REMOVE

Kesalahan tidak bisa dihapuskan. Itu membekas dan meninggalkan jejak.

Kau hanya bisa memperbaikinnya, namun berhentilah mencoba karena kau terlalu terlambat untuk melakukannya

.

.

.

Selamat datang di chapter 8b

selamat membaca dan menikmatinya. Oh ya, maaf bila ada kesalahan kata. Semoga chapter ini (yang dibagi menjadi dua bagian) bisa kalian sukai.

Selamat liburan dan menyambut tahun baru

(meski author sendiri gg bisa liburan )

.

.

Naruto masih berdiam diri di dalam kamar. Dia menunggu Hinata sambil membaca beberapa grafik saham perusahaan. Tidak berselang lama Hinata keluar dari kamar mandi. Wajahnya jauh lebih segar. Hinata benar-benar menikmati waktunya untuk membersihkan diri.

"Pakailah gaun ini. Kita akan menghadiri sebuah perayaan dua jam dari sekarang. Hanya pesta biasa tapi aku harap kau bisa menemaniku."

Hinata melemparkan tatapan kesalnya. Naruto selalu memberitahukan hal-hal secara mendadak. "Kalau begitu keluar dari kamar ini. Aku membutuhkan tempat privasi untuk bersiap-siap."

"Tidak masalah. Aku menunggumu di luar, satu jam dari sekarang bila kau tidak keluar jangan salahkan aku bila masuk ke sini tanpa ijin." Naruto beranjak pergi, sebelum dia menarik pintu dia melihat sebentar ke arah Hinata. "Apakah dalaman yang kubelikan sesuai dengan ukuranmu?"

"A-ap yang. . ."

"Kuharap kau menyukainya. Dan kurasa aku bisa masuk ke sini sesuka ku. Ini kamar kita, bukan milik salah satu dari kita." Godanya sebelum benar-benar menutup pintu membiarkan Hinata mematung tanpa bisa berkata apapun. Naruto menyukai semua ekspresi yang Hinata tampilkan.

.

.

© Masashi Kisimoto

Tidak dipersyaratkan untuk dibaca anak kecil

Warning : Typo(s), Bahasa tidak baku (cenderung kasar), sexual content, AU, Modern live, OOC, alur tidak menentu

Rated : M (language and content)

Pairing : Naruto-Hinata

Story : Atharu

Remove chapter 8b

.

.

.

.

Sepanjang menuju hall hotel, tangan Naruto tidak beranjak dari pinggang Hinata. Naruto sengaja ingin memperlihatkan Hinata dimuka umum. Semua wartawan dan pengusaha terkenal datang di acara perayaan perusahaan Shikamaru. Ini kesempatan bagus. Naruto senang karena dia bisa menunjukkan Hinata terang terangan. Dan tentunya hal ini sebagai tanda bahwa tidak seorangpun yang boleh macam-macam terhadap wanitanya.

Meski Hinata pernah mengunjungi pesta seperti ini, tapi dia masih belum terlalu terbiasa. Beberapa sorot kamera menjadikannya objek. Dia datang dengan membawa banyak perhatian, di sebelahnya Naruto terus merangkulnya secara posesif. Gaun biru gelap dengan jahitan mengikuti bentuk tubuhnya membuatnya sedikit tidak nyaman. Tidak, bukan masalah bahan kain yang ia permasalahkan. Tapi, Naruto memilihkan baju yang berlebihan.

"Kau gugup?" Naruto berbisik ke arah telinganya. Mereka terlihat intim ketika Naruto merapikan beberapa helai rambut Hinata dan menyampirkannya ke belakang telinga Hinata. Lampu blitz kontan semakin banyak mengabadikan segala gerak-gerik Naruto dan Hinata. Naruto tidak peduli. Selama mereka tidak mengganggu Hinata, dia bisa menerima. "Butuh minuman dingin?"

"Tidak, hanya saja berada dalam satu ruangan dengan orang-orang ini tetap memberikan sedikit tekanan. Mereka terus memerhatikan kita." Bisik Hinata ketika mendapati hampir seluruh pasang mata tertuju padanya. Dia pernah datang ke pesta juga bersama Naruto namun itu sudah sangat lama. Berada dengan kumpulan orang-orang terkenal seperti ini, Hinata berusaha agar tidak mempermalukan Naruto.

Jujur saja, Hinata tidak nyaman dengan sorot mata menilai mereka kepada dirinya. Seperti menilai layak tidaknya ia bersanding dengan pria paling berpengaruh ini.

"Abaikan saja mereka. Kau sudah sempurna, mereka hanya iri karena aku dapat membawa seorang bidadari bersamaku malam ini."

"Berlebihan sekali." Timpal Hinata sebagai cibiran. Tapi dengan adanya Naruto di sampingnya, Hinata merasa aman. Dia menyenangi setiap hal manis yang Naruto coba lakukan. Hinata bisa mengambil minuman sendiri namun Naruto menolaknya. Dia yang mengambilkan apa yang Hinata inginkan. Hinata seperti diperlakukan seperti anak kecil.

Mereka berjalan bersama menuju tempat utama dimana si pembuat pesta ini berada. Namun sebelum itu Naruto beberapa kali berhenti ketika ada yang menyapanya. Entah teman atau rekan bisnis. Hinata cukup tahu bahwa banyak sekali orang yang mengenal Naruto. Pekerjaanya sebagai pengusaha serta nama Uzumaki yang dia sandang adalah sesuatu yang membuatnya dikenal secara luas.

"Senang bisa melihatmu, Naruto." Seorang pria paruh baya menyalami Naruto. Dia sekilas melihat wanita di samping Naruto. Pupil hitam kecilnya terlindung dibalik kacamata. "Apa anda membawa teman kencan?"

Naruto hanya tersenyum. Mungkin penampilan Hinata yang sedikit diberi make up menjadikannya tidak terlalu dikenali sebagai sosok yang pernah menjadi istrinya –dan akan menjadi istrinya sekali lagi. Naruto senang hati untuk memperkenalkan Hinata secara resmi.

Pria yang dikenal Naruto dengan nama Ebisu ini seorang pengusaha di bidang properti. Memiliki beberapa apertemen di distrik Ginya, salah satu distrik di Tokyo tempat tinggalnya orang kelas atas.

Ebisu tidak sendiri. Di sampingnya berdiri seorang perempuan cantik yang nampaknya adalah putri dari Ebisu. Dilihat dari segi umur, perempuan itu masih muda. Masih awal dua puluhan. Perempuan muda itu membungkuk sopan ketika berada di depan sosok Naruto.

