Previous
Mereka kembali tertawa terbahak-bahak atas ketidak berdayaanya. Seolah ia memang boneka, dimana tiap orang megambil bagian untuk menghancurkannya.
Apa ia pantas diperlakukan seperti ini? Tiba-tiba Hinata terisak.
Naruto, dimana kau?
Hinata mengusap mata bengkaknya bercucur air mata. Rambutnya lengket tercampur tetesan liquid alkohol. Berdiripun kesusahan karena serat otot kakinya habis diinjak. Sisa pukulan Toneri dan orang-orang ini membuat wajahnya lebam-lebam. Hinata berpikir jika dia sudah tidak dapat berbicara ketika bibirnya terkelupas menyisakan rekahan darah kering.
Separuh lehernya juga merah bekas cekikan. Bola matanya bergerak-gerak, mencari-cari adakah satu orang baik diantara mereka untuk menolongnya, namun Hinata hanya semakin mengeluarkan air mata karena dia tidak menemukannya.
Ia sendirian. Tidak ada yang akan membelanya.
Sebanyak apapun ia meminta mereka berhenti mengoyak harga dirinya, Hinata akan berakhir di tempat yang sama. Orang-orang ini sudah mati hati hingga begitu senang melihatnya di titik selemah ini. Baju tipisnya seperti bentangan kain yang dililitkan asal. Sekali tarik pasti akan terbuka semua.
"Ka-lian akan menyesal. Kalian telah melakukan hal yang salah. Se-seharusnya kalian diajari cara menghormati seorang wanita. Aku adalah seorang istri dan ibu, penghinaan ini akan kalian balas dengan hal paling mahal –kalian telah menukar nyawa kalian sendiri. Naruto tak akan melepaskan kalian semudah itu setelah apa yang kalian lakukan padaku. N-naruto paling membenci bila miliknya dilukai –hkss-" Hinata berharap, sekuat tenaga memohon dalam hati agar suaminya secara ajaib berada di sini untuk melindunginya.
Bukankah Naruto berjanji melindunginya?
Jadi, ia harus bertahan. Ia akan terbiasa sampai Naruto menjemputnya. Demi nyawa lain di perutnya, entah bagian mana lagi dari badannya yang akan mereka hancurkan. Hinata tetap percaya bahwa Naruto akan datang.
Pria itu telah mengambil sumpah untuk menjadi satu-satunya tempat bergantung. Hinata menutup mata, diam-diam dalam hati menghitung satu-dua-tiga seterusnya. Naruto akan datang, akan datang. Hinata tersenyum, mengulang-ngulangnya entah sampai kapan.
.
.
REMOVE
Kesalahan tidak bisa dihapuskan. Itu membekas dan meninggalkan jejak.
Kau hanya bisa memperbaikinnya, namun berhentilah mencoba karena kau terlalu terlambat untuk melakukannya
.
Naruto sepenuhnya milik Masashi Kishimoto dan serial anime nya dianimasikan oleh studio Perriot, saya hanya meminjam chara sebagai toko dalam fiksi karangan saya.
Mohon kebijakannya dalam membaca. Semua adegan hanya fiktif belaka.
.
Warning : Typo(s), Bahasa tidak baku (cenderung kasar), sexual content, AU, Modern live, OOC, criminal, sexual harrasement, berisi konten sensitif (ada adegan berdarah).
21+
Rated : M (language and content)
Pairing : Naruto-Hinata
Story : Atharu
Chapter 12
.
.
.
.
.
"Lihat, apa dia sudah mati? Padahal aku lebih suka melihat mulut itu menghisap penis dalam-dalam, membuat tubuh itu terhentak kesana-kemari, baru boleh mati ha ha ha."
"Jadi siapa yang ingin membelinya?"
Seseorang dari tribun penonton menyelah. Jambang putih tebalnya melengkung di sudut bibir. Berisul-siul hingga perut buncitnya melonjak-lonjak seolah akan meloncat dari kancingan jas. "Perlihatkan dulu tubuhnya. Dia pasti bukan perawan lagi, jika tubuhnya tidak lagi bagus kenapa harus dijual. Umpankan saja secara cuma-cuma." Dia menepuk-nepuk pahanya sekadar menyombongkan apa yang berada di balik celananya.
Lalu disambut sorakan setuju lebih keras lagi. Mereka sudah gila, sinting, sudah bukan manusia. Hinata muak mendengar mereka. Mata bulannya menyorot penuh kebencian. Sekalipun ia tidak memiliki kekuatan melawan balik, namun mulutnya masih memiliki banyak cara untuk menyumpahi mereka.
"Karena binatang seperti kalianlah perempuan-perempuan di luar sana merasakan ketakutan. Apa diantara kalian tidak ada yang dilahirkan dari seorang wanita? Apa kalian tidak memiliki saudara, anak, dan istri dari seorang wanita? Kalian benar-benar sudah sekarat –arkg!"
TTAKKKK
Hinata memegangi pipinya ketika sebuah tongkat mengayun keras ke arahnya. Ia bisa mendengar bunyi tulang rahangnya beresonansi sampai ke tempurung kepalanya. Ini pukulan ke sembilan yang ia hitung. Bila pukulan sekeras ini kembali dihantamkan pada wajahnya, Hinata yakin tulang pipinya sudah hancur. Tubuhnya tegang karena beberapa rasa sakit di bagian tertentu tak terelakkan lagi. Lengan, kaki, dada, dan kepalanya. Lebam-lebam ungu biru menyebar di kulit putihnya. Pendarahan di sekitar dahi memerahkan kelopak matanya.
"Shut up! Mereka itu calon pembelimu. Bersikaplah lebih jinak agar kau bisa mendapat majikan kaya. Jika kau bertingkah baik, masing-masing dari kami bisa memberimu uang untuk membeli baju baru. Atau kau memang lebih suka telanjang?" Caci Urashiki.
