MASK
"Semua orang memakai topeng untuk kau cintai.
Jika kupakai topeng burukrupa, akankah kau mencintaiku?"
.
.
CHAPTER 16
.
.
.
.
Derap langkah kaki Jongin tak membuat para pegawainya langsung menunduk hormat memberi salam. Salahkan Jongin yang datang seperti anak yang baru saja kabur dari rumah dan tersesat di hotel berkelas. Jongin menuju bagian front office dimana beberapa resepsionis berdiri disana melayani dan menyapa semua tamu.
"Ada yang bisa bantu, Tuan?"
"Apa direktur ada di ruangannya? Dia sudah datang?"
"Mohon maaf, Tuan...Direktur tidak bisa di temui jika belum membuat janji terlebih dahulu. Jika ada keluhan silahkan disampaikan ke saya."
"Begini saya mengeluh bagian front office yang terlalu sopan pada tamu. Aku jadi ingin tahu siapa yang merekrut mereka. Harusnya mereka menulis surat lamaran ulang."
Sang resepsionis yang berbincang dengan Jongin tersentak sesaat. Merasa dirinya melakukan kesalahan hingga tamunya ini menyidirnya. "Mohon maaf Tuan. Saya hanya menjalankan pekerjaan saya bukan melarang Tuan menemui direktur. Jika Tuan sudah membuat janji, saya akan antar Tuan sampai ke ruangannya."
"Tidak, aku akan kesana sendiri – " Jongin melirik name tag pegawainya itu. "Jungkook.." ejanya pelan. "Sebaiknya kau cepat cari suami, Kookie...untuk membiayai hidupmu. Aku menunggu surat pengunduran dirimu."
"Pengunduran diri apa, Komisaris Kim?" seru Kim Taehyung selaku Personal Manager yang salah satu tugasnya merekrut karyawan.
Membuat Jungkook langsung membungkuk meminta maaf karena tak mengenali pemilik Hotel tempat ia bekerja. "Jwosonghamnida, Sajangnim!"
"Saya sudah memperkerjakannya susah-susah, Anda seenaknya memecat orang. Anda pikir merekrut karyawan segampang memungut kucing di jalan," ujar Taehyung.
"Kau sedang marah padaku?" tanya Jongin balik.
Taehyung membungkuk meminta maaf dengan tidak ikhlas. "Tidak, Sajangnim...Saya hanya berbicara kebetulan dengan nada tinggi."
Jongin berdecak tak percaya sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana pendeknya. Taehyung pura-pura tidak mengubris dan malah berkata dengan santainya, "Anda seharusnya juga berbenah diri. Sebentar lagi ada wartawan yang akan meliput Anda kesini. Bukannya malah memakai kaos putih dan celana pendek seperti itu, Anda mau dikira bapak-bapak rumah tangga selesai mengganti popok anaknya?"
"Aku sensitif terhadap kata rumah tangga dan popok anak. Jangan ucapkan itu lagi," tegur Jongin.
"Dasar tidak laku," cemooh Taehyung lirih takut terdengar bosnya itu. "Sebaiknya Anda cepat menemui direktur. Direktur yang mensetujui Anda di wawancarai, ini akan mempromosikan hotel Anda secara tidak langsung."
"Gantikan aku kalau begitu. Aku tidak suka di wawancarai, aku sudah cukup terkenal di majalah gosip. Apa wajahku juga harus masuk majalah bisnis?"
"Mmm...sebenarnya ini bukan hanya gambar Anda yang akan muncul di majalah namun juga video wawancara Anda akan di tampilkan di situs web mereka. Mereka termasuk media berita yang cukup terkenal di luar negeri. Mereka bahkan mengirim salah satu staf mereka yang keturunan Korea untuk ikut terbang kesini, katanya jika Anda bertindak menyebalkan di tengah wawancara setidaknya ada yang mengerti apa yang Anda umpatkan."
"Kalau begitu suruh wawancara mereka dengan bahasa Korea. Aku akan banyak mengumpat sesuai harapan mereka."
"Tapi – " Taehyung ingin menyela namun segerombolan orang datang menghampiri meja resepsionis mengalihkan perhatian mereka berdua. Kebanyakan dari mereka berambut blonde dengan kulit pucat kemerahan, Jongin sampai tanpa sadar menyentuh kulitnya sendiri yang berwarna tan.
Terpaksa Jongin dan Taehyung minggir sebentar. "Apa mereka yang mewawancaraiku?" bisik Jongin.
