"Aahnnnn~!Na-naru..."

Suara desahan perempuan berambut merah terdengar meredu dikamar Naruto.

Tubuh Kushina dihimpit diantara tembok dan tubuh Naruto, tanpa merasa kelelahan remaja pirang terus menggenjot ibunya yang berada di gendongannya. Melakukan sex berdiri.

Kedua tangan Kushina yang di kalungkan pada leher Naruto sedikit mengerat ketika Naruto mengangkat kedua kakinya agar tidak menyentuh lantai.

"Bagaimana Kaa-san?" disela pertanyaannya Naruto terus menggenjot Kushina tanpa henti. Menikmati sensasi dari dalam vagina Kushina yang sudah basah oleh sperma mereka berdua.

"I-ini-nikmat-sekali!-Aahnnn~!Naruto-kun!" desah perempuan berambut merah itu. "Aku-tidak-bisa... menahannya lagi Naru-Aakh~!"

"Kau menyukainya Kushina?" tanya Naruto kembali,

"Aku-Aahnnn~!Tidak-bisa-menahannya-Le-lebih cepat--Aaahnnnn~!"

"Naruto-kun!Kau-Aaakh~!Kamu--bisa melakukan apapun padaku."

"Sekarang--mAaahnnnnnn~!Aku adalah milikmu--Ehmmph!"

Naruto menyumpal bibir cerewet Kushina menggunakan mulutnya, melumat setiap sudut bibir tipis itu. Dan menghisap lidah milik perempuan berambut merah itu cukup kuat.

"Emmph~"

Eregan Kushina kembali terdengar disela ciumannya.

Ia tidak menyangka efek obat yang diberikan pada ibunya sangat perpengaruh, mengubah perempuan anggun ini menjadi sangat agressif ketika diranjang.

clup

Suara Naruto melepas ciumannya terdengar, liur dan benang saliva yang menyatukan Naruto dan Kushina terlihat sangat basah. Namun karena Naruto yang melepaskan ciumannya Kushina terus mencoba menyatukan kembali bibirnya.

Naruto membawa Kushina ke arah ranjang, lalu menurunkan perempuan itu di ujung ranjang dengan keadaan berbaring. Dia mengangkat kedua kaki Kushina keatas, menyimpannya diantara pinggangnya dan kembali menyodok vagina basah Kushina.

Plok Plok Plok

Suara benturan tubuh itu kembali terdengar.

"Nii-sama!"

Dalam sekali gerakan, tangan Naruto membekap mulut Kushina, agar perempuan di bawahnya tidak mengeluarkan suara. Suara Naruko yang terdengar diluar pintu kamarnya tidak menghentikan Naruto untuk terus menyetubuhi tubuh Kushina.

"Nii-sama?"

"Ruko-chan... ada apa?" tanya Naruto saat mendengar panggilan kedua adiknya.

"Ini sudah pagi." kata Naruko dengan nada yang terdengar penasaran dengan alasan sesuatu.

"A-ah, iya. Aku sudah bangun." balas Naruto, entah kenapa nada suaranya berubah canggung.

Sepertinya Naruto bermain terlalu lama, yang ia ingat ia membawa Kushina ke kamarnya tepat jam 12 malam.

"Apa Nii-sama bersama Kaa-san."

Kepala Naruto menoleh ke bawah, menatap wajah Kushina yang masih dalam bekapan tangannya dan sodokan penisnya.

Walaupun Kushina sedikit mencoba melepas bekapannya, Naruto tetap tidak melepasnya.

"Kaa-san sedang pergi."

Ada sedikit kesunyian sebelum Naruko kemali berbicara. "Boleh aku masuk?"

"Tidak. Aku sedang tidak pakai baju." balas Naruto cepat.

"Baiklah..." Intonasi dari nada bicara Naruko terdengar kecewa. "Aku menunggumu di bawah, kau sudah berjanji untuk mengantarku kesekolah pagi ini, Nii-sama."

"Baik."

Tak lama setelah itu Naruto mendengar suara langkah kaki yang menjauh.

0000

Naruto menatap tubuh mulus Kushina yang sedikit mengkilap akibat deri keringat yang dihasilkan dari kegiatan mereka. Bercak merah terlihat memenuhi seluruh tubuhnya, bahkan ada beberapa bercak sperma Naruto dari tubuh Kushina. Seperti wajah dan anggota tubuhnya yang lain.

"Kaa-san..."

"Naruto-kun..." balas Kushina lirih dengan pandangan mata yang sayu.