Hinata semakin meraung saat udara dingin menyergap bagian atas tubuhnya yang kembali ditarik paksa. Suara tarikan kain membaret merah di bahunya. Hinata memberontak, mencakar, menggigit tangan lancang yang sedang berusaha menarik habis pakaiannya. Kakinya menendang brutal –biarpun sampai putus, Hinata tidak rela mereka menodai tubuhnya.
Ia semakin jatuh saat satu orang lagi naik. Menggelandangnya ke tengah lalu berusaha menarik sisa pakaiannya. Bahunya terpapar terbuka, bekas tendangan bercokol merubah warna kulit putihnya. Hinata berjengit mengikuti arah tarikan salah satu tangan mereka di belakang kepalanya. Rambutnya terurai berantakan. Berjatuhan bersamaan dengan air mata. Tangannya menyilang di dada, bermaksud menahan pakaiannya tidak terbuka seluruhnya.
Dari celah antar jari, Hinata masih menatap para jubelan orang-orang. Separuh wajahnya memelas pertolongan, dan saat matanya melihat sepasang mata biru menatap aneh pada dirinya. Seolah rasa sesak di dadanya menumpuk lalu keluar dalam bentuk suara isakan. Ia malu sekaligus terhina. Mereka sempat bertatapan. Diantara orang-orang ini, hanya pria itu yang balik memandangnya.
Hinata semakin menangis. Kantung air matanya semakin banyak memompa air asin keluar. Beberapa kali dia menyorotkan rasa kesakitan. Lebih memilih kematian daripada kehormatannya dirusak. Dan mata biru itu membalasnya dengan kepedihan.
Apakah masih ada manusia?
Tangan Hinata bergerak mecoba menjangkau, bermaksud meminta secuil bantuan namun langsung diinjak oleh sebuah kaki bersepatu. Kulit tangannya lecet, buku-buku jemarinya saling berdempet perih dengan lantai. Hinata kembali meringis, menggigit bibirnya kuat sebagai pelampiasan.
Hinata menatap lagi sosok bermata biru di sana, selintas nampak ada kaca bening menutupi birunya. Apakah orang itu menangis? Hinata tidak tahu penglihatannya memburam, ia sudah tak jelas melihat siapa yang ingin dimintai tolong.
"To-tolong." Bisiknya. "Tolong aku." Hinata kembali mengulang dengan aliran napas nyaris tersumbat. Ia ingin pulang, memeluk putranya, merawat anak-anaknya dan akan selalu menemani Naruto. Mereka baru berjanji untuk saling bersama apapun yang terjadi. Akan saling menjaga satu sama lain. Namun keinginan itu tak bisa Hinata genggam lagi. Kekuatannya bertahan tak lagi bisa lebih panjang. Setiap kedipan mata, maka ia hanya akan mengeluarkan air mata.
Dan ketika ia sudah tak memiliki tenaga untuk mempertahankan diri, saat tangan-tangan itu bermaksud menelanjanginya maka Hinata menutup rapat-rapat matanya.
Seandaianya, seandaianya orang bermata biru itu memang suaminya.
Seandainya Naruto datang
Seandaianya Naruto di sini
'BANGG'
'BANGG'
Dua tembakan berbunyi nyaring dari radius sepuluh meter. Bau mesiu merayapi udara, disusul dua tubuh tergeletak dengan kepala bocor tembus ke belakang. Di lantainya serpihan batok tengkorak terlontar beberapa hasta.
Semuanya berubah hening hanya dalam satu tarikan napas. Masih belum mampu memproses apa yang barusan terjadi. Dua tembakan itu memangkas habis keramaian acara pelelangan, menyerap semua suara agar segera tersadar jika kematian telah datang. Hinata membuka kelopak matanya pelan, melihat orang yang akan merusaknya telah terbujur kaku di sampingnya. Darah mereka mengucur mengenai kakinya. Pekat dan lengket berbau amis.
"Makhluk rendahan seperti kalian. Babi-babi kotor." Kepala Hinata menoleh ke segelah arah ketika mendengar suara yang begitu ia kenal. Dan pandangannya terkunci di satu sosok, ia meratap saat lelaki bermata biru sesaat setelah membuka topengnya. Memperlihatkan surai pirangnya, sorot tajamnya dan wajah yang Hinata pikir itu hanya khayalannya.
Naruto benar-benar datang. Balas memandang sendu melihat Hinata-nya di sana. Naruto memindai pada setiap luka yang mengotori badan Hinata, tak terhitung jumlahnya. Pria itu menggeleng pelan, meminta istrinya agar tidak lagi menangis. Ia justru menyorotkan rasa bersalah dan menyesal, seolah semua bundaran memar disekujur tubuh istrinya adalah tanda bahwa dia lalai menjaganya.
Tangannya mengepal. Tubuh jangkungnya begitu mencolok. "Sampai berani membuat istriku berada di sana. Membuatnya menangis dan menyakiti harga dirinya. Maka –hanya kematianlah yang bisa menebus kesalahan kalian." Langkah kakinya mendekati Hinata, namun terhalang saat beberapa orang menghadangnya.
"hey hey hey, Anjing! Siapa kau?" Urashiki memaki. Dia berlari ke arah Naruto, menodongkan handgun ke muka pria yang tiba-tiba merusak acara puncaknya. Bedebah siapapun tak bisa ia maafkan bila sudah menghancurkan acara party-nya. "Siapapun yang berani merusak pestaku, maka dia harus mati! Mayatmu akan kubedah dan kukeluarkan semua organ-organmu untuk kuju- . . ."
