Previous..
"y-YAK! Kenapa aku dijatuhkan. " katanya berteriak sebelum mendapati wajah Luhan terlihat merah. Membuatnya berfikir yang tidak-tidak sebelum dengan asal menebak
"Ah-….Apa kau malu karena aku mengatakan suami?"
Merah di wajah Luhan artinya marah-…Bukan karena merona. Dan saat anak lelaki sebayanya mengatakan hal gila maka hanya kekesalan yang Luhan rasakan. Dia bahkan dengan sengaja menginjak kaki Sehun sebelum
"SUAMI KEPALAMU! DASAR MESUM!"
.
.
.
Je'Te Veux
.
.
.
.
.
Main cast : Sehun-Luhan
Rate : T-M
.
.
.
2. Yunho hyung
.
.
.
.
.
.
"Cita-citaku menjadi dokter!"
Sudah hampir satu jam pelajaran "mengenalkan diri" ini berlangsung. Rata-rata pekerjaan yang diinginkan teman-teman sekelasnya juga terbilang membosankan. Mereka hanya ingin menjadi dokter lalu merubahnya saat dewasa nanti dan menjadi pengangguran pada akhirnya.
Begitulah pemikiran otak kecil seorang Oh Sehun. Membuatnya harus rela menahan kantuk jika kecantikan Luhan tidak membuatnya silau.
Luhan duduk tepat di depannya dan saat dia mengantuk maka sayang untuk terpejam di saat bidadari duduk di depanmu. Membuat Sehun sengaja berbuat usil dengan mencolek bahu Luhan hingga si pemilik bahu menoleh ke belakang
"Ada apa?"
"uuuu silau….Aku sedang disapa malaikat!"
"Kau benar-benar menjengkelkan Oh Sehun!" katanya menggeram kesal sebelum meminta teman disampingnya untuk bertukar tempat.
"Ada apa?" kata pria ber name tag Kim Jongdae disampingnya. Membuat Luhan sedikit berbisik sebelum mengatakan keinginannya "Apa boleh kita bertukar tempat?"
Jongdae menimbang-nimbang sebelum mengangguk menyetujui "Baiklah." katanya menerima tawaran Luhan hingga terdengar yes di telinga Sehun. Sehun sendiri merasa jengah karena pertukaran tempat ini, membuatnya menatap Jongdae penuh kecaman hingga si pria berwajah kotak itu menyadari tatapan teman dibelakang Luhan.
"Aku akan mengganggumu jika kalian berpindah tempat."
Buru-buru Jongdae mengurungkan niatnya untuk berpindah tempat. Dicoleknya lengan Luhan membuat si anak lelaki cantik yang tengah bersiap itu segera menoleh "Ada apa?"
"Aku tidak jadi bertukar tempat denganmu."
"huh? Kenapa?"
"mmhh…"
Jongdae sedikit melirik Sehun sebelum kembali fokus pada pelajaran mereka membuat Luhan secara refleks menoleh dan menatap tak suka pada Sehun "Apa kau mengancamnya?"
Sehun berpura-pura tidak mendengar sampai matanya kembali usil menggoda Luhan "Ya."
"ish! Dasar serigala!"
"auuungg…."
"ck! Dasar gila!"
Luhan mengumpat sejadinya hingga suara kekehan terdengar dari anak lelaki di belakangnya. Sehun mungkin sudah gila dan dia mulai terbiasa dengan sebutan gila untuknya. Dia pun bahkan rela dikatakan gila hanya karena dua hal
Pertama gila karena menyukai Luhan
Kedua karena Luhan yang mengatakannya langsung.
Membuat daripada marah dirinya merasa berdebar sampai sang guru memanggil namanya
"Oh Sehun."
"Yes Saem!" katanya bersemangat dan maju ke depan kelas. Dia pun dengan percaya diri maju ke depan kelas sebelum terdengar bisikan-bisikan dari teman sekelas mereka
"Whoaa… dia tampan sekali."
"Aku dengar ayahnya seorang Jaksa."
"Dia juga memiliki kakak yang tampan."
"Ah-….Aku akan berusaha mendekatinya."
"Langkahi dulu mayatku baru kau bisa mendekatinya."
"Ck! Menjijikan sekali!"