Kedua tangan Naruto memegang pinggang Kushina, lalu kembali menyodok vagina yang sudah basah perempuan berambut merah dibawahnya, menggenjot lebih cepat.

Mengabaikan Kushina yang terus mendesah lebih keras, tubuhnya sesekali mengeliat ketika penis besar Naruto menyentuh ujung rahimnya.

"Aaakhnnn~! Naruu-Lakukan lebih cepat!"

Seperti permintaan Kushina, Naruto mempercepat sodokan penisnya.

"Aakhnnn~! Aakhnnn~! Aakhnnn~!"

Kushina kembali mengeliat saat ujung penis Naruto menyentuh rahimnya, dia meremas kain sprai dibawahnya.

"Aku--Ahnnn~! Sudah tkdak tahan--Aaakh~!"

Croot Croot Croot

Gerakan Naruto terhenti ketika sesuatu yang basah kembali menyelimuti penisnya, walaupun penis Naruto belum dikeluarkan dari vagina Kushina,

Tubuh Kushina sedikit kejang saat cairan cintanya terus keluar, tenaganya langsung terkuras, hilang entah kemana.

Namun beberapa detik kemudian Naruto melanjutkan genjotannya, mengabaikan tubuh lemas Kushina.

Tangan Naruto mengelus tubuh bagian atas Kushina lalu berhenti saat menyentuh payudara yang masih kencang itu. Lalu meremasnya kedua payudara itu menggunakan tangannya.

"Aku belum puas Kushina." Naruto kembali menngerakan pinggangnya menyodok perempuan itu untuk kesekian kalinya.

Sensasi nikmat kembali dinikmati Naruto saat venisnya kembali dihimpit lubang vagina yang masih terasa sempit itu, mengabaikan Kushina yang sudah tidak bertenaga.

"Aakhhnn~! Ini nikmat sekali."

Namun setelah beberapa menit meggenjot tubuh lemas Kushina, Naruto merasakan penisnya mulai merasakan sesuatu yang akan keluar.

"K-kaa-san! Aku keluar!"

Kushina sedikit menggeliat kesamping untuk menatap wajah Naruto yang di atasnya, yang sibuk menggenjotnya dengan mengangkat kedua kakinya.

"Aaakh~!Naruu--Keluarkan di dalm--"

Crooot Croot Croot

Seluruh sperma Naruto keluar didalam vagina Kushina, dan kembali menyatukan cairan mereka.

perempuan itu menatap lagit kamar Naruto dengan pandangan kosong.

Entah kenapa pikirannya terasa kosong, yang ia pikirkan hanya remaja yang berada di atas tubuhnya sekarang. "Naruto..."

"Aaakh~!"

Clup

Naruto mengeluarkan penisnya dari vagina Kushina, tangan Naruto mengarahkan penisnya kearah tubuh perempuan berambut merah itu saat merasakan penisnya kembali ingin mengeluarkan spermanya.

Croot Crooot Crooot

Sperma Naruto kembali menyembur diatas tubuh Kushina yang sedang berbaring diranjang dengan kelelahan.

Naruto sedikit mendekatkan wajahnya dengan wajah perempuan yang terlihat sudah sangat kelelahan. Ia membelai wajah Kushina yang mulai tertidur lelap di ranjangnya, walau sudah dikatakan tidak muda lagi. Wajah Kushina tetap terlihat masih cantik dan muda, entah paktor keturunan atau apa tapi keluarga ibunya memang terlihat muda.

Cpret Cpret Cpret

Suara jepretan dari kamera ponsel Naruto terdengar ketika ia memotret Kushina yang sedang terlentang dengan tubuh mengkilapnya yang dipenuhi bercak sperma.

000

"Aku menunggumu cukup lama." Naruko mengembungkan pipinya, menatap Naruto tidak suka.

"Maaf... tapi aku harus mandi dulu." kata Naruto mengusap kepala adiknya sebelum menggeser kursi untuk duduk disamping Naruko. Lalu mencubit pipi Naruko pelan. "Kau terlihat manis saat marah."

"Aaaww..."

Naruko memegang pipinya yang sedikit memerah, tapi karena alasan yang berbeda.

Kau terlihat manis saat marah. Kau terlihat manis saat marah. Kau terlihat manis saat marah.

Entah kenapa kata kata-kata itu terus berputar dikepala Naruko.

Mata Naruko melihat penampilan Naruto dari atas sampai bawah. "Nii-sama pergi sekolah?"

