Disclaimer : All Characters belong to Masashi Kishimoto
Warning : Mature/Sexual content. Non-edit
Life as Dominatrix
.
Chapter 03
.
.
Satu pukulan mendarat di pipinya dengan keras. Meski sudah mengenakan pelindung kepala sakitnya tentu saja terasa. Dia terlambat untuk menghindari serangan Obito, tetapi bukannya meringis pria berambut perak itu malah menyeringai.
"Pukulanmu kurang keras." Kakashi malah mengejek lawannya. Dia mengayunkan pukulan hook kanan menyerang pertahanan Obito yang terbuka.
Pria itu mengerang kesakitan tatkala tinju Kakashi bersarang di perutnya. Obito mundur beberapa langkah, mengernyit dan kembali memasang kuda-kuda. "Kau lebih cepat dan kuat dari hari-hari biasa."
"Hati-hati Obito, Awasi pertahananmu. Jika tidak aku bisa menghancurkanmu dengan kombinasi pukulanku."
"Serang saja, Sekalinya kau lengah. Aku bisa mengalahkanmu."
Kakashi melontarkan rangkaian pukulan jab dan hook yang berhasil dihindari oleh Obito dengan lincah. Keringat membanjiri tubuh Kakashi. Dia menyukai tinju, sejujurnya dia menyukai menempatkan tubuhnya pada situasi yang menimbulkan ketidaknyamanan. Dia sering berolah raga hingga semua otot tubuhnya kaku dan pegal sebab ia menyukai rasa sakitnya. Satu hal yang rasa sakit ajarkan padanya adalah ia jadi bertambah kuat.
Asyik menyerang Kakashi sendiri yang lupa akan pertahanannya. Obito melihat celah dan melayangkan pukulan uppercut ke dagu lawan tandingnya. Pukulan yang mendarat telak itu membuat Kakashi sempoyongan dan jatuh terduduk di atas ring.
"Aku menang." Obito menyengir senang.
"Bukan karena kau kuat. Aku saja yang lengah." Kakashi melepaskan sarung tinjunya. Enggan bangkit dari ring.
"Memanfaatkan kesalahan lawan juga bagian dari strategi. Kau punya kekuatan aku punya kecerdikan." Obito mengulurkan tangan pada sahabatnya dan menarik pria berambut perak itu berdiri. "Kau tahu Kakashi, Hal yang paling menakutkan darimu. Kau tak menghindari pukulanku."
"Aku mencoba, tapi aku bergerak terlalu pelan. Lagi pula Obito pukulanmu terlalu lemah untuk menyakitiku."
" Aku tahu pukulanku begitu lemahnya hingga membuatmu terjengkang," ujarnya ironis.
Kakashi terkekeh. "Aku punya toleransi tinggi dengan rasa sakit."
Sesi sparring-nya bersama Obito meninggalkan memar dan lebam, tapi Kakashi menyambut semua itu dengan tangan terbuka. Rasa sakit adalah kekasihnya. Tiap kali ia mampu bertahan dari siksaan ia merasa bangga karena itu berarti ia semakin hari semakin kuat.
Sepanjang hidupnya dia akrab dengan siksaan. Sang Ibu meninggalkannya begitu saja dan sang ayah setiap hari menyiksanya hingga tubuhnya penuh bilur lebam dan luka. Dia hannyalah seorang anak kecil. Awalnya ia membenci penderitaan yang menderanya, tapi ia tak bisa lari dari semua itu. Dia hanya bisa pasrah dan mencoba bertahan dari rasa sakitnya. Entah kapan dan bagaimana pemikiran tergelincir menuju keabnormalan. Dia mulai menyukai setiap pukulan ayahnya. Dia akan tertawa puas bila ia bisa melewati satu siksaan tanpa menjerit dan meneteskan air mata. Hari berikutnya sang ayah akan memberikannya hukuman yang lebih keras dan ia hanya bisa menutup mata tatkala lecutan sabuk kulit sang ayah mendera punggungnya. Dalam hidup yang seperti itu ia hanya bisa melarikan diri dengan mencoba merangkul dan mencintai penderitaan. Bila tidak, ia sudah pasti akan mati bertahun-tahun yang lalu. Begitu sang ayah dijebloskan dalam penjara dan kehidupannya menjadi normal ia merasa kehilangan sesuatu. Lambat laun ia menyadari ia merindukan hukuman, siksaan dan pelecehan yang dia alami dimasa kanak-kanak. Sebagai orang dewasa ia menemukan cukup hiburan dengan seks, tapi seks saja tidak cukup untuk membuatnya merasa puas. Dia menemukan lebih banyak kesenangan dalam dunia BDSM. Permainan, kontrol, hukuman. Ia menghidupkan kembali kepingan masa lalunya dalam porsi yang tepat. Rasa sakit dan tak berdaya membuatnya excited karena itu menguji dirinya. Tak seorang pun tahu dia seorang Masochist. Ia menyimpan rahasia ini baik-baik. Seperti kebanyakan orang ia memilih menjadi closed pervert. Tak perlu orang tahu betapa liar dan abnormal selera dan imajinasinya.
