Previous..
Dari kecil Sehun hanya menginginkan Luhan.
Selalu Luhan.
Bahkan ketika dia sudah memiliki segalanya-….dia tetap menginginkan Luhan.
Jadi wajar jika rasa takut Sehun lebih besar dari milik Luhan
Wajar jika dia lebih sering menangis karena merindukan Luhan di banding si pria mungil,
Kenapa?
Karena dari awal rasa cinta Sehun memang lebih besar dari milik Luhan, selalu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Je'Te Veux
.
.
.
.
.
Main cast : Sehun-Luhan
Rate : T-M
.
.
.
.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi hari ini
Itu artinya….
Rutinitas menegangkan mereka sebagai residen pendamping –terkadang- menjadi dokter pengganti akan segera dimulai. Tak ada hari tenang untuk mereka, yang selalu terjadi –hampir- dua tahun mereka mengabdikan diri untuk menjadi dokter spesialis hanya tuntutan untuk menghadapi apapun kondisi yang dan akan terjadi di dalam lingkup rumah sakit.
Entah di ruang gawat darurat
Ruang operasi
ICU
Pusat rehabilitasi
Atau dimanapun kondisi yang membutuhkan profesionalitas mereka sebagai dokter yang akan memberikan semua usahanya untuk membantu dan membuat keadaan seseorang menjadi lebih baik.
Ya-…Kira-kira seperti itu garis kecilnya.
"Kapan kau akan memeriksa kandunganmu Soo?"
Yang ditanya memang terlihat sedikit lebih gemuk –pipinya terutama- dan jika kau lihat keseluruhan tubuh dari seorang Do Kyungsoo maka bisa dipastikan bagian perutnya akan sedikit lebih membuncit karena calon malaikatnya dan Jongin sedang tumbuh disana.
"Aku sudah memiliki janji dengan dokter Kwon, mungkin siang nanti setelah jam kerjaku selesai."
"Jongin?"
"Dia akan datang Bee."
"Okey, aku hanya akan mengantar Luhan pulang dan kembali sebelum siang."
"Memangnya kau tidak lelah?"
Semenjak kehamilan Kyungsoo, Baekhyun langsung mengambil alih tiga profesi.
Pertama menjadi seorang dokter
Kedua menjadi penjaga bayi Kyungsoo
Dan ketiga?
Ah tentu saja dia menjadi Nanny dari bayi mungil –sok- Manly, Xi Luhan.
Jika mereka mendapat jadwal berbeda, maka Baekhyun akan mengantar si shift pagi ke rumah sakit, mengantar pulang si shift malam, lalu kembali lagi pada sore. Selalu seperti itu selama tiga bulan terakhir.
Membuat Baekhyun dan Luhan, -Luhan terutama- menjadi sangat manja dan terkadang terus merengek agar ditemani selama namanya terdaftar di shift malam.
"Selama kalian baik, aku adalah yang paling sehat tanpa rasa lelah sedikitpun!"
"aigoo…Baekie benar-benar kesayanganku."
Kyungsoo melompat, dia segera merangkul sahabat kecilnya untuk sedikit bermanja di pundak kecil kesayangannya. Mereka bahkan tertawa untuk beberapa saat sebelum suara perawat senior, favorit mereka, terdengar menyapa.
"Selamat pagi manis-manisku!"
"tsk!"
"Kenapa pagi-pagi sudah menggerutu dokter Byun?"
"Kau selalu menyapa kekasih kami selamat pagi tampanku. Lalu kenapa padaku, Luhan dan Kyungsoo selalu selamat pagi manisku."
Yang diprotes tertegun.
Demi Tuhan, jika ini tidak dihitung jam kerjanya dia bersumpah akan mencubit dan menarik gemas pipi dokter sekaligus pria "cantik" di depannya. Dia kemudian berdeham kecil untuk menjawab –sangat- jujur pada dua pria cantik nan manis di depannya.
"Karena jika tampan aku menambah dosaku di pagi hari."
"wae?"
Perawat yang malam tadi mendapat shift bersama Luhan terkikik, dia berjalan mendekati Baekhyun sebelum berjinjit dan berbisik sangat menggoda "Karena itu bohong."
"Ayolah! Sini biar aku buktikan kalau aku pria sejati!"
"o-..ow…No Baek-…No!"
Kyungsoo bahkan harus memeluk Baekhyun agar tidak mengusak gemas perawat senior di Seoul Hospital, dia memberikan tanda agar perawat Lee berhenti menggoda Baekhyun dengan mengganti topik dan bertanya
"Dimana dokter Xi? Kenapa aku belum-…."
"AH! ITU DIA!"
Buru-buru Kyungsoo menoleh, sedikit terkejut karena sang perawat berteriak namun tidak menemukan sosok Luhannya dimanapun "Dimana?"
"Aku bukan menunjuk keberadaan dokter Xi."
"Lalu kenapa kau mengatakan ITU DIA!"
"Maksudku bukan merujuk pada keberadaan dokter Xi!"
"Baiklah….baiklah… Lalu apa maksudmu perawat Lee?"
Refleks, Baekhyun melihat arlojinya.
Kyungsoo membulatkan matanya.
Keduanya terdiam, saling bertatapan
Sebelum
"MWO?"
.
.
.
.
.
"Baek kita harus cepat! Kita-….INI GAWAT! BAGAIMANA JIKA MAD MAN TAHU? LUHAN AKAN BERADA DALAM MASALAH!"
Tap…Tap
Tap…Tap
Keduanya kini berlari seperti "orang setengah waras" menuju ruang istirahat mereka. Menyesal membiarkan Luhan mengambil shift malam jika hanya akan membuat mereka dihukum dan terus menjadi tim "gawat darurat" di sisa bakti mereka saat ini
"Aku tidak percaya ini! Aku kira kebiasaan buruknya sudah hilang—ah maaf, permisi!"
Dan sama seperti orang panik pada umumnya, maka Baekhyun dan Kyungsoo juga melakukan hal yang sama, mereka cenderung menabrak semua yang berpapasan dengan mereka untuk meminta maaf dan kemudian kembali panik.
"Soo biar aku yang berlari! Kau tenanglah—ada baby!"
"baby? Kau benar—argh! Tapi bayi besar kita lebih penting!"
Kyungsoo menolak untuk tenang, pikirannya benar-benar tertuju pada Luhan.
Dia takut mereka terlambat membangunkan si "putri tidur" berharap tidak ada siapapun yang datang dan hanya membiarkan bayi besarnya tidur dengan tenang.
Dengan tenang-…..Setidaknya sampai dia dan Baekhyun sampai di depan pintu istirahat mereka
Cklek…
"ohtidak…."
Zzzz…zzzz
"Ini buruk…"
Zzz…zzz
Harus BaekSoo akui bahwa Luhan –dengan segala kondisinya- bahkan saat dia tidur sekalipun terlihat sangat menggemaskan.
Lihat saja bagaimana posisinya saat ini,
Kakinya mengangkang lebar
Mulutnya terbuka lebar dengan suara dengkuran yang maha dahsyat
Bajunya terangkat menampilkan pusar milik si pria mungil
Hingga igauan tentang "Sehun…zzzz…sayangku…" terus diucapkan pria yang AKAN BERUSIA DUA PULUH TUJUH TAHUN TAPI BERKELAKUAN SEPERTI BAYI LIMA TAHUN! –itu jeritan isi kepala Kyungsoo-
Membuat pria cantik yang akan segera menyandang status "ibu" kurang dari enam bulan lagi itu menggeram kesal, Kyungsoo bahkan mengepal tangannya erat untuk berteriak
"XI LUHAN GEMPA BUMI"
"yangbenarsajaSOO!"
Jika tidak ingat situasi, mungkin Baekhyun akan tertawa.
Tapi nyatanya Kyungsoo benar-benar berteriak "Gempa Bumi" lalu direspon Luhan dengan satu gerakan cepat –tanda dia terkejut- untuk terjatuh dari tempat tidur dan
BRAK!
Bokongnya sukses menyentuh lantai. "ouch! Ssshh—sakit." Beruntung kepalanya tidak terbentur lantai, namun sukses membuat dua matanya terbuka dan terlihat sangat kesal.
"y-YAK!"
Yang paling cantik diantara mereka bertiga terjengkang, dia begitu terkejut bukan karena GEMPA BUMI! Melainkan karena nada sembilan oktaf milik si pria bermata besar yang jelas adalah "KYUNGSOO!"
"Wae? Kenapa berteriak? Mau memukulku? Mau memukul adik bayi!"
Jika tidak ada kalimat adik bayi, dua penguin-rusa itu jelas akan berkelahi –seperti biasa selama enam tahun- tapi karena ada si "adik bayi" yang selalu dijadikan tameng oleh Kyungsoo, maka yang terlihat sangat kekanakan hanya bisa merengek sesekali menghentak kesal kakinya "AKU KESAAAL!"
"SINI PUKUL AKU! DASAR RUSA BETINA!"
"AKU JANTAN PENGUIN GIRLY!"
"AKU MANLY! JAGA BICARAMU DASAR MANJA!"
"ish! Kupukul kau!"
Gerakan Luhan sudah ingin memukul Kyungsoo, tapi saat perut buncit sialan yang merupakan benih sahabatnyaterlihat maka tangan Luhan terkepal untuk meminta tolong pada temannya yang lain.
"huwaaaa Bee!"
"Sudah…Sudah. Oke? Sudah! Soo, Luhan masih terkejut!"
"Biarkan saja! Aku berniat membuatnya heart attack."
"Tega sekali—hkss…"
"Berhenti menangis! GIRLY!"
"DO KYUNGSOO!"
"Astaga! Y-YAK!"
Tidak lucu lagi jika Baekhyun mulai kesal, jadi ketika dia sudah berteriak –tanda pertengkaran harus dihentikan- maka dalam sekejap duel antara penguin-rusa pun terhenti dengan damai.
"Jangan bertengkar lagi! Mengerti?"
"…. / …."
"Soo?"
"Apa?"
"Jangan bertengkar lagi."
Kyungsoo mendelik sejenak sebelum mengangguk pasrah "Iya."
"Lu?"
"huh?"
"Minta maaf pada Kyungsoo."
"Untuk apa?"
"Kau terus mengatakan kupukul kau pada Kyungsoo. Apa kau tidak ingat ada adik bayi dialam sana? Bagaimana jika dia membencimu?"
"andwae…"
Buru-buru Luhan memeluk Kyungsoo. Mendekapnya sangat erat walau si pemilik tubuh terus menggodanya dengan mengelak untuk dipeluk "Lepas! Anakku tidak punya Samchoon selain Baekie!"
"huwaaa…SOO MAAFKAN AKU!"
"Tidak mau!"
"AKU AKAN BUNUH DIRI!"
"Tidak percaya!"
"AKU SERIUS—hks…"
Saat tatapan Baekhyun memperingatkan, maka rasanya sayang harus berhenti menggoda Luhan, tapi ketika tangisan Luhan benar-benar membuat basah tengkuknya maka yang dilakukan Kyungsoo hanya tertawa lalu mendekap erat bayi besarnya.
"ha ha ha….Baiklah…baiklah. Kau tidak perlu bunuh diri, adik bayi sudah menerima pamannya yang lain."
Luhan berbinar, dia melepas pelukan Kyungsoo lalu beralih pada perut buncit kekasih sahabatnya "Begitu baru benar. Adik bayi pintar!" katanya menyombongkan diri lalu menghapus cepat air mata "akting" nya.
"ish! Siluman ular!"
"Luhan jangan tidur lagi!"
"Lima menit lagi Baek."
Mengabaikan peringatan dua temannya, Luhan kembali memejamkan mata. Berniat untuk melanjutkan mimpi indahnya sebelum ucapan Baekhyun sedikit membuatnya bingung.
"Lima menit lagi? Memangnya belum puas memanggil nama Sehun semalaman?"
