Previous

Naruto mendesah, matanya menerawang jauh ke belakang. "Mungkin ini balasanku dulu karena pernah menyia-nyiakanmu. Menghancurkan hidupmu, mencoba menyingkirkan Boruto lalu hampir merebut Boruto darimu. Ta-tapi sekarang aku lega, karena aku bisa berkorban demi dirimu. Kau hanya perlu menjelaskan pada mereka bahwa ayah mereka adalah seorang pahlawan. Janji padaku Hinata." Sejujurnya Naruto begitu ingin tetap bersama Hinata. Membesarkan anak-anak mereka. Saling menemani sampai nanti berusia senja.

"Hinata, aku memang tak pernah menyesal mencintaimu, aku senang bisa mengenalmu dan menjadikanmu sebagai pelengkap hidupku, kuharap kau juga begitu. Jangan pernah menyesal atas semua cinta yang kau berikan pada pria bodoh dan egois sepertiku. Nagato, cepat bawa Hinata keluar. Yahiko, kau adalah kapten tim ini, kau tak lupa bahwa ini misi Delta bukan?"

Yahiko menolak menoleh. Bahunya bergetar karena ia tak bisa mengelak perintah bosnya sekeras apapun hatinya memberontak menolak. Sedangkan Nagato menahan napasnya. Ia mengangguk mengerti, setengah berharap teman-temannya yang lain bisa segera menyusul, atau setidaknya ia berharap mereka selamat semua. "Hinata-san, ayo ikut aku."

"TIDAK! Please-please, jangan paksa aku meninggalkan suamiku, tolong bawa Naruto juga. Kita keluar bersama-sama. Jika kalian tidak sanggup membawa suamiku, kalian bisa keluar lebih dulu yayaya, aku akan menemani Naruto –jadi, jangan katakan aku harus pergi. Kumohon."

"Hinata dengar," Naruto menggeram. Punggungnya semakin panas dibuat bergerak. Tersedak sedikit mungkin darah yang bakal keluar. "Jika aku ikut, aku hanya menjadi beban. Kakiku sudah lumpuh, punggungku juga mati rasa tak bisa menopang tubuhku. Kau harus keluar. Jangan pikirkan aku, aku pasti kembali. Kau harus ingat jika di rumah, ada anak kita yang menunggumu! Jangan keras kepala, sayang."

Yahiko tanpa membuang waktu langsung membawa Hinata sesuai perintah Naruto. Ia bersama Nagato menuju pintu keluar mengabaikan jeritan Hinata.

"BAWA SUAMIKU JUGA! JANGAN TINGGALKAN DIA! Kumohon, jangan buat aku kehilangan orang yang aku cintai. Ia berjanji akan menemaniku, Naruto telah berjanji akan menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kami, tapi kenapa kalian malah membantunya mengingkari semua janjinya –Hhkksss- NARUTO!" Yahiko dan Nagato tak menjawabnya. Tak ada jawaban apapun yang mampu dimengerti Hinata. Mereka berlari meninggalkan Naruto.

Pada akhirnya, ialah yang meninggalkan Naruto.

Karena dari dulu, ia tak pernah menghapus Naruto dari hidupnya.

.

.

.

.

REMOVE chapter 13

Kesalahan tidak bisa dihapuskan. Itu membekas dan meninggalkan jejak.

Kau hanya bisa memperbaikinnya, namun berhentilah mencoba karena kau terlalu terlambat untuk melakukannya

.

Naruto sepenuhnya milik Masashi Kishimoto dan serial anime-nya dianimasikan oleh studio Perriot, saya hanya meminjam chara sebagai toko dalam fiksi karangan saya.

Mohon kebijakannya dalam membaca. Semua adegan hanya fiktif belaka.

.

Warning : Typo(s), Bahasa tidak baku, sexual content di beberapa chapter, AU, Modern live, OOC, criminal, sexual harrasement, berisi konten sensitif (ada adegan berdarah).

Rated : M (language and content)

Pairing : Naruto-Hinata

Story : Atharu

.

.

.

.

.

.

.

Seven months later

Boleh saja orang-orang mengasihaninya. Single parent, secara umum sebutan itu melekat di nama belakangnya menggantikan 'Uzumaki' sejak suaminya tidak pernah terlihat selama tujuh bulan. Seorang ibu satu anak, sedang hamil tua yang ditinggalkan suami –wanita yang malang. Tapi Hinata tidak merasa demikian walau sebagian hatinya masih menyimpan duka.

Meski hari kian bertambah menjadi minggu sampai genap berbulan-bulan, bahkan entah sampai kapan. Hinata yakin Naruto masih ada, entah di belahan bumi mana. Selama dia tidak melihat jasad Naruto secara langsung maka tak perlu ada bela sungkawa.

Pikirannya kembali melamun, selang air mancur di pegangan tangan tetap menyala meskipun petak tanah di bawah kakinya penuh genangan air, meluber membawa koloid kecoklatan. Kesibukan paginya tak jauh dari menyiapkan sarapan untuk sang putra, lalu membuang sisa waktu dengan mengurus beberapa pot tanaman yang sengaja ia beli guna memenuhi petakan tanah kosong.

Andai memungkinkan, Hinata berencana membuka toko bunga atau café kecil-kecilan. Ia lebih menyukai berwiraswasta sambil mengasuh anak-anak, tapi ia tidak bisa mewujudkannya dalam waktu dekat –sadar sudah sebesar apa kandungannya sekarang. Sedangkan perusahaan milik suaminya, ia percayakan pada Kakashi. Tak mungkin ia mengambil alih apa yang bukan keahliannya. Fokusnya sekarang hanya pada sang buah hati dan kehidupan baru di perutnya.

'Srekk'

Mata pucatnya menangkap sekelebat sosok bayangan berdiri di dekat tiang lampu, Hinata menoleh ke arah jalan. Ia mematikan kran air, bergegas meletakkan selang penyiram tanaman di atas paralon besi. Langkah kaki menapak pelan walau sesekali akan ia ayun lebih cepat. Tangan kirinya digunakan untuk menyangga punggung –membantu menopang berat perut berisi janin matang. Hinata tak bisa bertindak ceroboh dengan memaksakan berlari di atas tanah berisi genangan air di usia kehamilan tua begini.

Sesampainya di pagar depan rumah, kepalanya melengos ke penjuru mata angin. Menengok kanan kiri memastikan apakah ada seseorang atau tidak. Bening bola matanya memandang hampa. Beberapa lembar daun kering tersapu angin di aspal jalan menimbulkan suara mirip langkah kaki. Hinata mendesah pelan, mimik wajahnya terlalu jujur menampilkan gurat kekecewaan.

Terkadang Hinata seperti terjebak dalam halusinasi melihat bayangan menyerupai sosok Naruto, berkeliaran di dekatnya, entah sekejab berjalan di depannya, mengawasinya dari tempat tak terjangkau, ikut menunggu ketika menjemput Boruto atau hanya berdiri di seberang jalan seperti apa yang ia rasakan sekarang. Setiap ia sendiri, Hinata merasa ada Naruto mengawasinya. Meskipun ketika ia mencari tak menemukan siapapun.

Keajaiban memang ada di buku dongeng.

Jika halusinasinya sudah sangat keterlaluan dengan menampilkan pria beramput pirang dan bermata biru berdiri agak jauh darinya, maka Hinata hanya perlu menutup matanya sampai hitungan ke tiga kemudian membukanya lagi. Sosok itu akan membuyar dengan sendirinya.