'BAANGG'
Satu timah panas kembali terlontar tanpa ragu. Meledakkan kerongkongan Urashiki sebelum pria itu selesai berbicara. Terlalu dekat jarak mereka membuat peluruh Naruto menembus ke belakang, bersarang panas pada dada bodyguard di belakang Urashiki. Dua-duanya tergeletak, satunya langsung tewas sedangkan Urahiki masih menggelepar sekarat sebelum Naruto berjongkok dan menempatkan ujung moncong senjata ke matanya. Sol sepatunya ikutan menekan pelipis Urushiki. Dalam satu kali injak, mungkin Naruto dapat menggeserkan beberapa tulang tengkoraknya.
"Ssshhh . . . Mulut kotormu baru saja kuhancurkan, pita suaramu sudah rusak, sekarang matamu. Kubutakan satu agar babi-babi di sana mengerti seperti apa nanti mereka mati."
Dan saat Naruto benar-benar melakukannya, semua pengunjung di ruang pelelangan berubah menjadi kerumunan semut yang berpencar mencari lubang keselamatan. Mereka berlarian menuju pintu keluar. Saling menginjak dan berdesakan, berlomba agar dapat keluar lebih dulu sebelum terdengar suara ledakan lebih keras disusul gemuruh yang melunakkan kaki mereka. Mereka reflek mengambil posisi bertiarap saat tidak lagi memiliki keseimbangan menopang badan. Beberapa gantungan lampu kristal serta beton dinding sampai menjatuhi kepala mereka.
Deidara menekan tombolnya walau sedikit lebih lama dari rencana semula.
Penjaga klub bawah tanah keheranan, baru mulai menyadari ada bahaya. Mereka berpencar, saling mengokang senjata ketika terjadi penyerangan. Tempat ini seolah disergap pasukan kasat mata. Para penjaga klub menyebar menenteng senjata, mencari-cari siapa gerangan yang sudah membuat klub ini mirip kuburan massal.
Beberapa tembakan mereka coba balaskan, namun keributan pengunjung malah membuat mereka salah menarget sasaran. Pergerakan musuh dadakan terlalu cepat dan teroganisir sempurna. Sudah terlalu terlambat meminta bantuan. Ini bukan di medan perang, tapi bau-bauan darah malah santer tercium.
Deidara dan Sasori mengcover bagian depan dan belakang, menembaki para pengawal yang membawa senjata. Mereka juga adu fisik, apapun bisa dijadikan senjata tajam selama bisa menembus ke badan. Ketika anak buah Toneri dan penjaga klub semakin berdatangan. Adu tembak sudah tak bisa dielakkan. Setidaknya memakai pelapis anti peluru adalah keuntungan bagi pihak Naruto.
Toneri menyembunyikan senjata di belakangnya. Ia tak boleh membuang percuma amunisi. Jika para pengawalnya sudah tidak bisa diharapkan, maka ia sendiri yang bisa membuat dirinya terbebas dari tempat ini. Damn it, ia masih tidak menyangkah Naruto akan menyusul kesini membawa serta anak buahnya. Pria itu jelas bukan pengusaha biasa jika dilihat dari caranya menumbangkan orang-orang di sini. Apalagi anak buah bawannya. Mereka monster. Tanpa keraguan, seolah tengah bermain-main dengan kematian.
Dan dia adalah target utama Naruto. Toneri menggeram, Urashiki mati dengan cara mengenaskan. Ia tak ingin menyusul temannya ke neraka. Ia menuju pintu keluar, namun di area luar baku tembak malah lebih gila. Lantai-lantai marmer licinkarena genangan penuh darah. Ia cukup berjengit menyaksikan beberapa bagian tubuh yang terpisah juga organ-organ manusia tercecer. Kebanyakan mati dengan leher terputar atau dada tertembak.
Pasukan macam apa yang dibawa Naruto?
Selagi Naruto masih terlalu sibuk mengurus Hinata, ia bisa menggunakan waktu ini mencari jalan keluar.
.
.
.
Para penjaga klub semakin kualahan. Mereka menekan tombol darurat sebagai tanda jika meminta bala bantuan.
"Penyusup terbagi menjadi dua, di dalam dan di luar. CCTV kita ter-hack. Aku sudah mengontak kemanan luar namun mereka telah tewas mengenaskan, dengan daging yang terlepas dari tulang-tulangnya. Bahkan penjaga di sekitar pintu masuk sudah tak terbentuk."
"Segera hubungi ketua. Tuan Urashiki juga telah mati. Sebuah kelompok bersenjata lengkap menyerang tempat ini."
"Kita terkepung. Apa mereka pasukan pemerintah? Bukankah beberapa petinggi ada di sini dan mereka sudah berjanji tidak akan menggusur klub ini jika diberikan akses gratis?"
"Aku tidak tahu. Tapi, oh sial. Aku tertembak. Segera minta bantuan. Mereka benar-benar monster."
Yahiko bersama Nagato berhasil menembaki tempat persembunyian mereka. Dua orang itu kesetanan memporak-porandakan tempat ini dengan hujan timah panas. Selagi pasukan bantuan musuh belum datang, mereka harus lebih dulu menghabisi musuh-musuh di sini. Kalau bisa sapu bersih semua.
Naruto melangkah mendekati Hinata. Pandangan mereka beradu, Hinata sempat tidak percaya. Namun ketika punggung tangan Naruto menyentuh sekitar kulit wajahnya, Hinata meremang. Bahkan ia bisa balas memegang. Kulit mereka bersentuhan, Hinata hapal betul tekstur telapak tangan telanjang suaminya. Jadi ia menggenggamnya erat. Tangisannya pecah begitu Naruto menariknya ke dalam dadanya. Dalam kondisinya yang berantakan, Naruto memutuskan menggendong Hinata menuju tempat yang lebih aman, khawatir jika ada musuh yang menyasarkan sebuah peluru pada istrinya.
