My Famous Husband Jung
By Lady_Sinner25
.
.
.
.
Lima hari sebelum jadwal Jaejoong melahirkan
Pasangan YunJae sedang menikmati momen kebersamaan mereka di ruang keluarga. Jaejoong berbaring di sofa dan Yunho duduk di lantai berkarpet sambil mengusap-usap perut Jaejoong.
"Sayang ini keras sekali, jangan keras-keras!i" ucap Jaejoong pada calon bayi mereka. Terkadang Jaejoong hanya bisa terkekeh dan kadang mengerutkan wajahnya saat dia tiba-tiba merasakan otot-otot perutnya berkontraksi.
"Apa kau baik-baik saja sayang?" Jaejoong menganggukkan kepalanya saat dia melihat mata penuh cemas milik suaminya.
"Aku baik-baik saja sayang! Selain itu aku tidak akan melahirkan secara normal. Aku akan melahirkan secara cesar."
"Tapi itu artinya mereka akan membedah perutmu?"
"Iya. Bagaimana Jiyool bisa keluar kalau mereka tidak membedahnya?" Wajah penuh cemas Yunho mengganggu Jaejoong. "Yah Jung! Kenapa wajahmu seperti itu huh?"
"Kau akan mempunyai bekas luka yang besar di perutmu sayang!" Yunho menatap istrinya dan mendapatkan sebuah senyuman manis.
"Tidak apa-apa Yunnie! Aku bukanlah superstar sepertimu yang membuatku harus mengkhawatirkan penampilanku karena bekas operasi atau yang lainnya."
"Tidakkah kau takut sayang?"
"Takut karena apa?"
"Takut saat melahirkan anak perempuan kita?"
"Aku tidak takut Yunnie! Itu akan menjadi momen paling berharga untukku! Melahirkan Jiyoolie kita yang paling berharga, itukan yang seharusnya dirasakan oleh seorang ibu? Dan selain itu aku akan dibuat tidak sadar saat operasi dilakukan. Aku tidak takut sayang, aku merasa bahagia!"
Jaejoong mengacak rambut Yunho dan bermain dengan jenggot yang mulai tumbuh di dagu suaminya. "Bisakah aku meminta tolong padamu Yunnie?"
"Iya sayang!"
"Bisakah kau merekam saat-saat aku melahirkan?" Yunho menelan ludahnya. Dia tidak menyangkah Jaejoong akan meminta hal ini. Dia mulai berkeringat. Iya! Dia bisa melakukan apapun untuk istrinya namun meluangkan waktunya untuk berada di ruang operasi, dia pasti akan mati.
"Yunnie?"
"Sa-sayang. . . Aku benci ruang operasi! Kau tahu itu!" Jaejoong mempoutkan bibirnya mendengar jawaban Yunho dan menarik tangannya dari dagu Yunho. Yunho tidak suka menolak permintaan istrinya, hanya saja dia membenci ruang operasi.
"Sayang. . . Bagaimana kalau Junsu yang akan merekamnya untukmu? Atau Changmin? Atau Yoochun?" Tatapan tajam didapat Yunho dari Jaejoong dan cukup membuatnya bungkam.
"Apa kau gila? Junsu benci rumah sakit, Changmin dapat dipastikan dia tidak akan mau melaukannya. Aku yakin akan hal itu! Dan Yoochun? Aku meragukannya!"
"Tapi sayang. . ."
"Tidak apa-apa jika kau tidak mau melakukannya!" Jaejoong melanjutkan acara merajuknya.
"Sayang. . . Kau tahu aku mencintaimu kan?"
"Iya aku tahu itu! Karena itulah kau menolak permintaanku kan?" Yunho menggelengkan kepalanya dan menggenggam tangan Jaejoong, tetapi mendapat tampikkan.