Perkenalan dengan tujuan mengenalkan putrinya pada Naruto merupakan hal klasik. Naruto teringat ketika perceraiannya dulu dengan Hinata, tiba-tiba banyak yang ingin bertemu dengannya secara pribadi. Alasannya hanya berencana membicaraan urusan bisnis, tapi Naruto tidak cukup bodoh untuk tidak tahu bahwa mereka berusaha mengenalkan putri mereka pada dirinya.

"Ah, kenalkan ini putriku, namanya Eri. Dia baru lulus dari universitas di Inggris dan sekarang bekerja sebagai manajer keuangan di salah satu perusahaan asing." Ebisu memperkenalkan Eri dengan rasa bangga.

"Senang bertemu dengan anda, tuan Naruto."

Hinata sadar gadis ini tengah mencoba menarik perhatian. Hal seperti ini sudah sesuatu yang umum, dulu pun saat masih menjadi istri Naruto, juga banyak yang sengaja mendekati Naruto. Cemburu? Hinata tidak akan mengelak, namun dia juga tidak akan mengatakannya secara langsung. Dia sadar posisinya dimana dan sebagai apa.

"Senang juga bisa mengenalmu, Eri."

"Sayang, kau tak mau menyapa Eri?" Naruto bertanya pada Hinata. Dia sengaja. Ingin sedikit bermain-main. Hinata menghentakkan kakinya ketika mengerti maksud Naruto. Ia tidak menyukai ide Naruto. "Maafkan istriku. Dia sedikit malu bertemu dengan orang asing." Hinata semakin melotot mendengarnya. Dia bisa melihat wajah ternganga tuan Ebisu dan wajah pucat anaknya. Hinata baru sadar bahwa Naruto memiliki bakat berakting.

Ebisu tergagap beberapa saat. Dirinya mengira wanita yang digandeng Naruto sebatas teman biasa. Teman bayaran. Naruto terkenal dekat dengan banyak wanita, jadi tidak heran bila Ebisu memiliki pikiran seperti itu. Kini dia merasa malu. Dia pamit dengan terburu-buru sambil menggandeng Eri pergi.

"Apakah sangat menyenangkan bisa mempermalukan seseorang, eh? Tidak berubah sekali, kau sialan."

Naruto dan Hinata menoleh. Di belakang mereka sudah berdiri sang pengusung pesta. Shikamaru baru selesai memberi sambutan dan segera menghampiri Naruto ketika melihat sahabat pirangnya ini sudah datang. "Dan, lihat. Pasangan baru ini telah mencuri perhatian yang seharusnya aku dapatkan." Shikamaru berkelakar dengan tampang datar mengantuknya.

Naruto tertawa setengah mendengus, dia membalas candaan Shikamaru dengan ucapan selamat. "Bisnismu berkembang cukup pesat. Selamat atas semua hal yang sudah kau capai."

"Jangan pura-pura bodoh, Naruto. Kau sadar betul siapa yang menggelontorkan jutaan dollar ke perusahaanku sampai membuatku tidak bisa tidur untuk memikirkan bagaimana cara agar aku tidak mengecewakan si penyumbang dana. Demi kerak neraka, kau merusak jadwal tidurku." Cibir Shikamaru. Kepalanya cukup berputar –berpikir keras untuk bisa menyukseskan bisnis kerjasama ini. Naruto berperan penting, dia yang menjadi penyokong dana terbesar. Shikamaru yakin bila bisnis ini tidak menguntung maka tidak mungkin Naruto akan datang ke tempatnya dengan membawa golok.

Naruto termasuk tipe tangan dingin.

"Sudahlah. Terima kasih atas kedatanganmu. Kuharap kau menyukai pestanya." Shikamaru menuangkan vodka bening pada gelas Naruto. Mereka bersulang. "Apa kau tidak mau mengenalkan pasanganmu?" Shikamaru melirik pada Hinata. Dia sebenarnya sudah tahu, namun mungkin Hinata yang belum tahu.

Tangan Naruto merangkul Hinata ke sampingnya. "Hinata, kenalkan dia temanku. Namanya Shikamaru. Dia pernah datang ke pernikahan kita dulu." Naruto sedikit mencium puncak kepala Hinata. Melihat hal itu Shikamaru hanya tertawa hambar. Naruto sudah seperti pertapa tua yang baru mendapatkan surga.

Shikamaru, nama itu beberapa kali sempat Hinata dengar. Dia mungkin kurang mengenal siapa yang berada dalam lingkar pertemanan Naruto. Tentu saja, mereka dari kalangan berada, berbeda dengan dirinya yang serba biasa.

"Apa kau juga mengundang pejabat? Kulihat ada beberapa orang pemerintahan di sini?"

"Tanyakan pada dia saja." Tunjuk Shikamaru pada wanita yang menghampirinya. "Temari, dia yang mengundang mereka."

Temari menghampiri suaminya. "Hey, Naruto. lama tidak melihatmu." Temari memeluk sekilas Naruto. "Terakhir kulihat kau cukup berantakan, tapi lihat saat ini." Temari menyipit curiga, lalu terkikik kecil. "Kau nampak seperti pria yang baru menikah, eh. Apa sudah ada yang mengurusmu?" Dari celah bahu Naruto, Temari bisa melihat seorang wanita yang sedari tadi lengannya digenggam oleh Naruto.

"Kau menggenggamnya terlalu erat. Wanitamu sampai tidak bisa terlihat." Temari menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia baru tahu bahwa Naruto bisa bersikap berlebihan seperti ini. Di mata Temari pria ini dulunya terkenal dengan jalinan open relationship pada setiap wanita, kini Naruto mengalami perubahan signifikan. "Kau bukan pengasuhnya, biarkan dia menikmati pestanya juga." Temari langsung mengambil tempat diantara Naruto dan Hinata. Dia mengerling pada Naruto. "Silahkan kau nikmati pesta ini bersama pria-pria di sebelah sana, dan biarkan aku yang mengurus tuan putrimu ini. Kau terlalu posesif sampai tidak membiarkannya berbicara pada siapapun."

"Jangan terlalu membawa Hinata, dia harus dalam jangkauan mataku."

Temari memutar mata bosan. Hei, ini bukan berada di hutan. Naruto tak harus bersikap seperti kakek-kakek. "Kau fokuslah dengan urusanmu sendiri."

"Maafkan aku bila memisahkan kalian." Suara kasar yang Temari keluarkan tadi berganti lebih feminim. Dia mengambilkan beberapa potong kue beserta minuman manis dan menyerahkannya pada Hinata. "Sebagai tanda pertemanan kita."

"Terima kasih." Hinata menerimanya. Dia tidak merasa canggung berdekatan dengan Temari meski baru mengenal. Temari seorang wanita yang bisa mengubah suasana.

