Previous..
"Jadi hyung tidak jahat?"
"Kedua anak mama tidak ada yang jahat sayang."
Sehun kemudian tertunduk sejenak. Tak tahu harus mengatakan apalagi sampai suara Jihyo kembali terdengar "Nanti jika hyung pulang, bicaralah dengannya."
"Bicara Man to Man maksud mama?"
Jihyo tertawa kencang sebelum mencium seluruh wajah si bungsu.
Man to Man adalah istilah yang diberikan Insung jika Sehun dan Yunho bertengkar.
Seperti mengatakan yang ingin kau katakan tanpa memendamnya sendiri.
Insung juga memperbolehkan mereka bertengkar bahkan saling memukul tapi dengan satu syarat-…..Setelahnya mereka harus kembali berbaikan dan menjadi dua kakak-adik yang saling menyayangi.
Jihyo keberatan pada awalnya, tapi saat dua putranya semakin dekat dengan metodeman to manyang dibuat sang ayah. Maka hanya dukungan yang diberikan ibu cantik yang akan segera memiliki tiga orang putra dalam hidupnya.
Jihyo mencium sayang kening Sehun seraya membenarkan mengangguk dan membenarkan ucapan si bungsu "Man to Man dengan hyung."
.
.
.
.
.
Je'Te Veux
.
.
.
.
.
Main cast : Sehun-Luhan
Rate : T-M
.
.
.
.
"Ma aku pulang."
Ibu dari dua orang anak dan calon bayi yg dikandungnya pun menoleh, sedikit tersenyum menatap si sulung yang terlihat sangat kelelahan.
"Anak mama sudah pulang?"
Kali ini giliran si sulung yang merespon. Segera mendekati sofa tempat ibunya merajut syal lalu berbaring di paha sang mama dengan benang-benang rajut yang dia singkirkan dengan kasar.
"Lelah ma."
"Aigoo perenang seksi mama kelelahan."
Dan saat kecupan diberikan oleh sang ibu, maka Yunho -si perenang seksi versi ibunya- terlihat sangat bahagia. Dia kemudian memejamkan matanya di pangkuan sang mama dengan Jihyo yang mengusap sayang kening si sulung.
"Yunnie bear lapar?"
"Tidak aku sudah makan."
"Mau juice?"
"Nanti saja. Aku mau tidur di pangkuan mama."
"Araseo tidurlah."
Menurut dirinya dan Sehun-... Sang mama adalah semua hal baik yang diberikan Tuhan pada mereka.
Karena disaat mereka terlihat lelah yang ditanyakan Jihyo bukan latihan sialan yang menguras tenaga atau pelajaran sulit yang mereka terima.
Jihyo cenderung lebih sering bertanya
Apa anak mama lapar?
Daripada
Bagaimana latihan hari ini? Atau bagaimana pelajaran hari ini?
Bukan karena wanita berusia tiga puluh enam tahun itu tidak peduli pada kedua putranya, tapi Jihyo tahu bahwa kedua putranya cenderung tertutup dan tak suka menceritakan ulang apa yang sudah terjadi.
Mereka lebih suka melupakan daripada mengingat banyak hal yang mengganggu hari mereka.
Dan karena alasan itu pula ibu tiga orang anak ini memgalah dan lebih memilih percaya pada dua putranya.
toh Sehun dan Yunho akan bercerita padanya jika mereka ingin-...Tak perlu dipaksa karena artinya mereka sudah dewasa untuk memilih masalah yang bisa mereka tangani atau masalah yang harusnya dibagi bersama keluarga.
"Kenapa Yunho mama sudah sangat besar hmm?"
Yunho hanya diam saat sang mama menciumi seluruh wajahnya. Terkekeh ketika suara mamanya mulai terdengar merengek sampai terdengar suara lain yang memanggilnya tak sabar
"HYUNG!"
Lantas kedua mata Yunho terbuka saat adik bungsunya memanggil. Segera menoleh mencari keberadaan Sehun lalu menatap malas si bungsu.
"Kenapa berteriak?"
"KITA HARUTH BICARA!"
Yunho lebih memilih mendongak dan mencari mata ibunya daripada menanggapi racauan adiknya yang tak jelas
"Ma..."
Jihyo sendiri sedang menahan tawanya mati-matian, merasa sangat gemas pada Sehun namun tak mau tertawa di saat si bungsu terlihat serius.
"Ada apa nak?"
"Telingaku yang salah dengar atau cadel Sehun sedang kambuh?"
"Cadel Sehun akan kambuh jika dia terlalu kesal nak." Katanya terkikik namun sangat pelan hingga hanya Yunho yang mendengar.
"Kau sedang kesal?"
Yunho kembali melihat Sehun yang kini menghentakan kakinya bergantian "Astaga Oh Sehun! Kau benar-benar bocah jika seperti itu!"
"HYUNG THEHUN SERIUTH! AKU TUNGGU DI KAMAR THEKARANG!"
Anak lelaki delapan tahun itu pun segera bergegas lari ke kamar hyungnya. Terdengar mendegus kesal sebelum
BLAM!
Sehun sengaja menutup kencang pintu kamar hingga membuat ibu dan kakaknya terkekeh dibawah.
"Bocah itu kenapa ma?"
"Yunho, Sehun bukan bocah nak. Dia adikmu."
"Iya iya... Lalu kenapa dia terlihat kesal?"
"Sehun ingin bicara Man to Man denganmu."
"huh? Man to Man?"
"Iya nak. Cepat susul adikmu."
"Tapi kami sedang tidak bertengkar."
"Menurut Sehun kau mengambil miliknya."
"Aku tidak makan es krimnya kok."
"Bukan es krim sayang."
"Lalu apa?"
"Luhan."
"Luhan? Luhan siapa?"
Jihyo tertawa kecil mengingat betapa menggemaskannya Sehun, dia pun segera fokus pada si sulung dan menjelaskan apa yang terjadi "Kau ingat adikmu pernah bercerita kalau dia menyukai seseorang?"
"Ya aku ingat. Tapi aku lupa namanya. Apa namanya Luhan?"
"Iya nak. Namanya Luhan."
"Lalu apa hubungannya denganku?"
"Mama juga tidak mengerti. Tapi siang ini dia mengikuti Luhan sepulang sekolah, lalu dia terkejut karena ternyata Luhan datang ke atletik renang untuk memberi dukungan padamu."
"Aku?"
"eoh…Sehun bilang seperti ini YUNHO HYUNG FIGHTING—YUHUUU!"
"Ma kau sedang apa sih?'
Yunho tertawa lucu melihat sikap ibunya, membuat Jihyo membenarkan sikap anggunnya dengan Yunho yang sudah bersiap menuju kamar "Begitu contoh Luhan saat berteriak memanggil namamu."
"ah-…Jadi bocah itu sedang cemburu."
"Begitulah."
"Baiklah aku akan bicara Man to Man dengannya." Katanya memangkul tas latihannya dan bergegas menuju kamar sebelum suara Jihyo kembali terdengar.
"Nak…"
"Ada apa?"
"mmmh… Adikmu sedikit sensitif hari ini, jadi kau bisa mengalah kan?"
Yunho mengangkat bahunya dan tanpa ragu menjawab "Tentu saja."
