REMOVE
Kesalahan tidak bisa dihapuskan. Itu membekas dan meninggalkan jejak.
Kau hanya bisa memperbaikinnya, namun berhentilah mencoba karena kau terlalu terlambat untuk melakukannya
.
.
.
.
.
© Masashi Kisimoto
Tidak dipersyaratkan untuk dibaca anak kecil, khusus (21+).
Warning : Typo(s), Bahasa tidak baku (cenderung kasar), sexual content, AU, Modern live, OOC, alur tidak menentu
Rated : M (language and content)
Pairing : Naruto-Hinata
Story : Atharu
Tolong perhatikan warning yang saya cantumkan, terutama mengenai bahasa, penulisan serta isi cerita
.
.
Ini chapter berat. Berisi konten yang mungkin membuat anda mual atau kejang. Lemonnya cukup asem. Saya sendiri ngetiknya tidak tenang. Mohon untuk pembaca di bawah umur segera menyingkir. Ini bukan wilayah kalian. Saya juga minta maaf bila tidak sesuai ekspetasi.
Karya saya masih jauh dari sempurna. Kadang naik kadang turun, tidak selalu konsisten. Jangan berharap lebih karena saya tidak menjaminkan hal itu. Tulisan ini gratisan, siapapun (kecuali dibawah umur 21+) boleh menentukan ingin membaca atau tidak. Saya hanya ingin memberikan cerita yang terbaik, meski plot saya masih penuh kekurangan.
Maaf pula bila up nya semakin lama. Dan, terima kasih untuk semua dukungan yang kalian berikan, itu berarti bagi saya.
Selamat membaca
REMOVE chapter 6
.
.
.
.
.
.
Selarut apapun Hinata terlelap dia akan secara otomatis bangun pukul lima pagi sebelum cahaya matahari benar-benar memasuki jendela kamarnya. Tidurnya cukup baik, entah itu efek dari kasur empuk yang dia tiduri atau memang dirinya membutuhkan istirahat yang berkualitas –atau memang sudah terbiasa untuk bangun lebih awal.
Selimutnya ditata di tengah ranjang, Hinata berjalan ke luar kamar. Dia ingin melihat jagoannya. Apakah Boruto sudah bangun atau belum. Kamar putranya hanya berada di sebelah, Hinata menengok ke dalam, dia melihat kamar anaknya di sana masih gelap. Hinata menutup kembali pintu kamar Boruto pelan, kali ini tujuannya adalah membersihkan diri. Dia memiliki hal lain yang harus dia lakukan.
Setelah membersihkan diri, Hinata melihat di ruang makan yang telah tertata sarapan hangat. Biasanya dialah yang menyiapkan makanan untuk mereka, dirinya dan Boruto. Namun kini hanya dengan duduk pun semuanya sudah tersedia. Sejujurnya Hinata lebih menginginkan dirinya sibuk di dapur untuk memasak sendiri daripada seperti ini. Dia terbiasa hidup keras.
Beberapa maid menyapanya halus, mengatakan selamat pagi nyonya dan membuat Hinata kehilangan kata-kata membalas. Penghormatan itu sudah lama dilupakan. Dia bukan pasangan Naruto lagi meski dialah ibu dari anaknya. Hinata memilih beranjak, dia akan kembali mencoba melihat Boruto namun salah seorang maid mengatakan bahwa si tuan muda sudah bangun.
Sudah beberapa kali Hinata ingatkan agar mereka tidak memanggil Boruto dengan sebutan tuan muda tapi mereka tetap saja mengulanginya. Hinata sudah angkat tangan. "Apa dia sedang mandi?" Biasanya dia tidak pernah melewatkan pagi tanpa membangunkan Boruto. Namun nampaknya putranya sudah mulai bisa melakukan beberapa kegiatan tanpa dirinya.
"Mama." Dan ketika suara melengking milik Boruto memanggilnya, Hinata menoleh cepat dan segera menghampiri anaknya.
"Kau wangi sekali sayang, apa kau mandi sendiri?" Harum lemon sangat kuat tercium dari tubuh Boruto. Benar-benar bau segar, Hinata menyisir rambut kuning anaknya menggunakan sela jarinya.
"Aku mandi dengan papa. Ketika Boru bangun, papa sudah di kamarku dan mengajakku mandi bersama. Papa bercerita tentang banyak hal, mungkin lain kali kita bisa pergi berenang bersama, ma." Boruto beruntun bercerita seolah dia baru saja melakukan hal yang sangat menyenangkan. Hinata tidak banyak berkomentar. Dia masih belum sepenuhnya yakin pada perlakuan mantan suaminya.
"Benarkah? Dan mengapa kau berpakaian rapi seperti ini nak?" Pandangan Hinata tertuju pada setelah baju yang dikenakan Boruto. Mahal dan berkelas. Hinata menelan ludah sadar bahwa Boruto lebih terawat semenjak tinggal dengan Naruto. Ditambah dengan sepatu sneaker kecil serta celana hitam bahan katun selutut semakin menjadikan Boruto seperti tuan muda sungguhan.
Tiba-tiba hati Hinata terenyuh, sekeras apapun dia berusaha untuk memberikan semua yang terbaik bagi Boruto pada kenyataannya Naruto lah yang akan keluar menjadi juara. Boruto tidak akan kekurangan bila ada Naruto.
"Aku akan mengajaknya untuk melihat sekolah."
Suara husky Naruto menjawab pertanyaan Hinata. dia terlihat rapi pula dengan setelan jas coklatnya. "Usianya sudah sesuai untuk bersekolah. Boruto harus mendapatkan semua yang terbaik. Terutama pendidikan." Menyesap secangkir kopi hangat, Naruto kemudian menghampiri Hinata.
"Bila kau ingin ikut aku akan menunggumu untuk berganti pakaian. Sekarang lebih baik kita makan terlebih dahulu."
Tentu Hinata ingin sekali ikut, namun bila bersama Naruto, suasanya akan terasa canggung. Lagi pula dia memiliki kegiatan lain untuk dilakukan. Dia akan mencari kerja. Biarpun tinggal bersama Naruto, dia tidak boleh terlalu berpangku tangan. Hinata tidak akan mengatakannya pada Naruto. Toh tidak semua hal dia lakukan harus diketahui oleh pria itu.
Naruto menempati kursi utama sedangkan Hinata berada di sampingnya dengan Boruto menempati sisi kirinya. Mereka makan cukup tenang, hanya beberapa kali suara Boruto akan berkata heboh mengenai hal-hal menggemaskan seperti apakah sekolah adalah tempat yang seru atau pertanyaan lainnya yang membuat Boruto semakin berbinar mendengar jawaban dari Naruto.
"Apakah sekolah seperti di daycare?"
"Tentu berbeda, son. Di sekolah kau akan mendapat lebih banyak teman."
"Termasuk banyak mainan?"
Senyum Naruto terbentuk lebar. Dia mengangguk. Menepuk-nepuk halus ujung kepala putranya. "Kau akan menyukainya, papa jamin itu."
Dua interaksi itu tak luput dari pandangan Hinata. Setengah mengikhlaskan setengahnya lagi berisi kecemburuan ketika Boruto mulai dekat dengan papanya. Ini kali pertama dia merasa Boruto lebih menyukai Naruto dibanding dirinya. Hal yang wajar Hinata rasakan karena sejak dulu semua perhatiannya hanya akan dia berikan pada anaknya namun kini telah hadir sosok sang ayah yang akan memberikan Boruto sesuatu yang tidak bisa dia berikan.
Anak lelakinya cenderung menjadi dekat dengan ayah kandungnya. Nasi yang ditelan Hinata tiba-tiba kehilangan rasa. Hambar.
"Di sana nanti akan banyak anak seusia dirimu yang diantar bersama ke dua orang tuanya. Apakah kau menginginkannya?"
