Previous…

Pada dasarnya baik Sehun dan Luhan memiliki hubungan baik dengan ayah mereka masing-masing. untuk Luhan dan Sehun, ayah mereka adalah teman, cinta dan pahlawan pertama saat mereka masih kecil,

Keduanya begitu menyayangi ayah masing-masing, terlalu sayang.

Jadi ketika tak ada restu yang mereka dapatkan, maka bohong jika keduanya tak hancur.

Mungkin mereka akan menyesal,

Tapi setidaknya untuk malam ini, baik Sehun maupun Luhan, Keduanya tak ada lagi yang bersembunyi dari kekuasaan dan status "ayah" yang bertahun-tahun mencekik hubungan mereka.

Keduanya kini sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang saling mencintai satu sama lain, yang akan saling menjaga dan tak membiarkan siapapun menyakiti hubungan mereka lagi, tidak lagi dan akan pernah

.

.

.

.

.

.

.

.

Je'Te Veux

.

.

.

.

.

Main cast : Sehun-Luhan

Rate : T-M

.

.

.

.

.

.

"Kenapa terus memandangku?"

Bohong jika satu pria tampan dan satu pria cantik yang baru menyatakan perang dengan ayah mereka tidak merasa sedih, bohong jika hati mereka tidak sakit. Karena jauh di lubuk hati mereka ada sejumput rasa bersalah dan jeritan tertahan mengingat beberapa saat lalu mereka berdua seolah memutus hubungan ayah-anak dari dua sosok yang begitu berpengaruh di hidup mereka.

"Entahlah Sehunna, Hatiku terasa sakit, tapi bahagia."

Walau kalimat bahagia yang dia ucapkan terdengar sangat lirih, tapi nyatanya si pria cantik memang bahagia, begitupula dengan pria tampan yang wajahnya kini bermandikan peluh karena kegiatan panas mereka beberapa saat lalu.

"Kau akan selalu bahagia mulai saat ini Lu. Itu janjiku."

Sepatu dan kemeja mereka berserakan di lantai, selimut yang awalnya berwarna putih kini sudah dipenuhi cairan hangat berwarna putih yang terus dikeluarkan dua pemiliknya sejak dua jam yang lalu.

Nafas mereka bersahutan dengan tubuh mereka masih menyatu secara intim. Tangan yang lebih kekar melingkar sempurna di pinggang si mungil sementara tangan si mungil terus mengusap wajah tampan dari satu-satunya pria yang selalu dan selamanya akan menggagahinya penuh cinta.

Luhan –si pria cantik- memberikan senyum terbaiknya saat kata bahagia yang dijanjikan calon suaminya terdengar sangat menggoda. Dia bahkan sedikit beranjak dari tidurnya untuk mengecup bibir sensual yang selalu berhasil menjamah setiap bagian intim tubuhnya hingga desahan nista tak terelakan dari bibir mungilnya.

"Aku mencintaimu Sehunna."

Saat kata cinta dari pria cantik yang sudah memiliki hatinya selama dua puluh tahun itu terucap, maka rasanya mustahil jika birahinya sebagai pria jantan tak terusik. Dia selalu menyukai ucapan cinta yang dilontarkan pujaan hatinya. Terlalu suka hingga lagi-lagi dia ingin menyembunyikan Luhan dan memilikinya seorang diri.

"Kau tahu cintaku selalu lebih besar dari milikmu."

"ara…"

Luhan memejamkan matanya kali ini dia terisak dengan air mata yang membasahi wajahnya "Lu kenapa menangis?"

Masih terpejam, Luhan menggelengkan kepalanya. Dia kemudian merangkak maju untuk bersembunyi di dada bidang kekasihnya. "Ayahku –hks- apa benar dia membunuh kakekmu? Apa benar ayahku seorang—hks."

Basah sudah dada Sehun karena air mata Luhan. Ditambah dengan cengkraman kuat Luhan di punggungnya maka sudah bisa dipastikan seluruh punggungnya dipenuhi bekas cakaran karena Luhan mencengramnya terlalu kuat. "Aku tidak tahu apa yang ada di pikiranmu sayang. Aku takut kau membenciku Sehunna. Aku takut pada akhirnya kau juga akan membenciku dan tidak menginginkan aku lagi—hmmhh~"

Setiap kali Luhan dan otak kecilnya berfikir terlalu jauh, maka disaat yang sama akan terjadi kecanggungan menyiksa di antara mereka. Sehun terlalu mengenal Luhan dan karena hal itu pula satu-satunya cara untuk menghentikan racauan Luhan adalah dengan membuat pikirannya teralihkan, dengan cara apapun.

"Sehunna—mmphh."

Sedetik kemudian Luhan merasakan serangan listrik statis yang menyengatnya hingga ke ujung kaki. Sengatan karena lumatan bibir Sehun yang selalu berhasil menggetarkan seluruh tubuh, menghiburnya. Gigitan gigi gingsul sang kekasih juga selalu berhasil memberikan efek yang membuatnya seperti melambung di udara atau seperti digelitik di bagian pusar dengan sensasi yang begitu menyenangkan.

"rrh!"

Jelas Luhan menggeram kesal saat Sehun menyudahi ciuman mereka, tapi ketika mata sendu Sehun menatapnya dan tersenyum sangat lembut ke arahnya, Luhan dibuat jatuh cinta lagi pada sosok kekasihnya yang selalu memberikan seluruh cintanya selama dua puluh tahun "Sehun?"

"Dengarkan aku Lu."

"hmh?"

Saat tangan panas Sehun mengusap wajahnya, Luhan terpejam. Dia membiarkan kekasih hatinya melakukan apapun yang diinginkan. Luhan tidak ingin merasa bersalah, dia sedang meminta pengampunannya atas tuduhan ayah Sehun pada ayahnya.

Namun lucu adalah ketika kau sudah menyuarakan ketakutanmu namun dibalas terlalu santai oleh salah satu keluarga yang memliki hubungan darah dengan Kakek Oh, cucunya, Sehun. "Jika kakek sempat bertemu denganmu mungkin dia juga akan menyukaimu."

"Sehun."

Bisikan Sehun sangat indah, membuat jantung Luhan berdebar tak tahu malu hingga rona wajah merah kini terlihat di wajah putihnya yang selalu bersinar tanpa cela. Dia inging mengharapkan kalimat lebih sebagai penghiburannya.

Dan seperti membaca pikiran Luhan, maka Sehun dengan senang hati memberi kalimat penghiburan lain seraya berbisik menggoda di telinga kirinya "Sekalipun ayahmu memang membunuh kakek, aku tidak peduli sayang. Aku tidak akan membencimu –tidak- aku tidak bisa membencimu. Sampai mati kau pusat hidupku, jangankan kakek. Aku bahkan bersedia mati jika kau yang melakukannya, jadi kumohon berhenti berfikir aku membencimu. Kau tahu kenapa?"

Sehun adalah segala kesempurnaan yang terlalu indah di dalam hidup Luhan.

Cintanya

Perhatiannya

Dan bagaimana cara Sehun menjadikannya pusat hidup adalah sesuatu yang membuat Luhan terlihat seperti penguasa.

Ya-…Walau dia hanya bisa mengusai satu pria, kekasihnya. Itu sudah lebih cukup. Karena hanya satu Sehun yang bisa membuatnya bahagia, hanya satu Sehun yang bisa memenuhi pikirannya dan hanya satu Sehun yang bisa membuat jantungnya berdebar karena cinta.

"Kenapa?" katanya bertanya lirih dibalas senyum terlalu tampan Sehun dengan segala ketulusan hatinya yang mengatakan "Karena aku memujamu." Katanya menyatukan dahi mereka lalu kembali berujar "Kau segalanya untukku, kau pusat hidupku, kau dewaku, kau Tuhanku. Aku sangat memujamu sayang, aku tidak bisa kehilanganmu. Aku sangat mencintaimu. Jika kau menyuruhku untuk menderita maka aku akan melakukannya, jika kau menyuruhku untuk mati aku juga akan melakukannya. Aku, Oh Sehun menyerahkan seluruh hidupku padamu, Xi Luhan."

Luhan tergelak, dia diam sejenak.

Mengagumi kecepatan bibir seksi Sehun ketika mengungkapkan siapa dirinya di hidup sang kekasih.

Luhan kemudian tersenyum kecil menyadari bahwa dirinya adalah pria paling beruntung karena bisa merasakan cinta setulus cinta Sehun, bisa merasakan begitu dicintai sekuat cinta Sehun.

Jadi ketika Sehun mengatakan hal yang terus membuat jantungnya lupa untuk berdebar maka disaat yang sama pula tangan mungil Luhan mengusap wajahnya untuk mengatakan "Bodoh." Katanya mengusap sensual bibir kekasihnya, mengundang Sehun untuk menjemput kenikmatan mereka –lagi- hingga akhirnya si pejantan sudah berada pada posisinya diatas si mungil untuk menjemput nikmat mereka yang lain.

