Undangan pernikahan antara Naruto dan Shion sudah tercetak, tinggal disebar baik secara personal maupun melalui media elektronik. Beritanya sampai dimuat di koran-koran atau majalah komersial, sengaja dibuat untuk menyebarkan kabar bahagia. Tentu semua agensi pemberitaan dibuat gaduh dengan isu pernikahan itu.

Mereka berebut ingin jadi yang terdepan dalam memaparkan pemberitaan. Apapun, dari persiapan hingga pelaksanaan. Bisa menaikkan rating bila meliput pernikahan akbar dua orang pesohor itu. Terlalu dibesar-besarkan?

Hey, memang bukan sembarang orang yang bakal menikah.

Uzumaki Naruto sudah mencatatkan diri sebagai pangeran abad ini. Sedikit berlebihan, namun nyatanya dia pantas mendapatkan julukan titisan dewa. Mungkin memang tidak ada kuda putih sebagai tunggangan, tapi siapa peduli? Membeli satu area pacuan balap kuda pun dia mumpuni.

Semua liku-liku hidup pengusaha muda itu selalu menjadi sasaran blitz paparazzi. Masih muda namun sudah bergelar masterpiece. Dia pria tanpa cacat cela jika dilihat dari sederet apa yang dia punya. Marga Uzumaki semakin membuatnya dipuja. Meski bukan seorang aktor layar lebar, namun Naruto digilai dari semua lapis golongan, terutama para perempuan. Dia sempurna dengan masa depan secerah kejora. Lalu, siapa yang tidak tergila-gila?

Dan sialnya, calon pasangan pendampingnya memang bukan perempuan biasa pula. Model rupawan sekelas Shion membuat semua wanita merasa minder mengajukan diri menjadi pesaing. Ajang kecantikan sering meroketkan namanya masuk dalam tiga besar. Sering didapuk menjadi model ambassador produk-produk kelas konglomerat. Wajahnya pun pernah menghiasi kover majalah Vogue.

Dia berdarah campuran Asia dan daratan Eropa, berbakat serta bertalenta. Banyak penghargaan sebagai bukti betapa terkenalnya model satu itu. Paling penting, tidak usah meragu tentang keindahan ragawinya.

Shion mampu membuat mata tak berkedip hanya dengan satu langkah penuh kepercayaan. Tidak ada kekurangan ataupun secuil ketidak sempurnaan. Semunya memberikan doa restu bagi sang model kenamaan untuk merajut kehidupan berumah tangga dengan pria setampan Uzumaki Naruto.

Shion memang pendamping ideal bagi Naruto. Pasangan serasi yang membuat orang lain iri. Pernikahan mereka didapuk sebagai pernikahan paling gemerlap, megah dan mewah. Rumor menyebutkan destinasi bulan madu sudah ditentukan, wisata ke luar negeri sudah direncanakan. Shion mengatakan mereka akan memilih pantai sebagai tempat untuk bulan madu.

"Lihat, apa gaun ini cocok denganku?" Manik kilau taburan swarovski terpayet simetris pada satin putih di gaun pengantin. Naruto mengamati diam, apapun yang dipakai Shion nampak sempurna. Selalu elegan. Dia jeli dalam memilih pakaian.

"Kau cantik memakai apapun."

Shion berdecak sebal. Mencampakkan gaun pengantin ke tangan seorang pramuniaga. "Ckk, jangan mulai lagi Naruto. Nilai secara objektif, kau tampak tidak terkesan sama sekali." Cibir Shion. Semua rencana pernikahannya harus tersusun rapi dan tanpa kurang sedikitpun, namun entah sejak kapan sang calon suami lebih banyak pasif.

Naruto terlihat tidak seantusian dirinya untuk menyonsong hari pernikahan.

Apapun pertanyaan Shion hanya dijawab singkat. Shion tak melihat kobaran semangat pada sikap Naruto. Prianya bahkan lebih sering menghabiskan waktu menatap lama pada layar ponsel. Bukan tentang bisnis, Shion tahu semua schedule Naruto tentang perusahaan telah dirampungkan –sisanya dilimpahkan ke asisten pribadi.

Naruto berubah sejak dia kembali dari kota sebelah.

"Kau berubah menyebalkan. Kau banyak mendiamkanku akhir-akhir ini. Bahkan terakhir kuingat kau menciumku seminggu yang lalu."

Biru samudera milik Naruto menatap Shion. Dia ingin menyanggah, tidak merasa berubah hanya saja sedikit lelah –dan terbelah. Pikirannya terpecah untuk memikirkan orang lain selain sang kekasih. Naruto diam-diam merindu pada sosok perempuan selain calon istri. Dan Naruto merasa bersalah.

Bukankah itu namanya mendua? Naruto mengnyahkan pikiran itu jauh-jauh.

"Apa ponselmu lebih penting daripada calon istrimu ini?"

Buru-buru Naruto memasukkan ponselnya dalam lipatan saku jas hitam. Beberapa pesan dengan nomer tujuan Hinata batal terkirim. Tersimpan dalam draft penyimpanan. Mungkin nanti akan dia kirim. Naruto tidak sedang bermain api dalam sekam. Bukan maksudnya memberi perhatian berlebih pada Hinata, cintanya tetap utuh tanpa muncul cabang ke lain hati.

Penyangkalannya semakin mengada-ada –denial tingkat akut. Pura-pura buta.

Dia hanya ingin tahu bagaimana keadaan perempuan itu. Apakah baik-baik saja atau bagaimana? Sejujurnya Naruto kadang sadar dia merindu pada orang yang salah. Bahkan rasa bahagianya berlebihan hanya karena sebuah pesan masuk dari Hinata yang berisi 'Semoga hari anda menyenangkan, direktur.'

Paling parah ketika di pagi hari setelah bangun tidur. Mimpi dewasa membuat Naruto bangun dalam keadaan tegang –setengah ereksi dan itu mengilukan. Dia melupakan Shion, dia justru akan menelpon Hinata, beralasan salah tekan. Naruto bisa leluasa memainkan tangan di balik celana sambil mendengar suara serak Hinata bangun tidur.

Sangat menggelikan sekaligus mengerikan. Dia berubah nakal.

Dasar bangsat! Naruto mulai tidak waras dan semakin gila mengkhayalkan Hinata berada di depan matanya. Dia belum pernah berprilaku sebrengsek ini, belum pernah sampai berdelusi menyangkut bayang-bayang Hinata mengitari akal sehatnya. Mencumbunya sambil berbisik sensual penuh damba. Hatinya mulai membelok ke sosok berwajah manis berambut indigo namun dia masih beranggapan hanya Shion wanita yang pantas mendampingi.

Naruto menjulurkan tangan. "Kemarilah." Tangannya menarik pinggang sempit Shion mendekat, wanita berdarah campuran akhirnya duduk di atas pangkuannya. "Kau cantik, melebihi apapun. Semua gaun yang kau pakai membuatmu nampak seperti ratu. Lalu, apa yang kau khawatirkan?"

Shion tersenyum. Pujian Narto terdengar meletupkan hatinya. "Tentu saja. Aku ratumu. Tapi, aku ingin kau memberikanku pilihan mana yang terbaik. Kau bahkan tidak melakukan fitting. Aku ingin melihatmu dalam balutan jas pengantin pria." Di akhir kata Shion mengecup bibir Naruto. Freach kiss. Ciuman dibarengi lumatan seronok.

Shion menggebuh, Naruto diam termangu.

"Aku sudah mempercayakannya pada mereka. Kau bilang ini tempat perancang baju pernikahan terbaik bukan? Jadi, bisakah kita segera menyelesaikan ini. Kita masih harus memilih souvenir jika kau lupa." Naruto memutus bibir mereka, menyekah sekilas bibir merah segar Shion.

"Baiklah." Shion melihat beberapa gaun yang telah dia coba. Semuanya bagus, dia menyukai pakaian mahal tersebut. "Bolehkah aku membawa semuanya?"

Naruto mengangguk. Tidak heran lagi. Shion penggila pakaian ber-merk. "Apa kalian mendengar apa keinginan kekasihku?" Para pegawai toko mengangguk. "Bungkus semua yang telah dipakai kekasihku. Kami tidak memiliki waktu lebih untuk terus berada di sini."

Naruto ingin segera pulang. Tidak menyangkah persiapan pernikahan bisa menghabiskan waktu selama ini.

Melelahkan. Seharian Shion benar-benar tidak memberinya waktu senggang. Rencana pernikahan menguras habis tenaganya. Entah masalah tempat, dekor atau apapun sesuai keinginanan Shion. Sebenarnya Naruto tidak terlalu mempermasalahkan bakal seperti apa nantinya pernikahan mereka, Kushina malah menyarankan hal sederhana namun sakral. Sekali seumur hidup. Tapi Shion ingin bertabur berlian, digelar secara besar-besaran.

