MASK

"Semua orang memakai topeng untuk kau cintai.

Jika kupakai topeng burukrupa, akankah kau mencintaiku?"

.

.

CHAPTER 15

.

.

.

.

Chanyeol pamit untuk ke toilet sebentar, sedangkan Kyungsoo dan Baekhyun menunggu sambil berbelanja kebutuhan di lantai dasar. Chanyeol yang mulanya berjalan santai mulai memperlebar langkahnya untuk segera sampai ke tempat tujuan. Ia dapat merasakan seseorang di belakangnya menyamakan langkah kakinya.

Ia langsung menutup rapat bilik toilet, perasaan cemas menghantuinya. Clack! Bunyi air menetes dari kran air membentur wastafel di luar bilik. Menetes seirama dengan detak jantungnya yang berdegup kencang. Dari celah bilik ia dapat mengintip siapa kiranya yang membuntutinya. Pemuda jakung seperti dirinya berdiri membelakangi biliknya. Menatap cermin tanpa melakukan apa pun.

"Apa aku menakutimu?" gumannya seraya menarik ujung bibir kanannya ke atas. Chanyeol meneguk ludah kasar. Untungnya tak selang beberapa lama seseorang datang mencuci tangan. Setelah itu Chanyeol dapat sedikit bernafas lega

Rupanya setelah itu lebih mengerikan. Saat keluar bilik, kepalanya sudah jadi sasaran tembakan. Namun ia jadi dapat melihat wajah penguntitnya. Kris yang belakangan lebih akrab ia panggil Wu Yifan.

Ia ingat betul Kris adalah pemuda berjaket merah maroon yang terus memadanginya saat mengambil mobil Kyungsoo di club dan dari belakang mirip orang yang ia temui di toilet kantor polisi. Mereka orang yang sama.

Sejak saat itu, Chanyeol curiga Kris di balik semua yang menimpa Baekhyun. Orang pertama yang ia temui adalah Chen, Kyungsoo pernah menyebut temannya itu sebagai bartender disana. Chen dengan senang hati berbagi informasi, seorang kelompok mafia menyelidiki kaburnya Baekhyun. Pimpinannya berjaket merah maroon.

Jika benar Kris di adalah orang yang menjual Baekhyun menjadi pelacur, maka Kris pula donatur dan yang menampung para anak panti. Fakta ini membuat Chanyeol mengkhawatirkan nasib Kyungsoo yang saat itu sudah menjadi pengelola panti.

Melalui pesan singkat akhirnya Chanyeol mencoba peruntungannya bertemu dengan Kris. Jauh dari yang ia bayangkan, pertemuan entah ke berapa kalinya ini berbeda. Ia tak meringkuk ketakutan, tidak ada senjata di tangannya, tidak ada Kris yang menakutkan. Ia datang layaknya pemuda sepantarannya yang hidup normal.

"Hay, Chanyeol-ssi...Aku Kris tapi panggil saja Yifan, Wu yifan. Senang dapat bertemu denganmu lagi!" sapanya hari itu dengan senyum menawan. Kalimat selanjutnya adalah, "Ayo bermain basket denganku!"

"Apa kau kekasih teman manismu itu?" pertanyaan itu keluar juga. "Bukan, kami hanya berteman dekat," jawab Chanyeol singkat. Tangannya sibuk merebut bola sampai akhirnya bola tersebut berpindah ke tangannya dan dengan lihai melakukan shooting. Skor bertambah untuk dirinya. Chanyeol menyunggingkan senyum kemenangan.

Kris mengejar bola yang jatuh dari ring, kemudian melemparkannya ke Chanyeol. Chanyeol mulai mendrible pelan. Ia tidak buta dalam basket, Kris pemain yang cukup handal tapi entah kenapa ia membiarkan dirinya merebut bola dengan mudah.

"Kenapa?" sebuah pertanyaan yang membuat tangan Chanyeol hilang kendali atas bolanya. Menggelinding tak tentu arah. "Kenapa? Kenapa kalian begitu dekat padahal bukan sepasang kekasih?"

"Kau cemburu? Kau bukan tipe Kyungsoo sayangnya," balas Chanyeol menyingkir ke pinggir lapangan, ingin menyudahi permainan. Namun lengannya terlanjur di tahan. "Ya, aku cemburu. Apa aku tipemu?" tanya Kris dengan suara lemah.

Chanyeol menghempaskan kasar tangan Kris dari lengannya. "Aku sedang tidak mood menanggapi leluconmu." Kris melihatnya dengan pandangan terlukai, "Aku serius, Chan!"