Boruto menyahut cepat. Responnya akan berlebihan bila mengenai sesuatu yang baru. "Ya papa. Aku ingin sekali papa dan mama mengantarku."
Naruto mengirim pesan mata ke arah Hinata. Wanita itu tidak punya alasan untuk menghindarinya. "Kalau begitu coba tanyakan ke mama, bisakah dia ikut?"
Boruto masih terlalu polos. Dia mengikuti ke mana Naruto mengarahkannya. "Mama, bisakah kau ikut? Kita akan pergi bersama. Mama, papa dan aku."
Mengigit bibirnya tipis, Hinata menganggukkan kepala walau hanya setengah hati. Kelemahan Hinata adalah Boruto dan Naruto telak mengetahuinya.
.
.
.
Boruto menatap bangunan besar di depan matanya dengan pandangan berbinar. Kakinya sedikit berlari namun tidak sampai terlalu cepat karena tangan Naruto menggenggam tangannya. Di sebelahnya juga ada Hinata yang membawakan bekal makan Boruto.
"Perhatikan langkahmu, nak. Kau bisa jatuh bila kau berlari terlalu semangat." Melihat anaknya sangat antusias tentu membuat Naruto semakin mengeratkan pegangannya. "Kau tidak akan melewatkan apapun, jadi jangan terburu-buru."
"Baik papa."
Setelah mengurus beberapa persyaratan administrasi, baik Naruto maupun Hinata telah sampai di batas untuk mengantar anak mereka. Hinata berjongkok menyamai tinggi putranya. Dia melihat anaknya semakin tumbuh dewasa, entah kenapa Hinata merasa Boruto tumbuh terlalu cepat. Rasanya dia masih mengingat bagaimana awal bayi Boruto dia gendong dan kini putranya sudah bisa berjalan sendiri.
"Jangan nakal, sayang. Hormati gurumu dan carilah teman yang baik." Hinata memeluk Boruto. "Ketika pulang tunggu mama, jangan percaya pada orang asing. Paham." Boruto mengangguk. Pesan-pesan seperti itu sudah sering mamanya berikan padanya.
"Ini bekal untukmu. Kau bisa memakannya bersama teman-teman barumu. Baiklah, kau bisa masuk ke dalam. Sensei sudah menunggumu."
Hinata tidak paham kenapa dia ingin menangis ketika melihat tubuh mungil Boruto sudah masuk ke dalam kelas. Ini hanya sesi mengantar ke sekolah namun dia merasa terharu dan melakonis.
"Bukankah kau terlihat sedikit berlebihan?" Naruto memberikan sapu tangannya pada Hinata. "Boruto hanya sekolah dan kau sudah menangis seperti ini, bagaimana bila nanti anak kita menikah. Kau pasti akan menangis seperti anak kecil." Dia terkekeh melihat tingkah Hinata. Bahkan di umurnya yang sudah dewasa pun Hinata masih memunculkan sifat menggelikan seperti ini.
"Kau tidak akan paham." Hinata membersihkan air matanya dengan sapu tangan milik Naruto. Matanya pasti memerah. "Bila kau melihatnya sedari kecil kau akan tahu persaanku. Tapi kau tidak." Nadanya sedikit ketus namun Hinata tidak bermaksud untuk melukai perasaan Naruto. "Ma… maaf."
"Bukan masalah. Aku mengerti. Tapi satu hal yang harus kau tahu." Pandanganya mengunci penglihatan Hinata. Dia menyukai bila melihat seluruh roman wanita ini secara lekat. "Terima kasih telah melahirkan dan merawat Boruto selama ini."
"Aku mungkin masih jauh dari dirimu, namun sebisa mungkin sedikit demi sedikit aku akan menghapus jarak itu. Tidak hanya dari boruto melainkan juga dirimu. Jadi, persiapkan dirimu baik-baik."
Elusan lembut diterima Hinata dari Naruto. Pria ini terus mengucapkan hal-hal yang dapat memicu runtuhnya pertahanannya. Dia seolah punya sihir untuk mengatur pompa jantung Hinata.
"Masuklah ke mobil. Aku akan mengantarmu kembali sebelum ke kantor –"
"Aku akan berjalan." Sahutan cepat Hinata memangkas ucapan Naruto. "Atau turunkan aku di halte, selanjutnya kau bisa meninggalkanku."
Ke dua tangan Naruto bersendekap di depan dada. Matanya meruncing tajam. "Kenapa? Kau tidak ingin kita berdua saja? kau takut padaku? Atau kau ingin pergi ke suatu tempat tanpa sepengetahuanku."
"Jangan buat aku menarikmu untuk masuk ke mobil, Hinata." Ancam Naruto. "Itu bukan sesuatu yang bagus untuk dilihat orang lain."
"Aku bukan anak kecil yang akan tersesat bila berjalan pulang sendiri. Dan jangan menyulitkan orang lain hanya untuk memenuhi ambisimu." Hinata tidak kalah dalam membalas.
Semuanya seolah muda bagi Naruto. Hinata mendecih, kenapa dia harus berurusan dengan orang yang arogan seperti ini! "Kau menyetujui bahwa kita tidak harus mencampuri urusan pribadi. Itu perjanjian awal kita." Keukuh Hinata. "Hentikan tindakan posesifmu seolah aku adalah milikmu. Kau tidak ber-hak mengatur hidupku. Kerjakan milikmu sendiri dan biarkan aku menjalani hidupku sendiri."
Hal itu hanya membuat seringai Naruto muncul. Dia tertawa setengah mendesis. "Semakin hari kau semakin keras kepala. Aku lebih menyukai dirimu yang lembut dan tanpa perlawanan. Defenless. Kau terlalu lama menggunakan topengmu ini."
"Apa dirimu baru sadar bahwa kau berharap pada orang yang salah?" Hinata melempar tawa sinis. Kenapa Naruto seolah bertingkah bahwa dialah yang jahat di sini. "Omong kosong. Tidak ada yang salah bersikap anti pada orang yang dibenci." Semua perkataan Naruto terdengar memuakkan. Kebaikan seolah tidak pernah hinggap di lidahnya.
"Kau lah yang mengenalkanku pada dendam. Kau melempar diriku dalam kebencian, dan kau juga yang merubahku seperti ini." Satu persatu Hinata jabarkan. Dia manusia, dinamis dan dapat berubah-ubah sesuai wadah yang membentuknya. "Bagaimana bisa aku bersikap lembut pada orang yang berulang kali menghancurkan hidupku? Perselingkuhan, penghianatan, perceraian, lalu kau membuangku. Apakah aku harus berterima kasih?! Mengatakan bahwa aku bersyukur kau mau memungutku kembali? Haha konyol sekali."
Naruto datar menanggapinya dan Hinata kejam meruntut kata-kata. Kalimatnya bukan lagi sindiran melainkan tikaman. "Cukup sampai di sini. Aku sudah tidak kenal diriku yang dulu dan dirimu juga tidak akan bisa menemukan diriku itu. Aku belajar cara berdiri dan bangkit tanpamu. Jadi, jangan campuri urusanku."
"Baiklah." Telinga Hinata tidak salah mendengar ketika pria berambut pirang ini akhirnya menyerah. Biasanya dia tetap memaksa memertahankan gagasannya. Hinata mengenal Naruto bukan sebagai pihak penerima. Dia dominan, menguasai dan mengatur segala hal sesuai keinginanannya.
"Segera telepon aku ketika sampai di rumah. Jangan buat aku mengerahkan semua yang aku miliki hanya untuk membuatmu menghubungiku." Naruto benar-benar meninggalkan Hinata setelah memberikan pesan yang terdengar seperti ancaman.
