My Famous Husband Jung

.

.

By Lady_Sinner25

Jaejoong bersiap untuk pergi ke sekolah lebih awal pagi ini, sejak dia tidak mengikuti pelajaran di kelas kemarin disebabkan oleh keributan yang dilakukan oleh suaminya yang mesum. Dia harus mengikuti pelajaran hari ini dan dia senang karena dia tidak akan pernah menggunakan wig jelek yang menutupi rambut coklat keemasan nan indah miliknya dan kacamata bodoh yang menyembunyikan mata doenya yang berbinar. Dia mematut dirinya lagi di cermin dan menyeringai puas.

"Hmmm. . . Kau sungguh cantik Jung Jaejoong!" Dia membanggakan dirinya sendiri dan tanpa sadar bicara sedikit keras, cukup bagi Yunho untuk mendengarnya. Yunho berdiri dibelakang istrinya, menatapnya intensif. Sedangkan yang ditatap tidak menyadari kalau dia sedang diperhatikan.

"Tentu!" Jaejoong terjingkat kaget dan berputar untuk mendapati suaminya yang berdiri di pintu kamar mandi, kedua lengan menyilang didepan dadanya, dengan memasang ekspresi serius di wajah tampannya. Jaejoong mendekati suaminya dan membelai wajah Yunho.

"Ada apa Yunnie?"

"Yunnie. . . apa kau sakit? Kau tidak boleh sakit hari ini, malam penghargaannya akan dihelat nanti malam sayang. . ."Jaejoong menyentuh dahi Yunho dan bisa dia rasakan suhu tubuh suaminya yang sedikit lebih hangat dari biasanya.

Dia berjalan ke lemari pakaian mereka dan mengambil kotak obat untuk mengambil termometer sebelum kembali berjalan ke sisi Yunho. Memasukkan termometer ke bawah ketiak Yunho dan memegang lembut tangan Yunho. Dituntunnya sang suami untuk duduk di tempat tidur. Yunho hanya menatap Jaejoong, memperhatikan setiap gerak-geriknya.

"Kenapa kau diam saja Yunnie, aku tidak suka jika kau diam saja!" Jaejoong mempoutkan bibirnya dan akhirnya Yunho tersenyum dan mencium kening Jaejoong.

"Aku hanya sedikit pusing dan aku kedinginan sayang!" Jaejoong merasa sedih, suaminya sakit namun dia harus pergi ke sekolah. Jaejoong berada diantara dua situasi penting sekarang dan dia tidak bisa memilih apakah dia akan pergi dan mengejar ketertinggalannya di sekolah atau tinggal dan merawat suaminya.

"Kau bisa pergi ke sekolah sayang, jangan mengkhawatirkanku!" Seolah bisa membaca pikiran istrinya, Yunho menyarankan istrinya untuk pergi ke sekolah. Dibelainya wajah Jaejoong, sedangkan Jaejoong mengambil termometer dari ketiak Yunho dan mengeceknya. Termometer menunjukkan angka 38,5 derajat celcius.

Deg.

Jaejoong menjadi khawatir. Yunho demam tetapi dia harus tampil nanti malam selain itu dia harus pergi ke sekolah juga. Kembali dia berjalan ke lemari pakaian mereka dan mengambil jaket tebal untuk Yunho. Dia membantu Yunho untuk memakai jaket dan menidurkannya ke tempat tidur. Jaejoong berlari ke kamar mandi, mengambil handuk kecil dan membasahinya dengan air dingin sebelum kembali berlari ke suaminya dan mengompreskan handuk basah tersebut ke dahi Yunho. Yunho tertawa kecil melihat kepanikan Jaejoong.

"Jangan panik sayang. Aku baik-baik saja." Yunho membelai wajah penuh khawatir Jaejoong.

"Kau tidak baik-baik saja. Kau sakit Yunnie!" Jaejoong berusaha membendung air matanya ketika melihat suaminya. "Aku tidak ingin kau sakit Yunnie! Kau selalu peduli padaku dan kau selalu memastikan kalau aku baik-baik saja tetapi kau tidak peduli pada dirimu sendiri."

Jaejoong tidak dapat lagi menah air matanya, dia menangis tersedu. Dia sangat mengkhawatirkan suaminya, dia harus melindunginya dari pelacur itu nanti. Dan Tidak mungkin dia akan melewatkan penampilan suaminya di acara malam penghargaan.

Yunho menarik Jaejoong dan memeluknya. Mengusap punggung Jaejoong dan sesekali mencium kepala Jaejoong. "Jangan menangis sayang, aku tidak sekarat."

"Yah!" Jaejoong yang wajahnya sudah basah oleh air matanya, menangis makin menjadi-jadi mendengar gurauan Yunho. "Kau pikir, kau lucu huh?"

Jaejoong memukul dada Yunho dan suaminya itu hanya terkekeh. Yunho memeluk istrinya erat. Dia merasa kalau dia akan menjadi lebih baik sebelum malam penghargaan dimulai. Hanya dengan sentuhan lembut nan hangat milik istrinya bisa membuatnya merasa nyaman.

"Sayangku yang cengeng, aku mencintaimu! Aku mohon jangan menangis! Aku janji aku akan baik-baik saja, okay?" Yunho menangkup kedua pipi Jaejoong dan menghapus air mata yang menodai wajah cantiknya. "Aku mencintaimu. . ."

Yunho menatap Jaejoong namun yang bersangkutan hanya menatapnya balik menggunakan puppy eyes-nya. "Tidakkah aku berhak mendapat respon?"

Jaejoong mengerucutkan bibirnya pada Yunho dan menutup matanya. Air mata masih terlihat di kedua sisi matanya.

"Sayang aku minta maaf, ok? Maaf. . . aku tidak akan bercanda seperti itu lagi."

"Aku mencintaimu!" Jaejoong terus diam dan Yunho merasa sedih dan membaringkan tubuhnya lagi. Tidak mendapatkan respon apapun dari istrinya membuatnya sedih. "Kau bisa pergi ke sekolah sekarang."

Yunho bicara menggunakan nada dingin dan Jaejoong memeluknya dengan segera. Akhirnya Yunho tersenyum seperti yang sudah dia perkirakan, triknya akan berhasil pada istrinya. Yunho bangun dan balas memeluk Jaejoong.

"Aku juga mencintaimu Yunnie. Aku hanya tidak ingin kau sakit! Aku tidak akan pergi sekolah hari ini, aku akan tetap disini menemanimu!" Jaejoong mengambil ponselnya dan mulai menekan tombol untuk menghubungi Changmin.

"Aissshhh! Food's monster ini!" Jaejoong menunggu teleponnya diangkat oleh Changmin dan membimbing Yunho untuk kembali berbaring di tempat tidur. Yunho dengan patuh membaringkan tubuhnya dan menatap istrinya.

