MASK
"Semua orang memakai topeng untuk kau cintai.
Jika kupakai topeng burukrupa, akankah kau mencintaiku?"
.
.
CHAPTER 8
.
.
.
.
Sehun yang hari ini mengenakan jas rapi berjalan memasuki restaurant mewah. Menghampiri ayahnya yang duduk di depan seorang pria paruh baya dan putrinya. Ia berniat untuk tidak datang dalam acara ini, namun sesuatu hal membuatnya sangat penasaran.
Kyungsoo jawaban atas segala rasa penasarannya. Gadis itu menoleh ke arahnya, mengikuti kemana arah langkah kaki Sehun berjalan. Namun sayang tidak ada ekspresi terkejut di wajahnya. Sial, batin Sehun yang sudah menunggu Kyungsoo tercengang atau paling tidak memanggil namanya dengan tatapan tak percaya. Nyatanya sekarang gadis itu tetap duduk dengan tenang seperti tak tejadi apapun.
Makan malam di awali dengan obrolan kecil dan berakhir dengan suara pisau memotong daging di atas piring. Sesekali Sehun melirik ke arah Kyungsoo sambil menyuap potongan daging ke mulutnya. "Kuharap kalian setuju dengan pertunangan ini. Tuan Do dan appa sudah sangat ingin menimang cucu. Setelah kalian lulus segeralah menikah," suara Tuan Oh membuat kedua anak muda yang duduk disana menghentikan makannya.
"Aku rasa langsung menikah saja. Kyungsoo butuh seseorang untuk membimbingnya," balas Tuan Do dengan wajah cerah seperti baru saja menemukan uang di saku pakaian lama. Gembira tak terkira.
Sehun dapat mendengar Kyungsoo menarik sudut bibirnya sambil beguman pelan. "Tsk, membimbing katanya!"
Tuan Oh tertawa sebentar, "Kau benar, langsung menikah saja kalau begitu. Bagaimana, Sehunna?"
"Beri kami waktu. Kami baru bertemu hari ini, akan canggung jika langsung menikah." Sehun menjawab sambil tak melepas pandangannya pada Kyungsoo. "Tuan Do, boleh ku ajak Kyungsoo-ssi jalan-jalan di sekitar restaurant?" Tuan Do mengangguk mantap menerima tawaran Sehun.
"Kau tau, sedari tadi aku ingin mencongkel matamu yang tak henti-hentinya meliriku," seru Kyungsoo berjalan beriringan di samping Sehun yang sudah melonggarkan kancing kemeja bagian atasnya dan menenteng jasnya di tangan.
"Aku hanya penasaran kenapa kau tak terkejut sama sekali," balas Sehun santai. Gadis ini tak mungkin benar-benar mencongkel matanya kan. Kyungsoo malah menghentikan langkahnya dan duduk bersila di bangku taman, tak peduli saat ini sedang mengenakan dress.
Mau tak mau Sehun ikut duduk disana. "Biasanya seorang gadis akan duduk sambil menyilangkan kakinya di hadapan laki-laki agar terlihat manis dan seksi. Atau setidaknya duduk manis merapatkan kakinya," komentar Sehun.
"Anggap saja aku bukan gadis biasanya. Asal kau tau Tuan muda Oh Sehun, sekalipun aku di jodohkan dengan om-om berkepala botak pun aku tak akan terkejut. Apalagi dengan tuan muda sepertimu. Sangat klasik!"
"...Dan tolong alihkan matamu dari pahaku. Itu tidak sopan!" tegur Kyungsoo melihat Sehun tak bisa melepaskan pandangan dari paha putihnya yang tak sengaja terlihat karena posisi duduknya. "Apa paha Luhan tidak cukup?"
Sehun menanggapinya dengan tenang. "Maaf, aku hanya merasa mencium bau cairan wanita. Kau bermain dulu sebelum kesini?" tanya Sehun sambil melingkupkan jasnya ke pangkuan Kyungsoo hingga paha dan kakinya tertutupi.
Kyungsoo diam saja. Sehun tertawa sebentar, "Bersama Jongin ya?"
"Jadi benar para pria sekarang suka bergosip?" tanya Kyungsoo lebih terdengar seperti tuduhan.
"Baumu seperti Jongin," jelas Sehun. "Ngomong-ngomong kau tak keberatan jika kita di jodohkan?"
"Aku wanita bebas. Kurasa itu dapat menjawab pertanyaanmu."
"Ya, aku tau benar tentangmu Nona Do. Aku pun juga seperti ini. Tidak usah ku jelaskan pasti kau sudah tau."
"Sering main wanita, pergi ke club, di gosipkan dengan ke hotel dengan wanita, di rumorkan juga memakai narkoba dan aku tidak tau kenapa malah Jongin yang di gosipkan dengan Luhan. Aku juga awalnya mengira begitu." Kyungsoo mengeluarkan dua batang rokok dan menawarkannya pada Sehun. Sehun mengambil batang rokok itu sambil tertawa pelan. Mengingat akibat kesalahpahaman Kyungsoo, dirinya jadi korban amuk Hyungnya.
