Steve Rogers & Natasha Romanoff adalah karakter milik Marvel, dalam setting Marvel Cinematic Universe, tidak ada keuntungan komersil yang didapat dari pembuatan karya ini.


Biasanya, meski dalam pelarian, Steve selalu menyempatkan diri untuk lari pagi, pada dini hari saat dunia belum terbangun, saat cahaya belum muncul.

Namun belakangan ini, seminggu ini, Natasha masih mendapati Steve berada di sisi tempat tidur mereka. Buku sketsa di pangkuannya, dan pensil di tangannya, tangan seorang seniman sekaligus penyelamat dunia (bagaimana bisa dua sifat itu berada di satu tubuh—Natasha masih merasakan Steve seperti sebuah impian). Natasha tidak tahu persis apa yang Steve gambar, tetapi ia tahu persis, menggambar adalah sebuah eudaimonia untuk hidupnya yang tak lagi sama, sebuah pelarian sekaligus sebuah cara bertahan.

Bertahan. Natasha menelan kata itu bulat-bulat, masih mencari makna tentang apa yang terjadi di belakang. Bertanya-tanya apakah motivasinya dahulu, yang membuatnya bertahan di kehidupannya yang berubah; dari seorang alat menjadi seorang agen yang mempertahankan kebenaran.

Red Room membentuknya menjadi seorang sosok yang berguna untuk berbagai keperluan. Apapun caranya, tujuan adalah hal utama. Hitam dan putih si tujuan tak perlu. Tujuan adalah tujuan, dia melepaskan diri dari sifat, adjektiva yang subjektif.

Namun begitu dunianya berganti, resosialisasi dan desosialisasi mengganti pandangannya. Manusia dan kemanusiaan, dulunya, terpisah dari tujuan. Tujuan adalah tujuan. Kemudian, saat ia menyeberang ke benua Amerika, manusia dan kemanusiaan mulai masuk ke dalam pandangannya.

Pada suatu titik, saat itu, ia tidak tahu harus berbuat apa pada perubahan. Namun, setelah diingat-ingat kembali, saat itu ia begitu ingin tahu lebih banyak tentang manusia, kemanusiaan, kebenaran, dan bukan hanya soal tujuan.

Hal-hal itu membantunya tetap berdiri.

Dan sekarang, Steve, yang punya seribu sifat yang bertolak belakang dengan dirinya, apa yang membuatnya bertahan setelah dia dianggap pengkhianat?

"Steve."

Steve menoleh, lalu tersenyum. "Hei."

Natasha menelengkan kepala. "Aku melihat perubahan."

Hanya dengan menatap matanya, Steve sepertinya tahu. "Aku hanya meminimalisir kemungkinan terburuk."

"Orang-orang tak akan mengenalimu dalam gelap."

"Yeah." Steve meninggalkan bangku kecil di sisi jendela menuju tempat tidur kembali. "Sekarang ada yang harus berubah."

Natasha mengangkat alisnya.

"Aku belajar sesuatu darimu," katanya, dan tanpa Natasha sangka, Steve menyentuh rambutnya, memainkan ujung-ujung pirangnya, "bahwa aku bisa bertahan dengan perubahan. Perubahan-perubahan akan membuatku bertahan sekarang. Aku akan terbiasa."

Natasha menyeringai kecil. "Itu bukan cara hidup yang disarankan, Steve. Berbahaya."

"Dan kau hidup lalu bertahan hingga saat ini karena itu."

Natasha menggeleng-geleng. "Kau tidak tahu apa yang telah kulalui."

"Kau bisa melewatinya sendiri."

Natasha membuka mulut, tetapi suatu penyadaran membuatnya tidak jadi berbicara. Ia takut hal itu tak benar, tetapi Steve, seperti biasa, begitu mudah ditebak—ia benar.

"Dan kita pasti bisa melaluinya bersama."

Natasha merasakan sesuatu meledak di dalam dadanya, rasanya meluap-luap hingga ke perutnya, dan ia tak tahan untuk tidak tersenyum. Ia berusaha keras mengulum senyumannya.

"Kau bicara begitu, padahal kau adalah orang yang tak percaya saat aku bilang, aku akan mengikutimu ke ujung dunia jika kau memintaku."

"Berbahaya bicara seperti itu, Nat," Steve berkata dengan senyuman miring, tetapi dia menarik Natasha lebih dekat ke pangkuannya.

"Hidup kita sekarang memang berbahaya, Steve, tetapi perubahan akan selalu ada."

Dan Steve menciumnya. Jika ini bukan suatu bentuk penghargaan, maka Natasha tak tahu apa namanya.


a/n: bagian yang "aku akan mengikutimu [...]" itu diambil dari buku heroes' journey (road to avengers: infinity war) oleh steve behling.