"Siapa yang kau hubungi sayang?"

"Changmin. Tapi food's monster itu tidak juga mengangkat telponnya!" Jaejoong mengeluh pada suaminya dan terkejut saat Changmin teriak diujung lain sambungan ponselnya.

"Yah! Siapa yang kau panggil Food's Monster huh?" Jaejoong menjauhkan ponselnya, suara mengelegar Changmin memekakkan telinganya. Diliriknya ponsel miliknya dan memutar bola matanya.

"Kau pikir siapa lagi?"

"Apa yang kau inginkan?" Tanya Changmin kasar.

"Begitukah caramu bicara dengan hyungmu?" Jaejoong merasa sedikit jengkel dan suaminya hanya tersenyum, menyukai perubahan ekspresi di wajah cantik Jaejoong.

"Ini masih terlalu pagi hyung dan kau menggangguku dengan kekasihku!"

Jaejoong yakin Changmin saat ini pasti sedang mempoutkan bibirnya. "Berkencan dengan makananmu lagi?"

"Siapa lagi?"

"Baiklah. . . Aku akan membuat ini cepat. Aku hari ini tidak bisa masuk se-" Jaejoong terhenti saat Changmin tiba-tiba menyelanya bicara.

"Aku mengerti! Kau tidak bisa masuk sekolah karena kau tidak bisa berjalan karena kau bercinta lagi dan lagi dan lagi. . .-"

"Yah!"

"Mweo? Bukankah sudah jelas kau selalu absen karena kalian berdua adalah dua kelinci mesum!"

Jaejoong mengerucutkam bibirnya dan melihat kearah suaminya. Yunho memberi tanda kepada istrinya untuk duduk disampingnya, setelahnya dia tautkan kedua tangannya ke pinggang kecil Jaejoong. Sedangkan Changmin terus bicara.

"Kau lihat? Aku benarkan?" ucap Changmin yang lebih berkesan seperti mengejek.

"Yah! Hentikan! Yunnie. . .! Changmin meledekku lagi!" Jaejoong memberikan ponselnya kepada suaminya.

"Minnie. . ." Panggil Yunho

"Kelinci mesum!" Ejek Changmin.

"Yah!"

"Kelinci mesum!" Ejek Changmin, lagi.

"Minnie. . ." Panggil Yunho, memberi peringatan.

"Eeeewww! Kalian berdua mesum!" Changmin seperti tidak dapat dihentikan. Tapi benarkah tak terhentikan?

"Ok cukup! Tidak ada suplai makanan buatmu!" Changmin langsung berhenti bicara dan menjadi diam diujung sambungan telponnya.

"Hyung! . . . Hehehe Yunho hyung?"

"Apa? Tidak ada makanan untukmu Changmin, mulailah menyimpan uangmu. Aku pastikan tidak akan memberimu uang jajan lagi!"

"Tapi. . . Aku hanya bercanda hyung. Tidak bisakah kau menganggapnya sebagai gurauan?"

"Aku bisa menganggapnya sebagai gurauan, tapi tidak dengan Jaejoong!"

"Aku minta maaf. Apa yang kau inginkan hyung?" Tiba-tiba Changmin merubah suaranya menjadi lebih manis seperti dia bicara dengan anak berumur 5 tahun.

"Naaaah Changmin. . . itu tidak akan berhasil!"

"Hyung! Aku mohon padamu, please. . . Aku akan mati dengan pasti! Eomma tidak akan memberiku uang jajan hanya untuk makananku tersayang!"

"Baiklah!"

"Apa kau yakin hyung?"

"Iya! Tapi aku akan menguranginya, aku akan mensuplaimu 50% saja. Jadi uang jajan yang akan kau terima tidak akan sama seperti sebelumnya, ya separuhnyalah! DEAL?"

"Hyung!"

"Baiklah. . . lupakan!" Jaejoong menyeringai pada suaminya, Yunho bisa menjadi penuh tipu daya kadang-kadang. Dan hanya dengan cara itu dia bisa menjinakkan Changmin.

"ANDWAE!" Teriak Changmin dan Yunho harus menjauhkan ponsel Jaejoong menjauh dari telinganya sebelum terbakar.

"Jadi bagaimana DEAL?" Yunho mendengar rengekan Changmin namun akhirnya sepupunya itu menyetujui penawarannya.

"OK! Tapi kenapa Jaejoong hyung absen hari ini?"

"Bagus, kau menghargai untuk bertanya tanpa mengejekku atau kau akan menderita. Dia tidak dapat masuk sekolah karena aku kena demam dan dia tidak bisa meninggalkanku dalam keadaan seperti ini. Aku beruntungkan mempunyai istri seperti dia?"

"Iya benar!" Diam-diam Changmin menyumpahi Yunho tetapi Yunho sudah paham betul bagaimana peringainya. . .

"Shim Changmin!"

"Aku bilang kalau kau beruntung hyung! Sungguh sangat beruntung! Kau memiliki istri yang cantik dan keren dan istri yang sangaaaaaaaaaat baik! Aku harus pergi sekarang! Ok? Sebelum kau berubah pikiran! Semoga kau beruntung! Bye!" Changmin menutup ponselnya dan YunJae berhigh-five-ria, siapa yang akan berpikir kalau SHIM CHANGMIN yang hebat juga bisa dikerjai.

OooOooO

"Yunnie. . . apa kau yakin kau sudah merasa baikan sekarang?" Yunho beralih menghadap istrinya yang masih mengkhawatirkannya dengan dahi berkerut, bibir cemberut dan wajah yang ditekuk seolah dialah yang sedang sakit. Dengan pelan dia mendekat ke istrinya dan memeluknya erat dan mencium pipinya.

"Aku yakin sayang. Dan selain itu kau ikut denganku kan?" Jaejoong menganggukkan kepalanya, melihat wajah Yunho dan mulai membelainya.

"Jangan sakit lagi Yunnie. . ." Gantian Yunho yang menganggukkan kepalanya sekarang dan kembali berbalik membenarkan letak jaketnya didepan cermin.

Jaejoong berdiri dari tempat tidur dan berdiri didepan suaminya, mengambil dasi dari tangan Yunho yang indah.

"Biar aku yang melakukannya. . ." Jaejoong mulai menyimpulkan dasi di leher Yunho. Yunho tersenyum dan membiarkan istrinya merapikan letak dasinya. "Selesai."

Jaejoong tersenyum melihat suaminya, mengagumi pemandangan didepannya. Yunho terlihat begitu tampan dikedua matanya, mengenakan setelan jas model Americana berwarna biru tua dengan dasi sutra berwarna biru hanya membuat Yunho terlihat semakin HOT. Dia yakin setiap yeoja akan meneteskan air liurnya lagi dan lagi untuk Yunho malam ini.

