Mendecakkan lidah kasar, Naruto lebih memilih bungkam. Hinata yang sekarang lebih berani untuk mendebat. Bahkan tidak segan untuk bertindak fisik jika dirasa perlu. Benar-benar bukan Hinata yang dulu, seorang perempuan lugu dan penuh kehangatan. Sesegera mungkin Naruto membaringkan lagi tubuh Hinata. "Minum obatmu. Aku tidak mau melihat anakku menangis melihat ibunya masih sakit."
Hinata tertawa hambar. "Hah? Tidak usah pura-pura peduli. Akui saja Boruto bukan anakmu."
Sudah mulai terbiasa Naruto dengan ucapan tajam mantan istrinya ini. Naruto kali ini lebih dewasa dalam menghadapi suatu masalah. "Dia anakku Hinata. Aku akan mengatakan bahwa selama ini kau berbohong pada Boruto. Anakku tidak yatim, dia punya papa dan aku adalah ayah kandungnya."
"Segeralah sembuh, kita akan membahas hak asuh-"
"Papa? Ayah kau bilang? Harus berapa kali kubilang bahwa Boruto tidak butuh nama Uzumaki di belakangnya." Hinata cepat-cepat memotong kalimat akhir mantan suaminya. Dia sudah lelah sebenarnya namun enggan untuk mengalah. Naruto harus tahu bahwa dia sudah tidak punya harapan lagi untuk meminta.
"Apa kau pernah melihatnya menangis ketika orang-orang mengatainya anak haram? Mereka beranggapan buruk mengenai Boruto hanya karena dia lahir tanpa papa. Putraku sering bertanya padaku dimana papanya, lantas apakah aku harus menjawa jika papanya sama sekali tidak menginginkannya? Papanya justru membencinya jauh sebelum dia lahir. Papanya ingin dia mati tanpa sempat melihat dunia." Dan papanya lebih memilih wanita lain dibandingkan istrinya sendiri. Dada Hinata naik turun menahan gejola ledakan emosi.
"Jika kau ingin Boruto sekarang, seharusnya kau juga menginginkannya lima tahun yang lalu."
.
.
.
Kesalahan tidak bisa dihapuskan. Itu membekas dan meninggalkan jejak.
Kau hanya bisa memperbaikinnya, namun berhentilah mencoba karena kau terlalu terlambat untuk melakukannya
.
.
.
.
.
Ditulis berdasarkan imajinasi tanpa referensi
© Masashi Kisimoto
Tidak dipersyaratkan untuk dibaca anak kecil, khusus (18+).
Warning : Typo(s), Bahasa tidak baku (cenderung kasar), sexual content, AU, Modern live, OOC, alur cepat
Rated : M (language and content)
Pairing : Naruto-Hinata
Story : Atharu
Cover : credit by .com
.
Bisa mengikutinya juga di wattpad (Atharu)
Tolong perhatikan warning yang saya cantumkan, terutama mengenai bahasa yang saya gunakan. Memang ada beberapa bagian dengan frasa tidak sesuai tatanan kebahasaan karena memang konteksnya saya buat seperti itu.
.
.
.
REMOVE
.
.
.
.
.
.
Keadaan Hinata sudah lebih baik, kesehatannya berangsur pulih meski masih diharuskan meminum obat setiap hari, tapi setidaknya dia sudah terbebas dari selang infus serta tiduran di ranjang seharian. Mungkin tidak terlalu banyak gerak aktifitas yang bisa Hinata lalukan, dia benar-benar diharuskan untuk tidak banyak bergerak.
Hinata sedikit jengah. Seluruh maid di sini memperlakukannya berlebihan. Jangankan dibiarkan berkeliaran di dalam rumah, dia tidak diijinkan ke dapur meski hanya untuk mengambil minum.
Benar-benar membuat ibu satu anak namun tetap berparas manis ini secara terang-terangan menyampaikan kekesalannya pada Naruto –orang yang bertanggung jawab atas segala tingkah berlebihan para maid di sini. Pada dasarnya Hinata memang enggan merepotkan orang lain selama dia sendiri masih mampu untuk melakukannya.
Hinata benci dikekang.
Bersyukur, pria dengan segala kekuasaan serta kharisma itu mau mendengarkan. Sifat Naruto entah sejak kapan menjadi lebih mudah untuk diajak berbicara. Hinata jadi bisa bernapas lega, setidaknya dia bisa berjalan ke manapun tanpa perlu mendengar kekhawatiran berlebih dari orang lain.
Satu hal paling penting, dia bisa kembali melihat anaknya. Bermain meski hanya mengawasinya saja. Hinata tidak enak merepotkan Naruto, terutama dalam hal mengurus Boruto. Dia masih mampu untuk sekadar menemani anaknya melakukan hal-hal normal seperti biasanya.
Seperti saat ini. Rambut biru gelapnya digelung asal-asalan membentuk cepolan. Hinata duduk sambil mengupas buah apel. Matanya tidak luput untuk mengawasi putranya yang sedang menonton televisi. Benda datar dengan layar LED memproyeksikan sebuah gambar bergerak. Penuh warna dan seolah benar-benar hidup.
Pandangan Boruto tidak terlepas dari layar televisi memproyeksikan kartun kesukaannya. Animasi robot menjadi tontonan menarik bagi perhatian Boruto. Dia akan berteriak heboh mengagumi setiap gerakan atraktif dari sang pahlawan idolanya. Hinata tersenyum kecut, di tempat tinggalnya dulu tidak ada televisi selebar lukisan dinding seperti apa yang kini berada di penthouse Naruto.
Naruto memang bergelung kemewahan. Seolah tidak ada yang tidak bisa untuk didapatkan. Mudah baginya memberikan apapun keinginan Boruto. Mulai merasa kecil diri, Hinata merasakan jarak antara dia dan Naruto tidak dapat diselami. Batasnya mencolok, dia bukan dari keluarga berada apalagi tidak punya apa-apa. Hinata harus bekerja siang malam agar bisa membelikan selimut tebal bagi putranya.
Apakah Boruto merasa nyaman tinggal di sini?
"Sayang kemari, mama mengupaskanmu apel." Suara lembut Hinata membuat jagoannya menoleh. Boruto bangkit dan langsung menghampiri mamanya sampil mengambil satu kupasan apel. "Pelan-pelan." Boruto memakannya lahap. "Enak?"
Boruto mengangguk. Dia makan namun dua lensa safirnya menatap kembali pada layar datar bergambar aksi heroik sang pemeran utama dalam menjatuhkan lawan. Sangat memukau. Tercetus impinan Boruto untuk menjadi super hero.
"Bisakah kita di sini lebih lama ma? Aku menyukai DVD iron man yang dibelikan paman Naruto."
Mengelus sayang puncak kepala Boruto, Hinata memberinya pandangan teduh. Senyumnya kecut, enggan mengiyakan kemauan sang buah hati. "Kita tidak boleh terlalu lama merepotkan paman Naruto. Secepatnya kita harus pergi dari sini." Dan secepatnya pula mama harus membawamu menjauh dari Naruto.
Semakin lama mereka di sini maka semakin mempermudah Naruto menguasai –menginvasi keseluruhan Boruto. Pria itu punya segala kelebihan serta kemampuan yang dapat merebut Boruto dalam kedipan mata. Dia bisa berbuat apapun, begitu mudah hingga kadang dia berbuat keterlaluan.
Hinata membenci segala artibut kesempurnaan lelaki itu. Naruto bisa berada di atas tanpa memeras keringat. Dia lawan berat untuk digulingkan. Tidak hanya tekad, Hinata butuh kesempatan dan keberuntungan agar benar-benar membuat Naruto setidaknya menjauh.
Desahan lelah keluar dari bibir tipisnya, sudah tidak mungkin untuk melarikan diri jika Naruto lah pesaingnya.
Dan sialnya Naruto bergerak begitu cepat. Dia begitu gila sampai menyuruh anak buahnya menggusur flat tempat tinggal Hinata di sudut kota Sapporo agar dia tidak bisa membawa Boruto pergi jauh. Hinata sempat mendebat namun Naruto terlanjur bertitah.
