Previous..
"hyung."
"hmm?"
"Apa yang akan terjadi setelah ini?"
Yunho mencium pucuk kepala Luhan, mendekap kekasih adiknya untuk meninggalkan bandara seraya berbisik "Tidak akan ada yang terjadi. Hanya-…."
"Hanya?"
"Hanya persiapkan diri untuk pertarunganmu yang sesungguhnya."
.
.
.
.
.
.
.
.
Je'Te Veux
.
.
.
.
.
Main cast : Sehun-Luhan
Rate : T-M
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Cukup lama aku tidak menulis tentangmu,
Seperti ada sebagian yang hilang dariku
Aku merindukanmu, setiap hari
Aku ingin bersamamu, tapi kau jauh
Jadi bisakah kau hentikan rasa sakitku?
Singkat saja
Aku merindukanmu, Oh Sehun
.
.
.
.
.
Six years later...
.
.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan?"
Namanya Luhan, usianya akan menginjak dua puluh tujuh tahun ini.
Dan jika kalian bertanya pada siapa dia bertanya
Maka langit yang dihiasi bintang malam ini adalah jawaban dari semua kegundahannya.
"Sudah enam tahun berlalu dan kau belum kunjung datang. Aku merindukanmu."
Ketika dia menengadah ke atas langit, maka bintang malam seolah menjadi penghibur di kala rindu sangat membunuh.
Ketika dia memejamkan mata, maka semilir angin seolah menghibur dan memberitahu bahwa dia tak seorang diri.
Dan ketika air mata menetes dari pelupuk matanya, maka suara ombak di pantai menjadi pelindung di kala sendu hatinya.
-Dia-
Dia adalah seorang remaja delapan belas tahun yang telah beranjak menjadi dewasa.
Pria dewasa yang selalu bersembunyi di balik senyumannya untuk mengatakan bahwa dia kuat, dia bisa menunggu lebih dari batas waktu yang dijanjikan hanya untuk bersama dengan pria yang dicintainya, pria yang juga sedang berjuang jauh darinya.
Untuk pria dewasa sepertinya maka cantik adalah paras yang tepat untuk menggambarkan betapa sempurnanya calon dokter bedah yang kini berusia dua puluh enam tahun.
Parasnya cantik –terkadang tampan-
Jika dia tersenyum maka terpesona adalah hal yang tidak bisa kau hindari.
Ah-….Jangan lupakan dua mata rusanya yang terlihat begitu lucu dan selalu berbahagia.
Berbeda dengan malam ini….
Dilihat dari matanya yang sendu dan caranya menatap langit, maka bisa dipastikan dia sedang di landa rindu yang begitu hebat, tersiksa karena begitu merindukan kekasihnya.
"Apa yang harus aku lakukan?'
"..."
"Sehunna…"
Dan saat nama kekasihnya terucap, maka wajar hatinya merasa begitu sesak. Dia bisa saja menangis sepuasnya malam ini. Melampiaskan rindu yang begitu menggebu hingga rasanya mematahkan seluruh tulang rusuknya.
"Cepat pulang, kumohon."
Tes…!
Dengan mata terpejam, air mata pertama malam ini telah terjatuh.
Tangannya menyatu dengan pasir sementara kepalanya masih menatap langit berharap akan ada jawaban atas rasa rindunya.
Terakhir kali dia berbicara dengan Sehun adalah dua tahun lalu.
Tahun dimana dia harusnya kembali tapi tidak pernah datang sama sekali.
Berkali-kali Luhan mencari tahu tapi berkali-kali pula jawaban kosong dia terima. Tak ada yang bisa memberinya jawaban bahkan Yunho hyung sekalipun.
Ayahku pasti melakukan sesuatu.
Dan jika si sulung dari tiga bersaudara itu memiliki perasaan buruk tentang adiknya, maka mendatangi Sehun adalah hal yang paling benar untuk dilakukan sementara Luhan menunggu dengan sabar.
Terlalu sabar hingga rasanya dia lelah dan tak ingin menunggu lagi.
Drrrt drrtr
Ingin sekali dia mengabaikan bunyi suara ponselnya yang bergetar. Berniat untuk menghabiskan sisa malamnya seorang diri tanpa gangguan dari manapun.
Tidak dari kedua orang tuanya
Tidak dari dua sahabatnya –Kai dan Chanyeol-
Dari dua sahabat Sehun –Kyungsoo dan Baekhyun-
Atau siapa pun yang mencoba mengganggu rasa lelahnya menunggu.
Dia ingin mengabaikannya-...Sungguh.
Tapi saat nama Kyungsoo terus menerus menghubunginya tanpa henti maka rasanya salah untuk mengabaikan panggilan dari kekasih sahabatnya yang mungkin berkaitan dengan hidupnya sebagai dokter residen di rumah sakit.
"Haah-...Sekali saja. Bisakah kalian membiarkan aku tenang?"
Setelahnya Luhan mengambil ponsel yang sengaja ia kubur di dalam pasir, membersihkannya sejenak sebelum
Sret...
"Ada apa So-..."
"LUHAN CEPAT KEMBALI KE RUMAH SAKIT!"
"Ada apa? Bukankah kita bebas malam ini?"
"CEPAT KEMBALI! THE MAD MAN KEMBALI!"
"Siapa?"
"MAD MAN!"
Mad Man yang dimaksud Kyungsoo adalah pembimbing residen mereka. Dokter yang selama ini tidak pernah terlihat dan hanya memberikan arahan lewat pesan kini dikabarkan kembali.
Dan sebagai mahasiswa yang berada di bawah bimbingan sang profesor killer. Maka wajar wajah Luhan berubah pucat dan mulai salah tingkah. "Soo-... Kau sedang berbohong kan?"
"Aku tidak! Dia benar-benar kembali dan ingin melihat kita! CEPAT!"
"Araseo-...Araseo. Aku akan segera-...Sial! Baiklah aku dalam perjalanan."
Luhan setengah terjatuh saat berniat kembali ke rumah sakit, dia bahkan berlari ke dalam mobil tanpa alas dan meninggalkan sepatunya di pantai.
"Mati aku...Aku bisa mati!" Ujarnya bergumam takut dan tak lama
Brrmmm...!
Jaraknya sekitar satu jam untuk sampai ke Seoul. Dan saat pembimbingnya kembali secara mendadak maka berdoa menjadi satu-satunya hal yang bisa Luhan lakukan.
"Lindungi aku Tuhan, Sehunna doakan aku!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Blam...!
Tap
Tap
Setibanya di rumah sakit Luhan langsung berlari kencang menuju loker gantinya. Terus berlari dan mengabaikan semua suara yang mencibir dirinya.
"Maaf! Permisi! Awas! Minggir! Maaaf-...Maaf"
Begitulah kira-kira betapa paniknya Luhan saat sampai di rumah sakit. Jelas semua orang mencibir, karena satu-satunya hal yang dia lakukan adalah menabrak seluruh pundak yang berpapas jalan dengannya hingga terdengar suara ringisan dari seluruh pengunjung yang menjadi korban kepanikan sang dokter muda.
"HEY!"
"Maaf...Maaf."
Jika ada kesempatan Luhan bersumpah akan meminta maaf dengan cara yang lebih baik, tapi berhubung nyawanya sedang dipertaruhkan maka rasanya mustahil untuk meminta maaf pada semua orang yang terganggu karena ulahnya.
"Kenapa lift sangat jauh. Kenapa-...BAEK!"
Dia langsung menjerit melihat kekasih sahabatnya yang lain. Buru-buru menghampiri calon dokter spesialis anak berparas cantik yang juga menatapnya histeris saat ini.
"Astaga XI LUHAN! KENAPA LAMA SEKALI? KITA BISA MATI!"
Buru-buru Baekhyun –sahabat kekasihnya- menghampiri dimana kekasih Sehun berada. Dipakaikannya cepat jas putih Luhan tak lupa dengan stetoskop yang dia gantungkan di leher Luhan.
"Dia mana si pembunuh itu?"
"Dia sedang membunuh semua orang di lantai atas. Hanya kita yang belum dibunuhnya."
"Kyungsoo?"
"Dia sedang mengulur waktu agar kita tidak dimakan. Ayo cepat!"
Baekhyun menarik cepat tangan Luhan, dibawanya kekasih Sehun itu untuk segera menaiki lift untuk menghadapi takdir mengerikan merek.
Keduanya cukup cemas berada di dalam lift, tak ada yang berbicara karena rasa takut mereka sampai Luhan dibuat kesal melihat tanda keunguan di leher Baekhyun. Tanda yang demi Tuhan belum dia lihat pagi tadi kini sudah memenuhi leher sisi kanannya.
"y-YAK BYUN BAEKHYUN!"
"Astaga...KENAPA BERTERIAK?"
"Kau!"
Luhan menghimpit si pria penggoda tepat di sisi lift yang kosong. Tangannya sudah berada di sisi kanan dan kiri Baekhyun sementara matanya menatap kesal pada kekasih pria yang merupakan sahabat dekatnya.