Luhan bahkan secara refleks menghina bagaimana gadis-gadis gila itu saat memuja Sehun. Membuatnya rela melakukan apapun untuk bisa berada satu kelas dengan Kai dan Chanyeol sebelum suara Sehun terdengar
"Namaku Oh Sehun." katanya berbicara dan mulai menyita seluruh perhatian teman satu kelasnya kecuali Luhan tentu saja. Dia pun terus melihat ke arah Luhan dan mencari cara agar Luhan memperhatikan dirinya.
"Baiklah Oh Sehun. ceritakan tentang keluargamu."
"umhh…Ayahku seorang Jaksa yang bertugas di kejaksaan agung dan pengadilan tinggi Seoul International Departement. Tugasnya mengungkap kejahatan yang dilakukan seseorang dan menegakkan keadilan. Lalu ibuku-…Dia hanya ibu cengeng yang merawatku dan hyung dengan baik. Terkadang kami bahkan harus mengalah agar ibu tidak menangis. Dan terakhir aku memiliki seorang hyung. Dia segalanya untukku, terkadang dia menjadi ayahku disaat ayah sibuk. Lalu menjadi ibu yang merawatku dan terakhir dia selalu menjadi teman bermainku. Diantara ayah dan ibu aku lebih menyayangi hyung. Tapi tetap saja-…."
Luhan memang tidak melihat Sehun, tapi saat Sehun bercerita tentang keluarganya entah mengapa dia terdengar sangat lucu dan menyayangi keluarganya, membuatnya tergoda untuk menoleh sebelum mendengar kesombongan khas dari anak lelaki yang memiliki usia sama dengannya "Aku lebih tampan darinya."
Terdengar suara tawa dari guru dan teman sekelasnya sebelum dia menambahkan satu hal tentang keluarganya "Ah ya-….Dan aku juga akan segera memiliki seorang adik. Dia akan lahir dalam dua minggu ini."
"Jadi Sehunnie sangat menyayangi keluarga hmm?"
"eoh! Keluarga untukku segalanya."
"Lalu bagaimana dengan cita-citamu? Apa kau ingin menjadi seorang jaksa juga?"
"ani! Aku tidak mau membuat keluargaku cemas karena pekerjaan seperti ayah. Aku hanya ingin menjadi seseorang seperti pamanku yang menjadi pengusaha di perusaaan besar. Lagipula tidak penting aku akan bekerja sebagai apa saem…yang penting hanya satu-.."
"Apa itu?"
"Kelak saat aku dewasa nanti aku akan menikahi Luhan-…"
"MWO?"
Si pemilik nama berteriak heboh disahuti geraman kesal dari fans-fans Sehun. Dan saat rencananya membuat Luhan menoleh berhasil maka senyum usil pun dikeluarkan Sehun yang kini semakin senang menggoda Luhan "ha ha ha…Sehun menyukai Luhan hmm?"
"eoh….Jadi teman-teman sebaiknya jangan dekati Luhan."
"Kenapa memang?"
Yifan yang menyahuti. Anak lelaki yang juga berasal dari Beijing itu nyatanya menatap Luhan sedari tadi dan saat Sehun dengan terang-terangan mengatakan suka pada Luhan maka dia kesal dan mulai membalas ucapan Sehun.
"Aku hanya memberitahu." Balas Sehun sangat tenang. Terlalu tenang bahkan membuat Kim Soengsaenim bisa merasakan aura dingin dari tatapan Sehun dan Yifan yang sedang memperebutkan satu murid cantiknya yang hanya diam terlihat begitu kesal.
"Baiklah…Baiklah… Sekarang Sehun boleh duduk. Terimakasih sudah menceritakan tentang keluarga Sehun dan kini-….Luhan kau boleh maju ke depan kelas nak."
Luhan yang masih geram menatap Sehun harus dipaksa maju ke depan kelas. Fans gila Sehun bahkan sudah mencibir menatapnya. Dan saat keduanya berseling jalan maka Luhan merutuk kesal pada anak lelaki gila yang terus mengatakan akan menikahi dan menjadikannya kekasih sementara Sehun hanya tersenyum usil menggoda si rusa yang terlihat sangat kesal.
"Baiklah Luhan ceritakan tentang keluargamu."
Luhan mencoba keras menghindari tatapan Sehun namun harus berakhir pasrah karena setiap kemanapun dia melihat maka wajah bodoh Sehun akan terlihat "haah-…Namaku Luhan-…Xi Luhan." katanya menambahkan nama marga China milik sang ayah sebelum kembali berbicara.
