My Famous Husband Jung

By Lady_Sinner25

.

.

.

.

Yunho tertidur di mobil dan saat dia bangun, wajahnya sudah terpapar sinar matahari pagi. Menengok sejenak jam di tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Tanpa merasa perlu bersusah payah untuk mengganti pakaian yang dia kenakan sejak malam penghargaan semalam, hanya dengan melepas blazer dan menggulung lengan kemejanya hingga siku. Hari masih pagi, namun dia merasa kepanasan.

Yunho kembali melihat jam tangannya, 5 menit telah berlalu dari pukul 8. Dia tidak punya waktu untuk kembali ke apartemen dan mandi. Dia harus terus mencari istrinya. Dan tiba-tiba terlintas sebuah ide. Iya, dia akan menunggu Jaejoong di gerbang sekolah Jaejoong dengan harapan dia bisa bertemu istrinya di sana.

...

Jaejoong harus pergi ke sekolah karena dia sudah absen terlalu banyak. Namun sejak dia tidak membawa seragam, tidak ada pilihan lain baginya untuk pergi dengan jeans dan kemeja putih dan blazer. Terima kasih kepada Mrs. Shim yang dengan baik hati membelikan pakaian baru di butik terdekat yang letaknya tidak jauh dari rumah keluarga Shim. Dia masih tidak mau pulang ke apartemen, dia masih belum siap untuk bertatap muka dengan suaminya. Melihat suaminya hanya akan membuatnya menangis lagi, jadi dia memutuskan tinggal di kediaman keluarga Changmin untuk beberapa hari lagi.

Changmin memarkirkan mobilnya di dekat gerbang sekolah mereka, tak berapa lama Jaejoong keluar dari dalam mobil diikuti Changmin. Berjalan beriringan menuju ke kelas mereka hingga di tengah jalan Jaejoong melihat sebuah mobil yang tidak asing dalam penglihatannya, terparkir di luar gerbang sekolah. Dia hendak berlari kembali ke mobil Changmin tetapi terlambat karena Yunho sudah berlari menuju ke arahnya.

"Sayang tunggu!" Jaejoong mempercepat larinya kembali ke mobil namun Yunho berlari lebih cepat dan menggapai lengan kanan Jaejoong tepat saat Jaejoong akan membuka pintu mobil.

"Lepaskan Yunho!"

"Aku mohon dengarkan aku dulu sayang!" Yunho memohon pada istrinya dan tentu saja pasangan suami itu menarik perhatian banyak siswa-siswi. Kehadiran Yunho di sekolah sendiri sudah cukup untuk membuat mereka terpesona, ditambah Jaejoong yang cantik yang selama ini mereka ketahui sebagai kutu buku. Pada kenyataannya dia seorang malaikat yang menyamar.

"Jangan sentuh orang yang suka main mata ini! Lepaskan tanganmu Yunho!" Yunho menggigit bibirnya dan sekali lagi rasa bersalah menyerangnya.

"Aku sungguh minta maaf sayang! Aku tidak bermaksud berkata seperti itu!"

"Oh yeah. . . Kau tidak bermaksud berkata seperti itu? Sedangkan faktanya kau terlihat seolah ingin berteriak di depan wajahku kalau aku tidak berhak tersenyum kepada semua orang seolah aku selalu melakukannya! Ya Tuhan Yunho! Kau selalu saja begitu!" Jaejoong menghentakan kakinya, berjalan menuju Changmin dan namja itu ditarik oleh Jaejoong namun Yunh memegang lengan Jaejoong.

"Ayo kita bicarakan hal ini dulu. Aku mohon!" Mohon Yunho untuk kedua kali.

"Tidak! Kita akan membicarakan ini lain waktu Yunho. Aku harus masuk ke kelas!"

"Sayang aku mohon. . . Berikan waktumu untukku!" Yunho merasa hatinya seperti tersobek ketika melihat Jaejoong tak menghiraukannya dan kembali berjalan.

"Changmin ayo pergi!"

