MASK
"Semua orang memakai topeng untuk kau cintai.
Jika kupakai topeng burukrupa, akankah kau mencintaiku?"
.
.
CHAPTER 11
.
.
.
.
Awan-awan hitam bergumul menjadi satu, langit menjadi tampak lebih gelap dari biasanya. Bulir-bulir air hujan pun turun membuat alur di kaca apartemen Chanyeol. Cuaca yang buruk hari ini seakan mengejek keadaan Sehun yang hanya bisa duduk di dekat jendela. Menempelkan telapak tangannya di kaca, seakan ingin menyentuh air hujan yang menempel di kaca.
"Sehun, berhenti mendramatis suasana! Makan sarapanmu! Aku sudah memberitahu Luhan kau disini dan baik-baik saja." Kyungsoo di pesan oleh Sehun agar tidak memberitahu keadaannya sebenarnya, bilang saja hanya luka kecil dan keseleo.
"Hujan membuat perasaan seseorang lebih lembut dan sensitif. Membuat beberapa kenangan muncul kembali dalam ingatan tanpa kita minta," timpal Baekhyun yang sibuk menata makanan di meja makan. "Sebagian besar kenangan sedih, sisanya hal-hal romatis dalam hidupnya," lanjutnya.
"Kurasa dia sedang sedih, dia terlihat ingin menangis dengan wajah dinginnya," komentar Chanyeol sudah memegang sumpitnya siap sarapan dengan khidmat.
Kyungsoo membantu memapah Sehun ke meja makan. Menaruh mangkuk nasi tepat di depannya. "Kenapa tiba-tiba hari ini hujan?" tanya Sehun tiba-tiba. Semua menghentikan aktifitasnya, beralih menatap Sehun dengann pandangan tak percaya.
"Karena air laut menguap lalu..." balas Kyungsoo mencoba memikirkan apa proses selanjutnya.
"Lalu menjadi satu di langit membentuk awan. Awan ditambah awan dan awan lagi..." Chanyeol menyambung penjelasan Kyungsoo sambil menggambar awan di udara lalu menyatukan awan-awan abstrak itu dengan kedua tanganya menjadi satu tepukan. "Dan PLOKKK! Awan-awan itu bersatu menjadi awan gendut berwarna hitam dan karena tak kuat menampung lagi akhirnya bocor menjadi air hujan."
"Apa dia sedang melucu?" sindir Kyungsoo. "Lupakan saja!" Sehun jadi malas bertanya lagi. "Baiklah ayooo makaannnn!" seru Kyungsoo bersemangat.
Semua menikmati makanannya dalam tenang, tak bersuara sampai suara sumpit Chanyeol yang di taruh rapi di samping mangkuk. Tanda ia sudah selesai makan. Chanyeol yang merasa di pandangi Sehun sejak ia selesai makan, akhirnya bertanya pada Sehun apa masalahnya, "Apa?"
Sehun menunjuk-nunjuk pipi dekat bibirnya dengan jari telunjuk lalu melanjutkan makannya kembali. Namun Chanyeol tetap tidak paham malah bertanya sekali lagi, "Apa?"
Sehun menunjuk-nunjuk pipinya kembali. Ketika wajah Chanyeol mengisyaratkan sudah paham, Sehun melanjutkan makannya lagi. Namun, sumpitnya yang mengantarkan daging panggang ke mulutnya tiba-tiba berhenti dijalan. Karena tangannya mendadak menjadi kaku. Sumpitnya dengan bebas jatuh menyentuh mangkuk.
TRING!TRINGGG! suara itu bersamaan dengan lepasnya bibir Chanyeol dari pipinya. Rahang Sehun seakan akan jatuh terjun ke lantai bawah. "What the - " Sehun urung melanjutkan umpatannya.
Baekhyun sudah menutup mulutnya dengan kedua tangan karena terlalu terkejut. Kyungsoo sepertinya yang dalam keadaan baik dan akan meluruskana adegan di tengah suara hujan yang syahdu ini.
"Bukankah kau ingin di beri kecupan? Kupikir kau sedang sedih, jadi ku lakukan saja," ucap Chanyeol dengan santainya dan dengan wajah polosnya.
"Dia ingin memberitahumu ada saus yang tertinggal di pipimu. Hanya sedikit sebenarnya, jika Sehun tak mengkodemu..aku juga tidak akan tahu ada saus di pipimu," jelas Kyungsoo lalu beralih memarahi Sehun. "Kau juga, kenapa tidak katakan saja? Si Park ini terlalu baik, bahkan anjing laut pun jika minta ia cium, ia akan mencium dan memeluknya dengan senang hati."
"Tidak begitu juga sih," tandas Chanyeol.
"Mmm..lebih baik sarapan sambil menonton berita. Kita lihat apakah akan hujan sampai malam nanti," ujar Baekhyun mencoba mengalihkan dari insiden kecil tadi. Ia mengambil remote televisi.