"Hmmmmm betapa beruntungnya diriku untuk bisa mempunyai suami yang hot sepertimu?" Tanya Jaejoong, namun lebih seperti sebuah pernyataan darinya, pernyataan bahwa dia sangat beruntung mempunyai suami Jung Yunho. Jaejoong mencium leher Yunho yang menyebabkan suaminya mengerang.

"Ya Tuhan! Sayang. . . Ayo kita lakukan ini nanti setelah acara penghargaan, dan pastinya kau akan memintaku untuk tidak berhenti!" Jaejoong memukul dada Yunho. Yunho hanya tertawa melihat kelakuan imut istrinya.

"Mesum!"

"Kau seperti sebuah godaan. Kau tahu aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri jika kau sudah menciumku!" Jaejoong menyeringai.

"Aku hanya ingin menyampaikan semoga beruntung untuk suamiku dan selamat, karena aku tahu kau akan menjadi artis terbaik tahun ini!" Yunho memeluk istrinya lagi.

"Terima kasih karena selalu mendukungku sayang! Aku mencintaimu!" Dan kembali mereka berbagi ciuman panas sebelum Yunho menarik istrinya keluar dari unit apartemen mereka. Sebelum dia lupa kalau dia harus menghadiri penghargaan yang bergengsi malam ini.

Mereka tiba di Seoul Olympic Stadium dimana malam penghargaan akan digelar. Jaejoong menatap pada suaminya dan berharap semoga dia beruntung bisa memenangkan penghargaan malam ini.

"Sayang. . . kau tidak ingin berjalan bersamaku di red carpet?" Yunho mempoutkan bibirnya saat Jaejoong menggelengkan kepalanya.

"Tidak mungkin untukku berjalan disana dengan semua kamera mengarah ke wajahku. NO WAY!"

"Tapi aku ingin kau dikenal sebagai istriku!"

"Tidak Yunho, aku tidak suka mendapat sorotan. Cukup kau yang mendapatkannya dan tidak mungkin aku mencurinya darimu malam ini!" Yunho menyeringai, Jaejoong benar jika seseorang melihat Jaejoong saat ini mereka pasti akan keliru dengan menganggapnya sebagai malaikat hidup. Jaejoong mengenakan setelan jas dan celana panjang warna putih dengan bulu-bulu putih berfungsi sebagai kerahnya. Rambut coklat keemasannya menyempurnakan kecantikannya yang membuat Jaejoong terlihat lebih lembut dan unik.

"Hmmmm. . . Aku suka bagaimana kau yang selalu percaya diri setiap saat!" Yunho mencium pipi Jaejoong dan yang dicium hanya memutar kedua bola matanya. "Aku akan menghubungi Junsu untuk duduk bersamamu, sejak kau tak ingin berjalan bersamaku."

"Tidak perlu sayang, Junsu sudah dalam perjalanan. Tapi jangan kau berani-berani melirik ke yeoja lain Yunho atau aku akan mencekikmu. Aku memperingatkanmu, aku akan mengawasimu malam ini!" Yunho tertawa mendengar bagaimana posesifnya sang istri akan dirinya saat ini.

"Baiklah sayang! Aku akan mengingatnya!" Yunho membentuk huruf V dengan dua jarinya ke Jaejoong. "Kau yakin kau ingin menunggu Junsu di mobil sampai dia datang?"

Jaejoong menganggukkan kepalanya seraya memeriksa keadaan disekitarnya. Kilatan cahaya dari kamera para pencari berita ada dimana-mana dan dia bersyukur kaca mobil Yunho berwarna hitam untuk memberi perlindungan dan keamanan untuk artis didalamnya.

"Aku yakin sayang. Kau bisa pergi sekarang!" Yunho hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia tidak pernah bisa melawan Jung Jaejoong yang keras kepala terutama saat dia dalam keadaan 'bitchy'.

Yunho mencium istrinya lagi, kemudian keluar dari mobil dan ratusan kamera mulai merekam gambar dari setiap langkahnya. Dia memberikan senyuman terbaiknya seraya melambaikan tangannya ke arah para fans yang meneriakkan namanya. Menjadi terkenal sangatlah menakjubkan namun dia berharap Jaejoong berjalan disampingnya.

OooOooO

Jaejoong meminta Mr. Lee, supir mereka untuk memarkir mobil di area terjauh dimana tak seorangpun dapat melihatnya. Dia memperhatikan tempat disekitarnya sekali lagi sebelum akhirnya keluar dari mobil dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Junsu.

{"Yeoboseyo?"}

"Junsu-yah. . ."

{"Yah! Kau dimana? Kau seharusnya ada disini sekarang. BoA dalam peejalanan menuju ruanganku untuk make up dan mengganti kostumnya."}

"Jangan panik Junsu, aku baru sampai dan sekarang ada diluar. Bisakah kau kesini sebentar?"

{"Baiklah. Tunggu aku!"}

"Apa kau mempersiapkan kostumku juga?"

{"Oh yeah! Dan kau akan menyukainya, dan pastinya Yunho akan kaget. Aku berharap dia tidak pingsan nanti melihat kejutanmu!"}

"Aku juga berharap begitu Junsu! Datang kesini sekarang!" Jaejoong tertawa mendengar Junsu menyumpahinya.

{"You sure are a bitch Jung Jaejoong. Tunggu aku!"}

Dan Junsu mengakhiri sambungan teleponnya. Jaejoong bersendekap. Dia membayangkan seperti apa reaksi Yunho nanti, hanya saja dia sangat yakin kalau suaminya itu akan terkejut. Namun malam ini adalah malamnya dan BoA tidak akan bisa menghentikannya. Seringai muncul di wajah cantik Jaejoong.

Jaejoong dan Junsu tiba di ruang khusus untuk Junsu. Mereka sangat bersyukur karena semua artis sekarang berada di dalam stadium dan dengan sengaja Junsu menempatkan BoA di daftar terakhirnya dalam rangka menjalankan misi mereka. Dia tidak akan membiarkan sahabatnya melakukan kejahatan sendiri tanpa membantunya. Sudah pasti dia mencintai sahabatnya sebanyak dia membenci BoA.

Setelah mereka masuk ke dalam, segera Jaejoong mengganti pakaiannya dan mencari tempat yang memungkinkan baginya untuk bersembunyi. Sedangkan Junsu akan mengalihkan perhatian BoA. Mereka mendengar suara pintu dibuka dan BoA menampakkan dirinya dengan begitu seksi dan cantik, itu yang dia pikir dan mungkin hanya dia yang berpikir seperti itu.

Jaejoong memastikan dia aman menyembunyikan tubuhnya dibawa meja Junsu dengan tetap mengaktifkan telinganya untuk mendengarkan percakapan antara sahabatnya dengan yeoja yang ingin merebut suami tercintanya.

