Title : Uchi-Haru [ Time Travel ]
Pair : SasuSaku.
Genre : Drama, Romance, Adventure Action And Fantasy
Naruto Masashi Kishimoto.
Author : Hn U.
Rate : T mungkin jadi M.
Warning : [ Time Travel ]
SIFAT KARAKTER BEDA! OOC
Chapter 05
(Konoha City)
"Hah!!" Sasuke terkejut dengan ucapan Itachi yang memberi pilihan yang sulit. Melanjutkan kuliah atau menerima perjodohan.
"Kenapa kau terkejut? Seperti itu? Kau tinggal memilih salah satu."
"Cih! Aku tidak memilih keduanya! Untuk apa juga aku, harus kuliah di Konoha University? Apa lagi perjodohan dengan putri pathner kerjamu!" Sasuke menolak keras pilihan yang Itachi berikan.
"Usiamu sudah hampir 19 tahun wajar kau mendapat pilihan ini" ujar Itachi.
"Aku tau kau, adalah Kakakku mengurusku sebagai penganti Ayah dan Ibu. Tapi ini berlebihan aku menolak!"
"Tuan Hiashi, sangat mengharapkanmu menjadi pendamping putrinya." Itachi menatap tegas ke arah Sasuke yang langsung menghentikan sarapan paginya.
"Aku tidak suka gadis cengeng seperti dia!"
"Hnn..?" Itachi sedikit menaikan alis kiri.
"Aku tau kalau Hinata, itu gadis yang baik tapi sayangnya aku tidak menyukainya. Dia juga tidak ingin dijodohkan" ujar Sasuke.
"Tapi itu tidak akan bertahan lama. Tinggal menunggu waktu saja Hinata, akan menerima perjodohan ini walau dalam keadaan terpaksa" ucap Itachi.
"Kau, harus menerima perjodohan ini juga."
Sasuke hanya diam sambil mengeretakan gigi.
"Sial!! Inilah bagian yang paling aku benci menjadi orang golongan atas" kata batin Sasuke.
"Maaf kalau aku terlambat" Itachi dan Sasuke menoleh ke arah asal suara.
"Ohh.. Demi Kami-sama, nona Haruno sangat cantik bagaikan malaikat yang jatuh dari langit" Sasuke langsung menepuk keningnya sendiri saat mendengar pujian picisan dari Itachi.
"Malaikat?" Sakura hanya menahan tawanya membayangkan Sasuke melihat Itachi bersikap seperti ini, pasti harga diri klan Uchiha langsung jatuh.
"Jangan mulai lagi hampir semua wanita dan artis ternama kau, rayu.. Semoga Kami-sama tidak mengutukmu jadi gagak atau batu" ujar Sasuke.
"Itachi!! Ini waktumu untuk kerjaaa" ucap Sasuke yang terdengar malas, saat Itachi terus menerus menggoda Sakura.
"Hnn..? Hari ini aku libur" jawab Itachi, sambil membimbing Sakura menuju meja makan.
Sasuke melihat kurang suka dengan cara Itachi, memperlakukan Sakura sangat romantis seperti Romeo yang menggoda Juliet nya.
"Cih! Untung kau, Kakakku kalau bukan sudah aku tendang mukamu!" Sasuke mengomel dalam batinya.
Itachi memperhatikan Sakura yang kini sedang menikmati sarapan paginya. Para pelayan disana memang tahu kalau tuan mereka suka mengoda wanita namun jarang sampai seperti itu memperhatikan sangat rinci.
"Woi!! Woi!! Mana bisa seseorang menikmati sarapan kalau dipelototi seperti itu."
Itachi langsung menatap horror ke arah Sasuke. Sasuke membalas tatap Itachi, kakak-beradik itupun terlihat bersaing dalam tatap mereka berdua.
"Nona Haruno, apa kau suka shoping?" Itachi bertanya dengan lembut ditambah menebar pesona khasnya.
Sakura sampai hampir syok melihat tingkah Itachi yang berbanding terbalik di dunianya.
"Sakura, lebih baik jangan kau terima ajakan Kakakku" ucap Sasuke.
"Hnn.. Tolong abaikan saja bocah yang cemburu itu."
Itachi mulai menunjukkan senyum tipis kepada Sakura yang terlihat malu, sedangkan Sasuke langsung mematung terasa disambar petir setelah mendengar sindiran dari Itachi.
