Previous

Kegagalan menjaga orang terpenting bagi Naruto membuatnya berteriak frustasi. Lee menyeret kakinya ke mobil. Ia bernapas lega, setidaknya Boruto tidak terluka parah.

Dan tidak lama setelah itu Naruto datang. Matanya mengobarkan kemarahan. Wujudnya berubah mengerikan dengan langkah besar dan aura menyesakkan.

"Maaf Bos, mereka telah berhasil membawa Hinata-sama."

Naruto melihat ceceran darah merembesi kemeja Lee. Tangannya mengepal. Dia merasa marah, namun bukan pada Lee melainkan pada dirinya sendiri. Netra birunya melihat sosok di dalam mobil yang meringkuk. Naruto cepat meraihnya, menggendong Boruto dan dia lebih dari marah melihat putranya memiliki bekas kekerasan.

Dia bersumpah akan memberikan balasan yang lebih buruk setelah apa yang mereka lakukan pada keluarganya. Bahkan mengingat Hinata yang sedang mengandung berhasil diculik merupakan pukulan keras untuk dirinya.

"Jalankan rencana Delta. Hubungi semua pasukan yang kita miliki. Aku ingin orang-orang terbaik bisa segera menemuiku secepatnya. Katakan pada paman Kakashi untuk menyiapkan satu penerbangan khusus." Geraman Naruto menunjukkan sudah semurka apa dirinya. Tapi semengerikan apapun dia, saat menatap Boruto, ia tidak akan menunjukkannya. Tatapannya adalah tatapan seorang Ayah. Dia memeluk putranya.

Naruto merogoh sakunya, ia menghubungi seseorang. "Shikamaru, nyalakan penyadapnya. Pastikan kau memperoleh lokasi terakuratnya." Naruto langsung memutuskannya tanpa menjawab semua hal yang hendak Shikamaru tanyakan.

Ini adalah peperangan terakhir.

.

REMOVE

Kesalahan tidak bisa dihapuskan. Itu membekas dan meninggalkan jejak.

Kau hanya bisa memperbaikinnya, namun berhentilah mencoba karena kau terlalu terlambat untuk melakukannya

.

.

.

.

.

Naruto semuanya milik Masashi Kisimoto, saya hanya meminjam chara sebagai tokoh dalam fanfiksi.

Mohon kebijakannya dalam membaca. Semua adegan hanya fiktif belaka.

.

Warning : Typo(s), Bahasa tidak baku (cenderung kasar), sexual content, AU, Modern live, OOC, criminal, alur lambat

Rated : M (language and content)

Pairing : Naruto-Hinata

Story : Atharu

REMOVE CHAPTER 11

Selamat menikmati dan jangan lupa review

.

.

.

.

.

.

.

Naruto mematik api di ujung rokoknya, setengah wajahnya menggelap tertutup juntaian rambut depan. Pandangannya tegak lurus, nyaris tak terbaca, memandang datar langit malam Moskow dari arah balkon hotel tempatnya bermalam. Rongga mulutnya penuh asap, sama sekali bukan seperti dirinya yang biasa sampai membiarkan relung paru-parunya dijelajahi asap nikotin. Celah bibirnya mengepulkan asap, sedot dan hembus beberapa kali. Ia menyandarkan diri di besi pembatas. Hanya di saat-saat tertentu saja dia melakukan apa yang sering dilakukan Shikamaru.

Di saat ia sedang kecewa pada dirinya sendiri, seperti sekarang.

Selagi menyesap pangkal lintingan tembakau, dia berbicara dengan ayahnya lewat sambungan telepon. Mendengar sesering mungkin kabar terbaru putranya. Menanyai kesehatannya atau rutinitas terbaru Boruto. Naruto menerawang, mulai berpikir andai bukan karenanya mungkin Hinata tidak akan seperti ini hidupnya. Bahkan bila dulu ia tidak bersikukuh mempertanggung jawabkan siapa dirinya bagi Boruto, mungkin Hinata dan Boruto akan tetap aman di kampung halaman mereka.

Bisa saja wanita itu akan bertemu pria lain, hidup bahagia menjadi ibu rumah tangga atau mengambil kerja sampingan sebagai pengajar anak-anak –sesuai mimpinya. Naruto membayangkan akan secekatan apa Hinata dalam mengurus anak.

Pria itu menggelengkan kepala. Ia malah mengepalkan tangan. Dadanya membusung memasok asap pembakaran rokok lebih banyak tersuplai. Hanya membayangkannya saja, tralis besi di depannya berakhir ia tonjok sampai beresonansi. Ia tidak akan bisa menerima hal itu. Karena ia telah beranggapan bahwa Hinata memang untuknya. Tercipta agar selalu terikat dengannya –dalam suka dan duka.

Tempat wanita itu untuk pulang adalah dirinya.

Tidak ada rumah lain selain tempat tinggalnya.

Saat suara ayahnya terdengar, Naruto menyahut dengan deheman pelan. Minato mengatakan Boruto masih dirawat meski dokter mengatakan lukanya telah tertangani, beberapa lebam juga sudah diberikan obat pereda nyeri dan Naruto bersyukur saat Minato mengatakan kondisi psikis Boruto dalam keadaan stabil. Mentalnya baik-baik saja walau Boruto tetap dianjurkan melakukan beberapa terapi dalam jangka waktu dekat guna memastikan tidak ada trauma lainnya.

Dari benda telekomukasinya, beberapa kali telinga Naruto menangkap suara rengekan Boruto, bertanya-tanya dimana papa dan mamanya, kemana kedua orangtuanya. Naruto menekan rokoknya kuat-kuat saat suara putranya semakin samar kemudian berubah serak kehabisan tenaga, lalu terbata-bata memanggil mamanya.

"Apa mama pergi karena aku menjadi anak nakal? Papa juga ikutan meninggalkanku?"

Naruto mendengarnya. Pria itu menggelengkan kepala. Ingin berkata 'Shu-shu baby. Kau jagoan kami, tidak mungkin kami bisa meninggalkanmu.' Tapi Naruto lebih memilih menyimpannya dalam bentuk gumaman.

Dia menahan dirinya sendiri untuk tidak menyapa baby boy-nya. Belum saatnya –pikirnya. Inilah rasa sakit yang ditanggung seorang ayah. Ketika anak lelakinya begitu membutuhkannya namun ia tidak berada di sisinya sekadar memberikan pelukan. Ayah adalah sosok pahlawan bagi anaknya, tapi Naruto merasa dia belum menyentuh titik paling tinggi itu.