"BoA-yah. . . kau terlihat sangat atraktif malam ini!" Junsu memulai aksi mereka dengan memuji BoA.

"Aku tahu. Dan aku akan memastikan diriku sebagai yeoja dengan wajah tercantik yang akan mereka pernah lihat!" Ujar BoA dengan penuh percaya diri.

'Yeah, jika mereka akan melihatmu!' Jaejoong menyeringai mendengar BoA, dia tidak pernah merasa bersalah pada yeoja satu ini karena dia perlu diberi pelajaran.

"Tentu! Bagiku kau adalah yang paling cantik!" 'Tidak sampai kau berdiri disamping Jaejoong, kecantikanmu pasti akan menjadi basi. Urggghhh yeoja sombong!' pikir Junsu.

"Gomaweo Junsu-yah, kau sungguh tahu bagaimana cara menyanjungku!"

Menyanjung? Yeoja ini bodoh atau apa? Menyanjung sangatlah berbeda dengan mengejek. Dan itu yang Junsu lakukan saat ini, mengejeknya BoA menggunakan kata-kata manisnya dan sebenarnya Junsu ingin melawak.

"Apa kau melihat Yunho malam ini?" Tanya BoA.

Dilain pihak, Jaejoong menjadi lebih waspada mendengar nama suaminya disebut lagi oleh mulut pelacur itu.

"Yeah! Aku melihatnya tadi dan dia terlihat tampan seperti biasanya!"

"Aku yakin dia akan terpesona melihatku memakai kostum ini, Junsu-ya. . ." Ujar BoA dengan kepedean yang seolah tak pernah habis.

Jaejoong mencoba untuk tidak menggebrak meja tempatnya bersembunyi saat dia menyumpai BoA dalam hati. Bagaimana pelacur itu bisa begitu sombong?

Sebagai tanda untuk misi selanjutnya, Junsu berjalan menuju meja dan menendang Jaejoong ringan. Jaejoong menekan nomor ponsel Junsu dan sahabatnya itu menerima panggilannya.

"Aku minta maaf BoA, aku harus menjawab telepon ini dulu."

"It's ok Junsu. Take your time!" Jawab BoA sok inggris dengan senyum mengembang.

Junsu menyeringai, 'Pastinya aku akan menikmati waktuku BoA, semoga kau beruntung!'

Segera setelah Junsu keluar dari ruangannya, Jaejoong keluar dari persembunyiannya dan langsung mematikan lampu. Sontak pelacur itu menjerit ketakutan.

"Ahhhhhhh, ada apa ini?"

"Apa ada orang disini?"

"Yah!"

"Aku mohon nyalakan lampunya!"

"Lelucon macam apa ini huh?" Monolog BoA dalam kegelapan.

Dengan pelan Jaejoong mendekati BoA dengan plester di tangannya.

"Yah! Apa mak-" Jaejoong merekatkan potongan plester ke mulut BoA yang hendak mengeluarkan teriakan yang menjengkelkan lagi.

"Ummmmm mmmm mmmmm," BoA terus bergerak saat dia merasa tangannya yang sekarang telah terikat, dia tidak tahu siapa orang yang berada dibelakangnya tetapi dia yakin orang tersebut seorang namja.

Disisi lain Jaejoong memastikan bahwa pintu telah terkunci dua kali dan dia membiarkan lampu padam ketika dia menuntun BoA untuk duduk di kursi tunggal dan mengikatnya kembali.

BoA membelalakkan matanya saat dia merasakan seutas tali berkeliling mengikat tubuhnya. Saat ini tubuhnya tiba-tiba berkeringat deras, dia sama sekali tidak mengingat kalau punya musuh yang mempunyai dendam pada dirinya namun dia terus berdoa semoga dia tidak terbunuh malam ini.

Namja yang tadi berada dibelakangnya sekarang duduk tepat didepannya dengan mengenakan pakaian serba hitam dan sebuah topi. Dalam keremangan dia bisa melihat kilau sebuah pisau yang dimainkan oleh orang yang menyekap dirinya. Dia mulai menggerakkan tubuhnya, gemetar karena namja didepannya terlihat seperti preman di film yang akan membunuh korbannya tanpa ampun.

"Hallo yeoja penggoda yang ada disana!"

"Mmmm mmmm . . . mmmm!"

"Aaaaawwww! Sekarang kau terlihat seperti anak kucing malang yang ditinggal induknya. Bukan begitu?"

"Ummmmm. . . Ummmmm!"

"Hahaha. . . Aku belum memulainya BoA."

"Ummmm. . . mmmmmm!"

"Aku hanya ingin memberimu sebuah pelajaran, pelajaran yang baik atau bisa dibilang pelajaran terbaik yang mungkin tak pernah terbayangkan olehmu akan terjadi padamu, hmmmm?" BoA kembali gemetar saat namja itu mendekatinya. Dia menutup matanya, ketakutan.

"Aku ingin kau menjauhi Yunho, BoA."

"Mmmmmmm. . .!"

"Iya! Betul kau mendengar ku kan? Menjauhlah dari suamiku!" Jaejoong menyalakan lampu dan menunjukan dirinya sendiri didepan BoA. Yeoja itu melebarkan matanya melihat tatapan tajam yang dia terima dari Jaejoong.

"Berani-beraninya kau berencana untuk membawa suamiku ke tempat tidur malam ini!" Jaejoong berjalan mendekat ke BoA dan menjentikan jarinya ke dahi yeoja itu, membuatnya mengerang kesakitan karena Jaejoong melakukannya sedikit keras.

"Itu belum cukup BoA-ssi. . . Apa aku belum mengatakan kepadamu untuk tidak mencari gara-gara denganku atau kau akan mendapat masalah. Tapi sepertinya kau sungguh ingin mencari masalah. . . Dan aku akan memberikannya padamu dengan senang hati!" Jaejoong mendekatkan pisau yang dia gunakan tadi untuk memotong tali ke leher BoA dan sekali lagi BoA melebarkan matanya.

"Mmmmmm. . . mmmmmm. . . mmmmm!" BoA terus mengerang dengan mulut terplester.

"Jadi kau takut ya dengan pisau ini?"

"Mmmmmmmm!"

Jaejoong tertawa melihat ketakutan di kedua mata yeoja itu. "Baiklah. Aku tidak akan menggunakan pisau ini kalau itu bisa melegakanmu".

Jaejoong meletakkan pisau di meja rias Junsu dan kembali fokus pada BoA.

"Mmmmmm mmmm mmmm."

"Awwww kau ingin mengatakan sesuatu sebelum kau mengucapkan selamat tinggal pada rambut indahmu!" Kali ini Jaejoong mengeluarkan gunting dari sakunya dan menggerakkannya seolah dia menggunting sesuatu. BoA mulai menangis namun Jaejoong tidak merasa terganggu oleh air mata yeoja penggoda suaminya itu.