"Sepertinya. Anda sepertinya sangat terkenal karena berpartisipasi dalam memperkenalkan budaya Korea dengan menyediakan penginapan mewah dan perjalanan wisata ke seluruh tempat wisata di Korea dalam satu paket. Apalagi Anda masih muda, kurasa itu nilai plus untuk konten yang mereka tulis."
Jongin bukannya berfokus pada ucapan Taehyung malah menajamkan matanya melihat para rombongan yang baru saja datang tersebut. "Sebaiknya kau sambut mereka dengan baik dan cari informasi nama-nama mereka."
Taehyung mengeluarkan selembar kertas dari saku jasnya. "Taraaaa...! Aku sudah mempunyai daftarnya." Jongin langsung menyaut kertas tersebut, membacanya secara teliti nama-nama yang ada disana.
"Anda ingin mengumpat dengan menggunakan nama mereka?" tanya Taehyung tanpa dosa.
Dengan tangan bergetar, Jongin mengumamkan satu nama yang tercetak disana. "Park- Kyungsoo..."
"Anda tak apa-apa? Jika Anda tak suka mereka, saya akan batalkan wawancaranya. Direktur pasti akan memakluminya," ujar Taehyung takut atasannya itu mengamuk.
"Jangan di batalkan, tapi sebelum wawancara minta satu-satunya staf mereka yang bermarga Park untuk menemuiku. Aku ingin lihat daftar pertanyaan yang ingin mereka tanyakan."
.
.
MASK
.
.
Hari masih sangat pagi namun seorang pemuda jakung sudah bangun dari tempat tidurnya dan memegang pisau. Beberapa potong sosis jadi korban ketajaman pisaunya. Memotongnya dengan ukuran sedang sembari menunggu air dalam ketel mendidih sempurna. Suara tangisan membuatnya menghentikan acara masak memasaknya. Cepat-cepat ia berjalan menuju kamar dimana putri semata wayangnya sedang menangis.
"Kenapa kau bangun sepagi ini? Daddymu sedang memasak, sayang." ucapnya seraya menggendong bayi yang belum genap berumur lima bulan itu dari box bayi.
"Shhh.. Daddymu sudah disini.. Sshhhh.. Jangan menangis ya.. " Dengan menggendong dan mengayunkan pelan membuat bayi itu berhenti menangis. Menyenderkan kepala kecilnya ke dada bidang sang ayah. Terlihat sangat tenang dan nyaman. Bahkan seulas senyum menjadi hadiah untuk sang ayah.
Sambil menggendong sang anak, ia kembali meracik masakannya hanya dengan satu tangan. Mau bagaimana lagi, bayinya akan rewel jika di tinggalkan. Ketika masakannya sudah jadi, handphonenya yang berdering nyaring membuat semakin kacau paginya kali ini.
"Hay, Lu! Aku tak menyangka kau mengabariku secepat ini." Bukannya membalas sapaannya, yang muncul malahan suara orang mengobrol. Dirinya sangat familiar dengan suara mereka.
Rupanya si kecil tertarik untuk mendengarkan juga. "Ddda... Dadda.. " ucapnya belum begitu jelas walaupun maksudnya adalah merengek memanggil sang ayah. "Iya, sayang... Sebentar. Oohh maaf tidak biasanya Diao Chan rewel seperti ini. Aku mendengar semuanya, Lu!"
"Aku tau... Aku akan bertemu dengan kalian segera. Ini akan menjadi pukulan besar bagi Jongin. Tolong jaga Jongin lebih lama lagi."
Dirinyalah yang akan menyelesaikan ini segera. Ia tau rasanya bagaimana hidup dengan rasa bersalah dan harapan tak pasti. Jongin masih menunggu Kyungsoo, walaupun Kyungsoo bersikeras memilihnya. Paling tidak Jongin harus tau kebenarannya agar tidak menunggu lebih lama lagi.
Bayi kecilnya yang terabaikan mencoba mencari perhatian ayahnya dengen menepuk-nepuk dada sang ayah. Dengan mulut kecilnya yang terbuka dan mengeluarkan air liur, tak lupa mata bulatnya yang memandangnya seakan ingin tau apa yang sedang ayahnya bicarakan dengan bibi disana.
"Hhffftahh.. Dadda.. Ssaffthhh." gumamnya dalam bahasa bayi ketika sang ayah sudah berfokus memperhatikannya. Terdengar seperti menuduh ayahnya membicarakan yang tidak-tidak dan menduakannya.
