MY FAMOUS HUSBAND JUNG

by Lady_Sinner25

.

.

.

Sesampainya di rumah sakit, Yunho segera berteriak meminta bantuan seraya menggendong Jaejoong di pelukkannya. Berlari menuju pintu UGD, meninggalkan mobilnya tanpa terkunci. Panik masih membayanginya. Begitu para suster melihat Yunho berlari dengan istrinya, mereka langsung menarik ranjang dorong dan membaringkan Jaejoong di atasnya.

Jaejoong menatap suaminya, menggenggamkan tangannya ke Yunho erat. Sedangkan Yunho menggunakan tangannya untuk mengusap peluh di wajah Jaejoong kemudian mencium lembut seluruh wajah Jaejoong. Para suster yang menemani mereka terpesona pada Yunho, melihat sang superstar berada di depan mereka meski dalam keadaan panik.

"Aku akan ada di sini sayang. . . aku mohon kau dan Jiyool harus selamat!" Jaejoong tersenyum lemah saat rasa sakit menerjangnya kembali.

"Yunnie. . .!" rintih Jaejoong, sebelum seorang suster datang mengingatkan Yunho.

"Tuan Jung, saya tidak ingin mengganggu waktu anda bersama istri anda. Namun anda tidak diizinkan ikut masuk ke dalam ruang operasi."

Yunho melihat ke arah suster dan mengangguk sebelum kembali memberikan perhatiannya kepada sang istri. Yunho mencium bibir Jaejoong dan mencium keningnya untuk terakhir kalinya. "Aku mencintaimu sayang! Dan suster tolong jaga istriku!"

Para suster mengangguk bersamaan seraya mendorong ranjang dorong Jaejoong ke ruang operasi. Yunho yang menunggu di luar kembali menjadi histeris sekaligus gugup. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan, dia berjalan mondar-mandir kemudian duduk. Dan setelah beberapa menit dia melakukan hal yang sama. Terkadang dia berlari menuju pintu ruang operasi sebelum kembali duduk di bangku yang sengaja dipersiapkan untuk keluarga pasien operasi.

Ditengah kegugupan dan ketakutannya, tiba-tiba dia teringat kedua orang tua Jaejoong. Tanpa menunggu waktu lebih lama, segera dia mencari ponselnya di saku belakang celana pendeknya namun tidak ada apapun di sana. Dia berlari ke bagian informasi rumah sakit dan bertanya apa dia bisa menggunakan telepon sebentar. Suster penjaga di bagian informasi tersenyum padanya dan mempersilahkan Yunho untuk menggunakan telepon. Segera dia menekan nomor telepon orang tua Jaejoong.

"Umma! Jaejoong melahirkan sekarang. Bisakah umma datang ke rumah sakit?"

"Omo! Benarkah? Umma segera datang Yunho! . . . Yah! Honey cepat siapkan mobil. Joongie melahirkan sekarang!" Yunho tidak melewatkan erangan ayah mertuanya, pasti terkena pukulan dari Ny. Kim. Yunho hanya bisa menggelengkan kepalanya. Puluhan tahun berumah tangga membuat kedua orang tua Jaejoong menjadi seperti dua orang sahabat yang saling menyayangi dan berjanji untuk hidup seumur hidup, seiya sekata. Meski terkadang ada ributnya, namun tidak sampai membuat hubungan mereka retak. Yunho ingin mempunyai hubungan yang sama dengan Jaejoong, awet seperti kedua mertuanya itu.

"Terima kasih suster," Yunho sedikit membungkuk kepada suster penjaga setelah menggunakan telepon rumah sakit dan berlari ke ruang operasi lagi. Terus menatap pintu kamar operasi dan menunggu dokter untuk keluar. Dia merasa seolah kehabisan napas, harap-harap cemas menunggu proses kelahiran buah hatinya bersama Jaejoong. 'Apakah begini rasanya ketika kalian menjadi seorang ayah? Ya Tuhan! Ini membuat urat saraf menjadi tegang!'