Kushina sering megkhawatirkannya secara berlebihan. Ayah mertuanya juga sama, beberapa kali dia menyarankan agar Hinata membuka hatinya. Mereka akan menerima siapapun pria itu asal dapat membuatnya kembali bahagia, bahkan akan mencarikan pria baik-baik sebagai pendampingnya dan ayah pengganti bagi anak-anaknya. Tapi bagi Hinata, suaminya tidaklah sudah tiada. Ia tidak akan berkabung selama jasad suaminya tidak berhasil dibawa di depan matanya.

Masih ada alasan kenapa ia tidak boleh hancur. Tidak apa-apa menjadi single parent –sebelum kembali dengan Naruto ia sudah pernah mencicipi gelar itu. Hanya saja, Naruto meninggalkannya dengan cara yang menyakitkan. Lagi pula Naruto tidak akan semudah itu meninggalkannya dan anak-anak mereka. Jadi, pelan-pelan Hinata mencoba menata hatinya. Merombak ulang kehidupannya meskipun harus menunggu Naruto lebih lama.

Hinata sudah menyusun rencana membuat banyak momen bersama anak-anaknya. Dengan begitu Naruto pasti iri dan cemburu. Pria itu akan cepat pulang ke rumah, karena Naruto tidak suka kalah. Apalagi bila tahu semua anak-anaknya lebih menyukai sang mama. Hinata mebayangkan raut wajah macam apa yang bakal Naruto tunjukkan ketika pria itu kerepotan mengurus anak mereka nanti.

"Mama, aku sudah mandi? Kapan kita berangkat?" Boruto menarik ujung renda bajunya. Hinata tersenyum, mengambil posisi menunduk di depan putranya. Rambut depan Boruto sudah memanjang, ia lupa belum memangkasnya. Hinata menatap lekat ke arah mata biru anaknya. Semakin hari, Boruto semakin mirip dengan ayahnya. Ia mengusap kening Boruto, dalam hati berkata 'My baby, jangan tumbuh cepat, jangan tumbuh terlalu cepat.'

"Kau sudah tidak sabar? Sarapan dulu ne, penerbangannya masih jam sembilan nanti sayang." Ia telah menjanjikan Hokaido sebagai pengisi liburan.

"How's little sunshine?" Tanya Boruto mengarah ke arah perut besar mamanya. Ia sangat suka bila memeluk perut besar itu. Meski gabungan dua lengannya tetap tak mampu melingkari seutuhnya perut mama, namun ia sudah cukup senang dapat sesering mungkin menciumi calon adiknya. Apalagi ketika adiknya bergerak di dalam. Boruto menganggapnya sebagai respon bahwa little sunshine juga ikut senang dipeluk olehnya.

"Very well." Hinata menggandeng tangan kecil Boruto masuk kembali ke dalam rumah. "Hari ini apa kau sudah siap bertemu dengan Ms. Konan dan paman Kiba?"

"Yesyesyes. Come on! Kita akan ke kebun matahari bukan? Piknik di sana seperti dulu, bersepeda bersama, memetik bunga, menangkap serangga dan mama menggendongku mengelilingi kebun matahari."

Hinata mengangguk saja. "Hmm-hmm, tapi sepertinya mama tidak bisa melakukannya lagi baby. Sekarang mama membawa little sunshine. Tangan mama tidak akan kuat membawa big bro sedangkan adik bayi masih berada di dalam perut mama, bisa-bisa kau merampas ruang gerak adikmu."

Wajah Boruto mendadak pucat membayangkannya. Ia menggeleng cepat, takut bila adiknya terhimpit di ruang sempit gara-gara dirinya. "Tidak, tidak, a-aku tidak mau melakukannya. Bagaimana jika nanti ia marah padaku dan tidak jadi keluar?" Ia telah menunggu berbulan-bulan agar adiknya keluar. Nenek dan kakek telah menjelaskan beberapa hal yang akan berubah bila adiknya lahir. Meskipun itu artinya mama tidak lagi menomer satukannya, tapi Boruto mecoba mengerti. Itu adalah bentuk pengorbanannya demi bisa mendapatkan gelar 'kakak' yang terdengar sangat keren.

"Mama bersama little sunshine saja. Lagipula, aku bisa berjalan sendiri. Nanti kupetikkan bunga Matahari paling besar untuk mama dan adik kecilku. Adikku akan senang kan, ma."

Hinata tertawa. Ia mengangguk demi menyenangkan putranya.

"Kalau papa ada, pasti kita bisa piknik bersama." Gerutuan kecil itu tak luput dari telinga Hinata. "Papa mungkin menaruhku di atas pundaknya, seperti yang biasa papa lakukan, dan papa juga akan menemaniku memetik bunga Matahari untuk mama. Bukankah liburan itu harus semuanya ikut? Dan papa belum pulang. Yang benar saja." Boruto sudah semakin paham bagaimana cara mengeluh.

Kaki Hinata terpaku, kata-kata Boruto memaksanya masuk dalam keheningan. Boruto hanya ia beritahu bahwa papanya tidak akan pulang dalam waktu dekat. Ia tak sampai hati menjelaskan tentang konsep kematian –menjelaskan kenapa Naruto tidak juga pulang walau di akhir pekan atau di hari libur sekalipun.

" –ya, sayang. Papa pasti akan melakukannya. Pasti akan menemanimu berkeliling sampai lelah dan akan menjaga mama dan little sunshine." Ia memegang ke dua bahu Boruto. Mencium keningnya lama dan memegangi dua telapak tangannya. Hinata bertingkah seolah ucapannya dapat dipertangungjawabkan.

"Meskipun papa saat ini belum pulang, tapi bisa saja papa datang tiba-tiba sebagai kejutan." Dalam hati Hinata meminta maaf. Lidahnya jadi semakin lihai mencari-carai alasan. Dan beruntungnya, Boruto langsung percaya. "Apakah Boruto tetap mau menunggu papa, sama seperti mama?"

Bocah itu kembali mengangguk. Hinata memberikan kecupan lagi sebagai hadiah. "Jadi, apa papa akan pulang sebelum adikku lahir, ma?"

" –mungkin saja." Gumam Hinata tidak yakin. "Kenapa kau bertanya seperti itu, my baby?"

"Bukankah sewaktu aku lahir dulu papa tidak ada? Jadi, sebagai gantinya papa harus ada saat nanti little sunshine lahir." Kaki kecilnya menendang kerikil, merasa sedikit kesal karena dulu teman-teman mengejeknya tidak memiliki ayah.

Hinata hampir lupa bahwa dulu Boruto tidak menyukai Naruto. "Apakah sekarang kau masih membenci papa? Papa akan sedih jika tahu kau masih memiliki rasa marah padanya, bukankah kalian telah menjadi teman akrab? Patner in crime?"

Bahkan Hinata tahu bagaimana sayangnya Naruto pada anak ini. Pria itu tidak akan kembali ke kamarnya sebelum menidurkan Boruto. Meluangkan waktunya untuk menyukai apapun yang disukai Boruto agar bisa dekat dengan anak kandungnya sendiri. Tak terhitung banyaknya mainan hasil borongan Naruto yang sengaja Hinata sembunyikan agar Boruto tidak berubah menjadi anak manja.

"Bukan begitu, mama." Boruto mengusak rambutnya sendiri. Ia lalu bersendekap, dua alis tebalnya menukik menunjukkan wajah masam, gurat seriusnya benar-benar turunan Naruto. "Hanya saja aku tidak ingin little sunshine mendapat ejekan sepertiku dulu. Kata mama, adikku perempuan bukan, aku tidak mau melihatnya memukul anak lain karena kesal diejek tidak punya papa seperti diriku dulu. Papa harus ada saat adikku lahir, bila sampai papa tidak datang, papa tidak boleh mencium dan menggendong little sunshine, ia milikku!" Deklarasinya mantap.

