REMOVE

Kesalahan tidak bisa dihapuskan. Itu membekas dan meninggalkan jejak.

Kau hanya bisa memperbaikinnya, namun berhentilah mencoba karena kau terlalu terlambat untuk melakukannya

.

.

.

.

.

© Masashi Kisimoto

Mohon kebijakannya dalam membaca. Semua adegan hanya fiktif belaka.

.

Warning : Typo(s), Bahasa tidak baku (cenderung kasar), sexual content, AU, Modern live, OOC, criminal, alur tidak menentu

Rated : M (language and content)

Pairing : Naruto-Hinata

Story : Atharu

REMOVE CHAPTER 9

Selamat menikmati dan jangan lupa review

.

.

.

.

.

.

.

Naruto terbangun ketika tangannya meraba sisi kosong sampingnya. Kelopak matanya terbuka hanya beberapa mili, lalu menjadi terbuka penuh untuk memastikannya. Naruto lalu memutuskan untuk bangun, ia lebih dulu melihat jam di laci samping ranjangnya. Masih pukul empat pagi dan wanita yang seharusnya tetap tertidur memeluknya sudah tidak terlihat, hanya menyisahkan bantal dan guling yang dikira Naruto sebelumnya sebagai Hinata.

"Hinata. . ." Naruto memanggil nama ibu dari anaknya. Tenggorokannya sedikit serak. Dia mengambil segelas air putih lalu meminumnya. Dia bangkit dan memakai boxer hitam ketat tanpa memakai atasan. Hanya benda itu yang paling dekat yang bisa dia temukan untuk menutupi ketelanjangannya. Mata birunya melihat bahwa pakaian mereka berdua tidak lagi tercecer di lantai melainkan telah tersampir di gantungan baju dekat pintu. Mungkin Hinata yang telah membereskannya.

Naruto menyisir rambutnya ke belakang menggunakan jari karena menghalangi jangkauan pandangannya. Dia mendengar suara kran dari arah kamar mandi, mungkin Hinata di sana. Naruto bangkit dan lekas menuju kamar mandi. Dia mengetuk beberapa kali. "Hinata, kau di dalam?" Tidak ada sahutan. Naruto memutar engsel pintu kamar mandi namun sepertinya dikunci dari dalam. Naruto memutuskan menunggu beberapa saat sampai pintu kamar mandi terbuka.

Ada rasa lega saat dia benar-benar mendapati Hinata yang keluar.

"Naruto? apa aku membangunkanmu?" Hinata mengelap tangannya menggunakan tisu lalu membuangnya di keranjang sampah dalam kamar mandi.

Pria itu tidak menjawab, dia justru melingkarkan tangannya di seputar pinggang Hinata dan menumpuhkan dagunya di bahu sang pujaan hati. "Aku terbangun karena tidak memelukmu. Kenapa tidak membangunkanku?" Sekarang dia selalu tidur dengan memeluk Hinata. Kebiasaanya sudah berubah dari yang dulunya bisa terlelap seorang diri kini bila tanpa Hinata di sampingnya, Naruto pasti terjaga dari tidurnya.

"Sejak kapan kau jadi manja begini? Bahkan Boruto pun berani bila tidur sendiri." Hinata berusaha menahan tawanya walau beberapa kekehannya lolos. Dia tidak sedang mengejek Naruto. Meskipun begitu dia tidak masalah dengan sikap Naruto. "Aku hanya ke kamar mandi untuk buang air kecil." Naruto merasakan jemari ringan Hinata menepuk-nepuk punggung besarnya. Sangat nyaman, bahkan dia hampir tertidur lagi dengan posisi berdiri.

"Kau mengantuk?" Naruto mengangguk. Hinata membawanya kembali ke tempat tidur. Naruto tetap memeluknya meski mereka sudah duduk di pinggiran ranjang. Naruto benar-benar ingin dimanja. Matanya setengah terpejam namun dia masih betah untuk berada di posisi yang sama.

"Kau jadi seperti bayi besar, Naruto. Bila Boruto melihatmu seperti ini, dia akan mengejekmu."

"Seorang bayi tidak akan bisa berbuat begini kan~" Naruto menyusupkan tangannya membelai kulit paha putih Hinata. Sudah hampir seminggu mereka tidur bersama. Selama itu pula rasanya Hinata tidak sampai memakai bajunya dengan benar. Naruto selalu berhasil melucutinya atau melempar semua pakaian yang melekat di tubuhnya ke sembarang arah. Kadang juga sampai pakaian dari bahan kaosnya merenggang karena ditarik-tarik.

"Kau benar-benar mirip bayi besar yang merepotkan."

"Aku tidak peduli. Aku hanya ingin memelukmu sepanjang hari." Naruto baru menyadari bahwa Hinata hanya menggunakan kemeja biru polos miliknya. Itu baju kerja yang semalam ia kenakan. Mungkin Hinata juga cepat-cepat ke kamar mandi sampai lupa tidak memakai bajunya sendiri. Sudut bibir Naruto malah menyeringai, dengan penampilan seperti ini sudah mampu untuk mengacungkan lagi miliknya. "Aku ingin mengambilmu lagi." Aroma tubuh Hinata mirip dengan bau tubuhnya sendiri namun lebih lembut juga sedap. Sangat merangsang.

Hinata belum sempat membersihkan diri hingga masih menyisahkan aroma keringat, Naruto menyukai membauinya. Bau yang begitu menggoda hingga mengirimkan instruksi untuk 'bangun' pada selatan tubuhnya.

Satu cubitan Hinata berikan di salah satu kotakan perut Naruto yang berjumlah delapan kotak, tidak terlalu keras di kulit Naruto yang nampak kekar, tapi Naruto berpura-pura membentuk kerutan kesakitan. "Jangan bodoh, kita sudah melakukannya dari saat kau pulang sampai jam satu tadi." Omel Hinata. "Kau bisa mematahkan pinggangku." Tubuhnya membutuh istirahat. Hinata membatin kenapa tenaga Naruto tidak pernah merasa lelah. Dulu bahkan mereka tidak seintens ini melakukannya, tapi sekarang Naruto benar-benar tidak memberinya jedah.

"Aku tahu kekuatanmu sudah mirip seekor Buffalo, tapi jangan mengabaikan waktu istirahat dulu. Kau tidak lupa kan nanti siang menjemput Ayah Ibu beserta Boruto."

Naruto mendesah kecewa. Dia membaringkan kepalanya di pangkuan Hinata. "Masih ingat kok. Ada waktu delapan jam lagi untuk menjemput mereka. Bukankah itu lebih dari cukup untuk satu ronde lagi?"

Hinata molotot, satu ronde bagi Naruto sudah terasa tiga baginya. Naruto pintar menjaga ritme agar tetap tahan lama. Sedangkan Hinata masih harus membiasakan diri. Tenaganya seakan tersedot untuk mengimbangi Naruto. Bila dia sudah mengaku menyerah maka Naruto malah bisa leluasa terhadap dirinya, mengatakan dirinya yang bekerja dan Hinata bisa beristirahat namun tetap saja Hinata tidak benar-benar bisa mendapatkannya.

Setiap hentakan Naruto walaupun sepelan mungkin akan mengenai titik-titik sensitifnya.

Wajah sampai leher Hinata langsung memerah lagi. Prianya memang buas untuk urusan ranjang. "Aku mengantuk, bila kau masih terasa tegang, sana pergi ke kamar mandi. Aku sudah mengisi bak mandi dengan air dingin. Bila masih kurang aku tak keberatan mengambilkan sekotak es batu dari lemari es." Hinata menarik selimut dan berpura-pura tidur. Masa bodoh dengan wajah Naruto yang memelas.

Sesekali dia harus mendapatkan waktu tidur yang damai.

Merasa dihiraukan oleh Hinata, Naruto mendecakkan lidah namun akhirnya menyusul Hinata untuk berbaring tidur. "Tega sekali kau. Nanti juga saat Boruto datang kau hanya akan memperhatikannya. Terus menemaninya dan mengabaikanku sepenuhnya."

"Memang sih anak kita memang sangat menggemaskan –ta,tapi itu kan juga peran diriku bisa menghasilkan anak setampan dirinya. Lagipula segala tingkahnya selalu membuat siapapun tertawa. Boruto sedang dalam masa perkembangan pesat, Hinata tidak akan pernah meninggalkannya." Naruto masih terus mengoceh. Dia memeluk erat Hinata. Bukanya iri atau apa, hanya saja dia masih ingin menghabiskan banyak waktu dengan Hinata. Dia ingin waktu-waktu yang Hinata lalui tanpa dirinya bisa dia kembalikan sedikit demi sedikit.

"Jadi sekarang kau cemburu pada anakmu sendiri yang usianya belum genap enam tahun?" Hinata ingin sekali memberikan Naruto satu pukulan atau melemparinya bantal. Dia berbalik menghadap si pria. Kepalan tangannya memukul tulang pipi Naruto –terasa seperti sebuah tepukan yang Naruto artikan sebagai pukulan manja.

"Jadi katakan, kenapa sikapmu jadi begini? Kau sudah seperti anak-anak, mungkin bila pekerjamu tahu bagaimana apa bos mereka, mereka tidak akan lagi merasa takut padamu. Kau mungkin akan diberikan sebotol susu untuk meloloskan sebuah proyek. Atau dengan sekotak gulali seseorang bisa mengambil saham mu."

Naruto mendengus memasang wajah melototnya, ia berkata bahwa hal itu sangat mustahil. "Hanya denganmu saja Hinata aku seperti ini. Seharusnya kau senang bisa selalu kumanjakan. Kuberikan perhatian sampai menghasilkan anak-anak yang lucu nantinya." Naruto memainkan rambut halus Hinata, memilin milinnya dan mengecup beberapa bagian di wajah Hinata yang menampilkan raut pasrah. "Aku juga tidak tahu, rasanya ingin terus diperhatikan olehmu. Bahkan aku ingin membawamu ke kantor –kamanapun aku pergi harus ada dirimu yang menemaniku."