Setelahnya perasaan Chanyeol lah yang membawanya semakin dekat dengan Kris. Perasaannya pada Kris serupa racun yang manis, di telan sakit namun enggan di muntahkan. Setiap kali ia terbangun di samping Kris, dirinya selalu di hantui rasa takut. Takut bagaimana mengatakannya pada Kyungsoo nanti. Takut bagaimana akhir kisahnya ini. Takut kebahagiaan ini akan hilang dalam satu kedipan mata.

.

.

MASK

.

.

"Ada berapa rekanmu, Xiumin-ssi?" tanya Sehun sambil terus melakukan pukulan dan tendangan pada anak buah Kris yang jumlahnya membuatnya ingin mengelus dada Luhan. Orang tampan harus sabar, batin Sehun menyemangati dirinya sendiri.

Xiumin yang juga sama sibuknya hanya bisa berteriak tanpa menoleh, "Hanya ada tujuh, aku tak menyangka mereka sebanyak ini. Kupikir anak buahnya akan banyak berjaga di markas."

Sehun melongo tak percaya,"Ya Tuhan hanya tujuh! Ini kita lebih mirip membuat boyband, EXO saja ada dua belas."

"Tinggal sembilan ngomong-ngomong," sahut Xiumin kesal. Selain kesal karena Sehun dia juga kesal pada Jongin yang sedari tadi sudah mengeluarkan dua peluru dari pistolnya, padahal dirinya dan Sehun satu saja belum keluar. "Jonggg! Hemat pelurumu, di dalam masih ada Kris!" pekiknya pada Jongin.

"Hell, sejak kapan kau bicara informal padaku, Xiumin-ssi?" ucap Jongin sadar harus menyimpan pelurunya untuk persediaan nanti.

"Aku sedang di pindah tugaskan. Kita setara sekarang dan aku lebih tua darimu!" balas Xiumin di sambut tawa renyah Sehun. Jongin mengerutu bahwa Xiumin memang menyimpan dendam padanya seperti dugaannya. "Kenapa tidak habis-habis? Apa mereka ini berkembangbiak dengan membelah diri?" keluh Xiumin.

"Kita akan kehabisan waktu!" ucap Sehun akhirnya mengangkat pistolnya, ia tak sanggup lagi bertarung. Lagian dia punya banyak peluru."Kau benar, Sehun-ssi! Lebih baik kalian berdua ke atas, biar aku dan rekanku yang menahan mereka!" usul Xiumin memandangi kondisi Jongin sama halnya dengan Sehun. Nafasnya mulai terputus-putus.

"Aku setuju!" kata Jongin mendekat ke arah Sehun. Xiumin langsung melempar peluru cadangannya pada Jongin. "Gunakan baik-baik. Di atas semua bersenjata. Nanti akan ku masukan dalam tagihan kartu kreditmu, harga peluru naik."

"Dasar ahjumma-ahjumma!" caci Jongin sebelum naik ke lantai atas dengan Sehun.

Keadaan lantai atas lebih sepi hanya segelintir penjaga saja. Sehun menembaki semuanya namun tidak pada bagian vital, setidaknya jika Tuhan menghendaki mereka masih bisa hidup. Selain alasan itu, ia takut hyungnya akan mengurungnya di gereja karena ketauan banyak membunuh orang. Mereka berdua pun membuka pintu dimana Kyungsoo ada disana.

"Jika aku keluar dari sini hidup-hidup, aku berjanji akan menikahi Luhan secepatnya!" ujar Sehun pada Jongin yang sama terkejutnya denganya. Bagaimana tak terkejut, setelah pintu terbuka langsung di sambut setidaknya ada sepuluh pistol mengacung ke mereka berdua. "Kau hobi sekali menikah!" timpal Jongin tak suka.

"Akan ku urus yang ini, lakukan sesuatu untuk Kyungsoo!" balas Sehun memberikan jalan untuk Jongin.

Kris menoleh ke samping dimana Jongin sudah menodongkan pistol padanya. Ia jadi merasa dejavu. Di sisi lain Kris juga masih mengarahkan tembakannya pada Kyungsoo yang tak berdaya karena terikat. "Jika kau menembakku. Aku juga akan menembak gadis kesayanganmu!"

"Sebenarnya apa salah Kyungsoo padamu hingga kau senekat ini?" desis Jongin.

"Kekasihmu itu gadis yang berbahaya. Aku hanya memintanya membayar tanahku dan ganti rugi padaku, tapi dia malah menduplikasi file laptopku. Dan kekasihmu ini tak mau membuka mulutnya dimana file itu ia simpan."

