Akhirnya bisa update juga. Terima kasih atas PM, reviewnya maupun support dalam bentuk apapun untuk mengingatkan saya agar segera update. Maaf chapter 3 tidak bisa terlalu panjang dan chapter ini bakal berisi tentang masa lalu hubungan NaruHina dari sudut pandang Naruto meski nggak sampai akhir. Sebenarnya udah greget buat cerita tentang konflik mereka yang memperebutkan Boruto tapi tetap saja nggak lengkap kalau nggak ada flash back nya.
Semoga terhibur.
Tak bosan saya ingatkan. Tolong perhatikan warning yang saya cantumkan, terutama mengenai bahasa yang saya gunakan. Memang ada beberapa bagian dengan frasa tidak sesuai tatanan kebahasaan karena memang konteksnya saya buat seperti itu.
Kata yang dicetak Tebal adalah percakapan lewat telepon.
.
.
.
Kesalahan tidak bisa dihapuskan. Itu membekas dan meninggalkan jejak.
Kau hanya bisa memperbaikinnya, namun berhentilah mencoba karena kau terlalu terlambat untuk melakukannya
.
.
.
.
.
Ditulis berdasarkan imajinasi tanpa referensi
© Masashi Kisimoto
Tidak dipersyaratkan untuk dibaca anak kecil, khusus (18+).
Warning : Typo(s), Bahasa tidak baku (cenderung kasar dan tidak sesuai EYD), sexual content, AU, Modern live, OOC, alur cepat
Rated : M (language and content)
Pairing : Naruto-Hinata
Story : Atharu
Cover : credit by Iqbal_Aliph (iqbalaliph,deviantart,com) hilangkan tanda koma (,)
.
.
.
Flash Back
Naruto POV
Sebagai seorang pemimpin baru tentu aku harus melakukan sejumlah agenda di beberapa cabang-cabang perusahaan. Namikaze Minato, ayahku menyerahkan jabatannya padaku. Ayahku belum terlalu tua sebenarnya, masih beberapa tahun lagi untuk pensiun. Namun dia ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama ibu. Aku tidak menolak, toh aku juga sudah siap dan menyiapkan hal ini sejak awal.
Karena sejak awal aku sudah tahu. Sebagai satu-satunya putra Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina, aku sudah diharuskan mengenyam pendidikan sebagai penerus meski mereka tidak pernah memaksa. Mereka meemberiku kebebasan memilih namun keadaan menuntutku untuk tahu diri. Bagaimanapun juga aku sudah menetapkan pilihan untuk menjadi penerus apa yang telah keluargaku raih.
Kembali pada masa kini. Aku pertama kali melihatnya sewaktu melakukan pemeriksaan di anak perusahaanku. Dia karyawan bawah, tugasnya mengecek kelengkapan produk perusahaan di gudang. Tidak ada yang terlau kuingat selain warna bola matanya yang cukup aneh.
Entah putih, pucat atau lilc. Iris mata bulat itu membuatku melihatnya secara penasaran ingin memastikan.
Namanya Hyuuga Hinata, aku baru mengetahui namanya setelah seminggu berada di sini. Kata ketua divisi pemasaran, perempuan itu cukup cekatan. Bisa mengatasi masalah jika ada stok barang berlebih atau kekurangan di gudang. Dan aku menyetujuinya setelah melihat bagaimana dia bekerja dengan giat.
Hinata sering lembur sampai pulang di atas jam sembilan malam. Dan entah sejak kapan aku jadi sering memerhatikannya.
Namun, bukan berarti aku tertarik apalagi menaruh minat.
Hinata terlalu biasa, sangat bukan tipeku dan aku cukup tahu dia tidak berpengalaman dalam menjalin hubungan. Lihat saja dandanannya, apa adanya atau bisa kusebut tidak ada apa-apanya. Dia bahkan bisa kukenali dari arah belakang karena pakaiannya yang jarang diganti –dua hari sekali dia baru ganti corak baju. Warna di pakaiannya juga nampak kusam, memudar dengan size kedodoran seolah memakai baju bekas orang lain.
Dia juga bukan tipe pesolek jika diamati lewat warna pucat di kulit wajah meski pipinya akan bersemu merah ketika seseorang menggodanya saat bercanda. Bibirnya tidak pernah dipoles gincu merah, dibiarkan begitu saja berwarna merah muda menyembul membuatku sedikit tergiur.
Ah, maksudku Hinata benar-benar tidak masuk dalam kreteriaku. Aku orang yang sedikit bersenang-senang juga liar, pemilih pada orang yang akan aku dekati. Sedangkan dia, Hinata tipikal orang yang hanya menurut tanpa mau diajak keluar dari zona aman. Aku tidak menyukai sifat pasifnya. Hinata terlalu monoton, hidupnya terlalu mudah untuk dimonopoli. Membosankan.
Tapi kenapa aku keterusan mengamatinya? Tugasku diharuskan untk duduk di balik meja direktur menandatangai dokumen atau bertemu klien penting. Tapi aku malah sering melakukan tinjauan ke bagian gudang dengan alasan mengecek kelengkapan padahal curi pandangan ke arahnya. Aneh. Aku mulai menyadari ke abnormalan dalam diriku.
"Naruto aku menghubungimu dan kau sama sekali tidak membalasnya." Suara nyaring seorang wanita membuatku tersenyum menyadari siapa yang datang jauh-jauh kemari.
Lagi pula aku sudah punya kekasih. Namanya Shion, seorang model yang sudah kuikat dengan tali pertunangan.
Wanita itu penuh pesona dan daya pikat. Dia datang dan langsung mencumbuku meski ini bukan di ruang pribadiku. Banyak mata menatap dan secara tak langsung aku sempat melihat iris putih bening ikutan melihat ke arah kami –ke arahku lebih tepatnya.
Oh my goodness, kontur wajah Hinata begitu lugu dan entah mengapa membuatku ingin sekali mengatakan bahwa dirinya punya sesuatu yang berbahaya untuk dijadikan senjata menggoda. Untngnya dia tidak menyadari potensinya. Hinata bisa membuatku salah tingkah hanya dengan sekali kedipan mata.
"Shion, kupikir kita tidak memiliki janji hari ini." Aku mengingat semua jadwal dan kegiatanku hari ini. Tidak ada memo yang mengharuskan kami bertemu. Shion menatapku genit, wanita cantik ini tidak peduli, dia malah menciumku lagi dan dengan senang hati kubalas berupa lumatan panas.
Tidak ingin menampilkan sisi privasiku, aku membawa Shion ke ruang pribadiku. Di sana kami bisa lebih leluasa untuk bertindak sedikit nakal. Selintas aku menyempatkan diri mengintp Hinata lewat sudut mata. Dia telah kembali bekerja.
.
.
"Aku ingin kita segera menikah. Aku tak mau terus-terusan melihat dirimu digosipkan dengan wanita lain. Bilangnya gimmick tapi aku tahu mereka tengah menggodamu." Shion memeluk leherku manja, membuat kemejaku berantakan karena dia tengah duduk di pangkuanku.
Bermain-main dengan dua kancing kemejaku yang terbuka.