"Naruto, kau sudah seperti orang hamil saja." Kekeh Hinata. Dia mengusap-usap dahi Naruto. "Nyamankah?" Naruto mengangguk. Dirinya menjadi sensitif terhadap sentuhan Hinata. Ingin selalu merasakannya. Matanya terpejam namun tidak sampai membuatnya jatuh tertidur.

"Akan lebih nyaman bila kau juga mengusap yang di bawah sana. Mengusapnya dengan gerakan khusus sampai keluar. Bagian itu lebih urgent."

"Aku tidak keberatan untuk menendangmu keluar bila terus bertingkah, Naruto."

Hanya cengiran saja yang Naruto berikan. Ancaman Hinata kadang serius dilakukan. Naruto tidak ingin mengambil resiko tidur di lantai yang dingin. Saat ini sedang musim dingin, dia bisa mati membeku bila Hinata benar-benar mendepaknya dari kasur hangat ini.

"Oke-oke saatnya tidur. Ambil istirahatmu, aku tidak akan mengganggu, tidak akan berkata macam-macam apalagi bertindak yang iya-iya –kecuali Hinata yang minta. Jadi aku masih diperbolehkan memelukmu kan?"

Mata memohon Naruto serupa dengan Boruto, atau mungkin Boruto memang mewarisinya dari Naruto. Entahlah, apapun itu Hinata tidak bisa berkata tidak. Dia membenarkan letak tangan Naruto. "Peluk yang benar, tanganmu jangan kemana-mana, tetap pada tempatnya. Terakhir kau bilang hanya memelukku, kau malah kebablasan menyentuh bagian yang bukan-bukan."

"Tapi kau juga keenakan kan."

Naruto menerima timpukan bantal. "Tidur di luar saja, ya sayang." Senyum Hinata bukan senyum baik-baik. Dia menarik selimut untuk dirinya sendiri, Naruto buru-buru menahannya. "Oke, aku diam." Pria satu putra itu membuat gerakan mengunci bibirnya dengan jemarinya lalu melempar kunci imajinernya.

"Umm. . . Hinata."

Hampir saja Hinata sudah berhasil tidur dan Naruto menggagalkannya. "Hmm?" Ia membutuhkan tidur sedikit saja namun Naruto selalu menggagalkannya "Apa kau perlu lagu pengantar tidur?"

Naruto menggeleng pelan. Dia masih memainkan rambut Hinata dengan cara dipilin, terkadang juga menyisir helainya karena tebal dan halus. "Bisakah nanti pagi kau buatkan aku pudding rasa jeruk, roti bakar selai nanas –kalau bisa ditambah telur mata sapi, pastikan kuningnya benar-benar simetris di tengah, dan umm. . . buatkan juga juice Arbei dengan toping susu vanila."

Hinata melongo. Dia membuka matanya lebar-lebar. Permintaan Naruto terlalu melenceng dengan apa yang kesehariannya pria ini makan dan minum. "Tidak ada kopi atau sereal gandum tanpa gula?" Kesukaan Naruto masilah diingat oleh Hinata. Bagaimanapun dulunya dialah yang menyiapkan makanan untuk Naruto –dan kini pun masih tetap sama. Naruto tidak terlalu menyukai rasa yang legit di lidah.

Bisa-bisa pria ini akan memuntahkannya.

"Tidak-tidak. Minuman itu terlalu kuat, aku ingin sesuatu yang manis dan ringan."

Tubuh Hinata bangkit mendadak. Dia mengecek wajah Naruto beberapa kali. Tidak ada kantung hitam atau tanda apapun yang menunjukan seserang kurang tidur sampai mengigau. "Naruto, kau benar-benar harus memeriksakan dirimu. Belilah tespack, mungkin kau benar-benar hamil."

"Ba-bagaimana bisa kau menyimpulkan seperti itu. " Wajahnya sontak dijauhkan dari jangkauan Hinata, dia mati-matian menahan malu. Dia juga bingung kenapa dirinya bisa bertingkah seperti ini. "Yang hamil harusnya dirimu, sayang. Bukankah selama ini aku selalu mengeluarkannya di dalam –tanpa karet pengaman."

Jari telunjuknya menekan-nekan sudut bibirnya, Hinata berpikir kemudian menggelengkan kepala. "Tapi aku tidak merasakan gejala kehamilan seperti awal mengandung Boruto." Jelas Hinata. Seingatnya dia merasa tidak ada yang berbeda di tubuhnya. Semuanya normal.

Mendengarnya membuat Naruto sedikit menunduk membiarkan ujung rambut kuning pendeknya membentuk seperti tirai untuk menyembunyikan sebagian raut romannya. Dia sama sekali tidak memiliki memori tentang masa kehamilan pertama anak mereka. Dalam waktu sembilan bulna dia malah tidak tahu apa-apa. Bagaimana rasanya menjadi seorang calon ayah, Naruto melewatkannya. Shikamaru pernah bercerita bahwa dia harus mengelilingi kota malam-malam untuk memenuhi keinginan sang calon buah hati. Semalas apapun ia tapi dia tidak mengeluh sama sekali untuk melakukannya. Naruto jadi iri. Ingin merasakannya sendiri.

"Sudahlah, ayo tidur lagi. Nanti pagi aku buatkan apa yang Naruto inginkan." Naruto mengangguk, dia menepuk-nepuk sisi dimana Hinata harusnya membaringkan diri. Dia merentangkan lengannya sebagai alas bantal Hinata.

"Selamat tidur." Naruto mencium kembali kening Hinata. Dia juga tanpa alasan yang jelas mengelus perut Hinata. Bolehkah dia berharap bahwa sebentar lagi akan ada kehidupan baru di sana.

.

.

.

Minato dan Kushina mengabarkan lewat sambungan telepon bahwa mereka mungkin akan sampai di bandara mendekati sore hari karena pesawat mereka mengalami delay. Naruto mengerti, dia langsung menyampaikannya pada Hinata agar wanita itu tidak terburu-buru untuk menjemput.

Naruto sedang membaca koran paginya, terutama pada halaman bisnis. Grafik-grafik nilai tukar uang serta saham diperhatikan baik oleh Naruto. Sebenarnya dia tidak seserius itu, dia hanya menggunakan waktunya sembari menunggu Hinata dari dapur. Hinata bilang dia akan menyiapkan apa yang tadi malam dia inginkan. Naruto jadi bersemangat. Bahkan bau masakannya seperti menari-nari di indera penciumannya. Ini lebih harum dari sebelumnya.

"Menunggu lama?" Masih dengan apron yang diikat di belakang, Hinata membawakan sarapan ke meja makan. "Tidak ada kopi, dan semuanya sesuai dengan apa yang kau inginkan." Beberapa piring berisi makanan lain, namun yang menjadi fokus Naruto adalah piring dengan isi roti selai nanas dan telur mata sapi yang kuningnya berada tepat di tengah, tidak lupa pudding kenyal beraroma jeruk segar. Makanan sederhana namun sudah membuat air liur Naruto langsung merembes keluar.

"Ayo makan bersama Hinata."

"Aku harus mematikan kompor dan membuat juice-mu terlebih dulu. Makanlah lebih dulu, kau kelihatannya sudah sangat lapar." Hinata menyadari Naruto menatap makanan terlalu lama.

Naruto menggelengkan kepala. Dia bisa bersabar untuk menunggu. "Akan aku tunggu. Aku ingin kita sarapan bersama."

Hinata melihat pada jam dinding. Sudah pukul tujuh lebih sepuluh menit, Naruto akan terlambat berangkat kerja bila menunggunya. "Kau yakin? Paman Kakashi mungkin sudah menunggumu di mobil, kau bilang hari ini ada rapat."

"Ck, aku bosnya. Aku bisa mengatur jadwal rapat semauku."

"Baiklah tuan besar. Tunggu aku sepuluh menit." Hinata kembali ke dapur. Dia harus secepatnya menyelesaikan ini semua agar Naruto tidak terlambat atau pria itu akan menggunakan otoritasnya untuk berlaku semaunya. Hinata tidak terlalu menyukai hal macam itu. Dan Hinata benar-benar sudah meletakkan jus Arbei dengan campuran vanila di depan Naruto tepat pukul tujuh.

Mereka berdua makan bersama. Awalnya Hinata pikir Naruto tidak akan menghabiskan semua makanan –terutama pudding jeruk dan jus karena dua makanan-minuman itu cukup manis, tapi Naruto benar-benar menghabiskannya, seolah perutnya belum terisi seharian dan dalam keadaan kosong –kelaparan.

"Hinata, aku selesai." Dua piring kosong disodorkan Naruto. "Apa aku perlu mencucinya?" Hinata hanya diam memandang. Pria meski sosoknya adalah Naruto namun sikapnya sangat bukan dirinya.

"Tidak, letakkan saja di sini. Biar nanti aku bereskan."

"Kalau begitu aku berangkat dulu." Naruto menghampiri Hinata. Mencium satu kali di keningnya lalu beberapa kali ciuman di bibir. Hinata cepat-cepat menutup bibirnya saat Naruto tidak segera berhenti.

"Jangan gunakan lidah." Larang Hinata. Ia tahu akan seperti apa bila dia membiarkan Naruto melakukannya. "Kau akan terlambat." Sebenarnya Hinata hanya malu karena dia masih mengunyah makanan. Tapi Naruto tidak secepatnya beranjak. Dia menghelah napas panjang, hari ini semangatnya untuk ke kantor sudah setipis asap. Mudah sekali berubah-ubah.

