My Famous Husband Jung
by LadySinner_25
.
.
.
Dua minggu setelah Jaejoong melahirkan anak perempuannya, dia masih disarankan dokter untuk bed rest sepenuhnya karena luka bekas operasi membutuhkan waktu untuk kering dan bisa kembali beraktifitas penuh. Dokter juga menyarankan minum banyak air untuk mencegah terjadinya sembelit. Pasangan YunJae bersyukur karena Eomma Yunho kembali ke Korea seminggu setelah kelahiran Jiyool dan tinggal bersama mereka. Secara pribadi, beliau mumutuskan ikut merawat Jiyool, sedangkan Yunho merawat istrinya sendiri.
"Aaawww Jiyoolku yang kecil sungguh cantik! Kau sayang ?" Jaejoong bermain dengan tangan kecil Jiyool dan bayi mungil itu menggeliat sebagai respon.
"Bayiku sungguh cantik! Jiyoolku sungguh cantik!" Jaejoong mengecup kening Jiyool bersamaan dengan terbukanya pintu kamar, menampakkan ibu mertuanya.
"Jaejoongie sayang, Eomma akan menjaga Jiyool sebentar. Kau harus beristirahat!" Jaejoong menganggukkan kepalanya sementara Mrs. Jung mengambil Jiyool ke pelukannya.
"Dimana Yunho?"
"Dia sedang mandi Eomma. Apakah Eomma sudah sarapan?"
Mrs. Jung tersenyum. "Sudah sayang. Dan kau bisa makan sarapanmu nanti dengan Yunho. Istirahatlah dengan benar sekarang, aku akan menjaga Jiyool eum?" Mrs. Jung mencium kening Jaejoong kemudian meninggalkan kamarnya.
.
.
.
eOe
.
.
.
"Yunnie... Aku ingin minum." Jaejoong berada di ranjangnya dan Yunho masih berada di kamar mandi untuk mandi kilatnya.
"Aku datang sayang!" Yunho yang keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunkan boxer putih menarik perhatian Jaejoong. Kedua mata doenya terpaku pada suaminya; rambut yang masih basah menetes ke leher jenjangnya dan abs terpahat sempurna. Kaki panjang dan paha yang kuat, dia ingin kedua kaki itu melingkari tubuhnya ketika dia tidur. Hal ini selalu menjadi pemandangan indah untuk setiap paginya.
"Apakah kau sudah selesai memperkosa ku dengan matamu?" Jaejoong tertawa kecil dan memutar matanya. Yunho tersenyum pada istrinya, senyum yang menggoda.
"Jangan membuatku tertawa bekas operasiku masih sakit."
"Awwwwww!" Yunho mengerucutkan bibirnya dan Jaejoong hanya tersenyum.
"Ambilkan aku air Yunnie." Yunho mengambilakan segelas air dari meja tempat dimana biasanya dia mempersiapkan segala keperluan Jaejoong. Mulai dari obat-obatan, obat penghilang rasa sakit, air, vitamin dan masih banyak yang lain. Dia kembali ke tempat tidur dan duduk disamping istrinya sambil menyerahkan segelas air ke Jaejoong.
"Apa kau baik-baik saja?" Jaejoong mengangguk dan kembali merebahkan tubuhnya ke tempat tidur setelah menghabiskan minumnya. Yunho meletakkan gelas ke meja samping tempat tidur. Ditatapnya sang istri yang juga tengah menatapnya.
"Apa yang kau lihat?"
"Kenapa kau begitu cantik?" Pipi Jaejoong merona mendengar pujian mendadak suaminya.
"Ada apa dengan rayuan tiba-tibamu Jung?"
"Rayuan yang selalu kau suka, liat bagainana pipimu menjadi merona! Awwww sungguh lucu!"
Jaejoong berusaha untuk memukul lengan Yunho dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya. "Jangan membuatku tertawa Yunnie!"
Yunho ikut berbaring disamping istrinya, menumpuk banyak bantal disisi lain istrinya.