"Aku hanya hidup bertiga dengan ayah dan ibuku. Ibuku seorang dokter spesialis bedah dan kandungan sementara ayahku seorang pembuat kue. Bukan cheff-…Hanya ahli membuat kue."
"pantas anaknya manis." Gumam Sehun kembali terpesona sebelum suara gurunya kembali terdengar.
"Baker maksudmu Lu?"
"Ya Saem! Semacam itu. Aku lupa namanya tapi mereka memanggil ayah Baker King."
"Memang Baker Lulu sayang." Ujar Saem gemas membuat dengus terdengar dari Sehun. Dia sangat tidak suka melihat miliknya disentuh orang lain. Dan saat Saem-nya bisa mengusak bebas rambut Luhan maka hanya iri yang dia rasakan.
"Baiklah Saem mengerti. Lalu apa cita-cita Luhan?"
"mmhh…Aku ingin memiliki toko kue yang besar."
"Menjadi baker seperti ayah maksudmu?"
"ani Saem! Bukan baker-….Aku hanya suka memakan kue tapi tidak bisa membuatnya. Jadi cita-citaku ingin memiliki toko kue super besar yang dilengkapi dengan minuman cokelat sebagai pelengkap. Ah-…Aku tidak sabar memiliki toko kue sendiri saem."
"Baiklah! Aku akan membuatkan satu untukmu."
Sehun bergumam sungguh-sungguh. Dia seperti menemukan tujuan hidupnya saat mendengar keinginan Luhan. Dan saat Luhan terlihat senang menceritakan tentang toko kue impiannya maka tujuan hidup Sehun hanya mewujudkan apapun yang diinginkan Luhan.
Tring…tring…
"Baiklah. Waktu kita sudah selesai. Kalian boleh pulang dan sampai besok anak-anak."
"Sampai besok SAEM!"
Dan bersamaan dengan cerita Luhan maka waktu sudah menujukkan pukul sebelas siang, itu artinya mereka bisa pulang dan Luhan terlihat bergegas mengepak tasnya. "Kau mau kemana?"
"Bukan urusanmu." Katanya ketus keluar dari dalam kelas diikuti Sehun tentu saja "Hey jawab aku. Ayo kita pulang bersama, kau bisa diculik jika pulang sendiri!"
"ish! Jangan ganggu-….Kai! YEOL!"
"ck! Kapan kau akan berteriak SEHUNNIE!"
"DALAM MIMPI!"
"Hey Lu. Bagaimana hari pertamamu?"
"Baik."
"Lalu siapa dia?"
Kai dan Chanyeol menyadari kehadiran Sehun, membuat si pemilik wajah "terlampau dingin" itu mendengus dan berdiri di depan Luhan untuk mengenalkan diri –terlampau percaya diri-
"Hey kenalkan aku calon pacarnya Luhan. Namaku-…"
"KAU APA?"
Chanyeol yang berteriak diikuti suara dengusan Kai sementara Sehun masih berlagak menyebalkan di depan dua teman kecil Luhan saat ini "Aku calon pa-car Luhan. Dengar?"
"Katakan sekali lagi biar kupukul wajah-…."
"ish! Mulai lagi."
Merasa jengah dengan tiga anak lelaki di depannya-….Luhan kesal. Dia pun menyeruak di antara Sehun dan Chanyeol sebelum bergegas pergi meninggalkan tiga anak lelaki yang bertengkar entah karena alasan apa.
"Lu kau mau kemana?"
"Jangan tanya aku!" katanya ketus sebelum
BRAK!
"Y-yak! Pakai matamu!"
Tak lama terlihat dua anak lelaki yang juga berparas cantik sepertinya. Merasa marah karena bahunya ditabrak Luhan dan untuk kali pertama tak mendapatkan kata maaf dari yang menabrak bahunya.
"Jalanmu seperti perempuan!"
Dan ketika sindiran yang dia terima maka si anak lelaki bermata sipit itu membulatkan matanya. Warna mukanya juga sudah merah menandakan bahwa dia sama sekali tidak terima dengan apa yang dikatakan anak lelaki –kelewat- cantik yang baru saja menabraknya.
"y-YAK! LIHAT CERMIN DULU JIKA INGIN MENGATAIKU PEREMPUAN!"
"Baek sudahlah. Kita akan membalasnya nanti."
"Akan kupastikan membawa cermin nanti. Aku benar-benar marah rrhhh-….SEHUNNIE!"
