Naruto menatap layar ponselnya, dia hanya melihat beberapa pesan masuk. Namun pria itu tidak membalasnya, Sakura, Tsunade dan Sara, pesan itu dari ke tiga perempuan itu.
Diruangan tamu dengan televisi yang menyala Kushina memeluk tubuh pria disampingnya, membuat pria itu menoleh kearahnya. "Akhir-akhir ini Naruko terlihat menempel sekali padamu."
Nada suara tidak suka dari Kushina tidak membuat Naruto protes, pria itu hanya menganguk untuk menanggapinya. "Hmmm , aku juga merasa begitu."
"Jangan memanjakannya, Naruto." Gumam Kushina dengan intonasi bicara yang masih sama.
"Memanjakan?" tanya Naruto tidak mengerti.
Kushina menatap lurus mata biru milik Naruto, tatapannya lembutnya berubah tajam. Membuat Naruto merinding. "Kamu terlalu bersika lembut padanya."
Tidak ada jawaban yang dikeluarkan Naruto, sebelum menggaruk pipinya dan kembali melihat acara TV yang di tontonnya. "Itu wajar Kaa-san, dia adiku."
"Itu tidak wajar." Protes Kushina cepat, masih menatap tajam Naruto.
"Nii-sama…"
Kushina memasang wajah masam saat suara Naruko terdengar dari tangga, dengan cepat perempuan berambut merah itu melepaskan pelukannya menghindari agar Naruko tidak melihatnya.
"Kenapa?" tanya Naruto saat tiba-tiba Naruko berlari dan memeluknya dari kiri, mengabaikan tatapan Kushina di sebelah kanannya.
"Malam ini aku tidur denganmu lagi ya?" tanya Naruko dengan wajah menatap Naruto penuh harap.
"Apa maksudnya dengan lagi?" gumam Kushina pelan, tapi masih bisa didengar oleh Naruto.
Naruto hanya menanggapi Naruko dengan mengacak rambut pirang adiknya, kebiasaan yang selalu dilakukannya dari dulu. "Kamu sudah besar, kenapa kamu tidak tidur sendiri?"
"Aku takut."
"Kenapa tidak tidur dengan Kaa-san?"
Naruko menatap Ibunya yang entah alasan kenapa membuat tubuhnyanya sedikit merinding. "Aku tidak mau," Naruko menggelengkan kepala cepat, lalu menatap kembali Naruto. "aku hanya mau denganmu."
"Mencurigakan." Kata Kushina menatap Naruto dengan pandangan menyipit.
"Oh, iya… tadi Tou-san menelponku." Ucap Naruto mengubah topik pembicaraan, sukses merubah ekspresi keduanya.
Naruko memperpendek jarak denagn kakaknya, mencoba mendengarkan perbincangan selanjutnya agar lebih jelas.
"Apa yang dia mau?" tanya Kushina cepat dengan suara tidak bersahabat.
"Dia menyuruhku untuk kerumah lama."
"Aku tidak akan mengizinkanmu, Naruto." Emosi Kushina terlihat mulai tidak baik, perempuan berambut merah itu bahkan mengatakan kalimatnya dengan suara keras.
Naruto mengambil tangan Kushina sebelum mengecupnya pelan, serambut merah dengan terlihat jelas di wajah Kushina. Perempuan itu tidak pernah berpikir kalau Naruto akan melakukannya didepan adiknya. "Aku janji tidak akan meninggalkanmu."
Satu kalimat yang hanya Kushina mengerti- sementara Naruko- dia hanya menatap Kushina dan Naruto bergantian. Tidak terlalu mengerti dengan pembicaraan kedua orang di depannya, intinya Naruko tahu bahwa kakakknya tidak akan meninggalkan rumah ini.
"Maaf aku tidak meminta izin darimu Kaa-san tapi aku sudah kesana."
Ada ekspresi kecewa terlihat dari wajah Kushina, namun perempuan itu mengalihkannya dengan kembali bertanya. "Apa yang kalian bicarakan."
"Tou-san menyuruhku untuk langsung belajar memegang perusahaan, dia bilang akan memberiku mentor."
"Aku tidak memaafkanmu," gumam Kushina pelan.
"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?"
Kedua orang itu menatap Naruko yang melihat mereka dengan tatapan tidak mengerti, ada jeda sebelum Naruto kembali berbicara. "Naruko, bagaimana kalau Kaa-san menikah lagi?"