Setelah semua yang terjadi, Naruto jadi teringat dulu dia dengan bodohnya berkeinginan membuang Boruto sekalipun dia masih di dalam kandungan, lalu kini dia masih tak bisa berbuat banyak untuk memastikan keamanan keluarganya. Dia bukan pria kuat lagi saat orang-orang mulai menyerang titik terlemahnya. Istri dan anaknya.

Kepala Naruto terantuk. Dia sadar bahwa dialah orang yang paling lemah tanpa Hinata dan Boruto. Seharusnya dia mampu memasang badan melindungi dua orang berarti dalam hidupnya. Tapi ia mendapatkan kegagalan seperti ini. Jika sampai tidak mendapatkan Hinata, Naruto tak akan bisa menunjukkan muka di depan sang putra.

"Ayah sudah meminta Fugaku untuk membantumu mendapatkan akses rahasia di sana dengan dalih diplomasi. Apa kau tidak memerlukan balah bantuan lagi? Ayah masih memiliki beberapa koneksi dengan orang-orang tertentu untuk membantumu."

Dari pantulan kaca jendela hitam, wajah dingin Naruto tercetak. Ia tahu bahwa ayahnya memiliki jaringan bawah yang kuat. Bahkan Ibunya pun tidak tahu bahwa pria yang menjadi suaminya itu tidak cukup bersih sebagai pengusaha saja. Naruto mengetahui riwayat lain pekerjaan masa mudah Minato yang tidak bisa disepelehkan. Dan dia cukup bersyukur ayahnya tidak memaksanya mengambil alih semua apa yang pernah dia pegang.

"Tidak perlu, kelompok yang aku bawa sudah pilihan terbaik. Akatsuki dan dua lusin orang-orangku sudah mendarat siang tadi. Mungkin sebentar lagi mereka ke sini."

Pasukan yang ia bawa sudah cukup meskipun bisa saja nantinya ia mengirim lagi beberapa anak buahnya kemari. "Akatsuki bukan kelompok biasa. Lagipula dengan apa yang barusan ayah kirim. . . " Mata birunya melirik pada tiga koper besar. Paket khusus yang baru sampai. "Itu sudah lebih dari cukup." Ia sudah menduga isi di dalamnya. Terkekeh datar karena ayahnya yang terkenal ramah dan baik hati itu juga memilikinya–

memiliki sifat buas.

Senjata yang berhasil dikirimkan ayahnya akan menambah infentaris persenjataan meski dia sendiri telah menstoknya. Ia bisa memberikannya nanti secara cuma-cuma pada anak buahnya sebagai hadiah.

"Sebenarnya ayah rasa itu masih kurang karena mereka telah berani melukai cucuku, mereka juga begitu gegabah menculik menantu serta calon keluarga baru kita tanpa melihat latar belakang dengan siapa mereka berhadapan."

Kini Naruto sadar darimana sifat keangkuhan dan kearoganannya selama ini berasal. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. "Ini misiku, biarkan aku yang menyelamatkan istri dan calon anakku. Ayah sudah terlalu tua, hanya perlu duduk di sana menemai Ibu dan Boruto. Bila sampai besok malam kami tidak juga berada di Tokyo, ayah bisa mengirimkan pasukan ayah –as much as you want."

"Baiklah, ayah mengerti. Aku akan menutup teleponnya. . . Kau bisa dengar, Boruto masih merengek. Ibumu terus membujuknya untuk segera tidur, tapi dia cukup keras kepala sepertimu. Bila dia tidak juga tidur maka ia harus mendapatkan obat agar dia tidak demam."

Ada perasaan tidak tega mendengarnya. Biasanya Boruto bisa tidur tenang dalam sekejab, bergelung nyaman dalam pelukan Hinata. Tapi kini bocah kecilnya harus diberikan obat hanya untuk menenangkannya. Kepalan tangannya menguat, orang yang bertanggung jawab atas semua hal buruk ini sudah Naruto rencanakan bagaimana kematiannya nanti.

"Aku titip Boruto. Katakan padanya, jika ia tidur maka besok mama kesayangannya akan segera datang."

"Kau tidak ingin berbicara padanya?"

"Aku tidak akan cukup kuat untuk mendengar anakku menangis. Ayah pasti mengerti. Hanya katakan padanya, bahwa diriku sedang dalam misi menjemput mama dan calon adiknya."

"Baiklah."

'Beeppp'

Naruto merogoh sakunya. Sebuah alat pendeteksi yang berbunyi 'bip' 'bip' menunjukkan kelap kelip warna merah dimana Hinata berada. Angka 80 km adalah jarak yang tertera di layar digitalnya. Rentang jarak antara mereka, tidak terlalu jauh. Itu bisa ditempu satu setengah jam perjalanan dengan kecepatan tinggi. Ingatkan padanya nanti untuk memberikan beberapa saham pada Shikamaru karena telah membuatkan alat pelacak secanggih ini.

Suara ketukan pintu terdengar, Naruto membuang putung rokoknya. Kamarnya ini dipesan secara khusus, jadi bila ada yang mengetuk pintu itu sudah jelas orang kepercayaanya.

"Apakah semua sudah siap, paman?" Naruto membukakan pintu. Kakashi membungkuk hingga terlihat di belakangnya lima orang berpakaian hitam berbaris rapi. "Sudah, tuan." Jawabnya memberikan aba-aba agar lima orang di belakangnya segera masuk.

Naruto menatap datar pada lima orang yang menamai diri mereka sebagai Akatsuki. Mereka memang masih muda, namun kekuatan mereka setara dengan satu batalyon lengkap. Bila Minato berhasil membangun namanya di dunia underground, maka Naruto berhasil membentuk kelompok-kelompok militan berkekuatan militer untuk setia padanya.

Akatsuki adalah pilihan paling Naruto yakini karena rekam jejak mereka dalam banyak misi telah diselesaikan sempurna.

"Aku tidak akan menjelaskan panjang lebar karena kalian sudah mengenal betul aturan mainnya." Koper dibuka menggunakan kode beberapa digit angka. Dugaan Naruto tepat, sepuluh handgun jenis Dessert eagle dan Glock dia berikan masing-masing pada Yahiko, Nagato, Sasori, Deidara dan Ajisai.

