Previous..

Matanya melihat banyak pesawat yang terbang menuju tempat masing-masing.

Dan saat satu-satunya pesawat meninggalkan lapangan udara tepat pada pukul 20.00 kst, maka sudah bisa dipastikan itu pesawat Sehun. Dia pun memperhatikan pesawat itu terbang, terus memperhatikan sampai matanya tak lagi sanggup melihat pesawat yang semakin tinggi dan menghilang di langit.

"haaah…."

Detik berikutnya dia menghapus cepat air matanya lalu tersenyum tak sabar menanti kepulangan Sehun "Cepat kembali padaku." Katanya mengusap wajah konyol Sehun di walpaper ponselnya.

Tak tahan-…Luhan pun segera memasukkan ponsel ke saku jaketnya. Kembali menengadah langit dan menikmati suara pesawat yang datang dan pergi. "Aku menunggumu." Katanya memejamkan mata dan berdoa agar hari ini cepat digantikan oleh empat tahun menyiksa yang harus mereka lalui.

.

.

.

.

.

.

.

.

Je'Te Veux

.

.

.

.

.

Main cast : Sehun-Luhan

Rate : T-M

.

.

.

.

.

.

Sebab aku merindukanmu,

Aku menyebut namamu dengan suara yang tertahan dari jantungku.

Hati terpelintir, Berkarat pula.

Rasanya bisa patah kapan saja,

Karena aku terlalu rindu.

.

.

.

.

.

"Adik macam apa yang tidak akan menghadiri pernikahan kakaknya sendiri?"

"Jangan mulai Luhan. Kau tahu jawabannya."

"Apa?"

"Jika kembali aku tidak mau pergi lagi."

"Kalau begitu kembali."

"..."

"Lihat….kau diam lagi!"

"..."

"Araseo! Aku akan mewakili dirimu di pesta pernikahan Yunho hyung."

"..."

"Masih belum mau bicara?"

"..."

"Sehun aku marah."

"..."

"Oh terserahmu saja. Kututup panggilan-..."

"Aku merindukanmu."

Tap!

Langkahnya yang sedang mendrible bola basket pun terhenti. Si pria cantik -yang baru mendapat pengakuan rindu- sedikit membenarkan posisi headsetnya.

Dia kemudian mendekap bola basket yang dimainkan seorang diri lalu duduk di tengah lapangan seraya menatap indahnya langit dimalam hari.

"Kau bilang apa?"

"Tiga bulan sudah lebih dari cukup untuk membuatku tersiksa, aku semakin merindukanmu Lu."

Luhan membuat tulisan dengan sebatang kayu di lapangan. Mengukir nama Sehun disana lalu tersenyum kecil membalas ucapan rindu pria yang sudah menyukainya untuk waktu yang lama "Aku juga semakin merindukanmu."

"yang benar saja!"

"Apa?"

"Mana mungkin kau merindukan aku."

"Tsk!"

"Kau menggerutu? Sudah kuduga kau hanya-.."

"Aku tutup panggilanmu. Sampai-..."

"LUHAN!"

"..."

"Lu kau masih disana kan? Aku rindu!"

Luhan mendongak menatap langit. Memperhatikan bintang-bintang disana lalu tersenyum simpul. Rasanya sudah tiga bulan berlalu. Tapi suara dan bayangan Sehun terus setia membuntuti kemanapun dia berada.

Karena tak seperti raganya, bayangan Sehun jauh lebih setia dan tak pernah meninggalkannya.

Awalnya dia merasa gila, tapi perlahan rasa gila itu dijadikan teman di kala rindu. Membuatnya terus bercerita entah pada siapa ketika sedang merindukan seseorang yang kini merengek layaknya bayi besar

"Jika kau tidak menjawab aku akan memesan tiket pulang. Aku hanya akan kembali menjadi Sehun yang suka menguntitmu, bukan Sehun yang mapan dan akan segera menikahimu."

"..."

"Luhan aku serius!"

"..."

"Lu kau-..."

"Kau sedang apa disana?"

"huh?"

"Aku sedang memandang langit di lapangan basket. Kau sedang apa?"

"Astaga Luhan! Cepat kembali ini sudah malam. Kau bisa kedinginan dan diganggu orang-..."

"Aku tanya kau sedang apa? Jika tidak sibuk keluarlah sebentar dan pandangi langit. Nanti kau bisa rasakan kalau aku benar-benar merindukanmu."

Perbedaan jarak mereka sekita lima ratus kilometer antara Seoul-Beijing. Dan membayangkan Luhan duduk di tengah lapangan seorang diri sungguh membuat dirinya sakit, terlebih dia selalu berada disana untuk menemani Luhan menjalani setiap latihan sialannya.

Membuat Sehun tak memiliki pilihan lain selain berjalan menuju balkon dan menatap langit yang sama dengan Luhan "Aku sudah berada di balkon kamar, menatap langit juga."

"Apa disana ada bintang?"

Sehun semakin melihat ke atas, mencari dimana bintang yang dimaksud Luhan lalu tesenyum menyadari hanya ada satu bintang di gelapnya langit Beijing malam ini "Hanya satu."

"Kalau begitu itu aku."

"Apa?"

"Bintang yang hanya satu disana. Itu diriku, aku yang sedang menatapmu dan mengatakan rindu."

Sehun tersentuh lagi, jika dengan pergi dia bisa mendengar Luhan mengatakan rindu, ingin rasanya dia pergi lebih awal. Membiarkan si mungil lebih terbuka dengan perasaannya dan terus mengatakan rindu hanya untuknya

"Sehun kau dengar? Aku merindukanmu."

"..."

"SEHUN!"

"tsk! Tetap galak dan menggemaskan."

"ish!"

"Aku tahu Lu. Bahkan tanpa bintang buruk rupa itu-…Aku tahu kau rindu padaku."

"Bintangnya cantik."

"Kau lebih cantik, jadi cepat bergegas pulang karena aku mulai kesal membayangkan kau kedinginan disana."

"Dasar tidak bisa romantis!"

"Luhan..."

"Araseo... Aku sudah pergi dari lapangan."

"Bagus! Aku akan menemanimu sampai ke rumah."

"Apa mau dirubah video call? Aku ingin sekali melihat wajahmu."

"Jangan sayang."

"Kenapa?"

"Nanti kau menangis karena semakin merindukan aku."

"Ya terserahmu saja."

"Sudah sampai mana kau berjalan?"

"Astaga Oh Sehun! Aku baru beberapa langkah dari lapangan. Jika lelah tutup ponselmu dan segera tidur."

"Kepalaku sakit memikirkan kau sedang berjalan tengah malam seorang diri. Hati-hati ya sayang."

Untuk kesekian kalinya-...Luhan tersentuh dengan perhatian Sehun.