.
.
Ino melangkah ke kantornya dengan lesu. Tak ada hal yang menarik terjadi, ia tak sabar menunggu hari Sabtu datang. Hari di mana ia bisa mengenakan korset kulit dan lateks berwarna gelap serta topeng misteriusnya menjelma menjadi seorang dominatrix yang mengontrol submissive-nya dengan tangan besi.
Obralannya dengan Sai Shimura berkisar tentang pekerjaan dan ia mengagumi Ino tentang pengetahuannya soal fashion. Ino tak mendapatkan feeling kalau pria berkulit pucat itu tertarik padanya. Sai Shimura memang ramah, tapi Ino merasa ada sesuatu aura yang mengganggu di balik wajah tampan murah senyumnya. Pria itu bertanya mengapa Ia menyembunyikan kecantikannya dengan memilih style yang kurang tepat. Ino menjawab dengan jujur ia tak ingin di dekati pria hanya karena wajahnya saja. Pria baik tidak akan buta. Mereka bisa melihat kecantikan yang melebihi sekedar tampilan visual.
"Hei, Aku membawakanmu kopi."
Sai berdiri di depan mejanya menyodorkan gelas kertas berisikan cairan panas.
"Terima kasih, Aku memang butuh kafein." Ino membuka tutup gelasnya dan menyeruput kopinya. Ia terkejut menemukan kopi yang dibawa Sai memang favoritnya. Bahkan takaran gula yang ditambahkan juga pas sekali. Apa Cuma kebetulan ya.
"Aku berterima kasih kau mau mengobrol denganku. Aku ingin segera membuat banyak teman dikantor ini."
"Kau harus mencari Naruto kalau begitu. Ia berteman dengan semua pegawai di setiap lantai. Semua orang menyukainya dia bisa mengenalkanmu dengan siapa saja."
"Ah, Si pirang berisik itu? Sasuke sama sekali tak menyukainya."
"Itu karena Sasuke tak menyukai semua orang. Bagaimana rasanya bekerja dengan dirinya?"
"Awful, Dia atasan yang banyak menuntut, tapi aku akui dia tahu apa yang dia kerjakan. Aku akan kembali ke ruanganku. Sampai jumpa Ino."
Anko langsung mendekati Ino, "Wow, Dia membawakanmu kopi. Apa rahasiamu untuk memikat desainer baru itu, Ino?"
"Percakapan menarik tentang fashion." Ino memutar bola matanya dengan sebal. "Ini laporan yang kau minta." Wanita pirang itu menyerahkan setumpuk kertas pada Anko.
Sang manajer penjualan memeriksa pekerjaan Ino, "Ini bagus. Aku tak sangka kau menyelesaikannya dengan cepat. Aku punya pekerjaan tambahan untukmu."
Ino ingin melempar laptop di mejanya ke wajah Anko. 'Damn you bitch!' Ino berteriak dalam hati, tapi kenyataannya ia tetap memasang wajah pasif.
"Aku ingin kau mencari ide untuk pemasaran produk baru kali ini. Karena kau sudah dekat dengan Sai, Aku rasa kau bisa mendiskusikan bagaimana pakaiannya ingin ditampilkan."
"Baiklah," ucap Ino patuh.
"Mengapa wajahmu tampak tak ikhlas begitu. Dengar Yamanaka, kalau kau bekerja dengan baik aku akan merekomendasikan promosimu pada pak Direktur."
"Serius?"
"Yah, Jadi lakukan pekerjaanmu dengan semangat."
"Baiklah Anko, Aku berharap untuk tidak lama-lama jadi bawahanmu sebab kau atasan yang menyebalkan."
Mata sang senior terbelalak, tak pernah selama bekerja di sini Ino mengkritiknya. Sejak kapan gadis itu punya nyali.
.
.