"Aigoo anak mama paling keren."
Yunho mengabaikan pujian sang mama. Terus berjalan menuju kamarnya sebelum
Cklek…!
"HYUNG JAHAT!"
"astaga!"
Baru masuk kedalam kamarnya Yunho disuguhi bantal yang dilempar oleh Sehun, membuatnya sedikit kesal lalu mengingat ucapan sang mama kalau Sehun sedang sensitif hari ini.
"Apa kau akan membunuh hyungmu hanya karena Luhan?"
"mmh…Tidak tentu saja!"
"Kalau begitu berhenti bersikap gila."
"Tetap saja hyung tidak beritahu aku kalau Luhan suka melihatmu latihan!"
"KENAL WAJAHNYA SAJA TIDAK! BAGAIMANA BISA AKU MELIHAT LUHAN BOCAH!"
"hks…."
Tampangnya saja yang sok galak. Karena nyatanya Sehun akan terus menangis tiap kali Yunho dan sang ayah membentaknya. Membuat Yunho terkekeh dan membuang asal tasnya sebelum berjongkok di depan Sehun.
"Hey bocah, pria tidak menangis."
Sehun mengelap kasar air matanya, sedikit tidak terima sebelum dengan mantap menatap mata hyungnya "Aku tidak menangis."
"aigoo…Lalu ini apa?" gumam Yunho membantu Sehun mengusap air matanya. "ish!"
"araseo…hyung minta maaf membentakmu. Tapi untuk Luhan? Hyung sama sekali tidak mengenalnya. Lagipula untuk apa aku menyukai priamu? Aku sudah memiliki priaku sendiri."
"Lalu kenapa dia bisa mengenal hyung?"
"Entahlah. Mungkin hyungmu terkenal."
"ck!"
Dirasa Sehun sudah kembali normal, Yunho tertawa. Dia pun mengusap sayang rambut adiknya seraya berkata "Bukankan bagus jika Luhan menyukai hyung?"
"Hyung mau jadi thaingan thehun?"
Yunho memijat kasar keningnya. Kepalanya terasa sakit tiap kali Sehun berbicara cadel, membuatnya ingin mencubit gemas namun menahan diri menyadari bahwa adiknya sedang serius bertanya.
"Tentu thaja hyung tidak akan jadi thaingan thehun." Katanya membalas sama cadel dibalas tatapan sengit dari Sehun "Araseo…Araseo…Hyung akan jelaskan."
"Katakan dengan jelath kalau begitu."
"ish! Bicaramu saja belum jelas." Katanya terkekeh lalu kembali menjelaskan "Jika minggu depan Luhan datang ke pertandingan renang hyung. Maka tugasmu adalah mengenalkan Luhan padaku. Kau tahu kenapa? Karena saat Luhan mengenalku sebagai kakakmu, dia akan meminta main kerumah. Dan berita bagusnya kalian akan menjadi semakin dekat."
Sehun mendengarkan dengan seksama rencana hyungnya. Terlihat tertarik sebelum berjalan menuju pintu keluar "Ide baguth hyung!" katanya terlihat sangat bahagia sebelum
BLAM…!
"Ya Tuhan kenapa kau memberikan adik cadel seperti itu."
Yunho terlentang di tempat tidurnya. Matanya terpejam setengah lelah dan setengah berdoa.
Berdoa agar Tuhan tidak memberikan adik keduanya seperti dia memberikan Sehun untuknya "Satu sudah cukup membuatku pusing, jadi jangan dua Tuhan. Cukup satu saja adikku yang seperti Sehun.."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dan hari itu pun tiba, hari dimana Luhan sudah bersepeda dari rumahnya untuk datang ke tempat lomba antar sekolah miliki idolanya, Oh Yunho.
Anak lelaki delapan tahun itu bahkan membawa semua yang diperlukan untuk mendukung idolanya, pluit, banner bertuliskan "Yunho hyung fighting" dan semua yang diperlukan agar idolanya bersemangat.
Tring…!
Dan setelah bersepeda selama dua puluh menit, Luhan akhirnya sampai di gelanggang renang tempat lomba diselenggarakan, dia memarkirkan sepedanya di tempat khusus lalu berjalan riang menuju gelannggang.
"oh tidaktidak…aku harus mendapat spot yang bagus."
Mata rusanya membulat saat mengetahui banyak orang memenuhi gelanggangnya. Membuatnya berlari cemas sebelum
BRAK…!
"arghh-…Kenapa harus jatuh!"
Dia bahkan mengabaikan luka di lututnya demi masuk kedalam gelanggang. Rela berdesakan demi mendapatkan spot bagus didalam. Dia juga mengabaikan nafasnya yang sesak sampai
Sret…!
Luhan merasa seseorang menariknya keluar dari antrian, membuat mata rusanya membulat marah sebelum berteriak sangat kesal pada siapapun yang menarik tangannya dari antrian.
"Apa yang kau-…y-YAK!"
Luhan benar-benar muak saat ini, matanya seolah diciptakan hanya untuk melihat mahluk paling menyebalkan yang kini sedang menatap dingin padanya.
Tidak di sekolah, tidak di rumah atau di jalan sekalipun-…Dia selalu melihat Sehun, membuatnya sangat kesal dan tanpa sadar menyalahkan Sehun karena dia tidak mendapat spot yang bagus hari ini.
"KENAPA KAU TERUS MENGIKUTIKU? AKU INGIN MASUK! AKU-…LIHAT! TEMPATNYA SUDAH PENUH! LALU AKU HARUS DUDUK DIMANA?"
Dan saat anak lelaki sebaya di depannya menangis berjongkok, maka hati anak lelaki lain yang kini sedang menatapnya juga terlihat sedih. Rasanya dia tidak pernah peduli jika seseorang menangis.
Dia hanya akan peduli pada mamanya, berbeda dengan saat ini-….Saat Luhan menangis maka dunia Oh Sehun seolah dibuat sedih tanpa alasan yang jelas.
"Kenapa aku terus melihatmu! Kenapa kau terus menggangguku."
Sehun menghela nafasnya, sedikit melihat persiapan yang Luhan bawa untuk hyungnya sebelum ikut berjongkok dan mengulurkan tangannya "Aku mempunyai spot paling bagus untukmu."
"huh?"
Mata rusa Luhan mengerjap lucu saat melihat Sehun.
Karena pada dasarnya dia tidak kesal karena melihat Sehun, dia kesal karena tidak mendapatkan spot bagus untuk melihat Yunho. Jadi saat Sehun mengatakan memiliki spot bagus maka mata rusanya berbinar sangat berharap.
"Bagaimana bisa?"
"Tentu saja bisa. Kakakku peserta lomba hari ini. Jadi kita akan melihat dari tempat yang disediakan untuk keluarga."
"Benarkah?"
"Tentu saja! Cepat pegang tanganku. Aku akan membawamu kesana, ayah dan ibuku juga sudah disana."
Tanpa berfikir panjang Luhan menyambut tangan Sehun, membiarkan teman yang selalu mengatakan ingin menikahinya membawanya pergi entah kemana.
Untuk beberapa detik Luhan tidak mempercayai Sehun, tapi saat Sehun benar-benar membawanya ke area family only itu artinya kakak Sehun memang peserta lomba
Tapi siapa kakak Sehun?