"Mama juga harus berjanji padaku untuk marah pada papa jika papa tidak juga pulang. Kita biarkan papa merasa bersalah agar papa tidak mengulanginya lagi."

Hinata membiarkan saja ketika Boruto mengaitkan jari kelingingnya sebagai bentuk janji. Tidak ada kata-kata yang bisa ia ambil untuk diucapkan pada Boruto. Bila ia semakin tinggi membangun harapan semu akan kepulangan Naruto, bagaimana jika nanti Boruto mulai mengerti alasan ayahnya tidak pulang?

"Ya, mama akan memarahai papa jika ia tidak kembali pada kita." Tapi sepalsu apapun janji itu, jika bisa membuat cahaya hidupnya tersenyum seperti ini, rasanya Hinata rela-rela saja menumpuk kebohongan.

.

.

.

.

"Hinata-san, apa kau serius?"

"Sudah berapa kali kukatakan. Memangnya kau butuh berapa persen kata serius? Sangat serius, Lee. Jangan katakan pada ibu atau ayah. Mereka tak boleh tahu atau mereka akan melarang penerbanganku." Selagi Boruto menghabiskan sarapannya, Hinata memilah-milah barang bawaan. Memasukkan beberapa potongan kaos dan celana, menaruh lotion pelembab karena Jepang tengah memasuki musim panas. Beberapa vitamin juga ia packing sebagai antisipasi bila terjadi sesuatu.

"t-Tapi," Dengan usia kehamilan sebesar itu. Lee ingin mengungkapnya lewat suara, apalagi membayangkan di sana, Hinata yang sebentar lagi memasuki masa persalinan malah membawa Boruto. Bocah lincah yang kerap berhasil mengelabuinya. Lee benar-benar bersiap beradu pendapat tapi diurungkan ketika bola mata bening Hinata lebih dulu menatapnya memerintah. Bola mata yang biasanya bulat bundar, kini berubah lebih tajam.

Ah, tatapan itu. Batin Lee lelah, entah sejak kapan rasanya Hinata jadi memiliki tatapan mirip bosnya. Lee sampai tak kuasa menolaknya, karena setiap Hinata melakukannya, maka akan nampak seperti Naruto sendiri yang memerintah.

"Ini bukan kemauanku, tapi bayiku. Apa kau ingin merusak keinginan bayiku? Kau mau putriku lahir botak, hah? Jadi jangan kau beritahu siapapun mengenai keberangkatanku ke Hokkaido. Diam saja bila ditanya ke mana kami. Kami juga tidak akan lama, tenang saja hanya seminggu. Ok."

Hanya seminggu? Dan itu tidak lama? Lee tidak yakin ia mampu mempertahankan nyawanya selama itu dari amukan Kushina. Bahkan seniornya –Kakashi sudah memperingatkan bahwa amukan sang nyonya besar adalah amukan yang tidak ingin siapapun lihat. Dan kini, ia seolah sedang memancing agar mendapatkannya. Andai ia kucing bernyawa sembilan, Lee tak akan segusar ini.

Lee menggaruk belakang kepalanya. Jika Hinata sudah bertingkah begini, sudah dipastikan tidak ada yang bisa menghalangi. Tapi, di satu sisi membayangkan Hinata berkeliaran tanpa perlindungan membawa bocah umur enam tahunan serta janin usia depalan bulan. Bisa-bisa ia akan digantung terbalik oleh Kushina karena dianggap lalai menjaga. Rasanya mengangguk adalah dosa besar.

"Bolehkah saya ikut?"

Hinata memincingkan mata –sudah jelas apa jawabannya. "Tentu, tapi sampai di bandara, selebihnya biarkan kami sendiri." Hinata meremat telapak tangannya, lalu kembali memasukkan barang-barang memenuhi ruang di dalam koper. Penerbangan komersial dijadwalkan Take Off siang nanti. Ia sudah memberitahu Ms. Konan bahwa dirinya beserta Boruto akan menginap di sana beberapa hari. "Paman Kakashi juga jangan diberitahu, sampai aku melihat mata-mata suruhannya seperti kemarin-kemarin, aku tidak akan mau pulang kesini."

"Hah?" Ancaman apa lagi sekarang?! Kepala Lee sudah pening sekarang.

"Hinata-san, sudah menjadi tugasku untuk menjagamu. Bila sampai terjadi sesuatu yang tidak-tidak padamu dan tuan muda Boruto, bisa-bisa nyonya Kushina menyuruhku untuk –" Lee menelan ludahnya. Bahkan untuk membayangkannya saja Lee sudah merasa tenggorokannya kering kerontan. Merangas seperti ranting rapuh yang gampang dipatahkan.

"Kenapa harus kau yang repot, Naruto bahkan tidak akan memarahimu. Karena seseorang yang seharusnya menjaga kami telah tidak ada. Lee, kau tidak perlu merepotkan dirimu sendiri dengan melakukan tugas Naruto." Hinata berhenti melipat baju-bajunya.

Lee kehilangan argumennya. Bila Hinata sudah membawa nama bosnya, maka sudah tidak ada kesempatan baginya untuk membelokkan keputusan Hinata. Dia benar-benar mengandung anak bos ya batin Lee. Ia berpura-pura mengalah, nanti tanpa sepengetahuan Hinata, ia akan memberitahu Kakashi.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tak sampai mengistirahatkan diri lebih dari tiga jam setelah tiba di Hokkaido, Boruto merengek agar segera sampai ke tempat tujuan. Kiba yang mengantarkan mereka ke Kota Hokuryu untuk melihat bunga Matahari di musim panas. Lelaki itu berniat menemani namun Hinata menyuruhnya kembali untuk membantu Ms. Konan mengurus café dan penginapan. Ia baru tahu Naruto membangun sebuah penginapan keluarga di sini. Ms. Konan mengatakan penginapan itu dibangun Naruto selain sebagai bisnis properti juha sebagai tempat peristirahatan jika mereka ke sini.

Hinata tersenyum getir. Di tengah keramaian kebun Matahari seperti ini ia masih melamunkan Naruto. Nama itu tak pernah lelah berterbangan dan menghinggapi pikirannya. Tangan Hinata menyentuh lembut permukaan perutnya berulang kali. Ini mirip sewaktu Boruto masih berada dalam kandungannya dulu. Kehamilan pertama yang benar-benar menguras semua tenaganya.

Dulu ia banyak belajar dari Ms. Konan guna mempersiapkan diri menyambut anak pertamanya. Saat mendekati persalinan, ia sering kemari. Berjalan bolak-balik di setapak jalannya agar memperlancar proses kelahiran meski pada akhirnya ia harus melahirkan Boruto melalui jalan cesarakibat lebih dulu mengalami pendarahan. Dokter mengatakan ukuran bayinya tidak bisa melewati jalur keluarnya. Namum sebuah kebahagiaan luar biasa karena telah melahirkan darah dagingnya selamat.

Hinata mereka ulang kenangannya. Mengingat kembali masa ketika tidak ada dukungan dari keluarga ataupun suaminya sewaktu Boruto terlahir di dunia. Hinata terdiam, menerawang apakah kali ini ia akan melewati persalinan tanpa Naruto lagi? Hanya tinggal bulan depan maka usia kehamilannya menginjak waktu persalinan anak ke dua, tapi sampai sekarang Hinata belum menemukan nama yang sesuai untuk putrinya.

Karena Naruto yang berjanji akan memberikannya.