Rasanya ada yang aneh. Gadis pirang itu menoleh ke belakang dengan khawatir dan mempercepat langkah kakinya yang beralaskan sepatu keds menuju stasiun kereta. Mungkin hanya perasaannya saja. Mustahil ada yang mengikutinya, tapi ia bisa mengenyahkan firasat kalau seseorang tengah mengawasinya.
Ino memanggul tas duvel yang berisi kostum dan peralatan make up untuk pekerjaan sambilannya. Sekarang wanita pirang itu hanya mengenakan celana training dan kaus longgar untuk menutupi tubuhnya. Bergaya seolah ia akan pergi ke gym, Rambutnya tergulung rapi di bawah topi baseball yang ia kenakan. Dia menaiki kereta menuju Roppongi sambil membayangkan klien macam apa yang akan dia hadapi malam ini. Hari-hari kerjanya begitu melelahkan dan ia perlu melepaskan stres yang telah menumpuk.
Dia memasuki klub Black Rose dari pintu belakang. Tak jauh dari situ berdiri seorang pria mengamati Ino menghilang di balik pintu bangunan yang dia ketahui sebagai S & M klub. Pria yang berpakaian serba hitam itu menyimpan kedua tangannya di saku celana. Senyum misterius terkembang di bibirnya lalu ia tergelak dengan kepingan informasi yang baru saja dia dapatkan.
"Oh Sayang, Aku tak tahu kau punya hobi yang menarik."
Puas mengamati targetnya. Pria itu berbalik pergi, ia masih harus ke tempat lain untuk menyelesaikan sesuatu.
Ino masuk ke ruang ganti dan mulai berdandan. Dia memoleskan foundation di wajahnya yang sudah mulus itu. Dia suka make up yang bold. Jadi dia mengaplikasikan ekstra bulu mata palsu dan lipstik berwarna merah darah yang kontras dengan warna hitam pakaiannya. Kali ini ia membiarkan rambutnya panjangnya tergerai.
Temari, Rekan kerjanya masuk ke ruangan. Ino melempar senyum pada wanita itu.
"Kau terlihat Hot, Temari."
"Kau juga tak kalah seksi, Ino. Siap untuk menyiksa para budak malam ini?"
"Oh yeah, Aku sudah menunggu-nunggu untuk bersenang-senang."
"Kau akan menjadi satu-satunya ratu di tempat ini Ino."
"Mengapa? Apa kau akan pindah ke klub lain."
"Tidak Ino, Aku berhenti bekerja. Aku akan segera menikah."
Ino sangat terkejut, "Kau menikah? Pria macam apa yang mau menikah denganmu Temari?"
Wanita yang lebih tua itu tertawa, " Apa kau sedang menghinaku Ino, Takdir mempertemukanku dengan pria submissive yang membiarkan aku mendominasi hidupnya dan mencintai semua sisi tak manisku."
"Betapa beruntungnya kau Temari. Menemukan pria yang sesuai dengan kebutuhanmu. Aku sendiri sudah menyerah soal cinta."
"Jangan menjadikan pencarian cinta sebagai tujuan utama. Nikmati saja hidupmu dengan melakukan hal-hal yang kau sukai. Bila kau mengenal dirimu dengan lebih baik, pastinya akan lebih mudah mengenal pria seperti apa yang kau inginkan."
"Kau benar Temari, Selama ini aku membiarkan diriku terlalu tergantung pada pasangan. Aku jadi terombang-ambing sendiri." Ino memasang sepatu boot selututnya. Lalu mengecek kembali penampilannya. "Sekarang aku jauh lebih baik, tak hanya aku bisa mengontrol diriku sendiri. Aku juga menemukan kesenangan untuk mengontrol orang lain."
"Kekuasaan memang membuat kecanduan. Membuatmu merasa kuat dan lebih baik dari orang lainnya. Jangan lupa Ino keberadaan kita di sini untuk mewujudkan segala fantasi gila para pelanggan, Kau harus menghormati keinginan dan batasan mereka. Meski mereka berpasrah padamu."
"Aku sangat paham Temari. Ada garis batas antara permainan dan penyiksaan. Aku tak akan pernah menyalahgunakan kepercayaan para submissiveku."
"Baguslah, Sekarang kita bekerja."
Ino memasang topengnya. Dengan hati berdebar ia mendorong pintu kayu yang membawanya ke ruangan merah. Ruangan itu memang di dominasi warna merah. Nafas Ino tertahan saat melihat siapa kliennya malam ini. Wanita pirang itu menggigit bibirnya untuk mencegah sumpah serapah meluncur dari mulutnya 'Apa orang ini tak punya kegiatan lain di malam minggu' gumam Ino dalam hati.