"Aku tidak akan pernah memintamu mati. Karena jika kau mati, aku juga mati—akh~"

Luhan larut lagi dalam panasnya ciuman Sehun, dan alih-alih mencakar punggung kekasihnya dia kini lebih memilihkan mengalungkan tangannya di leher Sehun. Mulai membuka lebar mulutnya dan membiarkan lidah Sehun menari panas di dalam rongga mulutnya.

"hmmphh~"

Seolah tak mau kalah dengan apa yang dilakukan Luhan, maka telapak tangan besar miliknya kini sudah berada di tengkuk leher Luhan, menekan disana hingga tautan bibir mereka semakin dalam, semakin panas dengan tangan Sehun yang lain kini bebas menjamah dua tonjolan kecil yang selalu menjadi santapan paginya selama mengejar Luhan untuk mengatakan Ya dan bersedia menjadi kekasihnya.

"sayang~aakh…"

Dan benar saja Luhan menggelinjang, karena ketika ibu jari dan jari telunjuk Sehun membuat cubitan kecil di nipple yang belum lama selalu ia hisap, maka dada Luhan mengangkat ke atas hingga bertubrukan dengan dada bidangnya.

Mengantarkan sensasi hingga ke bagian selatan tubuh dua pria yang akan segera melangsungkan pernikahan dengan atau tanpa restu dari orang tua mereka "Sehun—"

Luhan memalingkan wajahnya kali ini, meminta Sehun untuk berhenti melumat sementara si pejantan terkekeh kecil menyadari bahwa lagi-lagi dia kehilangan kendali atas tubuh memabukkan milik si mungil.

"wae?"

"Milikmu membesar lagi di dalamku. sesak"

Sehun terkekeh lagi, dia bahkan sengaja menggerakan kasar penisnya hingga terdengar ringisan dari bibir mungil kekasihnya "sshh—Sehun!"

"Apa yang harus aku lakukan?" dia berlagak polos hingga membuat Luhan tergoda untuk mengeluarkan paksa si "monster kecil" di dalam lubangnya "arg!—ssh."

Dan lagi-lagi Sehun membaca pikiran Luhan, karena jika si mungil berusaha mengeluarkan paksa kejantanannya maka secara cepat pula Sehun menghentak kuat hingga tubuh berpeluh keringat dibawahnya kembali membusungkan dada tanda kenikmatan bahwa alat kelamin mereka telah menyatu dengan sempurna.

"Haruskah aku keluarkan?"

"jangan berani-berani—arh!"

Sehun mengatakan mengeluarkan, tapi sedari tadi yang dia lakukan bergerak sedikit maju dan mundur hingga secara refleks pula kaki Luhan mengangkang lebar menginginkan lebih dari sekedar maju mundur yang menyiksa birahinya.

"ber—ah~—gerak."

Lidah panjangnya menyapu dua tonjolan kecil Luhan, membuat lagi-lagi Luhan menggelinjang, mencengkram kuat selimut kotornya karena terlalu bingung melampiaskan rasa nikmat yang terus diberikan bibir, tangan serta penis kekasih sialannya.

"Apa? aku tidak dengar My Lord."

"bergerak—hhmphh—BERGERAK—akh~"

Sehun menyeringai. Saat Luhan ingin berteriak maka dia sengaja menghisap kuat nipple kirinya, tangan kanannya mulai mengocok penis mungil yang juga mulai memberikan reaksi sementara pinggulnya dia gerakan, sesuai perintah pujaan hatinya.

"ah—ah—cium—sehun—akh—babe, cium aku."

Luhan menarik paksa lengan Sehun, memaksa kekasihnya untuk tidak hanya memanjakan dua nipplenya namun juga memanjakan bibirnya yang butuh hisapan dan lumatan panas dari bibir kekasihnya.

"aahmmph~…Sehunna, lebih keras.."

Sehun berhenti menggigit bibir Luhan lalu sengaja bertanya "Apa kau perlu menghentaknya sedikit lebih keras?"

"ya—yaa, lakukan apapun yang bisa membuatku gila. Cepat!"

Tak sabar Luhan ikut bergerak, dia memajukan pinggulnya hingga penis Sehun mengenai bagian terdalam dinding rektumnya dan berharap segera menemukan sweet spot yang bisa membuatnya semakin merasakan nikmat. Dia terus bergerak, terlalu memaksa hingga akhirnya Sehun tertawa kecil untuk menawarkan "Mau merubah posisi? Kau mau on top?"

Wajah Luhan berbinar, dia menggigit kencang bibirnya lalu mengangguk tak ragu "Bolehkah?"

Kali ini Sehun tertawa lagi, dia menunduk untuk mengecup bibir Luhan lalu menggenggam lengan sang kekasih untuk perlahan merubah posisi "Tentu saja boleh."

"ah~"

Kali ini Luhan benar-benar merasa seperti seorang ratu –bukan- seperti seorang raja. Dia berada di atas Sehun dengan penis Sehun yang hampir sepenuhnya masuk didalam tubuhnya.

"Aku akan ber—mmhh—gerak."

"Lakukan apapun yang kau mau."

Luhan bersemangat, dia perlahan memaju mundurkan pinggulnya hingga

Sleb~

"yeah—aakh—~"

Satu gerakan cepat berhasil membuat seluruh penis Sehun berada di dalam lubangnya, tak ada lagi yang tersisa. Dia merasa begitu berkuasa hingga tanpa sadar menggerakan pinggulnya ke atas dan ke bawah dengan suara khas penyatuan tubuh mereka memenuhi ruang kamar dari apartement mewah kekasihnya.

"sehunna—ah—aahhmpph~"

Sementara Luhan sibuk menaik-turunkan pinggulnya maka Sehun dengan tangan panasnya juga sibuk mengerjai tubuh kekasihnya. Terkadang dia mengocok penis Luhan, terkadang dia mencubit, menarik, memelintir gemas dua tonjolan kecil Luhan lalu berhenti dan membiarkan Luhan membuat penisnya terasa terjepit dan sangat menikmati servis kekasihnya.

"mmmhh—aku akan datangaaah~"

Merasa kekasihnya sudah kehabisan tenaga, Sehun tertawa. Dia pun tak tega membiarkan Luhan seorang diri bergerak di percintaan mereka. Membuat Sehun dengan baik hati memegang pinggulnya sementara dia perlahan bangun dan mulai membantu Luhan menaik-turunkan tubuhnya dengan posisi duduk di tempat tidur mereka.

"aah~"

Sehun sedikit mendongak melihat wajah kekasihnya. Memastikan bahwa Luhan merasakan nikmat dan benar saja pria kecilnya sedang memejamkan mata dan mendesah hebat saat dua gerakan mereka berlawanan tapi menyatu di satu titik

"Sehun~"

Kini Sehun beralih pada dua tonjolan kecil yang berada tepat di depan matanya, menjulurkan lidahnya untuk menggoda nipple sang kekasih hingga secara refleks pula tangan Luhan mencakar tengkuknya sementara kepalanya mendongak ke atas dengan tubuh bergerak naik turun di pangkuan Sehun "hnngmpphh~….aah.."

"Merasa nikmat?"

Luhan mengangguk, dijambaknya kasar rambut Sehun dan tak lama dia mencium telak bibir sang kekasih "Sangat—aah~…Sehun,klimaks…Aku akan—aahmmph~"

Sehun mengerti, dia kemudian memeluk erat tubuh Luhan dan fokus pada gerakan pinggul. Berusaha untuk menghujam daerah yang tepat hingga

"there!—ah—aah~"

Dia menemukannya.

Melalukan gerakan yang sama Sehun terus menyerang poisisi yang sama yang bisa membuat kekasihnya segera merasakan nikmat. Temponya lambat namun begitu tepat hingga tubuh Luhan dibuat gemetar karena sensasinya.

"aaahSehunna~…ngghh…"

Dan tak perlu waktu lama Luhan menjemput nikmatnya, mengotori perut Sehun dengan cairan putihnya yang kental sementara bagian bawahnya kini mencengkram kuat penis Sehun yang kini merasa terjepit karena Luhan dan dinding rektumnya sengaja membuatnya gila.

"akh~"

Sehun menyodokan lagi gerakannya, membuat Luhan tertawa dengan klimask keempatnya malam ini sementara kekasihnya masih mencari posisi yang bisa membuatnya klimaks dengan sempurna.

"Sehun!~"

Sehun merubah lagi posisinya saat ini. Dibaringkannya sang kekasih di tempat tidur sementara tangannya kin membuka lebar dua paha Luhan, membuat Luhan mengakang lebar dengan lubang yang jelas berkedut siap menantinya lagi.