Naruto tidak ragu untuk melakukan hal-hal diluar nalar hanya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Hinata menopang kepala, pelipisnya berkedut ngilu tiap memikirkan hal secara berlebih. Dia butuh ketenangan, bukan ketegangan setiap bertukar pandang dengan pria dewasa bermata samudera mirip anaknya. Tubuh Hinata meremang oleh kehadiran Naruto di dekatnya. Mau bagaimanapun serumah kembali bersama Naruto tetaplah menyesakkan. Pria tampan itu memberi pengaruh buruk terhadap kesehatannya.
Ibu muda itu kembali mencari fokus pada buah hatinya. "Kau menyukai tempat ini?"
"Tentu saja ma. Di sini sangat nyaman, kita bisa makan enak dan Boru bisa menonton iron man sepuasnya." Boruto menjelaskan dengan menyertakan gerakan lucu. Dia tidak lagi merasa kalah ketika teman-temannya membicarakan sang tokoh heroik, Iron man. Paman Naruto membelikannya satu set DVD episode lengkap.
Bocah itu masih terlalu kecil untuk menyadari arti tatapan dalam ibunya.
Hinata tersenyum namun hatinya menyisakan sedikit ketidak relaan. Ingin melarang tapi dia sadar diri. Biar bagaimana pun Boruto masihlah anak-anak, umurnya baru lima tahun. Sedang dalam masa lincah-lincahnya, punya kesukaan pada hiburan tertentu pula. "Apa itu artinya kau lebih menyukai paman Naruto daripada mama?"
Bola mata biru Boruto berkedip beberapa kali. Bibir merah tipis yang didapat dari ibunya manyun dan pipinya mengembung. Bahkan anaknya sudah bisa mendecakkan lidah ketika kesal. Tingkahnya hampir menyerupai Naruto. Hinata jadi khawatir Boruto terlalu banyak mengambil kemiripan dari ayah kandungnya meski Hinata-lah dulu yang membawa Boruto kemanapun dalam perutnya selama sembilan bulan.
Tidak adil.
"Mama tetap orang paling spesial, terbaik bagiku." Lengan kecilnya memeluk perut Hinata. Menggesekkan kepalanya mencari kenyamanan. Tingkah manja Boruto akan muncul jika sudah berada dalam dekapan mamanya. "Mama adalah pahlawan, akan selalu menjadi orang yang paling aku sayang."
"Ish. . . Pintar sekali mengambil hati mama." Goda Hinata mencubit gemas pipi anaknya hingga memerah. Dia mengangkat tubuh Boruto, meletakkannya dalam pangkuan. Menjaganya agar tetap berada dalam jangkauan. "Dan jangan terlalu banyak makan, jagoan. Tubuhmu bisa gendut dan mama kesulitan membawamu. Mama masih ingin memeluk Boruto seperti ini."
Jangan terlalu cepat dewasa, nak.
Rasanya baru kemarin dia melahirkan Boruto. tapi, lihat sekarang. Bayi merah itu kini menjelma menjadi anak yang begitu lucu dan menggemaskan. Hinata bangga bisa membesarkan anaknya meski seorang diri.
Satu-satunya hal yang tidak pernah Hinata sesali dari hubungannya dengan Naruto hanya Boruto. Dia hadir saat roda kehidupan Hinata berada di titik terbawah. Bahkan dulu Hinata sempat ragu. Di tengah peliknya permasalahan, dia hampir gelap mata hampir menyerah.
Hinata takut tidak mampu merawat atau bahkan membesarkan Boruto.
Hidup sebagai sebatang kara, Hinata memahami bagaimana dirinya sendiri. Tidak ada hal lebih yang bisa dia berikan untuk menyenangkan putranya. Ekonominya pas-pasan –sering kehabisan uang, tidak ada sanak saudara serta tinggal di tempat kecil. Apalagi sewaktu Boruto sakit, Hinata harus meminjam uang pada Mrs. Konan atau sahabatnya, Kiba.
Apabila bila sudah tidak memiliki simpanan lagi maka dia hanya bisa memeluk buah hatinya semalaman berharap sakitnya bisa berpindah pada dirinya. Hinata akan mengusap sayang kening Boruto lalu memeluknya sepanjang malam tanpa tidur.
Tangisan Boruto adalah kesedihannya. Senyuman Boruto adalah mataharinya. Hinata rela bertukar nyawa asal Boruto tetap bisa melihat isi dunia.
Dia lahir membawa harapan dalam kegelapan. Semirip apapun Boruto dengan Naruto, fakta bahwa Boruto terlahir dari rahimnya membuat Hinata selamanya akan menyayangi dan mencintai Boruto melebihi apapun. Hanya pada Boruto, Hinata berubah egois dalam menjaga dan lindunginya.
Dia ingin memiliki Boruto seorang diri.
"Jika mamamu tidak kuat menggendongmu, maka paman bisa melakukannya."
Suara Naruto menyentak Hinata, lelaki itu baru selesai mandi. Dia hanya menggenakan boxer selutut dan kaos V-neck lengan pendek. Rambutnya pun masih basah, tidak mencuat melainkan jatuh meneteskan butiran sisa air. Aroma segar citrus menguar membuat Hinata menahan napas. Tubuh atletis Naruto terlalu jelas terpampang untuk sekadar dicuri pandang.
"Paman." Boruto berterik girang. Dia sangat senang ketika Naruto beralih mengangkat tubuhnya dan diletakkan di atas pundak lebar milik Naruto. "Apakah hari ini kita akan bermain lagi?"
"Apapun yang kau minta, jagoan. Kau ingin paman mengajakmu ke lapangan sepak bola? Atau kau bisa meminta paman menyewakan satu lapangan penuh untukmu."
Dasar sombong. Cibir Hinata dalam hati. Perhatian Naruto berubah menjadi sikap memanjakan yang tidak Hinata sukai. Dia buruk dalam mendidik anak, sama sekali tidak berpikir panjang guna menarik senyuman Boruto. Apapun instan dilakukan. Naruto haruslah bisa mengendalikan diri dalam menyayangi Boruto dengan cara lebih normal.
Dia perlu belajar dari awal.
"Tidak-tidak. kau tidak boleh melakukannya. Bermain di sekitar sini saja, kau tidak harus mengeluarkan banyak uang untuk membuat anakku terkesima."
"Aku tidak keberatan. Sedikit keluar rumah bukan ide yang buruk."
Tangan Hinata menyilang. "Tapi aku menolaknya. Jangan hamburkan uangmu untuk hal berlebihan, anakku bukan barang yang bisa kau beli." Perkataanya mencubit. Hinata menyindir Naruto mengenai perbedaan kasta sosialnya.
Naruto mengalah –kalah. Hinata menutup semua pintu untuknya mendekati Boruto. Setidaknya Naruto berharap Hinata mau lebih melunak dengan membiarkannya mengetahui apa yang disuka atau dibenci Boruto meski hanya secuil. Naruto tidak mau terlalu banyak tertinggal meski dia terlambat untuk mengenal.
"Kita bisa main kejar-kejaran di sini. Ruang tamu di rumah paman sangat luas. Aku bisa berguling ke sana ke mari." Boruto memberikan pendapat. Dia tidak terlalu menyukai perdebatan antara mama dan paman Naruto.
Memang benar yang dikatakan Boruto. ruang tamu di penthouse Naruto sudah sangat luas untuk dijadikan tempat bermain. Ini tiga kali lebih luas dari tempat tinggalnya di Hokkaido dulu. "Biarkan Boru menjadi pahlawan dan paman adalah monsternya." Gigi susunya terlihat berejejer rapi ketika tersenyum lebar.
Mengangguk menyetujui, Naruto bersyukur bisa menghabiskan waktu bermain bersama anaknya. "Ide yang bagus."
"Apa mama tidak mau ikut?"
Hinata menggeleng sebagai jawabanya. Dia membatasi diri agar tidak terlalu terlibat kontak fisik dengan Naruto. Apapun itu, dia enggan berdekatan dengan mantan suaminya.
"Mama bertugas mengawasimu." Juga mengkhawatirkanmu. Hinata sadar Naruto belum berpengalaman dalam mengurus bocah kecil umur lima tahunan apalagi yang hiperaktif macam Boruto. Bisa saja Naruto lengah dan Boruto dapat mengalami hal buruk seperti terjatuh atau terpeleset. Hinata belum sepenuhnya memercayai Naruto.