"Sehun?"
"Ya! bahkan saat kami masuk kau terus memanggil Sehun…sayangku."
"Sehun…"
Rasanya ada yang berbeda malam tadi.
Bukan mimpi-….Luhan sangat yakin.
Dengan mata terpejam dia mencoba mengingat apa yang telah dia lewatkan,
Apa mungkin mimpi indah?
Dia sempat bertanya-tanya.
Namun ketika dia membasahi bibir, rasanya lembab dan sedikit…..bengkak
Buru-buru Luhan membuka mata untuk berteriak –sangat heboh-
"SEHUN!"
"mulai lagi / ayolah Lu! Ini masih pagi."
"tidaktidak—Sehun benar-benar datang. Dia sudah pulang. Dia-….Malam tadi dia tidur denganku. Sehun! SEHUNNA!"
"Luhan…."
"Aku serius Baek."
"Aku juga serius akan mencarikanmu pria lain."
"Sehun sudah pulang! Sebentar aku akan menghubunginya!"
"Penyakitmu semakin parah Lu."
"Aku tidak sakit!"
"Jelas kau sakit! Sudahlah! Aku akan mengenalkanmu pada pria seksi dan tampan yang akan menggantikan Sehun di-….."
"Menggantikan siapa? Aku? Yang benar saja Baek!"
"omo!"
Kyungsoo lebih dulu menoleh, dia terkejut
Merasa terlalu familiar dengan suara berat khas milik sahabatnya, mata Baekhyun membulat hebat. Dia pun perlahan menoleh untuk mendapati pria brengseknya yang kini tumbuh menjadi semakin brengsek.
"tidak mungkin."
"Sayangnya ini mungkin, manis." Katanya menyapa Baekhyun, lalu buru-buru mencari mata kekasihnya untuk mengatakan "Kau lebih manis."
Luhan tetap menjadi prioritasnya, dan setelah memastikan sang kekasih tertawa maka tugasnya kini adalah menyapa dua pria cantik yang lebih dulu menemani hidupnya.
"Hey Soo…Hey Bee…"
Nyatanya rasa terimakasih terbesar Sehun harus diberikan pada dua sahabatnya. Karena tanpa bantuan dari Baekhyun dan Kyungsoo mungkin Luhan akan kelelahan dan paling buruk menyerah.
Tapi terimakasih karena Baekhyun dan Kyungsoo mau membantu kisah cintanya.
Terimakasih karena mereka sudah menjaga Luhan untuknya.
Sudah menemani Luhan untuknya,
Dan yang tak akan pernah Sehun lupakan adalah saat dua sahabatnya membuang mimpi mereka hanya untuk menemani Luhan menjalani profesi sulitnya sebagai seorang dokter.
Sungguh…..
Sehun sangat berterimakasih.
Dia sangat bersyukur karena Tuhan memberikan dua sahabat sekaligus saudara tak sedarah untuknya.
Terimakasih karena Tuhan terus membuat kedua sahabatnya sehat dan yang paling membahagiakan, dua sahabatnya juga memiliki belahan hati mereka yang sama kuat mencintai mereka sama seperti dirinya mencintai Luhan.
"Tidak ingin memelukku?"
Sehun sudah merentangkan tangannya, ingin dipeluk dua malaikatnya.
Dan saat suaranya parau, terdengar berat karena rindu. Maka Kyungsoo adalah yang pertama merespon dan datang ke pelukan Sehun
"SEHUN!"
"Hay baby Soo…"
Sehun mendekap erat pria yang selalu berperan sebagai eomma untuknya. Mencium sayang pucuk kepala Kyungsoo sebagai ucapan terimakasih juga ucapan selamat karena kurang dari enam bulan lagi, Kyungsoo akan benar-benar menjadi ibu sesuai dengan peran mereka sewaktu kecil "Atau aku harus memanggilmu Mommy Soo?"
"Ck! Kau tahu?"
Sehun melepas pelukannya, sedikit tertawa untuk mengatakan "Tentang kalian bertiga, aku tahu semuanya. Selamat untukmu Soo, pastikan si hitam menikahimu."
"Kai…" Kyungsoo berusaha membela namun suara lain lebih dulu terdengar dan mengatakan
"Kai tidak hitam ya."
Balasan kesal terdengar dari pria cantik yang masih berdiri di dekat tempat tidur, dengan tangan dilipat di dada dia memprotes panggilan Sehun yang mengatakan pria tertampannya itu "hitam" benar sih, tapi jika Sehun yang mengatakan rasanya terdengar mengejek, dan Luhan tidak suka.
"Kenapa kau yang protes?" kekasihnya kini kesal, Luhan pun salah tingkah. "Itu karena-….Ya karena Kai tetap Kai milikku!"
"Milikmu? / bagaimana bisa?"
Dan saat Sehun serta Kyungsoo melempar rasa protes, maka Luhan menghela dalam nafasnya untuk memperbaiki statement mengenai siapa Kai pada dua pria posesif di depannya "Begini ya tuan tampan dan tuan cantik. Mau bagaimanapun, jauh sebelum aku bertemu dengan kalian, denganmu juga tuan tampan!" katanya mendelik Sehun lalu kembali berbicara "Kai adalah temanku, priaku, dia dan Chanyeol segalanya untukku. Jadi singkat kata, aku tidak suka dua sahabatku diejek."
"Mengerti?"
Tak ada yang benar-benar mendengarkan Luhan, karena disaat dia menjelaskan panjang lebar maka hanya ada satu kalimat panjang yang menjadi jawaban sang kekasih "Kau harus berhenti membela pria lain didepanku, menjengkelkan."
"ck! Berlebihan!"
"Kau bilang apa?"
"huh? Ah-….Aku bilang iya sayang. Aku akan berhenti membela pria di depanmu, di belakangmu si tetap." Katanya kembali berbisik di akhir kalimat namun tetap tersenyum agar Sehun tidak mendengar.
"bagus! Baek?"
"Apa?"
"Kau hanya akan diam disana?"
"Aku? Entahlah-….Tentu saja tidak. Aku hanya,…brengsek aku akan menangis!"
Dan benar saja, pria paling cerewet diantara mereka kini tertunduk, dia menangis –entah karena apa- membuat suasana kembali menjadi sedikit haru mengingat daripada Kyungsoo, Baekhyunlah yang paling dekat dengan Sehun "Baek…"
Jari telunjuknya terangkat, tanda dia meminta waktu sebentar, dan saat hatinya mulai bisa dikendalikan, Baekhyun mengangkat wajahnya. Dia tersenyum cukup lama, menghapus air matanya untuk berjalan mendekati Sehun.
"Kenapa lama sekali? Aku hampir membiarkan Luhan mencari pria lain."
"Banyak yang terjadi. Maaf."
Lirihnya Sehun membuat Baekhyun sedikit khawatir, dia juga bisa menangkap nada penyesalan Sehun yang hanya mengartikan bahwa sebenarnya dia ingin kembali namun tidak bisa "Kau berhutang banyak penjelasan padaku, pada kami."
"araseo…."
Sehun menjawabnya tersenyum, kedua tangannya juga sudah terangkat sebelum pria mungilnya yang lain kini berada di dekapnnya, memeluknya begitu erat seolah menyampaikan rasa rindu terdalamnya sebagai seorang sahabat "Aku hampir gila mengurus kekasihmu."
Baekhyun terisak haru di pelukan Sehun, dia benar-benar mengeluh namun terlihat sangat bahagia karena bisa menjaga hidup kedua Sehun, Luhannya.
"Mianhae….Gomawo Bee. Mulai sekarang aku yang akan menjaganya."
"Katakan padanya untuk tidak selalu menangis."
Sejenak Sehun melihat ke arah Luhan, bertanya-tanya sudah berapa banyak air mata yang dikeluarkan sang kekasih dengan senyum simpul yang menyatakan dia bangga karena Luhan bahkan bertahan untuk waktu yang sangat lama. "aku mencintaimu." Bisiknya memberitahu Luhan untuk memastikan pada Baekhyun bahwa Luhan akan baik-baik saja mulai saat ini.
"Entah kapan dia menangis, tapi aku bisa memastikan bahwa hari dimana kau melihat Luhan menangis menjadi hari terakhir air matanya menetes karena merindukan aku."
"Sehun—hkss—aku kira kau tidak akan pernah kembali. Aarggh!"
Dan saat tangan Baekhyun memukul punggung dan lengan Sehun, maka disaat yang sama pula Sehun tertawa, ditariknya pula tangan Kyungsoo untuk memeluk dua pria terbaiknya setelah Luhan dan Yunho "Aku pasti kembali, aku harus kembali, untuk Luhan, untuk kalian."
"Aku merindukanmu sialan!"
Dengan tubuhnya yang dua kali lebih besar dari Kyungsoo dan Baekhyun, maka mudah untuk Sehun mendekap keduanya sekaligus. Dia pun bergantian menciumi surai teman kecilnya untuk membalas rasa rindu miliknya "Aku juga merindukan dua pria cantikku. Terimakasih untuk segalanya, sungguh aku tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian pada Luhan, kepadaku. Aku sangat menyayangi kalian. Aku menyayangimu Baek. Aku menyayangimu Soo."
"hks…"
Pada dasarnya Luhan bukanlah seseorang yang bisa menahan rasa haru. Terlebih jika keadannya benar-benar sangat mengharukan seperti saat ini.
Karena disaat tiga sahabat itu sedang melepas rindu, maka rasanya Luhan ditarik dan dipaksa ikut merasakan rindu, sesak bercampur kebahagiaan yang kini sedang mereka bagi tepat di depan kedua matanya.
Kekasihnya, kedua kekasih sahabatnya.
Mereka bertiga terlihat sangat merindukan satu sama lain, jadi rasanya tak mungkin kau tidak menangis bahkan untuk isakan kecil melihat kebahagiaan yang bukan hanya untuknya, tapi untuk dua penjaganya selama Sehun pergi, Baekhyun dan Kyungsoo.
"Luhanmanlytidakbolehmenangis,tidakbolehcengeng!"
Yang mengatakan dirinya Manly kini terduduk di tepi ranjang tempat tidur, wajahnya dia tundukkan dengan tangan yang mencengkram kuat pahanya. Dia membiarkan kekasih dan dua sahabatnya saling melepas rindu sementara dia menikmati rasa harunya seorang diri. "harusnyatersenyumbukanmenangis,tidakbolehcengeng!—hkss!"
Seberapa kuat mantra yang dia ucapkan, maka serapuh itu pula hatinya untuk tidak menangis. Karena daripada tersenyum, kedua tangan Luhan sudah dipenuhi tetesan air mata bahagianya.
Dia enggan menghapus air matanya, takut jika dia membuat gerakan berlebihan maka salah satu dari tiga pria kesayangannya akan melihat. Dan sebagai gantinya dia mencengkram kuat dua tangannya untuk merasakan tekstur tangan kasar yang tiba-tiba menggenggam lembut tangannya.
"huh?"
"Kenapa menangis?"
Detik berikutnya Luhan bisa melihat siapa yang menggenggam lembut tangannya,
Ya tidak perlu ditanya siapa yang melakukannya karena pastilah Sehun jawaban untuk semua sikap istimewa yang selalu diberikan untuknya sejak mereka kecil.
"Kenapa tiba-tiba kau berjongkok di depanku?"
Yang ditanya terkekeh, dia mengambil dua tangan kekasihnya lalu mengecupnya sangat lembut "Itu karena istriku menangis seorang diri disini."
"hks~!"
Salahkan Sehun jika suatu saat nanti Luhan benar-benar bergantung padanya.
Salahkan Sehun jika mulai detik ini rasa cintanya akan semakin bertambah seiring semua hal yang dilakukan Sehun untuknya, hanya untuknya.
