MY FAMOUS HUSBAND JUNG

.

by LadySinner_25

.

.

WARNING : CERITA INI HANYA FICTION! KARANGAN SEMATA! TIDAK UNTUK DIJADIKAN CONTOH ATAU PEMBENARAN!

.

.

Trimester kedua kehamilan Jaejoong. Tonjolan sekarang terlihat di perutnya dan dia tidak punya pilihan lain saat Yunho memaksanya untuk berhenti pergi ke sekolah demi keamanan dan kesehatannya sendiri, serta sebagai jaminan Yunho sebagai seorang suami untuk memberi kenyamanan kepada sang istri selama hamil. Kabar baiknya adalah Jaejoong telah sepenuhnya berubah dari Jaejoong yang sebelumnya moody dan bitchy menjadi Jaejoong yang manis dan istri yang penuh perhatian terhadap suaminya. Perubahan ini sangat disukai oleh Yunho, namun timbul satu masalah baru yaitu Jaejoong suka menempelkan dirinya sendiri pada Yunho. Dia tidak suka Yunho berada jauh darinya atau di luar jangkauan matanya meski hanya untuk semenit. Dan karena itu pula Yunho harus mengambil cuti sementara dari manajemennya hingga Jaejoong bisa ditinggal lagi untuk bekerja. Ada satu lagi obsesi seorang Jaejoong yaitu aroma tubuh Yunho. Setiap pagi Yunho akan menemukan istrinya sedang mengendus seluruh tubuhnya seperti seekor binatang kelaparan yang siap menyantap mangsanya. Kadang terlihat menjijikan, tapi Yunho sudah terbiasa dengan hal itu. Jaejoong juga masih mengidam beberapa makanan namun lebih seperti minta untuk dibelikan buah-buahan seperti semangka, apel, jeruk dan strowberi.

Yunho juga selalu ikut menemani Jaejoong untuk memeriksakan kandungannya setiap bulan. Di usia kandungannya yang ke enam bulan, dokter melakukan Ultrasound untuk mengetahui jenis kelamin anak mereka. Dan Yunho melompat kegirangan saat dokter memberitahu bahwa mereka akan mempunyai anak perempuan, sesuai dengan harapannya selama ini. Membuatnya berusaha dua kali lipat untuk memastikan jika Jaejoong mendapatkan istirahat yang cukup, olah raga, makan dan vitamin yang dikonsumsinya.

"Yunnie. . . Kau ingin makan apa? Aku akan memasakkannya untukmu!" Mereka sekarang tengah duduk di sofa dengan Yunho yang sedang membaca majalah, dengan membaringkan kepalanya di pangkuan Jaejoong.

"Kue beras pedas sayang!"

"Tapi kita kehabisan bahan untuk memasak Yunnie."

"Aku akan pergi ke supermarket sebentar kalau begitu. Aku akan kembali secepatnya!" Yunho bangkit dari sofa namun ditahan oleh Jaejoong.

"Aku akan pergi denganmu Yunnie!"

"Sayang supermarketnya hanya beberapa blok dari sini, aku akan kembali secepatnya!"

"Aku bilang aku akan pergi denganmu!"

"Kau akan menjadi mudah lelah sayang. Kau bisa beristirahat di sini sambil menungguku! Aku tidak ingin kau menjadi lelah."

"Kalau begitu masak kue berasmu itu sendiri, aku tidak mau memasaknya!" Jaejoong berdiri dan hendak pergi kembali ke kamar mereka saat Yunho memeluknya dari belakang.

"Hmmm. . . mood swings-mu datang lagi huh?" tanya Yunho. Jaejoong menampar tangan Yunho dan berjuang untuk terbebas dari pelukan suaminya.

"Lepaskan aku Jung dan mulai memasak sekarang. Aku tidak mau memasaknya untukmu!" Jaejoong hanya membiarkan tubuhnya dipeluk Yunho ketika dia merasakan tubuhnya diputar untuk menghadap namja tampan itu.

"Aku mencintaimu! Aku hanya ingin kau mendapatkan istirahat yang cukup. Tapi kalau kau masih bersikeras ingin pergi denganku, ayo kita pergi!" Wajah Jaejoong bersinar bahagia mendengarnya, kemudian memeluk Yunho; lebih tepatnya mengendus leher Yunho.