Dan ketika dua orang lelaki beda usia itu bermain maka Hinata akan duduk sambil memerhatikan dari jarak tidak terlalu jauh. Anaknya sangat senang bahkan suara tawa nyaringnya terdengar lucu saat berhasil membuat Naruto –yang berperan sebagai penjahat menyerah sambil meminta untuk dilepaskan dari apitan tangan mungil Boruto.
Mereka berdua bertingkah konyol, Hinata sampai terkikik sembunyi-sembunyi ketika melihat Naruto ikutan bertingkah aneh. Lelaki itu bisa bertingkah di luar kesehariannya. Raut wajah serius serta kerutan tajam di dahi nampak terganti dengan wajah ramah tanpa ada tatapan intimidasi seperti biasanya. Tiba-tiba dada Hinata sesak, apa seperti ini bentuk keluarga sesungguhnya? begitu bahagia, penuh canda tawa.
Dulu, Hinata sempat memimpikannya, mengharapkan dapat mengarungi biduk rumah tangga sampai akhir tutup usia sebelum Naruto sendiri yang menghancurkannya. Satu hal dari banyaknya alasan Hinata membenci Naruto karena di saat dulu dia masih ingin menyelamatkan pernikahan mereka, Naruto malah melepaskannya.
'drrttt' 'drrttt'
Sebuah dering telepon terdengar, permainan ayah dan anak itu harus terhenti. Panggilan masuk dari ruang kerja Naruto membuatnya mengalihkan perhatian. Dia mendecak malas hampir-hampir mengumpat bila tidak ingat ada anaknya.
Dia sudah berpesan pada Kakashi untuk sejenak menggantikannya mengurus semua hal yang berkaitan dengan perusahaan. Naruto masih berkeinginan menghabiskan waktu lebih banyak bersama anaknya, tidak ada yang boleh mengganggunya kecuali memang benar-benar sesuatu yang mendesak. Urgent.
Tapi meskipun begitu tetap saja tanggung jawab sebagai pemimpin perusahaan membuat Naruto merelakan langkahnya menuju arah ruang kerja. Jika pembicaraan telepon ini nantinya tidak terlalu penting, ingatkan Naruto untuk memberikan hukuman pada Kakashi.
Dia membiarkan Boruto dan Hinata di ruang tengah tanpa tahu ada orang lain masuk ke dalam rumah.
Seorang wanita berparas cantik dengan lekuk tubuh semampai datang tanpa adanya perjanjian atau persetujuan lebih dulu. Shion masuk dengan langkah percaya diri. Toh dia sudah beranggapan tinggi, nantinya sang nyonya rumah adalah dirinya.
Naruto bersumpah. Hanya lima menit yang dia habiskan untuk berbicara di ruang kerjanya tapi suara lengkingan dari arah luar membuatnya terlonjak kaget. Ditambah suara jatuhnya beberapa benda serta para maid datang menghampirinya tergopoh semakin menguatkan rasa khawatir Naruto. Dia bergegas kembali dengan tergesa.
Firasatnya buruk. Naruto mengendus hal tidak baik.
"MAMA!" Suara teriakan Boruto menggema. Naruto mempercepat langkahnya, tanganya terkepal erat melihat ruang tengah sudah berantakan dan seorang maid memberitahu apa yang tengah terjadi. Seseorang tiba-tiba masuk dan langsung mengamuk dengan niatan melukai Hinata.
Mata Naruto berkilat marah. Siapa orang yang berani membuat keributan dalam rumahnya?! Dia tergesa menuju asal suara teriakan. Matanya melotot melihat keadaan Hinata dan Boruto berantakan. Keduanya tersungkur dengan beberapa luka memar. Hinata sempat melihatnya, sorot matanya melemparkan kekecewaan pada Naruto.
Wanita itu terlihat rapuh hanya dari pantulan dua bola matanya yang berair. Naruto menggelengkan kepala, dia kembali merasakan sakitnya tatapan kebencian Hinata untuknya.
.
.
.
Shion tiba-tiba muncul di depan mata Hinata. Menyeretnya ke luar dan memakinya sebagai wanita jalang nan binal. Tubuh mungil Hinata terhempas begitu tangan Shion menariknya. Hinata terkejut dengan kedatangan musuhnya.
Dia ingin balas mencakar tapi tubuhnya masih terlalu lemas untuk mebalikkan keadaan. Hinata sampai terseret beberapa langkah menabrak perabotan yang ada. Jambakan di rambutnya menguat semakin kencang. Hinata meringis, kepalanya begitu sakit.
"Benalu. Kenapa kau masih di sini, Hah! Apa kau menggoda Naruto lagi. Ingat akan dosamu di masa lalu, jalang!"
Shion tak juga puas untuk menghina Hinata. Awalnya Shion hanya datang untuk menemui Naruto, membicarakan hubungan mereka yang semakin lama semakin mengabur dan abu-abu tanpa kejelasan. Dia terkaget ketika sampai di penthouse Naruto malah melihat sosok wanita yang dulu sudah dia singkirkan jauh-jauh, duduk tenang di dalam.
Shion mendapati Hinata kembali. Shion membencinya sampai ingin membunuhnya. "Seharusnya kau menjadi gelandangan atau jalang murahan. Dirimu terlalu kotor untuk tinggal di sini!"
Ketikan dirasa jambakan Shion semakin menguat. Hinata memberontak dan Boruto ikutan melawan. Meski kekuatannya tidak seberapa, Boruto tetap menyerang dengan memukul-mukul kaki Shion tanpa rasa takut. Anak berdarah Uzumaki itu ingin melindungi mamanya.
Tapi Shion jelas lebih unggul, beberapa kali dia menendang Boruto namun bocah itu tetap keras kepala melawan. Boruto menggigit betis Shion dan membuatnya menjerit tidak terima.
Shion menjatuhkan pandangannya ke bawah. Surai blonde beserta manik mata biru dari anak laki-laki yang sejak tadi memukul kakinya membuat mata Shion membola. Tanpa perlu ditelaah matang-matang pun naluri Shion mampu mengendus asal usul dari sosok kecil ini.
Dia seharusnya tidak pernah ada, janin sialan itu kini menjelma nyata sebagai sosok anak manusia di depan kedua matanya.
Napas Shion semakin memburuh. Matanya melihat anak kecil yang memanggil Hinata dengan sebutan 'mama' memiliki seluruhnya kemiripan dengan pria pujaannya. Dia cetak biru Naruto tanpa ada celah ataupun keraguan. Hubungan darah tidak pernah bisa disangkal.
Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin Hinata berhasil memberikan keturunan pada Naruto?!
"Ka-kau. Arrggkkkk!" Shion mendorong Hinata sampai terjungkal. Tangannya menemukan sasaran baru yakni makhluk kecil untuk segera disingkirkan. Anak laki-laki di depannya adalah mimpi buruk yang begitu Shion harapkan agar tidak pernah terlahir. "Ba-bagaimana kau bisa lahir? Sialan! Kau seharusnya mati, kau seharusnya tidak pernah terlahir. ANAK HARAM!"
Shion semakin menjadi. Dia menggila dan langsung menampar keras membuat tubuh kecil Boruto terpental sampai terbentur marmer. Hinata menjerit, tubuhnya lemas, jantungnya terasa dilubangi ketika melihat sendiri anaknya dilukai secara keji. Jelas Hinata lebih memilih disakiti daripada harus membiarkan putranya menjadi sasaran pelampiasan.
Hinata menghampiri putranya dengan terseok. Tubuh bergetar Boruto dipeluk. Lecet memerah sampai meneteskan darah merah. Ada luka menganga di dahi Boruto, Hinata mendengar tangisan keras Boruto sambil memegangi keningnya. Boruto jarang menangis kencang, tapi kali ini dia sampai meraung memeluk Hinata erat. Ketakutan, Hinata mampu menerjemahkan gesture takut anaknya.
Hinata tidak bisa membendung kesedihannya melihat orang yang sangat dia jaga dilukai di depan mata. "Ja-jangan menangis,sayang. Lihat mama, sakitnya akan berpindah ke mama. Sa-hksss-sakit pergilah." Hinata menggigit kuat bibirnya.
"Boru -hiksss- sayang ada mama di sini." Isak Hinata sambil meniup-niup luka lebar di dahi Boruto. Kata-kata Hinata belum mampu menenangkan Boruto, anaknya sampai mengeluarkan tangisan hingga suaranya serak.