"Kau terlihat manis ketika tertawa. Kenapa aku tak pernah melihatmu tertawa ketika bersama Luhan? Kisah cinta kalian seperti film suram yang berakhir sad ending," lanjut Kyungsoo sambil menyalakan korek api untuknya dan Sehun. Menghisap batang rokoknya penuh kenikmatan.
"Bibirmu juga seksi ketika menghisap rokok. Kenapa aku tak pernah melihatmu menghisap punya Jongin? Kisah cinta kalian seperti drama saeguk yang penuh tata krama," balas Sehun yang sukses mendapat tawa Kyungsoo begitu nyaring terdengar. Sehun jadi ingin ikut tertawa bersama.
Tawa mereka lenyap di gantikan helaan nafas panjang. Sadar atau tidak masing-masing dari mereka memikirkan kisah cintanya masing-masing. "Batalkan saja perjodohannya. Aku merasa kau bermain dengan banyak wanita dan menyembunyikan hubunganmu dengan Luhan, karena kau begitu mencintainya. Kau mencoba melindunginya dari sesuatu."
"Dari appaku lebih tepatnya. Appaku orang yang berbahaya. Appaku menjodohkanku denganmu karena sudah tau hubunganku dengan Luhan," ujar Sehun pelan.
"Apa yang salah dengan Luhan? Kurasa dia gadis yang sempurna,"
"Ya, dia begitu sempurna. Sayangnya Luhan berasal dari keluarga biasa saja dan keturunan orang China. Appaku punya sejarah buruk dengan menantu China dan keluarga biasa. Jika ku teruskan, keluarga Luhan akan terancam. Kemungkinan paling buruk keluarganya akan terbunuh di tangan appa-ku."
Sehun menghisap rokoknya lalu meniupkan asapnya ke arah bawah. Menandakan perasaan Sehun sedang tidak baik sekarang. Dia butuh asupan nikotin untuk bercerita. "Appaku pernah membunuh keluarga calon kakak iparku. Karena keluarga calon kakak iparku menipu appaku. Calon kakak iparku China dan berasal dari keluarga biasa. Sungguh kebetulan yang memuakan bukan?"
"Lalu kau akan mundur dan menikahiku?"
"Aku sedang mencari cara menggiring appaku ke balik jeruji besi. Tapi kurasa itu hal yang sulit, appa-mu saja yang kepala kepolisian adalah temannya. Apalagi perusahaan akan hancur tanpa adanya appa. Ditambah yang di jodohkan denganku adalah kau."
Kyungsoo mengangkat kedua alisnya dan membulatkan matanya yang sudah bulat. "Aku? Kenapa aku dibawa-bawa dalam alasanmu?"
Sehun tersenyum sebentar lalu menggetuk-ngetukan rokoknya ke pinggiran bangku taman untuk menghilangkan abu pada ujung rokok. "Gadis yang tulus dan tidak banyak peduli omongan orang. Bukankah itu yang di cari semua pria? Aahh satu lagi...dan panas di ranjang. Ini kata Jongin," kata Sehun mencoba menjelaskan darimana opininya yang terakhir berasal.
"Aku di bayar, kepuasan Tuanku adalah yang utama. Selebihnya aku hanya wanita biasa yang berkepribadian buruk. Darimana kau menyimpulkan aku tulus? Itu terdengar konyol!"
"Rela menjajakan tubuhnya untuk bisa menyumbang sebuah panti asuhan dan menanggung biaya rumah sakit seorang gadis yang bahkan baru kau temui. Kau melakukannya atas nama Luhan. Kurasa itu sudah cukup memperlihatkan seberapa tulus hatimu menolong orang lain."
"Kau bercanda? Hahaha!" ucap Kyungsoo sambil tertawa yang terdengar di paksakan. Lalu menghisap rokoknya terburu-buru untuk mengalihkan rasa gugupnya.
Sehun membuang putung rokoknya. Mengamati langit malam dengan sinar rembulan yang hari ini berbentuk bulat penuh. "Bulannya cantik!" ucap Sehun tiba-tiba beralih topik.
Kyungsoo ikut membuang rokoknya diiringi helaan nafas panjang. "Kau pria yang berbahaya, Tuan muda Oh Sehun!"
"Kau salah. Aku pria pendiam. Aku tak memberitahu Luhan maupun Jongin. Aku juga tak berniat melaporkanmu pada appa-mu tentang hubunganmu dengan Jongin. Aku benar-benar pendiam bukan?"
"Pria pendiam yang berbahaya. Ku harap kau tak meminta apa pun dariku untuk biaya tutup mulut kecilmu dengan bibir tipis dan seksi itu," canda Kyungsoo.
