REMOVE
Kesalahan tidak bisa dihapuskan. Itu membekas dan meninggalkan jejak.
Kau hanya bisa memperbaikinnya, namun berhentilah mencoba karena kau terlalu terlambat untuk melakukannya
.
.
.
.
.
© Masashi Kisimoto
Tidak dipersyaratkan untuk dibaca anak kecil
Warning : Typo(s), Bahasa tidak baku (cenderung kasar), sexual content, AU, Modern live, OOC, alur tidak menentu
Rated : M (language and content)
Pairing : Naruto-Hinata
Story : Atharu
Maaf lama nggak muncul. Beberapa kali sempat mencoba menulis tapi apa yang diketik sama ide cerita berbeda jadi nunggu waktu buat bisa ngembaliin ke jalurnya. Juga ada beberapa kesibukan yang tidak bisa aku tinggal.
Oh ya, ceritaku ini pasti masih banyak kesalahan. Entah ketidak konsistenan tokoh atau penulisan yang masih salah bahkan jalan ceritanya semakin nggak jelas. Tapi terima kasih buat dukungan kalian semua yang udah ngasih semangat. Meski aku belum bisa bales satu-satu review kalian. Terima kasih juga buat yang setia obrak abrik akun fb aku buat nagih kelanjutan nih cerita haha.
Dan untuk kapan endingnya, aku masih belum kepikiran. Tapi kayaknya nggak sampai belasan chapter soalnya takut nggak kuat ngelanjut. Maklum, otak aku suka rada error kalau harus buat cerita yang panjang. Nulis sampai 7k words aja ku udah terkapar.
Ok. Selamat membaca Remove chapter 7.
.
.
.
.
.
.
.
Naruto membenarkan letak bantalnya. Dia menatap lekat rupa Hinata yang tertidur di sampingnya. Dia telah membersihkan diri Hinata dari keringat dan cairan putih yang sekiranya masih menempel di tubuh lalu menyelimutinya agar tetap hangat. Wajah Hinata di sekitar pipinya masih memerah dan napasnya sedikit memburu seperti bermimpi buruk. Naruto tahu dia bajingan. Belum ada beberapa lama Hinata di sini dia sudah memberikan mimpi buruk.
"Aku bukan lelaki romantis, gentle atau apapun yang bisa membuatmu melihatku sebagai pria bertanggung jawab. Tapi kau harus tahu bahwa sejak awal hingga kini kaulah yang selalu menghancurkan tatanan hidupku." Naruto tidak peduli apakah dia posesif atau protektif. Dia hanya ingin Hinata tidak lagi jauh dari jangkauan matanya.
Naruto mengambil sehelai rambut indigo Hinata. Menyesap wanginya sebelum kembali memerhatikan wajah yang tengah tertidur itu. Naruto menerawang, seingatnya dia tidak pernah hingga seperti ini dalam berhubungan dengan lawan jenis. Sedari awal memang dia hanya tertarik dengan Hinata.
"Kau mengambil diriku dan sudah menjadi keharusan bagiku untuk mengambil dirimu." Tangannya mengelus kening Hinata, mencium sebentar di sana sebelum dia keluar dari kamarnya. Ada hal penting yang harus dia cari tahu.
"Selamat tidur, sayang. Aku akan menemukan orang-orang yang telah berani mempermainkan dirimu. Mereka harus tahu apa itu kesakitan karena telah mengganggu kita." Ucap Naruto bersungguh-sungguh. Dia tidak ingin kejadian masa lalu kembali merusak apa yang telah ada kini.
Hal ini sudah bukan ancaman biasa lagi. Sampai bisa memunculkan berita yang tidak-tidak tentu bukan pekerjaan orang iseng semata. Ini terlalu rapi dan terstruktur, hampir sama pula polanya dengan kejadian lima tahun yang lalu saat dirinya menceraikan Hinata.
Dia menghubungi Kakashi. "Paman, kirimkan aku apapun yang mata-matamu dapatkan mengenai kejadian foto itu." Naruto masuk ke ruang kerjanya. Dia melihat sekilas sekeliling, sofanya tergeser dan ruangannya sedikit berantakan. Dia belum membereskan kekacauan di sini. Bau khas percintaan pun masih dapat dia cium meski pengharum ruangan menyala. Jantungnya kembali berdegup keras. Hanya sebentar dia meninggalkan Hinata, dia sudah serindu ini.
Hormonnya sedang kacau. Bayangan tubuh Hinata yang tidak berubah sejak terakhir dia menyentuhnya membangkitkan denyut mengilukan. Dia tidak hanya merindukan Hinata secara ragawi melinkan juga melibatkan perasaan yang sangat kompleks. Mungkin bila ini cerita warewolf, dia sudah seperti alpha yang masuk musim kawin, In heat. Naruto merutuk dalam hati tentang siklus biologisnya.
Lalu Kakashi datang tanpa penampilan formal. Dia hanya menggunakan kaos dan jaket hitam tebal. "Hanya sedikit yang bisa saya berikan. Dosa masa lalu mengejar anda dan menargetkan Hinata." Gaya bicara Kakashi sedikit mencibir. Kelakuan buruk di masa lalu tuan mudanya ini membuat Kakashi geram.
Karena secara tidak langsung keburukan yang menimpa Hinata juga didapatkan lewat Naruto. Bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa si tuan muda kecil Boruto juga akan ikut terseret.
Tugas pokok seorang Kakashi adalah memastikan keselamatan keluarga Uzumaki.
"Siapa wanita ini?" Naruto bertanya mengenai sosok berambut merah yang Kakashi berikan. Naruto belum pernah bertemu dengan wanita itu.
"Namanya Sara. Dia yang menawari Hinata bekerja di salah satu tokonya. Dan coba tebak dia memiliki hubungan dengan siapa?"
Alis Naruto bertaut. Dia mencium hal yang buruk. "Apa Shion dibalik semua ini."
"Secara garis besar seperti itu. . . tapi –" Kakashi menggantungkan kalimatnya. Udara di sekitarnya mendadak terasa berat. "Seseorang dibalik Shion lah yang seharusnya anda waspadai."
"Maksud paman?"
"Sebenarnya sudah lama saya ingin mengatakan ini. Sewaktu anda masih berhubungan dengan Shion, baik tuan dan nyonya besar menyuruh saya menyelidiki semua latar belakang Shion. Hasilnya adalah memang dia seorang yang seperti saat ini –model besar, namun semua yang menyangkut asal usulnya ternyata hanya kebohongan semata dan satu hal yang pasti –"
"Jangan bertele-tele paman. Katakan apa yang harus aku tahu." Potong Naruto.
"Dia memiliki relasi dengan orang berbahaya. Saat pernikahan kalian dulu ternyata dia pergi ke luar negeri untuk menemui seseorang. Dan anda akan terkejut jika tahu siapa yang ditemui Shion." Kakashi mengeluarkan map yang masih tersegel. "Mendapatkan file ini sangat susah, jadi saya mohon pergunakan dengan hati-hati."
File yang dibawa Kakashi bukan file sembarangan. Segel dengan stampel merah menunjukkan bahwa apapun di dalamnya adalah hal sangat rahasia. Salah satu file berkode milik pemerintah pusat. Kakashi harus menggunakan beberapa hal licik untuk membuat petinggi kejaksaan agar mau untuk memberinya salinan file tersebut.
"Ootsuki Toneri, tergabung dalam organisasi gelap antar negara, China, Korea dan Jepang. Dia dicurigai memiliki bisnis illegal dengan nama samaran. Tapi pihak inteligen masih harus mengumpulkan banyak bukti untuk membuktikan hal ini. Bisa dibilang dia ada hubungannya dengan sindikat mafia garis keras. Ini fotonya." Kakashi menyodorkan foto seorang pria pada tuan mudanya. Naruto intens melihat, tangannya terkepal. Dia reflek mengumpat.
"Fuck! Lelucon macam apa ini." Tangannya menarik laci dan mencocokkan hal lain yang dia miliki. "Bukankah dia mirip dengan pria bajingan itu? Dia lelaki yang beranih menyentuhkan tangannya pada Hinata lima tahun yang lalu." Geram Naruto. Mana mungin dia melupakan pria bajingan itu.
Meski warna rambutnya dibuat berbeda namun wajah serta garis wajahnya menunjukkan kemiripan. Jelas sekali bukan kebetulan semata.