Darah masih menetes dari luka Boruto. Hinata semakin kalut. "Mana yang sakit sayang, mana? Ssshhhh…. Mama di sini. Hksss- Mama akan menghilangkan sakitnya. Lukanya akan sembuh. Si-siapapun, tolong anakku -hkssss."
Tepat pada saat itu Naruto berada di sana. Darahnya mendidih melihat keadaan Boruto. Emosinya siangkat ke atas pada puncak kemarahan. Pandangannya menggelap, otot biru terpetak pada kepalan tangan, Naruto masa bodoh jika dia bisa membunuh yang telah menyakiti anaknya.
Naruto begitu menyeramkan ketika diliputi kebengisan.
"KURANG AJAR! Kau apakan anakku, Shion!" Naruto berteriak murka, wajahnya memerah marah. Dia murka. Tanpa keraguan apapun, tak memedulikan lawannya hanya seorang wanita, Naruto balas mendorong Shion tanpa rasa kasihan. Terjungkal dan belutut di depannya.
Masih belum cukup! Perbuatan Shion sudah membuatnya membuang rasa kasihan. Sisi kemanusiannya tidak untuk diberikan pada Shion.
"Kau yang apa-apaan Naruto!" Shion masih dapat bangkit tertantang untuk maju. "Jangan buta Naruto. Bocah itu bukan anakmu, Hinata tidak pernah melahirkan darah dagingmu." Shion menunjuk Hinata dengan nyalang. Apalagi pada bocah kecil yang mencari perlindungan dalam dekapan Hinata.
Shion benar-benar ingin melenyapkannya. Giginya bergemelatuk geram juga merasa terancam. Anak Hinata bisa membuatnya kehilangan semua apa yang telah dia impikan selama ini. "Apa kau pikir hanya karena dia memiliki kesamaan dengamu maka bocah tengik itu adalah anakmu?! Ibunya adalah pelacur maka anaknya pun juga anak kotor."
"DIAM SHION! Aku bisa melemparmu. Keluar dari rumahku!" Desis Naruto mulai tersulut emosi. Tempramen Naruto meledak-ledak ketika ada yang berani meragukan kebenaran tentang Boruto.
Naruto tidak terima orang lain berkata mencelah tentang jati diri Boruto. Dia adalah anak kandungnya. Naruto sedang berusaha membangun hubungan baik dengan Hinata dan Boruto, tidak seorang pun boleh menghancurkan usahanya.
"Bisa-bisanya kau terperdaya oleh wanita murahan itu. Jelas-jelas dulu dia bermain gila dengan lelaki lain. Dia membiarkan tubuhnya digerayangi para pria hidung belang dan sekarang kau memercayai bahwa anak sampah yang dia sodorkan adalah anakmu?"
Hinata mengeratkan pelukannya pada Boruto, menutup seerat mungkin telinga Boruto agar kata-kata kasar Shion tidak terdengar oleh buah hatinya.
"BRENGSEK! KUBILANG DIAM! BERANINYA KAU MENGHINA ANAKKU!" Satu gerakan cengkraman dan Naruto sudah mencekik Shion sampai wanita itu terbatuk kesulitan bernapas. Cekikan Naruto membuat Shion ketakutan. "Mulutmu bisa kurobek jika kau menghina anakku."
Boruto semakin menyembunyikan kepalanya pada perut Hinata, tubuh kecilnya menegang mendengar apa yang Naruto ucapkan.
Hinata bisa melihat seberapa marahnya Naruto ketika ada yang berani menghina Boruto. Sebagai seorang ibu dia juga merasakan amarah itu. Selama Sembilan bulan dia mengandung Boruto, merawatnya dengan penuh kasih sayang lantas tiba-tiba ada orang lain yang sengaja ingin melukai Boruto.
Hinata juga sama sekali tidak ingin pengakuan dari ayah biologis Boruto, dia tidak mengharapkan nama besar Uzumaki tersemat pada untaian nama belakang anaknya jika hal itu semakin membuat Boruto menjadi incaran. Anaknya masih kecil, Hinata hanya menginginkan kehidupan damai bersama Boruto, namun kemudian Naruto datang dan mengacaukan segalanya.
Ini adalah kesalahannya. Terlalu lama menetap bersama Naruto hanya akan membuat anaknya semakin terluka. Boruto akan menjadi incaran orang jahat jika tetap berada dekat dengan Naruto.
Hinata takut Boruto mengalami trauma akibat kejadian buruk yang baru saja dia alami.
"I-ingat, a-aku kekasihmu Naruto –uhuk-"
"Persetan dengan itu Shion. Sudah lama aku membuangmu. Buka matamu, jalang!" Naruto mendorong Shion ke luar, namun Shion masih berusaha agar tetap berada di dalam.
"Kau tidak bisa mengusirku. TIDAK AKAN BISA." Shion tidak akan berdiam diri membiarkan Hinata merebut kembali tempatnya. Dia yang paling berhak untuk bersanding dengan Naruto, bukan wanita miskin itu.
"Jangan bermain-main denganku, kau akan menyesalinya Shion." Penekanan intonasi Naruto jelas menyiratkan maknsa. Berani mcam-macam kau mati.
"Kau yang akan menyesal karena telah mengakui sampah itu sebagai anak–"
'PLAKKKK'
Naruto menampar pipi Shion hingga terdengar sobekan di sudut bibirnya. Tidak seberapa bagi Naruto, dia belum puas meluapkan rasa marah yang bisa membuat kepalanya meledak. Tidak hanya itu, Naruto juga menyeret Shion, melempar wanita itu ke luar dari rumanya tak peduli meski Shion berteriak kesakitan.
Deru kasar napas Naruto masih naik turun. Detak jantungnya berdetak menusuk-nusuk tulang rusuk. Dia mengusap wajahnya gusar. Tatapan beringasnya terganti pandangan senduh ketika melihat Hinata dan Boruto masih terduduk di lantai. Rambut halus Hinata kusut dan semrawut, Naruto yakin Hinata masih merasa kesakitan.
Bibir Hinata pun memucat lecet, secara tak langsung Naruto mengakui. Dialah penyebab semua ini. Lalu netra birunya berotasi pada Boruto. Bocah kecilnya masih menangis dengan luka lebar di dahinya.
Naruto dibuat panik juga sakit. Iba dan tak tega. Melihat dua orang penting dalam hidupnya dilukai membuat dadanya sesak menahan perih. Tenggorokannya tiba-tiba kering, dia tidak bisa memanggil keduanya dengan benar karena dia tahu bahwa dialah yang patut disalahkan.
"Hi-hinata –"
"Jangan mendekat." Sura dingin Hinata menghentikan keinginan Naruto. Bola mata pucat menatapnya menyalahkan. Kali ini Hinata tidak main-main lagi. Sudah terlalu banyak luka Naruto titipkan, bahkan Boruto juga menerimanya. Tangan Hinata terkepal.
"Tsk, ternyata wanitamu benar-benar gila. Dia hampir membunuh anakku."
"Dia bukan wanitaku." Tegas Naruto. Sampai saat ini pun dia tidak pernah mengencani atau mencintai wanita lain lagi, katakanlah dia dulu memang pria brengsek. Perasaanya terlalu rumit untuk sekadar mengenali apa itu cinta. Namun dia pernah meletakkan hatinya, memberikan setengah dari jiwanya hanya pada satu orang. Pada Hinata seorang.
"Kau tidak berhak menilai hatiku serendah itu Hinata." Naruto berkata sungguh-sungguh, sosok Hinata terlalu melekat sampai Naruto terperosok begitu membencinya ketika dia mengira Hinatalah yang menelikung di belakangnya.
Mungkin itu kesalahan Naruto, dosa terbesarnya ketika dia membenci orang yang dia cintai sampai menghancurkannya. "Kita perlu berbicara."
Namun Hinata hanya menanggapinya dengan tertawa sinis. Hinata lelah dengan semua kepura-puraan Naruto. "Kau membual Naruto. Sangat mengelikan sekali mendengar ucapan omong kosongmu itu."
"Lebih baik kau urus Shion. Nikahi wanita itu. Buatlah banyak anak agar dia tidak mengincar anakku."
"Kau salah paham Hinata –"
"Kubilang jangan mendekat!" Menguap, kesabaran Hinata tinggal selapis menghadapi mantan suaminya. Naruto harus sadar bahwa sejak awal dia sama sekali tidak pernah Hinata harapkan keberadaannya. Hinata sudah terlanjur kecewa, marah dan terluka.