"Apa sakit?" Naruto bertanya memastikan, barangkali ada cidera parah. Ibu jarinya menyusuri luka-luka mengelupas di permukaan kulit istrinya, merasakan gemetar tubuh Hinata dalam dekapannya masih kuat. Efek traumanya mungkin tak akan cepat hilang.
Mata birunya nanar melihat robekan mirip luka lepuhan di bibir Hinata, ia meraba ke beberapa tempat, melihat bekas pukulan telah berubah lebam kebiruan. Ia yakin dalam beberapa hari ke depan, rahang Hinata kesusahan mengunyah makanan. Naruto mengamati tubuh kecil ini masih mengalami tremor. Ia menguatkan diri agar tidak ikut meneteskan air matanya.
"So-sorry, membuatmu merasakan semua rasa sakit ini."
Tetapi Hinata menggelengkan kepala, berusaha menengadahkan kepala supaya Naruto tahu ia tengah tersenyum. Luka-luka yang memerihkan tubuhnya bisa diobati, Naruto tak perlu menyalahkan dirinya sendiri. Hanya saja Hinata malah mengeluarkan air mata kembali begitu dua bola mata suaminya menatap penuh rasa sesal. Hinata terguguh lagi, ia menangkup tangan Naruto untuk tetap bertahan di atas kepalanya.
Pria sekuat ini justru menggantikannya menangis.
"t-Tidak apa-apa, Naruto. Su-sudah tidak sakit lagi –Hksss. Pasti bisa diobati, jadi j-Jangan menangis, nee."
Karena setiap bagian yang Naruto sentuh akan menyerap rasa sakitnya. "Aku selalu yakin. Kau datang. A-aku akan menunggu selama apapun. Sama seperti dulu." Pita suara Hinata bergema, menahan haru juga efek kehabisan tenaga. "Karena aku percaya kau pasti datang padaku." Hinata yakin matanya sudah bengkak maksimal akibat mengeluarkan banyak kucuran air mata.
Naruto memakaikan bulletprofnya pada Hinata. Terakhir menyampirkan jasnya guna menutupi separuh tubuh terbuka istrinya. Naruto mengeratkan giginya melihat kulit pucat Hinata lecet parah. Bagaimana mereka tega melakukannya? Mereka berniat merusak Hinata-nya, dan kematian adalah bayarannya.
Telapak tangan Naruto bergeser ke bagian perut Hinata. Jemarinya tak menekan tapi Hinata memberikan reaksi meringis kesakitan, bahkan kontur perutnya lebih kaku dan dingin. Tangan Naruto berubah mengpal, dia akan pastikan mereka yang telah membahayakan keluarganya tak akan lama berpijak di bumi.
Bila dia datang terlambat akan jadi seperi apa Hinata? Tangannya meninju keramik lantai. Dadanya membusung, kontraksi otot di sekitar leher menebal. Pupil matanya juga mengerucut tajam. Hanya ada keinginan membunuh siapapun yang telah memaksa Hinata menelan mentah-mentah kesakitan dan hinaan.
"Tunggu di sini sebentar."
"Kau mau kemana?"
Naruto berjongkok, sekali lagi mengusap sisi muka Hinata juga bibirnya. Mengecupnya tak terlalu lama. Ia harus membalaskan rasa sakit Hinata. "Membuat mereka membayar apa yang telah mereka lakukan padamu."
Naruto melihat orang-orang bertopeng yang sebelumnya mempermainkan Hinata tersudut di dinding. Sebagaian merangkak akibat punggungnya tertimpa beton bangunan. Ada pula yang sudah tewas karena terinjak-injak.
"Kau," Tunjuknya pada orang tambun di depan mata biru dinginya. Naruto ingat apa yang sudah pria itu katakan. Mengulang-ngulang ingatan saat istrinya dipermalukan. Naruto paling tidak suka ada yang menghina Hinata, karena itu artinya menghina dirinya secara langsung. Apalagi merendahkan istrinya, wanita yang paling ingin ia jaga. "Kerongkongan, usus atau otakmu yang harus kukeluarkan lebih dulu?"
Tubuh pria gendut itu kemeringat, mimik wajahnya sudah penuh butiran keringat dingin. Matanya bergerak-gerak meminta ampunan. Bola matanya membeliak, mengatupkan tangannya meminta pengampunan. Ia berlutut, merangkak mengibah. "Tuan, to-tolong jangan bunuh aku. A-aku tidak tahu wanita itu adalah istrimu. Kau bisa min-minta apapun, asal lepaskan aku. Harta, kemewahan atau wanita, aku bisa memberimu –"
'BANGG'
Naruto lebih dulu melontarkan peluru berkaliber sembilan mili ke arah perut orang itu sampai membentuk terowongan gelap, memuncratkan darah, membasahi kemejanya dengan warna merah pekat. Tembakan Naruto meledakkan perutnya hingga beberapa serpihan daging merah berhamburan –termasuk jeroannya. Semuanya menjerit. Naruto merasa itu belum seberapa.
"Sasori, Deidara." Matanya melirik pada dua anak buahnya. "Habisi mereka semua. Tapi, jangan lupa siksa terlebih dulu agar mereka tahu rasa sakit sebelum kematian datang. Aku akan mencari Toneri, dia tidak akan kulepaskan sebelum aku berhasil menyarangkan peluruku di otak dan dua bola matanya."
"Baik bos."
"Sayang, kau bisa berdiri?" Hinata mengangguk walau tangannya bergelantungan di leher Naruto, membiarkan pria ini memapahnya. Naruto membawa Hinata ke tempat yang lebih aman. "Hinata, kau masih bisa melihatku?" Naruto khawatir Hinata kehilangan kesadaran, namun Hinata cepat-cepat menggelengkan kepala.
"Hanya sedikit pening."
"Kau tunggulah sebentar di sini. Aku harus membunuh lelaki keparat itu."