Yang paling Luhan sukai adalah perhatian Sehun, jadi ketika Sehun selalu mengutamakan dirinya diatas segalanya maka Luhan seolah dibuat menjadi satu-satunya pria yang berhak berbahagia dan berhak memiliki pria tampan di depannya.
"Lu, sayangku."
"Aku hanya terlalu bahagia melihat kalian kembali bertemu, aku membayangkan jika Kai dan Chanyeol yang meninggalkan aku. Aku pasti sangat merindukan mereka."
"Melebihi rindumu padaku?"
"Sehuunn…"
"Araseo sayangku. Aku hanya bercanda."
Dipeluknya tubuh si mungil dengan lembut. Detik berikutnya Luhan sudah beringsut manja di pelukan Sehun, memeluknya erat dan bersumpah untuk terus merasakan pelukan hangat prianya, kekasihnya.
"Aku mencintaimu Sehun."
"Kau tidak sedang mengantuk kan?"
"ish!"
"ha ha ha…Kenapa kau sangat menggemaskan bayiku."
"Kalau begitu bawa adik bayi pulang, daddy."
"Janganmenggodakudisini!"
"wae? Baby want daddy."
Tak tahan lagi, Sehun berniat menerkam Luhan.
Mungkin benar-benar menerkam jika pukulan kasar tidak dia rasakan di kepala dan punggungnya "y-YAK!"
"KENAPA MEMUKUL SEHUN!"
"KARENA KALIAN TERLALU MESUM!"
"KENAPA KALAU KAMI MESUM?"
"mulai lagi….Sudah berhenti! Sehun cepat bawa si cengeng ini pulang!"
"Aku tidak cengeng Baek!"
"Kalau begitu cepat kita lakukan oper jaga malam tadi, karena aku ingin bekerja pagi ini."
DEG!
"tolong aku-…..hyung!"
Tiba-tiba Luhan teringat pasien terakhirnya sebelum kedatangan Sehun. Wajahnya juga terlihat pucat karena belum melakukan pemeriksaan setelah operasi kecil yang dilakukannya malam tadi.
"oh tidak…"
"Lu?"
"Sehun tunggu disini sebentar!"
Buru-buru dia mengambil sneli yang tergantung di loker ganti, memakainya cepat sebelum berlari terburu-buru ke luar kamar istirahat "Luhan!"
Tap
Tap
Tap
"Selamat pagi dokter Xi."
"Pagi…"
Luhan membalas asal sapaan untuknya, dia terus berlari menuju ruang perawatan untuk mencari pasien seusia Jaehyun yang terlihat mengenal dirinya.
Sret…!
Di bilik pertama, kosong.
Dia kemudian berlari ke bilik kedua, kosong.
"Perawat Shin!"
"Ya dokter Xi?"
"Pasien remaja yang malam tadi kita tangani. Dia berada dimana?"
"ah-…Pasien anda sudah-…"
"Ada keributan apa disini?"
"Professor Yoon."
Saat perawat Shin menyapa suara di belakang punggungnya, maka kesialan seolah menyapa Luhan di pagi indah seperti miliknya saat ini. Karena jika didengar dari suara beratnya, pastilah Professor Yoon yang disapa adalah Mad Man yang kemarin malam baru "membunuhnya' secara tidak langsung.
"Dokter Xi?"
Luhan tergelak, dia sedikit menelan air liurnya untuk perlahan berbalik dan menyapa pembimbingnya selama masa pengabdian di Seoul Hospital "Selamat pagi Professor Yoon."
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku hanya mencari pasienku."
"Pasienmu? Apa yang terjadi?"
"Malam tadi seorang remaja tertusuk, tidak cukup dalam memang, tapi lukanya cukup serius."
"Lalu?"
"Aku melakukan operasi kecil bersama dua perawat, setelah pendarahannya terhenti aku menjahitnya dan meminta dia untuk beristirahat selama dua jam sebelum aku kembali memeriksa keadaannya."
"Lalu kau datang setelah dua jam?"
"….."
"Apa kau memeriksa pasien remaja tersebut?"
"….."
"JAWAB AKU!"
Tap!
Refleks, tangan Sehun mengepal erat bersamaan dengan bentakan yang diberikan pada satu-satunya pria yang hatinya selalu dia jaga. Dia sangat tergoda untuk menghajar siapapun yang menyakiti kecintannya jika tangan Baekhyun dan Kyungsoo tidak mencengkram kedua lengannya.
"lepas…"
"Dia pembimbing kami Sehunna, tenanglah."
"Aku tidak peduli, bajingan itu membuat Luhanku ketakutan. Lepas."
"Sehun kumohon. Kau hanya akan membuat kami bertiga dalam kesulitan. Jangan buat perjuangan kami sia-sia hanya karena dia membentak Luhan, Demi Tuhan, malam tadi Luhan bahkan baru menantangnya, jadi Luhan akan baik-baik saja, oke?"
Sehun resah, disana, tepat di depan dua matanya, Luhan sedang tertunduk ketakutan.
Entah mengapa dia sama sekali tak menjawab saat professor gila itu membentaknya. Membuat Sehun teramat geram namun berusaha menahan diri mengingat apa yang dikatakan Baekhyun dan Kyungsoo adalah hal wajar karena pekerjaan mereka.
"Aku tidak datang memeriksanya Professor Yoon."
"Kenapa?"
Saat matanya tak sengaja bertemu dengan mata Sehun, Luhan cemas. Tak seharusnya dia membuat masalah tepat di depan kekasih posesifnya. Dia hanya takut Sehun kehilangan kendali diri jika professor pembibingnya terus membentak.
Membuatnya dengan sangat terpaksa mengangkat wajah, hanya untuk menunjukkan pada Sehun bahwa dia bisa mengatasi masalahnya seorang diri "Saya terlalu lelah dan tanpa sadar tertidur di ruang istirahat Professor Yoon."
"Tertidur?"
"Ya."
"bagaimana bisa kau—INI SANGAT MEMALUKAN!"
Luhan berjengit saat teriakan lagi-lagi diteriakan oleh profesornya. Pria yang kerap disapa Doojoon itupun benar-benar terlihat sangat murka ditambah dengan tatapan Luhan yang terlampau berani saat menatap matanya.
"Bagaimana bisa kau menyebut dirimu seorang dokter HAH?"
Luhan kembali tertunduk.
Karena seperti yang dikatakan sebelumnya, Luhan memiliki hati yang begitu sensitif.
Jadi ketika seseorang membentaknya dan mempertanyakan kemampuannya, dia akan selalu merasa sakit di hatinya. Jika itu orang terdekatnya, dia akan membalas teriakan. Tapi karena pria didepannya adalah pria asing maka dia hanya bisa merespon dalam diam.
"Baiknya kau segera melepas sneli dan menggantinya dengan baju pesta. Kau terlihat cocok tanpa jas putih kehormatan para dokter. Kau adalah contoh paling buruk dari semua dokter yang pernah berada dibawah bimbinganku! Kau-…."
Sret…!
Kini Doojoon tak lagi berhadapan dengan Luhan.
Wajah Luhan yang tertunduk digantikan dengan punggung kecil yang terlihat menyedihkan.
Dan saat dirinya mempelajari situasi maka sorotan mematikan tengah diterimanya oleh pria asing yang kini memeluk Luhan sangat erat "Bagaimana bisa kau menyebut dirimu pembimbing?"
Suaranya terdengar sangat berat –tanda sangat marah- dan saat Luhan terus bergerak minta dilepaskan maka satu tangan kanannya dengan mudah menahan punggung mungil Luhan untuk diam dan hanya membiarkan dia melakukan tugas pertamanya sebagai "pelindung" sang kekasih.
"Siapa kau?"
Dengan marah Sehun mengeratkan pelukannya pada Luhan, menahan seluruh pukulan sang kekasih untuk menjawab tanpa ragu "Aku suami dari dokter yang baru saja kau hina."
"Mwo?"
"Sehuncukupsayang~"
Doojoon memicingkan matanya, dia juga mempelajar interaksi kedua pria di depannya hingga satu kesimpulan bisa ditarik bahwa Luhan memang memiliki hubungan spesial dengan pria yang sedang memeluknya dan menatap marah padanya.
Sementara kekasih dan Professornya saling menatap tajam, maka Luhan sedang berusaha melepas pelukan kekasihnya. Dia terus meronta hingga Sehun berbaik hati melepas cengkraman di pundak pria mungilnya "Apa yang kau lakukan?" katanya memarahi Sehun untuk segera berbalik dan membungkuk, mewakili permintaan maaf Sehun pada pembimbingnya "Maafkan saya Professor Yoon. Saya akan menerima apapun sanksi dari anda."
"….."
"Professor!"
Luhan panik, tak ada jawaban keji lagi dari sang professor, yang ada hanya punggung dingin yang kin berjalan menjauh dan meninggalkan dirinya dan seluruh kekacauan di ruang perawatan "Prof-…"
"Pikirmu kau mau kemana?"
Niatnya untuk mengejar sang professor nampaknya pupus melihat bagaimana tatapan Sehun dipenuhi kemarahan saat ini. Dia ingin menjelaskan, mencoba membuat Sehun mengerti namun rasanya tidak mungkin mengingat Sehun benar-benar marah saat ini.
"Sayang—aku harus….."
"CUKUP! AKU TIDAK TAHAN MELIHATMU DIPERMALUKAN! KITA PERGI!"
"Sehun!—Sehun tunggu sebentar, aku harus-…."
Langkah sang professor terhenti bersamaan dengan suara Luhan yang menjauh, dan saat dia mencoba menoleh maka tak adalagi sosok yang begitu ia rindukan yang kini telah dibawa pergi oleh bajingan sialan yang menyebut dirinya "suami" Luhan.
Dia pun menggeram sangat murka, diambilnya ponsel disaku untuk menghubungi kontak bernama Taeyong yang berada di urutan nomor satu speed dial miliknya.
"Hyung?"
"Temui aku malam nanti di tempat biasa."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BLAM!
"Sehunna.."
Seberapa banyak Luhan mencoba membujuk kekasihnya, maka sebanyak itu pula rasa kesal semakin terlihat di wajah terlewat stoic namun sangat tampan milik kekasihnya.
Karena sepanjang perjalanan ke basement, Luhan mencoba menenangkan Sehunnya, maka hanya gerakan tak sabar diikuti geraman kecil yang menemani mereka sampai keduanya berada di dalam mobil hingga saat ini.
"Apa kau tak bisa melawannya?"
"huh?"
"Kenapa kau hanya diam saat orang asing membentakmu?"
"Sayang, dia pembimbing untuk pendidikan residenku disini. Jadi rasanya wajar jika dia marah saat aku melakukan kesalahan."
"Wajar kau bilang?" katanya sarkas, namun tetap memakaikan seatbelt kekasihnya "Dia membentakmu di depan orang banyak."
"Aku sudah terbiasa."
"Kenapa kau harus terbiasa?"
"Karena mereka berhak membentakku."
"apa yang kau-…SIAL!"
BLAM….!
Merasa gagal menjaga satu-satunya pria yang dia cintai, Sehun geram. Buru-buru dia keluar dari mobil dan mulai menggila memukul dan menendang seluruh bagian mobilnya "SIAL SIAL SIAL! BAGAIAMANA BISA DIA MEMBENTAKMU DI DEPAN UMUM—BAGAIMANA BISA DIA…."
"Sehun!"
BLAM!
Luhan juga melepas seatbeltnya. Berlari memutari mobil untuk berdiri tepat di depan kekasihnya "Sayang."
"Dengarkan aku! Tidak ada satupun yang bisa mempermalukanmu di depan umum. Terlebih dia hanya orang asing di hidupmu. Kau dengar?"
"Sehun."
"JAWAB AKU!"
"Kau baru saja membentakku."
