My Famous Husband Jung
.
By Lady_Sinner25
.
.
.
Yunho mempercepat laju mobilnya, saat ini dia hanya ingin cepat sampai di rumah. Memeluk istrinya dan memohon maaf lagi dan lagi. Dia sungguh merasa bersalah sekarang. Segera setelah dia tiba di apartemen mereka, Yunho langsung memarkir mobilnya dan berlarih menuju lift. Lift bisa terasa begitu lama jika ditunggu. Tak dapat menunggu lebih lama lagi, dia menggunakan tangga darurat untuk naik ke atas.
Napas Yunho tersengal-sengal ketika sampai di lantai 7 apartemen mereka. Dia menarik napasnya dalam-dalam dan mencoba menenangkan dirinya, butuh beberapa menit sebelum akhirnya menekan kode unit apartemen mereka. Ketika dia masuk ke dalam, Yunho mencari istrinya namun tidak ada tanda keberadaan namja cantik itu.
"Sayang?" Yunho memeriksa dapur tapi Jaejoong tidak ada disana. Dia beranjak ke ruang tamu, mungkin Jaejoong tertidur di sofa. Namun ketika dia sampai ke tempat tujuan sofa yang dimaksud terlihat seperti tak tersentuh sama sekali.
Yunho pelan-pelan menjadi gugup ketika dia berjalan mendekati kamar mereka, dia berdoa istrinya ada di sana berbaring di tempat tidur mereka, memunggunginya; posisi sama yang biasa Jaejoong lakukan saat namja itu marah pada dirinya.
Dipegangnya gagang pintu dengan pelan dan menutup kedua matanya, terus berdoa Jaejoong ada di dalam namun. . .
Harapannya musnah saat dia melihat tempat tidur mereka yang juga tak tersentu. Tidak ada jejak Jaejoong; tidak ada harum vanila di ruangan itu; tidak ada wangi khas Jaejoong; tidak ada kecantikan yang menghias tempat tidur mereka.
Dengan putus asa, Yunho menjatuhkan tubuhnya bertumpuh pada lututnya, dia merasa dirinya sedikit demi sedikit menjadi frustrasi. Semua ini adalah salahnya. Tidak ada yang dapat disalahkan atas apa yang terjadi kecuali dirinya yang telah menjadi begitu posesif. Dia tidak tahu dimana Jaejoong berada dan dia hanya ingin tahu dimana keberadaan Jaejoong saat ini. Apa dia baik-baik saja atau sesuatu telah terjadi padanya? Pemikiran terakhir mengenai istrinya membuatnya panik. Dengan cepat ditekannya nomor pada ponselnya, menghubungi ibu mertuanya.
"Halo. . ."
"Umma!"
"Yunho?"
"Umma, apa Jaejoong pergi ke sana?"
"Joongie? Dia tidak ada disini! Kenapa?"
"Uuummm kami sedikit bertengkar tadi."
"Temukan dia Yunho, ia tidak tidak ada disini. Jika dia ingin kabur lagi satu-satunya tempat yang akan dia tuju adalah rumah eomma. Tuhan! Apa yang terjadi pada kalian berdua huh?"
"Aku minta maaf umma."
"Yunho kau harus menemukannya. Aku jadi khawatir bila sesuatu terjadi padanya. Oh ya Tuhanku."
"Aku akan menghubungi eomma lagi jika aku sudah menemukan Jaejoong!"
"Kau harus menemukannya atau aku akan mati karena khawatir!"
"Iya eomma, aku akan mencarinya sekarang." Yunho memutus sambungan teleponnya hingga saat dia akan meletakkan ponselnya dia ingat ponsel yang diberikan Junsu padanya. Diambilnya ponsel itu dari saku celananya dan menekan tombol applikasi voice recorder.
'Manajer Kim, aku harus mendapatkan jalang itu Jung Jaejoong! Kau tahu apa yang sudah dia lakukan padaku?'
'Dia menggunduli rambutku, jika dia masih ingin hidup tidak seharusnya dia mencari masalah denganku!'
'Aku ingin kau terus mengawasi Yunho, lakukan sesuai rencana dan sekarang aku ingn menghancurkan image Yunho. Tapi aku harus mendapatkan namja jalang itu terlebih dabulu dan aku akan membalas apa yang telah dia lakukan padaku!'
'Pastikan Yunho meminum teh yang aku berikan padamu, dan tidak butuh waktu lama dia akan kehilangan kesadarannya!'