"Aww." Hinata meringis. Bayinya menendang lumayan keras. Beberapa kali ia merasakan tendangan di kandung kemih sampai membuatnya ingin buang air kecil, pergerakan itu membuat kulit perutnya bergelombang tidak rata. Walau setengah meringis, Hinata menyunggingkan senyum. Bisa saja malam ini dia tidak bisa tidur lagi karena pergerakan anak dalam kandunganya nampak tidak mengenal lelah, seolah mempersiapkan diri untuk segera menjemput dunia luar.

Hinata menggigit bibir bawahnya ketika otot perutnya mengencang akibat kontraksi. Mungkin penerbangan yang tadi ia alami sekarang berpengaruh pada kandungannya. Ia buru-buru mengatur kembali pernapasannya. Perkiraan bayinya lahir masih empat minggu lagi. Hinata berusaha setenang mungkin sampai gerakan dalam perutnya kembali mereda.

"Mama!" Suara lengkingan Boruto membuatnya menoleh ke arah bocah yang baru kembali selepas petualangannya seorang diri. Penampilannya sudah tidak serapi diawal. Bucket hat bewarna orange telah berpindah dari kepala ke leher belakang -nyaris terlepas. Rambutnya awut-awutan terkena hembusan angin di perkebunan. Hinata tetap merentangkan tangan menyuruh Boruto agar lekas berlari ke arahnya.

"Lihat-lihat. Bunga Matahari yang kupetik khusus untuk mama dan adik." Boruto membawa satu genggam bunga Matahari kuning di tangannya. Anak itu meletakkan lima tangkai ke pangkuan mamanya. Hinata teringat pernah berfoto menggunakan bunga ini saat mengandung Boruto. Ia jadi ingin berfoto kembali, membuat beberapa foto maternity sebelum kelahiran anak keduanya.

"Dan. . . . bagian ini yang terbaik." Sebuah rajutan mahkota dari alang-alang dan bunga liar aneka warna diletakkan Boruto di atas kepala mamanya. "Mama cantik sekali." Pujinya berbinar.

"Terima kasih, sayang. Apa kau sudah mengelilingi kabun Matahari?" Dengan telaten Hinata menyekah keringat di dahi sang putra. Ada bekas cokelat tanah dan sisa dedaunan tersangkut di rambut Boruto, Hinata tersenyum menyadari pasti anak ini sangat giat berpetualang mengitari luas kebun Matahari. Jika dia tidak sedang hamil besar mungkin dia bisa menemani putranya jalan-jalan.

"Belum semuanya, ma. Capek, lagipula sendirian mana seru." Kaosnya lusuh terkena keringat dan seresah rerumputan, Boruto tidak akan menceritakan bagian saat dirinya sempat terguling di parit kebun dan kakinya tersengat serangga. Tangannya merogoh pada bekal yang dibawa, mengambil sebotol air meniral lalu meneguknya. Anak itu lantas merangkak naik ke kursi duduk. "Di sini saja, menemani mama he-he-he."

Mereka duduk di kursi panjang yang disediakan. Terik Matahari tidak terlalu menyengat, malah terasa sejuk dan hangat. Hinata masih membersihkan rambut anaknya dan akan beralih ke lengannya begitu Boruto secepat kilat meminta ijin untuk membeli es krim. Bagi Hinata, anak itu seolah sudah bisa melakukan hal lain seorang diri. Tapi bagi Boruto, ia sekadar melarikan diri karena ada luka lecet dan bentolan merah di lengannya. Ia tak mau mama cepat-cepat mengakhiri liburan mereka lalu menghabiskan lebih banyak waktu untuk berkhotbah mengenai bahaya ini itu dan berakhir membawanya ke klinik terdekat.

Selagi masih mampu mengawasi Boruto dari jarak jauh, Hinata kembali meletakkan telapak tangannya di atas perut. Bersandar nyaman pada punggung bangku kursi sambil melihat sekeliling. Beberapa keluarga terlihat piknik bersama di bawah teduhan pepohonan. Orangtua yang menggendong anak mereka, anak yang menggandeng tangan kedua orangtuanya. Alih-alih merasa senang, justru ia merasa cemburu.

Kheh, lihat sekarang. Bukannya merasa lebih baik karena berlibur, kini kantung airnya matanya malah sebentar lagi akan pecah. Ini semua karena Naruto. Pria itu harus bertanggung jawab karena membuat matanya mirip kran air.

Hinata melihat smartphone-nya, ada ratusan voice mail dan ribuan pesan yang telah ia kirim pada satu nomor namun tak memberikan satu balasan pun. Bahkan pesannya tidak terbaca. Matanya memanas, dia mencengram dadanya sendiri. Ia membenci Naruto. Membenci kenyataan jika suaminya tidak mungkin berada di sampingnya lagi.

"Mama menangis?"

"Eh?"

Hinata meraba pipinya, tidak sadar apa yang telah dia lakukan sebelum sebuah tangan kecil terulur menghapus bulir air matanya. Hinata melihat putranya beberapa lama, tiba-tiba hatinya menjadi sangat rapu sampai bahunya bergetar. Dia memegang tangan kecil Boruto, menahannya lalu mencium jemari kecilnya bergantian. Mengatup tangan kecil itu untuk digenggam penuh sayang. "Ma-mama hanya merindukan Papamu. Sa-sangat merindukannya. Kadang mama sampai berpikir bahwa papa pergi karena mama. Bolehkan mama memelukmu?"

Boruto mengangguk. Ia merentangan tangan, menggeser pantatnya agar dapat memberikan ruang cukup bagi perut mama untuk bisa memeluknya. Boruto mendengar Hinata beberapa kali mengatakan maaf-maaf dan juga menyebut nama papanya. Mamanya akan seperti ini jika terlalu merindukan papa. Boruto cukup memahami, nenek dan kakek bilang ini bawaan adiknya. Jadi dia akan bertingkah sebagai anak yang kuat seperti apa yang telah papanya katakan beberapa waktu yang lalu.

'Jadilah kuat untuk melindungi mama melewati masa-masa tersulitnya.'

Boruto hendak berkata sesuatu namun diurungkannya saat ia melihat bayangan bersembunyi di kumpulan orang-orang. Sosok itu awalnya samar terlihat, tapi perlahan sangat jelas ketika berjalan pelan menghampiri mereka. Iris mata Boruto langsung memercikkan binar bahagia, terutama ketika sosok itu tersenyum padanya. Boruto berubah lebih emosional karena dalam jarak kurang dari enam kaki, ia melihat papanya berdiri tidak lagi menyembunyikan diri.

Boruto menggoyangkan lengan Hinata, bermaksud memberitahu mamanya tapi sosok papanya lebih dulu menyuruhnya lebih tenang dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir –menyuruh tenang.

"PAPA!"

Tapi anak tetaplah seorang anak. Boruto berteriak keras, membuat Hinata terlonjak kaget dan langsung mengikuti arah pandang anaknya.

Seorang pria tinggi memakai baret abu-abu menutupi rambut pendeknya berdiri tepat di depannya. Hanya berjarak beberapa langkah. Hinata tertegun. Mata biru sewarna bentangan cakrawala membiaskan pandangannya. Wanita itu mendongak memastikan. Sosok pria di depannya memiliki kemiripan dengan suaminya –meskipun dari jarak sedekat ini Hinata melihat tubuh itu mengalami penyusutan berat badan. Tapi beberapa garis melintang di masing-masing pipinya adalah ciri terjelas dari fisik seorang UzumakiNaruto, suaminya.

Orang itu secara keseluruhan adalah copy paste dari Naruto. Atau memang dia adalah Naruto.

"Mama, itu Papa. Papa pulang. Papa, I miss you!"

Tapi Hinata enggan kembali merasa kecewa. Ia menahan bahu Boruto. Memeluknya erat sebagai bentuk larangan agar tidak kemana-mana.