"Jika tidak salah ingat, ada dari beberapa nama samarannya yang pernah bertarung tender besar dengan kita. Kemungkinan Shion dan Toneri sudah saling kenal. Saya khawatir merekalah yang merencakan semua hal buruk pada tuan selama ini." Kakashi tidak asal berbicara. Melihat dari pola serta segala hal yang dimiliki oleh pria bernama Toneri itu, dia beransumsi bahwa Toneri memiliki ambisi buruk pada Naruto.
Naruto berpikir sejenak. Ini terlalu berbahaya. Apalagi hingga melibatkan orang terdekatnya. Dunia bisnis terkadang memang kejam. "Bila dia memiliki dendam padaku aku tidak peduli. Namun, akan sangat berbahaya bila targetnya berubah. Toneri, kupikir dia secara perlahan menjadikan Hinata sebagai tujuan barunya." Rahang Naruto mengerat. Dia membenci situasi yang menempatkan Hinata dalam bahaya. "Aku sendiri yang akan mencari tahu tentangnya."
"Tapi, tuan –"
"Tugasmu sekarang adalah tetap mengawasi Hinata dan putraku. Jauhkan mereka dari apapun yang mengancam. Sedangkan tugasku adalah menyingkirkan para bedebah itu." Putus Naruto. Dia sudah tidak bisa lagi berdiam diri. Ini menyangkut keluarganya, hal yang sangat dia jaga.
"Kesalahanku cukup melepaskannya. Aku tidak ingin kehilangannya lagi paman. Aku tidak akan memaafkan diriku bila Hinata dan Boruto tergores sedikit saja."
Dia tidak mau kehilangan lagi setelah apa yang terjadi antara dia dan Hinata di masa lalu.
"Kau tahu paman, sejak dulu aku selalu merasa bahwa aku tidak takut pada hal apapun. Selalu menganggap bahwa aku dapat mendapatkan hal aku inginkan atau mengendalikan segala kondisi sesuai keinginanku." Naruto tertawa paksa. "Tapi saat ini entah kenapa aku merasakan perasaan takut. Hinata dan Boruto, mereka kelemahanku, paman. Aku baru mendapatkan mereka. Lalu kini sekelompok bajingan tengah berusaha melukai mereka. Aku tidak akan segan untuk membuat siapapun orang itu merasakan apa itu neraka."
"Untuk sekarang biarkan seolah-olah kita tidak mengetahui hal ini. Mereka tidak boleh menaruh curiga bahwa kali ini merekalah yang akan kita intai."
"Baik, tuan muda."
"Dan, paman-"
"Ya?"
"Apa kau tahu sesuatu yang dapat melambangkan permohonan maaf?"
Ke dua alis Kakashi terangkat. Naruto sedikit berdehem, dia menutup sebagian wajahnya. "Aku membaca buku ini. Di sini dikatakan bahwa bila untuk membantu mendapatkan maaf seseorang aku harus memberinya sebuah bunga . Dan aku tidak tahu bunga yang seperti apa atau hal yang bagaimana."
Kakashi tersenyum, dia paham. Jelas Naruto ingin mengungkapkan maaf pada siapa. Entah kenapa kali ini Naruto mulai memerhatikan hal kecil seperti itu. Kakashi menyukai perubahan kecil tuan mudanya ini.
.
.
.
Kelopak Hinata bergerak terangkat. Dia terbangun, kompres di kepalanya dia pegang. Semalaman dia terserang demam. Hinata masih belum menyesuaikan diri, tubuhnya masih butuh pembiasaan. Ingatannya masih buram. Ketika kakinya turun dia terjatuh. Dia tidak bisa bergerak, bagian bawah dirinya nyeri. Tubuh Hinata menegang, dia ingat semuanya.
Matanya horror menatap kesegala arah. Dia belum siap bila harus melihat sosok Naruto. Kepalanya masih pening, namun Hinata memaksakan diri untuk berdiri meski hasilnya tetap sama. Kakinya kebas. Dia tidak dapat bergerak lebih dari ini.
Tangannya meremat seprai, semalaman Naruto memasuki dirinya. Hinata meraba perutnya, terasa penuh. Dia ingin muntah. Naruto membuat berantakan dirinya. Bayang-bayang ketika pria itu memaksakan bagian tubuhnya masuk secara paksa tidak dapat Hinata hilangkan. Bahkan tubuhnya akan gemetar hebat setiap mengingat dengan jelas sentuhan panas yang ditorehkan Naruto.
Tubuhnya merekam sentuhan Naruto secara berlebihan.
"Hueekkk." Hinata menutup mulutnya. Sesuatu dalam perutnya bergejolak ingin keluar. Hanya ada cairan bening yang keluar ketika Hinata kembali merasakan perutnya bergejolak. Lambungnya perih dan kepalanya terasa berputar.
"Hinata!"
Naruto baru membersihkan tubuhnya dan hanya mengenakan celana hitam pendeknya dengan handuk yang disampirkan ke bagian leher begitu saja. Dia mendengar suara rintihan dan dia bergegas untuk mengeceknya. Naruto mendapati Hinata terduduk di lantai. Dia panik. Jantungnya seperti berhenti beberapa detik. Naruto membantu Hinata untuk berbaring, namun sebelum itu dia menyeka sisa cairan dari muntahan Hinata dengan tangannya sendiri.
Naruto tidak merasa jijik, justru dia merasa sangat khawatir. Dia belum pernah melihat kulit mantan istrinya ini begitu pucat. Seolah tidak ada darah yang mengalir di sana. Dia tidak tahu Hinata memiliki riwayat anemia. Apapun itu kondisi Hinata saat ini sangat berantakan.
"Tetap di tempatmu. Apa kau merasa sakit? Bagian mana yang sakit?" Naruto bertanya sambil mengecek seluruh tubuh Hinata. Memastikan tidak ada luka serius yang tertinggal. Dia takut Hinata benar-benar dalam keadaan buruk.
"Maafkan aku. Seharusnya aku menjagamu lebih baik lagi." Bisik Naruto pelan. "Aku tidak akan membiarkan mereka kembali membuat buruk dirimu."
Hinata ternganga. Dia tidak percaya bahwa Naruto masih mengungkit masalah foto itu padahal bukan hal itu yang melukainya. Tapi, cara Naruto memperlakukan dirinyalah yang disesalkan Hinata.
Bukankah ini yang diinginkan Naruto darinya? Pria dewasa ini pintar sekali memainkan hidupnya.
"Le-lepaskan." Suara lemah Hinata menepis tangan Naruto. Dia merinding, tubuhnya terasatersengat kala kulitnya disentuh secara langsung oleh Naruto.
Namun Naruto tetap tidak peduli. Baginya kini keadaan Hinata adalah yang terpenting. "Aku akan menelpon dokter pribadiku. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu."
"Kau yang membuatku buruk, Naruto. Kau yang merusak diriku!"
Tubuh Naruto kaku sekejab. Dia paham maksud Hinata.
"Kenapa kau melakukannya padaku? Sebagai orang yang sudah tidak memiliki hubungan, kau sudah sangat kelewatan." Hinata meremat selimutnya. Dia benci ketika harus menangis di depan pria ini. Dia tidak ingin terlihat lemah tapi nyatanya dia benar-benar jatuh.
Tangannya berusaha menutup bercak-bercak merah di sekujur lengan yang terlihat. Hinata yakin di seluruh tubuhnya ada bekas seperti ini. Naruto melihat mata lavender Hinata mulai basah, dia mengeram, mencoba menahan perasaan bersalah karena dia tidak mau apa yang telah mereka lalukan semalam adalah kesalahan.
Itu bukan kesalahan. Dia murni melakukannya dengan perasaan walau ada dorongan emosi di awalnya. Meskipun Naruto yang memaksa secara sepihak. "Aku tidak bisa menahan perasaan itu Hinata. Aku tidak mampu berbohong bahwa aku baik-baik saja ketika orang lain menjebakmu untuk menjatuhkanmu. Kau tentu paham diriku kan, apa kau pikir aku akan berdiam diri saja ketika milikku tengah dipermainkan, disentuh orang lain apalagi diperlihatkan dengan cara rendah seperti di foto itu."
