Previous..
"Whoa…"
Buru-buru Sehun menjauh. Dia tidak tahan jika Luhan mulai dengan senyum manis menggodanya. Membuat jantungnya berdegup kencang dan Sehun sangat kewalahan mengatasinya.
Jantungnya tidak sehat tiap kali menatap Luhan dari dekat. Karena tiap kali menatap Luhan dari dekat-…Jantung Sehun lemah.
Bisa dikatakan dia mengidap penyakit yang dinamakan "Lu's Heart attack"karena hanya bersama Luhan jantungnya berdegup gila. Terkadang hanya karena Luhan dia juga merasa sulit bernafas. Entah apapun itu dia tidak peduli-…..Selama itu Luhan,maka dia rela melakukan dan merasakan apapun untuk Luhannya.
"Kita pulang."
"mmh…Bawa aku pulang."
Tak sadar mata Luhan sudah terpejam.
Sehun pun secararefleksmenggenggam tangan Luhan.
Menyalakan mobilnya sebelum menyetir dengan satu tangan untuk membawa bidadarinya beristirahat.
"Selamat malam Lu."
Sepanjang perjalanan ke rumah Luhan, Sehun menciumi tangannya. Membuat awalnya Luhan merasa risih, namun perlahan menjadi kebiasaan untuknya.
Karena tiap kali dia berada di mobil tanpa Sehun, tak sadar dia akan melihat tangannya cukup lama dan begitu rindu dikecupi sayang oleh bibir Sehun.
"Selamat malam Sehunna."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Je'Te Veux
.
.
.
.
.
Main cast : Sehun-Luhan
Rate : T-M
.
.
.
Cklek…
"HYUNG!"
Yang menyapa adalah anak lelaki berusia sepuluh tahun.
Wajahnya jelas tampan seperti dua kakaknya, tapi dari ketiga bersaudara itu, si bungsulah yang memiliki perpaduan sempurna dari kedua orang tuanya –entah dari bentuk wajah maupun warna kulit- dia juara menadingi dua kakak kandungnya.
Karena jika Yunho –si kakak sulung- memiliki wajah dengan tatapan eksotis
Dan Sehun –si kakak kedua- memiliki rahang tajam yang menyempurnakan ketampanan dan caranya menatap seseorang
Maka Jaehyun –si bungsu- memiliki dua perpaduan sempurna dari orang tuanya dan kedua kakaknya. Dia memiliki cacat indah di pipinya, cacat yang membuat dua lekukan kecil terlihat saat dia tersenyum dan tertawa.
"Hey Jae."
"Hyung cepat! Semua sudah menunggu."
Dan saat si bungsu menarik tangannya, maka putra nomor dua keluarga Oh hanya bisa menghela dalam nafas tanda tak bisa menolak apapun keputusan yang telah ditujukan untuknya.
"Ma! HYUNG DATANG!"
"Jae tidak perlu berteriak sayang." Jihyo memperingatkan si bungsu sebelum beralih pada putranya yang lain "Nak. Sudah pulang?"
"mmh…Aku pulang."
Dia marah –jelas terlihat- tapi dia tidak memiliki hak untuk berkata kasar pada kedua orang tuanya terutama sang mama.
Dan untuk menghindari isakan terdengar dari satu-satunya wanita di keluarga mereka-…Sehun mengalah. Dia pun mendekati Jihyo seraya mencium sekilas dua pipi mamanya "Maaf terlambat." Ujarnya setengah lirih lalu menarik kursi di samping Yunho yang juga menatap iba padanya.
"Hyung."
"Hey adik kecil."
"Aku bukan adik kecil, Jaehyun adik kecil."
"Jaehyun si bungsu, kau adik kecil hyung."
Yunho bersikeras mengatakan hal itu pada Sehun, karena untuknya Sehun tetaplah adik kecilnya yang suka menceritakan banyak hal, berbeda dengan Jaehyun yang lebih suka bercerita pada ibu mereka. Membuat si sulung tertawa kecil lalu tak lama berbisik pada Sehun "Duduklah. Ingat apa yang aku katakan. Kau bisa menolak jika-…."
"Jadi Sehun? Apa kau sudah membuat keputusan? Ayah ingin mendengarnya langsung."
"kau bisa menolak jika keberatan."
"Yunho!"
"araseo!"
Yunho membalas teguran sang ayah, kedua ayah-anak itu sempat bersitegang dibalas tatapan cemas dari satu-satunya wanita di keluarga mereka "Nak, benar kata hyung kau bisa menolak jika mau. Kau tidak perlu-…."
"Yeobo!"
Jihyo menatap sengit suaminya, belum pernah sepanjang pernikahan mereka dia merasa begitu marah pada sang suami.
Dulu dia memaksa Yunho, namun dengan tegas si sulung mengatakan tidak
Berbeda dengan hari ini, sejak Sehunnya berusia enam belas tahun, dia selalu menerapkan ucapan konyol mengenai keinginan mendiang kakek yang dibebankan padanya.
Membuat Sehun –si pemilik wajah stoic namun berhati snow white- jelas tidak tega melihat ayahnya disalahkan oleh ibu dan kakanya.
Pada dasarnya, Sehun itu sangat mengagumi sang ayah. Dari cara ayahnya mendidik Yunho, dirinya dan Jaehyun, cara ayahnya mencintai sang ibu, cara ayahnya yang tanpa ragu mengungkap dengan tegas kejahatan di persidangan.
Ya-..semua hal yang dilakukan Insung membuat Sehun sangat mengagumi ayahnya, Dan yang paling membuat si nomor dua kagum adalah bagaimana sang ayah bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarganya.
Tidak pernah sekalipun sang ayah yang berprofesi sebagai jaksa terlambat atau paling buruk tidak hadir di acara-acara penting keluarga mereka. Terakhir adalah pertunangan Yunho dan Jaejoong, walaupun terlambat karena sidang, setidaknya sang ayah datang dan Yunho tak merengek kecewa.
Membuat Sehun bersumpah sejak itu, bahwa apapun yang terjadi nanti dia akan menjadi ayah dan suami seperti ayahnya.
Termasuk dengan menjalani keputusan sulit yang akan dibebankan untuknya-…seperti malam ini.
"Jadi bagaimana nak? Papa menunggu keputusanmu, keputusanmu yang bijak." Katanya menekankan kalimat terakhir hingga membuat Sehun ragu karenanya.
Janji ayahnya adalah saat dia selesai nanti dia bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan. Dan mengingat Luhannya adalah seorang maniak game dan barang mewah maka itu bisa dijadikan salah satu alasan kuat Sehun untuk menjadi pria yang lebih mapan untuk menghidupi Luhan, Luhannya.
Ya…Lagi-lagi hanya Luhan yang memenuhi kepalanya.
Katakanlah rasa cintanya untuk keluarga dan Luhan sama besar.
Karena jika Sehun bersedia untuk mengikuti keinginan ayahnya, maka bisa dipastikan pula dia akan menikahi Luhan di usia muda, itu tujuan hidpupnya.
