My Famous Husband Jung
By LadySinner_25
.
.
.
Mrs. Kim bergegas menuju pintu depan rumahnya setelah mendengar bel pintu yang berbunyi tanpa henti dan hanya untuk dikejutkan dengan kedatangan Jaejoong dengan penampilan yang berantakan. Mata yang membengkak. Bibirnya sobek. Dan tanpa alas kaki yang menyebabkan kaki indahnya ternoda oleh kotoran dan luka baru.
"Ya Tuhan Joongie, apa yang terjadi denganmu?" Mrs. Kim menarik Jaejoong untuk masuk kedalam dan menuntunnya menuju sofa. Beliau berlari untuk mengambil segelas air untuk anaknya dan menunggunya hingga menjadi tenang kembali. Sesaat Jaejoong sudah kembali tenang, tetapi tidak lama karena beliau melihat Jaejoong mulai menagis lagi. Ditariknya Jaejoong kedalam pelukannya. Anaknya pasti terlibat dalam pertengkaran serius lagi dengan suaminya hingga menyebabkan Jaejoong lari kesini.
"Apa kalian berdua bertengkar lagi?" Mrs. Kim membelai punggung Jaejoong untuk menenangkannya dari tangis dan hal itu sangat membantu. Sentuhan ibunya selalu bisa menenangkan Jaejoong.
Jaejoong menganggukkan kepalanya dan mengeratkan lengannya memeluk ibunya.
"Sayang, kau bisa bercerita pada eomma jika kau sudah cukup tenang. Kenapa tidak kau pergi keatas ke kamarmu dan beristirahat huh?" Mrs. Kim tahu anaknya sudah letih tidak hanya karena pertengkarannya dengan sang suami tetapi juga karena dia sudah berlari untuk sampai ke rumah mereka.
Jaejoong menganggukkan kepalanya sekali lagi dan mulai berjalan menuju tangga untuk ke lantai atas. Tetapi tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi. Dia memutar kepala ke ibunya yang juga sedang melihat kearahnya.
"Jika itu Yunho eomma, aku mohon jangan berikan kunci kamarku padanya. Aku ingin tinggal disini untuk sementara. Aku tidak ingin pulang ke rumah dengannya." Setelah menyampaikan pesannya ke sang ibu, Jaejoong kembali menaiki tangga ke kamarnya.
Mrs. Kim hanya bisa menggelengkan kepalanya dan mendesah. Beliau bergegas menuju pintu depan setelah mendengar bel pintu mereka kembali berbunyi. Ketika beliau membukanya, situasi yang sama beliau lihat pada Jaejoong dan Yunho. Rambut menantunya terlihat berantakan. Dia hanya menggunakan kaos dalam tanpa lengan dan celana training tanpa menggunakan alas kaki. Sama seperti Jaejoong sebelumnya.
Yunho memandang mertuanya dengan putus asa dan beliau hanya dapat menariknya masuk ke dalam rumah dan memberinya segelas air.
"Yah! Apa yang kalian berdua lakukan huh? Mencoba membunuh diri kalian sendiri?" Tanya Mrs. Kim sedikit bingung dengan kelakuan anak dan menantunya itu.
Yunho meminum air yang diberikan Mrs. Kim dalam sekali teguk kemudian menundukkan kepalanya.
"Eomma aku minta maaf. Aku sungguh minta maaf." Yunho mulai menangis dan Mrs. Kim pun melakukan hal yang sama seperti yang beliau lakukan sebelumnya kepada Jaejoong.
Beliau memeluk dan membelai punggung Yunho untuk menenangkannya tetapi sayangnya sentuhan beliau belum dapat menenangkan Yunho malah membuatnya semakin memburuk saat beliau merasakan bahu Yunho yaang mulai bergetar semakin keras.
"Eomma aku sangat mencintai Jaejoong. Aku mencintainya dan tak ingin kehilangan dia."
"Aku tahu itu Yunho. Aku sangat tahu hal itu. . ."
"Aku sungguh bodoh sudah menyakitinya. . ."
"Apapun masalah kalian, selesaikan dengan segera. Jangan biarkan pertengkaran ini menggiring kalian berdua pada hasil yang lebih buruk." Nasehat Mrs. Kim pada menantu yang sudah beliau anggap seperti anaknya sendiri.
"Eomma. . ."
"Pergilah ke kamarnya, tapi aku tidak dapat membantu banyak karena kali ini aku tidak bisa memberimu kunci kamarnya." Mrs. Kim menatap Yunho dengan penuh sesal.
Yunho menganggukkan kepalanya dan berlari ke kamar Jaejoong di lantai dua rumah keluarga Kim. Mrs. Kim memberi tanda pada para maid untuk turun ke bawah sejenak dan meninggalkan pasangan suami istri itu sendiri karena Yunho pasti akan bicara dengan sedikit berteriak dari luar kamar Jaejoong.
Yunho mulai mengetuk pintu kamar lama istrinya tetapi tidak mendapat respon. Dia mengetuk lagi tetapi hanya kesunyian yang menyapanya.