Dia ingin seharian di rumah, memberikan waktunya sedikit lebih banyak untuk bisa bermesraan. Hey, selagi Boruto belum pulang maka tidak ada salahnya bukan mengambil kesempatan?

"Kurasa aku tidak ingin ke kantor." Sambil mendudukkan dirinya sendiri kembali ke kursi, Naruto mengambil ponsel dari sakunya. "Aku akan menghubungi paman Kakashi dan memintanya berangkat terlebih dulu." Lalu satu persatu kancing jas kantornya mulai dilepas sendiri. Terakhir dia melepaskan dasinya dan hanya memakai kemeja yang lengannya sudah terlipat sampai siku.

Hinata menyelesaikan makannya, dia sudah tidak ingin bertanya kenapa hari ini Naruto terlihat sangat berbeda. Biarkan saja Naruto berlaku semaunya. Mood pria ini berubah-ubah seperti orang hamil. Tiba-tiba Hinata menyadari sesuatu. Dia beranjak dari meja makan dan menuju kamarnya. Dia melihati seksama ke arah kalender, menghitung sesuatu yang mungkin terlewatkan. Saat menyelesaikan hitungannya, Hinata sadar akan sesuatu

Seharusnya dia mendapatkan masa datang bulannya dua minggu yang lalu atau paling telat seminggu sebelumnya. Namun sampai sekarang pun masa menstruasinya belum datang juga.

Dia jadi panik, Hinata menghitung lagi. Mengingat kapan kali pertama Naruto menyentuhnya sudah berlangsung hampir satu bulan. Raut wajahnya berubah menjadi cemas, dia teringat kembali bahwa setiap mereka melakukannya baik dirinya maupun Naruto tidak menggunakan pengaman sama sekali. Naruto beralasan lupa memakai atau lupa tak membeli –absolutely cum inside.

"Apa yang kau lakukan?" Naruto memeluknya dari belakang. Hinata menatap sebentar kemudian kembali membawa pandangannya ke arah kalender di depannya. Dia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Naruto. Bagaimana bila dia benar-benar hamil? Akan seperti apa reaksi Naruto nantinya?

Terakhir yang Hinata ingat adalah penolakan Naruto dan bagaimana pria ini tidak menginginkan darah dagingnya. Ada teriakan dan penolakan waktu itu. Hinata mencoba menghilangkan pikiran buruknya. Itu hanya permasalahn masa lalu yang telah diselesaikan. Sekarang Naruto jauh lebih baik daripada sebelumnya. Hinata harus percaya bahwa jikapun dirinya hamil kembali, dia tidak akan sendirian lagi seperti saat mengandung Boruto.

Ada Naruto yang di sisinya. Sosok yang lebih dari cukup untuk menemaninya.

"Sayang, ada apa dengamu?"

"Naru, bisakah kau mengantarku ke apotek?"

"Kau sakit? Apa karena diriku kau semalam jadi kurang tidur?"

"Bukan-bukan, aku tidur lebih dari cukup . . –Sayang, apa yang kau rasakan akhir-akhir ini?

Kening Naruto mengernyit dengan dua alis yang berkerut hampir menyatu mendengar ucapan Hinata memanggilnya 'sayang'. Rasanya menyenangkan sekali mendapat panggilan sayang dari orang yang dia cintai. Jarang sekali Hinata memanggilnya mesra seperti ini. Dia ingin terbang –dan tegang. Oke lupakan yang terakhir, Naruto tidak ingin merusak suasana.

"Kau ingin tahu apa yang sedang aku rasakan beberapa waktu belakangan?" Hinata mengangguk.

"Humm, kupikir aku merasa lebih bahagia." Naruto tersenyum cukup lebar hingga deretan gigi putih rapinya terlihat. Wajahnya memang memiliki garis yang tegas ditambah sudut mata yang memanjang tajam, tapi saat tersenyum roman wajahnya berubah lebih melunak, dan Hinata melihat bahwa Naruto begitu tampan.

Duh, kebaikan apa yang dilakukan kedua orangtuanya dulu hingga sekarang dia memiliki pasangan yang rupawan. Hinata berpikir dia harus berbuat kebaikan pula agar kelak Boruto mendapatkan pasangan terbaik.

"Ini mungkin aneh, tapi aku bisa menghabiskan sekotak coklat manis tanpa merasa mual sedikitpun. Aku tidak lagi menyukai minuman berkafein ataupun minuman yang berakohol seenak apapun itu." Dia menggaruk belakang kepalanya. Kemarin-kemarin dia masih menyukai minuman hasil dari fermentasi buah anggur merah namun semakin ke sini lidahnya berubah jadi semakin selektif dalam menerima rasa. Naruto jadi lebih pilih-pilih untuk memasukkan makanan ke dalam perutnya.

"Entah kenapa minuman seperti itu terasa pahit dan perutku tidak bisa menerimanya sama sekali." Keluh Naruto. Sudah hampir dua minggu dia merasakan gejala seperti itu. Setiap memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya selain makanan atau minuman yang sehat –juga tentunya manis, dia pasti akan merasa pusing.

"Yang paling tidak bisa kuabaikan adalah rasanya aku ingin selalu bisa berada di dekatmu selamanya." Ungkap Naruto dengan mencuri ciuman lagi di bibir Hinata dan mengendus lehernya.

"Ba-bagaimana bila aku hamil?" Suara Hinata tiba-tiba terdengar sangat pelan.

"Apa?"

Naruto hampir tidak mampu mendengarnya dengan baik selain kata terakhir yang ucapkan Hinata. "Katakan lagi." Dia membalik tubuh Hinata agar mereka saling berhadapan. Dia memegang bahu Hinata kuat. "Kau. . . kau mengatakan apa?" Naruto tidak ingin salah dengar. Bagian dalam dirinya sudah merespon berlebihan seperti denyut jantungnya yang kini berdegup kencang.

Seperti air panas yang tumpah di atas butiran salju. Meleleh dan mencair. Tiba-tiba di dalam dirinya terluberi bumbungan rasa bahagia.

"Aku-bilang-bagaimana-bila-aku-hamil." Hinata sengaja mengeja setiap kata sehingga lebih jelas. Dia menyukai raut wajah Naruto yang memasang wajah polos setengah bingungnya. Naruto belum menunjukkan responnya, hanya berdiri dengan pandangan kosong.

Naruto terlalu lama memberi respon. Dia payah dalam menyambut kabar gembira itu. "Aku belum yakin, tapi kupikir ini semacam hubungan dimana bila si wanita hamil maka si pria yang akan mengalami gejala kehamilannya. Aku pernah membacanya, mereka mengatakan itu hal yang bisa saja terjadi."

"Apakah itu artinya sekarang kau mengandung anakku lagi? –maksudku, di dalam dirimu ada kehidupan baru, ada bayiku. Calon anak kedua kita?" Hinata tertawa mendengar rentetan perkataan Naruto sampai dia tidak bisa menyusun kata-katanya dengan baik.

"Kau senang?"

Naruto mengangguk cepat. Dia tidak menyangka bahwa hal ini akan terjadi begitu cepat. Apakah itu artinya dia bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang calon ayah? Meskipun nyatanya dia telah menjadi ayah, tapi ini kali pertama dia akan menemani Hinata selama masa kehamilannya. Ya, tentu saja dia jauh bersemangat.

"Bodoh, tentu saja. Apa aku harus melompat dari atap atau berguling di jalanan untuk menunjukkan bagaimana rasanya diriku saat ini? Seolah aku seperti balon yang akan meledak karena terlalu banyak pompaan kebahagiaan."

"Lalu bagaimana denganmu, apa kau juga senang?"

Apakah dirinya senang? Hinata mengulang pertanyaan Naruto dalam hatinya. "Kau tidak akan meninggalkanku kan?" Naruto cepat barkata itu tidak akan terjadi. Selamanya! "Kalau begitu tidak ada alasan bagiku untuk merasa tidak bahagia bukan." Kedua tangan Hinata melingkari leher Naruto. Naruto berdehem, rupa Hinata jadi terlihat lebih muda. Sungguh menggemaskan sampai dia ingin menggigitnya.

"Tapi kupikir kau harus menyusun ulang rencana perayaan pernikahan kita."

Naruto baru ingat bila bulan depan dia berencana mengadakan pesta untuk pernikahannya kembali. Sebenarnya secara hukum mereka telah menikah. Bahkan rencana liburan kedua orang tuanya bersama Boruto telah dia rencanakan, tentu saja baik Minato dan Kushina sudah tahu terlebih dahulu.

Tepat sehari setelah Hinata menerimanya kembali, dia langsung mendaftarkan pernikahan mereka secara hukum. Sedangkan untuk perayaannya dia merencanakan bulan depan karena dia harus menyelesaikan pekerjaannya dan menyiapkan semua hal secara sempurna.

Naruto menginginkan perayaan yang tidak akan terlupakan.

"Sebenarnya aku tidak masalah bila kita tetap menggelar perayaan pernikahan. Kau akan terlihat sangat cantik. Seperti bidadari with a bump in the middle. Bukankah terlihat akan seksi nantinya" Goda Naruto.

"Jangan bercanda, berat badanku bisa melonjak beberapa kilo dan gaun yang telah dipesan tidak akan sesuai lagi dengan ukuranku. Jadi, bisakah sekarang kita ke apotek? Aku perlu membeli tespact untuk memastikannya."

"Kenapa tidak langsung ke rumah sakit?"

"Aku ingin mengeceknya sendiri dulu."

Naruto mengalah, dia mengambil kunci mobil dan mengantar Hinata ke apotek terdekat. Dia juga sudah tidak sabar untuk mengetahui hasilnya. Kini di pikirannya sudah mulai membayangkan apakah anak kedua mereka perempuan atau justru laki-laki lagi. Akan seperti apa nantinya calon bayi mereka, akankah mengambil banyak darinya seperti Boruto atau akan mewarisi bagian Hinata dan bisa saja perpaduan antara keduanya.