"No, Boruto. He's no Papa." Boruto tenganga ketika Hinata menahan tubuhnya menghampiri Naruto. Apalagi mendengar mamanya mengatakan itu bukan papa. "Pa-Papa belum pulang sayang, tutup matamu. Hitung sampai ke tiga, nanti pasti akan hilang." Hinata menutup matanya rapat-rapat. Ia mendekap erat tubuh Boruto walaupun ia merasakan rontaan ingin dibebaskan.

"He's Papa. Mama open your eyes." Pinta Boruto memelas. Tubuhnya meronta, tapi tidak cukup lama karena mengingat di dekatnya ada perut mama. Ia sudah hampir menangis, memohon pada papanya agar mau membuka suaranya. Meminta agar berhenti membuat mama menyangkal bahwa Papa memang telah pulang.

"Tidak, Listen to me!" Tegas Hinata. "Itu hanya ilusi. Mama sudah sering melihatnya. Mungkin kita melihatnya tapi orang lain tidak. Boruto tahu fatamorgana –seperti yang Boruto baca di cerita gurun pasir? Bayangan papa muncul karena kita terlalu merindukannya. Itu hanya bayangan, sayang."

Bukan-bukan, Boruto menggeleng.

"Pa, please. Katakan sesuatu, satu dua kata tidak masalah –hksss- asal papa katakan jika kau bukan bayangan. Buat mama percaya –hksss-" Tangisan itu memerahkan wajah Boruto. Ia menggosok sisi wajahnya berulang kali.

"Boruto stop it!" Bentak Hinata.

"Hinata, jangan membentaknya." Naruto mengambil tempat diantara mereka, ia mengarahkan Boruto ke arahnya. Sejujurnya ia lebih khawatir jika Hinata berakhir melukai kandunganya sendiri.

Bunyi degup jantung Hinata semakin kencang ketika suara berat menyerupai milik Naruto menggema di pendengarannya. Benar-benar mirip dengan Naruto. Hinata tahu pipinya telah mirip kelokan sungai. Matanya sudah berair, tingkat sensitifnya membuat Hinata lebih memilih tetap menyangkal. Jika sampai ia mempercayai bahwa suaminya kini berada di hadapannya, lalu berakhir menjadi ilusi, maka hatinya sudah sangat lelah berjuang untuk bangkit lagi.

"Boruto ayo segera pergi dari sini. Cuaca terik rupanya benar-benar bermasalah." Hinata berdiri terlebih dahulu, namun Boruto masih bertahan di tempatnya. Ia enggan meninggalkan sang ayah, bahkan ia terang-terangan menunjukkan penolakan ketika Hinata meminta ke memilihnya.

Hinata bermaksud untuk menggandeng paksa lengan Boruto, membuat putranya yakin bahwa kaki yang ia pegang itu bisa ditembus karena hanya sebuah bayangan. Namun baru satu langkah Hinata berjalan maju, dahinya malah terbentur dada bidang di depannya. Tubuh tinggi di depannya seperti tembok yang tidak tertembus. Hinata meremang, kakinya benar-benar tertahan oleh dua kaki jenjang di depannya.

"Apa kau masih berpikir aku bayangan, hmm?"

Ini suara Naruto.

Hinata masih melihat ke bawah –menatap kaki sang pria. Setetes dua tetes air matanya jatuh. Keningnya beradu dengan dada pria ini. Mendengar suara degup jantung yang berdetak kencang mirip suara jantungnya sendiri. Seolah-olah tubuh bayangan ini adalah tubuh nyata yang bernyawa. Hinata memejamkan mata merasakan sebuah dagu berada tepat di atas ubun-ubunya, membisikinya menggunakan kata-kata 'aku pulang'.

"Lihat aku Hinata." Hinata menggeleng, ia tidak mau melihat ke depan. Matanya terkatup erat dan mulai terisak. Naruto mengerti alasan Hinata enggan melihatnya tapi ia tetap menarik dagu istrinya agar mau menatapnya. "You not miss me? Apa aku terlalu buruk sampai kau tak mau melihatku? Aku menakutimu ya?" Melihat kelopak Hinata sudah penuh cairan bening dan pipinya di aliri air mata, Naruto menempelkan dua jempolnya di masing-masing pipi istrinya –merasa buruk karena membuat wanita ini begitu berantakan.

"See, kau masih belum bisa percaya aku pulang? I miss you, dan aku bukan bayangan." Naruto memberikan satu ciuman di bibirnya. Ia masih punya cukup waktu lama untuk menyesapnya tapi ia mengesampingkannya lebih dulu. "Cobalah pegang tanganku, atau bagian tubuhku yang lain." Naruto mengarahkan telapak tangan Hinata untuk menyentuhnya. Menyelipkan jemari Hinata di sela jarinya membentuk pola anyaman. Bola mata putih Hinata terpaut pada logam mulia di jari manis Naruto. Itu cincin pernikahan mereka, satu ia pakai dan satunya lagi dipakai Naruto.

"Lihat, kau bisa menyentuhku." Bisiknya merayu agar Hinata mau mengecap tiap jengkalnya. Jemari Hinata mulai berani meninggalkan jejak di wajah Naruto. Hinata mengamati pria ini. Dagunya ditumbuhi janggut tipis, perjalanan telapak tangannya berpindah mengusap bagian alis Naruto, menyusuri hidungnya dan memetakan kontur wajah Naruto secara hati-hati.

"k-Kau benar-benar Naruto? Su-suamiku masih hidup?"

"Kenapa kau bertanya hal itu, seharusnya kau menyambutku dengan ucapan selamat datang." Naruto menunduk, gemas ingin melahap puncak hidung merah Hinata.

"Katakan lagi, kau Naruto kan? Aku sedang tidak bermimpi kan?"

Naruto mengangguk. Tangannya membenarkan poni tebal Hinata sejajar dengan lengkung alisnya. Dadanya sudah ia lapangkan barangkali Hinata mau melompat memeluknya. Andaikan mereka bukan berada di tempat umum, Naruto tidak akan menahan diri untuk menghujani Hinata dengan lumatan-lumatan kerinduan. Dirinya membiarkan Hinata merasakan bahwa kali ini sosoknya adalah nyata –dapat dipegang, sentuh serta diraba. Naruto malah senang-senang saja jika Hinata mau meraba-rabanya.

" –hkkks-"

Tangis Hinata kembali pecah, Naruto menjadi panik begitu melihat tangisan Hinata malah semakin menjadi. "Kupikirakusudahgilahksss, kupikir sudah saatnya aku menyerah." Tak membuang waktu lebih lama, Naruto langsung menenggelamkan seluruh tubuh Hinata dalam pelukannya. Wangi dari ceruk leher Hinata ia hirup rakus. Seluruh helai rambut biru gelapnya tak luput dari cumbuan-cumbuan kecil. Naruto menggebu untuk menunjukkan betapa ia memiliki kerinduan yang sama. Ia sangat merindukan Hinata. Mencintai wanita ini dengan begitu gilanya.

"Sssttt, tenang sayang. Aku meminta maaf membuatmu menunggu begitu lama. Why you cry? Apakah aku kembali menyakitimu?"

Hinata menggeleng. Matanya mengamati seksama rupa Naruto. Banyak perubahan dari suaminya tapi dia tetap Naruto-nya. Mengetahui Naruto masih hidup baginya sudah seperti sebuah keajaiban. "Kupikir aku kembali bermimpi. K-kau akan datang lalu pergi, kupikir justru kaulah yang marah padaku sampai menghukumku seperti ini –hksss,"

"Nonono, jangan pernah berpikir hal buruk seperti itu, sayang. Now,listen. Aku minta maaf karena menyembunyikan diriku padamu. Beberapa kali aku berniat menemuimu, tapi urung kulakukan. Aku hanya mampu memberikan pesan lewat anak kita. Ada alasan kenapa aku harus melakukannya."