Sehun terkesiap, detik kemudian dia menatap mata lelah kekasihnya, keduanya bertatapan cukup lama sampai Luhan lebih dulu mendekat dan mendekap erat tubuh kekar kekasihnya, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sehun dan berharap setidaknya untuk sepuluh detik Sehun akan merasa lebih baik "Aku tidak peduli jika semua orang membentakku."
"Lu…."
"Tapi aku sedih jika kau yang membentakku."
"…"
"Selain kau, semua orang sudah membentakku."
"Apa maksudmu?"
"Ayahku, ayahmu, mereka berdua adalah yang paling sering membentakku."
Sehun tertegun, hatinya seketika sakit menyadari bahwa daripada dibentak pembimbingnya, Luhan terdengar lebih sedih ketika membicarakan kedua ayah mereka "Lu…."
"Aku sudah terbiasa dengan mereka yang membentakku, tapi aku tidak akan pernah biasa jika itu dirimu."
Jika ada yang bisa dilakukan untuk mengembalikan waktu, maka Sehun akan melakukan apapun agar bisa memutar sepuluh menit sialan yang ia gunakan untuk membentak kekasihnya. Dia akan menggunakan waktu itu hanya untuk memeluk si mungil tanpa harus membuatnya terdengar sangat sedih,
"Mereka boleh meninggalkan aku, tapi aku akan mati jika kau yang pergi meninggalkan aku."
"mianhae….aku tidak akan mengulanginya lagi sayang. Maafkan aku."
Sehun menangkup wajah mungil kekasihnya, menatapnya sangat menyesal untuk mengecupi seluruh wajah Luhan "Aku janji tidak akan pernah membentakmu lagi."
Luhan mengangguk. Dia memejamkan matanya saat Sehun menciumi seluruh wajahnya "Aku tahu."
"rrhh Lu…Jika bisa aku hanya ingin menyimpan dirimu seorang diri untukku, aku tidak akan berbagi dirimu dengan siapapun sayang."
Luhan tertawa, dia juga kembali memeluk Sehun lalu bersandar nyaman di dada kekasihnya "Aku juga ingin melakukan hal yang sama."
"Lalu haruskah aku membawamu pergi ke tempat yang hanya bisa dihuni dua orang?"
Tertarik dengan tawaran sang kekasih, Luhan tersenyum. Dia pun mengangguk cepat untuk mengatakan "Hanya kita dan anak-anak kita. Terdengar sempurna kan?"
Kali ini Sehun yang tersenyum. Rasanya begitu menyenangkan membayangkan suatu tempat dimana hanya ada dirinya dan Luhan. Dia bahkan tidak berfikir tentang anak mereka, karena demi Tuhan, jikalaupun Tuhan memberikan anak kepada mereka, rasanya Sehun hanya akan fokus pada Luhan, bukan pada anak-anak mereka.
"Tapi aku lebih suka jika hanya berdua denganmu."
"ish! Harus ada seseorang yang memanggilmu ayah."
"Kau memanggilku daddy di tempat tidur."
Tubuh Luhan meremang saat Sehun mengatakan daddy dengan nada seduktifnya. Membuat secara otomatis dia melepas pelukan namun ditahan oleh lengan kekar Sehun "daddy miss you." Katanya mengigit cuping telinga Luhan dengan tangan yang sesekali meremat rindu bokong kekasihnya.
"Kau merindukan aku?"
Sehun kemudian melepas pelukannya. Mengusap lembut wajah cantik sang kekasih seraya menatap rindu bibir yang dulu sering mendesahkan namanya "Lu?"
"Iya..."
"Iya apa?"
Luhan memainkan jemarinya di dada Sehun, entah mengapa dia merasa sangat bersemangat. Dan ketika Sehun mulai terus menggodanya maka pasrah adalah satu-satunya hal yang akan dia lakukan saat ini "baby miss daddy."
Luhan memejamkan matanya saat tubuh Sehun kian merunduk mendekati wajahnya, bersiap untuk menerima ciuman sang kekasih namun sial-...Sehun hanya menggodanya. Karena daripada mencium bibirnya, Sehun hanya berbisik "Kita pulang, aku sangat lapar." Katanya tertawa gemas lalu membuka pintu mobil untuk Luhan "Cepat masuk sayang."
"astaga...Kau benar-benar...!"
"ha ha ha...Kau sangat menggemaskan jika merona seperti itu."
"Diam!"
Buru-buru Luhan menyelak masuk, menolak untuk dibantu Sehun dan
BLAM...!
Dia sengaja menutup kencang pintu mobil lalu melipat tangan di atas dadanya "ish! Aku tak percaya ini. Memalukan sekali—AYO CEPAT PERGI, AKU LAPAR!"
BLAM...!
Tak lama Sehun menyusul masuk ke dalam mobil, masih tertawa, dia memakaiakan seatbelt pada Luhan "Jangan marah, aku akan menciummu nanti."
"terserahmu saja."
"aigoo...Istriku menggemaskan sekali!"
"Aku bukan istrimu."
"Kau istriku."
"Aku bukan!"
"Luhan..."
"..."
"Lu, jika kau hanya diam aku akan-..."
"Baiklah! Aku istrimu! Puas?"
Lagi, Sehun mengusak surai Luhan. Mencium gemas kening kekasihnya lalu tertawa sangat bahagia "Tentu saja puas."
.
.
.
.
.
.
.
.
Blam...!
Tak lama keduanya berhenti di sebuah gedung mewah di sekitar Myeongdong, membuat Luhan mengerutkan keningnya sementara Sehun kembali membukakan pintu mobil untuknya "Ayo keluar, kita sudah sampai."
"Kita dimana?"
"Keluar lebih dulu dan kau akan tahu kita dimana."
Luhan mengangguk, digenggamnya tangan Sehun sementara sang kekasih menyerahkan kunci mobil pada petugas valet di tempatnya membawa Luhan saat ini "Kau tinggal disini?"
"..."
Sehun hanya diam sesekali tersenyum, yang dia lakukan hanya membawa Luhan ke tempat tujuannya tanpa mengatakan satu kalimat apapun dari bibirnya.
Ting...!
Tak jauh dari lift, Sehun membawa Luhan menyusuri lorong megah yang bernomorkan nomor unit. Dan tak perlu memakan waktu yang lama pula maka sampailah mereka di depan ruangan bernomor 1220 yang sengaja Sehun beli dengan harga khusus.
"Kita sampai."
"Kau benar-benar tinggal disini?"
Pertanyaan Luhan seolah terjawab dengan senyum tampan sang kekasih. Dan ketika Sehun mengangguk maka bisa dipastikan apartement mewah ini memang milik kekasihnya. "Kita yang akan tinggal disini."
"huh?"
"Tekan passwordnya."
Matanya mengerjap bingung dan benar-benar tidak mengerti dengan yang diinginkan Sehun "Bagaimana aku tahu passwordnya?"
"Ulang tahunmu."
"Apa?"
"Passwordnya ulang tahunmu."
"Benarkah?"
"Coba tekan."
Tiba-tiba Luhan bersemangat, dilepasnya genggaman sang kekasih lalu tak lama menekan angka 200490 hingga terdengar bunyi
Klik!
"whoa daebak!"
Kali ini tak perlu Sehun arahkan, dia masuk tanpa ragu. Mulut kecilnya kembali terbuka takjub jika tangan jahil kekasihnya tak mengganggu dengan membekap mulutnya "SEHUN!"
"ha ha ha..."
"Kenapa kau selalu menggangguku?"
"Hidupku hampa jika tidak mengganggumu sayang. Lalu bagaimana? Kau suka tempat tinggal kita?"
"Tentu saja—tunggu! Apa kita benar-benar akan tinggal disini?"
"yap!"
Bibirnya tersenyum lebar, tanda dia sangat bahagia.Tapi menyadari kenyataan tidak akan semudah ucapan maka hanya diam yang kini menjadi respon si pria cantik "Kenapa tiba-tiba diam? Kau membuatku takut setiap kali terlalu diam?"
Luhan bergerak cemas, didekatinya pria yang adalah segalanya untuk Luhan sebelum bergumam lirih "Lalu bagaimana dengan ayahmu? Ayahku?"
Sehun tersenyum, dikecupnya kening Luhan untuk mendekap tubuh pria mungilnya. Mendekapnya erat seolah memberitahu Luhan bahwa mulai hari ini, terhitung sejak kepulangannya, yang perlu Luhan lakukan hanya bahagia, selebihnya, Sehun akan mengurus segala sesuatunya untuk Luhan, untuk hubungan mereka.
"Jangan pikirkan apapun."
"Bagaiamana bisa aku tidak memikirkan apapun."
"Tentu saja bisa! Yang harus kau pikirkan adalah bagaimana cara menjadi istri yang baik."
"Sehun aku serius."
"Aku juga serius."
"Darimana kau serius jika sedari tadi yang ada di kepalamu hanya pernikahan?"
"Ya karena memang aku akan menikahimu."
"huh?"
"Segera,"
Merasa kalah dengan jawaban Sehun, Luhan dibuat berdebar. Pipinya sudah mulai merona diiringi suara degup jantung yang rasanya mengalahkan sirine ambulance. "Sehun apa yang kau bicarakan?"
"Sekarang biar aku tanya satu hal padamu."
"Apa?"
Saat tatapan tajam Sehun terlihat benar-benar serius, maka Luhan memiliki tebakan bahwa apapun yang akan ditanyakan Sehun adalah semua yang berkaitan dengan keluarga mereka, sungguh dia tidak siap menjawab tapi ketika Sehun bertanya
"Apa kau mau menikah denganku?"
Maka disaat yang sama pula kaki Luhan melemas, Sehun bahkan harus membantunya berdiri dengan melingkarkan tangannya di pinggang Luhan "Aku bertanya padamu." Katanya terus mendesak Luhan dan memastikan bahwa Luhan mendengar apa yang sedang dia tanyakan "Maukah kau menikah denganku?"
"….."
"Luhan?"
"Y-ya…"
Lidah Luhan kelu saat ini, dia ingin berteriak dan menjawab YA! tapi semuanya tertahan di kerongkongan. Salahkan Sehun karena bibirnya kelu, semua salah Sehun. Jelas saja itu salah Sehun. Bagaimana bisa dia bertanya hal yang begitu sakral seperti bertanya apa kau mau kencang denganku? Membuat rasanya Luhan ingin berteriak kesal dan memberitahu kekasihnya untuk melamar dengan cara yang lebih baik.
"Ya?"
Luhan mengambil banyak nafasnya, setelah dirasa cukup dia mulai berdiri diatas dua kakinya. Menatap pria tampan yang begitu sangat tampan untuk memberi tatapan bisa kau berhenti membuatku lemas namun tetap menjawab "Ya, aku akan menikah denganmu."
"Aku yakin kau akan menjawab Ya."
"tsk! Lalu kenapa bertanya?"
"Bukan bertanya, hanya memastikan."
"Terserahmu saja!"
Luhan kesal, dia ingin beranjak pergi namun Sehun menahan lengan tangannya "Apa lagi? Mau membuatku gila karena berdebar? Atau membuatku malu karena sedari tadi kau seperti ingin menyentuhku tapi tak kunjung kau lakukan?"
"Aku akan terus membuatmu berdebar dan akan terus menyentuhmu."
"Tapi kau tak kunjung menyentuhku!"
Sebenarnya mudah menebak alasan kenapa Luhan begitu kesal, karena sedari tadi yang dia bahas tidak menyentuhnya maka bisa dipastikan Luhan kesal karena selain melumat bibirnya, Sehun memang belum menyentuhnya dari awal pertemuan mereka malam tadi.
"Kau kesal?"
"YA!"
"Karena aku belum menyentuhmu?"
"TENTU—umhh—Maksudku tidak! Tentu saja tidak!"
"ppffftt!"
"Sehun aku serius!"
"ppfftt—hahaahaha!"
"ya…ya…tertawa saja sesukamu!"