Sebuah taksi terguling dan terbakar di tengah jalan dekat bandara utama Hongkong. Penumpang yang merupakan satu keluarga menjadi korban dalam peristiwa ini. Diperkirakan penumpang tersebut berkebangsaan Korea yang berlibur ke Hongkong. Sopir taksi yang selamat dalam peristiwa ini melarikan diri. Sementara itu kepolisian sedang mengusut tuntas penyebab kecelakaan ini.
Layar televisi menampilkan daftar nama korban dalam kecelakaan tersebut. "Sooman ahjussi!" pekik Kyungsoo tak percaya.
.
.
MASK
.
.
Di tengah hujan yang mengguyur Kyungsoo dan Chanyeol membawa payung menyebrangi halaman luas gereja sekaligus panti itu. Air hujan menggenangi sebagian besar jalan setapak menuju gereja, sisanya tanah yang becek karena hujan. Lampu gereja yang bersinar temaram menjadi satu-satunya penerangan.
"Suho-ssi!" panggil Kyungsoo sesampainya ia disana. Gereja terlihat sepi tak berpenghuni. Biasanya lilin-lilin dinyalakan sebagai penerangan tambahan. "Suho-ssii!" seru Kyungsoo lagi.
Hari ini sudah hari ketiga setelah Kyungsoo mengirimi surat ke pihak donatur atas nama Wu Chun untuk melakukan negoisasi. Kyungsoo tidak tau apakah nama itu yang jadi pimpinannya atau bukan, yang pasti kecelakaan yang dialami Lee Sooman beserta keluarga pasti ada campur tanganya. Apalagi setelah itu Suho menerima surat penghentian pemberian sumbangan beserta penggusuran lahan. Kabarnya hari ini sang donatur sekaligus pewaris pemilik lahan akan datang berkunjung.
Suho akhirnya muncul bersama pemuda jakung bercelana jeans dan kemeja putih layaknya pemuda Seoul biasa. Raut wajah Suho sudah menggambarkan kedatangan pemuda jakung tersebut bukanlah kabar baik untuk didengar.
"Walaupun di luar sangat gelap, saya ucapkan selamat siang Tuan Wu Chun!" sapa Kyungsoo memberikan salam. Pemuda itu tertawa tipis, "Wu Kris." Lalu ia berjalan ke salah satu ruangan yang biasa Suho jadikan kantor dadakan.
Harusnya Chanyeol kaget melihat Kris ada disini, tapi melihat pengalamannya jauh kebelakang, rasa terkejutnya hilang. Ia sudah bertemu Kris dengan berbagai situasi mulai dari memalukan sampai mengegangkan seperti saat semua orang membawa senjata dan ia hanya berdiri seperti orang bodoh.
Kyungsoo mengikuti Kris memasuki ruangan bersama Suho dan Chanyeol. Sepertinya Kyungsoo harus mengadapi sendiri, karena Kris menutup dan mengunci pintu ketika Suho dan Chanyeol akan ikut masuk. Suara gemrincing kunci menyentuh meja beradu dengan suara hujan deras di luar.
Kyungsoo memandangi pemuda itu dengan pandangan menilai. Wajahnya dinginnya hampir setara dengan Sehun. Bedanya Sehun ketika tertawa akan ada kesan manis, namun pemuda bernama Kris ini Kyungsoo tidak yakin ada nilai manis dalam dirinya.
"Tidak usah memperkenalkan diri, namamu sudah terkenal di kalangan penjahat sepertiku," sergah Kris yang duduk di meja dengan santainya.
"Aku tidak tau kalau aku seterkenal itu." Kyung memilih duduk dengan sopan di kursi. Menatap Kris tanpa rasa takut.
"Salahkan kekasihmu yang membuatmu terkenal. Kekasih putra perdana menteri masuk daftar yang harus kami pelajari. Siapa tau kita bisa bekerja sama."
Kyungsoo berdecih dengan kerasnya. "Tsk...bekerjasama pantatmu!"
Herannya Kris tidak tersinggung sama sekali. Dia malah terkekeh bahagia mendapat penghinaan. "Kau terlihat manis saat marah! Sayang sudah ada yang punya," godanya.
"Sebenarnya aku tidak mau mengatakan ini. Tapi aku bukan milik siapa-siapa Tuan Wu Kris. Jongin juga bukan kekasihku," elak Kyungsoo. "Dan tolong intinya saja..!"
Kris turun dari meja berjalan ke belakang kursi Kyungsoo. Menyentuh pundaknya dengan kedua tangan. Kyungsoo merasakan tangan kasar Kris menyentuh dan memberi sedikit penekanan pada pundaknya. Tak bisa Kyungsoo pungkiri rasa takut menyelubungi dirinya. "Ku hargai keberanianmu. Mambawa lari jalangku, lalu mengambil alih panti ini. Aku agak terkejut dapat berurusan denganmu seperti ini. Mataku tidak pernah salah rupanya, aku melihatmu di kantor kepolisian. Aku merasa kau bukan gadis sembarangan."