"Mmmmm. . . mmm. . .!" Jaejoong menyeringai lagi.

"Baiklah? Aku akan membuka plester ini jika kau berjanji padaku untuk tidak berteriak. Itu jika kau tidak ingin membuatku kaget atau mungkin aku akan memukulkan gunting ini padamu?" BoA menganggukkan kepalanya tanpa henti. "Baiklah. . . Hana. . . Tul. . . Set. . .!"

Jaejoong berhenti berhitung dan menatap BoA lagi. "Kau janji tidak akan teriak?" Boa mengangguk lagi.

"Apa kau yakin?" Jaejoong memastikan dan Boa kembali menganggukkan kepalanya berulang-ulang. Jaejoong membuka plester di bibir BoA kasar, menyebabkan yeoja itu mengaduh sakit.

"Sekarang bicaralah!" Perintah Jaejoong.

"Aku minta maaf. . . aku mohon jangan lakukan ini padaku!"

"Dan kenapa aku harus menghentikannya? Disaat semua yang ingin aku lakukan adalah menguliti kepalamu hidup-hidup!"

"Aku mohon. Maafkan aku, aku mohon. . .!"

"Aku sama sekali belum mendengar sesuatu yang bisa memuaskan telingaku." Dengan putus asa BoA memohon kepada Jaejoong, namun Jaejoong hanya menggelengkan kepalanya.

"Bagaimana aku bisa tahu kalau kau mengatakan yang sejujurnya kepadaku?"

"Aku tidak akan pernah lagi meminta manajemen untuk memasangkanku dengan Yunho. Sebelumnya. . . semua adalah permintaanku dan mereka mengabulkannya. Sebenarnya manajemen berencana untuk memasangkanku dengan artis namja lainnya tapi aku menolaknya karena aku sangat menyukai Yunho!"

Jaejoong masih belum cukup puas dengan pengakuan BoA. "Hmmmm. . . Apa kau tidak pernah berpikir kalau kau telah menggoda suami orang huh? Apa kau tidak sadar kalau tindakanmu akan menghancurkan sebuah pernikahan sempurna yang terjalin diantara kami berdua?"

"Aku minta maaf. . ."

"Apa kau tidak sadar kalau kau sudah menyakitiku dengan melihatmu mencium suamiku didepan TV nasional dan dengan sangat menjengkelkan kau menyeringai padaku?"

"Aku sungguh minta maaf!"

"Dan berusaha untuk merebut suamiku dengan berencana membawanya ke tempat tidur dengan manajermu sebagai kaki tanganmu?" BoA terkesiap kaget mendengar penuturan Jaejoong. "Kau terlihat sangat terkejut huh? Bagaimana kau bisa begitu pabo dengan tidak menekan tombol untuk mengakhiri panggilan tapi malah menerimanya?"

BoA menarik alisnya ke atas seraya memproses semua yang diungkapkan oleh Jaejoong dan setelah itu kembali dia terkesiap.

"Iya benar! Waktu itu. . . sebenarnya aku ingin menghubungi sahabatku; junsu, untuk bertanya mengenai kostum yang akan Yunho pakai tapi bukan mendengar suara manis sahabatku malah mendengar kau dan manajermu berbicara dan merencanakan perbuatan jahat terhadap suamiku. Tapi semenjak kau begitu bodoh dan idiot, kau keliru menekan tombol yang mungkin tak pernah kau harapkan untuk kau tekan. Aku bersyukur Tuhan selalu berada disisiku karena aku seorang malaikat dan kau setannya huh? Tuhan menunjukkan apa yang kau rencanakan padaku. Kau pelacur!" Jaejoong menarik napas dalam setelah mengungkapkan semua yang dia ketahui.

"Kau mendengarnya?" BoA seakan tak percaya rencananya terbongkar karena kebodohannya sendiri.

"Iya dengan keras dan jelas BoA. Dan hukuman ini tidak cukup untuk memberimu pelajaran!"

"Apa yang kau rencanakan? Aku akan teriak!"

"Berteriaklah sekeras mungkin atau aku akan menggunakan gunting ini padamu!" BoA merasakan tubuhnya kembali bergetar ketakutan saat dia melihat kilauan gunting di tangan Jaejoong.

"Apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan membuatmu semakin cantik malam ini BoA, jadi semua orang akan melihat ke arahmu!" Jaejoong menempatkan dirinya sendiri dibelakang BoA yang sekarang melebarkan kelopak matanya.

"Aku mohon jangan lakukan apapun pada rambutku. Aku mohon padamu!"

"Jangan khawatir aku ahli dalam hal ini, dan aku akan pastikan kau akan ada di halaman utama untuk gaya rambut terbarumu besok!"

"Andwae!" BoA berteriak dan membuat Jaejoong mengambil plester dan menutup mulut BoA yang menjengkelkan dengan plester lagi.

"Bukankah sudah aku katakan padamu kalau suaramu membuatku terganggu jadi tenanglah dan biarkan aku melakukan tugasku! Ok?" Jaejoong menepuk kepala BoA dan mulai memotong rambut BoA.

OooOooO

Yunho menautkan kedua alisnya ketika dia melihat Junsu berjalan sendiri. Dimana istrinya?

Dia berdiri dan berjalan menuju Junsu tetapi manajernya mengatakan padanya untuk duduk karena acara penghargaan akan segera dimulai dalam beberapa menit lagi dari sekarang. Yunho memberi tanda Junsu untuk datang kepadanya dan dia bersyukur bahwa Junsu mengerti maksudnya dan kembali berjalan ke arahnya.

"Junsu-yah dimana Jaejoong?"

"Ahhh dia pergi ke toilet, memperbaiki riasannya!" Jawab Junsu senormal mungkin.

"Apa kau yakin dia akan baik-baik saja pergi sendiri? Dia tidak tahu keadaan disini!" Yunho yang mulai khawatir mengintrogasi Junsu.

"Dia baik-baik saja Yunho. Jangan khawatir ok?" Junsu melihat bagaimana khawatirnya Yunho dan hal ini membuatnya tersenyum. Ditepuknya bahu temannya itu. "Dia mungkin terlihat begitu rapuh tapi dia bisa mengatasinya sendiri dengan baik. Okay?"

"Okay!"

"Dan kau harus terus terlihat tampan. Kau akan tampil beberapa saat lagi." Junsu mengingatkan Yunho.

"Gomaweo Junsu-yah."

"Cheonmaneyo!" Junsu sebenarnya juga mengkhawatirkan Jaejoong dan dia sedang menunggu sahabatnya itu menghubunginya. Dia berharap semuanya berjalan lancar.