Melihat mobil Naruto berlalu, Hinata melepas wajah masamnya. Tangannya meraih detakan jantung di dada kiri. "Kenapa kau terus berdetak keras seperti ini?" Dia akui ucapannya selalu kasar dan cenderung melukai. Dia tidak bisa mengontrol apa yang harus diucapkan ketika berdekatan dengan Naruto.
Langkahnya pelan meninggalkan tempat. Langit di atas kepalanya sedikit berawan. Dia tidak boleh ragu dalam melangkah. Sedikit lelah memang. Berjalan dengan membawa hati yang telah berubah. Sekali saja, dia ingin meletakkan lukanya, menyandarkan beban hatinya. Kembali menjadi Hinata yang dulu.
Tapi ketika dia menoleh ke belakang, dia hanya menemukan dirinya jatuh tanpa ada siapapun yang menolong.
.
.
Area pertokoan menjadi lokasi Hinata memulai mencari kerja. Dia beberapa kali mendatangi gerai-gerai toko namun mendapatkan penolakan karena pegawai mereka sudah lengkap. Ini sudah yang ke 10 kalinya. Rambutnya mulai lengket, berkeringat terpapar matahari di siang hari. Hinata jadi merindukan tempat bekerjanya dulu. Hokkaido tidak sepanas ini dan Mrs. Konan adalah hal yang ingin dia jumpai. Tidak lupa dengan temannya Kiba.
Hinata ingin menghubungi mereka.
"Apa kau mencari kerja?"
Hinata mundur beberapa langkah, dia cukup terkejut dengan seseorang yang berdiri di depannya. Keningnya mngernyit, seorang perempuan lebih muda darinya tersenyum lebar. Rambut merah marunnya mentereng, bol matanya ungu gelap mencuri perhatian beberapa pejalan. Dia juga memakai kalung emas dengan permata merah di leher.
"Oh, jangan takut. Perkenalkan aku Sara. Kulihat kau beberapa kali berjalan ke sana dan ke mari di sekitar sini, kupikir kau pasti sedang mencari kerja." Sorot matanya mengarah pada apa yang Hinata bawa. Sebuah file berisikan CV.
Hinata merasa malu. Apa tingkahnya sangat mencolok? "Ya, anda benar."
"Tidak usah formal begitu." Sara mengibaskan tangannya di depan wajah. "Kebetulan aku memiliki toko busana dan kami kekurangan pegawai."
"Apa kau berminat untuk mengisi bagian kasir?"
Kesempatan langkah. Sejak pagi tadi Hinata berjalan mencari lowongan dan kini ada sebuah tawaran. "Tapi aku tidak memiliki sertifikat atau dokumen penunjang." Itulah alasan dari susahnya dia mencari pekerjaan. Semua surat keterangan seperti ijasah terakhir serta surat pengalaman kerja banyak yang hilang sejak dia memulai hidup baru di Hokkaido.
"Don't mine." Sara tidak mempermasalahkannya. "Kau hanya perlu ikut aku, wawancara lalu kau akan diterima." Sebelah matanya berkedip dan dia membisikkan sesuatu. "Ya, hanya sebagai formalitas. Karena kami benar-benar butuh pegawai. Urgent."
Tidak membuang kesempatan, Hinata menyetjuinya. "Tentu saja." Meski bukan pekerjaan dengan gaji tinggi namun inilah langkah awalnya untuk kembali bekerja di Tokyo. Apapun yang terjadi, dia harus bisa melepaskan diri dari Naruto.
Dan Hinata cukup ternganga. Toko busana yang dia masuki benar-benar besar. Seperti pusat perbelanjaan mode internasional. Bajunya pun berkelas dengan label ternama. Dia mencubit lengannya. Terasa sakit. Dia tidak sedang bermimpi kan.
"Ok, kau masuklah di ruangan itu. Manajerku sudah ada di dalam. Lakukan yang terbaik." Semangatnya memberikan Hinata sedikit kepercayaan.
Tapi, tanpa Hinata sadari senyuman itu telah menjadi seringai tipis yang tersembunyi. "Kuharap dengan ini, hutangku bisa terbayar Shion." Sara mengirim beberapa pesan kepda seseorang. Tugasnya telah selesai. Dia bisa pergi dari tempat ini.
Beberapa tarikan napas diambil Hinata sebagai rileksasi. Ada beberapa wanita yang keluar masuk ke ruangan di depannya. Mereka tinggi, bertubuh semampsi dan berwajah fierce. Mereka memiliki tampang jual. Hinata menelan ludah, dia seperti salah tempat.
Sebentar lagi gilirannya untuk maju. Dia sudah beberapa kali mengalami hal ini namun baginya tetap saja sedikit gugup. Apalagi melihat para pegiat mode seperti mereka yang memiliki kesempurnaan fisik.. Tapi dia di sini tidak untuk melamar menjadi seorang model, Hinata cukup tahu diri. Setelah dirasa cukup yakin, dia memberanikan diri melangkah masuk.
"Permisi."
"Ah." Seorang lelaki tinggi menyambutnya dari dalam. "Apa kau calon pegawai yang melamar kerja?"
Perawakan lelaki itu membuat Hinata tidak terlalu menangkap apa yang ditanyakan. Sosok pria itu cukup mencolok dalam artian modis. Dia memakai kemeja dengan tambahan suspender. Parfum menthol melengkapi penampilan gentle-nya. Namun Hinata merasa seperti tidak asing. Rambut putih silver, bola mata abu-abu dan suara rendah yang menyapu gendang telinga.
Hinata yakin pernah bertemu sebelumnya, tapi dimana?
"Kau tidak ingin duduk?"
"Ah –maafkan aku." Satu tempat diseberang meja panjang ditempati Hinata.
Lelaki itu membuat suara tawa cukup keras. Matanya hangat ketika bertemu pandang dengan mata lebar milik Hinata. Terkesan mendamba tanpa disadari si pemilik –Hinata. Dia sudah lama tidak berjumpa dengan si mangsa. "Perkenalkan, aku Toneri." Tangan lebarnya berjabat tangan dengan jemari kecil Hinata. Tidak meremas, tidak pula langsung melepas.
"Uzu –Hyuga Hinata." Dia hampir saja salah menyebut nama belakangnya. Padahal nama itu sudah lama tidak dirinya gunakan, namun terkadang lidahnya secara spontan akan mengucapkan kata 'Uzumaki' sebagai nama keluarga.
Walau bagaimanapun dia pernah menyandang nama kehormatan itu.
"Sara telah memberitahuku. Kupikir kita bisa langsung untuk melakukan wawancara."
"Umm, aku tidak memiliki kelengkapan untuk administrasi. Namun aku memiliki pengalaman sebagai pegawai di salah satu perusahaan serta pernah menjadi waiter. Kupikir itu akan berguna bila aku melamar kerja menjadi kasir di sini."
"Aku bisa tahu kau jujur. Tidak akan masalah sebenarnya untuk latar belakangmu." Beberapa berkas yang diserahkan Hinata dia periksa. Toneri mengulum senyum saat dia kembali memandang si wanita berambut biru gelap di hadapannya ini.
Hinata bernapas lega. Dia semakin memiliki kepercayaan diri untuk diterima.
"Namun apa kau punya portofolio dirimu?"
"Huh?"
"Gerai kami menjual pakaian-pakaian ternama dan modis. Sudah menjadi kewajiban bila pegawainya pun harus memenuhi beberapa strandart wajib. Salah satunya adalah fisik. Mengenai kesehatanmu dan sebagainya."
"A-aku tidak memiliknya. Kupikir ini hanya lamaran untuk menjadi pegawai biasa, bukan seorang model." Setahunya portofolio mengenai fisik biasanya hanya dilakukan oleh calon model. "Apakah anda bisa memberiku waktu? Aku akan membuat portofolio seperti yang anda inginkan."