"Sayang aku mohon bicaralah padaku. . ." Yunho bisa mendengar sebuah benda dilempar kearah pintu dan berserakan di lantai. Itu pasti sebuah vas yang pecah.
"Pergilah JUNG!"
Yunho mencoba lagi. "Sayang. . . aku mohon bicaralah padaku. Biarkan aku menjelaskannya. Aku mohon. . ."
"AKU BILANG AKU TIDAK INGIN BICARA PADAMU!" Teriak Jaejoong dari dalam kamarnya.
"Jung Jaejoong buka pintunya, aku berhak untuk menjelaskan semuanya. Ini tidak seperti yang kau pikirkan sayang." Yunho tidak mendengarkan balasan apapun sehingga dia melanjutkannya. "Sayang. . .aku mohon buka pintunya. Dengarkan aku, jika kau tidak ingin pulang ke rumah denganku tidak apa-apa. Tapi berikanlah aku sedikit waktumu dan dengarkan penjelasanku!"
Dia bisa mendengar sebuah isakan didekat pintu dan dia yakin saat ini Jaejoong pasti sedang menangis. Dia ingin membenturkan kepalanya sendiri ke pintu karena sudah menyakiti istrinya. Akhir-akhir ini Jaejoong sering menghabiskan waktunya untuk menangis dan dia tidak tahan melihatnya. Istri cantiknya pasti mempunyai mata yang membengkak sekarang, hidung memerah, dan wajah yang ternodai oleh air mata dan ditambah dengan bibirnya yang sobek karena tamparannya. Dia sangat menyesal dengan apa yang telah dia lakukan dan sebenarnya dia jauh lebih terluka dari Jaejoong karenanya. Pemikiran mengenai Jaejoong yang meninggalkannya membuatnya takut setengah mati. Dia sangat takut kehilangan istri yang sangat dicintainya.
Yunho mengetuk pintu kamar Jaejoong lagi dan kali ini dia menggunakan suara yang lembut untuk bicara pada istrinya karena dia tahu Jaejoong pasti mendengarkannya saat ini dari sisi lain pintu. Pintu menjadi pemisah diantara keduanya. Dia duduk di lantai dan menempelkan telinganya di pintu dan dia masih bisa mendengar samar isakan istrinya. Dia merasa bagai mendapatkan hantaman lain di dada mendengar istrinya masih menangis.
"Sayang. . . Aku mencintaimu! Aku tidak ingin melakukan hal yabg bisa menyakitimu. Kau sangat mengertiku. . . BoA yang memulainya dan aku tidak pernah tahu apa yang akan dia lakukan. Aku tidak menyadari kalau dia ada di ruangan bersamaku. Aku terlalu fokus pada latihanku. Aku begitu terkejut saat punggungku tiba-tiba menjadi hangat dan saat aku berputar dia mengambil kesempatan untuk menciumku.
Sayang. . . itu semua telah diatur. Dan foto-foto yang baru kau terima itu pasti darinya untuk merusak hubungan kita, untuk membuatmu marah. Tapi sayang jangan biarkan dia merusak apa yang kita miliki, jangan biarkan dia merusak hubungan kita. . . Aku mohon! Aku harap kau mendengarkanku sekarang. Aku sangat mencintaimu istriku tersayang. Aku sungguh meminta maaf karena sudah menyakitimu. Aku tidak pernah merpikir kalau aku akan menggunakan tanganku untuk menyakitimu dan aku menyesali apa yang telah aku lakukan.
Sayang aku berharap kau akan pulang ke rumah jika kau sudah merasa lebih baik. Aku akan mengirim beberapa pakaian untukmu jika kau ingin tinggal disini lebih lama. Aku akan pulang ke rumah kita sekarang, jagalah dirimu baik-baik. Sayang ingatlah. . . aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu. Dan jangan menangis lagi. Aku akan senang melihat istri cantikku dengan senyum di wajahnya saat aku pulang ke rumah. Aku mencintaimu sayang!" Yunho berdiri dan mulai berjalan menuju tangga untuk turun ke bawah saat mendengar suara pintu dibuka. Ketika dia berputar dia melihat istrinya yang sedang menatapnya, masih dengan air mata yang turun membasahi wajahnya.
Yunho bisa merasakan sebuah harapan tumbuh didalam hatinya ketika dia melihat istrinya mempoutkan bibirnya dan dia tidak dapat menahan emosinya sendiri hingga membiarkan air mata keluar dari kedua mata musangnya seraya tertawa kecil. Dia berjalan menuju istrinya tetapi Jaejoong mengalahkannya dengan berlari menuju dirinya dan memeluk tubuhnya.
Jaejoong menenggelamkan wajahnya di dada Yunho dan kembali menangis. "Yunnie. . ."
Yunho memeluk istrinya erat dan membelai punggungnya untuk menenangkannya seraya menutup kedua mata musangnya.
"Tuhan! Sayang berhentilah menangis. Kau menyakitiku!"
"Yunnie. . ." Jaejoong terisak lagi di dada Yunho membuat sang suami ikut menangis.
