MASK

"Semua orang memakai topeng untuk kau cintai.

Jika kupakai topeng burukrupa, akankah kau mencintaiku?"

.

.

CHAPTER 7

.

.

.

.

Hari masih sangat pagi. Langit masih gelap. Namun samar-samar Chanyeol dapat mendengar suara ketel yang telah mendidih. Pasti itu Baekhyun, batinnya. Chanyeol mulai mencari handphonenya si pelaku yang membuatnya bangun sepagi ini. Getarannya setara dengan penggetar lemak.

Drrrtt..Drrttt...Drrttt...

Chanyeol melihat sekeliling ranjangnya, menengok ke kanan ke kiri. Rupanya ada di samping bantalnya. Pantas saja getarannya sangat terasa. Ketika ia membuka layar handphonenya panggilan sudah di akhiri. Sebuah nomor tak di kenalnya. Siapa gerangan yang menelponya sepagi ini?

Karena terlanjur di matikan, akhirnya ia turun dari ranjang untuk segera mandi pagi. Tuan rumah tidak boleh kalah pagi dengan tamu. Ketika akan menuju kamar mandi, dirinya menyempatkan diri untuk membenarkan selimut Kyungsoo yang melorot yang membuatnya meringkuk kedinginan. Di tambah sebuah kecupan singkat di bibir.

"Nggghh...mulutmu bau, Chan!" protes Kyungsoo yang terbangun akibat ulah Chanyeol. Namun, Kyungsoo memilih merapatkan selimutnya dan melanjutkan tidur paginya. Chanyeol yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala, harusnya ia bangun lalu pergi ke dapur membantu Baekhyun. Namun Kyungsoo tetaplah Kyungsoo, Chanyeol tak bisa marah dengannya.

Chanyeol mulai mengisi bathtub dengan air dan sabun hingga busa-nya memenuhi permukaan air. Ia pun berendam sambil memutar lagu. Lagu Dust in the wind dari Kansas menjadi latar mandi paginya kali ini. Entah kenapa hari ini ia ingin memutar lagu lama, sembari men-scroll galeri handphonenya yang sudah menumpuk banyak. Sepertinya ia perlu menghapusi beberapa photo yang tidak begitu bagus atau screenshoot-an tidak jelas.

I close my eyes...

only for a moment, and the moment's gone...

Hapus. Hapus. Hapus. Satu foto memaksa jarinya berhenti sesaat, hampir saja Chanyeol menghapusnya. Foto bersama Kyungsoo ketika masih duduk di senior high school dulu. Hanya satu itu yang dirinya punya. Gambarnya pun belum sejernih sekarang. Dimana dirinya masih berkacamata berbingkai tebal dan Kyungsoo...ahh gadis itu tak pernah berubah, ia tetap cantik dari dulu sampai sekarang. Batinnya dalam hati.

"Jika aku tak bertemu denganmu, aku tak tau bagaimana jadinya diriku sekarang," guman Chanyeol diiringi seulas seyuman di bibirnya.

Flash back

Terik matahari begitu menyengat hari ini karena sudah masuk musim panas. Siswa-siswa berjalan keluar dengan tergesa-gesa. Entah sudah ada janji dengan kekasihnya atau perut mereka sudah lapar minta di isi. Chanyeol tidak tau dan tak peduli. Seminggu ini hatinya tidak tenang, kecemasannya semakin menjadi-jadi seiring bertambahnya hari.

All my dreams pass before my eyes, a curiosity

Dust in the wind

All they are is dust in the wind...

Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah mendrible bolanya lalu melemparnya ke ring sampai bosan. Agar pikirannya teralihkan oleh bola masket yang memantul menghantam lantai lapangan tanpa henti. Mungkin sebagian orang akan menganggapnya gila karena bermain basket di tengah cuaca yang terik begini. Terbukti dengan seragamnya yang sudah mulai basah bagian punggung.

PLOK! PLOK! PLOKK! Bunyi tepuk tangan menyadarkan Chanyeol. Sekawanan pria yang cukup populer di kalangan para wanita. Chanyeol tidak begitu kenal mereka, tapi pria yang berdiri paling depan dirinya mengenalnya dengan sangat baik. Sekarang ia berdiri dengan melipat tangannya di dada.

"Seokie..jadi ini orangnya? Bukankah dia junior kesayanganmu di klub basket?" tanya temannya dengan nada mengejek.

"Sekarang tidak lagi," sahutnya dingin.

Chanyeol tidak tau apa yang terjadi disini jadi ia memberanikan diri bertanya, "Yeon Seok sunbae? Sebenarnya ada apa?"

"Kau bertanya ada apa? Kau tau amplop apa ini?" tanyanya pada Chanyeol sambil mengacung-acungkan sebuah amplop surat berwarna biru langit.

Chanyeol mendadak panik dan melirik sekeliling. Beberapa siswa sudah berdiri bergerombol di pinggir lapangan untuk menontonnya sambil bergosip tentang dirinya. Ini situasi yang sulit, batinya dalam hati.