Padahal Hinata ingin mereka cepat keluar dari sini dan menghirup udara bebas, namun ia tak mampu mencegah begitu Naruto melesat cepat mengejar Toneri.
"Kau mau lari kemana brengsek!"
BUGH!
Toneri terkejut ketika sebuah bogem kepalan tangan mementalkan dirinya ke belakang. Meski ia sempat menangkis menggunakan lengan bawah, tapi tulang rahangnya cukup terkena efek pukulan hingga berderak, berbunyi retak akibat sangking besarnya tenaga yang diberikan.
Naruto sudah berada tepat di depannya, memain-mainkan riffle nya sebelum menaruhnya kembali di selipan jas belakang. Dua kakinya sedikit melebar menyeimbangkan tubuh bagian atas. Dengan bertumpuh pada pinggang dan salah satu kaki, kuda-kuda ini mempermudahnya untuk bergerak lebih leluasa.
"Tidak, aku tidak ingin langsung membunuhmu. Aku harus menyiksamu sampai kau yang memohon kematianmu sendiri."
"Seperti kau bisa saja, Naruto." Toneri melepeh ludahnya. Setelah sebelumnya Hinata membuatnya kehilangan satu gigi, kini Naruto hampir merontokkan semuanya jika saja ia terlambat menangkis. "Hanya karena kau memiliki banyak uang jangan berlagak sombong seolah kau pernah dibesarkan di lingkungan busuk sepertiku." Toneri juga menaruh kembali revolvernya.
Naruto menatap remeh. "Jadi, kau ingin kita duel tangan kosong seperti pria sejati setelah kau berani menorehkan banyak luka pada seorang wanita? pria yang berani hanya pada wanita, jangan merengek bila nanti kuputuskan kerongkonganmu."
"Wanita itu pantas mendapatkannya. Dia menolakku, jadi kubuat saja hidupnya menderita. Ia sudah pernah merasakan satu pria, apa susahnya menerima banyak pria."
Urat leher Naruto menegang, namun ia harus menyelaraskan serat otot lengannya untuk memaksimumkan kecepatan tinjuannya. Dia tidak terima ada mulut berbicara kotor mengenai istrinya. Kakinya ia lesakkan maju walau berhasil dihindari Toneri. Mereka sempat berguling. Tubuh Naruto lebih dulu berotasi menyamping, bermaksud memiting leher Toneri di cepitan bahu dan pria berambut putih abu-abu ini meminimalisir serangan Naruto dengan melekukkan lengan tangannya lebih rendah guna menyodok rusuk Naruto.
'TAKKK'
Naruto terhuyung ke belakang, tapi ia cepat kembali berdiri. Tulang keringnya menyepak tumit Toneri. Mereka berduel di antara baku tembak. Saat Naruto berhasil menempeleng wajah Toneri, maka Toneri juga berhasil meninju perutnya. Mereka masih saling menghajar satu sama lain, ketika Naruto lebih dulu membaca gerak lengan Toneri, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk memukul keras tengkuk Toneri sampai pria itu jatuh tersungkur.
Bogem Naruto telak menghantam wajahnya. "Kukembalikan apa yang pernah kau berikan pada Hinata. Akan kuhancurkan sekalian wajahmu!"
BUGH!
"Ini untuk deritanya."
BUGH!
"Ini untuk putraku."
Naruto semakin gila menghajar Toneri. Matanya melihat Hinata terduduk memegangi perutnya dengan badan penuh memar. Naruto semakin menguatkan kepalan tangannya. Otot bisep di lengan mengencang sebelum menarik kerah baju Toneri. Ia membenturkan dahinya sendiri ke batok kepala Toneri.
"KEPARAT! KAU BENAR-BENAR TELAH MELUKAINYA!" Tak hanya membuat lebam namun juga mengoyak jaringan kulit sampai wajah Toneri bersimpah darah. Naruto melanjutkan menonjok pelipis Toneri, menempeleng wajah serta menghantam dadanya berkali-kali. Ketika sebentar lagi ia bisa memutar leher Toneri, lebih dulu terdengar suara letusan tembakan di antara mereka.
DOORRR
"BERHENTI!"
Suara tembakan di udara itu menghentikan gerakan membabi buta Naruto. Napas pria terengah belum puas, ia melirik tak suka pada siapapun yang telah menghentikannya. Bola matanya menyorot tajam melihat Shion tengah menyeret Hinata. Memaksa istrinya yang kesusahan untuk berdiri sambil menodongkan revolver ke arah kepalanya.
"Jauhkan tanganmu dari Toneri –cepat!"
"Lepaskan Hinata, bajingan."
Shion menolaknya mentah-mentah. "Tetap di tempatmu Naruto, atau kau akan melihat istri tercintamu ini merenggang nyawa di depan matamu sendiri. You wanna see her die?" Gertak Shion mengancam dengan berlagak melubangi dahi Hinata. Ketika ia melihat Naruto menuruti perkataanya, Shion masih menekan ujung pistolnya. Hinata melihat gelagat aneh Shion, senjata itu dijauhkan dari kepalanya beberapa mili, iris bening Hinata masih bergerak mengikuti gerak-gerik Shion dan langsung menyadari apa yang sebenarnya diincar oleh wanita gila ini.
Shion mengincar Naruto!
"Bila aku membunuh Hinata kau pasti akan segerah membunuhku, jadi bagaimana bila targetnya kuubah? Aku akan menyiksa istrimu ini dengan memaksa mata cantiknya melihat bagaimana suaminya KUBUNUH DI DEPAN MATANYA!"
"!"
DORRRR
Sebelum Shion menarik pelatuknya, dengan sekuat tenaga Hinata lebih dulu menggerakkan sikunya kebelakang, menekan bahu Shion sampai membuat posisi handgunnya meleset dari bidikan jantung Naruto. Shion terkejut ditambah meringis, reflek ia mengendurkan cengkraman pada Hinata hingga wanita itu tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk berlari menyongsong suaminya.