"Hmmmm apa bagusnya sih leherku?" Yunho membiarkan istrinya menghirup aroma tubuhnya. Ini selalu terjadi setiap pagi jika dia mempunyai kesempatan untuk memeluk Jaejoong, hidung Jaejoong akan otomatis mendarat di leher Yunho seolah lehernya adalah bagian paling bagus dari tubuhnya.

"Aroma. . ."

"Iya aku tahu!"

"Aku suka aroma tubuhmu, mint! Ini sangat adiktif Yunnie!" Jaejoong menenggelamkan wajahnya lagi di sisi lain dari leher Yunho, masih mengendus.

Yunho tertawa. Yunho hanya melingkarkan kedua lengannya di pinggul Jaejoong, merasakan tonjolan di perut Jaejoong. Dia mulai mengayunkan istrinya yang wajahnya masih terbenam di lehernya.

"Apa yang kau lakukan Yunnie?" Tanya Jaejoong, sedikit tersentak karena tubuhnya yang diayunkan suaminya.

"Berdansa dengan istriku yang cantik dan anak perempuanku." Senyum terlukis di wajah Yunho.

"Hmmm. . . Aku berharap Jiyool akan mempunyai talenta seperti dirimu sayang!"

"Iya, semoga! Dan. . . aku yakin Jiyool akan secantik eommanya." Yunho membelai surai Jajoong dan mengecupnya.

"Biarkan aku menikmati momen ini sebentar lagi Yunnie. Aku belum lapar."

"Baiklah!" Yunho meletakkan kedua tangan Jaejoong di lehernya dan membiarkan istrinya menenggelamkan wajahnya di dada bidang miliknya. Yunho melanjutkan untuk mengayunkan tubuh mereka berdua.

"Aku sangat mencintaimu sayang. Aku merasa hariku seperti tidak sempurna tanpa mengucapkannya."

"Kau mulai cheesy lagi JUNG!"

"Tidak! Aku hanya terlalu ekspresif jika sudah berhubungan dengan emosiku. Aku akan dengan senang hati untuk memanjakanmu lagi dan lagi. Dan aku tahu kau pasti menyukainya!" Jaejoong tersenyum dan lebih mengeratkan lengannya di leher Yunho.

"Apa kau masih ingat saat kita masih kecil, kau memberiku cincin palsu dan bilang kau akan menikahiku jika kita bertemu lagi. Aku tidak pernah menyangka kalau kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu."

"Aku mengingatnya! Aku berumur sepuluh tahun waktu itu dan kau tujuh tahun tapi aku sudah merasa cemburu setiap saat ada anak laki-laki yang datang untuk bermain denganmu. Aku hanya menginginkanmu untuk diriku sendiri!" Jaejoong terkekeh mendengar pengakuan suaminya.

"Dan kau tidak pernah berubah Yunnie. Kau masih posesif seperti dulu."

"Aku tahu, aku posesif tapi itulah diriku." Jaejoong menganggukan kepalanya.

"Apa yang kau rasakan saat kau melihatku setelah tujuh tahun tinggal di Amerika?" Jaejoong mengangkat kepalanya untuk menatapYunho. Suaminya itu tersenyum dan menciumnya di bibir.

"Saat aku melihatmu aku merasa seperti terbang ke udara. Aku ingin memelukmu tapi aku tahu aku tidak bisa melakukannya. Aku ingin menciummu tapi aku tidak pernah melakukannya! Aku masih takut kalau kau akan membenciku jika aku mengungkapkan cintaku padamu!" Yunho mengingat kembali rasa lama yang pernah dia punya untuk namja cantik yang kini menjadi istrinya. Jaejoong mengangkat kedua alisnya dan hanya menatap Yunho.

"Kau sungguh tidak pernah menyadari kalau aku juga mencintaimu saat itu?" Tanya Jaejoong. Yunho menggelengkan kepalanya.

"Kau selalu menekankan kata teman baik di emailmu. Dan saat aku telepon, kau akan mengakhiri perbincangan kita layaknya seorang sahabat akan lakukan. Bahkan saat aku bilang aku mencintaimu, aku sungguh-sungguh mengatakannya. Bagaimana aku bisa tahu kalau kau juga mencintaiku saat itu?"

"Tapi aku senang kau membuat janjimu itu menjadi nyata sayang!" Ungkap Jaejoong dengan binar di matanya. Yunho menggenggam tangannya dan menciumnya.

"Aku akan senang jika bisa kembali ke malam penuh kenangan dimana aku mengetahui bahwa kau juga mencintaiku! Waktu itu adalah malam termanis yang pernah aku lalui bersamamu sayang."