"TAPI AKU BUKAN MILIKMU –hkss, bukan lagi menjadi kepunyaanmu sejak kau memaksaku menandatangani surat perceraian itu." Dadanya seolah meledak. Membuncah bersamaan dengan semakin banyak gestur kekecewaan yang tidak bisa disembunyikan. Meski suaranya bergetar tapi Hinata tetap melanjutkan perkataannya.
"Kau selalu mempermainkan hidupku. Kita akan saling melukai bila kau tetap berusaha mempertahankan apa yang telah kau lepas. Bahkan aku masih merasa sakit ketika harus mengingat perkataanmu tentang hubungan kita adalah kesalahan di waktu lalu."
"Kau membuatku bingung. Setelah semua ini apa lagi yang akan kau ambil dari diriku?"
Raut wajah Naruto menjadi tegang. Giginya saling menekan namun dia berusaha agar dia tidak kembali membuat Hinata semakin membencinya. Masa lalu selalu menjadi alasan Hinata untuk menolaknya. Naruto tidak bisa begitu saja membiarkan Hinata lepas dari pandangannya. Berada dalam pengawasannya saja Hinata masih mendapat hal seperti ini, bagaimana bila dia benar-benar membiarkan wanita ini bebas tanpa ada dirinya.
Jangan harap!
Naruto tidak mau mengambil resiko terlalu besar. Lebih baik Hinata terus memandangnya benci daripada dia membiarkan ibu dari anaknya ini berada dalam bahaya. Hinata tidak perlu tahu tentang ombak besar yang mengancam. Dia harus tetap merasa aman apapun yang terjadi. Prioritas Hinata adalah membesarkan Boruto dengan baik dan Naruto akan memastikan keduanya tidak secuilpun dilukai.
Dulu wanita itu sudah dia sakiti. Cinta nyatanya tidak cukup untuk membuatnya mampu melindungi Hinata. Bahkan karena rasa yang dinamakan cinta, Naruto tidak tahu siapa yang harus dia percaya. Dia meremat tangannya, kebodohannya dulu memang tidak termaafkan. Tapi kali ini dia tidak akan mengulanginya.
Tidak akan melepas Hinata walau dia sendiri yang meminta.
"Aku melakukan apa yang harus aku lakukan. Mungkin caraku melukaimu. Tapi, aku tidak merasa menyesal." Hinata terperangah dengan perkataan Naruto. Pria itu seolah sama sekali tidak merasa bersalah. Hinata bergeser menjauh ketika Naruto duduk di pinggir kasur. Naruto meraih tangannya, mencium sebuah cincin yang baru Hinata sadari telah melingkar di jari manisnya.
"Tempat teraman bagimu adalah di dekatku. Saat ini orang yang harus kau percaya adalah diriku. Hinata, menikalah denganku."
Lihat bukan, pria ini benar-benar seenaknya. Hinata tertawa hambar. Lucu sekali. Dia ingin tertawa dengan semua lelucon yang Naruto buat. Ingin sekali Hinata mengumpat atau mengeluarkan semua perkataan kasarnya. "Lihat dirimu, Naruto. Apa kau kembali akan memaksaku seperti pernikahan pertama kita?"
"Apa waktu sebulan yang kau janjikan adalah omong kosong? Tidak ada pernikahan di perjanjian kita. Kita hanya perlu bertindak seperti orang tua sebagaimana mestinya bagi Boruto. Tanggung jawabmu hanya itu saja, jangan menuntut lebih dari itu."
Hinata merasa tidak nyaman, Naruto menatapnya datar. Sangat datar seolah ucapannya barusan sangat menyakitinya. Lalu apa yang harus dilakukannya untuk keluar dari ini semua? Hinata menarik napas panjang. Bahkan dia tidak yakin akan perasaan Naruto padanya.
Terlalu abu-abu untuk diraba.
Dia telah berusaha hingga sejauh ini. Dia sudah berhasil memendam perasaan apapun untuk mantan suaminya ini. Hinata tidak ingin semuanya hancur kembali karena pasti dirinya yang akan memikul rasa sakit itu.
"Kau di sini, istirahat. Aku akan menelpon dokter untuk memeriksamu." Naruto memutus pandangannya pada Hinata. "Bila tubuhmu masi belum cukup untuk berdiri, aku akan menyuruh maid untuk mengantarkan makanan ke sini. Aku tahu semalam memang berlebihan."
Sontak wajah Hinata sedikit memerah. Naruto mengingatkannya kembali tentang hal gila semalam yang mereka lakukan. Mereka benar-benar telah melakukannya. Hinata mencoba mengenyahkan rasa ketika sebagian milik Naruto berada di dalam tubuhnya. Itu terlalu memalukan untuk diingat.
Setelahnya Naruto benar-benar meninggalkannya. Hinata menggosok punggungnya yang memang sedikit ngilu. Dia kembali rebahan lalu mata putihnya menangkap sesutu yang ganjil di sebelahnya.
Serangkai mawar putih yang berjumlah 15 batang berada di sampingnya. Hinata mengambilnya, melihat bucket bunga yang dia tidak tahu sejak kapan berada di dekatnya. Tidak ada keterangan apapun, hanya sebuah kartu kecil diantara kuntumnya. Sebuah tulisan kata 'maaf' dan Hinata tahu siapa yang memberikannya.
Hatinya langsung bergemuruh. Adrenalinnya seolah terpacu. Dia tahu Naruto orang yang seperti apa. Hatinya cukup keras dan Hinata terkejut ketika lelaki itu memberinya bunga sebagai permintaan maaf. Bahkan sebenarnya dia tidak akan menyangkah bahwa Naruto akan mengatakan maaf kepadanya. Bukankah pria itu dulunya memiliki sifat egois yang tinggi.
Bunganya masih segar. Hinata tidak tahu apakah ada toko bunga yang buka sepagi ini. Dan dia juga baru menyadari bahwa di jari manisnya telah terlingkari oleh cincin yang masih dia ingat cincin apa itu. Cincin emas murni dengan satu batu shapire sebagai matanya. Jantung Hinata semakin berdegup kencang. Keseriusan ucapan Naruto mulai muncul satu per satu, dan baru saja Hinata kembali menjatuhkan harga diri pria itu.
Dia menolaknya.
.
.
.
"Papa, di mana mama?" Kunyahan di mulut Boruto belum sepenuhnya habis, dia tidak melihat mamanya sejak pagi. Akhir-akhir ini bocah kecil duplikat Naruto itu lebih seringa melakukan aktifitas secara mandiri. Boruto merindukan Hinata. Naruto menutup layar smartphone yang menunjukkan grafik saham beberapa perusahaanya lalu mengalihkan pandangannya pada Boruto.
Dia mengambil tisu dan membersihkan sisa saus keju yang berada di sekitar mulut putranya. Naruto belajar secara cepat bagaimana menjadi seorang ayah yang dapat diandalkan. "Istirahat sayang. Mama mengatakan sedikit lelah dan hari ini Boruto sepenuhnya bersama papa."
Tidak hanya itu, Naruto juga membantu Boruto untuk meminumkan susu secara pelan-pelan. Naruto menikmati perannya sebagai seorang ayah. Sangat menyenangkan, dan terkadang dia melupakan pekerjaanya. Naruto ingin terus menemani Boruto. Melihat perkembangan putranya secara langsung."Dan bagaimana kabar sekolahmu jagoan, apakah menyenangkan?"
Boruto mengangguk, garpu yang berada di tangan kecilnya menusuk-nusuk daging giling yang dimasak seperti nuget. "Menyenangkan, banyak mainan di sana dan juga aku mendapatkan teman-teman yang baik." Gigi yang telah tumbuh hampir sempurna terlihat berderet rapi ketika dia nyengir. Wajahnya sangat mirip dengan Naruto ketika masih masa kanak-kanak.
Naruto ikut tersenyum. Dia merasa lega karena Boruto mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya. "Apakah kau sudah membawa kaos olahraga? Jadwalmu hari ini adalah senam." Jarinya menggeser beberapa note yang berisi jadwal harian Boruto yang sengaja dia simpan dalam ponselnya.
"Nanti pa, setelah makan hehe."
Tanpa keduanya sadari sebenarnya Hinata berada tidak jauh dari mereka. Dia masih saja merasa canggung untuk ikut bergabung sarapan pagi bersama. Hinata masih belum terbiasa untuk berada di dekat Naruto. Dokter yang memeriksanya juga mengatakan bahwa dia hanya mengalami stress dan kelelahan. Butuh istirahat dan meminum vitamin untuk memulihkan kembali tenaganya.