Sehun tertawa lagi. Entah sudah keberapa kalinya hari ini ia tertawa. "Tidak. Dan terima kasih pujianya." "Mari berteman saja. Jika aku gagal dengan Luhan, kau harus siap menerimaku. Aku pria jahat, aku tak segan-segan mengambilmu dari Jongin."
"Hey..hey...pertemanan macam apa ini?" protes Kyungsoo.
"Bukankah teman selalu ada ketika temannya sedang membutuhkan," ujar Sehun enteng.
"Baiklah, pria jahat dengan gadis jahat. Kurasa kita cukup cocok untuk membangun kastil di ujung bukit."
"Kita bisa memelihara banyak kelelawar untuk menyambut tamu-tamu kita,"kelakar Sehun dengan wajah datarnya. "Ayo kembali, appamu pasti menghawatirkanmu," ucapnya sembari menjulurkan tangannya siap mengandeng Kyungsoo.
.
.
MASK
.
.
Kyungsoo membuka matanya, melihat ke sekeliling ruangan. Rak-rak buku menutupi hampir setengah dari dinding. Buku-buku tertata rapi sesuai jenisnya. Kyungsoo kadang berfikir ia sedang tertidur di sebuah perpustakan, namun dengkuran halus dan aroma maskulin menyadarkanya kembali. Mana mungkin ada ranjang di perpustakaan. Mana mungkin ada pria telanjang tertidur dengan lelapnya. Kyungsoo tertawa merasa geli dengan pikirannya sendiri.
"Kau menertawakanku?" tanya Jongin dengan suara berat khas bangun tidur. Dengan matanya masih terpejam, ia merapatkan tubuh Kyungsoo ke depakapannya. "Tidak, aku hanya menertawakan diriku sendiri," sahut Kyungsoo mencoba melepaskan diri dari dekapan tubuh kekar di sampingnya ini.
"Kau mau kemana?" tanya Jongin lagi kali ini lebih terdengar seperti rengekan.
"Mengurusi hidupku, Jongin! Aku belum menyelesaikan tugas kuliahku. Sudah seminggu ini aku tak pernah pulang tepat waktu layaknya anak gadis," balas Kyungsoo yang duduk di pinggir ranjang dengan tubuh polosnya. Jongin ingin mengintrupsi dan menahan Kyungsoo, namun Kyungsoo segera berucap kembali, "Aku tau aku bukan gadis lagi. Tidak usah di perjelas."
"Maaffff...!" ucap Jongin sembari menyampirkan selimut putih untuk menutupi tubuh Kyungsoo. Kyungsoo membalasnya dengan kecupan ringan di pipi Jongin. "Tidak usah minta maaf. Aku melakukannya tanpa paksaan. Tapi tolong lakukan di kamar, jangan di sembarang tempat. Xiumin-ssi bisa saja mempergoki kita,"
Jongin mendadak ingat ketika pulang kuliah, tiba-tiba rasa lelahnya mengerjakan tugas akhir hilang entah kemana. Melihat Kyungsoo menungging karena menata barang-barangnya di kulkas, ide jailnya mendadak muncul dan berakhir membuat gadis itu benar-benar menungging berjam-jam di depan kulkas. Tidak hanya di depan kulkas, sofa ruang tamu dan balkonnya menjadi saksi bisu penyatuhan mereka berdua.
Kalau di pikir-pikir memang jahat juga dirinya, apalagi saat di balkon hanya Kyungsoo yang telanjang dan terkena angin malam yang dingin. Kyungsoo sampai memekik merasakan ngilu pada putingnya karena bergesekan dengan besi pagar pembatas pada baklonnya. Yang belakangan Jongin ketaui ketika malam hari besi itu memang sangat dingin menyentuh kulit.
"Ayo jalan-jalan denganku! Ke pemandian air panas, pasti badanmu pegal-pegal! Ahh atau es krim...ku belikan semangkuk penuh!" tawar Jongin tiba-tiba merasa bersalah pada Kyungsoo walaupun ia membayarnya rasanya itu tidak cukup.
Kyungsoo menggeleng, "Lebih baik kau bantu cari pakaian dan bra-ku!"
Jongin langsung semangat berniat membantu namun raut wajahnya semangatnya berubah seketika mengingat keadaan pakaian Kyungsoo sekarang, "Hmmmm...itu..mmm.."
"Nona Do! Ada yang menelponmu! Ohhh Ya Tuhan...dress siapa ini? Kenapa bisa robek menjadi dua begini? Ini juga bra siapa?" seru Xiumin membuat dua sejoli di dalam kamar panik. "Nona Do! Nona Do! Anda tidak apa-apa? Apa anda di perkosa Tuan Jongin? Ohhh tidak... apa harus ku dobrak kamarnya?" teriak Xiumin yang bergelut dengan prasangka negatif pada tuannya sendiri.