Harus semenyedihkan apalagi hidupnya gara Naruto berhenti mengoyak dunia kecilnya. Naruto terlalu banyak menuntut tanpa melihat dimana posisinya sekarang. Sampah yang telah dibuang tidak patut dipunggut ulang bukan?
Namun Naruto tidak mau menjauh apalagi mundur seperti seorang pengecut. Matanya meredup melihat Boruto juga menghindarinya.
"Sayang, apa dirimu baik-baik saja?" Tangan Naruto gemetar ketika hendak menyentuh kening Boruto. Naruto berencana mengobatinya, namun belum sempat Naruto melakukannya, Boruto sudah menepis kasar dan memandangnya dengan sorot mata tajam.
Boruto menolak Naruto. Manik biru sewarna milik Naruto itu nyata menampilkan kebencian tak terkira.
Naruto kehilangan dunianya.
"Menjauh dariku dan mama! Paman bukan papa Boru. Boru tidak mau punya papa jahat seperti paman hiksss."
Naruto meringis, kata-kata Boruto mengiris aliran nadinya. Sedikitpun Naruto tidak melihat adanya kesempatan. Mereka terikat darah, tapi hubungan ayah dan anak itu terlalu tipis –ditarik merenggang sudah pasti terputus.
Apakah sesusah ini untuk memperbaiki semuanya? Tidak adakah kesempatan untuknya mencoba melindungi baik Boruto maupun Hinata?
Ditolak anak sendiri adalah hukuman yang pantas bagi Naruto. Jika dulu dia yang menolak keberadaan Boruto maka kini Boruto membalasnya berkali-lipat lebih sakit. Rongga dadanya seolah menyempit tidak bisa mengambil udara secara benar. Naruto dihancurkan disaat dia ingin membangunnya dari awal.
Pondasinya goyah, sebentar lagi ambruk.
Hati Naruto sudah remuk, penolakan Boruto menjadikannya lemah. Hinata tidak lagi memercayainya.
"Sssttt…. Sayang maaf pa –"
"Papa sudah tidak ada!" Boruto memberontak, dia menarik-narik baju Hinata agar cepat pergi. Hinata juga baru pertama kali melihat Boruto membenci seseorang sampai sebegitu besarnya. Melirik Naruto yang nampak menyedihkan, Hinata bisa menyaksikan hancurnya segela kesempurnaan milik Uzumaki Naruto.
Sekarang giliran Naruto yang merendahkan diri di depannya.
Lelaki paling berkuasa dan kejam meski dulunya sempat dia cintai kini menunjukkan sisi manusiawinya. Naruto memandangnya dengan sorot pedih.
Bukankah Hinata seharusnya senang? Di depannya, Naruto melemah.
Boruto enggan mau mengakuinya, Boruto menolak berada dekat dengan papanya.
Tapi kenapa Hinata tidak mampu tertawa atau tersenyum. Bukankah ini keinginannya, mengenai Boruto yang membenci papa kandungnya sendiri?
Tapi kenapa mata Hinata malah meneteskan air mata?
Sekejam apapun Naruto di masa lalu, dia tetap mengalirkan darahnya pada Boruto.
"Papa menyayangimu, nak." Suara serak Naruto menyayat. Hinata menggendong Boruto menjauh. "Tu-tunggu Hinata. mau kau bawa kemana anakku?" Pria berusia dewasa itu cepat-cepat mencegah hal yang paling dia takuti terjadi.
Boruto menolaknya, sedangkan Hinata menjauhinya. Dua orang yang dulu dia sia-siakan kini melangkah pergi. "Berhenti melangkah keluar Hinata. Aku bisa mengikat kakimu jika kau nekad." Naruto mengancamnya, dia tidak tahu lagi harus bagaimana agar Hinata mau berhenti.
"Apa kau tuli? Boruto tidak ingin berada di dekatmu. Jadi, biarkan kami pergi."
"Tidak! Kalian berdua tetap tinggal di sini. Tempat ini rumah kalian."
"Jangan membuat dirimu semakin dibenci oleh Boruto. Pikirkan kondisi mentalnya, kau membuat anakku mengalami hal buruk hari ini. Dan seujung rambut pun kau tidak berhak atas dari kami lagi." Semprot Hinata sambil melangkah keluar.
"Tunggu." Lengan Hinata ditahan. Naruto memohon untuk kali pertama dalam hidupnya. "MANA MUNGKIN AKU MEMBIARKANMU BERSAMA ANAKKU TIDUR DI JALANAN! Kau tidak punya tempat tinggal lagi Hinata. Kau bisa tinggal di sini beserta Boruto, biarkan aku saja yang pergi."
Hembusan kuat napas Hinata menunjukkan sudah selelah apa dirinya. Bisakah ini cepat berakhir? "Hentikan semua permainanmu ini Naruto! Tidak hanya diriku, bahkan kau juga melukai Boruto. Demi Tuhan, kau menakutinya."
Jika Naruto begitu frustasi untuk menahan Hinata melangkah pergi, maka Hinata sudah putus asa untuk bertahan. "Sejak awal hubungan kita adalah kesalahan. Kesialan. Inilah saatnya kita mengerti Naruto, bahwa kita tidak untuk saling melengkapi. Kita berbeda arah. Kami tidak membutuhkan uluran tanganmu hanya untuk bisa bernapas –bertahan hidup. Kami baik-baik saja meski kau tidak ada."
Lalu bagaimana denganku? Naruto terpaku. Dia kehilangan kata-kata. Sulit menemukan celah. Hinata membentengi dirinya terlalu keras.
Hinata segera berlari menggendong Boruto meninggalkan rumah Naruto. Kemanapun Hinata tidak peduli, dia pernah mengalami hal seperti ini bahkan yang lebih buruk. Namun setidaknya dia bisa menjauh dari Naruto. Hinata bisa hidup berdua kembali bersama Boruto.
Naruto memandang pintu tertutup dengan tatapan kosong.
Kembali, hidupnya runtuh.
.
.
.
.
Hinata mengelus surai kuning Boruto. putra kecilnya sudah nampak tenang meski pipinya masih memerah. Luka di dahinya juga telah terplester, dibalut perban, Hinata bersyukur masih membawa sedikit uang. Dia menemani Boruto yang duduk di ayunan taman bermain.
"Nak, kau ingin mama belikan es cream atau cake?"
Boruto bungkam, sedari tadi dia menutup mulutnya –mogok bicara. Kakinya menendang-nendang batu krikil. Dua makanan favoritnya belum mampu menarik minatnya.
Hinata mengerti bagaimana perasaan Boruto. Putranya masih belum bisa menerima ini semua. Terlalu cepat. Kenyataan bahwa dia masih memiliki papa membuat Boruto terganggu. Dia butuh waktu.
"Jangan abaikan mama, apa jagoan mama ini juga membenci mama? Masih betah mendiamkan mama?" Hinata berjongkok di depan Boruto, menyampirkan poni tebal Boruto ke samping. Dua tangan kecil Boruto digenggam lalu dicium penuh sayang. Hidung dan kening tak luput dari kecupan penuh kasih.
Tiba-tiba mata Boruto berkaca-kaca. Dia mengamati Hinata lamat-lamat, melihat sosok wanita cantik yang melahirkannya masih dapat tersenyum menghiburnya. Sejak pertama bisa mengingat, senyum mamanya tetaplah sama. Selalu membawa kehangatan.
Boruto melompat memeluk Hinata. Perasaanya tumpah setiap melihat mamanya yang tetap berada di sisinya. Boruto merasa belum mampu menjaga mamanya. Dia begitu ketakutan mengingat mamanya diberlakukan kasar.
"Maaa -hikss- mama." Punggungnya dielus Hinata lembut. Hinata membisikkan kata-kata menenangkan. Tubuh montok anaknya diayun pelan-pelan, biasanya Boruto akan merasa nyaman.
"Kau marah pada papa?"
Pelan, Boruto mengangguk. "Aku tidak mau papa." Gumam Boruto lirih. Tidak pernah ada figur papa dalam lima tahun Boruto mengenal dunia, lalu kini tiba-tiba papanya datang. Naruto mengaku sebagai papanya. Lalu selama ini papanya kemana saja? Kenapa tidak cepat menemui mereka?