Dia pun hanya diam sesaat, memang sulit karena harus berjauhan dengan Luhan untuk sementara. Tapi mengingat dia bisa hidup dengan Luhan selamanya setelah ini-…dia tersenyum simpul.
Jihyo bahkan melihat senyum simpul di bibir putranya. Membuatnya sangat cemas sampai suara Sehun terdengar menjawab dan membuat tubuhnya lemas.
"Baiklah. Aku akan meneruskan kuliah di Beijing. Aku juga akan belajar bisnis di temani Paman Garry dan Paman Kwangsoo. Setelahnya, biar aku yang ambil alih perusahaan kakek."
"bagus!"
Insung memekik senang, Jihyo sangat terpukul sementara Yunho terkekeh. Dia pun menyenggol pundak Sehun seraya berbisik "Kau yakin?"
"Jika setelah kuliah aku bisa sangat mapan, aku sangat yakin."
"ck! Pasti Luhan."
Sehun mengangguk lalu tersenyum sangat menjijikan "Selalu karena Luhan." Timpalnya tersipu dibalas suara kemenangan oleh si bungsu "Jika hyung pergi, aku Oh Jaehyun-…Bersumpah akan mendekati Lulu hyung dan menikahinya lebih dulu sebelum Sehun hyung!. Itu janji seorang-…"
Pletak!
"HYUNG!"
"Kau mau jadi saingan hyung? Berani?"
"he he he…"
"astaga bocah!"
"Kau juga bocah saat kali pertama menyukai Luhan."
"ish!"
Dan saat ketiga putranya tertawa bersama, kekhawatiran Jihyo tentang kepergian Sehun seolah menghilang seiring tawa ketiga putranya.
Dia pun diam-diam memperhatikan ketiga buah hatinya dengan senyum sampai tak sengaja menatap punggung sang suami masuk kedalam ruang kerjanya.
"yeobo…."
Dia kemudian mengikuti kemana suaminya pergi, meninggalkan tiga buah hatinya sampai tak lama terdengar suara suaminya terdengar misterius dan penuh amarah.
Pastikan kau menjauhkan putraku dengan putra pembunuh ayahku. Kau dengar?
TIDAK! SEHUNKU TIDAK AKAN HIDUP BERSAMA LUHAN-…BERSAMA PUTRA DARI BAJINGAN YANG SELAMA INI BERSEMBUNYI DARIKU! TIDAK AKAN PERNAH!
BRAK….!
Insung membeku di tempatnya, dia jelas mendengar suara seseorang terjatuh. Hatinya ragu untuk menoleh, tapi saat suara isakan itu terdengar maka sudah dipastikan bahwa itu istrinya yang mendengar semua apa yang baru saja dikatakannya.
"yeobo?"
"tega sekali kau pada Sehun-….TEGA SEKALI KAU!"
"ssst….sayangku."
Buru-buru Insung mengunci ruang kerjanya. Bersyukur karena ruang kerjanya kedap suara hingga suara istrinya tidak terdengar sampai ke telinga anak-anaknya. Dia pun mencoba menenangkan Jihyo yang terus menangis dibalas jeritan kencang oleh sang istri "APA YANG KAU LAKUKAN? KENAPA KAU MENGUSIK LUHAN?! KAU SUDAH JANJI PADAKU SAYANG! KAU SUDAH JANJI TIDAK AKAN MENGUSIK LUHAN!"
"Aku tidak mengusiknya. Kau tahu itu, aku hanya menjauhkannya dari Sehun, putra kita."
"KAU MEMBUNUH PUTRA KITA JIKA SEPERTI ITU! KAU TAHU DIA SANGAT MENYUKAI LUHAN. LUHAN ALASAN DIA SELALU INGIN MENJADI PRIA YANG LEBIH BAIK! TAPI KAU JUSTRU INGIN MERENGGUT SEMUANYA!"
Insung tersenyum kecil, ingin rasanya dia melupakan. Tapi saat kenyataan berkata sebaliknya, maka hanya lirihan kecil penuh kebencian yang terpaksa dia lontarkan "Ini sudah keputusanku. Aku akan membuat Sehun melupakan Luhan, bagaimanapun caranya."
.
.
.
.
.
Sementara ayahnya sedang berusaha menggunakan segala cara untuk memisahkannya dari Luhan, maka remaja delapan belas tahun itu juga mempunyai tekad sekuat baja untuk bersama dengan Luhan.
Dia memang menyetujui untuk pergi sementara, tapi bukan untuk meninggalkan Luhan. Karena sebaliknya-….Tujuan hidupnya adalah membuat Luhan bergantung padanya, dan saat dia memiliki kesempatan untuk menghidupi Luhan secara mapan, maka hanya keyakinan yang dia rasakan saat ini.
Sret…!
Waktu saat ini sudah menunjukkan dini hari, tepatnya satu dini hari.
Tapi lihat si ninja turtle yang selalu memanjat kamar kekasihnya di waktu malam hari. Seolah sangat hafal bagian dari kamar si pujaan hati, maka disinilah Sehun, sedang menatap si putri tidur dengan kaki berpijak pada jendela kamar Luhan di lantai dua.
"nghh…Sehun tutup jendela kamarku. Dingin. Lagipula aku sangat benci jika kau datang tengah malam seperti ini!"
Dan jika Sehun sudah sangat hafal seluruh cela kamar Luhan, maka Luhan dengan mudah menebak bahwa yang selalu membuatnya kedinginan di tengah malam adalah si ninja –begitulah Luhan menyebutnya- yang selalu datang mengendap ke kamarnya di tengah malam.
Entah untuk sekedar memeluknya selama satu jam atau tiba-tiba mengajaknya bercinta-….Luhan sudah sangat terbiasa. Karena disaat matanya terpejam sekalipun dia bisa menebak itu memang Sehun yang berada di kamarnya saat ini.
"ck! Kau bilang benci tapi tidak pernah mengunci pintu kamar, bagaimana jika yang datang penculik dan bukan aku?"
"hanya penculik bodoh yang rela memanjat dari ketinggian empat meter. Mereka bisa saja masuk paksa dari pintu utama."
Matanya masih terpejam, tapi sungguh-…Itu sama sekali tidak mengurangi sedikit pun rasa ketusnya pada Sehun. Membuat Sehun terkekeh lalu kembali menutup jendela kamar dan tak lama berjalan mendekati tempat tidur super mewah bernuansa hello kitty dan iron man yang sengaja "ditabrak" paksa oleh si pemilik kamar.
Sret…!
Sehun membuka paksa selimut Luhan, membuat secara refleks Luhan bergeser dan membiarkan si pemilik tangan kekar melingkarkan lengan di pinggangnya. Dia pun meletakkan dagunya di pundak Luhan seraya bertanya "Aku mengganggumu?"
"Jangan bertanya jika tahu jawabannya."
"ish! Ketus sekali calon istriku."
Malas berdebat Luhan hanya membiarkan Sehun bermain di tubuhnya, entah bibirnya mencium keningnya, atau tangan yang semakin memeluknya erat-…Dia tidak peduli.