"Dia bukan kekasihku!" koreksi Kyungsoo.

Dahi Jongin mengernyit bingung. "Membayarmu? Tanah apa? Dan ganti rugi apa?"

"Ceritanya panjang, Jongin!" sahut Sehun yang sudah di tawan anak buah Kris. Ia kalah. Padahal hanya tersisa satu orang yang saat ini memegangi tangannya di belakang sambil mengancamnya dengan pistol yang di letakan di tenggorokannya.

Jongin tak bisa berkata-kata lagi. "Bahkan kau tau,hun? apa hanya aku orang bodoh disini?"

"Kyungsoo menjual vilanya dan menjebakmu agar dapat uang darimu, semuanya itu bukan untukku. Itu untuk membeli tanah panti asuhan dan ganti rugi padanya," jelas Chanyeol mengarahkan pandangannya pada Kris.

"Sekedar informasi,dia di pihak Kris," tambah Sehun.

"Aku belum memihak mana pun, " tandas Chanyeol tak terima.

"Kau akan memihakku sebentar lagi, Chan... Karena aku akan membunuh teman manismu yang tak mau buka mulut. Dia sudah tak berguna lagi, dia menghalangi kebahagiaanku!" seru Kris mempersiapkan melepas tembakan.

"Jangan coba-coba! " Jongin melakukan hal yang sama.

Chanyeol tidak bisa membiarkan Kyungsoo maupun Kris tertembak."FANNN!" panggil Chanyeol keras. "Baiklah ..baik...aku memihakmu.. Jadi tolong segeralah kabur, file itu ada padaku aku tak akan memberikannya pada polisi. Di luar banyak polisi, jika kau tertangkap nyawamu tak akan selamat, " pinta Chanyeol buru-buru.

"Kau membohongiku, Chan?" tanya Kris tak percaya. "Kau melakukannya untuk Kyungsoo bukan? Kau menyuruhku kabur agar Kyungsoo selamat juga kan?"

"JAWAB AKU, CHANNN!" bentak Kris dengan suara keras.

"Kumohon lepaskan Kyungsoo! Kau tidak mengerti posisiku, Fan!" ucap Chanyeol dengan mengiba.

"SILAHKAN PILIH! AKU ATAU KYUNGSOO!"

"Aku tak bisa memilih, Fan..!"

"Chan, aku sudah memaafkanmu. Pilihlah Kris, biarkan aku mati tolong!" ucap Kyungsoo.

"Kyunggg!" panggil Chanyeol sambil menggeleng lemah. "Aku ingin tapi aku tidak bisa, Kyung! Aku punya alasan kuat untuk terus mempertahankanmu hidup!"

"Baik kalau begitu kupersempit pilihanmu!" Kris sudah terbakar cemburu. Ia sudah tak pedui file itu, tak peduli polisi akan menangkapnya setelah ini, yang ia inginkan hanya menyingkirkan saingan terberatnya. Kyungsoo.

DORRRR! Kris telah menarik pelatuk pistolnya. Kyungsoo dapat mendengar dengan jelas suara peluru berdesing menuju ke arahnya. Tepat di perutnya. Ia memejamkan matanya berharap peluru yang menembus dagingnya tak begitu sakit.

Namun setelahnya yang terdengar adalah suara Kris memanggil Chanyeol. "Channnn!" lalu disertai bunyi tembakan lagi. DOORRR! DOORRR!

Kyungsoo membuka matanya. Kris terseok-seok berjalan ke arahnya dengan kaki kanannya berdarah. Bukan.. Bukan ke arahnya lebih tepatnya ke arah Chanyeol yang tergeletak berlumuran darah pada dada dan perutnya. Jaraknya hanya sejengkal dari dirinya.

"CHANYEOLLL! CHAN!" Pekik Kyungsoo tak kalah histeris dari suara Kris. Kyungsoo baru sadar Chanyeol memberontak dan menjadikan tubuhnya sebagai tameng dari tembakan Kris. Tapi kenapa lukanya dua lubang menganga sedangkan Kris hanya menembaknya satu kali.

"JONGIN BODOHHH! WALAUPUN CHANYEOL BERKHIANAT, DIA MELINDUNGI ANAKMU BODOHHHH! JONGIN HITAM BODOHHHH!" maki Sehun penuh emosi, jika ia tidak sedang di tawan seperti ini, ia mungkin sudah menggeplak kepala sahabatnya itu.