"Kau tidak mau mengaku?" ucapnya sekali lagi dengan nada lebih keras. "Baik akan ku bacakan isi suratnya. Dari yang berinisial PCY – "

Chanyeol sudah tak tahan lagi, ia langsung merebut surat itu. Namun surat itu dengan cepat bepindah tangan ke salah satu teman sunbae-nya itu. "Kau sudah ku ajari hingga bisa bermain basket sebaik tadi. Aku tetap memasukanmu dalam tim inti, aku tidak peduli banyak cacian yang masuk ke telingaku. Tapi sekarang aku muak melihat wajahmu Park!"

"Yeon Seok sunbae !" panggil Chanyeol mengharapkan sunbae-nya mendengar penjelasan dirinya.

"Jangan memanggil namaku dengan mulut kotormu itu!" bentaknya. Para siswa perempuan sampai kaget bercampur ngeri mendengar teriakan sunbae kesayangannya itu.

"Berani-beraninya kau menyatakan perasaanmu padaku! Aku sudah berbaik hati padamu tapi ini balasanmu? Kau terlalu bermimpi terlalu tinggi! Kau berharap aku menjadi kekasihmu? Huh?"

"Mimpi saja!" makinya keras.

Same old song, just a drop of water in an endless sea...

Chanyeol hanya bisa meremas celananya, berusaha untuk tetap berdiri tegap meski harga dirinya sudah hancur sekarang. Lidahnya juga ikut kelu tak mampu berucap apa pun. Ia juga tak boleh menangis sekarang, ia tak boleh kelihatan lemah sedikit pun.

"Harusnya aku mendengarkan ucapan teman-temanmu. Kau memang benar-benar seorang gay ternyata! Harusnya aku menjauhimu sejak lama! Kau dan orientasi seksualmu yang menjijikan itu membuatku menyesal mengenalmu..."

Hari itu jantungnya berdetak lebih keras, memompa darahnya lebih cepat. Sudah terlalu sering baginya mendengar dilecehkan seperti itu. Diasingkan layaknya penyakit menular. Tapi kali ini kalimat itu keluar dari sunbae-nya, orang yang ia kira dapat menerima dirinya dengan tangan terbuka. Orang yang ia hormati dan sialnya ia juga menaruh hati padanya.

Dirinya tetap pria, yang akan marah jika harga dirinya di injak-injak seperti ini. Hampir saja tangan Chanyeol yang mengepal kuat melayang bebas, namun seseorang memegangi tangannya. Seorang gadis yang tak di kenalnya tiba-tiba menggenggam kedua tangannya lalu menciumnya di hadapan banyak orang.

All we do crumbles to the ground though we refuse to see...

Semua orang yang berdiri disana tak dapat menyembunyikan keterkejutan mereka. Chanyeol sendiri hanya bisa berharap jantungnya tetap melekat di tempatnya. Waktu seakan berhenti berputar. Detik demi detik ia lewatkan dengan pikiran kosong. Dan kembali berputar ketika gadis itu menyudahi ciumannya sambil tertawa girang bukan kepalang. Apa dia orang gila? Pikir Chanyeol takut sendiri.

"Maafkan aku, Dobi! Aku tidak tau akan jadi begini!" ucap gadis itu yang belakangan Chanyeol ketahui bernama Kyungsoo. "Maaf sunbae, aku yang menyuruhnya membuat surat itu. Dia kalah taruhan denganku. Dia kekasih yang baik bukan? sampai menuruti permintaan gilaku?" lanjutnya lagi.

Chanyeol ingin menyela, bagaimana pun ia sudah sering di bully oleh anggota tim basket lainnya karena orientasinya yang berbeda. Ia ingin menjadi dirinya sendiri, bukan bersembunyi menjadi orang normal pada umumnya. Chanyeol rasa tidak ada yang salah dengan orientasinya, bukankah Tuhan menciptakan makhluknya dengan segala perbedaan agar dunia lebih berwarna. Apa salah menyatakan perasaannya pada orang yang ia sukai?

Kyungsoo buru-buru membekap mulut Chanyeol dan menuntunnya untuk membungkuk sebagai tanda permintaan maaf. "Maafkan kami!"

Setelah itu, Kyungsoo bersiap menyeret Chanyeol menyingkir darisana, berhenti menjadi tontonan gratis para siswa. Namun langkahnya terhenti, Kyungsoo berbalik dan menatap mata tajam orang yang di panggil Chanyeol, Yeon Seok sunbae. "Oh iya aku lupa! Mampirlah kerumahku, sunbae! Sunbae bisa mengobrol dengan anjingku, kurasa kalian akan cocok...Kkkkk" seru Kyungsoo sambil cekikikan sendiri.

Yeon seok bersiap menerjang Kyungsoo namun teman-temannya menahannya dan membisikan sesuatu. Kyungsoo berdecih sesaat, "Tsk...Aku bukan gadis pengadu. Aku tak akan melaporkan kalian ke appa-ku. Aku juga bukan orang yang mengatai orientasi seksual orang lain, dengan kata 'menjijikan'. Kau lebih menjijikan sunbae! Sudah sebesar ini tapi mengamuk hanya karena seorang pria mengirimu surat cinta."