"mmhh….sempit Lu…aah~"

Sehun meracau nikmat, dia kemudian melingkarkan kaki Luhan di pinggangnya sementara gerakannya kasar, brutal namun tetap membuat Luhan mendesahkan namanya "ah—ah—Sehunna—aaakh~"

"akudatangLu, sebentar lagi aku~…"

Sleb…!

Satu tusukan terakhir Sehun diiringi desah nikmatnya kala cairan putih miliknya menghujani lubang kecil sang kekasih. Dia bahkan bergerak mencari posisi nyaman sementara matanya terpejam menikmati klimaks keduanya yang lagi-lagi berhasil dikeluarkannya tak tersisa di dalam tubuh si mungil "ahhh—haah~"

Keduanya tersenyum penuh arti, saling mengecupi satu sama lain sebelum Luhan sengaja bergerak ke samping agar Sehun tak lagi menautkan si monster kecil di dalam tubuhnya "w-wae? Kenapa dilepas?"

Buru-buru dia menarik selimut lalu menyembunyikan wajahnya disana, merasa begitu malu jika mengingat dia selalu berlebihan saat mendesah jika mereka sedang bercinta "Aku lelah dan harus bekerja besok pagi."

"Tidak mau melayani calon suamimu lagi?"

Sehun menggodanya, dia juga menyingkap paksa selimut Luhan untuk menemukan betapa indah mahluk ciptaan Tuhan yang kini sedang menatap malu dengan wajah bersemu merah saat tersenyum padanya "oh tidak….Aku tegang lagi."

"Sehuuuuun…"

"ha ha ha…Baiklah, baiklah. Kau boleh tidur sayang." Katanya mendekap Luhan lalu menyelimuti tubuh polos mereka dengan selimut lengket dan kotor karena kegiatan mereka hampir tiga jam ini hanya klimaks, mendesah dan saling beradegan panas di atas tempat tidur.

"Sehun."

"hmmh…"

"Terimakasih."

Sehun mencoba menatap Luhan, bertanya-tanya mengapa si mungil berterimakasih namun hanya dibalas gerakan malu oleh sang kekasih yang kini mendekap erat dadanya "Terimakasih untuk apa sayang?" katanya mengusap punggung Luhan.

Menebak apa yang akan diucapkan Luhan sampai si pria cantiknya mengatakan "Terimakasih sudah melamarku malam ini, terimakasih juga akan menjadikanku istri kurang dari satu minggu. Aku sangat bahagia dan masih belum mempercayainya. Terimakasih sayang."

Sehun tertegun, dia diam memperhatikan punggung mungil kekasihnya. Bertanya-tanya untuk apa Luhan mengucapkan terimakasih sampai tak lama bibirnya menyunggingkan senyum tipis lalu berkata "Simpan rasa terimakasihmu sayang. Kau harus tahu, aku menikahimu bukan untuk dirimu."

"Lalu untuk siapa?"

"Untukku, aku tidak akan bisa hidup jika bukan denganmu. Ketahuilah aku sangat mencintamu, melebihi aku mencintai diriku sendiri."

Tangan Luhan semakin melingkar sempurna di leher kekasihnya. Memeluknya erat sementara tubuhnya bergerak resah, takut jika Sehun benar-benar menyakiti dirinya sendiri jika mereka tak bisa bersama "Sehun kau membuatku cemas."

Sehun tersenyum. Diabaikannya kecemasan Luhan untuk mengecupi pucuk kepala calon istrinya "Nah pembicaraan kita selesai. Sekarang lekas tutup matamu karena kau harus bekerja lagi esok pagi."

"mmhh.."

"Selamat malam sayangku."

"Selamat malam Sehunna."

Dan tak lama Luhan benar-benar memejamkan matanya, tertidur sangat nyaman di pelukan sang kekasih sementara Sehun terisak seorang diri. Air matanya bahkan sudah membasahi punggung Luhan yang terus dikecup tanpa henti.

Entah apa yang mengganggunya, harusnya dia bahagia karena sudah mengatakan pada dua keluarganya dan Luhan tentang pernikahan mereka minggu depan. Harusnya dia bahagia karena Luhan akan benar-benar menjadi miliknya dalam hitungan hari.

Tak semestinya dia merasa begitu tertekan karena ketakutannya, tertekan karena mimpi buruk yang menghantuinya selama enam tahun, mimpi buruk bahwa nanti dia tak bisa lagi melihat Luhan, memiliki si mungil.

Dia takut, suatu hari nanti entah karena alasan apa Luhan akan berpaling darinya, melangkah pergi, meninggalkannya dalam sepi.

"Kumohon jangan buat mimpi burukku menjadi nyata Lu, aku takut, aku tidak bisa tanpamu sayang—hkss…sayangku.:

.

.

.

.

.

.

.

Berjarak lima ratus meter dari apartemen mewah dua putra mereka, maka di tempat yang berbeda terlihat dua ayah yang masih tak bergeming dari restaurant tempat dua putra mereka secara tak langsung menyatakan perang dengan keputusan mereka yang bertolak belakang.

Tak ada yang berbicara selama hampir dua jam. Kedua pria paruh baya itu seolah termenung dengan pikiran masing-masing.

Sesekali terdengar geraman, lalu tak lama terdengar suara menghela nafas sampai akhirnya pria berdarah Cina yang merupakan ayah kandung putra cantiknya, Luhan, membuka suara untuk menyudahi bisu dan diamnya dia sebagai seorang ayah.

"Lalu apa yang akan kau lakukan?"

"Kau bertanya padaku?"

Sinis memang, dua pria yang pernah berteman dekat itu kini saling melempar tatapan benci yang rasanya lucu jika diingat mengapa rasa benci berdasar kesalahpahaman mereka lantas terus berlanjut dan membuat dua putra mereka menderita.

"sial! Apa kau tidak mengerti? Apa kau masih menyalahkan aku tentang kejadian dua puluh tahun lalu? Tidakkah kau sadar kita membuat dua putra kita menderita HAH?"

Li Chen murka, urat wajahnya sudah terlihat karena terlalu marah dikaitkan dengan masa lalu yang ingin dia selamatkan "Seandainya bisa aku akan membawa jauh putraku pergi dari hidup putramu! Tapi setelah itu apa? Putramu hanya akan mati perlahan jika dijauhkan dari putraku!"

"…"

"Baiklah jika kau masih menuduhku membunuh ayahmu, aku tidak peduli. Yang aku pedulikan hanya Luhan dan aku akan menyeret putraku pergi dari altar di hari penikahannya. Aku tidak sudi dia memiliki hubungan dengan pria yang tak sudi dipanggil ayah olehnya, yang terus membencinya karena masa lalu yang kebenarannya bahkan tidak diketahui olehnya, oleh Jaksa agung sepertimu!"

"…"

"brengsek!"

Li Chen mendorong kasar kursinya, hatinya miris mengira bisa berdamai dengan calon mertua putranya, nyatanya Insung hanya jaksa bodoh yang dipenuhi dendam di hatinya. Dia tidak memikirkan segala kemungkinan dan hanya terus membencinya dan membuat dua putra mereka menderita bahkan di hari pernikahan yang sudah ditentukan olehnya.

"Jangan salahkan aku jika nanti putramu mati ditinggal putraku." Katanya sarkas dengan tangan terkepal erat. Berniat untuk segera pergi sebelum akhirnya sang jaksa mengeluarkan suara "Bantu aku."

Li Chen membeku di tempatnya, jika tidak salah dia mendengar sahabatnya mengatakan bantu aku. Gila memang, tapi saat dia menoleh untuk memastikan maka disaat yang sama Insung mengulang ucapannya dan mengatakan

"Bantu aku."

.

.

.

.

.

.

.

"Benarkah?"

"Ya Bos! Jaksa Oh dan Detektif Xi-….Dua putra mereka saling mencintai dan akan melangsungkan pernikahan minggu depan."

"Darimana kau tahu? Doojon bahkan belum memberi laporan padaku."

"Aku mengetahuinya langsung dari si bungsu Oh, hanya perlu sedikit jebakan untuk membuat remaja delapan belas tahun itu menceritakan seluruhnya padaku."

"menarik."

Pria keji itu menyeringai.

Jari telunjuknya mengetuk di atas meja seolah berfikir.

Dia kemudian menyentuh mata kirinya yang dibalut seperti seorang pirates sebelum menggeram dengan tangan terkepal erat mengingat insiden baku tembak dua puluh tahun lalu berhasil membuatnya kehilangan satu mata kirinya.

Ko Donghoon, pria tua berbadan besar dengan tato mengerikan di sekujur tubuhnya tersenyum. Dia menatap bangga pada satu orang kepercayaannya selain Doojoon yang ternyata selama ini bekerja untuk satu-satunya pria yang kematiannya sangat dia inginkan, Li Chen.

Dia pun mendekati pria yang memiliki tinggi sama dengan Doojoon lalu memeluknya seraya berbisik "Kerja bagus, Seunghyunna."