"Hnn.. Aku setuju"
Sasuke menyetujui permintaan Naruto, bahwa Naruto akan berangkat lebih dulu.
"Aku siap melawan para manusia buatan itu!" Kakashi hanya tersenyum dari balik masker hitam miliknya. Sasuke hanya tersenyum tipis.
Di lantai tertulis sebuah simbol yang sebenarnya terlarang, karena itu saat melakukan ritual hanya ada Naruto, Kakashi, Sasuke dan Sai saja.
"Sayang sekali hanya bisa mengirim satu orang.. Naruto, jika kau belum kembali selama seminggu, Sasuke akan aku kirim juga" ucap Kakashi.
"Baiklah.. Tapi tenang saja pasti akan aku, bawa pulang Sakura ke Konoha" ucap Naruto sebelum dia terkirim ketempat Sakura berada.
"Kurama, apa kau sudah siap?" Naruto bertanya lewat telepatinya.
"Tentu saja bocah" jawab Kurama.
Ruangan itu diliputi cahaya putih yang menyilaukan mata sebelum dia menghilang entah kemana?
"Kita harus menunggu selama seminggu dulu" ucap Kakashi.
"Hnn.."
"Sayangnya kita tidak bisa kesana bersama... Mm.. Ini kan?" Kakashi dan Sasuke memperhatikan Sai.
Mereka berada diruangan rahasia dekat ruang hokage bekerja.
"Gulungan untuk kembali.. Tertinggal aku rasa Naruto, lupa membawanya" ucap Sai.
Kakashi mengelenkan kepala. "Hnn... Seminggu lagi ritual ini bisa dilakukan lagi?"
"Bisa maaf merepotkanmu seminggu kedepan.."
"Hnn" jawab singkat Sasuke.
"Permintaanmu, aku tolak."
Gadis remaja bersurai hitam panjang sepunggung style indigo itu hanya bisa tertunduk lesu ketika permintaannya ditolak oleh ayahnya. Pikirnya 'suatu hubungan yang tidak dilandasi oleh cinta pasti akan cepat berakhir namun ayahnya menjelasakan. Cinta akan datang seiring berjalannya waktu'.
"Ayah sudah memilihkan yang terbaik untukmu. Kau, tau sendiri kalau yang akan menjadi jodohmu itu adalah Sasuke Uchiha. Ayah yakin dia pemuda yang baik dan derajatnya sama seperti keluar kita."
"Tapi.."
"Tidak ada kata tapi. Kau harus menurut pada ayahmu ini."
Gadis remaja bernama Hinata dari keluarga Hyuuga itu hanya diam tidak bisa membalas atau membantah
kata-kaya ayahnya. Gadis remaja itu beranjak dari duduknya lalu dia pamit pergi. Sosok ayah yang bernama Hiashi itu hanya diam sambil menyeruput teh hijau, yang sudah mulai dingin.
Hinata Hyuuga. Gadis remaja putri satu-satu dari keluarga Hyuuga ini, memiliki kesedihan tersendiri dalam hidupnya. Keluarga yang memiliki prinsip dan aturan yang ketat harus ditaati setiap aturan yang ada. Selain itu dia juga pewaris utama keluaga Hyuuga yang termasuk dalam golongan atas peringkat kedua dibawah Uchiha.
Memang ada pribahasa yang mengatakan 'peraturan dibuat untuk dilanggar'. Apakah itu berlaku untuknya Hinata juga?
"Kenapa.. Harus aku yang mendapatkan takdir seperti ini? Aku juga ingin seperti yanglain."
Hinata hanya bisa merenungi nasibnya karena perjodohan yang harus dia setujui.
Dukh..
"Aughh!" Hinata menoleh ke arah kiri dan kanan, juga kesegala arah ruangan kamarnya yang terbilang luas nan megah warna ungu bunga lavender menghiasi kamarnya. Suara seseorang membuatnya terlihat sedikit panik saat dia terduduk ditepi tempat tidurnya.
"Kenapa aku muncul ditempat yang aneh?" Naruto merangkak keluar yang tadinya dibawah tempat tidur.
"Kyaaak..!!!"
"Hahh?! Hinata?"
Hinata langsung berhenti berteriak saat mendengar namanya digumamkan oleh seseorang yang tidak dikenal.