Ia melangkah mendekati sofa di mana pria itu duduk dengan tenang menyilangkan kakinya.
"Kau lagi? Apa kau begitu terpesonanya padaku hingga kau muncul lagi di sini."
Kakashi Hatake berdiri kemudian membungkuk meraih tangan kanan Ino lalu mengecupnya. "Maafkan saya, Mistress. Saya harap anda tak akan bosan untuk melihat saya. Saya senang melayani anda."
Ino menarik tangannya dari genggaman pria itu lalu meraih dagunya mendekatkan wajah Kakashi ke wajahnya sendiri. Ino menatap pria itu dalam mencoba memberi penilaian dan bersikap superior. Kakashi Hatake di kantor adalah atasannya, tapi di sini dia lah boss-nya.
"Kau cukup enak dilihat." Komentar Ino datar. "...karena aku akan cukup sering melihatmu aku memutuskan untuk memberimu nama." Ino melepaskan pria itu lalu berjalan menuju rak yang dipenuhi peralatan. Ia mulai memilih beberapa Item untuk memulai permainan ini.
"Bagaimana anda akan memanggil saya?"
Ino tersenyum ketika menemukan collar yang sangat mirip dengan kalung anjing dan sebuah rantai. "Wolfie, Itu namamu. Aku tahu kau lebih cocok menjadi lone wolf, tetapi di mataku kau hanya seekor anjing kesepian yang rindu memiliki tuan." Ino berbalik dan memamerkan apa yang ada ditangannya pada Kakashi. " Hari ini aku akan menjadi tuanmu dan mengajakmu bermain jadi buka pakaianmu."
Pria berambut perak itu menurut. Ia melepas kaus berwarna hitam yang melekat ketat di tubuhnya dan menanggalkan jeansnya. Menyisakan hanya dalaman hitam menempel ketat menutupi bokongnya. Ino tak bisa mengalihkan tatapannya dari tubuh yang terpahat keras dan sempurna. Ino bertanya-tanya. Kapan seorang direktur yang sibuk sempat berolahraga. Pria itu hendak melucuti kain terakhir yang menutupi tubuhnya, tapi Ino buru-buru menghentikannya.
"Cukup, Sekarang berlutut!"
Kakashi menurut, ia melipat kakinya membuat dirinya lebih rendah dari Ino. Wanita itu membungkuk untuk memasangkan kalung anjing di lehernya. Pandangan matanya di hadiahi belahan payudara yang menyembul dari korset hitam terikat ketat. Ino mengaitkan rantai dan puas melihat peliharaannya diam dan patuh.
"Apa kau ingat save word untuk permainan kita?"
"Furball."
" Yes, my dear Pet sebab aku tak akan sampai hati menyakiti seekor bola bulu yang lucu." Ia menarik rantai yang terkait di leher Kakashi. Membuat kepala pria itu mendongak. "Now be a good dog!"
Pria berambut perak itu membungkuk meletakan dua tangannya di lantai. Ia merangkak mengikuti Ino yang menarik rantainya. Wanita itu mengambil cambuk dari meja. Lalu berjongkok di depannya. "Dengar Wolfie, Aku mau mengajakmu jalan-jalan. Menggonggonglah bila kau setuju."
"Guk...guk." Kakashi menyalak layaknya seekor anjing.
Ino mengusap surai keperakan pria itu dengan lembut "Good boy." Ino menatap lekat wajah Kakashi, Dia tak bisa memamerkan pria itu seperti ini. Ino berdiri dan membuka laci yang dipenuhi peralatan BDSM. Dari gag ball, berbagai macam cuff dan clamp dan dia akhirnya menemukan yang ia cari. Sebuah topeng anjing hitam dari faux leather.
Ino mengacungkan benda di tangannya ke wajah Kakashi. "Apa kau akan menyukainya?" Meski Ino seorang dominatrix dan pria itu adalah subjeknya. Ia tetap bertanya. Ia tidak ingin memaksa melakukan sesuatu yang tak diinginkan submissive nya.
Pria itu menyalak dengan nada riang. Ino memasangkan topeng itu, Kini yang bisa ia lihat hanya sepasang mata kelabu. Ino berpikir apa sorot mata Kakashi selalu tampak redup, Ia tak pernah benar-benar memperhatikan atasannya. "Kau tahu, Aku lebih menyukai anjing daripada pria. Anjing tak akan pernah mengkhianatimu. Mereka patuh dan setia." Ino meletakkan tangannya di wajah pria itu dan tersenyum getir.