Sisanya berupa lima senapan serbu, FN Scar dan M-16 sangat mencolok dibandingkan lainnya. Naruto memilih FN Scar sebagai senjata lapis kedua. Terselip di belakang punggungnya, sedangkan Glock menempati saku jasnya sebagai tempat paling dekat untuk dijangkau.

"Kalian harus membuka jalan. Siapapun yang menghalangi segera singkirkan. Bila kalian rasa kalah jumlah maka aku bisa menambah per orang lima anak buah sebagai penambah daya."

"Mereka hanya akan menjadi penghambat. Tapi, aku tidak keberatan bila dijadikan sebagai umpan gertakan saja." Yahiko memeriksa jumlah peluruh yang dimasukkan ke dalam selongsong senjatanya. Dia rindu menyentuh shotgun. Tangannya cepat membongkar magazen. Matanya berkilat melihat beberapa tambahan senjata kelas ringan dijejer di atas meja. Revolver dengan pembidik optik dan pistol semi-atomatis. Ini akan menjadi laganya sebagai seorang pemimpin regu.

"tch. . ., apa bos meremehkan kami?" Yang berambut pirang dikuncir tinggi membentuk wajah jenakanya. Deidara memiliki sifat paling bermulut besar, tapi itu setimpal dengan kemampuannya sebagai agen doble, informan dan mata-mata. Bila tidak, tentu Yahiko tidak segan membuat mulut berisik itu terlakban selamanya.

"Istri bos berada di sebuah bar bawah tanah di pusat kota. Mata-mataku sudah memastikan bahwa di sana sedang ada transaksi. Entah apa yang akan dijual belikan. Bisa saja istri –" Sebelum lidahnya lebih lancang berbicara, urat nadi lehernya sudah terlebih dulu merasakan sengatan dingin logam menekan kerongkongannya.

"Diam bodoh." Sebilah pisau lipat menempel di lehernya. Sasori tahu rekannya ini memiliki kadar kepekaan di bawah batas rata-rata. Deidara agak bodoh juga sembrono, bahkan hanya untuk menyadari bos mereka sudah memandang gelap ke arahnya pun dia masih saja mengoceh, sedikit lagi kelepasan bisa dipastikan lidahnya bakal terpisah dari tenggorokan. Deidara hampir membuka peti matinya sendiri.

Ia meneguk ludah pelan, memegangi lehernya sendiri yang tiba-tiba terasa kram. Deidara berterima kasih pada Sasori karena telah menghentikan bukaan mulutnya lewat kerlingan mata.

"Kita akan bergerak malam ini. Ajisai akan memantau melalui monitor LCD di dalam mobil yang sudah diparkir di dekat bangunan. Tugasmu mencari pintu masuk dan keluar serta memastikan ada berapa orang di sana. Dan terima kasih telah membuat card palsu –meskipun hanya akan bertahan 30 menit. Jangan lupakan masker, topeng atau apapun itu yang bisa menutupi setengah dari wajah kalian. Yaa, pesta topeng para bangsawan. "

Yahiko sedikit tertawa, menertawai para bangsawan atau tuan kaya raya berkelakuan bejat. Yang malu menunjukkan wajah mereka ketika menjadi pelaku jual beli manusia. Kerak neraka memang adalah rumah mereka.

"Ketika sudah saatnya, Deidara yang akan membuat ledakan pertama lalu disusul aku dan Nagato melakukan penyerangan. Sasori sebagai lapis ke dua serangan kita, lalu bos akan masuk dan menyelamatkan tuan putri. Bagaimana, apa bos menyetujui?"

Yahiko menyusun rencana setelah memperoleh infromasi. Menimbang beberapa resiko dengan kekuatan yang mereka bawa. Dia tahu lawannya setingkat dengan mereka. Para mafia lintas negara memang bukan sembarangan lawan.

Mereka juga memiliki selundupan senjata kiriman dari kartel-kartel luar negeri, bisa saja setiap tangan di sana membawa handgun atau bahkan assault rifle, tapi ia merasa begitu mendidih walau persentase keselamatan tak mencapai angka di atas lima puluh persen.

Misi kali ini adalah misi yang secara langsung melibatkan bos mereka. Naruto adalah sosok yang begitu ia hormati. Dan sebuah kebanggan bisa melihat sisi lain dari bosnya. Bahkan bertarung bersama, Yahiko jelas tahu harga yang harus ia bayar jika misinya gagal.

Naruto mengangguk. Microphone kecil ia pasang di sisi dalam telinga. "Kuingatkan sekali lagi, ini adalah misi Delta." Mereka berdiri tegap, mengambil sikap mengerti.

Deltadalam artian death atau kematian. Jika kawan kalian tak memiliki kesempatan untuk bertahan maka tinggalkan atau jika tak mau melihatnya menderita maka bantu untuk segera bertemu Tuhan.

Siapapun yang menghalangi berarti sudah siap untuk bersatu dalam dekapan tanah.

"Aku tak keberatan berapapun mayat yang harus ditumpuk. Meskipun aku lebih senang kita main bersih. Hinata wanita yang baik, tidak seharusnya ia melihat orang-orang merenggang nyawa di depannya." Sudah cukup untuk membuat Hinata melihat kekerasan di depan matanya walau dia meragukan hal itu sendiri.

Naruto berpikir dirinya tidak bisa menambah tekanan Hinata lagi. Wanita itu memang terlalu baik bila menjadi pasangannya. Ah, omong kosong. Memangnya ia rela Hinata bahagia dengan orang lain? Bukan saatnya memunculkan sisi melakonis yang hanya akan menjadi penghambat.

"Bos tidak perlu takut begitu. Aku yakin istri bos akan terkesima melihat bos yang datang menyelamatkannya."

"Ya, terimakasih atas ucapanmu, Nagato. Kita bergerak sekarang."

Meskipun Yahiko adalah kapten namun Naruto lah yang memegang kendali kapan mereka akan berangkat. Saat menuju pintu, Naruto melihat Kakashi masih berada di tempatnya. Dia juga akan ikut. Kakashi menyerahkan sebuah bulletproof pada Naruto meski si tuan muda terlihat enggan untuk menerimanya. "Sebagai keselamatan, kita tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Tugasku adalah memastikan dirimu tidak terluka."

"Paman, aku sudah bukan anak kecil."

"Tapi sebuah peluruh bisa menembus orang, berapapun usianya."

Naruto meraihnya, memakainya dengan benar agar pamannya tidak mengoceh lebih lama. "Go, now!"