Dan entah kenapa hatinya berubah bimbang. Melakukan segala hal jadi setengah-setengah. Dia mengecek ponsel pintarnya, dia telah mengirim pesan namun Hinata tidak memberikan balasan.

Naruto segera pulang, bersandar pada kursi kerjanya. Netra biru memandang tumpukan undangan pernikahannya, ada satu undangan gold yang masih kosong belum diberi nama si penerima. Itu undangan khusus. Naruto mengeluarkan pena, menuliskan satu nama orang dengan tangannya sendiri.

Hinata Hyuuga diundang secara istimewah.

Naruto melamun, bertanya apa yang dia harapkan dari kedatangan Hinata di pernikahannya? Sebuah kado? Yang benar saja, Hinata bukan anak borjuis, hadiah yang akan dibawa jelas nilainya tidak seberapa. Lagipula Naruto tidak membutuhkan hal seperti itu. lantas apa? Ucapan selamat? Naruto terkikik semakin ragu, dia akan mendapatkannya dari semua tamu.

Lalu apa? Naruto menarik napas. Dia hanya ingin Hinata datang –sebagai teman tentu saja. Bibirnya terkekeh, sadar bahwa dia berusaha menangkis bahkan mencoba melenyapkan secuil kuncup rasa untuk Hinata. Bila dipikir-pikir, Shion memiliki keunggulan dibanding Hinata. Tapi kenapa, jantungnya malah memecundanginya? Berdetum berisik setiap mengingat rupa Hinata.

Aissh! Sialan sekali. Sulit membohongi diri.

Naruto benar-benar sudah jatuh tidak tertolong. Dia menyukai sensasi bagaimana perempuan biasa seperti Hinata menari-nari, menaik turunkan keseimbangan pikiranna. Naruto menyentuh dada kirinya, kembali berdenyut ugal-ugalan. Sensasinya sungguh luar biasa.

"Ini hanya perasaan kagum semata, bukan rasa ingin memiliki apalagi mencintai." Terlahir membawa sifat sempurna, Naruto tetap pada rencana awal. Dia menikahi Shion, sendirian menyimpan Hinata sebagai kenangan manis sebelum masa lajangnya habis.

.

.

Pernikahan itu akhinya digelar dengan segala kesempurnaannya. Alunan musik klasik, dresscode putih serta taburan kelopak mawar. Semua media meliput pesta pernikahan ini berlangsung. Di ujung sana terlihat pria gagah berjas hitam legam yang menutupi inner abu-abu dan kemeja putih sedang berdiri penuh kharisma. Naruto sangat tampan dengan tatanan rambut di sisir miring. Dia menjadi peran utama, setiap hal darinya akan dibidik kamera.

Matanya menyisir sekitar, melihat ayah dan ibunya duduk paling depan. Memberikan senyum karena akhirnya dia akan segera berumah tangga. Dan Naruto hampir memekik ketika melihat Hinata datang dengan gaun violet sebetis. Dia sederhana, berjalan kikuk di antara tampilan orang-orang bergaun rumbai. Mungkin merasa canggung untuk duduk di deretan utama.

Hinata tak sengaja membalas tatapan Naruto, jelas saja si pria menjadi salah tingkah. Dia kedapatan menatap intens pada sosok Hinata, dan Kushina melihat dua interaksi itu dengan wajah curiga.

Menit menjadi jam, namun Shion belum datang dari balik pintu. Naruto mulai tidak sabar, kakinya menghentak altar cukup cepat. Semua tamu juga mulai berbisik, menerka kenapa sang pengantin wanita belum juga terlihat.

Sosok Kakashi berlari tergesa menghampiri Naruto. Wajahnya tertutup keringat, suara Kakashi sedikit bergetar antara takut dan khawatir ketika membisikkan sesuatu pada Naruto. Dia sangat tahu Naruto, tempramennya buruk ketika sesuatu tidak berjalan semestinya.

Apalagi ketika "Shion-sama tidak ditemukan di ruangannya. Dia menghilang, memberikan surat yang berisikan pembatalan pernikahan." Sebisa mungkin Kakashi menyampaikannya secara hati-hati. Banyak media meliput, tentu berita ini akan menjadi sasaran empuk jika sampai bocor.

Napas Naruto terhenti untuk beberapa detik. Matanya lurus ke depan, tangannya terkepal. Kilatan mata biru menyapu secara random, Shion menipunya. Wanita itu tidak benar-benar serius untuk menikah dan kini menumpahkan semuanya di satu puncak waktu saat semua mata tertuju pada dirinya maupun keluarga Uzumaki.

Ini akan menjadi skandal memalukan. Dampaknya akan meluas, Naruto menggeram. Nama baik keluarganya sedang dipertaruhkan. Sekilas dia melihat pada ayah dan ibunya, mereka yang akan menjadi sasaran utama bila pernikahan ini batal. Naruto tidak bisa membiarkannya. Tangannya terkepal mencari pelampiasan.

Naruto tidak akan membiarkan siapapun memberikan pandangan buruk bagi keluarganya. 60 detik dia berpikir, netra samuderanya mengunci sosok Hinata beberapa lama. Bibirnya samar menyeringai, katakanlah dia sedang bertaruh.

Menikah dengan orang lain atau tidak sama sekali.

"Antar perempuan berambut biru gelap itu ke dalam ruanganku. Poles dia secantik mungkin." Kakashi belum terlalu paham. Dia mencuri pandang pada sosok yang ditunjuk Naruto. Kakashi mengenalnya sebagai Hinata Hyuga, seorang pegawai bagian gudang pada salah satu anak cabang perusahaan. Dia mencium gelagat tidak baik dari perintah Naruto.

Kakashi melihat rencana gila tuannya. Ini terlalu berisiko, Naruto bejudi dengan hal yang tidak pasti.

"Aku mungkin batal menikah dengan Shion, tapi aku tidak akan membatalkan pernikahan ini. Hinata, dia yang akan menikah denganku."

"Apa anda yakin?"

"Anggap saja ini takdir. Berikan klarifikasi bahwa aku menemukan cinta sejati sehari sebelum pernikahan ini berlangsung, hingga aku berubah pikiran tidak menikahi Shion. Dan tentang nama Shion, bilang saja hanya kesalahan ketik karena mau bagaimanapun hal itu telah tersebar luas."

Kakashi mengangguk lalu menunduk hormat. Dia melakukan apa yang diinginkan Naruto. Membawa Hinata dalam sebuah hubungan yang didasari perjanjian semata.

.

Hinata tidak mengerti, dia dibawa oleh seorang lelaki berambut putih ke sebuah ruangan. Hinata ingin bertanya namun urung ketika melihat Naruto menghampirinya. Dia datang dengan rupa serius.

"Direktur, selamat atas perni –"

"Pakailah ini."

"Huh?"

Hinata semakin bingung. Ucapan selamatnya menggantung ketika Naruto memberinya sebuah gaun putih. Lama Hinata memandangi, Naruto berucap agar dia segera berganti baju.

"Aku tahu ini mendadak, tapi aku butuh bantuanmu."

"A-apa yang bisa saya lakukan?" Hinata meragu, dia merasakan perasaan buruk. Sejujurnya dia ingin segera keluar dari ruangan ini. Berdua dengan sang direktur yang menatapnya tajam membuat Hinata mundur berjaga-jaga.

"Kita menikah, lima belas menit kutunggu kau di altar untuk janji sakral."

Bola mata putihnya membeliak, keningnya mengernyit tanda dia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi –apa yang sedang dia alami. Menikah? Dengan direktur? Direktur mngkin sedang bercanda denganya. Ini lelucon yang keterlaluan.

"Kau tidak bisa menolak. Aku ingin kau menjadi pengantinku." Tekan Naruto sekali lagi.

"Maaf, menikah? Sekarang? Anda gila direktur. Saya tidak mencintai anda, begitupun sebaliknya. Dan bukankah di undangan tertulis bahwa Shion-lah yang akan menikah dengan anda?!" Hinata tidak peduli melihat urat kemarahan di sekitar kening Naruto. Belum ada dua jam dia di sini kemudian direkturnya –Naruto menginginkan mereka menikah. Haha bolehkah Hinata tertawa? Jangankan menikah, memiliki kekasih saja Hinata belum punya.

"Bagaimana bisa pernikahan suci di dasari oleh keterpaksaan. Anda memaksaan perasaan seorang perempuan pada hal tidak tepat. Anda sedang bercanda dengan Tuhan, begitu?"

"Persetan dengan semua kesucian pernikahan! Kau hanya orang jelata. Kuberikan uang sebanyak yang kau minta asal kau mau memakai gaun itu." Telunjuknya mengarah pada gaun putih cantik yang tergeletak di atas meja rias.

Hinata terngagah tidak percaya. Pria ini sungguh keterlaluan, Naruto memandangnya seperti barang dagangan. Pernikahan bukan sebatas berganti status sosial, bukan pula sebuah permainan coba-coba karena menyangkut perasaan. "Lebih baik saya pergi. Anda mungkin sedang mabuk. Permisi."