Beberapa saat kemudian, mertuanya berlari datang menuju ke arahnya, terengah-engah.

"Yunho-yah. . ."

"Umma! Appa! Jaejoong berada di dalam ruang operasi sekarang. . ." Ny. Kim menepuk punggung Yunho saat beliau melihat anak mantunya panik dan gugup di waktu yang bersamaan.

"Dia akan melahirkan Jiyool dengan selamat. Jangan khawatir Yunho! Ayo duduk di sini." Yunho menganggukan kepalanya sebagai respon dan duduk di kursi tunggu terdekat di lorong rumah sakit.

Setelah menunggu hampir selama satu jam, akhirnya dokter keluar. Memberikan senyumannya kepada keluarga pasien dengan wajah cemas mereka yang menunggu semeter jauhnya dari ruang operasi. Yunho langsung berdiri dan memegang tangan dokter, yang membuat dokter itu terkejut untuk beberapa saat.

"Dokter, bagaimana istri saya?"

"Uuum Tuan Jung senang bertemu dengan anda! Selamat! Anda mempunyai anak perempuan yang sangat cantik meski membutuhkan waktu sedikit lama untuk istri anda kembali sadar setelah operasi."

"Istri saya selamat kan Dokter?" Dokter tersenyum dan menepuk bahu Yunho.

"Selamat dan tetap cantik seperti biasanya!" Yunho menghela napas lega dan tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada sang dokter.

"Kami akan segera memindahkan istri anda ke ruang VIP. Dan untuk bayi anda, kami akan membawanya kepada anda nanti. Sekali lagi selamat Tuan Jung!" Yunho membungkukkan tubuhnya kepada dokter, begitu juga dengan kedua mertuanya.

Begitu dokter meninggalkan meninggalkan Yunho dan mertuanya, Yunho tidak dapat menahan emosinya lagi. Kombinasi dari tekanan yang dia rasakan, rasa gugup, rasa bahagia dan kegembiraan membuatnya mengeluarkan air mata. Ya, Jung Yunho sang superstar tengah menagis dan tidak peduli dengan penampilannya yang sekarang terlihat lebih berantakan. Karena tangisnya kali ini lebih sebagai luapan kebahagiaan yang sangat. Ny. Kim memeluknya dan Tuan Kim menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkannya.

"Aigoo. . . Kau sekarang sudah menjadi seorang ayah Yunho-ya. Impianmu sudah menjadi nyata." Yunho menganggukan kepalanya dan air mata tidak pernah berhenti jatuh dari kedua matanya. Air mata kegembiraan dan kebahagiaan.

"Terima kasih Umma, Appa yang sudah memberikanku seorang istri yang hebat dan cantik."

"Kami berdua bahagia jika kami bisa melihat kalian berdua masih saling mencintai satu sama lain meski telah bertahun-tahun. Sekarang jagalah Joongie seperti yang sudah kau lakukan Yunho-ya, dan jaga anak perempuanmu juga. Aku tahu kami bisa percaya penuh padamu untuk itu!" Ungkap Tuan Kim, senyum terpatri di wajahnya. Sedangkan Yunho menghapus air matanya seraya menganggukkan kepalanya.

.

.

.

Jaejoong sudah dipindahkan ke ruang VIP namun dia masih belum sadar, jadi Yunho mengambil kesempatan untuk membeli bunga untuk sang istri. Lili, bunga yang selalu menjadi kegemaran Jaejoong, yang menciptakan sebuah simbol dari cinta dan hubungan mereka yang harmonis. Dia bersyukur, Jaejoong tidak pernah berubah sedikitpun. Jaejoongnya masihlah orang orang manis dan hangat seperti yang dia kenal dulu, meskipun dia banyak menderita selama Jaejoong mengandung namun hal itu dapat dipahami.

