MASK

"Semua orang memakai topeng untuk kau cintai.

Jika kupakai topeng burukrupa, akankah kau mencintaiku?"

.

.

CHAPTER 13

.

.

.

.

Kyungsoo berdiri dengan satu koper di tangannya sedangkan Sehun berdiri dengan dua koper di belakangnya. Kris memberikan alamat markasnya secara cuma-cuma, entah apa yang ia pikirkan hingga seenaknya memberitahu tanpa takut Kyungsoo membawa polisi bersamanya untuk melakukan penangkapan. Sebenarnya Sehun pun juga sudah tau tapi tetap saja tindakan gegabah dari Kris ini cukup janggal bagi Sehun.

"Apa kabar, Nona Do Kyungsoo! Bagaimana harimu? Semakin hari kau kelihatan semakin cantik saja ~" Sapa Kris dengan ramah layaknya bertemu kawan lama. Lalu ia melirik Sehun yang berdiri di belakangnya. "Tak kusangka kita bertemu lagi, Sehun-ssi. Bagaimana kekasihmu? Apa sudah meninggal juga?"

Gigi Sehun gemertuk menahan marah, namun ia membalas Kris dengan wajah dinginnya. "Urusi saja kekasihmu sendiri!" balas Sehun sengit.

"Kalian pernah bertemu?" tanya Kyungsoo pada Sehun. Sehun menaruh kopernya dan Kyungsoo di hadapan Kris lalu berdiri sejajar dengan Kyungsoo. "Ya, jika tau dia membuatmu seperti ini. Harusnya aku menembaknya hari itu juga," jawab Sehun.

"Mungkin lain kali jika kita berempat bertemu lagi, kita harus lebih mendalami peran kita masing-masing. Akan ku sediakan peluru yang bagus khusus untuk menembus tubuh kalian," sahut Kris sambil menyuruh anak buahnya mengamankan koper-koper yang Kyungsoo bawa.

"Berikan dokumen tanah dan bangunannya pada gadis cantik itu. Lalu periksa mereka juga. Siapa tau mereka bawa senjata atau alat perekam," perintah Kris. Pria-pria berjas hitam dan bermasker hitam segera melaksanakannya.

Kyungsoo maupun Sehun mengangkat tangannya untuk memudahkan anak buah Kris memeriksa pakaian mereka berdua. Ketika anak buah Kris akan mengecek pakaian Kyungsoo, Kris langsung menghentikannya. "Yang laki-laki saja!" bentak Kris ketika melihat anak buahnya akan menggerayangi Kyungsoo.

Sehun tertawa sekilas. "Sepertinya aku pernah melihatmu," guman salah satu anak buah Kris yang mengecek pakaian Sehun. Sehun ingat betul pemuda itu yang kemarin menggeplak kepalanya saat menyusup kemari. "Wajahku memenuhi halaman depan koran belakangan ini," balas Sehun santai.

"Dia tidak membawa senjata maupun alat perekam apa pun, Tuan. Tapi nona ini – "

"Sebenarnya aku ingin mengeceknya sendiri. Tapi aku penjahat yang punya sopan santun. Aku tak bisa menggrayangi gadis yang akan bersuami apalagi calon suaminya ada disini. Harusnya aku memintamu datang sendiri," ujar Kris yang di sambut decakan tak suka dari Kyungsoo.

"Jika kau curiga padaku aku bisa melepas pakaianku agar kau yakin aku tak membawa senjata apa pun," kata Kyungsoo dengan berani.

Kris mendekat menghampiri Kyungsoo. Sehun mulai was-was. "Lakukan, buat aku yakin kalau begitu!" bisik Kris. Kyungsoo langsung tersenyum miring sambil memegangi kancing kemejanya bersiap membukanya satu persatu.

"Kyunggg!" geram Sehun ingin segera menghentikan aksi nekat Kyungsoo.

"Disini telalu banyak mata mengawasiku. Aku tak ingin tubuhku jadi tontonan," ujar Kyungsoo. Kris langsung meminta Kyungsoo mengikutinya ke kamarnya. Sehun ingin mencegahnya, namun anak buah Kris segera menahannya.

Ketika memasuki kamar Kris, samar-samar Sehun meneriaki namanya masih terdengar. Kris duduk di sofa di samping ranjang besarnya. Banyak ornamen khas negeri tirai bambu di kamarnya. "Eommaku orang China," ujar Kris tanpa Kyungsoo bertanya terlebih dahulu.

Kyungsoo hanya ber'ooh' ria sambil membuka kancing celana jeansnya lalu menurunkan zippernya. "Kau gadis paling pemberani yang pernah ku kenal," komentar Kris melihat Kyungsoo sudah menurunkan celana jeansnya hingga paha mulus Kyungsoo begitu menyita perhatiaannya.