"Satu langkah menjauh maka aku akan mencabut semua biaya pengobatan ayahmu." Hinata menghentikan langkahnya, terkejut sekaligus semakin tesudut. Naruto mengintimidasinya, pria di depannya benar-benar melihat segala sesuatu berdasarkan materi.

"A-apa?" Ini tidak masuk akal.

"Jangan pura-pura lupa bahwa ayahmu dapat hidup sampai sekarang karena sumbangan uangku." Perkataannya merendahkan Hinata. Naruto tidak punya pilihan, saat ini Hinata lah yang dapat dia gunakan.

"Jadi bantuan anda saat itu hanya kebohongan belaka? Anda benar-benar begitu buruk, tuan Naruto." Desis Hinata. Dia tidak menyangkah direkturnya bisa selicik ini, Naruto menjebaknya tanpa Hinata sadari. Dia salah mengartikan kebaikan Naruto. Lagi pula dia datang ke sini hanya karena Naruto mengundangnya, bukan untuk menjadi istri Naruto.

Naruto mengeluarkan ponselnya, menekan nomer dan berbicara sesuatu mengenai biaya dan keadaan Hiashi. Di mata Hinata kini Naruto berubah menjadi sosok arogan. Dia tidak mengenalinya.

"Cabut semua penopang hidup dari Hiashi. Semuanya, termasuk obat-obatannya. Taruh saja di kamar perawatan biasa atau dimanapun, nanti putri kesayangannya akan menjemputnya."

Mata Hinata memanas. Kenapa harus ayahnya diperlakukan seperti itu. Kenapa Naruto dapat bertingkah tidak terhormat seperti ini?

"Ya, sekarang kalian bisa mengeluarkan Hiashi dari rumah sakit."

"Tu-tunggu. Apa yang anda katakana?" Cegah Hinata diserang panik ketika mendengar ancaman ayahnya akan di keluarkan dari rumah sakit. Benar-benar gila direkturnya ini. "Anda tidak bisa berbuat seperti itu!"

Seringai Naruto mengembang. Dia memang licik tapi inilah cara agar Hinata tunduk. "Kau yang kejam Hinata. membiarkan ayahmu sekarat tanpa pertolongan. Aku telah mengulurkan tangan namun kau menepisnya. Jangan salahkan aku, kau harus lebih bisa berdamai dengan keadaan."

"TAPI AKU TIDAK MENCINTAIMU!" Jerit Hinata. Tangan Naruto terkepal. Dia membenci penolakan Hinata, dia membenci kekalahan. Penolakan Hinata cukup membuat Naruto semakin menggelap. Walau wajah Hinata kini telah dibasahi oleh air mata namun Naruto sudah tidak bisa mundur lagi.

Dia menyentuh tangan dingin Hinata. Mengarahkan wajah basah Hinata untuk berani menatapnya. "Kalau begitu belajarlah untuk menerimaku, belajarlah untuk mencintaiku atau ayahmu taruhannya."

"Waktumu tidak banyak untuk berpikir tentang masa depan karena aku dapat menjaminkannya untukmu. Meski ini pernikahan mendadak atau apapun itu, namun aku akan memberimu hak sebagai seorang istri. Kau juga akan melihat ayahmu sembuh, maka lakukan tugas ini. Pakai gaun itu dan berjalanlah ke arahku. Di sana aku menunggumu, cukup lihat diriku saja maka semuanya akan baik-baik saja."

Semua pilihan untuk kabur telah ditutup rapat oleh Naruto. Dia tidak bisa seenaknya meninggalkan Naruto ketika ayahnya disangkut pautkan. Pria itu telah mengenggam hidupnya, memaksa untuk memberikan masa depannya. Tangan Hinata meremas gaun putih di genggaman, berdiam diri ketika beberapa perias mulai memoles wajahnya.

.

.

.

.

.

REMOVE

Kesalahan tidak bisa dihapuskan. Itu membekas dan meninggalkan jejak.

Kau hanya bisa memperbaikinnya, namun berhentilah mencoba karena kau terlalu terlambat untuk melakukannya

.

.

.

.

.

Ditulis berdasarkan imajinasi tanpa referensi

© Masashi Kisimoto

Tidak dipersyaratkan untuk dibaca anak kecil, khusus (18+).

Warning : Typo(s), Bahasa tidak baku (cenderung kasar), sexual content, AU, Modern live, OOC, alur cepat

Rated : M (language and content)

Pairing : Naruto-Hinata

Story : Atharu

Tolong perhatikan warning yang saya cantumkan, terutama mengenai bahasa yang saya gunakan. Memang ada beberapa bagian dengan frasa tidak sesuai tatanan kebahasaan karena memang konteksnya saya buat seperti itu.

.

.

.

.

.

Naruto menatap geram pada lembar file yang dia baca. Tiga hari dia menunggu dengan rasa ingin terpuaskan. Mengerahkan apa yang dia miliki untuk menemukan keberadaan dua orang terpenting dalam hidupnya. Naruto menggeram marah, dia dikhianati oleh orang terdekat.

Pantas saja dia kesulitan mencari Hinata dan Boruto, bagaimana bisa Kakashi melakukan ini semua? Bahkan ayah dan ibunya juga bersekongkol menjauhkan dia dari anak dan mantan istrinya. Tapi, tentu saja dia tidak akan menyerah. Menyewa banyak agen intel pun Naruto lebih dari mampu untuk melakukannya.

"Kakashi, dia berani sekali membohongiku." Kertas itu lusuh, diremat lalu disingkirkan. Berakhir mengenaskan di tempat sampah. Tiga hari dia tidak tenang, semuanya menjadi berantakan. Pikirannya dijungkir balikkan, apalagi hatinya. Bertanya-tanya dimana Hinata membawa Boruto? Apakah mereka bisa tidur? Makan apa mereka selama ini?

Naruto kelimpungan sampai mencari seorang diri, tidur tidak lebih dari tiga jam, semua pekerjaan mulai terabaikan. Selebihnya dia menghabiskan waktu untuk mencari kembali. Naruto benci menunggu tanpa kepastian, dia menghkawatirkan keadaan Hinata dan Boruto secara berlebihan.

Mungkin Hinata memang sudah dewasa, bisa bebas kemana saja, tapi Naruto tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Hinata juga seorang wanita biasa sedangkan anaknya cuma bocah lima tahunan, bagaimana jika mereka menjadi sasaran kejahatan? Naruto cemas. Sakit kepala akibat stress berat sampai harus mengkonsumsi obat penenang agar pikirannya tetap rasional –waras. Dua orang itu berhasil membuat Naruto kelimpungan.

Hingga salah satu orang sewaanya memberikan informasi berupa kertas yang telah dibuang oleh Naruto barusan. Dia mendapat hasil bahwa Hinata dan Boruto tinggal di rumah utama. Di rumah orang tuanya.

Brengsek!

Kenapa dia diperlakukan seperti orang asing? Baik Hinata dan Boruto –secara hukum masih tanggung jawabnya. Naruto mengambil kunci mobilnya, memacunya ugal-ugalan, tujuanya menjemput Hinata dan Boruto. Bila Hinata menolak, Naruto tak peduli untuk memaksa. Kali ini Naruto tidak bisa berkompromi.

Naruto hanya ingin menjaga mereka berdua dengan tangganya sendiri. Dia ingin menebus hal jahat yang telah dia lakukan sebelumnya. Menjadi sosok ayah yang bisa dibanggakan anaknya, atau lebih-lebih bisa ikut menjaga mantan istrinya pula. Jadi Hinata tidak boleh lagi lari darinya. Dia tidak memiliki alasan untuk menolak apa yang dibawa Naruto.

Satu lagi. Ingatkan Naruto juga untuk memberikan pelajaran bagi Kakashi atas semua hal yang dirahasiakan oleh orang kepercayaannya itu. Naruto sedari dulu benci penghianatan. Terutama pada orang yang dia percaya.

.

.

Naruto memasuki rumah orang tuanya dengan langkah lebar. Tak sabaran, pria tampan ini berlari menuju halaman depan. Apalagi ketika dia mendengar suara Boruto, hatinya telah merindu terlalu lama. Naruto ingin memeluk anaknya.

Tepat di halaman rumah, dia melihat putranya bermain bersama Kushina. Langkah kaki Naruto memelan, terhenti ketika ada rasa ragu. Anaknya baik-baik saja. Suara tawa Boruto tiba-tiba memukul langkah Naruto untuk mundur. Anaknya lincah menggiring bola, wajah imutnya berubah masam menggemaskan ketika dia gagal melewati neneknya.

Naruto tersenyum kecut.

Dia tidak cukup berani menampakkan diri. Status sebagai ayah kandung malah membuat Naruto tersenyum miris. Sadar bahwa telah banyak hal yang telah dia lewatkan bagi tumbuh kembang anaknya. Waktu mana bisa diulang bukan?