"Papa sudah meninggalkan kita kan ma –hiksss-"
"Kita tidak butuh papa juga kalau begitu ma."
Hinata jadi merasa bersalah. Dia merasakan bagaimana perasaanya jika menjadi Naruto, pasti akan hancur ketika buah hatimu sendiri membencimu. Hinata tak menampik akan perubahan sikap Naruto. Dari awalnya benci setetngah mati sampai menyayangi sepenuh hati.
Tapi, mungkin kali ini bukan keberuntungan Naruto. Sesekali dia harus merasakan kekalahan.
"Kenapa, hum? Bukanya dulu Boru bilang ingin punya papa."
"Tidak –tidak."
"Lalu siapa yang dulu sering bertanya pada mama tentang sosok papa? Dimana papa, Apa papa tampan dan banyak sekali pertanyaan Boruto mengenai papa."
"Bukan aku, ma."
Semenyangkal apapun Boruto, dia hanya membutuhkan waktu. Lima tahun dia hidup tanpa papa, Boruto paling membenci papanya karena membuat mama sering menangis secara diam-diam. "Papa yang membuat mama menangis selama ini. Papa orang jahat ma, Boru benci. Papa tidak melindungi mama seperti papa teman-temanku."
Apakah selama ini Boruto mengamatinya diam-diam? Hinata baru tahu itu.
"Tapi tanpa papa, mama tidak akan bisa melihat Boruto. Tanpa papa, Boruto juga tidak akan bertemu mama. Apa kau tidak ingat sewaktu tinggal bersama papa Naruto? Papa sangat menyayangi Boru, mau mebelikan apa yang Boru inginkan dan juga merawat mama. Jadi, jangan terlalu membenci papamu."
Boruto masih terdiam, dia tidak menjawab dan hanya menyandarkan kepalanya pada dekapan Hinata.
Meski masih ada rasa dendam dan marah, namun Hinata tahu dirinya tidak berhak untuk menuntut Boruto membenci ayahnya sendiri. Alasan Hinata menangis diam-diam ketika melihat Boruto di setiap malam adalah rupa anaknya mengingatkannya pada Naruto. Hinata membencinya tapi pria itu juga yang memberikan Boruto padanya. Dia menitipkan cahaya kecil untuk menemani, menerangi jalan hidup Hinata.
Dan Hinata memilih membisu membiarkan dia sendiri yang menanggung luka. Hancur sendirian tidak masalah. Berkeping-keping dari dicampakkan sampai dibuang hingga ditelantarkan, Hinata mampu bertahan.
Dia tidak pernah mengatakan hal buruk pada Boruto mengenai betapa kejamnya kelakukan Naruto dulu. Tidak juga menjabarkan mengenai penolakan Naruto pada Boruto sewaktu masih dalam kandungan. Karena di waktu-waktu tertentu meski hatinya membeku pun Hinata tetap berharap, Naruto akan tersadar –mengetahui bahwa dia telah melahirkan anak mereka ke dunia. Memberikan bentuk cinta mereka ke dalam entitas kehidupan baru.
Dia ingin bersuara lantang. Menghapuskan semua keraguan yang pernah dituduhkan pada dirinya. Disalahpahami sebesar apapun, Hinata terkadang tetap ingin menyampikan pada Naruto bahwa kini dia telah menjadi seorang ayah.
Mereka berdua resmi menjadi orang tua.
Bermimpi bisa melihat lelaki yang dia cintai dulu akan mengatakannya 'Terima kasih telah menghadirkan anak kita' lalu mencium Boruto meski nyatanya Naruto tidak pernah melakukannya. Hinata menelan rasa pahit, itu hanya halusinasinya. Mimpinya terlalu tinggi.
Awalnya Hinata bertahap mencintai Naruto apa adanya tak peduli jika hubungan mereka berawal dari keterpaksaan ataupun Naruto dulu menganggapnya sebagai pengganti. Cadangan. Karena saat Naruto menjadikannya seorang wanita, Hinata telah memutuskan memberikan segalanya termasuk hatinya. Hinata mencintai serta menghormati suaminya meski dia sendiri tidak mengerti bagaimana Naruto menganggapnya.
Sayangnya perjalanan rumah tangga mereka tidak menemui akhir bahagia. Badai datang tanpa persiapan, Hinata dipukul oleh kenyataan pilu. Semuanya habis, terbakar kebencian tanpa sisa.
ima tahun lebih menunggu, Hinata menolak membiarkan Naruto menyentuh rasa itu kembali. Waktu mampu merubah haluan perasaanya. Cintanya menumpul, terpendam di dasar, terkubur oleh kekecewaan.
"Mama kenapa menangis?" Boruto menghapus lelehan air mata di pipi Hinata. Mencium dua mata Hinata secara bergantian. Hinata buru-buru menyekah sisa air matanya, dia tersenyum menatap Boruto mampu menghilangkan kesedihannya dalam sekejab.
"Apa sekarang anak mama sudah baik-baik saja?"
"Um'um, dan –mom bisakah kita makan? Aku lapar.
"Tentu saja. Pegang tangan mama, kita akan mencari kedai makanan." Ini bukan di Sapporo melainkan di Kota Tokyo. Boruto belum mengenal seluk beluk kota ini, Hinata menggandeng tangan anaknya agar tidak tersesat. Ibu muda itu melihat sisa uang yang dia punya sekilas, tidak banyak nominalnya. Cukup untuk makan dan semoga cukup pula untuk mencari penginapan.
Dia butuh tempat untuk beristirahat meski hanya sehari saja, terutama bagi Boruto.
Setelah ini Hinata juga harus memutar otak. Bagaimana bisa kembali pulang ke Hokkaido bersama Boruto. Meninggalkan tempat ini secepatnya karena terlalu banyak kepahitan bagi Hinata setiap mengingat kota ini.
Langkah Hinata terhenti seketika, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya. Genganggamannya pada Boruto dipererat. Hinata was-was Naruto mengikutinya lalu melakukan tindak pemaksaan. Apalagi sewaktu Kakashi lah orang yang keluar dari mobil. Dia orang kepercayaan Naruto. Hinata semakin menjaga jarak.
"Maaf terlambat Hinata dan tuan muda Boruto."
Mata Hinata memincing tidak suka dengan sebutan yang diucapkan oleh Kakashi. Terlalu formal dan terikat. Anaknya mulai dikenali sebagai pewaris darah Uzumaki.
"Tenang Hinata." Jelas sekali Kakashi melihat sorot menghindar dari Hinata. Wanita yang dikenal punya pembawaan lemah lembut ini sudah berubah menjadi wanita tangguh dari banyak luka yang ditanggung. "Aku tidak bersama Naruto-sama. Ada seseorang yang ingin bertemu dengamu juga tuan muda Boru-"
"Boruto, cukup Boruto. Tidak perlu menambahkan kata 'tuan muda' karena itu terdengar menganggu." Siapapun tidak berhak mengatur hidup putranya. "Lalu, siapa orang yang Kakashi-san maksud?"
Hinata memincing curiga. Meski Kakashi menjelaskan tidak membawa Naruto tetap saja Hinata patut mewaspadai. Naruto cukup keras kepala terhadap hal yang dia inginkan, pria itu arogan dan sulit melepaskan apa yangtelah dia incar.
"Itu aku Hinata." Suara lain menyahut. Tegas dan nyaring, Hinata terkejut. Dia mengenali suara siapa itu. Mana mungkin Hinata bisa melupakan suara halus orang itu. Orang yang selalu menenangkannya bahkan di saat-saat terakhir dia menyandang status sebagai istri Naruto. "Lama tidak bertemu, anakku."
Satu sosok lain ke luar dari mobil, rambut merah panjanganya masih Hinata kenali. Seorang wanita anggun serta begitu dewasa berdiri sambil tersenyum menawan. Hinata tidak mempercayai penglihatannya sendiri, matanya memanas berkaca-kaca. Tiba-tiba dirinya merasa cengeng.
Satu-satunya orang yang Hinata panggil 'ibu' selain ibu kandungnya nampak nyata di kedua bola matanya.
Uzumaki Kushina datang dengan wajah ramah dan tatapan rindu.
"Apa kabar putri ibu?"