"Lebih baik ucapkan selamat atas pernikahanku," balas Kyungsoo.

"Selamat. Aku sungguh penasaran apa Kim Jongin benar-benar membuangmu?"

Bagian bawah Kyungsoo sudah telanjang hanya tersisa celana dalamnya. Tangan cantiknya berpindah melepaskan satu per satu kancing kemejanya. Bergitu pelan dan sangat seksi di mata Kris. "Ya, jadi aku berpindah ke calon suamiku. Dia cukup tampan juga kan?"

Kris mengangguk. "Kau pintar membuat geger rakyat Korea."

Kyungsoo tersenyum simpul sambil melepaskan kemejanya hingga jatuh kebawah. Sekarang hanya tinggal pakaian dalamnya yang melekat di tubuhnya. "Lihat, aku tak bawa apa pun!"

"Sungguh disayangkan kau tak menerima tawaranku. Malah memilih disakiti kekasihmu sendiri." Kris tersenyum miris melihat tubuh Kyungsoo masih banyak berbekas tanda yang di berikan Jongin. "Aku belum yakin, bisa kau buka semua?"

"Tubuhku yang tertutupi ini lebih mengerikan keadaannya."

Di luar dugaan Kyungsoo, Kris tak memaksanya ia malah berjalan menuju meja di dekatnya. Membuka laci dan melemparkan sebuah kotak ke arah Kyungsoo. Kyungsoo langsung sigap menangkapnya dan menatap kotak itu bingung.

"Gunakan itu! Semoga tubuhmu sudah membaik ketika malam pertama kalian."

Kris duduk kembali di tempatnya, "Jangan salah paham. Aku bukan baik padamu. Aku sangat membencimu, asal kau tau. Aku hanya ingin kau secepatnya menikah dan berhenti membebani Chanyeol. Kau sudah terlalu banyak menyusahkannya."

"Ya, aku sadar hal itu," Kyungsoo mengakuinya.

"Kau tak kaget Chanyeol selama ini dekat denganku?" tanya Kris.

"Sedikit, aku hanya menebak ia sudah punya kekasih. Aku sering menemukannya sibuk bertukar pesan dan ketika mandi bersama ada yang berubah dari tubuhnya. Tidak perlu kujelaskan kau pasti sudah paham," jawab Kyungsoo tenang.

"Pasti tak mudah menaklukkan Chanyeol. Dia sebelas duabelas denganku jika masalah hubungan." lanjut Kyungsoo memandang Kris yang tertawa senang mendengar tebakan Kyungsoo.

"Makanya aku pernah bilang kalian berdua sama-sama menarik dan mirip satu sama lain. Bisa di bilang sangat susah, dia bahkan mengirimiku pesan bernada mengancam."

"Kau tak khawatir Chanyeol menghianatimu?" tanya Kyungsoo mencoba membuat keraguan di hati Kris.

"Dia tak mencampuri urusanku sampai sejauh ini. Buktinya dia membiarkan kau kesini dengan berkoper-koper uang. Dia juga tak melaporkanku ke polisi padahal ia sangat mampu untuk melakukannya. Walaupun begitu dia terus memintaku membuat pengecualian untukmu, jika bukan karenanya mungkin kau sudah kuperkosa lalu ku jual tubuhmu atau membunuhmu juga menyenangkan."

Kyungsoo berdecak tak percaya, "Ohh.. Ya Tuhan, Chan.. Apa tak ada yang lain selain pria ini."

"Aku juga sudah menawarinya tinggal di luar negeri bersamaku. Hidup normal, aku akan melepaskan semua ini. Sebelum musuhku banyak yang tau dan menggunakan Chanyeol sebagai kelemahanku. Satu-satunya alasan dia menolak karena ada tanggungan dirimu. Jika kau mati, maka tak ada alasan lagi."

"Aku tak akan membiarkanmu, Kris! Kau boleh hidup normal tapi dosa dari perbuatanmu harus di bayar dulu. Jikapun kau berhenti, kelompokmu akan tetap jalan hanya berganti kepemimpinan saja."

DOORRRR! Suara tembakan membuat Kris sedikit kesal. Bukankah Sehun tak bawa senjata, pasti ia merebut senjata anak buahnya. "Pakai pakaianmu. Suamimu sungguh merepotkan, padahal aku hanya mengobrol saja."

Di luar Sehun sudah membuat keributan. Beberapa anak buahnya sudah jatuh tersungkur babak belur, hanya satu yang tertembak. "Mana Kyungsoo?" seru Sehun dengan nafas tak beraturan sambil mengarahkan senjata ke arah Kris yang berjalan pelan ke arahnya. "Dia sedang memakai bajunya. Tenangkan dirimu, bung! Aku tak melakukan apa pun padanya."