Namun, setidaknya kali ini Naruto bertekad menebus terbuangnya waktu lima tahun dulu. Saatnya untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang ayah.

"Boru-"

Yang dipanggil menoleh, bola dalam dekapannya terlepas menggelinding ke sisi lain. Boruto melihat papanya mendekat, ingatan kejadikan mengerikan tempo hari membuat Boruto buru-buru bersembunyi di belakang neneknya. Wajah munginya mengintip enggan menatap.

Guratan garis wajahnya ketakutan. Dia belum bisa menerima keberadaan Naruto sebagai orang baik apalagi sebagai papa. Cengeramannya pada baju belakang Kushina semakin menguat. Setengah berbisik memanggil mamanya. "Momma…" Boruto berharap mama Hinata segera datang menyelamatkannya.

Kushina tidak terkejut mengetahui Naruto berada di sini. Cepat atau lambat Naruto pasti mengetahui keberadaan Boruto dan Hinata. Wanita paruh baya itu mengelus surai cucunya yang masih menyembunyikan diri dari kejaran mata Naruto.

"Apa yang kau lakukan di sini, Naruto?" Pertanyaan sinis Kushina menyambut kedatangan Naruto. "Sudah sadar belangnya wanita simpananmu? Sudah tahu seburuk apa kelakuannya –kelakuan kalian?" Kushina dibuat geram oleh Naruto. Bisa-bisanya anak semata wayangnya berbuat hal memalukan.

"Mereka baik-baik sana di sini, tinggal bersama ibu. Kau bisa melalang buana bersenang-senang dengan siapapun. Ibu tak peduli, tidak ikut campur atau melarang ini itu. Kau sudah bukan anak kecil. Kau bahkan sudah menjadi seorang ayah." Sindir Kushina. Dia mencibir keras buruknya dosa Naruto.

"Bu-"

"Baru menyesal setelah kau kehilangan istri dan anakmu, huh?" Kushina menghantam telak sumber ketidak tenangan Naruto dengan memancingnya menggunakan hal sensitif. Kushina tidak akan bisa berhenti menyindir ketika hatinya sudah terlalu dikecewakan.

Perlakuan sang putra di masa lalu menjadi taburan garam di hati istri Minato ini. Dia kesal pada Naruto, marah dengan perlakuan sang putra yang menyakiti Hinata sedemikian buruknya sampai punya anak saja dia tidak tahu andai belum bertemu Hinata. Naruto-nya pantas menerima hukuman.

Kushina masih ingin menghadili Naruto. Ingin menghakiminya atau kalau bisa juga memberinya beberapa tinjuan. Itu belum seberapa. Dia ingin meliat penyesalan dari Naruto.

Kushina juga wanita, bisa merasa apa yang dirasakan oleh menantunya, Hinata. Ingat, bagi Kushina, Hinata tetaplah menantunya meski secara hukum dia telah pisah dari Naruto. Tensi darah Kushina naik tiap mengigatnya.

Naruto menghelah napas panjang. Sudah mengenal bagaimana sifat ibunya ketika marah. Sama sekali tak memikirkan perasaanya, apalagi tak segan-segan berkata menyakitkan. Telak sasaran menyudutkan dirinya.

"Ibu, bisakah kita bicarakan di dalam?"

"Kenapa? Kau malu aibmu ibu bongkar? Busuknya sudah tercecer kemana-mana tanpa perlu ibu korek-korek. Barangkali urat malumu sudah putus akibat keseringan berbuat nakal bersama wanita gelapmu." Lihat, bibir Kushina memang menyeramkan jika sudah berbicara sarkasme.

Naruto gerah dengan segala tuduhan itu, meski kenyataanya dia pernah melakukannya."Bukan begitu, bu. Setidaknya jangan berkata buruk di depan putraku." Mata birunya menatap sendu pada Boruto. bocah itu masih terlalu kecil untuk menerima pembicaraan orang dewasa. Bagaimana jika Boruto semakin membencinya?

"Cucu ibu justru takut melihatmu. Papa macam apa kau, sebutan 'papa' bahkan masih terlalu berat untuk kau sandang! Ibu tidak pernah mendidikmu menjadi pria pengecut Naruto. Mana tanggung jawabmu selama ini, nihil bukan?" Lama-lama Kushina merasa lelah meladeni Naruto.

"Terima kasih sebelumnya telah menjadikan Hinata putri ibu serta memberi pewaris Uzumaki yang tampan. Akhirnya kau bisa bebas berprilaku semaumu. Ibu tidak akan menuntut apa-apa lagi padamu. Hinata beserta Boruto akan menjadi tanggung jawab ibu."

Naruto tidak terima. Dia ingin memikul tanggung jawab itu. Segalanya sudah Naruto siapkan untuk menjadi pria yang lebih bertanggung jawab.

Tepat pada saat itu Hinata muncul dari dalam. Membawa sebotol susu untuk Boruto. Niat awalnya memang untuk menemani anaknya yang sedang bermain bersama Kushina, namun Hinata cukup terkejut mendapati pria bertubuh kekar –mantan suaminya sudah berada di sini.

"Mama!" Boruto buru-buru berlari menuju mamanya.

Hinata memandang datar tapi Naruto memandanganya nanar. Besar harapan untuk bisa berbicara empat mata dengan Hinata tentang kesalahpahaman di masa lampau. Naruto mencoba menyapa ramah Hinata namun Hinata mengacuhkannya. Pura-pura tidak mengenal dan tangan Naruto rasanya ingin mengepal.

Dia benci tidak dianggap.

Meski begitu Naruto tidak merasa marah atau terhina. "Syukurlah kau baik-baik saja." Gumam Naruto. Penampilan Hinata berbeda dari yang terakhir Naruto lihat. Mengenakan pakaian rumahan sederhana namun pancaran cantik dan keibuan sudah dapat Naruto lihat. Wajahnya tidak lagi pucat, nampak segar dan Naruto merasa lega Hinata menjadi lebih baik.

Hinata baik-baik saja tanpa dirinya. Naruto menelan rasa kecewa di akhir.

Boruto memeluk Hinata erat, matanya menukik tajam pada Naruto. Semakin mengembungkan pipinya ketika Naruto mencoba tersenyum ke arahnya. Bulir mata serupa samudera mengisyaratkan agar Naruto tidak mengambil langkah mendekat atau mencoba bersikap ramah.

Sedikit tersenyum, Naruto membayangkan kaki kecil itu akan berlari ke arahnya, merentangkan ke dua tangannya untuk minta digendong atau dipeluk. Dan Naruto paling tidak sabar mengharapkan ketika dirinya dipanggil 'papa' oleh Boruto.

"Kau sudah datang?" Kali ini Minato datang dan mengambil peran berbicara. Dia lebih bisa mengendalikan ketenangan dibandingkan Kushina. "Naruto, masuklah. Ada yang harus kita bicarakan."

"Tapi-"

Minato mengelus tangan Kushina, mencoba memberi ketenangan sekaligus pengertian. Ini bukan masalah sepeleh yang bisa diselesaikan dengan percekcokan. Setidaknya Kushina harus bisa mengatur emosinya. Berkepala dingin agar tidak lagi menimbulkan kesalah pahaman. Kushina mengerti, menyetujui meski masih menyimpan kekesalan.

Dia belum puas untuk mengadili Naruto.

Kushina menggandeng Hinata serta Boruto masuk. Benar-benar mangacuhkan kehadiran anaknya sendiri. Sebenarnya Hinata juga sudah mulai menerima keadaan, sedikit melihat adanya angin baru. Tinggal beberapa hari bersama Naruto memberinya satu pandangan meski hanya sebatas spesikulasi bahwa Naruto mencoba serius untuk memperbaiki segalanya.

Sekuat apapun Hinata berusaha, dia tidak akan dapat mengingkari takdir bahwa Boruto terlahir dengan membawa nama Uzumaki.

Bila Naruto menginginkan haknya sebagai seorang ayah maka Hinata akan memberi jalan, membantunya menjadi dekat dengan Boruto. Hubungan darah tak mudah untuk diputus begitu saja, akan tetap mengalir tanpa bisa dibendung, karena bagaimanapun juga Boruto mewarisi sebagian dari Naruto.

Hanya itu, Hinata tidak menjanjikan hal lebih.

Hinata sadar Boruto jelas membutuhkan sosok Naruto. Figur seorang ayah yang selama ini hanya sebatas angan. Yang lebih penting lagi adalah keamanan Boruto sendiri, anaknya butuh perlindungan.

"Kenapa ayah dan ibu menyembunyikan Hinata dan Boruto?" Naruto memejamkan matanya sedikit memendam kekesalan.

"Kami tidak menyembunyikan mereka, kami bahkan ingin melindungi mereka." Kushina menyelah cepat. Bekata ketus. Seenaknya saja Naruto menuduhnya macam-macam.

"Melindungi dari apa bu? Aku mampu melindungi mereka. Aku-"

Kushina melipat tangannya di depan dada. Minato memberi isyarat agar Naruto berhenti memancing kemarahan Kushina.