"Yes, sir."

.

.

12 jam. Hinata menghitung setiap jamnya. Dia tidak mengerti dimana kakinya menginjak atau langit mana yang menaunginya. Semuanya asing, tidak satu pun yang bisa membantunya paham berada dimana ia sekarang.

Yang dia ingat hanyalah Toneri memaksanya menaiki pesawat meninggalkan Jepang. Hinata tahu ia sudah jauh dari Jepang, melintasi kepulauan dan lautannya. Pria itu sempat berbicara menggunakan bahasa asing. Dan kata 'Moskow' jelas terdengar beberapa kali dalam percakapannya.

Lalu di sinilah dia berada sekarang.

Beberapa kali Hinata terbatuk dan memalingkan wajah saat asap pembakaran rokok menampar mukanya. Ia tahu ini bukanlah sembarang tempat. Bar bawah tanah. Nirwananya para penjahat kelas kakap.

Orang-orang tertentu berkeliaran memakai topeng wajah. Hinata mengingat baik-baik belokan yang ia lalui, letak pintu dimana ia masuk atau siapa saja yang ia temui, tapi ia sudah melupakannya ketika berada di kerumunan jubelan orang-orang asing.

Udara terasa pengap, tidak ada ventilasi kecuali sebuah cerobong kecil mirip gas pembuangan. Satu pintu masuk dengan empat pria penjaga dan Hinata tak tahu dimana letak pintu keluarnya. Klub mewah bawah tanah. Ia berada di sini entah untuk apa.

Kepalanya menoleh kanan kiri. Menyaksikan meja penuh tumpukan uang dollar beserta koin-koin judi. Orang-orang teler dengan spuit isi cairan keruh menancap di pergelangan siku, beserta butiran tablet obat-obatan psikotropika, adapun para wanita berpakaian nyaris telanjang. Mondar-mandir menawarkan minuman juga jasa servisan.

Bulu kudunya meremang. Hinata merotasi matanya, di sudut-sudut ruangannya terbentuk kumpulan-kumpulan beberapa manusia. Tubuh mereka tersentak-sentak seperti kejang, mereka terang-terangan berhubungan seks di muka umum –entah berdua atau bermain lebih dari dua orang. Hinata mual, hendak memuntahkan isi lambungnya jika saja ia tidak mengelus perutnya. Sejujurnya ia sudah jijik. Sekalipun ia pernah memasuki sebuah klub malam, namun tempat ini sudah seperti kandang binatang.

Hinata menelan ludah, melihat bagaimana penampilannya saat ini. Polesan pemerah bibir terlalu mentereng melapisi belah bibir tipisnya. Foundation putih malah semakin memucatkan mukanya.

Pakaiannya berongga-rongga terlalu terbuka. Gaun lace yang Toneri berikan membuatnya ingin menghabisi pria itu. Baju kurang bahan ini mengetat di setiap lekuk tubuhnya. Toneri mendandaninya seperti agen prostitusi. Hinata kembali menderu tidak terima, ia bukan murahan setelah Naruto menjadikannya wanita paling lengkap dan mengembalikan kehormatannya.

"Mendekatlah, dudukmu terlalu jauh. Aku tidak bisa menikmati wajah cantikmu." Lengan Toneri menarik helai rambut Hinata, membuat wanita berambut biru gelap itu terpaksa berjejal bersama wanita-wanita lain. Wanita panggilan berjumlah lima orang.

"Siapa dia, tuan? Pelacur barumu?"

Hinata tidak memahami bahasa mereka namun melihat dan mendengar cekikan mereka, pasti bukan hal baik. Hinata menampik lengan salah satu diantara wanita itu ketika mencoba memegang bahunya. Bau alkohol juga memaksa Hinata untuk memalingkan muka. Jikapun memaksa, Hinata tak akan sungkan untuk muntah di wajah penuh dempulan bedak mereka.

Wanita bermata sipit dan memiliki lesung pipi memberinya sebuah gelas. Menggoyangkan isinya yang pekat. "Kau tak suka anggur? Di sini ada miras, ada juga whisky. Tapi jika kau mencari susu vanila, maaf kau tak bisa mendapatkannya. Ah, apa sekalian kupesankan oplosan? Campuran obat sakit kepala dosis sedang bisa membuatmu melayang-layang."

Hinata mengabaikannya.

"Here, you want?" Yang berambut coklat muda serta berwajah latin memberikan jarum suntik beserta sabuk kecil. "Heroin, kau bisa memilikinya. Atau kau mau yang lain? Putau dan sabu-sabu, aku membawanya sekaligus." Dari belahan dada, ia memperlihatkan lintingan kertas aneka warna tersumpal di dalamannya. "We can fly until end . Dan kau bisa klimaks sampai pagi menjelang. Tubuhmu dapat bergetar-getar kenikmatan, terdengar seru kan?"

"Don't touch me!" Serga Hinata mengelak.

"Wow, miss. Kau terlalu kasar." Mereka tertawa keras bersama. Bau-bauan obat keluar dari mulut berplitur gincu merah merekah. Hinata tak mengerti mengapa mereka sesenang ini merusak diri mereka sendiri. Obat-obatan itu meninggalkan residu, dapat merusak daya nalar sampai berujung kematian jika sudah putus obat. Mereka menyia-nyiakan usia mereka.

"Atau kau mau bergabung dengan mereka di sana?" Mereka menunjuk sekumpulan orang-orang berjingkrak di lantai. Sebuah tiang dengan sangkar bola besi melingkar yang di dalamnya terdapat dua wanita telanjang saling menari.

"Kubilang jangan sentuh aku, bitch!"

Toneri memasang senyum lebar. Bertepuk tangan menikmati kelakuan kasar Hinata. Lihat, dia bisa memesona hanya dengan pandangan tajam serta ucapan kotornya. "Kalian membuatnya marah. Tapi, aku suka. Wajahnya jadi lebih cantik, lebih merona sampai ke telinga."

"Jaga bicaramu." Desis Hinata memperingatkan. Tubuhnya mundur, berusaha memperlebar jarak diantara mereka meskipun Toneri tetap mencengkal lengannya. "Jangan sembarangan meletakkan tangan hinamu padaku atau kau akan menyesal." Suaranya berat, geram campur gemetar. Toneri memberikan aba-aba pada wanita-wanitanya untuk pergi. Dia ingin menghabiskan waktu dengan Hinata lebih lama.

