Previous..
"Aku mencintaimu Luhan."
"Aku tahu."
"Balas cintaku atau aku-…."
"Aku juga mencintaimu Sehunnie."
DEG!
"whoa…jangan keluar jantung sialan!" katanya merutuk bahagia sebelum menyembunyikan wajahnya di balik kemudi, dia sangat bahagia. Terlalu bahagia karena balasan cinta yang Luhan ucapkan setelah sepuluh tahun.
"Akhirnya-…akhirnya aku mendengar kata cintamu Lu. Akhirnya-…..Tuhan terimakasih, sungguh."
Sehun mengucapkan terimakasih, sangat berterimakasih pada Tuhan.
Tanpa tahu apa yang akan terjadi setelah Luhan menutup pintu gerbang rumahnya.
Dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi setelah mobilnya beranjak pergi menuju rumahnya
Entahlah-….sekalipun dia tahu itu sama sekali tak merubah apapun. Dia mencintai Luhan, dan akan melakukan apapun hanya untuk bisa bersama Luhan, kekasihnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Je'Te Veux
.
.
.
.
.
Main cast : Sehun-Luhan
Rate : T-M
.
.
.
.
.
.
Brrrmmmm!
Setelah memastikan mobil Sehun pergi menjauh, barulah Luhan berjalan masuk ke dalam rumahnya. Jujur wajahnya sedikit pucat bersamaan dengan langkahnya mendekati rumah yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama sepuluh tahun.
Langkah kakinya cenderung ragu untuk melangkah ditambah suasana rumah yang entah mengapa terlihat sangat mengerikan untuknya saat ini.
Tap!
Luhan berhenti melangkah.
Sungguh-….dia tidak tahu alasan mengapa dia begitu cemas dan ketakutan.
Jantungnya berdegup terlalu cepat karena takut.
Kedua tangannya berkeringat.
Dia bahkan memutuskan untuk pergi dan kembali mencari Sehun sebelum
"BAGAIMANA AKU BISA TENANG!"
"Pa?"
Mendengar teriakan sang ayah, membuatnya secara refleks berlari ke dalam rumah, Luhan juga melupakan sejenak kecemasannya untuk melihat apa yang terjadi pada ayahnya.
BRAK…!
"PA!"
Dua orang dewasa di dalam rumah terlihat menoleh.
Mata Luhan juga mencari dimana sang ayah, memastikan keadaannya baik-baik saja sampai kerutan dahi dia tunjukkan –tanda tak mengerti- melihat justru ibunya yang terlihat sangat buruk dengan kondisinya.
"Ma?"
Buru-buru Luhan menghampiri Baby, memeluknya erat dengan tangan yang terus mengusap punggung ibunya.
"Ma ada apa? kenapa menangis?"
"anakku-…..hkss—anakkuyangmalang—aarhh."
"Apa yang mama bicarakan-….Apa yang terjadi Pa?"
Putra tunggal keluarga Xi itu pun mencari jawaban pada sang ayah, bertanya-tanya mengapa ibunya menagis terisak sementara sang ayah terlihat sangat murka saat menatapnya "Ada apa? Kenapa-….."
"Kau tidak boleh lagi berhubungan dengan Sehun."
"SAYANG!"
"huh?"
Sementara Baby menjerit marah, maka Luhan merasa ayahnya baru mengatakan hal mengerikan tentang tidak boleh berhubungan dengan Sehun.
Dengan siapa?
Sehun?
Tapi kenapa?
Membuat kecemasan kini berbalik menyerang Luhan sementara sang ibu mulai mendekap erat putra tunggalnya "Apa yang papa katakan? Kenapa aku harus-…..ini gila! Kenapa aku harus-….Kenapa aku tidak boleh berhubungan dengan Sehun."
"Jika Papa katakan tidak itu berarti tidak! Hanya-…..HANYA JANGAN PERNAH TEMUI PRIA SIALAN ITU LAGI!"
"PA!"
Luhan sudah melepas pelukan pada ibunya, yang dia lakukan kini hanya diam menikmati tamparan keras yang diberikan sang ayah tepat dihatinya.
Dia juga tertunduk cukup lama untuk menjernihkan pikirannya.
Berharap sesaat lagi ayahnya akan tertawa dan mengatakan papa hanya bercanda nak-…Namun nihil.
Tak pernah ada tawa dari sang ayah, yang ada hanya geraman disertai helaan nafas tak beraturan. Kedua ayah-anak itu kini bertatapan sengit berperang dengan titah mereka masing-masing.
Jika dengan tatapan Luhan mengatakan tidak akan pernah meninggalkan Sehun, maka tatapan sang ayah berbeda, Chen seolah membenarkan bahwa apapun yang dia katakan malam ini adalah benar tentang putranya yang tidak boleh menemui Sehun.
"Kau dengar papa nak? Papa tidak ingin kau menemui Sehun lagi. Kau harus-…."
"PAAA!"
Luhan menjerit bukan karena dia marah, sungguh.
Dia hanya terkejut pada apa yang diinginkan ayahnya, apa yang baru saja dikatakan ayahnya.
Ini adalah kali pertama selama delapan belas tahun dia hidup, sang ayah begitu egois pada apa yang diinginkannya. Dia pun berusaha mendekati sang ayah berharap jika omong kosong ini segera berakhir.
"Kenapa aku harus menjauhi Sehun? Kenapa pa? Beritahu aku."
"…."
"Kau tahu Sehun sudah sangat menjagaku selama lebih dari sepuluh tahun. Dia juga beberapa kali sakit karena terus menungguku latihan, menemani aku bermain atau paling buruk berdiri sepanjang malam di luar rumah saat aku marah. Lalu enapa? Kenapa papa ingin aku melepaskan pria yang sudah memberikan setengah hidupnya padaku? Kenapa Pa?"
"…."
"Jawab aku pa. Diamnya papa membuatku bingung. Katakan padaku alasannya, kumohon—hkss-…JAWAB AKU PA!"
"anakku—hkss…"
Sementara Luhan terus menuntut jawaban, maka dibelakangnya sang ibu terus menangis tertahan, jeritannya sangat memilukan membuat Luhan kehilangan fokus hingga akhirnya hanya kemarahan yang mengusai.
"Baik jika papa tidak bisa menjawab! Aku tidak akan pernah meninggalkan Sehun. Papa dengar? Aku akan-….Aku akan menemuinya malam ini, jika perlu aku akan ikut pergi dengannya. AKU BENCI PAPA!"