Pertanyaan Naruto membuat Kushina sedikit keget, sementara Naruko terdiam dengan tampang berpikir.
"Aku tidak mau punya ayah baru," kata Naruko terlihat tidak suka. Terbukti dari ekspresinya yang berubah cemberut, mengembungkan pipinya.
Ekspresi yang dikeluarkan Naruko hanya membuat Naruto tertawa pelan. "Bagaimana jika aku menjadi ayahmu?"
Kali ini ekspresi kaget benar-benar terlihat dari wajah Kushina.
"Apa nantinya aku boleh tidur denganmu?" tanya Naruko polos, walau tahun ini perempuan itu masuk Konoha High School namun sepertinya tidak tahu makna sebenarnya dibalik kalimat Naruto.
"Tentu saja."
"Kalau begitu Nii-sama jadi ayahku saja."
Jawaban yang keluar dari mulut Naruko itu sukses membuat Naruto di hadiahi lemparan bantal oleh Kushina.
0000
Hari ini adalah hari minggu, berbeda dengan hari libur seperti biasannya. Pagi ini Naruto terlihat sudah bangun dengan kemeja yang rapi, dia menatap pantulan dirinya dari cermin, merasa pakaiannya sudah rapi Naruto keluar dari kamarnya. Ketika pria itu menuruni tangga kepalanya langsung menoleh pada ibunya yang sedang berkumpul dari ruangan tamu, dan beberapa orang yang selalu datang ke rumahnya.
"Kamu sudah rapi."
Naruto tersenyum tipis saat mendengar kalimat dari Kushina, dia tidak langsung menjawab sebelum mendekat dengan ibunya. "Aku ada janji dengan teman, Kaa-san."
"Pasti kencan ya?"
Pertanyaan dari perempuan berambut merah dibelakang Kushina membuat Naruto tersenyum. "Bukan Baa-san, Ah… aku tidak melihat Sara di sekolah kemarin… apa dia baik-baik saja?"
"Dia hanya sedikit demam." Balas Mito pelan.
"Mungkin aku mengunjunginya sore," kata Naruto membuat Mito tersenyum tipis. "Terima kasih."
Kepala Naruto kembali menoleh pada Kushina. "Aku berangkat dulu Kaa-san."
"Hati-hati di jalan."
0000
Tok tok tok tok tok tok tok tok tok
Suara ketukan pintu apartemen yang tidak berhenti benar-benar menggangu Anko pagi ini, penampilannya terlihat masih berantakan, bahkan rambutnya belum ia ikat sama sekali. Tapi perempuan itu tidak peduli, dia akan langsung menghajar orang itu jika tidak ada keperluan penting yang tidak ada sangkut paut dengannya.
Tok tok tok tok tok tok tok
"Iya, iya tunggu sebentar," Anko menjawab dari ruangan tamu sedikit keras. "Orang bodoh mana yang mengetuk pintu apartemenku sepagi ini…"
Clek
Tatapan Naruto berubah muram saat orang yang di lihatnya tidak seperti apa yang ia harapkan, saat matanya melihat Anko dari ujung kaki hingga kepala. Perempuan itu masih dibalut selimut tebal, yang hanya menyisakan kakinya yang putih mulus dari balik selimutnya.
Melihat ekspresi muram Naruto, Anko baru ingat bahwa hari sebelumnya ia meminta bantuan Naruto untuk urusannya.
"Aku pikir kamu sudah siap-siap sensei." Kata Naruto terdengar kesal.
Merasakan bahwa suasana hati Naruto sedikit buruk terlihat dari ekspresinya, dan karena itu adalah kesalahannya. Anko berinisiatif untuk menghilangkan rasa kesal Naruto dengan menatap sayu pria didepannya, ia mengeratkan selimutnya membuat pahanya yang mulus terlihat lebih jelas. Sedikit menggoda muridnya yang satu ini tak apa kan? Pikir Anko.
"Ah, Naruto-kun… ada apa mengunjungiku sepagi ini." Kata Anko dengan suara yang terdengar sexy.
"Ayolah sensei, aku tidak suka menunggu."
Kalimat yang dikeluarkan Naruto membuat Anko dengan gerakan pelan membuka pintu apartemennya, dan menyuruh pria itu masuk. Lalu menutupnya setelah itu.