.

.

.

.

.

.

"bantu aku."

"Ada apa?"

Jaksa yang memiliki mata Sehun dan bibir Yunho itu segera mengangkat wajah, matanya dipenuhi kecemasan untuk berkata "Aku ingin sekali membunuh seseorang."

Buru-buru Li Chen kembali menarik kursinya, dia duduk tepat di depan Insung untuk memastikan bahwa tak ada yang salah dari pria yang dulu pernah sangat dekat dengannya "Apa yang kau bicarakan?"

"Aku memeriksa berkasmu selama penyelidikan. Aku mendapatkan seluruh copy file asli baik di Beijing maupun Seoul."

"Lalu?"

"Lalu aku mengetahui satu nama yang selalu tertulis di setiap berkas pemeriksaan."

"Ya, kau tahu cara kerjanya. Akan selalu ada nama yang tertulis jika dia ditargetkan sebagai tersangka."

Insung tertawa kecil lalu mengusap kasar wajahnya "Aku sudah mengetahui sejak lama jika kau tidak terlibat. Tapi aku butuh pelampiasan dan gilanya aku terus menyalahkanmu."

BRAK!

"bajingan! Tega sekali kau berbuat sejauh ini untuk menyakiti dua putra kita!"

Dan saat kemejanya dicengkram kuat oleh ayah dari pria yang begitu dicintai putranya, Insung tertawa lirih.

Dia begitu malu akan statusnya sebagai jaksa yang ia gunakan untuk menyalahkan seseorang. Kenyataannya dia memang tahu jika Chen tak pernah menjadi tersangka pembunuhan ayahya, tapi karena terlanjur menjadikan Chen sebagai pelampiasan rasa kehilangannya Insung tetap membenci Chen sepenuh hatinya.

Ya, dia bahkan bersumpah untuk terus menjadikan Chen tersangka tanpa tahu bahaya lain sedang mendekati keluarganya, setidaknya sampai satu minggu lalu dia masih membenci sahabatnya dan berniat untuk menemukan pembunuh sebenarnya.

Namun rupanya dia tak perlu mencari bajingan itu karena sama sepertinya, maka pembunuh sialan itu juga sedang mengincar keluarganya dan keluarga Chen tanpa rasa takut sedikit pun

"Ko Donghon."

"huh?"

"Yang membunuh ayahku, Ko Donghon?"

Cengkraman Chen terlepas dari kemeja Insung.

Tubuhnya lemas dengan tangan terkepal erat.

Tiap kali dia mendengar nama bajingan itu, maka bayangan Luhannya hampir terbunuh selalu menghantui mimpinya. Bayangan dimana bajingan itu menculik Luhan nyaris membuatnya gila karena tak kunjung mendapatkan putranya dalam tujuh hari.

Chen pun terduduk lagi di kursinya. Matanya membara penuh murka lalu membenarkan pertanyaan Insung tentang siapa Ko Donghoon "Ya, dia orangnya."

"jadi benar…."

"Apa?"

"Bajingan itu mendekati keluarga kita lagi."

"Mwo? Apa maksudmu? Bagaimana bisa?"

"Tiga hari yang lalu aku melihat Jaehyun berbicara dengan seseorang, aku merasa tidak asing dengan wajahnya. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi terdengar sangat serius. Dan ketika aku mencari tahu siapa pria itu, dia salah satu tangan kanan dari Ko Donghoon."

"Apa yang mereka bicarakan?"

"Bukan yang mereka bicarakan, tapi apa yang mereka tanyakan."

"Aku tidak mengerti."

"Dia hanya menanyakan tentang putramu, Luhan. Jaehyun mengatakan mengenal orang itu dari Luhan, jadi katakan siapa yang bodoh disini? Siapa yang tidak menyadari jika selama ini ada yang mengikutinya tanpa tahu sedikitpun? Putramu jelas dalam bahaya, tapi kemudian Sehunku bersumpah akan menikahinya! Bukankah itu artinya Sehun dan seluruh keluargaku akan terseret lagi dalam masalah dua puluh tahun lalu?"

"sial! Sial! Sial!"

"Bajingan itu terlalu berani. Dia terlalu—brengsek!"

"Bantu aku menangkapnya. Jika berhasil aku akan melupakan semua yang terjadi diantara kita. Aku akan merestui Luhan dengan Sehun dan mendoakan dua putraku untuk terus berbahagia."

Chen berhenti memukul meja yang membuat tangannya lebam. Dia menangkap tawaran yang demi Tuhan masih sangat dia ingin lakukan bahkan sebelum dirinya keluar menjadi detektif.

Ya, sebagai seorang mantan detektif maka rasanya wajar jika dia sangat mengingnkan menangkap bajingan yang sudah menyakiti putra kecilnya.

Dan sebagai seorang ayah, dia hanya ingin melihat putranya bahagia tanpa harus dibenci oleh darah dagingnya.

Jadi ketika tawaran sang jaksa terdengar sangat menarik maka dengan tak sabar Chen bergerak di tempatnya lalu bertanya "Apa kau yakin?"

"Kau hanya perlu membantuku menangkapnya, lalu aku akan mengangkat kasus dua puluh tahun lalu serta penculikan yang dia lakukan pada anak berusia dibawah tujuh tahun. Jika berhasil menangkapnya, aku akan memastikan hukuman mati untuk bajingan itu. Setuju?"

Chen benar-benar tergoda, dia bahkan mengangguk tanpa ragu untuk menawarkan hal gila yang sudah menjadi rencananya selama bertahun-tahun "Lakukan dengan rencanaku."

"Rencanamu? Apa kau sudah memiliki rencana?"

"Tentu saja. Ini adalah rencanaku dua puluh tahun yang lalu."

"Apa rencanamu?"

Entah mengapa rasanya Insung bisa melihat jiwa detektif Chen yang kembali berkobar, karena disaat dia mengatakan segala rencananya untuk menangkap Donghon maka disaat yang sama pula Chen bersemangat dan tanpa ragu mengatakan "Masukkan aku ke dalam penjara."

.

.

.

.

.

.

.

.

Keesokan hari….

.

"MWO? KALIAN AKAN MENIKAH MINGGU DEPAN?"

"yap!"

Meja kecil itu dilingkari oleh enam pria dengan paras yang sangat berbeda. Karena jika tiga pria yang masing-masing tangannya sedang melingkar di pinggang kekasih mereka terlihat tampan maka tiga pria lain yang sangat berisik dan terus berteriak akan terlihat sangat cantik dengan cara mereka masing-masing.

Saat ini pula, Luhan sedang membagikan undangan pernikahannya pada keempat sahabat terdekat untuknya dan Sehun. Berniat untuk memamerkan penantiannya selama enam tahun namun dibalas cibiran kesal oleh Baekhyun dan teman terseksinya, Kai saat ini.

"tsk! Yang benar saja! Jadwal pernikahan kalian bahkan lebih cepat dari milikku dan Kyungsoo!"

Luhan menoleh ke belakang, mencari mata calon suaminya lalu dengan riang bertanya "Yang hanya terus merencanakan akan kalah dengan yang menyebar undangan. Benar kan sayang?"

"Benar sayang."

"whoa….Adik bayi kau harus sabar, Lulu benar-benar membuat Mama geram."

Kali ini Kyungsoo yang kesal, dia membuat gerakan mengipas wajah dengan Kai yang terus mengusap lembut calon buah hatinya "Tenang sayang. Kita juga akan segera menikah."

"TAPI TETAP SAJA RUSA INI MENDAHULUIKU!"

"sshh… Soo tenanglah. Nanti keponakanku marah."

Sehun tertawa geli, dia juga ikut mengusap perut Kyungsoo namun sayang tangannya dipukul kencang oleh dua pasang kekasih yang segera menjadi ayah dan ibu "rrh.."

"YAK! KENAPA MEMUKUL CALON SUAMIKU?"

"ha ha ha….Suka-suka kami, iya kan sayang?"

"yap benar!"

Kai menimpali bangga perbuatan jahilnya dengan sang istri, membuat Luhan sebagai calon istri sah dari seorang Oh Sehun begitu geram lalu berniat membalas hal kekanakan dua sahabatnya "Sini biar kupukul, KEMARI KAU KIM JONG-…."

"PARK CHANYEOL!"

"astaga…"

Baik Luhan maupun Kyungsoo memekik kaget saat Baekhyun berteriak. Demi Tuhan Baekie mereka sudah jarang berteriak sejak enam tahun yang lalu, yang mereka tahu Baekhyun cenderung tidak peduli dengan apapun yang mereka lakukan dan hanya terus memasang wajah sok cool yang nyatanya justru membuat dia terlihat semakin cantik.

"Sayang kenapa berteriak?"

"Baekie kau kenapa?"

"Hey Bee..Baik-baik saja kan?"