"Kau berkeliaran di kantor polisi?" ulang Kyungsoo tak percaya.
"Anak buahku membuat masalah, aku harus mengeluarkannya dengan sedikit pelicin," jelas Kris. "Kehilangan si Byun Baekhyun tidak begitu membuatku rugi - "
"... Tapi bangunan ini adalah milikku... aku menyumbangkan uangku disini...dan meraih banyak keuntungan juga dari sini...aku tak akan membiarkan siapa pun membuatku merugi. Seperti perternakan, kuberi makan setiap hari agar bisa kujual dan aku mendapat keuntungan."
"Kauuu...!" Kyungsoo menggeram marah. Bagaimana puluhan manusia disamakan dengan hewan ternak.
Kris berpindah berjalan ke samping Kyungsoo. Menempelkan jari telunjuknya ke bibir berbentuk hati itu. "Sssstttt...aku belum selesai!"
"Jadi jika lahan ini tidak menghasilkan apapun lebih baik ku ratakan lalu ku ubah jadi bangunan mewah tempat para orang-orang menghambur-hamburkan uanganya. Dengan begitu kau hanya mengganti rugi akibat dari penghentian pengiriman anak-anak manis itu. Bagaimana?"
"Bagimana jika aku tidak mau bayar?" tanya Kyungsoo mencoba tenang tidak terpancing.
"Akan aku gusur dan semua anak-anak tak akan ku biarkan hidup tenang. Mereka akan ku jual karena kau tak mau bayar sepeser pun," bisik Kris tepat di telinga Kyungsoo. Kyungsoo sampai meremas ujung jaketnya. Perasaan takut dan marah bercampur menjadi satu.
"Berapa yang kau minta?" tanya Kyungsoo lagi.
"Tujuh ratus juta won. Itu aku sudah berbaik hati padamu. Bagaimana? Kau menyerah?"
Kyungsoo menelan ludahnya kasar, mendengar nominal sebesar itu. Kyungsoo pernah mengeluarkan biaya besar untuk Sunny tapi tidak mencapai angka sebesar itu. Rumah appa-nya saja jika di jual tak sampai setinggi itu harganya. Kyungsoo mulai gelisah bagaimana mencari uang sebanyak itu.
"Tidak usah khawatir, aku punya penawaran bagus untukmu. Jadilah slave-ku. Kau cocok di ranjang dan sebagai putri kepala kepolisian kurasa kau akan lebih berguna mengamankan kelompokku." Kris mengamati perubahan mimik wajah Kyungsoo yang merasa terhina dengan penawarannya.Tangan Kris menyentuh perlahan bibir yang sedari tadi menggodanya. Ia tak pernah menemukan wanita semenarik ini.
PLAAKKK! Tamparan kuat Kyungsoo layangkan pada pipi Kris. Kris memegangi pipinya lalu berguman dengan menyunggingkan senyum miring ke arah Kyungsoo. "Kalian berdua sama-sama menarik dan mirip satu sama lain !"
"Sepertinya memang kau bukan kekasih Kim Jongin. Kau memang hanya jalangnya, dia melindungimu hanya karena tubuhmu yang begitu menjadi candu baginya. Tinggal menunggu waktu saja kau di buang. Jadi lebih baik menyerahlah padaku, aku tidak pernah membuang siapa pun yang telah aku minta berada disisiku."
"Tau apa kau tentang hubunganku dengan Jongin? Kau hanya orang luar Tuan Wu Kris!" seru Kyungsoo jengkel.
"Kau terlalu pembangkang untuknya. Dia akan lebih memilih wanita dengan sifat keibuan bukan seperti dirimu Nona Do...berkeliaran di tengah hujan seperti ini untuk bernegosiasi dengan orang berbahaya sepertiku. Pikirkan lagi...kuberi waktu lima hari. Jika kau tak datang ke markasku dengan koper berisi uang yang kusebutkan, bersiaplah menghabiskan tisu dirumahmu!" Kris berjalan pelan menuju pintu, namun pikirannya menimbang-nimbang sesuatu. Ia memilih berbalik dan memastikan.
Dengan gerakan cepat tangan Kris menahan kedua tangan Kyungsoo dengan satu tangan. Sedangkan tangan kanannya memegangi dagu Kyugsoo agar tidak mengelak menerima ciuamannya. Kris mengecap bibir berbentuk hati tersebut dengan pelan-pelan tanpa terburu-buru. Kenyal dan manis. Rasa penasarannya terbayar sudah dan ia sudah mendapat jawaban.