"Ka-kau siapa?!"
Hinata meraih bantal yang ada didekatnya dan memukuli Naruto dengan bantal yang dia pegang..
Bugh..
Bugh..
Bugh..
Naruto menepis bantal dengan lengan dan meminta Hinata untuk berhenti memukulinya. "Hentikan! Kenapa kau, memukuliku dengan bantal?"
Hinata tidak mendengarkan perkataan Naruto, malah memukuli Naruto bertubi-tubi. "Pencuri!! Tolong!!" Naruto langsung membekap mulut Hinata.
"Hei, diamlah! Sstthh.."
"Hmmm... Mmh.."
"Diamm.. Sttthh.."
"Kau, diamlah aku akan jelaskan semua" ucap Naruto.
Tok!! Tok!! Tok!!
Naruto menjelaskan bahwa dia orang baik dan meminta Hinata agar percaya dengan ucapannya. Hinata mengangguk beberapa kali.
"Nona?! Apa anda tidak apa-apa?"
Tok..
Tok..
Tok..
Tok..
Clekh.
"Ada apa?"
"Maaf nona, tadi saya mendengar teriakan anda"
"Ooh.. Maaf tadi aku melihat sesuatu dikamar mandi. Maaf sudah membuatmu cemas kau, boleh pergi sekarang" ucap Hinata.
"Saya pamit nona"
"Mmh.."
Clekh.
"Fiuhh.. Hampir saja ketahuan" ucap Hinata yang merubah diri menjadi sosok aslinya adalah Naruto. Naruto mengaruk belakang kepalanya saat melihat Hinata terbaring ditempat tidur, karena pingsan.
Naruto melangkah ke arah tempat tidur.
"Dia mirip sekali seperti Hinata" gumam Naruto.
"Hei!! Bocah kau harus mencari temanmu" Suara dalam pikiran Naruto.
"Kau benar juga, Kurama. Sakura ada dimana sekarang? Aku sama sekali tidak bisa merasakan aliran chakra nya"
"Aku tidak bisa merasakan kehadiran temanmu bocah" ucap Kurama.
"Hah!!"
Naruto berbicara dialam bawah sadarnya. Kurama menjelaskan kemungkin kenapa mereka berdua tidak bisa merasakan kehadiran Sakura di dunia itu. Kemungkina pertama 'mungkin Sakura sengaja menghilangkan aura chakra nya.' Naruto kurang setuju dengan ucapan Kurama. 'Kemungkinan kedua meraka berdua terjebak ke dunia yang berbeda bukan dunia tempat Sakura berada, langsung membuat Naruto histeris saat Naruto mencari gulungan untuk membuatnya kembali ke Konoha. Gulungan yang dia cari tidak ada.
"Sial kenapa tidak ada!!"
Kurama hanya mendegus kesal. "Kurama, kau lihat gulunganku tidak?" Naruto bertanya diikuti rasa paniknya.
"Aku tadi sedang tertidur jadi aku tidak tau" jawaban Kurama langsung membuat Naruto down.
"Kita terjebak" gumam Naruto.
Naruto duduk ditepi tempat tidur, sambil memperhatikan sosok Hinata yang sedang tertidur pulas.
"Aku jadi mengkhawatirkan Hinata.. Padahal 2 bulan lagi aku, akan melamar Hinata, malah terjebak di dunia ini."
Kurama hanya menyunggingkan senyum. " kau, tenang saja semua temanmu pasti mencarimu."
"Kau, benar Kurama" jawab Naruto. Saat dia memperhatikan suasana kamar.
Hinata mulai sadar dari pingsan, Naruto langsung membekap Hinata. "Stth.. Tolong jangan teriak lagi" ucap Naruto.
"Mmm.." Hinata mengangguk pelan lalu Naruto berhenti membekap Hinata. Naruto menjelas semuanya kenapa dia ada dikamar Hinata juga menjelaskan tujuannya kenapa ada didunia itu. Hinata mendengarkan semua penjelasan Naruto yang terdengar tidak masuk akal.
"Jadi kau, sedang mencari temanmu?"
"Iya, begitulah tapi aku tidak bisa merasakan kehadiran temanku." Hinata bertanya banyak hal kepada Naruto, tentang seperti apa ciri-ciri Sakura.
"Aku belum pernah melihat wanita yang kau sebutkan. Apa kau punya foto temanmu itu?"
