My Famous Husband Jung

by LadySinner_25

.

.

.

.

.

Jaejoong kembali bangun tanpa Yunho disisinya tetapi dengan sebuah note di nakas samping tempat tidurnya. Dibacanya pesan dari suami tercintanya itu. . .

'Sayang,

Selamat pagi. . . Aku mendapat telepon dari manajer hyung dan ada beberapa hal yang harus diselesaikan untuk mv-ku. Aku harus pergi. Maaf aku tidak punya hati untuk membangunkan malaikatku jika dia sudah tidur seperti bayi, sambil mengerucutkan bibirnya yang sangat aku suka. Aku akan berusaha pulang kerumah lebih awal, jadi jangan khawatir! I love you baby.. Hati-hati saat pergi ke sekolah! Muachhh. . .

Your Jung.

Jaejoong mengerucutkan bibirnya karena tidak dapat melihat suaminya di pagi hari. Tidak ada ciuman selamat pagi, tidak ada pelukan, tidak ada mandi pagi dengan suaminya dan tidak ada kegiatan bermanja-manja ria di dapur. Pendek kata, dia memulai harinya dengan mood yang buruk, jadi lebih baik berwaspadalah.

.

.

.

Jaejoong berada di kelasnya sekarang, masih dengan mood yang buruk hingga garis-garis kerutan didahinya terlihat dengan jelas. Dia bisa mendengar semua orang membicarakan event yang digelar kemarin. Dia bisa mendengar kikikan, tawa dan pekikan dari mereka tetapi karena mood yang buruk dia tidak menghiraukannya sama sekali. Dia berdiri dari bangkunya, sebuah ide terlintas dikepalanya. Dia tidak akan mengikuti pelajaran dikelas hari ini karena Jaejoong tidak punya niat untuk mengikuti pelajaran sepanjang hari. 'Lebih baik menghabiskan waktu dengan shopping.'

Jaejoong kembali pulang kerumah untuk mengganti seragamnya, sebelum kemudian pergi lagi menuju mall. Dalam waktu sekejab dia bisa menguras isi dari credit card miliknya dan milik Yunho kalau sudah berbelanja. Setelah mengelilingi mall selama 3 jam, Jaejoong merasa lelah. Tetapi itu belum cukup, karena dia berencana untuk membeli boots baru untuk menambah koleksinya di mall kecil yang ada di walk in closet miliknya. Dia sedang memperhatikan merk boots ketika dia merasakan sentuhan dibahunya. Jaejoong memutar kepalanya dan melihat seseorang yang sudah lama tidak dia jumpai.

"Yoochun! Waaah. . . Tuhan! Benarkah itu kau?" Jaejoong menyentuh wajah Yoochun dengan jari telunjuknya dan Yoochun hanya tertawa kecil menanggapinya.

Yoochun adalah sahabat Jaejoong sejak dia mulai masuk sekolah dasar. Tetapi sejak Yoochun eomma ditugaskan ke Virginia, Yoochun sekeluarga pindah ke sana. Dan tidak ada pilihan bagi Jaejoong untuk merelakan kepergian teman terbaiknya.

Yoochun sebenarnya menyimpan rasa untuk Jaejoong sebelum Yunho tetapi Jaejoong tidak pernah mempunyai rasa yang sama dengan sahabatnya itu. Dan dia senang tidak terjadi konflik diantara mereka setelah pernyataan cinta Yoochun kepadanya yang dia tolak.

"Ini aku Jae, kenapa kau begitu terkejut?" Yoochun tersenyum pada Jaejoong sekarang dan Jaejoong memukul dada Yoochun.

"Siapa yang tidak akan terkejut? Idiot! Setelah sekian lama, akhirnya kau muncul!"

"Tentu saja! Aku sudah disini selama seminggu, dan aku berencana untuk mengunjungi kalian berdua tetapi aku melihatmu disini, jadi aku pikir tidak menjadi masalah!"

"Yoochun gila. Kau tidak pernah mengabariku!" Jaejoong mencubit pipi Yoochun.

"Aku merindukanmu Jae, dimana Yunho?" Tanya Yoochun dan Jaejoong hanya bisa mencibilkan bibirnya.

"Dia sibuk hari ini. Aku saja tidak melihatnya tadi pagi!" Yoochun terkikik dan melingkarkan lengannya kebahu Jaejoong.