Bahkan jarak tidak merubah apapun dari kebisaan Sehun untuk Luhan. Sehunnya masih begitu memperhatikannya, mencemaskannya dan begitu mencintainya. Membuat Luhan sangat bahagia hingga rasanya dia akan menangis saat ini "Iya sayang."

"Jarang sekali mendengar sayang darimu. Aigoo apa kepala tuan putri baru saja terbentur ranting pohon?"

"ck! Idiot!"

"Nah mengumpat lagi!"

"Kau yang membuatku kesal!"

"Baiklah aku minta maaf Lu, Sayangku yang tidak pernah salah."

"Nah begitu baru benar." Timpal Luhan terdengar senang diikuti pertanyaan lagj dari Sehun "Bagaimana kuliahmu hari ini?"

"Kuliah?"

"Ya sayang."

"Mmhh... Seperti biasa, sulit."

Luhan menendang batu kerikil di depannya. Sedikit menyesal karena jurusan yang dia ambil namun disambut suara lembut Sehun yang mengatakan

"Aku bangga padamu. Kau bahkan melepas keinginanmu untuk menjadi seorang atlet dan lebih memilih menjadi dokter bedah, Kau luar biasa sayang."

Nyatanya satu minggu sebelum pendaftaran kuliah dimulai, Luhan merubah jurusan fakultas olahraga dan kesehatan yang dia minati menjadi fakultas kedokteran spesialis bedah.

Alasannya hanya satu, Sehun

Jika Sehun rela pergi jauh hanya untuk menjadi mapan dan membahagiakan dirinya, maka rasanya salah jika Luhan hanya memikirkannya sendiri. Dia pun memutuskan untuk menjadi dokter dengan alasan

Aku yang akan memastikan kau selalu sehat selagi kau sibuk dengan seluruh pekerjaanmu.

Sehun menangis haru kala itu, dia bahkan berniat untuk kembali ke Seoul hanya untuk menikahi Luhan. Tapi tentu saja itu hanya keinginan yang akan dia jadikan nyata sebentar lagi.

Karena saat Luhan mantap memutuskan untuk menjadi seorang dokter, maka Sehun berkali-kali lebih semangat untuk segera lulus dan menjadi mapan agar bisa segera menikahi Luhan, itu janji yang dia buat pada dirinya sendiri dan ya-...Sehun akan menepatinya kurang dari tiga tahun lagi.

"Jika kau pulang nanti, kau bisa memanggilku dokter Xi."

"Kau tidak akan lama menyandang nama dokter Xi."

"Kenapa begitu?"

"Karena setelah aku pulang dan segera menikahimu, mereka akan memanggilmu dokter Oh."

"Aku suka."

"Apa?"

"Jika mereka memanggilku dokter Oh, aku suka. Jadi cepat kembali dan segera nikahi aku."

"Jadi sekarang aku sudah boleh menikahimu? Tidak akan berteriak penguntit lagi padaku?"

"Kau boleh menikahiku kok –tidak- KAU HARUS MENIKAHIKU. DENGAR?"

"Aku hanya akan menikah dengan satu orang dan itu dirimu, hanya tunggu aku sebentar lagi hmm?"

Luhan sudah sampai di depan rumahnya. Sedikit enggan membuka gerbang karena tahu percakapannya dengan Sehun akan segera berakhir.

Awalnya dia enggan mendorong pintu gerbang, tapi saat Sehun lagi-lagi memintanya menunggu agar hari dimana mereka akan menikah datang, maka bibir mungilnya hanya bisa tersenyum seraya menjawab "Bahkan sepuluh tahun atau seumur hidupku, aku hanya akan menunggumu Oh Sehun."

"Bagus! Kau sudah sampai dirumah?"

"Aku sudah dikamar."

"Kalau begitu cepat mandi, ganti piyama tidur, minum susu dan pastikan jendela kamar terkunci. Aku tidak ada disana, jadi pastikan tidak ada penguntit di kamar calon istriku. Kau dengar?"

"Kau tahu tidak? Kau sangat cerewet melebihi ibuku Oh Sehun."

"Jelas aku harus cerewet, kau ini layaknya barbie di dunia nyata. Calon suami mana yang rela miliknya dilihat orang secara gratis?"

"Mulai lagi...."

"LUHAN AKU SERIUS!"

"Iya sayang iya... Aku akan membersihkan wajah, akan minum susu dan sudah mengunci jendela kamar. Puas?"

"Yakin sudah terkunci?"

"Sudah sangat terkunci."

"Bagus! Sekarang cepat tidur, besok kau harus datang ke acara hyungku. Selamat malam Lu, aku tutup-..."

"SEHUN!"

"Ada apa?"

"Jaga diri baik-baik disana. Jangan tunjukkan dada seksimu secara gratis, jangan tersenyum dan jangan bersikap baik pada siapapun disana. Oke?"

"Cemburu ya?"

"ish!"

"Ha ha ha... baik istriku. Aku akan menyimpan ketampanan dan tubuhku yang seksi ini hanya untuk dirimu."

"Bagus."

Tak ada yang berbicara lagi setelahnya, mereka hanya saling diam dimakan rindu, sebelum dengan berat hati harus terpisah jarak seperti tiga bulan menyakitkan yang berhasil mereka lewati bersama.

"Sekarang boleh kututup panggilan ini?"

"Mmhhh..."

"Jawab aku sayang."

Luhan menggigit kencang bibirnya sebelum menjawab "Kau boleh mengakhiri obrolan kita malam ini. Selamat tidur sayang."

"Kau juga Lu. Besok aku akan menghubungimu lagi."

"Oke. Sampai besok Sehun."

"Sampai besok Lu."

Pip!

Tak lama panggilan mereka terputus begitu saja, membuat Luhan betah memandangi layar ponselnya dalam waktu yang lama, berharap nama Sehunku kembali tertera di layar ponselnya-...Namun nihil.

"Hksss..."

Dalam sepinya malam, Luhan menyembunyikan wajahnya di bawah bantal. Dia kembali terisak seorang diri.

Membiarkan sekali lagi rasa rindunya terbayar dengan tangisan dan berharap esok -entah di dalam mimpi atau bagaimanapun caranya- dia bisa melihat Sehun lagi, bisa bertengkar dengan pria idiotnya lagi lalu yang paling penting-...Dia bisa mengikat Sehun dengan cincin kecil yang gagal ia berikan di malam keberangkatan Sehun.

Cincin bertuliskan Luhan's yang sengaja dia buat untuk mengikat Sehun. Sedikit menyesal karena malam itu dia tidak memiliki keberanian memakaikannya pada Sehun.

"Hksss..."