Kyungsoo memejamkan matanya, menarik nafasnya kuat-kuat. "Aku tidak tau apa yang harus ku katakan pada Xiumin-ssi setelah ini!" ucap Kyungsoo setengah berbisik.
Xiumin terus saja mengetuk pintu dari luar kamar. "Nona Do! Nona Do! Seorang pendeta menelponmu! Nona – "
Kyungsoo langsung membuka pintu kamar hanya dengan selimut menutupi tubuhnya. Melesat ke sofa mencari handphonenya. Berdiri agak menjauh dari keramaian yang di timbulkan oleh Tuan dan bodyguardnya. Semoga Xiumin mengampuninya, doa Kyungsoo dalam hati.
Tepat setelah mengakhiri sambunganya teleponnya. Kyungsoo dapat melihat Jongin keluar dari kamar dengan celana pendek yang terpasang serampangan dan Xiumin yang menjewer kupingnya. "Ada apa? Kenapa seorang pendeta mencarimu?" tanya Jongin menahan sakit kupingnya yang tak kunjung di lepaskan. "Apa dia yang di jodohkan dengamu?"
Kyungsoo menghampiri Xiumin dan membisikan. Jongin dapat melihat dua tanduk merah di kedua kepala wanita di sampingnya ini. Dengan senyum mengerikan Kyungsoo berbalik menghampiri Jongin memeluknya dan melumat bibirnya namun kemudian ia hentikan tiba-tiba. Jongin meratapi kepergiaan bibir kesukaannya.
"Kau berhutang dress padaku. Aku pergi dulu, semoga Xiumin-ssi berbaik hati padamu!" ujar Kyungsoo diiringi senyum ala ibu tiri.
Chanyeol yang sudah sampai di depan apartemen Jongin menatap heran Kyungsoo yang berlarian hanya menggunakan selimut, sepanjang halaman apartemen menuju mobilnya. Persis seperti korban asusila yang sedang kabur.
"Kau bawa bajuku?" todong Kyungsoo ketika sudah duduk manis di samping kursi kemudi. Chanyeol mengambil paper bag berisi baju Kyungsoo. Dengan cekatan Kyungsoo langsung memakainya.
Fokus Chanyeol bukan pada tubuh polos Kyungsoo tapi pada tanda merah-merah yang hampir rata. Sebagian tanda lama yang sudah hampir pudar tapi tanda lainnya Chanyeol yakin baru di buat pagi ini. Wajah Kyungsoo juga terlihat lebih lelah dari biasanya.
"Bersandarlah padaku!" pinta Chanyeol mulai mengemudikan mobilnya. Kyungsoo menurut, rasanya begitu nyaman menemukan pundak Chanyeol lagi. "Kau mau kopi?"
"Tidak, keretanya tiba lima belas menit lagi. Kita harus cepat, sebelum Sooman-ssi pergi ke si keparat itu," balas Kyungsoo.
"Suho-ssi bagaimana?"
"Dia sedang di rumah sakit menunggu Sunny yang sedang di operasi. Ngomong-ngomong terima kasih, Chan! Pundakmu yang terbaik!" puji Kyungsoo. Chanyeol tersenyum simpul bisa dapat sedikit membantu mengurangi beban Kyungsoo.
Suara kereta datang begitu berisik memekakan telinga. Kyungsoo dan Chanyeol wara-wiri bertanya ke petugas stasiun dari jalur manakah mereka berdua menunggu. Kyungsoo duduk dengan keadaan lemas, ditangannya ada foto pria paruh baya yang dirinya cari. Tapi sudah lima belas menit sejak kereta tiba, dirinya dan Chanyeol tak menemukannya.
Sedangkan Chanyeol mondar-mandir mencari akal, "Ayo berpikir Chan...berpikir...kemana menurutmu orang yang habis berpergian akan singgah dulu sebelum ke tempat tujuan?"
"Kalau aku akan ke cafetaria stasiun..." sahut Kyungsoo.
"...Toilet," seru Chanyeol berbinar-binar. "Percaya padaku ia akan kesana! Ayo!" Chanyeol menggandeng Kyungsoo untuk segera berjalan ke toilet pria. Kyungsoo yang sudah lemas hanya bisa berjalan terpontang-panting mengikuti tarikan tangan Chanyeol.
Kali ini Kyungsoo harus berterima kasih pada Chanyeol. Laki-laki paruh baya sudah duduk di hadapannya setelah bernegosiasi di toilet tadi. Lee Sooman memandang dua anak muda di hadapannya dengan pandangan penuh ketidaksukaan. "Aku tidak tau siapa kalian dan apa mau kalian?"
"Saya tidak mau panjang lebar disini. Panti asuhan yang anda kelola telah melanggar hukum karena menjual anak-anak panti ke mafia dan dipekerjakan setidakbagaimana mestinya. Baekhyun, salah satu anak panti diperkerjakan sebagai pelacur di club. Kurasa itu sudah cukup jadi bukti. Anda mau bilang tidak tau apa-apa?"