Naruto baru akan menerangkan semua apa yang telah ia simpan tapi pejelasannya malah ditangkap berbeda oleh Hinata.

Jadi, selama ini –aku telah dibohongi?

Hinata bertanya sendu lewat sorot mata.

"Katakan, apa Boruto tahu kau masih hidup?" Potong Hinata. Naruto menggantungkan kata-katanya, ia mengangguk karena sudah tidak mungkin membohongi Hinata lagi.

"Papa sering mengunjungiku saat mama tidak papa menyuruhku diam. Mama, jangan benci aku. Papa yang menyuruhku." Tambah Boruto tanpa memahami situasi macam apa diantara ke dua orang tuanya.

Mata Hinata langsung merotasi ke Naruto. Kenapa Naruto? Satu-dua-tiga langkah, Hinata mengambil langkah mundur dari Naruto. "Apa ayah dan ibu juga tahu kau masih hidup?"

Kembali Naruto mengangguk.

"Lalu paman Kakashi dan Lee, apa semua orang tahu dirimu masih hidup kecuali diriku?"

"Hinata dengarkan aku –"

"Jadi, dari sekian banyak orang yang tahu kau masih hidup, apakah aku masih masuk sepuluh besar?! Atau diriku bahkan tidak kau masukkan ke daftar siapa saja yang mengetahui kau masih hidup?"

Naruto berusaha menggapai Hinata, tapi wanita berbadan dua ini memilih mengambil jarak lebih jauh diantara mereka. Boruto hanya menatap ke dua orang tuanya bimbang. Ia bingung kenapa mamanya malah nampak lebih kecewa.

"Hinata, berikan satu waktu bagiku untuk menjelaskan –"

"Bagaimana rasanya mempermainkanku selama ini? Apakah ini sebuah permainan dan aku telah game over?" Hinata memasang wajah pura-pura senang padahal hidungnya sudah dipenuhi nostril. "Kau puas? Apakah diriku begitu menyenangkan untuk kau bohongi?" Tuntut Hinata parau.

"Tujuh bulan kau membuatku menjadi seperti janda dan kau bilang ada alasan kenapa kau begitu tega mempermainkanku, begitu? Ya Tuhan, ini tidak masuk akal –hkss, hanya karena aku sangat mencintaimu, kau tidak berhak untuk memainkan perasaanku sampai seperti ini, Naruto. Apakah hidupku terlalu mudah sampai kau buat mainan?"

". . ."

Baru saja Hinata merasa ia begitu bahagia tapi perasaan kecewa menyusul dengan begitu cepat bergelut dalam dadanya. Apalagi mood swingnya tiba-tiba muncul dan memperparah suasana hatinya. Gerakan bayinya seolah mendukung agar Hinata lebih kesal pada Naruto. Benar mama, kau harus kesal pada papa, Hinata mengartikannya demikian.

"Katakan! Kenapa kau melakukannya –Akkhh," Tak sengaja ia menghentakkan kakinya cukup keras, maka gelombang kontraksi langsung menghantam bagian panggulnya. Tubuhnya sampai harus cepat-cepat mencari sandaran dan Naruto dengan sigap menopangnya.

Naruto mendelik saat Hinata memegangi perutnya. Perut sebesar itu seperti gunung api yang akan meletus. "Hi-hinata, kau tidak apa-apa? tenanglah." Ia menuntun agar Hinata duduk kembali karena melihatnya meringis.

"Papa, apa yang kau lakukan pada mama?! S-stay away!" Boruto bahkan ikutan menangis karena melihat Hinata terlihat kesakitan. Damn it, Naruto merutuk dalam hati, ia sudah seperti penjahat yang akan merampok seorang ibu muda namun dipergoki anaknya.

"Tidak sayang, Papa tidak menyakiti mama." Naruto juga bingung, apa yang telah ia lakukan sampai membuat Hinata seperti ini.

Naruto mengipasi sekitar wajah Hinata. Memijat pergelangan tangannya atau apapun yang bisa membuat Hinata merasa tenang. Sejujurnya, Naruto mana tahu pertolongan macam apa yang harus diberikan. Ia sendiri juga ikutan tegang, apalagi melihat dengan jelas pergerakan di perut Hinata. Bayinya membuat perut Hinata berdistorsi dalam beberapa detik yang menegangkan. Rasanya justru Naruto yang akan pingsan. Kakinya berubah lemas bukan karena bekas tembakan, melainkan karena ikutan tegang melihat gerakan di kandungan Hinata.

"Hinata, apa kau mau melahirkan? M-mana yang sakit?" Naruto mengulurkan tangannya bermaksud menyentuh perut bulat wanita ini, tapi langsung ia tarik kembali karena terlalu takut melukainya. Takut-takut jika telapak tangannya menggencet perut rapuh itu. "My Hinata, tarik napas dalam-dalam. Hembuskan keluarkan, lakukan secara konstan."

"Papa apa yang akan kita lakukan?" Teriakan Boruto semakin menambah kekalutannya. Naruto menyandarkan Hinata ke tubuhnya. Seharusnya ia memperhitungkan betul-betul semua akibat yang bakal terjadi. Naruto sudah akan menelepon ambulan jika saja Hinata tidak menahan tangannya di atas perut besarnya.

"Se-sentuh dia. Usap lagi,"

Naruto termangu seperti orang bodoh karena tidak mengerti maksud Hinata.

"Taruh tanganmu di atas perutku, lalu usap sampai bayinya tenang."

"Kau yakin Hinata?" Naruto menelan ludah terlalu gugup. Perutnya ikutan mulas. Padahal sebelumnya ia merasa telah begitu siap menemani Hinata di saat seperti ini. Tapi tangannya kini justru gemetar hebat. "Bisa saja ini tanda-tanda kau akan melahirkan. Aku melihatnya bergerak, ia bisa kapanpun keluar. Kau merasakan kontraksi? atau basah karena air ketuban? Bisakah kita segera ke rumah sakit?"

"Papa, ke-kenapa ke rumah sakit? Apa mama dan adikku sakit?" Boruto mendekat ke arah Naruto. Ia memegangi lengan ayahnya erat. Dua lelaki beda usia itu sama-sama berwajah cemas. Hinata masih mengatur napas, namun bibirnya tak dapat lagi menahan tawa pelan melihat suami dan anaknya berwajah pias begini.

"Lihat-lihat, bahkan di atas telapak tanganku, aku bisa merasakan benjolan kepalanya." Naruto masih belum percaya Hinata mengatakan itu kontraksi biasa. Tangannya masih tertahan di atas abdomen Hinata, Naruto harus merelakan beberapa detiknya menahan napas setiap bayinya bergerak memutar.

Walaupun begitu, ia menuruti permintaan Hinata. Mengusap lembut area tummy dari atas ke bawah, pergerakan rapuh bayinya membuat Naruto takut bila kulit telapak tangannya terlalu kasar atau membuat gerakan salah. Berlahan, Naruto tahu Hinata mulai menikmatinya. "Kram di bulan-bulan tua adalah hal yang wajar, tapi mungkin putrimu sangat antusias bisa bertemu dengan papanya. Anggap ini ucapan selamat datang darinya."

"Kau tak marah lagi?" Naruto menggeser dirinya lebih dekat ke arah Hinata, tiba-tiba dadanya jauh terasa hangat karena Hinata mau merelakan diri bersandar padanya.

"Tadi masih marah, sekarang sudah setengah marah. Naruto bisa menjelaskannya, aku akan dengar."

