MASK
"Semua orang memakai topeng untuk kau cintai.
Jika kupakai topeng burukrupa, akankah kau mencintaiku?"
.
.
CHAPTER 17
.
.
.
.
Kyungsoo mondar-mandir membantu para staf lain mempersiapkan tempat wawancara. Dengan settingan latar belakang warna putih, satu kursi yang dirasa cukup nyaman dan meja kecil di sebelahnya sebagai pemanis vas bunga yang tak terlalu mencolok. Mulai dari pencahayaan sampai kamera semuanya sudah siap.
Kyungsoo kembali berdiri di belakang David Lee, rekannya yang bisa bahasa korea selain dirinya karena ibunya keturunan Korea. Dia yang akan menanyakan semua pertanayaan pada Jongin, sedangkan Kyungsoo akan membantu di belakang.
"Ku dengar kau di panggil keruangannya secara pribadi? Ada masalah apa?" tanya David membolak-balik naskah wawancara.
"Aaah..itu..Dia hanya minta daftar pertanyaan," jawab Kyungsoo buru-buru.
David memincingkan matanya tak percaya, "Kupikir kalian melakukan sesuatu berdua. Sepertinya kau lupa aku orang Korea, Kyung! Aku melihat beritamu dulu bersama bapak Komisaris Kim!"
"Ssssttt..dia datang" Kyungsoo menghentikan ocehan David karena Jongin dengan stelan rapi sudah datang dan dengan santainya duduk di tempat yang telah di sediakan.
Semua mulai bersiap pada bagiannya masing-masing. Kamera sudah hidup tapi David tak juga menyapa Jongin untuk membuka wawancara. "Kyung, bisa kau rapikan dasinya dan memohon kerja samanya, dia terkenal menyebalkan," bisiknya pada Kyungsoo.
Terpaksa dengan langkah berat Kyungsoo menghampiri Jongin. Jongin tentu senang Kyungsoo menghampirinya. "Kau tak penah memakai dasi?" ucap Kyungsoo sembari membungkuk dan tangannya sibuk merapikan krah Jongin bagian belakang. "Pernah, tapi kali ini aku sengaja," jawab Jongin ketika Kyungsoo membuka simpul dasi Jongin yang berantakan.
Tangan Kyungsoo mulai menyimpulkan dasi dengan cekatan dan rapi. Sedangkan Jongin memperhatikan wajah Kyungsoo dari dekat. Ia tak pernah lupa kedua mata bulatnya, hidung mungilnya, dan bibir hati santapan favoritnya. "Selesai. Temanku bilang jangan bertingkah menyebalkan," bisik Kyungsoo di telingga Jongin.
"Tergantung, jika kau mau mengatakan Diao Chan anak siapa aku akan bersikap ramah," tantang Jongin menyunggingkan senyumnya.
Ia sudah menghitung bersama Sehun kemarin, bukan umur Sehun saja yang ia hitung namun juga bayi mungil itu. Ini sudah setahun, jika Kyungsoo mengandung butuh waktu sekitar tak sampai sembilan bulan, artinya sisa tiga bulan lebih. Harusnya umur Diao Chan sekarang tiga bulanan. Itu pun belum di potong Kyungsoo yang keguguran, seharusnya akan ada proses pembersihan janin dan menunggu rahim siap kembali, mungkin sekitar satu bulan. Artinya harusnya umur Diao Chan sekitar dua bulan.
Namun Diao Chan berumur hampir lima bulan. Sehun mempunyai dugaan lain seperti lahir prematur, itu artinya jika di sesuaikan bayi itu lahir di kehamilan belum mencapai tujuh bulan. Kemungkinan memang ada tapi dugaan Sehun ini sedikit diragukan. Bayi kurang dari tujuh bulan akan sulit untuk bertahan hidup.
Kemungkinan terbesarnya adalah Diao Chan anaknya, walaupun juga tak genap sembilan bulan mengandung atau ternyata Kyungsoo sudah hamil dua bulan saat terakhir bertemu. Tapi lagi-lagi Sehun yang pernah melihat foto Diao Chan yang dikirim Chanyeol pada istrinya, Sehun geleng-geleng kepala tak ada satu pun dari wajah bayi cantik itu yang mirip dengan Jongin. Semuanya mirip Chanyeol mata bulat dan berlesung pipi. Jongin sampai bingung sendiri memikirkannya.
"Bukankah kemarin sudah ku bilang, apa kurang jelas?"sahut Kyungsoo santai kembali ketempatnya semula.
David memulai wawancara, dimulai dengan menyapa Jongin dengan sopan. "Selamat pagi Kim Jongin-ssi. Senang bertemu Anda. Bagaimana kabar Anda pagi ini?"
"Sedikit lebih baik dari pagi-pagi sebelumnya," jawab Jongin mencoba seramah mungkin.
"Pertama kali kami menginjakan kaki di hotelmu, kami sangat terkesan dengan nuasa Koreanya. Bisa Anda ceritakan darimana ide ini berawal?"