"Aku minta maaf. Aku sungguh minta maaf sayang. . ." Yunho terus membelai punggung Jaejoong dan mencium surai lembut Jaejoong.
"Aku. . . masih. . . membenci. . . mu" Yunho tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa. Dihapusnya air mata Jaejoong. Dia angkat kepala istrinya dan menangkup wajahnya, menciumnya dibibir. Kemudian disentuhnya pipi kanan istrinya dimana dia mendaratkan tangannya. Air matanya kembali tak bisa dibendung saat dia melihat tanda merah yang masih terlihat diwajah Jaejoong.
"Apa ini sakit sayang?" Jaejoong menganggukkan kepalanya dan Yunho hanya bisa menagis mengingat kalau dialah yang telah menyakiti istrinya. Disentuhnya wajah Jaejoong lagi dengan lembut dan menciumnya.
"Sekarang. . . apakah masih sakit?"
Jaejoong tersenyum padanya dan menggelengkan kepalanya. Tetapi kembali Yunho tidak bisa menahan dirinya, air matanya terus bergulir turun di wajahnya.
"Aku tidak bisa membayangkan. . . Aku baru. . . Aku baru saja. . . menyakitimu! Aku sungguh bodoh! Aku sungguh idiot!" Jaejoong memandang suaminya dengan penuh cinta dan mulai menghapus air matanya. Jaejoong mencium kedua mata Yunho, mencium kedua pipinya dan terakhir mencium bibirnya.
"Aku minta maaf sayang! Aku minta maaf!"
Jaejoong mengangguk dan menenggelamkan kepalanya didada Yunho lagi dan mereka berdua berpelukan.
"Ayo kita lupakan segalanya Yunnie dan aku berharap kali ini dan seterusnya kau akan selalu mengatakan semuanya padaku." Mereka bertukar posisi sekarang dimana sang istri membelai punggung suaminya dan menenangkannya.
"Aku tidak akan membiarkan wanita penggoda manapun merusak hubungan kita. Aku terluka saat kau tidak pernah mengatakan padaku mengenai kejadian yang terjadi di studio. Jika tidak karena foto-foto itu aku tidak akan pernah tahu." Yunho menatap Jaejoong dan menangkup wajahnya.
"Aku tidak pernah berencana untuk mengatakannya padamu karena aku tahu kita hanya akan bertengkar lagi dan kau akan menangis lagi dan aku membenci hal itu. Aku berpikir kalau aku akan bisa mengatasinya semua masalah itu sendiri tetapi aku tidak pernah berpikir kalau BoA akan mengirim foto-foto itu padamu. Dia sungguh membuat hal ini menjadi rumit.
"Kau hanya perlu mengatakan semuanya padaku Yunnie, walaupun itu akan membuatku menangis tersedu-sedu kau harus mengatakannya padaku. Bukankah kita sudah berjanji kalau kita harus saling jujur satu sama lain?" Yunho menganggukkan kepalanya.
"Dan bukankah kita sudah bersumpah satu sama lain kalau kita akan berbagi segalanya dalam suka ataupun duka?" Yunho menganggukkan kepalanya lagi. "Jadi mari berbagi masalah ini bersama Yunnie."
"Pernahkah aku mengatakan padamu kalau aku sungguh beruntung memilikimu?" Jaejoong menganggukan kepalanya kali ini.
"Kau mengatakannya setiap hari Yunnie."
"Pernahkah aku mengatakan padamu kalau aku tidak akan bisa hidup tanpa malaikatku?" Jaejoong kembali mengangguk.
"Iya! Kau mengatakannya setiap kali kita berpelukan bersama." Yunho menautkan kedua lengannya dipinggang Jaejoong dan sebaliknya Jaejoong melingkarkan lengannya ke leher Yunho.
"Aku tidak akan pernah lelah untuk mengatakan betapa besar cintaku padamu Jung Jaejoong!" Yunho mencium bibir Jaejoong, membuat istrinya tersenyum dan menatap suaminya.
"Aku tidak pernah bosan untuk mendengarnya setiap hari Yunnie!"
Mereka saling tersenyum dan berpelukan lagi.
"Kau masih ingin tinggal disini?" Yunho membelai punggung Jaejoong.
"Tidak Yunnie. Ayo kita pulang bersama. Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri!" Yunho tertawa dan menganggkat Jaejoong dengan kedua lengannya. Jaejoong mengeratkan pelukkannya dileher Yunho.
"Kita mau kemana?" Tanya Jaejoong, masih dalam gendongan Yunho.
Yunho membuka pintu kamar Jaejoong. "Ayo kita mandi dulu. Dan aku mohon lain kali kalau kau berencana untuk kabur jangan lupa untuk memakai sepatumu."
Jaejoong tersenyum saat Yunho menurunkannya di bath tub. "Seperti kau memakainya saja!"
Yunho menggaruk kepalanya dan mencibilkan bibirnya.
"Kau lari seperti kesetanan dan aku menjadi panik jadi aku lupa untuk memakainya juga!" Mereka tertawa bersama.