"Itu urusan panti kami. Anak kecil seperti kalian mana mengerti soal urusan seperti ini. Kami butuh uang untuk membiayai anak-anak panti yang baru," ucap Lee Sooman tidak terima.
"Ya Tuhan..." Kyungsoo mengusap wajahnya kasar, antara sebal dan gemas dengan laki-laki paruh baya ini. Apa untuk memberi makan anak-anak baru harus mengorbankan anak-anak lainnya.
Chanyeol menggenggam tangan Kyungsoo sambil menepuk-nepuknya. "Biar aku saja."
"Maaf kami mencampuri urusan pekerjaan Anda. Kami tau bukan hal yang mudah mengelola panti sebesar itu. Kami hanya ingin Anda menghentikan mengirim anak-anak untuk di pekerjakan. Yang Anda lakukan sudah menyalahi hukum. Saya yakin Anda bisa bersikap lebih bijaksana," ucap Chanyeol mencoba memberi pengertian dengan lebih halus.
"Jika di hentikan. Masalahnya bukan hanya dana panti yang tersendat, mereka juga akan mengincarku dan panti itu juga. Kau tidak tau betapa berkuasanya mereka. Aku hanya lelaki tua yang terlanjur melakukan kesalahan dengan menerima uang mereka. Aku bisa apa? Aku juga menghidupi anak istri di Busan," jelas Lee Sooman.
"Saya tau ini perkara sulit bagi Anda. Tapi coba kita mencari jalan keluar lain tanpa mengorbankan anak-anak. Kami siap membantu," ujar Chanyeol dengan senyum tulusnya. Kyungsoo juga sedang berpikir bagaimana jalan keluar yang tepat.
Kyungsoo menimbang-nimbang ide yang terlintas di kepalanya, namun akhirnya ia mengucapkannya juga. "Saya akan ambil alih panti asuhan itu, sebagai gantinya saya akan memberikan Anda uang untuk membuka kedai. Anda bisa kembali ke kampung halaman Anda dan membuka kedai disana. "
"Bagaimana jika mereka mengikutiku dan mengincarku, nona?" ucap Lee Sooman penuh kekhawatiran.
"Anda akan aman. Saya akan tutup mulut tentang kepergian Anda. Tidak harus ke Busan, Anda bisa keluar Korea jika masih merasa tidak aman. Saya akan tanggung semua. Tapi tolong alihkan panti asuhan itu ke saya," pinta Kyungsoo dengan wajah memelasnya.
Lee Sooman berpikir sebentar lalu ia mengangguk. "Baiklah, tapi sekali lagi kuperingatkan nona. Yang nona hadapi bukan orang biasa, mereka bisa mengancam bahkan membunuh nona tanpa jejak - "
"Saya putri kepala kepolisian Seoul bagian utara. Appa-ku akan mencariku jika aku di culik atau di bunuh," potong Kyungsoo.
Sorot mata laki-laki paruh baya itu pun melemah dengan nada tidak tega ia pun berujar, "Sekalipun nona putri kepolisian pun. Polisi akan memilih diam jika berhubungan dengan mereka. "
Seketika Kyungsoo maupun Chanyeol mulai ragu apakah mereka mampu menghadapinya, tapi niatnya sudah bulat. "Saya tidak bisa mundur lagi. Baekhyun sudah saya anggap keluarga sendiri. Saya sudah berjanji membantunya. Jadi tolong terima tawaran saya. Jangan cemas, Anda tidak akan kulibatkan lagi setelah ini!"
"Baiklah. Aku akan menghubungi mereka untuk mengundur waktu penyerahan daftar nama anak-anak. Dokumennya ada di panti, aku akan menyuruh Suho menyiapkan lembar penyerahan wewenangnya. Kirim uangmu dan tiket penerbangan ke hongkong. Aku akan menetap disana saja bersama keluargaku. Aku sebenarnya juga sudah sangat lelah mengurusi panti itu."
Lee Sooman memberikan secarik kertas berisikan nomor rekeningnya. "Waktumu hanya tiga hari, kau bisa mengirim surat kepada mereka bahwa sudah tidak bisa mengirim anak-anak ke mereka lagi. Setelah itu aku tidak bisa bayangkan apa yang terjadi..."
"Terima kasih. Saya akan baik-baik saja."
"Kudoakan kau selalu dalam lindungan Tuhan, nona..!"
"Kau tau, Chan... Aku merasa ada yang masih mengganjal dengan panti itu, " ucap Kyungsoo mampir di toko baju milik eomma Chanyeol yang berada di salah satu pusat pembelajaran di Seoul. Dimana sekarang Baekhyun bekerja disana. Sekalian Chanyeol menjemput Baekhyun. "Walaupun sekarang aku pengelolanya tapi aku tidak tau itu milik siapa, apakah itu lahan pemerintah?"