Sesaat Kakashi terenyak menatap mata biru kehijauan yang mencolok dibalik topeng hitam yang wanita itu kenakan. Apakah wanita ini sama seperti dirinya? Melarikan diri dari pahitnya kenyataan dalam dunia fantasi. Sorot mata itu menggambarkan kesepian.
"Ayo kita jalan-jalan." Wanita itu menarik rantainya dan berjalan keluar. Kakashi dengan patuh melangkah layaknya hewan berkaki empat. Cukup sulit merangkak dengan cepat dengan ukuran tubuhnya yang cukup besar.
Pria itu berhenti berpikir tentang siapa dia, untuk apa dan mengapa dia lahir ke dunia. Tak ada tujuan yang terpikirkan atau masalah yang mengganggu hatinya. Untuk sesaat ia menutup kesadarannya sebagai manusia. Dia hanya seekor anjing yang butuh perhatian dari tuannya dan dia senang tuannya menemaninya. Kakashi mengingat anjing peliharaannya sendiri Pakkun. Betapa senangnya anjing itu saat melihatnya pulang.
Ia mengikuti Ino menyusuri lorong menuju pintu utama. Wanita itu membawanya ke luar dari klub. Ino bersandar di tembok. Mereka berdiri di jalanan ramai di lewati orang-orang yang tengah mencari hiburan. "Sit Wolfie!" perintahnya.
Pria itu berjongkok di sebelah Ino. Menatap wanita itu dengan tanda tanya. Ia tetap tak bersuara. Topeng itu tak memiliki lubang udara. Ia merasa sedikit sesak dan sulit bernafas.
"Apa kau merasa dipermalukan? Mereka semua menatapmu."
Kakashi mengarahkan pandangannya ke trotoar yang ramai. Semua kepala menoleh sejenak untuk melihat mereka. Dia bisa melihat pandangan kasihan, jijik, geli dan bahkan tertarik. Mereka menertawainya. Pria berambut perak itu menyeringai dibalik topengnya.
'Tertawalah kalian. Tertawai saja aku. Hakimi aku dengan tatapan kalian itu hanya membuatku merasa lebih baik dan membuktikan betapa dangkal pemikiran dan penilaian manusia'
"Apa kau lihat itu? Bagi mereka kau adalah manusia mesum yang sakit jiwa. Kau lihat tatapan mereka? Apa kau merasa malu dengan dirimu?" Kata-kata Ino menusuk. Memang tujuannya mempermalukan pria itu. Ia sama sekali lupa kalau si anjing adalah atasannya.
Kakashi sama sekali tak menunduk. Ia menatap kerumunan seolah-olah tak terpengaruh. Tentu ia merasa malu, tapi ia menelan perasaan itu bulat-bulat. Bukankah dia memang selalu memalukan? Karena itu ibunya meninggalkannya dan ayahnya menyakitinya.
Ino mengelus kepala pria itu lagi. "Ayo kita masuk, Cuaca cukup dingin." Ino sedikit gemetar ketika angin dingin menerpa tubuhnya yang terbalut pakaian minim. Ia menarik, nyaris menyeret Kakashi masuk ke dalam klub. Collarnya terasa mencekik leher. "Ayolah, berjalan lebih cepat. Apa kau mau aku memukulmu?"
Oh, Kakashi tidak bisa merangkak lebih cepat mengikuti langkah mistressnya. Wanita itu tampak agak kesal. "Kau tak mengerti ucapanku ya? Mungkin ini akan membuatmu paham?"
"Plak..." Cambuk berkuda yang Ino bawa mendarat di bokongnya. Kakashi mengernyit di balik topengnya. Cambukkan ini terasa bagai gigitan semut, dan suara benda itu menyentuh kulitnya terasa merdu.
"Well, Aku malas berjalan. Kau anjing yang cukup besar. Aku rasa aku bisa menunggangimu." Ino duduk di punggung pria itu untuk menyeimbangkan tubuhnya ia menopangkan tangannya di bahu Kakashi.
"Ayo jalan."
Kakashi merangkak menyusuri lorong sepanjang dua puluh meter. Beban tubuh Ino terasa menyenangkan di punggungnya. Belum lagi paha wanita itu bersentuhan langsung dengan kulitnya. Beberapa kali Ino memukulnya karena ia merangkak dengan pelan. Ia tak keberatan.