Ketika melihat Kyungsoo sudah keluar Sehun baru mau menurunkan senjatanya dan melemparnya asal. Sehun tak bisa menutupi raut wajahnya yang begitu khawatir. "Aku baik-baik saja," guman Kyungsoo lirih.

"Terima kasih atas kerja sama kalian. Silahkan jika kalian ingin berpelukan atau berciuman di luar saja. Aku tunggu undangan pernikahan kalian, aku belum dapat," kata Kris.

"Maaf hanya keluarga dan kerabat yang di undang. Kupikir kau tidak masuk salah satunya," sahut Sehun sinis.

"Aku tetap akan datang," ujar Kris angkuh.

Kyungsoo menarik Sehun untuk segera pergi dari sana. Urusannya sudah selesai, ia tak perlu berlama-lama disini. Selepas kepergian mereka berdua, Chanyeol keluar dari bagian gelap sudut ruangan disana. Karena tertutup almari yang cukup besar dan sinar matahari hanya berfokus pada tengah ruangan yang kosong dan luas. Membuat Chanyeol yang berdiri sembari mengamati apa yang terjadi tanpa di lihat siapa pun, kecuali Kris.

Anak buah Kris yang tak tau Chanyeol sudah disana sejak tadi membungkuk memberikan hormat pada Chanyeol. Chanyeol berjalan melewati anak buah Kris dengan santainya, lalu memasukan kedua tangannya ke saku jaketnya ketika sudah tepat di hadapan Kris. "Sudah puas bermain, fan?" tanya Chanyeol.

Kris menaikan sebelah alisnya. "Apa peran utamanya sudah ganti?" Kris malah berbalik bertanya. Chanyeol mengangkat kedua pundaknya tanda dia sendiri juga tidak tau. "Kenapa tak kau cari tau saja sendiri!"

"Aku sibuk, aku sudah ada janji mengajak adikku jalan-jalan hari ini."

"Kenapa tidak cari tahu sambil jalan-jalan dengan adikmu?"

"Karena aku janji jalan-jalan saja."

"Terserah, kau jalan-jalan sambil menebas kepala orang pun aku juga tak peduli." Chanyeol sudah kesal menanggapi ucapan Kris. "Aku hanya ingin bertanya tentang foto Kyungsoo dengan Jongin yang tersebar ke media - "

Kris langsung paham dan menyahut, "Kau mencurigaiku? Kenapa tak cari tau saja sendiri?" saran Kris meniru ucapan Chanyeol.

"Aku sibuk, aku sudah ada janji diajak kakakku jalan-jalan hari ini."

Kris berdecih, kalimatnya gantian di tiru. "Tsk..kakak apanya. Kau tak pernah memanggilku 'hyung' "

"Tunggu sampai aku sekarat dulu baru ku sebut hyung," sahut Chanyeol berbalik melangkah pergi.

"Hentikan dia!" perintah Kris membuat semua anak buahnya menghadang jalan keluar Chanyeol.

"Jika kalian berani menghalangi jalanku. Aku akan membuat pimpinan tampan kalian tergeletak dengan penis sudah buntung. Jadi menyingkirlah!" ucap Chanyeol tanpa rasa takut sedikit pun.

"Aku mendengarmu, Chan ! " sindir Kris yang mengambil jaketnya segera menyusul Chanyeol.

Di sisi lain Kyungsoo yang sudah sampai di apartemennya segera menaruh kotak pemberian kris di mejanya. Lalu bergegas memasukan baju ke kopernya, menatanya serapi mungkin. Ia tak butuh banyak baju, ini hanya perjalanan singkat. Setelah selesai ia melepaskan kemejanya dan merogoh isi bra-nya. Benda kecil yang berharga, di dalamnya terdapat salinan isi laptop Kris. Kyungsoo menaruhnya di atas meja, lalu pergi tanpa mengunci kamar.

.

.

MASK

.

.

Chanyeol terlihat gelisah hari ini di mata Baekhyun. Ia terus mondar mandir sambil menerima telepon dari seseorang. Baekhyun hari ini sedang libur jadi ia akan seharian di apartemen Chanyeol. "Mau kubuatkan teh, Chan?" tawar Baekhyun.

"Tidak, terima kasih, " tolak Chanyeol secara halus. Ia sudah mengakhiri panggilannya. Keadaannya sedang buruk sekarang, ia ingin melakukan sesuatu tapi dirinya tidak tega. "Mmmm.. Baek, bisa kita bicara sebentar?"

Baekhyun mengernyit bingung, lalu ia mengangguk. "Bicaralah! "

"Bisa ikut ke kamarku? Mmm... Aku takut tiba-tiba Kyungsoo atau Sehun masuk tanpa permisi," jelas Chanyeol.