"Sebenarnya aku sudah ingin mengunjungimu beberapa hari setelah pernikahan kalian dulu. Tapi kesibukanku tidak bisa kutinggal, dan saat aku benar-benar memiliki waktu, tersebar berita kalian telah berpisah." Minuman yang diteguk Temari memiliki kadar soda yang kuat, dia sampai mengernyitkan kening. Hinata mengeratkan pegangannya pada gelas minuman yang dia pegang.

"Itu memang berita yang besar." Ucap Hinata. "Tapi, banyak hal yang terjadi setelahnya. Kami masih dalam tahap untuk saling memahami lagi."

"Aku mengerti. Naruto, dia memang arogan, kasar dan benar-benar bisa menjadi orang yang memuakkan. Aku mengenalnya tidak setahun dua tahun. Sejujurnya aku cukup kecewa dia bisa menikah denganmu. Oh god, kau terlalu baik untuknya." Temari memegangi pelipisnya dan membuat gerakan memijat. Melihat dari sikap Naruto dulu, Temari sempat berpikir bahwa memang Shion lah yang sesuai untuk Naruto. Bukan gadis biasa seperti Hinata, biasa namun terlihat luar biasa. Mata Naruto terlalu jeli dalam memilih.

"Tapi sialnya aku justru ikut bahagia. Untuk masa depannya, dia memilih wanita yang tepat." Diakhir kalimatnya Temari tersenyum. Dia memegang bahu Hinata. "Dia lebih manusiawi bila bersamamu. Kuharap kalian memang dapat bersama lagi, apalagi kini kalian sudah jadi orang tua bukan?"

Hinata cukup terkejut Temari mengetahui keberadaan anaknya. Apakah keberadaan Boruto memang sudah tersebar begitu jauh?

Temari mengedikkan bahunya seolah bisa membaca apa yang dipikirkan Hinata. "Saat aku mengantar Shikadai –anakku ke sekolah, tidak sengaja aku melihat seorang bocah dengan kemiripan yang tidak diragukan lagi anak seorang Naruto. Kuharap anak-anak kita bisa berteman."

Hinata ikut mengangat gelas dan dua wanita itu bersulang.

"Maaf, Hinata. Aku harus ke sana terlebih dahulu. Menyambut beberapa tamu yang baru datang. Kau tidak apa-apa kan kutinggal sebentar?"

"Tidak masalah. Aku akan menikmati pesta ini."

"Baiklah. Bila ada sesuatu kau bisa menghampiriku. Nikmati pesta ini semaksimal mungkin. Aku dan suamiku mendesainnya sesuai kesukaan Naruto. Terdapat bluberry cake di sebelah sana, Naruto bilang kau menyukai kue dengan rasa manis. Ambillah, itu milikmu."

Setelah Temari meninggalkan Hinata untuk menyambut tamu tamu yang lain, Hinata hanya beberapakali memasukkan hidangan kecil ke dalam mulutnya. Seperti kata Temari, dia mengambil short cake bluberry yang diberitahukan oleh Temari. Semua orang nampaknya menikmati pesta ini. Memang terlihat meriah. Dekorasinya mewah dan terdapat alunan musik klasik. Namun tidak ada yang benar-benar dia kenal di tempat ini –kecuali pasangan Nara yang masih sibuk menerima tamu meski sudah semakin larut.

Dia ingin menghampiri Naruto tapi dia menahan diri. Dilihat dari matanya, Naruto sepertinya menyenangi pesta ini. Dia masih mengobrol dengan teman-temannya. Di sekelilingnya penuh orang-orang berpengaruh. Hinata cukup mengerti. Ada waktu bagi Naruto untuk berkumpul bersama orang yang sekasta. Namun dia ingin mengatakan pada Naruto bahwa dia sudah mulai mengantuk. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

Merasa haus, Hinata mengambil minuman di meja terdekat. Dia tidak melihat minuman jenis apa itu. Hinata langsung menghabiskanya dalam satu tegukan, tidak ada sedetik lalu dia mengibaskan lidahnya. "Errrhh. . ." Rasanya menyengat, terlalu tajam di lidahnya. Bukan seperti minuman sirup pada umumnya. Tenggorokannya seperti terbakar. Hinata baru sadar dia meminum minuman berakohol. Namun dia sudah terlanjur meneguknya sampai habis.

"Apa yang kau lakukan?!" Seseorang berteriak karena Hinata menabraknya. Menyebabkan coat mahalnya terkena tumpahan minuman merah. Pria itu menggeram marah. Bisa-bisanya ada orang mabuk di dalam pesta.

Pandangan Hinata memburam. Dia tidak bisa menahan ini lebih lama lagi. Dia hanya ingin menghampiri Naruto. Dia ingin pulang. Sekarang.

"Berhenti sebentar nona, kau belum bertanggung jawab atas ulahmu." Pria tadi mencengkeram tangan Hinata. "Kau harus membayarnya." Tubuh Hinata ditarik menjauh dari keramaian. Terdapat sudut yang terlindungi pilar, pria itu membawa Hinata ke sana.

Hinata memberontak pelan, dia tidak suka dipegang-pegang. "Le-lepaskan."

"kau harus menyelesaikan ini dulu." Tunjuk pria itu pada noda merah di jasnya. Hinata melihatnya dengan mata hampir terpejam dan wajahnya mulai merah. Dia dalam keadaan mabuk sekarang. Pria itu meneguk ludah. Jika dilihat-lihat, wanita ini sangat cantik dan dia belum pernah melihat warna mata pucatnya yang polos. "Aku tidak punya uang untuk mengganti pakaianmu. Lepaskan aku." Hinata kembali mencoba melepaskan diri, sanggulan rambutnya mulai berantakan. Dia hampir oleng karena keseimbangan tubuhnya mulai terganggu.

"Jangan menipuku. Bila kau tidak memiliki uang kau tidak akan di sini. Ini pesta untuk orang kaya. Apa kau wanita bayaran yang disewa untuk menemani beberapa pria di sini?"

"Bagaimana bila kau membayarnya dengan cara yang lain?" Pria itu menyeringai. "Aku bisa menyewa salah satu kamar di hotel ini untuk kita." Seringainya muncul ketika dia mendapatkan jackpot macam ini. Hinata mengerjabkan matanya, dia masih fokus pada Naruto yang berada lumayan jauh darinya. Kakinya hendak melangkah namun tertahan karena seorang lelaki tak dikenalnya menahan dirinya.

"Ayo, kita ke atas."