Dan untuk itu dia berharap bisa memiliki kesempatan untuk memberikannya pada Sehun -entah bagaimana caranya-

Berdoa agar tak ada yang bisa merebut hati pria innocent yang selalu mencintai dirinya dengan cara yang konyol namun begitu tulus.

Cinta seorang anak delapan tahun yang perlahan menjadi cinta sejati dua remaja yang akan segera beranjak dewasa.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

The wedding

.

"HYUNG!"

Luhan dan ayahnya baru saja sampai di kediaman keluarga Oh. Keduanya tampak serasi menggunakan jas putih senada yang dipilihkan sang ibu, dan mengingat ibunya tidak bisa hadir di pernikahan Yunho maka ayah-anak itu pun setuju untuk mewakili sang ibu dengan mengenakan pakaian khusus yang disiapkan Baby –ibu Luhan-

"aigoo…Lihat siapa yang tingginya sudah menyamai Luhan hyung?"

Chen yang membalas sapaan si bungsu Oh. Membuat Jaehyun tersenyum bangga sementara Luhan mencibir kesal mendengarnya "Tentu saja! Untuk menjadi kualifikasi pria idaman Lu hyung, aku harus memiliki tinggi setidaknya sama dengan Sehun hyung atau mungkin lebih tinggi."

"ck! Kakak adik sama saja. Hanya Yunho hyung yang elegan."

Mendengar sindiran Luhan, sontak membuat mata bocah sepuluh tahun itu berkaca-kaca. Karena seperti Sehun, maka sulit untuk Jaehyun membuat Luhan menyukainya jika masih ada kakak pertamanya –Yunho- dia pun kemudian menyeringai kecil lalu menggenggam paksa tangan Luhan "Nanti jika upacara pernikahan Yunho hyung selesai, Lu hyung akan resmi jadi milikku."

"yang benar saja!"

"Aku serius hyung."

"Baiklah Oh Jaehyun. Mama rasa cukup acara menggoda Lu hyungmu."

Luhan tersenyum melihat siapa yang menyapa. Sedikit tertegun melihat kecantikan Jihyo Dibalik Hanbok merah muda yang digunakannya sebelum berjalan menghampiri wanita yang mungkin akan kembali memakai Hanbok saat pernikahannya dan Sehun nanti "apa yang aku pikirkan."

Luhan merona sendiri dengan bayangannya, membuatnya sedikit terkekeh lalu memeluk Jihyo yang sedang merentangkan tangan untuk memeluknya "Ma…."

"aigoo…Mama sudah lama tidak melihat Lulu. Bagaimana kabar calon dokter mama yang cantik?"

"Aku baik ma, Mama bagaimana?"

"Mama juga baik nak. Ayo kita masuk, upacaranya hampir dimulai."

Luhan mengangguk, digenggamnya tangan Jihyo lalu memasuki halaman belakang rumah keluarga Oh yang sudah disulap menjadi sangat cantik "Kau terlihat sangat tampan dengan blazer putih Lu. Pasti baby yang memilihkan untukmu."

"mmh…Mamaku juga titip salam untuk Mama, katanya maaf tidak bisa datang karena terlalu banyak jadwal operasi minggu ini."

Jihyo kemudian tersenyum lalu mengangguk sangat mengerti "Tidak apa nak, yang penting Luhan datang."

Dan setelahnya Jihyo membawa Luhan ke barisan terdepan milik keluarga, diikuti Jaehyun dan ayah Luhan untuk mengikuti upacara pernikahan Yunho-Jaejoong sesaat lagi.

"Pa…"

Sebelum duduk Luhan menyapa ayah Sehun, namun sayang hanya tatapan dingin yang diterimanya, membuatnya sangat bingung jika Jihyo tak mengalihkan perhatian Luhan "Lihat Lu, Jongie hyung sudah berjalan menuju altar."

Sekejap Luhan mengikuti kemana arah Jihyo menoleh, mencari dimana sosok pria cantik yang segera menjadi keluarga Oh lalu tak sengaja bergumam "whoa…"

Disana, tak jauh darinya Jaejoong terlihat sangat bahagia dan begitu mempesona.

Wajahnya

Kemeja yang digunakan

Serta bagaimana tangan Jaejoong menggenggam erat tangan ayahnya saat berjalan menuju altar sungguh membuat hati Luhan berdebar hebat.

Luhan juga menitikan air mata karena terlalu bahagia sampai seseorang menarik kuat tangannya dan memaksanya untuk duduk. Luhan kesal, sungguh. Dia bahkan berniat untuk memaki orang yang memaksanya duduk –Jaehyun dia tebak- sebelum teriakannya tertahan di kerongkongan melihat siapa pria tampan yang kini sedang menghapus air matanya, menatapnya begitu lembut dengan deru nafas yang menerpa wajahnya dan terasa sangat nyata untuk Luhan

"Sehun?"

"Dasar Cinderella."

"huh?"

Luhan hanya terlalu bingung harus merespon apa, dia takut jika berkedip sosok yang begitu ia rindukan selama tiga bulan ini akan menghilang begitu saja. Membuat mata rusanya benar-benar tak berkedip sampai keningnya terasa begitu hangat karena ciuman yang diberikan pria di depannya

"aigoo air matamu tidak berhenti. Kau benar-benar merusak definisi Manly sayang. Sungguh."

"Sehun?"

Kali ini air mata Luhan bukan ditujukan untuk Jaejoong tapi untuk dirinya sendiri. Dia bahagia, terlalu bahagia mendapati pria sialan yang selalu membuat kepalanya sakit kini berada tepat di depan matanya.

Dia bahkan enggan untuk menoleh ke arah lain sampai Sehun –pria gila yang sudah menyukainya selama sepuluh tahun lebih- kini mengecup singkat bibirnya seraya berkata "Ya aku Sehun, Sehunmu. Kita akan pergi setelah Yunho dan Jae hyung mengikat janji." Katanya menggenggam tangan Luhan lalu fokus pada dua hyungnya yang kini saling bertukar janji dengan mengatakan

Aku bersedia.

"Wuhuuuu…..chukae hyung! Saranghae!"

Sehun berteriak heboh sementara Luhan terus diam. Barulah saat Sehun merangkul dan memluknya dia sadar bahwa itu benar-benar Sehun, Sehunnya.

.

.

.

.

.

.

.

Klik…!

"Masuk."

"Sehun kenapa kita ke hotel? Pernikahan Yunho hyung masih berlangsung."

Yang ditanya hanya tersenyum kecil.

Dan setelah mengunci kamar hotel yang sengaja dia pesan hari ini, dia segera mendekap Luhan dan menciumi rakus tengkuk pria cantiknya "Apalagi menurutmu? Aku merindukanmu."

"tapi-…Sehunjangan—akh! JANGAN DIGIGIT!"