"Karena itu kau cemberut huh?" Jaejoong mencibilkan bibirnya lagi.

"Oh Kim Jaejoong, berhenti melakukannya! Yunho tidak akan suka jika kau melakukannya didepan orang lain."

"Aku tidak peduli!"

"Ayo kita pergi cantik, kau menjadi jelek dengan wajah sedihmu itu!" Dan Yoochun menarik Jaejoong ke sisi lain mall.

Yunho sedang menunggu di counter sebuah butik. Dia membeli beberapa setel pakaian untuk digunakan dalam mv-nya. Kenapa dia harus membelinya sendiri? Dimana manager dan coordy noona yang biasanya membelikannya untuk dirinya?

Yunho mengerang kesal saat melihat manajernya meneleponnya kembali.

"Aku minta maaf Yunho, aku akan sedikit terlambat karena anak perempuanku melakukan check up hari ini dan aku harus pergi menemani istriku pergi ke rumah sakit."

"Tidak apa-apa hyung! Aku akan baik-baik saja dan aku sedang menunggu. . .," Seketika Yunho berhenti berbicara ketika ujung mata musangnya melihat sesosok namja yang dia kenal berjalan melewati butik dimana dia berada sekarang. Dan dia sangat yakin jika sosok itu adalah Jaejoong dan dia dengan namja lain. 'Siapa dia?'

"Yunho. . . Kau masih disana?" Manajernya kembali berbicara dan langsung menyadarkannya.

"Aku baik-baik saja hyung, aku akan meleponmu kembali nanti." Dan Yunho memutuskan sambungan telepon.

Yunho bergegas keluar dari butik dan mencoba mencari tanda dimana istrinya berada. '

Apa yang dia lakukan disini? Dan dia dengan seorang namja, tidakkah dia ada pelajaran di kelas? Kim Jaejoong apa yang kau lakukan huh?' Banyak pertanyaan yang terlintas dipikiran Yunho.

Dan Yunho menyadari Jaejoong yang terlihat sangat bahagia. Dia mengepalan tangannya dan mengatupkan rahangnya erat. Tiba-tiba rasa tidak aman kembali muncul pada dirinya bersamaan dengan kecemburuannya yang datang lagi.

Yunho berjalan diam-diam beberapa meter dibelakang Jaejoong dengan namja yang tidak dia kenali. Lengan namja itu melingkar dibahu istrinya dan sepertinya dia tidak berniat untuk melepaskannya atau memukulnya dan sepertinya dia menikmati saat-saat bersama namja itu.

Yunho mengeratkan giginya. Dia menghubungi ponsel Jaejoong dan mencoba untuk bersembunyi disalah satu stan ang ada di mall. Dinada dering kedua Jaejoong menjawab panggilannya. Dia berusaha sebisa mungkin untuk terdengar senang tetapi jauh didalam dirinya, darahnya seolah mendidih.

"Hi sayang, kau dimana?" Dari tempat dia bersembunyi, dia bisa melihat Jaejoong yang menolehkan kepala kekiri-kanan dan dengan sebelah tangannya dia gunakan untuk tutup ujung teleponnya.

"Ummm aku di sekolah sayang! Kenapa?" Yunho menahan napasnya dan mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Kenapa Jaejoong berbohong kepadanya? Yunho melanjutkan pembicaraannya di telepon.

"Benarkah? Sudahkah kau memakan sarapanmu?" Yunho bisa melihat Jaejoong yang tampak gugup dengan tetap mencobah untuk menutup ujung ponselnya.

"Iya sayang! Aku sudah makan sarapanku di kantin!" Jaejoong mulai berjalan lagi dengan namja yang ada disampignya dan sekarang tangan namja itu berada dipinggang Jaejoong.

Yunho merasakan sakit dihatinya. Dia tidak pernah membayangkan istrinya akan melakukan hal ini kepadanya. Dia mencoba untuk menyatukan lagi dirinya. Dia berusaha dengan keras untuk tidak meledak karena dia masih mempunyai pekerjaan yang harus diselesaikan tetapi pemandangan yang hanya berjarak beberapa meter didepannya membuatnya marah.

"Yunho? Apa kau masih disana?"

'Yunho? Dimana panggilan sayang? Dimana panggilan Yunnie? Dan dimana panggilan Jung?'