"Mama, apa yang kau lakukan di sana?"
Ke dua mata Hinata mengerjap, dia tidak tahu bahwa Boruto akan melihatnya. Dia menghampiri Boruto. Mencium sekilas ke dua pipi anaknya. Akhir-akhir ini Hinata merasa dia jarang membangunkan Boruto. Putranya sudah bisa bangun sendiri. "Apakah bekalmu sudah siap?" Hinata khawatir Naruto melupakan bekal makan siang anaknya.
"Jangan khawatir ma, semuanya sudah berada di dalam tas. Papa yang membantuku untuk memilih apa yang harus aku bawa hari ini." Hinata menggigit bibirnya. Dia masih belum dapat mengakui bagaimana Naruto bekerja sebagai seorang ayah. Pria dewasa itu masih makan dengan tenang. Hinata yakin dokter yang memeriksanya telah memberitahukan keadaanya pada Naruto.
"Selesai." Boruto telah menyelesaikan makannya. Dia mengambil piring lalu membawanya ke belakang. Untuk hal itu, Hinata lah yang mengajarinya agar setelah makan harus di bawa ke belakang.
"Makanlah, aku meminta maid untuk memasakkan bubur ayam untukmu." Naruto yang pertama bersuara ketika hanya ada mereka berdua di meja makan. Hinata melihat ada semangkuk bubur hangat di meja makan. Perutnya memang sedang tidak bagus, dokter menyarankan agar dia makan makanan yang halus.
"Aku akan mengantar Boruto. Yang perlu kau lakukan sekarang hanya fokus pada kesehatanmu. Jangan lagi melakukan sesuatu yang nekad. Ini pakailah untuk dirimu." Naruto menyerahkan satu ponsel baru pada Hinata. Sebelum Hinata menolak Naruto memotongnya. "Bila terjadi apa-apa tekan tombol satu karena sudah aku setting agar langsung menelponku."
Sadar tidak bisa menolak, dengan sedikit ragu Hinata menerimanya. Naruto melihat jari tangan Hinata ketika wanita itu meraih pemberiannya. Cincin yang dia pakaikan tidak lagi tersemat. Dia sedikit mendecakkan lidah. Apa yang dia baca dari buku berjudul 'Perekat hubungan dengan mantan istri' yang dia beli secara diam-diam nyatanya tidak berhasil.
Naruto meletakkan sendoknya sedikit kasar. "Aku selesai." Dia berkata dengan nada terkesan dingin dan kesal. Hinata tidak tahu apa sebabnya, lalu dia melihat arah pandangan Naruto pada jarinya. Dia tidak mengenakan cincin. Hinata melepasnya ketika mandi. Cincin itu masih disimpan Hinata di sakunya. Dia tidak mungkin membuangnya, namun juga belum bisa untuk memakainya.
Lalu Naruto pergi begitu saja dengan wajah datarnya.
Entah kenapa Hinata juga merasa tensinya sedikit terpancing oleh sikap Naruto. Apa pria itu sudah mulai menyerah? Naruto mengabaikannya dengan bersikap dingin. Apa perkataan penuh percaya diri Naruto untuk membuatnya kembali hanya bualan semata? Tanpa sadar bibirnya manyun. Hinata sudah dewasa, dia seorang ibu dari satu anak. Tapi entah kenapa ada bagian di dalam dirinya yang merasa kesal.
Hinata memakan sup ayam dengan rasa yang hambar.
.
.
Empat berlalu begitu saja. Hinata tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Dia juga tidak harus membersihkan ulang rumah ini karena maid telah melakukannya lebih dulu. Hinata menggerutu, dia bosan ketika harus berdiam diri seperti ini. Beberapa waktu yang lalu dia masih harus mengerahkan semua tenaganya untuk bekerja, lalu kini tiba-tiba dia disuruh untuk tidak melakukan apapun.
Sebenarnya Hinata ingin memasak. Bukan berarti dia akan membuatkan bekal makan siang Naruto dan mengantarkannya ke perusahaan seperti dulu. Tidak! Hinata tidak akan melakukannya. Lagi pula perkataan Naruto agar dirinya tetap di rumah entah kenapa terdengar seperti ancaman. Bagimanapun juga dia masih teringat dengan insiden foto itu. Dia tentu merasa bersalah, secara tidak langsung dia mencoreng nama baik keluarga mantan suaminya.
Hinata benar-benar tidak tahu kelanjutan dari insiden itu. Namun yang Hinata herankan kenapa dia tidak mendengar berita seperti yang dikhawatirkan oleh Naruto. Tidak ada pemberitaan heboh atau semacamnya. Tidak seperti dulu sampai dia harus menyembunyikan diri dari kejaran para pemburu berita.
Dia bukan dari kalangan artis. Tapi hidupnya sudah seperti dorama yang dulu sering dia lihat. Hinata mencoba menikmati waktunya, dia menyalakan televisi, melihat-lihat channel yang dirasa menarik. Salah satu infotaiment menarik perhatiannya. Manik bulannya fokus memperhatikan ketika di balir layar LCD itu terlihat mantan suaminya dikawal oleh beberapa orang berpakaian hitam.
"Tuan, ada desas-desus yang mengatakan bahwa anda mengancam beberapa pihak agensi berita agar berhenti? Dan hal itu karena sebuah hal yang masih menyangkut keluarga anda –lebih tepatnya mantan istri anda?"
"Lalu apakah benar bahwa hubungan anda dengan Shion telah berakhir karena masuknya pihak ke tiga? Banyak di luar sana mengatakan bahwa mantan istri anda dendam dan berencana membalas anda dengan berusaha menjatuhkan nama baik anda."
Hinata menegang. Dia pikir bahwa semuanya baik-baik saja, tapi semuanya jelas sedang tidak baik-baik saja. Reflek dia menggigit bibirnya hingga memerah. Hinata pernah mengalami hal pahit akibat berita-berita seperti itu. Semuanya akan diputar balikkan. Beberapa pihak dapat menggunakan media sebagai perantara untuk menghancurkan seseorang. Hinata belajar dari pengalaman.
"Apakah benar bahwa karena telah bercerai dengan anda dia menjadi kekurangan ekonomi hingga melakukan pekerjaan sampai sejauh itu?"
Terlihat Naruto berhenti berjalan. Beberapa blitz kamera menerpa wajah tampannya yang terlihat dingin. Kaca mata hitamnya di lepas. Dia tenang meski gesture wajahnya sangat bertolak belakang. "Maksudmu –sampai sejauh itu' sejauh apa?" Reporter wanita itu menelan ludah gugup. Manik biru yang eksotis entah kenapa terlihat begitu mengintimidasinya.
Dia terlihat tidak ada apa-apanya dengan tatapan milik seorang Uzumaki Naruto. Seolah bisa mengulitinya tanpa perlu sebuah pisau. "Ma-maksud saya –"
"Kuingatkan jangan campuri urusan pribadiku, nona. Aku tidak akan mengatakan hal apapun tentang foto yang kalian maksud." Biru shapirenya melihat lurus ke arah kamera. Naruto seperti mencoba memberikan peringatakan kepada siapapun di sana. Kakinya melangkah ke depan. Selanjutnya dia kembali berjalan dengan kepercayaan dirinya.
Hinata tahu bahwa secara tidak langsung Naruto tengah berusaha melindunginya. Lalu apa yang telah Naruto lakukan? Hinata merasa kepalanya kembali berputar, dia memang ceroboh saat itu. Dia tidak ingin terlalu menyeret Naruto namun takdir malah menyangkut pautkan dirinya dengan Naruto. Seolah apapun yang dia lakukan akan berakhir dengan Naruto.
"Kenapa kau sampai sejauh itu, Naru? Padahal dulu kau membiarkan mereka melukaiku."
Tidak terlalu lama, kemudian Hinata mendengar seseorang memanggil namanya. Dia menuju ke arah depan, melihat bahwa Kushina datang berkunjung dengan membawa sesuatu yang Hinata tidak tahu apa itu.