Dan saat satu-satunya darah daging yang dia miliki mengatakan benci-….Maka goresan jelas membekas di hati pria paruh baya itu.
Sungguh dia tidak tega menyakiti putranya seperti ini, tapi saat bayang wajah Insung menguasai kemarahannya, maka naluri Chen sebagai seorang ayah bekerja ketika melihat putranya nyaris berlari meninggalkan rumah.
Buru-buru dia memegang lengan Luhan dan mencengkramnya kuat diiringi jeritan marah oleh putra tunggalnya.
"PAPA LEPAS! AKU AKAN MENEMUI SEHUN-….AKU AKAN MENGATAKAN SEMUA HAL GILA INI PADANYA, PADA KEKASIHKU!"
"PIKIRMU KAU AKAN PERGI KEMANA? INI SUDAH MALAM!"
Sret….!
Luhan menghempas kasar tangan sang ayah, berniat untuk segera berlari sebelum tangannya dicengkram kuat dan diseret paksa sang papa menaiki tangga untuk menuju kamarnya.
"Kau tidak akan pergi kemanapun nak. Tidak ke tempat temanmu, tidak ke tempat bajingan itu atau tidak kemanapun!"
"PAPA LEPAS-…..MAMA TOLONG AKU!"
"nak…."
"BABY DIAM DI TEMPATMU!"
Langkah Baby terhenti seketika.
Karena sama seperti Luhan, maka ini adalah kali pertama selama dua puluh tahun mereka-…Chen membentaknya.
Membuat sang dokter menatap takut pada suaminya dan sangat terpaksa membiarkan Luhannya dipisahkan secara paksa dari Sehun, kekasihnya.
"MAMA TOLONG AKU-…..SEHUN! SEHUNNAAAA.."
"BERHENTI MEMANGGIL PRIA ITU NAK!"
"SEHUN TOLONG AKU!"
BRAK…!
"Papa akan membuka pintu ini setelah teman kecilmu benar-benar pergi dari Seoul. Renungkan apa yang papa katakan dan papa mohon turuti ucapan papa kali ini."
"tidak…"
Klik…!
Terlambat-…. Chen sudah mengunci Luhan di kamarnya.
"PAPA BUKA PINTUNYA!"
Dia mengabaikan suara jeritan Luhan, menulikan telinganya bahwa di dalam sana putra kecilnya sedang memukul kencang pintu kamarnya. Ingin rasanya dia membukakan pintu dan membiarkan Luhannya melakukan apapun
Tapi setelah itu apa?
Semua hanya akan lebih menyakitkan untuk Luhan. Terlalu menyakitkan hingga rasanya dia bisa membunuh siapa pun yang menyakiti putra kecilnya.
"PAPA!"
"Luhan anakku-….."
Dan bersamaan dengan teriakan Luhan, maka suara sang ibu kembali terdengar. Baby berada disana, di depan pintu kamar putra kecilnya. Hatinya terasa dicabik mendengar suara jeritan Luhan yang kian terasa memilukan.
"KAU KETERLALUAN SAYANG!"
Baby geram, tangannya bahkan sudah terkepal. Hal berikutnya yang dia lakukan adalah mengambil paksa kunci di tangan suaminya untuk membuka pintu kamar putra kecilnya.
"PAPA!"
"mama akan buka pintu ini nak."
Buru-buru Baby memutar kunci kamar Luhan sebelum suaminya kembali berbicara dan terdengar mengancam kali ini "Jika kau membuka pintu itu, kita akan kembali hidup di Beijing."
"huh?"
Chen menghapus air matanya, membuat gerakan memutar kunci yang sedang Baby lakukan seketika terhenti.
Sang istri menatap mata suaminya tak percaya, sesaat dia ragu dengan apa yang dia dengar. Tapi saat mata suaminya berkilat marah maka bisa dipastikan bahwa pendengarannya tak salah ketika suaminya mengatakan akan kembali hidup di Beijing.
"Sayang? Apa yang kau katakan?"
"Jika pintu itu terbuka, jika Luhan kita menemui bajingan kecil itu lagi. Aku bersumpah-….Akan membawa kau dan Luhan kembali menetap di Beijing, di rumah kita!"
"Apa kau gila? Apa kau-…..PUTRAMU KETAKUTAN TIAP KALI KITA KEMBALI KESANA! TEGA SEKALI KAU PADA LUHANKU! TEGA SEKALI-…."
"AKU SERIUS! JIKA KAU BUKA PINTU ITU! KITA AKAN PERGI DARI SEOUL SELAMANYA!"
Setelah berteriak, Chen kemudian bergegas pergi meninggalkan kamar Luhan. Membuat Baby benar-benar ketakutan tak menyangka suaminya akan sejauh ini hanya karena percintaan dua remaja.
"hks….Lu—anakmama—sayangku—hks.."
"Ma buka pintunya! Biarkan aku bertemu Sehun, nanti aku akan meminta Sehun bicara pada papa. Ma buka pintunya—akumohonma—MA!"
"Sayang mama. Jangan berteriak lagi nak. Papa akan segera buka pintunya."
"Tapi kapan Ma?" katanya serak berharap pintu kamarnya terbuka.
Luhan tidak tahu apa yang terjadi
Sama sekali tidak tahu
Kenapa ayahnya tiba-tiba mengatakan untuk menjauhi Sehun
Ada apa?
Apa yang dilakukan Sehun?
Semua pertanyaan itu berputar di kepalanya sakit, ingin rasanya dia kembali menjerit. Tapi kemudian apa? Ayahnya jelas tidak akan membukakan pintu untuknya.
Luhan juga mendengar langkah kaki ayahnya menjauh digantikan dengan isak tangis sang ibu.
Luhan tak tega mendengar isakan ibunya, bena-benar tak tega.
Tapi saat dirinya mencoba kuat maka bayang wajah Sehun kembali memenuhi kepalanya.
Besok, pagi-pagi sekali-….Sehun akan kembali ke Beijing.
Sementara dirinya?
Terkurung di kamar.
Membuat satu-satunya keturunan keluarga Xi itu mendekap erat lututnya lalu terisak dengan wajah tersembunyi di sela lututnya "hks….Kapan papa akan membuka pintu ma?" tanyanya penuh cemas dibalas suara lembut ibunya.
"Segera sayang. Mama janji."
"kapan?"
"Lu….."