Meski berhasil meleset, tapi Naruto mengernyit perih, ia tertembak di bahu kiri. Berjarak beberapa inchi dari jantungnya.
"Na-naruto, kau berdarah!"
Naruto mengarahkan Hinata ke belakang tubuhnya. Tangannya dalam sekejap menarik riffle –nya dan langsung menembakkan amunisi ke arah dada Shion. Mulut wanita itu tenganga, raut wajahnya kesakitan kala napasnya semakin kesusahan menghirup udara akibat kebocoran di salah satu bilik jantungnya.
"Seharusnya aku melakukan ini sejak lama, karena kau juga yang membuatku menjadi musuh bagi istri dan anakku dulu."
Hinata melihat darah di rambut depan suaminya. Yang paling parah adalah di bahunya. Hanya dengan melihat banyaknya Naruto mengeluarkan darah telah membuat Hinata seolah kehilangan nyawa. Ia hendak mengulurkan tangan menyentuh luka menganga di atas bahu Naruto sebelum Naruto kembali merundukkan badan mereka saat suara tembakan dari arah belakang terdengar.
Toneri yang masih setengah sadar sambil terkekeh datar meraih pistol di lantai. Masih ada dua peluru. Senyum kejamnya merekah. Meski sempoyongan ia langsung menembakkannya pada Hinata. "Matilah bersamaku, Hinata."
Hinata hanya merasakan sebuah dekapan membalut seluruh tubuhnya. Bola matanya membeliak menyaksikan Naruto mencoba melindunginya, menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng hidup dari lontaran dua timah panas. Bahkan Naruto masih bisa tersenyum menahan rasa sakitnya. Ia berbalik ke arah Toneri, sekuat tenaga berdiri di depan tubuh pria sekarat itu sambil menempatkan senjatanya di antara dua alis Toneri. "For all what have you done to my family. Membusuklah di neraka!"
'BANGGG'
Mata Hinata memanas melihat tubuh tegap Naruto berlahan luruh terjatuh. Hinata meerangkak panik, menyeret langkah kakinya secepat mungkin menggapai sang suami. Jemari tangannya meraba cairan kental dari punggung Naruto. Ia menggelengkan kepala. Total ada tiga peluru yang bersarang di badan Naruto. Bahu kiri, punggung dan kaki. Kesemuanya sama-sama mengeluarkan darah segar. Hinata tersentak. Ia tidak ingin dirinya menjadi sebab kematian suaminya sendiri.
"Tidak- tidak- tidak," Gumam Hinata parau. Ia panik luar biasa. Semuanya begitu mudah berubah. "Naruto, tetap bersamaku sayang. ja-Jangan tutup matamu." Hinata mencoba memapah namun berakhir sama-sama terjatuh karena tubuh Naruto lebih besar. "Da-rahmu banyak keluar," Hinata mencoba menutupnya dengan menyobek pakaiannya.
"Berhenti, berhentilah keluar." Ia menekan dimanapun titik pendarahan tapi ia tak bisa melakukannya di tiga tempat sekaligus. "Kumohon, jangan –hksss- jangan ambil suamiku." Keringatnya turun bersama bulir air asin dari mata. Tak hanya kain yang telah berubah warna, ke dua tangannya juga ikutan bermandikan cairan merah amis. "k-Kenapa bisa sampai sejauh ini, hmm. Aku memakai bulletprof. Tapi, kau tetap melindungiku."
Naruto meresponnya dengan satu tarikan napas. Seolah ia masih kuat walau kehilangan banyak darah. "Pikiranku tak dapat bekerja lagi jika menyangkutmu. Seolah semuanya tumpul dan tubuhku bergerak dengan sendirinya." Kulit kasarnya menyentuh pipi sampai ke dagu Hinata. Naruto menggelengkan kepala, memintanya agar tidak bersedih. "Hi-hinata, tenanglah. Ini luka biasa."
Dulu ketika mereka masih berselisih, tangisan Hinata adalah hal yang paling ingin dia lihat. Beberapa tahun ia menggunakan waktunya dalam kesia-siaan membenci Hinata. Tapi saat ini, ia justru ingin menghentikannya. Karena Hinata terlihat begitu cantik saat bibirnya menyunggingkan senyuman, bukan menangis seperti ini. "shu-shu, please. Kau sudah banyak menangis, matamu akan semakin perih."
"-hHkkkss- lu-lukamu, aku tak bisa menghentikan pendarahannya –terlalu banyak darah keluar. Bah-bahkan tanganku terus gemetar." Ia berharap semuanya hanya mimpi buruk, Hinata terisak menyadari tubuh berdarah suaminya bukanlah mimpi melainkan kenyataan. Namun Naruto malah terkekeh. "Kemarilah," Ia memeluk Hinata sangat erat. Mengelus punggung Hinata, merapikan rambut panjangnya.
"Bos, kau tertembak." Nagato datang lebih dulu, "Kita tak bisa di sini lebih lama. Musuh mengirimkan bala bantuan." Ia memutar ke belakang menembak musuh yang sedang menyerang sebelum kembali membantu Naruto. Selain Nagato, Yahiko juga datang. Ia mecoba membuat jalan keluar. Menghubungi teman-temannya untuk segera kembali ke formasi bertahan, tapi suara bising menyulitkannya.
Naruto tahu, selain di pundak dan punggungnya, di ligamen lututnya juga bersarang sebuah timah panas. Ia mengerang sebentar sebelum kembali menguatkan dirinya untuk bangkit.
"Tidak-tidak, Naruto. Biarkan aku yang membantumu. Kau terluka –hkss- kau berdarah, ayo kita jalan pelan-pelan. Pijakkan kakiku di atas kakiku, kita akan melangkah bersama-sama."