Ketika tangan Kyungsoo terbebas, Kyungsoo ingin menampar pemuda kurang ajar itu dengan keras namun tangannya di tahan Kris dengan segera. "Harusnya aku membencimu!" guman Kris meninggalkan ruangan dengan langkah lebar.
Suho langsung masuk melihat keadaan Kyungsoo, dia sangat khawatir sejak tadi. Chanyeol masih tetap berada di luar, menghadang Kris yang baru saja keluar. "Kenapa tidak Wu Chun saja?"
Kris bertukar pandang dengan Chanyeol yang menatapnya dingin. "Aku ingin melihat seberapa kuat posisiku." Kris menghela nafas sebentar lalu berucap lagi dengan suara yang lebih rendah, "Berhentilah, jangan libatkan dirimu dalam hal-hal bodoh. Kau membuatku melakukan banyak pengecualian. Jaga dirimu, Chan!" Diakhiri dengan tepukan ringan di pundak Chanyeol, Kris melenggang pergi.
.
.
.
Hari ini Jongin, pemuda tan itu meluangkan waktu untuk berbelanja bersama dengan Kyungsoo. Ia merasa gadis itu menjadi pediam belakangan ini. Semenjak Luhan sering datang ke apartemennya untuk bercerita atau menenangkan dirinya perihal masalah keluarganya dan Sehun. Kyungsoo terpaksa sering mendekam di kamarnya untuk bersembunyi. Kyungsoo tidak mau Luhan tau selama ini dirinya berhubungan dekat dengan Jongin.
Untunglah Xiumin sedang di pindah tugaskan sehingga tidak menambah runyam masalah. Sesuai janjinya untuk tidak menyentuh Kyungsoo lagi, Jongin lebih banyak mengalihkan perhatiaannya ke Luhan, dengan begitu Kyungsoo hanya melakukan pekerjaan lainnya tanpa harus terbebani melayaninya di ranjang. Lagi pula Luhan mempunyai segudang masalah sejak Sehun kabur dari rumah, ia memerluhan orang untuk membantu dan menenangkannya.
"Luhan bilang Sehun kau titipkan di apartemen Chanyeol, benarkah?" Jongin memulai pembicaraan sambil mendorong troly-nya yang penuh bahan makanan. Belakangan ini Luhan datang mengambil alih dapurnya, membuat berbagai masakan khas rumahan yang Jongin sukai.
"Hmmm.." jawab Kyungsoo singkat sambil mengangguk
"Kau dan Chanyeol – ...Mmm tidak jadi," Jongin mengurungkan niatnya bertanya lebih lanjut. Ia sudah mengorek banyak informasi dari Luhan dan teman-temannya di kampus. Kedekatan Kyungsoo dengan Chanyeol sampai ke hal-hal yang privat membuatnya naik darah tapi ketika mengingat Kyungsoo masih perawan ketika tidur dengannya, membuatnya bimbang lagi.
Kyungsoo tidak begitu mempermasalahkan ucapan Jongin yang terputus tadi. Pikirnnya sudah pusing bagaimana mencari uang yang Kris minta. Dirinya sudah menjual beberpa aset miliknya, seperti tanah dan bangunan yang seharusnya ia gunakan untuk membangun tempat penampungan bayi. Ia sudah merelakan untuk di jual, ditambah uang hasil bekerja dengan jongin. Ternyata juga tidak cukup.
Chanyeol pun juga merelakan tabungannya yang seharusnya untuk membeli flat sederhana di Manhattan. Chanyeol berencana meneruskan pendidikannya di Amerika sambil bekerja. Kyungsoo agak sedih mendengar Chanyeol teryata akan pergi dari Korea. Lebih sedih lagi Kyungsoo harus mencari dua ratus juta won sisanya.
"Kurasa ini cukup. Ayo kita pulang!" ajak Jongin menuju meja kasir untuk membayar.
"Luhan – "
"Luhan tidak datang hari ini. Jika kau lelah lebih baik pulanglah dan beristirahat, mungkin Luhan juga ada di apartemen kalian. Kau terlihat kurang baik hari ini," ucap Jongin sambil mengusap-usap pipi Kyungsoo dengan ibu jarinya.
Kyungsoo tidak pulang ke apartemennya sendiri melainkan berakhir duduk di dekat jendela di apartemen Chanyeol seperti Sehun tempo hari. Bedanya hari ini tidak hujan hanya mendung. Ia sudah jarang pulang ke apartemennya dengan Luhan. Karena ia sedikit merasa jengkel dengan Luhan, ia tidak mau membuat perkara dengan temannya sendiri. Jadi Kyungsoo lebih sering menginap di apartemen Chanyeol.