"Tidak, lepaskan –ugh!" Kepala Hinata pening. Dia sudah tidak bisa merasakan dirinya lagi. Hinata tidak kuat dengan minuman keras. Sekali minum dia akan bertingkah diluar kendali. "Aku ingin pulang. Naru-" Dengan gerakan apapun yang dia bisa, Hinata bersikukuh untuk pergi. Sikut Hinata tidak sengaja mengenai pelipis si pria. Dia menggeram marah merasa pelipisnya sedikit lecet serta berdarah.

"-Kau!" Tangannya melayang akan memukul Hinata sebelum sebuah tangan lebih dulu menahannya. Dia mendesis sakit, tangannya diremat kuat sampai dia mengira bahwa ada tulang jari yang bergeser dari tempat semula.

"ARRGGKKK!"

Naruto berdiri dengan napas memburu. Kancing jas dan dua kancing bagian atas kemeja dia buka paksa. Lengan bajunya dia gulung sampai siku lalu tanpa ampun menyeret lelaki itu menjauh dari Hinata. "Kau telah melakukan sesuatu yang bodoh!" Desis Naruto. Lelaki yang hampir memukul Hinata ini ketakutan dengan tubuh gemetar hebat saat tahu dengan siapa dia berhadapan. Uzumaki Naruto. Kerongkongannya terasa kering, dia tidak bisa meneguk ludah. Kesialan macam apa sampai membuat Naruto menguarkan aura membunuhnya.

"Sudah kubilang jangan ada yang berani menyentuhkan tangannya pada milikku. Hinata milikku, aku akan memotong tanganmu."

"Naruto hentikan!" Shikamaru yang pertama mencoba menahan amarah Naruto. "Tinggalkan dia di sini. Dia akan menjadi tanggung jawabku untuk memberinya pelajaran." Sudah banyak orang yang mengerubungi mereka. Dia tidak mau Naruto lebih berurusan dengan berita-berita yang bisa ditimbulkan dari kejadian ini.

"LEPASKAN! Dia melukai Hinata-ku. Aku ingin jemarinya dilepas satu persatu. Beraninya dia –" Naruto beralih melihat Hinata yang terduduk dengan penampilan berantakannya. Rambutnya sudah banyak yang terurai. Gaunnya juga melorot di bagian bahu. Naruto memejamkan matanya. Rahangnya mengetat. Sebuah bogeman langsung mengenai rahang pria ini. Dia tersungkur dengan darah yang keluar dari luka robek di bagian pipi. Naruto tidak main-main.

"Kuserahkan dia padamu." Naruto melempar lelaki itu pada Shikamaru. "Bila kau tidak memastikan dia tahu apa itu kesakitan, maka aku sendiri yang akan memberikan padanya sampai dia tidak akan pernah melupakannya."

Naruto menghampiri Hinata. Dia mem-bridal Hinata dalam gendongannya. Dia tidak peduli semua pasang mata yang melihatnya atau beberapa kamera yang sengaja mengambil fotonya. Mungkin besok akan muncul berita kembali, namun Naruto tidak memusingkannya. Itu hanya berita kecil. Mereka harus berpikir dua kali bila nekat berurusan dengannya.

Naruto meletakkan Hinata pada kursi mobil bagian depan. "Maaf sayang." Dia tidak berpikir akan berakhir seperti ini. Hinata tidak merespon, dia sibuk menggeliatkan tubuhnya tanpa sadar. "Baiklah, kita pulang." Naruto melajukan mobilnya meninggalkan pesta. Sepanjang perjalanan Naruto harus membagi perhatiannya antara menyetir dan keadaan Hinata. Dalam keadaan mabuk seperti ini, Hinata tidak bisa diam. Kepala, tangan dan kakinya aktif bergerak.

"Tidak Hinata. Kau harus tetap duduk. Jangan membuka pintu." Sebelah tangan Naruto menahan agar Hinata tidak membuka pintu mobil. Naruto mendengar suara tawa Hinata yang dibarengi dengan cegukan kecil.

"Naruto, umm?" Hinata mendekat ke arah Naruto. Mengendus wangi maskulin Naruto. "Kau wangi –hik- aku suka –hik."

"Aw!" Naruto memekik terkejut saat telinganya digigit Hinata. "Kau benar-benar terlihat seperti kucing liar saat mabuk. Jauhkan tanganmu dari kemudi, Hinata. Kau bisa membahayakan kita."

Hinata hanya memberinya tatapan sayu dan kembali tertawa. Dia seperti anak kecil tapi tidak untuk kelakuannya barusan. "Selalu saja kau mengaturku. Menyebalkan sekali." Bibirnya manyun. Bekas lisptik merah masih membekas. Dia memukul Naruto. "Aku ingin pulang." Teriak Hinata tiba-tiba.

"Iya, sayang. Aku sedang mengantarmu pulang. Jadi bisakah kau tenang?"

"Panas sekali." Komentar Hinata. Di lehernya sudah mengalir keringat panas. Naruto menyalakan AC mobil namun Hinata malah berusaha melepaskan resleting gaunnya. Naruto mendecakkan lidah. Melihat Hinata seperti ini dia terlihat beribu kali lebih menggoda. "Tidak Hinata. Kau harus terus berpakaian lengkap. " Naruto kwalahan menghadapi Hinata yang kehilangan kemampuan berpikirnya.

Naruto kembali memekik ketika dia merasakan sebuah tangan meraba-raba bagian pahanya. Tingkah Hinata sudah dibatas kenormalan. "Di sini hangat." Pipi Hinata menggesek-gesek bagian paha Naruto, tepatnya pada bagian selangkangan. Menempatkan sisi wajahnya senyaman mungkin pada pangkuan Naruto.

Meski terlindungi celana tapi Naruto cukup sensitif untuk menerimanya. Dia mencengkram kemudi terlalu erat.

Fuck!

Ingatkan Naruto untuk melarang Hinata minum minuman berakohol. Wanita ini bisa bertingkah berbahaya. Bagaimana bisa dia bertingkah semenggoda ini pada seorang pria? Bila Naruto tidak benar-benar memegang akalnya, dia bisa saja membanting tubuh Hinata lalu menindihnya. Napas panas Hinata seperti meniupi bagian pribadi Naruto. Ia seenaknya bergumam bahwa di sana hangat dan empuk.

Naruto hampir menabrak pembatas jalan.

"Ok, cukup. Kau benar-benar mengujiku, Hinata." Naruto menepihkan mobilnya. Hinata dia taruh di bagian kursi belakang. "Ini akan lebih aman." Keringatnya ikut mengucur, bila ini cobaan maka Hinata sudah sangat berhasil untuk merapuhkan dinding keimanannya.

