LET'S MEET AGAIN
(Chapter 2)

.

.

.

Disclaimer : Semua karakter milik Kazutaka Kodaka.

Warning : AU!, OOC, Typo, Alur cerita yang kecepatan,
kata yang mungkin tidak sesuai KBBI, Parodi?!
(Lihat note di akhir)

.

.

.

Setelah mengetahui kabar kematian gadis itu, Saihara menghabiskan setahun kehidupan sekolahnya dengan menutup diri di rumah. Ia berhenti sekolah ke esokan harinya, padahal beberapa bulan lagi dia akan lulus. Namun sepertinya dia yakin tak akan bisa bertahan mengunjungi sekolah yang memiliki banyak kenangan dengan Akamatsu.

Bibi dan paman Saihara juga tidak memiliki niat untuk membujuk nya kembali ke sekolah. Mereka berpikir ada bagusnya hal ini menimpa sahabat Saihara, sehingga mereka tidak perlu membiayai kehidupan sekolahnya lagi.

Sejak dua tahun yang lalu sebelum pindah ke kota ini, orang tua Saihara meninggal dunia karena ada kasus perampokan di rumahnya. Dan Saihara yang kebetulan baru pulang dari kursus belajar, selamat dari pembunuhan yang dilakukan perampok itu.

Ia akhirnya dibawa ke bibi nya yang untuk diasuh, namun perlakuan paman dan bibinya tidak baik dan tidak mengurus Saihara sehingga ia merasa semakin kesepian. Namun, dihari pertamanya sekolah. Dirinya langsung disambut hangat oleh Akamatsu.

Gadis itu mengisi kekosongan hati Saihara, dan memberikannya kasih sayang dan perhatian. Meskipun Akamatsu sering merasa sebal karena sikap Saihara yang tertutup.

Karena itu, saat tahu Akamatsu mengalami kecelakaan dan meninggal. Hati Saihara begitu terluka. Benar-benar terluka karena untuk kedua kalinya, orang yang dia kasihi direnggut dengan kejam. Dan membuat Saihara semakin terjatuh dalam jurang kesepian.

Sebuah ketukan pintu yang kasar membangunkan Saihara dari mimpi nya. Ia tahu kalau itu pasti bibinya, jadi ia segera membuka pintu meskipun kepalanya masih pusing.

"Hei, ini makanlah! Aku tidak mau kau mati membusuk di rumahku", bibinya dengan kasar memberikan semangkok ramen instan pada keponakannya itu. Meskipun dia bersikap buruk, setidaknya dia masih mau memberikan Saihara makanan meskipun setiap harinya hanya ramen instan.

"Terimakasih..", Saihara mengambil mangkok itu dan kembali menutup pintu kamarnya.

Mungkin karena sudah terlanjur bangun dengan cara tak menyenangkan begitu. Saihara kini tidak bisa kembali tidur dan akhirnya menyantap ramen itu dengan sedikit terpaksa. Mungkin karena perutnya sudah semakin muak memakan hal yang sama selama hampir setahun

Setelah menghabiskan setengah dari ramennya, Saihara segera mengambil ponselnya untuk melihat tanggal hari ini.

"Sudah tanggal XX, ya...", setelah melihatnya, Saihara segera mengambil note berwarna biru gelap dari laci mejanya.

Dengan tangan kurus nya itu, Saihara mulai membuka note kecil bersampul biru tua yang diberikan oleh Akamatsu tahun lalu saat ulang tahun Saihara.

Ia menulis catatan singkat setiap harinya, membuat note itu terlihat sedikit lusuh dan akan segera penuh. Saihara selalu mencatat, hari ini pun aku masih mengingat Akamatsu-san. Setelah berjanji dengan Akamatsu saat itu. Saihara selalu menulisnya agar tidak pernah lupa.

Hari ini adalah tepat setahun kematian Akamatsu, jadi mungkin karena itu Saihara bermimpi buruk dan kepalanya lebih pusing dari biasanya.

Apalagi ia mulai berhalusinasi dan melihat seorang wanita yang tidak dikenal dengan rambut perak yang sangat panjang berada di kamarnya. Tapi untuk mengatakan wanita itu berada di kamarnya juga tidak tepat. Karena yang Saihara lihat, tempat gelap yang tadinya adalah kamarnya sekarang berubah menjadi tempat yang sama sekali ia tidak tahu.

"Huh...?"

.

.

.

"Di suatu dunia, ada tempat yang disebut sebagai rumah sang penyihir perak". Pria tua itu duduk di atas kasurnya yang tidak empuk. Tubuhnya yang begitu kurus dan rapuh menandakan umurnya yang sudah panjang.

Disampingnya berdiri sebuah robot yang nampaknya dengan seksama mendengar cerita dari mulut pria tua itu.

"si penyihir perak itu dapat mengabulkan apapun...", lanjut pria itu sambil memejamkan matanya. Mungkin mencoba untuk mengingat lanjutan dari cerita yang akan dia katakan.

"Kalau begitu.. apakah sang penyihir dapat memberikan hati untukku?", robot itu bertanya dengan suara yang datar.

"Haha, aku juga tidak terlalu tahu..."