"Hmmm aku akan kesekolah sebentar." balas Naruto tanpa mengalihkan perhatiannya dari roti dan selainya.

"Kalau begitu Nii-sama tidak mengantarku hari ini?"

Akan tetapi pertanyaan kedua membuat remaja pirang itu menoleh, Naruto tersenyum tipis lalu menyimpan rotinya dan mengacak rambut pirang Naruko. Naruto mendekatkan wajahnya dengan wajah Naruko membuat perempuan itu kembali memerah.

"Aku akan mengantarmu." Kata Naruto, lagi pula ia pergi sekolah tidak lebih dari membuang waktu santainya.

"Mou... jangan mengacak rambutku!" Kata Naruko dan melepaskan tangan Kakaknya dari atas kepala.

T000

Pagi ini suasana sekolah terlihat sedikit ramai dari biasanya, mungkin karena semua siswa kelas tiga sudah tidak ada kegiatan belajar lagi. Mengakibatkan hampir seluruh siswa tingkat akhir itu tidak lebih untuk bersenang-senang.

Dari awal menginjakkan kakinya di sekolah tujuan utama Naruto adalah berjalan menuju ruangan Uks, dia mengetuk pintu dulu beberapa kali sebelum masuk ruangan.

"Tsunade-sensei." kata Naruto, namun tidak ada respon sama sekali.

Tidak menunggu jawaban dari dalam, Naruto langsung memutar knop pintu lalu masuk kedalam.

"Tsunade-sensei?" Mata Naruto melihat setiap sudut ruangan itu, namun matanya tidak menemukan orang yang ia cari.

Dia berjalan mendekati ranjang, lalu menyibak tirai yang menjadi penghalang diruangan itu. Matanya langsung disuguhi seorang perempuan berpakaian dokter yang tertidur dengan posisi terlentang kesamping, rok yang pendek yang dipakainya memperlihatkan paha putih dan mulus.

"Aku tau kau tidak tidur."

Ada sedikit kesunyian untuk beberapa detik saat Naruto tidak melakukan apapun.

Dan beberapa detik kemudian Tsunade bangun dan sedikit merapikan pakaiannya.

Lalu ia berdiri menatap lawan bicaranya.

"Yaampun... kau tidak menyenangkan sekali." kata Tsunade menatap Naruto bosan lalu berjalan pelan melewati remaja pirang itu untuk duduk di kursi dekat meja kerjanya, menyilangkan kakinya yang masih terlihat mulus. Lalu berputar untuk menghadap Naruto.

"Aku datang kesini untuk menanyakan obat itu." Mengikuti apa yang Tsunade lakukan Naruto juga ikut duduk menghadap perempuan itu. Dari kursi yang tidak jauh darinya, sekarang mereka berhadapan.

"Ah, iya. bagaimana dengan obat itu?" tanya Tsunade, dengan tangan kanannya terus memainkan bolpoint. Walau terlihat tidak tertarik tapi dia menunggu jawaban yang akan dikeluarkan oleh Naruto.

"Cukup mengesankan, aku ingin memintanya lagi."

Ekspresi Tsunade terlihat tidak menunjukan reaksi apa'pun, ia berdiri dan berjalan kearah pintu keluar.

Bersandar di pintu, mengunci pintu dan menghadap ke arah Naruto yang duduk di kursi. "Kau mau mau membayarku berapa?"

"Dua kali lipat dari sebelumnya."

Tsunade terdiam.

Perempuan itu terlihat menimang kalimat yang dikeluarkan Naruto, Ada jeda sebelum Tsunade menjawab. "Baiklah."

Dengan langkah kecil Tsunade mendekati tempat Naruto duduk, lalu berjongkok dibawah remaja pirang itu.

Srrrret

Suara resleting Naruto terdengar saat Tsunade mengeluarkan penis besar itu, dan menggenggamnya pelan, mata perempuan itu menatap wajah Naruto untuk beberapa detik. Dengan gerakan pelan ia menjilati penis Naruto memasukan benda yang terasa hangat itu kedalam mulutnya.

Sensasi basah dan nikmat dari rongga mulut Taunade bagaikan kejutan listrik yang menyalur kedalam tubuh Naruto. Memberikan rangsangan yang sangat menaikkan hormonnya.

Tsunade memejamkan matanya terlihat menikmati yang ia lakukan. "Emmmph~!"

Suara perempuan itu terdengar meredu di telinga Naruto.