"Majalah-majalah sialan itu telah berani menyandingkan dirimu dengan bintang rendahan untuk menaikkan popuaritas."
Aku ingat pernah melakukan sesi pemotretan pada sebuah majalah, namun bukan majalah hiburan melainkan untuk model majalah bisnis.
Aku menertawai sikap posesifnya. Cute. Wajah feminimnya terangkung sempurna untuk kugoda. "Kita memang akan menikah, tapi setelah aku menyelesaikan beberapa urusanku dulu. Sayang." Aku tidak mungkin tidak menikahi Shion. Kami sudah menjalin hubungan selama dua tahun dan kaluarga kami juga telah menyetujui.
Bahkan ibuku adalah orang paling gencar mendesakku untuk segera menikah. Dia akan mengkhawatirkan umurku yang matang namun belum berkeluarga secara berlebih. Ibu mengharapkan seorang cucu untuk bisa membuatnya kembali merasa muda. Hanya saja ayahku masih menginginkanku untuk lebih mendalami tentang bisnis, setidaknya itu untuk bekal masa depanku kelak. Dan diriku lebih menyetujui saran dari ayah.
"Jangan lama-lama aku takut kau dicuri orang."
"Tidak ada yang bisa menguasaiku selain dirimu, calon nyonya Uzumaki." Dia terkikik mendengar ucapanku. Selanjutnya dia kembali melumat bibirku dan kami saling bertukar lidah. Tidak terlalu lama karena aku sudah merebahkannya di atas sofa.
Inilah yang aku katakana mengenai sisi liarku. Aku menyukai wanita yang bisa kuajak untuk bersenang-senang bukan diam-diaman. Apalagi Shion merupakan kekasihku, itu sudah cukup bagiku untuk tidak melirik wanita lain.
Namun sialnya di tengah luapan gairahku seseorang mengetuk pintu. Suara Kakashi, sekretaris pribadiku menyeruak masuk membuatku harus menahan diri. Dia mengingatkanku ada meeting penting yang tidak bisa kutinggal. "Kau tunggu aku di luar."
Shion terlihat kesal karena gangguan ini. Dia merapikan dressnya dan beranjak pergi. Mengecup bibirku sekilas. "Aku akan mengirim alamat hotel padamu, jangan lama-lama berkutat dengan dokumen, aku sudah menyiapkan lateks untuk malam nanti."
"Ok, baby."
Melihat Shion yang telah keluar maka Kakashi masuk dengan membawa setumpuk dokumen.
"Ini dokumen perusahaan calon investor. Kita akan melakukan rapat hari ini."
Aku benar-benar merasa bosan jika setiap harinya akan digunakan untuk menandatangani berbagai pengajuan proposal maupun dokumen relasi lainnya. Pantas saja ayah mengajukan pensiun dini. Aku yakin sekarang dia sedang menikmati waktu bermesraan dengan ibu.
"Dan ini data pemasukan dari perusahaan ini. Yang kulingkari merah adalah beberapa karyawan yang bermasalah."
Aku mengangguk mengerti, kemudian membuka file yang telah Kakashi berikan. Kulihat daftar pemasukan perusahaan cabang ini masih stagnan, masih sama dengan tahun sebelumnya. Lalu file ke dua berisi gaji para karyawan. Mataku secara langsung dapat menemukan apa yang Kakashi maksud.
Karyawan dengan hutang tinggi pada perusahaan merupakan hal yang harus 'dikurangi' dan tentu saja aku tak menyangkah bawah nama Hyuuga Hinata masuk ke dalamnya.
"Gajinya sudah merah dan ia masih berhutang? Sebanyak ini?" Daftar hutangnya pada perusahaan tidak main-main. Gajinya saja bahkan hanya cukup untuk menutup bunga pinjaman –tidak secara keseluruhan malah.
"Kenapa perusahaan masih memberinya legalisir untuk berhutang? Ini perusahaan bukan bank pinjaman." Desisku marah. Pegawai seperti itu berbahaya jika dibiarkan, bagaimana bila melarikan diri sebelum melunasi hutang?
"Kepala divisi yang membawahinya mengatakan Hinata sedang dalam kondisi ekonomi lemah. Dan itu disetujui oleh tuan Minato sebelum pergantian kepemimpianan kepada anda."
"Ck, tetap saja pegawai sepertinya tidak boleh diperlakukan istimewa." Aku curiga Hinata ada main dengan para petinggi. "Cepat panggilkan Hyuuga Hinata kemari, biar aku yang menilainya secara langsung."
"Baik, tuan."
Lima menit berlalu, suara ketukan pintu membuatku menoleh. "Masuk."
Kali ini aku bisa melihat Hinata secara dekat. Keringatnya terlalu banyak dan rambutnya sedikit berantakan. Kuncirnya mengendr hingga beberapa helai rambut tersampir begitu saja. Aku tahu dia belum sempat merapikan diri. "Kau bisa pakai tisuku. Aku tidak mau keringatmu mengotori dokumen penting di sini."
Dia gelagapan, menunduk ketakutan. "Maaf tuan, terima kasih." Aku baru mendengar suaranya, terdengar kecil nyaris seperti gesekan daun. "Ada keperluan apa Direktur memanggil saya." Ia duduk dengan dua tangan saling meremas satu sama lain. Hey, apa aku sebegitu menakutkan?
Ck, ayolah. Kita sama-sama manusia meski beda kasta. Aku tidak akan memakanmu.
"Untuk apa kau berhutang sebegitu banyaknya? Kurasa gajimu sudah cukup jika kau gunakan untuk menghidupi dirimu sendiri, bahkan ada lebih yang bisa kau hamburkan bila kau ingin."
Melihat sorot matanya secara langsung aku tak menduga bahwa dia malah menampilkan wajah yang begitu menggoda. Bibir pink itu digigit sampai berubah warna, apalagi pandangannya yang dibuat seolah penuh kepasrahan. Penyerahan diri. Astaga, aku mulai berpikir bahwa dia mungkin punya pengalaman ranjang yang hebat.
"I-itu sebenarnya untuk pengobatan ayah saya."
"Hmm?"
Dia enggan berbicara lebih, entah malu atau ingin privasi. Namun lewat tatapan mata biru intimidasiku kupaksa dia mengaku. Setidaknya aku harus memberinya kesempatan untuk menjelaskan.
"Ayah saya sedang sakit dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Saya berjanji akan melunasi hutang-hutang di perusahaan, namun tolong beri saya waktu, tuan."
"Beri saya kesempatan."
Sinting! dia memohon dengan cara yang begitu salah. Jemari halusnya memegang tanganku. Bulatan mata membulat lebar seperti bulan purnama penuh. Apalagi sewaktu berkedip sampai bulu mata lentiknya terlihat jelas. Dan apa-apaan ini? Aku merasa tegang dan terangsang? Fuck! Aku mengumpat dalam hati.
"Tuan," Lidahnya mengucapkan kata 'tuan' dengan lidah menyentuh atap rongga mulut. Terdengar seperti mendesah. Dia memohon pada orang yang salah. "Saya akan bekerja dengan giat. Saya bisa merangkap menjadi pembersih gedung untuk melunasi hutang saya. Tapi, saya mohon jangan pecat saya."