Luhan sempat bertanya-tanya.
Namun saat matanya melihat Oh Family tertera di kursi khusus keluarga Oh maka disaat itu pula tangannya menggenggam erat tangan Sehun, Sedikit horor menatap Sehun saat menyadari hanya ada satu peserta lomba bermarga Oh hari ini.
"Sehun bolehkah aku bertanya?"
"Apa?"
"Hanya ada satu peserta bermarga Oh disini, namanya Oh Yunho. Dan mengingat margamu juga Oh-….Aku ragu sebenarnya, tapi jangan katakan kalau dia-…"
"Dia kakakku." Timpal Sehun membuat mata Luhan membulat sempurna.
Sehun pun berhasil menarik sedikit perhatian Luhan sebelum membawa temannya bertemu dengan Mama dan Papa.
"Ma…"
"Hay sayang-…Luhan disini juga?"
Luhan yang masih terkejut dibuat terkekeh, nyatanya seluruh pendukung Yunho memakai headband bergambar Yunho yang sedang berenang saat ini. Membuatnya tertawa kecil sebelum membungkuk menyapa dua orang tua Sehun dan Yunho
"Selamat pagi eomonin, abonim."
"aigoo sopan sekali Lulu sayang." Katanya gemas sebelum menyadari bahwa sedari tadi putra bungsunya masih menggengam erat tangan Luhan.
"Duduklah nak. Sehun bawa Luhan duduk nak." Timpal Jihyo mengerling si bungsu diikuti Insung yang menatap menggoda putranya "Ada yang senang saat ini." Katanya berbisik pada Sehun dibalas senyum malu oleh si bungsu.
.
.
Dan tak lama….
.
.
"YUNHO JJANG! WUHUU PUTRA MAMA HEBAT!"
Begitulah akhir pertandingan Yunho hari ini, tak perlu diragukan dia kembali menjadi juara satu di kompetisi ini, membuat Luhan hanya bisa terpukau melihat bagaimana kerennya keluarga Sehun sebelum Sehun menyapa dirinya.
"Minum dulu Lu."
Luhan menerima jus pemberian Sehun, tak lama dia juga melihat prosesi penyerahan medali untuk Yunho. Semuanya masih bersorak senang sampai tak sengaja Luhan melihat Yunho sedang mengerling Sehun. Membuatnya tertawa kecil sebelum menyatakan rasa irinya pada Sehun.
"Beruntung sekali kau memiliki Yunho hyung."
"Kau benar aku sangat beruntung."
Luhan kembali diam menghabiskan jus strawberry nya. Terus memperhatikan keluarga Sehun satu persatu sampai tak sengaja bergumam "haah-…Aku ingin sekali memiliki saudara."
Sehun mendengarnya, dia pun tanpa ragu duduk semakin dekat dengan Luhan sebelum berbisik "Kakakku juga kakakmu."
Luhan menatap Sehun sangat bingung, berniat untuk bertanya sebelum Sehun kembali berbicara lebih dulu "Karena milikku adalah milikmu juga, jadi kau boleh menemui kakakku tapi hanya boleh menyukaiku."
"ck!"
"Aku serius Lu. Kau boleh menemui hyung dirumah."
"Benarkah?"
"Tentu saja-….."
"Aarrghh-….PERUTKU! YEOBO PERUTKU SAKIT!"
"MA!"
Buru-buru Sehun berlari mendekati ibunya, merasa bingung karena ibunya kesakitan ditambah teriakan panik ayahnya "KWANGSOO SIAPKAN MOBIL!"
"PA.. MAMA KENAPA?"
Sehun menjerit ketakutan melihat ibunya kesakitan, dia bahkan membantu ayahnya untuk menggendong sang ibu, sebelum Insung menjawab pertanyaannya "Adikmu akan segera lahir nak. Ayo kita ke rumah sakit."
"Lalu bagaimana dengan hyung?"
"Hyung akan segera menyusul."
Tanpa ragu Sehun membuntuti ayahnya, nyaris meninggalkan Luhan sebelum kembali berlari dan mendekati Luhan yang terlihat sama bingungnya "Kau mau ikut ke rumah sakit?"
"huh?"
"Adikku akan segera lahir. Ayo ikut." Katanya mengulurkan tangan pada Luhan, membuat Luhan sesaat ragu namun kembali menggenggam tangan Sehun pada akhirnya. "Aku ikut."
.
.
.
.
.
.
.
.
Buru-buru Insung membawa istrinya ke ruang emergency, berharap Jihyo segera mendapatkan penanganan sebelum dokter yang menanganinya datang "Sunbae?"
"Baby? Syukurlah-…Kau dokter yang bertugas?"
Seraya menjawab senior suaminya, Baby bertindak-….Dia memberi obat bius pada Jihyo lalu meminta Insung menunggu diluar "Aku akan segera membawanya ke ruang operasi. Tunggulah diluar."
"Istriku akan baik-baik saja?"
Dibantu perawat, mereka semua keluar menuju ruang operasi. Sedikit berlari terburu-buru sampai
"MAMA!"
"Luhan?"
Baby terkejut mendapati putranya di rumah sakit, dan saat melihat Luhan berlari maka dia memberi intsruksi kepada perawatnya untuk pergi lebih dulu "Lulu sayang kenapa disini?"
"Aku dengan keluarga Sehun ma."
"Begitukah?"
Baby melepas sarung tangannya sesaat untuk menghapus keringat di wajah putranya "Mama akan menyelamatkan ibu Sehun kan?"
Baby tersenyum kecil seraya mencium sayang kening putranya "Tentu saja. Doakan mama hmm.."
"Oke Ma. Lulu tunggu disini."
"Anak pintar."
Setelah mencium wajah putranya, Baby kembali melihat Insung, sedikit tersenyum lalu meyakinkan teman dekat suaminya "Istrimu akan baik-baik saja." Katanya memberi semangat lalu
Klik…
Sesaat setelah Baby masuk ke ruang operasi, lampu disana berubah menjadi merah. Menandakan bahwa operasi sedang berlangsung dan itu artinya kepanikan harus dirasakan keluarga.
Dari seluruh keluarga Oh-….Sehunlah yang terlihat sangat cemas. Entah kenapa dia terus duduk tertunduk dan tak mau bersuara. Membuat Luhan kecil merasa tak tega dan datang menghampiri teman sekelasnya.
"Sehunna."
"hmh?"
"Didalam sana ibuku yang hebat sedang menolong ibu dan adikmu. Jadi jangan khawatir. Oke?"
Mau tak mau Sehun mendongak melihat Luhan, merasa sedikit senang karena Luhan tak berteriak seperti biasanya dan mengangguk sebagai ucapan terimakasih "Oke."
Dia mengatakan oke tapi tangannya terus gemetar, membuat Luhan mengambil tempat di samping Sehun lalu membawa tangan Sehun yang gemetar untuk digenggam.
"Lu…"
"Sampai operasi ibumu selesai aku akan menggengam tanganmu."
Rasanya Sehun merasakan kupu-kupu terbang di hatinya,
Rasanya dia juga semakin menyukai Luhan.
Membuat tangannya secara refleks membalas genggaman tangan Luhan seraya mengatakan
"gomawo Lu."