"Aku tutup teleponnya sayang, saranghae. Sampai jumpa dirumah nanti." Dan Yunho memutus line teleponnya. Dia melihat Jaejoong menyimpan kembali ponselnya kedalam sakunya dan kejadian selanjutnya membuat hatinya berdetak lebih cepat.

Jaejoong merangkulkan lengannya kebahu namja itu dan kembali berjalan.

Yunho ingin berlari mengejar istrinya dan menonjok siapapun namja itu ketika ponselnya mulai berdering.

"Yeoboseyo?"

"Yunho kau harus kembali ke studio sekarang, semuanya sudah siap!"

"Aku akan kesana." Sekali lagi Yunho melihat kearah istrinya tadi, tetapi tidak melihat tanda keberadaan istrinya disana. Dia yakin hal ini akan menjadi malam yang sulit nanti.

.

.

.

Jaejoong memasak makanan spesial untuk makan malam suaminya. Dia yakin Yunho akan senang kalau tahu Yoochun sedang berada di Korea sekarang.

Yoochun dan Yunho sudah seperti saudara meskipun Yunho tahu kalau Yoochun pernah memiliki rasa untuk istrinya. Yunho tidak pernah merasa tidak aman dengan kehadiran Yoochun, karena dia tahu dahulu Yoochun hanya mengagumi istrinya, tidak lebih. Dia tidak menganggapnya serius dan dari sanalah mereka bisa menjadi dekat. Dan mereka kehilangan kontak saat Yoochun memulai karirnya di Virginia sebagai penulis lagu. Tapi Yoochun sekarang ada disini, Yunho pasti akan senang. Dan Jaejoong berencana akan memperkenalkan Yoochun ke sahabatnya yang lain, Kim Junsu. Dia yakin mereka berdua akan cocok bersama.

Jaejoong sedikit terkejut saat mendengar bunyi bel pintu apartemennya bersama Yunho. Dia berlari kearah pintu dan melihat Yunho yang mencoba untuk meninju dinding unit mereka. Jaejoong meraih tangan Yunho untuk menghindari Yunho melukai dirinya sendiri tetapi tangannya malah ditampik oleh suaminya itu. Dia terkesiap kaget dan melebarkan matanya seraya membeku ditempatnya berdiri. 'Apa yang terjadi dengan Yunho?'

Jaejoong bisa mencium alkohol menguar dari mulut suaminya tetapi dia tetap mengikuti Yunho masuk kedalam apartemen mereka. Perlahan-lahan dia duduk disamping suaminya dan menatapnya penuh perhatian. Yunho menundukkan kepalanya tetapi tangannya mengepal dengan erat. Tiba-tiba Jaejoong menjadi begitu gugup.

"Yunnie. . ." Jaejoong memberanikan diri untuk memanggil suaminya.

"Apa kau hadir di kelasmu hari ini?" Jaejoong mendengar nada dingin dari suaminya dan dia mencoba sebisa mungkin untuk tidak terisak. Dia tidak ingin memberitahu Yunho kalau dia tidak masuk sekolah hari ini, karena dia yakin dia akan dimarahi.

"Tentu!"

"Benarkah?" Yunho mengeratkan giginya dan dia merasa bisa menghancurkan barang-barang diruang tamu dalam sekejap.

"Terus siapa yang bersamu tadi?" Jaejoong mengangkat alisnya mendengar pertanyaan Yunho.

"Ya pasti aku bersama teman sekelasku!"

Yunho menatap Jaejoong saat ini dan Jaejoong melihat tatapan intens dan amarah dari mata suaminya. Bisa dia rasakan tubuhnya yang bergetar karena dia pernah mengalami bagaimana Yunho berubah menjadi menakut ketika dia marah.

"Yunnie. . . Ada apa?"

"Kau berbohong Kim Jaejoong. . ." Nada suara Yunho masih rendah tetapi jelas menyimpan amarah didalamnya.

"Aku tidak berbohong. . ."

"Lebih baik mengatakan yang sebenarnya sekarang Kim Jaejoong," tubuh Jaejoong mulai bergetar lagi mendengar nada suara suaminya yang dingin, sedingin es kepadanya.

"Yunnie. . ."

"JANGAN BERBOHONG PADAKU KIM JAEJOONG!" Jaejoong melompat kaget mendengar suaranya Yunho yang bergema keseluruh sudut ruangan apartemen mereka dan dia melihat Yunho yang mengatupkan rahangnya kuat, menahan amarah didalam dirinya.