Gila, tubuhku mulai panas dingin. Aku bisa mati muda jika lebih lama satu ruangan dengan Hinata. Dia berbeda dengan Shion yang bisa kukendalikan. Hyuuga Hinata malah hampir bisa mengendalikanku hanya dengan sedikit sentuhan dan pandangan dalam memohon. Bisa-bisa aku menyeretnya ke sofa lalu melakukan hal kurang ajar padanya.
Tidak! aku bukan pria brengsek yang memanfaatkan kondisi seseorang. Seburuk apapun diriku, mengambil keuntungan dari kebuntungan orang lain adalah hal yang tidak akan aku lakukan.
Dan aku harus menjauhinya. Menjauhi Hinata sebisanya. Takut kebablasan jika benar-benar lebih lama dia memandangiku lewat mata mutiara beningnya.
"Keluar! Kau akan tahu nanti keputusanku. Memecatmu atau mengasihanimu." Bukannya aku berniat membentak namun suaraku memang melengking untuk menutupi kegugupan. Hinata tergelak mundur, dia terlebih dulu ketakutan. Muak rasanya melihat kepatuhan yang diperlihatkan Hinata akibat rasa takut.
Aku benar-benar tiada niat berkata macam mengumpat, tapi Hinata sudah keburu membungkuk hormat sebelum melenggang pergi.
Hah, aku seperti seorang penjahat sekarang.
Tiba-tiba aku merasa gerah, efek yang ditimbulkan dari sentuhan itu begitu besar melebihi keinginanku bercinta dengan Shion. Aku sampai harus melonggarkan dasiku sejenak untuk menghirup udara sebanyak mungkin. Panas, Hinata membuat ruangan AC ku tidak berguna.
Jika memang benar apa yang dikatakan Hinata, tentang pengobatan ayahnya haruskah aku membiarkannya? Aku tidak pernah merasa lemah dalam menghadapi seseorang. Hati besi atau manusia tanpa perasaan adalah julukan yang sudah tersemat dan melekat erat dalam diriku. Namun kali ini berbeda. Aku nampak tidak berdaya, itu sangat menggelikan juga mengerikan.
"Ck, aku rasa aku perlu beristirahat."
.
.
Setelah beberapa minggu kuhabiskan waktuku untuk memajemen perusahaan cabang ini, sudah kuputuskan aku akan kembali ke kota pusat –Tokyo. Ayah sudah memberiku lampu hijau untuk duduk di kursi puncak –sebagai pemimpin baru di sana. Secepatnya aku harus mengepak barang-barangku dari sini.
Kehidupan metropolitan di pusat kota begitu kurindukan.
Malamnya aku menerima sebuah undangan. Sebuah pesta perayaan kecil yang diadakan sebagai jamuan untuk pelepasan, kebiasaan bagi para karyawan dalam menghormati pimpinan. Aku sedikit tidak tertarik, Shion jelas lebih membuatku betah di ranjang daripada harus menghadiri pesta kecil itu. Namun, saat menyadari ini adalah waktu terakhirku di sini aku mulai berpikir untuk menghadiri.
Sedikit memperlihatkan seorang pemimpin yang baik tidak ada salahnya kan.
"Kau mau kemana?" Suara serak Shion membuatku menoleh ke arahnya. Tubuh telanjang itu terpampang dengan banyak bercak merah hasil kecupan yang kuberikan. Semalaman kami bergerak bersama mengarungi lautan kenikmatan, aku membuatnya kelelahan sampai tertidur duluan.
"Tidurlah, aku hanya menghadiri sebuah pesta kecil." Kepalanya kuusap lembut. Dia balas mengecup lenganku.
"Aku ikut." Dia mulai mengeluarkan suara anak kecilnya hingga membuatku tertawa pelan. Lihat, Shion sangat manis bukan. Dialah kekasih yang aku seriusi untuk jadi seorang istri.
Aku menggelengkan kepala menolak halus keinginannya. Toh aku yakin dia akan bosan di sana. Dia tipe sosialita. Kedai kecil dengan jamuan sederhana pasti tidak sesuai dengan selera Shion yang high class. "Tidak sayang, kau istirahatlah. Aku yakin kau cukup tahu sendiri bagaimana lelahnya dirimu setelah kita bermain." Aku mencium bibirnya sesaat sebelum ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Kurasakan bahwa badanku terlalu lengket dengan aroma sex yang begitu kuat. Percintaan yang begitu hebat namun ada sebuah rahasia di dalamnya yang kupendam. Setidaknya aku tidak ingin Shion tahu tentang diriku yang berubah menggila.
Aku yakin menyukai Shion, mendambanya selayaknya orang dimabuk asmara. Namun saat pikiranku mulai mencari sebuah pengimajinasian, malah muncul bayangan Hinata yang mendesah di bawahku.
Dia begitu kaku dan butuh bimbingan dalam fantasi liarku. Saat aku bergerak, dia akan menampilnya kernyitan sakit dan napasnya putus-putus seolah mulai menikmati, kemudian dia akan ikut mengayun bersamaku. Benar-benar tidak mumpuni, tapi aku malah merasakan sebuah pelepasan paling kuat.
Ya Tuhan. Apa yang tengah terjadi pada diriku? Bahkan kesenanganku mulai terganggu oleh gadis biasa yang tidak berkelas sama sekali.
Ini mulai tidak benar dan keliru, bayangan mata bulan sabitnya dan pipi yang memerah dalam beberapa hari ini membuat diriku diserang disortasi jantung berdebar. Hatiku bergerak tidak karuan, pikiranku teracuni. Aku menyakini ada hal tidak normal dalam diriku. Rasanya aku sedang merendahkan diriku sendiri untuk meminta satu perhatian kecil.
Paling menyedihkan ketika tanpa sengaja memvisualisasikan Hinata sampai masuk ke dalam khayalan erotisme. Membuatku mimpi basah sampai muncrat.
Oh, bajingan. Adikku langsung menegang, membesar dan membuatku sesak kesempitan gara-gara pikiran itu. Aku butuh air dingin sesegera mungkin, atau sebuah toilet untuk melepas apa yang sudah diujung puncak ketegangan.
Sambil mengguyurkan air dingin aku mulai berpikir bahwa sudah tidak bisa membiarkan hal ini terjadi berlarut-larut. Shion jelas yang akan menjadi pendampingku bukan Hinata. Dia terlalu baik untuk pria sepertiku. Setidaknya aku masih menghargai Hinata sebagai perempuan baik-baik.
Setelah menyelesaikan mandi, aku langsung memakai pakaian dan bergegas untuk ke tempat yang dijanjikan.
Hanya 30 menit perjalanan dengan mobil pribadi dari hotel ke tempat tujuan. Sebuah rumah makan klasik sudah terlihat. Aku bisa mendengar beberapa suara yang ku kenal dari arah dalam.
"Direktur?"
Aku mendapati sosok perempuan yang baru turun dari taxi. Lampu temaram membuatku harus menyipitkan mata untuk memastikan bahwa itu memang benar Hinata.