Luhan benar-benar tidak memiliki wajah saat ini, ditambah kekasihnya semakin meneybalkan maka lengkap sudah bad mood yang dibuat Sehun di waktu yang masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. "Harusnya aku pulang kerumah! Ya! Lebih baik aku pulang dan-…."
Mmphhh…..
Dalam sekejap bibir mungilnya sudah kembali dipenuhi bibir panas Sehun yang menggoda. Tak ada celah untuknya meronta mengingat gerakan bibir Sehun sangatlah intens hingga membuat seluruh tubuhnya lemas dan tak bisa berkata sama sekali.
"nghhhmmph…"
Dan melupakan bagaimana lemas tubuhnya, maka Luhan lebih memilih merespon ciuman Sehun yang kali ini benar-benar terasa seperti…Sehunnya.
"Pikirmu aku bisa menahan diri?"
"akh…"
Semakin Sehun tak sabar, maka semakin bergairah pula yang mereka rasakan. Bibirnya terus melumat –agak- kasar bibir mungil Luhan agar terdengar desahan yang hanya bisa dia bayangkan selama enam tahun terakhir "Rasanya aku akan gila jika tidak segera menyentuh tubuhmu sayang."
"bibirmu." Katanya mengecup kasar bibir Luhan untuk beralih pada leher putih menggoda milik kekasihnya "lehermu."
"akh~"
Sehun sengaja menggigit kencang leher Luhan sebelum dengan kasar menyusup masuk ke dalam kaos kerja Luhan dan menyentuh dua tonjolan kecil berwarna pink yang sudah tegang di telapak tangannya "nipplemu."
"Sehun!"
Luhan berjengit ketika gigi Sehun menggigit gemas nipple kiri dan kanannya bergantian karena sangat terlihat jelas dibalik kaos kerjanya. Membuatnya secara refleks mencakar tengkuk Sehun karena rasanya begitu nikmat saat Sehun bersikap kasar pada bagian sensitif miliknya.
Sehun bergerak turun menciumi tubuh Luhan, semakin turun hingga dia sengaja berlutut dan membuka sebagian kaos kerja Luhan untuk menatap gemas pada pusat senstif yang dimilik sang kekasih "Pusarmu."
Lidah panjanganya kini menjulur menyodok pusar Luhan, membuat kali ini tangan Luhan menjambak kuat rambut kekasihnya sebelum terdengar suara
Sret…!
Tubuh Luhan berjengit saat tangan nakal Sehun membuka paksa zipper celananya. Tubuhnya seketika panas dingin dengan tangan yang menjambak rambut kekasih agar bibir sensualnya tidak melakukan apapun pada bagian paling private miliknya "Sehun jangan!"
Dia mengatakan jangan—tapi tubuhnya merespon berbeda.
Karena saat tangannya menjambak rambut Sehun, maka penis kecil Luhan mulai berdenyut di telapak tangan kasar Sehun "wae? Sudah lama aku tak menyapa little Lu."
Tanpa tahu malu Sehun justru menurunkan sebatas lutut celana Luhan. Dia membuka paksa boxer beserta celana dalam Luhan hingga hidungnya kini bersentuhan dengan penis tegang kekasihnya "Little Lu sudah menyapaku. Bolehkah?"
Dia mendongak, mencari mata Luhan dengan tatapan yang dia buat terlalu innocent. Demi Tuhan Sehun sangat seksi saat menjilat bibirnya. Jadi ketika harusnya Luhan mengatakan tidak maka tangannya mendorong tak sabar tengkuk Sehun untuk mengatakan "Lakukan."
Sehun menyeringai. Dia merasa memenangkan situasi –seperti biasanya- karena saat Luhan sudah mulai memerintahkan untuk melakukan hal "nakal" pada tubuhnya, maka bisa dipastikan kemenangan Sehun sudah didepan mata, dan dia tak sabar.
"Hey Little Lu. Fuh~"
Tubuh Luhan mengejang saat Sehun dengan sengaja meniup ujung penisnya, sang kekasih bahkan tanpa ragu menggenggam kasar penisnya namun tak kunjung memanjakan little Lu yang sudah tak sabar untuk disantap.
"Sayang cepatlah, aku tak sabar ingin—Aah~"
Bersamaan dengan suara protes yang dia layangkan, maka disaat yang sama mulut panas Sehun sudah memenuhi –hampir- seluruh penisnya.
Rasanya begitu hangat –tidak- rasanya sangat panas karena terbakar gairah. Sesekali dia menghisap kencang, lalu detik berikutnya Sehun sengaja bermain hanya di ujungnya. Kekasihnya terus bernafas kencang di penisnya hingga tubuh Luhan dibuat menggelinjang karena nikmat.
"aahkh~lagi—Sehunna lagi."
Sehun mengangguk. Kali ini dia membuka lebih lebar mulutnya hingga nyaris seluruh junior Luhan berada di mulutnya. Ya, kalau dia tidak mengingat kekasihnya akan protes jika dia memasukkan seluruh penis ke mulutnya maka Sehun tidak akan berbaik hati menyisakan sedikit junior Luhan untuk membuatnya senang. "mmhh….Little Lu mulai bereaksi dengan kulumanku, Lu."
"Kalau begitu lebih cepat, lebih dalam, lebih—aaahnggmmphh…Sehun ini sangat nikmat."
Sudah lama dia tidak merasakan sensasi yang begitu membuat isi perutnya mabuk karena nikmat. Jadi ajar jika tangan Luhan kini ikut mendorong kepala Sehun agar bergerak maju mundur lebih cepat untuk merasakan hangatnya kuluman Sehun di bagian yang tak pernah terjamah lagi selama enam tahun "Sayang aku lemas."
Lemas disini mewakili ketidakmampuan Luhan untuk berdiri lebih lama lagi, Sehun mengerti. Dia pun berbaik hati melepas kuluman di penis Luhan untuk menggendong bridal sang kekasih.
"Kau melepasnyaaa!" katanya protes dengan tangan yang memukul kencang dada Sehun.
Sehun terkekeh, lagi-lagi Luhan terlalu frontal. Jelas dia ingin mengatakan kesal karena kuluman di bagian private nya tak sampai klimaks. Tapi jangan salahkan Sehun karena yang mengatakan lemas adalah Luhan dan dia hanya membantu mencarikan posisi agar Luhan merasa lebih nyaman.
BRAK…!
Sehun meletakkan –sedikit kasar- tubuh Luhan yang sudah setengah polos ke atas tempat tidur. Mengukung si mungil yang kini menekuk bibirnya untuk mengaknya berperang lidah.
Mmmphh….
Luhan melupakan rasa kesalnya karena tak klimaks, dia pun lebih memilih mencium Sehun dan meladeni lidah yang baru saja memanjakan penisnya "Buka mulutmu."
Luhan menurut, dia membuka lebar mulutnya lalu tak lama lidah panjang Sehun menguasai gua mulutnya. Luhan bergerak ke kanan sisi mulutnya, lalu tak lama bergerak ke kiri, ke atas untuk menyapu gua mulutnya dan terakhir dia bergerak ke bawah sekaligus membelit lidah keduanya.
"ngghmph!~"
Luhan sedikit kejang, rasanya hisapan Sehun di lidahnya terlalu kuat, membuatnya merasakan sengatan-sengatan kecil yang terasa begitu nikmat untuknya "sayangh—~"
Luhan semakin melingkarkan lengannya di tengkuk Sehun. Memaksa ciuman itu terus berlanjut sampai lagi-lagi Sehun melepasnya "wae?!"
"Kebiasaanmu menggerutu saat bercinta belum juga hilang hmm?"
"Karena kau terus menggodaku!"
Sehun terkekeh lagi, dibalikannya tubuh Luhan ke samping sementara dia memposisikan tubuhnya tepat di belakang Luhan "Se-Sehun! Apa kau akan memasukkan dari samping?"
"ani!"
"Lalu kenapa posisi kita seperti ini? Aku tidak suka dari samping, sakit."
Sehun menumpukan dagunya di pundak Luhan. Perlahan tangannya melepas satu persatu seragam khusus operasi milik kekasihnya sebelum membuangnya tak sabar dan menikmati tubuh sang kekasih yang kini polos di depan matanya "Kau masih sangat cantik sayang."
"Sehun kau bahkan belum membuka pakaianmu!"
"Aku akan membukanya nanti setelah membuatmu klimaks."
"huh?"
Sementara bibirnya menciumi pundak Luhan maka tangan Sehun meluncur bebas menjamah dan menyusuri tubuh Luhan. Terus menyusuri hingga telapak tangannya yang kasar dan besar sampai di penis Luhan yang masih mengeluarkan precum tanda dia ingin klimaks namun tertunda.
"Lihat bagaimana aku membuatmu klimaks."
Tanpa ragu Sehun mengenggam agak kasar penis Luhan. Mengusapnya sejenak lalu tak lama membuat gerakan mengocok seirama dengan deru nafas Luhan "aaah—faster sayang, Sehunna~"
Tubuh Luhan sudah bergerak maju mundur seiring dengan kocokan Sehun di penisnya.
Ini nikmat
Terlalu nikmat
Buru-buru tangan Luhan melingkar di tengkuk Sehun, matanya lapar mencari bibir Sehun. detik berikutnya dia mendorong kasar tengkuk Sehun lalu memaksa bibir mereka berciuman panas.
Sehun meladeni kebutuhan Luhan, dia mengimbangi ciuman panas mereka dengan kocokan yang semakin cepat dan nikmat yang sedang dia berikan. Sesekali dia menghisap kuat bibir bawah sang kekasih lalu memaksa Luhan untuk melihat tangannya yang sebentar lagi akan membawa nikmat untuknya.
"Lihatlah bagaimana penismu timbul tenggelam di telapak tanganku sayang."
"rrhh—mmmhh—"
Luhan tak lagi fokus, matanya memang memperhatikan bagaimana tangan besar Sehun memanjakan penisnya, dan saat tangan Sehun yang dipenuhi urat jantan sedang membuatnya menjemput nikmat maka tak perlu lama untuk Luhan benar-benar datang menjemput nikmat
"Sehun aku datang—ah~aaah…"
Dan benar saja, cairan putih kental miliknya membasahi seluruh telapak tangan Sehun. kocokan Sehun yang mulanya cepat kini perlahan melambat untuk membantu sang kekasih benar-benar puas karena klimasknya.
"Puas?"
"sa—haah—sangat." Katanya kelelahan.
Ini adalah klimaks ternikmat yang Luhan rasakan lagi setelah enam tahun. Rasanya benar-benar luar biasa hingga tanpa sadar dia tak sabar untuk ke permainan selanjutnya "Sehun! Giliranmu…"
Mengabaikan rasa lelah karena klimaks pertamanya, Luhan kembali bersikap agresif. Dia sedikit mendorong tubuh Sehun lalu tak lama duduk di atas perut Sehun "Pelan-pelan sayang."
"Aku tak sabar, aku ingin melihat tubuhmu." Katanya melucuti kemeja Sehun lalu membuangnya asal.
Luhan takjub melihat bagaiamana otot tubuh Sehun sangat terbentuk, dada kekasihnya bahkan terdiri dari beberapa lapis lipatan yang membuatnya berkali-kali lebih seksi. "Sehun lihat! Milikku tegang lagi."
"ck! Kau pasti berpikiran kotor!" katanya gemas namun tetap membantu mengusap lembut si penis mungil agar kembali bereaksi dan siap untuk permainan selanjutnya "Salahkan dirimu yang semakin seksi, rasanya jika sudah seperti ini aku bisa hamil tanpa kau sentuh."
"mana mungkin!" decak Sehun mencibir namun diabaikan Luhan yang kini membuka zipper celananya.
GLUP!
Saat dia berhasil melucuti celana Sehun beserta boxer dan celana dalam, maka disaat yang sama pula Luhan menelan air liurnya. Dia begitu tak menyangka milik Sehun akan berbeda sangat jauh dari miliknya.