"Hinata, menantu ibu." Kushina berteriak heboh. Dia berlari menghampiri Hinata lalu memeluk wanita berambut biru gelap itu dengan hangat. Hinata keheranan. Naruto tidak memberitahukan perihal kedatangan ibunya.
"Kenapa ibu di sini? –ah maksudku bila ibu menginginkan bertemu biarkan aku saja ke tempat ibu." Hinata merasa tidak enak. Dia sangat menghormati ibu dari Naruto ini. Hinata menghawatirkan kesehatan ibunya.
"Ibu merindukan putri ibu. Di rumah utama sangat sepi, jadi ibu putuskan untuk menemuimu. Dan, ini oleh-oleh yang ibu bawa." Bungkus dengan harum roti tercium. Kushina membelikan kue lapis dengan selai bluberry. "Apa kau baik-baik saja? Kakimu terkilir?" Mata Kushina jeli memerhatikan cara jalan Hinata yang sedikit berbeda.
Tiba-tiba saja Hinata gugup. Pipinya sedikit memerah. Kakinya memang masih sedikit kram untuk berjalan, namun Kushina tak harus tahu alasannya. "Ha-hanya kram biasa bu, bukan masalah besar."
"Baguslah."
"Sebenarnya ada hal yang ingin ibu bicarakan denganmu." Hinata was-was. Mungkin Kushina sudah tahu mengenai berita dirinya. Hinata menunduk, dia merasa malu sekaligus tidak enak hati karena melakukan hal buruk pada nama besar keluarga Uzumaki.
"Bisakah ibu meminjam cucu ibu untuk beberapa hari ke depan?"
"Eh? Maksud ibu?" Dia belum paham. Kushina memberikan senyum lebarnya yang sedikit mirip dengan cara Boruto tersenyum.
"Akan ada kegiatan amal di Paris. Seperti kegiatan penggalang dana untuk donasi kesehatan anak-anak yang kurang mampu. Memang Minato ikut menemani ibu, namun akan lebih menyenangkan bila kami juga membawa Boruto ikut. Kami ingin liburan juga bersama Boruto." Mata Kushina berbinar penuh harap. Sebenarnya sudah lama dia ingin meminjam Boruto sebentar, dia ingin menghabiskan waktu lebih lama beserta cucunya.
Kushina merindukan mengasuh anak kecil seimut Boruto. Dia bisa mengajaknya bermain, karena bila hanya ada Minato saja Kushina merasa bosan. Suaminya akan selalu melarang ini itu dan oleh karena itu dia ingin membawa Boruto sekaligus.
Sebenarnya bagi Hinata, dia tidak pernah berpisah dengan anaknya sejauh itu. Boruto akan selalu berada dalam jangakaun matanya. Namun melihat ibunya memohon dengan penuh harap, Hinata dilema. Dia tidak ingin membuat Kushina kecewa. Hinata mengangguk. "Tidak apa-apa. Berapa hari ibu di sana?"
"Tidak akan lama, hanya seminggu. Selebihnya kami akan membawa Boruto kembali padamu."
"Hmm, dan kapan ibu berangkat?"
"Besok sayang."
Itu artinya Hinata harus menyiapkan segala keperluan Boruto untuk pergi beberapa hari. "Aku akan menyiapkan keperluanya, bu. Tapi apakah ibu sudah memberitahukannya pada Naruto? Ku-kupikir dia juga berhak tahu, karena dia juga wali Boruto."
Kushina mengangguk. "Ibu telah mengatakannya, dan dia bilang bahwa semua keputusan berada di tanganmu."
"Ibu akan ikut untuk membantu menyiapkan pakaian Boruto. Mungkin lain kali kita harus keluar bersama." Kushina mengerling pada Hinata. Ibu dari Naruto ini memang suka bepergian. Banyak kegiatan sosial yang dilakukan.
"Tapi jangan lupa pada kesehatan ibu." Ingat Hinata. Kadang ketika sudah banyak kegiatan maka ibunya ini akan jatuh kelelahan. Kushina mendesah panjang. Dia selalu mendpt nasehat tentang kesehatan. Bukan berarti karena umurnya sudah senja maka semua orang terlalu mengkhawatirkannya.
"Kesehatan ibu dulu memang sempat terganggu karena ibu dulu kehilangan menantuku yang sangat aku sayangi."
"Tapi sekarang ibu sudah sehat. Ibu menuruti apa yang dokter katakan meskipun itu sedikit menjengkelkan, karena ibu ingin bermain bersama cucu ibu. Ibu juga berharap bahwa ibu bisa menggendong cucu ibu yang lain."
Hinata tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Secara tidak langsung Kushina mengharapkan dia dan Naruto bersatu kembali. Kushina menyadari kecanggungan Hinata. Dia tidak memaksa agar keduanya bisa bersama, Kushina hanya ingin melihat keluarganya utuh. Boruto akan lengkap memiliki kedua orang tua.
"Tidak usah dipikirkan sayang." Ucap Kushina. Dia menggenggam tangan Hinata. "Selama ibu masih dapat melihatmu secara dekat seperti ini, ibu sudah sangat bersyukur."
Mereka berdua lalu melanjutkan rencana mereka untuk mengepak pakaian Boruto. "Aku Hinata memilih perlengkapan yang sesuai sedangkan Kushina menatanya ke dalam koper. "Kemudian dia datang lagi dan bahkan membawakan ibu seorang cucu. Ibu tidak akan lagi sakit. Ibu janji. Terima kasih masih mau menjadi bagian dari keluarga Uzumaki, Hinata." Dan terima kasih masih bersedia untuk berada di dekat anakku.
"Ja-jangan seperti itu bu." Kushina selalu berlebihan dalam memuji, Hinata merasa masih perlu belajar banyak. Secara hukum dia sudah tidak memakai nama Uzumaki sebagai nama keluarga. Lagipula statusnya saat ini adalah ibu dari Boruto. Hubungannya dengan Naruto sendiri masih terlalu rumit.
.
.
.
"Paman, apakah ada jadwal meeting setelah ini?" Naruto menyandarkan diri di kursinya. Dia melonggarkan dasi dan membuka dua kancing kemejanya. Ini sudah siang, seharusnya dia beristirahat dengan makan atau minum. Namun Naruto tidak punya waktu untuk itu. Banyak hal yang harus dia lakukan.
Sebagai tangan kanan dan sekretaris pribadi Naruto, Kakashi lah yang bertugas menyusun semua jadwal tuan mudanya. "Untuk saat ini semua agenda anda telah rampung. Rapat dengan client dari Hongkong dan beberapa perusahaan lokal telah mencapai kesepakatan. Kita juga telah mempertahankan saham perusahaan meski terjadi penurunan, tapi beberapa hari akan naik kembali. Kemudian saat ini ada pertemuan tertutup dengan pihak media terkait foto mantan istri anda."
"Hm, mereka menggertak kita rupanya."
"Mereka mengatakan bahwa mereka memiliki saksi untuk itu. Shion, dijadwalkan datang bersama pengacaranya juga."
Pena yang Naruto pegang diremat. Shion telah berani melewati batasnya. "Wanita itu memang seharusnya disingkirkan."
"Kita juga memiliki saksi." Naruto menyeringai. Shion pastilah yang mengundang agensi berita ke sini. Wanita itu berusaha menggertak. Tapi dirinya sudah punya kartu tersendiri. "Apakah saksi kita sudah diberi perlakuan 'spesial'?"
"Sesuai perindah anda. Dia sudah menandatangani surat perjanjian yang telah kita buat. Sekali dia melanggar maka hidupnya akan berakhir."
"Baguslah. Shion harus sadar bahwa dia salah memilih lawan. Dan, pastikan terus tentang orang yang bernama Toneri. Dia bukan orang sembarangan, lengah sedikit maka dia akan menyerang kita. Dia terlalu bahaya untuk disepelehkan."
Sesuai jadwal yang telah direncanakan, Naruto masuk ke dalam ruang rapat bersama Kakashi. Pertemuan Naruto dengan pihak media dilakukan secara tertutup. Para media berita juga tidak boleh sembarangan dalam mengulik khidupan pribadi orang lain, terutama sang pebisnis raksasa macam Naruto. Dia bisa dengan mudah menghancurkan apa yang dianggap menghalanginya.