Naruto masuk mengikuti Anko dari belakang dan tanpa disuruh'pun pria itu langsung duduk disofa ruangan tamu, tidak mengatakan apa'pun.
"Kamu tidak marah karena hanya aku belum memakai bajukan?" tanya Anko dengan segelas susu ditangannya yang dibawa dari arah dapur. Lalu meletakannya didepan Naruto, dan duduk dikursi yang satunya.
"Aku tidak marah… hanya sedikit kesal."
Anko menarik napasnya pelan melihat ekspresi Naruto. "Sebenarnya waktu acara dimulainya jam empat sore."
Perempuan itu sedikit menyesal mengatakan hal itu setelah melihat ekspresi Naruto menggelap.
Naruto merosotkan tubuhnya. "Lalu kenapa kau mengatakan jam delapan pagi kemarin."
Suaranya terdengar seperti keluhan, kalau tahu seperti ini Naruto lebih baik menghabiskan waktunya dirumah. "Kalau tahu seperti ini lebih baik aku pergi kencan dulu."
"Aku menyuruhmu ke tempatku untuk membantuku, bukan untuk mengeluh." Kata Anko pelan, untuk menahan Naruto agar tidak pergi, tiba-tiba satu rencana yang terlintas di kepala Anko. Tapa berpikir lama, Anko berjalan ke arah Naruto lalu duduk di pangkuan orang yang bersetatus sebagai muridnya.
Tidak menggunakan pakaian.
Hanya selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
"Melihat reaksimu sepertinya kau sudah sering melakukan itu'kan?" tanya Anko saat Naruto tidak bereaksi sedikit'pun. Padahal posisi mereka sudah dikatakan tidak wajar untuk ukuran seorang guru dan siswa.
"Melakukan itu apa sensei?"
"Seks… bagaimana kalau kita bermain apa yang selalu orang dewasa lakukan."
Anko mengangkat kedua tangnnya untuk mengikat rambut, namun karena selimut itu tidak di pegang membuatnya merosot kebawah. Memperlihatkan kedua payudaranya yang masih kencang dan terlihat nikmat jika diremas.
Tatapan Naruto tertuju pada segelas susu diatas meja, lalu beralih pada payudara kencang milik Anko. "Sensei, aku lebih tertarik dengan susu yang ini."
Tanpa aba-aba Naruto menyentuh payudara didepannya, lalu meremasnya pelan, sesuatu sensasi yang mampu membuat penisnya langsung menegang. Tidak menunggu lama Naruto memasukan pentil payudara itu ke mulutnya, membasahi dengan lidahnya lalu menghisapnya kuat.
"H-hei siapa yang menyuruhmu menghisapnya." Kata Anko setelah selesai mengikat rambutnya, sepertinya hisapan itu sangat berpengaruh besar untuk perempuan itu.
Anko mengalukan kedua tangannya pada leher pria didepannya, membiarkan Naruto menghisap kuat payudarannya.
"Aaaakhn~" desah Anko pelan.
Naruto sedikit menggigit putting itu sesekali, membuat tubuh Anko yang ada di pangkuannya sedikit menggeliat.
Plup
Suara lembut itu terdengar setelah Naruto melepaskan putting itu dari mulitnya, matanya menatap Anko yang terlihat mengatur napsnya yang cepat.
Anko tidak menyangka sentuhan yang dilakukan oleh muridnya membuat gairahnya sampai memuncak, perempuan itu menatap Naruto. Tangannya mulai menyentuh pakaian Naruto, membuka kemeja yang dikenakan pria itu.
0000
Naruto duduk di sofa dengan nyaman, pria itu menikmati setiap kegiatan yang dilakukan gurunya di bawah. Keduannya berada diruangan tamu dengan keadaan sudah tanpa pakaian, dengan kegiatan yang membuat suhu tubuh keduannya sedikit panas.
Anko menjilati penis Naruto sebelum memasukannya ke dalam mulut, mengeluarkannya dan memasukannya lagi. Perempuan itu melakukannya berulang ulang, sesekali Anko menghisap penis Naruto.
"Jadi bagaimama?" tanya Anko menatap wajah Naruto yang menutup matanya, Anko terus menjilati penis Naruto dari bawah. Tagan kirinya sesekali menusuk-nusuk vaginanya, melihat ukuran penis Naruto saja membuat Anko sudah berpikiran sangat gila.