"Dari kejadikan mengerikan seperti tiga hari yang lalu. Kau pikir bagaimana keadaan mereka sewaktu pertama kali ibu menemui Hinata dan cucu ibu? Demi Tuhan, anakku! Kau tidak bisa menjaga mereka. Kau hampir membuat mereka celaka." Kushina mengelus dadanya. Dia mengingat keadaan menantu dan cucunya terlunta di jalanan.

Kushina tergoda untuk melayangankan satu pukulan pada Naruto.

"Shi –argkkh ibu tidak sudi menyebut nama wanitamu itu. Gara-gara dia dan kebodohanmu, putri ibu –Hinata pergi, sekalinya dia kembali dia mendapat perlakuan buruk dan keji. Bahkan anakmu yang usianya masih anak-anak pun menjadi korban. Lebih baik Hinata dan Boruto tinggal di rumah ini daripada tinggal bersamamu. Ibu tidak mau lagi mereka dikasari, diperlakukan secara brutal."

"Ma…" Minato menenangkan istrinya. Mengusap-usap lembut lengannya. Emosi Kushina cenderung meledak-ledak dan itu tidak baik bagi kesehatannya. Kushina memliki riwayat hipertensi. Minato mengingatkannya untuk menarik napas panjang. Tenang dan rileks.

Pria paling dewasa itu melirik pada Naruto. "Kau mengecewakan kami, Naruto. Ayah percaya kau sudah dewasa, nak. Tapi kelakuanmu lah yang membuat ayah dan ibu memandangmu sebelah mata. Bukan maksud meremahkan, tentu kau punya segalanya dari jerih payahmu sendiri. Namun untuk masalah ini, kau memang sudah kelewatan"

"Bagaimana rasanya ketika anakmu sendiri menolakmu?" Pertanyaan Minato meremas relung hati Naruto. Mendobrak pertahanannya. Bagaimana? Naruto menerawang beberapa lama, tidak bisa menjabarkannya. Tangannya terkepal begitu saja. Tidak diakui ayah oleh anak yang berdarah sama dengannya, haruskah dia panjang lebar bercerita mimpi buruknya beberapa hari ini? Hah, jangan bercanda seolah-olah dirinya bisa tetap tertawa tanpa beban.

Naruto dihantui mimpi buruk setiap mengingat raut ketakutan dan kebencian baik Boruto maupun Hinata setiap berada di dekatnya. Seolah dia adalah musuh yang dapat meloncat ke arah mereka untuk menggigit, memangsa. Astaga, bisakah mereka berhenti menatapnya seperti itu. Naruto ditakuti seolah dia monster, menyeramkan sekaligus tidak memiliki hati.

Kushina menatap Hinata sendu. "Terlebih yang paling kau sakiti adalah Hinata. Tega sekali kau membuat putri ibu menderita. Ibu tidak akan memaafkanmu sebelum Hinata memaafkanmu." Kushina sudah tidak bisa dibujuk lagi. Rasa sayang pada Hinata dan cintanya pada sang cucu mengalahkan rasa untuk Naruto. Biar saja begitu, Kushina bisa lebih kejam lagi sebenarnya.

Kebungkaman Naruto mengisi keheningan, dia mengaku bersalah. Banyak yang harus dia bicarakan dengan Hinata, baik tentang masa lalu, kini dan nanti. Dia meminta kesempatan untuk berdua dengan Hinata, Minato memahami arti tatapan Naruto. Minato membawa Kushina beserta Boruto beranjak pergi.

Membiarkan dua orang itu untuk meluruskan masalah mereka. Meski nantinya tidak menemukan sebuah kesepakatan, setidaknya Minato berharap mereka akan sama-sama memikirkan tentang masa depan Boruto.

Naruto bangkit, bejalan menapaki langkah ke depan –menuju Hinata. Safir itu berkilat, memandang Hinata dengan penuh keberanian. Naruto rela menundukkan diri, berjongkok di depan mantan istrinya. Naruto kali ini bisa jelas memandangi rupa Hinata.

Dua bola mata pearl Hinata bergerak resah, ke kanan ke kiri, Naruto terlalu dekat sampai hidung Hinata membaui khas wangi tubuh Naruto. Wajah kusam, bintik rambut di sekitar dagu serta kantong hitam di bawah kelopak mata begitu menonjol dari seorang Naruto. Lelaki ini kelelahan, matanya sesaat meredup sayu. Ada penyesalan besar yang ditangkap Hinata.

Dia bukan lagi sosok keras ataupun kasar yang bertingkah semaunya. Hinata tidak mengenali siapa pria ini, yang menatapnya penuh arti. Naruto yang dulu kerap mengabaikannya.

Bahkan ketika sebuah tangan besar mengelus pipinya, Hinata masih terperangkap dalam bola mata biru Naruto. Sentuhannya menggetarkan apa yang seharusnya tetap tenang dan diam, Hinata masih mengingat bagaimana rasa telapak tangan Naruto. Besar dan sedikit kasar.

"Banyak luka yang telah kuberikan." Suara Naruto merambati syaraf pendengaran Hinata. Jemarinya membenahi helai rambut Hinata. Mengusap sedikit bekas kebiruan di sudut bibir Hinata. "Apa ini masih sakit?" Hinata menggeleng. Memang bekas tamparan Shion waktu itu masih membekas, namun sakitnya sudah menghilang.

Hanya terkadang Boruto masih mengeluh nyeri di kepala karena lukanya sedikit lebih dalam, Hinata tidak akan menceritakannya pada Naruto.

Setidaknya belum.

"Bahkan dosaku terlalu besar untuk kau berikan maaf. Aku bersalah, pernah menghancurkanmu, membencimu bahkan sampai melakukan hal gila yang jika terjadi akan aku sesali seumur hidup –aku." Naruto menelan ludahnya tercekat.

"Aku pernah menolak anak kita." Dia menunduk malu untuk melihat Hinata. Dulu memang dia meragukan asal-usul bayi dalam kandungan Hinata. Naruto menjadi tidak memiliki keberanian untuk menyentuh Boruto. Dia takut dosanya akan menodai anaknya.

"Bila kau masih tidak bisa memberiku maaf maka biarlah, aku tidak memaksamu. Tetaplah tetap seperti ini agar aku selalu mengingatnya, menjadikan rasa bersalah ini sebagai hukumanku. Tapi –" Naruto menggantungkan kalimatnya sejenak.

"Mungkin aku egois karena aku menginginkan anakku sekaligus ibunya." Naruto menguatkan diri agar tidak seenaknya memeluk tubuh kecil Hinata meski dia menginginkannya. "Aku ingin membawa kembali dirimu dan Boruto. Aku berharap dengan tanganku sendiri bisa membuatmu bahagia, bisa menjaga anak kita. Bersama-sama membesarkan Boruto. Kali ini, aku berjanji untuk melindungi kalian berdua."

Mata Hinata memanas. Kata-kata Naruto entah kenapa membuat hati Hinata diserang gelenjar rasa aneh. Naruto tidak pernah sedalam ini ketika berkata.

Sebenarnya Hinata masih manruh sedikit ketidak percayaan. Bukan karena ucapan Naruto belum menyakinkan, tidak menyentuh sisi manusiawinya. Tapi selama dia hidup tanpa Naruto, nyatanya dia masih dapat bertahan bersama Boruto.

Hidupnya memang pas-pasan, namun tak sampai kekurangan meski terkadang dirinya sendiri pernah tak makan seharian. Hinata masih bisa memberikan makanan meski bukan yang paling enak, juga membelikan baju untuk Boruto walau bukan yang terbaik.

Hinata sudah bisa hidup mandiri, kenapa sekarang Naruto memintanya kembali bergantung tangan?

"Aku membencimu." Suara Hinata tersendat. Naruto malah memberinya senyuman. Hinata semakin ingin menangis.

"Aku tahu."

"Kau brengsek."

"Ya, aku memang pria brengsek yang sudah menyakiti istri dan anaknya sendiri. Pukul aku kalau kau mau. Kau berhak melakukannya, Hinata."

Tangis Hinata tumpah, satu bulir air dari mata kanan di susul bulir lain dari mata kiri lalu meluncur dalam bentuk tetesan air mata ke dagu yang dihapus oleh ibu jari Naruto. Sentuhan Naruto terasa asing, namun vibrasinya familiar.

"E-egois, pemaksa dan bodoh." Perasaannya membeludak tanpa bisa Hinata tahan. Semuanya menjadi satu dan tercampur aduk tanpa bisa Hinata kenali apakah dia marah, sedih atau –bahagia. Hinata berusaha membuat semuanya tidak muda bagi Naruto namun dia malah mendapati tatapan teduh milik Naruto.

Hinata ragu namun dia juga rindu.

"Makilah aku sepuasmu."

"Aku membencimu."

Naruto terdiam.