.
.
.
.
.
.
.
.
Selang beberapa jam kemudian, tombol merah di ruang operasi itu berubah menjadi hijau.
Luhan yang pertama kali melihat, membuatnya sedikit memekik sebelum
Klik…
"MAMA!"
Sehun menyadari genggaman Luhan terlepas di tangannya, Luhan juga sangat menggemaskan saat berlari ke wanita cantik yang masih lengkap menggunakan pakaian operasinya.
Dan seolah tak mempedulikan bagaimana tidak sterilnya sang mama-….Luhan minta di gendong. Membuat Baby terkekeh dan mencium gemas hartanya yang paling berharga "Lulu masih disini?"
"Tentu saja."
"Dokter Xi?"
Sang dokter menatap kecemasan di keluarga Oh, sedikit tersenyum sebelum membawakan kamar baik "Bayimu sehat dan Jihyo akan sadarkan diri sebentar lagi. Kau bisa melihat keluargamu di ruang perawatan."
"Astaga syukurlah."
Yunho dan Insung berpelukan sangat lega, dua anak ayah itu tentu tak melupakan si bungsu yang masih ketakutan, Insung pun mendekati si bungsu yang sudah menjadi kakak dan berjongkok di depan Sehun.
"Sekarang Sehun sudah menjadi kakak."
"huh?"
"Adik Sehun sudah lahir."
"Benarkah?'
"Tentu saja nak."
"Lalu bagaimana dengan mama?"
"Mama sehat sayang."
"huwaaaaa…."
Buru-buru Sehun melompat ke pelukan ayahnya, menangis sejadinya karena lega dan meraung seperti layaknya anak kecil seusia Sehun "Nak…"
"huwaaaaa…."
"Sayang…"
"huwaaaa.."
"Luhan sedang melihatmu."
"….."
Seluruh keluarga itu pun tertawa melihat reaksi Sehun.
Semua tak terkecuali Luhan-….Membuat Sehun sangat malu dan bersembunyi di pelukan ayahnya "aigoo Sehun hyung sangat menggemaskan." Gumam Insung menggendong Sehun dan tak lama membawa kedua putranya untuk bertemu sang ibu.
.
.
.
.
.
.
.
"Maaa…."
Sehun langsung berlari setibanya di ruangan Jihyo, mendekati ibunya yang masih sangat lemas namun terus tersenyum sangat cantik "Sehunnie sudah punya adik."
"Iya tahu. Mana adik Sehun?"
"Disana."
"Sehun jangan pegang adikmu dulu, dia masih sangat sensitif."
Setelah memberitahu Sehun, Insung pun mendekati istrinya, menciumnya sayang seraya mengucapkan "Terimakasih sudah membawa malaikat ketiga kita ke dunia."
Jihyo hanya tersenyum sebagai respon sedikit menahan sakitnya sampai si putra sulung juga mencium keningnya "Mama sangat hebat." Pujinya dibalas kecupan Jihyo di kening Yunho "Putra mama lebih hebat. Selamat sudah menjadi juara nak."
"Bukan masalah besar." Katanya menyombongkan diri sampai terlihat Luhan dan Baby ikut masuk kedalam ruangan.
"whoaa adik bayinya sangat tampan."
Luhan berlari mendekati sang bayi sementara Baby memberi selamat pada Jihyo. Kedua wanita cantik itu saling berpelukan seraya menatap gemas dua putra mereka yang sedang berinteraksi lucu tak jauh dari tempat mereka.
"Tentu saja tampan, dia adikku."
"Dia akan tampan seperti Yunho hyung."
"aigoo…Lulu lucu sekali. Mau jadi pacar hyung?"
"HYUNG!"
"Astaga Sehuun, adikmu bisa kaget."
Sementara Insung memarahi Sehun, maka Sehun hanya menatap marah pada hyungnya. Membuat Yunho terkekeh meminta maaf sebelum suara Luhan terdengar bertanya.
"Abonim…Siapa nama adik bayi?"
"Namanya ya…mmmhh…Namanya-…"
Jihyo mengangguk mengijinkan lalu tak lama Insung dengan bangga mengumumkan nama adik bayi adalah
"Jaehyun-….Oh Jaehyun."
Luhan bahkan dibuat terhipnotis dengan nama adik bayi.
Matanya berbinar saat menatap adik bayi sebelum
"Jaehyun annyeong-…Aku Luhan." Katanya memperkenalkan diri diikuti suara dengusan kesal oleh Sehun.
"oh tidak….Sainganku bertambah satu lagi."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
satu tahun berlalu...
.
lima tahun berlalu
.
dan sampai sepuluh tahun berlalu
.
My love get stronger with time :3
.
.
.
.
.
.
.
.
Tap….Tap…
"LEMPAR DISINI! AKU KOSONG!"
Yang memberi perintah tentu saja sang kapten.
Dan tak seperti kapten basket pada umumnya –tinggi dan besar- maka Kapten basket Hanyang High school berbeda-….
Kapten tim basket mereka pria –tentu saja-
Tubuhnya sangat mungil dengan tinggi kurang dari 180 cm –lebih tepatnya 178 cm-
Luhan –nama sang kapten- adalah definisi dari sebuah kesempurnaan tokoh komik, kecantikan dari putri raja yang berada di dalam dongeng dan seluruh ketampanan dari para dewa yang diceritakan di pelajaran sejarah.
Dia tampan-….terkadang.
Lebih banyak cantik-…..itu menurut Sehun
Dia memiliki dua mata bulat rusa yang begitu cantik.
Hidung mancung
Kulitnya sangat bersih dan flawless
Dan jika tersenyum kau seperti melihat seluruh kecantikan wanita berpindah padanya.
Tapi jangan katakan itu langsung pada Luhan-…Karena jika kau mengatakan itu di depan Luhan maka hanya ada dua kemungkinan yang terjadi.
Pertama wajahmu lebam karena lemparan bola basket
Kedua kau akan mendengar teriakan sembilan oktaf jika mengatakan dia cantik
Membuat siapapun yang mengenal Luhan tak mau repot-repot mengatakan dia cantik.
Ya semua enggan mengatakan Luhan cantik
Kecuali satu orang-…Oh Sehun tentu saja.
Pria yang kerap menyebut dirinya sebagai Luhan's Number One Fanboy itu tak peduli jika harus berkali-kali lebam karena lemparan bola basket atau futsal.
Dia juga tidak peduli jika gendang telinganya harus pecah jika itu teriakan dari pria yang disukainya sejak kecil.
"LUHAAAN FIGHTIIINGGGG!"
"Oh Sehun jaga image mu!"
Yang ditegur bernama Oh Sehun.
Usianya delapan belas tahun –itu artinya delapan hari lebih tua dari Luhan-
Dan jika Luhan adalah semua kesempurnaan dari semua tokoh manga di komik, maka Sehun tak kalah menawan dari Luhan.
Yang membedakan Luhan bisa terlihat cantik karena sikap dan terkadang hatinya.
Sementara Sehun?
Ah-….Jangan ditanya bagaimana putra kedua padangan Insung-Jihyo ini tumbuh besar.
