"Ingat, pulang sekolah harus kerumah Tou-san."
"Iya,iya, aku mengerti."
"Aku menunggumu Namikaze."
Tuut tuut tutt
Suara sambungan telpon terputus terdengar dari ponsel Naruto setelah pria itu selesai menelpon.
Naruto menatap langit dengan wajah masam, hujan sudah terlihat turun beberapa menit yang lalu. Ibunya memang menyuruhnya membawa payung, tapi bukan itu alasan dia tetap diam dikoridor sekolah sekarang.
Ah, kenapa aku jadi ingat Sara? Pikir Naruto saat dia tidak melihat perempuan merah itu masuk sekolah hari ini. Apa dia sakit?
"Kenapa tidak langsung pulang?"
Suara seseorang dari arah belakang langsung membuyarkan lamunannya, membuat Naruto menoleh ke belakang lewat bahunya. "Kau bawa panyung?"
"Aku mau ikut denganmu." Ekspresi senyum Ino membuat Naruto kembali melihat kedepan dengan ekspresi kusutnya, yang benar saja. Naruto kembali menatap kedepan lalu menyerahkan payung di tangannya saat perempuan pirang itu sudah berdiri disampingnya. "Kau saja yang pakai, aku akan menunggu hujan reda."
Ino terlihat tidak suka saat mendengar kalimat yang terdengar datar dan kesal dari pria disampingnya. "Memangnya kenapa, kau tidak suka kalau aku ikut?"
"Aku tidak suka basah." Balas Naruto singkat, "Lagi pula payung yang ditanganku ukurannya hanya cukup untuk satu orang."
Ino terdiam untuk beberapa alasan, lalu ia menatap halaman sekolah yang sudah diguyur hujan. Dan disekolah terlihat hanya tinggal mereka berdua, perempuan itu melirik Naruto lewat ujung matanya, jadi dari tadi dia belum pulang hanya menungguku? Tanya Ino dalam hati. "Kalau begitu aku akan menunggu hujannya reda."
Setelah mendengar balasan dari Ino, Naruto menarik kembali tangannya yang dipakai untuk memberikan payung tadi. "Hujannya akan lama."
"Aku tahu," balas Ino cepat.
Perempuan itu mengeratkan kedua tangannya, saat tubuhnya merasakan perubahan suhu. "Udaranya juga semakin dingin."
Ino melirik Naruto kesamping. "Hei Naruto, bagaimana kalau kita menunggu hujan berhenti diruangan yang sedikit hangat… ruangan UKS misalnya."
0000
Suara reketan ranjang menghiasi ruangan UKS saat ini, Ino terus menjilat sesuatu yang dipegangnya. Sesekali perempuan itu mengocoknya sebelum memasukannya kedalam mulut dan menghisapnya.
"K-kau memang perempuan yang bisa di andalkan Ino." Ereg Naruto sedikit memejamkan matanya, menikmati hisapan yang diberikan oleh perempuan dibawahnya.
Naruto tidak pernah menyangka kalau alasan Ino mengajaknya ke UKS hanya sekedar untuk apa yang disebut perempuan itu bersenang-senang.
Posisinya sekarang Naruto duduk di pinggir ranjang sementara Ino dibawahnya terus menjilati penisnya.
Sensasi nikmat dan basah dari mulut Ino membuat Naruto benar-benar nikmat, apalagi hisapan yang dilakukan Ino membuat Naruto hampir klimaks.
Pira itu sudah merasakan sensasi penisnya yang mulai berkedut nikmat. "A-aku keluar!"
Croot Crot Croot
Cairan sperma Naruto keluar cukup banyak, tapi tidak membuat Ino tersedak. Glek. Dengan sekali tegukan Ino meminumsemuanya. "Rasanya masih sama."
Dari bawah Ino menyeringai saat melihat Naruto dengan nafas yang tidak teratur, "Sekarang kemana wajah datarmu yang tadi?" tanya Ino sedikit mengejek.
Tangan perempuan itu kembali sedikit mengocok penis besar didepannya, membuat Naruto menatap kebawah.