"y-ya Baek? Ada apa?"
"Apa kau sedang tertawa?"
Yang dipanggil jelas menahan tawa. Membuat dua sahabat bermata sipit dan besar itu sama-sama menatap tak suka pada Sehun sebelum si pemilik nama membenarkan caranya berbicara "umhh… Maksudku ada apa?"
Menyadari kesalahannya bicara Sehun pun terdengar serius. Membuat Baekhyun dan Kyungsoo –kedua sahabatnya- mendengus kesal sebelum dengan kompak menghentak kaki mereka "Harusnya kau memukul anak tadi."
"huh?"
"Yang menabrakku Sehunna. Pundakku sakit!"
"ck! Jika dia memukul Luluku. Temanmu yang masuk ke ruang kesehatan!" timpal Kai membuat mata Sehun mendelik sangat tak suka mendengar apa yang dikatakan pria kelewat hitam di depannya.
"Lulumu?"
Kai membalas tatapan tajam teman sekelas Luhan sebelum dengan bangga membenarkan
"Luluku." Katanya mengulang hingga terlihat kepalan di tangan Sehun.
"wae? Mau memukulku? Sini! Sini pukul!"
Kai memberikan sukarela wajahnya pada Sehun namun si kulit pucat hanya terus melotot sampai rasanya Kai bersumpah bisa melihat dua bola mata itu nyaris keluar dari mata si kulit pucat.
"Sehunna ayolah!"
Kyungsoo bahkan harus menarik jauh Sehun dari serangan anak hitam sebelum keduanya benar-benar saling memukul. Dia pun menatap tak suka pada Kai lalu beralih pada Sehun "Apa kau gila? Kau memukul seseorang hanya karena dia mengatakan Luluku?"
"Tapi dia bukan Lulunya."
"Sebenarnya siapa Lulu yang kau bicarakan?"
"Anak lelaki yang menabrak Baekhyun. Dia Luluku!"
"MWO?"
Sehun bahkan harus rela mendengar ceramah panjang lebar dua pria cantiknya. Tak berniat menjawab tak berniat pula melawan hanya mendengarkan sampai tak sengaja telinganya juga mendengar apa yang dikatakan dua teman Luhan saat ini.
"ah kau benar-…Hari ini hari selasa. Dia pasti pergi ke pusat atletik renang."
"Menjenguk calon suaminya kan? ck! Bagaimana bisa dia menyukai pria hitam seperti itu!"
"eyy! Pria hitam itu seksi asal kau tahu." Timpal Kai terkekeh sebelum
"SEHUN!"
Baekhyun dan Kyungsoo berteriak saat Sehun berlari pergi dengan cepat. Membuat Kai dan Chanyeol yang sedang tertawa ikut menoleh dan sedikit bertanya mengapa si kulit pucat tiba-tiba pergi begitu saja.
"Si albino itu kenapa?" tanya Chanyeol terkekeh dibalas sengit oleh Kai
"Tidak tahu dan tidak peduli."
.
.
.
.
.
.
.
Tap…tap…
"PAMAN KWANGSOO!"
"Astaga tuan muda kenapa berlari?"
Sehun terengah berlari ke area parkir mobil. Matanya sedikit melirik ke kiri dan ke kanan lalu kesal karena tak melihat sosok Luhan sama sekali.
"Paman! Apa paman melihat anak lelaki yang tadi pagi? Yang diganggu kakak kelas?"
"umh…Yang terlihat sangat menggemaskan?"
"YA DIA!"
Asisten keluarga Oh itu terlihat berfikir sejenak. Sedikit menimbang sebelum melihat dua mata putra majikannya yang terlihat sangat cemas "Dia ke arah sana tuan muda. Menggunakan sepeda."
"KALAU BEGITU CEPAT KEJAR DIA!"
"huh?"
BLAM!
"PAMAN CEPAT!"
Sekali lagi Kwangsoo merasa takjub melihat sikap putra bungsu majikannya. Sehun yang biasa hanya akan bertingkah dingin sepanjang hari. Tuan muda kecilnya juga jarang berekspresi-…Berbeda dengan saat dia berteriak cemas seperti sekarang. Membuat antara cemas dan gemas Kwangsoo rasakan.
Ingin rasanya Kwangsoo mengabadikan moment langka hari ini. Memberitahu dua majikannya bahwa si bungsu mulai berekspresi dan bertingkah menggemaskan.