Ketika Luhan menjenguk Sehun pun, Kyungsoo lebih memilih menyingkir atau pergi ke kedai untuk minum. Dirinya sebenarnya sangat paham kemalangan gadis itu, mulai dari beasiswanya di cabut, keluarganya yang bangkrut dan terlilit hutang sampai ayahnya masuk rumah sakit. Luhan pun mencoba kerja paruh waktu tapi langsung Jongin suruh berhenti karena wajah cantiknya membuatnya mendapat banyak pelecehan pelanggan laki-laki.
Jongin lah yang membayar kuliah dan kebutuhan Luhan bahkan memberi uang untuk pengobatan ayah Luhan di China. Kyungsoo tau semuanya tapi ia tak memberi tahu Sehun semua yang terjadi pada Luhan, ia takut Sehun berhenti mengumpulkan bukti untuk menjebloskan Tuan Oh kepenjara. Jika Sehun berhasil, Sehun dan Luhan dapat bersama dan memperbaiki keadaan keluarga Luhan di China.
Tapi di samping rasa kasiannya kepada Luhan...
Melihat kedekatan Jongin dan Luhan hatinya menjadi sakit. Luhan yang selalu memasak, Luhan yang selalu mendapatkan bantuan dari Jongin, Luhan yang selalu terlihat bahagia dan bercanda di dapur dengan Jongin. Hati Kyungsoo semakin meragu dengan perasaan Jongin. Hari itu, dirinya datang tanpa memberitahu Jongin dan mendapati Luhan sedang berciuman mesra dengan Jongin. Apa saling melumat bibir termasuk cara menghilangkan kesedihan seorang gadis?
Dan hal yang paling membuatnya muak adalah...
Luhan menjadi lebih pendiam jika menjenguk Sehun. Tak ada raut ceria di wajahnya. Tidak ada lagi ucapan lembut dan mesra keluar dari bibirnya. Dan juga memandang Sehun seakan keadaannya adalah salah Sehun semua.
Dan Sehun diam saja, seakan memaklumi perubahan sifat Luhan.
"Biarkan saja, dia mungkin agak kaget karena sering kumanja dengan fasilitas mewah. Anggap saja dia hanya shock karena jatuh miskin. Dia yang memilih mempertahanku, jadi ini resikonya." Begitu jawaban enteng yang keluar dari mulut Sehun. Sehun memang tak punya apa-apa sekarang. Hanya wajah tampannya yang tersisa.
Akhir-akhir ini Luhan tak menampakan wajah cantiknya lagi. Kyungsoo melihat Sehun mulai gusar karena buktinya sudah terkumpul hanya tinggal menyerahkan ke kepolisian tapi Luhan mulai memberi sinyal menyerah dengan tak pernah datang.
"Kau sedang banyak pikiran, Kyung?" sapa Sehun yang sudah dapat berjalan dengan benar. Ikut duduk bergabung dengan Kyungsoo meratapi hidup masing-masing.
"Aku juga bisa menanyakan hal yang sama padamu, Sehun!" balas Kyungsoo agak sebal.
Sehun tertawa sebentar, lalu memandangi wajah Kyungsoo yang terlihat tanpa semangat. "Apa Luhan banyak menyusahkan Jongin?"
"Jongin tidak merasa kesusahan sama sekali. Jika itu yang kau khawatirkan."
"Benarkah? Sepertinya kau yang harus ku khawatirkan jika keadaannya seperti itu. Mereka memang dekat jadi tidak perlu khawatir, sebelum ini Luhan juga sering mengadu pada Jongin jika aku membuatnya menangis." Sehun mencoba menenangkan, walaupun Kyungsoo tidak mengakui menyukai Jongin. Tapi menurutnya walaupun sedikit gadis itu menaruh perasaan pada Jongin.
Chanyeol yang baru saja pulang melihat mereka berdua duduk di depan kaca jendela, membuatnya tertarik ikut bergabung. "Ada apa dengan kalian berdua? Kalian seperti sedang melakukan sesi konseling, saling curhat maksudku!" cerca Chanyeol ikut duduk di samping Kyungsoo.
Kyungsoo menemukan Chanyeol di sampingnya seperti langsung terprogram untuk menyenderkan kepalanya ke bahu Chanyeol. Chanyeol membalas mengusap-usap rambut Kyungsoo. Sehun yang melihat kemesraan itu hanya bisa meliriknya malas.
"Untung kau menyimpang, Chan! jika tidak aku sudah memukulmu hingga babak belur. Bagaimana pun aku calon suaminya. Tolong hargai aku okey!" oceh Sehun agak tidak rela.
"Bagaimana, Kyung! Apa masih kurang? Lebih baik mundur saja...kau tak akan berhasil. Setelah kau membayar pun, dia tidak akan tinggal diam. Jangan mempercayainya," ujar Chanyeol.
"Setidaknya aku mencoba, Chan! Uangku tinggal sisa-sisa kurasa tidak bisa menutup," keluh Kyungsoo. Bayarannya dari Jongin pun berkurang drastis karena sekarang tidak pernah diminta menunaikan tugasnya di ranjang. Kyungsoo berpikir mungkin Jongin sudah bosan pada tubuhnya.
