MASK

"Semua orang memakai topeng untuk kau cintai.

Jika kupakai topeng burukrupa, akankah kau mencintaiku?"

.

.

CHAPTER 9

.

.

.

.

Chanyeol reflek mengangkat tangannya setinggi dada tanda bahwa ia menyerah dan pasrah. Percuma saja melawan, dia tak dibekali senjata dan tak tau menahu apa yang sedang terjadi. Yang ia tau, ia hanya ingin buang air kecil dan ketika keluar bilik, dahinya sudah menjadi sasaran tembak pemuda yang ia ketahui bernama Jongin. Apa dahinya membuat orang iri, sampai mengacungkan pistol ke dahinya.

"Karena sebelum kau membunuhnya, ku pastikan kau akan mati duluan," ucap pemuda berwajah tegas itu sambil terus menekan pistolnya ke pelipis Jongin. Aksennya yang campuran menandakan ia bukan asli orang Korea.

Chanyeol langsung menatap tak percaya ke pemuda yang barusan berucap tersebut. Dirinya tidak asing dengan suara ini. Pemuda jakung di toilet kepolisian tempo hari. Ya, Chanyeol yakin sekali.

"Terserah saja kau membunuh kawan hitamku ini. Tapi sebelum itu beritahu aku apa hubunganmu dengan appaku! Kau yang membunuh keluarga Zhang?" tanya Sehun dengan santainya. Karena tak ada pistol yang mengacam hidupnya. Memang tadi Jongin mengarahkan pistol kepadanya tapi Jongin sekarang memilih kembali ke tawanan utamanya (Chanyeol-red).

"Aku bukan mesin pembunuh!" balas pemuda itu sinis. "Jika yang kau maksud appamu adalah si tua pengusaha menyebalkan itu, maaf saja sampai mati pun aku tak sudi berhubungan dengannya!"

Sehun semakin menekan pistolnya ke perut si pemuda dengan aksen campuran ini. "Aku melihatmu keluar dari ruangan si tua bangka itu dengan mata dan kepalaku sendiri!" seru Sehun dengan nada memojokkan.

"Dia ingin memintaku memonopoli perdagangan di China. Intinya aku harus membuat bangkrut dan terlilit hutang usaha-usaha yang ada di dalam daftarnya," jelas pemuda itu yang membuat Sehun langsung ingat keluarga Luhan di China yang juga membangun usaha kecil berupa kedai makanan khas China. Keluarga Luhan lainnya juga sebagian besar membuka usaha kecil-kecilan.

"Kenapa kau menolaknya?" bukan Sehun yang bertanya tapi Chanyeol. Entah keberanian darimana ia jadi ikut penasaran.

"Hey, kau diam saja bung! Nanti kutembak baru tau rasa!" ancam Jongin yang masih memegang pistolnya ke arah dahi Chanyeol.

"Aku orang China, Chan-yeol!" jawabnya dengan menyungingkan senyum mengerikan ke arah Chanyeol. Sehun, Jongin bahkan Chanyeol sendiri tiba-tiba merinding ketika namanya di sebut sejelas itu.

"Baiklah aku tak ada urusan lagi dengannya. Jadi silahkan bersenang-senang!" guman Sehun menurunkan pistolnya dan menyimpannya kembali ke balik jas-nya.

"Dia masih menodongku bodoh! Setidaknya bantu aku!" protes Jongin kesal setengah mati.

"Salah sendiri kau mengacungkan pistol ke targetnya," kata Sehun enteng sambil membenarkan rambutnya yang mulai kusut. "Jika kau mengacungkan pistol ke arahku seperti tadi, aku yakin dia tak seantuasias itu menembak kepalamu hingga berlubang dan boommm... isinya berhamburan."

"Well, ku akui itu ada benarnya," timpal si pemuda.

"Aku tidak tau hubungamu dengan bocah bernama Chanyeol ini, tapi kurasa kau lebih tidak rela jika aku menembaknya di banding aku menembakmu," inilah alasan Jongin ingin menjadikan Chanyeol tawanan untuk menyelamatkan dirinya dan menangkap pemuda yang Xiumin bilang pimpinan penjahat kelas kakap ini.