"Yunnniiiee. . ." Jaejoong menangis sekarang dan dia tidak bisa bicara langsung karena dia takut suaminya akan menyakiti dirinya sendiri. Yunho tidak pernah menyakiti Jaejoong saat dia marah tetapi dia lebih memilih untuk menyakiti dirinya sendiri.

"APA KAU SELINGKUH DIBELAKANGKU?"

"Yunnie. . ." Jaejoong terisak keras saat dia melihat Yunho berdiri dan menerangkap dirinya disofa tempat dia duduk. Kemarahan dimata suaminya membuat tubuhnya bergidik.

"JANGAN MEMANGGILKU YUNNIE! JAWAB AKU!" Yunho berjalan menuju dinding dan mulai meninjukan tangannya disana. "SIALAN!"

Jaejoong berdiri dan memeluk Yunho dari belakang tetapi Yunho tetap menghantamkan tangannya ke dinding dan Jaejoong melebarkan matanya ketika dia melihat darah di didinding yang bercat putih. Dia berusaha keras menjadikan tubuhnya sebagai pelindung untuk hantaman Yunho.

"Yuuunnnie, jangan sakiti dirimu sendiri! Pukul aku sebanyak yang kau inginkan, jangan sakiti dirimu sendiri sayang. Aku mohon!" Sekarang Jaejoong menangis di lantai, memeluk kaki Yunho erat.

"Yunnie. . . Berhenti menyakiti dirimu sendiri! Jika kau ingin memukulku, lakukan! Jangan sakiti dirimu sendiri karena itu akan lebih menyakiti diriku!" Yunho menundukan kepalanya ke Jaejoong dan Jaejoong melihat air mata turun mengalir dipipi Yunho.

"Apa aku kurang bagimu Jaejoong? Apa yang inginkan yang aku tidak bisa berikan? Apa lagi yang kau butuhkan?"

"Apa yang kau katakan?" Jaejoong berdiri dan memegang lengan Yunho tetapi kembali ditampik oleh Yunho.

"Aku melihatmu di mall tadi, dan kau dengan seorang namja. Kau terlihat sangat bahagia dan itu menyakiti diriku. Kau bilang kau di sekolah tapi faktanya kau berkencan entah dengan siapa dan berselingkuh dibelakang suamimu."

Jaejoong membelalakan matanya dan mulutnya membuka untuk berbicara tetapi Yunho mendahuluinya.

"Jika kau ingin selingkuh dariku, pastikan tidak ada orang yang melihatmu!" Dan Yunho pergi meninggalkan Jaejoong lagi. Dia hanya mendengar suara pintu yang ditutup dengan keras dan hal itu menyebabkan figura foto pernikahan mereka yang digantung didinding jatuh, pecah dan berserakan dilantai.

"Dia Yoochun sayang. . ." Air mata terus turun mengalir diwajah Jaejoong ketika dia berusaha untuk mengumpulkan serpihan kaca foto pernikahan mereka.

.

.

.

Yunho masuk kedalam mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak peduli jika dia akan meninggal sekarang karena itu tidak ada artinya jika dibandingkan dengan apa yang dia rasakan sekarang. Dia merasa seakan ditusuk berjuta kali lipat, tepat ditengah dadanya. Dia tidak bisa membayangkan istrinya tercinta, malaikatnya dan Jaejoong miliknya akan berselingkuh darinya.

Matanya menjadi kabur saat air mata mulai membasahi mata musangnya. Sungguh menyakitkan untuk melihatnya dengan kedua matanya sendiri. Istrinya memeluk erat lengan namja lain. Istrinya terlihat sangat bahagia dengan namja itu. Dia bertanya-tanya apa keposesifannya yang membuat Jaejoong melakukan hal ini? Dia sungguh mencintai istrinya hingga dia bisa membunuh dirinya sendiri demi cinta untuk sang istri.

Yunho menghentikan laju mobilnya dipinggir jalan utama dan membiarkan airmatanya mengalir dengan bebas. Dia menatap kepalan tangannya yang penuh dengan darah yang telah mengering. Dia mengambil ponsel dari dashboard mobilnya ketika melihatnya menyala berkelap-kelip. Nama Jaejoong muncul dilayar ponselnya, 'Calling'. Dia tidak punya hati untuk berteriak pada istrinya lagi jadi dia tidak berniat untuk menerima panggilan istrinya. Dia mengambil batre ponselnya dan melemparkannya kebelakang mobil dan kembali melajukan mobilnya.