Jaejoong mungkin terlihat lugu tapi sebenarnya dia pintar luar dan dalam. Jaejoong selalu menjadi air dalam hubungan mereka, jika Yunho pulang dari bekerja mengeluh mengenai manajernya yang terlalu keras padanya dan membuatnya lelah seharian maka Jaejoong akan berlari padanya, memeluknya dan menghujaninya dengan ciuman-ciuman di seluruh wajahnya hingga dalam waktu yang tidak lama kejengkelannya akan hilang sepenuhnya. Yunho tidak bisa membayangkan seberapa besar dia mencintai istrinya dan sekarang mereka telah mempunyai seorang anak perempuan, dia akan memastikan untuk berusaha dua kali lipat untuk memberikan keluarganya waktu yang berkualitas.

Yunho melihat ke jam tangannya dan dia sudah keluar hampir 30 menit. Dengan terburu-buru dia membayar bunga yang dibelinya dan kembali ke rumah sakit di mana Jaejoong di rawat. Ketika dia membuka pintu Changmin, Yoochun, Junsu dan kedua mertuanya menyambut dirinya. Dia melihat kearah Jaejoong dan melebarkan senyum di kedua bibirnya saat dia melihat Jaejoong telah sadar pasca operasi.

"Terima kasih telah datang teman-teman! Aku tidak sempat menghubungi kalian, seperti yang kalian tahu. . ." Changmin menganggukan kepala dan memotongnya.

"Aku tahu hyung! Kau panik dan kau hampir membawa Jaejoong hyung dengan hanya menggunakan celana dalam saja." Semua yang ada di dalam kamar inap Jaejoong tertawa terpingkal-pingkal dan Yunho hanya bisa mempoutkan bibirnya pada istrinya yang ikut tertawa. Jaejoong sudah menceritakan kejadian semalam pada mereka, pastinya.

"Mendekatlah ke sini Yunnie!" Jaejoong melebarkan kedua lengannya untuk menyambut suaminya lagi dan kemudian dia melihat bunga yang Yunho coba untuk sembunyikan di balik punggungnya.

"Eeeeewwwwwww! Kau sungguh cheesy Yunho! Kau pikir Jaejoong tidak tahu kau punya bunga di belakang punggungmu? Rangkaian bunga yang kau beli terlalu besar Yun!" Ejek Yoochun dan mertua Yunho hanya bisa menggelengkan kepalanya.

"Diam kau jidat lebar!" Dan Yunho memberikan rangkaian bunga lili yang dia beli keistrinya dan mendapat ciuman yang sangat manis dari Jaejoong.

"Awwwww! Mereka masih saja manis seperti biasanya!" Pekik Junsu saat dia melihat bagaimana YunJae menunjukan cinta mereka untuk satu sama lain.

"Dan selalu horny!" Seluruh kepala dalam ruangan tersebut beralih menatap Changmin dan mendapatkan tatapan mematikan dari Jaejoong dan sepupunya.

"Changmin!"

"Apa?"

"Mertuaku ada di sini, bisakah kau tutup mulutmu?" Kedua pasangan lebih tua itu terkekeh.

"Tidak apa-apa Yunho-ya. . . Kami mengerti dan hal itu normal bagi setiap pasangan," ucap Tuan Kim menengahi.

"Appa. . . Apa itu normal untuk remaja seperti Changmin menonton film porno setiap malam?" Changmin yang mendengar hal itu langsung merona karena godaan Jaejoong.

"Well. . . bisa jadi! Dia tumbuh terlalu cepat."

"Yeah! Dia tumbuh terlalu cepat karena makanan yang dia masukkan ke dalam mulutnya setiap hari!"

"Yah hyung kau berlebihan!" Changmin mencibilkan bibirnya dan semua orang kini menertawakannya namun terhenti saat mendengar sebuah ketukan di pintu dan menatap suster yang membawa malaikat berharga Yunho dan Jaejoong.