Akhirnya Baekhyun membuntutinya ke kamar, Chanyeol sudah memikirkan ini matang-matang jadi ia mengunci kamarnya. Baekhyun agak kaget ketika bunyi pintu terkunci terdengar.

"Maaf" ucap Chanyeol lirih sampai Baekhyun tak dapat mendengarnya karena bibir Chanyeol tiba-tiba menempel pada bibirnya. Memberikan lumayan-lumatan kecil sembari membelai tengkuknya untuk sedikit memiringkan kepalanya agar Chanyeol dapat menciumnya lebih dalam. Bunyi pertarungan bibir dan lidah mulai terdengar. Namun tetap Chanyeol yang memimpin.

Baekhyun tidak tau apa yang terjadi, tapi ini yang ia inginkan selama ini. Apa Chanyeol punya perasaan yang sama dengannya? Pertanyaan itu terjawab ketika Chanyeol menyudahi ciumannya lalu menunduk seperti merasa bersalah.

Baekhyun ingin berucap untuk bertanya tapi Chanyeol bersuara duluan, "Katakan apa kau menyukaiku, Baek?"

"C-Chan... "

"Apa kau menyukai ciumanku tadi? Apa kau menyukaiku?" tanya Chanyeol sekali lagi dengan kedua tangannya memegangi pundak Baekhyun. Dirinya tidak sadar awalnya, namun Sehun memberitahunya dan mengatainya bodoh karena dari gelagat Baekhyun sudah sangat jelas.

"Ya," jawab Baekhyun menatap dalam ke mata Chanyeol.

"Apa ini yang membuatmu menyebarkan foto Kyungsoo dan Jongin? Apa kau cemburu kedekatanku dengan Kyungsoo?" Chanyeol menekan suaranya agar tidak terdengar membentak.

"Dia menyelingkuhimu, Chan! Aku melihatnya di pusat perbelanjaan sedang berduaan dan terlihat mesra. Aku tidak rela kau diperlakukan seperti itu!" tutur Baekhyun jujur. Chanyeol tak bisa marah sekarang, Baekhyun sudah dibutakan cintanya untuk membela dirinya. Walaupun tindakannya tak bisa dibenarkan.

"Kau tau Baek akibatmu membocorkannya ke media? Kyungsoo akan menikah dan foto itu tersebar, ia menerima hujatan dari teman-teman di kampusnya bahkan sosial medianya dibanjiri komentar negatif."

"Aku... Dan Kyungsoo hanya berteman dekat, tidak lebih, kurasa kau salah paham, " lanjut Chanyeol mengklarifikasi semuanya.

"Tapi aku melihat kalian saling memeluk, berciuman, dan tidur bersama. Kupikir kalian sepasang kekasih."

"Aku menyukainya tapi dalam batas pertemanan, ada sesuatu yang membuat kita tak bisa menjadi sepasang kekasih. Meskipun aku mencintainya sekalipun."

"Lalu bagaimana denganku?" tanya Baekhyun hati-hati.

"Begitu juga dengamu, Baek. Walaupun aku ingin, aku tak bisa. Inilah kenapa aku mewanti-wantimu untuk jangan sampai jatuh hati padaku. Karena aku tidak mampu membalasmu."

"Kenapa?" desak Baekhyun. "Apa aku kurang cantik? Apa aku terlalu pendiam? Apa karena aku - "

Chanyeol menciumnya lagi, kali ini Baekhyun dapat merasakan perasaan frustasi dari ciuman Chanyeol. Jadi Baekhyun mendorong dada Chanyeol untuk segera melepaskan ciumannya.

Chanyeol mengusap air liur yang menggantung di bibir Baekhyun karena ciumannya. Sembari mengusap bibir Baekhyun, Chanyeol berucap kembali dengan nada rendah. "Kau cantik, kau seksi, kau pintar memasak, kau perhatian, kau sangat tulus kepadaku, kau juga penuh sopan santun. Tapi tetap saja aku tak bisa memilihmu."

"Lalu kenapa, Chan?"

Chanyeol menelan ludahnya kasar, "Aku gay, Baek."

Baekhyun mencoba mencari kebohongan dari mata Chanyeol yang menatapnya sayu. "Kau pasti bohong padaku, Chan! Buktinya kau menciumku tadi... Apa ini kurang membuktikan aku menyukaimu?"

Baekhyun berbuat nekat melucuti bajunya sendiri hingga polos tanpa sehelai benang pun di tubuhnya. Lalu kembali mendorong Chanyeol ke ranjang dan mencium bibir Chanyeol, kali ini ia yang memimpin. Chanyeol yang tidak tega hanya bisa membiarkan aksi Baekhyun, percuma saja ia hentikan.