Selama dia merasa hangat dan nyaman, dia akan membiarkan si bayi besar melakukan apapun yang diinginkannya. "Aku tidak mau bercinta, kau dengar?"
"….."
Sehun hanya terus menciumi tengkuk Luhan, menyesap banyak aroma yang akan ia rindukan dalam diam. Terlalu diam sampai membuat Luhan bertanya-tanya. Sehun yang biasanya cenderung akan menyerang dengan nafsu, jarang sekali mereka tidak bercinta jika dia sudah menyusup ke dalam kamar, tapi saat menyadari yang dilakukan Sehun hanya terus mendekapnya erat, itu membuat Luhan cemas.
Dia pun segera membalikan tubuhnya. Matanya yang berat juga dipaksa terbuka. Dia kemudian mencari dimana mata Sehun sampai hanya terlihat tatapan sendu di dua mata yang selalu menatapnya penuh cinta selama sepuluh tahun "Kau baik-baik saja?"
Sehun tersenyum, dia menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah sempurna Luhan, lalu detik berikutnya dia membalas tatapan cemas si pemilik mata rusa sebelum mengecup sayang kening pria yang sudah membuatnya tergila-gila untuk waktu yang lama.
"Aku akan merindukanmu."
"Kenapa kau merindukan aku? Aku ada di depanmu."
Luhan membalasnya –lembut kali ini- entah mengapa Sehun terlihat sangat aneh malam ini, membuatnya sedikit cemas mengingat sepanjang hari ini Sehun memang terlihat memikirkan sesuatu.
"Sekalipun kau ada di depan mataku, aku memang selalu merindukanmu."
"tsk!"
"Teruslah menggerutu. Aku akan sangat merindukannya."
"Apa kau ingin mengatakan sesuatu padaku?"
Sehun tersenyum, diusapnya sayang wajah Luhan lalu tak lama dia kecup bibir lembut milik si pria cantik. Memaksa Luhan membuka mulutnya hingga dalam hitungan detik ciuman mereka menjadi terlalu panas dengan lidah membelit satu sama lain.
Sehun secepat kilat merubah posisi mereka, dalam kedipan mata dia sudah mengukung Luhan tanpa melepas pagutan panas mereka. Awalnya sungguh-…dia tidak berniat menyentuh Luhan malam ini, tapi jangan salahkan hormon remajanya yang meletup panas tiap kali bersentuhan dengan pujaan hatinya.
Membuat dia tanpa ragu menyusuri lebih dalam bibir mungil yang selalu mendesahkan namanya sebelum Luhan mendorong dadanya, tanda meminta oksigen untuk sesaat.
"haah-…haah…"
Dirasa cukup mengambil oksigen, Sehun berniat kembali mencium Luhan. Dia terus menurunkan tubuhnya untuk mengecup Luhan namun di waktu yang sama Luhan menahan dadanya, tanda bahwa dia meminta waktu sedikit lagi "Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Apa?"
"Apa ada yang ingin kau katakan padaku?"
Sehun mengangguk, detik berikutnya dia membawa tangan Luhan yang menahan dadanya untuk melingkar di tengkuk miliknya. Dia kemudian menempelkan dua dahi mereka seraya berbisik "Nanti setelah aku selesai menjamahmu, aku akan mengatakan hal yang ingin kau dengar." Katanya seduktif dan tak lama
Akh…~
Dilihat bagaimana tangannya secara lihai mempermainkan tubuh Luhan-….jelas Luhan mendesah.
Dan dilihat bagaimana bibirnya mengeksplor kesuluruhan tubuh Luhan-…jelas Luhan mabuk kepayang.
Sehun terus memastikan tubuh si mungil meliuk resah di bawahnya, memastikan bahwa hanya kenikmatan yang Luhan rasakan, memastikan hanya namanya yang Luhan sebut saat nikmat menjemput mereka.
Peluh, resah mereka abaikan yang ada hanya ada suara nafas tersengal, bunyi decit kasur pun seolah bersahtan dengan desahan saat dua tubuh menyatu. Luhan mencakar dalam punggung Sehun sementara Sehun menghentak kuat hingga masuk sampai ke ujung terdalam di tubuh Luhan.
Sesekali tubuh Luhan mengangkat sebagai respon sementara ciuman panas Sehun terus memenuhi syarafnya yang tegang. Dan setelah puas menjahili tubuh si mungil dibawahnya, maka bibirnya kini memenhi bibir Luhan lagi. Menciumnya terlalu dalam sampai
Sehunna—ngmphh~ / Luhan!—mmph!
Dan setelahnya dua anak manusia itu saling menjemput nikmat bersama, meneriaki nama masing-masing seolah hari esok ditiadakan oleh gemuruh rasa rindu malam ini.
.
.
.
.
.
.
.
Dan keeokan paginya Sehun tidak datang ke sekolah –tidak- ini sudah hari ketiga Sehun tidak masuk sekolah. Luhan cemas –sangat- tapi karena tak ingin digoda oleh teman-temannya-…dia diam. Sesekali terlihat tak peduli. Seperti hari ini misalnya, saat jadwal ujian mereka sudah keluar maka matanya hanya memandang bangku kosong Sehun yang berada tepat di depannya.
"sebenarnya kau kemana?"
Lirihnya pilu diikuti suara guru mereka yang mengatakan minggu depan kalian akan menghadapi ujian negara. Jadi siapkan diri kalian dan belajarlah lebih giat. Mengerti?
Ya saem…
Beberapa siswa dan siswi menyahut bersamaan, jelas antara takut dan bersemangat mendominasi ruang kelas mereka. Namun semua itu seolah tidak penting untuk Luhan karena saat ini Sehun dan sikapnya yang aneh mendominasi isi kepalanya.
Tringg…tringgg….
Dan ketika bel berbunyi, maka dia bergegas mengambil tasnya. Berniat untuk datang ke rumah Sehun sebelum tak sengaja mendengar suara kekasih sahabatnya –Baekhyun- sedang berbicara serius dengan sahabatnya yang lain –Kyungsoo-
"Percuma kita kesana. Sehun tidak dirumah."
"Kau yakin Baek?"
"mmh…Pagi tadi aku datang ke rumahnya dan bibi Kim bilang Sehun sedang sibuk mengurus sesuatu, dia pergi-…"
"Mengurus sesuatu? Mengurus apa?"
Dua pria cantik itu menoleh saat suara Luhan terdengar, dan mengabaikan ketidak-akuran mereka selama ini maka ada tiga pria cantik yang kini berbicara di satu meja "Entahlah. Jika tahu memangnya kau mau apa?"
"ish!"
Yang paling merasa Manly –Luhan- tergoda untuk memukul yang paling centil –Baekhyun tentu saja- tapi saat tangannya ditahan oleh seseorang dan itu adalah sahabatnya sendiri maka mata rusanya kini melotot sangat menakutkan "Kenapa memegang tangaku?"
"Karena tangan mulusmu ini akan memukul kepala kekasihku, itu dilarang Luhannie."