Sang ayah malah tertawa simpul menertawakan bertapa menggemaskannya putri kecilnya. "Arraseo... Arraseo ...daddy hanya mengobrol sebentar dengan bibi Luhan. Daddy tetap milikmu sayang! " ujarnya sambil menciumi pipi gembil yang di permanis dengan lesung pipi seperti punyanya.
Entah mengerti atau tidak, bayi kecil tersebut langsung menyenderkan lagi kepalanya di dada sang ayah sambil terkikik girang. "Jika marah-marah seperti itu kau benar-benar mirip eommamu. Kau lapar?" tanyanya melihat putrinya menghisap jempolnya sendiri.
Kyungsoo berdiri tak jauh dari sana dengan memakai kemejanya putih oversized yang ia gunakan saat ke kantor kemarin. Celana panjangnya telah raib entah kemana. Kemungkinan terbesarnya adalah ia merasa gerah dengan celana ketat itu dan mencopotnya tanpa sadar.
Sambil mencoba mengumpulkan nyawanya, Kyungsoo menghampiri meja dapur. "Pagi, sayang!" ucapnya sambil mengecup pipi putri kecilnya yanga ada dalam gendongan sang ayah. Chup!
Kyungsoo melakukan hal yang sama pada sang ayah si bayi. Chup! Kecupan tepat di bibir. "Pagi, Chan!"
"Mau sarapan atau teh?" tawar Chanyeol melirik dua cangkir teh di meja dapur. Sang anak melihat ibunya berada di dekatnya langsung mengeluarkan jurus mata bulatnya yang tiba tiba berkaca-kaca ingin menangis diiringi dengan bibir kecilnya yang bergetar. "Kurasa kau harus mengurus yang satu ini dulu."
Kyungsoo langsung mengambil alih Diao Chan dari gendongan Chanyeol. "Ne.. Ne.. Putri eomma pasti lapar setelah membuat repot daddy-nya."
Diao Chan menengok ke arah Chanyeol. Seakan meminta dukungan dari daddy-nya itu bahwa tuduhan ibunya salah. Dia tak merepotkan bukan. Chanyeol hanya tertawa kecil, sadar atau tidak Chanyeol kadang bisa tau maksud bayi kecilnya itu walaupun belum bisa bicara dengan benar, walau hanya lewat tatapan mata saja. "Ya.. Ya.. Kau terlalu menggemaskan untuk kukatakan merepotkan."
Sontak Diao Chan tertawa girang memamerkan gusinya yang belum tumbuh gigi. Kyungsoo menggendongnya ke sofa terdekat, sedangkan Chanyeol ikut duduk santai disampingnya sambil meminum tehnya.
Kyungsoo mulai membuka kancing bajunya, payudaranya yang membengkak karena penuh dengan air susu terumbar tanpa penghalang. Mungkin tadi malam selain celana panjangnya tanpa sadar juga melepas bra-nya juga. Mulut mungil Diao Chan mengisap puting ibunya dengan bersemangat.
"Kau juga mau, Chan?" tawar Kyungsoo melirik ke payudara kirinya yang menganggur.
Chanyeol menggeleng, ia hanya ingin bertanya perihal rencana kepulangan Kyungsoo ke Korea untuk mengurusi pekerjaannya sebagai penulis freelance. Walaupun begitu tulisan Kyungsoo yang kebanyakan mengangkat masalah sosial sudah tak bisa diragukan lagi, ia hanya terhalang pendidikannya yang tak sempat ia rampungkan dan Diao Chan yang masih kecil tak bisa sering-sering ditinggal.
"Kau mengambil job mu yang ke Korea?"
"Ya, upahnya bisa untuk menutup kebutuhan kita sebulan."
"Aku akan ikut untuk menjaga bayi kita selama kau bekerja. Dia masih harus menyusu padamu, kau tak mungkin meninggalkannya disini. Aku juga akan menengok eommaku dan Kris."
"Kau yakin? Kau belum sembuh betul, Chan. Fisikmu masih lemah, kau kuat melakukan penerbangan New York - Seoul? Bagaimana dengan toko rotimu?"
"Aku punya karyawan, Paman Sam akan menghendel semuanya dan aku sudah cukup sehat sekarang."
Chanyeol membelai pipi gembil putrinya yang sibuk menyusu. "Daddy sudah sehat kan sayang?" Diao Chan yang masih dalam keadaan menyusu melihat ayahnya berbicara padanya mengangguk tanpa tau apa yang ia angguki. Anggukannya otomatis membuat puting Kyungsoo sedikit ketarik.
