Life as Dominatrix

.

02

.

Ino kesal, Mengapa harus dia yang menyerahkan laporan penjualan pada si direktur baru. Dasar Mak lampir, seenaknya saja mengalihkan pekerjaan mentang-mentang manajer divisi. Ino melintasi meja Anko dan dia melirik sebentar. Wanita itu tampak sedang sibuk mengecat kukunya.

'Anjrit, Sibuk kutekan ternyata' Ino melengos begitu saja tanpa menyuarakan keberatannya. Ia tak ingin membuat masalah dengan sang manajer hanya untuk tugas sepele. Tidak susah membawa setumpuk dokumen ke ruangan yang letaknya tak sampai seratus meter jauhnya, tapi yang membuat Ino malas ke sana adalah karena ia masih takut identitas lainnya ketahuan.

Ino menarik nafas panjang, dia mengetuk pintu ruang kantor pria itu.

"Masuk!" Terdengar suara dari dalam.

"Pak, Saya membawa laporan penjualan yang anda minta."

Kakashi sibuk mencoret-coret dokumen, tak memberikan Ino perhatian. "Letakan saja di meja," ucapnya tanpa menatap lawan bicaranya.

'Tidak sopan' pikir Ino kesal. Dengan sengaja dia membanting file-file itu ke meja sang bos. Suara berdebam membuat Kakashi mengangkat wajahnya hanya untuk melihat si karyawati culun.

"Ah, Maaf tidak sengaja. File-nya tergelincir." Ino memasang senyum tanpa dosa. "Saya permisi, Pak." Ino membalikkan tubuhnya untuk pergi.

"Yamanaka Ino, Bisakah kau menggubah gaya berpakaianmu? Perusahaan kita bergerak di bidang fashion tidak bisakah kau berusaha untuk terlihat lebih baik. Kau tidak mencerminkan image perusahaan."

Pelipis Ino berkedut, Seenaknya saja pria ini mengkritik.

"Maaf Pak. Biar saya ingatkan tidak ada peraturan perusahaan yang mengatakan karyawan harus tampil modis. Saya telah berpakaian sesuai aturan. Tak ada alasan untuk mengkritik penampilan saya."

"Aku tidak mengkritik, itu hanya saran. Mungkin kau akan terlihat lebih baik dengan pakaian yang benar. Sepertinya kau orang yang mudah tersinggung Nona Yamanaka."

"Pak, tidak semua wanita berpakaian untuk memanjakan mata pria dan saya tak peduli pendapat orang lain, permisi!" Ino keluar dari ruangan itu dan menutup pintu dengan keras.

Jam makan siang Ino habiskan bersama Sakura di kantin. Kedua wanita single itu sibuk bercerita soal kesialan yang menimpa mereka.

"Jadi direktur baru mengkritik penampilanmu?"

Kepala pirang Ino mengangguk. "Aku rasa dia pria belagu dan mata keranjang yang hanya mau dikelilingi cewek-cewek berpenampilan oke."

"Aku rasa dia tidak salah, penampilanmu memang tak sedap dipandang. Aku bingung apa yang terjadi padamu Ino, Sampai tahun lalu kau adalah wanita modis, seksi yang penampilannya sudah seperti model saja dan semenjak kau putus dengan orang itu kau berubah. Biasanya para wanita setelah putus cinta berniat untuk jadi lebih cantik sementara kau malah jadi culun."

"Penampilan culunku ini merupakan filter buat laki-laki. Aku bosan dengan pria-pria yang mengejar-ngejarku hanya karena wajah dan tubuh bak barbie yang aku miliki. Aku tak pernah tahu mereka tulus atau tidak. Lagi pula gara-gara itu aku sering terlibat dengan pria sampah," ujarnya dengan sepat saat mengenang pengalaman buruknya dengan pria.

"Aku tak menyalahkanmu, Pria memang lapar mata dari sana-nya. Apalagi zaman sekarang ini penampilan menjadi sangat penting. Para wanita bahkan rela tergores pisau bedah hanya untuk memperoleh wajah dan bentuk tubuh ideal."

"Mau bagaimana lagi, Bila tidak cantik tak ada yang mau. Pria suka dada besar, wanita mulai memasang implan. Pria suka wanita kurus, wanita mulai diet mati-matian. Dulu aku melakukan apa pun untuk membuat pria terkesan dan memperhatikanku, tapi cukup sudah. Mereka hanya memberikanku dusta dan nestapa."

"Yah, Aku ingat waktu zaman kuliah kau berkencan dengan Kiba dan dia selalu melirik wanita berdada besar dan kau langsung meminta ayahmu untuk memasang implan."