"Aku hanya ingin menemui Sehun, kenapa tidak boleh ma?"
"…"
"Kapan pintunya dibuka ma—arghh!"
Luhan menjambak kuat rambutnya, dia juga menggigit kuat bibirnya hingga rasa anyir darah terasa seketika. Dan saat tak ada jawaban dari ibunya, maka hanya satu yang pasti bahwa
Saat ini,
Malam ini juga,
Kemungkinan dirinya bisa bertemu Sehun adalah….
tidak mungkin…
"tidak..tidak…aku harus bertemu Sehun-….MAMA BUKA PINTUNYA!"
"nak…"
DOR….DOR!
"MA AKU MOHON BUKA PINTUNYA-…..BUKA PINTUNYA SEKARANG!"
"Lu tenanglah sayang. Tanganmu terluka jika terus memukul pintu."
"Aku harus bertemu Sehun, katakan pada papa aku harus menemui Sehun."
"Besok kau bisa bertemu dengan Sehun nak, besok mama janji pada-…."
"BESOK PAGI SEHUN PERGI!-….aku-…..AKU HARUS BERTEMU DENGANNYA MALAM INI!"
DOR…DOR….
"PAPA BUKA PINTUNYA! BUKA—AAAARGHHHHH!"
"sayang…anakku…"
"Aku harus bertemu Sehun…..Sehun….aku harus bertemu—…..SEHUN!"
.
.
.
.
"LUHAN!"
"haaah...haaaah..."
Nafasnya tersengal pilu diiringi dengan sesak dihatinya.
Tangannya berkeringat hebat sementara tiap dia mengambil nafas hatinya terjepit sesak.
Itu hanya mimpi. Mimpi sialan yang begitu buruk namun terasa sangat nyata. Mimpi dimana dia dan Luhan berada sangat dekat namun tidak bisa saling memeluk.
Parahnya, dalam mimpi itu Luhan terlihat sangat ketakutan, dia menangis, dan paling buruk saat Luhan menjerit memanggil namanya tapi tak ada yang bisa dia lakukan.
"Luhan..."
Buru-buru Sehun memakai sandal tidurnya, sekilas melirik jam yang menunjukkan pukul satu pagi namun dia abaikan.
Yang Sehun lakukan hanya bergegas memakai jaket serta mengambil kunci mobil sebelum berlari tergesa menuruni tangga menuju garasi rumahnya.
"Sehun?"
"Ma?"
Kedua anak-ibu itu bertemu di lantai bawah. Saling memandang bertanya sampai tak sengaja mata Sehun melihat sang ayah yang kini duduk di ruang santai keluarga.
"Ma aku pergi dulu."
"Sayang kau mau kemana?"
"Aku ingin menemui Luhan."
"Luhan?"
"Ya ma. Sampai nanti, aku pergi-..."
"OH SEHUN!"
Dua ibu-anak itu pun tersentak saat kepala keluarga mereka berteriak. Membuat Sehun bertanya-tanya sementara Jihyo memandang cemas-...takut jika Insung mengatakan hal gila pada putra kesayangannya tentang Luhan.
"Kenapa papa berteriak?"
"BERHENTI MENEMUI PRIA ITU!"
Sehun diam, pikirannya sedang mencerna apa yang dikatakan sang ayah tentang "pria itu." Membuatnya terus berfikir sampai tak sengaja terdengar geraman dari putra kedua Jihyo dan Insung.
"Pria itu? Siapa yang ayah bicarakan?"
Dengan santai Insung melipat surat kabarnya. Dia juga menatap Sehun tanpa ragu untuk mengatakan "Luhan."
"Luhan?"
"..."
"Whoa-...Apa papa baru saja memintaku untuk berhenti menemui Luhan?"
"Kau mendengar apa yang papa katakan! Hanya berhenti menemui pria itu dan cari seseorang yang lebih pantas bersamamu."
Sehun menggeram, jelas terlihat dia marah. Detik berikutnya dia berniat menghampiri sang ayah jika Jihyo tidak tiba-tiba berdiri di depannya. "Nak. Cepat pergi tidur, kau bisa menemui Luhan esok pagi."
Sehun mengabaikan ucapan ibunya untuk menatap geram pada sang ayah, ingin sekali dia menatap mata ayahnya dan mencari tahu omong kosong macam apa yang baru dibicarakan sang ayah.
"Apa yang papa katakan tentang cari yang lebih pantas? Apa papa sedang menghina Luhan?"
"PAPA HANYA BICARA TENTANG KEBENARAN!"
"KEBENARAN MACAM APA YANG PAPA KATAKAN?"
"LUHAN TIDAK PANTAS BERSAMAMU!"
"PA!"
"nak tenanglah…Mama mohon."
Ingin sekali Jihyo menampar suaminya, menyadarkan Insung bahwa saat ini dia sedang berbicara dengan Sehun, -putra mereka yang selalu murka jika seseorang menghina Luhan, sedari kecil selalu seperti itu- tidakkah suaminya mengerti dan hanya mengalah untuk tidak memancing amarah Sehun.
"Sudahlah, lebih baik kau cepat tidur! Kau harus pergi besok pagi."
"Kita belum selesai bicara-….Papa kembali! Kita belum-….ABOJI!—AARGH!"
Pada dasarnya Sehun sedang mencemaskan Luhan, dan saat ayahnya mengatakan hal gila tentang dirinya yang tidak bisa menemui Luhan maka hanya ada kemarahan dan rasa cemas berlebihan semakin dia rasakan saat ini.
Sehun bahkan nyaris tetap pergi menemui Luhan jika ibunya tidak terus memeluk dan menangis entah karena apa "Kenapa mama menangis? Kenapa dengan papa? Kenapa aku tidak boleh menemui Luhan?"
"nak…dengarkan mama sayang. Apapun yang terjadi mama akan selalu merestui hubunganmu dan Luhan. Hanya fokus pada tujuan hidupmu agar kau bisa menentukan pilihamu sendiri nak."
"Apa yang terjadi ma?"
Sehun mengusak marah rambutnya. Dia bahkan menjambak kuat sebelum tangan Jihyo menangkup wajahnya "Mama janji akan menceritakan semuanya saat kau siap. Saat kau dewasa nanti nak."
"Aku sudah cukup dewasa untuk mengerti."
"Tidak nak-…Kau masih putra kecil mama. Bersabarlah sayang."