"Tidak-hik- aku ingin Naru-hik-" Ya Tuhan, kalimat inkoheren apalagi itu? Naruto berkeringat panas dingin menghadapi wanita di depannya ini. Tangan Hinata menggapai-gapai udara. Gerakannya meremas-remas nakal. Naruto membayangkan bila tangan-tangan itu melakukan hal yang sama pada tubuhnya. Naruto merasa tersetrum. Dia jadi berpikiran kotor sekaligus tegang.

Hinata merengek ketika Naruto berada jauh darinya. Dia masih mengenali Naruto namun entah kenapa dia jadi lebih menginginkannya. Kabut-kabut aneh bermunculan seperti gelembung sabun di kepalanya. Kenapa dia seperti kepanasan?

Dan perjalanan yang seharusnya singkat, bagi Naruto terasa panjang dan terjal. Mereka sudah dekat dengan rumah, tapi dia tiba-tiba menginjak rem secara mendadak ketika Hinata kembali berulah. Kini semakin menjadi-jadi. Naruto mendesah frustasi. Dari belakang, Hinata meloloskan kedua tangannya untuk merabai tubuh Naruto. Mengabsen dari dada sampai ke perut. Hinata menjadi binal.

Matanya berkabut oleh sesuatu yang aneh. Dia sampai meraba di bagian 'itu'. Kontan Naruto menegang menerima sentuhan dari Hinata. "Wow, jemarimu menyentuh dibagian yang salah Hinata. Kau harus membiarkannya tetap terkurung di sana. Atau dia akan mengamuk."

Bukankah Hinata sudah seperti ikan yang menghampiri beruang? Dia menyodorkan dirinya sendiri. Lalu apa yang harus Naruto lakukan?

Berbicara dengan Hinata dalam keadaan mabuk adalah hal paling mustahil. Wanita ini tidak mendengarkan peringatan Naruto. Hinata malah sibuk mengoceh tak penting. Naruto menguatkan apapun yang bisa menghalauanya dari godaan Hinata. Mobilnya sudah sampai di rumah. Dia cepat-cepat membawa Hinata ke dalam dan membaringkannya di atas kasur.

Sepatu berkilau Hinata dia lepas. Sanggul rambut yang sudah tak berbentuk memudahkan Naruto untuk merapikan rambut Hinata agar nyaman dibuat tidur.

"Kau benar-benar hangover. Besok mungkin kau bangun dengan sakit kepala." Naruto beranjak meninggalkan Hinata. Ia harus membersihkan dirinya. Mengurus sendiri bagian tubuhnya setelah disentuh Hinata secara sembarangan.

'Hup'

Sepasang kaki melilit pinggangnya. Lalu membanting Naruto untuk ikut tiduran. Wajah Naruto menempel pada dada Hinata.

"Kau mau meninggalkanku –lagi?" Suara Hinata serak. Tenggorokannya masih terasa panas. Terbakar dari dalam. "Dulu dan sekarang, kenapa kau selalu ingin meninggalkanku? Di pesta tadi kau membiarkanku sendiri." Kini matanya juga ikutan panas. Hati Hinata sedang sangat sensitif. Yang dia ingat adalah saat Naruto meninggalkannya.

"Hey, apa kau masih mabuk?" Naruto mengelus alis Hinata. "Aku di sini, tidak meninggalkanmu."

"Bila kau ingin aku tetap di sampingmu yang perlu kau lakukan hanya mengatakannya." Suara Naruto lebih berat dari biasanya. Hinata sudah setengah sadar, mungkin alkohol yang dia minum tidak terlalu banyak. Naruto membenamkan wajahnya pada dada Hinata. Menghirum semua aroma yang bisa dia cium. Wangi. Naruto memeluk Hinata.

"Jangan tinggalkan aku lagi." Gumam Hinata.

Naruto mendongak. Bibir Hinata yang tepat di depannya dia cium. "Selamanya, aku akan mengurungmu di sisiku."

"Jadi, apakah kau ingin melanjutkannya? Bila tidak, aku harus segera ke kamar mandi."

Hinata menyadari batas ketahanan Naruto. Tubuhnya yang ditindih Naruto bisa tahu ada batangan keras menekan-nekan perutnya. Milik Naruto sepenuhnya tegak. Raut wajah Naruto juga nampak tidak nyaman. Pasti sedari tadi dia menahan setengah mati.

"Maaf aku tidak bisa menahannya lagi." Permintaan maafnya berbanding terbalik dengan tindakannya yang terus memberi Hinata sentuhan panas. "Hinata, bolehkan aku mengambilmu?"

Tangan Naruto menggenggam tangan Hinata. Dia mencium lembut untuk memintanya. Naruto benar-benar sudah menundukkan dirinya sendiri untuk bisa kembali membawa Hinata dalam dunianya. "Aku tidak akan meninggalkanmu atau pergi. Tidak juga menyakiti atau menyia-nyiakan dirimu. Aku akan bertanggung jawab." Sorot matanya tidak berbohong. Hinata mendesah pelan saat lehernya diciumi Naruto. Ciuman Naruto selalu meninggalkan bekas bulatan merah yang menyebar di sepanjang tulang selangka. Hinata tidak menolak sentuhannya.

Tangan Naruto sudah sampai pada belakang gaun Hinata. Dia menarik turun resletingnya dan tanpa kesulitan melepaskan gaunnya dari Hinata. Sepanjang bekas jahitan cesar yang membentuk jaringan parut dicium oleh Naruto. Terakhir dia berhubungan dengan Hinata, dia melakukannya dengan paksaan. Kini dia ingin melakukannya dengan kehati-hatian. Naruto menginginkan Hinata membalasnya.

"Terima kasih telah melahirkan Boruto. Kau membawanya dan mengelurkannya dari perutmu dalam keadaan sehat. Kau ibu yang hebat, aku ingin kembali mengisimu lagi. Mendapatkan beberapa bayi lucu untuk hidup kita." Naruto memujinya. Kata-katanya membuat Hinata membiarkan tubuhnya semakin dilihat oleh Naruto.

"Bila aku kembali padamu. A-apakah kau akan menjagaku? Aku tidak ingin pengalaman mengandung Boruto terulang. Aku tidak sekuat itu untuk hancur dua kali." Hinata melipat bibirnya ke dalam. Dia menghindari suara desahannya lebih vokal keluar. Dia tidak tahu sejak kapan tubuhnya sudah terpampang tanpa pakaian.

"Sstttt. Tidak ada yang akan hancur, Hinata. Kau, Boruto dan mungkin calon anggota baru keluarga kita semuanya akan baik-baik saja. Aku akan menjaga kalian. Jadi, apakah kau menginjinkanku menjadi pria yang akan menemanimu, menjaga dan mencintaimu serta bersama-sama membesarkan anak kita dan akan tetap bersama meski kita sudah tua?"