Naruto menghela nafas panjang karena dia lupa membawa foto Sakura, Naruto pikir awalnya semua akan berjalan mudah. Tinggal merasakan aliran chakra dia langsung bisa menemukan Sakura, namun rencana Naruto tidak bisa digunakan sebab aliran chakra Sakura sedikitpun tidak bisa Naruto rasakan ada didaerah mana?
Hinata dan Naruto membuat rencana akan mencari Sakura. Dalam hitungan menit saja mereka berdua terlihat akrab padahal Hinata baru mengenal Naruto, mungkin karena Naruto tipe yang ramah membuat keduanya cepat sekali untuk akrab. Setelah Hinata membimbing Naruto menyelinap keluar dari kediamannya mereka pun bersiap mencari Sakura.
Sepanjang perjalan Naruto banyak bercerita, Hinata terlihat menikmati semua cerita Naruto. Saat Hinata menjelaskan semua yang Naruto lihat, entah kenapa Hinata merasa senang didekat Naruto.
"Jadi namanya mobil ya? Aku kira monster" gumam Naruto.
"Naruto, penampilanmu terlalu mencolok seperti cosplay. Ayo kita shoping" ucap Hinata saat mereka berdua ada di halte bis.
"Shoping?"
Naruto hanya mengiyakan ucapan Hinata juga mengikuti tujuan. Saat mereka berada di toko baju, Hinata memilihkan berbagai pakaian yang cocok untuk Naruto.
"Ganti pakaianmu. Ini yanglain untukmu selama kita mencari temanmu, kau juga butuh baju ganti bukan?"
"Iya, kau benar tapi ini terlalu banyak"
"Cepat ganti pakainmu.. Ini hadiah untukmu" ujar Hinata. Naruto merasa tidak enak hati kalau pakaian yang Hinata belikan itu dijadikan hadiah untuknya.
Baju berwarna hitam dan celana orange tua itu kini telah diganti oleh kemeja berwana putih dan celana jeans orange tua juga sepatu berwana coklat. Saat Naruto melihat dirinya di cermin yang ada diruang ganti, Naruto merasa penampilannya terlihat aneh.
Hinata hanya terdiam seakan melamun melihat penampilan Naruto saat keluar dari ruang ganti baju. "Terlihat aneh ya?"
Hinata mengelengkan kepala. "Malah sebaliknya kau, terlihat keren"
"Ke-keren?" Naruto mengaruk belakang kepalanya, merasa senang karena pujian yang menurutnya terlalu berlebihan padahal dia berpakain asal-asalan saja.
Tadi saat Naruto memasuki toko baju dia menjadi sorotan pelangan disana. Kini saat keluar dari toko dia kembali menjadi sorotan. "Kenapa mereka melihatku, seperti itu? Hinata sesekali melihat ke arah Naruto yang kini sedang membawa pakaian yang dia pilih tadi sampai kedua tangannya membawa sekatung pakaian yang dibelikan Hinata. Saat Naruto membayar dengan uangnya. Penjaga toko disana menolak karena mata uang yang Naruto sodorkan tidak berlaku di dunia itu. Hinata mengelurkan kartu kredit, Naruto hanya mengerutkan kening. Pikirnya 'untuk apa kartu itu?'
"Aku bilangkan, aku memberimu hadiah.. Jadi jangan merasa sungkan."
"Tapi ini memalukan, kau harus membayar baju yang harus aku yang bayar" ujar Naruto.
"Mmm..?" Hinata sedikit memiringkan kepala.
"Aku bilangkan hadiah, tadi kau main membayar saja" Naruto menghela nafas diikuti kata maaf dari lisan Naruto.
'Hinata memikirkan Naruto harus tinggal dimana? Apa harus di apartemen dekat sekolah?' Pikir Hinata.
Naruto tidak sadar saat dia mengobrol dengan Hinata didekat pertokoan, mobil berwarna Hitam yang didalamnya melintas tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Sakura hanya menghela nafas saat kedua saudara itu saling berdebat didalam mobil yang melaju.
"Karena kau, ingin ikut jadi posisi supir cocok buatmu" ucap Itachi kepada Sasuke yang kini sedang menyetir mobil.
"Cih!!" Sasuke mempercepat laju mobilnya.