'Aku akan menunggumu di mobil manajer Kim, aku tidak bisa tampil malam ini. Aku punya rambut yang sungguh-sungguh jelek dan aku harus mengurus Jaejoong dulu. Aku akan menunggumu dan Yunho di mobil, ok?'
Yunho menjatuhkan ponsel dalam genggamannya ke lantai sesaat setelah suara dalam rekaman terhenti. Dia tidak bisa membayangkan bahwa BoA bisa melakukan hal seperti itu dan hal yang lebih membuatnya tidak mengerti adalah Jaejoong menggunduli rambut BoA. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Yunho sungguh ingin mengetahuinya sekarang. Dia harus bertanya pada Junsu mengenai hal ini. Namun saat dia akan menghubungi nomor ponsel Junsu, ponselnya terlebih dahulu berdering. Melihat nama yang tampak dalam layar ponselnya, Yunho langsung mengangkatnya.
"Junsu!"
"Aku tebak kau sudah mendengarkan rekaman suara itu hmmm?"
"Apa maksud semua itu? Maukah kau menjelaskannya padaku?"
"Yunho. . . kita semua tahu kalau BoA sangat menggilaimu dan malam ini seharusnya menjadi malam dimana dia akan mewujudkan semua rencananya tapi sayang Jaejoong mengetahui rencana busuknya saat dia meneleponku malam sebelumnya. Tanpa sengaja dia mendengar semua yang BoA dan manajernya rencanakan untukmu. Tidak hanya itu, kepergian Jaejoong tadi adalah untuk memberi pelajaran pada pelacur itu-" penjelasan Junsu terpotong ketika Yunho bicara dengan tiba-tiba.
"Tunggu. . . maksudmu?"
"Iya Yunho! Jae ada dibalik semua ini. Dia sebenarnya sudah melepaskan BoA terlebih dahulu. Tapi sepertinya pelacur itu tidak bisa benar-benar belajar dari kesalahannya dan dia malah berencana untuk menghancurkan karirmu. Saat itu Jaejoong mendengarnya dan merekamnya. Tentu saja hal ini membuatnya marah dan selanjutnya mungkin akan menjadi jelas besok karena aku tidak bisa bicara dengannya malam ini. Terima kasih atas kecemburuan dan keposesifanmu!"
"Tuhan! Apa yang telah aku lakukan?"
"Iya Yunho apa yang telah kau lakukan pada istrimu huh? Dan ngomong-ngomong soal Jaejoong apa kau sudah menemukannya?"
"Belum-" Sekali lagi Junsu memotong pembicaraan Yunho.
"Lalu apa yang kau tunggu? Cepat cari dia sekarang!"
Yunho memutus sambungan teleponnya. Mendengar kenyataan yang terjadi membuatnya semakin panik, dicarinya kunci mobil miliknya. Segera setelah menemukannya dia berlari menuju mobilnya dan melaju dengan kencang.
.
Changmin sedang mengunyah cheese burgernya sambil menonton tayangan ulang Running Man ketika ponsenya berdering. Diliriknya jam di dinding dan waktu sudah menunjukan pukul 12 malam. Iya! Jam 12 malam dan dia masih makan cheese burger seakan hari esok tidak akan datang lagi. Dengan malas dia berdiri dan menjawab panggilan telepon yang menurutnya sangat menjengkelkan karena sudah menggangguh acara kencannya.
"Halo?"
"Minnie. . ."
"Jaejoong hyung?"
"Minnie bisakah kau menjemputku ke sini? Aku takut!"
"Kau ada dimana hyung? Apa yang kau lakukan disana?"
"Datang saja ke sini dan jemput aku! Aku di taman dekat apartemen kami, aku yakin Yunho tidak tahu tempat ini. Buruan Minnie!"
"Baiklah. Tunggu aku disana hyung. Tetap waspada okay?"
Changmin berlari menuju pintu ketika dia melihat eommanya di dapur, sedang minum air.
"Changmin-ah kau mau pergi ke mana? Ini sudah jam 12 malam lebih?" Changmin kembali masuk, menuju dapur dan mencium kening eommanya.
"Aku akan menjemput Jaejoong hyung eomma. Dia bertengkar dengan Yunho hyung dan sekarang sendirian di taman dekat apartemen mereka," Changmin memberi penjelas kepada eommanya. "Baiklah, Aku rasa aku akan pergi sekarang!"
"Aaawww Jaejoongku yang malang! Berhati-hatilah dan jangan mengebut okay?" pesan Mrs. Shim.
"Iya eomma!" Changmin mengambil kunci mobilnya dan segera menuju garasi dimana mobil Audinya diparkir.