Chanyeol menyendok mushroom cream soup yang ia bawa lalu menyuapkannya ke mulut Kyungsoo yang sibuk mengoceh. "Jika di kelola pemerintah, aku rasa Sooman ahjussi tidak mungkin semudah itu menyerahkannya padamu. Kurasa itu milik pribadi."
"Tafi fhann... Sgffhbngoouuahhh - " suara Kyungsoo tidak jelas karena menelan sup yang masih panas. Buru-buru Chanyeol membukakan botol air mineral lalu menyondorkannya. Kyungsoo menyaut botol itu dan langsung menegaknya. "Tapi Chan.. Siapa yang punya lahan itu kalau begitu?"
"Aku tidak tau.. Aku bukan cenayang, " balas Chanyeol sambil menyendok soup lagi tapi kali ini ia meniup niupnya agar tidak terlalu panas ketika di telan. "Aaaa...! " pinta Chanyeol agar Kyungsoo membuka mulutnya kembali, sampai-sampai tanpa sadar mulutnya ikut membuka lebar.
Kyungsoo menerima suapan lagi lalu menelannya. Perutnya sekarang lebih hangat. Sejak kemarin dirinya belum memasukan apa pun ke perutnya. Hanya sperma Jongin yang membuat perutnya kembung tak karu-karuan, itu pun masuk lewat bibirnya yang lain. Bisa di bayangkan jika dirinya bersuami seperti Jongin, lebih baik dengan Chanyeol bukan. Perutnya akan selalu penuh makanan.
"Hay, baek! Kau sudah selesai? Kau sudah makan? Apa eommaku ada di dalam?" sapa Chanyeol melihat Baekhyun sudah berganti baju biasa bukan seragam toko eommanya. "Tanya satu satu, Chan.. Baekhyun bingung harus menjawabmu apa, " tegur Kyungsoo.
Baekhyun hanya tersenyum maklum lalu ikut duduk di samping Kyungsoo. "Aku sudah selesai, aku juga sudah makan, beliau tidak ada disini hari ini, " jawab Baekhyun sambil tersenyum ke arah Chanyeol. Diam-diam Kyungsoo memandangi Baekhyun dan Chanyeol sambil tersenyum penuh arti.
"Bagaimana kalau kita nonton hari ini? Sedikit menyegarkan otak, aku sangat lelah mengurusi bayi besar dengan pen - " kalimat Kyungsoo terpotong karena tangan Chanyeol sudah membekap mulutnya atau bahkan meembekap wajahnya mengingat betapa besarnya telapak tangannya. "Ayo menonton bersama kami, kurasa ada film horror bagus. ..." sela Chanyeol sambil melepaskan tangannya.
Baekhyun menunduk bingung. Ia ingin menolak tapi tidak enak hati. Alasannya karena ia belum gajian dan tak punya uang dan dirinya tidak suka menonton film horror. Tempat yang menampungnya sebelum di jual di club saja sudah cukup horror baginya. Gelap dan di penuhi isak tangis gadis seperti dirinya.
Melihat gelagat Baekhyun yang akan menolak, Kyungsoo menyenggol Chanyeol dan berucap setengah berbisik, "Besarkan bola matamu, buat sedikit berair! "
Chanyeol sebenarnya bingung tapi setelah melirik Kyungsoo yang sudah melakukan yang ia pinta, ia pun menirunya. Entah ini berhasil atau tidak, dirinya tak pandai ber-aegyo. Baekhyun jadi tambah bingung dua makhluk di hadapannya menatapnya dengan mata berkilau seperti kucing yang merasa bersalah memecahkan vas bunga majikannya. Memandangnya penuh harap.
"Baiklah, aku ikut tapi aku belum punya uang," ujar Baekhyun pelan.
"Tidak masalah, bos Chanyeol akan membayari kita. Let's go, guys! " pekik Kyungsoo gembira berjalan ke luar toko duluan sambil memakan soup-nya.
"Dasar anak itu!" Chanyeol hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya. Lalu ia menengok ke Baekhyun, "Ayo! Tunggu apa lagi? Akhir pekan bioskop akan penuh," ucap Chanyeol sambil menggandeng Baekhyun untuk berdiri dari tempat duduknya dan segera menyusul Kyungsoo.
"A-a.. " Baekhyun yang tiba-tiba di gendeng tangannya jadi gagap seketika. Namun Chanyeol tidak peka malah menggandengnya lebih erat dan berjalan cepat.
Chanyeol duduk di antara Kyungsoo dan Baekhyun. Pemandangan yang aneh menurut beberapa orang, bahkan penjaga bioskop agak iri dengan Chanyeol. Bagaimana seorang pemuda mampu membawa pacar dan selingkuhannya secara bersamaan, begitu pikirnya. "Kau sudah tes akhir semester? Kulihat kau jarang ke kampus sekarang," tanya Chanyeol sambil memakan popcorn-nya.