Mataku membola.
Dia terlalu berubah. Maksudku tidak dengan dandanan menor, bahkan aku tidak yakin dia cukup mampu untuk membeli alat penata rias atau pakaian berlabel. Tapi, aku berhedem pelan. Pakaian kedodoran yang biasa dipakai terganti dress putih gading selutut yang pas untuk ukuran tubuhnya. Dia kecil, mungil namun memiliki keindahan ragawi yang baru kusadari. Ditambah bedak tipis dan pemerah bibir warna peach.
Hinata masih biasa di mataku; tapi dia cukup menawan malam ini. Cukup cantik sampai membuat dada kiriku meletup-letup dan perutku tergelitik ribuan kupu imajiner.
"Kau juga diundang? Kupikir hanya para ketua divisi dan bagian sekretaris saja yang datang."
Hinata menunduk seperti merasa terintimidasi. Jemarinya bertaut, aku tahu dia gugup. Ekspresinya terlalu jujur untuk dibaca. "Saya hanya menggantikan tugas Ino-san. Dia sedang dalam urusan ke luar kota."
Yang kutahu Ino memang salah satu sekretaris dalam divisi pemasaran. Mungkin keduanya berteman. Aku tidak terlalu memersalahkannya.
Sebelum aku sempat bertanya lebih lanjut, dia mengucapkan terima kasih padaku. "Te-terima kasih Direktur tetap membiarkan saya bekerja." Ah, rupanya masalah itu. Aku memang memutuskan untuk tidak memecatnya. Kasihan? Kupikir dia cukup menyakinkanku untuk tetap mempekerjakannya.
"Tidak usah berterima kasih, aku memang murah hati." Sombong. Masa bodoh. Aku memang bisa melakukan hal manusiawi. "Tapi jangan besar kepala. Tingkatkan kinerjamu, siapa tahu ketua divisi bisa mempromosikan dirimu untuk naik jabatan. Setidaknya jadi pengawas."
Perempuan ini berseri. Roman mukanya menyenangkan untuk dilihat jika sedang tersenyum. Gigi gingsulnya sampai muncul seolah sengaja mengapit dua bibir. Pipi bulatnya membentuk kurva melengkung di bibir. Ya ampun, kelakuan alaminya semakin mempermanis dia malam ini.
Hinata memberi pengaruh revolusi secara fundamental dan menyeluruh. Mengobrak-abrik tatanan pikiranku sampai menjungkir balik perasaanku.
"Anda orang yang baik Direktur. Semoga anda selalu diberi kebahagiaan."
"Simpan jilatanmu. Aku tidak membutuhkannya, tidak usah muluk-muluk untuk memuji. Aku hanya merasa kau memang pantas untuk dikasihani."
Baru beberapa menit yang lalu dia tersenyum kini wajahnya malah kembali menunduk sambil meremas ujung pelintingan baju. Aku tahu mulutku memang pedas, kurang ajar malah. Tapi aku membenci kata pujian bila hanya digunakan untuk menjilat. Rasional jika Hinata akan berpura-pura memujiku agar bisa mendapatkan uang.
Inilah dunia bisnis yang aku pelajari. Yang lemah akan memohon pada yang kuat.
"Tidak."
Sahutan suara tegas membuatku menoleh padanya. Hinata memiliki mata bulat bercahaya ketika memandang dengan penuh kepercayaan. Kembali jantungku dibuat gaduh lalu berdetak bak memacu kuda liar di area pacuan. Ya Tuhan. Mendebarkan!
Bolehkah aku jujur mengakui bahwa Hinata menjadi berjuta kali lebih indah? Memesona dalam satu waktu. Respon tubuhku mulai tak karuan arah. Ingin sekali aku menariknya untuk ikut menggila bersama. Dia masih menatapku seolah menyuruhku untuk tunduk dan menyerah.
Menggairahkan bukan. Dia bisa memegang kelemahanku dalam waktu singkat. Oh Hinata, dia harus bertanggung jawab pada semua kekacauan dalam diriku. Aku membayangkan mata itu menatapku dengan penuh damba. Aku tidak keberatan untuk menjadi pemandu malamnya, dalam kehangatan ranjang.
Sialan! Pikiranku benar-benar kotor. Akan memalukan jika dia mendapati diriku yang menegang di bawah sana. Celanaku tidak cukup tebal untuk menyembunyikan gundukan yang menonjol tak tahu malu.
"Saya benar-benar merasa berterima kasih tanpa maksud untuk mencari sensasi apalagi membohongi hati untuk jadi penjilat. Anda memang tipikal orang keras, tapi anda menyimpan satu kebaikan di sudut hati anda. Saya tahu kapasitas saya tidak pantas mengatakannya. Tapi direktur, saya rasa anda adalah orang yang lebih memikirkan orang lain."
Senyum tipis dengan sudut bibir tertarik ke atas menyapu penglihatanku. Satu kata untuk segala kesempurnaannya. Menakjubkan.
A-apa ini? Aku tidak sebaik itu! Hinata terlalu berbohong. Dusta. Jiwaku dibuat melayang dan diriku tidaklah punya ketahanan mendengar ucapan manisnya. Telingaku meremang –memerah. Pujiannya membuatku memalingkan wajah malu.
Aku baru sadar bahwa aku memiliki sifat baik yang tak pernah kutahu. Hinata terlalu jeli sampai bisa mengulik sisi manusiawiku.
Andai aku bertemu dengan Hinata lebih dulu, mungkin aku sudah jatuh lebih dalam untuk memujanya. Tidak sulit bagi perempuan berwajah oriental ini untuk menundukkanku. Namun sayangnya sebuah cincin perak –pertunangan di jari manisku telah lebih dulu melingkar, mengikatku agar tidak kelepasan menaruh hati.
"Ck, mau memang orang yang aneh, Hinata." Aku terkekeh menyukai keakraban ini. Hinata tidak semembosankan yang pernah kupikirkan. "Mau masuk bersama?" Aku menawarkan sebuah ajakan. Lengan tanganku terbuka untuk menerima apitannya.
Ini terakhir kali aku berbaik hati. Dan Hinata adalah perempuan beruntung yang mendapatkannya.
Tapi nyatanya keyakinanku itu hanya bualan semata. Lihat, aku bahkan menawarinya satu mobil ketika dia nampak cemas setelah menerima sebuah panggilan telepon. Hinata mengatakan ayahnya dalam keadaan kritis, dia buru-buru ingin pergi dan aku langsung menyeretnya menuju mobilku memberinya tumpangan.
"Kau bilang ayahmu sudah menjalani perawatan dan kesehatannya membaik. Tapi kenapa sekarang malah sekarat? Kau memasukkan ayahmu ke rumah sakit murahan?" Banyak rumah sakit dengan pelayanan prima, aku bisa membantunya untuk mendapatkan layanan kesehatan yang lebih baik.
"Bisakah direktur fokus menyetir saja?" Hinata tegang, cemas dan begitu ketakutan. Sedari tadi dia mengigit bibirnya sampai sedikit berdarah. Mengatupkan tangan seolah berdoa agar ayahnya bisa segera pulih. Reaksi yang wajar memang. Dia hanya memiliki seorang ayah. Tidak ada ibu dan saudara. Jika ayahnya mati mata Hinata akan sebatang kara.