Rasanya jengah ketika semua yang melingkari meja bertanya kau kenapa atau kau baik-baik saja?

Hell, tentu saja Jawabannya DIA TIDAK BAIK-BAIK SAJA!

Hatinya panas diliputi rasa iri. Karena disaat Kyungsoo dan Luhan membicarakan tentang pernikahan maka dia adalah satu-satunya yang sama sekali belum memiliki rencana pernikahan. Membuat si pemilik mata kecil itu mengepul asap di kepalanya untuk bertatapan langsung dengan kekasih yang sudah mengencaninya hampir sepuluh tahun "KAU!"

"w-wae?"

"KAU MANUSIA ALIEN YANG MENJENGKELKAN!"

"Aku apa?"

"PARK CHANYEOL!"

"astaga…"

Buru-buru Luhan melepas pelukan Sehun di pinggangnya, bergegas untuk menolong sahabat kesayangannya dengan berdiri tepat di depan pria yang Baekhyun katakan manusia alien "Kenapa kau terus berteriak pada Chanyeol?"

"MINGGIR KAU RUSA JELEK!"

"Lu baby, jangan ikut campur sayang. Biarkan Baekhyun menghabisi si alien."

"Shirheo! Kenapa juga aku harus membiarkan dia menghabisi Chanyeol."

Grep..!

"Park Chanyeol kenapa kau memeluknya sialan!"

Chanyeol pun dengan instingnya berlindung segera mendekap Luhan dan bersembunyi di punggungnya. Membuat kini tak hanya Baekhyun yang murka tapi juga Sehun yang secara refleks berdiri dan berniat menghajar si caplang jika tidak mengingat sedang berhadapan dengan si mungil yang kini memasang wajah "garang" ala "barbie" di wajahnya.

"Kau juga mau memukul Yeolieku?"

"Yeolieku?"

"Iya Yeolieku!"

"whoa…." Sehun tertawa menyeramkan untuk menatap death glare pada manusia alien yang benar-benar memeluk calon istrinya "Aku tidak ingin memukulnya, sungguh! AKU AKAN MEMBUNUHNYA! KEMARI KAU CAPLANG!"

"Sehun apa yang kau lakukan?"

Baekhyun juga refleks memeluk Sehun. menghentikan sahabatnya berbuat gila sementara pasangan Kai-Soo sedang tertawa geli saat ini. "ha ha ha…Ayo Sehunna jangan mau kalah dari si rusa." Ujar Kyungsoo dibalas provokasi dari Kai.

"Ayo Lu babyku. Jambak saja rambut kekasihmu, jangan biarkan dia menyakiti Yeoliemu."

"ish!"

Kyungsoo menghantam perut Kai hingga terdengar ringisan kecil dari pria yang akan segera menjadi ayah kurang dari tiga bulan ini.

"berhenti…..berhenti….AKU BILANG BERHENTI!"

Baekhyun sukses membuat Sehun kembali duduk di tempatnya. Walau nyatanya dia terus berusaha memukul Chanyeol tapi setidaknya Sehun duduk. Berbeda dengan Luhan dan Chanyeol yang masih saling berpelukan dan membuatnya benar-benar panas saat ini.

"Lepaskan tanganmu dari Luhan."

"andwae! Yeolie harus tetap memelukku jika ingin hidup. Lagipula kenapa kau bersikap menjengkelkan Baek."

"Luhan…"

Luhan mengabaikan peringatan sang kekasih. Yang dia lakukan hanya fokus pada serangan Baekhyun hingga lupa bahwa mau bagaimanapun tenaga Sehun sepuluh kali lebih kuat darinya

"arrgh! SEHUN SAKIT!"

Pergelangan tangannya berwarna merah ketika Sehun menariknya paksa. Dan tanpa menyesal si pemilik rusa cina itu hanya memaksa Luhan duduk di pangkuannya sementara tangan kanannya mengusap lembut pergelangan Luhan yang sedikit merah karena dia terlalu kasar.

"Sehun jangan menatapku seperti itu, kau terlihat menakutkan."

Nyali Luhan menciut saat tatapan Sehun berubah begitu menyeramkan, dia juga meniup kasar pergelangan tangannya tanpa mengatakan satu kata pun yang membuat Luhan benar-benar takut "Sehun jangan marah." Katanya merengek lalu bersembunyi memeluk erat leher kekasihnya. Terlalu erat hingga Sehun tertawa kecil dan menyerah untuk marah "Jangan nakal dan hanya duduk dipangkuanku." Katanya mengusap lembut punggung Luhan dibalas gumam lirih oleh sang kekasih.

"Tapi Yeolie…"

"Diam."

"araseo…araseo…Aku diam." Katanya jengkel namun tetap memeluk kekasihnya sesekali mengintip apa yang akan dilakukan Baekhyun pada Chanyeol.

"PARK CHANYEOL!"

"y-Ya sayang? Ada apa? kenapa kau terus berteriak?"

"Ini peringatan terakhir untukmu."

"Peringatan?"

"YA!"

"Peringatan apa sayang?"

"Jika kau tidak menikahiku setelah pernikahan Kai dan Kyungsoo, Aku Byun Baekhyun secara resmi meminta PUTUS DARIMU!"

"MWO?"

"bagus Bee."

Sehun bergumam senang sementara Luhan membuka lebar mulutnya tanda dia mengerti mengapa Baekhyun terus berteriak "ah…ternyata dia ingin dinikahi." Katanya terkikik geli sebelum terdengar suara

BRAK!

Dari kursi di toko kue milik sang ayah yang didorong kencang oleh Baekhyun.

"BAEKHYUNNA"

Dengan menjinjing sneli putihnya, Baekhyun berlari meninggalkan toko kue ayah Luhan segera bergegas pergi sementara Kyungsoo membuat gerakan lain dengan mengancam Chanyeol yang masih terlihat pucat saat ini "Jika kau membuat sahabatku menangis, kupotong telingamu!"

"YAK! KENAPA KAU INGIN MEMOTONG TELINGA CHANYEOL!"

Satu peringatan mengerikan dari Kyungsoo mengalahkan teriakan protes dari Luhan. Membuat si pemilik mata rusa dan penguin itu kembali bertengkar namun dilerai oleh kekasih mereka masing-masing.

"mati aku…."

"Tenang saja Yeol, aku akan melindungimu." Gumam Luhan yang dihadiahi cubitan kencang di pinggangnya "Sehunnie sakit."

"Berhenti mengatakan akan melindungi seseorang!"

"wae?!"

"Karena tubuhmu terlalu mungil untuk melindungi raksasa seperti Chanyeol. Harusnya kau saja yang dilindungi." Katanya gemas lalu menangkup wajah Luhan, mencium seluruh wajah kekasihnya sampai terdengar suara lirih Chanyeol bergumam Kenapa Baekhyun terlihat sangat menggemaskan."

"huh?"

Chanyeol tersenyum geli, dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari jas kerjanya untuk menunjukkan box kecil yang baru saja dia beli malam tadi "Itu apa?" tanya Kyungsoo.

Chanyeol kemudian membuka box kecil tersebut dan tak lama terlihat cincin yang begitu cantik terdapat di dalam box "Aku memang akan melamarnya di pernikahan Kalian." Katanya melirik Kai dan Kyungsoo diiringi suara teriakan Luhan yang lagi-lagi sangat berlebihan.

"ASTAGA ASTAGA ASTAGA! JADI KITA SEMUA AKAN MENIKAH? AAARHHH—Kau manis sekali Yeol!"

Terlalu senang Luhan kembali bersembunyi di tengkuk Sehun. melonjak di pangkuan kekasihnya sampai terdengar pertanyaan Sehun yang membuatnya terlihat sangat menggemaskan "Kalau aku manis tidak?"

Luhan terkekeh, ditangkupnya wajah tampan sang kekasih lalu menciumnya telak dari mata hingga turun ke bibir "Sehunku sempurna." Katanya bangga dan kembali melumat lembut bibir kekasihnya. Dia sengaja menekan kuat tengkuk Sehun hingga dua bibir mereka menyatu dengan sempurna.

"Baby. Aku juga ingin menciummu."

Tak mau kalah dengan Luhan, Kyungsoo pun menarik tengkuk calon suaminya. Melumatnya tak kalah panas dengan Luhan hingga desahan terabaikan terdengar dari Chanyeol "Baby, aku juga menciummu." Katanya pasrah dan tak sengaja melihat seseorang berjalan mendekat mengantar pesanan mereka.

"Ekhem!"

Baik Luhan maupun Kyungsoo sama-sama melepas lumatan mereka di bibir kekasih masing-masing. bersikap salah tingkah sementara Kai dan Sehun menatap tak suka pada pria berpostur tinggi yang kin meletakkan roti dan secangkir kopi di meja mereka.

"Maaf mengganggumu Luhan, tapi ini pesanan kalian."