Naruto menatap Hinata dari samping. Jika dirinya kehilangan berat badan maka Hinata terlihat kebalikannya. Pipi wanita ini jadi semakin bulatmirip buah ranum, Naruto ingin menggigitnya. "Suamimu tidak lagi seperti dulu," Naruto mengusap sekitar dahi Hinata. "Awalnya kukira aku benar-benar berakhir," tapi beruntung pasukan tambahan ayah datang tepat waktu. Naruto men-skip bagian itu. Lain kali ia akan menceritakan detailnya.

"Kali ini aku memiliki banyak kelemahan, jalanku masih belum benar, pincang sebelah. Naruto yang dulu telah berubah jadi seperti ini. Bahkan aku mungkin akan merepotkan untuk mengurusku. Beberapa luka menyeramkan di wajah semakin membuatku tak yakin untuk menampakkan diri –"

'BUGHH!'

"Ughhh . . ." Erang Naruto karena dalam jarak sedekat ini Hinata menonjok perutnya. Wajah meringisnya bukanlah buatan. Pantas saja Hinata mampu merontokkan gigi Toneri, tenaganya bukan main kuatnya. Apalagi dengan bobotnya yang semakin melonjak naik.

"Bodoh, Naruto bodoh! Jika kau sampai bisa berpikir sejauh itu maka sudah dari dulu aku menceraikanmu." Kesal Hinata. "Mau sejelek atau seburuk apapun dirimu saat ini, aku hanya akan jatuh cinta padamu." Hinata kembali memukul dada Naruto meski tak sekeras yang pertama.

"Yes, how stupid I'am." Naruto tak perlu terlalu lama membiarkan Hinata melampiaskan kemarahannya karena marah tak baik untuk ibu hamil. "Jangan menangis, kau sudah terlalu banyak melakukannya demi pria bodoh sepertiku. Jadi sekarang tersenyumlah, I'm come back. Aku memiliki banyak janji padamu, a-aku harap kau masih memberiku kesempatan untuk memenuhi semua janjiku."

Bibir lembab Hinata ia usap pelan. Ia tergoda mengecapnya lagi, kalau bisa sampai membengkak. Namun belum sempat niat itu terlaksana, sebuah tangan kecil menarik lengannya kuat.

"Kiss me, kiss me. Papa up!" Boruto menyelah di antara mereka karena merasa diabaikan. Ia harus mendapatkan bagiannya juga. Jika papa memberikan ciuman pada mama maka ia harus mendapatkannya. Ia menyuruh Naruto untuk mengangkatnya. "Mana ciuman untukku? Aku sudah menjaga mama seperti yang papa inginkan." Tagihnya.

"Then you got it, muachhh-muachh." Naruto menciumi semua permukaan wajah Boruto. Mulai mata, kening, hidung, sampai membuat anak itu kegelian lalu bersandar di gendongan ayahnya. "Terima kasih telah menjadi anak papa dan mama. Terima kasih karena Boruto telah terlahir di dunia," Naruto masih tak melepas kecupannya dari pipi putranya. Membayangkan dirinya di masa lalu mengajari Boruto berjalan atau berbicara. Meski hanya angan, Naruto tak berhenti merasa senang,

"Kau adalah manifestasi papa dan mama. Bersinar seperti lilin kecil bagi mama dan sekarang menjadi matahari besar kami. Terima kasih telah menjaga mama dan adik bayi. Papa meminta maaf bila dulu papa tidak ada, tapi papa harap Boruto tahu seberapa besarnya cinta papa padamu, boy."

Hinata ikut terharu. Dulu ia berpikir bahwa takdinya bersama Naruto adalah kesalahan, namun sekarang ia malah dilimpahi begitu banyak kebahagiaan.

"Papa, selamat datang kembali. Jangan pergi lagi, kami mencintaimu papa." Balas Boruto mencium sebelah kanan wajah Naruto, sedangkan Hinata mengambil kesempatan mencium di bagian sebelahnya.

"Welcomehome, Naruto."

.

.

.

.

.

.

.

END

Demi apaaaaa, akhirnya cerita ini berakhir huhuhu, pengen nangis waktu nulis kata END. Kayak mimpi tapi emang inilah akhirnya. Karena REMOVE bukan tentang membuang atau menghapus melainkan tentang mencari kembali apa yang telah terbuang dan menyimpannya lebih erat dari sebelumnya.

Jadi pengen peluk kalian satu-satu deh wkwkwk.

Makasih buat dukungan semuanya, maaf membuat beberapa dari kalian jengkel karena saya lama update hehehe. Hutang saya udah lunas ya, udah happyend juga. Terus apa lagi?

Skuel? Mohon maaf saya tidak bisa membuatnya. Tapi saya kangen buat rate lemon, adakah yg juga pengen lemon? Hahaha enak ya seger-seger asem gitu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

sebelumnya

Kakashi mendapatkan pesan dari Lee, ia menghelah napas. "Minato-sama, Kushina-sama. Hinata dan Boruto telah sampai di Hokkaido. Apakah saya perlu menyusul mereka ke sana? Atau men-cancel penerbangan mereka?"

"Tidak perlu Kakashi, biarkan Hinata mengambil waktunya." Kakashi sedikit mengernyitkan dahi mendengar balasan nyonya besar. Setahunya, Kushina begitu protektif pada Hinata dan cucunya.

"Kau bisa mengirimkan beberapa anak buah, tapi sebisa mungkin jangan sampai ketahuan. Hubungi juga anak itu agar tidak terkejut ketika mendapati rumahnya nanti kosong." Saran Minato tapi secepat itu pula ia mendapatkan respon sanggahan dari Kushina.

"Aku bilang tidak perlu! Bahkan jika aku menjadi Hinata, aku akan memilih minggat." Ia mengepak beberapa jarum hook dan baju bayi rajutan setengah jadi kembali ke dalam box dengan bunyi 'brak' cukup keras.

"Biarkan Naruto bingung sendiri. Aku sudah bosan berpura-pura membohongi menantuku. Aku merasa berdosa melihat ia seperti kebingungan sendiri. Ya Tuhan, Hinata sedang hamil besar dan kita terus menipunya. Aku menyerah, jika Naruto masih saja tak mau menemui Hinata, maka jangan halangi aku untuk menyiapkan upacara pemakamannya yang sempat tertunda. Kita adakan besar-besaran bila perlu." Tukas Kushina.

"Kau menyumpahi anakmu sendiri mati?" Tanya Minato menyeduh teh hangatnya. Sekilas ia melirik pada istrinya. Wanita itu sangat mudah terbaca dari ekspresinya. Mungkin ini alasan kenapa ia bisa begitu saja melepas semua kekuasaannya dulu hanya demi mengejar wanita berambut merah ini. Minato tidak menyesal, tapi dia cukup menaruh simpati pada putranya. "Ia punya alasan sayang." Padahal Kushina lah yang tak berhenti mengkhawatirkan Naruto sewaktu tahu anaknya sekarat.

"Terserah padamu, Minato. Bela saja terus anak itu. Lebih baik kau benar-benar membawa calon ayah baru bagi Boruto. Naruto yang memintanya bukan? Maka kabulkan. Nanti jika putriku diambil pria lain dan cucuku sudah melupakan ayah bodohnya, baru tahu rasa anak itu. Aku akan senang hati memberinya tali untuk gantung diri atau sebuah golok untuk memutus semua urat malunya."

Belum juga beberapa detik Kushina memuntahkan semua kekesalannya, suara gaduh dari pintu membuatnya bersiap untuk lebih marah lagi, karena Kushina tahu siapa pemilik langah rusuh itu.