"Hey Jung! Kenakan bajumu, ini dingin!"
Tanpa banyak protes, Yunho langsung berdiri dan membuka lemari pakaiannya. Mengambil sebuah kaos untuk dia kenakan. "Bilang saja kau tidak tahan melihat ku bertelanjang dada!"
Jaejoong memutar kedua matanya lagi sambil melihat suaminya yang tengah memakai sebuah kaos putih yang terlihat sangat bagus ditubuhnya. "Maumu Jung!"
"Ayo katakanlah! Kau tidak tahan denganku yang bertelanjang dada berada disamping mu kan?" Yunho terus menggoda istrinya dengan senyum lebar di wajahnya dan itu membuat pipi Jaejoong semakin merona, disamping dia berusaha untuk tidak tertawa.
"Yunnie… jangan membuatku tertawa!" Jaejoong mencubit lengan Yunho dan suaminya hanya bisa meringis dan mengaduh kesakitan namun dia juga tidak bisa menahan tawanya.
"Aku tidak berusaha untuk membuatmu tertawa sayang, aku hanya mengungkapkan fakta."
"Oh benarkah?"
Yunho mengangguk dan akhirnya kembali membaringkan tubuhnya disamping Jaejoong dengan pelan, tidak ingin menyenggol bekas luka operasi istrinya.
"Iya sayang." Yunho menghadap ke arah istrinya sedangkan Jaejoong masih berbaring di tempat tidur.
"Jadi katakan padaku Yunnie, berapa lama lagi kau bisa menahan dirimu sendiri untuk tidak berhubungan intim denganku?"
"Uuuummm dua bulan?"
Jaejoong tertawa kecil mendengar jawaban Yunho. "Bohong!" Jaejoong menyanyikan bantahannya.
"Satu bulan!"
"Bohong!"
"Tiga minggu?"
"Uuuummm aku rasa tidak…"
"Satu minggu?"
"Iya aku rasa begitu!" Yunho mengerucutkan kedua bibirnya dan dengan hati-hati Jaejoong bergerak untuk menghadap suaminya. Dia tersenyum sambil melihat kedua bibir suaminya yang mengerucut.
"Kau jahat! Aku bukanlah suami seperti yang kau pikirkan!"
"Kau pikir kau bisa berbohong padaku? Aku adalah istrimu, Jung idiot!" Jaejoong tersenyum. "Jadi, itu normal sayang! Kau tahu, semua orang akan terangsang hanya dengan menatap bibirmu yang tengah mengerucut."
Tidak ada balasan dari suaminya, Jaejoong melanjutkan. "Jadi kau mengakui kalau kau tidak bisa tahan selama seminggu tanpa berhubungan intim denganku kan?"
Jaejoong memegang dagu Yunho dan dengan sengaja menjilat kedua bibirnya sambil tersenyun menggoda suaminya. Yunho menelan ludahnya dan Jaejoong merayakan kemenangannya saat melihat Yunho berusaha keras untuk tidak melompat ke atas tubuhnya.
"Kau menang!" Yunho memutar tubuhnya ke arah lain, mencoba untuk tidak terpengaruh godaan istrinya di pagi hari.
"Hey Jung!" Jung yang dipanggil tidak sekalipun memutar kepalanya dan dia merasakan tangan Jaejoong yang bermain dengan ujung kaosnya.
"Aaaawwww sayangku merajuk huh?" goda Jaejoong lagi. "Yunnie…"
"Sayang?" Namun Yunho masih tidak bergeming.
"Suami tampan nan seksiku, Jung?"
"Cintaku, manisku, sayangku dan kasihku?" Yunho tidak menggerakkan tubuhnya sama sekali.
"Baiklah!"
Yunho terus menahan dirinya sendiri dan masih memunggungi Jaejoong. Dia merasakn tangan Jaejoong yang bergerak masuk ke dalam kaosnya hingga mencapai perut terlatih miliknya. Jaejoong membelai perutnya sekarang sambil mendesah lirih yang bisa membuat otot-otot Yunho menegang.