Suara high hells menyusul di belakang. Wanita cantik dengan pandangan culas memberikan senyuman pada Naruto. Rambut panjang yang dicat pirang dengan polesan make up glamor memberi kesan berkelas. Pleated skirt sebagai bawahan membuat Shion selalu memberikan tampilan yang indah. Mereka berdua cukup dekat, cukup dekat bagi Shion hingga dia dapat mencium sebentar pipi Naruto.
"Senang melihatmu baik-baik saja, mantan kekasihku." Senyum palsu mengembang di bibirnya. Shion kembali mendekat. Aroma parfum menthol bercampur pekatnya red rose tercium oleh Naruto. Shion selalu menyukai aroma menyengat yang dalam.
"Masih ada cukup waktu untukmu kembali padaku sebelum semua yang kau miliki hancur karena wanita sialan itu."
Naruto diam, dia sedang menahan dirinya untuk tidak melakukan hal yang tidak berguna. Naruto membalasnya datar. Kadang dia berpikir kenapa dulu dia sampai menyukai wanita itu. Shion memang cantik, dia punya aura memikat yang kuat. Namun bagi Naruto hanya ada satu wanita yang akan selalu dia gilai. Baginya Hinata adalah kesempurnaan.
Tidak ingin membuang banyak waktu lagi, Naruto segera membuka suara. Dia ingin hal ini cepat berakhir. "Aku mengerti mengenai apa yang ingin kalian dengar. Mengenai mantan istriku, dia tidak serendah itu untuk mau melakukan sesi foto seperti itu."
"Lalu apakah maksud anda itu hanya editan?" Salah satu orang dari media bertanya. Naruto mengamati sekilas. Ada beberapa pakar informatika yang mereka bawa. Tidak ada gunanya untuk menutupi.
"Kalian jelas tahu jawabannya." Shion ikut bersuara. Kakinya saling menyilang. Semua awak media menatap padanya. "Namanya Hinata. Mantan istri dari kekasihku. Lima tahun yang lalu dia diceraikan karena tertangkap oleh Naruto sedang bersama pria lain di sebuah kamar hotel. Mereka bercerai, kemudian hubunganku dengan Naruto mulai membaik."
"Namun, itu tidak bertahan lama. Tiba-tiba Hinata muncul. Dia juga mengaku telah melahirkan seorang anak."
Mata biru Naruto melirk tajam Shion. Wanita itu seharusnya berhati-hati terhadap perkataanya sendiri.
"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kupikir, Hinata merasa Naruto menelantarkan dirinya, tidak bertanggung jawab mengenai keberadaan anak mereka. Jadi, kurasa Hinata memang berusaha melakukan apapun untuk mendapatkan uang. Meskipun itu menjual dirinya sendiri. Dia wanita yang malang, tapi tetap saja moralnya telah rusak." Pihak media mencatat apa yang perlu. Mereka dilarang membawa recorder atau semacamnya. Shion tertawa dalam hati karena semua rencananya untuk menyudutkan Naruto menggunakan Hinata sudah mendekati akhir.
Dengan begini maka dapat dipastikan nama baik Naruto akan memiliki cacat.
Sekuat mungkin Naruto menahan diri, rahangany mengetat. Otot di sekitar kening menunjukkan bahwa dia benar-benar dapat menghabisi seseorang saat ini juga Seandainya tidak ada siapapun, dia akan menyeret Shion dan melakukan hal yang lebih berbahaya untuk membuat mulutnya diam.
"Jadi apakah keluarga Uzumaki telah memiliki seorang penerus? Woah, itu sebuah kabar yang mengejutkan." Mereka berpikir kabar itu akan sangat menjual. Apalagi bila memang yang dikatakan Shion adalah kebenaran. Mengenai sang anak yang ditelantarkan. Ini berita yang berharga mahal. Kehidupan pribadi sang raja bisnis memang terlalu menarik untuk dilewatkan.
Mereka membayangkan keuntungan macam apa yang mereka dapat bila dapat memberitakannya.
"Sayangnya dia tidak seperti apa yang dikatakan oleh nona Shion." Kali ini giliran Naruto yang akan membalikkan keadaan. "Meskipun aku dan Hinata telah bercerai namun kami masih saling mencintai. Perceraian itu hanyalah sebuah kesalahapaman dan kami telah menyelesaikannya." Gesture nya dibuat setetang mungkin. Kakinya menyilang dengan mimik terkontrol.
"Lalu, ah –mengenai putra kami. Secepatnya aku akan mengumumkan penerusku. Dia anak lelaki yang sehat. Kalian akan senang melihatnya, namun jangan sesekali berani mencoba mendekatinya tanpa seiijin dariku." Naruto memberikan peringatan. Dia telah memprediksi hal ini. Cepat atau lambat keberadaan Boruto akan diketahui oleh semua orang.
Shion geram mendengar pembelaan Naruto. pria itu terlalu melebih-lebihkan darah dagingnya. Dia semakin membenci Hinata. Kuku berlapis kutex merah saling meremat satu sama lain.
"Dan untuk perihal foto, bisa aku buktikan bahwa dia sedang dijebak. Mantan istriku bukanlah wanita rendah. Dia seseorang yang memiliki harga diri tinggi, aku tahu betul siapa Hinata. Dia adalah ibu dari anakku."
"Apakah anda memiliki bukti yang mendukung perkataan anda? Karena dari yang beredar dapat dilihat mantan istri anda memang bermasalah dengan anda." Pengacara Shion mencoba menggiring opini. Shion tersenyum lebar mendengarnya. Sepintar apapun Naruto mengelak tapi dia tidak memiliki bukti apapun. Bahkan dulunya dia memang menelantarkan Hinata dan anak mereka.
"Publik beransumsi bahwa anda telah lepas tanggung jawab dan mantan istri anda tidak memiliki penghasilan tetap untuk memenuhi kebutuhan dia dan –umm anak anda." Pengacara Shion membenarkan letak kaca matanya. Dia merasa pandangan Naruto mengulitinya.
"Tuan perhatikan ucapanmu!" Lama mendengar bagaimana mereka menghina Hinata benar-benar membakar kesabaran Naruto. "Aku memiliki saksi yang akan membuat klienmu diam. Bahkan kupikir dia akan berakhir di balik jeruji." Tegas Naruto.
Bola mata Shion melebar. Rencananya sudah rapi tanpa ada kecurigaan apapun, Toneri juga telah membersihkan semua hal yang dapat dicurigai. Skenario untuk kembali membuat renggang hubungan antara Naruto dan Hinata sudah sangat matang Shion susun. "A-apa maksudmu?"
Naruto menggunakan jari telunjuknya untuk memerintah. "Paman Kakashi, bawa orang itu ke sini. Tunjukkan pada semua orang yang berada di sini mengenai kebenarannya. Aku tidak sesabar itu untuk mendengar ocehan mereka yang terus menghina Hinata-ku."
Mendadak Shion merasa terancam. Dia berkeringat. Pandangannya tertuju pada sosok yang berada di balik pintu. Siapa saksi yang dimaksud oleh Naruto?
Mulut Shion ternganga. Tubuhya menegang dan dia langsung berdiri. Kakashi membawa masuk perempuan berambut merah marun ke dalam ruangan. Shion meradang, dia tidak percaya Naruto dapat menemukan apa yang seharusnya tetap tersembunyi. Sara berada di hadapannya.
"Ba-bagaimana bisa kau berada di sini?" tangan Shion hendak meraih Sara, namun berhasil dicegah oleh Kakashi. "Sara! Katakan kenapa kau berada di sini?!" Bentak Shion. Dia telah memberikan Sara tiket ke luar negeri. "Ja-jangan katakan bahwa kau mengkhianatiku."
Sara diam. Dia mengusap wajahnya beberapa kali. Dia tidak pernah menduga bahwa semuanya akan serumit ini. Sara merasa bahwa Shion yang telah menyeretnya terlalu jauh. "Justru kau yang pertama menipuku, Shion."
"Kau mengatakan bahwa kau akan melunasi hutangku bila aku membantumu. Tapi, kau tidak mengatakan siapa wanita itu." Sara tidak tahu bahwa target Shion adalah Hinata, dan Hinata memiliki hubungan dekat dengan Naruto, si raja bisnis di Jepang. Sialan! Sara hampir mati gara-gara hal ini. Dia hanya perantara, dia tidak tahu rencana Shion ketika dia meninggalkan Hinata sendiri saat itu.