"he he he….Gomawo hyung."

"Tidak masalah. Silakan menikmati pesanan kalian. Aku permisi." Katanya beranjak pergi namun urung dilakukan saat Luhan berteriak

"SEUNGHYUN HYUNG!"

Pria bernama lengkap Choi Seunghyun itu kembali menoleh, menatap Luhan bertanya sampai pria yang diam-diam dia awasi ini tersenyum dan memberitahu "Aku akan menikah dengan Sehun."

"huh?"

"Aku akan menikah."

"ah-…..Benarkah?"

"Tentu saja hyung. Kau datanglah minggu depan, aku dan Sehun akan segera menikah."

"Sayang dia siapa?"

Sehun berbisik dibalas oleh jawaban lembut kekasihnya "Kau tidak ingat dia? Dia Seunghyun hyung. Pegawai ayahku."

"Begitukah?"

Refleks, Sehun menatap pria bernama Seunghyun itu, memiliki entah perasaan yang begitu buruk pada pria yang baru dia temui dalam enam tahun. Rasanya janggal mengingat Luhan begitu dekat dengannya, namun saat Luhan menyapanya begitu akrab maka sepertinya Sehun tak memiliki pilihan lain selain menyapa satu lagi pria yang bisa membuat kekasihnya bahagia.

"Hay, Aku Sehun kekasih Luhan, jika ada waktu datanglah ke pernikahan kami."

Seunghyun membalas tatapan Sehun sama dinginnya, berusaha untuk tidak bertingkah mencurigakan dan menarik simpul di bibirnya untuk mengatakan "Aku akan datang." Katanya menyanggupi undangan Sehun dan Luhan dan tak lama berpamitan untuk kembali bekerja "Aku harus kembali bekerja, nikmati makanan kalian."

"Baik hyung, terimakasih." Katanya membalas Seunghyun untuk beralih pada Kyungsoo "Soo, habiskan cheese cake milikmu lalu segera kembali ke rumah sakit."

"Oke."

Mengabaikan dua kekasih mereka yang masih menatap tak berkedip pada Seunghyun, Luhan dan Kyungsoo pun bergegas menghabiskan cheese cake pesanan mereka. Berniat untuk segera datang ke rumah sakit sebelum

Drrt…drrtt..

"Sayang ponselmu."

Sehun tersadar dari lamunannya. Dia kemudian mengangguk sebelum sedikit mengangkat tubuh Luhan untuk merogoh saku celananya.

Drrt…drtt…

Tatkalan nama aboji tertera di layar ponselnya, Jantung Sehun berdegup sangat kencang namun dia menutupinya dari Luhan. Yang dia lakukan hanya bersikap tenang sebelum menggeser slide ponselnya untuk mendengar suara sang ayah yang mengatakan

"Temui ayah malam ini di kantor kejaksaan, kita perlu bicara dan jangan beritahu Luhan."

Sehun terdiam sedetik, mempelajari nada bicara ayahnya yang terdengar cemas lalu tak lama membalas "Baiklah."

Pip!

"Siapa?" Luhan bertanya namun dibalas senyum olehnya. Sekali lagi Sehun mencium bibir kekasihnya dan mengatakan "Tidak penting sayang. Ah ya-…Hari ini kau pulang jam berapa?"

"mmh…Delapan malam. Aku mengambil dua shift hari ini."

"Begitukah? Baiklah Kai, aku titip Luhan, antar dia pulang ke apartemen kami."

"Baiklah tidak masalah."

"Sepertinya tidak bisa."

Kyungsoo mengoreksi jawaban Kai, menatap tak enak hati pada sahabatnya lalu menjelaskan bahwa keduanya harus memeriksakan adik bayi mengingat malam tadi dia mengalami kontraksi "Adik bayi, perutku mengalami kram malam tadi. Aku takut Luhan akan menunggu lama."

"ah benar….Kau mau menungguku Lu?"

"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Aku akan pulang dengan taksi saja."

"Tidak bisa, aku akan menjemputmu saja kalau begitu!"

"Sayang kau sibuk. Lagipula aku tidak mau menunggu lama. Taksi tidak masalah, sungguh."

Sehun diam sejenak, berfikir akan membiarkan Luhan pulang seorang diri atau hanya mengantarnya pulang lebih dulu sebelum menemui ayahnya "Aku rasa aku bisa menjemputmu."

"Jika kau melakukannya aku akan sangat kesal."

"wae?"

"Enam tahun aku hidup mandiri, lalu kau datang dan terus memperlakukan aku seperti seorang ratu. Asal kau tahu ya Oh Sehun, aku tersinggung."

Sehun terkekeh lalu mengigit gemas bibir kekasihnya "Serius Lu?"

"Serius!"

"Baiklah…Baiklah, kau bisa pulang sendiri. Jam delapan malam dari rumah sakit itu artinya jam sembilan kau sudah harus sampai di aparetment."

"oke!"

"on time."

Luhan bergerak manja di pangkuan kekasihnya lalu berbalik mencium gemas bibir Sehun "on time."

.

.

.

.

.

.

.

.

Malam hari

.

"whoa….Aku rasa calon suamiku sangat sibuk. Dia bahkan tidak mengabariku sama sekali hari ini."

Jujur saja Luhan merasa kesepian, karena setelah sibuk dengan seluruh pasien gawat daruratnya dia mengira akan mendapat hiburan dari sang kekasih. Tapi kemudian dia terkekeh, merutuki betapa manja dia pada perhatian Sehun hingga tak sadar menyalahkan kekasihnya sementara dia tahu Sehun sedang sibuk memperjuangkan masa depan mereka.

"haah~ Jika nanti sudah menikah aku tidak akan membiarkan Sehun mengabaikanku, tidak akan pernah!" ujarnya berkobar semangat dan sesekali melirik taksi di sekitar halte namun tak ada satupun yang lewat.

"Harusnya aku membawa mobil."

Luhan melirik arlojinya, dan saat waktu menunjukkan pukul 20.15, itu artinya dia sudah menunggu selama lima belas menit seorang diri "membosankan sekali." Katanya kembali duduk malas di halte sebelum berujar sangat bahagia melihat satu taksi mendekat "Ah! Itu dia!"

Buru-buru Luhan membuat gesture memberhentikan taksi, disusul senyum karena taksi itu segera berhenti tepat di depannya lalu bergegas membuka pintu taksi sebelum

Sret…!

"Arh…"

Tubuh Luhan gontai ketika seseorang menarik paksa tas yang berisi ponsel dan dompetnya. Posisinya bahkan sudah setengah terjatuh sampai supir taksi itu panik dan memberitahu Luhan bahwa dia baru saja kehilangan tasnya "Tuan! Tas anda dicuri!"

"tas? Dicuri? MWO?"

Membutuhkan waktu sepersekian detik untuk Luhan menyadari situasi. Dia pun segera berdiri membersihkan debu di tangannya sebelum menggeram sangat kesal "dasar bocah tengik!" dia yakin sekali yang mengambil paksa tasnya adalah bocah kecil yang begitu lincah.

Namun salah jika bocah tengik itu mengira Luhan tak kalah lincah,

Ah-…Jangan lupakan semasa sekolah dulu dia adalah kapten tim bakset dan futsall. Jadi rasanya mustahil dia tidak gesit dalam berlari karena Luhan benar-benar sedang berlari kencang saat ini.

Dia mengikuti kemungkinan si bocah tengik berlari membawa tasnya lalu tersenyum puas melihat mangsanya berada di depan mata "YAK! KEMBALIKAN TASKU! Y-YAK BOCAH TENGIK—SIAL! Kenapa larinya cepat sekali."

Luhan menggerutu tapi tetap mengejar si pencuri kecil. Awalnya dia masih sangat bersemangat tapi saat nafasnya mulai tersengal, Luhan kelelahan. Dia juga berniat berhenti sampai tak jauh di depan matanya terdengar bunyi debuman kencang tanda seseorang terjatuh.

"kena kau!"

Buru-buru Luhan berlari menghampiri si pencuri kecil. Langkahnya yang sempat kelelahan tiba-tiba menjadi bersemangat melihat seorang remaja yang berhasil menjegal si pencuri kecil dan menolong serta mengambil tasnya yang dicuri "HEY JANGAN LARI!"

"Biarkan saja."

"huh? Kau tidak ingin mengejarnya?"

"Tidak perlu."

"Kalau begitu ini tas anda."

Luhan berjalan semakin mendekat, mengambil segera tas miliknya sebelum mengucapkan rasa terimakasihnya "Terimakasih sudah menolongku."

"Tidak masalah, hanya kebetulan aku lewat, lain kali kau harus berhati-hati."

"Ya tentu saja. Aku akan-…."

Dan ketika langkah kaki Luhan semakin mendekati si remaja, maka saat ini, tepat di bawah cahaya remang lampu malam dia bisa melihat jelas wajah remaja yang beberapa menit lalu telah menolongnya.