Ketidaktahuannya berubah jadi petaka. Jongin malah menembak kaki Kris dan dada Chanyeol padahal Chanyeol sudah tertembak Kris bagian perut. Jongin benar-benar menginginkan kematian Chanyeol rupanya. Ia sama halnya dengan Kris yang terbakar cemburu.

"A-anak ku?" cicit Jongin terbata-bata. Pistolnya sampai jatuh dari tangannya. Begitu juga tubuhnya yang jadi lemas sampai hanya lututnya yang menyangga tubuhnya.

"Pria bodoh dan bajingan sepertimu tak pantas jadi ayah dari bayi yang di kandung Kyungsoo. Makanya Chanyeol memintaku menikahi Kyungsoo untuk menjaga anakmu, bodoh!" jelas Sehun sudah marah di ubun-ubun.

"Kurasa dia sampai mau mati seperti ini juga untuk melindungi Kyungsoo dan anakmu. Jika hanya Kyungsoo saja yang tertembak, mungkin Chanyeol tidak akan senekat ini. Masalahnya dia bawa dua nyawa." Sehun membuka semuanya.

Kyungsoo memandangi Chanyeol yang dalam pangkuan Kris. Air matanya mengalir deras. "Benar begitu, Chan?"

Chanyeol yang semula memegangi perutnya, sampai darah keluar tanpa henti dari sela-sela jarinya. Kini tangan kirinya yang berlumur darah mencoba menggapai perut Kyungsoo. "H-hay...Kyung-soo...kecill !" ucap Chanyeol susah payah dan terputus-putus. Sebuah senyuman terpatri di wajahnya.

"Channn!" suara Kris yang juga menangis sambil memegangi tangan kanan Chanyeol ke pipinya. Dirinya tak pernah menangis sekencang ini. Chanyeol satu-satunya yang membuatnya seperti ini.

Air mata Chanyeol meleleh setelah bisa menyapa bayi dalam perut Kyungsoo. Padahal umurnya baru mingguan. Chanyeol dapat merasakannya pertama kali saat Kyungsoo di rawat di rumah sakit. Ia memeluk Kyungsoo dari belakang dan tanpa sengaja tangannya menyentuh perut Kyungsoo. Dari situlah ia tahu akan ada kehidupan baru disana.

"Chanyeol! maafakan aku, Chan! Maaffff... Hiks.. Hiks.. Maaf.. " Kyungsoo makin terisak keras.

"Maafkan kecerobohanku, Chan! Maaf, sayang!" Kris makin mempeerat genggamannya pada tangan kanan Chanyeol.

"Aku sudah menepati janjiku untuk hidup. Tak apa kau tak bersamaku, tapi kumohon kau juga harus hidup... Kau bilang kau mencintaiku, aku juga... Kau dengar itu... Kau dengar, Chan? "

Tangan Chanyeol membelai rahang hingga pipi Kris. Meninggalkan jejak darahnya disana. Mulutnya terbuka seperti akan berucap. Chanyeol ingin mengatakan sesuatu tapi ia tak mampu bersuara lagi. Jantungnya juga semakin melemah bersamaan dengan banyaknya darah yang semakin banyak keluar. Karena tak bisa mengucapkannya, ia hanya bisa menatap dalam mata Kris. Berharap Kris mampu menangkap pesannya.

"Channn! Jangan seperti ini! Kau ingin menghukumku bukan? Aku akan jadi anak baik, tapi kau harus bertahan okey?"

Kris semakin mendekap tubuh Chanyeol erat. Bibirnya terus bergetar mengimbangi tangisannya yang tak kunjung reda. Mata Chanyeol perlahan-lahan semakin berat untuk tetap terbuka. Hingga akhirnya sepenuhnya tertutup.

"CHANNNN!" panggil Kyungsoo tidak bisa membiarkan Chanyeol mati. Ia terus mencoba bergerak mendekati Chanyeol walaupun tangan dan kakinya terikat. Tanpa sadar gaun pernikahannya yang putih berubah menjadi memerah di bagain pahanya. Diiringi ringisan sakit dari mulut Kyungsoo.

"KYUNGGGGG! " pekik Jongin dan Sehun berbarengan. Pikiran mereka berdua berkecambuk dirundung cemas karena Kyungsoo sedang hamil sangat muda, kemungkinan terbesarnya ia keguguran.

Jongin bangkit dari posisinya dan mengambil senjatanya kembali, lalu berlari ke arah Kyungsoo. Sedangkan Sehun harus berbesar hati menerima kenyataan dirinya tak bisa melakukan apa pun. "Bisa kau lepaskan aku? Aku juga ingin berlari ke arah Kyungsoo!" tanya Sehun pada anak buah Kris yang menawannya. Tentu saja jawabannya tidak.