Hinata menangis. Naruto memperlakukannya dengan begitu istimewah. Dia bukan lagi pria arogan seperti lima tahun yang lalu. Di depannya hanya ada Naruto. Seorang pria yang mencintainya dengan begitu dalam. Sentuhannya juga tidak lagi kasar dan meninggalkan bekas perih kemerahan. Naruto menyentuhnya pelan penuh kehati-hatian. Sentuhan ini hampir mirip dengan waktu pertama Naruto menandainya sebagai seorang wanita, namun kali ini ditambah kata-kata cinta. Hinata tidak bisa tidak jatuh cinta pada sosok yang menindihnya sekarang.

"Aku percaya. Lakukan, Naruto." Hinata mengambil sesuatu yang dia simpan selama ini. "Pakaikan lagi cincin ini." Perintahnya menyerahkan cincin yang Naruto kira Hinata telah membuangnya. "Kau harus melamarku dengan cara yang benar, melakukannya sebagai seorang pria sejati. Dan buat aku tidak memiliki alasan apapun untuk berkata tidak."

Beberapa saat Naruto berpikir pendengarannya mengalami disfungsional. Dia mendengar bahwa Hinata memintanya melamar sekali lagi. Jantungnya bergemuruh riuh, antara percaya dan tidak percaya lalu saat dia menatap Hinata, barulah dia sadar bahwa ini bukan mimpi atau imajinasi.

"With pleasure." Suara Naruto bergetar. Naruto berlutut ketika memakain cincin ke jari manis Hinata. Ukurannya melingkar sempurna memperindah jari manis Hinata. Batu biru di cincin itu terlihat lebih berkilap. Naruto kembali memberikan ciuman lembut pada punggung tangan Hinata. Ini bukanlah gayanya, tapi Naruto merasa bangga bisa melakukannya.

"Hinata, maukah kau menikah denganku untuk yang terakhir. Menjadikan pernikahan kita adalah satu-satunya pernikahan atas nama Tuhan. Menjadi satu- satunya wanita yang dipanggil mama oleh anak-anak kita. Tetap bersamaku sampai kematian datang menghampiri kita, bolehkah aku membahagiakanmu? "

Entah sudah sebanyak apa air mata yang Hinata keluarkan. Ingusnya pasti sudah keluar. Ini bukan air mata kesedihan seperti sebelum-sebelumnya. Hinata menangis karena merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia. Naruto memberikan dunianya padanya. Menundukkan dirinya sendiri.

"Hkss, a-aku bersedia. Sampai rambut kita beruban, sampai anak-anak kita dewasa dan menjalani hidup mereka sendiri, sampai wajah kita digerus keriput dan bahkan sampai kematian datang, a-aku akan tetap mendampingi Naruto untuk selamanya." Hinata memeluk Naruto. Perasaan mereka terhubung satu sama lain. Sama dengan apa yang dilakukan Naruto padanya, Hinata melepaskan baju Naruto satu persatu. Bila Naruto telah menelanjanginya maka Hinata masih menyisakan celana Naruto.

Dengan gerakan gentle dan terukur, Naruto melepaskan semua penutup tubuhnya. Tangannya meraba pada bagian utama Hinata. Melakukan beberapa pemanasan sampai benar-benar Hinata siap. Dia harus memastikan Hinata sudah siap untuk menerima ukurannya yang berukuran di atas rata-rata. Oversize.

"Biarkan aku membantumu." Hinata menyingkirkan tangan Naruto pada batangan yang membengkak. Hinata berjongkok di depan kepunyaan Naruto. Besar dan tebal. Hinata meneguk ludah. Sebelumnya dia tidak terlalu memperhatikan size Naruto. Pantas saja dia selalu merasa tersedak saat Naruto memasukinya. "A-apakah ini normal?" Tangannya menyentuh benda mengacung itu. Benar-benar sudah mengeras. Naruto mendesis keeenakan.

"Kalau kau bertanya mengenai fungsinya, tenang saja dia masing sangat normal. Dia bisa memuaskanmu." Katanya bangga. Naruto terus memerhatikan Hinata. Naruto pikir Hinata mencoba mengocoknya, namun dia salah menduga. Naruto ternganga saat benda besarnya diarahkan Hinata pada mulutnya sendiri.

"Hi-Hinata, apa yang –gezzz. .." Sialan! Sejak kapan Hinata bisa melakukan pekerjaan tiup meniup seperti ini? Mulut Hinata terlalu kecil, hanya mampu menampung kepala dan setengah badannya. Sisinya dibiarkan menggantung meski dibungkus telapak tangan Hinata.

Naruto tidak bisa untuk mendorong pinggulnya. Jika dia melakukannya, Hinata akan kesakitan. Mata Naruto terbuka terpejam dibarengi desisan rendah.

"Argkk,"

"Apa aku melakukan kesalahan?" Hinata melepaskan kulumannya ketika Naruto menggerang.

"Jangan gunakan gigimu, sayang. Kau bisa menggencetnya sampai terluka." Memang nikmat, tapi saat gigi Hinata ikut andil, barulah Naruto merasa miliknya terlalu ditekan dan ngilu.

Hinata merasa malu. Melakukan menggunakan mulut memang baru pertama baginya. Dia merusak momen erotis yang sudah terbangun.

"Gunakan lidahmu dan rongga mulut bagian atas. Namun bila kau merasa itu susah jangan dipaksa. Tidak masalah Hinata belum bisa melakukannya. Kita bisa pelan-pelan mencoba berbagai macam gaya nantinya. Dengan begini saja aku sudah sangat terangsang, kau melakukannya dengan sangat baik."

Naruto membimbing tubuh Hinata untuk menaikinya. "Kita bisa mencoba posisi ini terlebih dahulu."

Dipandang dari bawah oleh Naruto membuat Hinata tidak bisa menyembunyikan wajahnya. Dia seperti menunggang kuda, bedanya kini Narutolah yang bakal dia tunggangi. Delapan kotakan di perut Naruto membentang membuat Hinata ingin mengelusnya. Badan Naruto sangat bagus. "Hey, kenapa wajahmu merah begitu?" Tanya Naruto menyeringai. Tangannya tidak tinggal diam, mereka bekerja meremasi dua dada kenyal milik si wanita.

"Aku bisa melakukannya." Yakin Hinata. Tangannya menggenggam tangan Naruto. Dia memposisikan milik Naruto tepat di depan bagian privat tubuhnya yang sudah basah. "Ughh – di-dia besar sekali." Hinata menahan napas. Baru setengah jalan tapi miliknya tetap terasa rapat saat benda Naruto masuk.