"Aaakhnn~! Ini nikmat sekali." Naruto memejamkan matanya, terus menikmati hisapan yang dilakukan Tsunade.

Walaupun ini bukan kali pertama mereka melakukan hal seperti ini, tapi blowjob yang dilakukan oleh Tsunade cukup mengesankan.

Tangan putih dan halus Tsunade terus memainkan penis di depannya sementara mulutnya terus menghisap benda besar itu dengan penuh perasaan.

Memegang batang Naruto dengan penuh kelembutan, lalu ia mengeluarkan dari mulutnya dan mengocok penis Naruto.

Tsunade mendongkak ke atas, menatap wajah Naruto yang sedang kenikmatan.

"Kau menyukainya Naruto?" Tanya Tsunade dengan seringaian tipis.

"Aaakh~ kau yang terbaik sensei..."

Setelah cukup lama Tsunade melakukan blowjobnya Naruto merasakan ia akan mulai klimaks.

Dengan sedikit kasar Naruto memegang kepala Tsunade dan memaksa memasukannya lagi kedalam mulut perempuan itu.

"Hummei."

Tsunade sedikit kewalahan ketika Naruto memaksakan memasukan penisnya.

Crroot Crooot Croot

"Uhhukk"

Tsunade hampir terbatuk akibat semburan tiba-tiba itu.

Naruto memang sengaja mengeluarkannya didalam mulut perempuan di bawahnya.

Sensasi hangat mulai dirasakan Tsunade ketika seluruh sperma Naruto keluar dari mulutnya.

Dengan hati-hati Tsunade mengeluarkan kembali caira sperma itu kedalam botol kecil, lalu menghadiahi Naruto lototan tajam.

"Maaf..." kata Naruto tersenyum dengan ekspresi tanpa dosa.

Tsunade menggoyangkan botol kecil di tangannya.

"Keluar cukup banyak..." kata Tsunade , lalu matanya beralih pada Naruto. "Kau memang berniat untuk membuat obat itu."

Namun tidak ada jawaban apapun dari Naruto, remaja itu terlihat mengatur napasnya.

"Sepertinya hormonku naik lagi..." kata Naruto diikuti penisnya yang kembali naik. "Bisakah kau membriku service, sensei?"

"Aku tidak mau." balas Tsunade dengan lototan tajam. Walau mereka sudah sering melakukan hal ini belum pernah melakukan lebih dari hal seperti itu.

"Ayolah, sebenarnya aku sudah lama ingin melakukannya danganmu."

"Jangan pernah mengharapkannya, karena aku tidak akan melakukannya bocah!" kata Tsunade lalu bangkit berdiri dan merapikan kembali pakaiannya.

Namun kalimat Naruto yang kedua membuat Tsunade terdiam dan menghentikan langkahnya.

"Aku akan membayarmu empat kali harga obat itu."

Sukses merubah ekspresi Tsunade, perempuan itu berbalik dan melipat kedua tanganya. Menatap Naruto penuh selidik. "Bagaimana kau akan membayarku dengan uang sebanyak itu."

Memang bukan harga yang kecil untuk obat yang di bandrol oleh perempuan itu, tapi itu bukan masalah untuk Naruto.

Tangan kanan Naruto mengambil seauatu dari saku celananya. "Uang tidak masalah untuku."

Satu lipatan yang sedikit tebal.

Ada sedikit jeda sebelum Tsunade mengatakannya dengan tiba-tiba. "Enam kali lipat dari harga obat itu."

"Tidak masalah selama kau bersedia melakukannya denganku untuk satu minggu kedepan." balas Naruto terlihat tidak keberatan samasekali.

"Dasar... empat kali untuk hari ini." kata Tsunade lalu berjalan mendekati Naruto. "Posisi apa yanng kau inginkan?"

Entah kenapa kalimat Taunade barusan membuat Naruto kembali bersemangat.

"Doggy."

Tanpa banyak bicara Tsunade berjalan ke arah meja kerjanya lalu melepas jas putih dan menungging membelakangi Naruto. Dengan meja sebagai penumpunya.

Ada sekilas terlintas di kepala Naruto untuk melakukannya diranjang, namun pemikirannya sedikit berubah. Mungkin di ronde kedua ia akan menyeret Tsunade ke ranjang.

Tangan kanan Naruto Mengangkat keatas celana Tsunade, memperlihatkan bokongnya yang masih menggunakan celana dalam warna putih.