Jemari Hinata meremat satu sama lain. Bayang masa kelam berputar-putar, berderet membentang mengingatkan Hinata tentang sakit hatinya. Naruto sebagian besar berpengaruh dalam hidupnya, mengisi liku hidupnya dengan sedikit suka namun lebih banyak mengguyur duka.

"Bisa saja kau berbohong." Pernyataan Hinata menyentak. Naruto menggeleng. Demi Tuhan, dirinya benar-benar tulus meminta maaf dan menginginkan sebuah kesempatan untuk memperbaiki. "Aku bukan lagi gadis bodoh yang bisa kau tipu. Ayahku sudah meninggal, kau tidak bisa lagi menggunakan ayahku untuk menyeretku kembali padamu."

Dulu dengan embel-embel memberikan pengobatan serta membantu penyembuhan Hiashi, Hinata bersedia menikah dengan Naruto. Menjadi pengganti karena sang mempelai wanita, Shion kabur di waktu pernikahan akan berlangsung. "Bahkan aku merasa telah menjual diriku sendiri." Ucap Hinata lirih.

"Kau salah. . ."

"Apa yang salah? Aku memberikan diriku semuanya, Naruto. Bahkan meski kau hanya mengganggapku sebagai pengganti aku tetap menemanimu. Berperan sebagaimana seorang istri, aku menghormatimu lalu kenapa kau masih meragukan diriku?"

"Hinata, –"

"Seharusnya aku tidak boleh mencintaimu, bukan? Namun bodohnya aku yang malah mulai mengharapkanmu." Hinata meremat dadanya sesak kembali mengingat jauh ke belakang masa tergelapnya. "Aku justru semakin buta mengartikan secuil perhatianmu. Mencintaimu sendirian sampai berakhir mengenaskan."

Bertumpuk pendaman ungkapan perasaan Hinata berhasil menusuk hati si mantan suami. Naruto berusaha mengatakan bahwa perasaan Hinata tidaklah bertepuk sebelah tangan, bahkan di awal mereka bertemu dia sudah jatuh hati pada Hinata. Dia hanya salah menduga, lalu membuat semuanya berantakan.

"Kita memiliki perasaan yang sama Hinata. Waktu itu hanya kesalahpahaman." Jelas Naruto. Hinata memandangnya tidak percaya. Tertawa menyelah sambil menunjukkan raut tidak terima.

"Oh, jadi kau mencintaiku juga. Lantas, kenapa kau melepaskanku semudah itu, kenapa kau tidak mempercayaiku? Kenapa –hikss- kau membiarkanku pergi, juga membuangku tanpa mendengarkan penjelasanku. Kau keterlaluan. Memainkanku seperti ini."

Memang Naruto mengakui dirinya tipe orang yang kaku bila menyangkut perasaan. Bahkan sebenarnya dia termasuk pria otoriter –semuanya harus dalam kendalinya. Naruto membuat Hinata bergantung padanya namun di akhir dia malah salah mengambil langkah.

Sifat posesif dibakar cemburu karena melihat Hinata disentuh orang lain memunculkan praduga busuk hingga berburuk sangka mengira Hinata lah yang pertama menikungnya. Menancamkan penghianatan di belakangnya.

Hinata, wanita pertama yang mengajarinya apa itu patah perasaan.

"Apakah kau pernah berpikir bagaimana diriku selama ini menjalani hidup mengerikan?! Menerima kemarahan dan kebencianmu sampai rasanya aku ingin mengakhiri hidupku andai tidak ada Boruto –hksss."

Naruto meradang pada dirinya sendiri, memaki dalam hati. Menyesali apa yang telah terjadi. Tuhan, dia tidak tahan melihat Hinata seperti ini. Dia mencintai Hinata, tapi dia juga yang memberikan luka.

"Kau tahu, aku begitu menyesalinya. Semuanya, kesalahanku." Naruto bingung harus darimana dia menjelaskan. Semuanya akan berakhir sama. Dia memang bersalah. "Shion memanfaatkan perasaanku padamu hingga aku tidak bisa melihat mana yang benar mana yang salah. Aku mengusirmu. Aku semakin kesal saat kau tidak kembali lagi, kau pergi seolah membenarkan kabar buruk itu –tentang kahamilanmu bukanlah anakku"

"Kau sendiri yang menolak penjelasanku!" Hinata membungkam Naruto. "Kau bahkan sempat meragukan anakmu sendiri. Kau menolaknya dan berusaha menyingkirkannya. Dia tengah berjuang untuk dapat tumbuh melihat dunia, namun ayahnya sendiri berusaha mengenyahkannya. Kau bilang bayiku adalah dosa."

Tangan Hinata meraba perutnya. Sembilan bulan dia membawanya seorang diri. Dia tidak akan melupakan kelahiran Boruto. Waktu itu bobot bayinya terlalu besar untuk dilahirkan normal. Pendarahan hebat tidak bisa dihindarkan, operasi cesar menjadi pilihan. Tapi tidak semudah itu, Hinata terlalu banyak kehilangan darah, dokter sampai memberikan Hinata dua pilihan berat. Dia yang mati atau merelakan jika bayi mungilnya yang tidak selamat.

"Tapi aku bersyukur, keinginanmu agar anakku mati tidak terjadi. Kami masih hidup. Tapi aku sadar dia mulai tumbuh. Dia belajar perbedaan dengan begitu cepat, tentang apa yang tidak dia miliki namun dimiliki anak lain. Boruto menanyaimu, aku bingung menjawab apa. Di-dia –hikkss- ingin melihat papanya, tapi aku tidak bisa menunjukkannya. Aku tidak bisa membiarkannya tahu bahwa dia dibenci oleh papanya sendiri."

Sulit melupakan perkataan Naruto sewaktu menyuruhnya membiarkan Boruto tidak pernah terlahir di dunia. Dia seorang ibu, bagaimana bisa Hinata melakukan hal keji menuruti kegilaan Naruto. "Kau pernah menolak mengakuinya, mengutuknya dan paling mengerikan ketika kau meminta kematiannya. Lalu mana bisa aku mengenalkan dia pada orang seperti itu –hikss-?!" Tangan Hinata gemetar. Perasaanya hancur setiap teringat kata-kata kejam Naruto.

"Sstttt. . . . " Naruto langsung memeluk Hinata. Menenangkannya meski Hinata memukul dadanya. Pukulan Hinata tidak sebanding pada semua hal yang telah dia torehkan dalam hidupnya. Pantas baginya bila Hinata sulit memberinya sebuah kesempatan.

"Lima tahun kami menunggumu! Anakmu merindukan dirimu –hikkss- Aku lelah, aku sudah menyerah. Lalu kau datang tiba-tiba mengklaim ingin memiliki Boruto sepenuhnya. Kau berpikir selama ini aku tidak benar-benar bisa merawat anakku hanya karena aku tidak sekaya dirimu. Pikirmu aku apa Naruto?!"

Semakin Hinata menumpahkan isi hatinya semakin dalam pula Naruto membenamkan Hinata pada dekapannya. Dia berusaha agar Hinata tahu bahwa kini dia tidak lagi sendirian. "Maaf, maaf membuat kalian semenderita itu. Kali ini bersandarlah padaku. Aku tidak akan melepaskan kalian. Tidak lagi, kau bisa mengambil nyawaku jika aku mengingkarinya."

"Bila kau berpikir hanya dirimu saja yang berusaha dalam hubungan kita, maka kau salah besar." Naruto mengarahkan pandangan Hinata ke arahnya. Dia ingin Hinata melihat ke bola matanya, menatap keseriusannya.

"Aku akan melakukan apapun. Kau hanya perlu duduk, membiarkanku melakukan seperti seorang pria yang tengah berjuang untuk cintanya. Boruto tidak akan hidup seperti itu lagi, tidak dirimu atau diriku yang akan menemaninya mengajari arti kehidupan. Namun kita berdua. Kupastikan dia merasakan keluarga lengkap. Aku akan melakukan apapun untukmu, untuk kita bertiga–. . ."

"Termasuk pergi dari kehidupanku?" Suara Hinata bertanya menuntut, menyuruh Naruto menyerah. "Kurasa kita hanya akan berakhir sia-sia jika meneruskan hal ini, Naru." Naruto bergetar ketika pipinya dibelai halus oleh Hinata, namun kenapa dia merasa panas di mata?

Hinata memanggilnya menggunakan panggilan ketika mereka masih terikat pernikahan, namun kenyataannya Naruto malah nampak tidak menyukai kalimat di awalnya. "Kau belum memberiku kesempatan, Hinata!"

"Kau yang menghabiskan kesempatanmu sendiri. Kepalaku pusing, aku tidak dapat berpikir jernih mengenai hubungan kita yang jelas-jelas telah berakhir."

Ini berbahaya, pikir Naruto. Sesaat tadi Hinata seperti memberinya lampu hijau dan kini malah menegaskan penolakan. Membentangkan jarak. "Pikirkan tentang Boruto. Dia membutuhkanku, kau tidak bisa egois membatasi hubungan ayah dan anak." Tak ada cara lain selain menggunakan Boruto sebagai alasan. Tapi tanpa sadar, Naruto malah membuat Hinata tersinggung mendengarnya.