Gigi Naruto bergemelatuk menahan diri agar Hinata yang menyelesaikannya. "Angkat pantatmu lebih tinggi sedikit, Hinata. Lalu gerakkan turun perlahan, tidak usah buru-buru. Milikku sudah setengah masuk. Aku yakin kau bisa melakukannya."

Menuruti apa yang diperintahkan Naruto, Hinata mulai menggerakkan pantat dan pinggulnya. Naik sedikit lalu turun perlahan. Senggaja menggoda, Naruto malah menghentak maju sampai seluruhnya tertanam. Hinata ambruk di atas tubuhnya. Napas wanita ini putus-putus.

Mulut Naruto mengecup kening Hinata lalu beranjak di salah satu puncak dadanya. Dia mengulum gemas bulatan itu sampai warnanya lebih gelap menjadi merah kecoklatan. "Na-naru, jangan di sana." Hinata tidak bisa fokus ketika dua titik sensitifnya dijamah Naruto secara bersamaan. Di bawah dan di atas. Naruto melakukannya seolah itu adalah hal yang kecil.

Naruto memegangi pinggang Hinata, dia menggerakkan pinggulnya naik turun. Lalu Hinata mulai menyusul. Mereka berciuman sambil terus menggerakkan tubuh mereka, menaiki tangga menuju kenikmatan bersama.

"Ja-jangan ketatkan lu-bangmu, sayang." Naruto meringis karena miliknya seperti diremat. Hinata masih tetap ketat dan rapat. Dia bisa langsung klimaks bila Hinata terus begini. Naruto langsung merubah posisi mereka. Dia yang mengambil alih kendali. Kecepatan hentakannya semakin dipercepat sampai menimbulkan suara becek. Sangat erotis ketika Hinata melingkarkan kakinya di pinggang Naruto. pahanya terbuka lebih lebar. Naruto semakin dalam memsukinya.

"Akh, aku-aku ummm ingin ke-lu-ar." Hinata mendesah hebat. Dia mencengkram punggung Naruto. mencakarnya ketika gelombang dahsyat membuat perut bagian bawahnya mengejan lalu tulang-tulangnya seperti terlepas satu per satu. Naruto memberi jedah agar Hinata menikmati orgasmenya.

Tapi, itu hanya beberapa detik karena dia pun merasakan hal yang sama. Naruto sudah diujung puncak. Dia mendorong miliknya sampai ke bagian terdalam yang bisa diraih oleh 'bendanya'. Menarik keluar sampai ujung kepala lalu menghentak masuk dan melengkuh panjang di leher Hinata.

Ke dua mata Hinata terpejam. Tubuhnya bergetar. Milik Naruto membesar maksimal sebelum menyemburkan cairannya. Sangat banyak, kental dan hangat sampai mengalir keluar. Perut Hinata seolah diisi penuh. Ini klimaks terbaiknya. Naruto menjilat dada Hinata yang naik turun menata napasnya. Dia masih belum puas hanya dengan satu tembakan.

Naruto menyampingkan tubuh Hinata. Dia memasukkan kembali kejantannya. Mereka saling bergumul dan melengkuh. Malam ini masih panjang. Saat sudah kali ke tiga Naruto terus mengeluarkan load nya di dalam, Hinata mulai merasa lelah. Dia jatuh tertidur meski Naruto terus saja menggunakan tubuhnya.

"Papa harap kau sudah terbentuk di sana." Bisik Naruto tepat di depan perut Hinata. Dia mengelusnya beberapa kali. Entah kenapa Naruto sangat yakin bahwa sebentar lagi mereka akan mendapatkan anggota keluarga baru. "Tumbuhlah dengan sehat. Papa dan mama serta kakakmu sudah menantikan dirimu."

.

.

.

.

"Apa yang sedang kau lakukan di sana?"

"Kami baru saja makan, pa. Kelapaku masih pusing."

Hinata samar-samar mendengar percakapan dua orang di dekatnya. Dia juga mendengar suara kecil Boruto. Apakah Boruto di sini?

"Papa, dimana mama? Boruto kangen."

"Mama ada di sini, mama masih tertidur." Naruto mengarahkan ponselnya ke arah Hinata yang tertidur di sampingnya.

Hinata tidak salah dengar lagi, dia bangun sambil mengusap matanya. "Dan kini mama sudah bangun." Naruto membantu Hinata untuk menyandarkan dirinya pada dada bidangnya. Naruto juga merapikan selimut agar tetap menutupi tubuh polos Hinata. Dia tidak bisa membiarkan Boruto melihat hal yang belum saatnya dia lihat.

"MAMA! Lihat sini ma. Aku ada di sini." Keluhnya ketika Hinata masih belum sepenuhnya melihat ke arahnya.

Naruto memberikan smartphone nya dimana terdapat wajah Boruto di layar yang sedang memayunkan bibirnya. Mereka melakukan Vicall dan anak itu kesal karena sang mama belum menyapanya sama sekali. Hinata terkekeh, dia sangat merindukan Boruto.

"Sayang, mama merindukanmu. Kenapa Boruto tidak segera menghubungi mama? Apa di sana sangat menyenangkan sampai my baby boy melupakan mama?"

Boruto menggeleng. Rambut pirangnya masih mencuat ke segala arah. Hinata membatin anaknya pasti masih sangat lelah. "Sampai di sini kepalaku pusing ma dan terasa mual. Nenek dan kakek menyuruhku untuk tidur." Jelas Boruto. Hinata mengangguk paham. Kemungkinan besar Boruto mengalami jetlag.

"Kalau begitu Boruto istirahat saja. Serahkan ponselnya ke nenek atau kakek." Suruh Naruto dengan mendekap Hinata dalam pelukannya. Boruto melihat dengan mata cemburu, dia ingin memeluk mamanya. Tapi sang papa terlihat mendominasi mamanya.

"Kenapa papa manja sekali? Papa sudah besar, jangan peluk-peluk mama seperti anak kecil pa."

"Why not?" Tantang Naruto. "Selagi Boruto tidak ada, mama adalah milik papa. Bila Boruto ada di sini terus mama tidak memerhatikan papa dan selalu menomor satukan Boruto. Satu lagi yang penting, papa dan mama memutuskan untuk memberikan adik padamu, nak. Apa kau menyukai rencana itu?"

"Naruto." Serga Hinata mengingatkan Naruto.

"Adik?" Boruto sudah terlanjur mendengar. Dia menoleh di sampingnya yang terdapat Kushina. "Nek, adik itu apa?"