Jaejoong terus menangis dilantai, dimana Yunho meninggalkannya. Ini sudah pukul 3 dini hari dan Yunho belum pulang ke rumah juga. Dia sama sekali tidak menyentuh makan malam yang dia buat special buat Yunho. Dia ingin berterimakasih kepada suaminya itu karena telah bersikap manis di event yang diselenggarakan di sekolahnya kemarin tetapi berubah menjadi buruk.

Jaejoong terus berusaha untuk menghubungi suaminya tetapi tidak bisa. Dia kembali menangis dan memutuskan untuk menghubungi nomor ponsel eommanya. Dia tidak peduli walau waktu sudah larut. Dia hanya butuh seseorang untuk diajak berbicara.

Dering pertama. . .

Dering kedua. . .

Dering ketiga. . .

"Eomma?" Jaejoong mencoba untuk menyembunyikan suara seraknya tetapi sebagai seorang pasti bisa merasakan apa yang sedang dialami anaknya.

"Sayang! Apa kau mengangis? Ada apa?" Jaejoong merasa bersalah ketika mendengar suara penuh cemas eommanya diujung lain sambungan telepon.

"Eomma!" Dia mulai menangis lagi dan Mrs. Kim menghela napasnya.

"Apa kau dan Yunho bertengkar?"

"Dia tidak ada disini eomma, dan aku khawatir!" Jaejoong sekarang terisak lebih keras seraya mempererat genggaman pada ponselnya seakan hidupnya tergantung pada benda mati itu.

"Aku tahu Yunho, dia hanya sedang mendinginkan amarahnya diluar karena dia tidak pernah menyakitimu. Dia bahkan tidak bisa memukulmu menggunakan tangannya. Kau tahu seberapa besar cinta Yunho padamu?" Jaejoong terisak lebih keras karena dia sendiri tahu apa yang dibicarakan eommanya.

"Ini semua hanya salah paham eomma. Dan aku menyakitinya karena aku sudah berbohong."

"Lebih baik kau jelaskan yang sebenarnya padanya kalau dia sudah pulang nanti, kau tidak bisa hanya diam seperti ini untuk selamanya. Kalian saling mencintai satu sama lain, kalian juga saling membutuhkan satu sama lain!" Jaejoong tersenyum menanggapi komentar eommanya.

"Kamshahamnida eomma, tiba-tiba saja aku jadi merindukanmu!"

"Aaaawww! My baby, aku lebih merindukanmu. Jika semuanya kembali baik ajak Yunho ke rumah dan eomma akan memasak makanan kesukaan kalian."

"Eomma gomaweo, kembalilah tidur sekarang."

"Baiklah, tapi jangan menangis lagi sayang. Kau menjadi jelek kalau kau menangis!"

Jaejoong tertawa. "Aku tahu eomma hanya bercanda denganku."

"Kau mengerti eomma dengan baik. . ."

"Selamat malam eomma, salam buat appa juga!"

"Kau juga tidur Joongie, eomma yakin Yunho akan kembali secepatnya! Saranghae nae adeul!"

"Nado saranghae eomma."

Yunho tidak berani pulang ke rumah. Dia tidur di studio dan beruntung dia menyimpan beberapa baju di ruangannya. Dia menyulut sebatang rokok dan menghembuskan asap dari mulutnya. Sejak awal Jaejoong memintanya untuk berhenti merokok, dan sebisa mungkin dia berusaha untuk memenuhi keinginan kekasihnya itu. Dengan berjalannya waktu Yunho bisa terbiasa tanpa merokok. Hanya Jaejoong yang bisa memerintahnya seperti itu, dan dia yang sudah sangat mencintai istrinya tidak bisa bilang tidak.

Yunho merasa hatinya seperti diremas sekali lagi saat mengingat Jaejoong. Dia benci ketika Jaejoong menangis. Dia lebih suka melimpahkan semua beban pada dirinya sendiri daripada melihat istrinya tersakiti, tapi bagaimana dengan dirinya sendiri? Yunho juga merasa tersakiti dan dia tidak tahu apakah dirinya dan Jaejoong bisa berbaikan sebelum pertengkaran mereka menjadi lebih buruk.

