REMOVE

Kesalahan tidak bisa dihapuskan. Itu membekas dan meninggalkan jejak.

Kau hanya bisa memperbaikinnya, namun berhentilah mencoba karena kau terlalu terlambat untuk melakukannya

.

.

.

.

.

© Masashi Kisimoto

Tidak dipersyaratkan untuk dibaca anak kecil

Warning : Typo(s), Bahasa tidak baku (cenderung kasar), sexual content, AU, Modern live, OOC, alur tidak menentu

Rated : M (language and content)

Pairing : Naruto-Hinata

Story : Atharu

Remove chapter 8a

Chapter 8 dibagi menjadi dua bagian yang aku upload berbarengan. Chapter ini lumyan panjang kalau tidak dibagi dua bagian, menghabiskan 27 halaman dan hampir 10k word. Jadi daripad ntar pusing baca cerita sepanjang itu, aku potong jadi dua bagian.

Selamat menikmati dan selamat menuju tahun baru

.

.

.

.

.

.

.

"Semuanya sudah lengkap?"

"Uhn. . ."

"Selalu kenakan pakaian hangat, sarung tangan, jangan lupa melingkarkan syal di lehermu dan hindari hal-hal yang buruk. Paris sedang masuk musim dingin, turuti semua apa yang kakek nenek bilang. Apa kau paham nak?" Hinata membenarkan bagian kerah leher baju Boruto. Merapikan hoddie kecil yang dipakainya. Selagi Boruto menatap lalu lalang orang di bandara, Hinata kembali mengecek perlengkapan di tas Boruto. Memastikan tidak ada yang tertinggal ataupun kurang ketika melewati pengecekan tiket.

Boruto mengangguk. Matanya sedari tadi tidak memerhatikan apa yang dikatakan oleh sang mama. Dia sibuk mengagumi pesawat-pesawat yang dapat dia lihat secara dekat. Sangat besar. Begitu keren. Binar matanya menatap penuh takjub. Boruto ingin sekali segera menaikinya. Ini akan menjadi pengalaman paling mengesankan. Dia sudah tidak sabar, bahkan terlepas bahwa dia tidak berada dekat dengan mama dan papanya. Sama sekali bukan masalah.

Ada kakek dan nenek, tidak ada yang perlu dicemaskan. Dia bisa bebas makan makanan apapun tanpa perlu menghawatirkan nasehat mama.

"Ayah, ibu. Aku mempercayakan putraku pada kalian. Segera hubungi aku bila kalian sudah sampai." Naruto juga ikut mengantar mereka. Bila Hinata sibuk untuk memeriksa berkali-kali barang bawaan Boruto, maka dia cukup memegangi lengan putranya agar tidak kemana-mana di tengah keramaian di bandara. "Kalian tahu putraku begitu aktif, kuharap kalian masih kuat untuk menajaganya."

"Kami akan segera menghubungi kalian. Ayah juga sudah megirimkan nomer telepon dan alamat penginapan kami. " Timpal Minato. Ucapan putranya itu entah kenapa terdengar seolah mengatakan bahwa tulang Minato sudah terlalu tua untuk mengawasi tingkah cucunya.

"Apa ada yang ingin kau pesan sebagai oleh-oleh, sayang?" Tanya Kushina. Sama dengan Boruto, dia sudah tidak sabar untuk liburan kali ini. Kushina sudah menyusun kegiatan yang akan mereka lakukan di sana bersama cucu mereka. Mengunjungi beberapa tempat dan bermain sepuasnya bersama Boruto. Tidak lupa memamerkan cucu tampannya ini ke teman-temannya di sana. Kushina yakin cucu tampannya akan menarik banyak perhatian. Minato tak harus tahu soal ini.

Naruto menggeleng. Dia bukan anak kecil, dia bahkan sudah memiliki anak jadi dia tidak butuh oleh-oleh. "Tidak ada."

"Isssh, ibu tidak bertanya padamu. Ibu bertanya pada Hinata." Dia mengerling pada Hinata. Meskipun nantinya Hinata akan menolak karena merasa nantinya merepotkan tapi Kushina sudah mempunyai deretan list oleh-oleh yang akan dia beli. "Paris memiliki banyak hal yang menarik. Kau harus punya salah satunya juga."

"Tidak perlu, bu." Tolak Hinata halus. "Tapi, sebisa mungkin bisakah ibu selalu memberikan kabar tentang Boruto padaku sesering mungkin?" Tanya Hinata kalem. Matanya tidak pernah lepas dari Boruto. Kali ini dia tidak dapat menemani Boruto secara langsung. "Ini perjalanan pertamanya. Aku akan sangat merindukannya."