Mereka tiba di ruangan yang sama. Wanita itu turun dari punggungnya lalu berjongkok di hadapannya membuka topeng yang ia kenakan. Pria bersurai perak itu akhirnya bisa bernafas lega setelah topeng tadi membuatnya merasa sesak.
"Apa kau senang jalan-jalan di luar, Wolfie ?"
Mengikuti perannya, Kakashi menerjang Ino membuat wanita itu terjungkal di hamparan karpet tebal dan mulai menjilat wajahnya.
"Oke..oke.. Aku mengerti kau senang."
Ino tak memintanya menyingkir. Kakashi masih berada di atas tubuh wanita berambut pirang itu. Dengan berani ia menjilat telinga turun ke leher dan dadanya.
Ino terdiam sesat untuk menikmatinya sebelum perintah dengan nada tegas meluncur dari mulutnya. "Hentikan anjing nakal!" Bereaksi dengan kalimat itu Kakashi langsung menyingkir. Jika ia benar-benar anjing pasti ekornya sudah akan terjepit di antara kakinya ketakutan mendengar hardikan sang mistress
Ino melepaskan collar dan rantai anjing itu dari leher Kakashi menandai akhir dari dog play mereka. "Are you alright?"
"I am fine."
"Mau lanjut?"
"Tentu saja." Ucap Kakashi yakin. Dia baru merasa excited, sama sekali belum terangsang.
"Kalau begitu aku akan memberikan dirimu hal yang kau suka." Ino menarik tangan pria itu agar dia berdiri dan membimbingnya menuju sudut ruangan di mana cross berdiri. Benda itu dibuat dari dua buah plat besi yang menempel di dinding tersilang membentuk huruf 'X'. Ino mengikat pria itu di sana. Tangan, kaki dan tubuhnya tak bisa bergerak. "Do you trust me?"
"I do." Jawab pria itu singkat.
Ino tersenyum puas melihat Kakashi terikat tak berdaya di sana. Ia merasa menjadi seorang penyihir yang siap menumpahkan darah tumbalnya kepada Iblis. Ino memasangkan penutup mata dan memilih untuk tidak menyumpal mulut pria itu. Permainan ini cukup berbahaya. Ia lebih memilih bisa mendengar pria itu bersuara dari pada tanpa sengaja ia nanti jadi kelewatan.
Ino ingin pria itu merasa terancam, Dia mengambil sebuah pisau belati yang begitu tipis dan runcing dari atas meja. Dia bisa menusuk dan melukai orang dengan senjata tajam itu. Sang dominatrix berdiri di hadapan Kakashi. Tangan kirinya yang bersarung meraba dan menyusuri otot-otot pria itu. Baru sekarang Ino menyadari keberadaan garis-garis tipis yang mulai memudar di sepanjang tubuhnya. Begitu pula titik-titik agak gelap di sepanjang lengannya. Itu pastinya bekas luka gores dan luka bakar. Ino merasa simpati tapi tak menghentikannya menempelkan sisi pisau itu di pipi Kakashi. Darahnya mulai memanas.
Kakashi terkejut merasakan metal yang dingin menyentuh kulitnya di saat yang bersamaan sang mistress berbisik di telinganya.
"Apa kau takut? Ada pisau di tanganku."
"Aku tak takut pada rasa sakit." Balas pria itu.
Tanpa tekanan sama sekali. Ino meluncurkan ujung pisau tersebut ke dada pria itu dan turun. Tubuh Kakashi menegang, seluruh indranya siaga seolah ia tengah menghadapi bahaya. Adrenalin terpompa menuju pembuluh darahnya.
Tanpa diduga wanita itu menggoreskan pisau melintang di perut kirinya. Lukanya sama sekali tak dalam tapi tetap saja berdarah. Pria itu memekik terkejut saat kulitnya dirobek mata pisau. Ino tertawa pelan. "I'll give you pain. A lot of pain."
Ino melihat darah menetes dari luka yang terbuka tapi ia tahu kurang dari tiga menit luka itu akan menutup sendiri. Sisi sadis dalam dirinya nya mulai bergolak sementara Kakashi sendiri mulai tampak begitu excited.
"Kau mau lagi." Ino menorehkan luka yang lebih panjang di dada Kakashi. Begitu darah mulai tampak Ino menjilati luka yang ia buat.
Ujung lidah Ino membuat lukanya bertambah pedih, tetapi juga membuat pria itu menggelenyar. Kakashi tak membuat suara. "Aku rasa kau menyukainya." Mata Ino tertuju pada gundukan yang timbul di balik celana dalam yang pria itu kenakan. Ino memutuskan menyingkirkan celana dalam pria itu dengan merobeknya dan ereksi pria itu pun terbebas.