.
Jaejoong menggigil kedinginan, dini hari sendirian di salah satu sudut taman. Air matanya tidak berhenti turun membasahi wajah cantiknya dan yang dia inginkan adalah berteriak namun ditahannya. Malam semakin larut dan dia tidak ingin dianngap orang gila teriak sendiri malam-malam. Dia sungguh merasa tersakiti saat ini. Lebih sakit jika dibandingkan dengan tamparan Yunho sebelumnya, rasa sakitnya seakan merobek hatinya.
Rasa sakit secara emosional lebih buruk dari pada kekerasan fisik karena itu akan membayangi diri kalian, akan membekas di pikiran dan hati kalian. Kata-kata yang menyakitkan bagai sebuah pedang yang menusuk hati dan ego kalian. Dan dari semua orang ada satu orang yang menuduh Jaejoong bermain mata yaitu Yunho suaminya. Yunhonya yang sangat Jaejoong cintai meskipun dia seorang pencemburu nan posesif.
Untuk mengusir dingin yang mulai merasuk ke tubuhnya, Jaejoong berjalan-jalan sambil menggerak-gerakkan tubuhnya untuk menghangatkan tubuhnya seraya menunggu Changmin menjemputnya. Dia berhenti di tempat ketika seseorang memegang kedua lengannya dan melebarkan kedua kelopak matanya ketakutan saat melihat orang yang memegang lengannya adalah pemabuk yang terlihat menyeringai padanya. Giginya terlihat menggelap tak terawat dan wajah yang menakutkan. Jaejoong berusaha untuk menarik lengannya dari orang itu namun cengkramannya terlalu erat hingga goresan yang sebelumnya dibuat oleh Yunho menjadi semakin menyengat rasa sakitnya.
Rasa sakit dan takut membuat Jaejoong menangis keras dan dia mencoba untuk menendang namja itu, namun sekali lagi tenaga yang dimilikinya kalah kuat. Dan pemabuk itu mulai menarik dan menggiringnya menuju area taman yang gelap dan jauh dari keramaian.
"Toloooooooong aku!" Sejenak setelah berteriak, Jaejoong melihat Changmin berlari menuju ke arahnya dan tanpa berpikir panjang langsung memukul namja pemabuk tepat di rahangnya hingga membuatnya jatuh berlutut dan langsung terbaring tak sadarkan diri di tanah. Tubuh Jaejoong gemetar saat Changmin menuntunnya menuju mobil.
"Hyung. . . jam segini seharusnya kau tak berada di sini. Kau tahu tempat ini tidak aman!"
"Minnie. . ." Changmin hanya bisa memeluk Jaejoong yang masih menangis tersedu-sedu.
"Sudah hyung. Tidak apa-apa kau aman sekarang." Changmin mencoba menenangkan istri dari sepupunya itu.
"Yunho. . ."
"Apa yang hyungku lalukan padamu kali ini hmmm?"
"Dia menuduhku main mata dengan teman-teman artisnya tadi."
"Jadi. . . kau tadi bersamanya?" Tanya Changmin yang mendapat anggukan kepala oleh Jaejoong.
"Dia tidak bisa menyalahkanmu hanya karena kau terlihat lebih cantik di mata semua orang. Yunho pabo itu selalu menyakitimu kalau dia cemburu."
"Jangan panggil dia pabo!" Jaejoong menangis lagi. Changmin hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menertawakan Jaejoong.
"Yunho hyung dan kau sedang bertengkar dan kau masih saja keberatan jika ada orang yang memanggilnya pabo?"
"Karena dia tidak pabo. Dia hanya seorang bajingan pencemburu!"
"Bajingan dan pabo itu sama saja hyung!" Jaejoong menggelengkan kepalanya dan mempoutkan bibir kissablenya dengan tangan masih melingkar di lengan Changmin.
"Itu beda!"
"Baiklah! Terserah! Ayo kita pulang dan biarkan sepupuku yang pabo itu kebingungan mencarimu seperti orang gila."
"Dia tidak pabo!" Jaejoong memukul dada Changmin, tidak membuatnya sakit namun malah membuatnya tertawa sekali lagi.
"Baiklah! Baiklah! Dia tidak PABO! Dia hanya BAJINGAN pencemburu!" kata Changmin dengan penekanan disana-sini. Sedangkan Jaejoong hanya menganggukan kepalanya dan Changmin memutar matanya jengah. Pasangan ini memang aneh saat mereka bertengkar.
.
