.

.

.

Nano-Nano: 2. Tidak Peka

KHR © Amano Akira

Story © Aoi the Cielo

Genre: Slice of Life, Comedy

Warning! Shonen-Ai! BL! BoysxBoys! OOC, Typo(s), Semi-Canon, dll

.

.

.

Tidak pernah sesulit ini untuk mengerti dirinya.

Ya, Sawada Tsunayoshi akui, bahwa menebak dan mecoba mengetahui sedikit saja jalan berpikir seorang Hibari Kyoya adalah sesuatu yang ... sulit. Sangat malah. Namun tidak pernah terpikir oleh si brunette bahwa sesuatu yang terkadang bisa ia abaikan ini, kini menjadi hal yang sangat mengganggu.

Ah ... seandainya prefect nami-chu sekaligus Guardian Awan itu tidak bertingkah aneh, seorang Decimo sepertinya tidak mungkin jadi uring-uringan seperti ini kan? Tsuna jadi gelisah bukan main. Makan tak enak tidurpun tak nyenyak. Bahkan ketika di dalam kamar, sosok itu hanya bisa duduk di meja belajarnya. Memandang tugas sekolah dengan alis berkerut serius namun dengan pemikiran melayang buana.

"Jangan melamun, dame-Tsuna!"

Bang!

"HIIEEEEE?!"

Pekikan feminim naik beberapa oktaf tepat saat sebuah peluru nyaris membobol kepala jabrik kecokelatan. Wajah Tsuna memucat sempurna. Horror tingkat dewa dengan Jantungnya dag-dig-dug tidak tenang.

"Ka-kau ... KAU BERNIAT MEMBUNUHKU, REBORN?!"

Bayi berambut reven itu mendengus—tidak terganggu dengan hardikan bernada marah muridnya. Bunglon hijau bernama Leon kembali berubah ke wujud asli. Bergerak dengan lihai merayapi tubuh sang bayi sebelum berkamuflase hingga terlihat menghilang. "Sekali lagi berpura-pura serius mengerjakan tugas tetapi melamun, kau benar-benar akan kubunuh," ancamnya—sukses membuat sang murid memucat. Tsuna menelan liur paksa. Tahu pasti itu bukan sekedar asal bicara. "Apa yang kau pikirkan di otak dame-mu itu huh."

Sepasang hazel mengerjap beberapa kali, sebelum akhirnya menghela napas dan mengerucutkan bibir mendengarnya. Oke, tunggal Sawada akui ia dame, tetapi bukan berarti Reborn bisa menghina tersu menerus kan!?

"Akhir-akhir ini, Hibari-san bertingkah aneh," Tsuna mulai bercerita—mengabaikan kenyataan bahwa ia akan curhat dengan Tutor tersadis di dunia. Well, lupakan soal sakit hatinya. Lupakan soal hinaan. Mumpung Reborn sudah main kode-kodean mau mendengarkan permasalah berat yang mengganggu, Tsuna tidak mau membuang-buang kesempatan. Ia perlu masukan. Toh, Reborn terlihat lebih berpengalaman. "Sepertinya, aku sudah membuat kesalahan dengan Hibari-san."

"Huh?" alis sang bayi terangkat—mendadak tertarik dengan isi curhatan calon Boss Mafia ini. Dosa apa yang dibuat muridnya sampai-sampai seorang Hibari Kyoya bertingkah aneh? Oke, Tsuna memang banyak dosa, terlebih dosa karena sudah membuat Namimori menjadi daerah yang tidak tenang lagi—itu dosa berat. Sangat. Terlebih untuk prefect yang cinta ketenangan seperti Hibari Kyoya. Tetapi kali ini ... dosa apa lagi yang lebih berat dari itu? Tsuna maling kolor Hibari?

"Akhir-akhir ini aku merasa sepertinya HIbari-san suka sekali memandangku terlalu lama. Bahkan diam-diam mengawasi pergerakanku," wajah tunggal Sawada memucat—teringat bahwa intuisinya memanglah selalu benar. Bukan perasaannya, sosok senpainya itu memang main curi-curi pandang. "Beberapa kali bahkan dia mendadak muncul di dekatku—ketika kucoba sapa, biasanya dia akan melengos, te-tetapi ini ... ," si brunette menoleh. Menatap sang Tutor dengan ekspresi luar biasa ngeri.