Jongin membantu melepaskan tali yang mengikat tangan dan kaki Kyungsoo. Kemudian mendekap tubuh lemahnya. "Katakan padaku mana yang sakit? Hmm?" tanya Jongin lembut. Netranya langsung berfokus pada paha Kyungsoo yang berdarah.

"Maafkan aku, aku bukannya kurang ajar padamu," ucap Jongin mulai menyingkap dress Kyungsoo sehingga ia dengan leluasa mengecek kewanitaan Kyungsoo yang sudah berlumuran darah. Jongin dapat merasan sebuah benda menancap disana, ia langsung mencabutnya.

Amarahnya kembali memuncak, melihat sebuah vibrator yang bernoda darah. "KEPARATTT KAU, KRISS!" seru Jongin kembali mengeluarkan senjatanya. Kris yang masih berduka tak menduga dapat todongan pistol lagi.

"A-anakku... Kau membunuh ANAKKKUUU!" Jongin menumpahkan semua isi hatinya. "Aku baru tau hari ini dan aku kehilangan dia hari ini jugaaa! Appa macan apa aku ini?" ujar Jongin menangis menyalahkan dirinya yang tak tau apa-apa. Kenapa dirinya terlalu bodoh, kenapa dirinya diam saja selama ini.

Tangan Kyungsoo meraih tangan Jongin yang memegang pistol sambil menahan sakit. Perlahan-lahan pitol Jongin ikut turun. "J-jangan membunuhnya... Tolong!"

Kris yang masih memangku Chanyeol menatap tak percaya apa yang dikatakan Kyungsoo barusan. Harusnya gadis itu membencinya. Mungkin inilah kenapa Chanyeol terus melindunginya.

"Kalian panggilkan ambulance, setelah itu kaburlah dari sini. Bawa juga teman-temanmu yang tersisa di markas, aku akan menyerahkan diriku," perintah Kris pada anak buahnya. "Dan lepaskan bocah itu .. "

Sehun yang di bebaskan langsung menghampiri Kyungsoo. Memandangi Kyungsoo yang kesakitan. "Maafkan aku, tak bisa menjagamu dengan benar. Harusnya aku menikahimu saja jika begini. Dengan begitu kau tak akan di culik Kris."

"Aku juga, Kyung! Maaf aku terlalu cemburu pada Chanyeol! Maafkan aku yang bodoh ini, harusnya aku mencari tau yang sebenarnya. Aku juga telah menyakitimu malam itu. Dan sekarang dia pergi karena kebodohanku juga." Tangan Jongin mengusap pelan perut Kyungsoo.

Kyungsoo menuntun kepala Jongin untuk menunduk hingga hanya beberapa senti saja dari wajahnya. "Gwaenchana... Aku juga tak tau diriku sedang mengandung. Maafkan aku tak bisa menjaga anakmu," ucap Kyungsoo meremas jaket Jongin, karena sakit bagian perut dan kewanitaanya sudah tak tertahankan lagi.

"Tapi dengan begini kau tak perlu merasa bertanggungjawab menikahiku."

"Aku tetap akan menikahimu. Aku mencintaimu, Kyung!" sahut Jongin buru-buru, ia tak mau kehilangan Kyungsoo lagi.

"Aku juga mencintaimu, Jongin... Tapi kau telah mencelakakan sahabat terbaiku Chanyeol dengan sengaja. Aku tak dapat memaafkanmu perihal ini. Maaf, Jongin..!" Di akhiri dengan kecupan panjang di bibir Jongin. Sebagai tanda salam perpisahan.

Jongin membalas dengan menyesap lama bibir Kyungsoo diiringi lelehan air matanya yang sederas hujan di luar.

.

.

.

Mendung masih menyelimuti langit hari ini. Kemarin adalah hari yang panjang bagi Kyungsoo. Entah siapa yang paling sedih kemarin, semua orang menangis dengan keras. Sehun, Jongin, Chanyeol, Kris, atau dirinya yang memilih pergi untuk membuat jarak sejenak.

"Kyung, Ada paket untukmu!" ujar eommanya membawakan sebuah kotak kecil berhias pita biru.

Kyungsoo mencoba mendudukan dirinya di ranjang khas rumah sakit sembari membaca alamat pengirimnya."Dari Seoul?"

"Paket itu sudah beberapa hari di apartemenmu. Jadi si tua bangka itu membawanya kesini, siapa tau paket penting. Tidak ada yang tau kau disini, Kyungie! "

"Lalu dimana appa sekarang?"