Wawancara diawali dengan pertanyaan-pertanyaan pokok tentang hotel. Tentu Jongin menjawabnya dengan lancar. Bahkan di saat menyinggung ayah Jongin yang perdana menteri, Jongin tak segan-segan mengatakan memang ayahnya berperan besar dalam permodalan tapi selebihnya dirinya lah yang berusaha sendiri. Ayahnya tak membantunya sama sekali dalam menjaring koneksi dan segala perencanaan.
David menutup naskahnya, ini artinya ia hanya mengandalkan pemikirannya saja. "Kurasa akan banyak bertanya di usia muda Anda ini, apakah sudah ada pasangan yang siap di bawa ke pelaminan?"
"Kau bisa mencari jawabannya di majalah gosip."
David mengangguk-angguk paham. Banyak rumor tapi Jongin terus diam tak membantah maupun mengiayakan, akhirnya rumor itu hilang sendiri. "Kurasa Anda punya standar yang tinggi. Maaf Anda boleh menjawab ini boleh juga tidak, boleh Anda beritahu kriteria gadis yang Anda idamkan?"
Tiba-tiba mata Kyungsoo dan Jongin beradu. Jongin masih dengan mempertahankan tatapannya menjawab pertanyaan David, "Sederhana saja. Punya senyum yang manis dan dia seksi."
David berpura-pura terkejut dengan memekik heboh. "Wooww, saya agak terkejut Anda menyebutkan yang satu itu! Seksi! Anda cukup tertutup masalah hubungan asmara, tapi Anda menyebutkan kata seksi dengan gamblang. Anda pasti pria yang tak banyak memusingkan omongan orang lain dan sangat jujur."
"Terima kasih. Kuharap kau tak menanyakan lebih dalam tentang ini. Aku punya batasan," kata Jongin memperingatkan.
David mengangguk tanda mengerti. "Saya sudah memberi Anda kebebasan untuk menjawab atau tidak. Saya juga punya kebebasan untuk bertanya."
"Lanjutkan kalau begitu!" ucap Jongin menekan kejengkelannya.
"Skandal asmara Anda yang paling gencar adalah bersama Luhan, istri sahabat Anda sekarang. Sedari awal Anda memang di gosipkan mempunyai hubungan spesial dengan Luhan walaupun akhirnya menikah dengan sahabat Anda Oh Sehun. Namun Anda masih sering tertangkap kamera jalan berdua dengan Luhan yang sekarang sedang mengandung."
"Intinya saja.." potong Jongin.
"Banyak yang berspekulasi bayi yang di kandung Luhan anak Anda. Apakah Anda punya pembelaan?" tanya David tersenyum penuh kemenangan.
"Aku tak mungkin 'menyentuh' milik orang lain bukan?" balas Jongin setenang mungkin.
"Anda pernah mengakui pernah berhubungan seks di salah satu acara televisi tentang parenting. Anda di undang sebagai tamu dan Anda mengatakannya dengan jelas."
"Ya, tapi bukan dengan istri orang tentunya."
"Lalu? Dengan salah satu wanita yang di rumorkan dengan Anda?"
"Jika aku jawab ya, apa rakyat Korea akan gempar membicarakanku?"
"Mungkin, kami media asing. Tidak hanya Korea kurasa, apalagi Anda putra Perdana Menteri."
"Jujur saja aku tidak hafal siapa saja yang di rumorkan dekat denganku. Yang pasti aku hanya melakukannya dengan satu wanita saja."
"Kekasih Anda?"
"Bukan."
"Anda tidak suka komitmen walaupun hanya sekedar berpacaran?"
Jongin tertawa sebentar, "Situasi yang tak mengijinkan."
"Appa Anda tau hubungan kalian yang menurut orang timur sudah keluar batas karena sampai berhubungan intim?"
"Ya, asal aku bisa mempertanggungjawabkan semuanya appa tak masalah."
David menoleh sekilas ke arah Kyungsoo yang berdiri di belakangnya dengan memegang kuat sandaran kursi. "Anda masih dengan wanita itu?"
"Tidak, dia meninggalkanku. Karena aku menyebalkan katanya," ucap Jongin seraya tersenyum getir memandang Kyungsoo.
"Well, kuharap Anda segera bertemu dan kembali padanya. Kurasa Anda sangat menyukainya bukan? Sampai-sampai Anda melajang hingga sekarang."
Jongin mengangguk. "Apa ini sudah cukup?"
"Ya, lebih dari cukup."
Kamera mulai dimatikan dan para rekan-rekan Kyungsoo menjabat tangan Jongin berterimakasih atas kerjasamanya. Kyungsoo orang terakhir yang menyalaminya. Jongin menahan tangan Kyungsoo lebih lama. "Kau belum menjawab pertanyaanku, aku sudah bersikap ramah. Jadi tolong jawab dengan jujur."