Sejak hari itu, Chanyeol mengenal dekat dengan gadis bermarga Do itu. Awalnya Chanyeol pikir gadis itu gadis nakal yang sering bolos dan bodoh, sehingga tak punya teman. Apalagi Kyungsoo sering mengganggunya, membuatnya risi dan kesal. Namun semakin kesini dirinya dapat melihat kebaikan di balik tampilannya yang cuek itu.

Tidak seperti sekarang, Chanyeol dulu pernah berbuat kasar kepada Kyungsoo. Kyungsoo mengangkut semua koleksi mainan dan majalahnya tanpa seijinnya. Dirinya memang marah besar hari itu karena Kyungsoo sudah keterlaluan. Chanyeol tak segan-segan berteriak dan mendorong Kyungsoo hingga lututnya berdarah. Memang dasarnya Kyungsoo masa bodoh, gadis itu tetap mengakutnya bersama koran-koran bekas miliknya.

Diam-diam Chanyeol mengikutinya karena merasa bersalah sampai membuat lutut gadis itu terluka. Kyungsoo masuk ke toko barang bekas dan berhasil mendapatkan berlembar-lembar won. Lalu ia mampir ke petshop tak jauh dari sana, keluar dengan berkantung-kantung makanan kucing. Sepanjang jalan menuju rumahnya, ia berhenti berkali-kali seperti punya peta tempat pemberhentian sendiri. Setiap kali ia berhenti dan berjongkok, kucing-kucing liar akan berlarian menghampirinya. Dan Kyungsoo langsung menuang makanan kucing yang ia beli.

Saat itu lah, Chanyeol berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga gadis itu. Sebagai hadiah untuk kebaikan hatinya selama ini. Apalagi tanpa sadar sejak kejadian Kyungsoo mengaku-ngaku kekasihnya, rumor dirinya gay semakin surut. Ia mulai diterima layaknya pemuda normal lainnya.

Dust in the wind

"Bukannya aku menyuruhmu menjadi orang lain. Bukannya aku tak menghormati orientasi seksualmu yang berbeda. Namun kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang heteronormatif. Sesuatu yang berbeda akan di anggap salah. Kau juga harus memperhatikan sudut pandang orang lain. Jangan sampai keunikan-mu membatasi dirimu untuk berbuat baik. Kau tetap dirimu, seorang pemuda bernama Park Chanyeol," ujar Kyungsoo kepada Chanyeol hari itu, di pinggir pantai dekat rumah Kyungsoo. Memandangi senja diiringi suara deburan ombak.

All we are is dust in the wind

Oh, ho, hooo...

"Ya kau benar. Kau tau aku punya sebuah mimpi yang begitu mustahil. Aku ingin mempunyai keluarga kecil yang bahagia. Lengkap dengan bayi kecil dalam gendonganku. Menyentuh tangan mungilnya. Mendengar tangisnya bahkan aku ingin sekali mengantikan popoknya yang penuh kotoran, " kata Chanyeol sambil tertawa, menertawakan dirinya sendiri. Tawa yang terdengar begitu pilu di telinga Kyungsoo.

"Sepertinya aku mulai gila berangan-angan seperti itu. Terlalu berlebihan untukku yang tak bisa mengandung ataupun menikahi wanita," lanjutnya dengan menghela nafas panjang seperti ia sudah pasrah dengan jalan cerita yang ia perankan.

Flash back off

Ting. Bunyi pesan masuk, menyadarkan Chanyeol yang masih setia memandangi fotonya dengan Kyungsoo. Ia menutup galerinya dan memeriksa pesan masuk. Nomor tak di kenal lagi.

From : +82 xxxxxxxxxx

Kau sudah bertindak ceroboh. Kau tak bisa menggertakku semudah itu. Aku akan selalu mengawasimu dari jauh. Temui aku, jika kau berani.

Ceroboh apa? Ooh ya Tuhan...seketika mata Chanyeol melotot tajam, meratapi kebodohannya yang terlanjur ia lakukan. Rupanya ia pernah mengirim pesan ke nomor tersebut.

To : +82 xxxxxxxxxx

Kau tak akan mendapatkan nomor temanku. Tolong jangan ganggu kami.

Nomor itu ia dapatkan dari saku jaketnya, yang kemarin ditemukan Baekhyun. Chanyeol duga pria yang ia temui di toilet yang menaruh secarik kertas itu di sakunya. Berita buruknya, ia malah mengirimnya pesan bernada peringatan dan itu artinya pria itu mendapatkan nomor teleponnya secara tidak langsung.

.

.

MASK

.

.

"Kyung!" panggil Luhan melihat Kyungsoo duduk di halte sendirian. Kyungsoo menyipitkan matanya mencoba melihat siapa yang memanggilnya dari dalam mobil. "Oh hay,Lu!" sapa balik Kyungsoo ketika baru sadar bahwa itu Luhan bersama seorang pria.