.

Flashback

.

Yunho kembali ke Korea setelah tinggal hampir selama tujuh tahun di Amerika Serikat. Dia tidak bisa meninggalkan eommanya mengetahui ayahnya sedang sakit saat itu dan sebagai anak tertua laki-laki, dia memilih untuk tinggal bersama keluarganya dan melanjutkan pendidikannya di sana. Meninggalkan sebuah janji kepada anak berumur tujuh tahun, Kim Jaejoong. Dia tersenyum saat mengingatnya.

Sekarang dia telah kembali, dia akan mewujudkan mimpinya untuk menjadi penyanyi dan penari profesional. Kedua orang tuanya tidak pernah menjadi halangan untuknya menggapai mimpi, meskipun mereka tinggal berjauhan. Eommanya memberikan persetujuannya untuk melanjutkan apa yang sangat dia inginkan agar bisa terwujud.

Dia tidak bisa menyelesaikan pendidikannya di Administrasi Bisnis karena bisnis tidak pernah menjadi keahliannya sejak awal. Oleh karena itu, satu bulan setelah appanya meninngal, dia kembali ke Korea. Dia tidak memberitahu Jaejoong akan kepulangannya dan ketika dia muncul di hadapan manja cantik itu, dialah yang terkejut.

Namja cantik yang berdiri di hadapannya bukan lagi anak kecil dan Joongie yang lucu lagi. Dia tumbuh menjadi sangat indah, menjadi malaikat cantik, lebih dari yang pernah dia bayangkan. Rambut hitam kelam yang biasa dia lihat dari Jaejoong sekarang berubah warna menjadi coklat keemasan, membuat wajah cantiknya semakin bersinar. Bibir yang sebelumnya biasa dia kecup main-main, terlihat semakin merah, penuh dan terlihat bisa membayangkan bagaiamana manisnya bibir tersebut jika bersentuhan dengan bibirnya. Kulit halus nan lembut yang biasa dia sentuh saat bermain bersama saat mereka masih kecil, sekarang bersinar di bawah sinar matahari yang berberi efek radiasi pada kecantikkannya. Pendek kata, Kim Jaejoong benar-benar cantik dan tumbuh dengan indahnya, mebuat setiap wanita dan pria akan menginginkannya untuk menjadi milik mereka.

Yunho's POV

"Yunho? Apakah itu kau?"

Tuhan! Dia begitu cantik! Aku hanya ingin menciumnya dan memeluknya erat tapi aku tidak bisa. Aku akui aku telah jatuh cinta padanya sejak aku membuat sebuah janji padanya dahulu kala. Janji untuk menikahinya jika kami bertemu lagi. Dan sekarang aku terjatuh semakin dalam padanya. Ya Tuhan! Betapa aku merindukannya. . . namun aku tidak bisa mengatakan padanya betapa aku merindukannya.

"Yun?" Jaejoong sekarang menangis dan berlari untuk memelukku. Tubuhnya terkubur dalam tubuhku dan aku bisa merasakan tubuhnya yang gemetar. Dengan pelan kulingkarkan lenganku ke lehernya, balik memeluknya dan hatiku merasa begitu bahagia hingga aku berpikir hatiku akan meledak dengan banyaknya cinta yang tersembunyi di dalam hatiku.

"Jae. . . Aku merindukanmu!"

"Aku juga merindukanmu Yun, kau tak tahu betapa aku merindukanmu! Kau idiot! Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau akan datang?" Dia masih menangis dan dengan pelan aku mengangkat dagunya hingga aku bisa menatap mata indah miliknya yang sangat aku suka.

"Aku ingin memberikan kejutan untukmu. Tapi malah aku yang mendapat kejutan tak terkira selama hidupku saat aku melihatmu. Kau sangat cantik Jae!" Aku menghapus air matanya dan mengontrol diriku sendiri untuk tidak menciumnya. Dia masih menangis dan kali ini ebih keras dari sebelumnya.

"Kenapa kau menangis Jae?" Tuhan! Aku mohon tolonglah diriku! Aku ingin menciumnya.

"Aku sangat merindukanmu! Email. . . Telepon. . . tidaklah cukup. Aku sangat merindukanmu Yunho! Aku rindu teman baikku!" Aku merasa hatiku karam ketika mendengar kata teman baik. Aku kira Jae tidak bisa melihat diriku sebagaimana aku melihat dirinya. Ini sangat menyakitkan bagiku, tapi aku masih terus memeluknya.