"Ibu, ayah, apa kalian tahu dimana istri dan anakku?"

Kushina tersenyum miring, ia mengambil majalah dari atas bufet dengan sangat tenang. Mengbaikan kedatangan Naruto walau haya pura-pura.

"La-la-la, ibu tidak tahu. Ohh, mungkin Hinata sedang mencari papa baru untuk anak-anakmu, iyakan Minato? Atau ke catatan sipil kependudukan untuk mengubah nama ayah Boruto." Kushina semakin menjadi berpura-pura membolak balik halaman per halaman majalahnya, seolah sedang bahagia walau wajahnya sangat kontradiktif. "Kalau Hinata menikah lagi, datanglah. Barangkali melihat arwah gentayangan suaminya adalah pertanda kau sudah mengikhlaskannya bahagia."

Minato mengedikkan bahu. Ia tak akan mempengkeruh suasana dengan memilih berpihak pada Kushina atau Naruto, jadi ia memilih netral. Bacaan koran lebih menarik walau sesekali ia mencuri pandangan ke arah ibu dan anak itu.

"Paman, apa kau tahu dimana mereka?" Naruto mengalihkan pertanyaannya pada paman Kakashi. Naruto menggeram, tak ada satupun jawaban yang ia terima.

Kakashi menunduk karena jelas sang nyonya besar menyuruhnya tetap bungkam walau tanpa perintah langsung. Hanya saja kelereng matanya memberikan isyarat pada Naruto jika ibunya dalam suasana hati buruk. Naruto mengerti, ia mengambil tempat di samping ibunya. Ia pintar dalam bernegosiasi.

"Bu, kau pasti tahu dimana putri kesayanganmu. Aku tak melihat mereka di rumah, Hinata dan Boruto tidak ke taman seperti biasanya pada hari libur. Tidak pula ke rumah sakit untuk kontrol kandungan. Rumah dalam keadaan terkunci, kulihat dari ventilasi, semuanya gelap." Diam-diam ia selalu memantau istri dan anaknya.

Kushina belum membuka bibirnya, namun Naruto lebih bersikukuh membujuk ibunya. "Ibu, aku hanya butuh waktu sebelum bertemu mereka. Dengan diriku yang sekarang, aku khawatir membuat Hinata cemas. Jadi, jangan bilang bila Hinata begitu mudah mencari penggantiku, karena rasanya sungguh sakit." Mata birunya menatap pantulan dirinya di cermin ruang tengah. Ia kehilangan berat badan cukup banyak, kantung hitam melingkari bawah mata efek obat-obatan selama ia menjalani perawatan pemulihan.

"Aku hanya ingin Hinata memfokuskan dulu pada dirinya dan anak-anak. Jika aku muncul dengan keadaan buruk begini, ia pasti akan menyalahkan dirinya sendiri." Apalagi Naruto mengingat jalannya yang masih pincang sebelah. Lututnya menjalani operasi beberapa kali. Bekas tembakan itu terasa menyisahkan lubang di otot-ototnya. Luka di punggungnya juga ikut berperan memperlama penyembuhannya.

Akhirnya Kushina menoleh, ia menatap wajah Naruto. Rambut pirangnya terpangkas lebih pendek seperti menggunduli kepalanya, memperjelas baret-baret jaringan parut hasil regenerasi bekas luka bewarna kemerahan. Rahangnya tak lagi setegas dulu, muncul lengkungan tulang pipi akibat penurunan drastis berat badan. Kushina mencoba paham, tapi Naruto tak harus keterusan menjalankan peran seolah-seolah ia telah meninggal.

"Tapi ibu rasa Hinata berhak tahu jika dirimu masih hidup. Kau terus memperhatikannya dari jauh, namun pernahkah kau melihatnya dari dekat? Sudahkah kau melihat di balik pundak kecilnya, ia sudah setengah roboh kehilangan dirimu?" Kushina memegangi wajah putranya. Menerawang kembali saat ia diberitahu keadaan putranya sewaktu berada di meja operasi. Ia bersyukur Naruto dapat kembali, hanya saja keputusan Naruto menjauh sementara dari Hinata benar-benar keputusan paling Kushina sesali.

"Kau mungkin terbiasa dengan semua ketegangan, tapi istrimu tidak. Kalian berada dalam satu kapal yang sama, beritahu Hinata gelombang apa yang kalian hadapi. Setidaknya Hinata tidak harus berpikir bahwa hanya dirinya sendiri yang berjuang." Kushina menepuk bahu putranya. "Bahkan Boruto pun tahu dirimu masih hidup, ini tak adil bagi istrimu, nak. Jika hanya karena ketakutanmu ini membut Hinata memutuskan pergi maka ibu tak memiliki alasan untuk mencegahnya."

Naruto tertegun. Ia menelan beberapa kalimat dari ibunya dalam pikirannya. Setengah membenarkan setengahnya lagi masih diragukan. Apalagi sewaktu ia mengintai rumahnya pagi tadi, ia mendengar bagaimana ancaman Boruto jika ia tidak segera pulang.

"Papa harus ada saat adikku lahir, bila sampai papa tidak datang, papa tidak boleh mencium dan menggendong little sunshine, ia milikku." Naruto mengelah napas, ancaman bocah itu sudah membuatnya kelimpungan.

"Apa yang kau khawatirkan dari keadaanmu yang sekarang? Apa senjatamu sudah tidak dapat berdiri sampai kau begitu frustasi karena tidak bisa membuat anak lagi?" Naruto mendelik mendengar tuduhan ibunya sendiri. "Then what? Kau sudah jauh lebih baik, satu kali terapi akan membuatmu normal. Ibu yakin meskipun kau sudah tidak tampan tapi Hinata tetap mencintaimu. Anggap saja ini hukuman karena ketika kau masih muda dan tampan, kau tidak becus menggunakannya."

"Ibu,"

"Ayah juga setuju dengan ibumu. Temui Hinata, tak perlu berlama-lama bersembunyi. Kau adalah kepala rumah tangga, melarikan diri bisa menurunkan harga dirimu. Ingat, kesalahanmu dulu adalah melepaskannya dan sekarang kau memiliki kesempatan untuk memperbaikinya."

Tarikan napas memenuhi pasokan paru-paru Naruto. Ia berencana menemui Hinata di saat dia kembali sehat. Ada ketidak percayaan diri akibat buruknya penampilannya. Konsumsi obat dan tindakan operasi menyedot penampilan bugarnya. Recovery tentu tak bisa seinstan membalik telapak tangan. Tapi pikiran buruk bilamana Hinata benar-benar sudah menyerah menunggunya memicu Naruto untuk segera muncul di depan Hinata.

Masih ada beberapa terapi lagi namun semakin lama ia mengambil rentang waktu maka apa yang dikatakan ibunya bisa menjadi kenyataan.

"Baiklah, aku akan menemui Hinata. Sekarang, bisakah ibu memberitahuku dimana mereka?"

"Susul mereka ke Hokkaido, jangan terburu-buru kembali. Kalian bisa menghabiskan waktu lebih lama di sana. Anggap saja liburan keluarga. Bila Hinata memang berencana melahirkan di sana, maka nanti ibu dan ayah yang akan menyusul." Jelas Kushina menceramahi. Naruto akhirnya menyetujui.

Beberapa bulan menguntit istrinya sendiri adalah kesibukannya selama ini, ia secara sembunyi-sembunyi melihat Hinata. Pengecualian bagi Boruto, Naruto lebih dulu menunjukkan dirinya pada sang putra. Memberi anaknya pesan agar menjaga ibu dan adiknya selagi ia belum mampu pulang ke rumah.

Dan sekarang adalah waktunya untuk memenuhi janjinya.