Toneri nampak berpikir. Kelopak matanya menyembunyikan tatapan bulan sabit yang menyimpan kebohongan. "Tidak perlu panik. Di sini juga bisa untuk membuat laporan kesehatan. Kau dapat melakukan tes di sini. Hanya secara umum tidak dikhususkan –kecuali bagi pelamar peraga busana." Katanya menyakinkan.
"Kau tidak memiliki kelainan penglihatan bukan?" Tanya Toneri. Ke dua tangannya menopang dagu, satu objek wanita cantik ini tidak lepas dari buruan penglihatannya.
Gelengan pelan Hinata tetap terlihat memesona bagi seorang Toneri. "Tidak. meski bola mataku bewarna pucat namun penglihatanku masih normal. Kadang memang beberapa orang akan salah mengira."
"Salah mengira? Kulihat kau memiliki mata yang sangat cantik." Hinata menunduk mendengar pujian itu. Orang-orang akan sering menganggapnya menderita kerabunan. Tapi dia cukup percaya diri, dulu Hiashi pernah mengatakan bahwa matanya sangat mirip mendiang sang ibu. Bahkan Naruto juga pernah mengatakan warna irisnya seterang bulan.
Mendadak Hinata jadi tersipu. Dia harus menjauhkan pikirannya dari Naruto.
Sekilas Hinata seolah melihat sebuah tatapan memburu terarah padanya. Di sini tidak ada siapapun kecuali mereka berdua. "Terima kasih." Ucapnya pelan.
"Dan bisakah kau berdiri di sana. Aku akan mulai memeriksamu."
Kepala Hinata mendongak. Tinggi Toneri menjulang di depannya. Kali ini perasaannya mulai ragu saat secara jelas dia melihat sosok Toneri. Lelaki ini cukup tampan, bahkan sangat tampan dengan bentuk rupa sempurna. Tapi ada sesuatu yang aneh di sekitarnya.
"Kalau boleh aku tahu, pemeriksaan seperti apa?"
"Jangan takut. Hanya pemeriksaan biasa seperti berapa berat badanmu, tinggi badan dan hal-hal kecil lainnya." Sudah menjadi keahlianya untuk membelokkan pendapat. Toneri sangat tahu harus bagaimana dia menyusun kata-kata. Bibirnya terlatih untuk berkomunikasi menganai banyak hal, termasuk berkompromi.
"Berat badanku kalau tidak salah 45 kg sedangkan tinggiku 160 cm." Perasaan tidak enak semakin menjadi ketika Toneri berjalan mengitarinya. "Apakah itu belum cukup?" Dengan awas Hinata mencoba menghindari kejaran mata Toneri.
"Hmm, cukup baik. Lalu apakah kau punya bekas luka atau tato di tubuhmu?"
"Ti-tidak. Aku baik secara jasmani. Aku tidak berbohong." Di hatinya sekarang muncul ketakutan. Dia tidak tahu harus memilih apa. Hinata jadi menyesali keputusannya untuk membohongi Naruto. Apapun itu dia dapat merasakan tekanan intimidasi dari Toneri.
"Kuyakin kau jujur, Hinata. Tapi aku perlu bukti. Bisakah kau sedikit melepas bajumu?"
Hinata langsung berdiri, dia akan memutar langkah kakinya ke luar bila tidak ada sebuah tangan panjang yang mencegahnya. Toneri berdiri penuh kuasa. Auranya berubah mencekam sekaligus mengekang. "Kau membutuhkan pekerjaan ini bukan? Aku yakin tidak banyak yang mau menerimamu melihat dari banyaknya persyaratan yang tidak dapat kau penuhi." Tiba-tiba suara Toneri merendah. Tatapannya menjadi penuh telisik seolah siap menguliti.
"Kita melakukan secara professional. Jangan takut padaku. Bila kau mengindikasikan diriku kurang ajar kau bisa melaporkanku ke pihak berwajib."
Kata-kata itu membingungkan Hinata. Kakinya tidak pasti menentukan apkah melangkah pergi atau tetap berdiam. Apa yang dikatakan oleh Toneri dia benarkan. Dulu dia pernah melakukan tes seperti ini meskipun tanpa harus melihat tubuh secara langsung. Dia harus professional. Kerja dibidang fashion memang ditutut sempurna secara fisik.
"Bi-bisakah kata-kata anda kupegang?" Bukannya bermaksud kurang ajar, namun dia hanya mencoba menjaga diri. Sesuatu dalam dirinya memberikan peringatan, aka nada hal buruk terjadi.
'Bahkan kau bisa memegang hidupku sekaligus.' Sorak Toneri dalam hati. "Tentu saja."
Maka Hinata mulai membiarkan beberapa kancing kemejanya terlepas. Jemarinya sedikit tremor. Dia ingin segera berakhir. Kakinya sudah gemetar, ini cukup memalukan dengan mata lelaki asing melihatnya. Hanya beberapa detik, tapi baginya waktu tiba-tiba berhenti.
"Apa ini bekas luka?"
Penglihatan Hinata melebar. Dia buru-buru menutup kemejanya ketika tangan Toneri menyentuh perutnya. Lelaki ini meraba bekas operasi cesarnya. Sangat tidak nyaman. Tubuh Hinata gemetar dengan sendirinya. Asing. Dia menolak sentuhan itu. "Ini bekas operasi ketika aku melahirkan anakku. Bila anda menganggap hal ini buruk maka anda bisa mencari orang lain salain diriku."
Suasana berotasi secara drastis. Hawa mencekam kembali menguar membuat Hinata tidak betah berada di sini terlalu lama. Apalagi ketika melihat Toneri. Dia berubah menjadi lebih pendiam dari sebelumnya. Wajahnya tertutup sesuatu tanpa bisa Hinata baca. Satu hal. Dia dalam bahaya.
"Apakah sudah selesai? Aku tidak bisa terlalu lama di sini. Sumimasen."
Toneri paham Hinata menaruh curiga. "Kau bisa bekerja mulai besok di sini. Kau lulus Hinata, selamat." Toneri menjabat tangan Hinata. "See, aku tidak melakukan apapun. Jadi, semoga kau bisa tidur dengan nyenyak."
Tanpa banyak kata Hinata meninggalkan tempat. Dia pergi begitu saja, mengabaikan saat Toneri memanggil seseorang yang sedang bersembunyi.
"Apa kau sudah melakukan tugasmu, Shion?"
Seorang wanita berambut blonde lurus ke luar dari balik ruangan. Dia memegang sebuah kamera. Bersiul meremehkan ketika memperlihatkan hasil bidikan lensanya.
"Coba bayangkan, akan seperti apa Naruto ketika tahu bahwa wanitanya melakukan pekerjaan seperti ini? Menjual tubuh, eh. Haha aku tidak sabar untuk melihat Naruto mengembalikan Hinata ke asalnya." Shion melihat beberapa shutter foto Hinata. Dia menyukai bagian ketika Toneri berada dalam satu frame.
"Dia tidak akan ke jalan, Shion." Pematik api dinyalakan membakar sebatang rokok. "Aku akan lebih dulu mengambilnya."
"Terserahmu saja. Tapi, kau cukup pintar juga menyusun rencana seperti ini." Kekehnya kejam.
"Cukup mudah bila kau memahami bagaimana cara berpikir Hinata." Toneri memandangi telapak tangannya. Dia menjilatnya. Lembut permukaan kulit Hinata masih dapat dia ingat. "Dia wanita yang pernah jatuh. Dia tidak akan semudah itu menerima Naruto, Hinata lebih memilih berjalan sendiri di atas duri daripada menyandarkan diri pada Naruto, dan kita cukup menyuruh satu mata-mata serta menunggu agar dia masuk ke dalam lubang yang telah dipersiapkan."
"Finally, kita lihat betapa harga dirinya itu akan hancur." Desis Shion. Bila Naruto membuangnya, maka Hinata pula harus merasakan pembalasannya.
.
.
.