Mrs. Kim yang berada diluar hanya dapat tersenyum mendengar percakapan kedua anak dan menantunya. Beliau bersyukur melihat mereka telah berbaikan kembali. Dan beliau berharap tidak ada lagi pertengkaran yang akan terjadi karena beliau tidak bisa tahan untuk melihat pasangan serasi itu terpisah satu sama lain.
OooOooO
Yunho dan Jaejoong kembali ke apartemen mereka setelah menikmati makan siang bersama Mrs. Kim. Jaejoong sekali lagi tidak dapat hadir mengikuti pelajaran di kelas. Pertengkarannya dengan sang suami, Jung Yunho membuatnya terlambat untuk datang ke sekolah. Tetapi dia bahagia karena mereka sekarang telah berbaikan. Dan dia lebih dari sekedar bahagia ketika Yunho memutuskan untuk membatalkan latihannya siang itu dan hanya akan menghabiskan waktu bersamanya.
"Yunnie. . . kenapa kita tidak menelepon Yoochun?" Yunho menganggukkan kepalanya seraya menekan kode unit apartemen mereka. Pihak keamanan apartemen mereka pasti mengunci pintu mereka saat dia berlari keluar dan melihat kepanikan diwajahnya. Mungkin salah satu bentuk dari pengamanan pihak pengelolah apartemen untuk menghindari terjadinya perampokan. Dan Yunho sangat bersyukur akan hal itu.
Yunho merasakan sebuah pelukan dari istrinya yang berada dibelakangnya dan kemudian dia merangkulkan lengannya ke bahu Jaejoong sambil menarik namja yang lebih kecil darinya ke ruang keluarga. Mereka mendudukkan tubuh letih mereka di sofa dengan Jaejoong berada diatas Yunho; berhadapan. Mereka saling memandang satu sama lain dan tersenyum seolah tidak ada yang terjadi pada mereka sebelumnya di pagi hari. Yunho menyisir beberapa helai rambut Jaejoong yang terlihat berantakan dan mulai bermain dengan rambut Jaejoong.
"Kau tadi menakutiku sayang. . ." Jaejoong menatap suaminya dengan kedua mata doe besarnya.
"Kenapa?"
"Aku pikir kau akan membawa mobil sendiri karena itu aku mulai panik." Jaejoong terkikik sedangkan Yunho masih bermain dengan poninya.
"Hmmmm. . . sejak kau yang menyarankannya, aku akan melakukannya lain kali saat kita bertengkar."
Yunho menghentikan apa yang dia lakukan dan menatap istrinya dengan mata terbuka lebar. "Kau serius?"
"Uhummm. . ." Jaejoong menganggukkan kepalanya dan melanjutkan menggoda suaminya. Yunho mendesah dan menatapnya dengan putus asa. Dia ingin tertawa melihat ekspresi suaminya. Wajah Yunho mengguratkan kekhawatiran dan kesedihan. Dia melihat suaminya menelan ludahnya seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak mengatakan sepatah katapun.
Yunho mendesah lagi dan Jaejoong menggigit bibirnya untuk menahan senyumnya. "Yah! Jangan coba-coba kau melakukannya!"
"Apa kau mengancamku?"
Yunho menatap Jaejoong dengan putus asa dan Jaejoong memutar kepalanya untuk bernapas karena dia sungguh tidak tahan melihat wajah suaminya saat ini. Dia mencoba untuk mengeraskan ekspressi wajahnya lagi dan memutar kepalanya kembali menghadap Yunho.
"Ini bukan sebuah candaan yang lucu sayang."
"Aku juga tidak sedang bercanda!" Yunho berusaha untuk mendorong Jaejoong dan berdiri.
"Kau mau pergi kemana Jung?"
"Aku berjalan menjauh darimu!"
"Aku tahu itu! Bolehkah aku ikut?" Jaejoong berdiri dan berjalan ke samping suaminya, bisa dia lihat betapa seriusnya Yunho dan dia merasa bersalah. Dia memegang lengan Yunho untuk mencegahnya berjalan lebih jauh. Yunho berhenti dan berbalik badan menghadapnya.
"Aku minta maaf sayang. Aku hanya bercanda!"
"Aku tahu kau hanya bermain-main tapi ini bukan sebuah candaan yang lucu Jung Jaejoong!" Jaejoong mempoutkan bibirnya dan menautkan kedua lengannya di leher Yunho.
"Aku bilang aku minta maaf. . ." Jaejoong sungguh menyesal, niatnya untuk menggoda malah ditanggapi serius oleh suaminya. Yunho menatap Jaejoong dengan mata kosong. "Apa aku tidak termaafkan?"
Yunho menggelengkan kepalanya dan mempoutkan bibirnya lebih panjang.
"Lalu apa yang kau ingin aku lakukan?" Sekarang Yunho memandangnya dengan sungguh-sungguh.
"Cium aku dulu. . ."
"Bagaimana jika aku tidak mau?"
"Jadi kau belum termaafkan. Kau tidak akan tidur disampingku nanti."
"Ohhh benarkah?"
Yunho menganggukan kepalanya dan tersenyum melihat keimutan Jaejoong yang bibirnya membentuk huruf 'O'. Manis sekali.