"Setelah Kyungsoo, kau tidak berencana hamil dan meminta Chanyeol menikahimu kan?"
"huh?"
Baekhyun sangat bingung dengan tuduhan yang Luhan lontarkan. Namun ketika dua mata rusa itu terus memperhatikan lehernya maka secara refleks pula Baekhyun mendorong tubuh Luhan untuk membenarkan kemejanya yang sangat berantakan karena "aktifitas" nya dengan sang kekasih beberapa menit lalu.
"He he he..."
"He he he Apa?"
Baekhyun terus menutupi tanda di lehernya sementara Luhan benar-benar panas dengan kenekatan dua sahabat kekasihnya yang rela melakukan segala cara untuk dinikahi dua pria tampannya.
"Kau tahu Kyungsoo hamil dan minggu depan dia akan menikah dengan Kai. Jadi rasanya salah kalau kita tida mengikuti jejak Kyungsoo. Aku juga ingin dinikahi Chanyeol dan sebaiknya kau juga segera menikah agar tidak sering berteriak!"
"BAGAIMANA BISA AKU MENIKAH JIKA SAHABATMU TIDAK PULANG? INI BAHKAN SUDAH ENAM TAHUN DAN DIA TIDAK KUNJUNG KEMBALI!"
Ting!
Bersamaan dengan keputus asaan Luhan menjalin hubungan jarak jauh dengan sang kekasih maka terbuka pula pintu lift yang mengantar mereka pada masalah baru yang lebih genting dari sekedar pernikahan atau hubungan jarak jauh sekalipun.
"O...ow."
Buru-buru Baekhyun bersembunyi di belakang Luhan.
Keduanya cukup tercengang karena "disambut" tepat di depan lift dengan Kyungsoo yang sedang tertunduk –tanda bahwa dia telah dibunuh-
"Apa mereka teman satu timmu dokter DO?"
Kyungsoo melirik dua sahabatnya, sedikit merengek menatap Luhan sebelum mengangguk dengan menghela nafas untuk menjawab
"Ya Professor Yoon. Mereka timku."
Yang dipanggil Professor terlihat masih sangat muda.
Tebakan Luhan dia memiliki usia yang sama dengan Yunho.
Tapi ketika mata mereka bertemu, maka Luhan berani bersumpah bahwa tidak akan pernah menyamakan Yunho dengan siapapun lagi. Tidak dengan pangeran Harry sekalipun atau Professor mengerikan dengan nametag Yoon Doojoon yang terpasang di id card sang professor.
"Kalian bertiga dikeluarkan!"
"MWO?"
Sontak Luhan berteriak, buru-buru dia keluar dari dalam lift untuk mengejar sang professor.
Entah apa kesalahannya, tapi selangkah lagi dia akan mendapatkan gelarnya sebagai dokter bedah. Gelar yang sangat diinginkannya setelah lima tahun lebih menjalani pengorbanan lebih dari cukup untuk dimaki, dihina bahkan dituduh membuat kesalahan saat menjadi asisten dokter.
"Professor!"
"….."
Seketika Luhan mengakui julukan "Mad Man" untuk sang professor sangatlah tepat. Karena bukan hanya gila, pria yang mungkin hanya berbeda tiga tahun di atas usianya sekarang bahkan terlihat sangat mengerikan walau hanya punggungnya yang terlihat.
"Professor Yoon!"
"….."
"baiklah….sabarku habis."
Jangan katakan namanya Luhan, jika bertindak terlampau nekat dan berani tidak dia lakukan. Karena disaat karirnya dan dua sahabatnya terancam dihancurkan maka disinilah dia-….Berlari cepat mendului sang professor dan mem-block jalan pria bernama Yoon Doojoon yang kini sedang menatap tajam kepadanya.
"Apa yang kau lakukan?"
"Kau tidak bisa mengeluarkan kami begitu saja!"
"Benarkah? Bisa kau sebut alasan kenapa aku harus mempertahankan tiga dokter lalai di timku? Kalian bahkan tidak menjawab panggilan daruratku!"
"Kami-…."
"Minggir!"
Luhan tidak mau kalah, dikejarnya kembali sang professor yang terus berjalan dengan angkuh. Dia kemudian kembali menghalangi jalan profesornya untuk berteriak
"KAMI AKAN MEMBUKTIKAN BAHWA KAMI TIDAK LALAI!"
Takut, Luhan memejamkan matanya.
Bibirnya bahkan bergetar tanda dia menyesali teriakannya.
Tapi ketika suara sang professor bertanya "Bagaimana cara kalian membuktikan bahwa kalian tidak lalai?"
Maka perlahan mata Luhan terbuka untuk bertatapan dengan dua mata tajam yang entah mengapa terasa tak asing untuknya.
"Kenapa hanya diam? Kau tidak bisa membuktikan?"
Luhan terkesiap, dilupakannya rasa tak asing yang dia rasakan untuk menggeleng dan tanpa ragu menjawab "Minggu depan kami melakukan uji praktek standart patient, anda bisa datang dan melihat bahwa saya dan kedua teman saya selalu melakukan apa yang anda instruksikan walau hanya melalui ponsel."
Dua alis professor muda itu terangkat, dia kemudian melipat tangan di atas dada untuk menyunggingkan senyum yang sangat meremehkan "Menarik. Lalu apa yang bisa aku lakukan jika kalian tidak memenuhi standar?"
Luhan menatap sama marahnya, dia kemudian memalingkan wajah lalu membungkuk sejenak untuk mengatakan "Anda bisa tidak meluluskan kami di final test bulan depan. Saya permisi Professor Yoon."
Buru-buru Luhan berpamitan. Sedikit tidak percaya diri dengan tantangan yang baru saja dia ajukan sebelum berulah gila di depan sang professor.
"apa yang aku lakukan."
Dan berbeda dengan kepanikan Luhan, maka sang professor hanya diam di tempatnya untuk memperhatikan Luhan dengan intens, semakin intens sampai tak lama bibirnya tersenyum tanda bahwa dia begitu yakin bahwa dia menemukan apa yang selama bertahun-tahun dia cari.
"akhirnya-…..Akhirnya aku menemukanmu, Luhan."
.
.
.
.
.
"Apa kau yakin dia adalah putra Xi Li Chen?"
"Sejauh aku meyakini dan sejauh memoriku mengingat, maka aku bisa pastikan dokter muda itu adalah putra dari detektif Xi."
Pria ber-nametag Yoon Doojoon itu terlihat sedang berbicara dengan pria misterius yang memiliki usia jauh di atasnya.
Entah apa yang sedang dia laporkan, tapi mengingat kemungkinan besar dia memang berada di satu tempat dengan Luhan, maka rasanya begitu bahagia sampai dia harus mati-matian menyembunyikan kebahagiannya di depan pria paruh baya bernama Ko Dong Hoon yang memiliki dendam pada detektif Xi –ayah Luhan.-
"Menarik. Aku ingin kau membawanya padaku."
"Ya direktur."
Yang dipanggil direktur menyeringai. Dia bahkan membiarkan Doojoon pergi sebelum "Ah Doojoonaaa…"
"Ya?"
"Jangan coba melindunginya."
Pria yang lebih muda terlihat mengepalkan tangannya, dia berusaha mati-matian untuk bertahan hidup hanya untuk menemukan Luhan, jadi ketika Luhan sudah berada di depan matanya maka rasanya adalah mustahil dia menyakiti Luhan begitu saja.
"Kau dengar? Jika coba melindungi putra detektif sialan itu, kau mati. Sama seperti dua puluh tahun yang lalu."
Setenang mungkin Doojoon menjawab "Ya." namun jika si tua bangka itu memiliki rencana, maka Doojoon juga memiliki banyak rencana untuk situasi yang mendesaknya.
"Apa rencanamu?"
Keluar dari ruangan mengerikan di depannya, Doojoon harus dihadapkan lagi pada pertanyaan rekan kerjanya yang lain, dia kemudian memastikan tak ada yang mencuri dengar sebelum memberitahu rencana yang dia miliki untuk Luhan.
"Panggil Taeyong."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"MWO? APA KAU GILA? KAU MENANTANG MAD MAN DENGAN UJIAN KITA? KAU-…"
"huwaaa Baek-Soo kepalaku sakit. Bagaimana bisa aku menantangnya begitu saja, huwaaa…"
Jika dua temannya yang lain sedang menatap kesal pada Luhan, maka si pembuat masalah hanya bisa merengek saat ini. Membayangkan ujian standart patient mereka disaksikan oleh si Mad Man adalah satu-satunya hal yang sangat membuat kepalanya sakit.
Belum lagi kemarahan dua kekasih sahabatnya yang semakin membuat kepalanya sakit karena panik "kita tidak akan lulus jika gagal…huwaaaaa…..bagaimana ini."