Jarinya menjepit dagu Hinata, menekan rahangnya sampai tak bisa berkata-kata, memaksa wajah oriental Hinata menatap tepat pada sepasang mata abu-abunya. Toneri menyeringai remeh. Mengendusi hidung hingga ke dagu. "My princess, lihat dirimu sendiri sebelum mengancamku. Jangan membuatku berambisi merusak wajah cantikmu ini." Toneri mengeluarkan lidahnya menjilat bibir Hinata namun wanita itu langsung memalingkan muka.

Tidak sudi disentuh barang secuil pun.

Cengkraman Toneri menguat. Dia membenci ketidak patuhan. Hewan yang tidak patuh patut dihukum. Tapi Toneri lebih menginginkan permainan. Menerka-nerka, sekiranya apalagi yang bisa Hinata tunjukkan untuk menghiburnya.

"Kau mengharapkan suamimu? Ughh, menggelikan. Setelah kau sendiri yang meninggalkannya. Barangkali Naruto akan mencari wanita lain, yang lebih patuh seperti anjing." Toneri menghisap kulit putih leher Hinata yang terpampang jelas. Semakin ingin mempermainkannya ketika tubuh di depannya memberikan respon penolakan ditandai dari gemuruh di dada.

Sekuat apapun Hinata memendam rasa takutnya, tapi semakin besar pula ketakutan itu mengambang ke permukaan. Membuat separuh tubuhya gemetaran dan meriang.

"Bersyukurlah karena aku menyukai dirimu meski kau sudah pernah ditiduri orang lain." Toneri menyukai harga diri wanita ini. Hinata terlalu mematok kehormatannya begitu tinggi. Hasrat untuk merusaknya pun jadi semakin menggebu-gebu. Menikmati ketidak berdayaan dan wajah keputus asaan adalah kenikmatan bagi Toneri.

Dari dulu Toneri selalu melihat dua hal itu, jadi ketika seorang wanita mati-matian untuk tidak menunjukkannya, Toneri terlecut tertantang. Menganggap ini sebagai kompetisi berapa lama Hinata bisa bertahan sebelum memasrahkan dirinya sendiri. Toneri penasaran sekaligus semakin berambisi. Ada dimana kehormatan yang wanita ini perjuangkan? Di balik baju? Toneri terkekeh. Sangat mudah untuk dihancurkan.

Jadi, ia akan pelan-pelan meruntuhkannya. Membuat Hinata menyadari bahwa kini ia hanyalah sebuah barang. Jikapun berujung pada kematian, maka Hinata harus membuatnya terhibur lebih dulu melewati serangkaian penyiksaannya.

"Kau sudah melahirkan satu anak untuk Naruto. Bagaimana bila melahirkan satu lagi untuk ku? Menjadi satu dari beberapa pelacurku. Menghangatkan ranjangku."

Hinata menekan kuat kepalan tangannya. Wajahnya merah mencapi ubun-ubun, bahkan ia bisa mendengar sendiri suara gemelatuk gigi di dalam rahangnya. Jadi ketika Toneri menempelkan wajahnya kembali, Hinata mendapatkan jarak lebih dekat untuk melepaskan satu jotosan penuh kekuatan.

BUGH!

Kepalan tangan kecil itu berhasil membuat memar di dagu Toneri. Tepat di rahang bawah sampai menekan atap gusi atasnya. Membuat tubuh pria itu langsung terjungkal ke belakang.

"Gaaahhhh!" Geraman Toneri mengundang banyak mata melihat. Namun sebelum Toneri berhasil membalas, Hinata lebih dulu melompat ke atas tubuhnya, mengigit kuat-kuat telinganya sampai pria itu kembali mengerang kesakitan dan mengayunkan lengan besarnya membanting Hinata.

Beruntung tinjuan keras itu luput dari perutnya, bila tidak, mungkin Hinata dapat melihat rembesan darah di sela kaki.

Hinata terpelanting, keningnya membentur kaki meja akibat oleng ke samping. Mulutnya mengerang, dia merasakan cedera di bahu kiri akibat menumpuh seluruh berat badan. Beruntung tangannya lebih dulu melingkupi perutnya. Mencegah benturan fatal mencelakai janinnya.

"FUCKKK!" Umpat Toneri. "Jangan ada yang berani membantu!" Saat para anak buahnya datang berbondong menghampiri, bermaksud memberikan pembalasan. Tapi Toneri langsung mengangkat satu tangannya. Jangan mendekat. Dia meraba luka yang baru saja dia dapat dan memuntahkan darah dari mulutnya. Satu gigi gerahamnya ikut terbuang. Ia mendecih karena cukup perih.

Dengan tangan sekecil itu, Hinata membuatnya berpikir siksaan macam apa yang sesuai untuknya. Ia ingin tangan yang melukainya itu diremukkan, kaki-kakinya dibentangkan sebagai tanda ketidakberdayaan. Toneri menginginkan mulut Hinata tak bisa lagi berbicara selain memohon dan terus mengemis akan pengampunan. Lalu nanti ia akan membuat Hinata mencium kakinya.

Benar-benar wanita yang susah dijinakkan.

"Jangan ada yang menyentuh wanita itu. Dia milikku, bila ada yang ingin merusaknya, MAKA AKU SENDIRI YANG AKAN MELAKUKANNYA! Baru setelah itu kalian kubebaskan untuk menghancurkannya."

Degup jantung Hinata berdetak kencang. Tangannya terkepal. Andai memungkinkan, Hinata pasti kembali melesatkan tinjuannya lagi. Namun ia memilih untuk lebih mengolok Toneri.

"Kau tidak sekuat yang kau sesumbarkan. Bahkan seorang wanita lemah sepertiku berhasil merontokkan gigimu." Hinata bangkit walau kakinya sedang goyah. Bila nanti dia tidak bisa lolos dari tempat ini, maka ia bersumpah sebelum Toneri menyentuhnya, dia sendiri yang akan membunuh dirinya sendiri.

"Kau yang meminta, Hinata. Jangan salahkan aku bila wajah manismu akan rusak atau beberapa tulangmu bergeser dari tempatnya. Kau harus tahu untuk apa dirimu dilahirkan. HANYA UNTUK MENYENANGKANKU SAJA!"

Toneri menyuruh anak buahnya menyeret Hinata. "Kita lihat, seberapa mahal kau bisa terjual."