"Terserah! Aku akan pergi menemui Luhan." Katanya berniat pergi lalu kembali dihalangi Jihyo yang kini berdiri di depannya. "Keadaan akan semakin buruk jika kau tetap pergi. Mama mohon kembali ke kamarmu sekarang."
"MA!"
Jihyo tersentak, rasanya jarang mendengar Sehun membentaknya, dan saat si nomor dua melakukannya maka hanya ada rasa terkejut –sedikit tidak percaya- karena Sehun baru saja membentaknya.
"hks…"
"Ma…astaga ma. Maafkan aku-…Pikiranku kosong, aku tidak bermaksud-….Kemari biar aku peluk."
Buru-buru Sehun memeluk ibunya, mengusap lembut punggung yang terus bergetar di dekapannya seraya membisikan maaf berulang lagi "maafkan aku ma. Maaf."
"Mama yang minta maaf nak, mama sangat menyesal—hks."
Rasanya ada yang janggal saat ibunya terlihat begitu sedih, seluruh kalimatnya juga menyiratkan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Entahlah…
Sehun tidak bisa mengerti apa yang akan terjadi, yang dia mengerti bahwa saat ini, malam ini juga dia harus menemui Luhan-…Tapi sepertinya harus dia batalkan.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi, wajar jika Luhan tidak mengangkat ponselnya –tidur mungkin- jadi untuk membuat ibunya merasa lebih baik, dia memeluknya lalu mengatakan
"Aku akan pergi tidur jika mama berhenti menangis."
Sekejap Jihyo berhenti menangis, ibu tiga anak itu pun mengusap cepat air matanya sebelum tersenyum memastikan pada sang putra "Benarkah nak?"
"mmhh… Aku akan kembali kekamar. Selamat malam ma."
Jihyo memperhatikan bagaimana punggung putranya menjauh. Semakin menjauh hingga terdengar suara pintu kamar ditutup
Hksss…
Detik berikutnya dia terduduk lemas lalu menangis sebanyak yang dia bisa.
Hatinya sakit tak tahan membayangkan akan sebenci apa Sehun pada ayahnya jika mengetahui kebenaran gila dibalik sikap dingin ayahnya.
"Maaf nak, maaf sayang."
Dan saat kata maaf yang terus dikeluarkan sang ibu, maka si putra sulung yang melihat kekacauan di keluarganya –tepat di hari pernikahannya- sedikit termenung. Dia mempelajari segalanya,
Tentang sikap ayahnya
Tentang tangisan ibunya
Tentang kemarahan Sehun
Tentang apa yang membuat ayah Luhan terburu-buru pergi dari pesta.
Yunho –sulung tiga bersaudara- itu mengetahui segala kejanggalan yang terjadi pada keluarganya, pada ayahnya.
Dan saat melihat kebahagiaan adiknya yang dipertaruhkan maka rasanya tidak mungkin jika dia hanya diam dan menyaksikan adiknya dihancurkan di depan kedua matanya sendiri. Yunho bersumpah akan mencari tahu –dia sudah melakukannya- tapi sial! Ayahnya adalah seorang pro yang akan melakukan apapun untuk hal yang dia inginkan.
"Kau tidak akan bisa menyakiti adik kecilku pa. "
Mungkin ayahnya bisa mendapatkan apapun dengan caranya-…apapun-…Tapi Yunho bersumpah bahwa ayahnya tidak akan bisa menyentuh Sehun dengan mudah-…..tidak akan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Incheon airport, 07.15 KST
.
.
.
.
.
.
.
"Pesawatmu akan segera take off Sehunna. Cepatlah masuk."
"Tapi hyung…..Luhan."
Nyatanya seluruh pertengkarannya dengan sang ayah malam tadi sedikit banyak mempengaruhi mood nya. Dia –Sehun- merasakan sesuatu yang sangat berbeda dengan cara ayahnya menyebut nama Luhan.
Entahlah…
Rasanya sang ayah terdengar sangat membenci Luhan.
Dan mengingat segala percakapan mereka malam tadi, maka adalah hal wajar jika Sehun enggan pergi dan hanya ingin menjaga Luhan disini, di tempat lahirnya.
"Hyung akan menemui Luhan setelah ini, kau hanya perlu pergi dan jadilah sukses seperti rencanamu."
"Aku sangat mengkhawatirkan Luhan."
"Mungkin Luhan tidak sanggup mengantarmu lagi kali ini, atau mungkin dia ada kelas yang harus dia hadiri. Berfikirlah yang baik adik kecil."
Sehun mengambil banyak nafasnya, pandangannya kosong persis seperti hatinya. Dan saat hiburan Yunho terasa sangat nyata maka hanya hambar yang dia rasakan "Entahlah hyung. Aku takut terjadi sesuatu pada Luhan."
Sebagai putra sulung, bohong jika Yunho tidak menyadari ada yang aneh dari sikap ayahnya.
Semua bermula dari enam bulan lalu saat ayahnya menerima dokumen gelap yang tergeletak di depan rumah mereka.
Yunho sendiri yang memberikannya pada sang ayah, dan mulai malam itu ayahnya mulai merubah sikapnya pada semua orang. Dia bukan jaksa Oh yang terkenal ramah dan terbuka lagi, dia kini dikenal sebagai jaksa Oh yang begitu dingin dan tak segan memasukkan targetnya ke dalam penjara dengan hukuman seberat-beratnya
Ya-….Yunho sangat mengetahuinya. Dan semua perubahan itu sangat terjadi pada satu keluarga, satu orang, satu pria dan itu ayah Luhan, kekasih adiknya.
Dan bohong juga jika Yunho tidak mencari tahu, dia sudah mencari tahu.
Tapi sial….
Gerakan ayahnya lebih tertutup dari yang ia duga. Satu-satunya cara yang bisa dia lakukan saat ini hanya memperhatikan dari dekat. Yunho hanya bisa mengawasi dan memastikan bahwa ayahnya tidak menyakiti keluarga mereka, Sehun terutama
Membuat nalurinya sebagai seorang kakak bekerja sangat refleks, dia kemudian memeluk hangat tubuh adiknya yang bergetar untuk mengatakan "Jangan khawatirkan Luhan. Selama kau pergi, Luhan menjadi tanggung jawab hyung."
Sehun menikmati bahu hangat kakaknya, dia juga ikut mendekap erat seraya meletakkan dagu di pundak sang kakak "Kau janji hyung?"