Di atap rumah sakit, Luhan kembali membuat ulah. Dia berteriak sangat kencang hingga teriakannya mungkin bisa membangkitkan mayat hidup. Si rusa sama sekali tak tahu apa yang dia perbuat, maka dari itu maka Baekhyun dan Kyungsoo cukup berbaik hati untuk menghibur satu-satunya pemilik hubungan jarak jauh diantara mereka bertiga.
"ssst…Luluku yang malang. Tenang sayangku, jika kita gagal kita hanya perlu menikah seperti Kyungsoo. Persetan dengan pendidikan ini, aku tidak tahan lagi karena selalu dsalahkan."
Baekhyun menarik lengan si pria yang paling cantik diantara mereka, memeluknya erat sementara Luhan masih terisak seperti tahun pertama ditinggalkan Sehun "t-tapi Sehun belum pulang—hks…"
"Memangnya aku bilang kau harus menikah dengan Sehun?"
"huh?"
Luhan mengangkat lucu wajahnya, mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mencerna ucapan yang Baekhyun "Apa maksudmu?"
"Begini maksud Baekhyun."
Kali ini Kyungsoo yang menghampiri Luhan, dirangkulnya pundak mungil Luhan untuk membawa kekasih sahabatnya melihat ketinggian dari atap rumah sakit.
"Kau tahu alasan kami menjadi dokter?"
"mmhh…Karena aku."
"Benar karena kau, jika Sehun tidak memohon pada kami untuk mengganti jurusan enam tahun lalu. Pastilah aku sudah menjadi cheff terkenal sementara Baekhyun akan menjadi model ternama. Kau tahu itu kan?"
"Tapi kalian sudah menjadi dokter bersamaku."
"Benar-….Tapi jujur itu terpaksa karena si idiot itu bilang akan segera kembali. Tapi apa yang terjadi? Dia tidak pernah kembali bahkan untuk menghubungi kekasihnya saja tidak."
"Dia menghubungiku."
"Dua tahun lalu." Timpal Kyungsoo membuat rona wajah Luhan kembali menjadi sendu "Dia sudah tidak menghubungi kita selama dua tahun. Jadi aku dan Baekhyun sudah memutuskan."
"Kau pasti senang dengan keputusan kami."
Baekhyun ikut merangkul pundak Luhan. Ketiganya kini menatap pemandangan malam di atap rumah sakit untuk menghibur Luhan yang mereka ketahui hatinya sedang dipenuhi rasa perih karena terlalu merindukan Sehun.
"Keputusan apa?"
Kedua sahabat Sehun kini merangkulnya di dua sisi. Keduanya tersenyum senang lalu tanpa ragu mengatakan "Kami akan membuatmu melupakan si idiot itu!"
"Membuatku apa?"
Luhan merasa gila mendengar celotehan dua sahabat kekasihnya, wajahnya bahkan sudah panas merasa kesal karena dua pria gila di sampingnya benar-benar terlihat gila sungguhan
"Membuatmu melupakan sahabat idiot kami, melupakan Sehun."
"Kau bisa mencari pria lain yang lebih WRAW dibanding idiot cadel itu! Dia tidak pantas ditunggu dan kau bisa mengencani pria lain."
"gila."
Luhan terkekeh sementara dua yang lainnya tersinggung dengan kalimat gila yang diucapkan Luhan tanpa ragu "Kau bilang kami gila?"
"Iya kalian gila! Kalian dan mulut jahat kalian SANGAT GILA!"
"y-YAK!"
"Tunggu sampai Sehun pulang dan akan kuceritakan betapa penghianatnya dua sahabat yang begitu ia cintai. Aku akan mengadukan segala hal pada Sehunku."
"eyy Lu….Kami kan hanya bercanda."
"Sehun tidak akan memberikan apapun untuk calon bayimu, aku juga tidak mau datang ke pernikahanmu!"
"Ya dan Kai akan marah padamu."
"ani! Tanpaku Kai tidak akan melanjutkan pernikahan kalian!"
"Xi Luhan…."
"APA?"
"aigoo…."
"hksss…"
Kini Kyungsoo dan Baekhyun tahu bahwa lelucon mereka sama sekali tidak lucu. Karena disaat mereka ingin menghibur Luhan maka hanya tangisan yang dijadikan Luhan sebagai respon dari lelucon mereka.
"Lu maaf. Kami hanya bercanda."
"Kalian tidak tahu rasanya menunggu. Lepas!"
Luhan menolak di peluk oleh dua sahabat kekasihnya, dia terus menolak sampai Baekhyun dan Kyungsoo memeluknya secara bersamaan "Kami hanya ingin menghiburmu."
"Tidak lucu!"
"Baiklah… boleh meminta apa saja agar tidak marah lagi pada kami."
"Apa saja?"
"y-Ya apa saja."
"mmhh…Aku ingin ditraktir makan daging selama satu bulan."
"oke."
"Aku ingin jam tangan Rolex keluaran terbaru."
"itu berlebihan / Minta pada Sehun."
"HUWAAAAA…."
"Baiklah! Jam tangan terbaru."
"Rolex?"
"Rolex."
"Sudah?"
"Belum! Ada satu lagi."
"Katakan."
Luhan melepas pelukan dua sahabatnya. Melihat mata Baekhyun-Kyungsoo bergantian untuk meminta hal yang terdengar sangat konyol –setidaknya untuk Baekhyun dan Kyungsoo permintaan Luhan sangat konyol-
"Jika sahabat kalian pulang, kalian harus memaksa Sehun untuk segera menikahiku."
"huh?"
"Katakan padanya aku akan bunuh diri jika dia menunda lagi."
"lakukan saja."
"BAEK!"
"Bercanda he he he…."
"Kalian harus memaksa Sehun. Ya?"
Keduanya tampak ragu, sesaat hanya saling berpandangan lalu kembali merangkul Luhan "Baiklah! Perkara mudah memaksanya menikahimu."
"Benarkah?"
"yap!"
Kyungsoo mencium pipi Luhan. Dia kemudian meletakkan tangan Luhan di perutnya lalu berkata sangat menghibur "Dia tidak akan bisa menolak jika keponakannya yang meminta."
"yang benar saja! Dia bahkan belum tahu jika kau dan Kai akan menikah."
"Percayakan saja padaku. Yang kau inginkan hanya menikahi Sehun kan?"
"tidak juga."
"huh?"
Baekhyun dan Kyungsoo bersumpah bisa melihat cairan bening yang dihapus cepat oleh Luhan. Seketika rasanya mereka bisa ikut merasakan kerinduan Luhan, detik berikutnya mereka harus berpura-pura tidak melihat Luhan menangis untuk mendengar jawaban yang sangat sederhana namun mewakili seluruh keinginan Luhan.
"Aku hanya ingin dia kembali, aku merindukannya."
.
.
.
.
.
.
.
.
Three days later..
.
.
.
.
"HYUUNG!"
Ketiga pria cantik itu seketika menoleh mencari suara. Menebak siapa yang disapa hyung di antara mereka bertiga sampai terdengar suara kekehan dari Kyungsoo dan Baekhyun saat melihat sosok remaja tampan berlesung pipi sedang berlari ke arah hyung favoritnya.
"tidak kakak tidak adik mereka semua memalukan"
"dan sangat berlebihan!"
Dan tak perlu bertanya siapa sosok hyung yang dipanggilnya, karena yang paling cantik dari mereka sudah berlari sambil berteriak "ADIK IPAR" pada remaja yang hari ini menggunakan t-shirt merah mudanya.
"HYUUUNG!"
Dan saat drama hyung-adik ipar tak kunjung berakhir maka dua calon dokter muda yang "sedikit' lebih waras hanya terkekeh. Mereka membiarkan Jaehyun –adik sahabat mereka- berlari menghampiri Luhan dan memeluknya sangat erat.
"astaga Jae!"
"AKU RINDU KAU HYUNG! RINDU SEKALI!"
Jaehyun memutar sekilas tubuh Luhan sebelum melepas pelukannya untuk mendapatkan cibiran dari dua sahabat kakaknya yang lain
"Sejak kapan tubuhmu menjadi setinggi monster?"
"Dan kapan kau akan bertingkah lebih baik?"
"ish! Mengganggu saja. Ini momentku dan Lu hyung. Dasar gemuk!"
"Siapa yang kau panggil-….astaga anak ini minta kupukul."
Dan benar saja, setiap kali Jaehyun menunjukkan wajahnya di rumah sakit, pasti akan terjadi keributan
Bulan lalu bertengkar dengan Baekhyun kini dengan Kyungsoo, membuat Luhan sebagai satu-satunya penengah di pertengkaran "SANGAT" tidak penting ini sedikit jengah untuk terus melerai sikap kekanakan dari Baek-Soo jika sudah berhubungan dengan Jaehyun.
"Soo sudahlah! Kau terlihat gemuk karena bayimu, jangan salahkan Jaehyun."