"Kau butuh tumpangan? Ayo ku antar!" tawar Luhan. Sehun yang duduk di sebelahnya hanya diam saja. Padahal kan ini mobilnya kenapa kekasihnya ini hobi sekali menawarkan tumpangan. Aku jadi mirip sopir taksi, batin Sehun.

Melihat wajah dingin Sehun, Kyungsoo menggeleng berniat menolak tapi Luhan memaksanya dengan turun dari mobil dan memaksanya masuk. Kyungsoo duduk dengan perasaan tidak enak hati. "Sebenarnya aku menunggu Chanyeol, Lu!"

"Tak apa, Kyung! Kabari Chanyeol kau sudah kami antar. Kau tidak membawa mobil sendiri? tanganmu belum pulih?" tanya Luhan.

"Belum, tapi agak mendingan sekarang."

"Kau mau kemana, Kyung?"

"Ke butik dekat rumah sakit gangnam. Appa-ku tiba-tiba memintaku mengambil baju pesanannya. Apa tidak apa-apa? sepertinya kalian tidak searah dengan tujuanku."

Luhan menyenggol Sehun agar berbicara, mengungkapkan ketidakberatannya untuk mengantar. Sehun pun memulai ucapannya dengan mengambil nafas pelan, "Karena Luhan memaksa dan kau sudah duduk di belakang. Jadi mari ku antar."

"Maaf merepotkan," kata Kyunsoo makin tidak enak setelah mendengar penuturan Sehun yang terdengar seperti keterpaksaan.

Luhan tertawa canggung, merasa malu dengan sikap dingin kekasihnya ini. "Hahaha...maaf, Kyung dia memang seperti itu. Biar ku perkenalkan sekalian dia kekasihku, temannya Jongin."

"Oh Sehun. Aku bukan temannya Jongin si pangeran kegelapan. Kami musuh yang terlihat akur," sahut Sehun.

"Bagaimana pun Jongin teman kita," cerca Luhan mengitrupsi Sehun."Kau saja, aku tidak," balas Sehun angkuh.

Kedua pasang mata Kyungsoo berputar malas melihat kemesraan terselubung sepasang kekasih ini. "Asal kalian tau, aku tidak begitu peduli kau teman siapa atau musuh siapa. Namaku Kyung – "

"Do Kyungsoo.." potong Sehun. "Aku mengenalmu dengan sangat baik, Nona Do."

Apa pria ini sedang membual? Pikir Kyungsoo bingung. Hey, bagaimana bisa mengenal dengan sangat baik? Mereka baru bertemu kali ini atau mungkin Luhan sering menceritakannya. Atau...Jongin? Apa pria-pria sekarang hobi menggosip?

Kyungsoo yang bergelut dengan pikirannya sendiri tanpa sadar hampir sampai tempat tujuannya. Mobil Sehun tiba-tiba berhenti ke tepian jalan, suara Luhan menjawab semua kebingungannya. "Hunnie, kau mau susu juga?" tanya Luhan. "Tidak," jawab Sehun singkat. Luhan turun dari mobil menghampiri dua anak yang membawa keranjang berisi susu kotak.

"Dia selalu begitu," keluh Sehun melihat kekasihnya memborong semua susu anak kecil itu.

"Harusnya kau melarangnya, Sehun-ssi! Itu telalu berlebihan. Luhan bisa kembung jika meminum semuanya," sahut Kyungsoo. Sehun melirik ke kursi penumpang, agak terkejut keluhannya di sahuti.

"Ku pikir kau sebaik dia!" ucap Sehun. Hyungnya sudah menceritakan dana yang ia dapat berasal dari gadis ini dengan menggunakan nama Luhan. Berarti dia lebih berlebihan bukan membuang-buang uangnya, ratusan juta won dia keluarkan cuma-cuma.

"Membeli semua susu-nya hari ini tak akan membuat anak-anak itu kaya. Mereka tetap harus bekerja keras esok-nya lagi. Kau hanya meringankan bebannya hari ini, itu tak akan berpengaruh untuk masa depannya nanti. Kecuali kekasihmu mau membeli semua susu-nya setiap hari, akan beda cerita," oceh Kyungsoo.

Sehun tersenyum tipis. "Setidaknya hari ini mereka pulang dengan tenang, karena dagangannya terjual semua."

Luhan masuk ke mobil dengan sekantung susu. "Kulkas kita akan penuh dengan susu, Kyung!" seru Luhan gembira.

"Terserah kau saja, Lu...! Kau minum saja semua, siapa tau setelah itu kau menghasilkan susu. Aku yakin kekasihmu akan lebih senang," guman Kyungsoo lebih mirip berbicara sendiri karena Luhan yang ia caki maki sedang sibuk mengecek pesan di handphonenya.

"Aku setuju denganmu, Kyungsoo-ssi!" ucap Sehun menimpali gumanan Kyungsoo sambil mengeluarkan smirk-nya.

"Setuju apa, Hunie? Kyungsoo tak bicara apa pun," tanya Luhan bingung.

Melalui kaca mobilnya, Sehun dapat melihat Kyungsoo membuat gestur mengunci mulutnya lalu membuangnya kuncinya jauh-jauh. Sangat lucu bagi seorang Oh Sehun.