"Dengan hidupku, aku berjanji pada adik kecilku. Aku akan menjaga Luhan dan tidak akan membiarkan Luhan disakiti oleh siapapun."
"Termasuk oleh Papa."
Si sulung tertegun, dia tidak mengira Sehun bisa menarik kesimpulan secepat ini tentang siapa ayah mereka. Membuat si pria berkulit agak gelap tersenyum disertai usapan tegas di punggung adik kesayangannya "Termasuk papa."
Sehun melepas pelukannya.
Wajahnya kentara sekali cemas, matanya terus melihat sekeliling bandara memastikan Luhan tidak ada di seuruh tempat yang bisa di jangkau matanya.
Terakhir dia mulai mendorong koper yang akan dia bawa lalu kembali menatap satu-satunya orang yang bisa dia percayai saat ini. "Baiklah aku pergi. Janji temui Luhan setelah ini."
"Hyung janji. Kau harus belajar dengan giat dan menjadi sukses seperti janjimu. Mengerti?"
"Mengerti."
Sehun sudah lima langkah menjauh dari Yunho tapi matanya masih sesekali melirik ke segala arah.
Dia hanya tidak ingin melewatkan sesuatu dengan kepergiannya.
Dan saat dia mencoba berpikiran bahwa benar Luhan baik-baik saja maka teriakan
"SEHUN!"
Membuat kakinya secara refleks berhenti.
Sehun mengakui bahwa itu memang suara Luhan, Luhannya
Tapi dia enggan menoleh sebab suara Luhan terdengar serak, itu kelemahan Sehun.
Dia masih menenangkan dirinya saat ini, mencoba untuk tidak berfikiran buruk sampai kali ini suara Yunho terdengar begitu mencemaskan Luhan.
"Luhan ada apa denganmu?"
Pria yang tubuhnya lebih mungil kini terjatuh di pelukan kakak kandung kekasihnya. Meminta pertolongan agar Yunho menahan tubuhnya yang sudah sangat lemas sementara matanya terus melihat punggung tegap Sehun yang sialnya tak bergerak sama sekali. "Sehun….Aku ingin bertemu Sehun. Hyung aku-….SEHUN!"
"astaga Lu!"
Demi Tuhan Sehun belum melihat apa yang terjadi di belakang punggungnya, tapi saat suara cemas Yunho disatukan dengan jeritan Luhan, maka sudah bisa dipastikan bahwa sesuatu yang mengerikan terjadi di belakangnya.
"SEHUN—hkss…"
Dia tidak berani menoleh, sungguh. Tapi saat Luhan kembali menjerit memanggil namanya, maka disaat itu pula Sehun menoleh, matanya mencari dimana Luhan berada seraya menggumamkan
Kau baik-baik saja, kau harus baik-baik saja sayang.
Namun sial saat Sehun menoleh-….Luhan jauh dari baik-baik saja.
Wajahnya pucat-….terlalu pucat.
Lutut dan sikunya dipenuhi goresan-…entah karena apa.
Sehun memperhatikan kekasihnya yang kini berada di pelukan hyungnya. Sedang terduduk dengan mata rusanya yang terus menangis.
Sehun masih belum merespon-…pikirannya kosong.
Demi Tuhan, selama sepuluh tahun dia mengenal Luhan, belum pernah dia melihat Luhan hancur seperti saat ini, bukan tubuhnya.
Tapi cara Luhan menatapnya, cara tangannya menggapai udara seolah memintanya datang, caranya menangis dan caranya terus terjatuh disaat dia ingin berjalan seolah menjadi kegagalan Sehun menjaga pujaan hatinya.
Karena jika Luhan sakit, jika seluruh tubuhnya penuh luka, jika dia menangis dan jika dia terlihat sangat hancur-….Maka saat ini, kehancuran sesungguhnya adalah milik Sehun, hanya milik Sehun.
Remaja delapan belas tahun itu kini melangkah gontai mendekati pusat hidupnya.
Bertanya-tanya siapa yang melukai kekasih hatinya sampai tak sadar dia berteriak menyadari bahwa disana, di depan kedua matanya, sang kekasih sedang menggigil di pelukan kakaknya.
"LUHAAAAAAN!"
Buru-buru dia mengambil Luhan di pelukan Yunho, menciumi seluruh wajah Luhan walau hatinya diremat sakit menyadari suhu tubuh Luhan sangat panas di pelukannya "Ada apa denganmu? Siapa-….SIAPA YANG MELAKUKAN INI PADAMU?"
"Sehun—papa—jangapergiakumohon!"
"Papa? Ada apa dengan papa? Kenapa kau terluka sayangku—aarhhh!"
Luhan sudah setengah sadar saat ini, kepalanya sakit karena semalaman memikirkan segala cara agar bisa berada di bandara tepat waktu.
Awalnya dia ragu-…Tapi saat pintu kamar tak kunjung dibuka.
Saat suara ayahnya terdengar penuh kebencian pada Sehun, maka Luhan melakukan hal gila yang selalu Sehun lakukan setiap malam.
Dia merusak jendela kamar yang dikunci ayahnya, memecahkannya dengan seluruh benda tajam sebelum meluncur menggunakan selimutnya yang panjang hingga dia bisa berada di pelukan Sehun saat ini.
"Sehun—janganpergi!"
Luhan menggigit kencang lengan Sehun, berharap kekasihnya tidak pergi dan hanya tetap berada di sampingnya.
Luhan terus meracau tak jelas sampai Sehun menangkup wajahnya dan memaksa Luhan untuk bicara lebih jelas "hey sayang….sayangku…Luhan…Lihat aku!"
"huh?"
Luhan mulai kehilangan responnya atas Sehun, penglihatannya sudah mulai kabur, suaranya hilang dan tangannya terus gemetar, dia bahkan nyaris tidak sadarkan diri jika suara Sehun tidak terus membawanya untuk tetap sadar.
"Apa yang terjadi? Ada apa sayang?"
Perlahan Luhan melepas pelukan Sehun, dia kemudian mencoba berdiri, lalu berjalan gontai –entah mencari apa- dengan Sehun yang mengikutinya di belakang "Kita harus pergi darisini, jika kau pergi. Kau juga harus membawaku. Jangan biarkan aku disini sendiri."
"Luhan…"
"Aku harus mencari tiket."
Berkali-kali Luhan hampir terjatuh karena banyak orang menabrak pundaknya.
Berkali-kali dia merasa penglihatannya kabur namun dia abaikan.