"bwee…gemuk!"
"Dan kau Oh Jaehyun! Berhenti memelukku seolah aku liliput kecil! Jika diulangi akan kupukul kepalamu."
"hyuuuung!"
"Ikut hyung!"
Kemudian yang lebih tua menarik tangan yang lebih muda. Luhan juga mengabaikan cibiran Kyungsoo untuk Jaehyun dan sebaliknya hanya untuk berbicara pada satu-satunya keluarga Oh yang bisa dihubunginya saat ini.
"Jadi ada kabar dari Yunho hyung?"
"Belum. Yunow hyung belum menghubungiku."
"Sehun?"
"Jika Yunow hyung belum memberi kabar lalu bagaimana bisa Sehun hyung memberi kabar?"
Sret….!
Entah mengapa seluruh jawaban Jaehyun membuatnya kesal, dia kemudian menarik yang lebih muda ke kafe di rumah sakit lalu memintanya untuk segera diam dan
"Duduk!"
"Hyung jangan kasar padaku!"
"Kenapa?"
"Tidak cocok dengan wajahmu yang cantik."
"Anak ini!"
Luhan bahkan tergoda untuk memukul kepala Jaehyun jika tidak melihat ada memar di sekitar lengan adik kekasihnya "Kau berkelahi lagi?"
Buru-buru Jaehyun menutupi memarnya, dia kemudian menampilkan senyum terbaik yang dimiliki untuk mengalihkan perhatian calon kakak iparnya "Biasa hyung, defense!"
"Defense kepalamu! Sudah berapa kali kau datang dengan memar di tubuhmu? Biar hyung lihat!"
Luhan kemudian menarik paksa lengan Jaehyun, memeriksanya dengan teliti sampai menyadari bahwa memar kali ini bukan karena pukulan tangan melainkan karena-…..besi?
"Apa ayah memukulimu?"
Jaehyun kembali lagi menarik lengannya. Menyadari untuk sekelas dokter, Luhan terlalu teliti. Membuat si remaja salah tingkah namun tidak bisa menghindari pertanyaan Luhan.
"Jika kau diam aku akan sangat marah."
"hyung."
"Apa ayah memukulimu lagi?"
"…."
"JAE!"
"Aku hanya ingin bertemu denganmu, tapi tiap kali mendengar namamu dia marah. Kenapa dia terus memukuliku hanya karena aku ingin bertemu denganmu hyung? Ada apa dengan kau dan ayah?"
"Dengan apa ayah memukulimu."
"hyung sudahlah, ini sama sekali bukan masalah."
"Dengan apa ayah memukulimu?"
"hyung…."
"Jawab."
"hyung…."
"JAWAB ATAU JANGAN PERNAH MENEMUIKU LAGI!"
"….."
Tubuhnya saja yang besar, nyatanya Jaehyun hanya remaja delapan belas tahun yang selalu ketakutan jika ada yang berteriak atau membentaknya. Terlebih jika itu Luhan, hatinya sakit.
Jadi ketika Luhan meminta untuk tidak menemuinya lagi maka hatinya terasa sakit melebihi pukulan yang diterimanya saat bersikeras ingin menemui Luhan. Membuat Jaehyun tersenyum pahit sebelum menjawab sangat lirih
"Ikat pinggang."
"Dengan apa?"
"Ikat pinggang."
"Apa ayahmu sangat membenciku?"
"Hyung-….Hanya pukulan kecil, ayah tidak melukaiku karena dirimu. Sungguh."
"sial!"
"HYUNG!"
Luhan melepas cepat jas putihnya, dia kemudian berlari menuju satu tempat. Tsempat dimana dia akan menyatakan perang terbukanya dengan seorang jaksa, ayah kekasihnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jaksa penuntut umum memenangkan tuntutan atas terdakwa pembunuhan. Sepuluh tahun tiga bulan dengan denda sepuluh juta won."
Prok…prok
Terdengar suara tepukan dari semua pengunjung yang menyaksikan langsung betapa berkuasanya jaksa paruh baya yang semakin berada di puncak karirnya. Tak hanya satu, tapi dalam sehari dia bisa memenangkan empat kasus kelas berat dengan hukuman sesuai dengan tuntutannya.
Tak ada yang meragukan betapa berkuasanya sang jaksa. Semua kekaguman tertuju untuknya. Ya-….Semua mengaguminya, tidak terkecuali seorang dokter muda yang hingga kini masih bertanya-tanya mengapa dia begitu dibenci oleh jaksa yang hingga saat ini masih sangat ia kagumi.
Tok…tok…
"Masuk."
"Jaksa Oh, maaf mengganggu waktu anda. Tapi ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda."
"Siapa?"
"Dia mengatakan dirinya seorang dokter dan seorang anak yang sangat tidak disukai oleh anda."
"huh?"
"Anda ingin menemuinya atau-….."
"Suruh dia masuk."
"Baik."
Dan tak lama asistennya keluar ruangan maka ketukan pintu kembali terdengar. Membuat ayah tiga orang putra ini bertanya-tanya sementara hatinya mengatakan "pasti dia."
"Masuk."
Cklek…
Pintu terbuka,
Keadaan menjadi tegang saat dua mata pria berbeda usia itu bertemu.
Untuk Luhan, rasanya sangat biasa menerima tatapan benci tanpa alasan yang sudah diarahkan padanya selama enam tahun.
Dan untuk pria paruh baya di depannya, maka rasanya Luhan adalah semua ketidakmungkinan seseorang untuk bertahan dalam waktu lama, namun dia melakukannya.
Membuat sesuatu terasa mengikat di antara mereka sampai Luhan lebih dulu menujukkan rasa hormatnya pada ayah dari kekasihnya. "Selamat siang aboji –maksudku- selamat siang Jaksa Oh."
Setelah memperbaiki sapaan untuk ayah kekasihnya, Luhan menutup pintu. Dia memberanikan diri mendekati meja sang jaksa lalu meletakkan cheesecake kesukaan Insung tepat di depan pria paruh baya yang selalu menatap benci padanya. "Sehun bilang anda sangat menyukai cheesecake Jaksa Oh."
"Untuk apa kau datang kesini?"
Luhan tersenyum kecil lalu tanpa ragu menjawab "Menyapa ayah dari kekasihku. Apakah itu melanggar hukum?"
"Sudah berapa kali aku katakan Sehun bukan kekasihmu dan dia tidak akan pernah menjadi kekasihmu, dia-….."
"SATU!"
Enam tahun sudah Luhan menyimpan rasa terhina karena begitu dibenci oleh pria yang usianya sama dengan ayah kandungnya. Enam tahun pula dia berpura-pura tidak tahu, tapi rasanya enam tahun juga merupakan waktu yang cukup untuk seseorang bersabar dan tak mendapat jawaban apapun tentang kebencian yang tidak seharusnya dia dapatkan.
"Katakan satu saja alasan mengapa kau sangat membenciku. Jika alasanmu masuk akal dan membuatku sadar diri untuk menjauhi Sehun, aku akan melakukannya."
"KAU!"
"Aku bukan remaja delapan belas tahun lagi! Aku pria dewasa yang sudah mengerti bahwa kebecianmu sangat tidak masuk akal padaku Tuan Oh! Jadi katakan padaku sebelum kau menyesali semuanya."
"…"
"Tidak bisa menjawab?"
Bukan-…Harusnya dia menjawab pertanyaan terlampau berani dari pria yang dicintai putra nomor duanya. Harusnya dia tidak memakai hati lagi untuk mengatakan bahwa ayahnya adalah orang yang sama yang membunuh keji kakek Sehun.
Tapi setelah itu apa?
Li Chen bahkan memiliki bukti bahwa dia tidak bersalah, dia memiliki bukti kuat yang hingga saat ini masih dia cari kebenarannya.
Suatu saat nanti dia akan mengungkapkan siapa sang ayah pada putra tunggalnya.
Tapi untuk saat ini?
Rasanya mengalah adalah hal yang paling tepat agar dia bisa menang di waktu yang tepat.
"Pergilah."
"Anda tidak pernah bisa menjawabku tuan Oh!"
"Aku bilang pergi."
"Baiklah."
Luhan mengankat dua tangannya –tanda mengalah- lalu detik berikutnya dia menyunggingkan senyum untuk membungkuk hormat pada sang jaksa "Aku hanya berharap suatu saat nanti bisa memanggil ayah lagi padamu. Selamat siang Jaksa Oh." Katanya berjalan pergi sebelum suara menentang kembali terdengar dari yang lebih tua.
"Kau tidak akan bisa memanggilku ayah. Tidak lagi dan tidak akan pernah! Sehun tidak akan pernah kembali lagi padamu!"
Tap!
Kebencian itu masih sama kuat-….Luhan bisa merasakannya.
Dia bahkan lelah untuk menoleh, karena hasilnya? Dia hanya akan semakin terluka.