Kushina menyanggupinya. "Tenang saja. Kami akan menjaga Boruto, dia akan baik-baik saja." Lalu dia menggendong Boruto. Berbisik mengenai hal apa yang harus dia ucapkan pada kedua orang tuanya. "Katakan pada mamamu bahwa kau akan jadi anak baik di sana."

"Tentu saja." Sahut Boruto. Dia turun dari gendongan Kushina lalu langkah kecilnya menghampiri Hinata. Wajah duplikat Naruto kecil itu tersenyum lebar seolah ingin memberitahu Hinata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dia akan pergi bersenang-senang. "Mama tidak perlu cemas. Ada kakek dan nenek. Aku akan membawakan banyak permen untuk mama." Sangat manis. Semua orang dewasa yang melihatnya tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.

Mau tidak mau Hinata juga ikut tersenyum. Dia berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka. Memeluk Boruto dan mencium masing-masing kedua pipinya. Tak lupa juga sedikit mencubit buntalan bulat pipinya. Naruto hanya memandang, dia tidak menyangkah bisa menghasilkan mahkluk seimut Boruto.

"Kau memang harus selalu baik, nak. Apapun yang terjadi kau tidak boleh pergi tanpa ijin, ne?"

"Ok, mom, Im pro-mi-se." Hinata terkekeh. Boruto mempraktekkan bahasa asing yang dia pelajari dari sekolah. Jari kelingkingnya dia kaitkan dengan jari kelingking Hinata. Boruto membisikkan sesuatu pada Hinata. Mamanya mengangguk. Boruto mengatakan bahwa ketika pulang nanti mereka harus jalan-jalan.Sementara dua ibu dan anak itu sedang saling berbicara, Kushina dan Minato nampak membicarakan sesuatu dengan Naruto. entah apa yang mereka bicarakan, Hinata tidak terlalu mendengarkan.

"Papa," Boruto menarik katun celana Naruto. "Bisakah nanti Boruto mengendarai pesawat itu? Menerbangkannya seperti . . .whussss –" Tangannya mencoba memeragakan gerakan pesawat melayang di udara. Berkelok melintasi awan.

Naruto berjongkok, menyisir poni tebal anaknya. "Maksudmu, kau ingin menjadi seorang pilot?" Boruto mengangguk. Dia sudah menetapkan impiannya. "Tidak ingin seperti papa? Menjadi pengusaha misalnya." Bujuk Naruto tapi bagi Boruto itu terdengar tidak keren. "Terdengar biasa saja, pa." Naruto tersenyum masam, dia tahu jalan Boruto masih panjang. Dia tidak akan memaksa putranya untuk menjadi seperti dirinya. Boruto bebas menentukan pilihannya.

"Ok, pesawat tujuan Paris akan segera take off, sudah waktunya kami untuk berangkat." Minato mengingkatkan mereka. Beberapa pemanggilan dengan tujuan Paris memang sudah diumumkan. Mereka bertiga melambaikan tangan pada Naruto dan Hinata. Mereka mengatakan akan langsung menghubungi Naruto ketika telah sampai, itu artinya sekitar lima jam dari sekarang.

Hinata masih tetap berdiri menatap pesawat yang baru lepas landas. Baru sebentar, namun dia sudah merindukan anaknya. Entah kenapa seminggu rasanya begitu lama.

.

Tidak ada percakapan diantara keduanya. Naruto menyetir mobil dan Hinata yang duduk di sampingnya, Hinata lebih banyak menghabiskan waktu dengan membuang pandangannya ke luar jendela. Melihat rute perjalanan, Hinata tertegun. Ia baru sadar bahwa jalan yang dilalui berbeda dengan sebelumnya. Dia ingin bertanya namun Naruto lebih dulu menghentikan mobilnya setelah melewati beberapa belokan.

Mobil yang digunakan Naruto berhenti di suatu tempat. Dia melepas seat belt miliknya dan juga Hinata. "Keluarlah. Kita sudah sampai." Hinata sedikit bingung karena Naruto tidak mengantarnya ke penthouse. Jalan yang dilalui mobil Naruto berbeda dengan arah yang seharusnya. Mereka berhenti di depan sebuah bangunan rumah yang cukup besar dan artistik. Hinata familiar melihatnya.

Hinata keluar, dia memandang ke depan –ke arah rumah di depannya, memastikan bahwa apa yang dia lihat tidaklah salah. "I-ini. . ." Naruto yang berdiri bersebelahan dengannya mengangguk. Tangannya mencoba meraih tangan Hinata dan mengajaknya berjalan masuk. "Rumah kita. Aku melakukan beberapa renovasi, mengganti catnya dan beberapa bagian dalamnya telah kuubah."