Yang dia lakukan hanya mencari tempat menjual tiket agar bisa pergi bersama Sehun "Kemanapun asal tidak Beijing. Aku akan membeli dua tiket untuk kita."
"Luhan."
"Kita harus pergi Sehun. Kita harus-…."
Buru-buru Sehun mencengkram lengan kekasihnya. Kedua mata mereka bertemu dalam hitungan detik hingga suara Sehun terdengar sangat pilu meminta kekasihnya untuk
"Aku mohon sadarkan dirimu sayang!"
"Aku cukup sadar untuk melakukan hal ini!"
"Tapi ini gila Luhan, bukan ini rencana kita."
"Kau benar-…..Ini gila, benar-benar gila."
"sayang…"
Sehun kembali mendekap kekasihnya, namun kali ini Luhan meronta. Yang dia lakukan hanya terus berteriak sementara Sehun memejamkan mata ikut menangisi kondisi kekasihnya "Tenanglah."
"TENANG? BAGAIMANA AKU BISA TENANG JIKA DISANA-….DIRUMAHKU PAPA MENGATAKAN AKU TIDAK BOLEH LAGI BERHUBUNGAN DENGANMU!"
"huh?"
"AKU DILARANG MENEMUIMU LAGI SEHUN! AKU-…aku tidak tahu apa yang terjadi—hkss—bawa aku bersamamu jika kau pergi—kumohon sayang."
Barulah Sehun paham akan situasi saat ini.
Situasi dimana tangisan Luhan dan sikap ayahnya malam tadi seolah menjawab semua pertanyaan gila di benaknya.
Tidak heran jika malam tadi ayahnya mengatakan untuk menjauhi Luhan, melupakan Luhan. Karena saat ini hal sama juga dikatakan oleh ayah Luhan pada kekasihnya.
Luhan dilarang bertemu dengannya.
Luhan harus melupakannya.
Tapi kenapa?
Untuk apa?
Sesaat semuanya benar-benar membuat Sehun bingung. Detik kemudian Sehun murka-…Dia terlalu marah menyadari bahwa dirinya dan Luhan dijadikan pelampiasan atas maalah yang terjadi di dua ayah mereka.
"Tidak sayang! Kita tidak akan pergi, kita akan tetap disini! Kita akan menunjukkan pada dua ayah kita bagaimana kuatnya cinta kita. Ikut aku!"
"Sehun…."
Dan saat tangannya menggenggam erat tangan Luhan.
Saat tekadnya sekuat baja untuk mempertahankan Luhan.
Saat emosi menguasai hal gila yang akan dia lakukan pada dua ayah mereka, maka disinilah Yunho-….Berdiri tepat di depan kedua adiknya, dan mencegah hal gila yang akan dilakukan dua remaja di depannya.
"Kembali pada tujuanmu!"
"hyung…"
"AKU BILANG KEMBALI PADA TUJUANMU!"
"Kenapa kau berteriak? Apa kau juga ingin memisahkan kami? Memisahkan aku dan Luhan?"
Sesaat perasaan bersalah menyeruak di hati Luhan, melihat untuk kali pertama Yunho dan Sehun bertengkar adalah hal yang membuatnya merasa sangat bersalah.
Dua kakak adik di depannya adalah keharmonisan dari seluruh hubungan saudara yang pernah ia temui.
Yunho sangat menyayangi Sehun, begitupula Sehun yang selalu menghormati hyungnya. Tak pernah ada pertengkaran di antara mereka, yang ada hanya bagaimana Yunho sibuk memuji adik kecilnya sementara Sehun akan terus mengagumi kakaknya seiring berlalunya waktu.
"Kenapa kau berfikir hyung akan memisahkan kalian? Tidakkah kau tahu aku adalah satu-satunya orang yang bisa melindungi kalian, melindungi hubungan kalian!"
"BUKTIKAN!"
"apa maksudmu?"
"Jika memang kau akan melindungi aku dan Luhan, buktikan hyung! Biarkan kami pergi menemui ayah dan mengatakan kalau mereka tidak bisa memisahkan kami! JADI MINGGIR DARI HADAPANKU! SEKARAANG!"
Yunho tersenyum geram, baru kali ini dia merasa Sehun sangat bodoh.
Ya-….Sehun memang akan selalu bodoh jika itu berkaitan dengan Luhan.
Dia hanya tidak menyangka adiknya akan sebodoh ini mengira bahwa dengan kekuatan cintanya bisa menjaga hubungannya dengan Luhan-….omong kosong!
Kakak tertua dari tiga bersaudara Oh itu pun mengangkat kedua tangannya-….tanda menyerah.
Selanjutnya dia memberikan jalan untuk dua remaja bodoh yang dibutakan cinta untuk menunjukkan betapa bodohnya mereka pada ayah mereka, pada dunia.
"Pergilah."
Sehun tanpa ragu kembali membawa Luhan, berniat untuk memberitahu dua ayah mereka bahwa percuma memisahkan mereka karena apapun yang terjadi-….Sehun hanya untuk Luhan dan Luhan untuk Sehun.
Ya-…Kedua remaja itu terlalu menggebu untuk menyatakan perang. Terlalu terburu-buru sampai ucapan Yunho kembali berhasil menampar kesadaran dua adiknya.
"Pergi temui ayah dan nikmati kehancuran kalian."
Tap!
Baik Sehun maupun Luhan tercengang dengan ucapan satu-satunya pelindung mereka, genggaman Sehun di tangan Luhan juga terasa ragu sementara Yunho kembali berjalan mendekati kedua adiknya yang terlihat sangat gila saat ini.
"Kalian hanya akan dipisahkan sepuluh menit setelah kalian menyatakan perang pada ayah kalian. Kalian akan dipisahkan dan tidak akan pernah bertemu satu sama lain, kalian akan-…."
"HYUNG!"
"Kalian akan menderita karena nyatanya kalian hanya dua remaja bodoh yang dipenuhi cinta tanpa memakai logika kalian-….SADARLAH!"
"hyung…"
Luhan mendengarkan sementara Sehun enggan-….Ada beberapa kalimat Yunho yang terdengar masuk akal, namun selebihnya omong kosong untuk Sehun. Dia bahkan berniat kembali membawa Luhan namun kali ini tangan Luhan menahan tangan kekasihnya.
"Sehun…"
"Kita pergi!"
"tidak….Sehun ini salah!"
"SALAH KAU BILANG? MEREKA AKAN MENJAUHKAN KITA DAN KITA HANYA DIAM?"