Awalnya dia tersinggung, tapi ketika membayangkan "monster kecil" itu mengoyak habis lubangnya, maka rasanya Luhan tak akan sanggup menampung "monster kecil" itu di dalam lubang kecilnya.
"tidaktidak…."
"Kenapa? Bukankah kau ingin melihat little hunnie!"
"ITU BIG!"
"Apa?"
"Bagaimana bisa kau menyebutnya little sementara ukurannya saat membesar diatas rata-rata? Dia bukan little tapi BIG—BIG MONSTER!"
"Hey nanti dia sedih dikatakan monster."
Sehun bergumam bangga pada kejantanannya. Berusaha membawa tangan Luhan agar menyentuh little Hunnie namun ditepis oleh kekasihnya. "Wae?"
"Aku takut, dia akan semakin besar jika aku menyentuhnya. Aku hanya ingin—aku ingin ke kamar mandi sebentar. Tunggu aku-….."
"omo!"
Posisinya Sehun kembali mengukung Luhan saat ini, dia bahkan menyeringai mengetahui isi kepala Luhan yang ingin menyudahi pagi panas mereka tanpa membuat monster kecilnya kembali tertidur "Kau sudah membangunkannya jadi kau harus menidurkannya sayang."
"Baiklah! Aku akan mengulumnya untukmu, aku akan membuatnya kembali—ah."
Tubuh kecilnya dipaksa lagi terlentang oleh Sehun, detik berikutnya tangan besar Sehun sudah memaksanya untuk mengakang lebar dengan jemari yang kini mulai mencari lubang yang akan segera dimasuki oleh si "monster kecil"
"Dia tidak ingin dikulum, dia ingin masuk ke sarangnya."
"wow wow…Tahan sayang!"
Luhan merasakan penis Sehun sudah mendorong masuk ke dalam lubangnya. Rasanya Luhan butuh pemanasan setelah enam tahun tak bercinta. Jadi ketika Sehun mulai kembali pada kebiasaan tanpa pemanasan saat bercinta, maka Luhan dibuat panik dan begitu takut mengingat ukuran penis Sehun menjadi dua kali lebih besar, lebih berurat dan lebih menantang daripada enam tahun yang lalu.
"Apa lagi?"
"Aku butuh foreplay. Kau harus melakukan pemanasan lebih dulu."
"Kita bisa melakukannya lain kali, aku sudah tidak sabar ingin masuk kedalam sarang." Katanya dipenuhi nafsu dengan tangan yang semakin memaksa paha Luhan mengangkang lebar "Aku masuk." Katanya mulai mencari lubang Luhan dan tersenyum saat penisnya seperti ditarik magnet karena langsung menemukan sarangnya.
"Kau terasa sangat sempit Lu."
Dorongan pertama Sehun sempat meringis karena lubang Luhan benar-benar sempit. Tak menyerah, dia pun membasahi jari telunjuknya untuk membuka jalan bagi penisnya sementara jari telunjuknya berfungsi untuk melebarkan pintu masuk menuju sarang kecilnya.
"nghh!"
Baru sedikit Sehun mendorong, Luhan panik. Tubuhnya seperti akan robek jika Sehun memasukkannya sekaligus, dia pun menggeleng tanda tak setuju sebelum berteriak histeris karena takut, tapi mau.
"SEHUN!"
"Apa?"
"mmh….Pelan-pelan. Sudah enam tahun tak ada benda asing yang mengoyak lubangku, jadi bergeraklah perlahan."
Sehun mengangguk, dia mencium nafsu bibir Luhan untuk fokus pada usahanya menyatukan tubuh dengan sang kekasih "Aku akan memasukkan perlahan sayang. Tenanglah ini hanya akan sedikit sakit."
"Oke, mmpphh….Aku merasakannya sayang, kepalanya sudah masuk, astaga hangat sekali, ngghh…ya dorong perlahan. Dorong—AARGH!"
SLEB!
Bersamaan dengan teriakan Luhan maka sempurna sudah penis Sehun berada di lubang Luhan.
Sensasi penuh, sakit dan begitu perih sangat Luhan rasakan sementara Sehun merasa penisnya dimakan sesuatu yang begitu kecil karena rasanya begitu hangat.
"AKU BILANG PERLAHAN IDIOT! INI SANGAT SAKIT!"
"ssst….Apa kau tidak merasakannya? Kita sudah menyatu."
"AKU TIDAK PEDULI CEPAT KELUARKAN SEKARANG—ah ah ah…."
Rasanya percuma berteriak marah saat Sehun menggerakan kasar pinggulnya. Di awal sakit, tapi ketika tusukan Sehun terus pada temponya maka perlahan hanya terdengar suara desahan yang menandakan bahwa sepasang kekasih itu tengah memadu kekasih setelah tak melakukannya bertahun-tahun.
"Sehun perlahan—aaah…ah…mmphhh..."
Tubuhnya sudah bergerak naik-turun mengikuti irama sodokan Sehun. Dan merasa percuma memberitahu Sehun untuk bergerak perlahan, maka Luhan memutuskan untuk bergabung pada euforia bercinta pagi hari yang begitu nikmat setelah waktu yang lama.
"deep…deeper…nghmmhh—aaah, Sehunn…"
Luhan bahkan sudah melingkarkan kakinya di pinggul Sehun, ikut bergerak berlawanan arah hingga ketika penis Sehun dan lubangnya bertemu akan terjadi gesekan yang sangat nikmat.
"ah~"
Sehun pun dibuat menyeringai karena keagresifan kekasihnya yang telah kembali, karena sejak dulu, sejak awal mereka mulai bercinta. Luhan cenderung berteriak di awal tapi akan agresif di pertengahan percintaan mereka.
Ya seperti saat ini contohnya.
Dia jelas mengumpat di awal karena Sehun mendorong paksa penisnya untuk masuk. Dia berteriak dan mengumpat, Luhan juga meminta agar Sehun mengeluarkan penisnya.
Tapi apa yang terjadi sekarang?
Alih-alih meminta dikeluarkan, Luhan menggantinya dengan desahan yang begitu Sehun rindukan disertai kalimat memohon seperti deep, fast, there! Yang terus Luhan racaukan di sepanjang percintaan mereka.
"Apa aku harus –mmphhh- menurunkan temponya Lu?"
"ANDWAE! Begini sangat nikmat, jangan –ah~- jangan dipelankan."
"Kau yakin?"
"Ya! baby…mmphh-….deeper Sehun, faster—ah~"
"Baiklah. Kita selesaikan ini dan kau bisa tidur deer…ngmmph~."
Setelahnya Sehun sengaja menurunkan tempo menjadi pelan, saat Luhan protes dia juga sengaja menyodok telak prostat kekasihnya. Membuat tubuh Luhan terangkat dengan tangan yang terus mencakar punggung Sehun.
Keduanya masih terus berlomba dalam peluh, menikmati bunyi derit tempat tidur serta suara khas kelamin mereka saat bertemu adalah hal yang begitu membangkitkan gairah.
"there!"
Tubuh Luhan kembali terangkat saat Sehun berhasil menghujam sweet spotnya. Rasanya terlalu nikmat hingga dia lampiaskan dengan cakaran. Dia bahkan terus berbisik "lagi" di telinga kekasih yang akan dengan senang hati membuat nikmat pujaan hatinya.
SLEB!
"Sehunmmh!~"
Satu tusukan terakhir berhasil membuat lubang Luhan berkedut, dinding rektumnya sudah menyempit menandakan bahwa dia akan segera menjemput nikmat. "Sehundeep-…ah ah~"
Tubuh Luhan bergerak saat tak beraturan, suara decit tempat tidur mereka juga terdengar sangat menggairahkan hingga akhirnya Luhan mendapatkan apa yang dia inginkan.
Satu cakaran kuat di punggung Sehun mewakili seluruh kenikmatan yang kini datang menjemputnya "Sehunakudatang—aaah~"
Kedua mata itu terpejam nikmat.
Jika Luhan merasa puas maka Sehun sedang berusaha menjemput nikmatnya, dia bahkan tak berbaik hati membiarkan Luhan merasakan nikmat terlalu lama dan lebih memilih kembali bergerak, sensasi otot yang menjepit penisnya begitu nikmat hingga membuatnya sedikit brutal menghujam kekasihnya yang kini tersenyum pasrah.
"Di dalam atau di luar? Mmph—Lu?"
Kakinya yang lemas kembali dilingkarkan ke pinggul Sehun, dia ikut bergerak berlawanan arah untuk membantu Sehun yang akan segera mencapai klimaks. Sedikit mengecup bibir kekasihnya seraya berkata "Tentu saja di dalam."
Mendapat persetujuan, Sehun sangat bersemangat. Dia pun bergerak sangat liar hingga kecepatannya menurun, perlahan menurun, semakin menurun dan tak lama
"LU—aahhh~."
Mata Luhan ikut terpejam, rasanya benar-benar tak bisa diungkapkan saat lahar panas itu menyembur begitu deras di dalam tubuhmu. Namun alih-alih menolak, maka Luhan memastikan posisinya adalah posisi terbaik untuk bisa merasakan seluruh cairan kental yang begitu hangat milik kekasihnya.
"Kau luar biasa Sehunna."
Sehun tertawa, dia mengecup sayang bibir Luhan untuk mengambil posisi dan berbaring disamping sang kekasih "Aku rasa aku cukup kasar untuk percintaan pertama kita."
Luhan menggeleng, ditariknya selimut yang terjatuh untuk menutupi tubuh polos mereka sebelum merangkan menuju pelukan kekasihnya "Itu bukan percintaan pertama, itu percintaan tak terhitung yang entah sudah berapa kali kita lakukan."
"Kau sedang menyindirku?"
"yap! Kau sudah memperkosaku sejak kecil, jadi rasanya tidak terlalu buruk."
"Bagaimana bisa korban dari pemerkosaan mendesah nikmat dan terus meminta deep, deeper Sehunna—aah."
"SEHUN!"
"ha ha ha….Merona lagi kan?"
"ish!"
"Baiklah aku salah, sekarang cepat tidur karena malam nanti kita akan menghadapi sesuatu."
"Menghadapi apa?"
Sehun melingkarkan erat lengan tangannya di pinggang Luhan, sedikit menghapus peluh sang kekasih sbelum berbisik sangat pelan "Kau akan tahu malam nanti."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Malam hari….
.
.
"Kau bilang kita akan menghadapi sesuatu yang serius tapi kenapa justru pergi ke restaurant mahal? Dan kenapa aku harus memakai jas formal? Sebenarnya apa yang akan kita lakukan?"
Sederetan pertanyaan Luhan hanya dijawab senyum oleh sang kekasih. Karena daripada menjelaskan, Sehun lebih suka menunjukkan langsung, dan karena alasan itu pula dia hanya fokus melepas seatbelt Luhan lalu berjalan memutar membukakan pintu untuk sang kekasih.
"Sehun kau mulai lagi! Kenapa hanya diam?"
BLAM!
Luhan mendengus kesal, membiarkan Sehun membukakan pintu untuknya namun enggan untuk keluar dari mobil "Ayo masuk."
"Tidak mau! Kau terus bertingkah menyebalkan semenjak kembali."
"Baiklah" Sehun tersenyum gemas seraya menunduk agar bisa mengetahui apa yang Luhan inginkan "Apa yang harus aku lakukan agar kau tidak marah?"
"Jawab aku! Kenapa kita disini?"
"Karena didalam sana pertarungan kita akan dimulai."
"huh?"
"Kau akan tahu setelah masuk denganku. Ayo kita masuk."
Luhan sama sekali tak mengerti, ingin sekali dia kembali bertanya namun rasanya terlambat karena Sehun sudah membawanya masuk kedalam restaurant mewah tak jauh dari apartement baru Sehun.
Tring…
"Selamat malam Tuan Oh, semua tamu anda sudah berkumpul. Biar saya antar ke tempat anda"
"mmmh…Terimakasih."