Naruto mnggeser sedikit kesamping celana dalam Tsunade, memperlihatkan vagina mulus terawat. ia memasukan jarinya lalu mengeluarkannya lagi. Sedangkan Tsunade menggigit bibir bagian bawahnya ketika sesuatu yang cepat masuk dan keluar lagi dari bagian Vaginannya.

Sebelum memasukan penisnya, Naruto memegang bokong yang terlihat sexy itu lalu meremasnya beberapa kali.

Setelah siap.

Tangan kanannya memegang pantat perempuan di depannya sementara tangan kanannya menuntun penisnya untuk mulai menyodok Tsunade dari belakang.

Sleppph

Dengan sekali hentakan, penis Naruto masuk sepenuhnya. Sesuatu yang sedikit basah dan hangat memberikan sensasi yang nikmat kedalam tubuhnya, himpitan vagina Tsunade membuat Naruto memejamkan matanya.

Cukup sempit kata Naruto dalam hati.

Untuk beberapa detik Naruto terdiam, kemudian mulai memaju mundurkan pinggangnya pelan.

"Aaakh~!"

Desahan pertama Tsunade keluar, membuat tubuh Naruto merenggang. Kedua tangannya ia pindahkan untuk memegang pinggang Tsunade, mempercepat genjotan yang dilakukannya dari belakang.

Plook Plook Plook

"Aaakh~ Bercinta dengan Milf memang memiliki sensasi tersendiri."

Tsunade sedikit menengok ke belakang, melirik remaja yang sedang menyetubuhinya dari belakang.

"Aaakh~J-jangan-banyak bicara- Aaaakhn~ Kit-a Selesaikan-Aaaakhn~ ini dengan cepat!"

'S-sangat besar... bahkan ujung penisnya menyentuh ujung rahimku.' Kata Taunade dalam hati.

Naruto menarik rambut pirang Tsunade sangat kasar, dan menggenjot nya dengan cepat.

Plook Plook Ploook

"Aaaakhn~! N-naruto--Aaakhn~! Jangan main kasar." kata Tsunade disela desahannya.

"Diamlah, aku membayarmu untuk seluruh tubuhmu. Sensei." Naruto mulai memeluk tubuh Taunade mulai merayapkan tangannya ke dalam baju perempuan itu. Mencoba menyentuh payudaranya.

"Tsunade-sensei payudaramu sangat besar sekali."

Kedua tangan Naruto meremas payudara yang masih di bungkus bra itu dengan keras.

Tanpa menghentikan genjotannya Naruto meremas payudara itu dari belakang, sesekali Naruto menjilat telinga Tsunade.

"I-ini nikmat sekali--Aaakhnn~" kata Naruto tepat di telinga perempuan yang sedang di setubuhinya.

"Aaakhnn~!N-naruto!" Tanpa sadar Tsunade mulai menyebut nama pria di belakangnya.

"Kau menyukainya?" Tanya Naruto dengan seringai tipis. "Padahal kau baru kehilangan suamimu satu bulan yang lalu sensei, dan sekarang kau sudah membiarkan seorang lelaki memasukan penisnya di vagina milikmu."

"B-bodoh--Aaakhnn~! Bukannya kau yang menginginkannya." Balas Tsunade cepat.

"Vaginamu lumayan sempit, Tsunade-sensei." Kata Naruto disela genjotannya dengan mata terpejam. "Aku sangat menikmatinya."

"Aaakhnn~! A-ku--khnnnn~!Keluar!" Kata Taunade dengan mata terpejam, walau ia tidak menyukainya. Akan tetapi tubuhnya sangat menikmatinya.

"Sepertinya kita sama." Kata Naruto membuat mata Tsunade melebar, ketika merasakan penis Naruto mulai membesar di dalam vaginanya.

Plook Plook Ploook

Naruto mempercepat genjotan pada Vagina Tsunade.

"J-Aaakh~!Jangan-"

Ucapan Tsunade terpotong oleh cairan hangat yang terasa masuk di vaginanya.

Crroooot Crooot Croot

Perempuan berambut pirang itu melihat Naruto lewat bahunya.

"K-Kau mengeluarkannya di dalam?" Kata Tsunade dengan tatapan tidak percaya, satu pikiran yang langsung terlintas adalah 'bagaimana jika ia hamil?'

"Hei aku menyewa tubuhmu," kata Naruto tanpa dosa.

"Tapi-" ucapan Tsunade kembali terpotong saat Naruto mengangkat tubuhnya dan membawanya ke ranjang.

"Hei kita sudah selesai!" Kata Tsunade, namun tidak di dengar Naruto.