Kushina tertawa gemas lalu mencium telak bibir cucunya ini. "Seorang yang akan menemani cucu tampan nenek bermain. Kau bisa mengajak adik untuk bermain bersama. Kau juga bisa dipanggil kakak, sebuah sebutan yang menjadikan Boruto seperti hero. Bukankah terdengar sangat menyenangkan, ne?"

"Hero?"

"Tentu. Hero. Pahlawan. Seperti yang Boruto lihat di anime." Sahut Naruto.

"Boruto mau." Bocah itu memekik sambil memamerkan gigi susunya. Tingkahnya mengundang tawa dari Kushina yang berada di sampingnya. "Aku ingin menjadi pahlawan." Boruto mengarahkan lagi pandangannya ke layar. "Aku mau pa! buatkan adik yang banyak. Satu, ah tidak, aku mau dua adik." Boruto mengarahkan dua jarinya pada kedua orang tuanya. Naruto semakin tersenyum lebar. Boruto lebih bisa diajak bekerja sama.

Hinata menggelengkan kepala melihat tingkah anak dan prianya ini. Mereka sama saja. "Sekarang Boruto istirahat saja dulu. Cium mama, nak."

Meski melewati layar smartphone, Boruto mencium wajah mamanya. Dia juga mencium papanya. Lalu layar berpindah pada sosok Kushina, di belakangnya ada Minato yang menidurkan Boruto.

Kushina yang melihat keadaan Naruto dan Hinata tentu paham malam seperti apa yang mereka lakukan. Dia mencibir Naruto karena melihat dari seberantakannya Hinata, pasti Naruto terus memaksanya.

Hinata menyembunyikan dirinya pada lipatan lengan Naruto. Dia belum siap dilihat dalam keadaan seperti ini terutama oleh ibu Naruto. Dia ingin membersihkan diri namun kakinya mati rasa. Mungkin nanti dia bisa meminta tolong pada Naruto untuk membantunya ke kamar mandi.

"Baiklah, ibu tutup dulu ya. Nanti ibu akan kembali menghubungi kalian. Tapi bila kalian masih ingin melanjutkan memprogram adik bayi lagi, ibu tidak akan mengganggu." Kushina mengedipkan matanya. "Ibu tutup dulu ya, sayang. Bye bye."

"Kenapa kau bersembunyi terus Hinata?" Naruto meletakkan smartphone nya lalu kembali mendekati Hinata yang kini menutupi dirinya dengan selimut.

"Aku malu. Tadi ibu melihat kita. Pasti dia berpikir yang tidak-tidak." Naruto kini bergabung dengannya di bawah selimut. Hinata semakin memerah. Dia melihat bercak merah mencakarnya di dada Naruto. itu tanda dari dirinya. Pasti di bahu Naruto juga terdapat bekas yang sama. Apakah semalam dia terlalu liar?

"Ibu pasti mengerti. Dia juga pernah muda."

Hinata menghirup dalam-dalam aroma tubuh Naruto. Baunya tetap segar meski tercampur keringat serta cairan khas bekas berhubungan. "Aku ingin mandi, tapi kakiku tidak bisa kugerakkan. Memang bukan malam pertama kita, tapi kupikir semalam kita terlalu berlebihan."

"kita bisa mandi bersama." Tawar Naruto. Dia memakai kembali celana dalamnya beserta boxer abu-abu. "Aku akan menggendongmu dan membantumu mandi. Aku juga bisa memijatmu, kau bilang kita berlebihan kan." Hinata mengangguk, dia membiarkan Naruto melakukannya. Naruto memperlakukannya seperti putri bangsawan.

"Naru. Aku mencintaimu."

"Aku tahu. Begitupun juga diriku. Kau duniaku."

Tidak, Hinata tahu dia seharusnya senang atau tersanjung. Namun tetap saja dia merasa ada hal menakutkan yang akan terjadi nantinya. "Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku lagi."

Naruto menatap Hinata. "Apapun alasannya, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri."

Ya, Naruto pasti akan menjaganya. Hinata bisa merasa tenang. Naruto tidak akan meninggalkannya, Naruto mencintainya dan dia pun mencintai Naruto. Tidak ada yang perlu dicemaskan.

Lalu, bagaimana bila nanti dialah yang akan meninggalkan Naruto? Hati Hinata tidak sanggup membayangkanya. Dia berharap tidak akan ada saat seperti itu.

.

.

.

.

TBC

Seneng-seneng dulu sebelum badai muncul. Smirk.

Ada yang kangen om tampan tapi jomblo, om Toneri?

Cahpter selanjutnya kemungkinan bulan depan. Tergantung ada waktu tidaknya untuk mengerjakan cerita ini. Slow but sure, yes.

Terima kasih untuk : Ika1702, creampuff01, alvirahmawati2421, Sunny chou, arybagus, Maodilla, , miwa, aihara yuni, Allen Walker, Shafirameliana, drealyouleeachay, nurr sinih, ShinTia, 56, arrisachan2326, hyuga mutiara, Lee NH, megahinata, shafir, Uchiha hana, Ikkino Xhrizho, hime-chan 1204, WinNH376, yuki, Uzumakiboruto10, Tsukasa, anirahani, Ichiro Vava, Ares, antiy3629, salsal hime, fha, dec chan, Haruka, , Nafika piko, na, isabellawinata, Dini, alllllllliiiiiaaaaa, RaTiZa, uchihawulan, zu-chan Naruhina, Ozellie Ozel, hikari21p, mio chan, Naellaa, Maika-sanParfait, anishl, hima, Deandra, Baenah231, elmyuu, N-Formylmethionine, Ahli kubur the awakening, mawar jingga, astia morichan, yuma, Haizahr Hana.

Pesan buat yang bilang sikap Hinata kok sok baik gitu, nerima gitu aja, bodoh, atau bahkan bilang tolol. Pasti taulah bedanya cerita hasil imajinasi dibandingkan cerita nyata kan? Memang ini cerita jauh dari kata sempurna tapi bagiku ini adalah salah satu karyaku.

Kalau masalah perjuangan Naruto dapatin Hinata sebagian dari kalian ngerasa usahanya kurang maksimal, ntar ada juga bagian gimana dia setengah mati perjuangin his family. Tapi sebisa mungkin juga aku pelan-pelan bangun cerita ini sebaik mungkin.

Kalau ada yang kurang puas aku tidak memaksa untuk melanjutkan baca. Aku cuma pesen nikmati cerita ini, kalau sudah tidak menemukan apa yang kamu cari dari cerita ini, bisa pindah ke lapak yang lain salam damai di penghujung akhir tahun.