"Aku ingin jadi orang pertama yang menembaknya, jadi jangan mendahuluiku!"

Lutut Chanyeol menjadi lemas mendengarnya. Bayangkan, dua orang berebut menjadi malaikat mautnya. Walaupun begitu Chanyeol lebih merasa aman jika Jongin yang melakukannya. Setidaknya ia bisa beralasan dirinya teman Kyungsoo.

"HEY, NONA DOOO KYUNGSOOO! MENCARI JONGIN?" teriak Xiumin dari luar, sengaja agar Jongin dapat mendengarnya. Xiumin tidak tau situasi di dalam dan dia tak bisa masuk. Jadi ia harus memastikan dengan menggiring Tuannya keluar.

"KYUNGSOO!" seru Jongin, Sehun, dan Chanyeol berbarengan.

Pemuda itu melirik Chanyeol yang ikut menyerukan nama Kyungsoo dengan nada penuh kekhawatiran. "Ahh...itu nama teman manismu ya...Kkkk" tebaknya diiringi tawa senang mendapatkan nama incarannya.

Jongin menurunkan pistolnya dari Chanyeol. Namun ia kembali mengangkat senjatanya lagi. Jongin dan pemuda tak dikenal itu saling menodongkan pistol satu sama lain. "Aku bersumpah akan membuatmu membusuk di sel tahanan, jika kau juga mengincar Kyungsoo-ku!" geram Jongin dengan bengisnya, memegang pistolnya kuat-kuat penuh emosi.

Pemuda itu tersenyum tipis. Lalu menurunkan pistolnya dari pelipis Jongin. "Mungkin ini bukan waktu yang tepat. Tidak akan seru jika kau mati sekarang. Mari menikmati permainan dulu – "

"...Kris. Ingat namaku baik-baik!" ucapnya lagi, kemudian beralih memandang Chanyeol yang seperti mayat hidup, kakinya yang lemas belum sembuh rupanya.

"Disini telalu ramai, aku akan membunuhmu kapan-kapan saja. Rindukan aku, okey!" ucapnya lagi diakhir sebuah kedipan yang menurut Chanyeol jauh dari kata mengoda, lebih dekat dengan kata mengerikan.

Posisi mereka dari Kiri ke kanan, panah menunjukan arah tembakan :

Chanyeol - Jongin - Kris - Sehun

.

.

MASK

.

.

Sejak Sunny menjalani operasi, Suho sibuk menungguinya di rumah sakit. Hanya pulang untuk membuatkan surat perpindahan wewenang pengelolaan panti dan gereja ke Kyungsoo. Di tambah surat permintaan maaf tidak bisa mengirim anak-anak panti lagi untuk diperkajakan ke pihak donatur atas nama Wu Chun.

Saat mengurus surat itulah Kyungsoo dikabari kesehatan Sunny semakin menurun dua hari setelah pencangkokan. Kyungsoo buru-buru datang menjenguk gadis itu bersama Chanyeol dan Baekhyun

Wajahnya pucat dan selang-selang menempel sebagai penyokong kesembuhannya. Kyungsoo tidak tau apa yang terjadi, ia hanya orang awam yang tak tau medis. Namun keaadan gadis kecil itu sekarang menggambarkan organ baru itu tak berfungsi sebagaimana mestinya.

Kyungsoo hanya menengok keadaannya dari luar kaca jendela. Ia tak berani masuk. Namun Sunnya sudah diberitahu Suho, bahwa gadis yang mengintip dari kaca jendelanya adalah Kyungsoo yang membiayai pengobatannya meski berakhir seperti ini.

Sunny mencoba menyungingkan senyumnya setiap kali Kyungsoo mengintipnya. Ia tahu gadis yang menolongnya itu merasa bersalah atas keadaannya, namun ia sudah ikhlas dengan suratan takdir. Tak ada yang harus disalahkan. Ia juga sudah capek sakit. Ia butuh istirahat dari rasa sakit walaupun berarti istirahat selamanya.