Beberapa kali Naruto meneguk kopi Americano. Dia bersandar di punggung kursi empuknya, matanya melirik ponsel yang tergeletak di atas meja. Tidak ada panggilan masuk dari Hinata. terakhir dia mendapat kabar dari orang suruhannya mengatakan bahwa Hinata menjemput Boruto.
Dia ingin pula menjemput anaknya, namun sekarang sedang ada rapat besar membahas kerja sama antar beberapa perusahaan.
"Kau nampak lelah, dude."
Naruto mendongak, salah satu koleganya sekaligus sahabatnya bersandar di dinding dengan sebatang rokok menyala. Naruto mendecih. Ruangannya berbau tembakau. "Kau tidak lihat aturan dilarang merokok, Shikamaru?"
Pria oriental berambut jabrik hitam itu mengedikkan bahu, tidak peduli. "Rapat belum selesai dan kau malah melamun di sini." Shikamaru mendengus. "Bukan dirimu sekali, tuan besar."
"Kaupun juga sama. Mencari tempat merokok untuk melarikan diri dari rapat." Sudah dapat ditebak bagaimana kebiasaan Shikamaru. Naruto sudah biasa mendapati kawannya ini merokok ketika dirasa jenuh atau bosan.
Shikamaru menggulung lengan kemejanya sampai siku. Melemaskan lehernya akibat terlalu lama duduk menatap ke layar proyektor. "Si tuan muda dari negeri minyak itu cukup menjanjikan untuk diajak kerja sama, bukankah begitu?" Naruto mengangguk. "Kuharap kau mau menerima investasinya."
"Karena dia adik istrimu? Dasar kau." Potong Naruto cepat. "Kenapa tidak kau ambil saja proyek ini?"
Tampang pemalas Shikamaru hanya menguap. "Gaara bilang dia ingin membangun perusahaanya sendiri. Dia mencari perusahaan besar. Bukankah itu terdengar seolah adik iparku meremehkan bisnisku, hah." Dia tertawa. Asap nikotin menyelimuti wajahnya. "Tapi Temari terlalu khawatir. Dia mengancamku akan membakar semua pabrik rokok bila aku tidak membantu adiknya menapaki tangga bisnis."
"Lucu sekali padahal dulu kau mengencani setiap wanita, dan kini kau berakhir menjadi si tuan penakut." Ejek Naruto. Mereka sudah saling kenal, bersahabat dalam waktu yang lama dan sudah tahu sisi nakal dari masing-masing.
Shikamaru malah tertawa. Membenarkan apa yang diucapkan sahabat pirangnya. "Dia sangat kasar, tidak ragu menamparku di depan umum ketika aku hanya menyalami rekan wanita. Tapi ya, mungkin inilah jodoh. Aku akan berakhir dengan dirinya."
"Lalu," Iris hitam Shikamaru melirik sang sahabat. Ujung merah rokoknya ditekan hingga padam. "Saat Temari mengantar Shikadai sekolah, dia bilang dia tidak sengaja melihatmu. Temari ingin menyapa namun urung ketika dia melihatmu seperti sedang bertengkar dengan seseorang –" Kalimat panjangnya terjeda. Shikamaru melihat sekilas raut Naruto. "Apa dia Hinata? mantan istrimu?"
Raut datar Naruto adalah jawabannya. Dia penuh ketenangan. "Istrimu seharusnya menyapaku sehingga aku bisa memperkenalkannya dengan Hinata." Jawaban enteng Naruto membuat Shikamaru mengernyit. "Dan kami tidak bertengkar –hanya berbeda pendapat saja. Seperti dirimu yang menyukai tidur dan Temari yang menyenangi aktif bergerak."
"Wow, kalian rujuk?" Shikamaru memekik, dia tidak dapat menahan rasa terkejutnya. "Mengingat betapa panasnya berita kalian dulu kupikir kau masih membencinya. Wanita yang malang. Banyak orang menyudutkannya waktu itu."
Pemberitaan perceraian Naruto dengan istrinya memang menjadi konsumsi selama hampir beberapa bulan. Skandalnya cukup besar, efeknya membuat beberapa saham perusahaan turun. Namun tangan dingin Naruto dapat mencegah banyak kehilangan. Dia pengusaha monster yang sesungguhnya. Shikamaru mengakui itu.
Naruto sedikit tersinggung. Dia membereskan mejanya. Sebentar lagi dia kembali ke ruang rapat. "Itu cerita lalu. Persiapkan saja dirimu bila kau mendapat undangan pernikahanku lagi. Dan –"
"Aku harap anakmu bisa berteman baik terhadap anakku."
Shikamaru melotot, dia terbatuk merasa tenggorokannya tersedak ludah. "Ba-barusan kau bilang apa?! Anak?"
Naruto mengabaikannya. Biarlah teman nanasnya itu menggunakan otaknya sesekali. "Jangan hanya duduk saja tuan pemalas. Segera ke ruang rapat atau kau kembali diusir Temari akibat terlambat pulang."
.
.
.
Biasanya Naruto akan lembur di perusahaan. Dia jarang pulang, rumah besar bukan jaminan merasa nyaman. Namun kini dia terlihat berbeda. Naruto ingin segera pulang. Masih pukul delapan, dia harap Boruto tidak langsung tertidur. Setidaknya dia ingin mengucapkan selamat malam atau selamat tidur nyenyak bagi Boruto.
Ditambah keberadaan wanita manis di rumahnya menjadikan Naruto tidak sabaran menginjakkan kaki di rumah.
"Kenapa banyak paparazzi di lobi?" Keningnya mengernyit melihat beberapa awak media duduk di ruang tunggu. Apalagi ini di jam malam, sudah waktunya untuk kembali pulang. Ayame sebagai sekretarisnya menunduk takut untuk menjawab. Apa yang dibawa oleh pihak berita erat kaitannya dengan kehidupan pribadi tuannya ini.
"Me-mereka ingin menemui Naruto-sama."
"Untuk?" Dia melihat jam arlojinya. Keberadaan mereka menghambatnya pulang.
Ayame segera memberi Naruto sebuah artikel dari kantor berita kenamaan. "Ini yang mereka berikan kepada saya untuk anda direktur." Di depannya terlihat cover yang cukup dewasa. Mata Naruto membeliak. Tangannya merebut kasar artikel itu dari sekertarisnya.
Dia membalik beberapa halaman. Cetakan foto tubuh Hinata berpenampilan sangat terbuka memenuhi satu kolom halaman, nyaris topless andai tidak ada penghalang bra hitam di sana. Tulisan kontroversial tercetak tebal menyulut kegeraman Naruto.
Kembalinya mantan istri dari pengusaha besar Uzumaki Naruto. Jual diri atau mencari sensasi?
'SSRAKK'
Naruto menginjak-injak artikel itu sampai lusuh. "Bedebah!" Dia memaki. Mengumpat tentang betapa jijik dan memuakkannya sesuatu yang tertulis di sana. Dia perlu bicara dengan Hinata secepatnya.
"Suruh keamanan mengeluarkan mereka dan bilang pada mereka bahwa aku tidak dapat ditemui."
"Ta, tapi direktur, mereka mengancam agar anda segera memberikan keterangan." Ayame belum paham apa yang terjadi. Dia cuma sekilas mendengar tentang mantan istri direkturnya yang terlibat skandal. Kehidupan pribadi direkturnya memang menarik dikulik.
"AKU TIDAK PEDULI! Siapapun yang berani bermain-main denganku akan aku hancurkan." Kenyataanya hatinyalah yang sedang hancur. Dia marah. Dia ingin meledak saat mengingat betapa jalangnya Hinata di sana. "Jangan biarkan anjing-anjing itu menyalak di sini. Katakan untuk pergi atau besok kantor berita mereka hancur dan mereka menjadi gelandangan."