"Cium aku sekarang. . ."
"Penuntut Jung!"
"Cium aku sebelum aku berubah pikiran. . ." Jaejoong bergerak mendekat dan Yunho menutup kelopak matanya, menunggu bibir istrinya yang menggiurkan tetapi tidak juga datang. Yunho membuka matanya hanya untuk melihat istrinya menyeringai padanya.
"Yah! Apa yang kau lakukan?" Tiba-tiba kedua pipinya memanas, Yunho merona. Bagaiman bisa istrinya menggodanya seperti itu?
"Kau menjebakku!" Protes Jaejoong.
"Mweo?"
"Kau hanya ingin menciumku. . ."
"Jadi?" Yunho menaikkan alisnya dan Jaejoong menyilangkan kedua lengannya didepan dadanya.
"Aku tidak mau Yunnie! Kau selalu menggodaku!" Jaejoong menghentakkan kakinya dan tidak lupa untuk mencibilkan bibirnya.
"Baiklah!" Yunho mulai berjalan menuju kamar tidur mereka. Jaejoong hanya menatap suaminya saat Yunho memutar kepalanya. "Kau akan tidur di sofa malam ini. Ok?"
Jaejoong semakin mencibilkan bibirnya dan Yunho mencoba untuk menyembunyikan senyumnya sebelum kembali berjalan menuju kamarnya bersama Jaejoong.
"Yunnie. . ." Rengek Jaejoong.
Yunho berhenti didepan pintu kamar mereka dan menyenderkan kepalanya di dinding sementara kedua lengannya disilangkan kedepan dadanya. Dia melihat istrinya mulai berjalan menuju dirinya dan tersenyum walaupun pout dibibirnya masih terlihat jelas.
"Jadi kau sungguh-sungguh menyuruhku tidur di sofa?" Tanya Jaejoong dengan masih menatap suaminya dan Yunho menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kalau begitu aku akan menciummu. . ."
Yunho menggelengkan kepalanya mulai memegang ganggang pintu saat Jaejoong memegang lengannya.
"Yunnie. . ."
"Aku sudah berubah pikiran!" Yunho memutar ganggang pintu dan masuk ke kamar meninggalkan Jaejoong di depan pintu.
Jaejoong hendak pergi ke ruang tamu ketika pintu yang baru ditutup Yunho tiba-tiba terbuka kembali dan Yunho menariknya masuk kedalam kamar. Mendorongnya keatas tempat tidur dengan Yunho berada diatas tubuhnya, menyeringai.
"Apa kau pikir aku akan serius membiarkan sofa yang memelukmu sepanjang malam hmmmm?" Jaejoong memukul dada Yunho dan yang digigit mulai tertawa.
"Kau jahat"
"Anio. . ."
"Iya. Kau jahat Yunnie!"
"Terus mengapa kau jadi sangat penurut hari ini? Aku pikir kau akan lari mengikutiku ke kamar dan mengunci pintunya, tapi kau malah hanya berdiri disitu."
"Karena aku pikir kau marah." Cicit Jaejoong.
"Aku tidak marah. Aku hanya suka menggodamu!"
"Kau suka menyiksaku Jung!"
Yunho hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya. Dia membalik posisi mereka dan sekarang istrinya berada diatasnya.
"Itu pekerjaanmu kan sayang. . . terus menyiksaku sampai aku menyerah padamu, iyakan?" Yunho mencium bibir Jaejoong dan istrinya itu hanya menantap padanya.
"Kau sangat menggemaskan, karena itu aku sangat mencintaimu!"
"Aku juga mencintaimu Jung!" Yunho tersenyum pada istrinya dan menariknya ke dada bidangnya.
"Yunnie. . ."
"Hmmmm. . ."
"Apa kau pernah berpikir untuk mempunyai seorang anak?"
"Tentu sayang. Aku sangat suka anak-anak. Jika aku diberi kesempatan aku ingin punya anak perempuan."
"Tapi aku ingin punya anak laki-laki!" Jaejoong memainkan kancing baju Yunho. "Apa namja bisa hamil?"
Yunho tertawa seraya mengangkat dagu Jaejoong dan menangkup wajahnya. "Apa aku harus menjawabnya?"
Jaejoong menganggukkan kepalanya.
"Namja tidak bisa hamil sayang karena hanya yeoja yang dapat mengandung!" Jawab Yunho.
"Tapi aku ingin mempunyai anak denganmu, tidak bisakah aku hamil?" Yunho mulai tertawa sedangkan Jaejoong hanya mempoutkan bibirnya.
"Yah! Berhenti tertawa. Sejak aku yang menjadi istri aku pikir aku akan bisa hamil jika kita mencobanya." Yunho kembali tertawa melihat betapa manis dan imutnya sang istri.
"Sayang. . . Namja tidak-" Yunho yang sedang bicara terhenti saat bibir Jaejoong mendarat dibibirnya. Jaejoong memperdalam ciumannya dan Yunho melingkarkan kedua lengannya di pinggang Jaejoong. Ketika mereka menarik diri dari ciuman panas mereka, Jaejoong memandang suaminya dengan penuh kesungguhan dan Yunho menatap balik istrinya dengan takjub.