"Mau melanjutkannya?" tanya Ino.
"Aku ingin merekamnya." Kata Naruto tiba-tiba.
"Eh, tapi…" Ino memasang ekspresi bingung dan terlihat berat.
"Saat SMP kita belum pernah melakukannya kan?" tanya Naruto dengan tangan sedikit mengelus rambut perempuan dibawahnya. Berharap Ino akan mau melakukannya, memang ini bukan kali pertama mereka berhubungan sex.
Dulu saat masih tetangga, mereka sering melakukannya hampir setiap hari. Dikamar Ino, disekolah, bahkan Naruto tidak bisa menghitung sudah berapakali mereka melakukan hal seperti ini.
Tapi paska perceraian kedua orang tuanya, memaksa Naruto harus pindah rumah untuk tinggal dengan Kushina. Tentu meninggalkan perempuan pirang dibawahnya juga, padahal menurutnya ia juga sedikit sayang harus melepas perempuan secantik Ino.
"Baiklah…" kata Ino mantap, lalu berdiri dan mendekatkan wajahnya pada Naruto. "Tapi itu tidak geratis loh~"
"Apa yang kamu mau?" tanya Naruto terlihat bingung, karena ini pertama kalinya perempuan itu meminta sesuatu darinya.
"Saat libur nanti, kita kencan."
"Hanya itu?" tanya Naruto dengan satu alis naik ke atas. "Tapi bukannya kamu sudah punya pacar?"
Mata Ino menatap kearah lain, perempuan itu terlihat berpikir sebelum kembali menatap Naruto. "Aku tidak terlalu peduli."
0000
Ino duduk di pangkuan Naruto, mengaitkan kedua tangannya pada leher pria didepannya, sementara kedua tangan Naruto itu memeluk tubuh ramping Ino dengan erat.
Sebisa mungkin membuat jarak keduanya memudahkan Naruto untuk mencium dan melumat bibir Ino.
"Hmmmph~"
Eregan Ino terdengar meredu ditelinga Naruto, pria Itu memperdalam ciumannya dengan memasukan lidahnya lebih dalam di mulut Ino. Sesekali menghisap lidah perempuan di depannya saat lidah Ino mencoba mengatikannya.
Ciuman itu berhenti ketika keduanya membutuhkan pasokan oksigen, Naruto merubah posisinya dengan membaringkan tubuh Ino di ranjang, menindihnya. Mencium kembali bibir Ino dengan menelusuri setiap rongga basah dari mulut perempuan dibawahnya.
Menyatukan saliva yang sudah terlihat sangat berceceran sampai mengotori seragam keduanya, sensasi yang manis dari mulut Ino membuat Naruto tidak bisa berhenti mencium perempuan dibawahnya.
"Aaah… Ino."
Setelah Naruto melepas ciumannya ia kembali melanjutkan menelusuri leher perempuan itu, menjilat dan memberikan beberapa kissmark. Kedua tangannya meremas payudara Ino yang masih dibungkus bra dan seragam.
Naruto membuka lebar kedua kaki Ino, lalu menyibak celana seragam Ino keatas. "Seperti biasanya kamu tidak pernah menggunakan celana dibalik seragamu Ino."
Entah kenapa kalimat dari Naruto membuat wajah Ino sedikit memerah, perempuan itu juga mulai merasakan gesekan dari benda besar dan hangat dari bibir vaginanya.
Tangan Naruto memegang penisnya semetara satu tangannya melebarkan kaki Ino.
Sleph
"Aaaakhn~"
Ino mendesah kencang saat penis Naruto masuk sangat dalam divaginanya, apa lagi penis besar Naruto terasa menubrak-abrik vaginanya ketika lelaki diatasnya langsung menggenjotnya keras. Namun itu memberikan kenikmatan yang selalu ia inginkan ketika melakukan sex.
"Aaakhn~ Na-naruto…"
Desahan Ino entah kenapa membuat tubuhnya terasa lebih nikmat, membuat Naruto mempercepat genjotan perempuan di bawahnya.