Karena tak jauh dari sang kakak –Oh Yunho- maka Sehun tumbuh menjadi pria tampan yang kadar ketampanannya terus bertambah seiring berlalunya hari.
Semua mengakui ketampanan Sehun.
Tatapan tajam mata Sehun yang bisa menembak tepat ke hatimu.
Senyum dingin yang bisa membuat lemas tubuhmu.
Rahang tajam seolah menambah tegas bahwa ciptaan Tuhan ini sangat seksi dan sempurna
Dan postur tubuh tinggi tegap dengan bahu lebar dan kekar seolah menggodamu untuk berlari ke pelukannya dan bersembunyi di dada bidangnya.
Ya-…Semua mengakui ketampanan Sehun.
Dia bahkan memiliki fangirl dengan jumlah fantastis di masing-masing sekolahnya.
Semua memuja Sehun layaknya memuja keturunan dewa tertampan di bumi.
Ya-….Semu memuja Oh Sehun.
Kecuali satu orang-….
Ah-…Kalian pasti tahu siapa orangnya.
Luhan-…Ya tentu saja semua pesona Sehun tidak mempan dan tidak bekerja pada Luhan.
Kenapa?
Hanya satu alasan Luhan
"dia konyol"
Begitulah ucapan Luhan saat ditanya mengenai Sehun, Karena tiap kali berhadapan dengan Luhan-….Sehun cenderung bersikap konyol dan memalukan.
Berbeda saat dia berhadapan dengan semua orang termasuk keluarganya –cool dan penuh pesona-
Maka saat Luhan penasaran bagaimana "cool dan penuh pesonanya" seorang Oh Sehun, maka semua orang juga penasaran bagaimana "konyol" nya Sehun karena hanya Luhan yang tahu.
"Apa peduli kalian? Jangan urusi aku-…..LUHAN CUTIEKU SAYANG! WUHUUUUUU"
"ck! MEMALUKAN SEKALI!"
Sebenarnya empat sahabat dari Sehun dan Luhan juga tahu betapa KONYOL seorang OH SEHUN jika itu sudah berkaitan dengan LUHAN "NYA".
Karena tiap kali Luhan perform –entah basket entah dance atau apapun yang Luhan lakukan- Sehun benar-benar terlihat seperti fanboy –tidak- lebih tepatnya seperti fangirl gila yang rela menyerahkan keperawaannya pada si idola.
"LUHAN!"
"astaga!"
Sehun tidak bernafas saat bola itu berada di tangan Luhan,
Dan yang membuatnya geram adalah karena Luhan "nya" dikelilingi dua orang berbadan besar, sama sekali tidak sebanding dengan pria mungilnya "Kalau sampai mereka membuat Luhan cidera, aku bersumpah akan ikut pendaftaran anggota basket berikutnya untuk membalas mereka."
"yang benar saja! Kau tahu teknik melempar bola basketmu seperti apa?"
Baekhyun yang bertanya, membuat Sehun menoleh lalu bertanya sangat penasaran "Seperti apa?"
"Seperti anak ayam."
"MWO?"
Kali ini pria cantik bermata besar yang menimpali, membuat Sehun begitu terhina sementara dua teman cantiknya ber-tos ria di sampng kanan dan kirinya "Kau benar Soo-….Seperti anak ayam."
"YEOL!"
"Omo my giant."
Baekhyun memekik heboh saat pria tampan berlesung pipi milik "nya" memegang bola basket, Chanyeol bahkan dengan mudah melewati lawan dan
Shoot!
"wuhuu….CHANIEKU LUAR BIASA!"
Tanpa kesulitan skor bertambah untuk Hanyang high school. "Harusnya si caplang berterimakasih pada baby seksiku."
"baby hitam maksudmu Soo?"
"ish! Kau tidak lihat siapa yang mengoper bola pada Chanyeol. Itu Jongin-…My baby!"
"ha ha ha….nyonya-nyonya kalian sangat berisik!"
"y-YAK! / OH SEHUN!"
"Kalian memang berisik."
"Tapi setidaknya kami memliki kekasih."
"ish!"
Dan lihat betapa kesal wajah Sehun saat ini, karena sangat berbeda dengan kisah cintanya yang tragis, Baekhyun dan Kyungsoo jauh lebih beruntung darinya.
Karena disaat Sehun –dengan segenap jiwanya- mengejar Luhan.
Maka dua tahun lalu-….tepatnya saat mereka duduk di kelas satu sekolah menengah atas, Kai menyatakan cinta lebih dulu pada Kyungsoo, dan berbeda dari penolakan yang diberikan Luhan untuknya maka Kyungsoo dengan cepat mengatakan "AKU MAU-….AKU MAU JADI KEKASIHMU KAAI"
Ditahun berikutnya Chanyeol yang mengatakan cinta pada Baekhyun, dan tak berbeda jauh dengan jawaban Kyungsoo maka Baekhyun juga mengatakan "ASTAGA YEOL! TENTU SAJA AKU MAU JADI KEKASIHMU!"
Membuat Sehun melihat iri pada dua sahabatnya sementara Luhan menatap jengah tak menyangka dua diva itu bisa memenangkan hati dua pria tampannya.
"Kenapa aku malang sekali."
Puk..puk!
"Kau harus sabar Sehunna."
Baekhyun menatap iba pada sahabatnya, ditepuk pelan pundak Sehun namun tak lama berbisik sangat menjengkelkan di telinga sahabatnya "Kau harus sabar karena sepertinya Luhan tidak akan pernah menerima cintamu."
"y-YAK!"
Priit…..priiittt…
Bersamaan dengan teriakan Sehun maka pluit tanda permainan berakhir pun dibunyikan, membuat Baekhyun dan Kyungsoo bergegas turun menuruni tribun penonton menuju lapangan dan meninggalkan Sehun yang entah mengapa kehilangan gairah hidupnya.
"CHANIEE / KAAAI"
Dari bangku penonton Sehun bisa melihat dua pria cantiknya di peluk kekasih masing-masing, Kai dan Chanyeol juga menciumi sayang wajah Baekhyun dan Kyungsoo membuat Sehun tersenyum pahit.
Senyumnya bahkan terlihat sangat menyedihkan lalu berpindah mencari dimana sosok yang selalu memenuhi mata dan pikirannya berada.
Terus menatap Luhan lalu tak lama tersenyum sangat bahagia saat melihat tubuh sang kapten di lempar ke udara sebagai tanda kemenangan tim sekolah mereka "whoa…Kalau sudah begini aku semakin tidak terlihat."
Sehun pun berdiri dari kursi penonton. Sedikit membersihkan celananya sebelum berjalan ke luar tribun, membiarkan Luhan dan teman-temannya merayakan kemenangan sementara dirinya menunggu dengan sabar di luar lapangan.
"huh? Dia mau kemana?"
Tak sengaja mata Luhan melihat sosok Sehun pergi meninggalkan Lapangan. Bertanya-tanya mengapa Sehun tidak terlihat seperti biasa dan malah terlihat menyedihkan dengan punggung lebar miliknya.
"dia kenapa?"
Sehun yang biasa akan segera turun ke lapangan, berteriak kencang dengan mengatakan "LIHAT KITA MENANG DAN KAPTENNYA MILIKKU!"