"Awwwww! Jiyoolieku sudah bangun! Dia begitu cantik Jaejoong-ah. . ." Ny. Kim mengambil sang bayi dari tangan suster, tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih sebelum membawanya ke pasangan yang sekarang tengah menatap anak perempuan mereka. Dari ekspresi mereka bisa dikatakan mereka sangat bahagia.

Changmin, Junsu dan Yoochun segera mendekat ke tempat tidur dan menatap malaikat yang sekarang berada di dalam pelukan Jaejoong. Di sisi lain, Yunho tidak dapat menahan dirinya sendiri. Dia kembali menangis saat dia memcium lembut pipi Jiyool.

"Dia sangat cantik Jae!" Junsu juga tidak dapat menahan dirinya sendiri, dia pun mencium lembut tangan kecil Jiyool.

"Iya! Dia mirip sekali denganmu Jae, sebuah tanda yang bagus sih!" kata Yoochun dan Yunho menautkan kedua alisnya.

"Apa maksudmu jidat? Aku tampan dan keren!" Seringai Yunho namun Changmin berpura-pura ingin muntah.

"Ughhh! Sombong sekali kau hyung!" Celetuk Changmin.

"Yah food monster! Kau tidak berhak untuk menghinaku di depan istri dan mertuaku!"

"Owwwsss! Kenapa tidak?" Changmin makin menggoda Yunho dan orang-orang di sekitar mereka terkekeh melihat dua sepupu yang sedang adu mulut.

"Karena aku masih mensuplaimu dengan uang saku, jadi jika kau ingin aku berhenti memberikan. . ."

"Yeah! Aku tahu kau keren dan tampan. Aku berharap Jiyool akan tumbuh seperti dirimu! Benarkan Jaejoong hyung?" Sekali lagi ruang inap Jaejoong dipenuhi dengan tawa, mereka tahu Changmin akan melakukan apapun demi makanannya yang berharga.

"Kau sungguh tidak dapat dipercaya Changmin!" Junsu memberi komentar dan Changmin memutar bola matanya.

"Itu benar! Dia tidak pernah berubah!" Yoochun kali ini memberikan komentarnya.

"Tunggu! Apa kalian berdua jadian?" Perhatian Jaejoong sekang tertuju pada Yoochun dan Junsu dimana sekarang Junsu berusaha untuk menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas. Sedangkan Yoochun hanya bisa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya lucu.

"Benarkah? Sejak kapan?" Yunho ikut bergabung.

"Uuuummm. . ."

"Sejak Yoochun hyung mengakui kalau dia tertarik dengan Junsu hyung dan dia meminta nomor ponsel Junsu hyung padaku dan merencanakan kencan perdana mereka."

"Sejak kapan kau mulai tertarik dengan kehidupan asmara seseorang Minnie?" Alis Jaejoong naik ke atas saat dia melihat ke wajah memerah Changmin.

"Ohhh! Sejak dia melihat sekilas sepupuku Jae, Kibum. Aku pikir Minnie kesayangan kita ini langsung jatuh hati pada Kibum."

"Aaawww! Itu berita bagus! Itu artinya kau normal Minnie. Aku pikir kau selamanya akan menjadi food monster. Dan untuk Kibum aku mengaguminya mulai saat ini!" Yunho mengacungkan jempolnya dan mendapatkan cubitan lembut dari Jaejoong. Sedangkan Changmin hanya bisa merona mendapat godaan dan bullyan dari hyung-hyungnya.

"Umma, Appa! Kalian bisa tidur dan beristirahat di sini!" Jaejoong melihat jam dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Dia melihat bagaimana orang tuanya menikmati perbincangan mereka namun mereka juga butuh istirahat.

"Tidak apa-apa Joongie-ya. Kami akan pulang ke rumah dan akan kembali lagi ke sini besok pagi." Ny. Kim berdiri dan mencium pipi Jaejoong dan mencium kening Jiyool. Tuan Kim melakukan hal yang sama sebelum berpamitan kepada mereka.