"Apa kau, tidak takut nona Haruno?" Itachi menunjukkan senyumnya. Sakura membalas senyuman Itachi. Sasuke yang melihat kejadian itu dari balik kaca sepion. Merasa sangat kesal dengan tingkah Itachi. "Brengsek!! Kalau saja kau bukan Kakakku sudah, aku hajar habis-habisan kau Itachi!" Sasuke membatin kesal.
Sesampainya Sasuke, Sakura dan Itachi. Di toko baju yang biasanya dia kunjungi, saat memasuki toko itu semua wanita yang ada disana terlihat terpesona dengan sosok Itachi Uchiha yang memang sangat terpandang di Kota Konoha.
"Cih! Kenapa semua melihat si play boy bodoh ini" kata batin Sasuke. Saat Itachi mencoba mendekati Sakura, Sasuke langsung berada ditengah mereka berdua yang sedang berjalan bersama menelusuri toko baju yang luas nan indah dengan berbagai merk baju yang terbilang mahal.
"Huaamm.." Sasuke menguap perlahan menunjukkan rasa bosannya.
"Tech.." gumam batin Itachi disambut senyum mengejek dari Sasuke.
Itachi tersenyum puas saat Sakura menganti pakaiannya sampai mencoba semua pakaian yang Itachi pilih.
"Pas.. Itu cocok untukmu, nanti malam" ujar Itachi saat melihat Sakura mengenakan gaun berwarna merah. Sasuke hanya diam terpesona melihat penampilan Sakura.
"Apa penampilanku, terlihat aneh Sasuke?" Sakura bertanya, Saat Sasuke akan menjawab. Itachi langsung memuji Sakura
habis-habisan. Cantik, mempesona, indah melebihi permata dan banyak lagi pujian yang membuat Sakura malu. Sasuke menatap horror ke arah Itachi namun Itachi tidak pedulikan.
Sasuke menganggap Itachi menjadi penghambatnya untuknya mengenal Sakura lebih jauh. Itachi menceritakan nanti malam akan ada pesta dan berharap Sakura bisa ikut dalam pesta itu namun Sakura ragu untuk menjawab. Sasuke selama menyetir mobil, dia berharap Sakura menolak ajakan Itachi.
Sakura merasa rindu dengan teman-temannya apa lagi dengan sosok Sasuke yang dia kenal, walaupun didunia yang berbeda ini ada sosok Sasuke yang sangat berbeda namun Sakura sadar dia Sasuke yang berbeda bukan yang dia kenali dan cinta.
Sesampainya mereka bertiga di kediaman Uchiha yang terlihat megah seperti istana itu. Mereka bertiga pun keluar dari mobil. "Bagaimana kau sudah memikirkan ajakanku?" Sakura mulai menimbang-nimbang permintaan Itachi. "Iya baiklah aku terima" jawab Sakura. Sasuke hanya bisa menahan kesalnya saat Sakura mengiyakan ajakan Itachi.
Sakura memperhatikan dirinya di cermin saat mencoba pakaiannya lagi saat ada didalam kamarnya. "Selera Itachi, luar biasa" gumam Sakura.
Tok.. Tok.. Tok..
Sakura menoleh ke arah pintu lalu dia menuju arah pintu dan membuka pintu. "Sasuke?"
Sasuke hanya diam sambil memperhatikan Sakura dari atas sampai bawah. Sakura yang diperhatikan hanya bisa tersenyum sambil menebak-nebak apa yang dipikirkan Sasuke tentangnya?
"Sasuke, apa ada sesuatu yang penting?" Sasuke sadar dari rasa terpesonanya. "Tidak ada. Aku kebetulan melewat kamarmu jadi aku putuskan mampir" ujar Sasuke disambut senyum dari Sakura.
"Mm.. Jadi begitu ya?" Sakura menunjukan senyumnya lagi. "Sial kenapa perasaanku jadi aneh" gumam batin Sasuke.
Sakura menyarankan agar Sasuke, memasuki ruangan kamarnya. Sasuke pun memasuki kamar Sakura sambil memperhatikan kamar yang dulunya digunakan oleh kedua orangtuanya. "Apa kau, suka kamar ini?"
"Iya, aku sangat suka. Kamar ini sangat nyaman" jawab Sakura.