Selalu seperti itu selama satu tahun sejak Luhan diangkat menjadi kapten. Membuat si pria cantik bertanya-tanya sampai terdengar suara pelatihnya memberikan selamat.
"Aku bangga pada kalian! Terimakasih sudah memenangkan pertandingan terakhir kalian sebagai siswa Hanyang school."
Luhan bisa melihat Yifan dan Minho menangis haru, Kai berbisik memberitahu Kyungsoo dengan Chanyeol memeluk kekasihnya. Membuat dirinya sebagai kapten juga mau tak mau tersenyum sebelum tertunduk mendengarkan ucapan pelatih.
"Kalian akan segera lulus dan aku mengucapkan terimakasih atas kerja keras kalian selama tiga tahun ini. Aku berdoa yang terbaik untuk kelulusan kalian!"
"Terimakasih saem…"
"Kalian pantas mendapatkan yang terbaik."
Luhan menarik senymnya sekilas, merasa waktu terlalu cepat berlalu mengingat kurang dari tiga bulan lagi mereka semua akan menghadapi ujian negara. Ujian yang akan menentukan masa depan mereka untuk melanjutkan ke tingkat Universitas.
"Dan untuk itu-…..SAEM AKAN MENTRAKTIR KALIAN MAKAN MALAM SEPUASNYA!"
"apa saem bilang?"
Kai bertanya pada Chanyeol, membuat Kyungsoo jengah dan menarik tengkuk kekasihnya "Saem bilang akan mentraktir kalian makan."
"whoa…"
"SAEM! APA AKU DAN KYUNGSOO BOLEH IKUT?"
Pelatih dengan berat 89 kilogram itu menimbang permintaan Baekhyun, sedikit melihat mata Kai dan Chanyeol menatapnya penuh harap sebelum "TENTU SAJA!"
"YEEEYYY!"
"SEGERA BERSIAP DAN KITA AKAN MAKAN SEPUASNYA!"
"yuhuuu….."
.
.
.
.
.
.
.
.
"oy…Oh Sehun!"
Yang disapa sedang menunggu di luar ruang ganti. Sedikit senang karena akhirnya seluruh personel keluar satu persatu dan tak perlu kedinginan lagi di waktu yang sudah menunjukkan pukul delapan malam.
"Oh… hay Minho."
"Menunggu Luhan?"
"Siapa lagi yang aku tunggu." Timpal Sehun lalu tak lama Yifan dan Chanyeol keluar dari ruang ganti.
"Sehunna ayo ikut makan."
"Makan?"
"mmh..Saem mentraktir makan kami semua."
"ayolah Yeol! Dia bukan tim."
Yifan menggerutu kesal pada Chanyeol, dengan Sehun yang mendengus kesal mendengar rencana tim basket sekolahnya. Buru-buru dia melihat ke ruang ganti lalu kembali bertanya pada tiga pemain di depannya "Apa Luhan ikut?"
"Tentu saja! Dia kapten."
"ah-…Benar. Dia kapten." Katanya mengulang lesu lalu mengangkat asal bahunya "Baiklah."
"Kau ikut?"
Sehun menggeleng kecil seraya menunjukkan ponselnya "Aku harus segera pulang." Katanya memberitahu lalu tak lama berpesan pada Chanyeol "Antar Luhan pulang."
"heyy! Aku sudah melakukannya lebih dulu daripada kau! Jadi jangan menyuruhku."
"Baiklah. Tolong antar Luhan pulang. Puas? Aku pergi dulu."
Tak lama Sehun benar-benar pergi meninggalkan lapangan basket, membuat Yifan menatap cengo pria yang sama sekali tak ia sukai sementara Chanyeol merasa ada yang aneh dengan Sehun "Dia bukan Sehun."
Chanyeol terkekeh mendengar gerutuan Yifan, menganngguk cepat dengan mata yang terus melihat sosok Sehun menjauh
"Dia bukan Sehun."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Drrt..drtt…
Di perjalanannya menuju parkiran mobil-….Ponselnya terus bergetar.
Membuat si remaja tampan menghela nafas dan bertanya-tanya mengapa ibunya tidak bisa sedikit lebih sabar menunggu di rumah.
Sret…
"Ma?"
"Sayang kau dimana? Kami semua sudah menunggu."
"Dalam perjalanan. Sebentar lagi aku sampai."
Sehun menendang batu kerikil yang berada di depannya. Sedikit menghela dalam nafas mengingat hal gila yang akan dibebankan padanya "Nak.."
"hmmhh…"
"Jika kau tidak mau kau bisa menolak. Mama dan-…."
"Tunggu aku dirumah Ma. Sampai nanti."
Pip…!
Sehun mematikan cepat ponselnya, berharap hal gila yang dibicarakan keluarganya malam tadi tidaklah serius namun mustahil mengingat hyung nya tidak akan sanggup melakukan seorang diri. "haah-….."
Trang…!
Sehun menendang kaleng soda di depannya diiringi suara bertanya dari seseorang.
"Ada apa? Kau sakit?"
Dia beberapa kali mengusak kasar wajahnya hingga berwarna merah,
Merasa sudah gila karena mendengar suara yang selalu membuatnya berdebar, sebelum perlahan mengangkat wajahnya
"Luhan?"
Rasanya dia seperti melihat Luhan sedang berdiri tepat di depan mobilnya, tengah menatapnya dan masih mengenakan pakaian basketnya yang tanpa lengan.
"tidaktidak-…Luhan sedang makan bersama tim nya."
Dan semakin Sehun menolak itu Luhan-….Maka semakin jelas pula bahwa pria mungilnya memang berada disana, tengah menatapnya dengan tangan terlipat di atas dadanya.
"Luhan?"
"eoh…Ini aku."
"Astaga apa yang-…Sejak kapan kau disini?"
Yang membuat Sehun cemas adalah kenyataan bahwa Luhan masih menggunakan pakaian tandingnya itu hanya mengartikan bahwa Luhan-…Sejak awal si mungil tidak pernah berada di ruang ganti.
Luhan pun melihat arlojinya, sedikit menghitung waktu yang dibuangnya untuk menunggu Sehun sebelum menjawab "Sekitar dua puluh menit."
"Sial!"
Buru-buru Sehun melepas mantelnya. Berjalan mendekati Luhan sebelum
Sret…!
"Kenapa tidak menunggu di tempat lain hmm… Kau bisa kedinginan."
Sehun terus meracau tak jelas seraya memakaikan mantelnya pada Luhan, pikirannya kosong tak tega membayangkan Luhan menunggunya di parkiran mobil selama dua puluh menit, membuatnya begitu gusar namun dibalas begitu tenang oleh si pria cantik.
"Aku ingin pulang denganmu."
"huh?"
Sesaat mata mereka bertemu, saling membaca pikiran masing-masing sampai Luhan dengan mudah menyimpulkan bahwa Sehun di depannya jelas bukan Sehun yang biasa.
Jujur dia cemas, namun saat melihat Sehun nyaris menangis hanya karena tahu dia menunggunya selama dua puluh menit membuat Luhan cukup mengerti. Dia pun tak ingin mengusik topik ini lagi dan lebih memilih untuk bertanya tentang Sehun.
"Kau baik-baik saja?"