"Aaaahhh otot perutmu sungguhlah keras Yunnieee!" Jaejoong mencoba untuk tidak tertawa karena dia merasa luka bekas operasinya akan menjadi sakit sebentar lagi. Dia hanya ingin menggoda suaminya.
Disisi lain Yunho kembali menelan ludahnya. Tidak butuh waktu lama dia akan terangsang dari apa yang dilakukan Jaejoong, jadi dia memegang tangan istrinya untuk membuatnya berhenti bergerak. "Tolong hentikan sayang!"
Jaejoong hanya tersenyum dan menarik tangannya dari genggaman Yunho. Akhirnya dia mendapat reaksi dari suaminya. "Baiklah aku akan berhenti. Sekarang berbalik menghadap padaku!"
Yunho akhirnya membalikkan punggungnya dan melihat istrinya tersenyum padanya.
"Kenapa kau merajuk huh?"
"Lupakan!"
"Kesini!" Yunho bergerak mendekat ke Jaejoong dengan berhati-hati tidak ingin menyentuh bekas luka jahitan Jaejoong yang masih belum sepenuhnya kering. Jaejoong memegang dagu Yunho sedangkan sang suami hanya menatap sang istri.
"Aku mencintaimu Yunnie, maaf kalau aku tidak bisa melayanimu untuk saat ini. Seperti kau tahu, aku masih dalam masa pemulihan pasca operasi. Tapi aku janji akan menebusnya untukmu disaat aku sudah sepenuhnya pulih."
"Tidak apa-apa sayang! Kesehatanmu masih menjadi prioritas utamaku dan bukan kebutuhanku."
"Aaaawww! Kau sungguh suami yang manis! Kau tau itu?" Yunho hanya memutar kedua bola matanya.
"Berhenti menggodaku sayang!"
"Aku tidak menggodamu! Aku hanya mengungkapkan fakta!" Jaejoong berkata seperti apa yang dikatakan Yunho beberapa saat lalu.
"Baiklah, kita hentikan membahas hal ini! Apa kau lapar?" Jaejoong menganggukkan kepalanya dan Yunho berdiri namun Jaejoong memanggilnya kembali.
"Kemari Yunnie."
"Apa?"
"Tunjukkan telingamu, aku akan membisikkan sesuatu padamu!"
Yunho dengan pelan mendekatkan diri ke Jaejoong dan mendekatkan telinganya ke bibir Jaejoong.
"Apa kau butuh hand job?"
Yunho terkejut saat dia mendengar suara menggoda istrinya dan langsung menarik dirinya dari istrinya dan mengerang. "Ya Tuhan! Hentikan sayang!"
Yunho berlari ke kamar mandi dan menyelesaikan masalahnya, meninggalkan Jaejoong yang tersenyum di atas tempat tidur.
.
.
.
eOe
.
.
.
Tiga bulan telah berlalu dan Jaejoong sekarang telah sepenuhnya pulih. Sudah sepatutnya ucapan terima kasih layak ditujukan untuk perawat pribadinya, Jung Yunho yang juga merangkap sebagai suami tampannya. Dia begitu beruntung bukan? Jiyool juga sudah berumur tiga bulan, dan bayi kecil itu sangatlah beruntung mempunyai orang tua yang baik, memanjakannya tiada akhir.
Yunho sudah kembali menjalani karirnya dan saat ini tengah mempersiapkan album baru, dimana album baru ini akan dia tujukan untuk putri dan istrinya. Setelah liburan panjang akhirnya dia kembali dan siap untuk mengguncang dunia hiburan lagi dengan musiknya dan sebagai tambahan dia ingin memasukkan rekaman duetnya bersama Jaejoong, menyanyikan lagu "A Whole New World". Masih sebuah rencana rahasia, dia sudah mendapat ijin dari boss agensi tempatnya bernaung untuk menyanyikan ulang lagu tersebut bersama istrinya. Kini hanya tinggal menunggu aransemen baru lagu itu selesai dikerjakan.