"Sayang aku mohon kau bisa meminta apapun tapi aku mohon tidak dengan ruang operasi. Aku tidak ingin mati muda!" Yunho menatap istrinya yang tengah merajuk, berharap istrinya akan mengerti kalau dia tidak bisa bertahan sedetik pun di ruang operasi melihat istrinya dibedah hidup-hidup, menggunakan pisau bedah atau peralatan operasi lainnya untuk membedah kulit bersinar Jaejoongnya.
'Tuhan! Aku tidak bisa membayangkannya!' pikir Yunho.
"Tidak apa-apa! Aku mau tidur sekarang." Jaejoong berdiri dari sofa meskipun dia sedikit kesusahan untuk berdiri dan Yunho mencoba membantunya dengan memegang lengannya namun Jaejoong kembali menampiknya. Yunho mempoutkan bibirnya. Jaejoong berjalan menuju kamar tidur mereka, siap untuk tidur dan meninggalkan suaminya di belakang.
Yunho mengerang frustrasi. Dia membenci saat dimana Jaejoong tidak bisa memahaminya, namun dia juga tidak bisa membenci istrinya hanya karena hal itu. Dia begitu mencintai Jaejoong sehingga semua juga menjadi salahnya karena sudah banyak memanjakan istrinya. Semua yang Jaejoong minta, dia berikan. Semua yang direngekkan Jaejoong padanya, dengan segera dia berikan. Sebuah tas Louie Vuitton yang berharga jutaan seperti recehan bagi Yunho saat Jaejoong meminta untuk membelikannya satu dan dia akan dengan segera memberikan untuk kesayangannya.
Sebagai contoh lain, sepasang boot yang juga menjadi kelemahan Jaejoong. Harganya mahal bukan main namun dia masih membelikannya untuk istrinya karena dia tahu Jaejoong akan melompat dalam bahagia. Setumpuk pakaian yang istrinya suka kenakan, semuanya bermerek. Dia selalu bisa memberikan apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan istrinya. Tetapi hal simple seperti ini mau tidak mau dia menolaknya. Kenapa Jaejoong tidak dapat memahaminya?
Yunho merosotkan tubuhnya di sofa dan menatap atap dengan sedih. 'Sebanyak apapun aku mencintai istriku, aku tidak akan pernah berani untuk menginjak ruangan operasi di rumah sakit itu. Aku pikir aku bisa mati dengan segera.'
Namun tiba-tiba dia berdiri saat dia mendengar suara aneh yang berasal dari kamar mereka. Dia berjalan dengan pelan dan membuka pintu sedikit seraya mengintip istrinya yang sedang menonton. . . FILM PORNO? Apa yang istrinya itu pikirkan?
Yunho menelan ludahnya, merasa tubuhnya seolah menjadi semakin panas seiring dengan erangan yang dia dengar keluar dari karakter di layar tv. Diintipnya Jaejoong yang berbaring dengan nyaman di tempat tidur mereka, tidak terpengaruh dengan suara-suara yang dibuat oleh pemeran film porno tersebut.
Dia berjalan berjinjit dengan pelan ke arah istrinya yang tidak menyadari kehadirannya. Dia menenggelamkan tubuhnya ke matras dan bergerak mendekat ke istrinya. Diletakkanlah tangannya di pinggang Jaejoong yang lebih seperti perutnya sekarang dan tersenyum saat Jaejoong tidak menampar tangannya menjauh. Dia kembali melihat layar tv saat kedua karakter di dalamnya saling menumbukkan tubuh mereka, dengan segera dia melihat ke arah lain sebelum kembali mengarahkan pandangannya ke arah Jaejoong yang diam dan hanya fokus pada layar tv. Tidak tahu apakah dia benar-benar menikmati film itu atau hanya murni sebagai rasa memenuhi rasa keingintahuannya saja. Sejauh yang dia tahu Jaejoong tidak suka melihat film seperti itu. Dia memberanikan diri untuk bertanya pada istrinya seraya menggerakkan lagi tubuhnya semakin dekat.
"Sayang. . ."
"Hmmm. . ." Jaejoong tidak berusaha untuk menoleh ke arah Yunho dan terus kosentransipada layar tv. Yunho mulai merasa terganggu dengan erangan dan rintihan dari kedua pria yang saling menumbukkan tubuh mereka masing-masing.