Rumah yang dulu sempat Hinata tinggali bersama dengan Naruto sewaktu menjadi suami istri. Rumah ini dibeli oleh Naruto setelah mereka menikah sebagai hunian. Ada beberapa perubahan di sebagian banggunannya seperti yang dikatakan Naruto dari terakhir yang diingat Hinata. Tamannya masih sama meski tanpa ada tanaman bunga. Dulu Hinata sempat menanam beberapa macam tanaman di sana. Entah itu sayuran, tomat, bunga matahari atau bunga bunga yang lain. Tapi kini hanya ada rumput halus yang tumbuh.

"Kenapa kau membawaku kemari?" Hinata berpikir Naruto telah menjual rumah ini. Naruto tidak harus mempertahankan rumah ini setelah mereka berpisah. Tapi dilihat dari masih terawatnya bangunan kokoh rumah ini kemungkinan Naruto lah yang mengurusnya.

Pandangan mata beningnya melihat ke sekeliling. Hinata meremat tangannya, ada beberapa kenangan manis juga potongan masa lalu buruk di tempat ini. Naruto mengatakan ini rumahnya namun juga pernah mengusirnya dari tempat ini. Langkah kaki Hinata mendadak berhenti. Naruto menyadari perubahan Hinata. Dia mengerti, tapi inilah yang terbaik. Naruto lah orang yang pernah menorehkan luka itu, jadi dia pula yang harus menghapuskannya.

Dia akan memulainya dari sini.

Genggaman tangan Naruto mengerat. Seolah mengatakan hal buruk tidak akan lagi terjadi. Dia berjanji menjaga keluarganya dengan seluruh apapun yang dia punya. Dia bahkan menambah beberapa ruang kamar tidur baik di lantai bawah maupun di lantai atas. Entah kenapa dia begitu yakin untuk melakukannya.

"Kita akan tinggal di sini. Aku telah memikirkan hal ini jauh hari dan sudah memutuskannya. Penthouse tidak terlalu sesuai untuk dijadikan tempat tinggal permanen meski disana terisi berbagai perabotan lebih mahal. Aku ingin kita benar-benar tinggal di sini. Membesarkan Boruto dengan suasana rumah dan melakukan beberapa hal yang biasanya keluarga lakukan." Hinata memandang wajah Naruto dari samping. Pria ini terlihat senang dengan apa yang dia katakan. Dia telah menyusun sebuah rencana besr tanpa sepengetahuannya.

Tapi Hinata merasa hal ini begitu mendadak. Berduaan dengan Naruto saja dia masih harus membiasakan beberapa hari, lalu sekarang mereka akan tinggal dalam satu atap. Setidaknya di penthouse masih ada beberapa maid. Tapi tidak saat ini. Tidak ada maid, tidak ada Boruto. Hinata menelan ludah membayangkannya. "Tapi, kupikir ini terlalu cepat. Maksudku –"

"Apa kau berencana lari lagi?" Naruto menatapnya dalam dan juga tajam. Dia mengarahkan dagu Hinata menatapnya. Sejujurnya dia sudah tidak bisa bersikap keras, dia berusaha agar lebih lembut jika berhadapan dengan Hinata. Namun Hinata kadang mendorongnya menjauh. "Setiap aku melangkah maju kau akan mundur dua langkah. Kau selalu begitu. Menarik ulurkan setiap hal yang aku lakukan. Kali ini tidak lagi, Hinata."

"K-kau memaksaku?" Sulit bagi Hinata untuk mengimbangi pandangan determinasi Naruto. Pria ini mampu menekannya meski hanya lewat adu mata. Shapire biru itu menyedotnya hingga kehilangan kata-kata.

"Bila kau menganggapnya begitu, maka iya. Ini sebuah perintah. Kita tinggal di sini dan mulai saat ini juga." Sial, Naruto mengumpat dalam hati. Seharusnya dia bisa bersikap lebih romantis atau dramatis untuk meyakinkan Hinata. Tapi lagi-lagi dia bertindak pragmatis. Dia sudah terbiasa dengan alasan penolakan Hinata dan mulai bisa mengendalikannya. Mungkin Hinata masih ragu namun dengan sedikit paksaan wanita itu akan patuh.

Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai dia benar-benar akan memonopoli Hinata. Kecuali Naruto akan berbaik hati untuk merelakan perhatian Hinata guna merawat anak-anak mereka –tentu saja. Naruto tersenyum tipis, ia mulai membayangkan hal menyenangkan apa yang dulunya tidak sempat dia lakukan bersama Hinata kini bisa ia lakukan sekarang. Dia juga mulai berpikiran melantur, menghitung berapa jumlah anak yang nantinya akan mereka miliki. Yang pasti akan lebih dari satu. Dia ingin rumah ini ramai.

