My Famous Husband Jung

By LadySinner_25

.

.

.

.

.

Jaejoong menunggu Yunho pulang dia ingin makan malam bersama dengan suaminya tercinta. Dia menyiapkan menu makan malam kesukaan Yunho, ttokbokki.

Jaejoong sedikit muram saat melihat sekilas kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 malam dan Yunho belum pulang juga. Dia sama sekali tidak mendapatkan telepon dari Yunho yang mengatakan kalau dia akan terlambat, jadi Jaejoong berasumsi kalau malam ini suaminya akan pulang ke rumah tepat waktu.

Jaejoong mengalami waktu yang sulit di sekolah hari ini karena seorang yeoja yang bernama Hwang Tiffany lagi. Changmin tidak ada disana untuk melindunginya jadi dia harus menghadapi geng Tiffany sendirian, seperti yang sudah sering dia lakukan sebelumnya.

Flashback

"Hey cupu!" Tiffany memdatangi Jaejoong dengan seringai yang menempel diwajahnya.

'Uggghhh. . . tidak lagi,' Jaejoong berguman pada dirinya sendiri. Dia sedang duduk di cafetaria dan menikmati makan siangnya ketika yeoja itu menghampirinya, dan seperti biasa dengan dua setan bersaudara yang selalu bersamanya, memuja pemimpinnya seperti anjing yang siap menerima perintah apa saja dari nenek sihir pemimpin mereka yang jahat.

"Apalagi kali ini Tiffany?" Jaejoong bicara dengan nada ketus. Dia tidak mendapat pagi yang bagus untuk memulai harinya karena Yunho pergi lebih awal lagi dan hanya mendapat sarapan pagi dari suaminya yaitu pancake gosong dan jus nanas yang sangat asam. Walau begitu Jaejoong mendapatinya sangat manis, suaminya berusaha dengan segenap daya upaya membuat sarapan untuk dirinya.

Perlu diketahui Yunho tidak akan pernah mau mengasah keahliannya dalam bidang memasak karena pada dasarnya dia tidak punya bakat dalam memasak dan yang ada dia akan mengacaukan dapur. Dan tentu saja dia masih ingin hidup lebih lama. Jadi, terkadang upaya yang dilakukan suaminya terbuang percuma dan berakhir di tong sampah sebelum dia keracunan oleh suaminya sendiri.

Jaejoong meninggalkan rumah tanpa memakan sarapannya, walaupun dia harus menjaga kesehatannya karena dia baru saja terkena demam dan radang tergorokan. Dan dia tidak pernah lupa untuk menempelkan pesan dilemari es yang berbunyi 'Jangan menyentuh segala sesuatu yang ada di dapurku Jung kalau kau tidak ingin aku mati' sebelum akhirnya meninggalkan rumah dengan mempoutkan bibirnya.

"Yah kutu buku!" Jaejoong mengangkat lepalanya, seakan tersadar dari ingatannya tentang pagi yang dia lalui di rumah seorang diri dan masih mendapati para nenek sihir berada dihadapnnya sekarang.

Bibir dua evil bersaudara yang dihiasi lipstick tebal membentuk huruf 'O' saat melihat apa yang dibawa oleh ketua gengnya.

'Aku melihat ini jatuh dari bukumu yang tebal di kelas dan aku sungguh terkejut mengetahui kalau kau sebenarnya tidak berbeda dengan kita.' Tifanny mengipaskan selembar kertas yang terlihat seperti sebuah foto didepan wajahnya.

Jaejoong tiba-tiba menjadi lebih waspada ketika dia mengingat kalau itu adalah salah satu foto Yunho. Dia mencoba untuk melihat foto itu dan menyadari itu adalah foto Yunho seorang diri dan ada tandatangan suaminya dibalik foto tersebut.

"Apa itu? Berikan padaku Tiffany." Jaejoong mencoba untuk mengambil foto tersebut tetapi Tifanny mengangkatnya lebih tinggi keatas.

"Tidak mau!"

Jaejoong mencoba untuk berdiri tetapi dia dipegangi oleh dua anak buah penyihir itu dikedua sisinya dan tidak ada pilihan baginya untuk kembali duduk.