"PAMAN!"
Namun saat Sehun terus berteriak padanya maka hanya kekehan yang dikeluarkan Kwangsoo sebelum
BLAM!
"Baiklah tuan muda! Kita kejar siapapun anak lelaki yang bisa membuatmu berekspresi seperti saat ini!"
"CEPAT PAMAN! KE ATLETIK RENANG NASIONAL!"
"araseo…araseo.." katanya memakai cepat seatbelt sebelum
BRRMM…!
Dua pria berbeda usia itu pun mencoba mengejar anak lelaki berparas cantik yang sudah pergi sekitar limas belas menit yang lalu. Mengikuti kemanapun Luhan pergi sampai Kwangsoo tersenyum dan memberitahu putra majikannya.
"Tuan muda."
Sehun yang sedang menengok ke segala arah mengabaikan panggilan Kwangsoo. Membuat Kwangsoo memutar jengah matanya sebelum dengan santai mengatakan
"Anak lelaki yang kau cari sedang membeli gulali."
"huh?"
"Makanya dengarkan orang tua saat berbicara."
"Dimana dia?"
"Itu tuan mudaku! Disana-…Lihat sepeda merah yang bertulis nomor 7?. Itu anak lelaki yang kau cari!"
Sehun mengikuti kemana Kwangsoo menunjuk. Sedikit mencari keberadaan anak lelaki yang merubah dunianya sebelum
"Kau benar paman…Itu dia."
Kwangsoo bahkan harus bergedik ngeri tatkala tuan muda kecilnya tersenyum sangat bahagia. Dan mengingat hampir delapan tahun anak itu tumbuh. Barulah hari ini dia bisa melihat Sehun tersenyum tanpa maksud menyindir sedikit pun.
Kwangsoo bahkan terus menatap Sehun di cermin mobil sampai perintah selanjutnya dia dengar dari si tuan muda kecil "Paman cepat jalan. Dia sudah selesai membeli gulali."
"Baik baik. Jangan terus berteriak ish!"
Kwangsoo mencibir Sehun sebelum mengikuti Luhan yang bersepeda di sisi jalan. Dilihat dari tampilannya sepertinya Luhan ingin bertemu seseorang. Membuat Kwangsoo sedikit penasaran dan bertanya pada si tuan muda.
"Apa dia ingin bertemu dengan seseorang tuan muda?"
"Entahlah. Aku hanya harus memastikan sendiri kan?"
"Baiklah. Mungkin dia ingin bertemu dengan gadis pujaan hatinya atau anak lelaki yang lebih tampan-…."
"PAMAN!"
"ish! Kenapa suka berteriak sih?"
"Kau membuatku kesal!"
Dan saat mata Sehun kecil berkaca-kaca maka yang perlu dilakukan Kwangsoo hanya diam. Dia pun sedikit tidak menyangka bahwa Sehun sangat marah dan terluka jika yang disukai di klaim menjadi milik orang lain.
Membuat si penjaga tuan muda kecil merasa bersalah dan diam-diam mulai mengalihkan pembicaraan mereka.
"Apa dia Luhan? yang belum lama bertemu dengan anda tuan muda?"
"eoh."
Sehun masih fokus memperhatikan Luhan sampai tak sengaja bibirnya mencibir kesal melihat seseorang hampir menabrak Luhan di trotoar jalan "ish! Bahaya sekali. Kenapa dia memakai sepeda? Memangnya dia tidak memiliki supir?"
"Tidak semua anak seperti anda tuan muda."
"huh?"
"Luhan mungkin ingin memiliki supir, tapi jika orang tuanya tidak bisa memberikannya supir. Dia bisa apa?"
"ah-….Lalu apa yang harus aku lakukan paman?"
Kwangsoo berfikir sejenak sebelum dengan cepat mengatakan "Anda yang harus menjadi seperti Luhan."
"Menjadi seperti Luhan?"
"hmmh…Kau bisa berangkat ke sekolah bersama jika menggunakan sepeda. Tuan muda juga bisa menghabiskan banyak waktu bersama Luhan jika tidak menggunakan supir. Bagaimana?"
Kali ini Sehun yang diam sesaat. Mencerna ucapan Kwangsoo dengan mata yang berbinar kemudian. Dia bahkan bersorak senang di kursi belakang sambil menepuk pundak pamannya yang memberikan ide cemerlang "Baiklah! Mulai besok aku akan naik sepeda!"