"Tapi jika seorang profesor sehebat anda bahkan tidak bisa memberikan hati untuk sebuah robot sepertiku. Berarti sang penyihir itu pun pasti tidak bisa, bukan?"

Sang pria tua yang disebut professor oleh robot itu hanya bisa tersenyum. Dia menarik tangan robot buatannya itu dengan lembut, mendudukkan robot itu di sebelahnya.

"Sihir adalah suatu hal yang tidak dimengerti oleh sains. Sihir adalah suatu hal yang selalu bertentangan dengan sains. Dan saat sains yakin robot tak akan bisa memiliki hati, maka sihir yakin itu bisa terjadi".

"Jadi... sihir itu.."

"Aku masih tidak yakin. Tapi yang kutahu penyihir perak itu sangat hebat. Jika tidak mencoba maka kita tidak akan tahu hasilnya bukan?"

Robot itu hanya terdiam.

"Kalau begitu, anakku tersayang... kau akan pergi jauh ke tempat penyihir itu..", pria tua renta itu lantas berdiri dari kasurnya menuju sebuah ruangan dan diikuti oleh robot nya.

Dia menunjukkan sebuah mesin yang berbentuk kapsul besar yang dapat dimasuki oleh seseorang. Mesin itu adalah benda yang ia kerjakan selama berpuluh tahun. Sebuah maha karya dari seorang profesor terbaik dunia.

"Mesin ini..?"

"Benar. Ini adalah mesin yang bisa mengantar seseorang ke dunia yang lain". Pria tua itu memencet berbagai tombol untuk menyalakan mesinnya. Sedikit mengutak-atik dan akhirnya pintu dari mesin itu terbuka dengan sendirinya. Seperti mengisyaratkan robot itu untuk masuk.

"Jadi saya akan pergi ke dunia penyihir perak itu dengan mesin ini?". Tanpa keraguan, robot itu memasuki mesin tersebut.

"Tapi aku tidak yakin ini akan berhasil"

"Aku yakin ini akan berhasil. Karena ini adalah ciptaan orang terhebat seperti anda".

"Tapi bagaimana denganmu, profesor? Siapa yang akan menemani anda saat saya akan pergi?"

"Aku akan menunggumu disini. Bahkan ketika aku akan lelah menunggu. Aku pasti akan menunggumu kembali", sambil mengatakan itu, ia seakan menahan tangisnya. Karena bagaimana pun juga, ini adalah sebuah perpisahan.

"Terimakasih profesor. Jika aku telah memiliki hati, aku akan segera menemui anda", setelah mengatakan itu. Pintu segera tertutup dan mulai membunyikan berbagai alarm untuk bersiap melakukan keberangkatan.

Sang profesor berbalik badan, tak mau melihat perpisahan itu. Dan saat alarm tersebut berhenti. Ia berbalik kearah mesin yang lalu membuka isinya dan robotnya itu sudah tidak ada.

.

.

.

Suara derat langkah menggema begitu keras disepanjang lorong. Suara kaki yang sengaja dihentakkan itu menandakan kemarahan orang itu.

"Ahh~ berisik sekali. Pasti si kerdil itu akan datang sambil mengomel lagi—".

"Kauuu! Si gurita ungu bodoooh!"

Pintu kamarnya itu dibuka dengan kasar oleh seorang gadis bertubuh mungil yang memiliki rambut merah sebahu.

"Astagah! Aku tidak tahu kalau tuanku bahkan tidak bisa membedakan kucing dan gurita! Nyaaan~".

Kucing itu menghampiri gadis yang ia sebut tuanku. Dengan menampilkan ekspresi jenaka, ia bersujud didepan sang gadis untuk memberi penghormatan. Namun eksperesi gadis itu tak berubah. Tetap menyiratkan kemarahan.

Kucing itu mengangkat wajahnya untuk bertemu pandang dengan tuannya. Ia lantas mengubah wujudnya yang seekor kucing hitam pekat dengan dua ekor menjadi sosok manusia.

Gadis itu tetap diam, namun ia mengeluarkan tongkatnya dan mendorong kepala pemuda itu dengan cukup keras hingga ia tergeletak di lantai.

"Tsk..", ia sedikit mendecih atas perlakuan majikannya.

Namun saat ia hendak menyeruakan kemarahannya, sang majikan lebih dulu duduk dihadapannya dan mulai mengelus pipinya yang menampilkan banyak bekas luka.

"Apa lagi yang kau lakukan kali ini?", tanyanya dengan suara yang diperlembut, meski ia marah tapi tak tega saat melihat bekas luka itu. Namun pemuda itu hanya cengengesan meskipun dia tahu telah berbuat salah.

"Kau sudah mengalahkan semua monster di negara ini kan? Lantas kini kau mulai menyerang manusia juga? Apa kau tidak punya hati?"

"Heh~ Anda tidak perlu berkata seperti itu. Asal anda tahu... seseorang akan mengejar mangsa baru jika mangsa pertamanya habis".

"Aku tidak setuju soal itu... meskipun kau membunuh orang-orang jahat. Tapi itu adalah tugas pengawas untuk memberi mereka hukuman. Dan yang kau lakukan hanyalah membunuh mereka dengan kejam—".