"Apakah aku bisa hamil atau tidak, aku ingin mencobanya sayang. . ." Yunho hendak bicara saat Jaejoong meletakkan jari telunjukknya di bibir Yunho. "Dan aku ingin kau melakukannya kasar kali ini, siapa tahu aku akan hamil jika kau melakukannya seperti itu."
Yunho membuka mulutnya lagi tapi Jaejoong meletakkan jarinya lagi di bibir Yunho.
"Bercintalah denganku Yunnie dan aku akan memberikan padamu anak perempuanmu!"
Yunho hanya dapat tertawa tetapi terhenti ketika Jaejoong menciumnya penuh dibibir. Dia sungguh tidak dapat menolak istrinya sekarang. Jika Jaejoong membutuhkan dirinya. Sebagai seorang suami yang juga sangat patuh akan dengan senang hati mengabulkan permintaan istrinya. Tidak perlu waktu lama, tidak perlu basa-basi. Malam itu mereka habiskan dengan bercinta. Malam terbaik yang pernah mereka lakukan, dengan harapan sebuah keajaiban terjadi dalam biduk rumah tangga mereka.
OooOooO
"Yunnie. . ."
". . ."
"Jangan tinggalkan aku. Aku mohon!"
"Aku minta maaf, aku harus pergi!"
"Tapi. . ."
"Aku mencintainya. . ."
"Apa kau tidak mencintaiku lagi, Yunnie?" Jaejoong menatap suaminya dan Yunho menggelengkan kepalanya. Jaejoong jatuh berlutut dan menangis keras.
"Kau berjanji padaku bahwa kau akan mencintaku selamanya. . .!" Yunho memandang padanya iba.
"Hatiku. . . berubah Jaejoong."
"Jaejoong? Dimana sayang yang biasa kau gunakan untuk memanggilku? Dimana istri tercintaku yang sering kau ucapkan?" Jaejoong menatap suaminya dengan putus asa, memohon padanya untuk tinggal. Air mata terus jatuh mengalir di wajahnya.
Yunho menundukkan kepalanya, dia tidak bisa menatap istrinya lebih lama.
"Kau bilang kau tidak akan berubah meski kita menjadi tua. Kau bilang kalau kau tidak akan pernah membuatku menangis Yunnie. . . Apa yang terjadi dengan semua itu?" Jaejoong mengingatkan Yunho pada semua janji yang dia ucapkan. Yunho masih diam, dia mulai mengemasi tasnya. Dia memegang tangan Yunho, mencegahnya untuk kembali berkemas.
"Lepaskan aku Jaejoong. . ."
"Tidak!" Jaejoong sedikit berteriak. "Kau bilang kau akan tinggal bersamaku selamanya. . ."
"Janji bisa diingkari Jaejoong!"
"Tapi aku mencintaimu Yunho, Aku mohon jangan lakukan ini padaku. Aku mohon padamu!"
"Aku mencintainya Jaejoong, biarkan aku pergi!" Jaejoong terus menggelengkan kepalanya.
"Kau tidak mencintainya, dia menggodamu! Dia seorang pelacur!"
Yunho menatap Jaejoong tajam dan menampar keras wajah Jaejoong yang menyebabkan namja cantik itu jatuh ke lantai. "Jangan sebut dia seperti itu!"
"Yunnie. . ."
"Berhenti memanggilku Yunnie!"
"Tapi. . ."
"Kita selesai sampai disini Jaejoong!" Yunho mulai berjalan keluar tetapi Jaejoong menghalanginya dengan memegang kedua kakinya.
"Yunnie. . .!"
"Lepaskan aku!"
"Aku mohon Yunho!"
"Aku mencintai BoA! Tidakkah kau bisa mengerti itu?"
"Tapi aku lebih mencintaimu. . .!"
"Aku tidak mencintaimu lagi Kim Jaejoong, kita lupakan saja pernikahan ini. Kita selesai sampai disini saja. Jangan membuatku melakukan sesuatu yang bisa menyakitimu lagi Jaejoong. Biarkan aku pergi dan kita berdua akan bahagia menempuh jalan kita masing-masing!"
"Aku akan mati tanpamu Yunho!"
"Cobalah untuk move on Jaejoong. . . karena aku sudah tidak merasakan hal yang sama lagi!" Dan Yunho meninggalkan Jaejoong berlutut, patah dan hancur.
"Yunho. . . jangan. . . tinggalkan aku!"
OooOooO
"YUNHO!" Jaejoong terbangun dari mimpi buruknya, tubuhnya gemetar dan air mata mengaliri wajah cantiknya. Dia turun dari tempat tidur, menyandarkan kepalanya disudut dan menangis diam-diam.
Dilihatnya sang suami yang tengah tertidur lelap, dengan pelan Jaejoong mendekati sisi dimana Yunho tidur. Mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Yunho pelan-pelan, berhati-hati supaya tidak membangunkan suaminya. Tanpa bisa ditahan lagi air matanya jatuh dan semakin membasahi wajahnya.