Chanyeol mengerling Luhan seraya menciumi tangan mulus sahabatnya. Terlalu lama hingga si kekasih menggeram marah dan tentu saja berteriak karena cemburu "PARK DOBBY BERHENTI AMBIL KESEMPATAN!"
"huh?" Chanyeol bergumam bingung sebelum "ah-….Tangan Luhan terlalu lembut."
Buru-buru dia melepas tangan Luhan lalu menarik lengan Baekhyun untuk diciumnya panas.
Detik berikutnya Baekhyun dan Chanyeol sudah terlalu sibuk dengan dunia mereka sementara Luhan menatap penuh harap pada Kyungsoo "Kau mau pergi kerumah Sehun?"
Kyungsoo mengangkat dua bahunya. Sekilas memasukkan bukunya ke dalam tas lalu menatap Luhan sedikit ragu "Hari ini aku menemani Kai latihan dance. Jadi aku rasa tidak hari ini, lagipula kau dengar dari Baekhyun, Sehun tidak dirumah."
"Begitukah?"
"Begitulah."
Sebenarnya bisa saja Luhan tetap datang ke rumah Sehun, dia bahkan bisa menunggu di kamar pria yang selalu mengganggunya delapan belas jam sehari. Tapi entah mengapa belakangan ini dia menjadi takut jika harus datang sendiri ke rumah Sehun.
Karena selain takut berada di rumah Sehun, pernah sekali Insung –ayah Sehun- mengatakan "Jangan terlalu sering datang ke rumahku. Datanglah seperlunya. Dan Luhan-….Jangan terlalu sering bergaul dengan putraku. Itu tidak baik untuk kalian.
Dan semenjak hari itu, Luhan selalu ragu untuk datang ke rumah Sehun. Terlebih jika ayah Sehun berada disana. Membuatnya takut dan berakhir harus mengambil banyak nafasnya
"Baiklah. Aku akan menghubunginya lagi. Sampai nanti Soo." Katanya memanggul tas lalu tak lama berjalan lesu meninggalkan kelas.
Sesekali dia juga melihat ponsel, berharap Sehun menghubunginya namun NIHIL-…Tak ada satupun panggilan dan pesan masuk. Yang ada hanya walpaper wajah idiotnya yang menghiasi ponsel "cepat datang dan jangan membuatku marah Oh Sehun."
.
.
.
.
.
.
.
.
Tring…
"Aku datang."
Luhan baru saja memasuki toko roti milik ayahnya. Membuang asal tasnya lalu tak lama duduk dan menyembunyikan wajahnya di meja favoritnya bersama Sehun. Dia masih betah berlama-lama dengan posisi itu sampai terdengar suara lain yang menyapanya.
"aigoo….Lulu sayang kenapa murung?"
Yang menyapanya adalah Seunghyun –Luhan biasanya memanggil Tabi-. Pria bertubuh besar dan memiliki wajah abstrak itu adalah pegawai ayahnya –pemuda tampan yang rela menghabiskan waktu selama berjam-jam hanya untuk membuat kue-
Awal bertemu dengan Seunghyun, Luhan menganggapnya gila. Terlalu gila bahkan hingga sekarang, tapi saat Seunghyun menunjukkan kecintannya pada roti, maka barulah Luhan mengerti bahwa seseorang akan rela melakukan apapun demi hal yang mereka sukai.
Jika mengingat hal itu dia tersenyum, Sehun juga sama-….Dia juga melakukan segala hal untuknya. Terkadang terlalu gila sampai rasanya Luhan dibawa gila bersama dengan banyak hal yang dilakukan Sehun untuknya.
Sret….!
Seunghyun menarik kursi di samping Luhan, mengusap gemas si pemilik surai cantik untuk bertanya apa yang membuatnya terlihat sedih "Ada apa? Kenapa lesu? Kau kalah bertanding?"
"Aku jagoan. Tidak mungkin kalah." Katanya bergumam kecil dengan wajah yang terus tersembunyi di balik meja. Seunghyun pun tak menyerah dan tak lama bertanya "Lalu apa Mama dan Papa memarahimu."
"Mereka sering memarahiku, aku sudah terbiasa."
"Lalu apa?"
"Entahlah. Aku kesal hyung."
"Karena?"
"Entahlah."
Seunghyun melipat tangan di atas dadanya. Berfikir menggunakan otak detektifnya sebelum menjetikkan jari tanda dia tahu alasan mengapa Luhan terlihat gusar "Apa bocah itu akhirnya menyerah padamu? Dia sudah memiliki kekasih? Atau dia-…"
"HYUNG!"
"astaga Xi LUHAN!"
Keduanya sama-sama berteriak. Yang satu kesal sementara yang satu terkejut. Mereka pun saling melempar pandangan sengit sampai suara si pemilik toko kue terdengar menginterupsi.
"Anak papa kenapa berteriak?"
"Paaa…"
Luhan merengek, dia membuka pintu batas antara customer dan owner untuk memeluk ayahnya. "Harum…"
Dan satu yang selalu Luhan sukai dari toko kue milik ayahnya adalah bau khas dari tepung yang dipanggang bercampur menjadi satu dari isi tambahan si roti, entah cheese, chocolate ataupun bahan tambahan dari roti yang dibuat, Luhan sangat menyukainya.
Membuatnya betah berlama-lama memeluk sang ayah sebelum Chen melepas pelukan putranya "Ada apa? Kenapa terlihat gusar?"
"Aku tidak!"
"Bibirmu terus mengerucut, dahi terus mengerut. Jika bukan gusar lalu apa namanya? Merengek?"
"Paaaa…"
"Baiklah papa salah. Apa kau mau coba resep terbaru papa? Cheese almond dicampur balutan mozzarella disetiap gigitannya. Kau mau coba nak?"
"Nanti saja, aku tidak lapar."
Sang baker tertawa gemas melihat putranya gusar. Dia pun melepas cepat apron merah yang digunakan sebelum mengangkat dagu satu-satunya buah hati yang begitu ia cintai "Jadi benar kau gusar karena Sehun tidak datang ke sekolah? Karena sudah tiga hari kau tidak melihat wajahnya?"
"Kenapa aku harus-…Tunggu! Darimana papa tahu Sehun tidak datang ke sekolah?" katanya menyelidik dibalas kekehan dari sang ayah.
"Karena Sehun sendiri yang mengatakannya pada papa."
"huh?"
"Dia sudah menunggu disana selama dua jam."
Luhan mengikuti kemana arah ayahnya menunjuk. Dan ya-…Tak perlu menahan rindu lebih lama karena memang Sehun berada disana, di bagian luar toko roti ayahnya. Dia sedang tertawa tapi yang membuat Luhan kesal adalah dia tertawa bersama tiga wanita yang sepertinya memiliki usia lebih tua dari mereka.
"yang benar saja Oh Sehun! Apa yang kau tertawakan disana?"