"Boleh aku bertanya? Tentang tempat tinggalmu" Sakura mengangguk beberapa kali. Mereka berdua, mulai duduk ditepi ranjang sambil mengobrol tentang tempat tinggal Sakura. "Naruto? Aku jadi penasaran dengan temanmu itu, kau pernah bilang aku mirip dengannya" ucap Sasuke.
"Jadi kau, dengar gumamku saat ditebing sungai waktu itu?"
"Kau, bergumam nyaring tentu aku dengar" jawab Sasuke.
Sakura mulai menceritakan tentang sosok Naruto dari awal menjadi sebuah team. "Sasuke, hanya diam dan mendengar cerita Sakura yang menurut Sasuke sama sekali tidak masuk akal dan tidak bisa diterima akal sehat namun jika Sasuke mengingat kejadian saat mendaki dan waktu ditebing sungai semua menjadi masuk akal.
"Hnn..? Tunggu sebentar aku penasaran dengan yang bernama Sasuke. Apa dia mirip denganku?"
"Iya kalian mirip tapi berbeda sikap dan sifat hanya fisik saja.. Kau mirip Sasuke saat masih remaja." Sasuke mengerutkan keningnya.
"Jadi dia sudah tua?" Sakura kurang suka dengan ucapan Sasuke.
"Bukan begitu maksudku!! Kau mirip dengan Sasuke saat remaja usia 16 tahun sekarang usianya sudah 20 tahun sama denganku walaupun, aku lebih tua darinya 3 bulan. Aku lahir bulan Maret sedangkan Sasuke bulan Juli"ujar Sakura.
"Sasuke yang paling muda? Di teammu?"
"Naruto paling muda di team 7. Dia lahir bulan oktober " ucap Sakura.
Info.
Sakura. 28 Maret, disusul dengan Sasuke. 23 Juli. Naruto paling muda di Team7. 10 oktober.
"Walaupun aku ini paling tua, tapi sifat dewasa ku, kalah jauh dengan mereka berdua.."
"Saat aku, mendengar ceritamu, aku akui kedua temanmu memang lebih dewasa" ujar Sasuke.
"Apa lagi Naruto, biarpun dia paling muda tapi di balik sifatnya yang bodoh dia tidak pernah ragu dengan tujuannya sampai sekarang" gumam Sakura.
"Tujuan?"
"Naruto ingin menjadi seorang Hokage itulah tujuan dan impiannya. Dia berusaha sekuat mungkin untuk menjadi Hokage."
"Tujuan dan impian.. Menarik juga si Naruto itu" gumam Sasuke, sambil melihat ke atas. "Aku saja tidak tau tujuanku apa? Sampai sekarang mungkin aku harus mencari tujuanku dan berusaha keras seperti temanmu itu" ujar Sasuke.
"Yah.. Aku juga begitu tapi sekarang aku memiliki mimpi" ucap Sakura.
"Mimpi?"
"Mimpiku, aku ingin bersama Sasuke selamanya. Aku sangat mencintainya dari dulu, walau aku sempat ragu." Sasuke hanya diam.
"Dari ceritamu tadi, bukannya dia itu penghianat?"
"Iya, tapi itukan masa lalu Sasuke. Sekarang dia, ingin menebus kesalahanya dimasa lalu. Pasti semua boleh mendapatkan kesempatan keduakan?"
"Iya" jawab Sasuke singkat.
"Akhirnya aku, harus mendengar kata-kata darinya secara langsung.. Sebelum aku bertanya sudah terjawab" gumam batin Sasuke.
Sasuke keluar dari kamar Sakura, diringi perasaan kecewa. "Jujur aku mulai menyukainya."
Sasuke melangkah maju menyusuri koridor yang disisi kanannya berderet kaca jendela yang telihat dibalik kaca pemandangan taman yang terlihat indah memanjakan kedua mata saat melihat keindahan taman itu. Kedua onyx hitam, mata Sasuke itu menerawang jauh ke arah taman dari balik kaca jendela.
Dia harus mulai merelakan semuanya pikirnya. Dia dan Sakura baru bertemu dan mengenal mungkin beberapa hari kedepan dia akan lupa dengan keinginannya.
Itachi bersandar duduk dikursi ruangan tempatnya bekerja, sambil memikirkan tentang adiknya yang menolak perjodohan yang dia setujui dengan Hiashi.
"Mau tidak mau, kau harus terima." Itachi memejamkan mata setelah bergumam.