Naruto menggeleng bila semakin lama mereka di sini maka akan semakin tipis harapan untuk selamat. "Tidak akan sempat Hinata, paman Kakashi telah di perjalanan membawa pasukan tambahan. Aku harus mengeluarkanmu di sini lebih dulu. Bila sudah di atas, aku akan aman. Tak ada lagi yang bisa menyakitimu."
Hinata memberot, meskipun kaki telanjangnya terkena sisa-sisa beling, namun melihat Naruto sampai menahan semuanya sendiri, Hinata sudah tidak kuat lagi.
"Bos biar kupapah." Nagato mengalungkan lengannya di bahu Naruto. Mencoba ikut memapahnya namun merosot karena sebelah kaki Naruto tak bisa berfungsi dengan benar.
"Nagato, bawa Hinata dulu."
"APA YANG KAU KATAKAN?!" Jerit Hinata pias. Raut wajahnya tak karuan lagi. "Kau bilang kita akan bersama, bukan?" Meskipun perutnya sendiri bergejolak kelelahan tapi mati-matian Hinata menahan. Ia tak akan membuat Naruto mencemaskannya karena dirinya sendirilah yang paling patut dikhawatirkan. "Kumohon, Naruto. Ingat janjimu, ingat semua hal yang telah kau janjikan padaku. k-Kau sendiri yang harus menepatinya." Kali ini suara Hinata mirip sebuah perintah.
"Sssttt, tenang sayang. Kita tidak akan bisa keluar jika terus begini. Kau harus keluar lebih dulu, kau harus mendapatkan perawatan. Luka-lukamu perlu diobati." Bola mata Naruto menyuruh pada Nagato dan Yahiko agar membawa Hinata lebih dulu.
"Bawa istriku. Aku tidak bisa melihatnya di sini lebih lama, dia membawa anakku." Naruto menatap langit-langit bangunan. Sudah retak dan rapuh, mungkin sebentar lagi akan roboh.
Hinata tetap tidak bergeming. Sekalipun Naruto membujuknya, ia tak akan menggeser tubuhnya.
"Jika kau tidak keluar bersamaku, maka aku juga tidak mau keluar –hkss- sudah cukup kau melakukan hal-hal berbahaya demi diriku. Dimana Uzumaki Naruto yang sombong dulu, hah?" Hinata sudah tak tahu harus bagaimana. Ia bertumpuh di dada Naruto. Kelopak matanya memerah, terkena rembesan darah suaminya.
"Mungkin kau lupa, tapi tak apa. Aku akan terus mengingatkan semua janjimu." Hinata masih bersikukuh, tangannya tetap menggenggam tangan Naruto. "Lihat mataku baik-baik," Hinata mengambil napas dalam. "Kau akan membuat perayaan pernikahan kita, bu-bukan?" Air matanya tiba-tiba jatuh. Naruto menadahnya, membujuk Hinata agar tidak bersedih.
Mereka telah membahas ini, Naruto mengatakan bahwa pesta pernikahan mereka nantinya telah terkonsep begitu sakral. Begitu banyak hal-hal indah yang telah Naruto janjikan sebagai penebus kesalahannya.
"Kau akan bersamaku, terus di sisi kami, tak akan melewatkan kehamilan anak ke dua kita. Sebagai seorang istri sudah menjadi hakku bila memintamu berada di sisiku, mengusir semua kekhawatiran bila mendekati persalinan, ya kan. Katakan sesuatu, Naruto." Pintanya memelas. Kelereng matanya malah semakin banyak meneteskan butiran air mata. Menangis, lalu menghapusnya dan kembali menangis lagi.
Pria ini selalu membuat matanya basah. Bila Naruto memang ingin pergi, kenapa dulu dirinya justru memutuskan kembali? Hinata ingin kembali ke masa lalu. Seharusnya dari dulu ia tetap menjaga batasan dengan Naruto, tetap menutup hatinya untuk tidak lagi mencintai pria ini jika akhirnya hubungan mereka tetap menjadi sebuah kesalahan.
"Kau juga telah menjadi ayah yang baik bagi Boruto. Lalu beberapa bulan ke depan –" Hinata menghitung jarinya, "Tidak sampai setahun, statusmu berubah menjadi ayah d-dua anak. Kau bisa menggendongnya, setiap malam kau akan terbangun untuk menenangkannya, dan bila umurnya sudah bertambah, kau bisa mengajarinya berjalan. Kau akan sangat sibuk nanti sampai kau bingung apa yang harus kau lakukan." Naruto menatap istrinya senang, hanya mendengarnya sajaia seolah bisa sampai ke masa indah itu.
"Jika kata pertama Boruto dulu adalah 'mama', maka kau mendapatkan kata 'papa' dari anak ke dua kita nanti. Jadi –hkkss- bila kau menyuruhku pergi, lantas bagaimana aku bisa menjelaskan semuanya pada anak kita, hah? A-apa kau berniat menjadikanku janda secepat ini? Kupastikan kau akan menyesal bila menjawab iya."
Naruto terkekeh, mendengar Hinata membicarakan tugasnya nanti mengurus bayi membuatnya sudah begitu bahagia. Dia menarik tengkuk istrinya. Mencium lembut bibirnya, menyusurkan lidahnya di rongga mulut Hinata dan berakhir menempelkan kening mereka. Hidungnya menggesek halus di sepanjang hidung bangir Hinata.
"Kalau begitu, sebagai seorang suami dan ayah, aku juga harus mengingatkanmu. Ingat Boruto, ingat calon anak kita." Tangannya bergerak pelan mencoba merasakan kehidupan di perut Hinata. Ia menangis haru, darah dagingnya masih berada di sana ikut berjuang bersama ibunya. Malaikat kecilnya akan melengkapi hidupnya, jadi Naruto merasa pengorbanannya bukan seberapa. Anak adalah kekuatan bagi orangtua, Naruto menggunakannya sebagai alasan agar Hinata mau mengerti.