"Sudah, hanya tinggal satu tugas saja. Tugas akhirmu sudah selesai? Kau jahat mendahuluiku lulus, " ujar Kyungsoo pura-pura marah. Chanyeol terkekek sebentar lalu menjawab dengan santainya, "Tinggal bab akhir dan satu mata kuliah yang belum selesai. Aku ingin cepat-cepat melamar pekerjaan. Maaf, kyung... Kau terlalu lamban untuk lulus denganku. "
"Kau saja yang terlalu cepat. Luhan saja yang pintar juga belum mengambil tugas akhir. Dan sepertinya aku akan ambil cuti satu semester... Aku akan menikah, ya Tuhan orang sepertiku menikah... "
"Kau serius? Dengan yang di jodohkan appamu? Atau Kim Jongin-ssi? Atau Suho-ssi?"
"Yups, bukan si mesum dan si pendeta ... pilihan appa ku, Oh Sehun... Kekasih Luhan," jelas Kyungsoo menekankan kata Luhan.
"Rumit," komentar Chanyeol pendek namun menggambarkan keadaan Kyungsoo sekarang.
Lampu bioskop mulai dimatikan tanpa film akan segera di putar. Kyungsoo membenarkan posisi duduknya sambil berbisik ke arah Chanyeol, "Bangunkan aku jika filmnya sudah selesai, okey tampan?" Chanyeol ingin memarahinya karena membuang-buang uang untuk beli tiket hanya untuk tidur. Tapi Kyungsoo sudah terelalap dengan cepatnya bersamaan layar yang mulai menyala terang menampilkan bagian awal film.
Film horror bagi Chanyeol yang membuatnya seram hanya suara sound yang memberikan efek ketegangan. Beberapa kali ia mendengar Baekhyun menjerit ketakutan tapi setelah ia tengok gadis itu selalu bilang, "Tidak apa-apa, aku hanya kaget." Namun wajahnya tidak bisa menipu ia sangat ketakutan terlihat Baekhyun sering menutupi wajahnya dengan tangan.
Di tengah ketakutannya, Baekhyun merasa ada yang memegang rambutnya dan menyelipkan sesuatu ke telinganya. Rupanya Chanyeol yang tidak tega, memasangkan earphone ke telinga Baekhyun yang tersambung ke handphonnya yang sedang memutar lagu kesukaan Chanyeol. Untuk mengurangi efek sound yang menakutkan.
"Bayangkan saja backsoundnya lagu yang sedang kau dengarkan. Jika takut tutup matamu atau kau bisa memegang tanganku jika kau mau! ini makanlah agar lebih santai!" ucap Chanyeol lirih sambil menaruh popcornnya di antara dirinya dan Baekhyun. Entah kenapa jantung Baekhyun berdebar-debar seperti efek terlalu banyak minum kopi.
Setelah itu Chanyeol kembali ke posisinya menikmati film dengan tangan kanan sibuk mengusap-usap rambut Kyungsoo yang sudah tertidur dan tangan kirinya sibuk mengambil popcorn yang ia bagi dengan Baekhyun.
Di pusat perbelanjaan yang sama Jongin sedang berkeliling mencari hadiah untuk Kyungsoo dan eommanya. Alasan utamanya memberi hadiah untuk Kyungsoo karena rasa bersalahnya tadi pagi tak kunjung hilang walaupun Xiumin sudah menjewer telinganya sampai sakit. "Xiumin-ssi kira-kira Kyungsoo lebih suka dress warna merah atau biru?" tanya Jongin pada Xiumin yang setia mengawalnya.
"Saya rasa Nona Do tidak suka keduanya," sahut Xiumin tetap waspada mengecek keadaan sekitar tuannya. Ia menangkap salah satu pemuda yang berjalan ke arah kamar mandi terlihat tidak asing untuknya. Selama menajaga putri presiden dulu ia diharuskan mengenali beberapa pimpinan besar penjahat di Korea. Ia yakin pemuda yang lewat tadi masuk daftar yang harus ia ingat.
Jongin menarik nafas panjang, "Kenapa mencari dress sesusah ini? Kenapa dia harus pakai dress? Padahal ia lebih bagus telanjang. " Ucapan tuannya membuat Xiumin tersadar dari pikirannya sendiri dan ingin menggeplak kepala tuannya sekeras mungkin. Namun sayang ini di tempat umum dan reputasinya akan dipertaruhkan.
"Perhatikan ucapan Anda Tuan Jongin, bisa saja ada wartawan yang mendengar ucapan Anda," peringat Xiumin.
"Baiklah kalau begitu ini untuk eomma saja. Aku ingin ke toilet apa kau juga akan mengikutiku, Xiumin-ssi?"
"Saya akan berjaga di depan toilet, Tuan."