Dokter mengabarkan ayahnya tidak sadarkan diri, jantungnya sudah lemah. Ada kebocoran di salah satu katupnya. Hiashi –ayah Hinata sesegera mungkin harus dipindahkan ke ruang operasi. Presentase hidupnya sudah tak banyak lagi jika terlalu lama dibiarkan tanpa ada tindakan pembedahan.
"Ayahmu membutuhkan tindakan cepat Hinata. kau harus membat keputusan."
"Aku mohon selamatkan ayahku. Apa biaya yang kubayarkan dulu tidak cukup?" Hinata bertanya meminta penjelasan.
"Kau seharusnya sadar Hinata, ayahmu mengalami komplikasi. Bukan hanya jantungnya saja yang gawat melainkan fungsi organ lainnya seperti ginjal juga bermasalah. Maaf, tapi uang yang kau keluarkan hanya untuk menutup biaya cuci darah."
Aku menggeram marah. Tanganku terkepal mendengar secara tidak langsung orang-orang yang mengaku dokter itu menyudutkan Hinata. Apa nyawa seseorang lebih murah dari uang?
"Tapi dari mana? Bi-bisakah anda melakukan pertolongan lebih dulu? A-aku janji akan membawakan uang sesegera mungkin. Tapi kumohon lakukan sesuatu terlebih dulu."
Entah kenapa aku ikut merasakan perasaan sedih dan takut Hinata. Dua bola mata besarnya berair sampai menetes jatuh. Sosok tubuh kecilnya bergetar disertai isak tangis yang tergugu. Dia rapuh, namun masih mampu untuk berdiri meski keadaan sama sekali tidak memihaknya.
Mana ada dapat uang banyak dalam satu malam! Mau jual diri?
Aku menggeram marah hanya untuk memikirkan kemungkinan terburuk itu. Aku juga tidak menyukai wajah bersedihnya, dia lebih cocok ketika tersenyum. Aku ingin memberinya sebuah tempat dimana Hinata bisa tertawa lepas.
"Lakukan segera operasi. Aku akan menanggung seluruh biayanya!"
Hinata menatapku melotot tak percaya, tapi aku pura-pura tidak melihatnya. Satu kredit card gold kulempar pada meja resepsionis. Bagiku uang tidak menjadi masalah. Kekayaanku sudah menumpuk sampai meluber menjadi banyak perusahaan-persahaan, bahkan rumah sakit inipun bisa kubeli sekarang juga. "Lakukan yang terbaik atau aku bisa membuat kalian menjadi gembel!"
"Direktur? Apa yang anda lakukan?"
Aku juga tidak tahu sialan. Tiba-tiba mulutku bergerak sendiri mengucapkan hal sok gentle. "Aku hanya melakukan sedekah."
Oke, jawabanku benar-benar malah membuat Hinata menatapku curiga. Namun lebih buruk lagi jika aku mengatakan 'Melihat wajah sedihmu benar-benar membuatku kehilangan kewarasanku. Aku ingin melihat bibirmu dan mata bulan sabitmu ketika tersenyum. Aku ingin memelukmu.' Itu hal memalukan untuk diungkap. Bisa-bisanya aku bertingkah seperti remaja dimabuk asmara.
"Ck, tidak usah banyak Tanya. Yang penting sekarang ayahmu sudah ditangani dokter dan jangan menangis lagi. Kau sudah besar kenapa masih cengeng." Aku menghapus sisa air mata di sudut matanya. Hinata menolak mengatakan bahwa dia sudah baik-baik saja. Pipinya sempat memerah ketika kusentuh.
"Mengapa anda begitu baik? Saya hanya bawahan anda."
Tidak. aku tidak ingin ini hanya sebatas hubungan kerja antara atasan dan bawahan. Aku ingin lebih, lebih untuk memiliki hak memilikimu.
Jatuh cinta pada Hinata adalah hal yang tidak pernah aku sesali meski dia bukan menjadi pendampingku nantinya.
Dan aku benar-benar harus secepatnya pergi –kembali ke tempatku. Perasaan ini sudah tidak bisa kukontrol. Rasanya ini begitu luar biasa namun juga membingungkan. Debaranku akan semakin menggila jika Hinata berada di dekatku. Pikiranku semakin kurang ajar dengan membayangkan menarik tubuhnya ke lorong sepi lalu melakukan sesuatu yang nakal.
Tahan Naruto, kau sudah memiliki Shion.
Kau jatuh cinta untuk yang pertama dan langsung mengalami patah hati. Holly shit! Segera lupakan dia. Kau akan lebih mencintai Shion nantinya. Ucapku dalam hati. Aku mengabari Kakashi, memintanya untuk menjemputku dan mengantarku ke Tokyo malam ini juga.
Tanpa kutahu bahwa takdir akan mengikat kami.
End Flasbck
.
.
.
.
.
.
.
.
Naruto memandang Hinata yang masih tertidur dengan beberapa selang infus tertanam pada lapisan dermis lengannya. Sudah lima jam lamanya mereka sampai di Tokyo dan sampai saat ini pula Hinata belum sadar. Wajahnya masih pucat meski keringat dingin tidak lagi bercucuran.
Hinata kekurangan cairan dan saluran pencernaannya mengalami infeksi. Sakit Typus, itu yang dokter katakan mengenai penyakitnya. Tak ayal Naruto memerintahkan agar Hinata dirawat khusus dalam penthouse miliknya dengan pengawasan dokter pribadi. Entah kenapa Naruto menjadi panik. Setiap 30 menit sekali dia akan melihat keadaan wanita manis itu.
"Paman." Boruto mengucek matanya. Bocah kecil itu mengeluh pusing. Jeglag. "Mama sudah sadar?" Mata biru hasil warisan dari sang papa memandang sedih mamanya.
"Apa mama membenci Boruto? Kenapa mama marah melihatku bersama paman, mama langsung sakit –hiks." Mata Boruto berkaca-kaca, Naruto bingung bagaimana menenangkannya. "Boru ingin mama." Rengek bocah itu semakin histeris.
Mampus kau Naruto. Kau tidak bisa menjawabnya karena semua itu benar. Hinata membencimu dan kau adalah alasan memburuknya keadaan Hinata saat ini.
"Tidak sayang, mama memang butuh istirahat." Lidah Narto tergelitik memanggil Hinata dengan sebutan 'mama'. Aneh. Tapi terasa benar untuk diucapkan. "Boruto makan dulu ya, ini sudah hampir malam."
Boruto hampir saja kembali menangis jika Naruto tidak mengelus punggungya dengan lembut. Tangan besarnya seolah memberi Boruto sandaran.
Boruto bergelung nyaman di dalam tepukan halus Naruto. Ini berbeda ketika Kiba yang melakukannya. Boruto lebih menyukai dekapan dari Naruto.
"Ssstt, mamamu butuh istirahat." Naruto jarang berkata halus, namun di depan anaknya dia menjadi sosok lunak. Dia ingin berperan selayaknya orang tua.