"Kalian membicarakan apa? Bukankah Jongin menyukaimu kenapa tidak minta Jongin saja? Kalian membicarakan uang kan?" timpal Sehun mencoba memberikan solusi.
Kyungsoo dan Chanyeol memandangi sengit ke arah Sehun. "Apa aku salah bicara? Ketika aku masih kaya, jika Luhan butuh uang untuk hal mendesak dan penting, banyak pun akan ku berikan tanpa syarat. Apa ada yang salah?" tanya Sehun bingung.
Chanyeol berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin. "Kurasa dia selalu mengingatkan dirinya bahwa ia sudah tak punya apa-apa dan hidup menumpang padaku. Kusarankan jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Sehun-ssi!" ujar Chanyeol menepuk-nepuk pundak Sehun.
"Aku tidak suka hal yang di berikan cuma-cuma. Apa lagi yang tak ada hubungan apa pun denganku," ucap Kyungsoo lemah. Waktunya tinggal dua hari lagi.
Tiba-tiba mereka bertiga di kejutkan dengan derap kaki den suara bel yang berbunyi nyaring. "Kurasa itu kekasihmu!" tebak Chanyeol berjalan membukakan pintu. Ternyata memang Luhan yang datang dengan mata sembab dan rambut di tergerai kusut. "Tuh kan benar!"
Luhan langsung melewati Chanyeol masuk ke dalam tanpa menyapa. "Kenapa semua orang suka ke apartemenku? Lalu berlaku tidak sopan seperti ini? Harusnya aku tidak menyewa apartemen saja!" rutuk Chanyeol melihat Luhan langsung menghampiri Sehun dengan tergesa-gesa.
"Hunie kumohon tolong aku!" seru Luhan sambil terisak, memegangi tangan Sehun. Tubuhnya yang awalnya berdiri semakin merosot hingga terduduk di lantai. Dengan tangan lentiknya menggenggam erat masing-masing sisi celana Sehun.
"Aku tak sanggup lagi... Hiks... Hiks... Tolong berhenti membuat keluargaku menderita! Tolong lakukan apa pun... Kumohonnnn!" Sehun yang melihat kekasihnya menangis memohon di kakinya, mencoba menata perasaanya yang hancur. Pria mana yang tega melihat kekasihnya sampai seperti ini.
Suara tangis Luhan terdengar begitu frustasi di telinga Chanyeol maupun Kyungsoo. "Bukankah Jongin sudah membantumu, lu?" Kyungsoo ambil suara, ia tak akan membiarkan Sehun mundur karena Luhan sudah seperti ini.
"Tolong tunggu sebentar lagi, aku - " bujuk Sehun namun ucapannya terpotong karena Luhan buru-buru berseru sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali, "Tidak... Tidak... Aku sudah tak bisa lagi menunggu. Baba sudah kritis sekarang, tidak hanya keluargaku... Paman-pamanku juga kena imbasnya... Walaupun Jongin membantu juga percuma, appamu memblokir semua pengiriman uang ke keluargaku... "
"Kumohon, Hunieee!" genggaman tangan di celana Sehun semakin kuat begitu juga tangisnya. Luhan sampai menunduk karena sudah tak mampu menatap Sehun lagi dengan banjir air mata.
Sehun memegang tangan kekasihnya dan berlutut di depan Luhan yang terduduk di lantai. Membawa tangan kiri Luhan ke arah wajahnya lalu menciumnya lama. Sebenarnya ia merindukan memegang tangan Luhan seperti ini, dirinya jarang sekali menunjukkan sisi romantis karena menurutnya itu akan membuatnya lemah. Namun sekarang keadaannya memang benar-benar lemah, melepaskan tangan Luhan saja sangat terasa sulit.
Sehun menyudahi mencium tangan Luhan, sekarang yang perlu ia lakukan adalah menuruti ucapan kekasihnya ini. Mulut kecilnya terbuka, jakunnya naik turun... Menandakan betapa sulit mengatakan bahwa ia akan mengabulkan keinginannya. "Baik... Baik... Akan kulakukan. Aku berjanji akan mengembalikan keluargamu seperti sedia kala, Babamu akan secepatnya sehat kembali... Kau senang sekarang, hannie?"
"H-hunie... " cicit Luhan lirih mendengar Sehun memanggilnya dengan sebutan 'hannie'. Luhan dulu ingin sekali Sehun memanggilnya hannie, jadi akan serasi hunnie dan hannie. Tapi Sehun selalu menolak dan karena sudah sangat kesal ia berkata, "Aku akan memanggilmu seperti itu saat aku memutuskan hubungan ini, jadi masih mau memaksaku?"