Sebenarnya dia bersyukur karena Sehun baik-baik saja, tapi saat melihat mata bulan sabitnya mulai tebar pesona, maka hanya kegusaran luar biasa yang dia rasakan –terlihat dari tangannya yang terkepal-. Luhan mungkin akan berteriak gila jika ayahnya tidak kembali berbisik
"Sehun bilang pada ayah aboji….pasti Luhan akan terlihat sedih. Dan saat papa tanya kenapa kau sedih, dia langsung menjawab karena merindukan aku."
"ck! Terlalu percaya diri."
"Tapi papa rasa Sehun benar, putra papa merindukan kekasihnya."
"Terserah papa mau bilang apa, yang jelas dia mati hari ini." Katanya kembali keluar dari area pembatas customer dan owner dengan mata berkilat. Tujuannya hanya si pria tampan yang terlihat sangat dewasa dengan kemeja hitamnya.
"ha ha ha benar noona. Kau cantik dengan warna merah muda. Sangat cute untukku."
"kau benar-benar cari mati ya?"
Luhan mendengar gombalan Sehun untuk tiga wanita di depannya. Terlalu mendengar sampai akhirnya dia bisa menjangkau Sehun dan menjerit sangat kencang
"OH SEHUN!"
"astaga!"
Tiga wanita yang sedang tertawa itu sangat terkejut, berbeda dengan satu-satunya pria tampan yang sudah menebak teriakan itu akan terjadi. Dia terlihat tenang, terlalu tenang untuk menoleh dan menyapa sang pujaan hati yang terlihat sangat mengerikan saat ini.
"Hey sayang. Kau sudah datang?"
"Sayang?"
Sementara Noona berbaju merah terlihat marah, maka Sehun membalasnya santai ditambah seringai khas miliknya. Dia pun berjalan ke belakang Luhan, melingkarkan lengannya di pinggang ramping si pria mungil lalu mencium mesra pipi Luhan di depan tiga wanita yang terus menggodanya selama tiga jam "Dia kekasihku noona."
"MWO? Ish! Kita buang-buang waktu disini."
Satu persatu, tiga wanita itu pun pergi. Meninggalkan Luhan yang masih marah sementara Sehun kini bebas menciumi tengkuk Luhan. Dia rindu-…jelas sudah tiga hari tak bertemu.
Dan Luhan membiarkannya beberapa saat sebelum
"OH SEHUN KEMANA SAJA KAU-…hkss."
Luhan melompat ke pelukan Sehun, dia mencoba untuk tenang namun gagal, nyatanya dia tidak pernah bisa tidak melihat Sehun walau sehari saja. Membuatnya terlihat sangat lemah namun diabaikan karena saat ini dia hanya ingin terlihat lemah agar Sehun terus menjaganya,
"brengsek! Aku merindukanmu-..hkss-hksss.."
Rasanya jarang melihat Luhan menangis –terlebih karena merindukannya- tapi hari ini terjadi –dan Sehun sakit karena tangisan itu- pikirannya terbagi untuk banyak hal, ini baru tiga hari belum tiga tahun tapi Luhan sudah menangis memilukan seperti ini, -jadi bagaimana aku bisa memberitahumu- sekiranya itu teriakan yang ada di dalam kepala Sehun saat ini.
Dia kemudian membalas pelukan terlampau kencang si pria cantik dengan sama rindunya. Menyesal karena keputusannya namun tak akan mengubah sedikitpun mimpinya untuk untuk menjadi pria mapan yang bisa membahagiakan dan memenuhi apapun yang Luhan inginkan, apapun.
.
.
.
.
.
.
.
"Lu sudahlah. Ampuni aku, jangan kasar lagi berbicaranya."
"Terserah diriku bit*h."
"Katakan itu lagi dan aku akan menggenjotmu sampai pagi –tidak- sampai besok pagi lagi atau sampai bibir mungilmu berhenti mengumpat kasar."
Tubuh mereka polos, posisinya si mungil berada di pangkuan pria yang selalu memuja dirinya.
Dan dilihat dari pakaian yang tergeletak berantakan di lantai, peluh yang membasahi keduanya serta bau khas dari dua orang yang baru selesai bergumul panas, maka pastilah mereka baru selesai bercinta.
Luhan baru saja memuaskan hasratnya dengan posisi favoritnya –on top- namun enggan untuk melepasnya dan hanya membuat Sehun merasa kewalahan dengan berat tubuhnya. Sebenarnya bukan berat Luhan yang membuatnya kewalahan, tapi karena miliknya masih berada di dalam tubuh Luhan-….dia cemas.
Cemas tidak bisa menahan diri dan berakhir mendapat teguran dari dua orang tua Luhan yang akan segera kembali kerumah.
"ha ha ha. Terserahku saja. Aku-….nghhppmph.."
Satu gerakan cepat Sehun kembali mengubah posisi. Dia pun dengan leluasa mengeluarkan tautan mereka di bawah sana sementara bibirnya mengeksplor bibir Luhan cukup lama. Terlalu lama sampai akhirnya dia berbaik hati melepas dan kini menatap Luhan begitu lembut.
"Maaf sudah membuatmu gusar." Katanya menatap Luhan cukup lama lalu bergegas memakai cepat pakaiannya dan beralih mengambil piyama Luhan di lemari.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan? Kenapa aku merasa kau menyembunyikan sesuatu?"
Sehun mengabaikan pertanyaan Luhan, yang dia lakukan hanya memakaikan piyama di tubuh sang pujaan hati seraya mengusap pipinya agar tenang "Kau bisa bertanya apapun setelah kita selesai ujian."
"Kenapa tidak sekarang?" katanya protes lalu dibalas kecupan lembut di keningnya. Dia juga merasa Sehun kelelahan entah karena apa. Membuatnya ingin mengerti namun berakhir sangat ingin tahu saat Sehun mengatakan
"Karena aku tidak mau ujianmu terganggu."
.
.
.
.
.
.
.
"yey! KITA RESMI MENJADI MAHASISWA!"
Baekhyun yang berteriak, disambut sorakan senang dari teman-teman mereka yang lain. Saat ini mereka sedang melihat papan pengumuman dan begitu senang karena dinyatakan lulus.
Semuanya bersorak tak terkecuali Sehun yang sedang berjinjit dan memastikan sekali lagi bahwa namanya terdaftar dan dinyatakan lulus "yeah! Itu namaku. Aku juga lulus." Katanya menjerit senang lalu mencari kemudian mencari nama Luhan dan
"yeah! KITA BISA MENIKAH LU! KITA BUKAN BOCAH LAGI!"
Jika yang lain berteriak bahagia karena bisa masuk ke universitas, maka si idiot Oh Sehun selalu memiliki cara pandang seribu kali lebih jauh dari teman-temannya. Yang dia pikirkan bagaimana cara menikahi Luhan, dan saat kalimat LULUS itu tertera maka hanya ada menikahi Luhan di kepalanya.
"yey! Satu langkah lagi dan aku bisa menikahimu. Aku tidak tahu rasanya menjadi dewasa itu sangat menyenangkan."