"Mereka lebih penting. Aku kesini bukan untuk diriku sendiri. Menyelamatkanmu adalah kewajibanku sebagai seorang suami. Membuatmu aman adalah tugasku sebagai kepala rumah tangga dan mengembalikanmu ke Boruto adalah janjiku sebagai seorang ayah pada anak kita. So, don't cry anymore."
Naruto mendesah, matanya menerawang jauh ke belakang. "Mungkin ini balasanku dulu karena pernah menyia-nyiakanmu. Menghancurkan hidupmu, mencoba menyingkirkan Boruto lalu hampir merebut Boruto darimu. Ta-tapi sekarang aku lega, karena aku bisa berkorban demi dirimu. Kau hanya perlu menjelaskan pada mereka bahwa ayah mereka adalah seorang pahlawan. Janji padaku Hinata." Sejujurnya Naruto begitu ingin tetap bersama Hinata. Membesarkan anak-anak mereka. Saling menemani sampai nanti berusia senja.
"Jangan mengatakan hal aneh Naruto, kau berkata seolah kau akan meninggalkanku saja."
"Hinata, aku memang tak pernah menyesal mencintaimu, aku senang bisa mengenalmu dan menjadikanmu sebagai pelengkap hidupku, kuharap kau juga begitu. Jangan pernah menyesal atas semua cinta yang kau berikan pada pria bodoh dan egois sepertiku. Nagato, cepat bawa Hinata keluar. Yahiko, kau adalah kapten tim ini, kau tak lupa bahwa ini misi Delta bukan?"
Yahiko menolak menoleh. Bahunya bergetar karena ia tak bisa mengelak perintah bosnya sekeras apapun hatinya memberontak menolak. Sedangkan Nagato menahan napasnya. Ia mengangguk mengerti, setengah berharap teman-temannya yang lain bisa segera menyusul, atau setidaknya ia berharap mereka selamat semua. "Hinata-san, ayo ikut aku."
"TIDAK! Please-please, jangan paksa aku meninggalkan suamiku, tolong bawa Naruto juga. Kita keluar bersama-sama. Jika kalian tidak sanggup membawa suamiku, kalian bisa keluar lebih dulu yayaya, aku akan menemani Naruto –jadi, jangan katakan aku harus pergi. Kumohon."
"Hinata dengar," Naruto menggeram. Punggungnya semakin panas dibuat bergerak. Tersedak sedikit mungkin darah yang bakal keluar. "Jika aku ikut, aku hanya menjadi beban. Kakiku sudah lumpuh, punggungku juga mati rasa tak bisa menopang tubuhku. Kau harus keluar. Jangan pikirkan aku, aku pasti kembali. Kau harus ingat jika di rumah, ada anak kita yang menunggumu! Jangan keras kepala, sayang."
Yahiko tanpa membuang waktu langsung membawa Hinata sesuai perintah Naruto. Ia bersama Nagato menuju pintu keluar mengabaikan jeritan Hinata.
"BAWA SUAMIKU JUGA! JANGAN TINGGALKAN DIA! Kumohon, jangan buat aku kehilangan orang yang aku cintai. Ia berjanji akan menemaniku, Naruto telah berjanji akan menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kami, tapi kenapa kalian malah membantunya mengingkari semua janjinya –Hhkksss- NARUTO!" Yahiko dan Nagato tak menjawabnya. Tak ada jawaban apapun yang mampu dimengerti Hinata. Mereka berlari meninggalkan Naruto.
Pada akhirnya, ialah yang meninggalkan Naruto.
Karena dari dulu, ia tak pernah menghapus Naruto dari hidupnya.
.
.
.
.
.
Kebahagiaan dalam hidup adalah keyakinan bahwa kita dicintai. Dicintai apa adanya atau bahkan lebih baik lagi, dicintai meskipun tidak layak untuk dicintai ~(Aristoteles).
.
.
.
.
.
.
TBC
Eaaa, masih TBC T_T part endingnya belum kelar. Daripada saya gabungin semua dan membuat yang baca jadi keburu-buru, jadi kembali lagi saya pisah. Intinya chap ini emang klimaksnya.
.
Terimakasih banyak pada semua yang review dan belum saya balas satu per satu, tapi review kalian saya baca semua. Support kalian benar-benar membantu saya untuk menyelesaikan fanfik ini. Bahkan juga memotivasi saya untuk menulis lebih baik lagi.
Dan saya juga minta maaf mengenai keputusan saya yang akan menghapus beberapa bagian cerita ini karena memang terdapat bagian yang memuat konten berisi hal-hal dewasa atau terlalu 'jahat'. Beberapa review dari 'guest' bahkan saya hapus karena perkatakan mereka yang bisa-bisa membuat saya jadi males nulis. Tapi setidaknya saya masih punya kalian yang mendukung cerita ini. Dan saya tidak jadi untuk menghapus beberapa isi cerita REMOVE.
Terima kasih banyakkkkk. REMOVE tanpa kalian hanya akan ada cerita fiksi biasa, tapi dengan kalian, saya bisa mengatakan 'Mari nikmati REMOVE bersama'
Oh ya chap depan itu ending yang antiklimaks, karena semua perasaan baik Hinata dan Naruto saya kocok-kocoknya di chapter ini. Jadi mungkin dari kalian bakal muncul rasa "Hanya begini?" mungkin bisa menghindari chapter depan lebih dini.
Silahkan juga yang bau baca chapter spesial SEDUCE, bisa mampir ke wattpad saya :D
Q : Kak nama akun wattpadnya apa?
A : Search aja 'Atharu', yang gambar profilnya Naruto peyuuk Hinata :v