"Tak ada yang perlu di jawab, Jongin!" Kyungsoo melepaskan paksa tanganya dari Jongin menyusul David yang menunggunya. Jongin hanya bisa membiarkan Kyungsoo yang berjalan menjauh. Terpaksa ia memilih plan B dengan memanggil Taehyung untuk rencananya. Waktunya tinggal hari ini, besok Kyungsoo sudah kembali ke New york.
.
.
MASK
.
.
"Apa saya akan dapat gaji double jika menyusup seperti ini?" tanya Taehyung sibuk mengais udara karena harus berdesak-desakan dengan Jongin. Pasalnya mereka berdua sedang bersembunyi di balik lemari kamar Kyungsoo dan Chanyeol.
"Enak saja, akan ku traktir es krim nanti," sahut Jongin yang sedang sibuk mengintip dari celah-celah lemari. Ada Chanyeol yang sedang menganti popok Diao Chan. Ia sempat sekilas melihat bayi itu, dia benar-benar cantik dan tak mirip dengannya seperti kata Sehun.
"Tsk.. Lebih baik aku menyelesaikan tugasku lainnya," ucap Taehyung akan membuka pintu lemari.
"Eiittss.. Baiklah, kau boleh ambil koleksi bukuku," tawar Jongin. Taehyung menggeleng karena ia sudah terlanjur beli banyak buku kemarin dan belum ia baca. "Lalu kau mau apa?"
"Tiket wisata hotel Anda cabang Jeju. Saya ingin khusus wisata berpasangan alias kencan."
"Tsk... Baiklah, jika pulang-pulang ada pegawaiku yang minta cuti hamil. Awas kau!" ancam Jongin.
Kesepakatan telah di raih artinya kembali mengintai target. Mereka berdua dapat mendengar suara Kyungsoo dari dalam kamar mandi. "Chan, bisa tolong ambilkan handuk?"
Chanyeol bergegas mengambil handuk dan meninggalkan bayinya yang bugil bagian bawahnya. Namun tak membuat bayi kecil itu menangis, malahan tertawa girang sambil mengemuti jempolnya. Sedangkan Jongin dan Taehyung langsung mengambil kesempatan. "Sekarang!"
Jongin langsung membawa bayi kecil itu dan segera berlari ke pintu dimana Taehyung sudah menunggunya. Chanyeol dan Kyungsoo yang baru keluar kamar mandi tentu terkejut Jongin sudah menggendong Diao Chan. "Jongin!" pekik mereka berbarengan .
"Lari, Bapak Komisaris...!"seru Taehyung.
Jongin berlari menuruni tangga dan Taehyung mencoba menghalangi Chanyeol yang berlari mengejarnya. Kyungsoo di urutan paling belakang. "Jongin, dia... Dia.. Belum cebok... Dan memakai popok" teriak Chanyeol dengan nafas ngos-ngosan sambil membawa popok di tangannya.
Jongin mendengarnya sontak menengok bokong montok Diao Chan sambil berjalan secepat mungkin. Diao Chan yang di gendong tengkurap menempel di pundaknya, alhasil hal yang mudah mengecek bokongnya yang ternyata berlumuran kotoran. "Hiyaiikksss... Terkutulah kau wahai Chanyeol! Kenapa tak bilang dari tadi.. Aiishhh! Jika kau benar bukan anakku, akan ku doakan kau menikah dengan putra Paman Sehun," umpat Jongin yang terlihat seperti komat-kamit sendiri.
Sedangkan si kecil yang kepalanya menyembul dari punggung Jongin malah bertepuk tangan girang sambil berseru seperti menyemangati Chanyeol dan Kyungsoo atau mungkin juga Taehyung yang berlari mengejarnya. "Uwahhhh.. Kkk... Da.. Dadda... Mam. Mmaaaa... Kkkkkkk..! "
"Kenapa kau malah bahagia sekali, sayang?" seru Kyungsoo yang lelah mengejar. Apalagi ia hanya pakai bathrobe dengan handuk membalut rambutnya yang basah. Otomatis menjadi pusat perhatian para tamu hotel. "Kenapa kau jadi ikut-ikutan menyebalkan, sayang! "
"Karena dia anakku," pekik Jongin melewati lobi hotel lalu masuk ke ruangan khusus komisaris.
Ketika Chanyeol dan Kyungsoo buru-buru ikut masuk. Taehyung mendahului mereka berdua, merentangkan tangannya menutup akses masuk ke ruangan Jongin. "Jongin aku akan membunuhmu jika terjadi sesuatu pada Diao Chan, " ancam Kyungsoo. Sedangkan Chanyeol memilih mengatur nafasnya, fisiknya belum kuat untuk sekedar berlari mengelilingi hotel yang tak seberapa. "Setidaknya bawa popok ini," ucap Chanyeol mengacung-acungkan popok Diao Chan.
"Saya janji putri Anda akan baik-baik saja, Komisaris Kim hanya menahan Anda agar tidak kembali dalam waktu dekat." Kemudian Taehyung ikut masuk dan menutup pintu dengan keras.