Setelah mengantar Kyungsoo, Sehun mengatar Luhan kembali ke apartemennya setalah berbelanja kado untuk pernikahan sepupu Luhan di China. Setelah itu ia berniat berkunjung ke tempat hyungnya untuk membicarakan sesuatu. "Kau tau tempat yang menjual mie udon yang enak, Lu?"

"Di dekat butik kau mengantar Kyungsoo tadi ada kedai yang menjual mie udon. Coba saja kesana. Atau mau ku buatkan?"

"Tidak usah. Ini untuk hyungku bukan untukku." Sehun berpamitan dan langsung berbalik ketempat dimana ia mengatar Kyungsoo tadi.

"Kenapa aku jadi bolak balik begini? Tau begitu tadi sekalian saja kesini," monolog Sehun ketika memasuki kedai sederhana namun banyak pengunjung disana. Di dominasi oleh pekerja kantoran dan para keluarga pasien yang menunggu di rumah sakit tak jauh dari sana. Sambil menunggu pesanannya, ia menangkap siluet Kyungsoo yang sedang duduk di depan dua anak kecil perempuan dan laki-laki. "Bukankah itu anak kecil yang tadi?"

Herannya lagi keranjangnya terisi lagi dengan kotak-kotak susu, bukankah Luhan sudah membeli semuannya tadi? Merasa sangat penasaran, Sehun berpindah ke tempat duduk yang lebih dekat dengan bangku Kyungsoo. Mencoba mencuri dengar. "Sepertinya aku akan bingung memilih jika seperti ini," ucap Sehun tanpa sadar.

.

.

.

Kyungsoo berkunjung ke apartemen Jongin. Ini kedua kalinya ia kesini, perasaan ragu untuk segara masuk membuatnya hanya berdiri didepan apartemen. Harusnya ia tak kesini, Jongin tak mengharuskan dirinya datang setiap hari, yang penting datang ketika Jongin sedang membutuhkannya. Salahkan kakinya yang tak mau menurut, malah berjalan mencegat taksi untuk sampai disini.

Lagi-lagi otaknya kalah dengan perasaannya. Kyungsoo menekan deret angka dengan cekatan. Sekarang dia punya dua apartemen untuk di bobol, punya Chanyeol dan Jongin. Kyungsoo berdecak bangga pada dirinya sendiri.

Kedatangan Kyungsoo di sambut dengan posisi Jongin berjongkok di depan pintu. Hanya memakai bathrobe sambil membaca buku. Di sampingnya juga ada tiga buku tebal bertumpuk. "Tuan muda sudah begitu sejak tadi siang. Ia menunggu anda datang, nona Do.. Sambil belajar untuk study lanjutannya," ujar Xiumin yang berdiri tak jauh dari sana.

Pandangan Kyungsoo yang sempat teralih ke Xiumin kembali ke Jongin. "Kemana anak itu? " seru Kyungsoo tak melihat Jongin di tempatnya tadi.

"Kau datang?" bisik Jongin yang sudah berdiri di belakangnya sambil melingkarkan tangannya di pinggul Kyungsoo.

"Kenapa kau tak menghubungiku jika ingin aku datang? Bagaimana jika aku tidak datang? Kau akan berjongkok dengan bathrobe seperti itu seharian? " Jongin malah tertawa dan menggendong Kyungsoo ke sofa.

"Oh astaga..!" pekik Kyungsoo kaget tiba-tiba di gendong. Tubuhnya di dudukan dalam pangkuan Jongin dan tangan Jongin tetap setia melingkar di pinggulnya. Jongin memandangi Kyungsoo yang menatapnya bingung. Lalu tersenyum sendiri tanpa sebab. "Kenapa? Kau kena penyakit gila stadium akhir?"

"Ya, kita sama-sama gila. Sudah tak bisa terselamatkan. Kita berdua akan mati bersama karena kegilaan ini, " balas Jongin yang memandangi wajah Kyungsoo tanpa bosan. Menyelipkan beberapa anak rambut yang tergerai ke belakang telinganya. "Aku ingin memanggilmu, tapi aku tak punya pekerjaan apa pun untuk kau kerjakan."

"Kupikir menyenangkan hati Tuan Kim Jongin ini masuk dalam daftar pekerjaanku," goda Kyungsoo, ia tak bisa menahan tangannya untuk tidak menyelinap di bathrobe Jongin. Dadanya yang bidang mengintip malu - malu di balik bathrobenya. Sangat menggiurkan untuk di sentuh.

Tubuh Jongin bereaksi akibat tangan Kyungsoo yang meraba-raba dadanya tidak jelas tujuannya. Ia jadi tak bisa bernafas dengan baik. "Jangan membuatku merubah kesepakatan kita, aku akan bangkrut jika kau menggodaku terus seperti ini"

Kyungsoo telah sepakat menjadi asistennya dalam mengurus apartemen bujangan ini. Bukan dirinya yang mengerjakan, tapi lebih mengaturnya. Membawa bajunya ke laundry, menstock makanan di dapur, memanggil layanan jasa kebersihan jika sudah sangat kotor dan tak layak di tinggali. Semua itu tidak ia lakukan setiap hari paling hanya tiga kali seminggu. Toh Jongin termasuk pria yang bisa menjaga kebersihan dan mandiri yang harus di layani setiap saat. Hanya saja kurang sabar untuk sekedar berbelanja kebutuhannya sendiri.