"K-kamu Aaakh~ lang-sung bermain kasar Aaakh~"
Plook Plook Plook
Suara benturan keduanya terdengar memenuhi ruangan UKS yang mereka tempati, apa lagi tidak adanya orang lain diruangan itu membuat keduanya lebih leluasa.
"I-ino, vaginamu sangat nikmat."
Mendengar kalimat Naruto barusan, wajah Ino terlihat memerah. Perempuan itu menatap Naruto yang menggenjot dari atasnya. "A-apa Aaakhn~ kamu."
"Baagaimana Ino?" tanya Naruto menatap Ino yang terlihat menikmatinya dengan memejamkan matanya. Kedua tangan perempuan itu meremas seprai dibawahnya saat Naruto mempercepat genjotannya, untuk memudahkan gerakannya Naruto meyimpan kedua kaki Ino di pinggangnya.
"Sangat-Aaakh~menyukainya." Kata Ino, penisnya s-sangat besar pikir Ino. Berberda dengat terakhir mereka melakukan seks.
Perempuan itu memejamkan matanya, terus menikmati penis Naruto yang mengaduk didalam. "A-aku mau keluar."
Ino merasakan tubuhnya menegang, saat tubuhnya benar-benar menikmatinya.
Croot Croot
Sebenarnya Naruto sedikit kecewa saat Ino klimaks begitu cepat, namun pria itu berinisiatif untuk merubah posisi Ino dari berbaringnya.
"Ino…" kata Naruto mencoba mengangkat tubuh perempuan itu agar menungging dan membelakanginya. "DoggyStyle."
"B-baiklah." Menuruti apa yang Naruto mau, Ino berdiri lalu membelakangi pria itu.
"Aaaakhn~" desahan Ino kembali keluar ketika Naruto tidak memberinya jeda untuk istirahat. Pria itu kembali menggenjotnya dari belakang.
"Vaginamu masih sempit," kata Naruto , tubuhnya terus menggenjot Ino dari belakang. Menikmati sensasi basah dari vagina gadis Yamanaka itu yang terasa nikmat dengan menghimpit kuat penisnya. "Rasanya aku ingi me-melakukan ini setiap saat denganmu."
Dengan keadaan Ino di genjot dari belakang, perempuan pirang itu menoleh kearah belakang lewat bahunya saat mendengar kalimat dari Naruto. "Aaakh~Bukannya-k-kamu-bisa-Aaakh~melakukannya setiap hari denganku?"
Entah kenapa kalimat yang dikeluarkan Naruto sebelumnya membuat Ino sedikit berdebar, N-naruto masih menginginkan'ku? Tanya Ino dalam hati dengan wajah bersemu merah.
"Bagaimana dengan kekasihmu?"
"J-jangan-Aaakhn~membicarakannya," kata Ino entah kenapa meski Naruto terus memasukan penisnya cepat, kalimat sebelumnya membuat suasana hati Ino sedikit down.
"Dasar perempuan tukang selingkuh."
"A-aku ingin keluar…"
Ekspresi Ino berubah panik saat Naruto mempercepat gerakan pinggangnya, terlihat tidak akan mengeluarkan penisnya langsung.
Croot Croot
"Kau mengeluarkannya di dalam, Naruto."
Tubuh Ino langsung ambruk saat merasakan sesuatu yang hangat masuk kedalam tubuhnya, napasnya sedikit cepat. Perempuan itu bahkan tidak bereaksi apa'pun saat Naruto memeluknya lagi dari belakang.
Ino merasakan penis itu terus mengeluarkan cairan sperma di dalam tubuhnya.
0000
Naruto menghela napas saat laju kecepatan buss mulai menurun, kepalanya menoleh pada perempuan disampingnya.
"Ino…" Naruto sedikit mengguncang perempuan itu yang tidur dibahunya. "Hei, Ino kita sudah sampai."
Perempuan itu mengerjap-nejapkan matanya lalu menatap keluar jendela, mengetahui buss itu mulai berhenti Ino mulai bicara. "Kita sudah sampai, ya."
"Hmm… Cepat turun."
Keduanya berjalan keluar besamaan.