"Aku tidak pernah menyangka akan seperti ini." Tentu saja, Naruto tidak pernah berpikir dia Akan melakukan hal ini dengan gurunya ini, apa lagi langsung di apartemen Anko sediri.
"Tapi kau menyukainya'kan?"
"Manamungkin aku menolaknya, kau sangat menggoda sensei."
Anko tersenyum tipis mendengar kalimat yang dikeluarkan muridnya itu, ia langsung mengulum penis didepannya. Ukurannya yang besar sedikit membuat Anko kewalahan, dia sedikit kesulitan untuk memasukan seluruh penis itu kedalam mulutnya.
"Aaakh~ sensei lebih cepat." Kata Naruto saat Anko menjilati dan mengocok penisnya.
"A-aku keluar!"
Croot Croot Croot
Seluruh cairan itu mengenai wajah dan beberapa bagian tubuh Anko seperti payudaranya, perempuan muda itu menjilat cairan putih di tangannya. "Kamu mau posisi apa Naruto?"
"Berbaring di sofa sensei."
Wajah Anko sedikit memerah saat dengan gerakan palan perempuan itu berdiri dan membaringkan tubuhnnya diatas sofa, sementara Naruto berdiri tidak jauh darinya.
Naruto menatap tubuh Anko yang membuat pria itu sangat terangsang, payudara yang kencang dan tubuh ramping Anko membuatnya tidak bisa berpikir lama.
"J-jangan menatapku seperti itu." Dengan wajah memerah Anko memeluk payudarannya, matanya tidak mendatap pemuda didepannya.
Naruto mengangkat kedua kaki Anko saat pria itu sudah berada di sofa, kedua kaki mulus itu ia simpan di pundaknya. Tangan kanannya memegang penis yang siap ia masukan pada vagina perempuan didepannya, "Aku akan melakuakannya sensei."
Sleph
Mata Anko membelak saat sesuatu yang besar masuk kedalam vaginannya, wanita muda itu sedikit melihat Naruto dari balik kelopak matanya. Penis yang sangat besar dan terasa panas dalam tubuhnya itu tiba-tiba membuat gairah Anko sedikit lebih naik, "Aaakhn~"
Desahan pertama Anko keluar saat Naruto mulai memaju mundurkan tubuhnya, terlihat memperdalam penisya.
"Kau menikmatinya kan sensei?" tanya Naruto tanpa menghentikan genjotannya.
"Aaakhn~ N-naruto…" Kata Anko, walau Anko menikmatinya. Perempuan itu tidak mungkin menjawab pertannyaan Naruto yang sebenarnnya. "Aaaakh~ p-penismu sangat besar."
Anko mengatakan kalimat kedua itu dengan wajah yang sedikit memerah.
"Aku tahu kau sangat menikmatinya sensei."
"A-aku Aakh~ N-naruto Aaakh~" Anko tidak menyelesaikan kalimatnnya saat Naruto mempercepat genjotannya, perempuan itu terus mendesah dibawah Naruto. Anko mempererat cengkramannya ketika kedua telapak tangan mereka disatukan.
"Aaakh~ aku tidak menyangka akan mendapatkan hal seperti ini." Kata Naruto terlihat kenikmatan saat menyetubuhi guru muda itu, ketika dia mengingat Anko hanya meminta bantuannya untuk pergi ke pesta, pria itu tidak pernah menyakan akan medapatka hal seperti saat ini.
"Lakukanlah-Aaakh~Aku… Aku." Anko tidak melanjutkan ucapannya saat perempuan itu tidak bisa berpikir jernih. "
Naruto menurunkan kedua kaki Anko dari pundaknnya, mengalihkan kaki mulus perempuan itu ke pinggangnya. Mencoba memperdalam genjotan penisnnya.
"Aaakhn~ Naruto… lebih cepat Aaahkn~"
P-penisnnya menyentuh ujung rahimku kata Anko dalam hati saat Naruto merubah posisinya.
"Sensei Aaakh~ tubuhmu…"
Naruto mempercepat genjotannya dengan kasar, penisnya mulai merasakan sensasi nikmat luar biasa.
Plok Plook Plok
"A-aku sudah tidak tahan…"
Croot Croot Croot
Naruto mencabut penisnya cepat, lalu menyemprotkan semua cairan sepermannya tepat di atas tubuh Anko. Napasnya terlihat sangat memburu, namun penisnya masih terlihat menegang. Pria itu langsung duduk diatas tubuh Anko, menyimpan menisnya yang besar diantara belahan payudara wanita muda dibawahnya.