"Jangan tinggalkan aku Yunnie, aku mohon jangan tinggalkan aku! Aku akan mati tanpamu, aku pasti akan mati tanpamu sayang. Jangan tinggalkan aku!" Ucap lirih Jaejoong.
Jaejoong menyentuh mata Yunho dengan lembut, turun menuju hidungnya, menggerakkan jemarinya ke tahi lalat kecil diatas bibir Yunho. Naik lagi ke wajah Yunho yang lembut. Jemarinya meyusuri dahi Yunho, setiap bagian yang tersentuh oleh tangannya seakan bergetar, tangannya bergetar. . . bergetar karena rasa takut yang teramat sangat. Mimpi buruknya terasa begitu nyata bagi Jaejoong. Air mata tidak pernah berhenti keluar dari kedua matanya, dipandangnya Yunho yang masih belum terjaga dari tidurnya. Tangannya terus membelai wajah Yunho.
"Aku sangat mencintaimu, aku tak akan membiarkan orang lain menghancurkan pernikahan kita." Monolog Jaejoong.
"Aku tidak akan menyerah meskipun kau mulai lelah untuk mencintaiku!" Diusapnya air mata yang sedari tadi membasahi pipinya.
"Kau adalah udara yang aku hirup. . ." Dia terus membelai wajah Yunho, san sekarang turun lagi ke bibirnya.
"Aku tidak akan lelah untuk mencintaimu! Karena kau adalah hidupku! Aku sungguh mencintaimu Yunnie!" Menggerakkan kepalanya kebawah, Jaejoong mencium dahi Yunho dan tetap dalam posisi itu sejenak. Mimpi itu sama buruknya dengan perasaan yang dia rasakan sekarang. Hanya membuatnya ingin berteriak dan mengelurkan semua isi hatinya. Dia merasa begitu ketakutan. Dia merasa sangat takut oleh mimpi itu dimana Yunho yang pergi meninggalkannya.
Jaejoong menatap Yunho lagi dan tak sadar beberapa tetes air matanya jatuh ke wajah Yunho yang menyebabkannya terbangun dari tidurnya yang lelap. Dengan segera Jaejoong menjauh dari Yunho, menghapus air mata dipipinya dan kembali ke sisi tempat tidurnya dan menatap suaminya.
"Sayang ada apa?" Jaejoong mencoba untuk menyembunyikan emosinya dan menggelengkan kepalanya.
"Sayang apa kau baik-baik saja?" Tanya Yunho kembali. Dan Jaejoong menganggukan kepalanya sebagai jawabannya.
Dipihak lain, Yunho mengangkat tangannya menyentuh dahinya yang terasa basah. Sejenak diliriknya tangan yang baru saja menyentuh dahinya dan saat dia berbalik sudah mendapati punggung Jaejoong dihadapannya. Dengan pelan Yunho bergeser mendekati Jaejoong, disentuhnya bahu Jaejoong tetapi istrinya itu malah menjauh.
"Sayang ada apa?" Dia merasa curiga, diliriknya jam di dinding dan menunjukkan pukul 2 dini hari. Yunho bangun dan turun dari tempat tidur, berjalan menuju sisi tempat tidur istrinya. Dia berlutut di lantai dan melihat wajah istrinya, seketika dia menyadari jika Jaejoong sedang menangis. Dia merasa sakit melihat istrinya kembali menangis, matanya bengkak dan air mata yang terus mengalir bebas.
"Ada apa?" Yunho menangkup wajah Jaejoong dan mulai menghapus air mata tetapi bahu Jaejoong tak berhenti bergetar, dia terus menangis seolah dia telah disakiti dengan sangat.
"Sayang. . . aku mohon katakan padaku. Apa kau sakit? Mana yang sakit? Katakan padaku! Kau membuatkku khawatir!" Tiba-tiba Jaejoong memeluknya dan Yunho bisa merasakan tubuh Jaejoong yang gemetar.
"Peluk. . . saja. . . aku. . . Yunnie!" Yunho memeluk Jaejoong sangat erat. Napasnya berat, akhir-akhir ini istrinya sering membuatnya takut, sering membuatnya khawatir. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan oleh istrinya. Dia mulai mengelus punggung Jaejoong, meski sudah dipeluk namja cantik itu masih saja menangis. Dengan lembut ditangkupnya wajah Jaejoong lagi.
"Katakan padaku sayang, ada apa huh?" Jaejoong menatap Yunho dengan air mata yang membanjiri mata cantiknya.
Jaejoong mengulurkan tangannya perlahan ke wajah Yunho, menyentuhnya dengan lembut dan tak ayal hal ini membuat Yunho bingung. Jaejoong membawa tangannya untuk menyentuh hidung Yunho, turun ke tahi lalat diujung kiri bibir atas Yunho dan dikecupnya. Sekarang tangannya menjelajah ke bibir Yunho, tangannya gemetar seakan dia takut akan sesuatu. Diangkatnya lagi tangannya membelai wajah Yunho dengan lembut, sama seperti yang dia lakukan saat Yunho tertidur tadi. Yunho hanya dapat memandang bingung istrinya dan ikut merasa sakit.