"BAJINGAN, LEPASKAN AKU!" Beberapa orang menahan dua lengannya, satu di kanan, satu lagi di kiri. Pemberontakannya terasa sia-sia teredam badan-badan besar yang memepetnya. Lakban hitam lebih dulu memplester mulutnya sebelum ia diseret paksa memasuki sebuah ruangan.

"Ssstttt, diam sayang. Hemat suaramu untuk nanti. Jika sudah saatnya, mulut kecilmu itu akan mendesah-desah, paham."

Hinata memelototkan matanya, mengatupkan rahangnya sampai dua ruang di pipinya menggembung sebagai bentuk penolakannya. Dia ingin membunuh pria ini sekarang juga.

.

.

Hati Hinata semakin mencelos mengetahui ruangan macam apa ini. Mungkin tadi dirinya masih memiliki sejumput keberanian, namun kini ketakutan mulai menghantam telak hatinya. Kelereng matanya menyisir cemas. Semua pengunjungnya bertopeng, duduk di kursi-kursi mewah sambil mengangkat papan kecil bertuliskan nominal harga.

Di depan ada panggung kecil. Hinata melihat ada beberapa wanita berdiri di jalur runway, berjejer dengan leher terantai. Mereka berjalan berlenggok pelan, seperti pemabuk kehilangan kontrol diri. Entah sadar atau tidak namun tubuh mereka terpapar bebas dinikmati belasan pasang mata. Lalu saat seseorang menanyai adakah yang ingin membeli, maka para orang-orang bertopeng akan mengangkat papan tinggi-tinggi.

Berteriak keras sambil memasang nominal harga.

Human trafficking.

Mereka melakukan pelelangan, mematok harga sesuai kreteria wanita mana paling menarik untuk dipelihara. Hinata tercenung, kakinya sudah hampir mati rasa. Dia menggelengkan kepala, namun Toneri lebih dulu menyeretnya masuk ke dalam antrian barisan.

Menyerahkannya pada pria lain sebagai makelar penjualan.

"Siapa dia, saudaramu? Wanitamu? Dimana Shion, kau sudah jarang membawanya kemari, aku bahkan sempat mengira kau sudah bosan alat-alat sex toys di sini. Apa perlu kutambahkan aroma terapi?"

"Jangan banyak bicara Urashiki. Masukkan dia dalam barisan lelang. Wanita ini terlalu pemberontak, aku berniat untuk menjualnya agar tidak terlalu rugi. Katakan pada Momoshiki jika kau berhasil menjual Hinata dengan harga tinggi maka dia akan kukirimkan kartel khusus." Sebuah kertas lusuh dilemparkan Toneri. Ganja kering yang bisa digunakan dalam seminggu, Urashiki menyeringai senang. Menyimpannya ke dalam saku untuk nanti digunakan.

Dia mencuri pandangan pada Hinata yang menunduk. Urashiki menggunakan tongkatnya guna menengadahkan wajah wanita itu. "Hey, apa dia korban penculikan? Dia bahkan tak memiliki aura menjual seperti wanita-wanitaku di sana. Dia seperti wanita baik-baik." Urashiki bersiul. Ia menoleh pada Toneri sambil bertepuk karena tahu maksud jahatnya. Urashiki kemudian tertawa keras, terpingkal sampai memegangi perutnya.

"Dasar makhluk kubangan neraka, kau selalu mendapatkan barang bagus untuk pertunjukan. Tuan Momoshiki pasti akan senang bila tempat ini ramai. Makin banyak pelanggan makin banyak gelontoran uang dari pelanggan maniak."

Ia berjalan ringan mengitari Hinata. Melihat-lihatnya sambil menilai. Ia kembali mengulum senyum aneh, wanita ini bisa membuat pertunjukkan spektakuler di tempat membosankan ini. "Pertunjukkan apa yang ingin kau lihat?"

Toneri mengambil satu tempat di salah satu kursi kosong. Menselonjorkan kakinya sambil menyesap segelas brandy yang dituangkan oleh wanita pendamping. "Hancurkan harga dirinya."

Urashiki kembali mengulum senyum terlalu lebarnya mendengar permintaan pelanggannya. Pertunjukkan paling jarang dilakukan. Pertunjukkan untuk menguliti sisi kemanusiaan dan menjadikannya mirip barang jualan.

"Jadi siapa namamu tadi, Hinata? Japanese?" Logat meremehkan itu membuat Hinata hampir menendangnya jika Urashiki tidak segera menghindar. Pria itu terkekeh-kekeh, bertanya dimana Toneri mendapatkan wanita menarik sepertinya. "Pantas saja mafia brengsek itu menjualmu. Kalau kau lebih patuh sedikit saja –mengangkang untuknya , kau pasti bisa mendapatkan guyuran uang dari pria royal itu. Bahkan kau bisa meminta sehektar Opinium sebagai lahan berkebun uang."

"Lebih baik bunuh aku daripada berakhir menjadi sangat menjijikkan hanya untuk uang."

"Ha ha ha, yayaya aku paham. Seharusnya para bangsawan di sana juga memiliki sifat sepertimu, pasti surga akan sangat ramai." Mata Urashiki berkilat-kilat, membayangkan show macam apa yang bakal terjadi.

Tongkatnya diarahkan ke tengah kepala Hinata, seolah akan melubangi dahinya. Seseorang menghampirinya sambil menyerahkan sebuah rantai. "Tapi sayangnya, sekarang kau berada di neraka, Hinata. Kita akan melihat, bagaimana wanita manis sepertimu harus belajar hal dasar tentang arti dikuasai."

"Jadi, dimanakah sebaiknya kuletakkan rantai ini, hm?" Tanyanya lagi.

.

.

"Arah jam sembilan, aku melihat beberapa orang menggiring wanita mirip istri bos ke dalam suatu bilik. Seperti ruang rahasia. Sasori, mungkin kau bisa laporkan situasi sekarang." Nagato memberi aba-aba melalui microphone di telinga. Jeda sebentar baru kemudian terdengar suara Sasori menyahut.

"Beberapa membawa senjata riffle. Penjaga di sekitarku menyembunyikan alat setrum di balik jas mereka. Behati-hatilah pada orang berpakaian bling-bling setengah pria setengah wanita, mereka waria yang dilatih membunuh. Yahiko, aku sudah menghalangi jarak pandang mereka darimu. Roger."