Di dalam Jongin membaringkan Diao Chan di sofa, di ruangannya tak ada ranjang. Namun untungnya ada kamar mandi dan dapur kecil. Ia terus memandangi bayi kecil itu sambil berpikir keras. Diao Chan balik memandangi Jongin dengan mata bulatnya seolah-olah bertanya siapa paman ini. Saking penasarannya bayi kecil itu menautkan dahinya dan membuka mulutnya.
"Selain kita sama-sama menyebalkan, adakah dari dirimu yang mirip denganku?" tanya Jongin. Bayi itu hanya mengangkat tanganya dengan telapak tangan seperti sedang meremas sesuatu, kakinya juga ia hentak-hentakan ke udara. "Kau ingin ku gendong? Kau tak takut padaku?"
Bayi itu malah tertawa dan menimbulkan suara lucu. Jongin menatap ngeri ke bokong bayi itu. "Tidak akan, sebelum bokongmu bersih!"
"Tae, cari popok, air hangat, tisu basah, tisu kering, bedak bayi, susu formula, botol dot, pakaian bayi, selimut bayi, dan boneka beruang. Sekarang!" perintah Jongin tegas. Taehyung langsung lari tunggang langgang segera mencari pesanan atasanya.
Jongin mondar-mandir di depan sofa sambil bermonolog sendiri. "Kenapa namamu Diao Chan? Apa karena kau anak Chanyeol? Kenapa eommamu juga bermarga park?" Jongin tiba-tiba menghentikan kakinya. "Tunggu! Diao Chan... Diao Chan... Aku pernah membaca buku yang ada namamu. Putri cantik legenda China. Diao Chan yang muncul dalam novel klasik Romance of Three Kingdoms yang mengadu domba Lu Bu dengan Dong Zhuo. Oh ya Tuhan, kenapa namamu di ambil dari China?"
"Sebenarnya kau ini anak siapa, nak?" tanya Jongin frustasi sendiri.
"Sebaiknya Anda segera kembalikan bayi ini," usul Taehyung yang kembali dengan membawa troly berisi semua perlengkapan bayi. Entah dia dapat dari mana, yang penting membersihkan bayi kecil itu dulu.
"Tidak, aku yakin dia anakku!" tolak Jongin. "Sebaiknya kau bantu aku memandikannya. Dia bau sekali."
Kedua pemuda amatiran itu membersihkan tubuh Diao Chan dengan air hangat dan menyabuninya dengan banyak busa. Bahkan mereka rela menggulung lengan kemeja mereka masing-masing. Siap bergelut dengan air dan sabun bayi.
"Aku tidak tau bokong bayi sekenyal dan semontok ini. Dia persis eommanya," komentar Jongin sambil mengusap pelan tubuh Diao Chan yang basah dengan handuk.
Taehyung menatapnya ngeri."Anda pedofil?" tuduhnya tanpa takut di pecat
"Tentu saja tidak, sudah ku bilang mirip dengan eommanya. Bokongnya maksudku."
Taehyung menaburkan bedak bayi seperti memberi garam pada masakan. Mengambilnya sejumput lalu meneburkannya dari atas. "Memang Anda pernah merasakan bokong Nyonya Park?"
"Tentu saja. Putih, kenyal, dan montok seperti bakpao," jawab Jongin dengan percaya diri. Kemudian ia membuang nafasnya pelan, "Padahal aku yang sering menyentuhnya, kenapa bukam milikku yang tumbuh di rahimnya."
"Anda - " Taehyung kehilangan kata-katanya. "Kupikir Anda hanya sekedar tertarik ..ternyata Anda... "
"Makanya aku mengaku-ngaku appa bayi ini. Aku punya hubungan yang sulit di jelaskan dengan Nyonya Park... Aww, lidahku mendadak gatal memanggilnya begitu."
"Anda yakin hanya mengaku-ngaku saja?"
"Dulu memang Kyungsoo pernah hamil anakku tapi keguguran karena kebodohanku sendiri. Ceritanya panjang dan bukan hal bagus untuk diceritakan." Jongin mulai memakaikan popok dan baju Diao Chan yang sedari tadi diam saja hanya memperhatikan apa yang dilakukan dua om om ini.
"Mmm.. Mungkin kalau sekelebat saja dia memang tidak mirip denga Anda. Di lihat teliti pun juga tak mirip," ucap Taehyung membuat Jongin ingin menendang bokongnya segera. Jongin pikir anak itu akan mengutarakan kesamaannya dengan Diao Chan.
"HUWAAA... UWAAA...WAAAAHHHH..!" Tangis kencang Diao Chan mengagetkan mereka berdua.
"Oh ya Tuhan! Tangisnya mengerikan!" pekik Taehyung reflek melangkah mundur.
Jongin langsung mengangkat dan menggendongnya. Memberikan tepukan ringan di bokongnya. "Kau kenapa, cantik?" tanya Jongin lembut. Jongin mencoba menenangkannya namun tangisnya tak kunjung mereda.