"Kenapa kau menonton film ini?"
"Aku hanya penasaran."
"Dari mana kau mendapatkannya sayang? Yang aku maksud film itu?" Jaejoong menatap Yunho sekarang dan Yunho menelan ludahnya saat dia melihat istrinya menyeringai padanya.
"Dari mana kau mendapatkan ini Yunnie? Aku menemukan ini di tumpukan CD yang kau sembunyikan di lemarimu. Tersimpan dalam bungkus cd kosong dan saat aku memutarnya, itulah hasilnya."
Yunho sendiri tidak tahu mengapa dia mempunyai video itu. Dia tidak menyukai film porno semenjak kehidupan sexnya hot sehot istrinya namun terhenti ketika Jaejoong hamil dan. . . digaruknya dia punya kepala.
"Uuuummm. . . Aku pikir itu film porno milik Changmin!"
'Oh iya! Aku lupa kalau anak itu suka hal-hal seperti ini. Lebih baik menyalahkannya untuk hal itu, karena dia adalah tersangkanya kali ini,' ujar Yunho dalam hati. Hal ini bermula dari dirinya yang meminta Changmin untuk sebuah rekaman film porno yang ditukar dengan jamuan makan di restoran mahal. Dan itu terjadi akibat Yunho tidak mempunyai malam panas dengan istrinya selama hampir sebulan.
"Changmin?" Yunho menganggukkan kepalanya sebelum Jaejoong melanjutkan. "Terus kenapa ini tersimpan di dalam lemarimu? Sejauh yang aku tahu Changmin tidak pernah masuk ke kamar kita, jangan berbohong padaku Jung!"
"Baiklah! Baiklah! Itu milikku. . ." Jaejoong tersenyum mendengar pengakuan Yunho dan dengan pelan menaiki tubuh suaminya dan mulai mencium lehernya. Yunho merasa tubuhnya memanas saat dia membiarkan Jaejoong menjilati lehernya.
"Kenapa kau mempunyai rekaman itu huh?" Jaejoong tengah mencium lehernya dan dia menelan ludahnya keras mencoba untuk mengontrol tubuhnya yang mulai terangsang.
"Uuumm aku membutuhkannya sayang. Sejak aku haus akan dirimu saat kau masuk trimester pertamamu dan kau tidak pernah mengizinkanku untuk menyentuhmu." Jaejoong tiba-tiba berhenti menciumnya dan berdiri dengan kedua lututnya.
"Benarkah Yunnie?" Yunho menganggukkan kepalanya lucu dan mendapatkan ciuman cepat di bibirnya. "Baiklah! Aku berubah pikiran sekarang. Aku tidak akan memaksamu untuk menemaniku di ruang operasi, tapi dengan satu syarat."
Yunho bangun dan mematikan mesin pemutar video dan mengambil CD dari dalamnya dan melemparnya ke tempat sampah terdekat. Kemudian dia alihkan pandangannya ke istrinya yang sekarang duduk di tempat tidur dan menatapnya menggoda.
"Apa itu sayang?" Tanya Yunho sedangkan Jaejoong hanya menyentuh dagunya sambil tersenyum lebar padanya.
"Karena aku belum mengantuk, kenapa kau tidak menghiburku Yunnie?" Yunho tersenyum mendengar permintaan istrinya.
"Ok! Itu sungguh mudah sayang!" Yunho berdiri di depan Jaejoong namun istrinya itu menggerakkan ibu jarinya menandakan dia belum selesai dengan kalimatnya.
"Jangan terburu-buru Jung!"
"Mweo?"
"Menarilah dengan sexy untukku sambil membuka bajumu satu per satu." Yunho menelan ludahnya lagi, merasa seolah air segalon tersangkut di tenggorokannya.
"Kau serius?"
"Yes!"
"Tapi sayang. . ."
"Baiklah aku berubah pikiran Yunnie, siapkan semua kamera video dan kau akan bertanggung jawab untuk. . ."