Remaja itu membawa Tsunade ke arah ranjang yang ada di ruangan itu, lalu melepaskan sepatu keduanya.

Membaringkan tubuh perempuan itu sedikit kasar dan membalikkannya agar Tubuh Tsunade terlentang, ia akan melakukan posisi seperti apa yang tadi dilakukannya dengan Kushina.

"H-Hei kita sudah selesai!" Kata Tsunade sedikit mulai memberontak, membuat Naruto melepaskan dasinya.

Ia mengikat kedua tangan Tsunade menggunakan dasinya, lalu tanpa Tsunade sadari. Naruto menyimpan kamera di meja dekat ranjang yang mereka tempati.

"Naruto kau-" ucapan Tsunade terpotong saat Naruto menindih dan menyumbal bibirnya dengan ciuman yang panas.

Menelusuri setiap sudut rongga perempuan pirang di bawahnya dan mencoba mengait lidah Tsunade sebelum menghisapnya kuat.

"Emmpphh~"

Setelah puas menikmati bibir Tsunade remaja itu mulai merubah posisinya, Naruto duduk di ujung ranjang.

Mengangkat lebar kedua kaki Tsunade sampai membentuk V, tangan Naruto memegang penisnya yang siap ia masukan lagi.

Sleph

"Aaakh~... ini sangat nikmat." Kata Naruto sedikit lebih menikmati dari sebelumnya.

Naruto tidak langsung menggenjot perempuan di bawahnya, matanya tertuju pada dua payudara besar milik Tsunade.

Tangannya membuka kemeja bagian atas yang di pakai Tsunade, dan menarik bra.

Memperlihatkan dua buah payudara putih yang terlihat sangat lembut dan menggoda.

"Payudaramu memang paling besar di antara guru yang lain," kata Naruto.

"Naruto, ini sudah termasuk pemerkosaan," kata Tsunade pelan.

"Tenang saja, kau akan menikmatinya sensei."

Naruto meremas kedua payudara itu menggunakan tangannya, setelah cukup puas ia kembali menindih Tsunade.

"Aaakh~"

Tsunade kembali mendesah saat sesuatu yang basah menyentuh puting payudaranya.

Mengulum dan menjilati payudara besar sesekali menggigitnya pelan.

Dengan tempo sedikit cepat Naruto mulai menggenjot Tsunade, dan sepertinya perlawanan perempuan berambut pirang dibawahnya sedikit melemah.

"Aaakhnn~ Naruto.."

Suara desahan Tsunade mulai keluar lagi, membuat Naruto sedikit mempercepat dari sebelumnya.

Plook Plook Plook

"Aaakh~Naruto!"

"Jangan terlalu berisik sensei." Kata Naruto pelan tanpa menghentikan gerakannya.

"N-Naruto-Aaakhn~ jangan mengeluarkannya di dalam lagi."

Crroooot Crooot Croot

Naruto mengeluarkannya lagi didalam lalu mencabutnya dan berdiri, memeberikan penisnya tepat di wajah Tsunade.

Dan tanpa disuruh pun perempuan pirang itu langsung menjilatinya.

Naruto melepas ikatan di kedua tangan Tsunade ketika perempuan itu sedang mengulum penisnya.

Naruto melirik jam yang menempel di tembok. Masih menunjukkan 7:30, ia masih mempunyai waktu cukup banyak. Mungkin akan melakukannya lagi sampai waktu istirahat, atau juga sampai pulang.

Matanya beralih ke arah perempuan yang terlihat kelelahan.

Tsunade berbaring di ranjang Uks dengan keadaan sangat berantakan.

000

Akibat dari kegiatan sebelum waktu istirahat tadi sepertinya Naruto terlambat pergi ke kantin, terlihat banyaknya tempat duduk yang sudah terisi.

"Sepertinya ini hari yang sial untuku," gumam Naruto, ia berniat berjalan keluar kantin.

Namun langkahnya berubah ketika melihat satu kursi yang masih kosong.

"Siapa suruh kau duduk di tempatku?" nada suara yang tedengar tidak bersahabat langsung masuk pada telinga Naruto.

"Aku tidak mungkin makan sambil berdiri, sensei." kata Naruto, tidak terpengaruh oleh suara Anko.

"Itu bukan urusanku." balas Anko tidak peduli.

Tapi sepertinya Naruto tidak mempedulikannya, saat sumpit tipisnya yang berisi ramen langsung masuk kedalam mulutnya. Diikuti suara seruputan Mie yang khas. "Aaah... Tidak ada yang lebih nikmat dari segelas cup ramen panas."