Jongin memutar bola matanya malas. Bahkan ke toilet pun dia juga ikut, batin Jongin sebal. Selama ini untuk bisa 'menjaili' Kyungsoo saja ia harus menunggu Xiumin pulang atau menyuruhnya berjaga di luar apartemen bonus tatapan mengerikan dari Xiumin.
Sebelum Jongin masuk ke toilet, Xiumin mewejangnya, "Hati-hati..Jangan percaya siapa pun di dalam sana." Pundak Jongin menegang, jika Xiumin sudah bilang hati-hati berarti kondisi sedang tidak aman. "Berapa?" tanya Jongin.
"Satu. Alpa." jawab Xiumin. Itu artinya ada satu orang, namun seorang pemimpin yang berbahaya. Dengan penuh pertimbangan Xiumin menyelipkan pistol di saku celana Jongin. "Ia sedang berburu."
Ketika masuk ke toilet, pandangannya langsung fokus ke Sehun yang entah kebetulan apa sudah ada disana. Sedang mencuci tangannya di wastafel. Ada satu pria lagi disana merapikan rambutnya di samping Sehun.
Jongin memilih menahan buang air untuk dapat mengamati pria yang di samping Sehun. Dirinya berdiri di samping pria tak dikenalnya itu sambil menyapa Sehun. "Aku terkejut menemukanmu disini. Kenapa kau tak mampir ke apartemenku? aku butuh seseorang untuk merawat punggungku yang sakit."
"Pergi saja ke rumah sakit," sahut Sehun. "Kau sendirian?"
"Ada Xiumin di depan,"
Nama itu membuat pia disebelah Jongin tertarik menengok sekilas ke arahnya. Jongin agak kaget tapi ia sembunyikan dan sekarang ia bisa melihat wajah pria itu dengan jelas.
"Kau ingin buang air? Sebaiknya di dalam bilik saja," saran Sehun.
"Kenapa?" sahut Jongin bingung.
Obrolan mereka berhenti karena teralihkan suara bilik terbuka. Chanyeol menatap ketiga pemuda yang ada di depan kaca wastafel dengan pandangan sulit di artikan. Secara berurutan mereka bertiga saling menodongkan pistol. Pria paling kanan menekan pistolnya di perut pria disampingnya. Pria yang berada di tengah menodongkan pistol di pelipis pria paling kiri. Sedangkan pria paling kiri mengulurkan tangannya lurus vertikal ke pria paling kanan.
"Kukira kita teman, Jongin!" ucap Sehun bernada mengejek.
"Teman adalah musuh paling dekat, kawan! " balas Jongin sambil terkekeh pelan.
"Kau bodoh atau bagaimana? Bukan aku yang menodong kepalamu, bodoh!" Sehun berkata dengan dinginnya bercampur kesal.
"Yakkk! Aku juga tak bermaksud menembakmu albino bodoh! Aku hanya menggertakmu saja!" seru Jongin namun tangannya masih menodong Sehun dengan pistol dengan arah tembakan tepat di jantungnya.
"Lalu kenapa pistolmu mengarah padaku setepat itu? Aku bisa mati bodoh!" pekik Sehun semakin kesal.
"Mau bagaimana lagi, kau juga terlihat mencurigakan dan dia tidak keluar-keluar!" jawab Jongin mengarahkan pandangannya pada Chanyeol. Kini pistolnya beralih sasaran ke Chanyeol tepat di tengah dahinya. Chanyeol yang tak memegang apa pun hanya bisa pasrah dan bingung harus apa.
"Memang siapa dia?" tanya Sehun bingung.
"Dia alasan kenapa pria gila yang menodongku ini ada disini. Kenapa kau juga menodongnya bodoh?" teriak Jongin
"Aku ingin menangkapnya. Kau malah kesini menghancurkan rencanaku! Bodoh! Kim jongin bodoh! " Sehun balik berteriak.
"YAKKK! Berhenti mengataiku bodoh! Kau juga bodoh albino keparattt!" umpat Jongin membuat Sehun bingung sendiri. Situasi macam apa ini?
Pistol di pelipis Jongin semakin menekan. Jika pelatuknya di lepas ia akan mati dalam hitungan detik saja dengan kepala berlubang berlumuran darah. Namun Jongin masih dapat menyunggingkan senyumnya, "Jika ku tembak dia, siapa yang akan mati selanjutnya?"
Chanyeol berdiri dengan keringat dingin. Kepalanya tak bisa berpikir jernih. Ada dua gadis yang menunggunya untuk di antar pulang. Sekarang bahkan dirinya tidak tau akan pulang tinggal nama atau masih utuh.
"Kau tak akan tau tuan muda Kim!" sebuah suara sangat jelas di telinga Jongin. "Karena sebelum kau membunuhnya, kupastikan kau akan mati duluan," ucapnya lagi dengan aksen campuran. Sebenarnya orang mana pria ini, batin Jongin.
TBC