Dia berjalan cepat menuju lift khusus. Secepatnya dia harus sampai di rumah. Dia hanya membiarkan Hinata menikmati hari-harinya tanpa dirinya campuri. Dia belajar untuk memercayai wanita itu, Naruto menurunkan sikap posesifnya dengan harapan Hinata akan sedikit melunak. Tapi bukan dengan cara seperti ini, bukan dengan menjadi model foto dewasa disertai banyak pasang mata menikmati apa yang seharusnya Hinata jaga.
"Fuck!" Naruto memukul dasbor mobil. Rambutnya diacak kasar. Dasinya dilonggarkan kemudian dilempar ke samping kemudi. Sesuatu yang telah menjadi miliknya diusik dan dia tidak dapat menolirnya. "Apa yang membuatmu tidak paham mengenai hal yang seharusnya tidak boleh kau perbuat Hinata." Geramnya melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
.
Naruto memasuki penthouse miliknya tergesa. Tanpa melepas jas dia menyusuri ruangan untuk menemukan dimana Hinata berada. Suasana sedikit sepi, hanya ada beberapa maid yang memang dikhususkan bermalam di sini, sebagiannya pulang ke rumah masing-masing.
Dia mendapati kamar Hinata kosong, lalu tanpa membuang waktu dia berjalan ke arah kamar Boruto. Dugaanya tepat, wanita itu berada di sana, menyelimuti anak mereka yang sedang tertidur. Dia tidak bisa berbicara dengan Hinata di sini, Naruto yakin mereka akan bersuara keras dan itu akan menganggu istirahat Boruto.
"Ikut aku."
Hinata terkejut. Dia belum menyadari kehadiran Naruto sebelum tangannya dicekal lalu ditarik mengikuti Naruto. Mereka berhenti di ruang kerja, ruangan ini cukup baik untuk meredam teriakan karena terpasang beberapa peredam suara. Setidaknya Naruto berharap dia dapat berbicara baik-baik dengan Hinata.
"Apa yang kau lakukan tadi?"
Si pria masih mencekal pergelangan tangan Hinata. Hinata bungkam meski cengkramannya semakin mengerat. "JAWAB HINATA!" Suaranya naik beberapa oktaf. Hinata terkejut dan pandangannya menyiratkan ketidak pahaman.
"Kau baru datang dan kau membentakku. Biarkan aku pergi." Hinata berusaha melepas cengkraman Naruto. Dia tahu pria ini dalam keadaan marah. Bukan sesuatu yang bagus bila mereka hanya berdua.
"Akan aku lepas setelah kau menjelaskan tentang maksudmu berani tampil seperti ini." Smartphone-nya ditunjukkan pada Hinata. Layarnya menampilkan pixel foto berobjek wanita yang Hinata kenali sebagai dirinya hampir telanjang. Menatap tajam ke rah shutter kamera. Seolah menantang siapapun untuk berani mendekatinya. Sensual.
"Ba-bagaimana bisa?" Dia tergagap. Shock melihat dirinya sendiri dalam pose memalukan di sana.
Urat kebiruan menjalar di lengan Naruto. Dia mengumpat. "Bagaimana bisa? Seharusnya itu pertanyaanku. Kau bergaya binal dan arrgghhkkk –" Naruto benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Dia meninju dinding. Tangannya merah namun tidak sampai berdarah.
Binar Hinata tenggelam dalam keterkejutan. Dia bisa menjelaskan, namun suaranya tersangkut. "A-aku hanya mencari kerja. Ka-kata mereka itu untuk portofolio. Aku tidak berbohong, Naru." Hinata mencoba meraih tangan Naruto tapi dia menyentaknya. Hatinya sakit. Naruto kali ini menolaknya.
Jawaban Hinata bukanlah jawaban yang ingin dia dengar. "Sudah kubilang berhenti bertindak bodoh! penjelasanmu semakin membuatku marah. Aku marah Hinata." Dia mengguncang bahu Hinata. "Apa ada kebutuhan yang tidak bisa kupenuhi sampai kau harus keluar dengan baju seperti itu? FOTOMU DISEBARKAN!"
"Aku bisa jelaskan! Berhenti berteriak padaku."
"Berapa uang yang kau peroleh dari sesi foto menjijikkan itu?" Naruto mengambil dompetnya, mengeluarkan semua kreditcard nya beserta lembaran uang.
Suara Hinata tercekat. Dia masih belum stabil, semuanya serba mendadak. Dia tidak tahu bahwa hal yang dia lakukan berakibat fatal seperti ini. "Tidak, mereka tidak memberiku uang. Mereka mengatakan aku bisa bekerja besok. Mereka –hkss –aku bingung."
Naruto mengeratkan rahangnya. "Kau! seven hells! Kau bahkan secara cuma-cuma memamerkan tubuhmu." Hinata terisak, wanita itu beberapakali mengusap pipinya. Dia ditipu dan Naruto kecewa kepadanya.
"Bila kau ingin bekerja, datanglah kepadaku. Dirimu bahkan tak perlu menanggalkan pakaianmu hanya untuk menerima uang," Hinata menunduk mendengarnya. Tangannya meremat dada. "Sekertaris, akuntan, bahkan sahamku pun dapat kuberikan padamu!" Naruto tidak dapat berpikir jernih.
Dia mengabaikan tatapan sendu Hinata.
"Kau ingin membuatku menjadi lelucon? Aku dulu hanya mantan pegawai biasa dan seorang waiters, lalu tiba-tiba kau mengangkatku menjadi sekertarismu?" Hinata merasa kecil untuk menerima itu. dia tahu dimana tempatnya dan dimana Naruto berada. "Surat-surat pentingku banyak yang hilang. Sekarang tidak ada perusahaan yang mau menerima pegawai tanpa kelengkapan surat. Jadi, kupikir aku akan menjadi pelayan rumah makan atau penjaga toko. Sama sekali aku tidak pernah berniat melakukan seperti yang di foto itu"
"Cukup Hinata!" Naruto menolak mendengar lebih. "Aku tidak ingin siapapun memandang rendah padamu. Mereka akan mengenalimu sebagai mantan istriku dan mereka akan menghinamu, aku tidak cukup sabar untuk mendengar ocehan mereka mengenai dirimu. Siapapun tidak boleh menghinamu, kau harusnya tetap di sini. Dan bila kau tetap keras kepala maka kau hanya akan melihat orang lain terluka karena keegoisanmu."
Reflek Naruto mendorong Hinata ke sofa di belakangnya. Harga dirinya terluka. Hinata selalu menolaknya, mendorong jauh dirinya dengan alasan masa lalu namun malah memberikan orang lain keleluasaan untuk menyentuhnya.
"Kau harus sadar siapa pemilikmu," Naruto semakin brutal, mulai berani menjamah kulit pucat Hinata. Melumat kasar bibir tipisnya lalu menggigit hingga bertaut lidah.
"Hen –ugghh- tikan," Hinata memberontak. Tubuh berat Naruto menahannya untuk bangkit. Ke dua tangannya memukul apapun, tapi Naruto semakin liar menghisap bibirnya. "Ugh-" Suaranya melengkuh. Satu gigitan, Naruto menyerang lehernya.
"Berhenti Naruto. Berhenti." Hinata memohon. Kabut merah di mata Naruto membuatnya takut. Tubuh kecilnya terkungkung sempurna di balik tubuh besar si pria.
"Dimana saja dia menyentuhmu?" Suara berat Naruto serak, Hinata bungkam. Dia terisak. "Lepaskan aku." Rontahnya namun percuma. Naruto terlalu dominan untuk dirobohkan.
"Kami tidak melakukan apapun." Bantah Hinata. "Aku tidak tahu bahwa dia menjebakku. LEPASKAN –Ahhkkk." Teriakannya berubah menjadi rintihan. Ke dua tangannya diikat menggunakan ikat pinggang.