Dulu dia terlalu sibuk, dan melakukan sedikit komunikasi dengan Hinata –kebnyakan komunikasi satu arah, itupun Hinata yang memulai terlebih dahulu. Naruto tidak terlalu banyak menghabiskan waktu misalnya berbicara santai seperti pasangan normal lainnya. Bila dia pulang maka ia kebanyakan menghabiskan waktunya untuk berkutat di ruang kerjanya. Mereka bicara seperlunya, sering mengabaikan bagaimana perasaan Hinata. Naruto tidak mengerti cara untuk memulainya. Selama Hinata terlihat baik-baik saja maka Naruto akan diam.

Tidak ada yang spesial meski dia merasa sangat nyaman bila berdua dengan Hinata. Saat itu Naruto masih dalam tahap mengenal rasa. Shion dan Hinata begitu berbeda, Shion akan mudah diajak bicara sedangkan Hinata cenderung lebih tenang dan pendiam, bahkan ketika dia merasa sakit pun dia bertingkah tidak terjadi apa-apa.

Naruto menyesal atas perlakuannya di masa lalu yang tidak tahu bagaimana mengungkapkan rasa cintanya. Dia berpikir uang serta sex adalah hal utama, namun nyatanya tak cukup hanya itu dalam membangun sebuah hubungan apalagi sekompleks hubungan rumah tangga. Naruto tidak akan mengulanginya. Dia ingin Hinata benar-benar merasakan cintanya. Dimulai dengan melakukan beberapa hal kecil bersama seperti apa yang ditulis dalam buku yang selama ini dia baca.

Lalu, sex? Of course, Naruto tidak akan menolak bila Hinata yang lebih dulu memintanya. Dan Naruto harus bersabar untuk itu.

Mereka memasuki setiap ruangan di dalam rumah. Hinata melihat terdapat beberapa penempatan sudut rumah telah diubah. Jendelanya dibuat lebih besar sehingga sinar matahari akan masuk lebih banyak masuk ke dalam rumah. Lantai bagian depan terpasang marmer sedangkan lantai setiap kamar dipasan lantai kayu yang lebih hangat. Dia menyukai desain interior seperti ini.

Memasuki ruang tengah, Hinata mencium pengharum ruangan yang dulu dia pilih. Aroma kayu cendana dan harum lavender. Dia merasa disambut pulang. Hinata tanpa sadar memejamkan matanya. Dia rindu tempat ini. Sangat berbeda dengan flatnya dulu yang hampir susah mendapatkan sinar cahaya. Tidak terlalu buruk, Hinata berpikir bagaimana Naruto bisa tahu mengubah rumah ini sesuai dengan kesukaannya.

"Sebagian barangmu dan Boruto sudah aku pindahkan ke sini. Mulai hari ini kita akan tinggal di sini." Naruto duduk di sofa coklat yang berada di ruang tengah. Sedang Hinata melihat-lihat ke dapur dan bagian belakang rumah.

Mungkin terlihat hanya ada mereka, namun sebenarnya Naruto sudah menyuruh beberapa orang kepercayaanya untuk berjaga di sini. Setidaknya ketika dia pergi, Hinata akan tetap aman. Akhir-akhir ini dia semakin tidak bisa membiarkan Hinata sendirian.

Hinata mendengus. Tentu saja dia tidak memiliki pilihan untuk menolak. Dia mengenal Naruto luar dalam. Pria itu bisa melakukan apapun bahkan hal gila lainnya. "Apa sifat pemaksa dan otoritermu tidak pernah berubah?"

Naruto mengedikkan bahu. "Aku menyukai segala hal yang bersifat dominan. Menguasai adalah hal pertama yang harus bisa kulakukan."

"Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang?" Hinata kembali ke ruang tengah. Dia duduk di samping Naruto. Melirik apa yang dilakukan pria di sampingnya lewat ekor mata. "Aku tidak memiliki ide sama sekali. Berbicara denganmu seperti sekarang bagiku masih terasa asing, seperti orang baru. Aku hampir tidak mengenali dirimu yang sekarang." Sosok Naruto saat ini seperti bukan Naruto yang dulu. Hinata tahu Naruto mencoba berubah. Pria ini sedikit demi sedikit melunakkan dirinya sendiri.

"Pelan-pelan saja. Kau punya banyak waktu untuk itu."

"Lalu –" Naruto memikirkan sesuatu. Dia harus bisa memanfaatkan momen seperti ini. "Bagaimana bila kita makan siang bersama? Kita belum makan sedari tadi."