Seperti biasa-….Luhannya begitu galak setiap kali disentuh, membuat Sehun benar-benar gemas jika tidak ingat waktunya hanya malam ini bisa berdua dengan Luhan "Aku akan pergi besok pagi. Jadi jangan membuang-buang waktu kita Lu-…huwaaa."

Dan saat Sehun merengek, rasanya Luhan dikembalikan pada kenyataan.

Kenyataan bahwa kedatangan Sehun hanya untuk beberapa jam-…setelahnya untuk empat tahun Sehun akan kembali pergi.

"Hanya sampai besok pagi?"

Menyadari perubahan Luhan, Sehun berhenti merengek. Dia pun segera berjalan mendekati Luhan namun si mungil berjalan mundur menjauhinya "Jangan dekati aku, jawab aku lebih dulu. Kau akan pergi lagi besok pagi?"

"Lu…"

"Sehun jawab aku."

Sehun menghela dalam nafasnya, detik berikutnya dia menarik cepat lengan Luhan lalu mendekap si mungil begitu erat. Terlalu erat bahkan mengalahkan Luhan yang kini sedang memukulnya kuat di dada "KENAPA KEMBALI IDIOT! HARUSNYA KAU TETAP DISANA! KAU TIDAK TAHU BETAPA SULITNYA AKU MENAHAN RINDU? DAN SAAT AKU TERBIASA KAU TIBA-TIBA DATANG DAN AKAN PERGI LAGI!"

"mian."

"AKU BENCI MENUNGGU SEHUN! AKU SANGAT BENCI MENUNGGU!"

"aku juga."

"KENAPA KAU KEMBALI? Jangan pergi lagi-….hksss—Sehun aku benar-benar rindu."

Sehun bahkan tidak menyangka mendapati rasa rindu Luhan yang mungkin lebih besar dari miliknya, selain karena dalam tiga bulan Luhan sangat mudah menangis, pria mungilnya juga terlihat banyak kehilangan berat badan. Membuat rasa bersalah kini Sehun rasakan namun dia tutupi dengan tindakan konyol yang biasa dia lakukan pada Luhan.

"Aku kembali bukan karena pernikahan Yunho hyung, tapi karena mencari status."

"huh?"

Dan saat Luhan berhenti memukul.

Saat wajahnya mendongak dipenuhi air mata rindu.

Saat bibir mungil itu terbuka karena mencari sedikit udara

"status apa?"

Maka disaat itu pula Sehun bersumpah, Sehun bersumpah bahwa alasan dia hidup hanya untuk si mungil yang kini sedang menatapnya bingung, alasan dia hidup hanya untuk membahagiakan pria cantiknya.

Karena sebanyak apapun dia mengelak, maka rasa cintanya untuk Luhan akan terus bertumbuh seiring berjalannya waktu. Entah berapak miles jarak yang akan kembali memisahkan mereka, Sehun tidak peduli

Yang dia pedulikan hanya bagaimana membuat Luhannya kembali tertawa, mengumpat dan merona merah sementara tugasnya hanya mencintai Luhan seumur hidupnya.

"haah-….Jadi begini sayangku"

Dia pun menarik banyak nafasnya lalu menggendong Luhan seperti koala, favorit Luhan.

Membuat Luhan secara refleks melingkarkan kedua kakinya di pinggang Sehun, sementara Sehun terus membawanya ke meja makan dan mendudukan Luhan disana, sementara dirinya terus mengecupi bibir Luhan hingga si pemilik bibir sedikit meronta dan minta disudahi agar tak lagi dilumat "Jadi begini apa? katakan yang jelas."

Sehun terkekeh sementara Luhan terengah, keduanya bertatapan cukup lama lalu Sehun menyatukan dahi mereka seraya berkata sangat menjengkelkan "Di Beijing sana, banyak wanita cantik dan pria mungil seperti dirimu yang menggodaku. Demi Tuhan-…Aku baru tiga bulan disana tapi sudah banyak yang menggodaku. Mereka bilang akan berhenti menggodak jika aku memiliki kekasih, tapi nyatanya aku tidak memiliki kekasih. Jadi aku-…hmphhhh.."

Kali ini Luhan yang menarik tengkuk Sehun. Menciumnya rakus dan sangat terasa jika dia resah, tak perlu ditanya kenapa dia resah. Karena mengetahui banyak yang menggoda Sehun disana adalah satu-satunya alasan mengapa dia sangat gusar.

Sehun bahkan menyadari ketakutan Luhan walau hanya dari ciuman singkat yang diberikan. Membuatnya terkekeh namun tak membuang kesempatan saat bibir mungil Luhan memaksanya untuk membuka dan tak lama mereka saling membelit lidah dengan kaki Luhan yang melingkar sempurna di pinggul Sehun.

"haaah-…."

Setelah hampir lima menit berlalu, akhirnya Luhan menyerah. Dia melepas ciumannya dari bibir Sehun tanpa mau melepas cengkramannya di tengkuk si pria tampan "Dengarkan aku—haaah." Katanya terengah namun tak bisa menutupi kekesalan di nada suaranya.

Dia terus mencengkram tengkuk Sehun lalu menyatukan dahi mereka seraya berkata "Katakan pada mereka kau sudah memiliki kekasih."

Sehun menyeringai tertahan

Rencananya berhasil membuat Luhan resah, si cantik bahkan terlihat begitu marah dan banyak penekanan mengancam di setiap suaranya "Katakan pada mereka kau sudah memiliki kekasih. Kau dengar?"

"Tapi aku belum memiliki kekasih. Aku masih-….."

"DEMI TUHAN AKU KEKASIHMU OH SEHUN!"

"huh?"

Walaupun dia sudah tahu Luhan akan mengatakan hal menyenangkan ini, tapi entah mengapa jantungnya terus berdegup kencang seperti meriam yang akan meletup. Rasanya sangat berdebar tapi menyenangkan. Sehun pun menyuarakan kebingungannya disambut keresahan Luhan karena takut Sehun tidak mengerti.

"Dengarkan aku Oh Sehun. Mulai detik ini –tidak- aku sudah menjadi kekasihmu selama sepuluh tahun. Katakan itu pada mereka, dan jangan coba berpaling dariku atau aku bersumpah akan melakukan hal gila diluar bayanganmu. Kau milikku-…"

Luhan mencium kasar bibir Sehun –lagi- lalu menggigit kencang bibir Sehun hingga darah terlihat di bibir kecil si pria tampan "Kau hanya milikku."

Sehun tersenyum, tak tega rasanya melihat Luhan ketakutan. Dan saat gigitan bibir Luhan terasa sangat menyakitkan di bibirnya, maka disaat yang sama Sehun tahu bahwa tak ada satupun yang bisa menggantikan posisi Luhan untuknya dan posisi dirinya untuk Luhan.