Yunho berusaha tidur. Kesibukannya di dunia hiburan Korea dan kejadian di mall yang berujung pertengkarannya dengan Jaejoong di rumah membuatnya kelelahan tidak hanya fisik tetapi juga mental. Tidak butuh waktu lama, diapun tertidur lelap.

.

.

.

Yunho terbangun saat merasakan sebuah tepukan dibahunya dan melihat manajernya mengerutkan dahi melihatnya.

"Yunho kenapa kau tidur disini?" Yunho bangun dan mengusap-usap matanya.

"Apa yang terjadi dengan tanganmu?" Yunho menggelengkan kepalanya. Sebisa mungkin dia tidak ingin memberitahu semua orang mengenai masalahnya dengan istrinya.

"Bukan apa-apa hyung, aku baik-baik saja."

"Apa kau ingin pulang kerumah dan membersihkan dirimu biar fresh?"

"Tidak hyung, aku punya beberapa pakaian disini jadi tidak perlu pulang ke rumah!" Untuk saat ini, Yunho tidak ingin melihat istrinya dulu. Yunho bangun dari tempatnya tidur dan berjalan menuju kamar mandi bersamaan dengan hal itu manajernya menggelengkan kepala melihat apa yang dia lakukannya.

"Pertengkaran suami istri."

Yunho sedang berada ditengah lokasi pembuatan video klipnya namun pikirannya tidak tercurah untuk pekerjaannya tetapi melayang memikirkan Jaejoong dan dia telah membuat banyak kesalahan sehingga syuting harus dihentikan beberapa kali. Sang sutradara mendesah dan menepuk bahu Yunho.

"Kita bisa menlanjutkan pengambilan gambar lain hari kalau kau sakit, aku pikir kau butuh waktu untuk istirahat."

Yunho hanya bisa menganggukan kepalanya dan membalikan badannya dan keluar. Yunho berjalan menuju cafetaria untuk menikmati secangkir kopi, ketika melintas di lobby dia mendengar namanya dipanggil oleh seseorang.

"Yunho? Apakah itu kau?" Yunho menolehkan kepalanya dan melihat Yoochun tersenyum lebar kepadanya.

"Yah! Apa yang kau lakukan disini? Man. . . sejak kapan kau ada disini?" Yunho memeluk Yoochun. Dia merindukan temannya setelah berpisah dalam waktu yang cukup lama.

"Aku sudah disini sejak seminggu yang lalu dan aku bersama dongsaengku, Yoohwan."

"Bagaimana kabarmu?" Tanya Yunho dan Yoochun tertawa menanggapinya.

"Reaksimu sama dengan Jaejoong, Yunho. Kalian berdua sungguh sama!" Yunho mengangkat kedua alisnya saat mendengar namanya istrinya disebut.

"Tunggu. . . Apa kau baru saja menyebut nama Jaejoong?"

"Yes! Jaejoong, istrimu Kim Jaejoong! Siapa lagi?"

'Baiklah, ini membingungkan.' Pikir Yunho.

"Bisa kau jelaskan kepadaku Yoochun?" Tuhan, apakah dia telah membuat sebuah kesalahan? Tiba-tiba Yunhobmerasa gugup saat mengingat istrinya dirumah.

"Baiklah! Kemarin, aku melihat Jaejoong di mall jalan-jalan sendiri kebetulan aku juga ada disana karena aku butuh untuk membeli laptop baru. Aku tidak pernah berpikir kalau aku bisa bertemu dia disana, karena aku berencana untuk mengunjungi kalian berdua besok tapi sepertinya waktu bisa berjalan dengan sendirinya jadi ya seperti itu. . .! Aku bertemu dengannya kemarin dan Man! Dia cemberut karena tidak mendapatkan morning kiss, pelukan dan bermanja-ria dengan suaminya. Karena itu dia tidak pergi ke sekolah kemarin. Aku menariknya ke arena bermain lagi, kau tahu Kim Jaejoong masih berjiwa anak-anak." Yoochun terus saja bicara sedangkan Yunho memproses keseluruhan skenario yang terjadi kemarin.

Jadi namja yang kemarin dia lihat bersama istrinya, sesungguhnya adalah Yoochun namun dia malah berpikir dia itu namja lain dan tidak pernah berpikir kalau dia adalah sahabatnya. Tetapi mengapa Jaejoong tidak mengatakan kepadanya? Yunho menarik rambutnya frustrasi. Dia bahkan tidak mau ambil pusing untuk mendengarkan istrinya sejak awal. Dan sekarang dia yakin telah menyakiti istrinya.