"Kurasa dia lapar, saya juga lapar ngomong-ngomong." Taehyung mengusap perutnya yang datar. Jongin mengusir Taehyung dengan menunjuk pintu menggunakan dagunya. "Okey, saya pamit sebentar." Taehyung langsung ngacir pergi.
Sembari menggendong, Jongin membuatkan susu di dapurnya. Tentu dengan bantuan petunjuk di belakang kemasan susu formula. Mengeceknya dulu dengan meneteskan ke tangannya, apakah terlalu panas. Dirasa sudah pas suhunya, ia duduk di sofa dengan Diao Chan di pangkuannya. Mencoba meminumkan kepada bayi kecil itu menggunakan dot. Namun tangan kecilnya terus mendorong botol dot itu menjauh.
Jongin tentu bingung bukan kepalang. "Kau tak suka susu ini?" Bayi itu menanggapinya dengan menangis kencang kembali. "Arraseo... Arraseo... Kita panggil eommamu. Tsk.. Padahal aku ingin menahannya hingga seminggu, paling tidak sampai Kyungsoo mengatakan ayah anak ini adalah aku."
.
.
.
"Jongin tak akan melakukan hal buruk pada Diao Chan. Jadi kumohon tenanglah!" ucap Chanyeol pada Kyungsoo yang mondar-mandir takut sesuatu terjadi pada putrinya itu, mengingat perangai Jongin yang sering berbuat nekat.
"Jongin akan mengembalikannya kesini. Diao Chan pasti akan lapar dan dia tak bisa minum susu formula. Jongin pasti akan mencarimu, dia tak akan tega melihatnya kelaparan."
"Apa ini rencanamu, Chan?"
Chanyeol tak menjawab malah mengambil jaketnya dan dompet. "Kau mau kemana, Chan?" cegah Kyungsoo. "Aku akan keluar sebentar, selesaikan masalahmu dengan Jongin. Beritahu Jongin apa yang seharusnya ia tau, setelah itu kita akan kembali ke New york dengan tenang bukan seperti ini. Aku akan menerima semua keputusan Jongin."
Setelah itu suara pintu tertutup menandakan Chanyeol telah keluar. Namun sebuah ketukan pintu menggantikannya, terpaksa Kyungsoo berjalan membuka pintu. Rupanya tebakan Chanyeol benar, ibu muda itu mendapati Jongin ada di hadapannya sekarang dengan Diao Chan yang menangis di gendongannya.
"Masuklah!" pinta Kyungsoo pelan dan mengambil alih Diao Chan dari gendongan Jongin. Wajah bayi itu memerah karena terlalu lama menangis lapar.
Jongin bingung harus duduk dimana, pasalnya hanya ada ranjang disana. Satu-satunya kursi adalah, kursi rias. Jongin sempat ingin duduk disana namun Kyungsoo buru-buru memintanya duduk di ranjang lebarnya. "Duduklah di ranjang."
Sedangkan Kyungsoo yang duduk di kursi rias menghadap cermin sehingga Jongin hanya bisa melihat punggungnya yang tertutup bathrobe . Mungkin tak sepenuhnya tertutup karena setelahnya Kyungsoo menurunkan bathrobe sampai hampir mencapai sikunya. Punggung dan pundak putih itu pun berhasil membuat Jongin meneguk ludah beberapa kali.
Jongin ingin sekali membalik tubuh Kyungsoo yang membelakanginya. Melihat bagaimana gadis itu sedang menyusui bayinya yang menyedot dengan rakus. Jongin sampai mendengar suara kecipak-kecipak suara yang di keluarkan bayi mungil itu. "Maaf, bayimu pasti sangat kelaparan."
Tak ada sautan. Suasana menjadi sangat sunyi dan canggung. Jongin memulai pembicaraan untuk menghilangkan fantasi liarnya hanya karena melihat punggung ibu muda itu. "Chanyeol - "
"Dia sedang ada urusan. Dia menitip pesan padaku untuk memberitahumu semuanya. Jadi, kau ingin tau apa dariku, hmm?" potong Kyungsoo sambil memandangi bayinya yang mungkin tak akan bisa ia gendong lagi nanti.
"Diao Chan apakah anakku?"
"Apa kau tak bisa menanyakan hal yang lain? Seharusnya kau bisa merasakan darah dagingmu sendiri, kenapa terus bertanya padaku?"
Mata Jongin seketika berbinar-binar, "Jadi... Jadi benar dia anakku? Walaupun tak mirip denganku?" tanya Jongin tak percaya.
"Bodoh!" caci Kyungsoo terselip senyuman manis darinya. Jongin bisa melihatnya dari pantulan kaca. "Dia sepenuhnya mirip denganku, hanya saja kebetulan mempunyai lesung pipi seperti Chanyeol. Tapi sifatnya mirip dengamu, menyebalkan, posesif... Dia sangat posesif pada Chanyeol, dan suka tidur melebihi bayi lainnya. Satu lagi.. "
Jongin menaikan alisnya mendengar Kyungsoo dengan antusias. "Apa lagi?"