Itu semua mudah bagi Kyungsoo, tapi bagian yang mengurusnya di ranjang itu yang susah. Tidak ada jadwal dan harus siap kapan pun. Ia juga tak bisa memanggil orang lain seperti tugas lainnya. Ia harus turun tangan sendiri, kabar baiknya ia akan dapat dua kali lipat dari gajinya tiap kali bermain dengan 'adik' Jongin.

"Kau yang menawariku, Tuan Kim Jongin. Cari saja orang lain jika kau mau, Luhan misalnya. Dia akan mengurusmu lebih baik, dia bisa memasak juga selain itu - "

Cup! Satu kecupan memotong ucapan Kyungsoo yang belum selesai. "Aku sudah memilihmu. Jangan banyak protes, " ucap Jongin.

"Bilang saja Luhan tak bisa ajak main di ranjang, " sahut Kyungsoo malas.

"Aku tidak tau ternyata gadis cuek sepertimu begitu pencemburu, " ejek Jongin yang menelusupkan kepalanya di perpotongan leher Kyungsoo. Menghirup aroma coklat manis dari sana. Sangat membuatnya kecanduan."Aku tidak cemburu, jangan terlalu berharap lebih Tuan Kim! " elak Kyungsoo.

"Ya...ya..ya ..nona Do ~ " balas Jongin mengalah tapi tangannya tdak mau kalah, tangannya menyusup menelusuri paha Kyungso yang terekspose karena hari ini memakai dress selutut berbahan tipis berwarna pastel. Tanganya berhenti di lipatan pusat kewanitaan Kyungsoo. Mereba isinya, mengusap-usap klitoris sambil sesekali menepuk-nepuknya dan berhasil membuat Kyungsoo memekik keras.

"Aahhhhh.. Ssssttt.. H-hentikan J-jonginnnn!" pekik Kyungsoo mengiba. Namun Jongin tak akan menurut, ia tahu dari Sehun bahwa disana tempat yang tepat untuk merangsang wanita karena memiliki sekitar 8000 ujung saraf sehingga sangat peka terhadap rangsangan.

Xiumin yang sedari tadi disana dan membiarkan keduanya bermesraan. Karena Xiumin pikir Tuannya punya hubungan dekat dengan putri Tuan Do. Mendengar pekikan Kyungsoo, ia merasa terpanggil untuk membantu tamu tuannya yang kelihatan kesakitan.

"Nona Do kau tak apa? Apa Tuan Jongin nakal padamu?" tanya Xiumin yang memang sangat paham jika tuannya suka jail, jika sedang di acara resmi saja ia terlihat bijaksana. Apalagi jika dengan eommanya, tuannya berubah jadi bayi besar merengek tak kenal usia.

"Aku tak melakukan apa pun pada Nona Do, Xiumin-ssi, " sahut Jongin seolah memintanya jangan ikut campur. Namun pandangan mata Kyungsoo yang seperti menahan pup membuat Xiumin tidak tega.

"Jangan lakukan apa pun, tolong! Aku akan melayanimu lain kali. Hari ini aku bertemu tunanganku," pinta Kyungsoo mencoba turun dari pangkuan Jongin.

Jongin memandang tak percaya ke arah Kyungsoo yang sekarang berdiri di hadapannya sambil merapikan dress-nya yang kusut. "Tunangan?" ulang Jongin memastikan pendengarannya.

kyungsoo mengangguk mengiyakan."Appaku bahkan sudah memesan dress ini khusus untuk acara makan malam dengan tunanganku. Jangan tanya siapa, aku juga belum tau jawabannya."

"Bagaimana bisa?. Maksudku...kenapa kau harus kesini jika akan bertemu tunanganmu? Kau tidak lihat aku sedang sangat keras sekarang karena ulahmu?" seru Jongin seperti orang frustasi. Bukan karena Kyungsoo akan meninggalkannya dengan keadaan keras begini tapi lebih ke berita pertunangannya. "Kau akan menerimanya?" sorot mata Jongin melemah begitu juga dengan suaranya.

"Aku tidak tau. Aku tidak tau kenapa aku kesini, aku juga tidak tau apakah aku akan menerimanya."

Seorang Kim Jongin kehilangan kata-kata. Haruskah dirinya menahannya? Menjadikan gadis ini jadi kekasihnya agar tak ada satu pria pun yang dapat merebutnya. "Jangan menerimanya... " guman Jongin yang mampu di dengar dengan baik oleh Kyungsoo.