"Dia sudah kembali ke Seoul lagi. Banyak pekerjaan katanya."

"Terima kasih, eomma!" Kyungsoo tersenyum ke arah eommanya.

"Sama-sama sayang. Kau tak apa ku tinggal sebentar? Eomma ada urusan sebentar."

Kyungsoo mengangguk sambil menyaut agak keras karena eommanya sudah di ujung pintu, "Kenalkan denganku kapan-kapan, eomma! Aku ingin liat appa baruku!"

"Kyungg!" balas eommanya pura-pura kesal.

Setelah kepergiannya eommanya, Kyungsoo langsung membuka kotak kecil itu. Sebuah lipatan kertas menjadi pembuka. Kyungsoo mengambilnya dengan tangan bergetar. Ia sangat kenal sekali tulisan ini. Gaya tulisan yang banyak mendominasi buku tugasnya ketika masih di bangku sekolah.

Untuk sahabatku yang akan menikah,

Ku awali suratku dengan sebuah permintaan maaf. Maaf, aku tak bisa datang ke pernikahanmu. Aku turut bahagia atas pernikahanmu dengan Sehun, ku ucapkan selamat. Maaf, aku tak menceritakan hubunganku dengan Kris. Maaf, aku telah melukai kepercayaanmu.

Kau harus bahagia dengan Sehun. Aku telah menitipkanmu padanya, semoga dia bisa jadi suami dan ayah yang baik untuk anakmu kelak. Sehun sudah memberitahumu tentang kehamilanmu bukan? Kau selalu ceroboh, Kyung... Atau mungkin doa Jongin yang begitu kuat. Sehun bilang padaku akan menerima keadaanmu ini, dia tak akan membiarkanmu dengan Jongin.

Sedikit banyak aku setuju dengan Sehun, bukannya aku tak ingin kau dengan orang yang kau cintai, Kyung. Hanya saja kau sudah terlalu banyak di sakitinya. Meskipun aku juga dapat melihat betapa Jongin mencintaimu.

Aku menitipkanmu pada Sehun, bukannya aku ingin meninggalkanmu. Sungguh aku tak bermaksud begitu. Mungkin jika kondisiku tak seperti ini, aku siap menjadi seorang appa walaupun dia bukan darah dagingku sendiri. Aku tak bisa membiarkanmu hidup dengan gay sepertiku. Kau pantas dapat pendamping yang layak.

Soal Sooman ahjussi kau tak perlu merasa bersalah. Dia dan keluarganya masih hidup sampai sekarang. Aku sudah mengamankannya, kecelakaan itu hanya rekayasa agar Kris merasa rencananya berhasil. Temanmu Chen dan Xiumin yang membantuku. Xiumin sampai harus minta di pindah tugaskan agar mampu terbang Hongkong-Korea.

Kau pasti kaget aku kenal dengan Xiumin, dia berkali-kali memergokiku sedang berjalan bersama Kris. Dia sangat pintar menyelidiki orang. Jadi sekalian saja ku minta bantuannya. Aku juga diam-diam mengalihkan dana pribadi Kris ke rekening Chen. Kau bisa menggunakannya untuk kebutuhan panti.

Jangan katakan ini pada Kris, janji! Dia sedang tidur di sampingku sekarang. Aku menggunakan punggungnya sebagai alas untuk menulis. Aku sungguh jahat ya... Hehehe. Kau harus melihatnya saat tidur, dia tampak tenang dan sangat tampan. Percaya padaku dia tak sejahat yang kau kira.

Kau tau, Kyung? Aku tadi malam bermimpi seorang bayi kecil di gendonganku. Tubuhnya masih merah. Matanya bulat sepertimu. Dia sangat kecil. Jika aku tidak hati-hati, aku dapat menyakiti tubuhnya yang sangat kecil. Tangan kecilnya menggenggam ketika kusentuh tangan mungilnya.

Dia tidak mengeluarkan suara tangisan, namun air matanya terus turun. Aku tidak tau apa yang membuatnya sedih. Mata bulatnya terus terpaku menatapku. Aku berhenti menatapnya, ku tengok diriku sendiri. Aku sudah berlumuran darah ternyata. Sekarang aku tau apa yang membuat bayi mungil itu sedih.

Aku tidak tau apa arti mimpiku. Tapi, aku merasa sesuatu yang buruk akan menimpaku. Aku sangat takut sekarang. Aku sangat takut tak bisa menyapa keponakanku ketika ia lahir nanti. Aku khawatir sudah tak ada disini.