"Kau belum puas?" tanya Anko saat Naruto mengambil kedua tangannya, lalu menyuruh Anko menghimpit penis milik pemuda itu di belahan dadanya.
Perempuan itu cukup terkejut kalau Naruto masih melanjutkan seks mereka.
"Bukannya kau belum keluar sensei?" tanya Naruto.
Tidak ada jawaban dari Anko memang perempuan itu belum keluar tapi niat awalnya hanya membuat Naruto puas agar tidak protes tapi sepertinya Anko akan mengubah pemikiran itu, perempuan itu menjepit penis Naruto menggunakan payudaranya. Meski sedikit sulit karena penis Naruto sangat besar, Anko terus memberikan service menggunakan payudaranya.
0000
Keringat keluar banyak dari tubuh keduannya, Naruto memeluk pinggang ramping Anko. Sementara satu kaki perempuan itu disimpan di pundaknya, keduannya melakukan seks cukup lama, bahkan Naruto sudah melakan beberapa posisi. Doggy diatas meja, menyetubuhi perempuan itu di lantai. Dan sekarang, Naruto menggenjot Anko dekat jendela kaca apartemen perempuan itu.
"Aaakhn~Ini sangatthn~ nikmat." Kata Anko tidak bisa menahan desahannya, untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh Anko meyimpan telapak tangannya di kaca. Sementara kaki kirinya diangkat tinggi oleh Naruto, dan kaki kanan menapak di lantai.
Sedangkan Naruto terus menggenjotnya dengan posisi seks berdiri.
"Penishn~ besarmu terasa mengaduk di dalam."
Naruto menyeringai mendengar kalimat yang keluar dari mulut Anko, membuat pria itu lebih cepat menggenjotnya. "Kamu menyukainya sensei?"
"AkuAaakhn~ menyukainyaAakhn~Berikan aku lebih dari ini." Ekspresi Anko memang masih terlihat menginginkannya, tapi liur yang keluar dari mulutnya membuat perempuan itu sangat mabuk.
"Aku juga menyukaimu sensei, tubuhmu sangat sexy."
"Aaakhn~Kalauh begitu berikhaan~ aku lebih."
Plok Plok Plok Plok
Suara benturan pinggang keudannya menghiasi suara diruangan itu, apa lagi sensasi basah dari vagina Anko membuat Naruto tidak menghentikan genjotannya begitu saja. Pria itu terus menggenjot Anko lebih cepat dari sebelumnya, bahkan ketika penisnya terasa mulai berkedut nikmat.
Tubuh Anko juga mulai menegang, Naruto tidak melepaskan malahan pria itu terus menggenjot tubuh Anko nikmat.
Croot Croot Croot
Naruto berhenti bergerak, dia merasakan kalau ia mengeluarkan banyak cairan putihnya didalam Anko.
Napas keduanya terlihat tidak teratur, dengan gerakan pelan Naruto mencabut penisnya menurunkan kaki jenjang Anko agar perempuan itu bisa menapak lagi ke lantai. Anko langsung duduk dilantai, cairan putih yang dikeluarkan Naruto didalam terus keluar dari vaginannya.
Anko mendongkak ke atas, melihat Naruto yang berdiri di hadapannya napasnya terlihat sama dengannya tidak teratur. "Bodoh… kau mengeluarkannya didalam."
Mendengar kata-kata itu Naruto hanya menatap ke arah lain, tidak menatap balik Anko. Jari telunjuknya sedikit menggaruk pipinya, dengan ekspresi aneh Naruto membalas perkataan Anko. "Mau bagaimana lagi, di dalam lebih enak."
Kepala Naruto langsung melihat ke bawah saat penisnya kembali merasakan sentuhan tangan, dan Anko sudah berada di bawahnya kembali menjilati penisnya.
"Kau terlihat masih kuat Naruto." Kata Anko saat tatapan mereka bertemu.
Seringai Naruto terlihat jelas saat Anko mengatakan itu. "Tentu saja, aku masih bisa membuatmu kembali mendesah di pelukanku sensei."
Perempuan itu kembali menjilati penis Naruto, membersihkan cairan sperma mereka berdua yang menempel pada penis Naruto dan mengulumnya kembali dengan mata terpejam.