Dia sangat bahagia, meski mempunyai hari-hari yang sibuk pada akhirnya dia masih mempunyai istri yang cantik dan anak perempuan yang menunggunya di rumah dan itu sudah cukup membuat hatinya berdebar bahagia.
.
.
.
eOe
.
.
.
Hari Minggu
Jaejoong tidak berhenti tertawa dan perutnya hampir sakit karenanya. Tetapi berbeda dengan bayi Jiyool yang melebarkan kedua matanya menatap ayahnya seolah apa yang dilihatnya adalah pertunjukan paling menggemaskan. Yunho mengenakan kostum beruang dan menari seirama dengan lagu hits-nya "Checkmate", menggunkan sapu sebagai mic-nya. Disela-sela pertunjukannya dia akan bermain ciluk-ba dengan puterinya membuat sumber kebahagiaan mereka tertawa dan menggoyangkan kakinya sebagai respon.
Bayi Jiyool berada dipangkuan Jaejoong dengan mainan gigitan bayi berbentuk gajah didalam mulutnya. Jaejoong menatap puterinya dan tertawa ketika melihat mainan yang ada didalam mulut Jiyool penuh dengan air liur namun kedua matanya tetap fokus pada Yunho yang masih sibuk menghibur istri dan puterinya dengan pertunjukan kecilnya.
"Aaawww Jiyool lihatlah mainan gajahmu penuh dengan liurmu sayang," kata Jaejoong pada putrinya namun tidak dihiraukan. Perhatian bayi mungil itu hanya tertuju pada ayahnya.
Orang-orang disekitar mereka sadar kalau Jiyool mempunyai ikatan yang kuat dengan ayahnya dan menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan ayahnya. Selain itu dia tipe anak yang hanya akan menyukai satu mainan saja, yaitu gigitan bayi berbentuk gajah kecil miliknya dari sekian banyak mainan yang dia miliki dan tidak mau digantikan dengan yang lain. Dia akan selalu terbangun di tengah malam dan sibuk membuat suara-suara bahkan hingga tertawa kecil. Bermain dengan kedua tangannya menjadi favorit Jiyool selain gajah kecil miliknya.
Yunho yang selalu pulang ke rumah tengah malam akan mendapati Jiyool masih terjaga dan bermain bersama ibunya di kamar yang mereka tempati bersama. Jiyool menunggu tangan hangat ayahnya untuk menggosok pungungnya sebelum mulai menguap dan tertidur dalam pelukan Yunho. Saat itulah Jiyool pada akhirnya akan tidur di zona aman miliknya yaitu boks bayi yang diletakkan di kamar kedua orang tuanya tepatnya di samping ranjang king size mereka demi keamanan.
Yunho akhirnya berhenti saat melihat Jiyool tidak lagi membeikan perhatian padanya dan lebih fokus untuk membasahi mainannya. Dia melepas kostum dari tubuhnya dan menjatuhkannya begitu saja di lantai untuk bercengkrama dengan anak dan istrinya yang duduk di sofa.
"Aku mencintai Jiyoolie-ku! Aku mencintai Jaejoongie-ku!" Ucap Yunho sambil mendudukkan tubuhnya di lantai. Segera setelah melihat ayahnya, Jiyool langsung mendorongkan mainan gajahnya ke wajah Yunho. Membasahi wajah ayahnya dengan air liur dan Jaejong terbahak-bahak menyaksikannya.
"Aaaaawwww ini sangat basah!" Yunho mulai ikut tertawa dan lebih mendekatkan wajahnya ke Jiyool yang tentunya membuat bayi mungil itu semakin senang dan ikut tertawa bersama ayahnya. "Sekarang dia sudah bisa bercanda sayang!"