Namun jika kebencian itu dibiarkan maka selamanya, tanpa Sehun disisinya. Dia akan terus menderita.
Luhan membencinya.
Sangat membencinya.
Dia kemudian kembali menoleh untuk menatap langsung pada dua mata yang sama menatap benci padanya "Entah apa yang anda lakukan pada Sehun, tapi satu yang harus anda tahu Jaksa Oh." Katanya mengangkat tangan kanannya lalu menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya tepat di kedua mata ayah sang kekasih.
"Suka atau tidak, secara tidak resmi. Aku dan Sehun-….Kami sudah menikah." Katanya begitu tenang namun tersirat luka yang begitu dalam
"Jadi jangan berusaha terlalu keras karena kami akan selalu memenangkan kebencianmu, selalu-…..Selamat siang aboji!"
BLAM….
Hari ini, di siang yang begitu dingin…..
Luhan secara langsung menyatakan perang pada ayah kekasihnya.
Perang yang entah akan dilaluinya seorang diri atau akan ada Sehun bersamanya.
Dia tidak peduli.
Yang diinginkannya hanya Sehun.
Dan selama Sehun masih berada disana dengan janji mereka, maka Luhan juga akan berada disini memperjuangkan janji mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tring…..!
"Hyung aku datang."
Dokter muda itu kemudian menarik kursi terdekat dari kasir. Menyembunyikan wajahnya disana sementara yang dipanggil hyung terlihat mengenakan apron biru tua dan sedang berjalan mendekatinya. "Hey Tuan muda."
"Aku bukan tuan muda. Aku dokter Xi." Ucapannya dipenuhi kesombongan namun hanya dibalas kekehan oleh yang lebih tua "Ada apa? Kenapa muram?"
"Tidak apa. Hanya sedang menenangkan diri."
"Merindukan Sehun?"
Luhan menggeleng lalu mengangkat wajahnya, dia kemudian mencari mata pria yang kini menggantikan ayahnya di dapur untuk tersenyum sangat lirih "Aku baru saja menyatakan perang dengan seseorang."
"Perang?"
"mmhh….Aku menantang jaksa terhebat di Seoul. –aargh! Mau gila rasanya."
"Jaksa?"
Pria yang kerap disapa Tabi itu sedikit berfikir. Menebak siapa yang Luhan maksud sampai matanya membuka menyatakan Luhan sangat gila untuk hal ini "tidak mungkin kau melakukannya."
"Aku melakukannya hyung. Aku mengatakan akan melakukan apapun untuk merebut putranya. Aku rasa aku sudah gila –argh!"
Yang usianya lebih muda kembali merengek. Rasanya dia sudah tidak tahan berjuang seorang diri, tapi ketika hatinya terus mengingatkan ini semua untuk Sehun, maka yang dia lakukan hanya terus bertahan sampai prianya kembali "Aku sudah gila."
"Kau tidak gila. Kau hebat."
Ucapan seorang Choi Seunghyun terdengar singkat, namun maknanya luar biasa untuk Luhan. Pria yang sudah Luhan anggap sebagai kakaknya itu pun kini semakin tersenyum lalu menepuk sayang pundak putra dari pemilik toko roti di tempatnya bekerja "Menurutku ini yang terhebat dari semua hal yang telah kau lakukan selama enam tahun."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Kau seperti menegaskan pada Jaksa sombong itu siapa dirimu dan siapa Sehun untukmu. Kau sudah selangkah lebih maju di depannya dokter Xi."
Luhan luar biasa berbinar saat ini, setidaknya dari semua kesulitan yang dialaminya seorang diri, akan ada beberapa orang yang terus mendukungnya, Seunghyun salah satunya.
Membuat dirinya benar-benar bahagia hingga rasanya semangatnya untuk memiliki Sehun kembali menjadi prioritasnya lagi saat ini "Kau benar hyung! Yang perlu kulakukan hanya membuktikan pada ayah Sehun atau ayahku sekalipun bahwa tidak ada yang bisa benar-benar memisahkan aku dari Sehun."
"Kau benar."
"Aku akan melawan mereka meskipun sulit."
"Kau harus melakukannya."
Dan disaat Luhan berkobar membara dengan janjinya maka pintu toko roti milik ayahnya kembali terbuka. Membuat baik Luhan maupun Seunghyun menoleh untuk mendapati sang pemilik berjalan angkuh memasuki toko miliknya.
"Pa…."
"Kau datang?"
"Aku akan segera pergi Pa. Aku hanya mengunjungi Tabi hyung."
Buru-buru Luhan mengambil beberapa barang miliknya. Dia mengerling Seunghyun untuk segera pergi sebelum pertengkaran yang tak pernah mendapatkan jawaban kembali terjadi di antara Luhan dan ayahnya "Hari ini aku jaga malam. Jadi tidak akan pulang, sampai nanti Pa." Katanya berpamitan namun segera dibalas oleh suara sang ayah yang terdengar sangat dingin dan sama marahnya pada Luhan.
"Luhan."
"hmh? Ada apa Pa?"
"Teman papa akan datang dari Beijing."
"Lalu?"
"Datanglah. Papa akan mengenalkanmu pada putra sulung teman papa. Mungkin kalian akan cocok setelah bertemu."
Awalnya Luhan mendengarkan, tapi saat sang papa kembali berniat menjodohkan dan mengenalkannya pada banyak pria dan wanita maka terkadang Luhan sudah sangat kelelahan untuk bertengkar tentang hal yang sama secara berulang selama enam tahun.
"Papa tahu jawabanku."
"Kenapa kau terus menolak?"
"Dan kenapa papa terus memaksa?"
"Luhan!"
Keduanya mulai terbawa lagi pada emosi, tak ada yang benar-benar mendengarkan dan tak ada yang berusaha mengerti. Yang keduanya lakukan hanya mempertahankan apa yang benar menurut mereka tanpa tahu bahwa selama bertahun-tahun ayah dan anak itu saling menyakiti satu sama lain.
"Aku hanya mencintai Sehun."
"Omong kosong!"
"Coba pisahkan kami dengan cara papa atau Tuan Oh. Lakukan segala cara yang kalian bisa tanpa menjelaskan apapun pada kami. KALIAN YANG SALING MEMBENCI KENAPA HARUS AKU DAN SEHUN YANG MENANGGUNGNYA? AKU BENCI PAPA!"
BLAM….!
Tidak ada yang berbicara setelah Luhan pergi dengan emosi. Li Chen hanya bisa melihat putranya pergi sementara Seunghyun cenderung diam dan membiarkan pertengkaran ayah-anak itu terjadi.
Ayahnya memang sudah lama tiada.
Tapi Seunghyun berani bertaruh bahwa tak ada yang lebih menyakitkan untuk seorang ayah selain melihat putra kecilnya menangis,
Begitupula sebaliknya.
Dan tak ada yang lebih menyakitkan untuk seorang anak selain membangkang pada ayah yang membesarkannya penuh cinta.
.
.
.
.
.
.
.
.
"AARGHHH AKU BENCI AYAHKU!"
"Lu….."
Dan disinilah Luhan-….Di atap rumah sakit –lagi- dengan dua sahabat kekasihnya yang selalu terlihat bingung jika Luhan sudah bertengkar dengan ayahnya.
Terhitung sudah dua puluh menit Luhan berteriak aku benci ayahku tapi alih-alih merasa lelah, si rusa justru semakin terlihat menakutkan dan itu membuat bingung dua sahabat kekasihnya. "AARRGGHHHH!"
"Lu mau sampai kau berteriak?"
"AKU BENCI AYAHKU!"
"Aku rasa tidak ada harapan Baek. Bawa Luhan pulang, aku akan menggantikan shift nya malam ini."
"Baiklah ide bagus. Dia bisa membunuh pasien dengan emosinya. Lu ayo kita pulang, kau bisa bermalam di tempatku."
"Tidak perlu!"
Luhan sudah berhenti berteriak, tapi parahnya dia menolak untuk disentuh. Dan saat tangan Baekhyun memegang lengannya maka Luhan menghempas kasar jemari lentik kekasih sahabatnya. "Kalian pulanglah. Aku harus jaga malam ini."
"Kami tidak bisa membiarkanmu membunuh pasien."
"ck! Jika aku bilang pulang, kalian harus pulang! Jangan membantahku!"
"astaga Xi Luhan kau benar-benar-….!"
"Kau belum mengambil waktu libur sejak minggu lalu." Katanya mengoreksi Baekhyun sebelum beralih pada Kyungsoo "Dan kau tidak boleh terlalu sering mendapat shift malam. Sebisa mungkin aku akan menggantikanmu agar kau dan keponakanku bisa istirahat dengan cukup."
"whoa / daebak!"
Kekaguman pun terucap dari bibir Baekhyun dan Kyungsoo. Keduanya bahkan merasa sedikit bersalah karena membentak Luhan sementara kekasih sahabat mereka diam-diam peduli dan memperhatikan mereka. "Kau terlihat keren jika seperti ini."