Karena hal ini pula dia tidak dapat pergi ke luar negeri. Passportnya ditahan, tidak bisa digunakan secara legal. Sara mendapat mimpi buruk ketika tahu hal yang sebenarnya terjadi. Secara tidak langsung dia telah berurusan dengan pebisnis mengerikan seperti Naruto. Tidak butuh 24 jam bagi anak buah Naruto untuk menyekapnya, dan yang paling Sara takuti adalah pria bernama Kakashi. Dibalik wajah ramahnya yang tertutup masker, nyatanya dia dapat berubah menjadi mimpi buruk baginya.
"Kau menyeretku terlalu jauh, Shion. Semua ini rencanamu. Kau yang menyuruhku untuk mendekati Hinata. Aku hanya ingin membuka usaha sebagai seorang perancang busana. Kau membuatku berhutang banyak padamu dan berakhir seperti ini." Sara hampir menangis. Dia terisak pelan. Dia bukan aktris ataupun model seperti Shion. Dia hanya menyukai membuat pakaian lalu nasib buruknya membawa dia pada rencana Shion.
Shion membisu. Mulutnya tidak tahu harus berbicara seperti apa. Pasti ada kesalahan. Sara tidak boleh terus mengoceh, dia harus diam atau karir yang dibangunnya selama ini akan hancur. Dia adalah model berbakat, dia bersih. Dia selalu menjaga agar nama baiknya tetap menjadi ambassador kelas atas. Masih banyak kontrak model ataupun iklan yang telah dia tandatangani, dan bila sekarang nama baiknya tercemar maka akan banyak biaya yang akan dia keluarkan.
Tidak!
Tubuh Shion terhuyung ke belakang. "Ka-kalian jangan dengarkan ocehan wanita itu. Pikirannya pasti sedang terganggu. Dia sinting atau sedang berhalusinasi." Karirnya menjadi taruhan bila semua keburukannya terbongkar. Shion belum siap untuk kehilangan. Dia tidak akan siap untuk dihujat orang lain.
"Pertanggung jawabkan apa yang kau mulai. Aku sudah memperingatkan untuk tidak melewati batasanmu. Aku dapat memburumu, aku tidak takut dengan siapa kau bekerja sama. Tapi, semua masa depanmu berada di tanganku." Naruto menyeringai. Sudah sejak lama dia menginginkan melihat ekpresi Shion pucat seperti ini. Naruto tidak peduli dengan cara kotor yang dia lakukan.
Apapun asalkan keamanan Hinata dan buah hati mereka aman, maka Naruto sudah tidak peduli lagi.
"Mereka –" Pandangan Naruto menatap para media satu persatu, lalu kembali memfokuskan netranya pada Shion. Dia menepuk bahunya. "Mereka dapat kukendalikan sesuka hati. Memohonlah padaku untuk mengasihanimu." Naruto ingat beberapa potongan masa lalunya ketika Hinata memohon padanya. Semua hal buruk yang dia torehkan pada wanita itu semua karena Shion. Naruto geram setengah mati.
Seharusnya Hinata berada di sini untuk melihat Shion kehilangan semua yang dia miliki. Sebaik apapun Hinata tapi bila melihat raut kehancuran Shion pastilah dia akan merasakan kepuasan. Tidak perlu Hinata mengotori tangannya, cukup dialah yang akan menyingkirkan semuanya.
Karir Shion akan tamat. Dia tidak akan lagi berani menampakkan dirinya di depan publik setelah tahu kejahatan apa saja yang telah dia perbuat.
"Waktu pertemuan kita telah usai. Bila masih ada yang ingin kalian tanyakan silahkan untuk bertanya dengan nona Shion. Dia mempunyai semua jawaban yang kalian butuhkan –"
"Dan satu lagi. Hentikan semua pemberitaan mengenai mantan istriku. Jangan memancingku untuk menghancurkan kalian. Hampir 50% saham yang dimiliki agensi kalian berasal dariku. Aku tidak akan berbaik hati melepaskan kalian bila tetap melakukannya."
.
.
.
Ketika Naruto pulang, dia mendapati Boruto bersama dengan Hinata tengah berada di ruang keluarga. Entah apa yang sedang mereka lakukan. Dia tidak sempat untuk menjemput Boruto, anaknya dijemput oleh supir pribadi yang telah dia perintahkan. Naruto akan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Harinya cukup melelahkan.
Tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk mandi. Naruto masih mengeringkan rambutnya. Dia hanya mengenakan boxer, Naruto akan mengganti pakaian bila saja dia tidak mendapati sosok Hinata berdiri di dekat pintu. Naruto cukup terkejut, biasanya Hinata selalu menunjukkan rasa tidak suka. Dia akan menjaga jarak lalu tiba-tiba sekarang dia berada dalam satu ruang –kamar dengannya.
"Apa ada sesuatu?"
Bola mata Hinata mengerjab. Dia tersentak ketika menyadari Naruto berjalan ke arahnya. Dia mengalihkan pandangan. Hinata tahu Naruto baru selesai mandi, tapi apakah pria ini tidak sekalian berganti pakaian di dalam kamar mandi? Tubuh basahnya membuat pandangan Hinata mengabur. Sabun citrus segar menguar dari pori badannya.
Hinata tidak menderita penyakit pernapasan namun kenapa dia jadi sulit bernapas?
"Kau masih merasa sakit?" Suara Naruto khawatir. Memang wajah Hinata tidak sepucat sebelumnya namun apapun yang berhubungan dengannya pasti akan ditanggapi berlebih oleh Naruto.
Hinata menggelengkan kepala. Obat yang telah dia minum sudah membaikkan keadaanya. "Tadi ibu ke sini. Ibu mengatakan bahwa besok dia ingin mengajak Boruto ke Paris. Apakah kau sudah tahu?" Jantung Hinata berdegup berisik. Dia masih ingin bertanya mengenai pemberitaan yang dia lihat di tv. Tapi dia masih kesulitan mengungkapkannya.
Apakah Naruto baik-baik saja?
"Ibu sudah mengatakan padaku. Kupikir kaulah yang berhak memutuskannya."
"Aku menyetujuinya, Boruto juga sudah kuberitahu dan anak itu terlihat sangat senang. Semua perlengkapannya telah ku siapkan, beberapa bahkan telah di bawa ibu untuk dikirim terlebih dahulu ke Paris." Hinata menjedah sebentar apa yang ingin dia katakan.
Hinata menatap sosok Naruto. Pria dengan potongan rambut pendek di depannya ini nampak sangat dewasa. Dia terlihat baik-baik sana namun Hinata terlanjur penasaran dengan pemberitaan yang masih terus dia pikirkan. Apakah dampaknya mempengaruhi perusahaan? Hinata akan merasa bersalah bila itu benar terjadi. Dia telah menyebabkan masalah bagi orang lain.
"A-apakah semuanya berjalan dengan baik?" Tangannya gemetar hanya untuk menanyakan hal itu. Hinata canggung dan gugup. Dia berharap Naruto tidak hanya diam saja. "Aku lihat di pembeeritaan –"
"Ssttt…"
Paham tentang maksud Hinata, Naruto memberinya sebuah senyuman. Jempolnya mengusap lembut bibir Hinata. "Jangan mengkhawatirkan apapun." Andaikan mereka tidak dalam sebuah hubungan yang rumit, Naruto ingin sekali mencuri ciuman dari bibir merah Hinata yang sedikit terbuka. Dia pria normal, berdekatan dengan seseorang yang dia cintai tanpa bisa melakukan kontak lebih terkadang membuat Naruto frustasi.
Mendadak Naruto merasa sedikit gerah. Dia baru saja mandi namun hal itu seolah sia-sia. Tubuhnya mulai menghangat. Berahinya muncul di saat yang tidak tepat. "Bisakah kau ke luar, Hinata?"
Sifat terlalu memikirkan orang lain membuat Hinata mengabaikan hal yang dipinta Naruto. Dia malah tetap berdiri di sini dan mendekatkan dirinya dengan si pria.
Otomatis Naruto berjalan mundur.
"Wajahmu sedikit memerah. Apakah harimu memang tidak sebaik yang kau katakan? Kumohon, katakanlah hal sejujurnya, mu-mungkin aku bisa sedikit membantumu."