'Jika benda itu milikku, aku yakin kau harus mengembalikannya padaku Tiffany,' kata Jaejoong dengan suara tegas namun tidak membuat yeoja-yeoja itu tersentak. Dia hanya takut kalau dia tidak bisa lagi mengontrol kemarahannya lagi dan dia merasa bisa meledak kapanpun. Tetapi sekali lagi dia mencoba untuk menenangkan dirinya, apalagi dia masih berada di kanti sekolah. Sekarang saja dia bisa melihat kalau mereka telah menarik perhatian dari siswa lainnya.

'Kalau kau sudah menjatuhkannya dan sebagai orang pertama yang mengambilnya maka aku yakin kalau benda ini akan menjadi milikku sekarang apalagi jika ini berhubungan dengan Yunho oppaku.' Tiffany membalik foto tersebut didepan wajah Jaejoong sehingga dia bisa melihatnya dengan baik dan benar itu adalah Yunho.

Jaejoong menghela napasnya. 'Apa yang kau inginkan?'

'Pertama kau harus menjawab semua keingintahuan kita dan kita akan mengembalikan ini kepadamu!" Kata Taeyeon menunjuk foto yang dipegang oleh Tiffany dengan senyum mengejek diwajahnya.

'Itu baru benar cupu," Seringai Yuri.

'Lalu apa yang ingin kalian ketahui? Bisakah kita segera menyelesaikannya?'

'Tidak begitu cepat cupu!' Tiffany menaikkan kedua alisnya dan Jaejoong diam-diam mendengus. Jika dia mempunyai kekuatan sihir pastinya dia akan berharap yeoja itu berubah menjadi katak jelek sekarang juga.

'Bagaimana kau bisa mempunyai ini?' saat ini Yuri yang bertanya tetapi Jaejoong hanya diam.

'Bahkan dia mendapat tandatangan dibelakang fotonya, bagaimana kau bisa begitu beruntung cupu?' Taeyeon tersenyum pada Jaejoong. Beberapa saat Jaejoong berpikir jika Yuri dan Taeyeon tidaklah begitu jahat seperti Tiffany.

'Bagaimana kau mempunyai ini cupu?' Tiffany akhirnya bertanya sendiri.

'Kalau kau tidak mau mengembalikan foto itu padaku maka cari sendiri jawaban atas pertanyaanmu itu karena aku tidak akan memberitahu apapun padamu!' Dengan berani Jaejoong kembali menjawab karena semakin lama dirinya menjadi jengkel dengan ulah mereka, tetapi yang bersangkutan hanya menyeringai kepadanya.

'Benarkah?' Tiffany duduk disamping Jaejoong dan membuat Jaejoong bergerak menjauh. Dia bergerak mendekat ke Jaejoong dan kembali Jaejoong menggeser tempatnya duduk. Yeoja itu terus melakukannya untuk membuat Jaejoong kesal dan mengulangi hal yang sama, bergerak menjauh lagi dan lagi. Tetapi keberuntungan sedang tidak berpihak padanya, Yuri menempati kursi terakhir ketika dia akan mendudukinya dan membuat buttnya langsung mendarat di lantai yang mengundang tawa keras dari siswa-siswi yang ada di kantin.

Jaejoong sungguh marah dan dia tidak dapat lagi menahan amarahnya. Amarah yang telah dia coba untuk kendalikan sedari tadi. Dia berdiri dan dengan menggunakan sebelah tangannya dipukulnya meja dihadapannya dengan keras hingga membuat nampan yang berisi makan siangnya berserakan dan jatuh ke lantai dan menimbulkan denting suara dan gelas pecah di lantai.

Beberapa siswa terkesiap karena terkejut dan Tiffany melebarkan matanya dan kedua pengikutnyapun melakukan hal yang sama. Dia mengambil tasnya dan berjalan menuju kearah Tiffany dan menghadiahinya dengan tatapan tajam terbaik yang pernah diberikan oleh seorang Kim Jaejoong. Dia dekatkan badannya dan berbisik.

'Kau tidak sedikitpun tahu tentang diriku Tiffany dan kau tidak akan pernah menyukainya jika aku sudah marah dan aku mengingatkanmu jangan pernah membuat masalah denganku atau kau akan membawa dirimu sendiri berada dalam masalah dan ini berlaku juga untuk dua bodyguard yang selalu mengikutimu itu. Aku bersungguh-sungguh Tiffany, aku bersumpah!'