Ino membuka laci meja dan meraih sebuah nippleclamps. Dua buah penjepit besi yang terhubung oleh rantai. Dia menjepitkan benda itu dengan kencang di puting pria berambut perang itu dan dengan kejam ia menarik rantai penghubungnya membuat jepitan besinya semakin erat. Kakashi hanya mengernyit merasakan metal menusuk kulitnya Rasa sakit seperti ini bukan apa-apa malah terasa begitu nikmat.
Merasa tak puas, Ino mengambil salah satu cambuk yang tergantung di dinding. Ada begitu banyak jenisnya dari cambuk yang digunakan oleh para joki berkuda hingga yang terbuat dari rantai besi dengan ujung tajam. Setiap jenis cambuk memberikan sensasi yang berbeda. Ino tak ingin terlalu keras melukai pria itu jadi dia mengambil cambuk favoritnya, Cambuk untuk berkuda. Benda itu cukup pendek dan praktis untuk memukul bagian paha dan perut.
Wanita itu kembali berhadapan dengan submissive-nya. Andai saja diperbolehkan ia akan mengabadikan pemandangan Kakashi Hatake, Sang direktur perusahaan La mode Tokyo terikat dengan pasrah di Saint Andrew's cross. Ia bisa menggunakannya untuk memeras pria itu. Ino menarik kembali rantai nippleclamps dengan keras. Membuat Kakashi mengeluarkan suara rintihan yang ia coba tahan. Ujung capitnya menekan semakin keras membuatnya sangat tidak nyaman. Ia merasakan tangan bersarung wanita itu di wajahnya. Dengan ibu jarinya dan telunjuknya menekan pipi pria itu dengan keras. Memaksa mulutnya terbuka.
"Kau dengarkan, Aku akan memberimu pertanyaan. Bila jawabanmu tak membuatku senang aku akan memukulmu." Ino melepaskan cengkeramannya dari pipi pria bersurai perak itu
"Mengerti mistress." Jawabnya patuh.
"Apa kau suka dicambuk?" Sebuah pertanyaan yang amat jelas jawabannya keluar dari bibir Ino.
"Iya."
Wanita itu tersenyum melayangkan cambuknya dengan tenaga penuh ke pinggul Kakashi.
"Ar...rgh!" Erangnya singkat tatkala cambuk itu membuat kontak dengan kulitnya. Seketika bilur memanjang berwarna merah terpatri di kulitnya. Meski sakitnya hanya sesaat, tapi bekas cambukkan itu berasa pedih.
"Itu hadiah untukmu, pertanyaan kedua. Apa kau mengakui dirimu pria mesum?"
"Iya."
Ino melontarkan begitu banyak pertanyaan dengan nada merendahkan dan pria itu terkadang sengaja menjawab dengan provokatif. Alhasil mencambuk Kakashi entah beberapa puluh kali hingga tubuhnya penuh bilur dan luka, tetapi tak sekalipun pria itu berteriak ia hanya meringis, mengerang dan merintih menahan sakit. Hal itu membuat Ino geram karena ia ingin Kakashi berteriak.
"Pertanyaan terakhir, Apa yang kau inginkan?"
"Bolehkan aku melihat wajahmu dan merasakanmu?"
"Tidak, kau tak berharga untuk menikmati tubuh dan wajahku."
Kakashi tak terganggu oleh rasa sakit. Kulitnya boleh saja koyak dan perih, tetapi ereksinya yang sudah lama terabaikan membuatnya merasa tak nyaman. Ia ingin sang dominatrix melakukan sesuatu untuk membantunya. "Mistress, Aku mohon belas kasihanmu."
Senyum Ino yang penuh misteri membuat Kakashi bergidik. Wanita itu memutuskan untuk melepas sarung tangannya dan mengelus penis yang keras dan menegang. Hanya dengan sedikit usapan lembut dari telapak tangan Ino pria itu merasa seolah melayang hanya untuk dihempaskan kembali ke neraka tatkala jari-jemari Ino yang lentik menggenggamnya dengan erat. Menjepitnya hingga ia merasa bisa patah. Kakashi akhirnya menjerit kesakitan.
"Oh, Aku suka mendengarnya." Komentar Ino datar melihat wajah meringis pria itu.
'Shit, it's so hurt. Wanita ini memang sadis.' Pikir Kakashi dalam hati.
"Hm..kau marah? Jangan khawatir wolfie. Aku akan mengurusmu dengan baik."