Yunho mengemudi seperti orang gila. Dia sudah menjelajahi jalanan Seoul selama hampir 4 jam, menghubungi setiap nomor telepon temannya menanyakan apakah Jaejoong ada di sana bersama mereka dan semuanya memberikan jawaban yang sama. 'Tidak Jaejoong tidak ada di dini.'
Tanpa sadar air mata Yunho jatuh dari pelupuk matanya. Menyesal. Dia menyesali apa yang telah dia lakukan pada istrinya, bagaimana jika dia terluka di suatu tempat? bagaimana jika dia kelaparan selama dia pergi? Jaejoong tidak mengenakan jaket saat dia pergi tadi dan keadaan di luar sangat dingin, bagaimana kalau dia kedinginan dan jatuh sakit lagi? Yunho mulai memukuli kemudi mobilnya dan menangis putus asa, berharap istrinya berada di tempat yang aman. Kemudian dia teringat satu orang yang belum dia coba hubungi. Shim Changmin. Segera dia menekan layar ponselnya, menghubungi adik sepupunya itu.
"Minnie!"
"Hyung ada apa?" Changmin berpura-pura tidak mengetahui situasi yang terjadi diantara kedua hyungnya, karena Jaejoong yang memintanya. Jaejoong sendiri saat ini berada di samping Changmin, ikut mendengarkan.
"Minnie-ah. . . Aku tidak bisa menemukan Jaejoong. Bisakah kau bantu aku?"
"Ooohhh! Ini masih terlalu pagi hyung, aku sangat mengantuk! Hoooooaaamm." Changmin menguap, akting seolah dia benar-benar mengantuk namun kenyataannya dia sedang makan makanan yang Jaejoong masak untuknya di pagi buta.
"Please Minnie. . . aku mohon padamu. Aku akan memberimu uang saku tambahan besok!"
"Ohh tidak perlu hyung. Masakan Jaejoong hyung lebih lezat dibanding ribuan won!"
"Apa? Jaejoong di sana?" Changmin melebarkan matanya, menyadari kesalahannya dan berpikir untuk menemukan jawaban dengan cepat dan tepat.
"Aku bilang masakan Jaejoong lebih baik dari pada ribuan won yang kau berikan. Aku bisa menyuapnya setiap hari demi makananku, kau tahu?" Jaejoong menatap tajam Changmin, namun namja dengan julukan food's monster itu mengabaikannya dan melanjutkan berbicara dengan Yunho. "Apa yang sudah kau kacaukan kali ini hyung?"
"Kecemburuanku tentu saja, apa lagi? Aku sungguh pabo!"
"Aku senang kau tahu kalau kau pabo! Aaaaawwwww!" Jaejoong mencubit lengan Changmin yang membuatnya mengerang kesakitan.
"Yah! Apa yang kau lakukan? Bantu aku Changmin-ah. . . Aku mohon!"
"Aku tidak mau. Aku harus menutup teleponnya! Selesaikan sendiri masalahmu dengan caramu!"
"Yah! Changmin? Minnie?" Changmin sudah memutus sambungan teleponnya dan Yunho hanya bisa menatap langit di ufuk timur bersemburat merah, tanda tidak lama lagi matahari akan terbit. Waktu sudah menunjukan pukul 5:20 pagi.
"Kalau seperti ini. . aku harus terus mencari sendiri. . . Ya Tuhan bantulah hambah-Mu ini! Joongie. . . Aku sungguh meminta maaf sayang! Aku sungguh sangat mencintaimu, aku mohon maafkan aku! Jaga dirimu!" ucap Yunho yang lebih terdengar seperti bisikan namun terselip harapan untuk segera menemukan Jaejoong dan kembali tancap gas.
.
.
.
tbc
.
.
.
Editor's note :
Tata bahasa tidak baku. Typo yang sangat terselip. Dan maaf jika ada penggunaan kata yang tidak berkenan di hati.
.
Hmmmm.. saya memutuskan untuk update pendek tapi fast [tidak lebih dari seminggu]. Gimana readers? Semoga berkenan..
Saya mau pastikan kalau fic ini MPREG! nunggu giliran ajah Jaejoong hamilnya.
Dan ada yang pengen liat bagaimana saat BoA diketemukan sama media dan reporter, maaf kalau mengecewakan chingun. Karena ga ada scenenya.. lebih fokus ke YunJae! hehe..
Buat yunjaeeee saran chingu terkabul :)
.
Thanks buat semua yang udah review.. follow maupun ngeFavoritein MFHJ!
Welcome to new reader. And mind to review again? :)
.
YunJae's love is real~~~~
.
.
YunJaeDdiction