"Chan, tolong antarkan Luhan pulang!" pinta Sehun pada Chanyeol. Chanyeol sebenarnya tak mau disuruh-suruh tapi berhubung keadaan sedang tidak baik, maka ia menurut.
Sejak kepergian Luhan, Sehun berdiam diri di kamar Chanyeol bahkan Chanyeol si pemilik kamar tak berani mendekat. Chanyeol memilih tidak mandi sepanjang hari daripada berurusan dengan Sehun. Sebenarnya di kamar Baekhyun juga ada kamar mandi tapi Chanyeol agak segan. Sampai tengah malam pun Sehun belum keluar kamar dan membiarkan perutnya kosong tak di isi apa pun.
Kyungsoo tak bisa menunggu dan berdiam diri terus. Membuka pintu kamar Chanyeol yang memang tak di kunci Sehun, dirinya dan Chanyeol hanya takut menganggu privasi Sehun saja.
Sehun hanya duduk di depan meja belajar Chanyeol tanpa melakukan apa pun. Dia tidak menangis, tapi Kyungsoo tahu perasaanya sangat kacau sekarang. Berkata semua akan baik-baik saja juga akan percuma, nyatanya dirinya dan Sehun sama-sama tidak siap meninggalkan orang yang mereka sukai masing-masing.
Kyungsoo tau di dalam hati Sehun, Sehun sangat mencintai Luhan meskipun ia tak menunjukkannya dengan baik. Dia bukan pria romantis dan terbiasa berperilaku dingin ke orang lain. Kata-kata manis bukan gayanya. Bagi Sehun seberapa banyak wanita yang ia ajak bermain tidak akan mengubah hatinya sedikit pun. Kyungsoo tak mendekat, ia hanya berdiri dan bersandar pada kusen pintu sambil melipat tangannya di dada. "Hun, mau ikut minum denganku? Aku yang bayar, " ajak Kyungsoo.
"Apa Chanyeol ikut?" tanya Sehun.
"Chanyeol sedang keluar ke tempat temannya setelah menjemput Baekhyun. Jika kau bertanya apa Baekhyun ikut, dia bekerja seharian dan sekarang sudah tidur nyenyak," jelas Kyungsoo panjang lebar.
"Aku ingin, tapi appaku sudah mengirim orang menjemputku disini. Mungkin sebentar lagi akan datang."
Kyungsoo akhirnya memilih mendekat dan duduk di ranjang. Menemani Sehun sebelum di jemput. "Aku tak tau apa yang bisa kulakukan untukmu. Tapi kusarankan ada baiknya menangislah, agar sedit lega."
"Jika aku bisa, aku sudah menangis sedari tadi," sahut Sehun setengah kesal.
Kyungsoo merentangkan tangannya sambil berkata, "Kemarilah! Kuberi pelukan dan cubitan agar kau menangis keras!" gurau Kyungsoo.
Sehun tak juga menununjukkan akan segera memeluk Kyungsoo. Jadi Kyungsoo menariknya duduk ke ranjang dan memeluknya erat. "Selain dingin, kau pria yang terlalu gengsi," caci Kyungsoo.
"Maafkan aku, Kyung!" ucap Sehun memeluk Kyungsoo erat. "Sudahlah jangan khawatirkan aku, apa salahnya jadi nyonya Oh," hibur Kyungsoo tidak mau menambah beban Sehun. "Maaf~" ucap Sehun lagi, kali ini ada isakan pelan dalam suaranya. Tidak keras, tapi cukup membuat Kyungsoo tau Sehun sudah bisa menangis sekarang.
Dengan ragu-ragu Sehun berucap lagi, "Si hitam - "
"Aku juga tidak ingin menikah dengan Jongin, jadi jangan merasa bersalah."
"Memang seharusnya jangan dengan Jongin, aku melihatnya berciuman dengan Luhan. Jika aku bisa membujuk appa untuk membatalkan pernikahan, jangan menikah dengan Jongin. Jangan dengan Chanyeol juga, dia berbahaya."
"Kau melihatnya juga? Aku sebenarnya juga sudah tau."
"Ya, aku datang ke apartemen Jongin untuk menanyakan keadaan keluarga Luhan. Kurasa Luhan juga mulai goyah. Aku pria yang buruk."
"Salah, pria buruk tak akan mengatakan dirinya buruk, " balas Kyungsoo. Sehun memeluknya lebih erat. "Sehun, sebelum tanggal pernikahan kita di tetapkan, sebelum aku dan seluruh ragaku jadi milikmu. Aku meminta ijinmu melakukan sesuatu yang buruk - "
"Lakukan! Kau melakukan hal buruk pasti punya alasan baik di baliknya. Tapi tolong jangan menyakiti dirimu sendiri."
"Terima kasih. Ngomong-ngomong aku ingin menepuk-nepuk punggungmu tapi jahitan punggungmu belum kering sempurna. Haruskah aku menepuk keras kepalamu?"