Membuatnya kembali mencium lembut bibir Luhan –untuk menenangkan si pria cantik- lalu menatap tulus –setengah menggoda- dua mata rusa yang masih terlihat gusar "Jadi kita resmi menjadi sepasang kekasih? Yakin kau tidak akan menyesal? Biasanya kau akan-…."

"AKU KEKASIHMU SIALAN!"

"aigoo mengumpat lagi. Jika kekasih katakan lebih lembut."

"Aku kekasihmu."

"Kau tahu itu sama sekali tidak lembut."

Luhan memukul sekilas dada Sehun, membuat si pria tampan terkekeh namun diiringi jawaban Luhan yang terdengar –sangat menggoda- birahinya sebagai pria sejati.

"Lulu kekasihnya Sehun oppa."

"o-oppa? Siapa yang kau bilang-…whoa Xi Luhan kau benar-benar membuat oppa bersemangat."

Luhan tersenyum malu tapi tidak dengan tangannya.

Karena ketika wajahnya merona merah, maka tangannya kini sedang membuka satu persatu kancing kemeja Sehun, sedikit kasar dan terburu hingga membuat dua anak manusia itu terbuai gairah rindu yang mereka rasakan.

"Oppa! Lulu ingin bermain kotor dengan oppa."

"Bermain kotor?"

Luhan semakin menggoda dan membuka tak sabar kancing kemeja Sehun, membuang tak sabar kemeja putih yang dikenakan Sehun ke lantai dan kini terpukau melihat bagaimana seksinya Sehun topless hingga seluruh urat dan abs di dada dan perut Sehun tersaji gratis untuk kedua matanya.

"Iya! Sudah lama Lulu tidak main dengan oppa. Lulu ingin main hingga tubuh Lulu lengket dan kotor bersama oppa."

"Whoa…"

Sehun mencium kasar bibir Luhan, melumatnya tak sabar lalu memastikan agar si penggoda menerima hukumannya kali ini "Oppa kepanasan dan tidak berjanji akan bermain sebentar. Lulu bersedia?"

"Iya. Lulu bersedia."

Luhan benar-benar menguji kejantanan Sehun dengan dua saat ini.

Pertama bibir menggoda sialan itu terus memanggilnya oppa dan sesekali mendesah

Kedua tangan nakal itu terus bermain di abs dan kadang mengusap kasar perut bagian bawahnya. Membuat adik kecilnya merespon, dan itu sungguh tidak bisa dimaafkan.

"ssshh….oppa…Lulu tidak sabar ingin—Sehunna!"

Terkabul sudah keinginan Luhan, karena saat dia mengatakan tidak sabar, maka dengan satu tangannya Sehun berhasil membawa Luhan dalam gendongannya. Segera tak sabar untuk segera menyatu sebelum

BLAM…!

Pintu kamar hotel itu akan menjadi saksi bengis bagaimana rindu bisa membuat seseorang sangat jantan dan bernafsu. Dan ya-….Jangan salahkan Sehun karena Luhan yang memulai, dia hanya pejantan lemah yang selalu tunduk dengan keinginan belahan jiwanya.

Jadi jika Luhan ingin mengatakan ingin bermain kotor, maka tugasnya hanya mengabulkan keinginan hidupnya, apapun itu.

.

.

.

.

.

.

.

Sementara itu…

.

Semua terlihat masih menikmati pesta pernikahan Yunho malam ini, tak ada yang berkeluh kesah lelah karena memang seluruh rangkaian pesta dirancang untuk membuat senang para tamunya.

Hanya ada tawa bahagia yang terlihat di seluruh wajah tamu undangan, keluarga maupun dua mempelai yang baru saja resmi menikah. Ya-…Semua terlihat bahagia kecuali satu orang. Pria yang tahun ini memasuki usia hampir setengah abad itu terlihat cemas akan sesuatu.

Dia hanya terus memandangi keramaian dari ruang kerjanya hingga terdengar bunyi suara pintu terbuka dari tempatnya menunggu saat ini.

"Bagaimana? Dimana putraku?"

Yang bertanya adalah ayah dari tiga orang putra –Oh Insung- salah satu jaksa yang paling disegani di Seoul. Dibawah tangannya seluruh orang jahat mendapatkan hukuman yang pantas atas kejahatan yang dilakukannya, semua-….Kecuali satu orang yang justru dia biarkan tertawa bersama putra sulung dan bungsunya tepat di bawah sana, di halaman rumahnya.

Membuat kemarahan tak bisa lagi ditutupi ditambah kepergian putra nomor duanya yang entah berada dimana saat ini "AKU TANYA DIMANA SEHUN?"

"Maaf tuan besar. Seperti dugaan kita-…Tuan muda Sehun pergi bersama Luhan."

"brengsek!"

Ayah tiga anak itu pun bergegas menuruni tangga menuju ke halaman belakang. Tak memiliki kesabaran lagi tersisa untuk berbicara dengan pria penyebab kematian ayahnya delapan belas tahun yang lalu "XI LI CHEN!"

Beberapa tamu menoleh melihat ke asal suara, bertanya-tanya mengapa sang tuan rumah terlihat murka ditambah tatapannya yang hanya tertuju pada satu orang, ayah Luhan.

"Papa kenapa berteriak pada paman?"

Jaehyun yang bertanya, namun diabaikan ayahnya. Yang dilakukan Insung hanya terus mendekati Chen hingga suara pekik tertahan terdengar dari Jihyo "tidak sayang….Kau tidak bisa melakukan hal gila itu di hari pernikahan putra kita." Katanya berlari susah payah namun terlambat karena saat ini Insung sudah berhadapan dengan Chen –terlihat sangat marah- dan tanpa ragu mengatakan

"Aku perlu bicara denganmu, Sekarang!"

"aboji…"

"Lanjutkan pestamu nak."

Setelah memberi pesan pada si sulung, Insung kembali menoleh. Memberikan tatapan dinginnya pada Chen dan memastikan bahwa ayah satu orang anak itu mengikuti kemana dia pergi saat ini.

.

.

.

.

.

.

.

BRAK…!

"Kau tahu ini apa?"

Yang melempar dokumen ke atas meja terlihat sangat tidak bisa menahan diri, dia bahkan tergoda untuk segera memenjarakan pria yang selama ini bersembunyi di balik apronnya untuk bertanggung jawab pada kejadian mengerikan delapan belas tahun lalu.

"Sebenarnya ada apa denganmu?"

"Buka dokumen sialan itu dan cari tahu apa yang membuatku murka."

Buru-buru ayah satu anak itu membuka dokumen yang dimaksud sahabatnya, mencari tahu apa yang membuat Insung begitu murka sampai matanya membulat dan secara refleks mendorong jauh kursinya.