Doanya terkabulkan. Foto gadis itu terpampang di gereja tempatnya biasa berdua dengan berhias bunga mawar putih. Warna kesukaannya. Semua kerabat mengantarnya ke peristirahatan dengan suara tangis. Suho pria bijaksana dan tabah, hari itu menangis tanpa suara sambil memeluk anak panti lainnya. Chanyeol juga sama, hatinya yang lembut membuatnya berkali-kali mengusap air matanya yang terlanjur jatuh seraya memeluk Baekhyun yang menangis histeris. Baekhyun sangat kenal dengan Sunny, sudah seperti adiknya sendiri.

Hanya Kyungsoo yang tak mengeluarkan air mata setetes pun. Namun keadaannya lebih memprihatikankan, sepulang dari pemakaman ia duduk diam sambil memeluk lututnya di kursi gereja. Tak ada suara tangis yang terdengar, mirip seperti orang depresi. Chanyeol mencoba membujuknya untuk pulang dan makan minum. Namun Kyungsoo tetap diam tak berkutik di tempatnya. Akhirnya ia menitipkan Kyungsoo pada Suho karena ia harus mengurusi Baekhyun yang sempat pingsan.

"Jangan menyalahkan dirimu, Kyungsoo-ssi! Semua sudah ada yang mengatur," ucap Suho yang duduk disebelah Kyungsoo.

"Mau kutemani makan? Kau belum makan sejak kemarin malam," tawar Suho masih mencoba mengajak Kyungsoo berbicara.

Kyungsoo menggeleng dan makin menenggelamkan kepalanya ke dalam lututnya yang di tekuk.

Suho merasa tak tega dengan keadaan Kyungsoo akhirnya bangkit dari tempat duduknya dan belutut di hadapan Kyungsoo sambi memagang bahu kecil Kyungsoo. "Jangan begini! Kau sudah seperti adikku sendiri. Jangan menyiksa dirimu sendiri. Aku tau perasaanmu, aku pernah di posisimu. Di tinggalkan seseorang dan merasa bersalah sepanjang waktu bahkan sampai detik ini. Menyalahkan diri sendiri tak akan membuatnya kembali. Kau percaya Tuhan punya rencananya sendiri bukan? Ia tahu mana yang terbuat untuk Sunny...untukku...untukmu juga..." ucap Suho lembut.

Suho mengusap air matanya yang menetes sambil merogoh isi celananya. "Chanyeol menitipkan handphonemu padaku. Jongin menelponmu berkali-kali – "

Kyungsoo langsung merebut handphonenya yang ada di Suho. Tanpa permisi ia langsung berlari menuju mobilnya meninggalkan Suho yang terbengong-bengong seperti orang bodoh. Sebesar itu kah efek nama Jongin, batin Suho.

.

.

.

Jongin sudah mengirimi pesan bahkan menelpon Kyungsoo berkali-kali. Tak biasanya Kyungsoo tak ada kabar, ia masih trauma dengan pemuda bernama Kris tempo hari. Takut Kyungsoo kenapa-kenapa. Selain itu ia merindukannya, ia terbiasa ada Kyungsoo disisinya dan ia ingin memberikan hadiah dress yang lebih mirip lingerie.

Sekarang tanpa mengangkat teleponnya atau membalas pesan, Kyungsoo sudah berdiri di depan apartemennya dengan pakaian serba hitam. Jongin tak menaruh curiga sedikit pun, bukankah hitam warna kesukaan Kyungsoo, jadi wajar saja.

Seperti biasa Jongin memberikan ciuman selamat datang sambil menarik Kyungsoo masuk. "Xiumin-ssi tolong berjaga di luar saja, siapa tau si blasteran itu mengincar apartemenku!" perintah Jongin membuat Xiumin mau tak mau keluar sambil menghentak-hentakan kakinya kesal. Ia curiga Nona Do akan di apa-apakan. Jika di luar ia tak bisa mendengar maupun menolong.

"Jongin – " panggil Kyungsoo.

"Yes, baby! Aku punya kado untukmu!" ucap Jongin girang bukan main sambil memerkan dress yang ia beli. Tipis dan hampir transparan.

"Ayo ke kamar kalau begitu," balas Kyungsoo datar. Namanya juga Kim Jongin ia tidak peka jika wajah Kyungsoo tak menampilkan emosi apa pun, ia lebih berfokus dengan ajakan ke kamar.