Jaejoong mengangguk tanda setuju dan tersenyum melihat interaksi antara ayah dan anak perempuannya. "Jiyool-ku yang cantik memang suka bercanda kalau sudah bersama ayahnya dan mengabaikanku saat kau ada di sini."
"Karena Jiyool adalah anak ayah!"
Jaejoong memutar matanya. "Dan kau terlalu memanjakannya!"
"Dia masih bayi Sayang."
"Dan…"
"Tidak ada salahnya memanjakannya."
"Yeah kau benar." Jaejoong membenarkan letak Jiyool di pangkuannya dan bayi mungil itu terkekeh dimana dia terus bermain bersama ayahnya.
.
.
.
eOe
.
.
.
Seminggu kemudian…
"Sayang?"
"Hmmmm…" Jaejoong mengerang sebagai balasan. Kedua matanya masih tertutup dan masih sangat mengantuk saat dia merasakan kedua lengan Yunho melingkar di pinggulnya.
Akhir-akhir ini, Yunho pulang larut malam. Hal ini dikarenakan ia harus syuting video musik miliknya, menjadi bintang tamu acara TV dan sibuk promosi album terbarunya sehingga menyebabkan dia selalu pulang dengan Jaejoong yang telah tidur. Begitu pula dengan putri cantiknya, dia pun telah tertidur di boks bayi yang lucu.
Yunho mencium pipi Jaejoong. Dia rindu berpelukan dengan istrinya seperti saat dia dalam masa cuti. Tapi kini disaat dia kembali menjadi ayah yang baik dan mencari nafkah untuk anak dan istrinya, dia selalu pulang terlambat.
"What time is it baby?" Jaejoong bangun dari tidurnya dan mengusap matanya.
"It's U-know time!" Yunho yang tengah menggoda istrinya mendapat pukulan di lengannya Dan dia hanya bisa cemberut. "Pukul 1 dini hari sayang."
"Jiyool sudah tidur. Sekarang dia mengubah kebiasaan tidurnya." Jaejoong berdiri dan memeriksa Jiyool yang tidur nyenyak di boks bayinya sendiri dengan mendorong jempolnya ke dalam mulut.
Yunho ikut berdiri dan mengintip putri kecilnya dan tersenyum ketika melihat Jiyool tidur dengan nyenyak. Perlahan dilepaskannya jempol dari mulut Jiyool dan mendapati Jiyool yang mengerucutkan bibirnya membuat kedua orang tuanya tersenyum sebelum kembali ke tempat tidur mereka.
"Kau pulang sangat larut, sudahkah kau makan malam?" Jaejoong menatap suaminya yang kelelahan yang sekarang kedua tangannya bertumpu di dahinya.
"Iya. Aku dan Junsu makan sandwich dan…"
"Apaa? Kau hanya makan sandwich?" Jerit Jaejoong dan sekarang dia sepenuhnya terjaga namun langsung menutup mulutnya saat menyadari mungkin dia mengagetkan Jiyool, lalu memegang tangan Yunho hingga bangun dari tempat tidur.
Dengan enggan Yunho bangun dan membiarkan dirinya diseret Jaejoong menuju dapur. Dia hanya ingin tidur tapi istrinya menyeretnya ke dapur sekarang dan sibuk menghangatkan semangkuk sup ke dalam microwave. Dia melihat istrinya mendidihkan air dan menyiapkan sesachet teh ke dalam cangkir, kemudian duduk di samping Yunho. Yunho melingkarkan kedua lengannya ke pinggang Jaejoong dan istrinya itu menyandarkan kepalanya ke bahu Yunho, sambil menunggu supnya hangat.
"Apa kau baik-baik saja sayang?" Yunho mengusap punggung Jaejoong saat mendengar istrinya menghela napas panjang.
"Kau harus menjaga kesehatanmu Yunho. Aku tidak ingin kau jatuh sakit. Apa kau mengerti kekhawatiranku?"