Setelah meluapkan seluruh amarahnya, Jaejoong berjalan keluar setelah menabrakkan bahunya ke Tiffany yang sekarang tubuhnya bergetar dan berdiri membeku ditempantnya berdiri. Dia masih tidak percaya kalau di kutu buku Kim Jaejoong dapat membuatnya menggigil ketakutan sesuatu yang tidak pernah dia alami selama hidupnya.

Jaejoong sudah kehilangan minatnya untuk melanjutkan pelajaran di kelas siangnya dan memutuskan untuk pulang ke rumah. Jaejoong sendiri tahu kalau dia akan menjadi sangat berbahaya kalau sudah marah, dia sangat sadar akan hal itu. Jadi lebih baik menhindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

End of Flasback

Jaejoong tersadar dari lamunannya saat jam dinding yang dipajang di ruang makan berbunyi, tanda kalau waktu sudah menunjukan pukul 9 malam. Dan Yunho belum pulang juga, membuatnya menjadi semakin kesal. Ditambah lagi dengan Yunho yang sama sekali tidak menghubunginya untuk memberi kabar.

Dengan sedikit menghentakkan kakinya, Jaejoong berjalan menuju ruang keluarga dan menyalakan TV. Dia mengganti channel tv menggunakan remote mencari channel yang tepat hingga dia melihat wajah suaminya yang tersenyum dalam sebuah wawancara.

Jaejoong tidak pernah bertanya pada Yunho mengenai apa yang akan menjadi jadwalnya selama sehari. Dia juga bukanlah tipe istri yang akan mengintrogasi suaminya mengenai segala sesuatu yang menyangkut karirnya di industri hiburan Korea. Mengapa? Karena dia begitu mencintai Yunho dan memberikan kepercayaannya kepada Yunho. Selain itu, Yunho sendiri akan memberitahunya semua yang akan dia kerjakan dan apapun yang terjadi pada dirinya saat berada diluar rumah.

"Yunhossi. . . anda dinominasikan di penghargaan MKMF yang akan datang, jika anda memenangkannya tahun ini pada siapa anda ingin memberikan terima kasih anda?" Terdengar suara wartawan memberi pertanyaan kepada Yunho.

Jaejoong melihat Yunho memberikan senyum terbaiknya di layar TV dan menggerakkan kedua tangannya.

"Aku berharap istriku sedang melihat tayangan ini sekarang, jika aku menang tahun ini aku akan mempersembahkan penghargaan yang aku peroleh untuk istriku. Seseorang yang tidak pernah meninggalkanku, yang selalu ada untukku. Seseorang yang selalu dapat menenangkanku dan selalu membuatku bahagia! Ini untukmu cantik! Aku mencintaimu!"

Jaejoong tersenyum memandang layar TV dan melihat Yunho yang membanggakan istrinya, membanggakan dirinya. Tetapi senyum itu tidak bertahan lama, dengan cepat memudar saat wajah BoA muncul di layar TV dan dapat dia lihat tangan yeoja itu melingkar dilengan suaminya. Mikrofon langsung berpindah tangan ke BoA dan sekali lagi Jaejoong menyaksikan bagaimana BoA memberikan sebuah senyum menggoda kepada suaminya.

Kali ini terdengar sebuah pertanyaan diajukan untuk BoA. "Wow! BoAssi. . . karena anda ada disini bisakah kita bertanya apakah anda mempersiapkan sebuah persembahan spesial untuk penghargaan MKMF?"

BoA tersenyum kearah kamera dan Jaejoong bisa merasakan kalau senyum evil yeoja itu ditujukan untuk dirinya. "Oh! Iya! Yunho dan aku tengah mempersiapkan sebuah persembahan seksi yang pastinya akan disukai oleh fans kami. Aku berharap kalian semua akan mendukung kita berdua apapun bentuknya! Semangat!"

Jaejoong melihat BoA yang kali ini sedang berbisik di telinga Yunho dan tiba-tiba darahnya menjadi mendidih karena cemburu. Yunho membungkukkan tubuhnya sehingga dia bisa mendengar apa yang akan BoA katakan, tetapi Jaejoong terkejut saat yeoja penggoda suami orang itu malah memberi ciuman kilat didekat bibir Yunho.

Jaejoong bisa melihat bagaimana Yunho yang juga terkejut dan dengan segera melepaskan lengan BoA yang melingkar dilengannya.