"Aku mohon Jaejoong, aku minta maaf!" Yunho mengikuti Jaejoong dari belakang.

"Hyung!" Changmin berhenti saat dia melihat Yunho berjalan di belakang mereka.

"Changmin apa yang kau lakukan? Ayo pergi!" Jaejoong memegang lengan Changmin lagi.

"Changmin kau bisa pergi dulu!" Yunho memberi tanda kepada Changmin untuk masuk ke dalam tapi Jaejoong menghentikannya.

"Tidak! Changmin kau tetap di sini dan tunggu aku!" Tiba-tiba Changmin berhenti berjalan dan menatap kedua hyungnya bingung.

"Aku bilang kai bisa pergi dulu Minnie!" perintah Yunho.

"Tetap di sini Changmin!" Changmin yang malang. Dia hanya bisa membuka mulutnya dan kedua matanya menatap kedua hyungnya itu bergantian.

"Baiklah. Yunho kau bisa bicara sekarang!" ujar Jaejoong seraya menatap Yunho.

"Changmin kau bisa masuk ke kelasmu sekarang. Aku akan bicara pada Jaejoong!" perintah Yunho yang ikut menatap Jaejoong balik.

"Minnie kau tinggal di sini seperti yang aku bilang tadi!" Sekarang Jaejoong menatap Changmin tajam yang membuat namja tampan itu merasa iritasi.

"Aku bilang-"

"Ok! Hentikan hyungdeul! Aku akan pergi sekarang dan kalian bisa membicarakan masalah kalian secara pribadi. Lihatlah! Kalian hanya memberikan tontonan gratis di sini! Semua orang bisa mendengar apa yang kalian bicarakan, kalian tidak bisa menyelesaikan masalah kalian di sini dengan saling berteriak dan menggertak. Tuhan! menjadilah dewasa hyung!" Changmin berjalan meninggalkan sepupu dan istrinya. Meninggalkan mereka dalam keterkejutan dan saat mereka mengalihkan pandangan mereka ke gerbang sekolah, melihat setiap mata menatap tepat ke arah mereka seolah mereka sedang menonton film di bioskop.

Yunho menundukkan kepalanya dan meminta maaf atas kejadian yang mereka lakukan di depan gerbang sekolah.

Setelah meminta maaf, Yunho kembali menatap Jaejoong dan mendekati istrinya dengan pelan. Sedangkan Jaejoong menatap balik suaminya, timbul rasa kasihan untuk suaminya. Dia melihat Yunho belum mengganti pakaiannya sejak malam penghargaan kemarin dan kantung mata yang terlihat jelas pada mata bentuk almonnya, sepertinya namja yang digilai banyak yeoja itu tidak mendapatkan tidur yang baik.

Jaejoong berbalik arah saat Yunho tepat berada di belakangnya. Dia merasakan sebuah lengan melingkar memeluk pinggangnya, yang membuatnya berusaha untuk tidak balik memeluk suaminya. Yunho harus menyadari kesalahannya dan belajar untuk tidak melakukan hal yang sama lagi.

"Katakan apa yang kailu inginkan Yunho. . . Aku masih harus masuk ke kelas!" Gertak Jaejoong seraya mengendurkan lengan yang memeluk pinggangnya. Yunho hanya bisa menggigit bibirnya melihat istrinya yang masih bersikap dingin padanya.

"Aku minta maaf sayang, sungguh minta maaf! Aku tahu aku sudah bersikap berlebihan kali ini dan aku meminta maaf untuk hal itu. Aku hanya terlalu mencintaimu hingga aku tidak bisa membayangkan seseorang mendekatimu."

"Demi Tuhan Yunho! Mereka tidak sedang mendekatiku, merka hanya ingin tahu namaku!"

"Aku tahu! Aku hanya seorang yang bodoh dan bajingan yang selalu merasa tidak aman. . . yang terlalu mencintaimu!" aku Yunho.