"Berhati-hatilah mengemudi Appa!" Yunho mengingatkan ayah mertuanya dan Tuan Kim mengacungkan jempolnya sebelum akhirnya keluar dari kamar inap Jaejoong.

"Kami juga akan pulang Jae, Yunho." Yoochun berdiri, diikuti Junsu dan Changmin.

"Apa kalian yakin? Kenapa kalian tidak tidur di sini saja?"

"Tidak apa-apa Jae, selain itu Yunho ada di sini. Kami akan mengunjungimu di rumah kalian saat kau sudah pulang ke rumah." Jaejoong menganggukkan kepalanya seraya meletakkan Jiyool ke lengan Yunho pelan-pelan.

"Bagaimana denganmu Minnie-ya?" Yunho bertanya pada sepupunya yang sekarang menguap karena mengantuk.

"Aku di rumah Yoochun hyung."

"Hubungi bibi dulu!"

"Ok!"

"Kami pergi sekarang Jae! Yunho!" Junsu berjalan menuju Jaejoong, mencium pipi Jaejoong dan menepuk bahu Yunho.

"Hati-hati di jalan teman-teman!" Mereka bertiga memganggukan kepala dan sebelum akhirnya keluar dari ruangan.

Pasangan YunJae sekarang menatap malaikat yang tengah tertidur nyenyak di pelukan Yunho.

"Yoochun benar sayang, dia mirip sekali denganmu. Dia mendapat bibirmu dan kulit yang lembut. Bahkan rambutnya seperti milikmu." Jaejoong tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Yunho.

"Lihatlah tubuhnya, baru lahir saja sudah terlihat begitu panjang. Aku yakin dia mewarisi kaki panjangmu . Dan hidungmu. Dia begitu cantik!" Jaejoong melihat suaminya dan Yunho menoleh ke arah istrinya lalu tersenyum dan menempatkan Jiyool di antara mereka dengan hati-hati agar tidak membangunkannya. Jiyool menggeliat sedikit sebelum tidur kembali. Mereka berdua tersenyum.

"Aku mencintaimu sayang! Aku sagat mencintaimu. Terima kasih telah memberi Jiyool untukku!" Yunho memegang dagu Jaejoong, memberikan sebuah ciuman singkat namun lembut ke bibir penuh istrinya.

"Aku juga mencintaimu Jung! Aku akan selalu bahagia selama kau dan Jiyool bersamaku. Aku akan mencintaimu untuk seumur hidupku!" Yunho memegang tangan Jaejoong dan menautkan tangan mereka menjadi satu. Mencium kening istrinya lembut.

"Tidurlah sekarang sayang. Aku akan meminta izin ke dokter agar kau bisa mendapatkan perawatan di rumah dan kita bisa menyambut Jiyool di rumah kita besok! Aku mencintaimu!" Jaejoong menganggukkan kepalanya seraya membaringkan tubuhnya di samping Jiyool dengan hati-hati.

"Aku mencintaimu Jiyoolie! Umma dan Appa mencintaimu! Tidur yang nyenyak malaikatku!" Yunho tersenyum dan ikut berbaring di samping Jiyool, berhati-hati untuk tidak menghimpit bayi mungil mereka.

"Selamat malam cantik!" Yunho tersenyum kepada istrinya.

"Selamat malam tampan!" Jaejoong mencium ibu jarinya dan menempelkannya di bibir Yunho sebelum menutup matanya dengan senyum lebar menghias wajahnya.

.

.

.

tbc

.

.

.

Annyeong...

saya datang lagi, cepetkan?

terima kasih buat semua yang sudah memberikan review buat MFHJ dan koreksi buat saya. saya sangat menghargainya. tidak ada yang lebih membahagiakan selain membaca review dari chingudeul semua. sekali lagi terima kasih /smoochies to all/

buat yg sudah dukung lewat memfollow dan memfavoritkan MFHJ juga terima kasih.

dua chapter lagi bakal selesai~~~