Kamera para wartawan mulai bekerja mengambil gambar mereka, tetapi Yunho sudah berjalan pergi meninggalkan tempat wawancara. BoA memberi senyuman dengan makna tersembunyi. Senyumnya seolah berkata 'Kali ini aku yang menang Kim Jaejoong.'

Satu lagi pertanyaan terdengar untuk BoA dari wartawan. "BoAssi. . . apa arti dari ciuman itu? Saya bisa melihat bagaimana reaksi Yunhossi tadi. Dia pasti sangat terkejut!"

"Itu bukan apa-apa. Mengenai hal itu jangan membuatnya menjadi besar. Aku hanya ingin berterimakasih kepada Yunho untuk semua usaha yang telah dia berikan. Kami sibuk berlatih dan berlatih akhir-akhir ini dan aku bisa melihat kalau dia begitu berdedikasi pada pekerjaannya. Dia adalah salah satu artis SM yang sangat aku kagumi! Dan demi Tuhan dia sudah mempunyai istri." BoA menyeringai tipis pada kamera yang dapat dilihat dengan sangat jelas oleh Jaejoong.

Jaejoong hanya bisa mengeratkan kepalan tangannya marah. Dia mematikan TV dihadapannya dan berjalan menuju kamarnya bersama Yunho. Dia membenci BoA tetapi kini dia juga mulai merasa kesal kepada suaminya.

"Kenapa dia tidak bisa menyadari kalau pelacur itu ingin membuat masalah ini menjadi besar? Pabbo Jung! Dan apa yang dibicarakan yeoja itu sih? Jangan membuatnya menjadi besar tapi dia mencium Yunho disiaran TV nasional. Jalang itu! Uggghhh!" Jaejoong menjadi frustrasi dan menarik rambutnya merasa jengkel dan marah yang telah memuncak hingga dalam segenap saja dia sudah sepenuhnya melupakan makan malamnya yang tersaji di ruang makan.

.

.

.

Yunho melirik jam tangannya ketika dia membuka pintu unit apartemen mereka. Waktu sudah menunjukan pukul 3 dini hari. Dia lupa sudah meninggalkan ponselnya didalam mobil jadi dia tidak dapat menghubungi istrinya, dia takut kalau istrinya sedang marah padanya saat ini.

Yunho berjalan di ruang tamu dan melihat lampu di dapur masih menyala. Dia berjalan lagi mendekat dan melihat beberapa piring makanan yang tersaji dengan rapi diatas meja makan masih utuh. Kembali rasa bersalah kepada istrinya menyerang diri Yunho. 'Jaejoong tidak makan lagi?'

Yunho bergegas menuju kamar tidur mereka dan melihat istrinya tertidur lelap di ranjang mereka. Yunho menghela napasnya. Dia perlahan berjalan menjinjit menuju ranjang dan menarik tubuh Jaejoong keatas ke dadanya.

Hari ini dia begitu merindukan istrinya karena akhir-akhir ini dia begitu sibuk. Bahkan dia tidak punya waktu untuk membangunkan malaikatnya karena dia harus pergi lebih awal daripada Jaejoong.

Jaejoong terbangun saat merasakan sebuah tangan yang mengelus punggungnya. Dia mengangkat pandangannya dan melihat suaminya sedang menatapnya. Dipoutkanlah bibirnya. "Yunnie. . . ini sudah larut, apakah kau baru sampai rumah?"

Yunho akan mencium Jaejoong tetapi yang bersangkutan memalingkan wajahnya.

"Aku minta maaf sayang, ada apa?" Yunho merasa sedih saat istrinya menarik diri dari pelukannya dan mendudukan tubuhnya.

"Jung?"

"Iya sayang?"

"BoA atau aku?"

"Mweo?" Yunho menaikan kedua alis matanya.

"BoA atau aku?" Jaejoong bertanya lagi.

"Apa yang kau tanyakan sayang, ini tidak masuk akal!"

"Cukup jawab saja Jung!"

"Tentu saja dirimu sayang! Apa hubungannya BoA dengan hal ini?" Jawab Yunho dengan tegas. Jaejoong mendudukkan dirinya diatas pangkuan Yunho sekarang.

"Apa kau yakin?" Jaejoong menatap Yunho.