Sayangnya Naruto sudah begitu terlambat.
Boruto menatap ke arah mamanya. Bocah itu ingin memeluk Hinata namun takut akan mengganggu pemulihan mamanya. "Ta-tapi mama akan bangun kan? Mama tidak akan tidur terus kan?" Naruto tersenyum, dua tangan besarnya menghapus genangan air mata di pelupuk mata langit anaknya. Meski sedang menangispun Boruto akan terlihat sangat tampan. Naruto merasa bahagia dengan ciri fisik Boruto yang hampir semuanya didapatkan dari dirinya.
"Paman janji, mama akan segera bangun. Jadi, saat mama bangun, Boruto harus terlihat baik. Harus makan banyak."
Mau tidak mau Boruto menurut. Dia memeluk Naruto yang menggendongnya. Mengalunkan kedua tangan kecilnya di leher Naruto sampai pria dewasa itu tersenyum sampai tertawa lebar ketika melihat tingkah polos anaknya. Hati Naruto mulai meminta lebih. Dia lupa diri terlalu jauh berkhayal.
Bagaimana jika Boruto memanggilnya papa?
"Tapi Boru, belum mandi."
"Kalau begitu kita mandi bersama, hmm." Ya ampun. Naruto tidak pernah merasa sesenang ini. Bisa mandi dan makan bersama anaknya. Hatinya menghangat. Dia ingin setiap harinya dapat menggendong Boruto.
Setelah memerintahkan beberapa maid menyiapkan pakaian untuk anak kecil, Naruto langsung menggendong Boruto masuk ke dalam Jacuzzi-nya. Namun Naruto mulai bingung. Air apa yang tepat untuk seorang anak kecil? Air dingin atau hangat? Keningnya mengerut tak sadar Boruto sudah kedinginan lebih dulu terkena udara dingin.
"Paman, ayo mandi."
"Sebentar. Kau suka air dingin apa hangat?" Naruto sama sekali buta akan mengurus anak kecil. Bagaimana Hinata biasanya memandikan Boruto?
"Terserah paman, aku menyukai dua-duanya." Bibir Boruto mulai manyun unyu. Dia nampak persis dengan Naruto ketika kesal. Entahlah, kadang putranya juga menampilkan sisi yang dia warisi dari Hinata.
"Baiklah." Naruto mengisi bak mandi dengan air hangat. Meletakkan tangan ke dalam air, Naruto memastikan suhu air tidak akan menyakiti kulit anaknya. Pria dewasa itu lalu masuk bersama Boruto yang sudah telanjang.
Baru beberapa guyuran, Naruto teringat sesuatu. "Ah, sabun." Botol sabun cair wangi lemon diambil Naruto, tapi dia kembali dibuat bingung. Oh ayolah, Naruto memang benar-benar ayah yang payah. "Sabun apa yang sesuai?" Dia bertanya pada dirinya sendiri.
Tingkat kesensitifan kulit orang dewasa dengan anak-anak jelas berbeda. Naruto takut sabun yang biasa dia gunakan tidak sesuai dengan kulit Boruto. Jika Boruto alergi bagaimana? Sampai bentol-bentol merah, tentu Naruto tidak mau hal tersebut terjadi.
Naruto keluar dari bak mandinya, mengambil ponsel di atas tmpukan handuk dalam rak dan menelepon seseorang.
"Halo, ibu."
"Astaga Naruto. Kau kemana saja? Ibu menghubungimu berulang kali tapi selalu dialihkan. Kau baru ingat kalau ibu masih hidup, hah!"
"Maaf ibu, namun aku benar-benar sedang sibuk."
"Setidaknya sekarang ibu tahu kau baik-baik saja. Jadi, apa yang membuatmu menelpon ibu?"
"Bu, bagaimana memandikan anak kecil?" Ponsel genggam di jepit antara bahu dan samping kepala. Naruto sibuk mengobrk-abrik persediaan peralatan mandi, mencari sabun pembersih tubuh.
". . ."
Naruto mengernyit tidak terdengar sahutan. Masih tersambung namun Kushina belum juga bersuara "Haloo, Ibu?"
"Ah, a-apa yang kau bilang tadi?"
"Bagaimana cara memandikan anak kecil bu? Usia lima tahun."
"Hah?! Kau sedang mabuk? Anak siapa yang kau bicarakan ini?"
"Bu, ceritanya nanti saja. Ibu jelaskan saja cara memandikan anak kecil." Naruto mulai lelah, dia melirik Boruto sekilas. Anaknya masih menikmati bermain dengan boneka karet bebek yang entah sejak kapan sudah berada dalam bathtube.
"Ck, kau ini. Baiklah. Dengarkan baik-baik. Kau sudah memastikan suhu airnya sesuai?" Naruto menjawab 'ya'.
"Lalu kau bisa memberinya sabun. Pilih sabun cair dengan pH normal agar tidak pedih di mata. Tuang sedikit lalu usap sampai berbusa. Pastikan kau membersihkan bagian lipatan seperti ketiak, lutut, siku dan leher. Juga gunakan shampo khusus anak kecil. Jangan lupa setelah mandi kau harus memberinya handuk halus dan bersih. Bisa juga kau tambahkan lotion untuk menjaga kelembabkan kulitnya."
Naruto berjuang untuk mengingat apa saja yang Kushina katakana. Dia mengangguk seolah mengerti. "Terima kasih mom. Dan sebentar lagi ibu akan bertemu dengan cucumu." Naruto langsung mematikan sambungan. Membiarkan Kushina di sana berteriak meminta penjelasan.
Kembali Naruto memerintah beberapa maid untuk membelikan satu set perlengkapan mandi untuk anak usia dini. Hari ini dia belanja gila-gilaan untuk perlengkapan anak kecil. Boruto sudah dia putuskan akan tinggal di sini.
Setelah beberapa saat, para maid yang diberi tugas sudah kembali dengan membawa apa yang tuan mereka inginkan.
Naruto tersenyum puas. Dia segera meraih tubuh Boruto dan menyabuninya. Anaknya tidak rewel, malah begitu menikmati saat kepalanya digosok Naruto dengan lembut. Pria tampan yang sebenarnya adalah ayah kandung Boruto begitu menikmati waktu bersama anaknya.
Tiba-tiba Naruto melamun. Dirinya tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan anaknya dulu. Sangat jauh dari kata layak pastinya, Boruto tidak mendapatkan haknya. Naruto tahu Hinata tidak terlalu mampu untuk menyediakan kehidupan yang mapan untuk anaknya.
Dia ingin menarik Boruto ke dalam hidupnya. Sudah cukup Hinata memonopoli Boruto sendirian. Sekarang giliran dia untuk merawat Boruto.
Hey, dia juga ikut andil dalam membuat Boruto kan?
.
.
Setelah sang ayah memandikan Boruto maka sudah waktunya bagi Boruto untuk makan malam. Para koki telah memasakkan makanan khusus dengan memerhatikan kelengkapan gizi, tentunya lezat. Naruto ingin anaknya merasa nyaman di tempat ini. Segala kebutuhannya adalah prioritas paling penting. Boruto tidak sadar dia diberlakukan bak putra mahkota.