"Aku di sini! Aku tidak akan meninggalkanmu dan aku akan pergi ke Seoul besok untuk mengikuti audisi. Kau mau ikut menemaniku?" Dia menganggukan kepalanya dan aku cubit pipinya, dia sangat lucu.

Setelah seminggu aku mendapatkan telepon dari SM Ent, memberi kabar kalau aku lolos audisi. Jaejoong sangat bahagia hingga dia melompat-lompat seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah dan aku tidak bisa lagi untuk tidak jatuh semakin dalam padanya. Namun terjadi satu perubahan saat aku mulai menjalani masa pelatihan. Aku diwajibkam untuk tinggal di asrama, tempat semua peserta pelatihan harus tinggal demi keuntungan manajemen dan juga para perserta pelatihan lainnya. Jaejoong dan aku mulai jarang bertemu satu sama lain, aku tidak dapat mengiriminya pesan atau meneleponnya karena ponsel terlarang untuk semua peserta pelatihan. Kami baru bisa saling berjumpa hanya pada akhir pekan ketika aku terbebas dari jadwal latihan.

Suatu waktu teman sepelatihanku memutuskan untuk makan di luar dan Yoona, salah satu temanku yang dirumorkan mempunyai rasa yang besar padaku, tidak pernah jauh dari sisiku dengan menautkan kedua lengannya padaku. Aku merasa tidak enak karena teman sepelatihanku yang lain terus memperhatikan kami berdua. Dia sangat gigih meskipun telah aku katakan padanya dengan jelas bahwa aku tidak ingin mempunyai komitmen dengan siapapun saat ini, tapi dia tidak pernah berhenti menggodaku. Suatu saat ketika aku dalam perjalanan menuju gedung SM dan tengah melintasi lobby utama, aku dikejutkan oleh yeoja itu yang tiba-tiba menarikku keluar dari gedung dan menciumku. Aku benar-benar shock untuk merespon hingga tidak sempat untuk hanya sekedar mendorongnya.

Keterkejutanku tidak berhenti di sana, ketika aku melihat Jaejoong berdiri di seberang gedung SM, melihat ke arahku dan Yoona dengan air mata mengalir di kedua pipinya. Aku tersentak, sadar dari keterkejutanku saat melihatnya berlari menjauh dan aku hanya bisa mengumpati diriku sendiri sambil berlari mengejarnya, namun dia menghilang dari pandanganku. Aku kehilangan jejak Jaejoong.

Aku tidak bisa berhenti berpikir setelah melihat tangis Jaejoong dan aku harus bersabar menunggu hingga akhir pekan datang agar aku bisa segera pulang dan menemuinya.

Saat aku hendak mengetuk pintu keluarga Kim, aku melihatnya berjalan bersama seorang namja yang tidak aku kenal. Dan kemudian aku melihat mereka berhenti dan namja itu menangkup wajah Jaejoong. Secara reflek, aku berlari ke arah mereka dan mendorong paksa namja itu.

"Yunho?" Jaejoong sekarang melihat padaku dengan amarah tergambar jelas di wajahnya. Dia membantu namja itu untuk berdiri dan pada saat itulah aku baru sadar kalau namja itu adalah Yoochun, salah satu teman dekat kami.

"Yoochun?"

"Ada apa dengan mu huh? Kenapa kau mendorongku?" Aku menautkan kedua alisku bingung dan melihat ke arah Jaejoong. Kedua bibirnya mengatup membentuk garis tipis, mengindikasikan bahwa namja cantik itu tengah marah.

"Aku minta maaf! Aku pikir kalian berdua. . ."

"Berciuman?" Jaejoong menatapku dan bisa aku rasakan hatiku yang terluka melihat bagaimana dia menatapku dengan tajam.

"Terus kenapa? Apa pedulimu kalau kita berciuman?" ucap Jaejoong dingin.

"Jae!"

"Kau bukan kekasihku Yunho. Jangan ikut campur urusanku!" Yoochun hanya bisa melihat kami berdua, bingung.

"Aku minta maaf Yoochun. Aku harus bicara dengan Jae!" Ku cengkram lengan Jaejoong.

"Lepaskan aku! Kau brengsek Yunho!" Aku merasakan darahku mendidih mendengar bagaimana cara Jaejoong bicara padaku, jadi aku menyeret tubuhnya menuju rumahku yang letaknya bersebrangan dengan gerbang rumah keluarga Kim dan meninggalkan Yoochun tercengang sendiri.