Yahiko mengerti. Tugasnya sudah rapi terselesaikan lebih cepat. "Dan aku sudah memasang bom di dinding-dindingnya, satu kupasang di dekat pintu keluar. Beberapa kumasukkan ke belakang baju para bodyguard –sekitar sepuluh orang. Daidara yang memegang remote kendali. Sekali tekan, otak mereka bisa kupastikan meloncat dari tempurung kepala."

Naruto diam, berdiri tegap dengan sesekali menyesap minuman fermentasi. Suara-suara dari microphonenya didengar baik-baik. Sekalipun dua tiga wanita menggelanjuti lengan dan bahunya, dia tidak bergeming dari tempatnya. Fokusnya ditunjukkan untuk menemukan satu orang. Naruto mencari, mencari sosok istrinya. Dimana wanita berambut biru gelap itu berada.

Dia melihat ke arah yang ditunjukkan Nagato, arah jam sembilan. Sekitar 30 derajat, berjarak sepuluh meter dari tempatnya berdiri. Dari banyaknya orang-orang, sekilas kornea matanya menangkap sosok pria berambut putih gading –Toneri beserta anak buahnya masuk sambil menyeret seseorang.

Jantungnya berdegup. Naruto tak melepaskan tangkapan matanya. Dia sangat yakin yang mereka seret adalah Hinata. Wajah Naruto jadi mengeras di balik topeng. Otot-otot lehernya berkontraksi menampakan diri di permukaan kulit. Dia menekan kuat gelas koktailnya sebelum memecahkannya begitu saja.

"Kalian mendengarku?" Suara perempuan terdengar di masing-masing telinga yang terpasang microphone. Ajisai mengirimkan informasi yang baru dia curi. "Ruangan berplat hitam, tepat seperti yang dikatakan Nagato. Di sana terdapat ruang khusus, ada penjagaan ketat namun card palsu kalian akan membantu untuk melewati mereka –"

"Tunggu, kamera sadapanku berhasil menangkap gambar di dalamnya. Oh, faker. Aku melihatnya, mereka akan melelangnya," Ajisai mendelik ketika tahu itu bukanlah yang terburuk. "Bos, atau siapapun, lakukan sesuatu a-aatau sesuatu yang lebih buruk akan menimpah Hinata. Mereka akan menggelar show menjijikan! Party nudes."

"Hell," Ke empat rekannya menyahut berbarengan. Tahu macam apa pesta itu dibuat. Sebuah pertunjukkan gila penyiksaan baik fisik maupun psikis. Misi menguliti harga diri seseorang. Kadang orang bisa sangat sinting menghamburkan uang guna mendapatkan pertunjukkan paling menjijikkan.

"Bos, kumohon tahan amarahmu. Kita pasti menyelamatkannya." Deidara yang paling dekat dengan Naruto menghampiri bosnya. Menahan lengan berototnya saat akan mengeluarkan FN scar di balik kemejanya. "Jika kau langsung mengamuk, kesempatan kita mendapatkan Hinata semakin kecil." Ia menoleh ke sekililing. Banyak orang bersenjata, mereka harus bersabar lebih lama lagi.

Rahang pria pirang itu tetap mengetat. Matanya sudah melotot tak ingin ada intrupsi. Potongan rambut pirang pendeknya hanya semakin memberikan kesan menakutkan ditunjang perawakan bertubuh gorilanya. "Bagaimana jika kita terlambat? Aku melihat istriku dan tanganku belum bisa menjangkaunya. Aku merasa tak berguna. Jadi katakan, harus sesabar apa diriku untuk berdiam diri?" Desis Naruto.

"Ki-kita akan menyelamatkannya. Bos," Deidara berusaha menyamarkan ketakutan sekaligus menahan tidak mengompol di celana saat bertatapan langsung dengan mata kemarahan Naruto. Ia sudah bergidik.

"Kami mengusahakan hal terbaik, tak akan mengecewakanmu, bos. Sekarang, letakkan kembali senjatamu yang rapi, kita masuk ke sana. Jika sudah saatnya, tidak hanya Glock dan FN scarmu yang beraksi, bahkan aku tak ragu untuk menekan tombol pemicu ini." Tunjuknya pada sebuah tombol hijau di remote kontrol.

"Kita akan berperang. Tak akan kembali sampai mendapatkan tujuan kita. Kami sudah bersumpah padamu, bos." Tambahnya.

Sekalipun apa yang dikatakan Deidara adalah kebenaran, sedikitpun Naruto enggan menuruti walau pada akhirnya ia berakhir tetap menyimpan senjatanya.

.

.

"Dia memiliki pinggul yang indah, dadanya sebesar itu pula. Cha-cha, coba singkirkan baju itu. Aku ingin melihatnya lebih jelas. Biar nanti jika tanganku gatal, aku bisa meremasnya."

"Dan lihat mata bulatnya, bukankah dia seperti boneka. Sex doll, ahay, wanita itu bisa dijadikan boneka pemuas napsu."

"Aku sudah menyiapkan handycam. Apa kita sudah bisa merekamnya? Tubuh molek berwajah loli, nanti akan aku jual di blackmarket online. Judulnya barracuda loli-chan, pasti sangat laku."

Suara sumbang saling bersahutan merendahkan, sisa-sisa tetes minuman berakohol menguar memabukkan serta wajah-wajah bengis yang tidak bisa Hinata lupakan menjadi satu hal mengerikan di depan matanya.

"CEPAT BUKA SEMUA BAJUNYA. Kita mulai show!" Toneri yang pertama menyuruh beberapa orang untuk naik, mengitari Hinata dan mencekal badannya.

Hinata mematri baik-baik sorot mata mereka, tawa-tawa merendahkan mereka, baju, bentuk topeng dan apapun yang dapat ia ingat akan penghinaan ini. Ketika satu persatu pakaiannya terlucuti –terobek seperti merobek batas harga dirinya, Hinata semakin kuat mempertahankannya.

Dia disoraki, para penonton meneriaki agar wanita sepertinya semakin dipermalukan. Hinata masih berusaha menghindari orang-orang sinting ini. Bila ia berlari ke arah selatan maka dari arah sebaliknya sudah dihadang pria-pria bertubuh besar. Hinata terpojok, berdiri di tengah sebagi pusat tontonan.

Toneri juga tertawa. Disebelahnya ada wanita penghibur membawa baki menawarkan wine merah campur pomace. Toneri beserta orang-orang sinting lainnya sangat menyukai pertunjukan ini. "Adakah yang ingin membelinya? Dia cantik, hanya membutuhkan beberapa kursus latihan sebelum menjadi pelacur kelas atas."