Sungguh sekuat apapun Hinata melawan, tenaganya tidak akan mampu menggeser dominasi kokoh Naruto pada dirinya. Bibirnya kembali menjadi sasaran beringas Naruto. Ini menyakitkan, harga dirinya semakin jatuh dan terkoyak.
Mata putihnya melebar horror ketika bajunya ditarik sampai robek. Kakinya yang bebas menendang-nendang, entah mengenai perut atau dada pria biadab ini. Naruto sempat kualahan lalu dia juga bertindak semakin kesetanan.
"Akan aku lihat sendiri dengan mata kepalaku bila dia tidak menyentuh dirimu." Tubuh putih Hinata terpampang di depannya. Naruto terdiam sesaat. Hinata tidak berubah, wanginya tetap sama. Naruto merasa tegang, matanya menggelap jahat. Napasnya memberat/
"DEMI TUHAN! AKU AKAN MEMBENCIMU BILA KAU SEMAKIN JAUH MENGHINAKU SEPERTI INI." Jerit Hinata. Dia takut, badanya menggigil. Dia tidak punya pertahanan. Tangannya mulai perih akibat kencangnya Naruto mengikat.
Sayangnya Naruto jauh dari kata waras. Rasa rindu, marah, benci, kecewa serta cinta semakin mencambuknya untuk bertindak lebih. Dia ingin membuat Hinata berantakan. Memenuhi tubuh Hinata dengan tandanya. Dia harus segera memberikan klaim. Tidak peduli itu menyakiti Hinata.
'SET'
Bra ditarik kasar lalu dilempar. Tangannya bekerja secara tergesa, meremas, menekan dan menarik dada serta puncaknya hingga berubah warna. Kadang kencang kadang penuh tekanan. Dada Hinata nyeri dibuatnya.
"To-tolong –" Tenaga Hinata menipis. Pandangannya buram tertututp air mata. Dia tidak merasa rangsangan, malah dia merasakan kesakitan. Naruto memainkan tubuhnya tanpa perasaan. "Hksss –Naru, henti-kan. . . A-ahhhn." Bibirnya dia gigit sendiri. Menahan desahan ketika mulut Naruto memasukkan puncak dadanya ke dalam. Dia merasa perih, gigi Naruto sengaja menjepitnya. Menghisap kuat dan memainkannya seperti bulatan permen.
"Heh, lihat. Wajahmu seolah mengatakan ingin sekali dipuaskan." Remehnya ketika melihat wajah memerah Hinata. Sesekali dia masih menyesap atau berpindah menautkan bibir mereka sampai terdapat benang saliva.
Kali ini Naruto membuka sendiri bajunya. Dia menanggalkan kemeja lalu beranjak untuk meraih bawahan Hinata. Tentu saja Hinata memberontak meski dia sudah kelelahan. "Kau hanya berakhir menyakiti dirimu sendiri bila terus seperti ini Hinata."
"Bajingan!" Desis Hinata. Dia merasa jijik, bekas ludah Naruto masih membekas di kedua dadanya. Bibirnya bengkak, lehernya pun mulai dipenuhi bercak kemerahan. "Brengsek. Kau hina, kau monster." Umpatan itu tidak seberapa dengan hatinya yang sangat sakit.
Hinata merasa ingin mengubur dirinya sendiri ketika Naruto berhasil melepaskan seluruh pakaiannya. Dia telanjang, semuanya terlihat di mata predator Naruto. Hanya kakinya yang tadi memberontak kini digunakan mengatup untuk menutupi apa yang harusnya tetap tersembunyi. Panasnya air mata yang keluar membuat merah mata Hinata.
Ketika Naruto mencumbunya, dia menghindar ke samping lalu mendapat hisapan di arah leher. Kissmark Naruto tercecer, dari leher lalu turun pada dua payudaranya. Belum lagi bagian tubuhnya yang lain.
"Ummnh," Naruto sadar Hinat menahan suara seksinya ketika mendesah. Dia ingin mendengarnya, dia tidak sabar untuk menjamah lebih dalam lagi. "Kau tahan desahanmu maka aku akan semakin gencar membuatmu berteriak."
"Buka kaki mu." Hinata melotot. Itu perintah untuk seorang pelacur. Dadanya teremat nyeri. Keterlalun sekali Naruto memerintahnya.
"Bahkan sampai matipun aku –"
Suara zipper yang ditarik turun menggagalkan fokus Hinata. Tubuhnya menegang, dia mendorong dirinya sendiri menjauh dari sesuatu yang mengacung tegak milik Naruto. Benda itu terbebas dari celana dalaman. Berbentuk lonjong mengerikan dengan urat yang kemerahan. Rambut kering kuningnya tumbuh di sekeliling batang itu. Dilihat dari sudut manapun, batang itu sudah sekeras kayu.
Precumnya keluar dari ujung saluran lubang.
"Kau mengaguminya. Kau merindukannya?" Naruto bertanya halus, tapi suaranya menakutkan. Dia membelai pipi Hinata dengan usapan sayang. "Dia milikmu, dan kau pun harus menjadi milikku."
"Ja-jangan, jangan Naruto. Berhenti menyakitiku." Mohonnya pilu. Tapi di mata Naruto, Hinata yang memohon sangat menggairahkan. Tubuhnya mencoba meloloskan diri, bergerak mundur namun kakinya lebih dulu dicekal Naruto.
"Akan kuulang malam pertama kita dulu." Bisiknya mengecup telinga Hinata. "Tanpa foreplay tidak masalah kan." Sudut bibirnya membentuk seringaian.
Cekalan Naruto di kedua kakinya memberikan bekas merah melintang. dia sengaja melingkarkan kaki Hinata di pinggangnya. Mengaitkan mereka agar tidak terlepas. "Berhentila menangis." Seringai Naruto menebar rasa takut pada Hinata. "Lihat. Kita harus merayakan persatuan kita."
Hinata menggelengkan kepala, mereka tidak boleh melakukan hal sejauh ini. Naruto melanggar perjanjian mereka.
"Argkhh –" Hinata memekik saat tiba-tiba benda tumpul besar dan tebal mendobrak masuk memasuki dirinya. Miliknya masih kering, belum dipersiapkan dan tidak seorang pun pernah melakukan hal ini –kecuali saat dia masih menjadi istri Naruto tentu saja. Namun hubungan mereka sudah berubah, Hinata meraup udara rakus ketika tubuh sensitifnya ditabrak tanpa aba-aba. Badannya terdorong ke belakang, bibirnya dia gigit sampai mengelurkan darah, tangannya saling meremat serta matanya terpejam.
"Ti-tidak akan muat. Ti-tidak. . . hmmphh," Suaranya merancau. Akalnya dicabut dan diganti lecutan kesakitan. Tubuhnya menggelinjang menolak.
Sleb!
Hinata melengkuh menyakitkan ketika Naruto melakukan penyatuan. Tidak ada kesan lembut, tidak ada rasa bahagia, semuanya hancur ketika Naruto menghentak keras hingga miliknya terkurung sempurna di dalam lubang hangat yang membuatnya terpejam penuh nikmat.
"Keluarkan, keluarkan, keluarkan, ouch-" Begitu nyerih. Dia terbakar dari dalam. Hinata melakukan apapun untuk mengeluarkan tautan Naruto pada bagian bawah mereka. Otot-otot di lorong senggama merenggang paksa. Tubuhnya mengejan, menolak penetrasi paksaan yang melukainya.
"Hksss, sakit Naru. Sakit." Kepalanya melengos ke manapun, air matanya deras tumpah. Dia butuh pelampiasan dan Naruto paham itu. Dia melepaskan ikatan di tangan Hinata. Membiarkan Hinata mencakar punggungnya atau menarik rambutnya.