"Aku juga baru tau belakangan, bibirnya yang tebal ternyata lebih mirip denganmu. Berbentuk plum. Apa ini cukup menjawabmu?"
"Lalu kenapa margamu Park? Kalian menikah?"
"Lebih tepatnya hidup bersama. Aku pergi ke New york ikut eommaku dan Chanyeol yang kritis di kirim ke Canada oleh Kris. Mencegah ada yang melakukan hal buruk pada Chanyeol karena dirinya sudah tertangkap. Setelah siuman, Kris meminta untuk tidak kembali ke Korea dan lebih baik ikut denganku. Margaku berganti Park karena mengikuti ayah tiriku, yang kebetulan bermarga Park."
"Lalu Diao Chan bermarga apa? Dan kenapa namanya China?"
"Sementara Park mengikuti Chanyeol, karena aku berniat memberikan Diao Chan pada Chanyeol. Semasa sekolah dia pernah bilang padaku ingin menggendong bayi tapi ia merasa tidak mungkin karena gay dan tak bisa menikahi wanita. Terlebih ia telah berkorban banyak demi diriku dan Diao Chan. Tentang nama Diao Chan, Kris yang memberikannya nama."
"Dia anakku juga, Kyung! Apa aku tak berhak atas apa pun?"
"Makanya aku ingin menyembunyikannya darimu, namun ternyata Chanyeol merasa dirimu lebih berhak atas bayi ini. Sekarang kau sudah tau bukan? Kuharap kau tak menghalangi keputusanku."
"Apa nantinya Diao Chan akan hidup dengan Chanyeol selamanya? Aku juga ingin hidup dengan anakku, Kyung!"
"Aku juga ingin bersama Diao Chan, tapi aku eomma yang buruk... Aku mencelakakannya berkali-kali sebelum dia lahir. Dia hampir tak selamat, setelah penculikan itu aku kekurangan banyak darah sedangkan persediaan darah untuk golongan darah A - kurang. Kris yang bergolongan darah O- menyumbang banyak darah untukku dengan suka rela. Secara tidak langsung darah Kris ikut menyumbang kehidupan pada Diao Chan."
"Dan Kris meminta sesuatu darimu sebagai gantinya?"
"Tidak, dia hanya berpesan tolong beri Chanyeol sedikit kebahagiaan. Karena dirinya sudah melepaskan Chanyeol dan ia akan lama di penjara."
Kyungsoo membenarkan bathrobe-nyaBayinya sudah tertidur karena kekenyangan. Kyungsoo berbalik dan mendekati Jongin yang duduk di ranjang. Berniat untuk menidurkan Diao Chan di ranjang. Ketika sudah terbaring di ranjang, bayi itu tertidur pulas dengan tangan di rentangkan memenuhi hampir sebagian ranjang.
"Meski kami hidup bersama, Chanyeol tak berani menikahiku. Jadi aku memberikan Diao Chan untuknya. Jadi meskipun aku memutuskan menikah dengan orang lain, mereka berdua akan tetap bersama. Ini sekaligus memenuhi permintaan Kris padaku untuk memberikan sedikit kebahagiaan untuknya. " Kyungsoo ikut duduk di samping Jongin.
"Tapi aku menginginkannya juga?"
"Chanyeol juga berpikiran seperti itu. Kau appanya pasti akan berat untukmu. Chanyeol memikirkan perasaanmu. Jadi tolong pikirkan perasaan Chanyeol juga, dia sangat menyayangi anakmu juga Jongin, "
Jongin sangat bingung sekarang. Ia paham maksud Kyungsoo tapi dia juga menginginkan bayi itu. Ia juga tau bagaimana Chanyeol berusaha melindungi bayi itu walaupun belum lahir, dirinyalah yang membuat celaka. Tapi Diao Chan adalah darah dagingnya dan wujud dari semua doanya agar Kyungsoo hamil anaknya, agar gadis itu punya alasan untuk tetap disisinya.
"Aku tak bisa, Kyung! Aku juga ingin di panggil appa olehnya," ucap Jongin menoleh ke arah Diao Chan yang tidur. Memberikan kecupan di perut bayi cantik itu sembari memandanginya. Anaknya ada di depan matanya sekarang. Kenapa ia tak boleh memilikinya.
"Chanyeol punya keterbatasan. Berbeda denganmu Jongin, kau bisa di panggil appa oleh anakmu lainnya nanti. Kau bisa menikah dan punya anak," bujuk Kyungsoo.
"Aku tak akan menikah kalau begitu. Aku hanya mau menikah dan punya anak darimu. Kau tak mau bukan... Jadi satu-satunya anak yang kumiliki hanya Diao Chan," balas Jongin membuat Kyungsoo naik darah. Kenapa pria ini terus mempersulit dirinya.
"Jongin! " Kyungsoo menekan suaranya.