"Naruto..." gumam Anko terdengar sedikit ragu. "Emmm... bisakah kau membantuku?"

"Membantu apa?" tanya balik Naruto, tanpa mengalihkan perhatian dari ramennya.

"Aku sedang serius bisakah kau berhenti makan dulu?"

Walau sedikit berat Naruto menyimpan sumpit dan ramennya, lalu menatap perempuan di sebrangnya.

"Jadi?"

"Temanku mengadakan pesta... dan setiap orang harus datang bersama pasabgannya."

"Dan... kau tahu-"

"Sejak kapan kamu punya teman, sensei?" potong Naruto, walaupun Anko guru yang populer, tapi itu cuma dari kalangan lelaki. Sedangkan dengan guru lainnya dia sedikit dijauhi. Mungkin karena sipatnya yang selalu kurang bersahabat pada seseorang.

"Hei walaupun aku terlihat individualis, aku type orang yang sosialis." Ekspresi Anko terlihat marah walau kemarahannya terlihat tidak meyakinkan.

"Aku tidak mau." balas Naruto yang terdengar malas.

"Ayolah aku sedang butuh bantuanmu."

Mungkin untuk kebanyakan orang, Anko adalah sosok yang anti-sosial, namun jika mengenal perempuan itu lebih dekat, itu akan ada sesuatu yang berbeda.

Alasan perempuan ini meminta bantuan padanya mungkin karena cuma dengannya Anko paling akrab.

Berbeda dengan orang lain, selama itu perempuan Naruto tidak akan membatasinya.

Tangan Naruto mengambil lagi sumpitnya, lalu memutar-mutarnya pelan. "Kapan pestanya?"

"Tiga hari lagi." balas Anko. Lalu matanya menatap ke arah belakang Naruto. "Aku menunggumu jam delapan pagi." tambahnya

Mata Naruto langsung menatap lawan bicaranya. "Aku belum setuju."

"Aku akan menunggumu."

Ketika Naruto hendak menyela satu teriakan berhasil menghentikannya.

"Naruto!"

Naruto kembali menurunkan sumpitnya, saat suara seorang perempuan kembali terdengar dibelakangnya.

"Ah... Anko-sensei. Aku ada perlu dengannya." Kata perempuan berambut merah di sampingnya.

"Ayo ikut aku sebentar."

Tidak menunggu jawaban dari Naruto, Sara membawa lelaki itu menjauh dari kantin.

"Aku belum menghabiskan ramenku." Sela Naruto, namun meski begitu sepertinya ia langsung di seret begitu saja.

Mereka berjalan cukup jauh, memasuki kawasan bangunan sekolah yang sudah tidak terpakai.

Sebenarnya Naruto tidak mengerti apa yang akan di lakukan perempuan merah di depannya, tapi dia tidak banyak bertanya.

Masuk ke ruangan olahraga lalu mengedap seperti pencuri.

Naruto ikut berhenti saat Sara berhenti, lalu berbalik dan menatapnya. "Stttt... jangan berisik." kata Sara pelan.

"Di lubang ini kau akan tau sifat dari pacarmu." Tambah perempuan merah itu.

Meskipun ekspresi datar Naruto tidak menunjukan emosi yang berlebihan, dia cukup atau bisa dibilang sangat kesal. Melihat pacarnya di gabang beberapa Peria.

"Aaakh... apa kau menikmatinya Sasuke-kun?" Tanya Sakura, satu peria di belakangnya terus menggenjotnya.

"Aku akan menikmati hal seperti ini kalau kau memohon di depan kamera." Kata Sasuke dengan satu kamera di tangan kanannya yang di arahkan pada wajah Sakura.

"Kau tahu..." kata Sara, ia menoleh menatap wajah Naruto yang tidak bereaksi apapun. "Mereka sering melakukannya."

Satu alis Naruto terangkat, dan menatap balik perempuan di sampingnya. "Bagaimana kau tau kalau mereka sering melakukannya?"

"Aku sering mengikuti mereka.. Awww."

Satu kepalan tangan menghantam keras kepala Sara, cukup untuk membuat perempuan itu memegang kepalanya menggunakan kedua tangan.

"Dasar perempuan bodoh." kata Naruto pelan, namun masih bisa didengar oleh Sara. "Kau bisa bahaya kalau ketahuan mereka."

"Seharusnya kau marah." balas Sara dengan ekspresi cemberut, tadinya dia berharap ada sesuatu yang besar terjadi. Tapi dugaannya salah.