OooOooO

Jaejoong tersenyum setelah menyelesaikan tugasnya. Sedangkan disisi BoA, yeoja itu terus saja berontak. Rambut panjang nan indah miliknya kini berubah menjadi pendek dan lebih terlihat seperti potongan seorang namja. Karena Jaejoong menambahkan sedikit gel diatasnya maka rambut BoA sekarang terlihat seperti model rambut punk yang hanya biasa kalian lihat dibeberapa film kartun.

"Kau ingin melihat hasil kerja kerasku?" Akhirnya Jaejoong bertanya ke BoA yang malang dan memberikan cermin kepadanya.

"Ummmm. . . mmmm. . .!"

"Oh. . . Aku lupa kalau tanganmu masih terikat, maaf!" Jaejoong memegang cermin dan menghadapkannya didepan wajah BoA. Yeoja malang itu membelalakkan matanya melihat tampilannya sekarang. Dia mulai menangis seraya menatap Jaejoong.

Jaejoong memalingkan wajahnya, karena dia tahu beberapa saat lagi dia akan menyerah. Dia tahu bahwa dia telah berbuat jahat kepada BoA, namun pelacur satu ini harus tahu dimana dia menempatkan dirinya. Melibatkan dirinya dengan seorang namja beristri bukanlah sebuah ide yang bagus dan apalagi mencari masalah dengan Jung Yunho yang beristrikan Kim Jaejoong juga bukanlah ide yang bagus.

Jaejoong kembali menatap yeoja itu dan merasakan sedikit simpati untuknya. Dia membuka plester di mulut BoA.

"Aku sungguh minta maaf Jaejoongssi. Aku tidak akan mengganggu Yunho lagi." Raung BoA. Yeoja itu menangis keras. "Aku akan menjauhkan diriku darinya!"

"Bagus kalau kau menyadarinya BoA-ssi. Kau harus tahu dengan siapa kau berurusan dan jika kau tidak menepati apa yang baru saja kau katakan, aku tidak berjanji bisa melepasmu begitu saja. Kau tahu apa yang bisa aku lakukan dan aku tidak akan berpikir dua kali untuk melakukan hal yang lebih dari ini padamu!"

"Aku janji padamu! Aku mohon lepaskan aku Jaejoong-ssi. . ." Jaejoong mempelajari ekspresi wajah BoA, jujur tidakkah dia dengan kata-katanya. Matanya masih penuh dengan air mata, tangan terikat dan rambut yang. . . ya. . . buruk untuk yeoja seperti dirinya.

"Jangan berani-berani kau menarik kembali perkataanmu BoA atau aku akan menyebarkan ke seluruh manajemen apa hubunganmu yang sebenarnya dengan manajermu!" BoA terkesiap dan melebarkan kedua matanya seraya menatap kembali Jaejoong.

"Iya BoA! Aku tahu kalau kau mempunyai affair dengan manajermu. Setahuku SM tidak akan membiarkan artis mereka terlibat dalam sebuah hubungan jika mereka masih terikat kontrak dan mengingat affair yang kau jalin dengan manajermu itu seperti kau mengkhianati SM. Benarkan?" Lanjut Jaejoong. "Tidakkah kau pikir ini berita bagus untuk headline besok pagi?"

Dengan buru-buru BoA menatap Jaejoong dan langsung menggelengkan kepalanya. "Please Jaejoong-ssi. . . Aku mohon padamu, please! Jangan lakukan itu! Aku jujur saat mengatakan bahwa aku tidak akan mengganggu Yunho lagi. Aku bersumpah aku akan mati sekarang jika aku tidak mengatakan yang sebenarnya!"

Jaejoong menyeringai dan menatap BoA. Sekali lagi mempelajari ekspresi wajah yeoja itu, mencari kebenaran dalam setiap tutur katanya.

"Bagaiman caramu untuk meyakinkan aku kalau kau akan melakukan apa yang telah kau katakan BoA?"

"Aku tidak akan tampil dengan Yunho malam ini. Aku janji. . . Aku tidak akan muncul dan menampilkan diriku di panggung malam ini!"

"Sungguh?"

"Iya!"

"Apa kau bisa menaha rasa malu saat orang-orang melihatmu dengan gaya rambut seperti itu?"

"Tidak apa-apa aku bisa mengatasinya. Aku tahu kau orang yang baik Jaejoong-ssi dan sekarang aku akui bahwa aku telah mencari gara-gara dengan orang yang salah. Aku sungguh minta maaf!"

Akhirnya Jaejoong tersenyum dan sedikit mencondongkan tubuhnya seraya meletakkan sebuah paper bag di pangkuan BoA. Kemudian dia merapikan pakaian yang dikenakannya.

"Aku tidak ingin bilang kalau aku sudah memaafkanmu. Karena kau masih harus membuktikan kepadaku ketulusan dari semua permintaan maafmu dan janji-janjimu BoA-ssi."

BoA menatap Jaejoong lagi sebelum menundukkan kepalanya untuk melihat apa isi didalam paper bag.

"Ini apa Jaejoong-ssi?" Jaejoong melihat paper bag yang masih dalam pangkuan BoA.

"Well. . . Itu wig yang aku bawa untukmu karena aku tahu kau tidak akan suka jika ada orang lain yang melihatmu dengan gaya rambut punk seperti itu kan? Oh ya. . . aku juga punya pakaian ganti untukmu. Junsu sudah menarik semua kembali kostumnya dan mengembalikannya ke butik miliknya tadi. Kau juga pasti tidak suka terlihat mengenakan pakaian minim itu diluar panggung kan? Jadi aku sudah menyiapkan satu yang sangat cantik dan kau pasti akan menyukainya." Selesai menjelaskan apa isi didalam paper bag ke BoA, Jaejoong berjalan menuji pintu dan BoA menatapnya horor.

"Jaejoong-ssi bagaimana dengan ini?" BoA melihat kearah tali yang masih mengikat tubuhnya dan tangannya.

"Owww itu! Aku takut kau harus membukanya sendiri atau menunggu seseorang untuk datang ke sini dan membantumu membukanya!"

"Jaejoong-ssi tunggu. . ."

"Apalagi yang kau mau? Katakan sekarang sebelum aku berubah pikiran!"

"Aku mohon lepaskan tali yang mengikat tanganku. Please?" mohon BoA, namun Jaejoong masih diam.

"Jaejoong-ssi please. Aku mohon padamu!" BoA menunjukan puppy eyes-nya dengan air mata yang masih mengalir turun di wajahnya.