Sesampainya di kamar Jongin, Jongin duduk di pinggiran ranjang sedangkan Kyungsoo melucuti bajunya hingga celananya. Jongin pikir Kyungsoo akan mengenakan dress pemberiannya, namun gadis itu malah menghampirinya dengan keadaan telanjang.

Jongin jadi gugup sendiri di pertontonkan keadaan polos Kyungsoo. Walaupun ia sudah beberapa kali melihatnya begitu namun kali ini tanpa perintahnya, ia belum siap-siap lahir dan batin.

"Bukankah kau lebih suka aku telenjang?" Kyungsoo membungkuk, menghadap langsung wajah Jongin yang sedang duduk. Tangan Kyungsoo mulai mengusap pipi Jongin. "Apa kau mencoba menggodaku?" tanya Jongin sambil mengernyit bingung, biasanya ia yang meminta duluan dan Kyungsoo tak pernah menggodanya dengan sengaja tapi kali ini berbeda.

"Kau tak bodoh Tuan Kim Jongin!" balas Kyungsoo tanpa aba-aba menciumi bibir Jongin dengan rakus. Sontak kerutan di dahi Jongin semakin dalam, walaupun ia menikmati ciuman itu dan keagresifan Kyungsoo tapi ada yang mengganjal di hatinya.

Ia melepas pelan bibirnya dari bibir hati Kyungsoo. Memandang gadis itu dengan penuh pertanyaan. Mencari apa yang salah dengan gadis ini. Kenapa tiba-tiba begini. Tentu tujuannya bukan dua kali lipat gajinya, uang. Jongin mengirim banyak uang ke rekening Kyungsoo karena intensitas bercintanya juga tinggi.

"Kau coba mengujiku atau bagaimana?" tanya Jongin lagi. Ia benar-benar bingung sekarang.

Kyungsoo tak membalas ucapannya, ia malah melepaskan kaos putih Jongin dan membuangnya asal. Mengalungkan tanganya ke leher Jongin. Wajah mereka berdua begitu dekat hingga Jongin mampu mendengar deru nafas Kyungsoo yang tak beraturan. "Aku tidak bisa menahan diriku," guman Jongin dengan suara serak dan dalam.

Kyungsoo merasa badannya diangkat lalu ditidurkan di ranjang dengan hati-hati. Ia tidak tau Jongin selembut ini, ia biasanya serampangan dan buru-buru. Pahanya di buka pelan. Jongin mulai menciumi paha bagian dalamnya lalu berhenti di pusat kewanitaannya. Merasakan bibir Jongin bertemu dengan bibir lubangnya. Bohong jika Kyungsoo tidak terangsang sekarang, hanya merasakan tekstur bibir Jongin di kewanitaannya saja varginanya berkedut-kedut mengeluarkan cairan.

"A-aaaahhhh... " desah Kyungsoo. Dengan semangat Jongin menjilati cairan yang keluar tanpa rasa jijik. Ia sebenarnya ingin mengobok-obok lubang yang licin penuh cairan itu dengan jarinya, namun adiknya sudah tegang sekarang. Ia tak bisa bertahan lebih lama lagi. Jongin menurunkan sedikit celananya dan membebaskan miliknya. Membawa kaki Kyungsoo melingkar ke pinggangnya.

JLEPPP! Satu hentakan keras yang berhasil membuat Kyungsoo kelimpungan menahan rasa sakit. Sampai-sampai dirinya setengah bangkit dari posisinya berbaring. "Rileks, Kyung! J-jangan menjepitku!" protes Jongin merasakan miliknya langsung di jepit dengan kuat di dalam sana. Padahal Jongin sering membobolnya, tapi masih saja serapat ini seakan vargina Kyungsoo tak mau menyesuaikannya.

"Ayo berbaring lagi, kau tak akan nyaman jika begini!" Jongin menuntun Kyungsoo berbaring lagi. Ia rasa Kyungsoo lebih rileks sekarang, buktinya paras cantiknya memandangnya dengan wajah datar tanpa ekspresi. "Lakukan dengan keras!" permintaan Kyungsoo di tangkap oleh telinga Jongin sebagai instruksi yang harus di jalankan. Dengan senang hati, pelan-pelan tak begitu nikmat untuknya.