"Yunho apa kau baik-baik saja?" Yunho menganggukan kepalanya.

"Maafkan aku Yoochun, aku harus pulang ke rumah. Telpon aku lain waktu, kita bisa hang out bersama. Bagaimana?" Setelah itu Yunhopun berlari secepat dia bisa dan meninggalkan Yoochun yang tercengang sendiri di lobby.

Yunho tidak bisa untuk tidak menjambak rambutnya sendiri menyadari kebodohannya. Dia membuat istrinya menangis kemarin malam. Dia membuat istrinya memohon untuk tidak menyakiti dirinya sendiri dan dia tidak mendengarkannya sama sekali. Dan bahkan dia meninggalkan istrinya untuk tidur sendirian semalam. 'Tuhan, bagaimana aku bisa menjadi begitu bodoh?'

Ketika Yunho sampai di lobby apartemen mereka, dia berlari menuju lift dan menekan tombol angka tempat unit mereka berada. Semenit didalam lift seperti setahun penuh bagi Yunho. Dan saat lift yang dia gunakan tiba dilantai dimana mereka tinggal, segera dia keluar menuju pintu dan menekan kode untuk masuk kedalam. Kembali dia berlari untuk mencari Jaejoong dan melihat keadaan masih sama dengan saat semalam dia pergi. Tidak ada tanda-tanda Jaejoong diruang tamu. Sekali lagi dia berlari menuju ke kamar tidur mereka dan bisa dia lihat istrinya berada disana. Tidur di tempat tidur mereka dengan selimut lembut yang melindungi seluruh tubuhnya. Pelan-pelan dia mendekati istrinya yang sedang tidur dan memeluknya.

"Aku minta maaf sayang! Aku minta maaf!" Yunho mendengar napas yang tidak teratur dibawah selimut, dengan segera dia buka selimutnya dan mendapati istrinya yang penuh dengan keringat dan wajahnya yang pucat. Dia panik dan berusaha untuk membangunkan orang yang telah memiliki seluruh jiwa dan raganya.

"Sayang! Ya Tuhan! Apa yang terjadi?" Tidak ada jawaban.

"Sayang jawab aku, apa yang terjadi huh?" Yunho menepuk pipi Jaejoong pelan saat Jaejoong berusaha untuk membuka kedua matanya.

"Yunnniieee, aku kedinginan!" Jaejoong menggigil walau setengah tubuhnya masih terbungkus selimut. Yunho yakin dirinya sekarang menjadi gugup setelah mendapati tubuh demam Jaejoong.

"Ya Tuhan sayang! Tunggu sebentar aku akan membawamu ke rumah sakit!"

Yunho mengangkat dan membopong Jaejoong dengan kedua lengannya dan kembali lari menuju lift. Tetangga apartemen mereka hanya bisa melihat dengan penuh keprihatinan dimata mereka. Yunho berlari menuju mobilnya dengan Jaejoong masih dalam gendongannya. Dilajukan mobilnya dan dalam waktu singkat mereka sudah menerjang jalanan Seoul dengan Yunho yang panik dan istrinya Jung Kim Jaejoong yang berbaring dengan kepalanya yang berada dipangkuan Yunho.

Jung Yunho, penari dan penyanyi ternama itu baru saja mengalami ketakutan terburuknya dalam hidup.

.

.

.

tbc

.

.

.

Editor's Note :

Annyeonghaseyo..

Saya masih emo ditinggal Jaejoong wamil dan Yunho yang akan wamil. Dua orang yang paling saya sayang. Semoga saya dan chingu-chingu yang merasakan hal yang sama bisa kuat.

Maaf kembali saya telat buat update My Famous Husband Jung!

Bahasa tidak baku dan typo dimana-mana.

Jujur kadang saya stuck translateinnya. Kadang bisa ngeblank nie apa artinya? kata yang pas itu apa ya? hehehe maaf saya bikin alasan doank #bow

Terima kasih banyak buat semua yang sudah follow dan favorite MFHJ! Apalagi yang kasih review, Thank Chu and lope lope chu sooooo muchhhh pokoknya..

Review lagi ya?

with yunjae love,

YunJaeDdiction 3