"Walaupun tubuhku sudah banyak dijamah pria dengan paksa. Tapi aku kali ini aku menyerahkan tubuhku untukmu, karena aku hanya menyukaimu. Aku tidak peduli sekalipun kau gay, aku akan membuatmu lurus kembali."

Bersamaan dengan berhentinya ucapan Baekhyun. Kancing kemeja Chanyeol satu per satu terbuka, Baekhyun menjilati dan menciumi sepanjang dada sampai perut mengabaikan Chanyeol yang terus memanggilnya berusaha menghentikan aksinya.

"Baek~ kumohon Baek ini tidak benar," ucap Chanyeol mengiba karena Baekhyun sudah memegangi celananya dan mengeluarkan isinya.

"Baekk~~…Kumohon jangan begini,"

Baekhyun mengambil benda panjang milik Chanyeol lalu memasukan ke mulutnya, mengeluar masukan layaknya permen lolipop. Namun benda itu tak juga tegang padahal ia sudah melakukan segala cara. "Kenapa tak mau bangun? Apa aku kurang menggoda dimatamu Chan?" tanya Baekhyun bernada sedih.

Chanyeol sudah tak bisa berkata-kata lagi. Ini kalinya pertama ada wanita yang menyukainya sampai senekat ini. Jujur, Chanyeol juga sakit menyakiti wanita setulus Baekhyun. Jika logikanya masih jalan, ia akan menerima Baekhyun dan memberitahu eommanya bahwa ia punya kekasih wanita. Dengan begitu eommanya tidak merasa sedih lagi. Tapi hati kecilnya menolak, ini sama saja membohongi semua orang bahkan dirinya sendiri.

Baekhyun yang masih mencoba menghisap miliknya akhirnya Chanyeol hentikan. Chanyeol memeluk tubuh mungil dan polos itu. "Maaf, Baek.. Maafkan aku! " ucapnya tulus dari hati. Air matanya sampai tak bisa di bendung. "Harusnya aku memberitahumu lebih awal.. "

.

Setelah itu Chanyeol memilih mencari ketenangan di gereja Suho. Sebelum ia duduk terdiam disana, ia sudah menyiapkan makan malam untuk Baekhyun. Gadis itu tertidur karena kelelahan menangis. Ia juga sudah membuat note kecil di meja dapur, memberitahunya bahwa ia mungkin tak pulang beberapa hari kedepan dan menyertakan amplop berisi uang yang dapat Baekhyun gunakan.

Chanyeol menangis keras disana mengabaikan handphonenya yang terus bergetar. Selain insiden pengakuannya dengan Baekhyun, hari ini Kris memberitahunya bahwa file di laptopnya sudah di bobol. Isinya informasi tentang jaringan penyelundupan senjata dan daftar wanita yang ia jual dan donorkan sel telurnya. Jika informasi ini bocor, Kris dan kelompoknya akan di tangkap dengan mudah. Polisi tidak bisa tunduk dan takut padanya lagi.

Pelaku utamanya adalah Kyungsoo, karena hanya Kyungsoo orang luar yang memasuki kamarnya. Jadi Kris meminta Chanyeol mengambilnya secara diam-diam. Sekarang tangannya memegangi flashdisk kecil itu dan selembar kertas yang Kyungsoo tulis.

Jika kau sudah menemukan ini dikamarku, berarti sekarang aku sudah tak di Korea lagi. Aku sedang buru-buru. Maaf tak memberitahumu.

Aku ingin membawa ini ke polisi, tapi aku teringat padamu. Aku takut membuatmu sedih karena Kris akan di tangkap jika aku melakukannya.

Jadi kuserahkan padamu apa pun pilihanmu, Chan ~

Aku selalu mendoakanmu dan mencintaimu. - Do Kyungsoo -

Kyungsoo sudah tau semuanya. Chanyeol rasa Sehun yang membuat Kyungsoo sadar jika dirinya tak lagi ada di belakangnya. Atau mungkin Kris sendiri yang memberitahunya, Chanyeol tidak tau. Yang dapat ia pastikan Kyungsoo sudah tau hubungannya dengan Kris. Namun gadis itu tak marah walaupun sudah ia bohongi, ia malah memikirkan dirinya.

Chanyeol terus menangis karena merasa bingung dan bersalah pada Kyungsoo dan Baekhyun. Kyungsoo bahkan tak memberinya kabar sejak ia menghilang. Padahal besok adalah hari pernikahannya. Ia juga bingung harus memberitahu Kris atau tidak. Akhirnya ia hanya bisa menangis sendirian seperti ini. Belakangan ini dirinya memang begitu cengeng.

"Mengapa pria jahat dan menjijikan sepertiku terus Kau biarkan hidup!" seru Chanyeol dalam tangisnya.