"Sayang. . . Apa yang terjadi padamu hari ini huh?" Yunho menciumi wajah Jaejoong dimulai dari keningnya dan Jaejoong kembali menatap suaminya dengan serius. Yunho berhenti menciumi wajah Jaejoong karena dia merasa istrinya tidak memberikan respon.

"Ada apa sayang?"

"Setiap bagian dari tubuhmu adalah milikku Jung. Setiap bagian yang BoA telah sentuh adalah milikku dan milikku sendiri. Jangan biarkan dia menyentuhmu lagi seperti itu. Aku benci kalau kau sudah menjadi terlalu baik, kadang-kadang sampai kau tidak sadar dia mengambil keuntungan dari dirimu. Kau harus tahu kapan dan dimana untuk menggunakan indera perasaanmu JUNG! Aku berharap kita berdua jelas mengenai hal ini."

Jaejoong berdiri tetapi Yunho menahannya dengan memegang lengannya. Yunho bisa melihat istrinya begitu serius kali ini. Dipegangnya dagu Jaejoong dan menciumnya dibibir.

"Tidak ada yang bisa menyentuhku kecuali istriku. Aku tahu itu, tapi kau tentu mengerti seperti apa bidang yang aku geluti sayang. Ini masalah kecil dan kita tidak perlu mendiskusikannya lagi." Jaejoong menatap tajam Yunho.

"Masalah kecil? Dia menciummu didepan TV nasional dan kau bilang itu hanya masah kecil?"

"Kau melihatnya?"

"Iya, aku melihatnya disaat yang tepat. Yeoja itu akan selalu berusaha untuk membuatku kesal!" Yunho memeluk erat Jaejoong dan Jaejoong merasa sangat terlindungi berada dipelukan suaminya. Dia meletakkan kepalanya didada Yunho dan menghela napas beratnya.

Yunho mengangkat dagu Jaejoong dan menciumnya dibibir dengan penuh gairah. Jaejoong bisa merasakan cinta dalam ciuman Yunho. Dia bisa merakan rasa aman didalamnya dan cinta abadi suaminya untuk dirinya. Ketika mereka menarik diri dari ciuman Jaejoong mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh pipi kiri Yunho.

"Kenapa kau harus begitu terkenal dikalangan para yeoja? Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, aku tidak pernah merasa tidak aman karena aku tahu kau mencintaiku. Tapi saat melihat bagaimana BoA menatapmu dan menciummu, aku merasa sungguh takut. Takut kalau dia mungkin merusak hugungan kita, takut kau dia mungkin menghancurkan apa yang kita punya. Aku sungguh takut kalau kau akan menyerah. Aku sungguh takut kehilangan dirimu Yunnie."

Jaejoong menenggelamkan wajahnya dileher Yunho, sedangkan Yunho mengusap-usap punggungnya.

"Kau tidak akan kehilangan aku sayang, tidak ada yang akan bisa menggantikanmu. Apa kau pernah membayangkan bagaimana aku akan menjalani hidupku tanpa dirimu malaikatku? Aku sangat mencintaimu, kau harus tahu itu. Dan aku sebenarnya berpikir kalau aku adalah suami yang posesif tetapi sekarang aku berpikir meja akhirnya telah terbalik? hmmm?"

Yunho mencium rambut Jaejoong dan yang bersangkutan merapatkan tubuhnya ke suaminya.

"I love you Yunnie, aku sangat mencintaimu."

"I love you yunnie, I love you so

much." Suara Jaejoong teredam di baju yang Yunho kenakan dan Yunho hanya tersenyum melihat bagaimana istrinya bisa menjadi begitu lucu.

"I love you more, kau tahu itu sayang!" Jaejoong menganggukkan kepalanya dan lebih menekankan tubuhnya sendiri ke sang suami.

.

.

.

tbc

.

.

.

Editor's note :

Annyeong..

jumpa lagi dengan membawa updatean MFHJ Chapter 8.

Masih dengan bahasa yang tidak baku, typo dimana-mana, dan minta maaf kalau ada kata-kata yang kurang berkenan.

Terima kasih atas segala dukungan yang diberikan lewat review yang diberikan, ngefollow atau ngefav MFHJ. Dan selamat datang buat reader baru.

And dont forget to give ur review..

Thank you so much..

YunJae love is real 3

YunJaeddiction