"Kau yakin tuan muda?"
"TENTU SAJA PAMAN!"
Pegangan tangan Kwangsoo di kemudi mobil sedikit mengendur. Merasa mulut besar sebagai pembawa bencana mengingat Jihyo sama sekali tak suka jika si bungsu berada di luar tanpa pengawasan.
Dia pun enggan memikirkan bagaiamana reaksi dua majikannya sebelum terkekeh melihat Sehun yang benar-benar tidak melepaskan matanya dari Luhan.
"aku rasa bocah ini benar-benar jatuh cinta." Katanya bergumam pelan sebelum
"Paman berhenti."
"huh? Disini?"
"Luhan memakirkan sepedanya disana."
Kwangsoo melihat dimana Luhan menitipkan sepedanya. Sedetik kemudian dia melihat ke segala arah dan merasa familiar dengan tempat mereka berada sekarang.
"Tuan muda bukankah ini tempat latihan renang Yunho?"
"huh? Hyung?"
"mmh…Ini kan Gelanggang atletik renang nasional."
Buru-buru Sehun membuka pintu mobilnya. Berlari ke dalam gelanggang renang yang selama ini digunakan hyungnya untuk latihan.
"perasaanku buruk soal ini."
Bocah delapan tahun itu bahkan terus berlari ke dalam stadium renang indoor terdekat sebelum
"YUNHO HYUUUNG FIGHTING!"
Kakinya berhenti berlari saat mendengar Luhan meneriakan nama hyungnya.
Tangannya terkepal karena kesal dengan mata berkaca-kaca saat melihat Luhan begitu bahagia hanya karena melihat Yunho.
"FIGHTING YUNHO HYUNG!"
Teriakan Luhan bahkan terdengar sangat bahagia.
Berbeda saat Luhan berbicara dengannya yang selalu terdengar ketus.
Diam-diam lengan bocah delapan tahun itu membuat gerakan mengusap matanya yang berkaca-kaca.
Berusaha untuk tidak menangis lalu kemudian matanya kembali mengeluarkan air.
Terus seperti itu sampai suara di belakangnya terdengar memanggil
"Tuan muda!-..whoa…Yunho keren sekali."
Dan saat Kwangsoo melihat bagaimana eloknya Yunho meliuk-liukkan tubuh di bawah air, maka hanya decik kagum yang dia berikan pada remaja yang sebentar lagi akan berusia tujuh belas tahun disana.
Membuat tanpa sadar tangannya bertepuk bangga sebelum suara isakan terdengar dari bocah yang berdiri tepat di depannya.
"hks-….Aku benci hyung-…Hyung Jahat!"
"Astaga…"
Mata Kwangsoo bahkan dibuat membulat menyadari bahwa saat ini, detik ini di depannya, Sehun sedang menangis sambil menghentakan kedua kakinya bergantian tanda dia begitu kesal dan marah.
Dia bahkan dibuat bingung kenapa tuan mudanya menangis sampai suara melengking terdengar dari tribun penonton yang berada tepat di samping mereka,
"whoa-…Yunho hyung keren! Wuhuuu~"
"hks-…"
"ah-…Dia cemburu."
Bersamaan dengan teriakan Luhan maka jelas sudah kenapa si bocah ingusan di depannya menangis. Kwangsoo bahkan harus membekap erat mulutnya sambil terkikik begitu geli. "Astaga Sehun menggemaskan sekali." Katanya tak bisa menahan diri melihat bagaimana Sehun menagis hanya karena Luhan memberi semangat pada hyungnya.
"hks…hyung jahat."
Bisa saja Kwangsoo membiarkan Sehun menangis lucu. Tapi saat ingus dari bocah di depannya terus keluar dengan banyak, maka sudah saatnya berpura-pura simpati dengan bertanya
"Tuan muda kenapa kau menangis?"
Sehun mengabaikan pertanyaan Kwangsoo.
Yang dia lakukan hanya kesal kedua kakinya bergantian.
Dia juga berkali-kali mengusap lucu air matanya sebelum berteriak
"AKU BENCI HYUNG!"
.
.
.
.
.
.
.
.
"MAMA!"
"Astaga nak. Kenapa berteriak?"
"AKU BENCI HYUNG! HYUNG PENGHIANAT!"
Tatkala mengetahui Luhan menyukai Yunho-..Dunia Sehun rasanya runtuh hari ini.