Jongin langsung merubah posisi. Membalik tubuh Kyungsoo tanpa melepas penyatuan mereka, Kyungsoo merasa dinding kewanitaannya di putar paksa. Dinding varginanya serasa digaruk di setiap sudut. Dengan cekatan Jongin mengangkat pinggul Kyungsoo hingga sukses menungging dengan seksinya. Lihat bagaimana dua bongkahan bokong kenyal dan sehalus bayi tersaji di hadapannya.

Berawal dari elusan pelan memutar di kulit bokongnya, ditandai dengan suara tamparan keras. PLAKKK!

"AKHHHhhh... " pekik Kyungsoo menahan rasa nyeri sekaligus terangsang di bokongnya.

Benda kenyal itu sukses bergoyang layaknya jelly yang di sentuh. Juga seperti bakpao yang di beri cap merah aksara China, bedanya bokongnya merah cap tangan Jongin. Setelah itu yang ia rasakan hanyalah genjotan beringas seperti Jongin biasanya.

"Aaahhhh... Aah-Aakhhh... AKHH..!"

Sakit. Memang itu yang ia rasakan. Tapi ini yang Kyungsoo butuhkan sekarang. Menebus rasa bersalahnya membuat seorang gadis meninggal karena idenya membiayai pencakokan ginjal. Andai saja hari itu dirinya tak membiayai operasi itu, pasti Sunny masih bernafas dan berdoa di gereja. Kyungsoo merasa pantas diperlakukan seperti ini. Di hukuman atas perbuatannya.

PLAKKK! Suara tamparan lagi di bokongnya. Perasaan Kyungsoo yang kacau di lingkupi perasaan sedih semakin menjadi-jadi. Rasa sakit tubuhnya belum sebanding. Ia pun meminta Jongin yang sepertinya tak sanggup lagi di dalam posisi sekarang untuk berpindah posisi yang lebih nyaman untuknya.

Meskipun sudah mencapai klimaks ketiga kalinya, Jongin tak dapat menolak. Kapan lagi Kyungsoo memintanya sendiri. Ia tidur miring di belakang Kyungsoo. Memompa kejantanannya dari belakang. Sambil tangan sibuk meremas payudara putih dan lembut itu dari belakang. Posisinya yang di belakang membuatnya tak tau raut wajah Kyungsoo sekarang.

Tak selang lama sebuah suara isakan kecil menyadarkannya. Bahunya yang sempit bergetar kecil. Kyungsoo tidak dalam keadaan baik-baik saja sekarang. Ia mencabut miliknya yang hampir saja mau keluar. Tapi persetan dengan itu Kyungsoo yang menangis lebih penting sekarang.

Jongin membalik tubuh Kyungsoo agar menghadapnya. Wajah cantiknya sekarang tertutup keringat bercampur air mata yang entah sejak kapan turunnya. Matanya yang bulat sudah sembab memerah, berarti gadis ini sudah menangis sejak tadi. Apa dirinya terlalu kasar? Apakah dirinya penyebabnya? Apa dirinya yang menyakitinya?

"Hiks.. Sakiittt...sakit... " begitu racau Kyungsoo sambil memukuli dada Jongin. Hatinya sakit karena rasa bersalahnya tak kunjung padam. Ia telah salah, meminta Jongin menyetubuhinya dengan kasar tak berefek apa pun.

Jongin semakin yakin bahwa dirinya yang menyebabkan Kyungsoo menangis. Jongin pikir Kyungsoo merasa sakit di perlakukan seperti ini. Walaupun sudah berulang kali ia katakan dia bukan jalang, tapi jika perlakuannya seperti ini sama saja bukan. Jongin merasa tangisan Kyungsoo tamparan keras untuknya.

"Mian ~ " uacap Jongin penuh rasa bersalah. Ia langsung mendekap Kyungsoo, membiarkan tangis gadis itu semakin menjadi-jadi. "Hatiku sakit melihatmu menangis. Kau tak pernah seperti ini, apa aku sudah keterlaluan padamu, sayang?"