Hinata menggeram. Air matanya menetes saat gelungan rambutnya ditarik sampai terurai. Hiasan-hiasan di lehernya dipreteli, kain lengannya ditarik paksa hingga menganga sampai ke bahu. Sontak tangannya menahan pakaiannya agar tidak semakin melorot. Buku-buku jarinya sampai memutih karena ia terlalu erat meremat tangannya sendiri. Agar mereka tidak semakin merasa menang karena berhasil membuatnya ketakutan.

"HENTIKANN!" Sekalipun Hinata sekuat tenaga berteriak dan ada nada memelas di sana, namun mereka tetap tak berhenti, malah semakin menjadi-jadi. "Jangan pegang aku, keparat. Kembalalih ke neraka." Sikut Hinata menyodok perut seorang pria yang berada dibelakangnya. Ia mengigit lengan salah satu di antara mereka sebagai bentuk perlawanan hingga terkelupas walau pundaknya dipukuli beberapa kali.

Tulang belikatnya sudah memar parah, seumur hidup pun Naruto tak pernah sampai segila ini memerlakukannya. Hinata merotasikan dirinya ke samping, hendak menerobos barisan bodyguard sebelum sebuah tangan lebih dulu menarik lebih kuat tumit kakinya sampai ia jatuh terguling.

"Hancurkan kesombongan wanita itu. Dia harus tahu bahwa dia sudah tidak memiliki kebebasan jika sudah berada di atas sana." Urashiki menyiramkan minuman mocktail ke wajah Hinata yang dibalas lontaran ludah wanita itu.

Hinata memegangi pelipisnya ketika wajahnya kembali menerima hantaman ujung sepatu sampai kepalanya pening. Indera penglihatannya sempat berdistorsi sesaat. Sejujurnya pendengarannya ikutan berdengung. Ia merangkak, namun kembali terkulai. Hinata meraba nyeri di kepalanya, merasakan ada rasa dingin di dahinya, entah bagian mana yang terluka namun beberapa tetes darah memerahkan jari telunjuknya.

Hinata mendongak pilu. Pandangannya meredup sayu. Wajahnya terkena muncratan ludah saat mereka membuka mulut lebar-lebar tertawa. Apalah arti seorang wanita yang bahkan badannya begitu mungil dibanding postur besar tubuh mereka yang tiga kali lipat darinya.

Mereka kembali tertawa terbahak-bahak atas ketidak berdayaanya. Seolah ia memang boneka, dimana tiap orang megambil bagian untuk menghancurkannya.

Apa ia pantas diperlakukan seperti ini? Tiba-tiba Hinata terisak.

Naruto, dimana kau?

Hinata mengusap mata bengkaknya bercucur air mata. Rambutnya lengket tercampur tetesan liquid alkohol. Berdiripun kesusahan karena serat otot kakinya habis diinjak. Sisa pukulan Toneri dan orang-orang ini membuat wajahnya lebam-lebam. Hinata berpikir jika dia sudah tidak dapat berbicara ketika bibirnya terkelupas menyisakan rekahan darah kering.

Separuh lehernya juga merah bekas cekikan. Bola matanya bergerak-gerak, mencari-cari adakah satu orang baik diantara mereka untuk menolongnya, namun Hinata hanya semakin mengeluarkan air mata karena dia tidak menemukannya.

Ia sendirian. Tidak ada yang akan membelanya.

Sebanyak apapun ia meminta mereka berhenti mengoyak harga dirinya, Hinata akan berakhir di tempat yang sama. Orang-orang ini sudah mati hati hingga begitu senang melihatnya di titik selemah ini. Baju tipisnya seperti bentangan kain yang dililitkan asal. Sekali tarik pasti akan terbuka semua.

"Ka-lian akan menyesal. Kalian telah melakukan hal yang salah. Se-seharusnya kalian diajari cara menghormati seorang wanita. Aku adalah seorang istri dan ibu, penghinaan ini akan kalian balas dengan hal paling mahal –kalian telah menukar nyawa kalian sendiri. Naruto tak akan melepaskan kalian semudah itu setelah apa yang kalian lakukan padaku. N-naruto paling membenci bila miliknya dilukai –hkss-" Hinata berharap, sekuat tenaga memohon dalam hati agar suaminya secara ajaib berada di sini untuk melindunginya.

Bukankah Naruto berjanji melindunginya?

Jadi, ia harus bertahan. Ia akan terbiasa sampai Naruto menjemputnya. Demi nyawa lain di perutnya, entah bagian mana lagi dari badannya yang akan mereka hancurkan. Hinata tetap percaya bahwa Naruto akan datang.

Pria itu telah mengambil sumpah untuk menjadi satu-satunya tempat bergantung. Hinata menutup mata, diam-diam dalam hati menghitung satu-dua-tiga seterusnya. Naruto akan datang, akan datang. Hinata tersenyum, mengulang-ngulangnya entah sampai kapan.

TBC

.

.

Nanggung?

Tunggu chapter depan ya yang masih dalam proses pengetikan.

Bahkan rencananya akan saya jadikan satu chapter, tapi demi menghindari mata melereng karena terlalu banyak word maka lebih baik saya pisah.

.

.

Terima kasih buat yg udh ngeingetin saya dgn tokoh 'Konan' yang dua kali saya gunakan padhal mereka orang yang sama hehe. Sangat fatal, dan saya benar-benar kelupaan. Jadi anggota Akatsuki yg ikut Naruto ada Yahiko, Nagato, Sasori, Deidara dan Ajisai.

.

Ada pengumuman khusus, bahwa chapter depan adalah chapter terakhir. Saya akan menamatkan cerita ini, lalu memindahkan cerita REMOVE ke wattpad. Dan otomatis cerita REMOVE di ffn akan saya hapus, hanya akan meninggalkan beberapa chapter awal namun selebihnya bisa dinikmati di wattpad (meski chapter berisi adegan lemon juga akan saya private).

Kalian juga bisa membaca cerita saya yang lain di sana. Seperti versi remake SEDUCE, karena di wattpad bakal saya tambahi beberapa drable. Atau cerita yang lainnya lagi hehe.

Monggo kunjungi akun wattpad saya dengan nama akun "Atharu". Semoga kita tetap terhubung dan saling berkabar. Salam hangat buat semua Naruhina Lovers.

See yaaaa.