Untuk itu, kuberikan sebuah selimut untuknya. Kuharap dia tak kedinginan dan tetap hangat. Kau juga harus tetap sehat dan makan dengan baik. Berhentilah merokok dan minum- minum.

Kau harus kuat, kehidupan terus berlanjut. Hidup hanya punya dua arah, Kyung! Maju atau mundur. Tapi jangan cemas, takdir akan menuntunmu ke jalan yang tepat. Doaku selalu menyertaimu.

Aku tidak tau harus menulis apa lagi...kurasa ini cukup. Selamat menempuh hidup baru dan jaga dirimu, Kyung.

.

Yang selalu mendoakan dan menyayangimu

-PCY-

.

Tangis Kyungsoo sudah tak terbendung lagi. Tangisnya pecah dan tumpah ruah membasahi kertas yang di tulis Chanyeol. Tangannya mengambil selimut bewarna biru laut yang sangat halus ketika di sentuh. "Kau terlambat, Chan! Kau terlambat... Hiks.. Hiks.. Hiks.. Kau yang akan menjaganya bukan aku! Aku tak bisa.. Hiks.. Hiks.. "

.

.

.

Hari masih sangat pagi, kota Seoul masih di selimuti kabut akibat hujan deras yang kemarin malam mengguyur. Jalanan penuh dengan genangan yang memantulkan cahaya lampu jalanan yang bersinar temaram. Jongin berbalut celana training dan kaos lengkap dengan jaket tebalnya rupanya masih merasakan dingin yang menusuk. Harusnya ia bangun lebih siang, rutuknya dalam hati.

Tujuan utamanya pagi ini adalah kedai di ujung jalan dekat apartemennya. Kedatangannya langsung di sambut oleh si pemilik kedai yang berkacak pinggang ingin mengusirnya. Kedainya belum buka asal kalian tau. Namun, Jongin tetap menerobos masuk.

Jongin duduk dengan memasukan tangannya di kantung jaket dan menaruh kepalanya di meja. Rambutanya yang khas bangun tidur makin awut-awutan. "Beri aku secangkir teh hangat dan kue kering," pintanya dengan suara serak. "Yang manis ya, hun! Hidupku sudah terlalu pait," ucapnya lagi.

Bukannya membuatkan pesanan pelanggan pertamanya, Sehun malah duduk di hadapannya dengan apron penuh sisa tepung. Mengambil majalah yang ada di atas meja, menggulungnya lalu memukulkannya keras ke kepala Jongin. "Aku belum buka, bodoh!"

Jongin mengaduh sakit, merebut gulungan majalah itu lalu memukul balik kepala Sehun. Lebih keras. Pembalasan lebih kejam. "Yakk! Pergi ke hotelmu sana. Kau punya hotel lengkap dengan restaurant mewah kenapa meminta teh padaku? Kau tak pernah bayar lagi.." maki Sehun.

"Kau juga ditawari jabatan penting di perusahaan appamu. Kenapa malah menyeduh teh dan membuat adonan mie? Hah?" tanya Jongin balik.

"Aku membantu Luhan, dasar hitam! Setelah itu aku mengajar di club dance dan itu menyenangkan. Di banding harus duduk di meja penuh tumpukkan dokumen. Jabatan itu akan ku ambil jika Hyungku menikah." balas Sehun sambil melipat tangannya di dada.

"Ahh.. Aku iri padamu. Harusnya aku melanjutkan pendidikanku ke luar negeri saja. Aku bisa menjadi penari jalanan lagi seperti dulu."

"Itu masa lalu, Jongin! Sekarang aku punya istri, tak ada yang menemanimu jika kau kabur ke luar negeri lagi."

Jongin mengerucutkan bibirnya kesal, apa hanya dia yang bernasib sial terus. Sehun memilih hidup sederhana tapi kelihatan bahagia. Bagaimana tidak, istrinya secantik Luhan dan akan punya anak sebentar lagi. Kebahagiaannya berlipat-lipat malah.

"Hay, Jongin! Sehun mengusirmu lagi?" tanya Luhan membawa nampan berisi tiga cangkir teh dengan asap mengepul dan piring berisi kue berbentuk bulan sabit. Jangan lupakan perutnya yang membesar malah menambah aura keibuannya.

"Thanks, Lu! Kau yang terbaik." Jongin meminum tehnya. Perutnya sudah sedikit lebih hangat sekarang.

"Ceritakan padaku kenapa kau tampak sedih begitu!" ucap Luhan ikut duduk di samping suaminya.