Kyungsoo tak ada niatan menanggapi. Tangisnya juga tak kunjung mereda. Dalam pelukan Jongin, Kyungsoo merasa nyaman menangis mengeluarkan semua yang menggumpal di hatinya. Sedari pemakaman ia tak bisa menangis karena merasa marah sekaligus iri kepada yang lain yang dapat menangis. Ia marah kepada semua orang karena mencoba menghiburnya padahal tau jika ini salahnya.

Jongin mengecupi kelopak mata yang terus mengalirkan air nata turun itu. Serasa memberikan tepukan penenang ke punggung polos Kyungsoo. "Jangan membenciku, tolong! Kau bisa memukuliku lagi kalau kau mau, kau bisa ambil mobilku, credit card, kau juga boleh tidak memakai dress ku tadi, itu terlalu terbuka bukan? Kau merasa terhina bukan?"

Kyungsoo mengeraskan tangisannya mencoba memberitahu apa yang di katakan Jongin tidak benar. Bukan itu yang membuatnya menangis. Namun Jongin sudah salah sangka sedari tadi malah makin salah paham karena tangis Kyungsoo mengeras. "Baik sayang... Baik... Aku akan berhenti berbicara omong kosong... Bagaimana ini eomma? Gadisku menangis sampai seperti ini karena ulahku! Sssstt... Sssttt... Cup cup cup, sayang! Wajahmu akan panas jika menangis terus!"

Kulit Jongin yang bersentuhan langsung dengan kulit Kyungsoo, merasa suhu tubuh gadis itu menjadi agak demam. Jongin membenarkan selimut agar menutupi tubuh telanjang Kyungsoo. Namun netranya terhenti pada bongkahan kenyal yang tidak mulus lagi. Sangat merah seperti tomat. Juga pada lubang surgawinya yang membengkak penuh spermanya yang masih mengalir deras. Apa yang telah kulakukan selama ini? Batin Jongin penuh penyesalan.

.

.

.

Sehun di hubungi hyungnya untuk menyusul Kyungsoo di apartemen Jongin. Suho takut terjadi apa-apa pada Kyungsoo, gadis itu sedang dalam keadaan kurang baik atau bahkan memprihatinkan, ia takut Jongin malah memintanya melayaninya. Suho sudah tau semuanya termasuk adiknya, Sehun yang dijodohkan dengan Kyungsoo. Bagaimana pun Suho lebih mendukung adiknya dengan Kyungsoo, bukan karena ia tidak suka dengan Luhan. Tapi hubungan adiknya dengan Luhan terlalu beresiko.

"Kenapa kau ada di depan?" tanya Sehun bingung, tidak biasanya Xiumin berjaga di depan apartemen.

"Tuan Jongin sedang berduaan dengan nona Do," balas Xiumin sekenanya.

Sehun langsung memencet sandi apartemen Jongin. Xiumin hendak mencegahnya takut Sehun bawa senjata seperti kemarin. Melihat tatapan menyelidik dan gerak gerik Xiumin yang mau melarangnya masuk, Sehun langsung berucap dengan dingin, "Aku tak bawa pistol. Tanpa senjata pun aku bisa membuat tuanmu kehilangan nyawanya." Tentu yang dimaksud Sehun adalah dengan mengambil Kyungsoo dari Jongin. Sehun yakin anak itu akan depresi dan berakhir bunuh diri.

Sehun langsung menerobos kamar Jongin. Menemukan Kyungsoo tertidur di atas ranjang dengan wajah sembab dan tanpa menggunakan pakaian, hanya selimut yang menutupi tubuhnya sebatas dada. Jongin yang datang dari arah pintu kamar sambil membawa baskom dan handuk menjadi sasaran amukan Sehun. Rahang Jongin langsung di tekan keras hingga tubuhnya bergerak mundur ke tembok. "Apa yang kau lakukan padanya bodoh! Dia sedang ber - "

"Kau benar aku menyakitinya. Harusnya aku tak pernah menidurinya. Harusnya aku tak menurutinya memintaku bercinta dengannya dengan kasar. Mungkin dia mengujiku dan aku gagal. Aku selalu memperlakukannya seperti jalang. Padahal aku selalu bilang aku menyukainya,tapi perilaku ku tak ada bedanya dengan pria hidung belang."