Sehun terus meracau gila sementara Luhan bosan berteriak. Dia pun hanya membiarkan Sehun memeluk dan mengangkat tubuhnya di depan seluruh teman-temannya.
"ck! Oh Sehun tampangnya saja keren, kelakuannya NOL jika sudah di dekat Luhan!"
"Kau benar! Ayo kita pergi, aku muak melihat kemesraan mereka."
Itu teman wanita mereka yang tergabung di OSH Fans Club. Terlihat sangat iri karena Sehun begitu memuja Luhan. Iri memang, tapi setidaknya mereka mundur secara terhormat hingga masih memiliki wajah saat menatap Sehun maupun Luhan –Luhan terutama-
"Sehunna turunkan aku."
Membuat si pria cantik terkekeh, lalu meminta turun dari gendongan Sehun. Keduanya bertatapan cukup lama, hanya melemparkan ucapan selamat penuh cinta di tatapan mereka.
"Hey."
Sampai akhirnya tangan mungil Luhan menangkup wajahnya-…Sehun berdesir hangat.
"Selamat untuk kelulusanmu Sehunna."
Dia kemudian berjinjit untuk mengecup kening Sehun, mengecupnya sayang hingga rasanya Sehun rela menukarkan apapun yang dimilikinya untuk hidup bersama Luhan, selamanya.
"Kau juga Luhan, selamat untuk kelulusanmu."
Jika yang terbersit di benak Luhan hanya mencium kening, maka Sehun melakukannya dengan cara berbeda. Dia menarik paksa pinggang Luhan, detik berikutnya Sehun sudah menyatukan bibir dinginnya ke bibir Luhan, berniat mencari kehangatan hingga akhirnya panas dirasakan keduanya.
Tak ada yang berbicara setelah itu, seluruh teman-temannya pun satu persatu pergi dari depan papan pengumuman karena terlalu iri melihat kemesraan Sehun dan Luhan.
Mereka tidak ingin menangis pedih di hari kelulusan mereka, dan Ya-….Tentu saja menghindar adalah cara terbaik agar tidak menangis menyedihkan karena status single memang sangat menyebalkan.
"Sehun—haaah!"
"Ada apa?"
Yang terlihat tak sabar memprotes tatkala tautan di bibir mereka terlepas, membuat Luhan sedikit terengah mencari nafas sebelum menunjuk teman-teman mereka yang pergi "Kenapa mereka semua pergi?"
Sehun terkekeh, dia pun kembali menarik tengkuk Luhan lalu berbisik sensual dengan mengatakan "Karena disini, untuk kali terakhir-…..Oh Sehun dan Xi Luhan akan memadu kasih di sekolah mereka."
"ck! Otakmu memang selalu berisi hal mesum!"
"ani! Otakku hanya berisi tubuhmu yang menggoda dan suara seksimu saat mendesahkan namaku. Jadi jangan bertingkah dan hanya biarkan aku membuatmu lemas karena nikmat."
Mmhpph…~
Niatnya untuk mengucapkan selamat atas kelulusan mereka kini digantikan gairah panas terakhir sebagai siswa. Keduanya setuju untuk melepas hari terakhir mereka sebagai siswa dengan kenangan manis sedikit "panas" yang bisa mereka kenang nantinya.
.
.
.
.
.
.
.
Dan setelah pengumuman kelulusan semua siswa tingkat akhir tentu sibuk menyiapkan kemana mereka akan melanjutkan hidup. Sebagian ada yang meneruskan masuk ke jenjang universitas sementara yang lain memutuskan untuk bekerja.
Luhan dan dua temannya serta dua teman Sehun bahkan sudah terdaftar di Kwanghee university, sementara Sehun?
Namanya tidak terdaftar di KwangHee University dan tentu saja itu membuat Luhan gusar.
Tin….Tin!
Suara klakson di depan rumahnya sungguh sangatlah mengganggu. Membuat Sehun –si pemilik rumah- terus menggerutu kesal sementara si Vivi –anjing peliharaannya- juga terus menggonggong sangat menyakiti telinganya
Guk guk…. / Tin…Tin!
"Sabar Sehun…Sabar."
Guk guk…. / Tin…Tin!
"y-YAK!"
Buru-buru dia membuka gerbang rumahnya, berniat untuk memaki siapapun yang sangat mengganggu hari minggu tenangnya sampai wajah si cantik memenuhi seluruh penglihatannya
Tin…Tin!
"Luhan?"
Tin…Tin!
"Hey hey…Buka jendela mobil."
Yang sedang menekan klakson segera membuka jendela mobil, menatap si pemilik rumah dengan cengir khas miliknya namun dibalas tatapan sengit dari Sehun.
"Kenapa kau membawa mobil?"
Sehun selalu –dan sangat- benci jika Luhan mengendarai mobil seorang diri. Pikirannya bak cenayang jika Luhan sudah membawa mobil sendiri. Entah mobilnya akan mogok, atau paling buruk dia diganggu orang atau yang paling mengerikan mobil Luhan kecelakaan, atau apapun itu-…Sehun sangat membencinya!
Dia kemudian menatap sengit terkesan marah pada Luhan "Mana supirmu?"
"ayolah! Sejak kapan aku memiliki supir? Aku bukan dirimu!"
"sial!"
Sehun mengusak kasar wajahnya. Dia sangat kesal menyadari kenapa Luhan tidak memiliki yang dia punya, terkadang terlalu kesal hingga rasanya dia ingin menjerit dan meminta agar posisi mereka ditukar. "Kelak aku akan mempekerjakan lima supir –tidak- sepuluh supir untukmu. Aku bersumpah tidak akan membuatmu mengemudikan mobil lagi, tidak lagi Luhan!"
"Kau bicara apa?"
Sehun mengabaikan pertanyaan Luhan, yang dia lakukan hanya membuka pintu mobil Luhan seraya berkata "Minggir. Aku akan mengantarmu pulang."
Luhan bergeser cepat ke bangku samping kemudi. Membiarkan Sehun mengambil alih mobil sebelum
Brrmm….!
Sehun terlihat marah, namun bukan Luhan jika tidak bisa menghilangkan gusarnya seorang Oh Sehun.
"Aku baru pulang dari rumah sakit." Katanya mencoba memenangkan situasi dibalas tatapan sekilas dari Sehun "Untuk apa?"
"Mama ada operasi darurat siang ini, jadi aku tidak sampai hati membiarkannya membawa mobil sendiri."
"Tetap saja kau bisa memanggilkan taksi untuk mama."
"Lalu jika pasien itu terlambat ditangani bagaimana? Memangnya kau tega melihat keluarganya menangis? Bagaimana jika itu keluargamu? Atau aku? Atau Vivi? Kau pasti-….."
"Baiklah baiklah. Tidak perlu dibahas lagi, aku sudah tidak marah. Lagipula kau baik-baik saja."
"Nah begitu baru benar!"
Luhan menyenggol gemas lengan Sehun membiarkan si pria tampan melirik lalu tak lama dia tertawa diikuti suara kekehan Sehun di sampingnya "ah ya-….Ada apa datang ke rumahku? Kenapa tidak langsung masuk dan hanya membunyikan klakson?"