"Tidak ingin paman suapi?"
Surai blonde Boruto bergerak lembut mengikuti gerak kepala pemiliknya yang menggeleng. "Aku sudah besar paman." Dia berkata lucu sambil mengulum senyum malu-malu. "Aku sudah besar, sudah bisa makan sendiri." Naruto gemas sampai mengacak rambut Boruto.
"Cerdas sekali. Papamu pasti bangga memiliki anak sepertimu, jagoan."
"Huh? Papa? Boru nggak punya papa, paman."
Hati Naruto langsung teriris. Makanan di lidah terasa pahit. 'Aku papamu nak.' Naruto berharap dia bisa mengatakannya. Boruto masih memiliki papa dan papanya berada di depannya.
"Err -Jika papa Boruto datang, apa kau akan menyambutnya?"
Boruto langsung menggeleng sambil menekuk raut wajahnya. Bocah itu tidak menyukai Naruto yang berbicara mengenai papanya. Memang papanya masih hidup? Sedari awal yang Boruto tahu hanya mama dan mama. Tidak ada sosok papa, dia tumbuh dengan asuhan mamanya saja.
"Papa itu orang jahat, paman." Naruto memainkan garpu tanpa minat, berusaha menulikan telinganya sendiri dari penyataan menohok anaknya.
"Jahat? Kenapa bisa seperti itu? Bila ada papa maka semua keinginan Boruto bisa dipenuhi. Ingin minta mainan atau makanan enak pasti bisa papa berikan."
Sama seperti Naruto yang mulai memaksa. Boruto pun semakin keras kepala menolak.
"Papa jahat! Mama selalu menangis jika Boruto bertanya tentang papa. Boru benci papa yang tidak pernah ada dan selalu membuat mama kesulitan. Papa tidak ada saat orang-orang mengolok mama dan mengatai Boru anak kotor. Papa sama sekali tidak memelukku sewaktu aku terjatuh –hiks- hanya mama yang menyembuhkan luka Boru –hiks-"
Bocah kecil yang memiliki darah Uzumaki ini terisak pelan. Dia ingat pernah diejek sebagai anak haram karena tidak punya papa. Tapi mamanya yang paling terluka, Boruto tahu Hinata kadang akan menangis diam-diam ketika menidurkannya.
"Boru takut mama meninggalkanku karena kata mama aku mirip dengan papa. Kenapa harus seperti papa sih, aku ingin mirip mama." Mata biru sang putra ternoda beningan air mata. Naruto dibuat terhenyak, apa yang dia banggakan dari kemiripan dia dengan anaknya malah ditakuti oleh Boruto sendiri.
Secara tidak langsung Boruto telah menolaknya.
.
.
Setelah menemani Boruto mandi dan makan, Naruto mengajak putranya untuk menemui Hinata. sedari tadi Boruto merengek agar bisa melihat mamanya. Dia terlalu rindu untuk segera melihat mamanya.
"Apa dia sudah baikan?" Satu lengannya digunakan untuk menjaga Boruto agar tetap berada dalam gendongannya. Naruto tidak mau mengambil resiko dengan membiarkan Boruto yang bertingkah aktif mendekati Hinata.
Dokter baru saja menyuntikkan obat cair ke dalam infus Hinata. "Anda tenang saja, dia hanya butuh istirahat. Beberapa saat lagi dia akan sadar."
Naruto mengangguk mengerti. "Baiklah, kau boleh pergi. Jika ada sesuatu aku akan menghubungimu dokter."
"Paman, bisakah kau menurunkanku. Aku ingin memeluk mama."
"Tahan dulu, boy. Bersabarlah sedikit lagi. Mama akan bangun jika kau memberinya sedikit waktu." Naruto mengecup sayang pipi Boruto, menyesap aroma harum anak kecil. Dia tahu anaknya ini sangat ingin berada dekat dengan mamanya. Tapi mau bagiamanpun, Hinata sedang dalam proses pemulihan.
Naruto takut gerak lincah Boruto akan mempengaruhi kesembuhan Hinata.
Saat para maid sedang mengganti baju Hinata, Naruto akan menghadap ke arah lain. Biar bagaimapun dirinya merasa bahwa sebuah tindakan tidak sopan jika sampai jeli memerhatikan bagian tubuh Hinata. Apalagi mengetahui bahwa Hinata tidaklah berubah sejak terakhir kali dia melihat wanita itu.
Hinata masih tetap manis meski sudah melahirkan anak usia lima tahun.
"Paman lihat, di sana Boruto lahir."
"Huh?" Reflek Naruto menoleh. Boruto menunjuk pada perut Hinata yang terdapat bekas luka melintang. Mirip bekas jahitan. Mata birunya terpaku, fokusnya mengecil pada satu objek di depan sana. "Bekas apa itu?"
Boruto bergerak turun dan langsung meloncat ke kasur. "Mama bilang Boru lahir dari sini." Anak kecil itu mencium bekas jahitan di perut mamanya. Naruto buru-buru mengambil Boruto, gonyangan tubuh montok Boruto terlihat menghawatirkan di mata Naruto.
"Boru lahir dari operasi paman. Mama mengatakannya padaku dulu. Bukankah mama orang yang hebat?"
Celotehan Boruto tidak terlalu tertangkap di gendang telinga papanya. Naruto masih menatap bekas itu meski sudah tertutup oleh baju yang lebih tebal.
"Kalian boleh pergi." Para maid membungkuk mengerti dan segera keluar ketika tugas mereka telah selesai. "Dan, kau harus tidur jagoan." Naruto menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan tinggi Boruto lalu mencubit gemas hidung mungilnya. "Segera tidur, besok pagi kau sudah bisa bercerita apapun dengan mamamu."
Apapun yang Naruto katakana mengenai mamanya, pasti akan Boruto truti. "Yeah." Kaki kecilnya melangkah menuju kamar di sebelah kamar utama. Besok Boruto ingin bermain dengan Hinata.
Dan Naruto masih berdiri di tempatnya, dia mengambil langkah untuk duduk di samping ranjang. Mengamati dengan seksama bagaimana napas teratur Hinata terlihat, bagaimana mata yang terpejam itu masih enggan untuk memerlihatkan bola mata bulannya.
Tangan Naruto bergerak pelan menyikap baju Hinata, dia sedikit gemetar sampai mata birunya bisa melihat secara langsung abdomen Hinata.
Bekas operasi itu melintang cukup lebar, jahitannya masih membekas memberi guratan yang Naruto sentuh pelan.
Naruto tidak sadar kening Hinata mengernyit dan kelopak matanya bergerak pelan. Gerakan halus di perutnya membuat Hinata merasa tidak nyaman.
Pria itu meremang. Perasaanya meluap bagai sapuan badai ombak. "Apakah dari sini anakku lahir?" Naruto tidak pernah tahu apapun mengenai proses kelahiran Boruto, tentang perjuangan Hinata untuk bisa menghadirkan Boruto meski nyawa adalah taruhannya. Dia pernah sampai mengalami pendarahan hebat karena tubuhnya terlalu kecil untuk menampung janin yang terus tumbuh membesar.