Ada ekspresi bingung dari Anko saat tangan Naruto memegang kepalanya memaksanya mengeluarkan penisnya- menghentikan kegiatan mereka.
"Kita akan langsung pada permainan utama."
"Eh," Anko sedikit kaget saat Naruto memegang tangannya menyruruh perempuan itu bardiri dan memangku Anko kedalam pelukannya. Anko mengaitkan kedua tangannya pada leher Naruto saat pira pirang itu mengangkat keua pahanya agar kakitidak menyentuh lantai.
"Ah, kau suka posisi seperti ini?" tanya Anko saat Naruto menggendongnya kedalam pelukan pria itu, Anko mengecup bibir pelan Naruto sebelum mempererat pegangannya dengan mengaitkan kedua kakinya di pinggang Naruto.
"Aaakhn~"
Anko kembali mendesah keras saat penis besar Naruto kembali masuk kedalam vaginanya, terasa sangat mengaduk vaginanya dari dalam. "Aku-aku… rasanya aku mulai gila."
Tidak membalas racauan dari wanita yang sedang disetubuhinya, Naruto hanya membalas Anko dengan ciuman panas bibirnya.
"Hmmp~… Aaakhn~ Naruto lebihAaakhh~ cepat."
"Kenapa kau tidak menyukainya?" tanya Naruto ketika Anko melepaskan bibirnya.
"Aku menyukainnya."
0000
Setelah mandi dan berpakaian rapi, Naruto dan wanita muda disebelahnya berjalan keluar dari Apartemen yang ditempati Anko.
Keduannya terdiam saat berada didalam lift, Naruto menoleh ke arah wanita disebelahnya ketika Anko terus melihat kearahnya. "Kenapa menatapku seperti itu?"
"Sepertinya mulai dari sekarang kita memiliki hubungan khusus."
Naruto terdiam sampai lift yang mereka terbuka, lalu membalas kalimat Anko sebelumnya. "Mungkin."
"Hei, jalannya disana." Tunjuk Anko ke depan saat Naruto berputar melawan arah dengannya.
"Aku menyimpan kendaraan di basement," balas Naruto membuat Anko terdiam. Mau tidak mau Anko mengikuti pria itu ke tempat parkir, namun sebelum sampai di tempat tujuan-
Anko sedikit melongo saat melihat kendaraan yang dipakai Naruto, tidak pernah terpikir oleh perempuan itu kalau Naruto membawa kendaraan seperti– mobil sport. Apa lagi warnah kuning cerah membuat mobil itu terlihat sangat mencolok.
"Kau… menyewa mobil ini berapa?" tanya Anko tidak percaya, yang ia tahu Naruto bukan anak orang kaya seperti Nara atau Uchiha.
"Aku mencurinya dari kendaraan yang diparkir di jalan." Balas Naruto ketus, menurut pria itu ekspresi Anko terlalu berlebihan. Naruto menarik napas pelan mengingat saat Minato menelponnya kalau ayahnya mengantarkan hadiah untuknya, walau Kushina sebelumnya sedikit menolak.
Setelah Anko masuk Naruto mengendarai mobilnya mengikuti map dari ponsel yang terhubung pada kendaraannya, dia menatap jalan dengan pandangan bosan mendengar arahan Anko. Naruto sedikit heran saat Anko menyuruhnya berhenti ditempat yang tidak terpikir oleh Naruto sebelumnya, pria itu memarkirkan kendaraannya di depan restoran.
0000
"Jadi?" tanya Naruto dengan tatapan malas pada wanita muda di sebelahnya, dia sudah benar-benar bosan duduk dan menunggu direstoran ini. Naruto melirik jam tangannya yang berkedip menunjukan 04:22PM. "Kita sudah menunggu lama disini."
"Sebentar lagi…" gumam Anko pelan.
"Itu jwabanmu yang ke 13 kali, sensei." Balas Naruto dengan tampang masam.
"Sepertinya aku terlambat." Suara seorang perempuan dari arah lain membuat keduannya menoleh, rambut panjang dan pakaian kantoran yang rapi. Tanpa menunggu persetujuan dari Anko dan Naruto, perempuan itu menarik kursinya lalu duduk di tempat meja mereka.