Dan Jaejoong, malaikat suaminya, namja baik berhati lembut tidak dapat melihat seorang yeoja yang memohon seperti itu. Diapun melepas ikatan tangan BoA dan segera setelah melakukannya, dengan cepat dia berjalan keluar dari pintu dan sekali lagi bersembunyi di sekitar ruangan Junsu. Dia ingin memastikan BoA memegang kata-katanya, namun ketika BoA keluar yeoja itu sedang dalam percakapan dengan menggunakan ponselnya dan menyeringai.

Menyeringai?

Kemana air mata yang baru dia teteskan barusan? Wow! Baiklah, ini tidak benar. Pelacur itu merencanakan sesuatu di otaknya lagi. Jaejoong menyesal saat ini karena sudah terhanyut oleh wajah memelas BoA dan dia ingin sekali mengikat pelacur itu lagi dan menyembunyikannya di gudang penyimpanan selamanya.

Jaejoong mengamati area disekitarnya dan tidak ada orang lain disana. Namja cantik itu menyeringai saat dia bisa mendengar percakapan telepon BoA dengan sangat jelas karena BoA berhenti tepat didepan tempatnya bersembunyi. Jaejoong mengambil ponsel miliknya dan merekamnya.

"Manajer Kim, aku harus mendapatkan jalang itu Jung Jaejoong! Kau tahu apa yang sudah dia lakukan padaku?" Ungkap BoA berapi-api. "Dia menggunduli rambutku, jika dia masih ingin hidup tidak seharusnya dia mencari masalah denganku!"

Jaejoong sama sekali tidak terpancing dengan kata-kata BoA dan terus mendengarkan apa yang dibicarakan yeoja itu.

"Aku ingin kau terus mengawasi Yunho, lakukan sesuai rencana dan sekarang aku ingn menghancurkan image Yunho. Tapi aku harus mendapatkan namja jalang itu terlebih dabulu dan aku akan membalas apa yang telah dia lakukan padaku!"

'Oooohh menakutkan!' Jaejoong memutar kedua bola matanya seraya terus menguping pembicaraan BoA.

"Pastikan Yunho meminum teh yang aku berikan padamu, dan tidak butuh waktu lama dia akan kehilangan kesadarannya!"

Jaejoong menggigit bibirnya, suaminya tidak tahu sama sekali mengenai apa yang pelacur ini rencanakan untuk dirinya dan dia merasa darahnya mendidih hingga 90 derajat lagi.

"Aku akan menunggumu di mobil manajer Kim, aku tidak bisa tampil malam ini. Aku punya rambut yang sungguh-sungguh jelek dan aku harus mengurus Jaejoong dulu. Aku akan menunggumu dan Yunho di mobil, ok?"

Jaejoong melihat BoA berlari menuju pintu keluar menggunakan tangga darurat, seringai menghias wajah Jaejoong. BoA pasti tidak ingin ada yang melihatnya dengan gaya rambut barunya dan Jaejoong yakin kalau BoA akan lansung menunggu di parkiran basement stadiun Olimpiade Seoul.

Dengan buru-buru Jaejoong masuk ke dalam lift dan menekan tombol untuk menuju ke basement. Dia harus sampai disana lebih dulu dari BoA dan selama berada di lift dia menghubungi Junsu.

"Junsu-yah aku ingin kau terus mengawasi Yunho. BoA merencanakan sesuatu lagi dan kali ini manajernya akan ikut membantu langsung. Semua yang Yunho akan minum, pastikan itu tidak sampai menyentuh bibirnya. Kau mengerti?"

"Jaejoong tunggu. . . Apa yang terjadi? Aku pikir kau sudah memberi pelajaran kepada BoA?"

"Aku sudah memberinya pelajaran. Tapi dia mengacaukannya dan sekarang Yunhoku masih menjadi targetnya. Dan sebagai tambahan, aku masuk dalam daftarnya sejak dia juga ingin mendapatkanku. Sekarang. . . Junsu aku membutuhkan bantuanmu. Aku mohon terus awasi suamiku dan aku akan mengatasi lainnya." Terang Jaejoong dalam satu tarikan napas.

"Jae. . . apa kau yakin?" Suara Junsu yang penuh dengan rasa khawatir menghangatkan saraf panas Jaejoong. Dia telah berusaha membuat dirinya tenang untuk beberapa saat.

"Aku bisa melakukan ini Junsu, dan sekarang tidak bisa ditunda lagi. BoA yang menginginkan ini terjadi dan aku yakin dia akan menjadi topik utama besok! Aku menutup teleponnya Junsu!" Jaejoong mengakhiri panggilannya ketika lift yang dinaikinya sampai di basement. Jaejoong kembali berlari untuk menyembunyikan dirinya dan menunggu BoA untuk muncul. Tidak butuh waktu lama, pelacur itu berjalan kearahnya lagi. 'Wow. Tuhan sungguh berpihak padaku!'

Jaejoong dengan hati-hati berjalan dengan berjinjit ke mobil BoA dan dia bersembunyi didekat pintu depan penumpang mobil BoA. Segera setelah mendengar pintu mobil yang dibuka kuncinya, buru-buru Jaejoong membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil yang sontak membuat BoA kaget. Yeoja itu terkejut melihatnya berada didalam mobil. BoA hendak keluar mobil saat Jaejoong menarik lengannya.

"Kau pikir kau bisa pergi kemana huh? Dan aku pikir kau jujur dengan kata-katamu BoA. Sayang sekali, lagi-lagi aku mendengar rencana jahatmu dan merekamnya!" BoA membuka mulutnya saat melihat Jaejoong mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan sesuatu itu masihlah sebuah gunting.

"Hal yang bagus aku masih mempunyai ini bersamaku, sekarang aku ingin kau menelepon manajermu dan katakan padanya untuk datang ke sini. Dan. . . jangan coba-coba mengatakan padanya kalau aku ada disini atau aku tidak perlu berpikir dua kali untuk menancapkan ini ke tenggorokanmu." BoA melebarkan matanya dan tidak bergerak sedikitpun.

"TELPON DIA SEKARANG!" Bentak Jaejoong.

BoA terjingkat kaget mendengar suara Jaejoong menggema didalam mobil. Dia mulai menekan nomor manajernya dengan tangan gemetar.

"M-manajer Kim. . . bi-bisakah kau datang ke. . . ke basement?" dengan gugup BoA melakukan perintah Jaejoong.

"Yeah! Sekarang!" BoA menutup panggilannya.

Jaejoong kembali menyeringai, kemudian menarik BoA keluar dari mobil dan mulai merobek baju yeoja penggoda suaminya itu. Dia bergetar karena amarah mulai menguasai dirinya dan merasa seperti bukan Jaejoong yang sesungguhnya lagi. Dia menyobek baju BoA hingga tinggal pakaian dalamnya saja yang melekat pada tubuhnya.

"A-apa yang kau lakukan?" BoA tidak menyangka Jaejoong akan menelanjanginya.