Naruto terkikik. Kenapa rasanya bisa sesenang ini mendengar bagaimana Hinata mencemaskannya. Dia bisa mati karena terlalu bahagia. Padahal tadi pagi Hinata masih memberinya tatapan benci, namun sekarang dia malah terlihat mengkhawatirkan dirinya. Kenapa Hinata bisa semenggemaskan begini!
"Aku hanya butuh sesuatu yang dingin. Kau membuatku semakin panas. Aku merasa ada yang salah dengan diriku." Sudah lama dia tidak berbicara banyak dengan Hinata. Jadi, jangan menyalahkannya bila dia ingin sedikit bermain dengan ibu dari anaknya ini.
"Apa yang bisa kulakukan untuk membantumu? Kau terlihat tersiksa."
Kekehan Naruto tidak terlalu Hinata dengar. Wanita itu sibuk dengan rasa cemasnya. Dan saat Hinata lengah, tangan Naruto menarik tubuh Hinata hingga menabrak dirinya. Naruto memeluk tubuh mungil Hinata, menenggelamkannya dalam kukungan lengan kekarnya.
"Aku membutuhkan ini." Bisik Naruto. "Sudah lama aku menginginkan bisa memelukmu." Hinata diam. Pelukan Naruto membuatnya kehilangan pijakan sehingga dia harus bersandar di dada bidang si pria. Rasanya sangat nyaman, Naruto menghirup rakus aroma tubuh Hinata. Wanginya lembut.
"Hariku sedang tidak terlalu bagus, banyak hal yang harus aku urus. Sangat melelahkan. Bisakah aku memelukmu beberapa menit?" Naruto menunggu beberapa detik sebelum dia merasakan kepala Hinata mengangguk. Dalam hati Naruto bersorak girang.
Sebenarnya Hinata sudah mulai melunak. Dia merasa bahwa Naruto tengah berusaha melindunginya meskipun kemarin pria ini sempat melakukan hal mengerikan. Bahkan caranya untuk meminta maaf membuat Hinata sedikit tersentuh. Naruto yang dulu tidak akan mau melakukannya. Naruto yang dulu akan meninggalkannya ketika dia menangis.
Bola mata Hinata berkedip beberapa kali. Dia merasakan bahwa Naruto memang benar-benar kelelahan. Rambut basah Naruto menyebabkan baju yang dikenakan Hinta mulai lembab. Tangannya bergerak ragu, antara mengelus punggung telanjang Naruto atau membiarkannya begitu saja.
Naruto memejamkan matanya. Rasanya hari ini adalah hari terbaiknya. Pundak Hinata menyediakan tempat yang luas untuk meletakkan kepalanya. Kelopak matanya sedikit terbuka ketika dia merasakan elusan halus pada punggungnya. Hinata membalas memeluknya bahkan berusaha menenangkannya. Naruto tidak menyangkah Hinata mau melakukannya. Ya Tuhan. Dia benar-benar merasa begitu bahagia.
Hinata pasti dapat mendengar dentuman di dada kirinya.
Sebenarnya bisa saja keadaan intim bagi keduanya berlangsung beberapa lama, namun pelukan mereka harus terlepas ketika Naruto mendorong Hinata menjauh.
"Maaf. Kau harus benar-benar ke luar Hinata. Tubuhku bermasalah, ada hal yang harus aku lakukan sebelum terlambat."
"Bermasalah? Apakah itu sesuatu yang buruk?"
"Ya, sangat buruk." Hinata mengigit bibirnya mendengar jawaban Naruto. Kebiasaan itu membuat bibir lembutnya akan semakin merah. Naruto berdecak kesal.
"Kalau begitu aku akan menelepon dokter. Dia pasti tahu apa yang kau butuhkan." Buru-buru Naruto mencegah Hinata melakukannya. Dia kembali tertawa. Hinata tidak mengerti kenapa Naruto terlihat itu hanya masalah sepele.
"Terlalu berlebihan jika memanggil dokter. Dia akan menertawakan 'masalahku'. Aku bisa mengurusnya sendiri, hanya saja aku membutuhkan tempat sendiri dan itu berada di balik pintu kamar mandi."
Hinata sebelumnya tidak terlalu paham, tapi ketika dia mengikuti arah pandangan mata Naruto, iris jerninya berhenti pada salah satu titik di tengah yang menjadi alasan kenapa Naruto menyuruhnya pergi. Napas Naruto memberat, dia mengeluarkan udara panas yang membuat Hinata bergidik. Tubuhnya meremang.
Benda yang seharusnya layu dan tertidur nyenyak entah kenapa bisa bangun. Naruto meruntuk dalam hati. Bendanya terlalu jujur untuk menampakkan diri seolah tak tahu malu. Meski masih belum menjulang, namun sudah setengah bengkak seperti berteriak 'aku siap' di waktu yang salah.
"Eh?"
Dan kenapa ekspresi Hinata harus sepolos ini? Naruto berdehem. Dia harus tetap mengendalikan dirinya., mengontrol kebuasan dalam dirinya agar tidak kelepasan lagi. "Jadi, bisakah kau ke luar. Setelah ini aku akan menyusulmu. Kuharap kita bisa makan malam bersama –dengan Boruto juga." Naruto merasa harga dirinya jatuh. Ini merupakan ajakan makan malam paling tidak romantis yang pernah dia lakukan.
Hinata mulai mundur teratur lalu segera berbalik keluar. Wajahnya memanas, dia mengipasinya dengan tangan. "Astaga." Tubuhnya merosot, dia malu. Dia bahkan beberapa kali menepuk-nepuk pipinya. Boruto berada tidak jauh dari situ menatap sang mama keheranan.
.
.
.
"Jadi, semuanya tidak sesuai rencana?" Toneri berbicara pada seseorang lewat telepon. "Shion sudah tidak dapat diharapkan. Naruto memang musuh yang berat hingga dapat membuat rencanaku berantakan."
"Aku tidak peduli dengan karir Shion. Aku telah menyarankan agar membunuh Sara namun dia malah memberinya tiket ke luar negeri untuk kabur. Kini dia digigit oleh ularnya sendiri."
Dua buah dadu yang di lempar menenjukkan angka kemenangan bagi Toneri. Permainan gambling memang menarik, dia selalu memenangkan taruhan besar.
Seorang wanita yang menjadi teman duduknya menyalakan pematik api. Toneri mengarahkan pelintingan rokok yang terselip di bibirnya ke api dan dia menghirup dalam-dalam asap nikotin yang tercampur obat-obatan mengaandung zat adiktif.
Sambungan selularnya masih terhubung dengan seseorang jauh di sana. "Kau tetap awasi tergetmu. Bila ada kesempatan aku akan menyapanya." Bibirnya terangkat membentuk senyum kejam.
"Naruto terlalu kuat untuk dilemahkan. Oleh karena itu terus amati Hinata, dia kelemahan Naruto, dan cara untuk membuat Hinata tidak dapat melawan dan menjadi penurut adalah dengan menggunakan anaknya." Toneri memutus sambungan selularnya. Dia sudah tidak tertarik bermain gambling. Semua lawannya sudah menyerah kalah.
Beberapa anak buahnya mengikuti kemanapun Toneri pergi. "Bisakah aku mendapatkan tiket penerbangan ke Jepang malam ini?"
"Anda tidak perlu memesan tiket penerbangan. Anda bisa menggunakan pesawat yang telah anda dapatkan dari permainan anda barusan."
"Baguslah. Kalian bersiaplah, malam ini adalah kita akan menuju Jepang. Aku harus mengunjungi wanitaku. Kira-kira apakah dia suka kejutan?"
Pengawal yang berdiri di belakangnya saling melirik satu sama lain. Mereka belum mengetahui segalanya tentang wanita yang bernama Hinata karena tugas untuk memata-matai wanita itu diberikan Toneri hanya pada satu orang kepercayaannya.
"Haha, jangan tegang begitu. Pasti semua wanita menyukai kejutan bukan? Hanya saja, aku belum memutuskan kejutan macam apa yang harus aku berikan ketika bertemu nanti." Bola mata abu-abunya memiliki pandangan kelam. Bentuk wajah sempurna hasil pencampuran Rusia dan China tidak dapat menutupi bahwa dia merupakan orang yang berbahaya. Dia akan membuat Hinata terus mengingatnya.
.
.
.
.
.
TBC
See you in next chapter~