"Kau kira aku sekejam itu pada anakku dengan menjauhkannya darimu? Kupastikan kau bisa menemuinya kapanpun –suka tidak suka dia tetaplah darah dagingmu. Namun untuk hubungan kau dan aku, maksudku kita bertiga sebagai keluarga utuh, inilah yang terbaik."

Keputusan Hinata adalah tidak lagi terikat hubungan apapun dengan Naruto. Dia cukup trauma untuk memulainya kembali. Banyak dari bagian hidupnya menjadi buruk saat bersama Naruto.

"Aku akan berbicara pada Boruto. Sebisa mungkin akan membujuk dirinya untuk menerimamu." Hinata beranjak namun lengannya ditahan oleh Naruto. "Pembicaraan kita telah usai, minggir."

"Satu bulan." Hinata belum mengerti maksud pernyataan Naruto. "Kau akan tinggal bersamaku selama satu bulan. Bila dalam 30 hari aku tidak bisa membuatmu yakin maka aku akan pergi. Aku tidak akan mengganggumu." Katakanlah bahwa dirinya sudah putus asa. Naruto benar-benar akan mempertaruhkan segalanya dalam waktu yang dia tentukan.

Naruto tidak melihat pilihan lagi, apapun akan dia lakukan. Secara perlahan dia harus bisa masuk dalam kehidupan Hinata. Meskipun secara paksa. Memintal kembali untaian benang hidup mereka.

"Aku tidak menerima penolakan. Bila kau bisa memaksaku pergi maka aku juga bisa memaksamu untuk tinggal bersamaku. Kita impas, hanya diakhir nanti kita akan tahu –

Perasaanmu atau perasaanku yang akan menang." Ini pernyataan perang. Naruto tidak akan gentar untuk menyerang Hinata. Rencana-rencana telah tersusun di dalam pikirannya. Naruto menyeringai. Setelah aku mendapatkan Boruto, aku akan mendapatkanmu lagi, Hinata.

.

.

.

Boruto memandang Hinata curiga. Tidak biasanya mama memandangnya seperti ini. Boruto takut mamanya dilukai lagi. "Ma~" Hinata tersenyum, mengangkat anaknya dalam gendongan lalu memberinya kecupan di sepanjang garis pipi.

"Papa di sana, Boruto tidak mau bertemu papa?"

Wajah masam anaknya membuat Hinata terkekeh. Benar-benar mirip Naruto. Terlalu serakah Naruto dalam menurunkan dirinya. Hinata mendengus tanpa sadar. "Masih marah dengan papa walau papa sudah minta maaf?"

Bibir tipis anaknya semakin manyun. "Tidak ada papa." Boruto menunduk, memilin rambut halus mamanya. "Papa tidak menyayangi kita. Dia tidak pernah ada untuk kita ma~" Rengeknya.

"Tapi sekarang papa sudah ada, mencari Boruto untuk diberikan cinta. Papa sudah kembali, ingin mengajak Boru jalan-jalan dan bermain."

Mata Boruto mengerjap. Dia mendongak melihat pada wajah cantik ibunya. "Bukankah papa jahat, papa membuat mata mama memerah. Boruto tidak suka."

Hinata mengelus kening Boruto pelan dan lembut, memberinya kecupan sayang. "Mungkin kau sering melihat mama menangis karena papa. Tapi Boruto juga harus tahu bahwa papa pula yang memberikan mama kebahagiaan. Papa memberikan mama dirimu, sayang. Sebuah cahaya agar mama bisa bertahan. Jadi, jangan terlalu membenci papamu."

Naruto menguping di balik tembok. Dia menangis, air matanya meleleh panas mendengar penuturan lembut Hinata. Naruto berjanji akan mendapatkan kembali Hinata bagaimapun caranya. "Meski kau ingin berlari pun, aku tidak akan melepaskanmu lagi, Hinata. tidak akan pernah."

"Pa –"

Naruto terlonjak kaget. Sosok kecil anaknya pelan-pelan berjalan mendekatinya. Mata bulat Boruto mencoba menatapnya dengan gerak gerik menggemaskan.

"Aku ingin papa menggendongku."

Naruto ternganga, dia tidak percaya. Tatapan benci Boruto hilang. Anaknya bahkan minta digendong. "A-apa papa dimaafkan?" Naruto bertanya hati-hati. Bila ini hanya ilusi, rasanya sungguh mendebarkan.

"Ungg" Boruto mengangguk singkat. Mamanya bilang papa sudah menjadi baik, mirip tokoh penjahat yang telah disadarkan oleh sang pahlawan.

'Grep'

Tubuh kecil Boruto tenggelam dalam pelukan Naruto. Diayun ke atas sebelum kembali direngkuh erat. Semua sudut di wajah bulat Boruto tidak luput dari ciuman Naruto. Anaknya sampai terpingkal geli. Naruto begitu bahagia Boruto mau menerimanya.

"Papa kangen sama kamu, nak. Papa minta maaf. Papa janji akan selalu menemani Boruto kapanpun. Papa tidak akan meninggalkanmu lagi."

Boruto tersenyum. Naruto melihat bahwa Boruto mewarisi senyum ibunya.

"Apakah sekarang Boruto mau tinggal bersama papa?"

Anaknya kembali mengangguk. Binar bahagianya sungguh menggemaskan, bahkan ke dua pipinya akan menyembul gembil ketika tertawa lebar. "Yeah, dan harus bersama mama juga." Dia begelanjut manja di leher Naruto. Suka ketika tangan besar papanya menyanggah punggungnya. Boruto menyandarkan kepala di dada Naruto, menghirup wangi papanya sebanyak mungkin.

Kesempatan terbuka tanpa diduga. Naruto melihat ada peluang untuk mendekati Hinata. "Papa sudah mencoba membujuk mama untuk tinggal bersama, tapi mama belum setuju. Bisakah kau juga membujuk mama untuk tinggal bersama kita?"

Di belakangnya Hinata mendelik melihat bagaimana Naruto memanfaatkan Boruto agar bisa mendekatinya. Jelas Hinata tidak akan sanggup menolak keinginan putranya, Boruto benar-benar kelemahannya. Naruto semakin menunjukkan senyum kemenangan.

Sedangkan dua orang dewasa yang sejak tadi hanya melihat secara diam-diam akhirnya dapat tersenyum. Kushina bernapas lega, Naruto membuatnya bangga untuk memulai kembali bersama Hinata. "Sayang, bisakah kau katakan sesuatu pada Naruto."

Minato mengenyit. "Maksudmu?"

"Kita dulu tidak sempat untuk melihat bagaimana lucunya cucu kita sewaktu masih bayi. Dan aku ingin Naruto segera membuatkan cucu kita yang lain. Aku tidak sabar untuk menjadi nenek lagi."

Minato tersenyum kikuk. Kushina akan selalu berlebihan jika menyangkut cucu baru. "Kurasa kau harus lebih bersabar sayang. Mereka baru saja kembali dan kurasa akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk memenuhi permintaanmu."

"Astaga, apakah maksudmu putra kita sudah tidak 'kuat' lagi? Apa perlu kita berikan obat penguat." Bisik Kushina yang dijawab kekehan oleh Minato.

"Yang terpenting sekarang adalah kelancaran hubungan Naruto dan Hinata. Kita tidak dapat memaksa mereka." Kushina terlihat tidak terlalu puas. Sedari dulu dia menginginkan dikelilingi banyak cucu. Naruto kau secepatnya harus mengambil Hinata.

.

.

.

.

.

Semuanya berlangsung cepat. Hinata nampak masih belum percaya dia kembali ke sini. Memasuki penthouse, Hinata melihat beberapa koper sudah tertata di dalamnya. Naruto mengatakan semua itu barang-barang dari apartemennya di Hokkaido. Hah! Naruto selalu bisa mengejutkannya. Bukan hal yang aneh sebenarnya dari seorang Naruto, dia bebas melakukan sesuka kemauannya. Hinata menjadi takut untuk tinggal bersama.

Naruto bisa berbuat sesuatu di luar nalar. Pria itu memiliki hal yang sulit untuk ditolak atau dibantah. Absolute, kemutlakannya membuat Hinata meremang. Naruto yang jatuh cinta benar-benar menyeramkan. Dia merasakan tekanan itu dari cara Naruto menyentuh jemarinya.

"Ini kamarmu jagoan." Sebuah kamar lengkap dengan segala fasilitas terbaik sudah disipakan Naruto bagi putranya. Kasur empuk serta dekorasi robot iron man sebagai tokoh pujaan sang buah hati mendominasi setiap sudut kamar. "Kau senang?" Boruto mengangguk, mengayunkan kakinya untuk melompat-lompat di atas kasur. Pegas naik turun, Boruto memekik mengatakan dia seolah bisa melayang dan terbang.