"Ke rumah makan?"

Naruto menggeleng. Dia ingin hanya berdua dengan Hinata. "Di sini saja." Entah kenapa Naruto terdengar hampir seperti merengek. Buru-buru dia membetulkan nada suaranya. " Ada beberapa bahan makanan yang aku simpan di lemari pendingin, namun bila kau lelah aku bisa memesankan sesuatu untuk dimakan di sini." Dia menggeser layar smartphone nya. Ada beberapa menu lunch yang sepertinya enak untuk dimakan bersama.

Hinata tidak keberatan bila Naruto memesan makanan, karena saat dia ke dapur dan melihat isi lemari pendingin hanya ada kotak susu, telur, dan sayur kubis. Mungkin besok dia akan mulai berbelanja. Sambil menunggu makan siang yang dipesan Naruto, Hinata mulai menata pakaian yang telah Naruto pindahkan. Setelah pakaiannya sendiri selesai lalu dia meneruskannya ke pakaian Boruto. Naruto membelikan terlalu banyak baju.

Sewaktu Naruto belum menemukan mereka, Hinata hanya mampu membelikan baju beberapa pasang bila sudah ada baju yang tidak muat atau sudah tidak layak digunakan. Hinata akui kehidupannya waktu itu memang buruk. Tidak ada saudara dan satu-satunya orang tua yang dia punya juga telah tiada. Dia hanya memiliki janin yang tumbuh dalam perutnya. Baginya itu adalah sumber kekuatan. Hinata menangis mengingatnya. Dia merindukan ayahnya. Satu-satunya orang yang akan membelanya meski satu dunia menghujatnya.

"Hinata, kau menangis?" Naruto tidak sengaja lewat di depan kamar Boruto dan mendapati Hinata tengah terisak. Dia buru-buru menghampiri Hinata. "Apa yang kau tangisi?" kali ini sentuhan Naruto pada pergelangan tangan Hinata tidak ditolak. Hinata menggeleng. Dia berusaha menghentikan air matanya namun malah semakin jatuh berhamburan.

"Ak-aku hanya merindukan ayah –hksss- makamnya tidak pernah kukunjungi. Ayah pasti kecewa. Aku menjadi anak yang buruk." Sejak meninggal kehidupan di Tokyo dan hidup di kota kelahiran ibunya, Hinata memang tidak sekalipun mengunjungi makam ayahnya. Dia masih belum siap, banyak luka yang membayanginya. Hinata ingin ketika dia berkunjung ke makam ayahnya dia dalam keadaan sehat ataupun baik.

"Sssttt, tenanglah." Naruto tahu bahwa kematian Hiashi sangat memukul Hinata. Kepergiannya melengkapi penderitaan Hinata. Naruto merasa sesak. Dia pernah berjanji pada Hiashi untuk menjaga baik-baik putri satu-satunya namun dia malah berakhir menjadi orang yang menyakitinya. "Kau ingin berkunjung ke sana? Besok kita bisa mengunjunginya. Kita bisa berdoa di sana. Kau mau?" Tidak banyak yang bisa Naruto lakukan untuk membuat perasaan Hinata lebih baik.

"Naruto,"

"Hmm. Kau butuh sesuatu yang lain?"

"Kau tahu kenapa aku masih berat bila harus tinggal bersamamu?"

Tiba-tiba Naruto merasa takut ketika Hinata mengatakan kalimat itu. Hinata bisa melukainya lewat perkataan perpisahan. Dulu mungkin dialah yang bisa berkata angkuh seperti itu, namun sekarang dia justru tidak nyaman ketika Hinata membicarakan mengenai perpisahan. Naruto telah jatuh terlalu dalam. Dia akan sakit bila Hinata menjauhinya. Hatinya mungkin sudah sangat bergantung pada Hinata.

Hinata memang benar kelemahannya. Apakah jatuh cinta memang sesulit ini?

"Bahwa kenyataan dirimu pula ikut andil terhadap keadaan buruk ayahku, aku masih belum bisa memaafkanmu untuk itu." Jantung Naruto tersengat ngilu. Kebodohannya di masa lalu memang terlalu dalam melukai Hinata. Maafpun rasanya belum cukup. Dia tidak bisa membersihkan dirinya dari dosa masa lalu. Hinata benar. Dialah yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya. Dia harus menerima hukuman, tapi tidak dengan Hinata yang meninggalkannya. Tubuh Naruto mendadak kaku sekadar memikirkannya.