Dia terus memikirkannya sampai mereka kembali ke rumah. Hinata sudah lebih dulu ke kamar mandi dan dia hanya berdiri di depan pintu, menunggu dengan sabar hingga Hinata keluar.

Sedangkan di dalam, Hinata juga cukup antusias sekaligus penasaran. Kadang tangannya akan mengelus perutnya. Memang masih datar juga tidak ada lekukan di sana, tapi mungkin karena usianya yang masih awal jadi belum terlalu menonjol. Lalu Hinata membayangkan bagaimana reaksi Boruto saat tahu dia akan menjadi seorang kakak, juga betapa hebohnya Minato dan Kushina mengetahui bahwa mereka akan kembali memiliki cucu. Memikirkan itu semua membuat Hinata tidak sadar bahwa sudah lima menit lebih berlalu dan kini waktunya untuk melihat hasilnya.

Dia mengambil udara terlebih dahulu. Ini lebih mendebarkan karena dirinya sendiri tidak merasakan gejala sedang berbada dua. Dulu di awal dia mengandung Boruto semua rasa mual menghantamnya setiap pagi, namun kini Naruto lah yang merasakan itu semua walau belum sampai benar-benar muntah. Mungkin calon anak kedua ini akan dekat dengan ayahnya.

Mata bulat dengan warna pucat itu serius mengamati pada tanda garis yang ditunjukkan alat panjang di tangannya. Matanya melebar, napasnya tertahan tidak dikeluarkan dan beberapa butir air mata mulai berjatuhan. Hinata mencoba menutup matanya lalu dibuka lagi. Hasilnya tidak berubah, dia coba untuk menggoyangkannya beberapa kali namun garis di sana masih menunjukkan satu garis.

Dia tidak hamil. Hasilnya negatif.

Apakah dia terlalu percaya diri? Sesuatu yang awalnya dia duga nyatanya belum menjadi nyata. Hinata mulai menangis. Matanya perih dan pipinya merah karena dia menyeka lelehan air mata berulang kali. Naruto di luar sudah pasti menunggunya dengan banyak harapan. Hinata membereskan semuanya meski sesekali masih terisak, membuang tespack ke dalam kantong sampah lalu mencuci tangannya. Hinata melihat dirinya sendiri dalam pantulan cermin. Seharusnya dia tidak perlu mengatakannya pada Naruto terlebih dulu, perkiraannya meleset dan Naruto sudah terlanjur menyambutnya bahagia.

"Bagaimana Hinata, apakah aku akan kembali menjadi seorang ayah?" Pertanyaan itu langsung didengar Hinata sewaktu dirinya membuka pintu kamar mandi. Dia sudah menduga, Naruto akan mengatakannya. Lalu apa yang bisa dia jawab sekarang? Hinata diam mengarahkan diri ke arah suaminya. Dia merasa bersalah sekarang.

"Hey, sayang kenapa menangis? Apa kau menginginkan sesuatu, bila iya aku akan membelikannya untukmu. Ah, kudengar ibu hamil suka makanan yang sedikit asam ya. Mau kubelikan manisan buah?"

Hinata semakin menggigit bibirnya. Naruto bahkan telah berpikir bahwa dia mengalami ngidam. Hinata menjadi kecewa dengan dirinya sendiri. Akan sangat indah bila dirinya benar-benar mengandung lagi. Tapi apa mau dikata, hasilnya belum menunjukkan adanya nyawa baru dalam dirinya.

Hinata langsung melemparkan tubuhnya pada Naruto, menangis di sana hingga membuat Naruto semakin kebingungan. "Maafkan aku." Pegangannya di sepanjang tubuh Naruto mengerat. Bahunya dan suaranya ikutan bergetar. " –kupikir-hksss aku benar-benar hamil lagi, ta-tapi ternyata hasilnya negatif."

"A-apa kau kecewa?"

Naruto diam beberapa saat, lalu menghelah napas. Dia tidak kecewa, mungkin hanya sedikit tapi dia sama sekali tidak mempermasalahkannya. Mereka masih memliki banyak waktu untuk mendapatkan anak ke dua. "Sstt, tidak usah terburu-buru Hinata. Aku baik-baik saja, justru kau yang perlu aku khawatirkan. Kau menangis begitu banyak saat ini." Naruto mengambilkan tisu kemudian membersihkan sisa air mata di sekitar pelupuk mata istrinya. Dia berusaha menenangkan Hinata.

"Tapi kau terlihat sudah sangat menantikannya." Bisik Hinata. Ia masih belum berani menatap wajah Naruto. Takut bila melihat ada kekecewaan pada mata biru milik suaminya.

"Aku tidak akan berbohong dengan mengatakan bahwa aku tidak mengharapkannya, namun bila Tuhan masih menyimpannya maka aku harus menunggu untuk hal itu kan. Lagipula bisa memilikimu kembali dan dengan adanya Boruto kupikir aku adalah pria paling beruntung. Jadi, dimana letak kekecewaanku?"

Setelah memberikan pengertian kepada Hinata, Naruto membawanya untuk duduk. Istrinya butuh waktu dan dirinya untuk menemaninya. Mungkin bukan hanya dirinya yang mengharapkan agar lekas hadir seorang bayi lagi di tengah-tengah mereka, namun Hinata lah yang nampaknya begitu menginginkannya. "Kau membutuhkan sesuatu?" Naruto menyodorkan air putih namun Hinata menolaknya. Dia tidak haus.

"Kapan Boruto akan sampai, aku sudah merindukannya." Hinata sudah lebih baik. Dia tidak lagi menangis. Sekarang ia menginginkan agar cepat bertemu Boruto. Hanya bisa melihat dan berkomunikasi dengan putranya lewat layar digital selama seminggu, Hinata tidak bisa untuk lebih lama menahan agar tidak segera berjumpa.

"Sekitar dua jam lebih dari sekarang. Kau mau aku membantumu bersiap untuk menjembut putra kita?" Hinata mengangguk. Dia membiarkan Naruto yang memilihkan baju ganti. Suaminya itu telah belajar bagaimana menyenangkan istrinya.

"Apa kau juga butuh bantuan untuk mandi? Kita bisa saling menggosok punggung kita masing-masing. Aku juga bisa sedikit gerakan memijat." Naruto tersenyum jahil, lagipula bila Hinata mau itu akan sangat menguntungkannya. Berendam berdua dalam satu bak mandi, Naruto tersenyum aneh membayangkannya.

Tida, Naruto tidak berencana untuk melakukanya sesuatu yang intim di kamar mandi, lagipula kemarin dia sudah mengambil Hinata hampir semalaman, jadi dia akan menekan auman biologisnya agar tetap tertidur. Tapi kalau meraba-raba masih diperbolehkan kan?

"Kita tidak akan benar-benar mandi dan sebelum kita selesai kuyakin pesawat Boruto sudah mendarat lebih dulu."

"ya-Ya, aku tidak akan macam-macam. Janji."

"Lihat, bahkan kau sudah memikirkan hal macam-macam."

"Hah? Memangnya Hinata bisa membaca pikiranku?"

"Tidak perlu dibaca, semuanya sudah sangat jelas dari wajahmu" Telunjuk Hinata menekan beberapa titik di wajah Naruto. "Seolah menggambarkan hal kotor apa yang tengah kau rencanakan, sayang."

"Tapi ini wajah pria tampan. Ba-gaimana bisa kau mengartikan ada kemesuman di wajah tampanku?"

Hinata memutar matanya sebal, dia sudah meninggalkan suaminya yang mematut dirinya di depan kaca.

.

.

.

.

Hinata memandang di layar display pemberitahuan untuk mengecek jadwal pesawat yang mendarat, sedangkan Naruto masih berada di cafetaria untuk membeli minuman hangat. Udara di musim dingin memang bersuhu rendah apalagi di sore dan malam hari. Tapi Hinata bisa mengatasinya, dia pernah cukup lama tinggal di Hokkaido, dimana setiap tahunnya diselimuti salju. Suhu di sana sampai menyentuh titik minus.

'PUK'

Sebuah gelas hangat menyentuh pipi kanannya. Naruto sudah kembali dari cafetaria dengan membawakan minuman hangat untuk istrinya. "Kau melamun terus, minumlah susu hangat ini." Sedangkan dirinya sendiri meminum coklat hangat.

"Kulihat pesawat mereka sudah mendarat, mungkin sebentar lagi kita bisa bertemu mereka." Kata Naruto. Tidak sampai 10 menit, dia dan Hinata sudah melihat dua orang dewasa yang datang ke arah mereka. Kushina melambaikan tangannya sedangkan Minato menarik satu koper besar di belakangnya. Juga tidak lupa buntalan lumayan besar yang berada dalam dekapan Minato.

"Ibu kangen sekali denganmu sayang." Naruto menggaruk kepalanya menyaksikan orang pertama yang dirindukan ibunya adalah Hinata, bukan dirinya.

"Hey Yah, bagaimana liburanya?" Naruto memeluk sekilas Minato. "Kau bisa lihat, nak. Kami menikmatinya." Balas Minato.

"Ayah, bagaimana kabar Ayah." Setelah berbincang dengan Kushina kini Hinata menyapa Ayah mertuanya. Minato memberikan jawaban yang sama.

"Dan ini jagoan kalian." Minato menyerahkan tubuh bocah kecil yang terlihat masih tertidur di gendongannya pada Naruto. Minato tersenyum melihat cucunya menggeliat karena berpindah gendongan. Ugh, rasanya dia masih ingin bermain-main dengan cucu kesayangannya ini.