Yunho merasakan ada nada penuh otoritas dalam suara Jaejoong dan dia tidak bisa mengatakan kata lain kepada istrinya, selain mengangguk kepalanya. Dia tahu kalau Jaejoong marah. Jaejoong selalu berhati-hati dalam hal kesehatan mereka dan selalu menyiapkan makanan bergizi untuk mereka, terutama setelah melahirkan Jiyool yang membuat keduanya kehilangan berat badan.
"Aku minta maaf sayang." Jawaban Yunho membuat Jaejoong menatapnya dan mengerucutkan bibirnya, membuat Yunho tertawa dan mencium bibir Jaejoong.
"Maaf… Maaf… Itu yang selalu kau katakan padaku tapi ini…" Jaejoong mencolek kepala Yunho dan yang bersangkutan hanya bisa mengerang.
"Aaaaawwww!"
"Yang satu itu tidak pernah mendengarkan dan selalu lupa! Mungkin aku harus menempelkan sebuah memo ke dahimu sehingga Junsu dan Manajer akan selalu mengingatkan mu untuk makan, bagaimana menurut mu?"
Kali ini Yunho yang mengerucutkan kedua bibirnya. "Itu sedikit kejam sayang. Aku akan terlihat seperti orang bodoh pastinya!"
"Jangan khawatir! Kau akan menjadi pria bodoh yang paling tampan dan seksi yang pernah ku kenal!" Jaejoong menyeringai pada Yunho dan Yunho menarik Jaejoong untuk duduk di atas pangkuannya dan mulai menggelitik istrinya.
"Yah! Hentikan! Aissshhh! Hahaha Yunho hentikan!" Yunho menghentikan aksinya dan Jaejoong menyandarkan kembali kepalanya ke bahu Yunho.
Mereka diam untuk beberapa saat sebelum Yunho kembali berkata. "Sayang, aku sungguh minta maaf untuk pernikahan di gereja seperti yang sudah kita rencanakan. Aku pikir akan membutuhkan waktu cukup lama untuk…"
Jaejoong memotong ucapan Yunho dengan mengecup bibirnya. "Tidak apa-apa Yunnie… Aku pikir mungkin kita bisa memindahkan pernikahan gereja kita tahun depan, Jiyool akan berumur satu tahun saat itu."
Yunho tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Kau benar. Aku ingin melihat membawa keranjang bunga meski itu sangatlah tidak mungkin baginya untuk bisa berdiri sendiri."
Sepasang suami istri itu tertawa bersama.
"Dia akan terlihat cantik dengan gaun putih kecilnya sayang! Ya Tuhan! Aku sangat gembira." Jerit Jaejoong dan Yunho tertawa sepenuh hati melihat kegembiraan Jaejoong.
"Apa kau ingin Jiyool tumbuh secepat itu?" Yunho menaikkan kedua alisnya dan Jaejoong tertawa.
"Tentu saja! Dia akan bermain dengan kita, dia akan segera bicara. Dia akan bicara dengan kita dan memanggil kita eomma dan appa. Tidakkah kau bahagia?"
"Tentu saja aku sama bahagianya denganmu tapi aku tidak ingin Jiyool tumbuh secepat yang kau inginkan."
"Kenapa Yunnie?"
"Karena kita tidak akan tahu secepat apa waktu berjalan. Bisa saja secepat angin dan ketika kita terbangun di suatu pagi, Jiyool mengumumkan kalau dia sudah mempunyai pacar. Ya Tuhan! Dia akan memberiku serangan jantung."
Jaejoong tertawa terbahak melihat wajah khawatir Yunho. "Kau harus melihat wajahmu saat ini Yunnie, kau terlihat seperti seorang kakek sekarang."
"Aku serius sayang!"
"Iya aku tahu! Tetapi imajinasi mu sungguh… berlebihan?"
"Aku ingin melihat dia tumbuh besar tapi dia tetap akan menghabiskan waktu kanak-kanaknya sesuai keinginannya."
"Dan kau akan memanjakannya Yunnie! Itu yang tidak aku inginkan."