"tidak mungkin."

"Detektif Xi Li Chen – divisi pembunuhan – menyamar sebagai penasehat keuangan Oh Yun Soo untuk mencari bukti kematian tiga pemegang saham tertinggi di Cyworld corp. Dalam tiga bulan menjadi orang kepercayaan Oh Yun Soo, lalu kemudian membunuhnya di Beijing, tepat delapan belas tahun yang lalu."

"tidak….Kau salah paham! Bukan aku yang melakukannya!"

"ah-…Penjahat ini mulai mengakui kesalahannya."

"Kau tahu bukan aku yang melakukannya."

Sama dengan karir Insung sebagai jaksa saat ini, maka delapan belas tahun lalu Li Chen juga merupakan detektif ternama yang diperhitungkan di Beijing, dia mendapatkan banyak promosi untuk memimpin satu divisi, tapi dia menolak.

Kecintaannya pada kebenaran adalah satu dari sekian banyak hal yang membuatnya begitu menjunjung keadilan. Dia tidak akan segan menyeret semua pelaku kejahatan ke pengadilan tinggi untuk mendapat hukuman. Apapun dia lakukan untuk memastikan bahwa tak ada lagi kejahatan terjadi di depan kedua matanya.

Dia terus tumbuh menjadi detektif yang kuat hingga namanya menjadi sangat diperhitungkan dan dipercaya beberapa perusahaan ternama untuk menyelidik kecurangan-kecurangan yang terjadi di perushaan mereka. Cyworld oh corp salah satunya.

Saat itu perusahaan yang bergerak di bidang komunikasi milik ayah kandung Insung terlibat kasus dengan serangkaian teror di Jepang dan China, total tiga dari sepuluh pemegang saham tertinggi disana bahkan merenggang nyawa akibat teror yang terjadi.

Membuat Oh Yun Soo segera meminta bantuan pada pihak berwenang di Beijing mengingat induk perushaan cyworld miliknya berada disana, dan saat itulah dia bertemu dengan ayah kandung Luhan. Oh Yun Soo meminta Chen untuk menyamar menjadi penasihat keuangannya. Mencari tahu siapa dalang teror yang dia yakini adalah orang dalam untuk dihukum dan diadili sebagaimana prosesnya.

Pada awalnya Chen menolak.

Hanya satu alasannya.

Sang istri –Baby- kala itu sedang mengandung malaikat kecilnya –Luhan- membuat Chen berniat untuk mengambil libur dan hanya menemani sang istri melahirkan.

Aku akan memastikan istri dan putramu dilindungi orang-orang terbaik dari Seoul dan Beijing

Itu adalah janji Oh Yun Soo padanya, membuat Chen sedikit tertarik dan pada akhirnya mengatakan Ya untuk bergabung.

Tak ada hal janggal selama dia bergabung dengan cyworld oh corp. Semua penyelidikan juga berjalan sangat mudah. Terlalu mudah hingga dia lengah.

Malam itu-….Malam dimana Insung dan istrinya datang ke Beijing adalah malam bencana untuk Chen dan keluarganya. Malam dimana mereka seharusnya menjadi keluarga menjadi malam yang begitu dibenci Insung seumur hidupnya.

Dia jauh-jauh datang ke Beijing hanya untuk menemukan ayahnya ditikam keji oleh sebilah pisau. Tubuh ayahnya terbujur kaku dan tergeletak di depan kedua matanya.

Malam itu Insung bersumpah akan menemukan siapa pembunuh ayahnya. Pembunuh yang hingga saat ini tidak bisa dia temukan dan ternyata bersembunyi di balik apron sialannya.

Pembunuh itu juga membesarkan seorang anak sialan yang menggoda putranya, membuat Insung begitu marah dan berniat untuk mengakhiri segalanya malam ini

"Kau salah sangka Insung-a…Kau harus mendengarkan aku. Memang benar malam itu aku bersama ayahmu, tapi aku bersumpah bukan aku yang melakukannya. Bukan aku yang membunuh ayah-…."

"DIAAAM!"

BUGH!

Satu kali hantaman, Insung memukul telak wajah Chen, membuat seketika sudut bibir Chen mengeluarkan darah namun dibalas usahanya untuk terus menjelaskan pada Insung.

"Bukan aku yang membunuh ayahmu!"

"TERDAPAT SIDIK JARIMU DISANA! HARUSNYA KAU MEMBUSUK DI PENJARA"

"ITU MEMANG BENAR SIDIK JARIKU, TAPI DEMI TUHAN BUKAN AKU YANG MENIKAM AYAHMU! LAGIPULA-…Lagipula kepolisan Beijing mengatakan aku bersih dan tidak bersalah, karena aku memang tidak melakukannya!"

"DIAM!"

Buru-buru Insung mencengkram kemeja Chen, menatapnya penuh murka lalu mengatakan hal yang akan membuat dua orang ayah itu saling membenci seumur hidup mereka.

"Aku tidak mau melihat putramu mendekati putraku lagi. KAU DENGAR? AKU TIDAK INGIN SEHUNKU MENYUKAI PRIA SIALAN YANG MERUPAKAN PUTRA DARI PEMBUNUH KAKEKNYA!"

"brengsek!"

BUGH!

Kali ini Chen yang menghajar Insung, sungguh dia tidak peduli jika Insung menuduhnya, mencaci, atau menghinanya sekalipun.

Tapi jika itu Luhan, jika itu putranya yang dihina. Maka cerita berbeda jelas terjadi saat ini.

"Jangan pernah menghina putraku."

"wae? Apa kau takut putramu tahu kalau ayahnya adalah seorang pembunuh?"

"APA KAU TAHU ALASAN MENGAPA LUHAN SANGAT TAKUT KEMBALI KE BEIJING, KE KOTA KELAHIRANNYA? KENAPA PUTRAKU SELALU MENJERIT TAKUT JIKA ITU BERHUBUNGAN DENGAN BEIJING?"

"…."

"ITU KARENA MUSUH AYAHMU MENYIMPAN DENDAM PADAKU! MEREKA TERUS MENGEJARKU BAHKAN SETELAH ENAM TAHUN BERLALU. MEREKA MENCULIK LUHAN DAN HAMPIR MEMBUNUH PUTRAKU—AAARGHH!"

Chen menghempas kasar tubuh Insung.

Keduanya kini dipenuhi amarah, saling menatap penuh kebencian akibat luka lama yang mereka buka setelah bertahun-tahun lamanya mereka coba lupakan terpaksa harus kembali diucapkan malam ini.

"Mereka mengancam agar aku berhenti menyelidiki jika ingin putraku selamat. Awalnya aku tidak peduli sampai-…."