Jika dulu Naruto kecil sangat tenang dan bertindak seolah telah dewasa maka Boruto kebalikannya, cucunya akan berlari kesana dan kemari seperti kelebihan energi. Mencoba hal-hal baru yang membuatnya terlihat berlipat kali lebih menggemaskan. Apalagi dengan pipi bulat kemerahan itu, Minato tidak akan mengatakan pada Naruto bahwa di sana pipi bulat anaknya menjadi sasaran ciuman serta towelan ganas teman-teman Kushina.

"Boruto kelihatannya masih lelah." Minato membenarkan penutup kepala berbentuk beruang untuk melindungi kepala Boruto dari udara dingin.

"Aku bisa melihatnya, putraku selalu bermain setiap hari bukan. Tenaganya pasti sudah terkuras dan dia akan tertidur seharian penuh."

"Apa kita akan makan bersama?"

"Tidak, lain kali saja." Kushina menatap malas putranya. Dia masih ingin berbincang bersama Hinata namun Naruto malah seenaknya menyuruh mereka segera pulang.

"Suhu sedang sangat dingin, Bu. Boruto tidak akan betah terlalu lama di luar, Hinata juga sudah makan. Ayah dan Ibu juga kelihatannya kelelahan, sebaiknya kalian cepat pulang dan tidur. Sudah tua, tidak terlalu baik kena udara dingin."

"Ck, kau saja yang lemah."

"Sudahlah sayang, kau juga harus segera istirahat." Kushina akhirnya menurut ketika suaminya yang meminta. "Naruto, beberapa barang yang kami beli untuk kalian dan juga semua barang Boruto sudah Ayah kirim ke rumah kalian menggunakan jasa pengiriman. Mungkin nanti malam atau besok sudah sampai."

"Terima kasih Ayah." Setelah berpamitan pada orangtuanya ia menggandeng Hinata serta membawa Boruto menuju ke parkiran mobil. Naruto menyalakan penghangat di mobilnya agar anaknya bisa nyaman.

"Ugghhh, . . ." Boruto mengusap-usap kelopak matanya. Dia terlihat masih sedikit bingung karena beradaptasi. "Mama?" Wajah Mama di sampingnya sangat nyata, dia bisa menyentuhnya tidak seperti ketika mereka hanya berkomunikasi lewat benda persegi itu. Hinata menoleh pada Boruto, putranya sudah terbangun.

"Tidurlah lagi sayang, kau masih mengantuk kan?"

Boruto yang awalnya berada di gendongan Naruto ingin berpindah ke Hinata. "Gendong aku Ma." Dua tangan kecilnya memeluk leher sang Mama. Gendongan gaya koala merupakan favorit Boruto. Dia bisa merasakan tepukan halus di punggungnya, betapa Boruto merindukan hal ini dari Mamanya.

"Sayang, kenapa tidak mau dengan Papa?" Padahal Naruto juga merindukan anaknya. Sudah seminggu Ayah dan Ibunya memonopoli Boruto, kini seharusnya menjadi gilirannya.

Boruto mengintip sedikit, wajahnya jelas sangat mengantuk dengan beberapa gurat merah di pipinya. "Papa tidak enak. Keras tidak seperti Mama yang empuk." Hinata tertawa mendengarnya. Dia memberikan isyarat pada Naruto agar membiarkannya, lagipula Naruto juga sedang menyetir. Akan berbahaya bila Naruto tetap memaksakan diri menggendong Boruto.

"Dasar bocah manja." Naruto mengacak rambut anaknya hingga berantakan.

"Paaa~" Rengek Boruto.

"Oke, oke. Tidurlah jagoan."

Sewaktu Naruto akan melajukan mobilnya, suara getaran ponsel di sakunya mengalihkan Naruto. Dia melihat ke layar, sebuah nomer panggilan dari perusahaan. Dia menggeser layar ke arah tanda hijau untuk mengangkatnya.

"Ada apa?"

"Maaf tuan, tapi seseorang ingin bertemu dengan anda."

"Paman Kakashi sudah kuberitahu bahwa hari ini aku off. Aku tidak ingin diganggu."

"Ta,tapi dia terus berteriak di depan kantor."

"Panggilkan keamanan."

Hinata melirik ke arah Naruto ketika mengatakannya. Apakah terjadi sesuatu? Apalagi raut wajahnya kembali menunjukkan Naruto yang dulu. Shapire birunya menatap tajam ke depan. Sekelilingnya menjadi tidak enak.

"Kami sudah berusaha menjelaskan bahwa hari ini anda sedang tidak ingin diganggu, juga mengirimkan security tapi orang ini terus memaksa masuk."

"Siapa namanya?"

"Ma-maaf tuan dia tidak menyebutkannya, sebenarnya dia datang untuk bertemu dengan Hinata-sama."

Telapak tangan Naruto mengerat. "Tunggu beberapa saat, aku akan ke sana."

"Ba-baik tuan."

Naruto menatap tajam ke arah depan. Siapapun dia yang mencari istrinya, Naruto tidak akan tenang. Dia melajukan mobilnya ke arah perusahaan. "Sayang, tunggulah di sini, jangan keluar. Tetap di sini dan jaga Boruto sampai aku sendiri yang memberimu ijin. Bila sudah selesai, aku berjanji segera ke sini."

"Ada apa Naruto?" Naruto mencegahnya membuka pintu mobil. "Apa yang kau lakukan?" Hinata menaruh curiga.

"Tidak ada apa-apa. Kau hanya perlu mematuhi ucapanku, paham."

Mau tidak mau Hinata menganggukan kepala. Naruto terlihat terburu-buru, mereka berada di depan bangunan tempat perusahaan Naruto. Bila hanya urusan bisnis belaka Naruto tidak akan berwajah suram seperti itu. Suaminya itu juga mengatakan bahwa urusan di kantor telah dia alihkan ke Paman Kakashi untuk sementara selagi tidak ada hal yang serius. Hati Hinata menjadi khawatir. Hinata memutuskan untuk keluar dari mobil dengan tetap membawa Boruto dalam gendongannya. Dia menyusul suaminya.

Di lobi nampak banyak orang, terutama dengan pria berbaju hitam dan berbadan besar. Mereka tim kemanan. Naruto juga berada di sana, di depannya terdapat seorang lelaki memakai mantel coklat dengan tas ransel di punggungnya. Hinata mendekat untuk bisa mencuri dengar. Dia melihat si lelaki tidak asing lagi. Dengan tato merah di masing-masing pipinya, Hinata masih mengingat bahwa lelaki itu adalah

"Kiba?" Sahabatnya yang dari Hokkaido.

"Hinata!" Dia benar-benar Kiba. Dia melewati Naruto dan langsung memeluk Hinata. Oh, akhirnya dia bisa bertemu dengan temannya ini. Sudah berapa lama mereka tidak bertemu?

"Apa yang kau lakukan di sini?" Hinata pikir bahwa dialah yang nantinya akan berkunjung ke sana. Dia tidak bermaksud melupakan kota itu, bagaimanapun juga Hokkaido adalah kampung halaman dari mendiang Ibunya.

"Mencarimu. Aku tidak bisa menghubungimu lagi. Terakhir yang aku tahu kau dibawa seseorang ke sini."

"Maafkan aku tidak memberitahumu dan memberi kabar." Hinata senang bisa berjumpa lagi dengan temannya, namun tidak dengan Naruto. Dia berdiri dengan tangan bersendekap, matanya awas mengamati seolah itu bisa melubangi punggung lelaki yang kini berbicara dengan istrinya.

Kiba sadar seseorang terus menatapinya. Ia tidak peduli, yang dia ingin temui adalah Hinata. Dia tidak ada urusan dengan pria rambut kuning di sana.

"Kurasa aku harus membuat batas yang jelas untuk kalian berdua." Naruto menempatkan dirinya diantara Hinata dan Kiba, dia menggeser tubuh Kiba lebih jauh. Tidak hanya itu, ia juga mengambil Boruto dari Hinata, seolah memamerkan bahwa Hinata sudah tidak single lagi. Dia sudah punya anak dan tentunya suami. Paham?!

"Jadi, apa yang kau lakukan di sini anjing kecil. Apa kau tidak bisa mengendus jalan pulangmu?"

"Naruto, benarkan panggilanmu. Kau akan cepat menumpuk dosa bila mulutmu tetap berbicara serampangan. Dia temanku, kau pernah bertemu dengannya sewaktu aku masih bekerja di café. Kau selalu cepat untuk berburuk sangka. Ayo minta maaf."

Naruto semakin memperlihatkan wajah suramnya mendengar Hinata berakhir menyudutkannya di depan lelaki ini.

"Cih, bahkan dalam mimpi pun aku tidak akan melakukannya. Sekarang banyak orang yang penuh tipuan. Hinata jangan terlalu naif." Mana bisa dia meminta maaf. Dirinya tidak salah, dia hanya bersikap selayaknya suami gentle yang melindungi istrinya. Terutama pada seorang yang memiliki benda menggantung di selangkangannya –minus dirinya sendiri.

"Abaikan saja orang ini Kiba, kita bisa berbicara di tempat lain, ah bagaimana bila di rumah? Udara di luar cukup dingin. Ayo ikut kami."

Mata Naruto semakin melotot, mana lagi Kiba juga menurut saja. Apa dia perlu memelototkan matanya sampai bola matanya keluar agar Hinata sadar bahwa dia tidak menyukai idenya? Kenapa hari ini banyak sekali orang yang merebut perhatian Hinata darinya?

"Sayang cepatlah."

"Ya, ya ya."

Selama di perjalanan Naruto tidak henti-hentinya menajamkan telinga serta matanya untuk mengawasi interaksi Hinata dengan Kiba. Mereka sangat akrab, menceritakan hal-hal yang tidak diketahuinya seolah dia adalah supir bagi dua pasangan mantan kekasih. Apa-apaan pula Hinata mengatakan bahwa penampilan Kiba terlihat lebih dewasa. Oke, sekarang Naruto lebih dari kesal dari sebelumnya.