Hinata menangis. Bahunya bergetar. Hanya lontaran pertanyaan sederhana namun bisa meruntuhkan segala beban di benak Hinata. Dia seolah disambut pulang. Kushina selalu membuatnya merasa kembali ke rumah. Di saat semua orang juga suaminya dulu tidak mempercayainya, Kushina akan menjadi orang pertama yang membelanya. Ibu kandung Naruto ini gigih membelanya dari segala tudingan miring bahkan pernah sampai sakit akibat perceraiannya dengan Naruto.
"Kau tidak rindu wanita tua ini? Tidak ingin memeluk ibu?" Bahkan sampai saat ini pun Kushina masih sama, dia akan menyuruh Hinata memanggilnya ibu. Kushina sangat menyayangi Hinata tak peduli dari mana Hinata berasal, dia menganggap Hinata adalah anaknya sendiri. Kushina sudah kepalang cinta dengan wanita berambut biru gelap ini.
Kushina masih menganggap Hinata adalah menantunya, satu-satunya wanita yang pantas mendampingi Naruto. "Kau pasti juga marah pada ibu sampai pergi begitu jauh dan sangat lama. Ibu kesulitan mencarimu. Putri ibu tidak mau menjenguk wanita tua ini."
Hinata menggeleng. Mana mungkin dia bisa marah pada Kushina? Meski Hinata tidak lagi menyandang nama Uzumaki sebagai pengganti Hyuga pun dia selalu mendoakan agar ibu mertuanya ini tetap dalam keadaan sehat.
"I-ibu. . . hksss. A-aku-"
"Ibu sudah tahu semuanya." Kushina menempatkan Kakashi sebagai pemberi informasi atas semua hal yang terjadi di sekitar Naruto. Kushina merasa bersalah, Hinata menderita dalam waktu yang cukup lama. Kushina merapikan helai rambut Hinata, memeluknya sebagai ungkapan bahwa Hinata tidak akan merasakan kesendirian lagi. "Ibu tidak akan memaksamu memaafkan Naruto, karena dia sendirilah yang harus membuktikan diri padamu."
Dua wanita berbeda generasi saling berpelukan dalam waktu yang cukup lama. Mereka melepas rindu, Hinata tidak menyangkah akan bertemu dengan Kushina secepat ini. Senang. Hinata seolah bisa merasakan pelukan seorang ibu sesungguhnya dari Kushina.
"Mama." Boruto mengerjap tak mengerti. Dia mendongak melihat Kushina dengan dua bola mata birunya. Kushina balas menatap putra Hinata dengan pandangan takjub.
"A-apa dia anakmu?" Kushina menutup bibirnya takjub. Terlalu mirip, ada Naruto kecil tengah menatapnya lucu. "Kakashi, apa dia anak yang kau ceritakan?" Kakashi mengangguk sambil tersenyum. "Dia benar-benar cucuku kan Hinata?" Kushina terlalu bahagia. Di umur tuanya akhirnya Kushina bisa merasakan bagaimana menjadi seorang nenek.
Dia berjongkok mencoba menyapa. Boruto mundur selangkah, dia bersembunyi di balik kaki sang mama. Bukannya takut, Boruto belum terbiasa dengan tatapan menyilaukan milik Kushina. Boruto seperti hendak diterkam.
"Boru, beri salam pada nenekmu."
"Hum?"
Hinata terkikik melihat reaksi sang anak. "Kenapa kau bersembunyi dari nenek, sayang? Ayo, ucapkan salam pada nenek Kushina." Hinata membimbing Boruto untuk memberikan salam. Kushina melihat cucunya dengan mata berbinar. Dia gemas untuk mentowel bulatan mochi pipi Boruto.
"Salam kenal nenek."
Oh, astaga. Bisa mati senang Kushina. Dia langsung menerjang Boruto, menggendongnya dan mengecup bertubi-tubi pada setiap inci wajah Boruto tak memedulikan raut manyun sang cucu. Kushina gemas sampai kelewatan memeluk tubuh montoknya.
"Kenapa cucu nenek bisa selucu ini? Makan apa kau sampai punya pipi bulat begini." Kushina tidak henti-hentinya mencium Boruto. Sudah lama Kushina ingin menimang cucu, Sejujurnya dia sering iri dan cemburu jika teman-teman nya memamerkan bagaimana menyenangkannya menjadi seorang nenek dan betapa menggemaskan cucu mereka.
Kini Kushina bisa membanggakan diri. Dia bisa menunjukkan Boruto pada teman-temannya. Dia tidak akan kesepian lagi tentunya. Ah, Kushina tidak perlu lagi mengajak Minato untuk menemaninya ke manapun. Dia akan membawa Boruto sebagai gantinya, pasti akan sangat menyenangkan menghabiskan waktu bersama cucunya. Membayangkannya saja sudah membuat Kushina merasa tak sabaran. Kushina merasa kembali muda lagi.
Dan yang terpenting, Kushina bisa memamerkan Boruto!
Boruto terlihat kewalahan. Tatapannya sedari tadi memohon pada Hinata agar membantunya melepaskan diri. Kushina begitu erat mendekapnya. "Pasti kakekmu akan terkejut jika melihat bagaimana cucunya mengikuti penampilannya. Bagaimana jika kita ke rumah? Kau tidak keberatan kan Hinata?"
Kushina memandang maklum, mengerti akan respon Hinata yang menegang. "Tenang saja. bukan ke rumah Naruto. Kau akan pulang ke rumah ibu. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan." Suara Kushina terdengar serius. Kushina mengerling pada Kakashi untuk segera bersiap pulang. "Ini juga mengenai masa depan Boruto"
Lalu tatapan Kushina menjadi sendu. Tangannya meraba perban di kening cucunya. Boruto membutuhkan perlindungan.
.
.
.
.
.
"Minato, Minato, sayang kemarilah." Kushina memanggil suaminya tergesa, suaranya melengking keseluruh rumah. Di belakangnya Hinata mengikuti dengan menggendong Boruto yang nampak tengah tertidur lelap. Bocah kecilnya memang butuh istirahat setelah apa yang hari ini dia alami.
Hinata mengingat seluk beluk rumah mertuanya, lebih nyaman daripada penthouse milik Naruto. Sosok pria paru baya yang dipanggil Minato muncul. Dia tersenyum ramah melihat istrinya telah kembali pulang.
"Kenapa kau terlihat senang sekali Kushina? Kau memenangkan arisan?"
"Lebih dari itu. Lihat, lihat siapa yang kubawa."
Minato mengikuti arah pandang istrinya. Dia terkejut, sudah lama Minato tidak melihat Hinata. menantunya berdiri, dia nampak ragu.
"Hinata?" Seperti Kushina, Minato juga merasa senang bisa kembali melihat Hinata. Ada rasa sungkan dalam diri Hinata dengan sambutan kedua orang tua Naruto ini. Dia tak menyangkah keduanya menyambut hangat kedatangannya.
"Minato-sama." Panggilan penuh hormat itu susah dihilangkan meski dulunya Minato pernah menjadi ayah mertuanya. Mau bagaimanapun Hinata lebih lama mengenal Minato sebagai seorang atasan yang baik sewaktu bekerja dalam satu tempat kerja dulu.
"Ayah, panggil aku seperti itu saja. Kau tetap menantu di rumah ini."
"Kami bukan orang asing, Hinata." Tambah Kushina. "Kami mengerti bahwa kau butuh waktu, tapi semoga secepatnya kau bisa menganggap kami sebagai orang tuamu lagi."
Hati Hinata tersentuh. Kebaikan Minato dan Kushina dirasa berlebihan. Diterima baik ke dalam keluarga Uzumaki saja tidak pernah Hinata bayangkan sebelumnya, lalu kini setelah dirinya tidak lagi terikat dengan Naruto pun mereka masih memperlakukannya sangat baik.
"Dan siapa yang kau bawa?" Tanya Minato melihat tubuh balita montok di gendongan Hinata. Surai blondenya familiar bagi Minato. Sebenarnya dia sudah tahu mengenai keberadaan Hinata di Tokyo. Juga mengenai kabar bahwa Hinata di sini bersama anaknya.
Kushina antusias untuk menjawab. Dia ingin melihat bagaimana reaksi suaminya jika tahu bahwa dia telah menjadi seorang kakek. "Dia cucu kita."
Kening Minato mengernyit. Hinata menduga Minato tidak tahu bahwa sewaktu kepergiannya dulu sebenarnya dia telah mengandung anak Naruto. Hinata reflek memeluk Boruto erat. Bagaimana jika Boruto diragukan oleh kakeknya sendiri?