Chen mengusap cepat air matanya sebelum kembali mengatakan "Sampai aku tahu Luhan memiliki trauma semenjak itu, dia tidak pernah mau kembali ke Beijing lagi, dia selalu menjerit takut jika melihat sekumpulan orang berpakaian hitam. Putra kecilku bahkan memohon untuk dibawa pergi darisana, dari tempat lahirnya!"

Insung hanya diam mendengarkan sementara Chen mulai mengepalkan tangannya. Rasanya begitu menyakitkan mengingat bagaimana dia harus kehilangan Luhan selama dua minggu, membayangkan hal mengerikan apa yang bajingan itu lakukan pada putra kecilnya.

Luhan tidak pernah mau bercerita, yang dia lakukan hanya menangis dan menjerit jika seseorang bertanya tentang bagaimana dia bertahan hidup selama dua minggu di tempat asing yang sangat mengerikan untuk anak berusia enam tahun.

"Dan untuk Sehun, aku bisa pastikan putraku tidak akan pernah mendekati lagi putramu, tidak akan pernah lagi!"

Chen kemudian bersumpah untuk tidak pernah lagi menginjakan kaki di kediaman keluarga yang seharusnya bertanggung jawab atas trauma yang dialami Luhan, putranya.

Dia berusaha memaafkan dan melupakan hal yang dia sembunyikan mengingat Sehun begitu menjaga putra kecilnya, mencintai putra kecilnya. Tapi saat Insung meminta agar Luhan menjauhi Sehun, maka sebagai seorang ayah yang tak ingin hati putranya terluka, dia juga akan melakukan segala cara menjauhkan Luhan dari Sehun, itu janjinya sebagai seorang ayah.

"Sebelumnya aku tidak pernah menyesal menjadi seorang detektif, sama sekali tidak pernah menyesaal. Tapi kau tahu apa yang membuatku menyesal dan bersumpah tidak akan pernah kembali lagi ke meja mengerikan itu?"

Chen kembali berbicara dengan tangan yang memegang knop pintu. Sekali lagi-…Sekali lagi setelah mengatakan ini dia benar-benar akan pergi, benar-benar akan menjauhi keluarga sialan yang justru berbalik menyalahkan dan menyerang dirinya dan keluarga kecilnya.

Dua pria sebaya itu sempat bertatapan penuh amarah dan benci, bersumpah untuk tidak lagi berhubungan sebelum Chen memutus kontak mata seraya berkata "Saat ayahmu datang ke mejaku, saat dia meminta tolong padaku. Saat itulah untuk kali pertama aku sangat menyesal menjadi seorang detektif, sangat menyesal karena bukan hanya nyawa ayahmu yang terancam tapi juga nyawa dua putra kita!"

BLAM….!

Chen disambut oleh Jihyo di depan pintu kerja, dia melihat bagaimana sahabat istrinya itu terisak pilu –tanda dia mendengarkan segala hal didalam sana- membuat Chen sebagai tamu di rumah itu hanya bisa tersenyum pahit dan membungkuk untuk berpamitan.

"Aku permisi Jihyo."

"Maafkan suamiku."

Chen sempat berhenti saat Jihyo menangis. Berusaha untuk mendengarkan apapun yang akan dikatakan ibu dari tiga orang putra yang salah satu putranya begitu dicintai Luhan.

"Aku akan bicara padanya, hanya jangan-….JANGAN JAUHKAN LUHAN DARI SEHUN! DUA PUTRA KITA SALING MENCINTAI CHEN. AKU MOHON-….."

"Aku pergi."

"tidak-….LI CHEN KEMBALI! JANGAN-….JANGAN BUAT LUHAN PERGI DARI SEHUNKU-…jangan…nanti Sehunku bisa menangis."

Jihyo memandang murka ruang kerja suaminya, ruang yang biasa dia gunakan untuk mendiskusikan kebaikan kini berubah fungsi menjadi ruang sialan yang membuat Sehun akan kehilangan Luhan.

Dan tak kalah dari dua pria yang baru saling memukul maka Jihyo berada disana untuk bicara pada jaksa arogan yang merupakan suaminya.

BRAK…!

"APA YANG COBA KAU LAKUKAN?"

"Jihyo…"

"KENAPA KAU MEMINTA LUHAN MENINGGALKAN SEHUN? APA KAU INGIN MELIHAT PUTRA KITA MATI KARENA TAK BISA HIDUP DENGAN LUHAN?"

"Sayang…"

"TIDAK INGATKAH KAU SIAPA YANG MENOLONG AKU DAN SEHUN MALAM ITU? TIDAK INGATKAH DI MALAM AYAHMU MENINGGAL AKU JUGA NYARIS MEREGANG NYAWA BERSAMA SEHUN DIDALAM KANDUNGANKU? TIDAK INGATKAH KAU JIKA BUKAN KARENA BABY KITA AKAN-….KITA AKAN KEHILANGAN SEHUN!"

"jihyo kumohon."

"LEPAS!"

"Jika sampai Sehunku menderita karena ayahnya, karena tak bisa hidup dengan Luhannya, aku bersumpah-….Aku bersumpah akan membencimu seumur hidup!"

Wajar jika seorang ibu akan melakukan segala hal untuk membuat putranya bahagia. Dan ya-….Jihyo sedang melakukannya. Dia memberikan ultimatum bukan sebagai wanita atau seorang istri, dia melakukannya atas nama seorang ibu.

Jadi jika dia sampai melihat putra kesayangannya hancur karena ayahnya sendiri, maka disaat itu pula dia bersumpah sebagai seorang ibu untuk mengembalikan apapun yang bisa membuat ketiga putranya bahagia.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Harusnya kita bermalam saja di hotel. Lagipula aku juga lelah."

Jika bukan karena ayah Luhan yang terus menghubunginya dan bersikeras memintanya pulang kerumah, mungkin dua remaja itu memang akan menghabiskan malam bersama di hotel. Saling melepas rindu tanpa satu helai yang mereka kenakan dan hanya saling memeluk sebelum kembali harus berpisah esok hari.

"Tidak apa, lagipula kita sudah sama-sama puas."

"ish! Bukan itu! Sudah lama aku tidak memelukmu saat tidur. Aku rindu."

Ckit…!

Bersamaan dengan gumaman rindu Luhan, maka disinilah mereka-….Di depan pintu rumah Luhan yang menjadi akhir dari kebersamaan mereka.

Kedua tangan mereka terus bertautan-…enggan untuk dilepaskan.

Keheningan juga menyelimuti perpisahan mereka-….lagi

Tak ada yang berbicara, Sehun hanya terus mengecupi tangan Luhan lalu tak lama tangannya melepas seatbelt yang dikenakan Luhan.

"Sehun aku belum mau pergi."

"Pergilah sayang. Nanti kita bertemu lagi."

"Kapan?"