"Naruto kenapa penghangatnya kau kecilkan?"

"Kenapa memangnya, apa temanmu alergi? Apa bulu-bulunya sudah rontok, heh?"

Kiba tidak menyukai Naruto. Dari awal mereka bertemu dia sudah memiliki insting bahwa pria ini bukan orang yang bisa berkata-kata baik. Dia heran, kenapa bisa Hinata mau dan bertahan bersama orang egois ini. Apa karena harta? Tida,tidak. Kiba tahu bagaimana sifat Hinata, dulu juga dia pernah membenci Naruto.

"Jadi kau memilih pria ini, Hinata? ckckck bahkan cara berbicaranya tidak lebih baik daripada gongongan anjing. Sini kuajari bagaimana caranya berbicara." Tatapan tajam Narto dibalas dengan seringai meremehkan oleh Kiba. Mereka saling bertukar tatapan kematian. Mereka tidak menyukai satu sama lain. Hinata tidak lebih dari seorang penonton sekarang.

"Dasar bocah tengil, berapa usiamu sampai kau begitu berani mengataiku."

"Kenapa memangnya, apa kau malu karena diajari untuk tidak menghina orang lain oleh orang yang lebih muda darimu."

"Kau –"

"Kalian berdua berhentilah saling melempar perkataan!" Hinata melerai suami dan temannya. Memang berapa umur mereka, apa masih memakai diapers? Kenapa berisik sekali.

"Apa kalian tidak sadar bahwa ada kecil di dekat kalian. Jangan menganggu tidur putraku, bila kalian masih ingin melanjutkan pertengkaran, silahkan turun dari mobil. Aku tidak keberatan menunggu di sini melihat kalian berkelahi di tengah hujan salju sampai membeku."

"Maafkan aku sayang. Aku janji tidak akan berkata kasar lagi, tapi tolong ijinkan aku membuang temanmu ini di tengah jalan, ne." Suara Naruto sangat berbeda bila berbicara dengan Hinata. Bahkan aura disekitanya nampak penuh suka cita.

Kiba mual mendengarnya. Sekarang siapa yang penuh tipu muslihat?

"Apa-apaan wajahmu itu?"

Hinata hanya berharap bahwa Boruto tetap nyenyak tertidur tanpa harus terbangun karena pertengkaran Papa dan Pamannya yang baru bertemu.

.

.

.

Melihat Kiba yang datang dari Hokkaido ke Tokyo hanya untuk menemuinya, Hinata merasakan keanehan. Bukannya tidak senang, tapi hatinya berkata bahwa sesuatu telah terjadi. Bagaimana keadaan Ms. Konan di sana?

"Kiba, bagaimana keadaan Ms. Konan? Apakah di sana masih tetap banyak pengunjung?"

Kiba yang telah menyelesaikan makan malamnya terlihat sedikit gugup. Dia tahu bahwa Ms. Konan menyuruhnya agar tidak menceritakan apa yang tengah mereka alami kepada Hinata. Namun Kiba tidak bisa diam. Mungkin memang terlihat seolah dirinya memanfaatkan Hinata tapi dengan sosok Uzumaki Naruto yang menjadi suaminya, Kiba berharap bahwa apa yang dia lakukan ini benar.

"Sebenarnya kami di sana dalam keadaan baik-baik saja, meskipun kami kehilangan satu pekerja yang ulet sepertimu. Tapi tidak untuk saat ini. Ms. Konan memang menyembunyikannya, bahkan dariku. Tapi aku telah lebih dulu mengetahuinya."

Perkataan Kiba memancing kecemasan baru dalam diri Hinata. "Jelaskan maksudmu, Kiba. Apa yang telah terjadi? Ms. Konan tidak mengalami hal yang buruk kan?"

"Sejujurnya aku sudah tidak bekerja di café lagi. Ms. Konan telah menutup cafenya. Café benar-benar telah berhenti beroperasi."

Hinata terkejut. Setahunya Ms. Konan sangat mencintai café itu sampai pernah menolak Naruto. Lalu kini tiba-tiba Ms. Konan memutuskan untuk berhenti. Sungguh hal yang aneh. "Apa maksudmu? Kiba, ceritakan hal apapun itu padaku. Sejelas mungkin."

"Ms. Konan tidak menceritakannya secara lengkap padaku, yang aku pahami adalah ada seseorang yang menawarkan kerja sama."

KIba mengingat-ingat runtutan awal kejadiannya. "Mereka sangat menyakinkan, bahkan untuk mengembangkan café, dia telah memberikan suntikan dana besar di awal untuk pengerjaanya. Namun itulah letak masalahnya. Tiba-tiba Ms. Konan mendapati namanya tercantum dalam piutang pada seorang mafia. Nilainya sangat besar hingga Ms. Konan menjual beberapa aset lain untuk menutupi beberapa bunganya saja." Kiba tertunduk. Meskipun sudah berjuang bersama namun mereka pada akhirnya harus merelakan status kepemilikan café ke tangan lain.

"Ms. Konan telah berusaha semampunya, pada akhirnya dia resmi memberhentikan café seminggu yang lalu. Beliau meminta maaf kepada kami, tapi kami tahu bahwa dialah yang paling sedih. Café yang dia bangun dari awal berakhir menyedihkan tanpa bisa ditolong lagi. Semua kejadian itu mempengaruhi kesehatannya. Namun aku tahu bahwa masih ada yang bisa menolong." Mata cokelatnya bergulir menatap pada Hinata.

"Hinata, maaf aku bila aku terlihat sedang memanfaatkanmu. Tapi, bisakah kau tolong kami? Atau setidaknya kau bisa menemui Ms. Konan di sana. Setelah kehilangan café, dia pasti akan merasa senang bila seseorang yang sudah dia anggap putrinya sendiri mau datang menjenguknya."

Hinata marah pada dirinya sendiri. Kenapa dia sangat terlambat untuk membantu orang-orang yang telah mengisi hidupnya dengan kebaikan. "Dasar Kiba bodoh. Tanpa kau memintapun aku akan –"

"Jangan libatkan istriku."

Baik Hinata maupun Kiba menoleh ketika Naruto muncul. Dia baru saja menidurkan Boruto dan mendengarkan semuanya dengan seksama. Pria berambut blonde pendek ini bersendekap memasang roman ketidak sukaan.

"Naruto, untuk kali ini biarkan aku –" Satu jari telunjuk menempel di bibir Hinata. Naruto tidak sedang dalam mood untuk dibantah. Dia serius melarang Hinata untuk pergi.

"Jangan mendebatku. Sekalipun kau memohon aku tetap mengatakan 'tidak'."

"Ke-kenapa memangnya? Apa kau tidak punya hati?" Hinata tidak mengerti cara pikir suaminya. Naruto memang dingin tapi ia mengira bahwa selama ini Naruto telah jauh berubah.

Sifat arogan masih kentara dalam diri Naruto. melekat begitu dalam hingga Hinata berpikir suaminya tidaklah mengerti apa itu perasaan. "Mungkin bagimu Ms. Konan bukanlah orang dekat, tapi bagiku dia sudah kuanggap sebagai seorang Ibu. Dia memberiku tempat ketika aku sendirian dalam kebingungan, dia membiarkanku memasuki rumahnya ketika aku butuh penghangat. Ms. Konan pula yang memberiku harapan bahwa seburuk apapun hidupku pastilah ada suatu waktu dimana aku akan menemukan kebahagiaan. Jadi, aku akan ke sana dengan atau tanpa persetujuan dari Naruto."

"Mau kemana kau? Perkataanku sudah final." Tubuh besar Naruto menghalangi kemana Hinata melangkah.

"Menyingkirah. Sebenarnya apa masalahmu, Naruto? Beri aku alasan kenapa aku harus menurutimu." Hinata tidak bisa menggeser beberapa senti tubuh Naruto, jelas saja karena mereka berbeda kekuatan.

"Aku suamimu." Naruto tidak ingin Hinata melihatnya mengeluarkan kemarahan lebih dari ini. Naruto mencoba menggenggam tangan Hinata namun ditepis langsung oleh istrinya.

"Lepaskan!" Tangannya menyentak kasar tangan Naruto. Dan tanpa sengaja ujung sikunya mengenai pelipis Naruto. Hinata menatap Naruto sebentar, dia merasa bahwa dia telah keterlaluan memperlakukan Naruto.

Seharusnya dia segera meminta maaf namun dia berpikir bahwa Naruto pantas mendapatkannya. "Jangan halangi aku lagi."

"Hinata!" Hinata cukup terkejut saat Naruto meninggikan suaranya. Naruto yang sempat berperilaku lembut kembali menjadi Naruto mudah berteriak. Jika dibandingkan dengan dulu mungkin ini hanya sentakan kecil, tapi Hinata sudah terlanjur memasukannya dalam hati. Sesuatu dalam dirinya membenci ketika suaminya ini berteriak padanya.

Kiba sendiri merasa bersalah karena dialah yang membuat Hinata dan Naruto bertengkar.

"Naruto tidak akan mengerti." Desis Hinata. "Kau selalu memikirkan dirimu sendiri, betapa egoisnya."

Naruto tetap menahan Hinata. Dia tahu dirinya bisa saja marah lebih dari seharusnyatapi dia mencoba untuk tidak lagi kelepasan memarahi Hinata. Terima kasih pada satu potong cokelat yang dia temukan di tas Boruto tadi. Pengendalian emosinya menjadi lebih baik.

"Bila kau sempat berpikir maka pikirkan juga Boruto. Bagaimana perasaanya saat tahu Mama yang begitu dia rindukan esoknya tidak dia lihat. Apa kau pikir dengan kau pergi ke sana semua masalah akan selesai? Jangan naif. Coba berpikirlah lebih baik."