"Aku akan melakukannya!" Yunho menggaruk kepalanya dan menatap istrinya mengalah. Apa yang direncanakan istrinya sekarang dia tak tahu. Namun karena ini adalah tugas paling muda yang diberikan istrinya, dia akan memilihnya daripada menjejakkan kakinya di ruang operasi yang sangat dia benci.
"Itu baru Yunnieku! Ohhh tapi tunggu. . . nyalakan musik yang menggoda sayang. Aku tahu kau juga mempunyainya!" Jaejoong menyeringai sambil melihat suaminya yang tengah merona.
"Aku akan terlihat seperti penari striptis murahan di sini sayang!"
"Kau tidak menyukainya?" Yunho memggelengkan kepalanya, dia suka ide dari Jaejoong untuk menjadi nakal di beberapa kesempatan namun meninggalkannya dengan keadaan organ di selangkangannya mengeras bukanlah ide yang bagus.
"Uuuummm aku menyukainya sayang!"
"Mulailah Yunnie!"
Yunho memutar instrumen 'Before you go' versinya sendiri yang sangat disukai oleh Jaejoong dan mulai menghadap Jaejoong dengan senyum menggoda menempel di wajahnya. Jaejoong hanya bisa menatap padanya dengan mulut sedikit terbuka. Yunho membuka bajunya pelan-pelan dan menggoyangnya pinggulnya dengan cara menggoda. Dijilatnya bibirnya sendiri sambil melihat secara intens ke arah Jaejoong yang sekarang hanya duduk di tempat tidur, berkonsentrasi pada penampilannya.
Yunho menyentuh dadanya, masih dengan cara yang menggoda sambil menjilat bibirnya lagi. Kemudian dibukanya ikat pinggang miliknya dengan menariknya pelan-pelan dari celana pendek yang dia kenakan. Memutar pinggulnya, menggerakknya dengan gerakkan yang sangat sensual. Dia berjalan dengan pelan menuju Jaejoong dan membimbingnya untuk duduk diujung tempat tidur yang dengan senang hati jaejoong mengikutinya seraya menatap ke arah Yunho.
Yunho mulai membuka kancing celana pendeknya dan dengan pelan memainkannya seperti permainan petak umpet, sementara Jaejoong memutar kedua matanya. Namja cantik itu meyilangkan kedua lengannya di depan dada seolah dia tidak terpengaruh oleh gerakan menggoda Yunnienya, tetapi jauh didalam dirinya dia sudah mimisan. Yunho sekarang menanggalkan celana pendeknya dari tubuhnya, meninggalkan celana dalam Calvin Klein putih miliknya.
Bagi Jaejoong, Yunho terlalu sexy untuk ditolak dan jika dia tidak sebesar ini dapat dipastikan dia akan melompat ke suaminya. Melihat tonjolan yang jelas terlihat di selangkangan Yunho membuat tenggorokannya kering. Kembali dia melihat suaminya secara intens yang kini mengarahkan lengannya ke pinggul Yunho, sementara Yunho terus bergerak tepat di depan wajahnya. Jaejoong tidak dapat menahan untuk tertawa pada ide gilanya. Siapa yang akan dia bodohi kali ini jika dia mengatakan tidak terangsang oleh gerakan seksi Yunho? Dia pasti akan mendapatkan 'dry orgasm' nanti.
Yunho melanjutkan menggerakkan pinggulnya, seirama dengan musik yang terus berputar. Namun tiba-tiba Jaejoong merasakan sakit di panggulnya.
"Yun. . ."
"Iya sayang?" Yunho terus memutar pinggulnya sementara Jaejoong mulai berkeringat.
"Yunnie. . . ahhh," Yunho yang terus menari tidak menyadari kalau Jaejoong sebenarnya tengah merasa sakit sekarang. "Yunnnnniieeeeee!"
". . ."
"Yunhooooooooo!" Tiba-tida Yunho berhenti saat melihat Jaejoong mengerutkan wajahnya sambil memegangi kandungannya.