Tidak heran bila hal itu terjadi, pemberitaan mengenai perceraiannya dengan Naruto begitu hebat. Banyak media menyorot, mencari-cari bahan bacaan untuk menaikaan rating. Spesikulasi-spesikulasi bergulir panas mengenai penyebabnya yang berakhir memojokkan Hinata. Naruto memberikan penjelasan sepihak bahwa Hinata tidak dapat berkomitmen. Hinata berselingkuh dan kejamnya lagi menyebutkan Hinata hamil bukan anaknya.
Bahkan para pemburu berita mulai kelewatan, mereka mengincar orang terdekat Hinata untuk dimintai keterangan. Sampai membuat Hiashi mengalami serangan jantung dadakan hingga membuatnya menyusul mendiang sang istri. Hinata terpukul. Secara tidak langsung Naruto membuat Hinata kehilangan satu-satunya keluarga yang dia miliki. Hinata benar-benar sendirian.
"Maksudmu aku menjadi kakek?" Akhirnya Minato bersuara. Kushina mengangguk cepat. "Ada yang akan memanggilku kakek?"
"Aku menjadi nenek." Kushina membanggakan panggilan baru baginya. "Kau menjadi kakek, aku menjadi nenek. Ya Tuhan, rasanya jantungku terlalu senang sampai berdetak cepat seperti ini."
Minato tidak kalah senangnya. Akhirnya setelah sekian lama, akan ada suara cadel anak kecil di rumah ini yang memanggilnya kakek. Rumah ini tidak akan sepi lagi. "Aku menjadi kakek." Dia mengulang lagi penggilan baru itu.
"Dan aku nenek, grandma. kita memiliki cucu sayang!"
Dua pasangan suami istri itu saling berpelukan. Hinata berkedip beberapa kali, semua ketakutannya tidak terbukti sama sekali. Minato malah langsung menyambut Boruto meski belum pernah melihatnya.
"Mama~" Merasa terusik mendengar suara-suara lengkingan, Boruto mengusap ke dua bola matanya lucu. Kelopak matanya membuka memperlihatkan safir seterang lazure. Wajah baru bangunnya seketika menjadi tontonan Kushina dan Minato. Terutama Minato, semua fisik Boruto jiplakan sempurna Naruto. Sejak dulu dia yakin, Hinata tidaklah seperti yang dituduhkan.
Yang ada, Hinata terlalu baik bagi Naruto.
Naruto melakukan kesalahan besar, dia harus berjuang keras bila ingin Hinata memaafkannya.
"Cucuku!" Dan dengan hebohnya dua pasangan itu berebut ingin memeluk bocah kecil itu. Boruto terlonjak kaget, dia terangkat dari dekapan mamanya, berganti pada pelukan sang nenek.
Kushina langsung mengambil Boruto, dia gemas dengan pipi tebal cucunya. Sedangkan Minato mengelus surai kuning yang sewarna dengan miliknya. "Mirip dengan Naruto ya." Gumamnya. "Tapi, lihat. Matanya lebih biru dibanding ayahnya."
"Tentu saja nantinya cucu ku akan lebih tampan. Kalian akan tinggal di sini bukan, Hinata?"
Bibir Hinata bungkam. Bingung mau membalas seperti apa. Ya atau tidak, Hinata dirundung dilemma. Rencananya dia bersama Boruto akan meninggalkan Tokyo secepatnya. Tapi, melihat sorot mata memohon Kushina memberatkan sebelah hatinya. Minato ikutan memberinya tatapan untuk menurut.
"Kami-"
"Rumahmu di sini. Naruto tidak akan menganggu kalian, aku menjaminnya dengan diriku sendiri."
"Bukan seperti itu –ayah." Hinata tak berani melibatkan lebih banyak orang tersangkut ke dalam permasalahannya dengan Naruto.
"Kau tinggal bersama kami, tidak ada penolakan. Kau dan anakmu mempunyai hak untuk itu. Bukannya kami meragukanmu dalam merawat Boruto, tapi tolong ijinkan kami untuk ikut terlibat. Anakmu adalah keturunan Uzumaki. Ada banyak orang jahat yang mengincarnya."
Hinata tidak memiliki alasan lagi menolak. Perkataan Minato ada benarnya. Identitas Boruto sudah terkuak. Naruto memiliki banyak musuh di luar sana. Hinata tersenyum lirih, kenapa dia pernah menikah dengan orang seperti itu?
Dilihatnya Boruto nampak mulai terbiasa dekat dengan kakek dan neneknya. Mereka bisa cepat akrab ruapanya, Boruto menyukai kakek dan neneknya. Sedikit demi sedikit Boruto bertahap mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan.
Boruto memang terlahir dari darah Uzumaki.
"Akan banyak orang yang nantinya mengincarmu, nak. Dan sudah menjadi tugas sebagai ibu untuk melindungimu." Hinata mencium puncak kepala Boruto, anaknya menatap tak mengerti.
Mungkin ini yang terbaik bagi buah hatinya. Hinata tidak boleh egois bila mengenai masa depan sang putra. Identitas Boruto terlanjur terungkap, Kini saatnya Hinata harus mempersiapkan diri, pasti ada orang di luar sana yang menaruh benci padanya juga pada malaikat hatinya.
Hinata akan melindungi Boruto, dia tak akan membiarkan kejadian Shion melukai Boruto terulang kembali meskipun itu artinya Hinata membiarkan Naruto memainkan perannya sebagai seorang papa.
"Bila Naruto memiliki kepercayaan diri sebagai seorang ayah, maka aku tidak bisa menghentikannya. Sebenci apapun aku kepadanya, namun fakta bahwa dia adalah papa Boruto tidak bisa kuhapus. Kali ini dia harus melindungi putranya." Hinata menatap Kushina dan Minato bergantian. Ini keputusan besar, Hinata butuh dukungan. Sakit hatinya harus terpinggirkan terlebih dulu.
Disamping itu, Hinata tidak boleh terlena, hatinya jangan sampai kembali tertawan oleh seorang Uzumaki Naruto.
Padahal di lain tempat, Naruto telah bersumpah untuk mendapatkan keduanya, baik Hinata maupun Boruto. "Untuk memiliki Boruto, maka aku harus memilikimu juga. Apapun caranya, Hinata."
.
.
.
.
.
.
.TBC
.
.
.
Tarik napassss…. Dan eaaa mulailah drama keluarga dua sejoli ini wkwkwk. Ok 24 lembar, saya cukupkan sampai di sini dulu. Mo balik ke kesibukan RL selama semingguan lebih. Saatnya fighting buat UAS, waktunya kebut semalam belajar 7 materi tentang perindustrian. Kalau ada kesempatan pasti saya sempetin setor ngetik lanjutannya.
Next chap bakal mulai terbangun lagi hubungan NaruHina, ibarat puzzle, saatnya saya menata sedikit demi sedikit sisi romance nya. Marah-marahannya mulai reda, tapi kenapa kok saya masih betah ngemaso?
Dan semoga saya bisa menulisnya cepat.
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melaksanakannya.
.
.
.
Kapan adegan M? Ntar, pas udah waktunya hehe
#padahal sendirinya juga pengen cepet nulis bagian enaena
Terima kasih kepada : antiy3629, kurrochan, Haruka, Annin adiba, zezey huara, Rael Naru-chan Dattebayou, KaoChan97, ranmiablue, yuka, Maria Yeremia Watzon, SARADA, poci, uchiha wulan, ryu, Mibo genie, pengagumlavender26, sadira, Ichiro Vava, dearsha, luna , shafir, angkerss. , cemilan, drealyouleeachay, billyyo566, Damai , budiii , Ayra Uzumaki, anirahani, Ari-Gates, ameyukio2, Nao Vermillion, Yuma, porompom, iii , Hitora and imnotevil13, ana, qqq, Farid, rohimexellenct, JennebiJane, rin takeshi, heira, RaitoKazuki, Hinata hime, elmyuu, Mitsuko Kei, Ila, Deandra, astia morichan, cimma, nana, Uchiha hana, veringrande, hikari21p, Mishima13, Echa Ocean, dylanNHL, Aoi Aysel, nana anayi.
Semoga yang selama ini getol ngingetin atau semangatin saya entah lewat PM, FB, WP gg bosen2 key. See ya.