"Dia hanya seorang gadis kecil cantik yang sangat dicintai ayahnya. Apa salahnya memanjakannya?"
"Aku tidak ingin dia tumbuh menjadi anak manja Yunnie."
"Seperti kau bukan anak manja saja!" Yunho memutar kedua bola matanya pada Jaejoong, karena dia tahu Jaejoong juga anak manja, dimanja oleh kedua orang tuanya tentunya.
"Kita tidak sedang membicarakan tentang kehidupanku di sini!"
"Kita sebenarnya tengah membicarakan tentang bagaimana cara menghindari Jiyool yang terlalu dimanja, tapi kau juga pernah seperti itu juga!"
"Hentikan!"
"Kau bisa lihat maksudku kan? Begitulah cara anak manja bertindak." Jaejoong kembali mengerucutkan bibirnya dan kali ini Yunho tertawa melihat aura kekalahan Jaejoong. "Baiklah. Baiklah. Aku pikir aku terlalu memanjakanmu juga. Tidak kau pikir begitu?"
"Aku rasa begitu!"
Yunho mengeratkan pelukannya di pinggul Jaejoong dan mencium rambutnya. "Aku mencintaimu sayang. Aku akan selalu mencintai dua orang kesayanganku!"
"Dan aku akan selalu senang mendengar rayuanmu juga Jung. Tapi untuk saat ini kau harus makan dahulu atau aku akan mengikatmu dan menghukum mu!"
"Aku tidak peduli dengan supnya! Aku lebih memilih untuk kau hukum dan dimakan OLEHMU!" Yunho memberi penekanan pada kata olehmu.
Jaejoong memukul lengan Yunho sebelum berlari ke arah microwave dan mengeluarkan sup hangat dan menuang air panas ke cangkir untuk menyeduh teh.
Begitu selesai menyiapkan dan menghidangkan makanan di meja, Jaejoong menatap suaminya dengan tajam. "MAKAN!"
"Baik Nyonya." Dan Yunho mulai makan dengan Jaejoong yang mengawasinya. Sesekali Yunho menyuapi istrinya.
.
.
.
eOe
.
.
.
Yunho bangun lebih awal pagi itu dan menelpon manajernya, menanyakan apa ada jadwal untuknya. Dan dia bersyukur bahwa hari itu tidak ada jadwal, jadi dia mempunyai waktu untuk dihabiskan bersama keluarga kecilnya.
Dia berjalan menuju boks Jiyool dan bayinya masih tidur. Dia tersenyum, mengecup ibu jarinya kemudian menempelkannya ke kening Jiyool. Berjalan kembali ke tempat tidur, mencium kening Jaejoong yang masih tidur sebelum keluar kamar menuju dapur. Dia akan membuat sarapan untuk istrinya, mengisi waktu yang telah mereka lewatkan.
Setelah 45 menit, Yunho selesai dengan makanan favorit Jaejoong yaitu Japchae dan berjalan kembali menuju kamar tidur mereka untuk membangunkan istrinya, namun Jaejoong sudah bangun dengan baby Jiyool dalam gendongannya.
"Selamat pagi sayang! Selamat pagi Puteri kecilku!" Jiyool tersenyum padanya, menunjukan matanya yang berkilau dan itu sudah cukup membuat hari Yunho lebih bersinar.
"Selamat pagi Yunnie!" Jaejoong meletakkan Jiyool di pangkuannya namun Yunho mengambil dan menggendongnya dan menuntun Jaejoong menuju ruang musik. Jaejoong bertanya-tanya mengapa Yunho harus menyeretnya ke ruang musik, tetapi dia hanya diam dan mengikuti suaminya.
"Yunnie… Ada apa?" Yunho hanya tersenyum dan mengambil sesuatu dari balik pintu, itu terlihat seperti sebuah figura yang tertutup kertas dan masih terikat.
"Yunnie, apa itu?" Jaejoong mengerutkan alisnya sambil mencoba untuk memeriksa figura besar di hadapannya.