"Tenang, rileks sayang." Dia mengusap-usap kernyitan di kening Hinata. Berusaha mengalihkan rasa sakitnya, Naruto gencar melumat bibir Hinata. Namun Hinata terlanjur sakit. Bagian bawahnya terbelah, dipaksa menelan batang keras yang menjulang menyentuh bagian terdalamnya. Ini pemerkosaan. Dia sudah hancur.
Apa setelah ini Naruto akan membuangnya kembali?
Tangis Hinata telah habis. Dia dikawini secara brutal. Matanya kembali terbuka seolah menyiratkan penolakan ketika Naruto menggerakkan bendanya keluar lalu menyundul ke dalam secara spontan. Tepat sasaran.
"kumohonjanganbergerak." Sesunggukan dalam menangis, kini semuanya adalah mimpi buruk.
Sayangnya ini kenyataan. Naruto melecehkan dirinya.
"Shit, kau ketat, kau nikmat. Lubangmu mengisap milikku tidak ingin dilepas. Dia menjepitku seolah ingan melumatku." Tubuh kekarnya dibalur keringat. Baru permulaan namun Naruto sudah tidak sabar untuk meraih kepuasan, meski hanya sepihak. Dia mulai melajukan liar kepunyaanya, menghentak kadang menghujam keras in-out sampai selangkangan mereka beradu.
Bunyinya 'plak' ketika dia mendorong terlalu keras. Sambil menggerakkan pinggul, mulut Naruto menyusuri perut rata Hinata, menciumi bekas jahitan yang membuatnya bangga sekaligus bersemangat. Secara naluri Naruto ingin mengulanginya.
"Titik kelemahanmu terletak sedikit lebih dalam, tapi aku akan mengenainya." Tubuh besarnya melengkung, memaksa kaki Hinata untuk lebih lebar dalam menyambutnya. "Kau menikmatinya kan?"
Suara itu begitu mengejek ketika melihat rontaan Hinata melemah, seolah pasrah sambil memejamkan mata namun tetap menolak mendesah. Naruto menggeram kesal. Dia harus bisa menghancurkan batas itu, kemudian dia mengeluarkan miliknya sampai menyisakan ujung kepala –lalu
Jleb!
Hinata reflek membuka mata. Bagian bawah perutnya melilit, menegang bercampur sakit. Dia tidak memiliki kontrol lagi. Hujaman Naruto memberikan kabut aneh di kepalanya. Perutnya mendadak terasa penuh. Setelah banyak hal buruk terjadi padanya, sekarang Naruto bertindak keterlaluan.
Apa selama ini hanya tubuhnya saja yang diincar oleh Naruto? Setelah ini apa? Hinata menangisi dirinya. Dia dulu tidak meminta hal terlalu tinggi pada Tuhan. Dia selalu mendoakan agar orangtuanya selalu sehat, dia ingin menjadi anak baik. Berharap pula bila kelak mendapatkan pasangan mereka akan hidup sederhana, di rumah kecil namun hangat. Hari-harinya akan penuh tawa dan bahagia. Bilapun ada masalah mereka akan menghadapinya bersama. Kehidupan penuh cinta
Lalu kenapa takdir mengikatnya pada sosok Naruto?
"Ah, aku menemukannya bukan?" Mereka berdua sudah penuh dengan keringat. Tubuh besar Naruto menghentak keras, gila-gilaan untuk menumbuk spot Hinata. Lalu ketika dia sudah hampir sampai, Naruto menarik tubuh Hinata dalam posisi duduk. Dia tersenyum ketika melihat bagian bawah Hinata merah merekah. Sudah mulai basah oleh cairan pelumas.
"Kau menangis bercinta denganku namun tersenyum binal ketika orang lain memfoto tubuhmu. Aku kesal, aku marah. Ini hukumanmu."
"Na-naruto hentikan." Sisa kekuatannya digunakan untuk meminta yang terakhir kali. Hinata merasakan daging tebal di dalam tubuhnya membesar beberapa kali, siap meledak dan menyemburkan load-nya. Pria ini tidak memakai pengaman. Hinata panik. "Jangan di-dalam. Hentika . . . –Arrgkk."
Terlambat. Hinata mencengkram bahu Naruto. Hampir dekat, Naruto masih mengunci persatuan mereka. Dan satu hentakan keras maka Naruto benar-benar menumpahkan benihnya kembali ke dalam pusat tubuh Hinata. Dia diisi penuh, bau mani membumbung membuat pusing Hinata. Dia mual menciumnya.
"nghhh –"
Naruto memejamkan mata menikmati sisa ejakulasinya. Beberada detik dia masih berkedut. Sudah lama dia tidak merasakan perasaan lega seperti ini. Cairannya sangat banyak –kental, dia menutupi lubang Hinata dengan cairan putih lengket miliknya. Hinata terkulai lemas di dada bidangnya. Dadanya naik turun, lelah menerima bagian Naruto dalam dirinya.
"Kau pikir ini sudah berakhir, hem?" Hempusan napasnya hangat mengecup kening lalu bulu mata Hinata. "Kita masih memiliki waktu." Hinata tidak mendengar. Dia jatuh dalam kegelapan. Dia sudah tidak kuat.
.
.
.
.
Naruto masih belum tidur. Dia tidak akan bosan melihat rupa Hinata di dekatnya. Dia merapikan surai Hinata yang mentupi sebagian wajahnya. Mereka di kamar utama, Naruto memindahkan Hinata setelah dia tiga kali melakukan hal bejat pada tubuh lemah Hinata.
Dia terkapar kelelahan.
Kali ini mata Naruto menyiratkan rasa sendu. Dia kebablasan. Awalnya hanya untuk hukuman namun dia lupa daratan sampai mengulanginya tiga kali. Itu pun semuanya dikeluarkan di dalam. Naruto menjambak rambutnya sendiri. Hinata tertidur dengan wajah kesakitan. Napasnya putus-putus gelisah. Naruto jadi tidak tega.
Bahkan cairan putih masih belum sepenuhnya mengering di panggal pahanya. Ada yang masih menetes berlebihan di seprai hingga menguning akibat banyaknya sperma yang tumpah. Hati Naruto berantakan. Dia telah melakukan hal yang tidak bisa dimaafkan.
"Kau brengsek." Naruto memaki dirinya sendiri. "Kau monster Naruto. Kau tidak melindunginya, kau melukainya kembali."
Dia menyusuri garis wajah Hinata. pandangannya terkunci pada kulit bibir yang terkelupas. Naruto sakit, tubuh Hinata seperti remuk di matanya. Pergelangan tangannya lecet, ruam merah hampir tersebar di seluruh tubuh. Waktu itu dia kalap, memukul diri sendiripun percuma.
Naruto sudah tidak bisa mundur. Dia akan memastikan bahwa dialah yang akan memberikan kebahagiaan pada Hinata. Dia membuka laci di samping ranjang, mengambil sebuah kotak kecil dan membukanya.
Sebuah cincin. Cincin pernikahan mereka dulu. Yang lebih kecil dengan permata biru adalah milik Hinata.
Naruto memakaikannya di jari manis Hinata. Dia mengecupnya lama.
"Maafkan aku Hinata. Kuharap kau tidak terkejut bila secepatnya kita menikah kembali."
.
.
.
.
.
.
TBC
Untuk tokoh Sara, dia ditampilkan dalam Movie Naruto 4 : The Lost Tower. Dia hanya akan muncul sebentar.
Maaf bila feelnya kurang atau kekurangan lainnya.
Untuk chapter kemarin emang masih banyak salah penulisan. Terima kasih raeym yang udh ngasih tahu. Terima kasih buat yang udh nagih dan ngedukung dalam bentuk apapun. Dan chapter ini semoga lebih baik lagi.
Btw, scane lemonnya sebisa mungkin udah aku perhalus lho. Maaf bila masih terlihat kasar #salahkanNarutoaja haha.