Keduanya bertatapan cukup lama sampai Luhan memekik menyadari bahwa remaja bertopi merah didepannya memakai topi merah adalah remaja yang sama yang merupakan pasiennya dan menghilang beberapa hari yang lalu.

"eoh! Kau—Bukankah kau pasienku?"

Senang Luhan mengenalinya, remaja tersebut membuka topi merahnya. Tersenyum sangat cantik sebelum membungkuk untuk menyapa Luhan "Senang kau mengingatku, hyung."

Lagi-lagi Luhan dibuat bertanya-tanya. Melipat tangannya di atas dada lalu bertanya sedikit menyelidik "hyung?"

.

.

.

.

.

.

.

BLAM…!

"Benarkah pembunuhnya seorang detektif."

"Lalu kapan kami bisa menyiarkan beritanya."

Di tempat yang berbeda, terlihat Sehun sedang berjalan memasuki kantor kejaksaan. Awalnya dia tidak peduli pada keramaian yang terjadi di kantor kejaksaan. Tapi seiring dengan langkahnya menuju ke ruangan sang ayah maka disaat yang sama pula Sehun menyadari bahwa ada beberapa wartawan yang terlihat begitu antusias mendapatkan entah berita apa yang sepertinya begitu ingin disebarkan pada publik.

Benarkah ini kasus dua puluh tahun lalu?

"ayolah! Sudah dua puluh tahun berlalu kenapa kasus ini kembali diangkat ke publik?"

Sehun tak peduli dengan seluruh wartawan dan anggota kejaksaan yang sedang bersiap memberikan klarifikasi. Yang dia lakukan hanya terus berjalan menuju ruangan ayahnya untuk mengetahui entah apa yang ingin ayahnya bicarakan di tempat kerjanya.

Cklek…

Dan ketika pintu ruang kerja sang ayah dibuka, maka tak ada yang lebih mengejutkan untuk Sehun ketika melihat hampir seluruh keluarganya berkumpul –tidak- bukan hanya keluarganya tapi juga keluarga Luhan.

Yang membedakan tak ada Luhan bersamanya, dia hanya seorang diri untuk melihat ketegangan di seluruh wajah keluarganya dan keluarga Luhan "a-Ada apa ini? Kenapa kalian semua berkumpul disini?"

"Sehun kau sudah datang?"

Adalah Yunho –sang kakak- yang lebih dulu menyapanya. Dia kemudian memaksa Sehun masuk ke dalam ruangan sementara seribu pertanyaan jelas terlihat di wajah adik kecilnya "Hyung ada apa?" lirihnya terlalu bingung.

"hksss…hkss…"

Ditambah tangisan pilu ibu kandung Luhan, membuat wajah Sehun begitu pucat dan mual seketika dia rasakan "Ada apa? Kenapa mama menangis?—kenapa, KATAKAN PADAKU!"

"Sehun tenanglah."

"Tenang? Rasanya aku seperti akan mati melihat kalian berkumpul. Apa ini salah satu rencana untuk memisahkan aku dan Luhan?"

"Sehun dengarkan lebih dulu, mama mohon nak."

Sehun gusar, dia tak bisa tenang jika pikiran tentang dipisahkan dari Luhan terus menohok hingga ke jantungnya. Dia marah, setidaknya dia berharap sang ayah berbicara satu patah kata bukan hanya diam dan menatap sendu ke arahnya.

"sial!"

Sehun menghempas tangan Yunho di pundaknya, detik kemudian dia berjalan mendekati sang jaksa untuk bertatapan langsung dengan pria paruh baya yang selama dua puluh enam tahun dia jadikan sosok yang begitu ia hormati, begitu dia cintai bahkan hingga hari dimana dia menentang hubungannya dengan satu-satunya pria yang Sehun cintai "Kenapa papa hanya diam? Bicara sesuatu padaku Pa! Kenapa papa memintaku datang tanpa berbicara satu kata pun?"

"….."

"Bicara padaku Pa. Apalagi rencanamu untuk memisahkan aku dan Luhan?"

"…"

"PAPA!"

"Dengarkan papa baik-baik nak. Kau tidak perlu sedih dengan hal yang akan kau ketahui sebentar lagi. Karena apapun yang akan terjadi malam ini, percayalah semua itu kami lakukan hanya untuk melindungimu dan Luhan."

"huh?"

"Papa merestuimu dan Luhan, hanya bertahanlah sebentar lagi. Jangan membenci kami lagi. Kami hanya dua pria tua yang begitu mencintai putra kami."

"Kami?"

Pria paruh baya yang mengenakan jubah hitam bergaris merah yang merupakan jubah kehormatannya di setiap persidangan itu terlihat semakin sendu untuk menujuk satu ruangan yang Sehun ketahui adalah ruang interograsi seorang tersangka "Masuklah dan kau akan mengetahui alasan kenapa kami semua berkumpul disini."

"Ada apa disana?"

"Jika kau masuk ke ruang interograsi kau akan segera tahu nak."

Sehun bimbang, harusnya dia bahagia karena nada dan cara bicara sang ayah sudah benar-benar kembali seperti ayahnya. Tapi ketika tatapan sendu itu terus menatapnya maka rasanya Sehun lebih memilih ayahnya yang kemarin daripada ayahnya hari ini.

Dia takut,

Takut jika dia berjalan ke ruang gelap dan kedap suara itu, dirinya akan menemukan kenyataan yang bisa membuatnya dan Luhan terpisah.

Luhan , Luhan, Luhan

Seluruh kepalanya hanya berisi si pria mungil yang mungkin sedang merasa bosan karena berada di apartement seorang diri.

Sehun bahkan sangat tergoda untuk berjalan meninggalkan kantor sang ayah dan hanya memeluk Luhannya sepanjang malam.

Ya dia sangat tergoda.

Jika bukan karena tatapan sendu ayahnya, tatapan meyakinkan dari kakaknya, serta tatapan menguatkan dari dua wanitanya dan Luhan, mungkin Sehun hanya akan pergi berlari dan tak ingin mengetahui apapun yang terjadi di dalam sana.

Tapi ketika seluruh keluarganya menatap seolah mengatakan semua akan baik-baik saja maka putra ke dua dari tiga bersaudara itu mengalah. Kakinya kini berjalan menuju ruang investigasi yang berada tepat disamping ruangan sang ayah.

Jantungnya berdegup kencang dengan perasaan mual yang sedari tadi dirasakannya. Sehun benar-benar gugup. Terlalu gugup hingga tanpa sadar tangannya membuka pintu ruang investigasi untuk menemukan sosok yang begitu familiar untuknya.

Sosok yang malam tadi masih menatap penuh benci padanya kini menatapnya lembut, tersenyum begitu lirih sementara Sehun masih tak berkedip dan begitu terkejut menyadari bahwa dua tangan ayah kekasihnya kini dipakaikan borgol, layaknya seorang kriminal.

"aboji."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jadi namamu Taeyong?"

"Mmhh...slurrrpp.."

Remaja yang Luhan tebak memiliki usia sama dengan Jaehyun itu terlihat lahap menghabiskan mangkuk ramen keduanya dalam setengah jam. Dia tak banyak bicara, hanya sesekali menjawab dengan berdeham atau terkadang mengangkat ibu jarinya sebagai jawaban

"Namaku Taeyong. Lee Taeyong slurrpppaah~."

Habis sudah mangkuk kedua ramennya malam ini, dia tersenyum sangat puas lalu berterimakasih pada Luhan "Gomawo hyung."

"Nah kau memanggilku hyung lagi."

Si remaja mengernyit bingung, dia kemudian menyingkirkan mangkuk ramen yang mengganggu untuk menatap Luhan lebih dekat "Wae? Kau tidak suka dipanggil hyung? Apa aku harus memanggilmu dokter Xi?"

"Aniya, Bukan begitu. Hanya saja kau terlalu akrab memanggilku hyung."

"Tidak boleh?"

"Ish! Kau ini...Bukan seperti itu maksudku."

"Lalu seperti apa maksudmu?"

Luhan kini bertumpu di tangannya. Menatap lama wajah Taeyong sesekali mengingat apakah dia mengenal Taeyong atau memang remaja di depannya ini hanya asal memanggilnya hyung mengingat statusnya yang tidak memiliki keluarga.

"Masalahnya kau orang asing. Lalu mengapa malam itu memanggilku seolah kau mengenalku?"

"Karena aku memang mengenalmu."

"Benarkah?"

"Mmhh... ah ya, apa kau akan memakan ramenmu atau hanya akan kau jadikan pajangan?"

"Pajangan?"

Luhan mengerjap lucu beberapa kali, bertanya-tanya apa maksud remaja di depannya sampai tak sengaja melihat mata Taeyong hanya tertuju pada ramen miliknya "ah-...Kau mau lagi?"