"Tamu?" Luhan bergumam bingung, dia sudah membuka mulut untuk bertanya pada Sehun, mencari tahu apa yang tidak dia ketahui sampai tak sengaja matanya menangkap raut berbeda dari kekasihnya.
"Sehunna."
Entah untuk alasan apa, kekasihnya terlihat tegang. Pandangan Sehun juga berubah menjadi dingin seolah ada sesuatu yang mengganggunya. "Sayang?"
Sementara dirinya bertanya, maka Sehun hanya terus membawa Luhan menyusuri lorong restaurant, melewati beberapa tempat yang sepertinya dipesan secara khsusus sampai akhirnya mereka berada di satu ruangan khusus bertulis "Oh Sehun."
"Disini tempat anda Tuan Oh. Silakan menikmati jamuan makan malam dari kami, saya permisi."
"Ya terimakasih."
Sepeninggal kepala pelayan restaurant, Luhan merasa genggaman Sehun di tangannya semakin kuat. Dan entah mengapa Sehun tiba-tiba menatapnya berbeda, terlihat sendu namun penuh keyakinan.
"Bertahanlah sebentar lagi." Katanya parau dan tak lama
Cklek…!
Luhan ingin bertanya lagi,
Tapi saat Sehun membuka pintu ruangan yang dia pesan, Luhan menoleh.
Awalnya Luhan diam, terlalu bingung.
Tapi ketika matanya menangkap sosok yang sangat familiar untuknya, dia merespon. Jantungnya seketika berdetak hebat menyadari bahwa disana, tepat di depan kedua matanya terlihat beberapa orang yang begitu dia cintai
Harusnya dia bahagia.
Tapi ketika dua kepala keluarga dari dua keluarga yang berkumpul menatap marah padanya dan Sehun maka rasanya Luhan ingin berlari dan bersembunyi, seperti biasa.
"tidak."
Refleks, Luhan melangkah mundur, tangannya sudah berkeringat di genggaman Sehun. Rasanya dia ingin menjerit karena terlalu takut, rasanya dia ingin menangis menyadari bahwa sampai kapanpun dia dan Sehun, mereka tidak akan pernah bisa melawan kebencian dua ayah mereka, tidak akan pernah bisa.
"Se-Sehun…..Kita harus pergi darisini—kita harus—apa yang kita lakukan disini? Sayang kita harus pergi!"
Luhan menarik kencang tangan Sehun, berniat membawanya pergi namun Sehun menahan lengannya, rasanya genggaman Sehun semakin kuat dengan tatapan yang mengatakan jangan berlari lagi.
"Sehunkumohon."
"Aku bersamamu sayang, kita akan baik-baik saja."
Sekali lagi Luhan menoleh ke dalam ruangan.
Melihat seluruh wajah dengan dua tatapan berbeda yang diberikan untuknya dan Sehun.
Jika Yunho dan kedua ibu mereka menatap lembut maka tatapan berbeda diberikan oleh dua ayah mereka. Dua kepala keluarga itu bahkan terlihat geram dengan kebencian yang sangat terlihat.
"Mereka akan menentang kita."
"Kita juga akan melakukan hal yang sama."
"apa maksudmu?"
"Kita tidak akan bersembunyi lagi, kita akan menghadapi siapapun yang ingin menjauhkan kita, siapapun, meski itu ayah kita sendiri."
"Sehun!"
Dan bersamaan dengan keyakinan yang dimilikinya, maka saat ini Sehun sedang membawa Luhan untuk selangkah lebih dekat pada dua orang yang begitu membenci hubungan mereka, entah karena alasan apa.
"Sehun kita harus pergi, tidak baik jika kita bertengkar dengan ayah. Kita harus-…."
"Selamat malam Pa, Selamat malam aboji."
Luhan bergerak resah, dia masih berusaha membawa Sehun pergi, memohon agar tindakan gila ini dihentikan namun rasanya percuma.
Sehun dan tekadnya sudah terlalu bulat untuk menghadapi rintangan terbesar dalam hubungannya dan Luhan. Sehun terlalu lelah membiarkan dua ayah mereka menggunakan emosi tanpa memikirkan perasaan mereka sedikit pun. "Aku sudah kembali."
"APA YANG KAU LAKUKAN NAK? KENAPA KAU MEMBAWA PRIA ITU BERSAMAMU!"
"bajingan! LUHAN KITA PULANG!"
"Pa!"
Disaat tangan ayahnya mencengkram lengan Luhan, maka disaat yang sama Sehun mendekap Luhan secara refleks. Dia menjauhkan Luhan dari jangkauan sang ayah sementara wajah dan tubuh Luhan kini terlindung sempurna di pelukannya.
"APA YANG KAU LAKUKAN! LEPASKAN LUHAN!"
"tidak lagi…..PAPA DAN ABOJI TIDAK AKAN PERNAH BISA MEMISAHKAN AKU DAN LUHAN! TIDAK LAGI!"
BRAK….!
"OH SEHUN!"
Dan saat papanya menggebrak meja, saat pria yang memiliki matanya itu terlihat menggeram penuh murka maka disaat yang sama pula Sehun melangkah mundur dengan Luhan yang terisak begitu ketakutan di pelukannya.
"Wae? Kenapa berteriak padaku? Kenapa terus memperlakukan aku dan Luhan layaknya remaja bodoh yang tidak bisa bersama? Kami-….."
"KAMI SUDAH BERTAHAN CUKUP LAMA DAN ENGGAN BERTAHAN LEBIH LAMA! TIDAK PEDULI APAPUN KAMI AKAN TETAP BERSAMA!"
"BERANI SEKALI KAU MENENTANG PAPA! BERANI SEKALI KAU-…."
"Pa…."
Sedetik kemudian Yunho sudah berada tepat didepan Sehun, melindungi kedua adiknya dengan tatapan sang jaksa yang terlihat sangat terluka karena dua putranya terus menentang apa yang dia inginkan. "Apa yang kau lakukan?"
"Pa hentikan!"
"Hentikan kau bilang? Apa kau tidak melihat adikmu begitu bodoh dan tergila-gila pada pria yang seharusnya dia benci! Pada pria yang harusnya-…."
"Kenapa aku harus membenci Luhan? Kenapa aku harus membenci pria yang sejak kecil aku cintai? Ah-…..Apa karena masa lalu papa dan kakek? APA KARENA KESALAHPAHAMAN TENTANG KEMATIAN KAKEK? APA PAPA MASIH BERFIKIR AYAH LUHAN MEMBUNUH KAKEK?"
DEG!
Banyak jantung yang berdegup kencang seiring pernyataan Sehun.
Li Chen, Insung, bahkan Luhan-…..Ketiganya terlihat memucat karena pernyataan yang menjadi alasan kebencian Insung pada Luhan dan ayahnya.
Semua terdiam-…tak terkecuali dua ayah mereka.
"Sehun apa yang kau bicarakan? Kenapa papaku—hkss—apa yang terjadi?"
"ssst…tenanglah sayang."
Sungguh, yang paling dikhawatirkan Sehun tentang kenyataan yang dia cari selama dua tahun ini adalah Luhan. Dan benar saja, saat terpaksa dia mengatakan kebenaran tentang mengapa kedua ayah mereka saling membenci, maka yang paling terluka selalu Luhan.
"hksss…akuinginpulang."
"Aku akan membawamu pulang, sebentar lagi hmm?"
Sehun mengecup sayang pucuk kepala Luhan. Semakin mendekapnya erat untuk kembali berhadapan dengan ayahnya dan ayah Luhan "Hentikan salah paham ini Pa. kumohon. Aku yakin papa tahu jika paman Xi tidak bersalah, aku tahu papa hanya mencari pelampiasan atas kematian kakek. Tapi bukan paman yang-…."
"diam."
"Bukan paman Xi yang melakukannya Pa."
"DIAM!"
Tubuh mungil tersentak takut, Sehun bahkan harus mengusap lembut punggung Luhan agar prianya tak lagi ketakutan. "Kau tidak mengetahui apapun."
"Sayangnya aku tahu. Aku sudah mencari tahu dan aku menemukan jawabannya."
Insung tertawa keji, satu tangannya bersandar di meja sementara tangannya yang lain terkepal erat. Dia kemudian menatap marah dua putranya untung menantang Sehun yang terlihat sangat membangkang "Lalu apa yang akan kau lakukan? Pikirmu ayah akan menyetujui hubunganmu dengan dia? Sampai mati ayah akan menentang hubunganmu dan pria tak berguna yang berada di-…."
"CUKUP!"
Li Chen yang berteriak, sungguh hatinya sakit melihat satu-satunya putra yang dia miliki dihina. Kepalanya terasa akan meledak saat kalimat menghina hanya ditujukan untuk putra kecilnya, untuk Luhannya.
Dia memandang murka pada Insung untuk berbalik menyerang Sehun "Pikirmu aku akan berterimakasih karena kebenaran yang kau katakan?"
"aboji…"
"tsk! Kau salah anak muda. Sama seperti ayahmu yang membenci Luhan! Maka aku dengan segenap hati dan seluruh jiwaku juga membencimu! Aku-….AKU SANGAT MEMBENCI KELUARGAMU!"
"papahksss…"
Kini tak hanya isakan Luhan yang terdengar, tapi dua wanita cantik yang turut serta menyaksikan malapetaka dua keluarga mereka juga mengeluarkan tangisan yang sama terlukanya dengan Luhan.
Entah apa yang dipikirkan suami mereka, kenapa keduanya memiliki emosi yang berhujung kehancuran. Kenapa keduanya tak mencoba untuk saling membuka pikiran agar bisa sedikit lebih peduli pada darah daging mereka.
Kenapa mereka tak mengatakan bersedia merelakan masa lalu untuk kebahagiaan masa depan darah daging mereka.
Sungguh, ruangan yang harusnya dipenuhi gelak tawa dan senyum hangat berubah menjadi sangat mengerikan dipenuhi kebencian dua pria yang menyebut diri mereka ayah namun bersikap layaknya "pembunuh untuk darah daging mereka sendiri.
"Jadi untuk kebaikan kalian, sebaiknya kalian berpisah. Aku sudah memiliki orang lain untuk Luhan."
"andwae! Sehunnahkss…"
Luhan mencakar kuat punggung Sehun, menggeleng kuat di pelukan sang kekasih tanda bahwa dia menolak segala rencana sang ayah untuk menjodohkannya dengan orang lain.
"LUHAN IKUT PAPA!"
"Sehun…."
Seiring langkah Li Chen yang mendekat, maka secara refleks pula Sehun melangkah mundur, dia bersumpah untuk melakukan segala cara agar tak ada seorang pun yang bisa melepas pelukannya dari Luhan, tidak siapapun termasuk ayahnya dan ayah Luhan.
"Siapapun tidak akan pernah bisa mengambil Luhan dariku. Siapapun termasuk anda Aboji!"
"bajingan! Dia putraku dan aku bisa membawanya kemanapun aku mau. Aku akan membawanya pergi JAUH DARIMU!"
Sehun menyeringai, dia semakin mendekap erat Luhan yang kini juga mendekapnya erat. Keduanya seolah membuktikan bahwa di depan ayah mereka sekalipun, mereka akan menunjukkan seperti apa "cinta" untuk mereka berdua.
"Kau tidak akan bisa mengambil Luhan dariku tsk! Bahkan jika kau mencoba puluhan kali maka aku akan merebutnya jutaan kali! Kau dan ayahku tidak akan pernah bisa mengambil hidupku, LUHAN!"
"Kau terlalu percaya diri OH!"
"Ya, anda benar aboji! Aku terlalu percaya diri? Kau tahu kenapa? Dan papa mau tahu alasannya?"
Sehun menatap marah pada dua ayahnya. Mengeluarkan segala kebencian yang dia miliki untuk mengerling sang kakak "Keluarkan hyung."