"Untung ayahku tak mengizinkan. Aku tahu aku bodoh. Syukurnya aku belajar banyak dari kebodohanku itu. Kini aku merasa lebih bahagia ketika tak mengantungkan diri pada berapa banyak pujian dan perhatian yang aku bisa kudapat," ujar wanita itu sambil mengaduk pasta dengan sendok garpu di tangannya. Persetan dengan diet. Dia tak peduli lagi, ia tak perlu jadi sekurus super model dan membuat dirinya kelaparan hanya karena ingin dibilang cantik. Dia memang tak selangsing dan sebening dulu karena dia tak lagi menjadikan penampilan sebagai prioritas. Dia belajar memahami dirinya cantik dengan versinya sendiri. Sifatnya yang needy membuat dirinya mudah dimanipulasi para laki-laki. Dia jadi marah mengingat dirinya yang lemah.

Dia baru saja berhasil keluar dari hubungan yang toxic dan abusive. Ketergantungannya pada sang kekasih membuatnya kerap membenarkan perbuatan kasar dan manipulatif sang mantan. Lagi pula Gaara selalu menemukan cara untuk membuat segalanya terlihat seperti kesalahan Ino dan membuat dirinya merasa rendah diri dan percaya tak akan ada pria lain yang akan mau bersamanya selain si narsis itu.

Sekarang ia telah melangkah dan membebaskan dirinya, Menjadi mandiri secara emosional. Dia tak butuh pria dan kebohongan mereka. Dia jauh lebih bahagia menjomblo dan lagi ia sekarang mengerti nikmatnya memiliki kekuasaan dan kontrol tak hanya atas dirinya tapi juga orang lain.

Terkadang dia sendiri heran mengapa dia berubah menjadi ekstrem. Dari seorang wanita penurut yang rela melakukan apa saja atas nama cinta menjadi wanita yang sadis yang suka memberikan rasa sakit dan penghinaan. Ino merasa sosok Ashura adalah wujud dendam dan kekesalannya atas semua yang dia alami. Sebuah wadah bagi dirinya untuk melampiaskan rasa frustrasi. Ia menjadi monster seperti pria itu. Yang berbeda Ino memilih bermain dengan pria-pria yang memang menikmati diperlakukan dengan kasar bukan memaksa seseorang untuk tunduk dan memanipulasi mereka secara mental dan melakukan kekerasan fisik.

"Ino, Lihat! Itu Sasuke. Ya ampun dia tampan sekali," ucap Sakura setengah berbisik dengan ekspresi tengah berada di atas awan.

"Hey forehead, Kau sudah terlalu tua untuk fangirling." Ino mau tak mau ikut mengamati Sasuke yang baru tiba di kantin. Ia tertarik dengan pria yang berdiri di sebelah sang Manajer produksi. "Kau tahu siapa pria pucat di sebelah Sasuke? Aku tak pernah melihatnya sebelum ini."

"Ah, Itu Shimura Sai. Desainer baru yang direkrut oleh bos besar. Bukankah dia juga tampan? Dengar-dengar dia juga masih single. Kau punya cukup banyak pilihan bila berniat menjalin office romance ."

"Aku tak berminat cinta-cintaan."

"Eh, Lihat Sasuke menatap kesini. Dia pasti sedang mengamatiku."

"Hush, Jangan Ge-er dulu. Siapa tahu dia hanya sebal kau menatapnya dengan pandangan lapar dari tadi."

Jantung Sakura jadi dag dig dug tatkala pria berambut raven itu melangkah ke meja mereka. Sakura merasa amat senang disambangi sang pujaan hati. Akhirnya Sasuke memperhatikan dirinya.

"Kau Yamanaka Ino dari bagian penjualan?"

Ino mengangguk singkat. Ia melirik ke sebelah dan melihat wajah Sakura menjadi masam

"Tolong ingatkan Anko untuk rapat jam tiga nanti. Kami harus menjelaskan produk untuk line fashion terbaru. Jadi kalian bisa segera membuat konsep untuk promosi." Tanpa mendengar jawaban Ino, pria itu langsung pergi.

Wanita berambut pirang itu tertawa, "Oh God, Sasuke bahkan tidak melirikmu."

Sakura jadi kesal. "Dia hanya pura-pura cuek saja padaku."

"Ayolah Sakura, Akui saja Sasuke tak tertarik padamu. Jangan jadi orang bodoh dengan terus mengejarnya."

"Lalu aku harus naksir siapa? Direktur baru kita atau desainer yang tadi bersama Sasuke? Tak banyak pria single dan tampan di perusahaan ini."

"Jangan naksir dengan Pak direktur deh, jauh-jauh dari dia." Ino menyarankan sahabatnya. Pria yang muncul di S & M club pastinya bukan pria baik-baik. Meski sepertinya sifat ganas dan kasar Sakura pasti akan cocok dengan sisi masochist Kakashi Hatake.