"Ya Tuhan! Jung Jaejoong katakan padaku" Katakan padaku ada apa denganmu!" Yunho mulai panik mendapati keanehan Jaejoong. Jaejoong hanya menatapnya dengan seksama, menangis dalam diam.
"Kau. . . hanya. . . perlu berjanji. . . padaku!"
"Berjanji?"
"Berjanjilah padaku. . . untuk tidak meninggalkanku. . . tak peduli apapun yang akan terjadi!"
Yunho melebarkan matanya mendengar permintaan istrinya. Dia berpikir mengenai apa yang mungkin ada dipikiran Jaejoong saat ini.
"Berjanjilah padaku?"
"Apa yang kau bicarakan sayang? KATAKAN PADAKU KAU MEMBUATKU KHAWATIR!" Yunho tidak dapat mengontrol emosinya lagi. "AKU TIDAK AKAN PERNAH MENINGGALKANMU JUNG JAEJOONG, HENTIKAN APAPUN YANG ADA DIPIKIRANMU SAAT INI! HENTIKAN! AKU MOHON!"
Yunho memeluk Jaejoong dengan sangat erat dan Jaejoong memeluknya balik. "Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji padamu! Apapun mimpi buruk yang kau alami sayang, jangan pikirkan lagi! Kau ingat itu! Tuhan, kau sungguh membuatku takut Jung Jaejoong!"
Yunho naik ke tempat tidur dan menarik istrinya untuk berbaring di dadanya seraya terus mengusap punggung Jaejoong
"Kembalilah tidur sayang, kau tidak akan mimpi buruk lagi!" Yunho memiringkan dagu Jaejoong dan mencium bibirnya. Dia mencium istrinya dengan penuh gairah, berharap bisa memberikan rasa nyaman untuk istrinya. Dia ingin Jaejoong tahu bahwa dia masih ada disana, menemaninya dan tidak akan pernah meninggalkan.
Yunho bisa merasakan respon dari Jaejoong dalam ciuman mereka dan dia merasa senang melihat istrinya pelan-pelan kembali menjadi tenang. Ketika melepas ciuman dibibir mereka, Yunho melihat istrinya yang sedang menatapnya. Diciumnya kening Jaejoong.
"Tidurlah malaikatku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu!" Kata Yunho, tersirat sebuah janji didalamnya.
"Aku mencintaimu Yunnie. . ." Yunho tersenyum mendengar ungkapan cinta Jaejoong dan menghapus air mata yang masih tersisah dimata Jaejoong. Dikecupnya kedua mata istri yang sangat dia cintai.
"Aku lebih mencintaimu Jung Jaejoong!"
Yunho menarik istrinya lagi dalam pelukan erat nan hangat.
.
.
.
tbc
.
.
.
Editor's Note :
Bahasa tidak baku, typo bertebaran dan maaf untuk pemilihan kata yang kurang berkenan.
hey im back!
ini tiga chapter jadi satu, kalau kurang panjang maaf ya? hehe
legah rasanya akhirnya bisa selesai dan update.
YunJae sudah baikan, bercanda juga tadi bentar tp maaf ga ada NCannya HA!
Chap kemarin HITS banget! Thanks buat semua yang udah review. Reviewannya hampir sama semua, benci dan ga suka ma BoA. Nuraniku berkata Maaf BoA ga maksud buat nambah haters kamu. LOL
Smoochies buat semua yang udah review :
cassandraaeris12 # dewi15 # shipper89 # kimryan2124 # riii-ka # whirlwind27 # kimjaejoong309 # vipbigbang74 # lizzie yunjae haehyuk # kira.l520 # puteriexo # rsza # chayurieza # auntyjeje # hannik2206 # ruixi1 # saphire always for onyx # jungjaejung # cassie cassiopeia yunjae # cha yeoja hongki # dheaniyuu # ristin ok137 suka YJ nochangkyu # jung sister # choi seul bee # cherry exol # hyemi han # # jaenna # .1272 # guest00 # siti rahmah # shawol na cassie # choi ann # min # ohlu balbal # gomchi46 # michelle jung # kimmms # shanzec # rise01 # yume # angel sparkyu # hiruzent # firaamalia25 # TyaWuryWK # # gloxinia # jonginDO # serenade senja # 7 # kitukie # danactebh # # ara choi # chacaaa # rere yunjae pegaxue # egggyeolk # dariel malfoy # opinur.58 # yunjaeeee # yuehuang99 # all guests
Buat yang udah follow, favoritein jg terimakasih. Dan welcome for new readers..
NB: Sayangilah teman dan sahabat yang selalu ada disamping kita. Jangan jadikan pertengkaran dan perbedaan menjadi penyebab perpecahan sebuah pertemanan maupun persabahatan. pertahankanlah jika memang layak untuk dipertahankan. jadikanlah perbedaan sebagai pelajaran untuk menjadi sahabat yang lebih baik.
YunJae's Love is Real~~~
YunJaeddiction