"Aku sangat membencimu. Waktu kau mengusirku aku masih dapat bertahan, waktu kau menyuruhku melenyapkan Boruto aku sudah separuh hancur, lalu di saat kau membuat ayahku lebih cepat menghadap Tuhan." Hinata menarik napas panjang. " –aku benar-benar sudah hancur sehancurnya. Dengan luka sebesar ini, dengan apa aku harus menerimamu?" Pancaran bola mata Hinata menatap Naruto pedih. Hinata tidak ingin Naruto melihatnya menangis karena dia berpikir Naruto akan menganggapnya lemah. Menangis akan memperlihatkan bahwa dia tetap menjadi Hinata yang dulu.

Buru-buru Naruto menggelengkan kepala, ibu jarinya membersihkan air mata di pipi serta pelupuk mata Hinata. "Kau tidak harus menerimaku, sayang." Naruto mengecup ke dua mata Hinata secara bergantian. Rasanya asin karena tercampur dengan beberapa tetes air mata. "Biarkan aku yang menanggung dosa ini. Kau tidak perlu merasakan sakitnya, biarkan aku sendiri yang memikulnya. Bila ayahmu marah maka dia harus marah padaku, bila dia kecewa maka dia kecewa padaku, bukan padamu."

Andai bisa, Naruto ingin meminta maaf pada ayah mertuanya.

"Aku yang gagal, Hinata." Ketika Hinata sudah berhenti menangis, kini dia yang melihat mata biru Naruto mengelurkan air matanya. Naruto menangis di depannya. Dia mengabiskan harga dirinya untuk mengatakan kegagalannya. Hinata tidak bereaksi apapun, namun yang pasti hatinya ikut merasakan sakit. Segala kebanggaan dan kekuasaan yang biasanya terlihat berada di pundak Naruto sekarang berlahan melorot turun.

Bila Naruto seperti ini, maka Hinata secara naluri ingin melindunginya. Pundak kokoh Naruto tidak sekuat kelihatannya. Hinata menyentuh di sana. Dia mengelus Naruto.

Dia menghapus air mata Naruto. Hinata menyandarkan dirinya pada dada bidang Naruto. Hinata tidak tahu apa yang sedang dia lakukan, tapi saat Naruto terlihat lemah seperti ini, dia ingin menguatkannya.

"Bila kau merasa sulit memulainya lagi bersamaku, maka satu hal yang harus kau ingat." Wajah Hinata mendongak ketika Naruto melontarkan kalimatnya. Dadanya menghangat. "Bagiku semua masih sama. Aku masih mencintaimu sebegini besarnya sama seperti dulu."

"Kalau begitu –

. . . .mari kita mulai semuanya dari awal." Hinata merambat naik. Lututnya berjinjit dengan menjadikan permukaan kasur sebagai pijakan. Tangannya melingkari leher Naruto, menarik tengkuk sang pria agar lebih menunduk dan memudahkan Hinata untuk menempelkan bibirnya ke permukaan bibir Naruto.

Tidak ada lumatan, tidak ada hisapan. Tekanannya lembut secara konstan. Seerti hanya tarian, tapi ini menyenangkan. Mereka saling berciuman –menempelkan bibir satu sama lain. Mereka berbagi napas dan saling mengisi degup jantung masing-masing. Bagi Naruto dan Hinata, ciuman kecil ini merupakan ciuman terbaik mereka. Seolah dapat bertukar rasa dan melempar perasaan masing-masing untuk saling dibaca. Ke dua mata mereka bertukar pandangan. Hinata menatapnya dengan kelopak mata lembut. Hinata mencoba menerima, sedangkan Naruto membalasnya dengan mata memuja.

Naruto menarik wajahnya beberapa inchi. Jika terlalu lama maka dia akan berakhir menjadikan ranjang kecil milik Boruto ini menjadi berantakan. Hembusan napasnya tersenggal, dahinya menempel pada kening Hinata. Kulit Naruto merasakan sengatan hangat dari pori wajah Hinata. Saat mata birunya melihat Hinata, pipi putih wanita ini seperti buah apel di puncak musim semi.

"Hinata."

"Ya." Sama seperti Naruto, napas Hinata juga mengeluarkan udara bersuhu melebihi normal. Suhu diantara mereka meningkat. Jantungnya bekerja luar biasa. Apakah dia terserang sebuah penyakit? Hinata menggeleng, seingatnya dia hanya memiliki riwayat penyakit anemia dan terkadang gangguan pencernaan. Lalu apakah salah satu bilik di jantungnya mengalami kebocoran? Bila iya tentu sekarang dia akan kesakitan, tapi Hinata tidak merasakannya. Dia seperti orang yang tengah dimabuk romansa.

"Aku mencintaimu."