"Chann..! Jangan menganggunya ketika menyusu. Dia selalu meresponmu dalam keadaan apa pun. Dia sangat menyukai daddy-nya di banding eommanya."
"Lihat matanya juga besar sepertimu dan lesung pipinya. Apa kalian berdua bersekongkol mengelabuhiku?" tanya Kyungsoo setengah bercanda.
"Matamu juga besar dan bulat, Kyung!" timpal Chanyeol.
Kyungsoo tersenyum tipis, memandangi bayi kecilnya yang semakin hari semakin bertumbuh besar. Kyungsoo tak pernah merawat bayi sebelumnya, tapi naluri seorang ibu yang menuntunnya. Di bantu Chanyeol yang sepertinya lebih telaten merawat anak. Bahkan Kyungsoo berharap agar bayinya tetap menjadi bayi selamanya, agar ia bisa terus menggendongnya dan melihat tingkah lucu bayi yang baru bisa tengkurap itu.
"Ayo mandi bersama, kau belum mandi juga pasti. Masuklah kamar mandi dulu, aku akan menidurkan makhluk suka tidur dan menyusu ini sebentar. Hari ini giliranku yang meggosok punggungmu. "
"Biar aku saja yang menggosok punggungmu. Terakhir kali kau melakukannya, kau malah menangis melihat luka bekas peluru yang dulu sempat bersarang di tubuhku. Jadi biar aku saja, okey? Setelah itu kita sarapan!"
"Maaf, aku hanya tiba-tiba teringat saja."
"It's okey, Kyung.. Aku hanya tak mau kau terus merasa bersalah padaku. Aku tidak mati, aku disini sekarang."
.
.
.
Setibanya di Korea, Kyungsoo langsung menuju hotel bersama rekannya sedangkan Chanyeol dan Diao Chan memilih ke rumah eomma Chanyeol dulu. Dengan celana putih dan kaos abu-abu panjang dengan beralaskan high heels hitam yang tak terlalu tinggi, Kyungsoo berjalan terpisah dari rombongan menuju kamarnya sendiri.
Kyungsoo rasa ia perluh merebahkan badannya dulu. Namun rupanya ia tak boleh menyentuh kasur berlama-lama karena suara ketukan pintu dari petugas membuatnya harus bangkit dari kasur.
"Maaf, Nyonya atasan saya ingin Anda mengirim daftar pertanyaan untuk wawancara besok. Tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya juga diminta Anda sendiri yang menyerahkannya langsung."
"Kenapa hanya aku? Aku bukan kepala tim?" elak Kyungsoo. Ia hanya pekerja freelance , ia hanya tak ingin terlihat berlagak sok penting hanya karena ini negaranya sendiri. Apalagi hanya dirinya dan satu orang rekannya yang bisa bahasa Korea.
Si petugas yang tak lain adalah Taehyung sendiri hanya bisa garuk-garuk kepala. "Mmm.. Begini nyonya atasan saya lumayan rewel. Saya tidak tau kenapa hanya Anda tapi bisakah Anda mengabulkan permintaannya? Tadi pagi saja dia ingin memecat kekasihku. Menyebalkan!"
Kyungsoo membuang nafas sebentar. "Ini terdengar tidak masuk akal. Aku tidak tau apa yang kau lakukan di kehidupan yang lalu. Wajahmu sangat familiar dan aku merasa banyak berhutang budi padamu - "
Taehyung memotong kalimatnya, "Saya juga, Nyonya... Bahkan saya merasakan hal itu pada atasan saya, atas dasar inilah saya tetap bekerja disini."
"Kalau begitu antarkan aku ke ruangannya!" pinta Kyungsoo.
Kyungsoo yang semula bingung kenapa malah di antar ke salah satu kamar single room tapi semuanya terjawab ketika menemukan seonggok manusia disana tertidur dengan banyak tumpukan dokumen di samping ranjang kecilnya. "Dia tak suka ruangannya, terlalu mewah katanya. Apartemennya juga agak jauh dari sini, jadi dia selalu disini mengerjakan pekerjaannya dan beristirahat sejenak," jelas Taehyung.
Taehyung membangunkan Jongin yang tidur meringkuk, padahal penampilannya sudah rapi tapi sepertinya akan banyak bagian yang kusut setelah ini. "Komisaris Kim!" panggil Taehyung sambil mengguncang pelan.