Sehun masih diam menatap Luhan, mempelajari tatapan lembut yang Luhan berikan untuknya.
Ini aneh…
Luhan yang biasa hanya akan menatap lembut padanya saat dia sakit, saat dia sedih atau saat papanya berteriak marah padanya.
Bukan seperti ini-…Harusnya Luhan tidak memberi tatapan lembut yang membuat Sehun semakin menyukai pria didepannya –tidak- Sehun sangat mencintai pria di depannya. Membuatnya secara refleks menarik lengan Luhan untuk menyembunyikan si pria mungil di pelukannya.
Seperti biasa Luhan tenggelam di pelukan Sehun. Menikmati bagaimana kehangatan yang selalu diberikan Sehun untuknya, cinta Sehun yang harus Luhan akui bahkan lebih besar dari cinta kedua orang tuanya.
Membuat Luhan tiba-tiba merindukan Sehun dan mulai mengangkat tangannya melingkari pinggang Sehun. Ikut mendekapnya erat dan bersembunyi di pelukan pria yang selalu mencintainya untuk waktu yang lama.
"Kau baik-baik saja kan?"
Sehun meletakkan dagunya di kepala Luhan, detik kemudian dia sedikit menunduk untuk menyesap kuat tengkuk Luhan "Selama kau memelukku aku baik-baik saja."
"Sehun…"
"sst….Sebentar saja. Biarkan aku meminjam tubuhmu sebentar."
Untuk sesaat Sehun meminjam tubuh Luhan, memeluknya sangat erat seraya mengecupi dan menyesap aroma khas si mungil.
Luhan pun sedikit kewalahan menahan berat Sehun.
Ah-…dan jangan lupakan bahwa Sehun juga sedang menyesap kuat tengkuknya, membuat sengatan-sengatan kecil Luhan rasakan di bagian tertentu namun ia tahan untuk membalas erat pelukan Sehun.
"araseo….Kau boleh meminjam tubuhku. Malam ini aku berikan gratis untukmu." Katanya meracau dibalas kekehan gemas oleh Sehun.
"gomawo Lu…"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jadi siapa yang tadi menghubungimu?"
Seolah tidak ingin menyerah-….Luhan terus bertanya pada Sehun tentang siapa yang menghubunginya dan kenapa Sehun terlihat sedih. Membuat Sehun tertawa gemas sebelum mengusap sayang rambut Luhannya.
"Mama."
"Mama?"
Luhan melirik Sehun yang sedang fokus menyetir, menyadari bahwa cara Sehun menyebut nama mamanya juga berbeda adalah hal yang sangat mengganggunya.
"Kenapa mama menghubungimu?"
"Ada sesuatu yang harus dibicarakan sayang."
"Sesuatu? Dan siapa sayang yang kau sebut?"
"ck mulai lagi! Tentu saja kau-…Kau sayangku Lulu cantik."
Dengan gemas Sehun menarik pipi Luhan, menariknya kuat dan berharap perhatian Luhan teralihkan.
"Kau mengalihkan pembicaraan."
"haah-…."
Lagi-lagi Sehun menghela nafas, melirik ke sosok yang selalu berubah menjadi detektif tiap kali dia memiliki masalah sebelum meraih tangan Luhan, mengecupnya sayang.
"Kau tahu Lu-…Kadang aku merasa kau lebih memperhatikan aku. Kau bahkan tahu saat aku menyembunyikan sesuatu darimu, saat aku terlihat sedih atau saat aku gusar. Jadi aku boleh bertanya padamu?"
"Apa?"
"Cinta siapa yang lebih besar? Cintaku atau cintamu? Karena jujur saja-….Aku belum bisa menebak jika kau sedang marah atau sedih. Atau jangan-jangan-…."
Sehun sengaja berbicara menggoda. Membuat Luhan sedikit kesal sebelum dengan gamblang mengatakan "Kau sangat mencintaiku ya?"
"ish! Terus bicara omong kosong dan aku akan lompat dari mobil."
"Tidak lucu Lu."
Tiap kali Luhan mengancam akan menyakiti dirinya sendiri adalah hal yang sanga dibenci Sehun, dia sama sekali tidak suka jika Luhan merasa kesakitan dengan alasan apapun!
Yang perlu dia tahu Luhan baik-baik saja –hanya itu-…..Karena jika sampai dia mendengar Luhan menangis atau sampai terluka, jujur-…..Dia tidak tahu akan melakukan hal gila apa pada orang-orang yang menyakiti Luhannya.
"Kalau begitu jawab aku. Apa yang ingin dibicarakan mama?"
Masih kesal-…..Sehun diam.
Dia pun tidak menaggapi pertanyaan Luhan-….dan Luhan benci.
Membuat si pria cantik menghempas kasar tangan Sehun sebelum berkata "Baiklah jangan temui aku lagi. Aku tidak mau bertemu
dengan-…."
Ckit…!
Mendadak Sehun menepikan mobilnya, membuat Luhan membelalak takut sebelum
Nghmphhh…
Sehun menarik kasar tengkuk Luhan, memaksa untuk mencium Luhan dibalas pukulan kencang di dadanya "Se-..nghpph….Sehunn.."
Selalu seperti ini jika Sehun marah
Dia akan cenderung mencium atau melakukan hal lebih dari sekedar ciuman.
Luhan harusnya benci jika Sehun sudah berlaku kasar dan kurang ajar padanya.
Namun kembali lagi pada alasan bahwa Sehun akan melakukan hal gila dan kasar jika Luhan sudah mulai keras kepala dan tidak mendengarkan.
Dan karena alasan itu pula Luhan mengerti, namun dia tidak suka jika Sehun menciumnya kasar –sangat sakit dan basah- itu pikiran Luhan membuatnya terus memukul dada Sehun namun percuma karena pukulannya seperti cubitan gemas di dada Sehun.
"akh—sehun…"
Dan saat bibirnya dipaksa membuka
Tubuh Sehun berada di atasnya
Hingga terdengar derit mobil bergoyang adalah hal yang paling Luhan takutkan.
Dia memang sudah mengimbangi ciuman Sehun, tapi saat tangan Sehun mengusap kasar ke balik seragam tandingnya dan sesekali menelusup masuk ke celana basketnya-…Luhan menggelinjang.
Dia tidak mau lemas
Karena jika lemas itu artinya dia menyerahkan diri.
Dan jika sudah menyerahkan diri itu artinya tidak bisa berjalan selama beberapa hari
"andwae…!"
Luhan berusaha menyingkirkan tangan nakal Sehun.
Untuk beberapa saat dia terbuai karena ciuman panas dan sentuhan kasar Sehun namun didetik berikutnya dia tidak mau berakhir di "tusuk" di dalam mobil –itu sangat perih- membuat matanya membulat lebar tatkala tangan Sehun sudah menurunkan celananya sebatas lutut.
"andwae.."
Luhan terus menggeleng kuat untuk mengumpulkan tenaga.
Berusaha untuk tidak lemas saat bibir Sehun mengecup tengkuknya.
Tidak mendesah saat tangan besar Sehun mengusap kasar miliknya yang tegang.
Dia mencoba meronta lalu tak lama
"SEHUN AKU TIDAK MAU BERCINTA DI MOBIL!"
"huh?'