"Kenapa? Aku melakukan hal yang salah? Apa ada undang-undang yang melarang tidak boleh melajang sampai tua? Apa selain menolakku, kau juga mau memaksaku menikahi orang lain? Apa - "
"Baik, kalau begitu menikahlah denganku. Akan kuberi Diao Chan lainnya," potong Kyungsoo lirih.
Jongin bengong sebentar lalu ketika tersadar kalimat Kyungsoo, dengan gerakan cepat ia langsung menengok ke arah Kyungsoo. Sampai lehernya bisa saja patah karena terlalu bersemangat. "Apa aku tak salah dengar?"
"Apa kau selain mesum juga tuli? Apa kau begitu tua hingga pendengaranmu mulai mengalami kemunduran?" maki Kyungsoo sensi.
"Kau - "
"Ya, bodoh! Kau senang sekarang?" tanya Kyungsoo melihat ekspresi Jongin yang masih terkejut dan bingung.
"Tidak, kau melakukannya agar aku melepaskan Diao Chan untuk Chanyeol. Tidak.. Tidak... Aku tak akan tertipu."
Kyungsoo langsung menggeplak kepala Jongin cukup keras hingga Jongin memekik kesakitan. "Yakkk! KENAPA MENG- "
Chup! Namun Kyungsoo langsung membuat Jongin bungkam tidak jadi marah dengan kecupan di pipinya. "Aku pernah bilang padamu bukan kalau aku juga mencintaimu, tapi kau membuat celaka Chanyeol makanya aku marah denganmu. Tapi Chanyeol masih hidup sampai sekarang, kurasa aku tak bisa marah lagi."
Jongin langsung turun dari ranjang dan berlutut di hadapan Kyungsoo. Matanya bergerak kesana kemari mencari bunga. Tapi ia tak menemukan setangkai bunga pun di kamar ini. Terpaksa ia menyahut tisu lalu melipatnya secepat mungkin membentuk bunga walaupun lebih mirip gumpalan tisu tak berbentuk.
Jongin memegang tisu tersebut layaknya buket bunga mawar lalu berkata, "Mungkin aku melakukan banyak kesalahan. Mungkin aku sangat menyebalkan bagimu, aku mesum, aku juga hitam, aku tak punya apa pun yang bisa ku janjikan padamu, aku juga egois. Aku hanya manusia biasa yang bernama Kim Jongin, mau kah kau mendampingi pria bodoh ini?"
Kyungsoo tak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum geli dengan tingkah Jongin. Ia mengambil tisu yang Jongin pegang lalu menyeka keringat Jongin yang bercucuran. Jongin tertawa kikuk, "Maaf.. Hehehe.. Aku sangat grogi sekarang ini."
"Maaf aku akan bilang tidak untuk ajakanmu tadi. Aku tak mau mendampingi pria bodoh yang tak mau menjanjikan apa pun padaku. Setidaknya berjanji padaku untuk terus menyayangiku dan tak akan berpaling ke wanita lain."
"Tentu, Nyonya Kim Kyungsoo. Jadi kau menerima ku? Aku sudah pegal berlutut, Kyung!" rengek Jongin.
"Tak ada yang munyuruhmu berlutut, Jongin!" balas Kyungsoo malas.
Jongin masih posisi berlutut memegang kedua tangan Kyungsoo. "Terimakasih, aku tak tau harus berkata apa lagi," Jongin tak bisa menahan air matanya yang turun. Untuk menutupinya ia menghambur memeluk pinggang Kyungsoo dan menelusupkan kepalanya di tempat yang sama.
Tapi Kyungsoo terlanjur tau, "Hey.. Hey.. Aku belum bilang iya, Bapak Komisaris." Jongin mengadahkan wajahnya memandang Kyungsoo sambil mengerucutkan bibirnya merajuk. "Yasudah ayo bilang iya. Kau kan tadi yang bilang mau menikah denganku duluan."
"Tsk... Kelakuanmu kembali lagi! Diao Chan mana mau punya appa sepertimu."
"Ngomong-ngomong apa aku tetep boleh menengok anakku? Apa aku boleh memperkenalkan diriku sebagai appanya setelah dewasa nanti?"
"Chanyeol pasti mengijinkanmu. Dia akam tetap memanggilmu appa, daddy yeol untuk Chanyeol dan baba untuk Kris."
"Kris juga? Apa dia akan jadi pimpinan mafia? Aku tak bisa bayangkan anakku jadi begitu... Bisakah Diao Chan ikut kita saja, mendadak aku tak rela lagi."
"Tenang saja, Chanyeol akan mendidiknya dengan baik." Kyungsoo mengusap kepala Jongin yang ada di perutnya. Mendadak Jongin mengangkat kepalanya dan berdiri tegap di hadapannya.
"Boleh aku menggendongnya lagi?" tanya Jongin bersiap mengangkat Diao Chan yang tertidur.