". . ."

"Karena itu, aku saja yang akan pergi ke sana."

"A-apa?!"

Naruto berpikir bahwa dialah yang seharusnya membantu orang yang dulunya telah menjaga Hinata. Mau bagaimanapun Ms. Konan memang orang penting bagi Hinata. Naruto lah yang harusnya berterima kasih.

"Wanita itu kupikir telah mengalami penipuan. Aku akan mengembalikan cafenya dalam waktu kurang dari 48 jam." Hinata dan Kiba terkejut. Naruto mengatakan seolah-olah apa yang dia katakan adalah hal paling mudah untuk dilakuan. Tapi, dia adalah Naruto si pengusaha bertangan dingin. Pengalamannya dalam menghadapi persoalan bisnis sudah tentu melebihi siapapun diantara Hinata maupun Kiba.

Kapasitas dan kapabilitasnya sudah mumpuni. Bila tidak, mana mungkin dia bisa membangun banyak gedung pencakar langit semuda meletakan mainan balok.

"Keterlaluan sekali diriku jika membiarkan istriku yang tidak berpengalaman dalam bisnis ini terjun ke sana. Jadi Hinata tenang saja. Aku tidak akan berbaik hati pada siapapun yang telah membuat istriku ini hampir pergi meninggalkan suami dan anaknya. Apa sekarang kau sudah tenang?" Tanyanya memastikan. Hinata tidak lagi melawannya, Naruto membawanya ke dalam pelukan. Hah, rasanya senang sekali bisa dapat memeluk Hinata setiap hari.

"Maaf kan aku bila sempat berteriak padamu." Sesal Hinata. Naruto malah menanggapinya dengan tertawa. "Pukulanmu tadi lumayan juga." Sebenarnya rasa sakitnya hanya sebatas nyeri seperti gigitan serangga tapi dia berpura-pura meringis sambil memegangi pelipisnya.

"Apa begitu sakit?" Hinata meraba pelipis Naruto, memang seperti ada memar. Ia jadi tambah bersalah. Hinata mengelusnya kemudian berjinjit memberi kecupan di pelipis Naruto. Satu ciuman singkat itu tidak akan cukup, Naruto butuh yang lebih. Dia menarik dagu Hinata, menempelkan bibirnya dengan bibir yang lebih lembut. Naruto meraup apapun di depannya, melumat dan menghisap hingga akhirnya menciptakan bunyian kecipak basah. Mereka berdansa, dansa lidah tentunya.

Mungkin Naruto akan membridal Hinata masuk ke tempat tidur demi melanjutkan ke tahap yang lebih menantang dan menyenangkan bila saja tidak terdengar suara interupsi.

"Ekhem."

Kiba berdehem memberitahu bahwa dia masih berada di sana. Naruto menatap malas pada Kiba, lelaki bertato itu merusak sesuatu yang bisa saja berlangsung lebih lama lagi. Sedangkan Hinata, dia merasa cukup malu hingga terus menjadikan dadabidang Naruto sebagai tempat bersembunyi.

"Karena ini sudah cukup malam, aku rasa saatnya untuk pergi."

Naruto hampir saja bersorak bila Hinata tidak menawarkan pada Kiba untuk bermalam di rumah mereka. Tapi Kiba menolaknya, ia sudah memesan penginapan. Dia tidak mau terlalu merepotkan Hinata. Lagi pula Naruto telah mau membantunya, dia berterima kasih atas hal itu.

Kini Kiba juga yakin bahwa Hinata tidaklah salah memilih pasangan. Mungkin dulu hubungan mereka cukup rumit namun sekarang nampaknya mereka lebih bahagia. Bila dulu Naruto mati-matian membenci Hinata, sekarang pria itu sangat mencintainya. Naruto tidak akan membuat sahabatnya menangis lagi.

.

.

.

.

.

.

Hokkaido

Ms. Konan awalnya sedang menyiram tanaman di dalam pot-pot kecil depan rumahnya. Pagi yang biasanya dia lakukan dengan pergi ke cafe untuk memeriksa stok persediaan kini tak lagi dia lakukan. Dia merasa menyesal karena gagal mempertahankan café peninggalan suaminya, dia juga memberhentikan para karyawannya karena suda bukan lagi menjadi milik café.

Tempat itu menyimpan banyak kenangan, bertemunya ia dengan orang-orang menarik serta kali pertama dia bertemu dengan Hinata. Ah, bagaimana keadaan Hinata sekarang? Terakhir yang Ms. Konan tahu bahwa Hinata telah dibawa kembali oleh salah satu keluarganya, atau lebih tepatnya mantan suaminya. Dia berharap Hinata dan Boruto bisa hidup dengan baik, bila ada waktu dia akan berkunjung ke Tokyo.

Tapi, untuk saat ini dia harus menundanya. Ms. Konan meletakkan gayung airnya saat sebuah mobil sedan tanpa plat berhenti di depan rumahnya. Tiga sosok berbaju hitam turun, Ms. Konan mengenali salah satu diantaranya yaitu Kakuzu. Dialah orang yang membuat ia kehilangan cafenya. Ke tiga orang itu membungkuk saat satu orang pria turun dari mobilnya. Ootsuki Toneri menampakkan dirinya.

Pria tinggi berambut putih yang Ms. Konan berusaha jauhi. Mata abu-abunya juga bukan mata umum orang Asia. Pria itu bukanlah berasal dari Jepang.

Ms. Konan tahu mereka semua adalah suatu kelompok mafia, terdapat tato pentagram pada punggung tangan masing masing dari mereka. Mereka datang untuk menyerahkan surat penyataan perubahan alih kepemilikan café.

"Jadi, apakah kau sudah mempertimbangkannya?"

"Tetap seperti keputusanku sebelumnya. Ambillah café itu." Ms. Konan harus tetap mempertahankan pilihannya walaupun berat.

Toneri tersenyum simpul. Wanita tua di depannya cukup memiliki keberanian untuk menatapnya tanpa rasa takut. "Aku menghargai keputusanmu. Café peninggalan suamimu memang sudah tidak penting bagimu kan, maka kau tidak akan bersedih hati bila nantinya akan aku ratakan bangunan itu."

Ms. Konan mengepalkan tangannya. Orang ini sedang ingin memainkannya. "Bahkan meski kau bangunkan pemakaman di atasnya, keputusanku tidak berubah. Hinata tidak akan datang ke sini. Aku tidak akan menuruti kemauanmu untuk membawa Hinata kemari." Ms. Konan tidak tahu bagaimana orang sejahat ini bisa mengenal Hinata.

Toneri berbahaya, dia mampu untuk membuatnya terjebak dalam pilihan sulit. Pria itu tertawa kencang sampai terpingkal. "Pilihan bodoh yang bagus. Kau mungkin memiliki tingkat kemanusiaan yang tinggi, tapi itu pilihan terburuk dari beberapa pilihan menguntungkan yang aku berikan." Ini hanya sebagai permulaan. Bila gagal, Toneri masih punya banyak cara untuk mendapatkan wanita incarannya.

"Tapi tidak dengan salah satu mantan pekerjamu."

Ms. Konan terhenyak. Dia yakin bahwa orang lain tidak ada yang tahu permasalahan yang sebenarnya. Dia tidak ingin melibatkan orang lain dalam urusan ini. Terlalu berisiko.

Siapa yang dimaksudkan oleh Toneri?

"Tuan, pemuda itu dalam perjalanan kemari." Kakuzu memberitahu Toneri.

"Baiklah, kita tunggu saja. Aku yakin kau sangat tahu siapa orang itu, bukan Ms. Konan. Dia pegawaimu yang rajin. Dia sangat menghormatimu hingga mau melakukan apapun untuk menolongmu. Termasuk membawakan Hinata padaku. Mungkin kau kenal seseorang yang bernama Izuyuka Kiba?"

"Dia yang akan menggantikanmu untuk membawa Hinata." Sambung Toneri.

Tubuh Ms. Konan terduduk lemas. Dia sudah menyerah dengan café nya. Berharap dengan hal itu mereka tidak akan lagi mengganggunya. Tapi kenapa Kiba harus melibatkan diri dalam masalah ini? Anak itu masih hijau dalam memandang suatu masalah.

"Menjauh dari bos ku!" Seseorang tiba-tiba sudah mendorong Toneri agar tidak terlalu dekat dengan Ms. Konan. Kiba datang sambil terengah. Dia yakin belum terlambat.

Para pengawal Toneri hendak memukul Kiba sebagai balasan atas kelancangannya, namun Toneri mengangkat satu jarinya. Mereka tidak perlu membuat keributan hanya karena tikus kecil.

Kiba membantu Ms. Konan untuk berdiri. "Sudah kubilang berhenti menganggu bos ku. Aku sudah memenuhi permintaanmu, bajingan." Kiba melayangkan tinjuannya namun beberapa anak buah Toneri sigap menahannya dengan mudah. Salah satu dari mereka memelintir tangan Kiba dan menendang perutnya.

"Lalu dimana dia, dimana Hinata?" Kiba meringis saat Toneri mencengkram lehernya. Kekuatan pria ini benar-benar gila sampai membuat saluran pernapasannya menyempit.

"Dia di rumah." Toneri menoleh pada suara berat yang datang dari belakang. Bukan sosok perempuan berambut gelap yang muncul. Dia bahkan bukan perempuan secara keseluruhan. "Istriku sedang sibuk mengurus anakku yang rewel karena tidak mau Papanya pergi. Hah, kau benar-benar membuatku harus turun tangan sendiri." Naruto menyampirkan coatnya di pundak, dia memandang rendah pada Toneri. Rupanya ini hari besarnya, musuhnya sudah ada tepat di depan matanya.