Telapak tangan Ino meluncur dengan mulus dari ujung hingga ke pangkal, membuat gerakan memompa. Hanya hal sesederhana itu sudah kembali membuat Kakashi trance lagi. Kali ini Ino tak berhenti. Ia memeras, membelai dengan tempo yang nyaman. Mencoba mengekstraksi cairan semen dari pria yang terikat tak berdaya. Ino tak lagi memikirkan dirinya. Bagaimana ia menyukai memukul pria itu atau betapa bangga ia melihat luka bilur yang ia sebabkan di tubuhnya. Konsentrasi wanita pirang itu sekarang sepenuhnya terfokus untuk memberikan kenikmatan pada submissive-nya.
Tak selang beberapa lama cairan putih muncrat mengotori tangan Ino. Kakashi mengerang pelan, merasa sangat lega dan ringan. Dia merasa damai dalam euforia orgasmenya. Ino melepaskan penutup mata pria itu. Tak bisa melihat tentunya meningkatkan sensasi dan kewaspadaan. Hal itu membuat permainan lebih menyenangkan.
"Terima kasih, Mistress."
Ino melepaskan pria itu dari semua ikatannya lalu pergi mengambil kotak obat, sedangkan Kakashi melangkah ke sofa dan membaringkan tubuhnya menikmati after glow effect. Dia tak menduga wanita itu datang lagi untuk merawat lukanya.
"Kau tak harus melakukan ini."
Ino mengoleskan salep antiseptik pada bilur-bilur yang ia sebabkan.
"Kita tidak bisa melewatkan after care setelah sebuah sesi yang intens. Aku sebagai dominatrix peduli pada semua submissive-ku. Kau memberikan kepercayaanmu sudah seharusnya aku peduli."
Kakashi menatap wanita pirang yang masih sibuk mengurusi lukanya. Rasanya ia ingin mencium wanita itu tapi ia menahan diri. Ino membawakannya pakaian yang tadi ia kenakan.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya wanita itu sedikit khawatir.
Kakashi tersenyum. "It was fun"
Jantung Ino langsung berdegup. Ia hampir menampar dirinya sendiri untuk mengingatkan yang berdiri di depannya adalah pak direktur yang tak sopan dan cabul.
"Sangat disayangkan aku tak bisa melihat wajahmu."
"Itu tak penting." Ia mengantarkan pria itu hingga ke pintu.
Sebelum pergi Kakashi mengambil dompetnya dan menyerahkan beberapa lembar uang pada Ino. "Tolong terimalah, Sekedar tips untuk servis yang memuaskan."
Tanpa diminta dua kali. Ino langsung mengambilnya. "Terima kasih."
Setelah kepergian Kakashi, Ino masih punya dua tamu lagi. Dia merasa tak bersemangat. Begitu selesai ia segara menemui Tsunade untuk meminta bayaran dan pulang. Wanita pirang itu sudah lelah dan mengantuk. Ia menekan tombol lift menuju apartemennya yang mungil dan nyaman.
Ino menyalakan lampu, mengambil segelas air. Ia memperhatikan sekeliling dengan aneh. Ada sesuatu yang berbeda dengan apartemennya. Ia mengamati dengan saksama bila ada barang yang hilang, tapi ternyata tak ada. Ino lalu memulai ritual sebelum tidurnya. Ia mencuci wajah, menyikat gigi dan menjalin rambutnya agar tak kusut. Ia mengganti pakaian trainingnya dengan gaun tidur lavender pucat kemudian melompat ke ranjang. Membenamkan dirinya dalam duvet yang hangat. Ino menguap dan mematikan lampu. Wanita itu sama sekali tak tahu seseorang tengah mengawasi gerak-geriknya.
Pria itu tersenyum simpul saat melihat Ino melompat ke ranjang dan menarik selimut dari layar tabletnya. Ia tak pernah menduga akan semudah ini mengamati wanita pirang itu. Ia menatap layar penuh konsentrasi mencoba menangkap setiap detailnya. Begitu layar mengelap pria itu tahu Ino sudah mematikan lampu kamarnya.
"Selamat tidur, sayang." Ucap pria itu. Ia meletakan tablet itu di atas meja lalu meraih celana dalam wanita yang tergeletak di sebelahnya dan menyimpannya di saku celana. Ia meninggalkan ruangan itu di mana puluhan foto candid Ino tertempel di dinding. Pria itu tahu sebentar lagi Ino akan jadi miliknya. Ia hanya perlu bersabar.