"Jadi dia pacarmu?" tanya perempuan itu dengan satu alis yang naik ke atas, namun mendengar kata 'dia' membuat Naruto memasang ekspresi bingung.
"Kenapa?" kata Anko ketika melihat tatapan tidak percaya dari teman… sekaligus musuh lamanya. "Ganteng bukan?"
Tanpa memperhatikan sekitarnya Anko merangkul pria disebelahnya lalu mengecupnya pelan, walau Naruto memasang ekspresi biasa serambut merah terlihat menghiasi wajahnya.
"Sudah berapa lama kalian pacaran?" tanya Kurenai melihat Naruto penuh penilaian.
"Hampir tiga tahun."
Ada keheningan untuk beberapa saat, mendengar balasan Anko sebelumnnya membuat Kurenai terlihat tidak percaya. Anko berpacaran dengannya saat pria itu masih bocah?
"Kau bekerja?" Kali ini Kurenai bertanya pada remaja pirang disebrangnya.
"Aku bekerja."
"Dimana?"
Pertanyaan itu membuat ke heningan untuk beberapa detik, Naruto menatap Anko yang dibalas perempuan itu dengan tatapan diam.
"KuramaCrop." Kata Naruto pelan, dia mengambil minuman yang dipesan sebelumnya. Keadaan yang tidak diharapkan membuat Naruto memulai kebohongan untuk melancarkan rencana wanita disampingnya.
"Dibagian mana?" tanya Kurenai dengan tatapan ingin tahu, perempuan itu mengambil tanda pengenal dari tas yang dibawannya. "Aku bekerja di KuramaCrop."
Kurenai menyodorkan kartu pengenal tempatnya bekerja di atas meja, sukses hampir membuat Naruto tersedak dengan minumannya.
"Aku mulai bekerja bulan depan..." Kata Naruto sedikit mengang, sangat tidak pernah menyangka kalau itu yang akan keluar dari mulut wanita di depannya.
000
Naruto membuang napasnya kasar, ternyata Anko hanya menjadikannya tubal sebagai pacar palsunya, sialnya lagi orang yang dibohonginya membalas kebohongannya dengan balasan yang nyata.
"Nii-sama sudah pulang?"
Kepala Naruto menoleh menatap Naruko dan tersenyum tipis, kali ini dia disambut adiknya saat pulang kerumah. "Aku pulang."
"Kenapa?"
Naruto tidak langsung membalas pertannyaan Naruko, dia menjatuhkan tubuhnya disofa dekat adiknya. "Aku lelah."
Matanya melihat sekelilingnya ketika tidak melihat perempuan merah yang selalu menyambutnya saat pulang ke rumah. "Dimana Kaa-san?"
"Dia tidur di kamarmu Nii-sama, sepertinya Kaa-san ke lelahan setelah membereskan kamarmu."
"Kamu lelah kan?" tanya Naruko lalu perempuan itu menepuk-nepuk paha miliknya sendiri. "Mau tidur dipangkuan adikmu Nii-sama?"
"Tidak, terimakasih." Balas Naruto singkat, dia lebih memilih merebahkan tubuhnya di sofa untuk menikmati rasa nyaman.
"Aku tidak keberatan lho~" balas Naruto dengan nada menggoda dibuat-buat.
"Aku tidak mau."
Naruko tersenyum lebar, terlihat tidak akan berhenti menaklukan kakaknya. "Padahal aku sudah mandi, aku juga sudah wangi."
"Naruko…"
Mendengar kalimat lelah kakaknya membuat Naruko kembali menjauhkan tubuhnya dari Naruto, dan berbicara dengan nada ceria. "Ya, Nii-sama."
"Kamu belum tidur?" tanya Naruto mengubah topik perbincangan mereka.
"Aku menunggumu pulang, aku ingin tidur denganmu lagi." Balas Naruko masih dengan nada yang ceria, perempuan itu mendekatkan wajahnya. "Kamu senang?"
"Tidak sama sekali, sebaiknya kamu tidur dengan Kaa-san."
Naruko menggelengkan kepalannya cepat, lalu ekspresinya berubah cemberut dan melipat kedua tangannya. "Aku tidak mau, Kaa-san sangat menyeramkan kalau membangunkanku."
Keduannya terdiam, Naruko terus menggeser tempat duduknya- mempersempit jarak keduannya.
"Naruko…"
"Ya, Nii-sama?" balas Naruko cepat.