"Wajah Hibari-san memerah."

"..."

Demi apapun di dunia ini.

Reborn, untuk pertama kali di dalam hidupnya benar-benar ingin membenturkan kepala ke dinding terdekat. Oke, itu OOC. Tetapi ia benar-benar ingin melakukannya dan menembak kepala cokelat itu dengan Leon yang berubah menjadi pistol.

"Aku tidak pernah melihat Hibari-san bertingkah seperti ini sebelumnya," lanjut Tsuna-mengabaikan bahwa aura Tutor kesayangannya sudah berubah gelap. "Apa salahku? Kena—Eh? Reborn? Kenapa Pistolnya diarahkan ke—"

BANG!

"HIIEEEEE?! REBORN! KENAPA—HIEE!?"

Dan tembakan demi tembakan hampir mengenai tunggal Sawada—sukses mengundang jeritan feminim yang penuh dengan adegan menyeramkan. Kamar petak itu, mendadak berubah menjadi arena pertaruhan hidup seorang calon Bos Mafia Kesepuluh Vongolla.

Oh, Reborn benar-benar salah didik sepertinya. Kemampuan intuisi tajam saja tidak membuat seorang dame-Tsuna mengerti apapun. Bahkan, prihal seseorang yang naksir dirinya. Ah ... pendidikan apa yang harus assasin terkemuka ini lakukan kepada Tsuna bila seperti ini? Sungguh, Reborn benar-benar dibuat gagal paham dengan muridnya sendiri.

"Kau benar-benar membuatku malu, dame-Tsuna."

"Memangnya aku melakukan ap—"

BANG!

"HIIEEEE!"

Sawada Nana terkekeh pelan. Teriakan merana dan getaran di lantai dua rumahnya membuat wanita lembut itu menggeleng geli.

"Tsuna-kun semangat sekali mainnya," gumam sang Ibu Rumah Tangga-tidak sadar anaknya nyaris merenggang nyawa di tangan bayi KW hobi cosplay yang ia ketahui sebagai guru dari si tunggal Sawada.

.

.

.

END


a/n:

Luhaaa Aoi Baacckk 'A'/

Haduh... kalian masih betah ya baca ini fic, diriku terharu ;v:

Ternyata perlu waktu agak lama tuk sedikit mengedit ini... Hrrzzz... Skripsi dan Comish menyita waktu :'D

Yesh... diriku kadang open comish nulis kalo BU x'D n nasip dah, dapet jalan cerita yang agak ruyem jadinya ikut ruyem(?)/malah curhat/HUSH

Oke~ Bales ripiw~

Kazuki Chiharu: Yesh... Kasihan Reborn, anaknya KyoyaxTsuna tidak bisa dibayangkan... Entah eksperimen anak mereka jadi lebih unyuh bak malaikat atau bahkan nyebelin kayak setan/WOI

.

Haraguroi Yukirin: BWAHAHAHAH KITA SEKAPAL EMANG HARUS BERSATU SAMA INI KALAP YANG SEPI PEMINAT /cry

LOPE YU TOO DAN KUBAKAL LEBIH LOPE KALO DIRIMU BENERAN BUAT 1827!

Aaaahh... sayang, kucuma buat pendek untuk yang kemaren... itu tuk nulis random soalnya ;A;

Nyahahaha~ Woiya, si Papa Kyoya jadi Papa cayang dedek celalu, apa lagi kalo Mama mao nambah dedek, Papa jadi makin kecemcem/UDAH

.

Oke, Special thanks untuk Kazuki Chiharu, Haraguroi Yukirin, FunestiNoctu121, Ariefyana Fuji Lestari yang udah follow dan fav fic ini~

Ne, kalau ada masukan/saran/pujian/hype dll apapun selain flame, silahkan tinggalkan jejak~ xD