"Kau kan yang menginginkan hal ini BoA? Aku akan memberikannya padamu!" Jaejoong mulai mengumpulkan pakaian BoA yang sudah tak berbentuk dan mengikatnya menjadi satu. Bisa dia lihat dari ujung matanya BoA bergerak menjauh, namun dengan cepat Jaejoong mengacungkan guntingnya ke dagu BoA.

"Kau mau pergi kemana huh? DUDUK!" BoA menjatuhkan tubuhnya dengan lutut sebagai tumpuannya. Dengan kasar Jaejoong menarik tangan BoA ke punggungnya dan mengikatnya. Menutup mulutnya dengan menggunakan potongan kain dari pakaian BoA.

Dia melihat bagaimana BoA menangis tetapi kali ini tidak ada simpati sama sekali untuknya. Dia malah merasa ingin membunuh yeoja itu, namun sekali lagi dia menahan amarahnya dan mencoba untuk menenangkan dirinya. Tak lama dia mendengar suara langkah kaki yang mendekat.

Jaejoong bersembunyi di belakang mobil dan melihat manajer Kim berjalan menuju mobil BoA. Ketika manajer itu tepat berdiri di sampingnya, dia menampakkan dirinya dan meninjunya tepat di hidung sang manajer. Namja itu jatuh, juga dengan lutut sebagai tumpuannya.

Sang manajer sepertinya sedikit pusing saat Jaejoong menyeretnya mendekat ke tempat BoA. Hal yang sama dia lakukan kembali, Jaejoong merobek pakaian sang manajer. Dan seolah mengerti apa yang akan dilakukan Jaejoong selanjutnya, manajer kim hendak berdiri dan menyelamatkan diri. Namun belum sempat kabur, wajahnya malah mendapat pukulan penuh tenaga lainnya dari Jaejoong dan menyebabkannya tertidur tak sadarkan diri.

Jaejoong mengikat manajer Kim dan BoA bersama dan memastikan kali ini tidak ada yang kabur dari kemurkaan Jung Jaejoong. Kemudian dia berlutut dan menatap tajam BoA yang masih menangis.

"Jangan mencoba menipuku lagi dengan air mata palsumu BoA. Aku memberimu kesempatan untuk membuktikannya dan aku sudah cukup baik padamu tapi kau benar-benar membuatku jengkel. Dan sekarang bagaimana bisa kau malah ingin menghancurkan karir suamiku disaat karirmu sendiri berada diujung tanduk? Aku minta maaf BoA tapi kau sungguh membuatku marah. Aku sudah sering memperingatkanmu tapi sepertinya kau sungguh keras kepala karena kau tidak pernah membayangkan apa yang bisa aku lakukan. Aku bisa membunuhmu sekarang jika aku mau tapi aku masih punya suami yang mencintaiku, keluarga yang menyanyangiku dan teman-temanku yang pastinya tidak rela jika sampai aku melakukannya. Jadi ini seharusnya bisa memberimu sebuah pelajaran sekarang, hmmmm?"

Tanpa memberi kesempatan BoA untuk bicara, Jaejoong berdiri dan berjalan ke mobil BoA untuk mencari pena dan kertas. Dia mendapatkan semua yang dia cari, bahkan mendapat bonus berupa plester. Jaejoong menuliskan sesuatu di kertas dan kembali ke BoA dan manajernya yang duduk saling terikat di dinginnya lantai basement. Tentunya dengan hanya memakai underwear sebagai penutup tubuh mereka.

Jaejoong tersenyum sedih untuk BoA dan menempelkan kertas di dada manajer yeoja itu yang bertuliskan 'DIA PELACURKU'. Selesai dengan manajernya, sekarang artisnya. Jaejoong memutar kepalanya ke BoA dan menempelkan kertas lainnya dengan tulisan 'AKU BANGGA MENJADI PELACUR!' di dada yeoja itu.

Setelah menyelesaikan misinya, Jaejoong berjalan pergi menuju lift dengan wajah serius dan kembali menghubungi ponsel Junsu.

"Hallo Jae, apa kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja Junsu. . . maukah kau melalukan bantuan terakhir untukku?"

"Iya Jae!"

"Kirim media dan reporter ke basement. Dan pastikan mereka cukup untuk membuat headline untuk kehancuran karir seseorang besok!"

"J-jae. . ."

"Sekarang Junsu!"

"Ba-baiklah!" Junsu yang merupakan teman terbaik Jaejoong, kadang dibuatnya ketakukan karena Jaejoong yang saat ini bukan lagi sepenuhnya seorang malaikat -seperti yang mereka kenal- ketika dia marah.

Sekali lagi, lebih baik berhati-hati karenanya dan jangan mencari gara-gara dengan namja cantik itu atau kau pasti akan mendapatkan pelajaranmu.

.

.

.

tbc

.

.

.

Editor's Note :

Bahasa tidak baku, typo dimana-mana dan maaf jika ada penggunaan bahasa yang tidak berkenan.

Annyeong..

saya datang lagi bawa updatean baru. Woah maaf ya kalau saya tidak bisa update fast seperti keinginan temen-temen..

Hmmm.. awalnya saya ragu buat posting updatean kali ini, karena saya takut mengecewakan ekspektasi kalian. Saya berharap semoga semua berkenan dihati.. hehe

Jaejoong dan Yunho, umur mereka beda 3 tahun. Jae 18 tahun, Yun 21 tahun. Kenapa BoA ga boleh punya hubungan saat terikat kontrak dan Yun-Jae boleh? Jawabanya karena pengaruh dari keluarga keduanya yang termasuk keluarga terpandang di Korea.

Thanks untuk semua yang udah review :

auntyjeje # magnae yj # jung sister # mandakyumin # snow drop1272 # hyemi han # birin rin # saphire blue for onyx # jaenna # rsza # my jeje # kimryan2124 # yuehuang99 # guest137 # dewi15 # ifanalee # rereyunjae pegaxue # shipper89 # vierashian djoniez # hiruzent1 # name ken sayong # gomchi46 # dheaniyuu # angel sparkyu # vichi vhan # opi nur58 # ruixi1 # ara choi # danactebh # yukitotouya21 # min # jonginDo # yj love # ristinok137 suka yj nochangkyu # brownieyes # wulandari apple # sung soo joon # tyaWuryWK # mimi2608 # firaamalia25 # chacaa # lolamoet # lawliet jung # kimryeona19 # fuyu cassiopeia # zheyra sky # yunjaeeee # dariel malfoy # fuyaSNYJIKBest # mehong # nyangiku # dbsBoyfrloved # jung aya mitangsomnia # sequinn jung # alif # kir # Guests

Thanks juga buat semua yang udah follow, favorite-in, dan semuanya yang udah baca.

Loph chu all~~~

YunJae'a love is real

YunJaeDdiction