Sesaat Yunho mengangguk, dia kemudian mengambil sesuatu dari dalam tas untuk menyerahkannya pada Sehun "Ini."
Sehun menggenggamnya, menggenggam selembar kertas yang sengaja ia bawa untuk ia bagikan "SEHUN!"
Luhan ketakutan saat Sehun melepas pelukannya, namun melihat bagaimana mata bulan sabit itu tersenyum dan merasakan bibir hangat Sehun mencium lembut bibirnya, maka ada sedikit ketenangan yang dia dapatkan "Hyung akan menjagamu sayang. Aku hanya sebentar." Katanya mencium kening Luhan lalu menyerahkan kekasihnya pada Yunho "Jaga Luhan, hyung."
Kali ini dia menyerahkan Luhan pada Yunho.
Refleks, Luhan bersembunyi di belakang Yunho. Dia juga menarik kuat kemeja Yunho untuk mengintip dan mencari tahu apa yang dilakukan Sehun dari balik punggung Yunho.
"Ma, eomoni. Aku mohon doa dan restu dari kalian."
Seraya menyerahkan kertas yang dia genggam. Sehun memeluk dua wanitanya bergantian. Menatap lembut pada dua wanita yang kini menangisi nasibnya dan nasib Luhan untuk menyebarkan kabar gembira yang telah dia buat untuk Luhan.
"Sayang apa ini?"
"Bacalah Ma."
"astaga…"
Dan saat Baby memekik terkejut, maka ibu kandung Luhan itu segera menghambur ke pelukan Sehun. Mendekap kekasih putra kecilnya dengan erat seraya mengatakan "gomawo Sehunna."
Sehun mengangguk, Luhan bertanya-tanya.
Namun ketika Jihyo menyusul pekikan sang mama. Maka bisa ditebak sesuatu yang sangat membahagiakan telah dilakukan kekasihnya "Datanglah Ma, eomoni."
"Pasti nak/ pasti sayang."
Dan setelah mendapat respon yang luar biasa baik dari dua ibunya. Kini Sehun kembali menghela nafas, bersiap menghadapi rintangan terbesarnya akan keputusan bulat yang sudah ia buat.
"Pa." katanya membungkuk menyapa sang ayah lalu menyerahkan surat yang dia genggam untuk sang ayah "Jika kau masih menganggapku sebagai seorang anak, kumohon datanglah."
Sret…!
Insung mengambil cepat kertas yang diberikan Sehun untuk membaca apa yang tertera disana. Dia juga membaca dengan seksama, kata per kata hingga tubuhnya melemas dan terpaksa harus bersandar kembali di meja makan.
"tidak mungkin—Tidak! Papa tidak merestuinya Sehunna."
"Jika memang demikian, maka aku rasa tak ada lagi hubungan ayah-anak diantara kita."
"SEHUN!"
"Aku hanya berharap sedikit belas kasihmu sebagai ayahku, aku merindukan papa."
Setetes air mata itu membasahi wajah Sehun, dia merindukan papanya, itu benar. Papa yang dulu sangat bersahabat dan begitu menyayanginya. Papa yang akan melakukan segala hal untuk membantu mendapatkan Luhan, bukan menjauhkannya dan membenci satu-satunya pria yang Sehun cintai sejak kecil.
"sehunna.."
Sejenak Sehun tertunduk, dia menikmati rindu sebagai seorang anak lalu menghapus air matanya, kembali membungkuk dan mengatakan "Aku harap papa memberikan restu." Katanya memohon dengan suara penuh harapan untuk beralih pada ayah kandung dari kekasihnya.
"aboji."
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Sama seperti yang kau lakukan aboji, aku sedang memperjuangkan Luhan, belahan jiwaku." Katanya mengerling lembut sang kekasih seraya menyerahkan kertas yang dia genggam pada ayah Luhan "Mohon agar kau membacanya aboji."
Dan sama seperti Insung, maka Li Chen membaca dengan seksama kertas yang diberikan Sehun. Matanya langsung menyisir kalimat per kalimat, kata per kata hingga dia menemukan satu kalimat besar yang bertuliskan "Wedding Invitation, Oh Sehun-Xi Luhan" membuat dua mata pria paruh baya itu terbuka lebar dan terlihat sangat tak percaya dengan apa yang sedang dia baca saat ini.
"a-Apa ini?" katanya nyaris berteriak jika tidak mengingat seluruh suaranya tertahan di kerongkongan "Katakan padaku! Apa ini?"
"Seperti yang anda baca aboji, itu undangan pernikahanku dan Luhan. Aku sudah membagikan seluruh undangan ke teman terdekat dan semua kerabat anda dan ayahku."
"Apa kau sudah gila?!"
"Dan sesuai dengan tanggal yang tertera kami akan menikah minggu depan. Jadi, aku-….Oh Sehun secara resmi melamar putra anda untuk menikah denganku. Maukah kau merestui kami aboji."
"tidak mungkin."
Jika tak ada Yunho yang memeluknya, mungkin Luhan sudah terjatuh.
Dia hanya terkejut, terlalu terkejut.
Dia juga tak menyangka Sehun akan benar-benar serius dengan kalimat pernikahan yang selalu dia ucapkan sewaktu mereka kecil.
Jadi ketika hari ini terjadi, hari dimana Sehun melamarnya, maka rasanya ini adalah hari yang paling membahagiakan untuk Luhan, dia juga sudah membekap erat mulutnya dan terisak bahagia di pelukan Yunho "h-hyung. Apa benar Sehun akan menikahiku?"
Yunho tersenyum, dipeluknya erat sang calon adik ipar untuk berbisik "Ya. Dia sudah mempersiapkan segalanya untuk pernikahanmu. Adik kecilku benar-benar mencintaimu Luhan."
"Sehunakusangatmencintaimu!"
Luhan memeluk erat Yunho, dia tidak peduli apa yang akan ayahnya katakan. Sungguh, dia tidak peduli karena saat Sehun resmi menyebarkan undangan pernikahan mereka maka itu artinya dia hanya perlu menunggu selama beberapa hari untuk benar-benar hidup tak terpisahkan dari Sehun "Kau bahagia?"
"Aku sangat bahagia hyung…sangatbahagia…"
"Kau tahu jawabanku anak muda! Aku menentang pernikahan kalian! AKU TDAK MERESTUI PERNIKAHAN INI!"
"papa…."
Yunho menutup satu telinga Luhan, berharap Luhan tak mendengar apapun sementara Sehun menyelesaikan segala urusan disana, "Kalau begitu anda juga tahu jawabanku! Dengan atau tanpa restu dari kalian, aku-…..AKAN TETAP MENIKAHI LUHAN!"
Untuk kali terakhir Sehun membungkuk, merasa benar-benar hancur karena penolakan dua ayahnya yang begitu keji menentang kebahagiannya dan Luhan.
"Aku akan pergi membawa Luhan. Selamat malam."
Bibirnya tersenyum, tapi matanya menunjukkan hal berbeda –Sehun hancur-, sepenuhnya hancur. Matanya dipenuhi kekecewaan dan kesedihan khas seorang anak yang dibuang dan dicampakan oleh orang tuanya sendiri.
"Sehun…"
Hanya Luhan yang selalu bisa membuatnya merasa bahagia.
Hanya Luhan yang selalu membuatnya merasa jauh lebih baik.
Karena disaat hatinya hancur tak mendapatkan restu dari dua ayahnya, maka tatapan lembut sang kekasih adalah semua obat untuk kehancuran hatinya "Sayangku. Kau baik-baik saja?"
Luhan mengangguk, detik berikutnya dia berlari ke arah Sehun untuk melompat ke pelukan sang kekasih "Sehun apa kita akan menikah?"
"Kita akan menikah. Kau mau kan?"
Dia tertunduk sejenak untuk menatap tanpa ragu sang kekasih "Tentu saja Sehunna!"
"Benarkah?"
Luhan mengangguk tanda dia membenarkan, detik berikutnya dia mendekap erat tubuh Sehun yang kelelahan dengan tangan yang mengusap lembut punggung sang kekasih. "Aku sudah memelukmu sayang. Kau akan baik-baik saja."
Sehun tertegun.
Dia selalu menyukai cara Luhan untuk menghiburnya.
Dan ketika kalimat baik-baik saja meluncur dari bibir mungil sang kekasih maka rasanya sayang jika bibir menggemaskan itu tak ia kecup.
Mmhh…
Walau restu dari pihak ayah tak mereka dapatkan, keduanya tetap menunjukkan betapa kuat cinta mereka, Luhan bahkan yang bergerak sedikit agresif melumat Sehun, dia hanya ingin membuktikan pada dua ayahnya bahwa sekuat apapun mereka mencoba untuk memisahkan maka sekuat itu pula tekad Sehun dan Luhan untuk tidak saling melepaskan.
"Aku mencintaimu Sehunna. Terimakasih untuk perjuangan malam ini sayang."
Sehun tersenyum kecil. Dipeluknya tubuh mungil sang kekasih untuk membalas rasa terimakasihnya yang sama besar "Aku yang harusnya berterimakasih karena perjuanganmu bertahan. Aku tahu ini sangat melelahkan tapi kau tetap bertahan."
"Tentu saja. Kajja kita pulang."
Luhan menatap masam dua ayahnya. Membungkuk sebagai ucapan perpisahan untuk mengatakan "Mulai saat ini Papa dan aboji tidak bisa membuat Sehunku menangis. Aku akan menjaganya dengan hidupku."
"Lu."
"Karena aku akan menjaganya. Tidak hanya sebagai seorang istri, tapi aku akan menjaganya sebagai temanku, saudaraku, dan jika perlu aku akan mengambil tempat sebagai seorang ayah. Kami permisi."
Luhan membungkuk –sekali lagi- sedikit tersenyum lembut pada dua ibunya untuk kembali menatap sang kekasih "Sekarang pegang tanganku."
"huh?"
"Biar malam ini aku yang membawamu pergi Sehunna. Aku akan menggenggamnya sangat erat." Katanya mengulurkan tangan dan menawarkan tangan mungilnya sebagai perlindungan.
"ck! Kau berlagak sok Manly lagi!"
"Sehun aku tidak mengulang dua-…"
Sret…!
Sehun meletakkan tangannya di atas tangan Luhan, keduanya juga saling melempar pandangan penuh cinta dan rasa bangga karena perang yang tanpa sadar telah mereka menangkan malam ini.
"Kau siap?"
"Aku siap."
Luhan mengangguk cepat, digenggamnya erat tangan Sehun sementara dia membawa sang kekasih meninggalkan "luka" yang begitu perih di lubuk terdalam hati mereka.
Pada dasarnya baik Sehun dan Luhan memiliki hubungan baik dengan ayah mereka masing-masing. untuk Luhan dan Sehun, ayah mereka adalah teman, cinta dan pahlawan pertama saat mereka masih kecil,
Keduanya begitu menyayangi ayah masing-masing, terlalu sayang.
Jadi ketika tak ada restu yang mereka dapatkan, maka bohong jika keduanya tak hancur.
Mungkin mereka akan menyesal,
Tapi setidaknya untuk malam ini, baik Sehun maupun Luhan, Keduanya tak ada lagi yang bersembunyi dari kekuasaan dan status "ayah" yang bertahun-tahun mencekik hubungan mereka.
Keduanya kini sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang saling mencintai satu sama lain, yang akan saling menjaga dan tak membiarkan siapapun menyakiti hubungan mereka lagi, tidak lagi dan akan pernah
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
.
pesan tersirat di CHAP 8 : Sesungguhnya yang sirik bakal kalah sama yang udah nyebar undangan ;p
pake hesteg #Sehunudahbesar #udahbisanikahinanakorang :""""
.
emang song-song couple doang yang tiba2 merit. HUNHAN KITA NYUSUL ;p :****
.
Seeyousoon! :*