"Sebenarnya aku tidak ingin mengganggu waktu liburmu. Hanya saja ada yang sangat ingin aku tanyakan."
"Apa?"
"mmh…Aku tidak melihat namamu terdaftar di Kwanghee university, apa kau melanjutkan sekolah di tempat lain?"
Hening…..
Sehun tak menjawab, yang dia lakukan hanya fokus menyetir sementara Luhan terus bersikeras mendapatkan jawaban. Dilihat dari ekspresi Sehun, bisa dipastikan bahwa sesuatu sedang terjadi.
"Sehunna."
"…"
"Kenapa kau tidak menjawabku."
Ckit…!
Sehun menghentikan mobilnya di kedai es krim favorit Luhan, segera melepas cepat seatbeltnya lalu seatbelt Luhan sebelum lebih dulu keluar dari mobil dan membawa Luhan keluar setelahnya "Kenapa kita disini? Aku sedang tidak ingin es krim."
Sehun mengabaikan celotehan Luhan, yang dia lakukan hanya menggenggam tangan Luhan lalu berujar sangat pelan "Kau akan menangis jadi kau butuh es krim."
"huh? Kenapa aku akan menangis?"
"entahlah! Feelingku mengatakan kau akan menangis."
Dan mengabaikan fakta menangis disini, Luhan bisa melihat Sehun terlihat gusar. Entah apa yang akan Sehun katakan di dalam sana, yang jelas perasaanya juga buruk kali ini.
.
.
.
.
"Apa kau bilang? Beijing?"
"mmh…Aku akan meneruskan sekolah disana. Aku akan mengatakannya besok padamu, tapi kau sudah lebih dulu bertanya."
Hatinya panas, bibirnya sudah bergetar sangat ketakutan. Dan saat Sehun mengatakan hal yang selama ini ingin disampaikan-….Luhan sakit.
Rasanya ada yang diambil dari bagian tubuhnya. Entah itu apa, tapi saat Sehun mengatakan akan meneruskan sekolah di Beijing –tempat kelahiran yang sangat dia benci- Luhan kesal.
Air matanya juga sudah mewakili perasaan gundahnya. Dia pun menghapus cepat lalu menuntut jawaban dari Sehun "Dari sekian banyak negara dan tempat kenapa harus Beijing? Tidak bisakah disini saja?"
"Karena di Beijing setengah hidupku dilahirkan, aku ingin menyukai tempat kelahiran calon pendamping hidupku, tempat kelahiranmu Luhan."
"Omong kosong! Aku bahkan sangat membenci tempat itu!"
"Kau terus mengatakan benci pada Beijing tanpa memberitahuku alasan sebenarnya. Tak ada yang mau memberitahuku. Tidak dirimu, tidak orang tuamu maupun orang tuaku. Lalu pada siapa aku harus mencari tahu jika tidak mencari tahu sendiri?"
"Alasan! Kau bilang akan terus mengikutiku. Tapi apa? Kau justru pergi meninggalkan aku."
"Hanya empat tahun Lu."
"Empat tahun bisa merubah segalanya! Ya benar! Pergilah sana dan saat kau kembali aku sudah memiliki pujaan hatiku yang lain!"
"Aku tidak peduli. Pada siapapun hatimu diberikan kelak, aku hanya akan merebutnya kembali."
"Kau terlalu percaya diri! Bagaimana jika aku menyukai orang itu?"
"Aku bilang aku tidak peduli, aku hanya akan membuatmu terbiasa lagi dengan kehadiranku, seperti sepuluh tahun ini."
"brengsek! Tega sekali kau padaku! Tega sekali kau pergi begitu saja!"
Sehun membiarkan tubuhnya jadi pelampiasan kemarahan Luhan.
Dia membiarkan Luhan memukul, mencakar bahkan menggigit lengan dan dadanya bergantian.
Sungguh dia tidak peduli dengan tatapan berbisik pelanggan lain, dia hanya membiarkan Luhan melakukan apapun yang diinginkannya.
Salahnya membuat Luhan bergantung untuk waktu yang lama, jadi ketika dia harus pergi untuk waktu yang lama, Luhan menjadi marah. Sehun bisa mengerti kemarahan Luhan, namun rasanya salah membiarkan si cantik terus menangis.
Dia pun menarik kencang Luhan lalu mendekapnya erat. Mengusap lembut punggung yang terus terisak lalu berbisik sangat lembut "Aku hanya pergi untuk menjadi pria yang lebih pantas lagi untukmu."
"…"
"Aku akan menjadi pria sukses yang bisa memberikan segalanya untukmu. Aku akan bekerja keras agar hidupmu terpenuhi lebih dari cukup, sungguh hanya itu tujuan hidupku Lu."
"…."
"hey hey jawab aku. Jangan diam seperti ini."
Sehun menangkup wajah Luhan, memaksa si pria cantik menatapnya walau hanya air mata yang dia dapatkan sebagai jawaban dari Luhan. "Lu…" katanya menghapus air mata Luhan. Berharap Luhan merespon namun sepertinya dia enggan untuk merespon.
"Baiklah akan aku batalkan! Aku akan bilang pada ayah untuk membatalkan rencana kuliahku di-…."
"Kapan kau pergi?"
"huh?"
"Aku tanya kapan kau pergi?"
"Aku pergi minggu depan."
"oh."
"Lu?"
"Lalu setelah itu apa?"
Setidaknya Luhan merespon, membuat Sehun sangat bahagia hingga rasanya dia bersemangat menceritakan tujuan hidupnya bersama Luhan "Setelah aku pergi aku akan belajar dengan giat. Aku juga akan belajar meneruskan bisnis kakek. Lalu setelah aku menguasai semuanya, aku akan kembali padamu."
"Lalu?"
"Astaga memikirkannya saja aku sudah berdebar."
Wajahnya benar-benar merona karena berdebar, Sehun pun kemudian mengecupi seluruh wajah Luhan lalu menggenggam pasti dua tangan Luhan untuk mengatakan "Setelah itu aku akan menikahimu. Ya-…..Setelah aku menjadi pria dewasa yang mapan, aku akan langsung datang pada ayahmu. Aku akan melamarmu dan meminta izin untuk menggantikan posisinya agar bisa menggenggam tangan mungil ini seumur hidupku."
Luhan tercegang dengan rencana jangka panjang Sehun. Jujur dia sudah sangat bahagia dengan sikap kekanakan Sehun yang mengisi hari-harinya. Jadi saat Sehun berencana untuk menjadi pria dewasa yang akan menggenggam kedua tangannya-….Luhan diam.
Sungguh dia tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya tertunduk dalam isakan. Dia sudah merindukan Sehun bahkan saat Sehun masih menggenggam dua tangannya. Bagaimana jika nanti Sehun tak lagi menggenggamnya. Entahlah dia benci membayangkannya.
Tapi saat tangan hangat Sehun menggenggam erat kedua tangannya.
Saat suara Sehun terdengar penuh keyakinan dan penuh cinta dengan rencananya.