"Sudahlah…"
"Aku serius Lu."
"Aku tahu. Cepat pergi sebelum aku berubah pikiran."
Mendengarnya saja sudah membuat mereka bergidik, jadi ketika Luhan mengatakan cepat pergi, maka secepat kilat pula Baekhyun dan Kyungsoo bergegas meninggalkan atap rumah sakit "Kita bertemu besok Lu."
"Oke."
"Sampai nanti cintaku."
"Sampai nanti."
Luhan membalas seperlunya. Dia kemudian melambai sekilas untuk membiarkan dua temannya pergi sementara dia harus berada seorang diri di rumah sakit "haaah-…..Jika sudah begini rasanya aku ingin melompat. Pasti masalahku hilang."
Luhan sengaja mencodongkan tubuhnya di antara sisi atap rumah sakit. Melihat kerumunan yang terlihat seperti semut sementara dirinya mulai meracau gila dan sedikit nekat "Mungkin jika aku sakit kau akan segera kembali."
Luhan semakin mencodongkan tubuhnya melihat ke bawah. Dia memikirkan hal yang menurutnya sangat menyenangkan namun nyatanya gila jika dilakukan. "ish! Tapi ini terlalu tinggi!"
Matanya yang terpejam kembali terbuka. Detik berikutnya dia terduduk di atap rumah sakit sementara dua tangannya masih gemetar karena takut "Aku pasti sudah gila." Katanya tertawa gila sebelum
Ddrtt….drrtt..
Suara ponsel dari kepala perawat gawat darurat menyudahi kegilaaan yang nyaris dia lakukan beberapa menit lalu "Jika tahu, Sehun pasti membunuhku." Katanya bergumam kecil dengan tangan yang menggeser slide ponselnya.
"Ya.. Ada apa?"
"Dokter Xi, ruang gawat darurat! SEKARANG!"
"Ada apa?"
"SEORANG REMAJA TERTUSUK DAN MENGALAMI PENDARAHAN HEBAT!"
"oh sial! Aku dalam perjalanan!"
Pip!
Buru-buru Luhan berlari masuk kedalam gedung rumah sakit. Dia juga tergesa-gesa menekan tombol lift sampai
Ting!
Dia kembali berlari menyusuri koridor agar sampai di ruang gawat darurat, menyadari bahwa beberapa pengunjung mulai memadati ruang gawat darurat maka bisa dipastikan memang terjadi sesuatu yang menyita perhatian mereka.
"Dokter Xi! Disini!"
"Bagaimana kondisinya?"
"Tekanan darah menurun, denyut nadi mulai samar karena pendarahan hebat yang dialaminya."
"Biar kulihat."
Jujur setiap kali mengalami kondisi darurat seperti ini, Luhan selalu panik dan kebingungan. Dia tidak tahu harus melakukan apa, menghubungi siapa atau bahkan bertanya pada dokter senior di tengah malam seperti ini.
Dia cukup panik melihat darah, namun saat matanya melihat remaja yang terbaring di depannya sangat kesakitan maka disaat yang sama pula nalurinya sebagai seorang dokter menuntunnya untuk menyembuhkan dengan berbagai cara
"arrgh…."
"Kau harus tenang, aku akan melihat lukamu."
Dia kemudian mengambil alih luka tusuk yang ditekan oleh perawat yang lain, memperhatikan seberapa dalam robekan di bagian perut sang pasien sebelum memberi perintah "Bersihkan lukanya. Aku harus memastikan tidak ada benda tajam yang tertinggal."
Dua asisten Luhan malam ini mengangguk, mereka pun segera mengambil larutan garam sebagai cairan pembersih sementara Luhan memakai masker dan sarung tangannya "Dokter Xi apa pasien perlu di bius?"
"Lakukan di sekitar luka. Pastikan tekanannya tidak terus menurun."
"Baik."
Dan tak lama Luhan kembali mengambil alih pasiennya, dia mempelajari seberapa dalam robekan yang terjadi dan sedikit lega karena lukanya tidak terlalu dalam. "Pendarahannya terjadi karena lebar goresan. Kita akan melakukan ekisisi. Beri aku gunting."
Dia merobek paksa bagian bawah pakaian yang digunakan pasien. Menyisikan beberapa jaringan mati di sekitar luka agar bisa tumbuh menjadi jaringan baru "Antiseptik."
Dengan cekatan Luhan menyiram sedikit antiseptik tepat di bagian yang sobek, membuat ringisan terdengar dari sang pasien sementara tangannya mulai menekan bagian yang terbuka untuk mencari robekan terbesar disana.
"Tahan. Aku hampir selesai." Katanya menyuntikkan obat bius di sekitar robekan terbesar diiringi teriakan dari pasien yang dia tebak memiliki usia sama dengan Jaehyun, adik kekasihnya.
"Antiseptik."
Merasa obat biusnya sudah bekerja, Luhan menyiram lagi bagian yang luka dengan antiseptik, sedikit menekan kuat dan tersenyum menyadari pendarahannya sudah berkurang jauh dari sebelumnya "Kita akan melakukan operasi kecil."
"Baik dokter Xi."
"Benang jahit."
"rrrgh…."
Sementara Luhan sedang fokus menjahit lukanya, maka remaja yang sedang ditangani Luhan hanya menatap sang dokter penuh pertanyaan dalam benaknya.
Dia mengira targetnya kali ini adalah seseorang berparas bengis atau iblis sekalipun bukan menyerupai malaikat seperti yang dilihatnya langsung saat ini, karena saat kali pertama dia mengetahui targetnya adalah pria yang dipanggil dokter Xi, maka rasanya enggan dia melanjutkan hal gila yang diperintahkan padanya.
"Kasa."
Dan satu kali usapan lembut, sang dokter tersenyum padanya. Membuat penglihatannya yang mulai kabur perlahan kembali namun tak menghilangkan rasa sakit di sekujur tubuhnya "Sudah selesai. Kau akan dibawa ke ruang perawatan selama tiga jam, setelah perawat memastikan jahitanmu sudah sedikit mengering. Kau boleh pulang."
"….."
"Perawat Kim, apa ada keluarga yang bisa dihubungi?"
"Remaja ini tanpa identitas dokter Xi."
"Namanya?"
"Lee Taeyong."
"Mungkin sebentar lagi akan ada keluarga yang datang, sementara ini bawa dia ke ruang perawatan."
"Baik dokter Xi."
"Kau sudah ditangani dan bisa tidur selama beberapa jam." Katanya berpamitan sebelum pasien seusia adiknya ini dibawa ke ruang perawatan "Bawa dia."
Setelahnya dua perawat yang menjadi asisten Luhan malam ini mendorong tempat tidur si remaja. Membuat Luhan membayangkan apa yang akan dia lakukan jika pasien dengan darah yang mengotori tangan dan tubuhnya adalah orang yang dia cintai.
Memikirkannya saja sudah membuat Luhan sangat gugup, dan saat pikiran gila kembali menguasai dirinya maka disaat yang sama pula dia merasakan seseorang menggenggam paksa tangannya.
"huh?"
Yang menggenggamnya adalah pasien yang baru ditangani olehnya, Luhan bertanya-tanya, tapi ketika mata mereka bertemu dan remaja itu menatapnya panik maka rasanya pria muda seusia Jaehyun itu memang ingin mengatakan sesuatu padanya "Tolong aku…..hyung."
"hyung? Apa kita saling mengenal?"
Samar memang, tapi Luhan bersumpah mendengar pasiennya memanggil hyung dan meminta tolong padanya tapi untuk apa? bukankah dia baru selesai melakukan pekerjaannya sebagai dokter? Kenapa remaja itu terlihat ketakutan? Apa yang terjadi? Apa yang-…
"DOKTER XI!"
"y-ya?—Ya! Ada apa?"
"Kenapa anda melamun?"
"Aku? Tidak—aku hanya-….Ada apa?"
Dia mengalihkan pembicaraan dengan mencuci tangan, membersihkan darah yang tersisa di sekitar tubuhnya untuk fokus pada perawat lain yang biasa menemaninya menjadi asisten di operasi besar seperti pengangkatan tumor.
"Seseorang mencarimu."
"Mencariku? Siapa?" katanya melihat dari cermin dan masih fokus mencuci tangannya.
"mmhhh…"
Entah kenapa perawat wanita beranak tiga itu tersenyum sangat menggelikan ke arahnya. Membuat satu alis Luhan terangkat sementara tangannya mulai mematikan kran dan mengeringkannya dengan handuk bersih "Kenapa kau tersenyum seperti itu? Siapa yang mencariku?"
"Pria tampan."
"ah-….Kai dan Chanyeol?"
"Bukan, jika dua pangeran itu aku mengenalnya. Tapi kali ini-….Aku baru kali pertama melihatnya dan jatuh hati."
"Siapa? Adikku?"
"Yang memiliki lesung di pipinya?"