"Ow...ow...ow... Ada apa gerangan kau melarangku untuk naksir pak direktur? Apa kau sudah naksir dia duluan?"

"Tidak...tidak, kau salah duga. Aku hanya merasa dia bukan pria baik. Bukankah aku baru saja cerita bagaimana dia mengkritik gaya berpakaianku." Ino langsung mengelak.

"Alasan saja kau, Pig. Terus terang saja kalau kau tak ingin wanita lain mendekati pak direktur." Sakura menggoda Ino sebagai balasan mengolok-oloknya tadi.

"Sudahlah, Jadi malas bicara deganmu. Aku kembali ke ruanganku saja." Ino berdiri dan pergi.

.

.

Ino mengumpat kesal, Apa dosanya pada Anko hingga wanita itu memintanya membuat analisa tren pemasaran produk sepuluh tahun terakhir. Belakangan ini penjualan produk fashion high end perusahaan mereka menurun jadi Kakashi mengusulkan untuk membuka line baru untuk pasar menengah ke bawah dan sekarang ia harus mencari artikel pakaian apa yang paling banyak terjual selama sepuluh tahun. Arsip di tangannya terasa berat dan meja meja kerjanya masih jauh.

Sosok pria pucat berdiri di lorong. Ia membuang kaleng soda yang ia minum ke tempat sampah dan berjalan ke arah Ino.

"Boleh aku bantu membawa file-file itu? Kelihatannya berat."

"Tentu saja."

Pria itu mengambil tumpukan binder di tangan Ino. "Ke mana aku harus membawa ini?"

"Divisi penjualan. Aku harus melakukan riset untuk strategi pemasaran produk baru kita. Bukankah kau desainer bertanggung jawab dalam proyek ini?"

"Yah, Kakashi mempercayakan ini padaku."

"Sepertinya kau mengenal pak direktur dengan baik?"

"Aku sering bekerja untuknya. Dia menghargai bakatku."

Mereka sampai di ruang kerja Ino. Semua mata melirik Sai yang berjalan di belakang wanita itu. Setelah ia meletakkan tumpukan arsip itu di meja Ino. Pria itu mengulurkan tangannya "Namaku Sai Shimura."

Ino menjabat tangan pria itu. "Terima kasih, Shimura-san."

Pria itu membaca tanda pengenal Ino yang tersemat di dadanya. "Panggil saja Sai, Nona Yamanaka."

"Kau harus memanggilku Ino kalau begitu." Wanita itu tersenyum

"Ino, Kalau kau berkenan. Bisakah kita pergi minum kopi selepas jam kerja?"

Apa ini ajakan kencan? Pertama kalinya ada pria yang mengajaknya keluar setelah ia bergaya culun. "Baiklah, Kebetulan aku tak ada rencana."

"Aku akan menunggumu di lobby kalau begitu. Aku permisi dulu Ino."

Setelah Sai pergi, Anko langsung mendekatinya. "Wow, kau bergerak cepat Ino. Desainer baru itu langsung mengajakmu kencan. Bagaimana caramu menggodanya."

"Anko, Apa aku terlihat seperti wanita penggoda?"

Wanita seksi itu menatap Ino naik turun, kemeja longgar dan rok span selutut yang Ino kenakan tampak begitu standar. Belum lagi rambutnya dikepang dan disanggul tinggi seperti gaya zaman dulu. "Dulu iya, tapi sekarang kau terlihat menyedihkan tapi aku senang sainganku berkurang."

"Ayolah Anko, kapan aku pernah bersaing denganmu. Aku selalu menjadi junior yang baik."

"Ya Ino, dan kuharap kau tidak mengumpati aku di belakang."

"Mana aku berani, Bu manajer."

" Kalau begitu selesaikan laporan yang aku minta besok."

'you damn bitch' teriak Ino dalam hati.

.

.

Kakashi Hatake melihat si wanita culun berjalan menuju lift. Dia merasa tak enak hati karena sudah mengkritiknya. Wanita itu benar, tidak seharusnya ia mengomentari penampilan orang selama kinerjanya memuaskan. Lebih baik dia minta maaf sekarang dari pada ke pikiran.

Ino masih berdiri di depan pintu lift. Kakashi berlari untuk menyusulnya. "Yamanaka Ino, tunggu sebentar," teriak pria itu.

Mendengar namanya dipanggil sontak Ino berbalik dahinya seketika berkerut mengetahui yang memanggilnya adalah si direktur baru. 'Mau apa lagi orang ini' gerutu Ino dalam hati.