Yang sedang menjamah dan mengecupi tubuh bak putri raja itu terdiam, sedikit mengangkat wajahnya untuk memastikan bahwa tidak menyakiti Luhannya sebelum terkekeh melihat si rusa cantik itu sedang menggigit kuat bibirnya, sangat menggemaskan.
"Kenapa tidak mau?"
"Idiot! Terakhir kali kau melakukannya di mobil aku tidak bisa latihan basket dua minggu."
"Itu salahmu karena hanya latihan berdua dengan si gigi naga."
"Kau-….SUDAHLAH! POKOKNYA AKU TIDAK MAU BERCINTA DI MOBIL!"
"Kalau dirumahku mau?"
"Oh Sehun kau-….."
Sehun tertawa sangat geli sementara Luhan mendengus kesal.
Dia bahkan mengutuk perbuatan Sehun yang sudah membuat tegang penisnya lalu harus terpaksa di tutup di balik celananya. Dia juga sudah setengah menarik celananya sebelum tangan Sehun memegang kuat tangannya.
"APA LAGI SIH?"
"Milikmu sudah berdiri."
"Itu salahmu idiot!"
"Aku akan menidurkannya."
"Tidak perlu! Nanti juga hilang sendiri."
"ckck! Kau pasti akan tersiksa sayang."
"Siapa yang kau panggil-…y-YAK—aakh…"
Buru-buru Luhan membekap erat mulutnya yang mendesah.
Dia tahu ini gila-…Tapi rasanya sangat nikmat saat mulut panas Sehun memanjakan miliknya.
Sehun bahkan dengan lihai menyesapnya tanpa harus membuat sakit, membuat Luhan hanya bisa bersandar pasrah di kursi mobil sementara tangannya menjambak nikmat rambut Sehun.
"nghmpp—Sehunn—ahhh…"
Kepalanya mendongak dengan mata terpejam saat Sehun bermain di ujung penisnya, terkadang pria tampan itu juga sengaja mengocok twinsball nya hingga membuat bibir Luhan menggigit dengan seksinya.
"Sebentar lagi Sehun….Sebentar lagi—aakhhhh~"
Dengan hisapan kuat terakhir sebagai service nya-…..Luhan klimaks.
Membuat remaja delapan belas tahun itu menyeringai dan menikmati "susu" malamnya yang terasa nikmat. Dia pun memastikan tak ada yang tersisa dari cairan Luhan sebelum mencari mata rusanya.
"he he he…."
"ck! Kau bahkan tertawa setelah mengerjaiku."
Luhan terkekeh kesal melihat mata bulan sabit Sehun tertawa padanya.
Dan beruntung dia masih lemas-…Karena jika tidak Luhan benar-benar akan memukul pria yang sudah menggagahinya untuk waktu yang lama.
"Aku membuatmu nikmat sayang."
Sehun tak mau kalah dengan Luhan, dia pun menaikkan celana Luhan lalu mengusap sayang keringat yang membanjiri wajah si pria cantik.
"Sudah selesai. Aku akan mengantarmu pulang."
"Terserahmu saja. Aku lemas."
"Tidurlah. Aku akan membangunkanmu saat kita sampai."
Sehun menatapnya terlalu dekat saat ini, membuat Luhan merasa terbakar gairah namun enggan menunjukkan. Dan alih-alih tergoda, Luhan justru dibuat terkekeh menyadari ada sisa cairan miliknya di mulut Sehun.
Membuatnya tanpa ragu mengusap sudut bibir Sehun lalu mengecupnya sekilas "Lain kali jangan menggodaku lagi."
Sehun membalas kecupan Luhan sesaat. Mengigit gemas bibir bawah Luhan sebelum membenarkan mantel miliknya "Kau tahu itu tidak mungkin." Katanya mencium kening Luhan lalu beralih fokus ke tempat duduknya.
"Aku bukan kekasihmu."
"Tetap saja aku mencintaimu. Aku juga sudah memilikimu seutuhnya. Jadi persetan dengan status kekasih."
"ck…Terserahmu saja."
"Baiklah terserahku saja. Kalau pun kau tidak pernah membalas cintaku, aku akan tetap memilikimu."
"Bagaimana bisa?"
"Ya tentu saja bisa. Jika kau menikah aku akan menggunakan segala cara untuk bisa menetap satu rumah dengan suamimu, tengah malam aku akan diam-diam menyelinap ke kamarmu, aku akan memaksamu bercinta dengan suamimu berada tepat disamping kita. Kau akan mendesah aah—sehun—aah…" katanya mempraktekan suara Luhan saat mendesahkan namanya tiap kali mereka bercinta.
Membuat wajah Luhan merah padamu namun diabaikan Sehun yang terus meracau "Aku akan melakukannya berulang dan setiap hari. Lalu-…..BUM! Aku akan membuatmu hamil dan kau akan mengandung anakku. The end of story. Bagaimana? Bagus kan?"
Luhan tertawa mendengar ide gila Sehun. Rasanya begitu beruntung mendapatkan seseorang yang begitu tulus mencintaimu hingga rela melakukan hal gila.
Membuatnya tanpa sadar menarik tengkuk Sehun lalu membalas tatapan pria tampan didepannya "Idemu briliant."
"Whoa…"
Buru-buru Sehun menjauh. Dia tidak tahan jika Luhan mulai dengan senyum manis menggodanya. Membuat jantungnya berdegup kencang dan Sehun sangat kewalahan mengatasinya.
Jantungnya tidak sehat tiap kali menatap Luhan dari dekat. Karena tiap kali menatap Luhan dari dekat-…Jantung Sehun lemah.
Bisa dikatakan dia mengidap penyakit yang dinamakan "Lu's Heart attack" karena hanya bersama Luhan jantungnya berdegup gila. Terkadang hanya karena Luhan dia juga merasa sulit bernafas. Entah apapun itu dia tidak peduli-…..Selama itu Luhan, maka dia rela melakukan dan merasakan apapun untuk Luhannya.
"Kita pulang."
"mmh…Bawa aku pulang."
Tak sadar mata Luhan sudah terpejam.
Sehun pun secara refleks menggenggam tangan Luhan.
Menyalakan mobilnya sebelum menyetir dengan satu tangan untuk membawa bidadarinya beristirahat.
"Selamat malam Lu."
Sepanjang perjalanan ke rumah Luhan, Sehun menciumi tangannya. Membuat awalnya Luhan merasa risih, namun perlahan menjadi kebiasaan untuknya.
Karena tiap kali dia berada di mobil tanpa Sehun, tak sadar dia akan melihat tangannya cukup lama dan begitu rindu dikecupi sayang oleh bibir Sehun.
"Selamat malam Sehunna."
.
.
.
.
.
tobecontinued…
.
.
gemathhh akutuhhhhh :**
.
welcome to our baby Oh Jaehyun, gue sukak bgt pake si casper jadi adenya Sehun / Luhan sama Yunho kakanya. Awalnya gara2 last game waktu Jaehyun jadi rivalnya Luhan. eh keterusan suka ama Jaehyun ;p.
berkah kalo suka berondong mah wkwkwk
.
.
Luhan pen gue toyor bilang gamau tapi –ah..ah juga—wkwkwk!
.
happy reading review :***