"Kamu turun disini juga?" tanya Ino sedikit heran, karena yang perempuan itu tahu Naruto tidak pernah pulang kerumah disini lagi sebelumnya.
"Aku ada perlu sebentar dengan Tou-san."
Ino hanya menganguk mengerti, perempuan itu sesekali menguap saat berjalan pulang. Jarak dari rumah Ino kehalte buss membuat keduannya harus sedikit berjalan kaki.
"Kau masih ngantuk?" tanya Naruto tanpa menatap lawan bicaranya. "Mau aku gendong?"
"Romantis sekali." Ejek Ino saat mendengar kalimat Naruto, tapi bukan tawaran Naruto yang membuat perempuan itu mendengus. Tapi karena rumah Ino tinggal berjarak tidak lebih dari 15meter.
"Kau akan menginap?" tanya Ino saat keduanya sudah berdiri didepan rumah bertingkat sederhana, yang menjadi tujuan Naruto.
Kepala Naruto hanya menggeleng. "Tidak, aku hanya kesini sebentar."
"Kalau mau, kamu bisa menginap di rumahku, lagi pula Kaa-san dan Tou-san tidak ada dirumah untuk waktu yang lama." Kata Ino pelan, lalu mendekat kearah Naruto dan berbisik ditelinga kanan pria itu. "Aku akan menuruti semua perintahmu selama ada dirumah."
"Kedengarannya sangat bagus," balas Naruto, dia memang bisa melakukan apa'pun. Menjadikan Ino sebagai 'kelinci percobaan', namun mengingat Kushina pasti menunggu, pria itu mengurungkan niatnya. "aku akan langsung pulang setelah ini."
"Begitu… kalau begitu aku pulang dulu." Kata Ino sedikit memberi jeda kalimatnya, tak lama setelah itu Ino melambaikan tangannya dan berjalan menjauh dari Naruto, untuk pulang.
Satu tarikan napas dikeluarkan Naruto saat melihat rumah didepannya, sebelum masuk pria itu melihat papan nama yang bertuliskan Namikaze dari pagar tembok rumah itu.
0000
Tok tok tok
"Siapa?"
Suara seorang perempuan dari dalam membalas ketukan pintu Naruto, saat pintu dibuka dia melihat seorang perempuan yang terlihat lebih muda darinya. Rambut yang dipotong pendek, rok pendek di atas lutut dan baju lengan pendek, menurut perkiraan Naruto perempuan itu masih sekolah di bangku SMP. "Aku mencari Namikaze-sama."
Naruto mengatakan kalimat itu dengan nada datar namun dengan sopan berlebihan.
"Tunggu sebentar." Ada ekspresi bingung saat Rin mendengar kalimat dari pria didepannya, namun perempuan itu menankisnya dengan memanggil ayahnya. "Tou-san! Ada yang mencarimu!"
"Siap? Penjual barang? Tou-san tidak membutuhkannya!"
Dahi Naruto sedikit berkedut mendengar jawaban dari ayahnya, apa dia tidak bisa mellihat dulu sapa yang datang? Pikir Naruto.
Saat Rin akan mengatakan sesuatu, Naruto memotongnya cepat. "Aku Naruto."
Rin terdiam untuk beberapa detik, sedikit bingung. Lalu kembali berteriak dengan nada yang sedikit lebih rendah. "Dia bilang dia Naruto!"
0000
Minato tersenyum ramah melihat Naruto yang memasang wajah gelap, apapun alasan anaknya memasang ekspresi seperti itu sepertinya dia mempunyai sedikit kesalahan.
Untuk mencoba meredakan suasana hati anaknya Minato mengumpulkan seluruh keluarganya, untuk sedikit mengenalkannya pada Naruto.
"Perkenalkan keluarga barumu." Minato menunjuk dari perempuan paling kanan. "Rin, dia adikmu, Shizuka…" Minato terlihat berpikir, tapi mengingat Shizuka sudah keluar sekolah lebih dulu- "Mungkin kakakkmu, dan... dia Shizune ibumu."