Dia bisa saja bersaing dengan anak lelaki dan anak wanita mana pun untuk mendapatkan perhatian Luhan.
Tapi dengan Yunho?
Ah-...Sehun kalah telak
Tentu saja! Semua orang waras juga pasti akan memilih sang kakak yang memiliki tubuh atletis dan wajah tampan.
Tidak seperti dirinya yang hanya tampan, tampan dan tampan.
Arogan memang-... Tapi nyatanya menjadi tampan tak selamanya menyenangkan.
Seperti hari ini misalnya.
Saat dia tahu Luhan menyukai kakaknya maka rasanya dia dikhianati sang kakak, dunianya hancur siang ini.
Bocah delapan tahun itu bahkan terus menangis sepanjang perjalanan dari tempat atletik menuju rumah.
Membuat asisten kepercayaan ayahnya terus tertawa gemas sementara Jihyo menatap tak suka pada Kwangsoo karena terus menertawakan si bungsu.
"Kwangsoo!"
"Ya nyonya."
"Kenapa kau terus tertawa sementara Sehunku menangis?"
"AKU BENCI HYUNG!"
"Apa dia bertengkar dengan Yunho?"
"Tidak tentu saja nyonya."
"Lalu kenapa Sehun terus menjerit."
Kwangsoo pun tertawa kecil sebelum berbisik pada nyonya besar di rumah "Tuan muda Sehun sedang patah hati nyonya."
"Huh? Patah hati? Bagaimana bisa?"
"Pria yang dia sukai menyukai Tuan muda Yunho."
Kali ini Jihyo mengusap perutnya agar tidak kontraksi. Dan saat asisten rumah tangganya berbicara seperti omong kosong maka hanya mengusap perut buncit yang Jihyo lakukan sebelum kembali bertanya pada pelayan rumah tangganya.
"Sehun menyukai siapa? Dan siapa yang menyukai Yunnieku?"
"Anda mengenal anak lelaki yang disukai Sehun nyonya!"
"Astaga! Kau terlalu berbelit! Katakan dengan cepat!"
Kwangsoo kembali tertawa geli. Mengabaikan tatapan tak suka sang nyonya besar sampai
"LEE KWANGSOO?!"
Sampai Jihyo berteriak barulah dia menahan tawa. Berpura-pura serius namun nyatanya terus terkikik.
"EKHEM!"
Dan saat sang nyonya rumah berdeham barulah Kwangsoo sedikit bisa menahan diri. Dia pun kembali mendekati Jihyo dan berbisik memberitahu siapa yang disukai Sehun.
"Dia menyukai putra tunggal dari dokter Xi dan Tuan Xi Chen."
Jihyo tampak berfikir sebelum "Astaga" Ibu dua anak itu terlihat menutup mulutnya. Merasa sangat terkejut namun tak bisa menutupi rasa senangnya menebak siapa anak lelaki yang disukai putranya.
Jihyo pun melihat si bungsu yang sebentar lagi menjadi hyung sedang meraung di sofa. Sedikit tertawa gemas sebelum memastikan tebakannya "Luhan maksudmu? Xi Luhan?"
"Tepat nyonya. Tuan muda Sehun menyukai putra dari dokter cantik Xi Baby." Katanya membenarkan hingga terdengar suara memekik bahagia dari Jihyo.
"Astaga aku senang sekali mendengarnya."
"Anda akan lebih senang saat melihat tatapan tuan muda pada Luhan."
"Benarkah? Apa sangat romantis?"
"Tatapan Beast untuk Beauty nyonya. Terlihat sangat roman-..."
Pletak
"Arhhh! Kenapa saya dipukul?"
"Dari banyak tokoh disney kenapa kau harus menggambarkan Sehunku sebagai Beast? Kau sudah bosan hidup?"
"Ah-..."
"HUNNIE BENCI HYUNG!"
Dan saat si bungsu terus berteriak marah maka Jihyo menatapnya iba. Ibu dua anak yang akan segera melahirkan itu pun menatap gemas putra kecilnya sebelum memasang wajah yang dibuat sedih namun nyatanya sangat gemas
"Uuuu kesayangan Mama marah. Sini nak mama peluk!"
"Shirheo!"
Kakinya pun berhenti menghentak saat tak sengaja berteriak pada ibunya yang super sensitif. Dan melihat bagaimana Jihyo memandangnya dengan mata berkaca maka Sehun hanya bisa menatap jengah dan terpaksa mengalah jika tidak ingin jatah mainan online nya berkurang.