"brengsek!"
Habis kesabaran Yunho, dia benar-benar menatap iba pada sang adik yang begitu bodoh, yang begitu dibodohi cintanya yang terlalu menggebu-gebu. Harusnya dia tahu jika saat ini mereka melawan dua orang kuat di hubungannya dan Luhan-…Maka bisa dipastikan bahwa mereka hanya akan tercekik karena sesak dan tak bisa melakukan apapun untuk melepaskan cekikan di leher mereka.
Semua tentang Luhan membuat adik kecilnya bodoh-…Yunho tahu itu. Jika dibiarkan emosi sialan Sehun akan menghancurkan dirinya sendiri
"Jika kau tetap pergi ke Beijing, tetap menjalankan bisnis kakek, tetap menjadi sukses seperti tujuanmu, maka kau tidak diam-….Kau melawan Sehunna!."
"OMONG KOSONG!"
"DENGARKAN AKU OH SEHUN!"
Yunho menangkup wajah adiknya, berusaha membawa kesadaran Sehun lalu memaksa Sehun untuk mengerti maksudnya "Dengarkan aku sialan!" katanya memaksa Sehun fokus pada matanya sebelum kembali mengutarakan apa yang harusnya dikatakan sebagai seorang kakak.
"Disana, dirumah kita. Terdapat satu jaksa yang terlihat baik di seluruh pasang mata, tapi nyatanya dia licik. Terkadang dia melakukan segala cara untuk memenangkan kasus di pengadilan. Lalu pikirmu dia hanya akan diam saat kau melawan? Tidak Sehun-….Ayah kita tidak akan diam, dan buruknya dia akan menjadikan Luhan sebagai target kemarahannya. PIKIRKAN ITU!"
"Aku tetap akan memperjuangkan Luhan. Aku tidak terima diseret kedalam masalahnya bersama ayah Luhan! Aku mencintai Luhan dan akan-…."
"BERAPA USIAMU? APA YANG KAU MILIKI? DEMI TUHAN KAU BELUM BISA MENGHIDUPI LUHAN! APA YANG AKAN KAU LAKUKAN JIKA AYAH MERENGGUT SEMUANYA DARIMU!"
"AKU TIDAK PEDULI!"
"TIDAK PEDULI KAU BILANG? LALU APA YANG AKAN KAU LAKUKAN JIKA DIA MENYERANG LUHAN? MENGGUNAKAN SEGALA CARA UNTUK MEMBUAT LUHAN PERGI! APA YANG AKAN KAU LAKUKAN JIKA AYAH MENGGUNAKAN CARA ITU?"
"hyung…."
Tubuh Sehun lemas,
Hyung benar….Jika dia melawan-...Ayahnya juga tanpa ragu memberikan perlawanan balik –lebih keji dan kotor- mungkin dia akan menyerang Luhan –secara batin- membuat pria cantiknya tertekan karena ancaman, lalu Luhan pergi, menghilang dari hidupnya.
Sial!
Membayangkannya saja sudah membuat Sehun sesak, apalagi jika itu terjadi? Jika Luhan pergi dan dia tidak tahu kemana Luhan pergi?
Membuat tubuhnya lemas namun dengan sigap Yunho menahan berat tubuh adik kandungnya "hyung apa yang harus aku lakukan?"
"Kau sudah mengerti sekarang?"
"Kepalaku sakit, aku tidak bisa mengerti sepenuhnya apa yang kau katakan hyung."
"Sehun…"
Kali ini Luhan yang mengambil alih tubuh besar kekasihnya. Memeluknya erat sementara dua adik kakak itu terus mendiskusikan hal yang membuat kepalanya sakit hingga nyaris meledak.
"Sayang tenanglah."
Saat suara Luhan terdengar di telinganya, maka ketenangan didapatkan Sehun dengan mudah. Dia juga mendekap erat tubuh mungil yang memeluknya, untuk tetap berbicara dengan kakaknya. Satu-satunya pria yang bisa melindungi dia dan Luhan.
"Terimakasih kau sudah kuat." Bisiknya di telinga Luhan lalu tak lama kembali menatap putus asa pada Yunho "Apa yang harus aku lakukan?"
"Ambil tiketmu dan cepat pergi. Kau harus tetap pada tujuan semula."
"Tapi bagaimana dengan Luhan? Bagaimana kalau ayah menyakitinya? Aku tidak bisa hyung-….Aku tidak bisa jika tidak ada Luhan."
Isakan terdengar dari Luhan, ketakutannya sama besar dengan yang Sehun miliki. Jadi saat Sehun mengatakan tidak bisa tanpa dirinya, maka ketakutan dua kali lebih besar dirasakan Luhan saat ini "hksss—sehunna.."
"Hey dengarkan hyung!"
Yunho kembali menangkup wajah Sehun lalu meminta adiknya untuk tenang. Memastikan bahwa apapun yang akan terjadi, Luhan akan baik-baik saja, itu janjinya.
"Saat aku mengatakan akan menjaga Luhanmu. Maka aku akan melakukannya. Jadi hanya satu hal yang perlu kau lakukan-….Kau harus tetap pergi dan ikuti semua yang papa inginkan. Jadilah dewasa, jadilah kuat dan jadilah seseorang yang bisa menggenggam tangan Luhan tanpa seorang pun bisa melepasnya darimu. Kau bisa menyatakan perang dengan ayah saat usiamu cukup, saat mentalmu cukup dewasa untuk diusik. Kau dengar?"
Sehun mengangguk menciumi pucuk kepala Luhan, hatinya hancur tak bisa melakukan apapun karena keterbatasan usianya.
Yunho benar-….dia masih terlalu muda untuk menyatakan perang pada orang dewasa.
Dia tidak memiliki apa-apa untuk menghidupi Luhannya nanti.
Jadi saat pilihan meninggalkan Luhan tetap menjadi yang terbaik, maka pelukan mereka akan segera berakhir diikuti kosongnya hati karena akan saling merindukan.
"Kau dengar apa yang dikatakan hyung?"
Sehun mengecup lembut bibir Luhan, berusaha membuat fokus Luhan hanya padanya sebelum menunggu jawaban dari setengah hidupnya "mmh…aku dengar." Timpal Luhan seraya menghapus air mata Sehun. Keduanya menyatukan dahi mereka untuk saling mengikat janji satu sama lain.