"Jangan terlalu dekat denganku."
Mendengar kalimat Naruto itu, Naruko tersenyum aneh lalu lebih mendekat pada kakaknya. "Bukannya Nii-sama bisa memeluku, aku tidak keberatan loh~"
"Tidak, Naruko… jangan terlalu dekat denganku."
"Kaa-san sedang tidur, bukannya itu kesempatan bagus untuk melakukan hal-hal mesum?"
Bletaak
Satu jitakan keras membuat Naruko sedikit menjauh dari Naruto, lalu tatapannya beralih pada orang yang memukul kepalannya.
"Kaa-san?"
"Apa maksudmu dengan hal-hal mesum?" tanya Kushina dengan tatapan membuat tubuh Naruko bergetar ketakutan, dengan gerakan cepat Naruko memeluk pria di sampingnnya. Membenamkan kepalanya di tubuh Naruto.
"Naruko cepat pergi tidur!"
"Aku tidak mau!" Naruko mengembungkan pipinya, lalu menatap Kushina tidak suka.
"Kamu tidak boleh terlambat berangkat sekolah, besok Naruto akan mengantarmu ke sekolah."
Tapi mendengar alasan dari ibunya membuat gadis itu menoleh pada kakaknya untuk meminta bantuan, ini masih jam delapan, dan menurut Naruko ini belum terlalu malam untuk tidur.
"Baiklah." Dengan sedikit kecewa Naruko turun dari sofa dengan gerakan pelan, berjalan untuk pergi ke kamarnya yang berada dilantai dua.
Setelah kepergian anak gadisnya, Kushina mengehala napas pelan. Lalu berjalan duduk disebalah putra pirangnya.
Keduanya terdiam, menciptakan keheningan yang cukup panjang. Kushina terlihat lebih fokus pada acara tv didepannya, berbeda dengan Naruto yang terus meliriknya.
Ketika Kushina menoleh-
"N-naruto…"
Kushina sedikit gugup saat Naruto sudah sangat dekat dengan kepalannya, bahkan tangan pria itu sudah mulai merayap untuk meremas payudara miliknya.
Aroma wangi dari tubuh Kushina terasa memabukan untuk Naruto.
"Kaa-san, kamu sangat harum." Kata Naruto pelan, dia sedikit menggigit telinga Kushina lalu turun pada bagian leher perempuan merah disampingnya. Tangannya tidak bisa berhenti untuk meremas payudara dibalik Kushina, Naruto mulai mendekatkan kepalannya dengan wajah Kushina.
Melihat bibir tipis dari Kushina membuat Naruto tidak bisa menahan untuk melumatnya, namun tidak perlu menyerangnya saat Kushina mencoba terus mencoba menyatukan bibirnya.
Naruto melihat wajah Kushina yang sedikit memerah- terlihat menggoda, sepertinya bukan hanya dirinya yang menginginkan malam ini.
Cup
Keduannya langsung menikmati kecupan ringan itu, lama-kelamaan Naruto mulai memasukan lidahnya kedalam mulut Kushina. Mencoba memperdala ciumannya dengan menelusuri setiap sudut rongga mulut Kushina, menikmati sensasi yang terasa manis dari mulut ibunya.
Bahkan tangannya tidak bisa berhenti meremas payudara Kushina yang masih di bungkus baju dan bra.
"Hmhhph~"
Desahan meredu dari Kushina membuat Naruto tidak bisa melepaskan ciumannya, dia melumat bibir Kushina dan menghisap kuat saat lidah Kushina ketika perempuan itu memperdalam ciumannya dengan cara mengaitkan kedua tangannya pada leher Naruto.
Melihat Kushina mencoba melepaskan ciumannya, Naruto menuruti wanita didepannya sepertinya Kushina kehabisan oksigen.
Benang saliva terlihat masih menyatu dari keduannya ketika Naruto melepas ciumannya, namun tidak memberikan Kushina waktu untuk berpikir Naruto mendorong tubuh Kushina agar wanita didepannya berbaring di atas sofa lalu menindihnya.
"N-naruto…"
"Kaa-san aku tidak bisa berhenti."
Napas Kushina terlihat naik turun, sepertinya malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang untuk keduannya.
Tanpa diketahui keduannya Naruko berjongkok mengintip dengan kedua tangan menopang kepalanya. "Dasa kakak."
TBC