"Iya dia adikku."
"Bukan! Dia lebih tampan."
"Sudahlah! Aku lelah, katakan saja aku sudah tidur."
"Kau yakin?"
"Iya yakin. Kau bisa menemaninya Bibi Lee."
"eyy! Kau mulai lagi memanggilku bibi."
Luhan terkekeh, dia kembali memasang jas putihnya lalu bergegas jalan menghampiri si perawat yang sudah dianggap bibi untuknya "Jam kerjamu sudah habis, jadi aku bisa memanggilmu bibi." Bisiknya menggoda lalu berjalan meninggalkan ruang gawat darurat.
"Aku akan tidur sebentar. Sampai nanti bi."
"Dokter Xi! Apa kau yakin tidak ingin menemui pria tampan yang mencarimu?"
"Yakin! Siapapun itu katakan bisa datang besok pagi, aku harus tidur karena jam malamku masih panjang." Ujarnya melambaikan tangan dan terus berjalan menuju ruang istirahat yang disediakan. "Selamat malam bi."
"Selamat malam dokter Xi! Aku dengan senang hati akan menemani suamimu malam ini."
Tap!
Kakinya secara refleks berhenti melangkah.
Dia mengenal Perawat Lee hampir dua tahun lamanya. Dan selama dia menjadi dokter residen di Seoul hospital, maka ini adalah kali pertama Perawat Lee mengatakan seseorang sebagai "suaminya."
Demi Tuhan dia bahkan tidak pernah bercerita bahwa dia memiliki kekasih, lalu bagaimana perawat Lee tahu? Begitulah pertanyaan gila yang mulai membuat sesak dada Luhan.
Dia gugup
Sangat gugup
Dia ingin menebak itu memang benar suaminya. Sehunnya?
Tapi bagaimana jika dia salah?
Membuat Luhan –dengan berat hati- kembali menoleh untuk menanyakan hal tanpa mau terlalu berharap.
"s-Suami?"
"mmhh… Dia bilang dia adalah suami dokter residen tercantik di rumah sakit ini, dan saat aku menebak namamu dia mengatakan ya kau benar! Xi Luhan adalah istriku!"
"Apa dia menyebutkan namanya?"
"Tentu saja-…Namanya adalah Oh Se-…astaga aku lupa—Seno? Ah aku rasa bukan—Se…"
"Sehun?"
"YA! SEHUN—NAMANYA OH SEHUN!"
"astaga!"
Luhan nyaris terjatuh karena bahagia.
Terlalu bahagia dan berharap ini bukan mimpi seperti malam-malam sebelumnya "dimana? Dimana dia? Dimana suamiku?"
"Jadi benar kau sudah menikah? Kau benar-benar sudah-…."
"YA AKU SUDAH MENIKAH! Sekarang katakan dimana suamiku?"
Rasanya dia bisa merasakan kebahagiaan Luhan, dan karena alasan itu pula dia tertawa kecil untuk menjawab "Dia sudah menunggu hampir tiga jam dan saat ini berada di lobi utama rumah sakit."
"Sehunna!"
Satu lantai adalah jarak yang memisahkan ruang gawat darurat dan lobi utama. Oleh karena itu pula Luhan mencari tangga terdekat untuk menuju ke lobi utama. "HEY PERHATIKAN LANGKAHMU!"
"maaf / minggir / Sehunna."
Dan seperti biasa-…..Jika Luhan terburu-buru maka korban yang akan menjadi tabrakan punggungnya adalah semua yang berpapas jalan atau berjalan terlalu lama di depannya "Sehun.."
Hanya nama sang kekasih yang keluar dari bibirnya, jadi wajar saat dua kakinya sampai di lobi rumah sakit maka nama "SEHUN!" adalah hal pertama yang dia teriakkan.
Hening-…..
Tak ada sosok sang kekasih di lobi, yang ada hanya beberapa pasien yang tersenyum tanda sudah diperbolehkan pulang atau merasa puas dengan pelayanan yang diberikan rumah sakit.
"SEHUNNA!"
Dia menoleh ke sisi kanan-…..nihil
"jangan bilang kau tidak datang, jangan bilang itu bukan kau, jangan bilang-…..SEHUNNA!"
Dia merubah arah ke sisi kiri-….nihil
Suaranya serak, tangannya gemetar karena terlalu gugup.
Dia terus meneriakkan nama yang begitu ia rindukan sementara air matanya mulai menetes tanda bahwa dia sangat kecewa karena tidak bisa menemukan sosok tampannya –sesak dan sakit- sampai rasanya dia tidak bisa lagi sabar untuk berteriak sangat murka
"SEHUNNA! DIMANA KAU BAJINGAN! CEPAT KELUAR ATAU AKU AKAN MENCAMPAKANMU! AKU BERSUMPAH AKAN MENCARI KEKASIH LAIN DAN MENIKAHINYA DI DEPAN MATAMU! AKU AKAN-….."
"Coba lakukan dan lihat bagaimana aku membunuh kekasihmu yang lain."
DEG!
Suara angkuh itu terdengar sangat familiar.
Terlalu familiar sampai Luhan bisa mengenali langsung dari aksen pria itu berbicara.
Dia segera menoleh
Lalu detik berikutnya matanya bertemu dengan mata yang begitu ia rindukan selama enam tahun.
"Bajingan sialan!"
Disana,
Tepat di depan kedua matanya-….Pria yang enam tahun lalu mengikat janji untuk segera kembali akhirnya benar-benar kembali.
Luhan benci,
Nyatanya pria sialan di depannya tumbuh semakin tampan.
Lihat saja bagaimana kekar tubuhnya bahkan ketika dia sudah memakai pakaian yang tertutup
Dia tampan,
Semakin tampan walau hanya berbalut mantel hitam panjang selutut dipadu tatapan dingin yang bisa melelehkan siapapun yang melihatnya.
"brengsek!"
Luhan menghapus air matanya. Dia tertawa kecil lalu tak lama berjalan mendekati prianya yang sudah menepati janjinya untuk kembali
"Apa kau harus mengumpat? Ini aku suamimu."
"tsk!"
Kali ini Sehun yang tertawa, direntangkannya tangan untuk menyambut si mungil dengan air mata yang juga menetes cepat tanda bahwa dia juga sangat merindukan kekasihnya, pujaan hatinya, Luhannya.
"Kenapa kau semakin cantik?"
"Ditinggal suami membuatku semakin cantik."
"tsk!"
Luhan tertawa, begitupula Sehun.
Walau air mata membasahi masing-masing wajah mereka, setidaknya ada cinta di setiap tatapan yang mereka berikan.
Keduanya jelas tak berkedip karena rindu.
Takut jika mereka berkedip salah satu dari mereka akan hilang lagi seperti sebelumnya.
Dan saat jarak mereka hanya beberapa langkah. Maka disaat yang sama pula Luhan segera berlari. Kembali menghapus air matanya sebelum
Grep…!
Sehun dengan mudah menangkap si mungil yang melompat ke dalam pelukannya.
Dan tak perlu waktu lama untuk merasakan kontak fisik yang mereka lakukan, maka disinilah Sehun-….Menciumi tengkuk Luhan sementara kekasih mungilnya menangis karena rindu dan berjinjit untuk menyamakan tinggi mereka.
"akhirnya kau kembali. Banyak yang ingin aku ceritakan, Aku-….Aku sudah menjadi dokter Sehunna. Aku sangat merindukanmu …"
Sehun mengangguk, dia juga sedikit terisak dengan rindu yang sama besar seperti milik Luhan. Rasanya seperti mimpi mendengar suara Luhan begitu dekat, saat tubuhnya dipeluk erat seolah tak akan dilepas lagi.
"ini bukan mimpi…..ini nyata."
Karena saat deru nafas Luhan memenuhi tengkuknya,
Saat jemari Luhan mencengkram kuat tengkuknya
Maka disaat yang sama Sehun menyadari bahwa Luhan bukanlah lagi bayangan yang akan hilang jika dia berkedip nanti.
Ini Luhannya-….Masih begitu keras kepala namun sangat mudah menangis.
Ini Luhannya-….Yang gemar mengumpat, tapi mudah merona jika dipuji.
Ya-….Ini Luhannya, kekasihnya, calon istrinya yang sudah berjuang begitu lama seorang diri.
Yang sudah mempertahankan cinta mereka begitu lama.
Yang sudah membuatnya bangga karena jas putih dengan nametag dokter Xi terlihat di tanda pengenal yang dia gunakan.
"Aku kembali dokter Xi. Suamimu sudah kembali."
"Sehun aku sudah menjadi dokter."
Dan saat tangan hangat Sehun menangkup wajahnya yang begitu mendamba karena rindu maka Luhan menyadari bahwa ini bukan bayangannya lagi, ini benar-benar Sehun, Sehunnya.
"Aku tahu sayang, aku sangat bangga padamu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Apa seorang residen diijinkan membawa kekasihnya masuk ke dalam kamar istirahat?"