"Aku marah tapi bukan karena mereka." Naruto menatap lurus perempuan itu "Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu."

"Kau kawatir padaku?" Tanya Sara asal.

"Tentu saja." Walau bagaimanpun, Sara adalah sepupunya mungkin itu yang ada di kepala Naruto.

"Ayo... sebaiknya kita keluar." Kata Naruto balik menyeret Sara.

Namun tidak ada jawaban apa pun dari perempuan sebelahnya.

Akibat ketidak fokussan Sara, dengan tidak sengaja ia menyenggol besi di sebelahnya.

Trankk Trank

Suara besi yang terjatuh itu membuat empat orang diruangan sebelah seperti mendapat kejutan.

"S-siapa disana!"

"Lari!" Kata Naruto ketika mendengar teriakan yang sangat cukup kencang.

"Ayo cepat."

0000

"Hihi... tadi itu hampir saja." Entah kenapa walaupun menegangkan itu terasa sangat menyenangkan untuk Sara.

Namun sepertinya itu berbanding terbalik dengan Naruto.

"Jangan melakukan hal yang bodoh." Kata Naruto sedikit datar. Sukses merubah ekspresi perempuan itu.

"Hei aku melakukannya untukmu." Kata Sara sedikit tersinggung dengan apa yang Naruto katakan.

"Itu tidak perlu."

"Setidaknya hargai usahaku," balas cepat Sara.

"Usaha?" Tanya Naruto dengan satu alis terangkat.

"Aku melakukannya untukmu."

Walau kalimat Sara sangat pelan, tapi itu masih dapat di dengar oleh Naruto.

Membuatnya menarik napas, Naruto cukup tau kepedulian perempuan itu padanya.

"Aku hanya mengkhawatirkan mu," balas Naruto dalam. Membuat perempuan itu terdiam, ada keheningan yang melanda keduanya.

"Kau mau Kemana?" Tanya Sara ketika Naruto berbalik dan berjalan menjauh.

"Pulang."

"Kenapa tiba-tiba pulang," gumam Sara sedikit cemberut.

"Aku ikut!"

0000

"Sebaiknya kau masuk dulu." Mata Sara melihat Naruto yang tidak jauh sepertinya, basah dan terlihat kedinginan.

Karena buss yang ditumpangi mereka berhenti cukup jauh dari rumah Sara, membuat keduanya menerobos hujan lebat yang terlihat akan lama.

"...baiklah," balas Naruto setelah ada keheningan beberapa saat. Pria itu mengikuti Sara dari belakang saat perempuan itu masuk kedalam.

"Ah, Naruto-kun? Bagaimana kabarmu?"

Naruto langsung menoleh saat suara yang tak asing masuk kedalam telingannya, perempuan berambut merah yang akhir-akhir ini sering datang kerumahnya. "Sangat baik, baa-san."

"Bagaimana dengan Kushina?" Tanya lagi Mito.

"Kaa-san juga baik."

"Ini, keringkan badanmu."

Naruto menerima handuk yang diserahkan Sara, setelah berjalan ke arah kamar mandi.

Mata Sara sedikit melirik ponsel Naruto yang tergeletak di atas meja, dengan sedikit ragu ia mengambilnya.

Tidak ada keamanan apa pun ketika Sara membuka ponsel itu, namun hal pertama yang ia lihat ketika membuka ponsel itu...

"Apa yang kau lakukan?"

Braak

Suara Naruto benar-benar membuat perempuan itu kaget sampai ponsel di tangan Sara jatuh.

Naruto mengambil ponselnya yang tercecer di lantai, dan menyusunnya kembali.

Suasana tiba-tiba menjadi sunyi ketika Naruto menyusun kembali ponselnya.

"Jika kau berpikir aku marah karena hal tadi kau salah." Kata Naruto datar, namun tidak dingin.

"Bukan soal itu..." sela Sara tiba-tiba. Matanya langsung tertuju pada pria pirang di depannya. "Naruto, perempuan berambut hitam itu..."

"Dia pacarku."

"Bukannya Sakura pacarmu?" Tanya Sara sedikit bingung. "Jangan bilang kalau kalian memang sudah putus.. atau kau seorang-"

"Jangan memikirkan hal yang aneh-aneh," Potong Naruto cepat. Lalu mengambil tasnya. "Aku mau piulang."

TBC

0000

Beberapa kalimat hilang dan ruasak

Req di tampung.