"Hmmm.. Pergi kau! Bagaimana bisa direktur mensetujui keputusan menurunkan tunjangan karyawan. Akan ku potong penis Manager Choi berani-beraninya mengusulkan secam itu!" racau Jongin yang sepertinya belum sadar dari tidurnya.
Taehyung reflek menutupi kemaluannya sendiri dan mencoba cara lain yang lebih efektif. Mencubit pinggang atasanya itu dengan keras. "Aaakhhhh! "
"Jwosonghamnida, Sajangnim!" pekik Taehyung langsung berlari keluar kamar melarikan diri.
"Yakkk! KIM TAEHYUNG! AKU BERSUMPAH AKAN MEMECATMU!"
Kyungsoo menautkan kedua alisnya ketika tau siapa yang ada di hadapannya saat ini. "Jonginn.. " gumamnya lirih terselip rasa tak percaya. Bagaimana bisa banyak nama Kim Jongin tapi kenapa harus dia, Kyungsoo memang tau nama yang ia wawancara nanti tapi ia tak menyangka orang itu adalah yang duduk di ranjang di hadapannya ini.
"Ya, ini aku... " jawab Jongin lemah sambil mengelus-elus pinggangnya yang di cubit Taehyung.
"Maaf, aku hanya ingin memberikan daftar pertanyaannya. Beberapa pertanyaan akan di lontarkan spontan. Silahkan lanjutkan tidur Anda!" ucap Kyungsoo berubah jadi formal. Tangannya terulur memberikan beberapa lembar kertas berisi daftar pertanyaan.
Jongin menerima kertas tersebut sambil memperhatikan keadaan Kyungsoo sekarang. "Terimakasih. Kau bertambah cantik dan berisi. Kau pasti hidup dengan baik tanpaku."
"A-aku ada janji lain. Sebaiknya aku pergi sekarang. Maaf mengganggu tidur Anda! Permisi Tuan Kim Jongin! " Kyungsoo berbalik, ingin cepat - cepat pergi dari sana.
Seperti biasa, Jongin menahan tangannya. "Maafkan aku, Kyung! Atas segalanya..!"
"Aku masih menunggumu. Aku sudah mencoba melangkah jauh, sangat jauh untuk melupakanmu, tetapi aku seperti tidak kemana-mana."
"Jongin! "
"Apa terlalu berlebihan untuku untuk memintamu kembali? Apa sudah sangat terlambat? "
Jongin berdiri dari ranjanganya. Memperpendek jaraknya dengan Kyungsoo. Membalik tubuh Kyungsoo lalu memeluknya. "Aku merindukanmu seperti orang gila. Kenapa kau lari dariku jauh sekali?"
Kyungsoo mendorong Jongin pelan agar sedikit melepaskan pelukannya. "Maaf membuatmu menunggu. Tapi aku tak bisa, mari berteman saja."
Jongin menangkup kedua pipi Kyungsoo. "Kenapa? Apa ini ada hubungannya dengan margamu yang tiba-tiba berubah?"
"Aku sudah bersama seseorang dan punya anak," ungkap Kyungsoo menatap mata tajam Jongin. Pria itu keliatan sangat lelah tersirat dari kedua matanya. Bahkan badanya menjadi lebih kurus. Kyungsoo tak bisa menahan dirinya membelai pipi tirus Jongin, "Makanlah dengan baik, Jongin! "
"Apa dengan Park Chanyeol? Dia masih hidup bukan?"
Kyungsoo mengangguk.
"Bukankah dia gay, bagaimana bisa kalian punya anak? Apa itu anakku?"
Kyungsoo menggeleng lalu berucap, "Tidak, dia bukan anakmu. Bagaimana pun dia laki-laki jadi pasti punya benih. Tak selalu berhubungan badan bukan, agar bisa punya anak."
"Apa kau mencoba berbohong padaku, Kyung?"
"Aku bicara kenyata - " bibir Jongin menempel pada bibirnya. "Jangan katakan apa pun padaku kalau begitu. "
Jongin menuntun Kyungsoo duduk di ranjang. Sedangkan dirinya membungkuk sambil terus mengecap bibir manis yang sudah lama ia rindukan. Menggigit bibir bawah Kyungsoo dengan sangat lembut, kemudian mundur dengan perlahan sehingga bibirnya terlepas dari antara gigi.