"Aku ingin kau membukanya sayang. Itu kado ulangtahun yang terlambat dariku untukmu karena ini harus diselesaikan terlebih dahulu."
"Apa kau yakin?"
Yunho menganggukkan kepalanya. "Aku yakin kau akan menyukainya sayang."
"Baiklah." Jaejoong mulai membuka tali pengikat dan menyobek kertas pembungkusnya. Dan ketika dia membalik figura tersebut, mulutnya menganga takjub dan matanya melebar senang.
Itu adalah lukisan tangan dirinya dan Jiyool yang tidur dengan tenang. Lukisan tersebut terlihat begitu nyata dan sangat halus, memberikan penghargaan untuk kecantikan Jiyool dan dirinya dalam sebuah kanvas yang besar.
"Wow sayang… Ini sungguh indah!" Jaejoong berbalik ke suaminya yang tersenyum lebar saat dia mengamati bagaimana Jaejoong menyukai lukisan hadiah darinya dan dia sangat bahagia melihatnya.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan gambar ini sayang?"
"Aku mengambilnya saat Jiyool berumur dua bulan. Kalian berdua tidur ditempat tidur dan aku tidak bisa membiarkan pemandangan yang indah terlewat begitu saja, jadi aku harus mengambil gambarnya dan meminta orang kenalanku untuk menemukan seorang pelukis handal untuk melukisnya."
Dengan hati-hati Jaejoong meletakkan figura tersebut bersandar di pintu lalu memeluk suaminya dengan Jiyool yang tengah menatap lukisan tersebut.
"Bisa kau lihat Jiyool? Hadiah Appa untuk kita sayang. Sangat cantik kan?" Jiyool hanya menatap lukisan itu dan kedua orangtuanya tersenyum. "Aku sungguh menyukainya Yunnie, terimakasih banyak untuk hadiah terbaik yang pernah aku miliki. Aku mencintaimu!"
Jaejoong menempatkan sebuah ciuman lembut di bibir Yunho dan tangan Yunho menyelip pada pinggang Jaejoong.
"Aku mencintaimu lebih! Aku tahu kau akan menyukainya dan untuk Jiyool pastinya dia akan menyukainya saat dia besar nanti dan menyadari kalau dialah yang yang ada dalam lukisan itu."
"Awwww… kau benar! Aku mencintaimu putri kecilku. Aku mohon tumbuhlah dengan cepat sekarang, jadi kita bisa bermain dan shopping bersama."
Yunho menyeringai ke Jaejoong. "Jangan tumbuh terlalu cepat Jiyoolie, Appa akan memanjakanmu dulu! Sangat-sangat memanjakanmu! Hmmmm?"
Jaejoong menatap tajam Yunho tapi langsung tersenyum saat Jiyool terkikik. Mereka mencium kedua pipi putri mereka secara bersamaan dan saling tersenyum satu sama lain.
"Aku mencintaimu 'My Famous Husband Jung!' Aku sangat mencintaimu!"
"Dan aku juga mencintaimu! Satu dan satu-satunya Nyonya Jung!"
Mereka kembali mengunci bibir satu sama lain dengan JiYool di antara mereka yang menatap orang tuanya dan mulai tertawa.
.
.
.
.
.
Fin
.
.
.
.
.
Akhirnya…
Kisah "My Famous Husband Jung" berakhir. Terima kasih untuk LadySinner_25 yang mengizinkan saya menerjemahkan cerita miliknya ke dalam bahasa Indonesia dan mensharenya untuk YunJaeshipper Indonesia.
Terima kasih untuk reader yang menanyakan kapan dilanjut? Di-update?
Butuh waktu untuk menerjemahkan dan saya sempat kehilangan minat terus lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca karya author lainnya. Maaf.
Sekali lagi Terima Kasih yang sebanyak-banyaknya saya tujukan kepada para reader yang sudah memberikan komentarnya, memfollow maupun memfavoritkan cerita ini.
Annyeong…