"Tentu saja tidak."
"Lalu kenapa kau membawaku kesini?"
Biasanya kamar Luhan akan ramai jika ada Baekhyun dan Kyungsoo. Tapi terimakasih pada dua sahabatnya karena setidaknya dia bisa menyelundupkan Sehun untuk malam ini.
"Pikirmu aku akan membiarkan suamiku pergi lagi? Enam tahun belum cukup menyiksaku?"
"he he he…."
"Berhenti tertawa!"
"araseo..araseo… Tapi bagaimana jika ada yang datang?"
Setelah melepas jas putihnya, Luhan berjalan mendekati Sehun
Dia kemudian melepas paksa mantel hitam yang digunakan sang kekasih untuk menemukan fakta bahwa selain kekar, dada kekasihnya juga sangat bidang dengan perut sixpack yang membuatnya seribu kali jauh lebih tampan dan seksi dibanding pertemuan terakhir mereka.
"Apa kau menggoda wanita atau pria cantik dengan ini?"
"Dengan apa?"
Luhan kesal, setelah mantel dia juga memaksa melepas kaos rajut Sehun. Membuat wajahnya merona untuk beberapa detik sebelum rasa cemburunya lebih menguasai karena membiarkan bujang setampan kekasihnya berkeliaran seorang diri di negara asing.
"INI! APA KAU MEMAMERKAN TUBUHMU PADA SEMUA WANITA?" katanya menunjuk kasar otot perut Sehun diiringi kekehan oleh yang lebih tampan.
"Tergantung."
"Apa maksudmu?"
"Jika itu bikini party tentu saja aku-….."
"Aku tidak memakai apapun saat bikini party tahun lalu. Aku mabuk bersama Baekhyun dan Kyungsoo lalu terbangun dengan beberapa pria yang sedang memeluk dan memuja tubuhku."
Skak!
Niatnya menggoda Luhan kini berbalik menjadi sangat panas.
Pertama karena Luhan dengan terang-terangan mengatakan tidak memakai apapun saat pesta
Kedua karena pria ceriwis di depannya benar-benar menantang kesabaran seorang Oh Sehun dengan mengatakan terbangun di pelukan pria lain
"Tidak lucu."
"Aku serius. Mereka bilang bokongku indah."
"Tidak lucu."
"ish! Aku serius sayangku. Mereka nyaris menciumku tapi-….."
Hmmphhh….
Yang paling Luhan suka dari Sehun adalah ketika dia cemburu
Kenapa?
Karena jika bayi besarnya sudah cemburu, dia akan terlihat sepuluh kali lebih menggemaskan.
"sehunakubercanda—hmphh…"
Tapi jika cemburunya sudah melampaui batas, maka bisa dipastikan si bayi besar akan berubah menjadi monster mengerikan karena terlalu cemburu dan tak suka miliknya disentuh orang lain.
"Aku sudah bilang tidak lucu."
BRAK…!
Dengan satu tangan, Luhan dijatuhkan ke atas kasur sempit milik Baekhyun.
Awalnya dia takut, tapi mengingat ini adalah kali pertama selama enam tahun tidak bercinta, maka Luhan dengan senang hati mengikuti gairah kekasihnya.
Dia bahkan sudah membalas ciuman Sehun dengan gairah yang sama, berharap tangan kasar Sehun segera melucuti pakaiannya-….namun nihil.
Yang terjadi hanya deru nafas Sehun saat dahi mereka disatukan.
Luhan menatap kecewa sementara Sehun terkekah gemas "Apa? Kau menginginkan apa?"
"ish! Kau mempermainkan aku lagi." Katanya mencoba bangung namun dengan mudah tubuh besar Sehun menghimpit lagi tubuh kecilnya "Jika tidak ingin bercinta bangun! Kau berat!"
"eyy—Sejak kapan istriku menjadi vulgar seperti ini?"
"berisik!"
Luhan kembali memukul dada Sehun tanda bahwa dia minta dilepaskan, tapi yang dilakukan Sehun sebaliknya-…Dia terus menahan tubuh Luhan di bawahnya dan terus mencium lembut bibir mungil yang gemar sekali mengumpat milik kekasihnya.
"Aku tidak akan menyentuhmu di tempat kecil dan kotor seperti tempat istirahat milikmu!"
"Kenapa? Ini cukup besar untuk kita berdua!"
"Tapi tidak cukup pantas untuk dijadikan tempat melepas rindu setelah enam tahun."
"huh?"
"Aku sudah mempersiapkan segalanya untukmu."
"Mempersiapkan apa?"
"Rahasia sayangku—tempat ini benar-benar sempit." Katanya menggerutu lalu menarik Luhan ke dekapannya "Yang perlu kau lakukan hanya melewati malam ini dan saat pagi tiba aku akan membawamu ke tempat yang akan kita gunakan untuk melepas rindu."
"Kenapa harus besok?"
"Karena hari ini kau sudah mengalami hal yang begitu melelahkan."
"Menjadi dokter muda memang sangat melelahkan."
"Tapi menemui ayahku adalah hal yang sepuluh kali lebih melelahkan."
"sehun…"
Buru-buru Luhan mendongak, mencari dimana mata sang kekasih untuk bertanya banyak hal seperti darimana kau tahu aku menemui ayahmu atau kenapa rasanya Sehun menyembunyikan banyak hal darinya.
"Tidurlah sayang. Kau boleh bertanya banyak hal esok hari."
"Kenapa tidak malam ini?"
"Karena kau lelah."
Luhan menggeleng, dia kemudian kembali memeluk Sehun lalu menyembunyikan wajahnya di dada sang kekasih "Kau akan pergi jika aku memejamkan mata."
"Aku bukan bayangan lagi, aku benar-benar Sehun."
"Tapi aku tidak lelah."
"Hatimu yang lelah."
"…"
"Aku tahu itu dengan baik. Kau lelah menebak dimana aku selama ini, apa yang aku lakukan, kenapa aku tidak kunjung kembali, aku tahu kau menanyakan semua hal itu pada dirimu sendiri, tak ada yang bisa membantumu dan kau bertahan seorang diri. Kau ingin menyerah, tapi kemudian kau memilih bertahan dan menungguku kembali."
"Aku menunggu karena kau bilang akan kembali, lagipula rasa lelahnya hilang setelah kau kembali."
Sehun tersenyum
Nyatanya dia memiliki kekasih yang gemar mengumpat tapi memiliki hati malaikat.
Karena disaat harusnya Luhan mengumpat segala hal tentang sang ayah, maka yang dia lakukan hanya mengalihkan pembicaraan dan terus mendekapnya erat "Aku janji kau tidak akan merasa lelah lagi. Tidurlah sayang, aku akan pergi setelah kau tidur."
"Kau harus datang sebelum aku bertukar shift dengan Baekhyun
"Aku akan datang sebelum kau membuka mata."
"Baiklah. Aku tidur."
Mungkin malam ini adalah malam terbaik yang Luhan rasakan setelah sekian lama. Karena disaat tiga tepukan kecil dia rasakan di punggungnya, maka secara cepat pula Luhan membalas dengan dengkuran halus miliknya.
"kau pasti benar-benar lelah."
Setelah memastikan Luhan tidur di pelukannya, Sehun tersenyum.
Dia kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang dan tak lama berbicara dengan nada serius "Aku akan melakukannya."
"Kau yakin?"
"Sangat yakin."
Pip!
Setelah mematikan ponselnya, perlahan Sehun melepas pelukannya pada Luhan. Dia bergegas memakai pakaiannya untuk kembali berjalan mendekati sang kekasih yang telah tidur dengan nyaman.
"Mimpi indah sayangku." Katanya mencium kening Luhan lalu berjongkok untuk mengusap sayang kening sang kekasih "Setelah malam ini, giliranku untuk menjagamu sayang. Yang perlu kau lakukan hanya bergantung padaku dan bahagia sebanyak yang kau mau. Kau tahu kenapa?"
"Karena aku sudah memiliki segalanya. Kau hanya perlu menghabiskan apa yang aku miliki. Kau hanya perlu berada disampingku, karena aku menginginkanmu, hanya dirimu."
Dari kecil Sehun hanya menginginkan Luhan.
Selalu Luhan.
Bahkan ketika dia sudah memiliki segalanya-….dia tetap menginginkan Luhan.
Jadi wajar jika rasa takut Sehun lebih besar dari milik Luhan
Wajar jika dia lebih sering menangis karena merindukan Luhan di banding si pria mungil,
Kenapa?
Karena dari awal rasa cinta Sehun memang lebih besar dari milik Luhan, selalu.
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
.
.
.
Gengsss…selamat lebaran maaf lahir batin yaaa…
.
Mdh2an jadwal up gue ga molor2 lagi abis puasa,
minimal seminggu sekali lah yaa…amin2
.
Sampe ketemu egen di afb
.
Happy readingsss