Tangis Chanyeol terdengar begitu keras sampai beberapa anak panti yang kebetulan punya tugas membersihkan gereja inginkan menghampiri dan bertanya pada Chanyeol. Namun Suho yang sedari tadi duduk dikursi paling belakang meminta anak-anak itu untuk segera kembali ke asrama.

Suho dengan setia duduk diam menunggui Chanyeol sampai suara tangisnya tak terdengar lagi. Ia pun segera mengambil selimut dan bantal dari kamarnya dan berjalan mendekat ke arah Chanyeol yang tertidur meringkuk di kursi. Mengangkat kepala Chanyeol untuk memberinya bantal kemudian menyelimutinya.

Suho dapat melihat wajahnya lengket karena air mata yang mengering. Samar-samar ia masih ingat bagaimana bocah ini sering tertawa dan berbicara begitu ramah. Bagaimana ia dengan setia membuntuti kemana pun Kyungsoo pergi. Menurutnya Chanyeol anak yang baik namun begitu rapuh, dia banyak membantu orang termasuk adiknya, Sehun. Tapi dirinya juga butuh tempat bersandar, sayangnya ia tak punya siapa pun.

Tangan Suho menyisir pelan kesamping anak rambut Chanyeol yang menjuntai menutupi wajah tampannya. "Kau pasti lelah jadi orang baik, Chanyeol-ssi! Aku mendengar dari Sehun bahwa kau punya orientasi berbeda. Pasti sulit menjalani hidup seperti itu. Bagaimana dengan keluargamu? Bagaimana dengan teman-temanmu? Bagaimana masyarakat memandangmu? Bagaimana kau menemukan orang yang mencintaimu...? Pasti sangat sulit menjawab pertanyaanku ini."

"Tidurlah nyenyak, jangan khawatirkan apa pun. Semua akan baik-baik saja. Kuharap Tuhan selalu menyertaimu. Amien."

.

.

.

Kediaman keluarga Kim di kejutkan tuan mudanya yang mendadak pulang ke rumah. Nyonya Kim tentu senang putranya datang, masalahnya anaknya yang berkulit tan tersebut pulang setelah menjadi headline di berbagai artikel di situs berita. Selain itu pertama kali Jongin pulang dengan wajah babak belur karena Sehun. Sejak saat itu Jongin mengurung diri di kamar keluar saat sudah malam, itu pun hanya duduk di taman belakang memandangi langit malam tanpa melakukan apa pun.

"Kupikir saat bocah itu mengamuk sampai tidak mau turun dari pohon adalah kejadian yang paling menghawatirkan. Rupanya saat mengamuk hanya diam begini lebih mengkhawatirkan lagi," ujar Tuan Kim yang baru pulang kerja memandangi putra semata wayangnya yang duduk seperti orang depresi.

"Lakukan sesuatu, sayang.. Bukan malah mencemooh begitu," tegur Nyonya Kim membawakan teh hangat untuk suaminya.

"Aku harus bagaimana? Menculik menantu orang hanya demi putramu itu?"

Nyonya Kim membuang nafasnya berat, "Kupikir dulu ia dekat dengan Luhan. Kenapa jadi begini?"

"Aku juga tidak tau. Kurasa aku gagal mengenali kriteria wanita idaman putraku sendiri. Kupikir ia akan memilih wanita sederhana sepeti Luhan. Kurasa kita terlalu memanjakannya memberikan semua yang ia inginkan. Saat tidak dapat yang ia inginkan, jadi seperti orang gila."

"Gila gila begitu dia tetap putramu.."

"Baiklah, akan kucoba mengobrol dengannya. Siapa tau dia masih mendengarkan ucapan appa-nya yang tua bangka ini." Tuan Kim melepas jasnya kemudian berjalan menuju taman belakang.

Menepuk pundak putranya pelan. Jongin hanya menoleh sekilas. Ia tau orang tuanya begitu menghawatirkannya sekarang. Tapi berpura-pura semua baik-baik saja pun percuma. Ia sudah besar, merengek pada ayah dan ibunya untuk membawa Kyungsoo kepadanya juga tak ada gunanya. Gadis itu sudah memilih Sehun.

"Appa! " panggil Jongin. "Apa aku kurang tampan? Apa aku hitam dan menyebalkan? Apa aku begitu buruk, appa?"

"Mmmm... Sebenarnya iya, tapi berhubung kau putraku aku akan memaklumi segalanya," canda Tuan Kim pada Jongin.

"Kenapa appa tidak bisa berbohong untuk menyenangkan hati anakmu yang malang ini."

"Dengar, nak! Seorang gadis memilih pria bukan dari kualitas wajahnya saja. Soal wajah appa yakin kau cukup tampan, hanya saja tampan saja tidak cukup."