Tangan Sehun melonggar lalu memilih menurukan tangannya dari rahang Jongin. Apa ia salah dengar? Kyungsoo mintanya untuk bercinta dengan kasar? Pasti ada yang salah disini.

Jongin melewati Sehun yang masih bingung dengan pikirannya sendiri. Sambil merapikan rambut Kyungsoo, Jongin mulai mencelupkan handuknya pada air di dalam baskom. Memerasnya agar airnya tak telalu banyak, lalu mebasuhkannya pada tubuh Kyungsoo yang lengket penuh keringat. "Ia menangis kerena ulahku, aku tak akan menidurinya lagi. Aku tak mau dia membenciku,"

Sehun yang awalnya ingin menceritakan perihal meninggalnya gadis yang Kyungsoo tolong, tapi lebih baik Jongin tidak tau. Lebih baik Jongin terus salah paham begini, dengan begitu ia tak akan menyakiti Kyungsoo lagi. "Tolong ambilkan air hangat dan kain kompres!"

Sehun hanya menurut saja tanpa umpatan seperti baisanya. Ketika dirinya kembali rupanya Jongin habis selesai membersihkan tubuh Kyungsoo dan bagian kewanitaannya. Air di baskom Jongin jadi keruh berbau seperti pemutih, Sehun yakin itu sperma Jongin hasil membasuh vagina Kyungsoo. "Mana? "

Sehun langsung menyondorkannya pada Jongin. Dengan cekatan Jongin mulai mengompres dahi Kyungsoo. Deman gadis ini mulai semakin terasa. "Kau kenapa kesini? Masih mengejar si Kris? "

"Sebenarnya emmm... " Sehun bingung beralasan apa.

"Bantu aku amankan keluarga Luhan di China. Aku akan mencari bukti pembunuhan keluarga Zhang secepatnya."

"Kuharap kau benar-benar cepat seperti yang kau katakan. Terlambat sedikit saja appamu akan membuat Luhan rela membuangmu demi keluarganya," timpal Jongin duduk di ranjang di samping Kyungsoo yang tertidur.

"Tidak akan. Luhan mencintaiku, aku tau betul itu. Bahkan kulakukan segala cara membuatnya mundur tapi ia tak juga mundur," sanggah Sehun penuh keyakinan.

"Kau hanya pria yang kebetulan masuk di hidupnya dan kebetulan ia sukai. Tapi bagaimana pun ia tak mungkin mengorbankan keluarganya yang merawatnya sejak kecil hanya untuk pria bajingan sepertimu. Luhan cukup tau diri."

Namun kemudian Jongin berucap kembali, "Baik akan ku bantu, tapi tolong cari tahu tentang si blasteran itu. Dia mengincar gadisku sepertinya. "

Sehun berdecih tak suka, "Tsk..gadisku katanya! Kyungsoo bahkan tak mau menikah denganmu."

"Kata siapa? Aku akan membuatnya menikah denganku,"

"Kudengar Kyungsoo dijodohkan bukan?"

Jongin agak tersentak kaget lalu berseru, "Bagaimana kau tau?"

"Kudengar yang dijodohkan dengannya sangat tampan dan kaya raya. Dia lebih kaya darimu. Kau terlalu kaku dan menggebu-gebu ... Kyungsoo tidak suka pria seperi itu. Apalagi jika dia jadi istrimu, kau akan mengurungnya dirumah untuk merawat anak dan melayanimu. Kau pikir Kyungsoo mau? Mimpi saja!"

Jongin memdadak pundung. Ia ingin istri yang seperti eomanya, selalu ada untuk anaknya dan memanjakan anaknya. Memasak di rumah, menanam bunga di kebun, menyabut appanya jika pulang bekerja. Sepertinya Kyungsoo memang bukan tipe seperti itu, gadis itu tipe yang beraktivitas di luar. Tapi Jongin sudah terlanjur menyukainya walaupun suka merokok, mabuk, ucapannya tak selembut Luhan, dan tak bisa memasak. Yang pasti Jongin yakin Kyungsoo tak pernah memanfaatkannya.

"Aku tak tau perasaanya padaku, tapi aku yakin bisa membuatnya menyukaiku, " kata Jongin lemah.