Kyungsoo tak memberikan perlawanan. Tubuhnya juga sangat rindu sentuhan Jongin sepertinya. Walaupun hati kecilnya terus menjerit ini tidak benar. Sampai-sampai ia baru sadar tangan Jongin sudah masuk dalam kaosnya dan mencapai payudaranya yang sakit dan nyeri karena penuh. Ia baru ingat ini waktunya Diao Chan menyusu. Tapi bayi kecilnya tak disini.
Jongin terlanjur menyentuhnya. Kyungsoo tanpa pikir panjang langsung mengentikan perbuatan Jongin dengan menamparnya. PLAKKK!
Jongin hanya menerima tamparan dengan suka rela. "Kau benar-benar sudah punya anak?" tanya Jongin dengan suara dalam dan serak. Jongin tentu sangat tau tekstur payudara Kyungsoo yang berisi dan ujung putingnya terasa ada cairan yang keluar menandakan dia sedang dalam masa menyusui.
Akhirnya mereka berdua duduk di ranjang dengan bersandar pada tembok. Mungkin setelah ini mereka akan mengobrol panjang karena lama tak bertemu.
"Ya, dia bayi yang cantik seperti namanya. Diao Chan."
"Boleh aku melihatnya?"
"Tentu tapi dia bersama Chanyeol sekarang."
"Ternyata ini yang kau sebut pukulan besar untukku?" Kyungsoo membalasnya dengan mengernyit bingung. Dia tak pernah bicara seperti itu.
"Beberapa hari yang lalu Sehun memberitahuku, Chanyeol menelpon Luhan menanyakan keadaan ku. Mengabari bahwa kalian akan ke Korea. Tak kusangka rupanya kau kembali karena kepentingan yang lain, kupikir karena..."
Jongin berhenti untuk menelan ludahnya kasar, menelan rasa kecewanya dalam-dalam. "...Karena kau juga merindukanku. Aku terlalu banyak berharap ruapanya."
Kyungsoo menoleh, "Aku juga merindukanmu."
Tawa getir dari Jongin terdengar mengejeknya. "Jangan menghiburku. Kau terlihat kaget ketika bertemu denganku. Kau seperti ketakutan melihatku, apa aku begitu menakutkan?"
"Ya, bahkan tadi kau tidur dengan meracau akan memotong penis managermu. Wajar aku takut denganmu."
"Maaf, bukan maksudku begitu. Aku hanya marah saja, kadang aku lupa setiap kepala punya pemikirannya sendiri-sendiri. Aku juga benci ini!" ucap Jongin mengetuk-ngetuk tumpukan dokumen di sekitar ranjangnya dengan menggunakan kaki.
"Sebenarnya aku bisa saja berhenti dan mengambil bagian sebagai pemegang saham saja. Tapi direktur yang sekarang tidak selaras denganku. Mungkin jika sudah menemukan yang tepat, aku akan mundur."
"Kau sudah bekerja sangat keras. Aku tak pandai menilai orang tapi kurasa orang yang membawaku tadi dia punya kepribadian yang hangat. Kurasa dia cukup cocok untuk posisi yang kau cari."
"Dia memang kandidat terkuat, tapi Taehyung masih muda dan perlu belajar banyak."
Jongin tertawa sebentar. "Maaf jika aku meracau tak jelas. Kau bisa kembali ke kamarmu, Kyung! Atau kau tidur disini juga tak apa. Aku ada jadwal rapat kecil setelah ini."
"Apa kau sudah makan?" tanya Kyungsoo. Jongin hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Tolong bantu aku sebentar kalau begitu." Kyungsoo bangkit dari ranjang untuk mengunci pintu. Lalu berdiri di depan Jongin yang masih duduk di ranjang. Kyungsoo terlihat berpikir sebentar, menimbang-nimbang sesuatu.
"Kita teman bukan sekarang?"Jongin terpaksa mengangguk.
"Bayiku tak ada disini, aku juga tak bawa breast pump atau pun botol untuk menampung... Ini terasa penuh dan nyeri jika tak dikeluarkan. Bisakah.. Mmm.. "
"Akan ku lakukan. Duduklah di pangkuanku." Jongin menarik pelan Kyungsoo agar duduk di pangkuannya. Seketika wajahnya berhadapan langsung dengan dada Kyungsoo. "Beri aku instruksi."
Kyungsoo menyingkap kaosnya sendiri ke atas. Menarik ke atas bra-nya yang terasa lembab karena kena bocor air susunya sendiri. Hingga bongkahan sumber makanan Diao Chan tertekan ke bawah karena bra-nya.