"S-sayang! A-da apa?"
"Aku pikir aku. . . akan melahirkan sekarang. . ." Yunho melebarkan matanya dan membeku di tempatnya, tidak bergerak sama sekali.
Di pihak lain, Jaejoong memukul paha Yunho keras untuk membuat suaminya tersadar kembali. "Apa yang kau tungguh Yunhoooooooo! Bawa aku ke rumah sakit sekarang!"
Yunho berlarian ke sana ke mari di kamar mereka masih dengan celana dalamnya, tidak tahu apa yang diambil terlebih dahulu. Dia mengambil sebuah tas dan mulai memasukkan baju ke dalamnya. Sangking paniknya tanpa sadar dia memasukkan bajunya sendiri ke dalam tas.
"Yunhoooooooo! Apa yang kau lakukan?" Jaejoong yang masih menahan rasa sakit, menatap suaminya dengan kasihan.
"Aku memasukkan semua bajumu sayang!" Yunho melanjutkan memasukkan yang menurutnya pakaian Jaejoong ke dalam tas.
"ITU BUKAN BAJUKU! ITU SEMUA BAJUMU IDIOT!" Yunho menghentikan kegiatannya dan lari menuju Jaejoong.
"Apa sayang?"
"TINGGALKAN SEMUA BAJU ITU DI SANA DAN BAWA AKU KE RUMAH SAKIT DAHULU!" Yunho tersadar dan berpikir telah bangun dia siap untuk mengangkat Jaejoong saat istrinya mulai menangis. Jaejoong menangis bukan karena rasa sakit yang melandanya, tetapi untuk mengasihani Yunho yang tengah panik.
"Kenapa kau menangis s-sayang? Ayo kita pergi!" Yunho akan mengangkat Jaejoong ala pengantin namun Jaejoong memberontak sehingga Yunho urung mengangkat istrinya.
"YA TUHAN YUNHO! AKU AKAN MELAHIRKAN JIYOOL TIDAK LAMA LAGI KARENA DIRIMU! DEMI TUHAN PAKAILAH PAKAIANMU DAN JANGAN PANIK! AKU BISA MATI KARENA DIRIMU!" Jaejoong mencoba untuk berteriak dan menjerit sehingga pada akhirnya Yunho akan terbangun dari rasa paniknya. Rasa panik yang dialami Yunho membuatnya lupa kalau dia hanya mengenakan celana dalamnya saja.
Jaejoong melihat Yunho dengan terburu-buru mengenakan baju dan celana pendek yang dia kenakan beberapa saat lalu, kemudian mengangkatnya dengan lembut kembali. Diambilanya kunci mobil di meja sebelum berlari menuju pintu depan seraya berteriak meminta tolong. Untunglah ada petugas kebersihan yang berada disekitar Yunho dan dengan cepat membantu mereka sampai mereka masuk ke dalam mobil. Yunho mengendarai mobilnya dengan histeris, secepat yang dia bisa. Dilihatnya sang istri berkeringat banyak sambil memegang erat tangannya.
"Sayang hati-hatilah mengemudinya. Aku bisa menahan sakitnya untuk sementara, tapi ku mohon jangan panik. Aku akan baik-baik saja!" Jaejoong bernapas tersenggal-sengal, rasa sakitnya terus berlanjut seolah akan keluar kapanpun secepatnya.
Yunho mencium istrinya dan menganggukan kepalanya, namun kakinya semakin dalam menginjak pedal gas. Mengemudi seperti seorang maniak di jalan bebas hambatan.
.
.
.
tbc
.
.
.
Annyeong...
setelah sekian lama akhirnya bisa update jg. maaf atas keterlambatannya.
terima kasih atas dukungannya dengan cara mereview, memfollow maupun memfavoritekan MFHJ.
meimei dan risza, dua dongsaeng yang setia menunggu. hehe terima kasih atas dukungannya.
sampai jumpa di chap berikutnya. semoga bisa segera update!
YJ's love is real~~~