"Apa yang kau lakukan Yunho? Lepaskan aku!"

"Tidak sampai kau menjawab pertanyaanku."

"Yunho lepaskan aku, kau menyakutiku!" Aku melonggarkan cengkramanku pada lengan Jaejoong tapi masih terus menyeretnya masuk ke dalam rumah.

"Katakan padaku Jae, kenapa kau menangis beberapa hari yang lalu saat kau melihatku berciuman dengan Yoona?" Jaejoong melihat ke arah lain dan tidak berani untuk bicara. "Jawab aku Jae!"

"Aku tidak harus menjawabnya! Aku akan pulang sekarang!" Jaejoong hendak pergi kembali ke pintu depan tapi aku cengkram lagi lengannya. Sekarang wajah kita hanya terpisah jarak satu inchi dan bisa aku rasakan panas hembusan napasnya menerpa wajahku.

"Katakan padaku!"

"Tidak!"

"Aku mohon katakan padaku Jae! Katakan padaku kalau kau mencintaiku?"

"Kau tidak pantas untuk mendapat sebuah jawaban Yunho!"

"Wae? Aku tahu kau juga mencintaiku Jae, aku mohon katakan padaku jika aku benar!"

"Tidak Yunho! Aku tidak mencintaimu! Bisakah kau melepaskanku sekarang?" Aku merasa seolah tertusuk tepat di jantungku dan hanya bisa menatapnya tak percaya namun dia mengalihkan pandangannya.

"Oh benarkah? Aku minta maaf kau begitu! Jadi Yoochun adalah tipe kekasih mu?"

"Tidak!"

"Terus kenapa kau membiarkan dia melakukan hal itu? Dia hendak menciummu tapi kau tidak melakukan apapun untuk menghentikannya?"

"Apa urusannya denganmu? Kau bisa mencium seseorang yang kau suka tanpa perlu meminta ijin kan?"

"Kau hanya menggodanya. Apa itu yang ingin kau katakan padaku?"

"Ada apa Yunho? Kenapa kau memperbesar masalah ini?"

"Memperbesar masalah ini?" Aku merasakan amarah di dalam diriku lagi dan aku pegang dagunya dan menatapnya.

"Apa yang kau lakukan?" Jaejoong melangkah kakinya ke belakang, aku pun ikut melangkahkan kakiku ke depan. Hal ini terjadi beberapa kali hingga Jaejoong berhenti.

"Aku memperbesar masalah ini karena ini masalah besar untukku Kim Jaejoong!"

"Kenapa kau begitu marah?"

"Apa kau begitu kolot Jae? Tidak bisakah kau lihat apa yang aku rasa untukmu?"

"A-apa?" tanya Jaejoong terbata.

"Jadi kau benar-benar tidak menyadarinya? Aku mengasihani diriku sendiri untuk hal ini!"

"Jangan bertingkah seperti orang idiot Yunho! Katakan padaku!" Ku tatap Jae dengan intens dan dengan pelan aku mengurangi jarak diantara wajah kami; cukup dekat hingga bibir kami hampir bersentuhan.

"Aku tidak perlu mengatakannya padamu. Tapi kau bisa merasakannya langsung!" Aku menekan bibirku pada bibirnya dan aku bisa merasakan dirinya yang terkesiap, pasti dia sangat terkejut. Namun detik berikutnya aku merasakan sebuah respon terhadap ciumanku dan kedua lengannya yang mulai melingkar di leherku. Aku memperdalam ciuman kami, ciuman yang sudah sejak dahulu aku ingin lakukan dengannya. Aku gigit bibirnya, bibir yang ingin aku proklamirkan sebagai milikku bahkan sebelum aku menyatakan cintaku padanya. Ketika aku rasakan dirinya yang mulai kehabisan udara, aku sudahi ciuman kami dan melihat matanya yang sudah penuh dengan air mata. Aku menciumnya sekali lagi dan tidak ada penolakan darinya. Ciuman kali ini berlangsung hanya beberapa detik sebelum aku akhiri dan kemudian aku pegang dagunya. Aku angkat sedikit wajahnya sehingga aku bisa menatapanya lagi langsung ke kedua mata doenya. Begitu dekat, membiarkan kedua pasang mata kami saling berbicara, seolah mengerti apa yang hati kami ingin ungkapkan.