"Ini menyenangkan pa!" Teriaknya girang. Dia akan bergulir ke kanan ke kiri sesuka hati tanpa khawatir jatuh.

"Kau bisa menikmatinya, papa akan mengajak mama ke kamarnya. Kau tidak apa kami tinggal kan?"

"Baiklah papa."

Naruto membawa Hinata ke kamarnya, berjarak beberapa langkah dari kamar Boruto. bersebelahan namun tidak terlalu berdempet. "Aku tahu kau tidak akan mau terlalu jauh dari Boruto, jadi aku telah menyiapkan kamar ini untuk kita."

Ke dua alis Hinata bertaut. Kita?

Bola mata Hinata menangkap gambaran sebuah ruang kamar yang mewah. Sangat luas dan berkelas. Satu ranjang king size berada di tengah, Hinata menelan ludah. Naruto tidak bermaksud menjadikan kamar ini untuk mereka berdua bukan?

"Kita tidak akan tidur seranjang bukan?"

Naruto tersenyum. "Untuk menjadi dekat kurasa hal ini perlu. Kita bisa saling mengenal lagi lebih dalam bila berada dalam satu ruangan." Senyumnya mengandung maksud terselubung, Hinata tidak yakin dengan ucapan Naruto. Bulu di tenguknya tiba-tiba meremang.

"Tidak. lupakan saja, aku akan tidur dengan Boruto." Buru-buru Hinata mengangkat kopernya dan akan masuk ke kamar Boruto bila Naruto tidak memegang tangannya.

"Ini kamarmu. Semuanya sesuai dengan kesukaanmu. Kau tetap di sini." Ucapan Naruto tegas, mencegah apapun yang dapat membuat Hinata melarikan diri darinya.

"Jadi apa aku harus tidur dengan pria yang bukan suamiku? Kau ingin aku terlihat seperti wanita simpanan."

Naruto menggeram. Bukan maksudnya seperti itu. Dia berusaha agar dapat dekat dengan Hinata. "Jaga bicaramu, Hinata. aku tidak ingin mendengar kau menjelekkan dirimu sendiri. Dulu kata-katamu sangat santun, apa aku harus menyewa guru kesopanan?"

Hinata mengabaikannya. "Kalau begitu aku tidur di sofa. Jangan merasa tidak enak, aku bisa tidur di manapun." Dia lebih baik tidur di lantai daripada harus satu kamar dengan Naruto. Namun tetap saja raut wajah Naruto memberikan penolakan. Mana bisa dia membiarkan Hinata tidur di sofa. Sangat tidak nyaman. Semua yang terbaik sudah sepantasnya Hinata terima tanpa perlu ditolak.

Mungkin dia terlalu terburu-buru menuntut Hinata untuk menyesuaikan diri. Pasti Hinata merasa tidak nyaman batin Naruto. Mau bagaimanapun Hinata pernah sangat membencinya. Dia harus bersabar, Hinata yang sekarang mudah membangkang. Naruto jadi semakin merasa tertantang.

"Baiklah, kau bisa tidur di kamar ini. Aku akan di kamar yang lain. Bila ada apa-apa kau bisa memanggilku. Beristirahatlah." Naruto tersenyum samar, dia menatap Hinata. Mata amesthy kepunyaannya tetap sama, mengundang Naruto untuk berjalan mendekat dan secara tiba-tiba mendaratkan satu ciuman di keningnya. Naruto bertingkah begitu lembut sampai membat kaki Hinata seolah meluber lemas.

"Kuharap kau tidak keberatan dengan ciuman itu. Aku tidak main-main dengan ucapanku untuk mendapatkanmu kembali. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri."

Hinata terdiam, bibirnya sedikit membuka tapi tidak bersuara. Dia membeku dengan suhu tubuh mendadak naik. Kontak fisik dengan Naruto memberikan efek kontaminan. Menjalar ke semua bagian tubuh sampai gemetar. Pompaan pada degup jantungnya meningkat. Tempat dimana Naruto memberikan ciuman diusap pelan. Hinata bimbang.

Dadanya bergemuruh. Menggulung rasionalitasnya. Sentuhan dari orang yang dia benci kenapa terasa hangat?

.

.

.

.

.

.

"Aku butuh bantuanmu."

"Setelah apa yang kau lakukan, kau masih tidak tahu malu bertemu denganku? Anjing pun tidak sudi bertemu denganmu."

"Kau yang menghianatiku, Toneri. Setelah aku berlari ke arahmu kau malah membuangku, sialan."

Pria berambut silver tertawa terbahak. Beberapa orang berjas hitam di sampingnya juga ikut tertawa. Shion memandang culas, tempat ini berisikan para bajingan. Dia harus hati-hati. Mati di sini sama saja terun ke neraka.

"Hey hey. Ingatlah dimana kau berasal gadis kecil. Jika bukan diriku, kau sudah dijual ayahmu yang pemabuk itu. Jadilah Shion kesayanganku, jangan membangkang lagi. Duduklah di sampingku dan hasilkan banyak uang."

Shion menggeram. Kakinya menghentak cukup keras. "Kau yang seharusnya bercermin Toneri. Dulu aku meninggalkan Naruto karena kau ingin Uzumaki tercoreng –sesuai rencana kita, membuat skandal untuk mengalahkan saingan bisnismu itu. Lalu semuanya gagal karena adanya wanita itu. Dan jangan kira aku bodoh –" Shion menyeringai, dia mendekat, membuka kancing kemeja Toneri. Memberikan sedikit cumbuan di sana.

"Aku tahu bagaimana untuk mengendalikanmu, sayang."

Suara kokangan senjata membidik Shion namun dia tidak takut. "Haha, kau sangat haus akan sentuhan sampai istri orang kau inginkan. Rencanamu untuk menjatuhkan saham perusahaan Uzumaki memang berhasil dengan membuat skandal perselingkuhan dan perceraian Naruto dan istrinya. Namun jangan kira aku tidak tahu, bahkan anjingpun bisa menciumnya –

Bahwa kau menggonggong untuk mendapatkan Hyuga Hinata. Kau lalai dan malah menaruh perasaan pada wanita musuhmu sendiri."

Tangan Toneri merayap di sisi bawah, menarik pintol dari saku celananya dan menaruh ujungnya di depan kepala Shion. "Katakan. Apa yang kau inginkan." Katanya tajam. Mata peraknya sekilas berkilat tidak sabaran, tanda bahwa dia tidak keberatan untuk membuat bocor kepala Shion.

Shion sudah menduga. Pria dunia kelam ini sedang memburu buruannya. Salah bila Toneri mengira dialah yang paling berkuasa. Dia pun bisa balik mengigit bila terdesak seperti ini. "Naruto sudah menemukan Hinata. Mereka tinggal bersama dan kau akan terkejut bila tahu Hinata telah melahirkan pewaris Uzumaki."

Hembusan napas Toneri memburu. Suara pelatuk ditarik dari tempatnya, bila dilepas sudah pasti akan menewaskan sasarannya. Shion mulai merasa takut ketika Toneri berwajah dingin seperti ini. Dia mafia berdarah dingin, sikapnya seperti psikopat. Dia kriminal dunia bawah. Membunuh pun tidak akan merasa berdosa.

"Aku sudah membantumu untuk memisahkan mereka dan kau gagal untuk melenyapkan apa yang ditanam oleh Naruto pada Hinata." Dulu Toneri hanya memainkan peran sebagai lelaki yang akan meniduri Hinata bila saja Shion tidak terlalu cepat datang membawa Naruto. "Dan sekarang kau gagal juga. Harus dengan apa aku menghukummu agar kau sadar bahwa aku tidak menyukai kegagalan?"

"Karena itu, bantu aku." Sela Shion. "Kau bisa mendapatkan wanitamu dan aku mendapatkan Naruto. Bukankah kau begitu memuja Hinata hingga selalu meniduri wanita yang serupa dengannya?"

Toneri tertawa terbahak. Alasan dia membenci Naruto karena pria itu mampu menggeser bisnisnya. Naruto memenangi tender-tender besar yang seharusnya dia kuasai. "Dan dia harus menebusnya dengan membiarkan aku mendapatkan wanitanya." Toneri mengambil gelas berisi cairan merah lalu meneguknya. "Seperti waktu itu, buat Naruto sendiri yang membuang Hinata."

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Maaf telat banget updatenya. Terima kasih untuk dukungannya, terutama yang setia buat nge-memo saya di FB wkwkwk. Jadi, sebenarnya udah mau saya up beberapa hari yg lalu, tapi ada aja kendalanya. Entah meriang, stuck atau bingng nentuin siapa chara pria yg bakal jadi antagonisnya. Dan terpilihlah mas Toneri *cieee selamat ya.

.

Untuk yg pengen lemonnya kemungkinan entah chapter depan (enam) atau chapter tujuh. Pokoknya saya usahain secepatnya bikin mereka nganu *eahhh.