"Ini akan menyakitimu. Lebih baik di lepas saja." Jongin melepas bra itu dengan pelan lalu menaruhnya di ranjang.
Kyungsoo sibuk memegangi kaosnya agar tidak menghalangi Jongin untuk menyusu. "Tolong hisap pelan-pelan!" pinta Kyungsoo sembari menuntun putingnya masuk ke mulut Jonging. Hanya bersentuhan dengan bibir plumnya saja rasanya ada tegangan menjalar keseluruh tubuhnya. Memicu sumbu api yang telah lama meredup.
Jongin mulai menghisap pelan sesuai instruksinya. Bagaimana pun akan beda rasanya jika pria dewasa yang melakukan. Apalagi mempunyai gigi yang dapat mengigitnya. Bukan perasaan nyaman yang muncul sepertinya saat menyusui bayinya. Melainkan perasaan terangsang.
Tangan Kyungsoo yang menganggur mengalung di leher Jongin. Bermain-main disana, sesekali menyusup di sela-sela rambut hitamnya. Entah apa yang di pikirkan Jongin, ia melepaskan mulutnya sesaat untuk menarik ke atas baju Kyungsoo sampai terlepas dari tubuhnya.
Kyungsoo menunduk memandangi ketelanjangannya. Jongin menyelipkan rambut Kyungsoo yang tergerai ke belakang telinganya. Mulutnya mulai bekerja lagi. Bibirnya bergerak-gerak memijat agar air dari gadis yang ia sukai ini terus mengalir. Seirama dengan jakunnya yang naik turun menelan air susu yang melewati tenggorokannya.
Sedangkan tangan Jongin di belakang punggung telanjang Kyungsoo. Menahannya agar tidak jatuh. Walaupun kedua tangannya mengalung di leher Jongin, tapi nyatanya kedua tangan tersebut lebih memilih melampiaskan hasratnya yang mulai naik dengan menjambak pelan atau sekedar meremas rambut Jongin.
"Satunya, Jongin ~ " pinta Kyungsoo memelas.
Memang Jongin melepas dan akan berpindah menggarap payudara yang satunya. Namun sebelum itu dia berhenti sebentar memandangi wajah Kyungsoo yang memerah. "Apa aku juga harus melepaskanmu sekali lagi? Terakhir kali aku merelakanmu pada Sehun, membuatku sangat menyesal. Haruskah?"
"Jongin~.." panggil Kyungsoo merasa sangat nyeri pada payudara satunya yang sudah sangat penuh. Sampai-sampai air susunya menetes sendiri tanpa henti.
Jongin akhirnya memilih merampungkan tugasnya dulu. Perutnya sangat kenyang sekarang, ia yakin bayi Kyungsoo punya pipi tembam seperti ibunya. Bayangkan saja bayi kecil itu selalu kenyang setiap hari hanya minum dari Kyungsoo saja.
Dengan nafas yang naik turun dan muka memerah. Kyungsoo menghentikan hisapan Jongin. Ia rasa ini cukup. Setelah ini ia akan meminta Chanyeol membawa putri mereka cepat kemari agar ini tak perlu terjadi lagi. Jongin membantu memakaikan bra dan kaos panjang Kyungsoo dengan telaten.
Diakhiri dengan menangkup kedua pipi Kyungsoo dan kecupan singkat di bibir. "Aku memang merasa bersalah pada Chanyeol tapi bukan berarti aku rela melepaskanmu padanya."
"Terakhir kali aku melihatmu kau bilang kau juga mencintaiku. Apa sekarang masih sama?" tanya Jongin menatap dalam mata Kyungsoo.
"Kau ada rapat Jongin. Sebaiknya bergegas," ucap Kyungsoo mengingatkan.
"Abaikan rapatnya, Kyung! Aku menyibukkan diriku membangun hotel ini agar dapat melupakanmu tapi yang terjadi malah aku tetap kesana kemari berusaha mencarimu. Aku sampai putus asa karena tak ada yang mau memberitahuku."
Kyungsoo turun dari pangkuan Jongin berjalan ke arah pintu kamar. "Kenapa kau selalu ketakutan menghadapiku? Kenapa kau selalu lari dariku, Kyung? Kenapa?" tanya Jongin lirih.