"Aku mencintaimu Kim Jaejoong. Aku mencintaimu hingga aku tidak bisa menyembunyikannya lagi. Aku lebih memilih untuk mati saja dari pada melihatmu dengan namja lain. Saat aku melihatmu dengan Yoochun, aku merasa begitu takut. Takut kalau kau tidak akan pernah menyadari perasaanku padamu karena kau hanya melihat ku sebagai teman baikmu yang membuat janji polos pada Kim Jaejoong yang waktu itu baru berumur tujuh tahun."

"Kau sungguh idiot! Tidakkah kau tahu kalau aku menolak Yoochun karena dia tahu kalau kau adalah satu-satunya orang yang aku cintai. Dan aku tidak bisa lagi menyimpan rasa cintaku padamu, jadi aku memutuskan untuk menemuimu di SM karena aku sudah lelah menunggu kapan kau akan mengungkapkan cintamu padaku. Tapi apa. . . Aku melihatmu mencium yeoja itu dan itu sungguh menyakitiku." Aku merasa seperti terbang ke udara saat aku mengetahui kalau Jaejoong juga mencintaiku.

"Aku tidak peduli dengan orang lain Jae. Dan sekarang aku tahu kalau kau juga mencintaiku!" Aku begitu bahagia, dan aku cium bibirnya lagi. Kita berbagi ciuman panas yang berakhir dengan percintaan panas pertama kami di ranjang.

Kami berakhir bersama di bawah satu selimut dengannya yang membaringkan kepalanya di dadaku.

"Aku berjanji kita akan segera menikah sayang setelah debutku!"

"Janji?" Jaejoong menunjukkan jari kelingkingnya dan menautkannya dengan jari kelingkingku.

"Aku berjanji JUNG Jaejoong!" Jaejoong tertawa kecil mendengar panggilan barunya dariku.

"Aku menyukainya! Jung Jaejoong terdengar sangat keren. Aku sudah tidak sabar!"

"Janjiku pada Kim Jaejoong yang berumur tujuh tahun pasti akan menjadi kenyataan sayang!"

"Itu benar Jung!"

"Hmm. . . JUNG? Terdengar sangat keren juga!" Aku senang mendengar dia memanggilku hanya dengan margaku. Dan malam ini adalah malam terindah yang pernah ku miliki dengan Jaejoongku yang sebentar lagi akan menjadi istriku.

.

End of Yunho's POV

.

End of Flashback

.

"Aku sangat menyukainya sayang! Aku berumur empat belas tahun waktu kita bercin. . ." Jaejoong menggantung kalimatnya. Dia merona hebat dan menenggelamkan wajahnya di leher Yunho lagi. Yunho tertawa melihat tingkah malu-malu istrinya.

"Waktu kita bercinta untuk pertama kalinya hmmmm?" tanya Yunho seraya memegang kepala istrinya untuk melihat ke arahnya. Dilihatnya bibir Jaejoong membentuk sebuah pout, yang membuat Yunho gemas dan mengecup hidungnya.

"Kau sangat lucu sayang!"

"Aku tahu! Karena itu kau tergila-gila pada ku!" ucap Jaejoong penuh percaya diri.

"Iya, sampai sekarang pun aku masih tergila-gila padamu! Tapi kita berdua pasti akan menjadi gila jika kita tidak segera makan. Bukannya kau lapar sayang?" Jaejoong menggelengkan kepalanya imut.

"Aku tidak mau memasak kue beras pedasmu lagi!"

"Kenapa tidak sayang?" tanya Yunho sedikit heran.

"Karena aku hanya ingin meringkuk di sini!" Yunho terkekeh dan berbisik ke telinga istrinya.

"Bisakah aku memakanmu saja?" Jaejoong terkikik dan tanpa perlu diperintah lagi, dia menarik Yunho ke sofa dan menciumnya dalam.

Dan kalian sudah pasti tahu apa yang terjadi selanjutnya. Dan bagaimana dengan kue beras pedas yang ingin dimakan Yunho? Terlupakan dengan sempurna.

.

.

.

tbc

.

.

.

Yunho beneran matanya siwer. Enggak bisa melihat Yoochun dengan jelas. Ckckck

Five more chapters to go to the final of MFHJ

.

Thanks buat semua yang sudah meluangkan waktu untuk membaca MFHJ dan memberikan reviewannya.

Buat yang udah follow dan favoritin MFHJ juga terima kasih.

.

See you in next chapter.

.

YunJae's Love is Real~~

.

.

YunJaeDdiction