"Aku tinggal disini?" Naruto melihat-lihat ruang tamu, dapur, kamar dan kamar mandi. Apartemen yang lumayan luas dan terlihat sangat terawat itu membuat Naruto seakan enggan untuk tinggal disana.
"Apa kau tidak suka?"
"Bukan begitu..
Ini terlalu luas lagi pula aku, tidak lama tinggal disini" ujar Naruto. Hinata hanya tersenyum penuh arti.
"Dari pada apartemen ini tidak ditempati, selama liburan apartemenku ini tidak aku tempati, kau mau menempatinya kan? Walau cuma sebentar."
"Baiklah anggap saja aku, menjaga apatemenmu ya?"
"Mmm.. Iya" jawab Hinata.
"Aku pulang dulu. Ini aku belikan sesuatu untukmu, kau suka ramen tidak?"
"Woahh!! Ramen!!"
Hinata terlihat senang karena Naruto menunjukan ekpresi kegembiraannya. Hinata tidak mengerti kenapa dia seperti ini sampai mau membantu Naruto, padahal mereka baru saja kenal itupun belum ada 1 hari.
"Hinata terima kasih, bagaimana caraku membalasmu?"
"Mm.. Tidak usah" jawab Hinata yang terlihat bersiap untuk pergi kembali kerumahnya.
"Besok kita cari temanmu ya? Kau istirahatlah dulu" ucap Hinata.
"Iya, terima kasih untuk semua, aku berhutang banyak padamu" ujar Naruto dibalas senyuman oleh Hinata.
"Daa.."
"Iya" jawab singkat Naruto.
Tok.. Tok.. Tok.. Tok.
"Masuklah."
Clekh.
"Maaf tuan, saya baru kembali"
"Hnn.. Tidak apa. Duduklah Kakashi"
Kakashi duduk di kursi depan meja kerja Itachi. "Apa kau sudah menemukan yang bisa mengembalikan, nona Haruno?"
"Saya belum menemukan cara dan orang yang bisa mengembalikan nona Haruno, kembali ke tempat asalnya tuan" ujar Kakashi.
"Jadi begitu.. Apa sudah semua profesor, kau cari? Atau pembuat mesin waktu dan sejenisnya."
"Sudah semua tuan, tapi sayangnya hasilnya nihil" jawab Kakashi.
"Aku sudah menyelidiki tentang nona Haruno, aku rasa dia bukan orang yang jahat. Dan yang membuatku sedikit resah ternyata adikku menyukainya" ucap Itachi.
"Tuan muda? Menyukai nona Haruno?"
"Hnn.. Aku tidak akan membiarkan adikku, memyukai Haruno lebih dari sekarang. Karena dia harus bersama Hinata, putri Hiashi" ucap Itachi.
"Saya akan membantu, tuan juga" ujar Kakashi.
"Bagus kalau kau berpikir seperti itu. Aku yakin Keluargaku, akan menjadi teratas setelah menjalin hubungan keluarga dengan Hyuuga" gumam Itachi diiringi senyum penuh arti.
Sasuke terus menghela nafas berkali-kali setiap mengingat cerita Sakura tentang Sasuke yang ada didunianya.
"Sial Sakura, menyukai Sasuke itu memangnya seperti apa dia?" Sasuke bertanya pada dirinya sendiri. Sasuke memutuskan pergi ke arah kamar mandi dan meredam pikirannya yang mulai tidak menentu.
Hinata terlihat lebih ceria dari sebelumnya. Pelayan di lorong kediamanya merasa senang karena nona yang mereka hormati dan kagumi itu kembali ceria.
Naruto bermeditasi diatas tempat tidurnya. "Kurama, apa tidak ada cara untuk menemukan Sakura?"
"Aku tidak bisa memberi saran dari pertanyaamu bocah. Tapi aku punya perkiraan mungkin didunia ini aliran chakra tidak bisa dirasakan kehadiranya."
"Maksudmu?"
"Apa kau, belum sadar semua yang ada didunia ini tidak memiliki chakra atau non-chakra" ucap Kurama.
"Aku sama sekali tidak sadar. Akhh entahlah rumit! Aku mau tidur saja besok kita lanjutkan" Naruto langsung berbaring ditempat tidurnya.
BERSAMBUNG
NEXT
Chapter 06
(Perasaan)