Hinata tidak ingin memperlihatkan wajahnya. Itu pasti sangat merah.

"Aku tergila-gila padamu, bahkan aku akan bertingkah tidak waras bila kau berada jauh dariku."

Hinata terkekeh kecil. Meski terdengar gombalan namun hatinya tetap berbunga. Perutnya seperti diterbangi ribuan kupu-kupu. Masalah di masa lalu akan menjadikan mereka lebih kuat. Cinta untuk mantan suaminya yang dipikir Hinata sudah terkuras tanpa sisa nyatanya masih tetap ada. Setidaknya dengan begina Boruto tidak harus merasakan kasih sayang secara setengah. Hinata ingin anaknya mendapatkan semuanya yang terbaik dan Naruto menawarkannya. Sebuah masa depan yang dulu Hinata idam idamkan. Keluarga utuh yang bahagia.

"Aku ingin melihatnya. Melihat bagaimana tuan Naruto yang katanya sangat kuat ini menjadi tidak waras hanya karena diriku."

Naruto tertawa menampilkan wajah dengan garis rahang dewasa yang tampan. "Ckckck, jangan menggodaku." Naruto mengigit puncak hidung Hinata. "Bila kau melihatnya, aku takut diriku terlihat menyeramkan. Sebisa mungkin diriku harus terlihat keren di matamu. Tapi, aku tidak keberatan bila kau melihat semua tentang diriku."

"Karena aku adalah milikmu." Sambung Naruto kembali menyambar bibir Hinata. Bibirnya yang bertekstur sedikit kasar melumat bibir kenyal di depannya. Naruto merasa ini sebuah keajaiban. Salah satu lengannya bergerak merambat di pinggang Hinata sedangkan satunya lagi berada di belakang kepala Hinata untuk menekan agar semakin dalam. Deep freanch kiss. Melumatnya dan berusaha menyelipkan lidahnya pada rongga mulut si wanita. Hinata menyerah, dia tidak dapat lagi menolak ajakan Naruto untuk saling membelit lidah. Naruto pencium yang handal.

"Ngh. . . Naru –"

Naruto semakin menjelajah masuk hingga saliva mereka membentuk untaian seperti pintalan benang. Mendengar kembali Hinata memanggil dengan sebutan Naru, bukan tidak mungkin lagi baginya untuk berhenti sekarang. Sleeping bird yang berada di dalam celana nampaknya telah mengepakkan sayap. Ujung selatan tubuhnya meremang dan mulai terasa pompaan aliran darah berkumpul di sana sehingga bertambah besar. Naruto mengerang tidak rela ketika merasakan gerakan mendorong di dadanya.

"Kenapa, umm?" Naruto berhenti sejenak. Seluruh bagian tubuhnya terbakar namun dia memilih untuk tidak memaksa Hinata apalagi dirasakan Hinata seolah menyuruhnya berhenti. Naruto melihat ada air liur yang menetes di dagu Hinata, dia membersihkannya dengan bantuan lidah. Mengendusi leher Hinata lalu memberikannya beberapa kecupan kecil yang menyebar. Tubuh Hinata berbau harum. Naruto tahu celana dalamnya sudah mulai mengetat. Tertarik paksa dari ukuran normal.

Wajah Hinata berubah malu. Mungkin Naruto tidak mendengar, namun Hinata cukup tahu bahwa perutnya beberapa kali berbunyi. "Aku lapar. Bisa kita segera makan?" Naruto mengangguk mengerti. Sepertinya pesanan makanan siangnya juga sudah sampai. Pelan-pelan saja, Naruto ingin membuat nyaman Hinata terlebih dahulu.

.

.

.

Saat petang menjelang, Hinata beberapa kali mengecek daftar panggilan di ponselnya atau terus menanyai Naruto tentang keadaan Boruto. Seharusnya kedua orangtua Naruto dan Boruto sudah sampai di Paris. Hinata ingin meminta tolong pada Naruto untuk disambungkan dengan telepon ibu atau ayahnya, tapi melihat Naruto yang tengah sibuk berbicara mengenai suatu hal penting lewat sambungan telepon, Hinata mengurungkan diri.

"Apa itu dari ayah atau ibu?"

Naruto tahu Hinata berada di belakangnya dan sedang menunggunya. "Bukan." Naruto memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Jangan khawatirkan mereka. Penerbangan mereka aman, aku sudah mengeceknya dan pesawat mereka sudah mendarat di Paris."

"Tapi kenapa tidak ada satupun telepon dari mereka? –aku…"

"Tenanglah. Tarik napas pelan. Mereka mungkin masih dalam perjalanan ke tempat penginapan atau sedang beristirahat. Nomer sambungan ayah masih sibuk saat terakhir kucoba menghubungi mereka. Aku akan menelpon mereka bila sudah lewat dari 30 menit dari sekarang."