"Dasar tidak peka. Kyungsoo sudah menyukaimu bodoh! " guman Sehun lirih.

"Bagaimana? Akan ku coba lindungi keluarga Luhan, tapi cari tahu tentang Kris! " tanya Jongin sekali lagi.

"Kenapa tidak Xiumin-ssi saja? Ini terlalu merepotkan untukku!" protes Sehun.

"Xiumin-ssi menjagaku, dia tak punya waktu mencari informasi."

"Aku tak bisa janji, jika aku menemukan sesuatu akan ku laporkan padamu. Jika tidak ada, anggap saja orang itu tidak berbahaya."

Jongin melihat Sehun terus saja memandangi Kyungsoo yang tertidur. "Yakkk! Perhatikan pandanganmu brengsekkk! Apa dada Luhan masih kurang?Huh?" seru Jongin tak terima.

Sehun terkekeh sebentar, "Aku ingat dialog ini." Kyungsoo pernah memarahinya karena melihat pahanya, persis yang diucapkan Jongin sekarang. "Aku tidak tau jika kau bisa merawat orang, terlebih seorang gadis."

Sehun berjalan menghampiri ranjang Jongin dan duduk disana. Memandangi Kyungsoo lebih dekat. "Sejujurnya aku iri padamu. Hidupmu selalu dipenuhi keberuntungan. Kadang terlintas di kepalaku mengambil salah satu hal berharga darimu, agar kau tau rasanya sakit dan kehilangan," racau Sehun.

"Jangan membuatnya menangis lagi! Jika kau membuangnya sekali saja, aku akan membuatmu merasakan sakit dan kehilangan seumur hidupmu." Sehun memberikan kecupan di pipi Kyungsoo yang tertidur dan berhasil membuat Jongin menggeram marah karena kecolongan dengan aksi Sehun.

.

.

.

Baekhyun sudah agak baikan hari ini, jadi Chanyeol mengantarnya ke toko eommanya. Sebelum mengantarnya diam-diam Baekhyun mempergoki Chanyeol bertelepon mesra dengan seseorang. Baekhyun agak cemburu karena setelah beberapa lama dirinya tinggal dengan Chanyeol, ia tak bisa menampik dirinya tertarik dengan pemuda berlesung pipi itu. Pembawaanya yang sopan dan ramah jadi point plus tersendiri.

"Kau sudah siap?" tanya Chanyeol masing memegang handphonenya di telinga. Lalu ia tertawa sebentar seperti di sebrang sana sedang membuat lelucon untuknya. Di akhiri dengan ucapan, "Kau tidak jahat, tapi bukan berarti kau juga baik. Makan dengan benar, biar kau tinggi... Iya iya percaya kau tinggi.. Hahaha. "

"Siapa? Kyungsoo-ssi?"

Dahi Chanyeol mengernyit sebentar. "Oh ahh iya, Kyungsoo... Ayo kuantar! "

Ketika Baekhyun sudah masuk dalam mobil, tiba-tiba Chanyeol memberikan sebuah kotak padanya. "Kau bisa menelponku sekarang, carilah banyak teman untuk memenuhi kontak pesanmu"

"Terima kasih tapi - "

"Tidak ada tapi tapian." Chanyeol kembali sibuk lagi dengan handphonenya. Mengetikan sesuatu ke layar. Baekhyun hanya dapat melihat kata Busan-Hongkong-planB.

.

TBC

.

Maaf, kemarin ceritanya kurang jelas. Semoga di chapter ini jadi jelas. Ternyata kemarin saya typo harusnya nulis horizontal malah jadi vertikal. Hadehh, maklum kemarin baru persiapan semprop jadi fokus saya kepecah.

Selamat datang bang Kris! Akhirnya dia memperkenalkan dirinya... Udah ketebak ya... Hahahaha. Btw, sendirian aja bang! Couplenya mana? Bang Tao ngga aku munculin lho... Maaf ya bang, abang jd jomblo! *ketawa nista*

Hayo mbak kyungsoo bakal milih siapa? Jongin yang terlalu cinta (tubuhnya.. Eh)...? Sehun si ganteng dingin dingin nyegerin? Chanyeol yang perhatian tapi humu? Atau bang Kris yang misterius?