Namun sepertinya satu dari antara tiga orang itu tidak menyukai Naruto, terbukti dari tatapannya yang terlihat tidak menyukainya. "Jangan pernah berharap! Aku tidak akan pernah mengakuinya sebagai keluargaku!"
Setelah mengatakan itu perempuan yang Minato sebut sebagai 'kakak' itu langsung berjalan menjauh.
"Shizuka!" kata Shizune dengan suara tinggi, perempuan itu menghela napas saat Shizuka berlari menaiki tangga untuk kelantai dua. Tatapannya beralih pada Naruto. "Naruto-kun maafkan Sihizuka."
Ekspresi Naruto tidak menunjukan reaksi apa pun, bahkan terkesan tidak terlihat mempermasalahkan'nya. "Tidak apa, terkadang seseorang perlu waktu untuk menerima sesuatu yang tidak diharapkannya."
"Ah, kamu memang orang yang baik." Shizune tersenyum dengan mata tertutup.
"Tentu saja, mirip dengan ayahnya kan?" Minato merangkul pundak Naruto akrab.
"Tentu saja…" kata Shizune dengan ekspresi masih tersenum. "Beda." Perempuan itu tertawa melihat runtuhnya kepercayaan diri Minato.
Naruto melirik kesamping bawah saat seseorang menarik-narik baju seragamnya. "Jadi, boleh aku memanggilmu Naruto-niisan"
Seorang perempuan yang tadi membukakan pintu untuknya. "Tentu, aku tidak keberatan."
Perbincangan mereka ditutup oleh Minato yang membawa remaja pirang itu ke ruangan kerjanya, dan mengatakan alasan sebenarnya dia memanggil Naruto. Minato hanya menginginkan bahwa setelah kelulusan sekolah Naruto nanti, Naruto tidak perlu meneruskannya ke universitas.
Minato mengatakan bahwa setelah Naruto lulus, dia akan mempekerjakannya di perusahaannya. Bukan karena alasan lain, tapi Minato berpikir karena Naruto akan menjadi penerus dari perusahaan itu nanti.
"Jangan mimpi terlalu jauh Tou-san, aku perlu kuliah dulu sebelum bekerja diperusahaan." Tolak Naruto sedikit halus, bukannya berlebihan jika dia langsung bekerja tanpa keahlian apapun. Setidaknya itulah yang Naruto pikirkan sekarang.
"Kau akan langsung bekerja di perusahaan Tou-san, untuk urusan kemampuan Tou-san akan memberikanmu mentor." Kata Minato tidak mau kalah. "Lagipula untuk apa kulian kalau ujung-ujungnya kamu akan memegang perusahaan Tou-san."
Naruto menggaruk kepalanya bingung, disatu sisi dia tidak bisa apa-apa. Tapi melihat ayahnya yang tidak mau kalah itu sedikit menggangunya, "Baiklah, kita lihat saja nanti."
0000
Shizuka memeluk bantal didekatnya erat, lalu merubah posisinya untuk melihat langit-langit kamarnya. Namun suara pintu yang dibuka membuat perempuan berambut hitam itu menoleh, ekspresinya mengeras saat melihat siapa yang masuk.
"Apa yang kau lakukan dikamarku?!" bentak Shizuka saat melihat pria yang tidak ingin dilihatnya saat ini bersandar di pintu kamarnya. "Keluar!"
"Ini rumah ayahku, berarti rumahku juga."
"Ayah, huh… Kalau begitu aku yang keluar." Dengan sekali gerakan Shizuka berdiri dan berjalan kearah pintu keluar.
"Maafkan aku."
Langkahnya langsung terhenti saat mendengar kalimat yang dikeluarkan Naruto, perempuan itu menundukan kepalanya. "Apa ini alasanmu meninggalkanku?"
Satu helaan napas keluar dari Naruto, dulu dirinya pernah mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan perempuan itu. Namun karena alasan yang sudah jelas, Naruto pikir dia tidak perlu menjelaskannya pada perempuan itu. "Terkadang tidak semua yang kita rencanakan berjalan lancar dalam sebuah kehidupan."
"Bodoh! Aku tidak mau bertemu denganmu lagi!"
0000
TBC