"Jangan menganggu tidurnya, Jongin! Lebih baik lakukan hal yang berguna, kau tak mengecek hotelmu?"
"Tidak, aku ambil cuti untuk khusus wawancara. Aku terlalu sering masuk di hari liburku, ini saatnya bersantai. Aku akan memandangi bayi cantik ini tidur. Semoga kau tak berjodoh dengan putra paman Sehun ya, nak!"
"Lakukan hal yang berguna, Jongin!" ucap Kyungsoo sekali lagi dengan nada yang kesal.
"Apa?" Jongin bertanya dengan polosnya. "Ahh...Bagaimana kalau kita membuat adik untuk Diao Chan yang mirip denganku?"
Satu bantal sukses terlempar di wajah Jongin. Jongin mendekikan matanya sambil menggerutu, "Selalu saja salah." Ternyata bukan hanya bantal yang terlempar ke arahnya, namun juga Kyungsoo yang tiba-tiba memeluknya erat sambil berbisik sensual ketelinganya sampai bagian bawahnya mengamuk, "Ayo, jangan berhenti sebelum kau yakin berhasil membuahiku!"
Jongin langsung mencium ganas bibir Kyungsoo sembari membawanya ke ranjang. Kyungsoo buru-buru menginterupsinya agar tidak bermain di ranjang mengganggu Diao Chan yang sedang tidur. Mereka tak punya pilihan lain selain meja rias dan kamar mandi. "Ngghhh... Tahan sayang, jangan.. Jangan keluar dulu! Nanti... Jadinya asshhhh... Laki-laki!"
.
.
.
David yang rombongan sudah berkemas untuk kembali ke New York dan segera menyelesaikan pekerjaan mereka. David mencoba mendatangi kamar Kyungsoo karena teleponnya tak diangkat dan batang hidungnya tak juga keliatan. Chanyeol juga tak keliatan apalagi Diao Chan bayi kecilnya.
Pintu kamar Kyungsoo terbuka menampilkan sang penghuni yang hanya berbalut selimut menutupi dada ke bawah. David masih melihat lekukan payudara Kyungsoo yang menyembul malu-malu. Rambut Kyungsoo yang berantakan membuatnya yakin rekannya ini habis bangun tidur dari aktivitas yang melelahkan.
"Penerbangan sejam lagi, Kyung! Kau tak ingin pulang?" tanya David melirik ke dalam kamar dimana. Seorang laki-laki tidur memeluk bayi kecil dalam dekapannya.
"Mian.. Sepertinya aku akan naik penerbangan selanjutnya saja." Mata David sekarang terfokus pada tanda merah yang tersembunyi di leher dan dada Kyungsoo yang tertutup rambutnya yang dibiarkan terurai berantakan.
"Kau habis.. Ehh... Dengan suamimu? Kau ingin buat anak lagi? Apa kau benar-benar tak mau kembali dengan Komisaris Kim?"
Kyungsoo hanya menanggapinya dengan mengangguk, ia memang tak pernah menjelaskan statusnya yang belum menikah. Seluruh rekannya hanya menerka-nerka saja karena dirinya dan Chanyeol tinggal serumah dan ada bayi kecil. Maka lengkap sudah di sebut keluarga pasangan muda. Berita di Korea atas penculiknya pun tak ada yang menyebutkan orientasi Chanyeol.
"Sekali lagi maaf, David. Terima kasih telah mengkhawatirkanku. Kabari aku jika kau sudah sampai."
Pintu terlanjur sudah tertutup, David ingin menanyakan perihal Komisaris Kim yang menolak biaya penginapan dan wawancara mereka. Padahal ia dapat berita cukup bagus untuk artikelnya dan itu akan bernilai jual tinggi.
"Chanyeol-ssi?" panggil David terkejut melihat Chanyeol sudah ada di sampingnya. Dahinya berkerut berpikir keras, Chanyeol lebih bingung mendapati rekan Kyungsoo berdiri di depan kamarnya sambil memandanginya lama.
"Bukankah kau ada di dalam tadi? Tidur memeluk bayimu?" David sampai memperagakan bagaimana pria yang tidur di ranjang tadi memeluk bayi kecil dalam dekapannya. "K-kenapa kau ada disini dan berjaket seperti pulang dari jalan-jalan?"
"Aku memang pulang dari mengunjungi kawanku," jawab Chanyeol jujur, sedetik kemudian ia baru sadar tentang situasi di kamarnya. Sudah ia duga pasti pasangan kelebihan hormon itu pasti melakukan hal yang tidak-tidak.
"Harusnya aku menginap di gereja saja sampai besok. Baekhyun pasti tak keberatan atau tidur di penjara saja dengan Kris, " guman Chanyeol melangkah pergi meninggalkan David yang sangat amat bingung sekarang.
.
TBC
.
.
.
Sepertinya saya hanya butuh satu Chapter lagi sebagai penutup.
Thanks udah baca ampek chapter ini, saya pribadi minta maaf jika ada pihak yang di kecewakan atas cerita ini.