Kyungsoo mengabaikan semua pertanyaan Jongin dan membawa dirinya cepat-cepat pergi dari sana. Namun langkahnya sudah sangat lelah, ia hanya bisa berjongkok di depan kamar yang Jongin tempati tadi. Menangisi kebodohannya.
"Anda tak apa, nyonya? Apa Tuan Komisaris menyakiti Anda?"
"Kyung, ku tak apa? Kau sudah bertemu Jongin?"
Taehyung bersama Chanyeol yang menggendong Diao Chan menghampirinya dengan perasaan khawatir. Kyungsoo menatap Chanyeol dengan matanya yang masih basah air mata, "Kau ingin meninggalkanku juga, Chan?"
"Tidak, Kyung! Kau salah paham.. " bantah Chanyeol ikut berjongkok mengusap air mata Kyungsoo. Diao Chan yang ada dalam gendongannya seakan tau ibunya sedang sedih tangannya ikut terulur menggapai-gapai wajah ibunya. Ia juga ingin menghapus air mata ibunya. "Maaam... Maaaa..."
.
.
.
Sehun yang mengantikan Kyungsoo dan hyungnya untuk mengelola gereja, hari ini di bantu Baekhyun mengecek kebutuhan panti. Ngomong-ngomong Baekhyun juga jadi korban dari menghilangnya Chanyeol. Sejak tau Chanyeol tertembak hingga koma, Baekhyun berdoa di gereja berhari-hari dengan khusyuk. Sehun agak kasian dengannya. Makanya belakangan ini Sehun menjodohkan hyungnya dengan Baekhyun agar ia cepat move on dari Chanyeol.
"Ya Tuhan...!" pekik Sehun melihat Jongin duduk di sampingnya tiba-tiba. Sehun tak mendengar langkah kakinya makanya ia kaget manusia hitam itu tiba-tiba ada disini. "Yakkk! Kau ingin Luhan jadi janda secepat ini?" maki Sehun.
"Kau sedang apa?" tanya Sehun mengernyit bingung pada Jongin yang tiba-tiba menghitung dengan tangannya. "Kau menghitung utangmu? Hotelmu bangkrut apa bagaimana?"
"Menghitung umur." jawab Jongin singkat.
"Umur siapa?" tanya Sehun lagi.
"Umurmu. Kira-kira kapan kau mati serangan jantung, agar aku bisa menikahi Luhan. Tolong jangan buat terlalu banyak anak, aku tak mau kau titipi banyak anak. Biaya anak mahal."
Sehun mendelikan matanya malas. "Kau sudah bertemu - "
"Sudah. Jangan membahasnya." potong Jongin. "Bahas saja tentang calon anakmu akan ku dengarkan. Aku suka anak-anak."
"Kau bilang kau tak ingin kutitipi banyak anak."
"Aku hanya bercanda. Aku suka anak-anak. Anakmu. Anak Kyungsoo..ahh dia lagi." rutuk Jongin di akhir kalimatnya. "Padahal aku sudah mengalihkan pikiranku darinya."
"Mau kujodohkan dengan seseorang?" tawar Sehun menaik turunkan alisnya.
"Dengan dia?" tanya Jongin menunjuk Baekhyun yang duduk tak jauh dari tempat duduknya, sedang sibuk memberi tanda checklist pada daftar belanjaannya.
"Dia sudah kujodohkan dengan Hyungku."
"Lalu dengan siapa?" tanya Jongin bingung.
"Vivi, anjing baru peliharaanku dengan Luhan." ucap Sehun tersenyum cerah.
"Fix, aku akan membuat Luhan menjadi janda secepatnya," balas Jongin. "Sejak kau akan menjadi appa, bercandamu buruk sekali."
"Yasudah kejar saja Kyungsoo. Kau sudah makan?"
"Aku sedang tak selera makan. Aku masih kenyang." Jongin menepuk-nepuk perutnya yang datar.
"Memang kau makan apa tadi? Batu?" tanya Sehun dingin.
"Susu Kyungsoo," jawab Jongin dengan polosnya. Mendengar jawaban Jongin, Sehun langsung memencet nomor di layar handphonenya lalu menelepon seseorang. "Kau menelepon siapa?"
"Psikiater untukmu."
.
TBC
.
.
Sampai chapter ini saya bingung harus ngomong apa.
Hemmm... Humor saya tiba-tiba hilang.
Penulisan saya jadi agak kaku. Mungkin saya akan berhenti sebentar untuk menarik nafas dan mengurusi real life saya.
Selamat malam dan selamat membaca. (◕‿◕✿)