"Tenang saja, aku masih akan bekerja padamu. Jika itu yang kau khawatirkan, " ucap Kyungsoo mencoba memberi pengertian. "Ngomong-ngomong apa punggungmu sudah baikan? Biar kuobati mumpung aku disini,"

Kyungsoo duduk di belakang Jongin dan mulai menurunkan bathrobe yang Jongin pakai hingga ke pinggang. Membuat punggungnya yang tak mulus lagi terlihat. Lukanya yang belum kering di biarkan terbuka tanpa di perban. Kyungsoo menghela nafas pendek, merasa prihatin keadaan Jongin yang tidak bisa merawat dirinya sendiri. "Kenapa kau tidak meminta seseorang memperban lukamu? Ini akan sakit jika bergesekan dengan baju,"

"Sehun tak kesini,"

"Xiumin,ssi..boleh aku minta tolong sesuatu?" seru Kyungsoo lembut.

"Saya sudah mengambilkannya untuk anda, nona!" ujar Xiumin yang berdiri di dekatnya membawa kotak obat lengkap dengan senyum ramahnya. Mengetahui kehadiran Xiumin di dekatnya, Jongin meraih bantal yang ada di sofa lalu mendekapnya mencoba menutupi bagian dada dan perutnya yang tak terlindung apa pun. "Terima kasih, Xiumin-ssi! "

"Aku tidak tau kenapa kau jadi terlihat seperti bocah polos saat mendekap bantal itu dan aku juga tidak tau kenapa harus Sehun yang mengobatimu? Disini ada Xiumin-ssi yang bisa kau pinta bantuannya," omel Kyungsoo.

"Saya setuju, nona Do. Walaupun tugas saya menjaga tapi saya juga bisa mengobati jika Tuan Jongin berkenan, " ucap Xiumin.

Jongin menunduk seperti anak kecil yang akan menangis karena dimarahi. "Berhenti bersikap menggemaskan seperti itu, Jongin! Itu tidak cocok dengan kelakuan bejat yang sering kau lakukan padaku,"

"Mian ~ " cicit Jongin. "Xiumin-ssi pulanglah sebelum terlalu larut malam. Aku ingin berdua dengan Nona Do," pinta Jongin dengan nada tegas.

"Baik. Tuan Nona saya undur diri. Nona bisa hubungi saya jika Tuan Jongin nakal lagi." Xiumin mengemasi barangnya dan berpamitan pergi.

"Sepertinya dia menaruh dendam padaku," adu Jongin ketika Xiumin sudah benar-benar pergi.

Kyungsoo mengobati luka dengan tenang, tak memberikan komentar apa pun. Jongin jadi ikut diam tak membicarakan apa pun. Sampai akhirnya Kyungsoo selesai mengobati dan mengembalikan ke kotak obat kembali. "Pakai pakaianmu kembali! Kau bisa kedinginan jika telanjang dada seperti itu."

"Apa kau akan menerima pria itu?" tanya Jongin yang tiduran di paha Kyungsoo tanpa permisi. Kyungsoo berhenti merapikan peralatan yang ia gunakan untuk mengobati tadi. Ia menatap bayi besar yang ada di pangkuannya sekarang.

"Pria yang mana?" Kyungsoo bertanya balik dengan kesal.

"Yang akan jadi tunanganmu. Tuan Do tega sekali menjodohkanmu."

"Sudah kubilang aku tidak tau. Kenapa kau begitu khawatir?"

"Aku tidak suka wanitaku dengan pria lain," ujar Jongin merubah posisinya meringkuk menghadap perut datar Kyungsoo. "Apa jika ada aegi disini kau tidak akan menerima pria itu?" tanya Jongin lagi sambil jarinya berputar-putar di perut Kyungsoo.

"Perutku hanya berisi makanan," sahut Kyungsoo setengah jengkel.

"Tapi bisa saja - "

Kyungsoo memotong duluan. "Aku sudah mengeceknya, aku juga sudah minum pil pencegah kehamilan secara teratur."

"Baiklah aku menyerah. Kau boleh memilihnya jika kau mau," ucap Jongin lemah. Hati Kyungsoo lebih lemah sekarang. Apa semudah itu melepaskan dirinya. Kyungsoo rasa dirinya terlalu banyak berharap selama ini. Dirinya tetap seorang jalang Kim Jongin.

Bibir Jongin berucap kembali, "Tapi kau harus tau, aku menyukaimu. Itu alasanya kenapa aku membayarmu mahal bekerja padaku. Aku ingin kau disisiku. Maaf jika caraku salah. Aku hanya ingin kau juga bahagia bersamaku... "

"Katamu beberapa kebahagiaan membutuhkan uang. Kau akan senang bukan jika mendapatkan uang? Jadi mengingat kau keras kepala begitu, aku tak mau menjadikan kau kekasihku. Karena jika kau jadi kekasihku, kau akan merasa sungkan jika aku mengirim uang ke rekeningmu. Kau akan mengacamku dan mengembalikan uang yang ku kirim."

"Tapi jika kau bekerja padaku begini, kau akan menerimanya. Jadi jangan pernah berfikir kau seorang jalang Kim Jongin. Jangan takut kemari setiap hari, hanya karena takut kupaksa kutiduri. Aku hanya senang menggodamu saja... Kau boleh menolak jika tak mau. Atau kau boleh balik memaksaku menidurimu... " candanya di akhir pangakuan panjangnya. Membuat Kyungsoo tertawa pelan.