"Kejam! Kalau keras namanya memukul bukan menepuk," maki Sehun sambil mengusap air matanya, malu jika Kyungsoo melihat.
.
.
.
Di kediaman keluarga Oh, Sehun sedang berlutut di hadapan ayahnya. Setelah seharian ini dirinya dikurung di kamar, akhirnya malam ini appanya memintanya mengahdap.
"Appa..! "
"Bagaimana? Kekasihmu menghianatimu, nak!" sindir Tuan Oh mendekati putranya yang berlutut. Memasukan tangannya ke kantung celananya, mencoba menunjukan kekuasaannya kepada Sehun.
"Tolong hentikan yang appa lakukan pada Luhan dan keluarganya. Aku akan menuruti kemauan appa," pinta Sehun menekan semua ego-nya. "Dan tolong batalkan pernikahanku dengan Kyungsoo. Kyungsoo terlalu baik untukku, appa! "
"Tenang saja, asal kau menurut pada appa... Kekasihmu dan keluarganya akan hidup damai. Tapi soal pernikahan kau dengan Kyungsoo akan tetap berlangsung, satu minggu lagi. Appa dan Tuan Do sudah menyiapkan semuanya."
"Appa!" seru Sehun bermaksud menolak.
"Bukankah Kyungsoo juga yang membantumu kabur, dia juga ikut mengantarmu kemari. Kalian akan jadi pasangan yang cocok dan patuh padamu."
"Kyungsoo ...Kyungsoo menyukai Jongin. Begitu juga sebaliknya. Mohon appa pertimbangan perasaan Kyungsoo!"
Tuan Oh malah tertawa seakan ucapan Sehun adalah hal konyol yang pernah ia dengar. "Tenang saja, tamu-tamu spesialmu sudah dapat undangan pernikahanmu hari ini... Termasuk Jongin. Kurasa Jongin harus mengalah kali ini. Untuk si gadis China mungkin akan appa kirim besok, bersama tiket penerbangan ke China."
"Jongin sudah tau," ulang Sehun tak percaya. Bagaimana bisa ayahnya menyiapkan semua secepat ini dan tanpa persetujuan mempelai. Bahkan Kyungsoo saja pasti belum tau semua ini. Ayahnya pasti sudah gila.
.
.
.
Suara hak tinggi Kyungsoo bergema sepanjang koridor apartemen Jongin. Tekatnya sudah bulat. Ayah Sehun pasti tidak akan membatalkan pernikahan, walaupun sampai hari ini Sehun belum memberi kabar. Sebelum marganya berubah dan hidup dalam keluarga Oh yang mengerikan, dirinya harus melakukan sesuatu untuk membantu anak-anak panti.
Jongin yang baru saja selesai menelepon seseorang terlihat terkejut melihat Kyungsoo ada di apartemennya. "Kyungsoo! Kau sudah baikan?"
"Aku baik-baik saja, Jongin! Ayo temani aku minum!" Kyungsoo menaruh kantong plastik berisi minuman di meja dapur.
Jongin langsung menolaknya, "Aku tidak suka alkohol, akan kutemani mengobrol saja."
"Tenang saja, aku bawakan minuman soda tanpa alkohol untukmu" ucap Kyungsoo diam-diam tangannya meremas dressnya sendiri. "Dan kurasa mengobrol bukan kata yang tepat untuk malam ini, lebih dari sekedar mengobrol."
"Luhan sudah mencapai batasnya. Mari kita cari tau juga dimana batasmu, Jongin!"
.
TBC
.
.
Note :
Untuk Luhan pas sering ke apartemen Jongin saya rangkum aja lewat Kyungsoo karena otak saya belakangan ini pendaharan (bukan makna sebenarnya) kebanyakan revisi skripsi. Kapan saya lulus... Hmmm...
Ooh iya kemarin ada yang tanya, baekhyun denger percakapan chansoohun ngga? Jawabannya tidak, ibu negara udah bobok cantik. *bayangin baekhyun tidur*. Belum saatnya Baekhyun tau, kalau taunya dari percakapan aja ntar ngga dramatis. Kenapa jongin ngga tau apa-apa? Biar salah paham. Simpel banget ya alasan saya?
Soal sel telur itu iyap bener sekali, saya terinspirasi dari Midnight Runners, keren banget serius. Sekarang saya baru nonton "Be with you", siapin tisu saran saya kalau nonton ini. Kemarin saya nobar di kost temen film "A Quiet Place", sekarang kalian tau kan kenapa saya ngga lulus-lulus... Nonton film mulu. -_-
Dari komentar yang saya baca kemarin, sepertinya kalian makin pintar main tebak-tebakan. Saya hanya mau bilang "Ya, hampir benar... Tapi bukan itu jawabannya."
