidak ada kata sepakat antara aku dan Sooman ahjussi, aku akan menuntutnya dan mengumpulkan bukti. Aku tak apa-apa jangan cemas berlebihan."

"Bagaimana aku tak khawatir, tanganmu saja sampai harus di perban begitu. Tapi untunglah dengan begitu kau tidak ke club lagi dan melayani pria-pria di luar sana."

Kyungsoo menengok menatap Chanyeol. Ia ingin jujur tentang hubungannya dengan Jongin dan pekerjaan yang ia tawarkan. Hanya saja ia takut Chanyeol marah. Apalagi sekarang ia benar-benar melayani seutuhnya bukan dengan tangan atau mulut saja.

"Kenapa? Ceritakan saja, kau seperti anak gadis yang mengaku hamil kepada ayahnya," kata Chanyeol. Kyungsoo tertegun sesaat karena Chanyeol seakan tahu dirinya menyimpan sesuatu yang akan membuatnya marah.

Chanyeol berbalik memandang Kyungsoo dengan pandangan melembut. "Biar kutebak. Pria yang tidur denganmu? Bermarga – Kim?"

Kyungsoo diam, namun Chanyeol segera paham. "Kau bertemu dengannya lagi dan – ." Chanyeol tak mampu melanjutkan tebakannya, ia tidak mampu mengatakannya.

"Maaf, Chan..." suara Kyungsoo terdengar sangat lirih.

Chanyeol tersenyum getir sambil menggeleng. "Kau tak salah padaku...tidak usah minta maaf padaku. Jadi benar dia bermarga Kim? Apa yang kau lakukan dengannya saat ku telpon tadi?"

"Ya, tapi bukan Suho. Soal di telepon tadi jangan salah paham, aku habis makan ramyeon pedas dan dia merebut air mineralku. Bibirku sampai bengkak karena kepedasan."

"Kuharap kau tidak melakukan apa pun selain makan ramyeon."

"Tidak, hanya makan dan mengobrol. Mulai sekarang aku akan bekerja padanya," ucap Kyungsoo ragu-ragu takut kena ambuk.

Chanyeol mengerti kata bekerja yang diucapkan Kyungsoo. Dirinya sendiri bingung harus melarang atau membiarkannya. Ia sendiri bingung apa motif Kyungsoo terus saja menerima ajakan pria itu.

"Kau tidak marah?"

"Tidak, kemarilah kau pasti lelah hari ini!" ucap Chanyeol menaruh cangkirnya lalu menepuk-nepuk pahanya. Kyungsoo dengan senang hati berbaring di paha Chanyeol sebagai bantal. Dengan pandangan menerawang ke langit, Chanyeol mengelus pelan rambut Kyungsoo. "Terima kasih, Chan... "

"Kau menyukainya bukan?"

"Dia membayarku cukup mahal. Apalagi sekarang aku tidak bisa ke club lagi mencari uang, " elak Kyungsoo

Chanyeol tertawa pelan mendengar jawaban Kyungsoo yang seperti mencari-cari alasan saja. "Menyukainya pun juga tak apa, Kyung... Boleh ku tau siapa pria beruntung itu?"

"Kim Jongin, dia teman Luhan. Kau pasti kaget mendengar yang satu ini... Dia putra perdana menteri. Aku baru mengetahuinya tadi."

"Aku malah kaget bagian teman Luhan. Apa Luhan tau?"

"Tidak. Aku menyuruhnya jangan memberitahu Luhan. Aku malu jika Luhan tau kalau aku jalang."

"Aku hanya berharap dia pria baik-baik. Dia tidak menyakitimu kan?"

"Entahlah aku tidak yakin... Tapi selama ini dia memperlakukanku dengan baik hanya saja saat berhubungan dia sedikit liar jika tidak di hentikan."

"Sudah berapa kali?"

"Dua," jawab Kyungsoo cepat.

"Tanpa pengaman?"

Kyungsoo menepuk jidatnya keras, "Oohh ya Tuhan... Apa yang sudah kulakukan?"

"Tenanglah... Periksa dulu jangan langsung cemas."

"Yang pertama memang bukan masa suburku tapi yang kedua... Ya ampun kenapa aku bodoh sekali, "

"Mau bagaimana lagi. Sudah terlanjur bukan? Lebih baik besok belilah testpack atau ke dokter."

"Chan.. " cicit Kyungsoo saat merasakan tangan besar Chanyeol meraba perut Kyungsoo.

Chanyeol mulai memejamkan matanya lalu berkata, "Dulu nenekku tabib khusus kandungan tapi dia bisa merasakan hamil atau tidak bahkan dapat meramalkan jumlah anaknya nanti. Tapi aku tak bisa menyebutnya cenayang, karena hanya itu kemampuannya."

"Tiga," ucap Chanyeol yakin sambil membuka matanya kembali.

"Apa aku hamil kembar tiga? " pekik Kyungsoo panik mendengar ucapan Chanyeol.

Chanyeol tertawa pelan mendengar pikiran konyol Kyungsoo. Yang benar saja hamil kembar tiga, bisa bisa perutnya yang kecil meledak. "Tidak. Nanti kau akan dikaruniai tiga anak. Sekarang masih kosong. Jika aku tidak salah."

Kyungsoo menghela nafas lega. "Aku tidak baia membayangkan punya anak dari si Kim mesum itu,"

"Kalaupun benar kau hamil pun kurasa tak masalah. Bukankah hal menakjubkan ada sebuah jantung yang berdetak dalam perutmu. Mereka sangat kecil dan rapuh. Banyak di luar sana yang melakukan segala cara agar dapat memerasakannya."

Kyungsoo mampu menangkap sorot mata kesedihan dari mata Chanyeol. "Chann~…" panggil Kyungsoo sambil meraba pipi Chanyeol, memberikan usapan lembut disana.

"Tolong pesankan bra untuk Baekhyun. Kuarasa ukuranmu kekecilan untuknya. Juga beberapa baju baru," kata Chanyeol berusaha merubah topik agar ia tak larut dalam kesedihannya sendiri.

"Baik akan ku pesankan."

Kyungsoo mengangkat sedikit tubuhnya dari pangkuan Chanyeol. Mengalungkan tangannya di leher. Lalu memberikan ciuman lembut, seperti biasa Chanyeol tidak menolak. Tangannya malah merangkul tubuh Kyungsoo untuk menahan tubuh Kyungsoo agar tidak jatuh. Sembari membalas lumatan Kyungsoo.

Samar-samar Kyungsoo dapat mendengar suara Chanyeol menahan tangisnya di sela-sela ciuman mereka berdua. Tangan Kyungsoo yang mulanya mengalung di leher berpindah mengusap-usap punggung lebar itu. Kyungsoo melepas tautan bibir mereka berdua, "Tak apa tidak usah di tahan!"

"Maafkan aku terlihat menjijikan seperti ini,"

Kyungsoo menangkup kedua pipi Chanyeol dan memberikan kecupan di bibirnya. "Jangan sungkan padaku. Ayo kutemani tidur tapi gendong aku sampai kamar!" Tanpa mereka berdua ketahui Baekhyun sudah sedari tadi berdiri disana melihat dengan jelas kedua orang yang menolongnya sedang bercumbu mesra di balkon.

.

TBC

.

.

.

Note:

Saya bingung mau nulis apa lagi. Saya agak kurang 'sreg' ama nih chapter. Saya ucapakan terima kasih dan mohon maaf untuk chapter selanjutnya. Jangan ditanya kenapa saya minta maaf, padahal chapter selanjutnya belum di post...

Semoga hari kalian menyenangkan. (◕‿◕✿)