"Ma peluk…"
Dan disinilah sang Mama-…Selalu mudah dibujuk jika kau bersikap manja.
Karena tujuh belas tahun menjadi seorang ibu, tak sekalipun Sehun dan Yunho bersikap manja padanya.
Kedua putranya cenderung melakukan semua sendiri tanpa merengek dan meminta bantuan padanya.
Jadi jika salah satu dari Yunho dan Sehun mulai bersikap manja-…Itu adalah sebuah anugerah untuk Jihyo. Membuatnya sangat bersemangat sebelum kembali mendekati si bungsu
"Kenapa anak mama menangis?"
Dan jangan salahkan Sehun jika nantinya dia benar-benar manja walau adik bayi sudah lahir.
Awalnya Sehun sama sekali tidak tergoda pada pelukan ibunya. Tapi saat Jihyo memeluknya sangat nyaman, maka tak ada yang bisa Sehun lakukan selain menikmati usapan lembut di punggungnya.
"Hyung jahat ma-…hks-…Dia merebut Lulu."
"Lulu?"
"Iya ma. Anak lelaki dari teman Mama yang belum lama kita temui."
"ah-….Luhan maksudmu?" katanya mencoba menggoda Sehun namun nyatanya si bungsu sedang kesal saat ini "Iya Luhan….Tapi hyung jahat padaku. Dia merebut Lulu dariku ma.."
"Kenapa hyung bisa merebut Lulu?"
"Karena Lulu menyukainya."
Jihyo tertawa kecil sebelum mencubit gemas pipi putranya yang tampan "Aigoo…Hunnie belum tahu apa-apa tentang cinta."
"huh?"
"Hanya karena Luhan menyukai hyung. Bukan berarti hyung jahat."
"Tentu saja hyung jahat! Aku sudah cerita tentang Luhan padanya."
"Lalu berapa banyak Luhan yang kau ceritakan pada hyung?"
"Hanya satu."
"Menurutmu apa hyung kenal dengan Luhan yang menyukainya?"
Sehun berfikir sejenak sebelum menggeleng tak yakin menjawab sang mama "Tidak tahu juga sih. Luhan hanya berdiri di kursi penonton. Dia juga hanya meneriakan nama hyung saat hyung latihan gaya bebas."
"Nah seperti itu putraku sayang. Itu namanya idola."
"Idola?"
"Ya. Luhan mengidolakan Yunho hyung sama seperti Sehun mengidolakan model cantik Miranda Kerr."
"Seperti itu?"
"hmmh…Seperti itu nak-….Lagipula Yunho hyung akan maju ke kejuaraan nasional minggu depan. Jadi wajar jika banyak yang mengidolakan Yunho hyung."
"Jadi hyung tidak jahat?"
"Kedua anak mama tidak ada yang jahat sayang."
Sehun kemudian tertunduk sejenak. Tak tahu harus mengatakan apalagi sampai suara Jihyo kembali terdengar "Nanti jika hyung pulang, bicaralah dengannya."
"Bicara Man to Man maksud mama?"
Jihyo tertawa kencang sebelum mencium seluruh wajah si bungsu.
Man to Man adalah istilah yang diberikan Insung jika Sehun dan Yunho bertengkar.
Seperti mengatakan yang ingin kau katakan tanpa memendamnya sendiri.
Insung juga memperbolehkan mereka bertengkar bahkan saling memukul tapi dengan satu syarat-…..Setelahnya mereka harus kembali berbaikan dan menjadi dua kakak-adik yang saling menyayangi.
Jihyo keberatan pada awalnya, tapi saat dua putranya semakin dekat dengan metode man to man yang dibuat sang ayah. Maka hanya dukungan yang diberikan ibu cantik yang akan segera memiliki tiga orang putra dalam hidupnya.
Jihyo mencium sayang kening Sehun seraya membenarkan mengangguk dan membenarkan ucapan si bungsu "Man to Man dengan hyung."
.
.
.
.
.
.
.
tobecontinued..
.
.
.
.
.
JTV mah emang words ga panjang2… *belum saatnya si kayanya wkwkw
.
Plet ada konflik ga?
Me : *yunowmesowellah gengs :*
.
Chap depan syudah remaja btw….bisa juga langsung dewasa…tergantung kondisi..
.
Okey sekian
.
Happy reading review