"Tapi aku juga mencintainya appa~...apa kurang cukup? "

"Kalau hanya modal cinta menikah saja dengan putri disney. Jangan terlalu mengandalkan cinta, Jongin... Seorang gadis butuh seseorang yang bisa membuatnya nyaman dan dapat bergantung saat ia dalam kesulitan."

"Tapi dia gadis yang mandiri dan tak suka bergantung pada siapa pun."

"Kau salah, nak! Buktinya ia memilih Sehun. Berarti ia masih perlu tempat bergantung dan Sehun memberikannya. Ngomong-ngomong bagaimana kalian bertemu?"

"Di club malam."

Tuan Kim memukul lengan anaknya berkali-kali. "Yakkk! Bocah sialan.. Berani - beraninya kau pergi ke club! Dan jatuh cinta pada gadis yang suka pergi ke tempat laknat itu! "

"Appaaaa...!" seru Jongin meminta berhenti di pukuli. "Walaupun dia sering ke club, dia tidak seburuk yang appa pikiran. Saat aku bertemu dengannya dia masih perawan appa... Aku merasakan dan melihat sendiri dia berdarah waktu kami berhubungan."

Setelah mendengarnya Tuan Kim malah makin gencar memukuli putranya. "Ya Tuhan kau bahkan menidurinya... !" serunya dengan nafas tak beraturan, sudah lama Tuan Kim tak memukuli putranya yang bandel ini. Padahal dulu Jongin anak rumahan yang penurut. "Kau kekasihnya atau bagaimana sebenarnya?"

"Bukan, aku Tuannya... Dan dia... " Jongin tak sanggup meneruskan kalimatnya.

"Bagaimana kau bisa memperlakukan wanita seperti itu Jongin. Dia putri kepala kepolisian, mana mungkin mau jadi jalang atau apalah namanya. Harusnya kau memintanya jadi kekasihmu anakku yang tampan! "

"Dia butuh uang dan mau ku tiduri. Aku ingin memilikinya appa walaupun cuma tubuhnya saja. Dia tak membalas cintaku." Jongin berucap lemah.

"Coba pikir baik-baik anakku... Soal uang dia bisa minta appa-nya. Kalaupun appanya tak memberi, ia bisa menjual dirinya ke pria paruh baya... Pejabat misalnya. Teman appa banyak yang seperti itu. Uang yang ia dapatkan lebih banyak daripada menjadi milikmu saja, nak. Kalau dia tak mencintaimu mana mungkin ia mau kau tiduri dengan iming-iming uang saja."

"Dia bilang dia hanya mencintai calon suaminya, Sehun."

Tuan Kim menepuk nepuk pelan paha putranya. "Bukankah memang seharusnya seperti itu. Dia gadis dari kalangan terhormat, tentu dia tau aturannya. Ketika menikah mau tak mau suka tak suka harus mencintai suaminya bukan? Berarti dia gadis yang berbakti pada suaminya. Apa ucapan appa salah?"

Jongin menggelng, ucapan appa-nya sepenuhnya benar."Jadi apa yang harus kulakukan, appa?"

"Kau sejak awal sudah salah, nak. Relakan saja pada Sehun, kurasa Sehun juga pria yang baik walaupun sering mengajarimu hal-hal nakal. Jangan mengganggu rumah tangga orang lain. Tenang, nak... Masih banyak gadis di luar sana atau kembali ke mantanmu."

Jongin menyahut dengan kesal, "Aku tidak punya mantan. Dia cinta pertamaku, appa!"

Tuan Kim tertawa kecil menertawakan kemalangan putranya. "Kasian sekali dirimu! Yasudah cari saja yang seperti Kyungsoo atau ku kenalkan putri teman appa. Kau mau?"

"Tidak. Kurasa aku akan menunggu Sehun meninggal saja."

"Ahhh...Aku akan mati sebelum menimang cucu," keluh Tuan Kim. "Ini sudah malam, tidurlah! Besok appa juga harus datang ke pesta pernikahan Sehun, Xiumin-ssi juga akan datang katanya. Relakan untuk Sehun, Sehun sudah menjagamu sampai sebesar ini... Bahkan menemanimu kabur ke luar negeri. Biarkan sahabatmu bahagia, nak! "

"Aku masih ingin disini, appa. Appa masuk saja duluan dan bilang pada eomma untuk membuatkanku adik. Jadi eomma tak akan begitu sedih, jika aku memutuskan bunuh diri," racau Jongin membuat Tuan Kim hanya menggeleng-gelengkan kepalanya maklum.

.

.

.

Kyungsoo sudah kembali ke Korea lewat penerbangan terakhir. Hari ini adalah hari pernikahannya, ia segera menuju gedung tempat acara di selenggarakan karena Sehun sudah menunggunya. Hanya butuh waktu satu jam menuju tempat acara. Eommanya kemungkinan akan datang terlambat karena sedang berada di luar negeri dan penerbangan di tunda karena cuaca buruk.