Hanya saja dia datang tanpa persiapan.

"Akhirnya kita bertemu secara langsung, makhluk kotor."

Sudah tidak ada wajah murah senyum pada Toneri. Dia berubah serius. "Apa maksudmu ini, Inuzuka Kiba?" Dia bertanya pada Kiba dengan intonasi rendah. "Kau membohongiku, kau salah dalam membuat keputusan." Dengan gerakan mata, Toneri memerintahkan ketiga anak buahnya untuk bertindak kasar. Mereka langsung menondongkan pistol mereka baik ke arah Kiba maupun Naruto.

Ms. Konan yang berada di tengah-tengah mereka masih bingung. Kenapa ada sosok Uzumaki Naruto di sini?

"Aku juga merasa senang bisa bertemu denganmu. Seseorang yang sejak dulu ingin aku lenyapkan." Toneri menyalahkan pematik api membakar pelintingan rokoknya. Asap tipis mengambil ruang antara dirinya dan Naruto.

Naruto bersikap biasa meski dua buah senjata api dengan ukuran kaliber 4.5 dikokang ke arahnya.

"Dari dulu kau selalu mengacauhkan rencanaku. Memenangi tender-tender besar yang seharusnya menjadi milikku. Sangat menyebalkan." Pelebaran bisnis gelapnya di Jepang tidak semulus di beberapa Negara yang lain. Toneri bisa menyuap para petinggi pemerintah di sana untuk meloloskan proyeknya. Tapi tidak di Jepang. Tender seperti pembangunan dermaga, pelabuhan udara dan proyek besar lainnya sebagai akses untuk transaksi gelapnya lebih banyak dikantongi oleh perusahaan bawaan Naruto.

Menjadikan kawasan awalnya tak tersentuh keamanan menjadi milik lembaga resmi. Jelas sekali bahwa Naruto menyumbat jalurnya.

"Bahkan mulai dari Ayahmu sudah sangat menganggu. Dia memberikan dana besar untuk mengusung Uchiha Fugaku sebagai Perdana Menteri. Dia tidak menyukai orang-orang sepertiku, mendapatkan jutaan dollar dalam sekejam mata dengan menjalankan bisnis terlarang. Hasilnya, saat Fugaku benar-benar terpilih, dia mendepak semua orang-orang yang bisa kugunakan untuk kelancaran bisnisku."

"Memangnya kenapa? Kau dendam karena sudah tidak mendapatkan mainanmu?" Tantang Naruto.

Toneri geram bukan main saat Danzo, calon yang dia danai sebagai calon Perdana Menteri baru bisa kalah saing dengan Fugaku. Uchiha sangat sulit untuk diajak bekerja sama. Mereka terlalu menjunjung tinggi nilai hukum. Toneri begitu muak. "Dan kini dirimu juga ikut campur tangan meraup apa yang seharusnya kudapatkan. Kurasa itu alasan yang cukup untuk ku menginginkan kepalamu kan." Seringai Toneri melebar. "Aku ini orang yang pemurah. Aku bisa saja melepaskanmu bila kau mau bertukar sesuatu denganku."

"Katakan, apa itu."

"Cukup muda. Aku tahu kau juga sama bajingannya denganku, sangat menyukai hingar bingar dunia. Jadi tak masalah kan, bila aku menginginkan wanitamu menjadi wanitaku? Aku bisa menukarnya dengan pelacur kelas atas tanpa ada fee. Tinggal pilih ingin yang berpengalaman atau masih segelan."

Pandangan Naruto lebih dingin mendengarnya. Dia sangat membenci pria berambut putih di depannya ketika sudah menyangkut Hinata. "Tutup mulut sampahmu itu." Tangannya mengepal, dia maju mendekati Toneri meski senjata api masih membidiknya. "Simpan saja pelacurmu untuk dirimu sendiri. Aku tidak berminat dengan barang murahanmu."

"Tapi, aku berminat dengan Hinata. Dia akan melahirkan banyak anak untukku."

"KEPARAT!"

"Jangan mendekat lebih dari satu langkah lagi atau kami akan menembakmu."

"Kalian ingin menembakku? Tembak saja, bila kalian ingin melihat kepala putih tuan kalian berlumur darah."

Toneri dan anak buahnya diam saling berpandangan, namun saat mereka lebih fokus maka terlihat sebuah laser merah telah ditepatkan pada dahi Toneri.

Mereka terdiam menunggu perintah. Memang berkonfrontasi dengan Naruto bukanlah perkara mudah. Hari ini bukan saatnya mereka menghabisi Naruto.

Toneri mengisyaratkan agar mereka masuk ke mobil. "Untuk saat ini, cukup di sini pertemuan pertama kita. Namun –" Toneri berbicara di dekat Naruto. "Aku mulai akan sering muncul di depan Hinata. Camkan itu."

Setelah mereka pergi, Kiba mendekati Naruto. Dia sangat kagum. Dimatanya Naruto nampak sangat jantan. Bahkan tanpa dia memberitahukan permasalahan sesungguhnya, Naruto sudah bisa membaca dan menyiapkan segala halnya sampai sedetai ini.

"Ka-kau sangat keren tadi."

Naruto melihat pemuda ini sambil menahan kesal. Dia memukul kepala Kiba. "Kau harus memiliki alasan yang kuat bila tidak ingin kulempar dirimu di dalam kandang anjing kelaparan. Kau membantu pria jelek itu bukan?"

Sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit, Kiba balik menggerutu. "Tentu saja tidak. Mana mungkin aku bertindak sejahat itu dengan membawa Hinata pada monster sepertinya! Sejujurnya aku malah merencakan agar dirimu lah yang ikut denganku. Kau memiliki hal yang tidak kami miliki. Kau memiliki kekuatan untuk melawan Toneri si gila itu."

"Kau bahkan bisa merencakan semuanya dengan baik. Apa kau membawa banyak pasukan bersamamu disini? Aku tidak melihat satupun dari anak buahmu. Mereka sungguh hebat sampai tidak bisa dilihat." Kiba terus terkagum dengan Naruto. Dia tidak perlu lagi menonton film laga bila di depannya tadi tersaji begitu banyak ketegangan.

Naruto mendecakkan lidah lalu mendengus. Dia menggosok bagian belakang kepalanya. "Mana mungkin aku melakukannya. Kau pikir aku paranormal?! Aku memang kemari hanya untuk membantu Ms. Konan tanpa ada pengawal atau orang-orang yang kau kira sebelumnya." Wajah Kiba penuh ketidak percayaan.

Halah, Naruto ternyata punya sifat merendah.

"Aku tidak percaya, anak buahmu bahkan sempat memasang target di kepala Toneri bukan. Naruto, kau membuat Toneri dan anak buahnya gemetaran seperti menahan kencing." Kiba ngotot memuji. Jelas-jelas Naruto tadi bertingkah seolah dia dikawal oleh sekelompok pasukan bayangan terlatih.

Naruto mengusap tengkuknya. "Errr, itu sebenarnya kerjaan seseorang. Dia memang kusuruh ikut bersamaku, namun dengan tujuan yang lain." Tepat saat Naruto mengatakannya, sosok Kakashi muncul dengan membawa banyak kantong plastik. Rambut berantakan dengan beberapa daun mengotorinya. "Paman kusuruh ikut denganku untuk membelikan oleh-oleh untuk Boruto." Tidak ada setelan jas hitam formal atau kacamata hitam layaknya pengawal sungguhan. Kakashi hanya mengenakan mantel berbulu dengan celana jeans, juga menunjukkan banyak sekali kantong belanjaan di tangan berisi makanan manis dan mainan hasil dari dia berkeliling.

Sebelum pergi ke sini, Naruto memang telah berjanji pada anaknya untuk membelikan banyak oleh-oleh asalkan Boruto menginjinkanya pergi. Tugas Paman Kakashi hanya untuk membelikan oleh-oleh, tidak lebih.

"Kurasa, aku cukup beruntung membeli tembak mainan ini. Benda ini bisa mengeluarkan leser merah." Kakashi bernapas lega. Dia datang tepat waktu dan langsung menyusun rencana. Naik ke atas pohon seolah berpura-pura telah membidik sasaran padahal dia hanya memegang pistol mainan.

Hah, untung pula tuan mudanya juga sudah mengerti taktik murahan ini hanya dengan sekali lirik.

Boleh dikatakan ini rencana gila mereka berdua.

Kiba melongo. Mereka berdua terlalu sinting. Naruto sudah berlagak jagoan tapi nyatanya semua hanya bualan yang ajaibnya bisa mengulur waktu kematian.

Bededah macam apa Naruto ini.

.

.

.

.

.

.

TBC

Akhirnya bertemu juga Naru sama Tone

Aku suka nulis bagian waktu mereka bertemu. Greget gitu rasanya.

Dan kira2 Hinata bener hamil nggak ya? #kalau aku sih pengen cepet Naruhina dapat dedek lagi biar usaha Naruto nggak sia-sia haha

.

Terima kasih buat dukungan kalian terhadap REMOVE yang masih banyak cacat penulisan. Kalian luar biasa sampai aku berpikir bahwa kalian lah yang membuat cerita ini menarik.

Jempol buat kalian semua.

Yang sabar nungguin REMOVE ya. Saya yang ngetiknya aja suabarr puoll haha.

Satu lagi. Beberapa logat korea udah aku ubah, trims udah ngingetin aku. It's my fault, gegara beberapa hari ini suka baca fanfic korea. Semoga gg mengganggu lagi.

Yang ingin chat dengan aku bisa nge-add fb aku 'Atharu' atau bisa ke wattpad dengan nama akun 'Atharu'. Soalnya kalau di ff gg bisa bales pesan kalian. Notifnya gg masuk ke hp karena email yahoo error, jadi aku lebih sering bales komen yang di wattpad.