Kakashi tak sempat memperhatikan tanda lantai masih basah karena baru di pel. Dia terpelesat dan kehilangan keseimbangan. Dengan begitu cepat ia terjatuh, tapi entah bagaimana tubuhnya tidak mendarat di lantai. Mengapa tangannya berasa menyentuh sesuatu yang lembut dan empuk?

"Aw..." Ino meringis kesakitan. Bokongnya menghantam lantai duluan. "Cepat bangun, kau berat" Sang direktur jatuh menimpanya.

"Maaf," ujar pria itu tanpa menyadari tangannya mendarat di dada Ino. Tanpa sengaja Ia menekan payudara wanita itu ketika mencoba berdiri.

"Mesum..." teriak Ino. Bersamaan dengan Itu pintu lift terbuka. Orang-orang yang baru datang dari lantai bawah menatap mereka dengan ekspresi terkejut mendapati sang direktur baru tengah menindih seorang karyawan wanita dilantai.

Kakashi dengan cepat berdiri, "Ini hanya kecelakaan, tak seperti yang kalian pikirkan." Tatapan tak percaya orang-orang itu membuat Kakashi berkeringat dingin. Rusak sudah reputasinya kalau begini.

Ino kesal, Mengapa pria bodoh ini merusak harinya. Tak hanya mengkritiknya. Dia juga berani memegang dadanya. Wanita pirang itu berdiri dan tanpa pikir panjang ia melayangkan tangannya ke pipi Kakashi.

"Plak..." tamparan tangan kanan Ino begitu keras hingga membuat wajah Kakashi menoleh ke kiri.

"Itu untuk sikap kurang ajarmu." Ino pun melengos menutup pintu lift untuk turun ke lantai dasar.

Kakashi hanya bisa terpana. Ia memegangi pipinya yang kini memerah. Tamparan Ino membuat darahnya berdesir dan mengalir ke bagian bawah tubuhnya. Hampir saja ia mengerang. 'Damn, Wanita itu ternyata garang' pikir sang direktur. Ia mengutuki sifat masochist-nya. Gara-gara tamparan Ino ia jadi terangsang dan sekarang reputasinya di kantor ini jadi buruk.

.

.

.

A/N : Hei terima kasih reviewnya. Mengapa saya memutuskan KakaIno? Secara ini crak pair paling absurd, mustahil dan juga jarang ada yang menulis, tapi saja juga akan memasangkan Ino dengan Sai dan Gaara.

Saya balas review satu-persatu.

Arya Endank Soekamti : Makasih sudah mampir, gak banyak yang suka pairing KakaIno. Aku harap kamu juga terus menulis buat nambah arsip kakaino di ffn.

Yume Rain : Terima kasih reviewnya. Saya udah baca fic-mu. Semoga cepat bisa update ya. Semoga kamu terhibur dengan cerita saya.

Sasuino: Saya terharu dengan dedikasimu untuk mengomentari hampir semua chapter yang saya tulis. Kangen sasuino? sabar ya. Akan digarap minggu ini. Semoga kamu terhibur sama kakaino.

Yamanaka : Fic yang lain masih digodok sabar ya. Fifty shade of grey mah masih rasa vanilla buat saya. Bukunya lebih menarik dari filmnya. (Tingkat kemesuman saya sudah lebih tinggi dari sang Ero sennin Ha..ha..ha..) Saya rasa memang masih aman dikonsumsi banyak kalangan.

Gin & Amaya : Terima kasih sudah mampir meski pair dan genrenya bukan seleramu. Yah BD dan SM memang dua disiplin yang berbeda. Pelaku BD gak mesti SM. Sadist dan Masochist lebih cenderung pada gangguan kejiwaan menurut saya.

Sakucent : Hati-hati kalau komen, gara-gara sikap kayak gini banyak yang jadi ngecap penggemar sakura bar-bar. Kalau mau baca kakasaku kan bisa baca karya-karya penulis lain tak perlu bilang saya sok. Ini ffn tempat bebas untuk berkarya dan berimajinasi.

Parkchanyeoll : Terima kasih sudah belain saya. Tentu saya akan semangat menulis karena masih ada orang yang membaca dan menghargai.

Ino-chan: Belum tentu sama Kakashi. Meski memang mereka jadi pasangan ehem-ehem. Pelanggan wajib diberi servis memuaskan. Ha..ha..ha..

Ragnagvald : Penggemar Sherlock kah? Irine kayaknya satu-satunya cewek yang kecerdasannya di puji sama sherlock. Hm... kamu bikin saya jadi kepikiran buat baca ff sherlockxIrine.

Hiki Kanata: Makasih Hiki...aku lagi nyoba buat seksi komedi, meski selera humorku garing. Kapan nih Granada up lagi? Di tunggu loh.