"Tapi itu tidak membenarkan tindakanmu Yunho! Dan menuduhku main mata, itu sangat menyakitiku!"

"Aku sunnguh minta maaf sayang! Aku tidak bermaksud untuk menuduhmu. Itu tanpa sengaja keluar karena kecemburuan dan kemarahanku!"

"Karena itu kau harus belajar bagaimana mengontrol emosimu! Semuanya bisa rusak hanya karena kau terlalu posesif tanpa perlu peduli untuk mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu!"

"Aku sungguh minta maaf!" Yunho menarik napas dalam-dalam, ditundukkannya kepalanya pelan. "Aku janji untuk mengontrol kemarahan dan kecemburuanku lain kali. Aku berjanji untuk memahami kalau aku mempunyai seorang istri yang cantik, yang dikagumi oleh banyak orang. Aku akan membuka hatiku untuk menerima kalau kau bukan milikku sepenuhnya, kau punya kebebasan dan hak untuk tersenyum kepada semua orang. Aku minta maaf karena sudah hampir memukulmu lagi. Sayang aku sungguh minta maaf."

Yunho mengangkat kepalanya dan menatap Jaejoong yang berusaha keras untuk tidak meneteskan air mata. Berbeda dengan Yunho yang tidak dapat menahan air matanya lagi, setetes air mata berhasil keluar.

"Aku harus pergi Yunho. Aku masih harus masuk ke kelas." Dan Jaejoong mulai kembali berjalan meninggalkan Yunho.

"Aku sungguh minta maaf sayang. Aku berharap kau mau memaafkan aku!" Untuk kesekian kali Yunho mengucapkan kata maaf pada istrinya.

Jaejoong berhenti berjalan dan memutar kepalanya lagi ke Yunho. Sebagai seorang istri sungguh tidak tega melihat keadaan suaminya seperti sekarang, apalagi Yunho yang seorang superstar terlihat kusam karena kurang tidur dan dia yakin Yunho belum menyentuh air sedari pagi. Ingin sekali Jaejoong memeluknya namun ditahannya keinginannya itu. Meyakinkan dirinya sendiri kalau dia harus memberikan waktu lebih untuk Yunho menyadari apa yang telah dia lakukan. Dia merasa kasihan melihat Yunho yang harus mengalami sedikit kesulitan lagi dan jika teringat fakta bahwa Yunho menderita demam kemarin. Hal ini tentu saja membuat Jaejoong merasa bersalah namun dia harus melakukan ini, demi masa depan mereka.

"Kita bicarakan ini di rumah saja Yunho. Kau bisa beristirahat sekarang!" Yunho menatap Jaejoong sedih, menganggukan kepalanya dan mulai berjalan kembali menuju mobilnya.

Para siswa juga mulai membubarkan diri saat mereka mendengar bel kedua berdering. Jaejoong terus berjalan menuju kelasnya namun tiba-tiba terasa pusing membuatnya memegang kepala, perutnya mual seolah ingin muntah. Matanya menjadi buram dan sekelilingnya terasa berputar-putar. Dia harus berpegangab pada dinding, mencegahnya dirinya jatuh namun sepertinya dia tidak bisa menahan lebih lama lagi. Pandangannya mulai kabur dan dia bisa mendengar samar siswa-siswi yang berteriak memanggil namanya sebelum akhirnya dia benar-benar kehilangan kesadaran. Siswa-siswi yang melihat kejadian tak terduga itu langsung berlarian dan menolongnya sebelum Jaejoong membenturkan kepalanya ke bawah.

Saat itu tepat ketika Yunho memutar kepalanya dan membelalakan matanya melihat Jaejoong yang jatuh pingsan.

"Jaejoong!"

.

.

.

tbc

.

.

.

Editor's note :

Bahasa tidak baku, tidak sesuai dengan EYD yang berlaku dan maaf jika ada typo maupun penggunaan kata yang tidak berkenan.

Pendek lagi! tapi ayo tebak Jaejoong kenapa? review dulu sebelum di next Ok? :)