Beberapa orang langsung menyambutnya dan menyuruh Kyungsoo untuk segera di rias. Kyungsoo dapat melihat pantulan wajah cantiknya dengan rambut di gelung sederhana di tambah bunga kecil-kecil berwarna putih sebagai pemanis. Tinggal memakai gaun sederhana berbahan sutra dengan model menutup dada namun tanpa lengan. Cukup sederhana, Sehun tau bagaimana seleranya.

Dengan di gandeng appa-nya sendiri, Kyungsoo melangkah melewati karpet merah bertabur bunga. Ia dapat melihat Sehun berdiri di atas altar dengan jas putih, sangat tampan menurutnya. Harusnya dirinya bahagia bukan? Nyatanya hanya rasa gelisahnya tak kunjung hilang sampai ia tanpa sadar menggenggam bunga yang ada di tangannya begitu kuat.

Langkah demi langkah membuatnya semakin dekat pada tempat Sehun berdiri. Sehun mengulurkan tangan padanya. Kyungsoo menerima uluran tangan Sehun. Pendeta mulai meminta mempelai pria terlebih dahulu untuk mengucapkan janji pernikahannya. Suara Sehun yang mengucapkannya dengan tegas hingga bergema di seluruh penjuru altar. Tak ada keraguan pun dari suaranya.

"Saya Oh Sehun menerima Do Kyungsoo menjadi satu-satunya istri saya untuk saling menjaga dan menyayangi. Dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun suka, pada waktu sakit maupun sehat, sampai maut memisahkan kita."

Sehun menggenggam tangan Kyungsoo erat dan menatap matanya lembut."Giliranmu, Kyung!"

Kyungsoo semakin bingung, ia belum siap masuk dalam keluarga Oh tapi ia juga tak bisa membuat Chanyeol khawatir padanya sepanjang waktu dengan menolak menikah. "S-saya Do Kyungsoo ..."

.

.

.

Di hari yang sama Kris menepati janjinya untuk datang. Dengan setelan rapi dan undangan milik Chanyeol yang dibawanya, Sehun benar-benar tak memberikannya undangan rupanya. Kris merapikan rambutnya di depan kaca kamarnya. "Kau benar tak mau datang, Chan?"

Chanyeol yang masih meringkuk di atas ranjang menarik selimut putihnya sambil bergumam, "Tidak, lakukan sesukamu!"

"Hey, ayolah ganti kaos putihmu itu dengan kemeja dan jas. Taruh bunga di kantong jas mu juga. Temanmu akan menikah harusnya kau gembira." Kris duduk di pinggir ranjang mencoba membujuk Chanyeol.

"Berhenti mengoceh dan pergilah, Fan ! " usir Chanyeol padahal ini bukan kamarnya.

"Kenapa kau tak seperti biasanya? Biasanya kau melarangku? Kau sakit?" Kris memeriksa dahi Chanyeol. Siapa tau anak ini sedang demam dan mengigau. "Tidak panas."

"Aku sudah melepaskan Kyungsoo untuk Sehun. Biar Sehun yang menjaganya. Jika aku disana, aku hanya akan membuatnya ragu."

"Tapi aku Kris dan segala rencananya, kau tak takut teman manismu itu kenapa-kenapa?"

"Aku percaya pada takdir, Fan! Lakukan sesuai rencanamu. Aku akan datang nanti. Kumohon berhati-hatilah, kau berjanji padaku hidup bersamaku. Akan ku beri jawabannya nanti setelah ini selesai. Menang atau kalah, tolong tetaplah hidup, Fan! "

Jika Chanyeol berkata seperti itu berarti ia punya firasat buruk. Anak itu kadang punya intuisi yang tinggi. Omongannya tak bisa di anggap main-main. "Itu terdengar seperti aku sedang menghadapi kematianku. Baiklah aku akan berhati-hati, kau juga jaga dirimu disini. Gunakan pistol di bawah bantalmu jika perlu."

Kris memberikan kecupan singkat di dahi lebar Chanyeol. Lalu suara pintu tertutup mulai terdengar. Chanyeol merapatkan selimutnya dan memejamkan matanya. Seklebat bayangan mimpinya muncul kembali dalam ingatan. "Bukan kau, Fan... Tapi aku. Mudah-mudahan aku masih sempat menyapanya. Walaupun kurasa itu mustahil, " guman Chanyeol tersenyum getir.

TBC

.

.

Maaf, chapter ini kabar buruk buat Chanbaek.

Akan saya percepat cerita ini.

Sampai ketemu besok sabtu. Itu pun jika kalian masih mau baca.

Semoga hari kalian menyenangkan.

.

.

.