Kyungsoo menegakkan badan Jongin yang meringkuk di pangkuannya. Bingung kenapa tiba-tiba ia suruh bangun, Jongin hanya bisa menatap Kyungsoo berharap gadis itu menjelaskan kebingungannya. Apa kepalanya berat? Apa ia harus pergi makan malam sekarang?

Tanpa aba-aba Kyungsoo mencium bibir plum itu. Melumatnya sendirian, karena Jongin dilanda serangan jantung mendadak hanya bisa membuka mulutnya tanpa bergerak. Merasa di abaikan Kyungsoo berpindah menciumi puting kecil yang mirip biji ketumbar milik Jongin.

"Jangan disitu, Kyung! Bibir saja, okey!" pinta Jongin yang sudah tersadar dari serangan jantungnya. Takutnya bibir Kyungsoo akan semakin ke bawah dan itu artinya Kyungsoo akan terlambat pergi ke makan malamnya. Ia tak mau keluar apartemen langsung di todongi pistol oleh anggota kepolisian anak buah ayah Kyungsoo.

Kyungsoo menurut kembali ke bibir sambil menyunggingkan senyumnya. Jongin menyambutnya dengan sangat baik sambil menekan kepala Kyungsoo agar ciuman mereka semakin dalam. Mereka berhenti dengan nafas terengah-engah karena tak ada satu pun yang ingin melepaskan bibir masing-masing.

Jongin membuka kancing dress Kyungsoo yang hanya berjumlah empat. kyungsoo menahan tangannya, "Katamu - "

Jongin menghisap bagain dada Kyungsoo dekat tulang selangkanya. Hingga menimbulkan tanda merah disana. Dengan sabar Jongin mengancingkan kembali dress Kyungsoo. "Tandaku kemarin mulai pudar, aku harus menandaimu lagi. Kuharap dengan ini siapa pun pria yang di jodohkan denganmu akan mundur tanpa perlu kupatahkan tangannya. "

"Ini tidak akan terlihat, bodoh!" maki Kyungsoo.

"Kalau di leher nanti appa-mu bisa lihat. Nanti menambakku, aku belum siap gentayangan,"

"Terserah kau saja, Kim!"

TBC

.

.

.

Ini kenapa saya minta maaf di capther kemarin. Sekarang saya siap di hujat, guiss... Bagi yang ngga terima Chanyeol saya bikin gay.

Q : Kenapa Chanyeol baru sekarang ditunjukin bahwa dia gay?

A : Saya mulai ragu di pertengahan cerita, apalagi pas saya tanya kemarin ternyata banyak yang nge ship chanbaek. Saya manusia biasa yang takut tidak memenuhi ekspektasi pembaca.

Dan sudah saya kode-kode sejak chapter pertama. Waktu Chansoo ngeliat Luhan jalan ama Sekai, Kyungsoo goda Chanyeol... Jangan jangan dirinya suka. Tp Chanyeol langsung nyeletuk bahwa mereka berdua straight, karena insting gay kuat jika menemukan pria yang gay juga. Paling ketara waktu 'anu' nya Chanyeol tegang gara-gara di pegang mas-mas bertopi yang masih misterius itu. Dst.

Q : Kenapa si Chanyeol di bikin gay, thor?

A : Alasan saya sederhana. Biar paham bahwa banyak gay yang di sekitar kita, yang hidupnya kek Chanyeol waktu jaman sekolah. Yang hidupnya diasingkan dari pergaulan. Gay bukan penyakit jiwa, guys... Percaya ama saya, saya tiap hari pelajarannya ttg itu.

Q : Kapan Kyungsoo hamil?

A : Saya tau kalian menginginkan bayi bayi lucu hasil perkembangbiakan kaisoo. Saran saya, sabar aja...

Q : Gimana nasib chanbaek nantinya?

A : Saya belum bikin ending buat chanbaek. Makanya di sinopsis saya ngga nyantumin chanbaek... Masih di godhog di otak saya.

Q : Ada adegan darah darah?

A : Apa Sehun kesilet pas nyukur kumis termasuk adegan berdarah?

Q : Kenapa ada yoo yeon seok?

A : Saya baru demen ama om kembaran Sehun ini. Ngeliat dadanya di drama Mr. Sunshine bikin ngiler. Bapak ayam ! Bapak ayam ! *geje*

Q : Bingung milih chansoo ama kaisoo nih!

A : Asal kalian tau saya juga bingung milih. Temen-temen saya chansoo shipper semua. T_T

Q : Siap ditinggalin pembaca karena Chanyeol gay dan nasib Chanbaek masih gantung?

A : Ya mau bagaimana lagi... Parahnya lagi habis ini saya di getok kakak saya, dia chanbaek garis keras. Tak kaisoo ndak mau... Huft.

.

Btw, ada yang tau baca manga Love is an illusion ama bj alex yang terjemahan indo atau inggris dimana yap?