Jongin meraih majalah yang di gunakan untuk memukulnya tadi. Membacanya sekilas. "Aku tidak apa-apa, Lu... Hanya kecapekan saja. Berapa usia kandunganmu, Lu? Aku tak sabar mengajak keponakanku kencan."

"Baru 7 bulan dan dia laki-laki, " ujar Sehun tanpa ekspresi.

Mata Jongin mengerjap-ngerjap lucu dan menutup majalahnya. "Semoga dia tak sedingin appa-nya," doa Jongin melirik sinis pada Sehun.

"Daripada mendoakan calon anakku, berdoalah untuk dirimu sendiri. Tubuhmu makin kurus begitu, pipimu juga bertambah tirus. Kau bosan hidup atau bagaimana? Jika kau ingin cepat mati, di belakang ada banyak pisau," caci Sehun jengkel.

Jongin yang di caci malah tersenyum simpul. "Kau tak tau rasanya begitu merindukan seseorang."

"Ini sudah satu tahun kau mencarinya. Aku tak masalah kau mencari selama apa pun, tapi urus dirimu dengan benar. Kyungsoo juga pasti sedih melihatmu seperti ini," ucap Sehun mengkhawatirkan keadaan sahabatnya yang tak kunjung membaik.

"Bagaimana aku bisa baik-baik saja, sedangkan dia meninggalkanku. Bahkan dia tak mengijinkanku untuk menebus kesalahanku padanya dan Chanyeol juga. Aku tak tau harus bertanya ke siapa lagi, aku hanya ingin meminta maaf ke mereka berdua. Aku bahkan tidak tau apakah Chanyeol masih hidup... Bagaimana aku bisa hidup dengan baik jika seperti ini, Hun! "

"Semuanya sudah terlanjur terjadi, Jongg! Yang perlu kau lakukan hanya memaafkan dirimu sendiri! Dan merelakan semuanya, termasuk calon anakmu... Tuhan punya rencana lain untukmu, Jonginn! Percaya padaku!"

"Kau tak mengert, Hun!" bantah Jongin.

"Kalau begitu hiduplah dengan semua rasa beralahmu!" Sehun menarik pelan istrinya untuk kembali ke dapur. Membiarkan Jongin duduk termenung sendirian.

Sehun sadar menarik pergelangan tangan Luhan terlalu kencang segera meminta maaf. "Maaf, aku sedang jengkel pada bocah hitam itu." Luhan menggeleng lemah lalu mengambil handphone di sakunya. "Kau dengar semua bukan?" ucap Luhan memastikan bahwa di sebrang sana mendengar semua pembicaraannya dengan Jongin.

Mata Sehun yang sipit menatap tak percaya pada nama di layar handphone Luhan. "Bagaimana bisa?"

"Dda. ...dadda...". "Iya, sayang... Sebentar. Oohh maaf tidak biasanya Diao Chan rewel seperti ini. Aku mendengar semuanya, Lu!"

"Bisa katakan dimana dirimu sekarang? Jongin - " pinta Sehun ingin menjelaskan keadaan Jongin yang lebih mirip robot. Dia bekerja tanpa henti sambil mencari info kesana-kemari mencari keberadaan Kyungsoo yang tiba-tiba menghilang. Begitu juga dengan Chanyeol yang kritis, pihak keluarganya tak mau memberi keterangan. Sehun tak tau keadaan Chanyeol setelahnya. Appa Kyungsoo yang masih di Seoul juga sepertinya marah dengan Jongin, memilih bungkam juga.

"Aku tau... Aku akan bertemu dengan kalian segera. Ini akan menjadi pukulan besar bagi Jongin. Tolong jaga Jongin lebih lama lagi."

"Tentu... Salam untuk putri kecilmu." balas Luhan mengakhiri sambungan telepon.

Sedangkan Jongin yang duduk sendirian mulai tertarik mengambil satu kue berbentuk bulan sabit yang dikenal dengan fortune cookies . Meremukannya menjadi dua bagian, sebuah kertas panjang mulai terlihat. Jongin menariknya dengan malas, ia sudah sering memakan kue yang di beri gulungan kertas kecil berisi ramalan maupun pesan motivasi. Baginya itu hanya tulisan belaka tak perlu di percaya. Baiklah mari kita lihat pesan apa yang di dapat Jongin hari ini.

"Everything is okay in the end. If it's not ok, then it's not the end. "

.

TBC

.

.

Bingung? Sama saya juga.

Saya ngga bakat bikin cerita sedih, jadi ambil intinya aja yap

Kalau ada typo mohon di maafkan