"Berisik. Dasar cerewet".

Gadis itu menatap nya karena memotong ucapannya apalagi sampai dikatai seperti itu. Namun sepertinya dia hanya bisa menghela nafas panjang. Berapa kali pun ia mencoba menasihati pemuda itu, tidak ada untungnya. Jadi kali ini ia tidak mempermasalahkannya lebih lama dan mulai meletakkan tangannya diatas sayatan yang didapatkan pemuda itu. Ia membaca sebuah mantra, dan telapak tangannya mengeluarkan cahaya.

"Hei.. kau tidak perlu—!"

Setelah cahaya itu menghilang, maka pudar lah semua bekas luka yang ada ditubuh pemuda itu. Namun gadis itu langsung jatuh pingsan kedalam pelukannya.

"Tuanku yang bodoh. Meski tahu kau akan kerepotan begini... seharusnya sudah lama kau membuangku bukan?". Ia lantas mengelus rambut merah majikannya.

"Berhenti membuat gadis kecil seperti dia menanggung lukamu". Tiba-tiba dibalik pintu, muncul seorang pemuda dengan mata besar dan telinga kucingnya.

"Bukankah itu lucu kau mengatakan dia sebagai gadis kecil meskipun kau bahkan hanya setinggi ketiak nya, hahaha".

"Jangan mengejekku sialan. Dan cepat bawa putri ke dalam ruang penyucian. Aku disini untuk membawamu dan dia kesana untuk melakukan ritual. Tapi dia malah pingsan. Merepotkan saja"

"Itu tidak sopan, loh. Mengatakan kalau dia merepotkan".

"Kau tidak punya hak untuk berbicara begitu, kucing liar".

"Ya ampun, kau memang tidak bisa diajak bercanda, ya". Meski dia kesal atas ucapan orang itu. Ia tetap mengikuti perintahnya dan mulai menggendong gadis itu dan membawanya ke tempat ritual di salah satu ruangan khusus di istana tersebut.

"Putri, apa anda telah sadar? Ritual yang anda minta telah kami selesaikan". Gadis itu akhirnya terbangun setelah beberapa menit tak sadarkan diri setelah mengobati pemuda itu.

Ia lantas berdiri ke atas podium untuk melakukan suatu ritual.

"Kokichi, si kucing hitam... silahkan berdiri di atas altar".

Pemuda tadi, yang bernama Kokichi terkejut ketika dirinya disuruh berdiri di atas altar oleh tuannya. Dia tidak diberitahukan soal ini, dan dia tahu akan terjadi suatu hal yang buruk.

"Heh? Kenapa aku?", dia yang terperanjat, memundurkan dirinya. Seakan ingin lari dari ruangan itu. Namun ada sihir kuat yang mengelilinginya.

Setelah dipaksa naik oleh pelayan lainnya. Kini Kokichi telah berdiri di atas altar. Ia menatap marah pada tuannya, yang sedang tersenyum manis namun licik.

"Apa yang mau kau lakukan? Membuangku, ya?"

"Tentu saja tidak. Kau adalah kucing kesayanganku. Namun aku pikir, kau harus diberikan pelajaran. Tapi tenang saja wahai kucing hitamku yang malang. Aku akan mengirimmu ke tempat yang tepat agar kau bisa menemukan arti kekuatan sesungguhnya.."

"Apa yang kau katakan.."

"Di suatu dunia yang jauh dari sini. Kau akan bertemu dengan seorang penyihir perak. Dia akan memberimu suatu pilihan..."

"... pilihan dimana kau akan belajar mengenai kekuatan yang sesungguhnya".

"Aku tidak mengerti omong kosong apa yang kau bicarakan! Jangan membuangku!". Belum sempat pemuda itu menyelesaikan kalimatnya. Sebuah cahaya yang terang benderang muncul di sekelilingnya. Cahaya itu menelan sosoknya hingga tak berbekas.

"Maafkan aku. Tapi ini adalah takdir mu. Aku harap akan ada orang-orang baik diluar sana yang dapat membimbing mu. Dan aku yakin kita akan bertemu lagi".

.

TBC

.

Note : Chapter duanya rilis dengan cepat karena materinya masih hangat di otak (haha). Kali ini saya usahakan lebih panjang dari sebelumnya dengan alur yang tidak terlalu cepat (mungkin).

Ngomong-ngomong, kalau dilihat dari warning diatas ada kata parodi, kan? Kalian sadar cerita ini parodi darimana? Jika tidak, mari saya beritahu.

Ini adalah parodi dari manga/anime Tsubasa Reservoir Chronicle. Yang udah pernah baca pasti langsung tahu, ya?. Tapi tenang ajah, ga semuanya mirip kok, namanya juga parodi yak? (haha).

Ngomong-ngomong dari dua part cerita diatas, kalian sudah bisa menebak karakter siapa yang dimaksud? XD pasti sudah lah ya.

Oke sekian telah membaca sampai sini, jangan lupa berikan review dan follow ceritanya supaya ga ketinggalan saat saya update lagi. Thank you~