"Secepatnya."

"Aku ingin mengantarmu ke bandara."

Sehun menangkup wajah mungil Luhan, memperhatikan dalam-dalam setiap bentuk wajah Luhan yang akan dia rindukan lalu meghadiahinya dengan ciuman basah di seluruh inci wajah Luhan "Baiklah. Kau boleh mengantarku ke bandara besok pagi, tapi jika tidak kuat kau bisa tidak datang seperti malam itu."

Giliran Luhan yang menggeleng, dia juga menangkup wajah Sehun lalu mencium basah seluruh inci wajah tampan di depannya. Sedikit mengecup lama bibir Sehun seraya mengatakan "Kali ini aku akan datang. Aku ingin mencium bibir ini lagi besok pagi." Ujarnya mengusap bibir yang selalu berhasil membuatnya takluk lalu kembali menciumnya lembut kali ini.

"Baiklah aku menunggumu."

Sehun mengakhiri perbincangan mereka dengan ciuman di kening Luhan, sedikit tertawa lalu membiarkan Luhan membuka pintu mobilnya "Aku akan datang, jangan pergi sebelum aku datang."

"Iya sayang. Selamat malam."

"Selamat malam-…oh ya! Aku lupa memberikan sesuatu."

"Apa?"

Buru-buru Luhan merogoh saku kemejanya, mencari benda kecil yang sengaja ia pesan lalu menunjukkannya pada Sehun "Ini dia!"

"Itu apa?"

"Cincin. Aku memesannya tiga bulan lalu."

"Cincin?"

"Iya tadinya aku berniat memakaikan cincin ini saat kau pergi pertama kali, tapi ternyata aku tidak kuat. Jadi aku menundanya dan berniat memberikannya saat kau pulang nanti."

"Lu…."

"Beruntung kau pulang lebih cepat jadi aku bisa-…..hmphhh…"

Saat bibir panas Sehun kembali melumat bibirnya yang haus akan sentuhan, maka terbuai adalah hal wajar untuk Luhan. Dia bahkan terus menikmati setiap gerakan bibir Sehun di bibirnya hingga rasanya seluruh tubuhnya meletup minta di ledakkan.

Sehun sendiri tidak mencium nafsu kali ini, tapi karena cinta. Dia terlalu cinta hingga rasanya akan mati jika sesuatu terjadi pada Luhan. Membuat ciuman kali ini begitu lembut, mendamba dan terasa sangat putus asa.

"gomawo sayang. Aku benar-benar akan menangis karena sangat bahagia saat ini."

Luhan mengusap bibir basah Sehun menggunakan ibu jarinya. Tangannya kemudian beralih ke mata Sehun lalu mengecupnya sayang bergantian. Mereka kehabisan nafas, namun hal itu tidak membuat Luhan lupa untuk memakaikan cincin di jari manis Sehun –tanda kepemilikan darinya-

"Nah karena kau sudah memakai cincin dariku, itu artinya kau sudah resmi menjadi kekasihku –tidak- kau secara tidak resmi adalah suamiku. Jadi katakan pada semua orang yang menggodamu bahwa kau sudah menikah. Dengar?"

"Lalu bagaimana denganmu? Apa yang kau katakan jika ada orang yang menggodamu? Aku belum menyiapkan apapun."

"ish! Aku sudah lebih dulu menikah."

"huh?"

Luhan mengangkat tangan kirinya, memamerkan cincin yang melingkar di jari manisnya seraya berkata "Aku sudah menikah selama tiga bulan dan nama suamiku Oh Sehun."

Tes…!

Air mata itu meluncur begitu saja dari mata Sehun.

Rasanya tak ada yang sia-sia.

Sepuluh tahun dia menunggu,

Sepuluh tahun dia mengejar,

Dan sepuluh tahun dia berusaha-…..Luhan membalasnya hari ini.

Terlalu rapih hingga rasanya hati meledak karena terlalu bahagia, tiap hantamannya terasa sakit namun membuatnya terus terjatuh mencintai si mungil di depannya.

Ya Sehun mencintai Luhan,

Sejak awal mereka bertemu-…Sehun menyukai Luhan.

Setiap detik, setiap hari bahkan selama nafasnya berhembus hanya Luhan yang bisa membuatnya hidup.

Dan karena itu, saat tangan mungil itu mengusap air matanya maka hanya ada kebahagiaan tak terlihat yang begitu ia panjatkan pada Tuhan, berterimakasih pada Tuhan karena Luhan membalas semua perasaan berlebihan yang dia miliki untuk kekasihnya, pria yang akan segera dia nikahi, untuk Luhannya.

"Jadi jangan menangis dan mencemaskan aku, karena jika ada yang menggodaku. Aku akan menjawab dengan lantang bahwa aku sudah menikah."

"Benar! Kau sudah menikah dan nama suamimu adalah-…."

"Oh Sehun. Nama suamiku Oh Sehun."

"Kau benar nama suamimu Oh Sehun."

Sekali lagi mereka berciuman, begitu hangat dan lembut sampai Sehun tersenyum dan mengusap air matanya sendiri "Sudah cukup membuatku kehilangan akal sehat, sekarang masuk dan temui aku besok pagi."

"Baiklah. Terimakasih juga sudah menjengukku sayang, aku janji setelah ini akan belajar dengan giat dan membuatmu bangga dengan jas putih yang akan aku pakai nantinya."

"Aku tidak sabar melihatnya. Sampai besok Luhannie." Sehun mengecup kening Luhan lalu membiarkan kekasihnya keluar dari mobil.

Dia juga sengaja membuka jendela mobil untuk memastikan belahan jiwanya benar-benar masuk ke dalam rumahnya sendiri "Aku mencintaimu Luhan."

"Aku tahu."

"Balas cintaku atau aku-…."

"Aku juga mencintaimu Sehunnie."

DEG!

"whoa…jangan keluar jantung sialan!" katanya merutuk bahagia sebelum menyembunyikan wajahnya di balik kemudi, dia sangat bahagia. Terlalu bahagia karena balasan cinta yang Luhan ucapkan setelah sepuluh tahun.

"Akhirnya-…akhirnya aku mendengar kata cintamu Lu. Akhirnya-…..Tuhan terimakasih, sungguh."

Sehun mengucapkan terimakasih, sangat berterimakasih pada Tuhan.

Tanpa tahu apa yang akan terjadi setelah Luhan menutup pintu gerbang rumahnya.

Dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi setelah mobilnya beranjak pergi menuju rumahnya

Entahlah-….sekalipun dia tahu itu sama sekali tak merubah apapun. Dia mencintai Luhan, dan akan melakukan apapun hanya untuk bisa bersama Luhan, kekasihnya.

.

.

.


.

Bersambung ke part II

.


.

.

.

Update soon!