"Mandilah terlebih dahulu. Kau mebutuhkan sedikit ketenangan."

Hinata mengalah. Dia juga merasa keringat di tubuhnya mulai lengket. "Baiklah. Tapi, bila ada kabar dari mereka cepat beritahu padaku."

Naruto mengangguk. Terakhir kabar yang dia terima dari ayahnya mengatakan jalanan dari bandara menuju hotel memang sedang tertutup karena ada badai salju. Naruto tidak akan mengatakannya pada Hinata, wanita itu asti akan semakin cemas.

Saat Hinata mandi, Naruto menyiapkan sebuah gaun yang dia taruh di atas kasur. Dia memiliki rencana untuk mengajak Hinata ke sebuah pesta. Sudah waktunya bagi Hinata untuk menunjukkan statusnya di hadapan umum. Naruto akan menegaskan pada semuanya siapa Hinata baginya.

'Clekk'

Pintu kamar mandi terbuka, Hinata keluar hanya dengan handuk, itupun hanya disampirkan melintangi bahu. Dia berpikir tidak ada siapapun di dalam kamar. Tapi ketika melihat Naruto tengah duduk di atas ranjang barulah Hinata merasakan malu. Seharusnya dia ingat bahwa kamar ini bukanlah kamar miliknya seorang. Ini kamarnya bersama Naruto. Hinata cepat-cepat kembali ke kamar mandi. Pintunya ditutup keras namun tidak dikunci. Naruto tertawa pelan melihat tingkah Hinata.

"Bisakah kau ambilkan aku beberapa potong baju? Aku lupa tidak membawanya." Suara Hinata dari dalam kamar mandi cukup bisa Naruto dengar.

"Tunggu sebentar, aku akan mengambilkannya."

"Juga –ambilkan celana dalam dan bra." Uggh, Hinata sudah sangat malu mengucapkannya. Kenapa dia bisa lupa pada hal sepenting itu? Runtuknya dalam hati. Tinggal bersama Naruto memang menghabiskan rasa malunya.

Sebuah tangan terulur dari celah pintu. Naruto membawakan apa yang Hinata ucapkan. Sebuah baju lengkap dengan dalamannya. Hinata menerimanya tanpa mengucapkan terima kasih. Di dalam kamar mandi Hinata buru-buru memakai pakaian. Terdapat cermin di dalam kamar mandi, wajah Hinata tiba-tiba memerah.

Celana dalam dan bra bewarna ungu dengan bahan lace di sepanjang pinggirannya cukup minim dan menerawang. Ukurannya begitu pas dan cukup nyaman digunakan meski penampilan luarnya cukup 'terbuka'. Apakah Naruto yang membelikannya? Hinata bersyukur dia masih memiliki baju untuk menutupinya. Dia tidak bisa membayangkan bila dirinya yang hanya mengenakan pakaian dalam berkeliaran di dalam kamar –dan ada Naruto di sana. Lebih baik dia berkubang di dalam bath tub selamanya.

Naruto masih berdiam diri di dalam kamar. Dia menunggu Hinata sambil membaca beberapa grafik saham perusahaan. Tidak berselang lama Hinata keluar dari kamar mandi. Wajahnya jauh lebih segar. Hinata benar-benar menikmati waktunya untuk membersihkan diri.

"Pakailah gaun ini. Kita akan menghadiri sebuah perayaan dua jam dari sekarang. Hanya pesta biasa tapi aku harap kau bisa menemaniku."

Hinata melemparkan tatapan kesalnya. Naruto selalu memberitahukan hal-hal secara mendadak. "Kalau begitu keluar dari kamar ini. Aku membutuhkan tempat privasi untuk bersiap-siap."

"Tidak masalah. Aku menunggumu di luar, satu jam dari sekarang bila kau tidak keluar jangan salahkan aku bila masuk ke sini tanpa ijin." Naruto beranjak pergi, sebelum dia menarik pintu dia melihat sebentar ke arah Hinata. "Apakah dalaman yang kubelikan sesuai dengan ukuranmu?"

"A-ap yang. . ."

"Kuharap kau menyukainya. Dan kurasa aku bisa masuk ke sini sesuka ku. Ini kamar kita, bukan milik salah satu dari kita." Godanya sebelum benar-benar menutup pintu membiarkan Hinata mematung tanpa bisa berkata apapun. Naruto menyukai semua ekspresi yang Hinata tampilkan.

.

.

.

TBC

Next to chapter 8b