"Kau mau melakukannya? Menungguku menjadi seorang pria dewasa yang bisa melindungimu? Yang tidak akan membiarkan siapapun menjauhkan kita? Siapapun-….Termasuk ayah kita? Kau mau?"
Luhan memejamkan matanya, menikmati janji Sehun yang menghapus sedihnya dalam sekejap untuk dibalas persetujuannya berjuang akan cinta mereka "Aku mau."
"Sungguh?"
"Ya Sehun, aku mau. Asal denganmu-….Aku akan melakukan apa saja, apa pun. Aku akan menunggumu disini."
Sehun tersenyum bangga, sungguh awalnya dia kira sulit membujuk Luhan, tapi saat pria cantiknya tanpa ragu menjawab maka bisa dipastikan keputusan Sehun pagi ini adalah tetap pergi untuk menjadi lebih kuat dari mereka saat ini "gomawo Luhannie." Balasnya mencium kening Luhan lalu tak lama menghampiri kakaknya.
"Kau akan menjaga Luhan dengan nyawamu hyung. Aku mau kau berjanji itu? Jangan biarkan siapapun-…Siapapun menyakitinya. Kau janji?"
Yunho menarik lengan adiknya, memeluknya bangga lalu tanpa ragu mengatakan janjinya pada Sehun "Jika aku lalai dan membuat Luhanmu terluka, maka kau boleh membunuhku dengan kedua tanganmu."
"Benarkah?"
"Ya tentu saja. Aku berikan secara gratis padamu."
"Sayang kau dengar?"
"ish! Aku lebih memilih menjadi istri kedua Yunnie hyung saja."
"Anak ini!-….Berhenti memanggilnya Yunnie hyung!"
"he he he…"
Luhan tertawa, tapi nyatanya dia terus menangis.
Tangisannya bahkan semakin tak bisa dikendalikan tatkala Sehun berjalan menjauh,
Prianya sedang mengambil seluruh barang yang dia butuhkan disana, sebelum kembali mendekati dirinya "Aku benar-benar pergi."
Luhan menggigit bibirnya lalu mengangguk untuk mencium lama bibri Sehun "Cepat kembali. Aku takut disini seorang diri."
"Saat aku kembali, aku tidak akan pernah pergi lagi."
"Aku menunggumu."
Sehun beralih pada hyungnya. Menatapnya sekilas lalu tak lama menangis tertunduk "Kenapa?"
"Aku takut hyung. Aku benar-benar takut dipisahkan dari Luhan."
Yunho tersenyum, dia membawa tangan Luhan untuk disatukan dengan tangan Sehun. Kedua tangan remaja yang sudah sangat mencintai itu kini berada di genggaman tangannya.
"Tanganku mewakili siapa aku di hubungan kalian-….Aku mohon percaya padaku, selama kalian masih berada di genggaman tanganku, aku yang menjaga kalian. Nanti jika kalian sudah bisa dilepaskan, maka aku akan melakukannya dengan rasa bangga-…Sangat bangga mengingat perjuangan kalian dan bagaimana suksesnya kalian setelah hari ini. Mengerti?"
"hyung / hyung…"
Baik Sehun maupun Luhan semakin mengagumi kakak mereka, Yunho terus mengatakan akan menjadi pelindung mereka. Dan saat senyum khas pria tertua di keluarga Oh itu terlihat maka dua adiknya dengan cepat menghambur untuk memeluk erat pelindung mereka.
"gomawo hyung / hyung…"
"Astaga aku sangat menyayangi kalian."
Ketiganya berpelukan erat saat ini, rasanya tidak ingin ada yang melepaskan sampai Yunho lebih dulu memberitahu adiknya bahwa
"Ini sudah waktunya kau pergi Sehunna."
Luhan tercekat, namun saat tangan Yunho mendekapnya erat, maka yang perlu dia lakukan hanya membiarkan Sehun pergi untuk menunggunya kembali.
"Aku boleh pergi?"
Luhan menggeleng kuat, dia kemudian menangis di pelukan Yunho untuk mengatakan "Aku tidak mau kau pergi hksss…"
Tatapan Sehun putus asa, lalu detik berikutnya Luhan menarik lengannya, melompat ke pelukan Sehun untuk memeluknya erat seraya berbisik "Tapi kau harus pergi. Ya-…Kau boleh pergi Sehunna."
"Terimakasih banyak Lu. sayangku"
Selesai mengecupi seluruh bibir dan wajah Luhan-….Sehun mengembalikan kekasihnya pada sang kakak. Matanya terus menatap tak rela namun tersenyum saat Luhan mulai melambai sangat lucu padanya "Jangan melihat wanita atau pria lain. Oke?"
"Aku hanya bisa melihatmu sayang."
"Bagus!"
"Aku pergi."
"Hati-hati sayang-….Ah ya! SEHUNNA!-…"
"hmmmh?"
"Kau jangan tambah tampan lagi, cukup seperti ini saja."
"huh?"
"Aku hanya merasa iba pada orang-orang yang akan jatuh cinta padamu."
"aku tidak mengerti."
"ish! Kasihan mereka jika jatuh tidak diiringi cinta, rasanya sakit."
"astaga! Apa kau sedang menggombal?"
"Belajar dari Baekhyun he he he…"
"Aku benar-benar khawatir meninggalkanmu dengan mereka."
"Tenang saja. Cepat pergi dan segera kembali!"
"Tunggu aku ya."
"Pasti sayang, sampai nanti."
"Hyung, obati luka Luhan. Aku bisa mimpi buruk mengingat luka di sekujur tubuhnya."
"araseo…aku akan mengurusnya. Jaga dirimu disana."
Sehun tersenyum, kali ini dia benar-benar pergi. Perlahan dia menarik kopernya menjauh untuk diam-diam menghilang.
Punggung tegapnya tak lagi terlihat sampai hanya ada Yunho dan Luhan yang kini menatap dalam diam.
"hyung."
"hmm?"
"Apa yang akan terjadi setelah ini?"
Yunho mencium pucuk kepala Luhan, mendekap kekasih adiknya untuk meninggalkan bandara seraya berbisik "Tidak akan ada yang terjadi. Hanya-…."
"Hanya?"
"Hanya persiapkan diri untuk pertarunganmu yang sesungguhnya."
.
.
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
Part II up!
.
HH vs duo Papa sarap! Next chap!
.
Btw "konfliksesungguhnya" juga baru next chap :v
.
Wait wait…seeyou :*