Namun, mana tahu Naruto mengenai hal itu. Dia menyibukkan diri untuk membenci apa yang seharusnya dia lindungi –itu dulu. Sekarang dirinya begitu antusias untuk menguliknya.
Benar-benar brengsek, jika Hinata menyadarinya.
Naruto menatap tanpa berkedip, ada rasa bangga mengetahui darah dagingnya bisa lahir ke dunia. Namun dia cukup kecewa dan marah. Hinata menyembunyikan itu semua. Membuat Boruto berpikir bahwa dia tidak memiliki papa. Namun, itu semua benar bukan? Dulu sewaktu Hinata memohon, dia malah mengusir. Bahkan ingin membunuh anaknya sendiri.
"Ugghhn." Naruto tegang. Hinata membuka mata tanpa disangka. Naruto merasa dia seperti pencuri yang tertangkap basah sedang melakukan asusila.
Sedangkan Hinata berusaha mengatur diafragma cahaya yang masuk ke dalam pupil mata. Kepalanya terasa ringan, namun dia tahu bahwa tubuhnya menjadi lebih baik. Fokusnya tiba-tiba membesar ketika sosok Naruto menyapa indera penglihatannya. Bahkan obat penenang yang masuk ke dalam tubuhnya pun tidak bisa mengendalikan deru napasnya yang memburu.
Denyut nadinya meningkat karena satu pria yang sangat Hinata benci.
Hinata langsung melotot namun tubuhnya terlalu lemas untuk dipaksa bergerak. Selang infus yang melubangi kulitnya membuat Hinata terpaksa tetap berbaring. Perutnya kram dan melilit. "A-apa yang kau lakukan padaku?" Hinata menoleh ke penjuru ruangan asing ini. Dia tidak mengenali dimana ia berada juga tidak menemukan apa yang dia cari. "Ma-mana anakku?" Matanya memanas begitu saja. Orang sakit jauh lebih sensitif.
"Turunkan keteganganmu."
"Mana Boruto!" Suara husky Naruto terendam oleh teriakan Hinata. Wanita itu masih memiliki kekuatan lebih untuk berteriak mencari tahu dimana putra semata wayangnya. "Jangan ambil dia. Jangan lagi. Aku mohon, tinggalkan kami seperti dulu." Hinata kembali merancau sampai membuat Naruto tertohok.
Ulu hatinya jelas tengah berlubang. Naruto sadar dirinya begitu brengsek.
Naruto marah. Benci pada dirinya sendiri. Namun dia salah dalam melampiaskannya. "Diam Hinata! Kau ingin putramu? Mengurus dirimu saja kau tidak becus bagaimana bisa kau ingin tetap memertahankan Boruto? Kau membuatnya hampir tidak beristirahat hanya untuk menungguimu."
"Apa ini yang kau sebut dengan 'bisa menjaga'? Jangan membual. Kau lemah dan sudah sepatutnya untuk menyadari batasan dirimu."
Hinata baru bisa terdiam ketika apa yang dilontarkan Naruto benar adanya, dirinya sadar bahwa saat ini ia tengah sakit. Lidahnya terasa pahit dan perutnya seolah teraduk hendak memuntahkan isinya. Naruto cepat-cepat mengambil wadah dan memijat tengkuk Hinata ketika dia akan memuntahkan isi perutnya. Wanita ini nampak kesakitan.
"Berhenti memaksa tubuhmu bergerak, sakitmu akan lebih lama untuk sembuh."
Tangan lemas Hinata menampik bantuan Naruto. "Berhenti untuk mencampuri urusanku. Jauhkan tanganmu dariku."
"Astaga. Bisakah otakmu kau gunakan sedikit. Kalau ingin aku melemparmu keluar, begitu?" Desis Naruto tajam mengusap wajahnya gusar.
"Maka lakukan. Buang aku, tapi jangan harap kau bisa mengambil Boruto dariku." Sahut Hinata menantang.
Mendecakkan lidah kasar, Naruto lebih memilih bungkam. Hinata yang sekarang lebih berani untuk mendebat. Bahkan tidak segan untuk bertindak fisik jika dirasa perlu. Benar-benar bukan Hinata yang dulu, seorang perempuan lugu dan penuh kehangatan. Sesegera mungkin Naruto membaringkan lagi tubuh Hinata. "Minum obatmu. Aku tidak mau melihat anakku menangis melihat ibunya masih sakit."
Hinata tertawa hambar. "Hah? Tidak usah pura-pura peduli. Akui saja Boruto bukan anakmu."
Sudah mulai terbiasa Naruto dengan ucapan tajam mantan istrinya ini. Naruto kali ini lebih dewasa dalam menghadapi suatu masalah. "Dia anakku Hinata. Aku akan mengatakan bahwa selama ini kau berbohong pada Boruto. Anakku tidak yatim, dia punya papa dan aku adalah ayah kandungnya."
"Segeralah sembuh, kita akan membahas hak asuh-"
"Papa? Ayah kau bilang? Harus berapa kali kubilang bahwa Boruto tidak butuh nama Uzumaki di belakangnya." Hinata cepat-cepat memotong kalimat akhir mantan suaminya. Dia sudah lelah sebenarnya namun enggan untuk mengalah. Naruto harus tahu bahwa dia sudah tidak punya harapan lagi untuk meminta.
"Apa kau pernah melihatnya menangis ketika orang-orang mengatainya anak haram? Mereka beranggapan buruk mengenai Boruto hanya karena dia lahir tanpa papa. Putraku sering bertanya padaku dimana papanya, lantas apakah aku harus menjawa jika papanya sama sekali tidak menginginkannya? Papanya justru membencinya jauh sebelum dia lahir. Papanya ingin dia mati tanpa sempat melihat dunia." Dan papanya lebih memilih wanita lain dibandingkan istrinya sendiri. Dada Hinata naik turun menahan gejola ledakan emosi.
"Jika kau ingin Boruto sekarang, seharusnya kau juga menginginkannya lima tahun yang lalu."
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Maaf jika hampir full flash back. Biar enggak tegang mulu dari chapter 1 sampai 2. Sekali lagi terima kasih untuk dukungannya. Untuk yang merasa sifat Naruto sangat buruk, sebenarnya dia punya sisi lembut juga lho. Tapi kadang emosinya meledak-ledak. Intinya kayak duren deh. Keras di luar lembut di dalam. Dan Hinata memang akan sulit memaafkan Naruto, tapi who know. Kadang cinta dan benci itu memang setipis senar laying-layang haha.
Untuk pairing, sejak awal sudah saya putuskan ini pairing NH. Entah nanti prosesnya gimana Naruto bakal kembali bawa Hinata kembali, yang pasti mereka sebenarnya menyimpan cinta yang dalam. Jadi jangan lihat Hinata itu murahan bila nantinya dia kembali ke Naruto. Tapi lihat juga perjuangan Naruto buat yakinin Hinata. lagi pula ini rated M, saya bisa lebih bebas dalam mengeksplore cerita.
Sekian dan terima kasih.
Atharu, 5/22/17