Maka Luhan tak memiliki alasan lain untuk menghancurkan mimpi Sehun. Dia pun tertunduk sejenak, lalu detik berikutnya Luhan mengangguk –berat memang- dia tidak akan menggangu keputusan Sehun lagi, dia mendukungnya, lalu kemudian Luhan mencari mata Sehun memandangnya cukup lama untuk meminta satu hal pada pria di depannya
"Cepat kembali."
Sehun tersenyum, dia menangkup wajah Luhan, mencium dua mata Luhan yang begitu cantik, lalu turun hingga ke hidung dan terakhir mengecup lama bibir Luhan. Hanya sekilas karena setelahnya dia ingin Luhan yakin bahwa dia benar-benar akan segera kembali.
"Boleh aku menitipkan sesuatu padamu?"
"Apa?"
Dia mengambil dua tangan Luhan, mengecupnya bergantian lalu berkata "Aku akan menitipkan rindu padamu, tidak akan lama. Hanya sebentar Lu, dan setelah selesai aku akan mengambil rinduku dan menggantinya dengan cinta. Bagaimana?"
"Jika kau tidak segera mengambil rindumu, aku bersumpah akan memberikannya pada orang lain." Katanya mengancam dibalas dekapan erat dari Sehun "Aku akan merebut rinduku lagi kalau begitu."
Keduanya hanya diam setelah perbincangan penat di antara mereka. Untuk Luhan dia hanya ingin menghabiskan sepanjang waktu untuk memeluk tubuh yang biasa dijadikannya sandaran. "Cepat kembali hmm."
Sehun mengecup bertubi tengkuk Luhan. Mendekapnya sangat erat untuk mengatakan "Aku akan kembali secepatnya."
.
.
.
"Aku pergi dulu Ma."
"Jaga dirimu disana nak. Jika sakit hubungi Mama, mama akan kesana secepatanya."
Yang diberi pesan tertawa kecil, nyatanya semua teman dekat dan keluarganya mengantar kepergiannya hari ini.
Semua-….Kecuali Luhan tentu saja.
Entah dimana si mungil berada, yang jelas Luhan sudah mematikan ponselnya sejak malam tadi. Membuat Sehun sangat gelisah namun meyakini bahwa ini adalah keputusan Luhan agar dia dan dirinya tidak menangis.
"Tidak perlu Ma. Aku akan hidup mandiri disana. Aku hanya titip Luhanku pada Mama."
Jihyo bergerak resah. Andai saja Sehun tahu apa yang direncakan ayahnya, pastilah dia murka. Dia juga tidak sampai memberitahukannya pada Sehun, membuat Jihyo hanya mengangguk seolah berjanji untuk menjaga Luhan untuk putranya "Mama menjaga Luhan."
"gomawo Ma." Katanya mencium sekilas pipi Jihyo lalu beralih pada dua sahabat Luhan –Kai dan Chanyeol- "Kalian juga jaga dia untukku ya?"
Chanyeol memeluk sekilas pria yang menggilai Luhan untuk waktu lama. Sedikit tertawa lalu menggoda Sehun dengan mengatakan "Kami hanya menjaga fisiknya, tapi hatinya? Haah-….Aku harap Luhan segera menemukan cinta yang baru."
"Hatinya tidak perlu dijaga, sudah milikku sepenuhnya." Katanya percaya diri untuk beralih pada Baekhyun dan Kyungsoo "Dan kalian, bisakah berhenti bermesraan di depan Luhan? Dia pasti akan iri melihat kalian bermanja-manja dengan kekasih kalian."
"Sulit Oh Sehun."
"Baek…"
"araseo! Hanya seperlunya memeluk Chanyeol, oke!"
"Dasar." Katanya mengusap kasar rambut Baekhyun dan memeluk Kyungsoo sekilas "Jaga diri disana." Pesan Kyungsoo dibalas anggukan mantap dari Sehun.
"Baiklah-….Aku akan menemui kalian empat tahun dari sekarang. Perlu kalian ketahui, aku benar-benar tidak akan pulang selama empat tahun. Aku takut jika pulang hanya tidak ingin kembali kesini." Katanya mengangkat tiket tujuannya lalu tak lama kembali berkata "Jadi jangan rindukan aku, jaga Luhan untukku dan yang paling penting-….Mari bertemu setelah kita semua sukses. Oke?"
"Ya tentu saja / tentu saja"
Sehun tertawa mendengar jawaban teman-temannya. Segera mendekati koper yang dibawanya untuk masuk kedalam dan benar-benar pergi meninggalkan tempat kelahirannya setelah ini, "Aku pamit."
Sekilas dia melihat ke segala arah. Berharap Luhan akan memberikan pelukan terakhirnya namun Nihil. Luhan benar-benar tidak datang, senyuman Sehun pun menjadi lirih karena merindukan pujaan hatinya "aku pamit Lu." Katanya berbisik lalu melambaikan tangan pada keluarga dan teman-temannya
"Aku benar-benar pamit kali ini."
Dan setelahnya Sehun benar-benar pergi, punggungnya perlahan terlihat semakin menjauh. Semakin menjauh hingga tak lagi terlihat. Keheningan di antara keluarga dan sahabat Sehun seolah mengartikan bahwa-…..Sehun benar-benar pergi dan tidak akan kembali untuk waktu yang lama.
.
.
.
"Kau pasti sudah berangkat. Hati-hati Sehunna."
Di tempat yang sama, Luhan terlihat menengadah ke atas. Dia berada di pinggir bandar udara tempat dimana bisa melihat pesawat datang dan pergi.
Matanya melihat banyak pesawat yang terbang menuju tempat masing-masing.
Dan saat satu-satunya pesawat meninggalkan lapangan udara tepat pada pukul 20.00 kst, maka sudah bisa dipastikan itu pesawat Sehun. Dia pun memperhatikan pesawat itu terbang, terus memperhatikan sampai matanya tak lagi sanggup melihat pesawat yang semakin tinggi dan menghilang di langit.
"haaah…."
Detik berikutnya dia menghapus cepat air matanya lalu tersenyum tak sabar menanti kepulangan Sehun "Cepat kembali padaku." Katanya mengusap wajah konyol Sehun di walpaper ponselnya.
Tak tahan-…Luhan pun segera memasukkan ponsel ke saku jaketnya. Kembali menengadah langit dan menikmati suara pesawat yang datang dan pergi. "Aku menunggumu." Katanya memejamkan mata dan berdoa agar hari ini cepat digantikan oleh empat tahun menyiksa yang harus mereka lalui.
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
.
Setelah LDR terbitlah konflik :v
.
Mohon bersabar namanya juga triplet :""
.
btw ternyata gue ga bisa batesin adegan M nya GAIS.. :""
.
jadi kalo semisal di updatean gue selanjutnya (AFB / JTV) ada adegan tidak senonoh (?) wwkkwkwk.
harap di skip jika kiranya risih. gausa diperdebatin.
.
pokonya gue mohon maaf lahir batin :**