"Jika tidak kau makan aku bersedia menghabiskannya."

Buru-buru Luhan memberikan mangkuk ramennya pada Taeyong. Dia juga memberikan pangsit kering yang mereka pesan lalu tertawa menyadari bahwa remaja di depannya benar-benar mirip seperti Jaehyun, adiknya "Ini makanlah. Habiskan sebanyak yang kau mau."

"Terimakasih."

Selagi Taeyong menghabiskan ramen miliknya, Luhan kembali menatap si remaja. Menatapnya begitu detail berharap bisa mengenali atau mendapatkan ingatan apapun tentang remaja di depannya. "Sssshh....tetap tidak ingat." Katanya menggerutu pelan sebelum memutuskan bertanya pada Taeyong.

"Hey Lee Taeyong."

"Hmmh?"

"Berapa usiamu?"

"Delapan -slurp- belas."

"Jadi benar kau seusia Jaehyun."

"Jaehyun?"

"Lupakan. Sekarang jawab pertanyaanku dengan benar dan tegas. Oke?"

Slurrrppp...

Remaja berparas cantik itu bahkan mengangkat mangkuk untuk menyesap seluruh kuah ramen. Terlihat sangat tidak sopan tapi sepertinya Taeyong bukan tipe remaja yang suka berpura-pura baik di depan orang yang lebih tua.

"Ah....Ramen benar-benar terbaik." Katanya mengusap perut tanda dia benar-benar kenyang sebelum menatap Luhan yang terlihat sedikit jijik menatap padanya "Wae?"

"Aniya, tapi menurutku kau sedikit berlebihan. Itu hanya ramen."

"Aku jarang memakan makanan enak seperti ramen."

"huh?"

"Lupakan hyung. Ah ya, tadi kau ingin bertanya apa?"

Tiap kali Taeyong memanggilnya hyung, maka ada sedikit perasaan bersalah yang Luhan rasakan. Dia benar-benar tidak mengenal siapa remaja di depannya. Pikiran konyolnya bahkan menebak bahwa dia adalah adiknya yang dibuang oleh kedua orang tuanya.

Namun detik berikutnya dia terkekeh dan menggeleng dengan cepat.

"Ssshh...Kau membuatku bingung." Katanya mengambil cepat kaleng bir yang dia pesan lalu menenggaknya rakus untuk bertanya

"Apa aku mengenalmu?"

Taeyong sedikit berfikir lalu menggeleng dengan sangat yakin "Tidak."

"Syukurlah. Sudah kuduga kita tidak saling mengenal." Katanya lega dengan bir yang kembali dia tenggak. Sedikit tertawa sebelum Taeyong tiba-tiba berujar begitu serius.

"Tapi kau mengenalnya."

"Mengenal siapa?"

"Dia."

Buru-buru Luhan menoleh, mencari tahu siapa yang Taeyong tunjuk sampai dua matanya membulat lebar menyadari bahwa pria yang sedang ditunjuk Taeyong adalah pria yang beberapa hari lalu membentaknya di rumah sakit.

Pria berparas dingin yang kini tengah menatapnya tajam adalah pria yang tang terkenal dengan julukan Mad Man dan tak lain merupakan pembimbingnya di rumah sakit.

Uhuk!

Refleks, Luhan menyemburkan bir yang sedang dia minum. Buru-buru dia membersihkan sudut bibir untuk memastikan sendiri bahwa pria yang kini menatapnya terlampau tajam adalah Yoon Doojoon, profesornya.

"Profesor?"

"Kau benar-benar tidak mengenalnya hyung?"

"huh? Tentu-...Tentu saja aku mengenalnya."

"Tapi kau masih memanggilnya professor."

Luhan salah tingkah, ingin rasanya dia membekap mulut Taeyong dan menghentikan omong kosong yang sedari tadi diracaukan remaja sialan di depannya. "Dia memang profesorku."

"Bukan."

"Y-yak! Berani sekali kau bocah."

"Terserahmu saja! Hey Hyung! Cepat duduk dengan kami!"

"Hyung?"

"Ada masalah?"

"Kalian saling mengenal?"

"Dia hyungku."

Luhan tertawa pahit seraya bergumam "ini gila." Katanya putus asa lalu terdengar Doojoon menarik kursi tepat di depannya "Boleh aku bergabung?" tanya sang professor dibalas anggukan oleh Luhan dan Taeyong.

"Tentu saja hyung / Silakan professor."

Doojoon kembali tak acuh, dia hanya menarik kursi untuk menatap tegas pada Luhan "Jangan panggil aku professor. Ini bukan jam kerja."

"Lalu aku harus memanggilmu apa?"

"HYUNG!"

"huh?"

Baik Doojoon maupun Luhan sama-sama menatap remaja disamping mereka. Memberikan tatapan sinis sebelum Luhan lebih dulu mencibir "gila!"

"Taeyong benar panggil aku hyung."

"whoa..Kepribadian anda benar-benar berbeda Professor Yoon."

"Aku tidak memiliki dua kepribadian, aku hanya tidak suka diusik. Jadi ketika aku mengatakan panggil aku hyung, maka kau harus memanggilku hyung!"

"Dan kenapa aku harus memanggilmu hyung?"

"Karena aku lebih tua darimu."

"ck! Alasan anda terlalu naif professor. Aku tidak memiliki hyung dan selamat malam, aku harus segera pulang karena kekasihku menunggu."

Katanya mendorong kursi di kafetaria. Bersiap untuk pergi sebelum suara berat Doojoon terdengar sangat lirih "Karena aku hyungmu, benar-benar hyungmu."

Luhan diam di tempatnya, rasanya gila melihat seseorang dengan dua kepribadian yang sangat berbeda. Karena disaat Doojoon menjadi seorang professor dia akan sangat mengerikan, namun ketika dia hanya menjadi pria biasa, maka sang professor terlihat dua kali lebih mengerikan.

Membuat Luhan benar-benar panik dan menyesal karena tidak langsung kembali ke apartement seperti janjinya pada Sehun.

"Saya tidak mengerti ucapan anda professor. Saya anak tunggal dan jikalaupun saya memiliki hyung, itu hanya satu, Yunho hyung."

"Jadi kau benar-benar tidak mengenaliku?" katanya pahit disambut tatapan bingung dari Luhan "Apa kita pernah bertemu?"

"Kita bukan hanya bertemu Lu, kita bertahan hidup, bersama."

Rasanya canggung saat orang asing memanggil nama kecilmu.

Dan karena hal itu pula Luhan bergedik ketakutan. Dia memutuskan untuk segera pergi dan hanya meninggalkan dua orang asing di depannya "Mungkin anda salah mengingat professor, kita tidak pernah bertemu sebelumnya dan saya permisi."

Buru-buru Luhan mengambil tasnya, berniat untuk pergi sampai lagi-lagi Doojoon bergumam namun kali ini terasa familiar di telinga Luhan.

Kau tenang saja hyung, ayahku seorang detektif. Dia akan segera datang dan menyelamatkan kita, aku janji padamu hyung. Jangan takut

DEG!

"tidak."

Luhan kembali menoleh, menatap pria yang entah darimana bisa mengetahui janji yang dia ucapkan dua puluh tahun lalu, janji yang Luhan ucapkan pada anak lelaki lain yang juga diculik bersamanya, yang begitu ketakutan karena selama dua minggu mereka terus dipukuli dan nyaris dibunuh jika melawan perintah mereka.

Luhan benar-benar gugup, tangannya berkeringat lalu tak lama dia mencari mata Doojoon, menatapnya cukup lama untuk mencaritahu siapa professor yang dijuluki mad man dirumah sakit tempatnya bekerja

"Sudah ingat?"

"S-siapa kau?"

Doojoon tersenyum pahit detik berikutnya dia melipat tangan di atas dada untuk mengatakan "Aku Joonie hyungmu."

"tidakmungkin…"

Kaki Luhan lemas, dia berpegangan pada satu kursi dengan erat.

Matanya seolah melihat hantu yang terus mengganggu malamnya selama dua puluh tahun, yang membuat traumanya semakin hebat kala mengingat tak bisa menepati janji pada sosok anak lelaki berusia sepuluh tahun yang ternyata masih hidup, yang kini telah menjelma begitu sempurna "Ayahku bilang hanya aku yang selamat, jadi bagaimana mungkin kau Joonie hyungku?"

"Ayahmu berbohong."

"Apa maksudmu?"

Luhan terlalu bingung saat ini, dia tidak bisa menangkap apapun selain sosok yang dulu begitu melindunginya benar-benar masih hidup dan menceritakan apa yang terjadi dua puluh tahun lalu.

"Duduklah."

Dia pasrah saat Taeyong kembali membawanya duduk. Remaja delapan belas tahun itu seolah memberi waktu luang agar mereka bisa berbicara, agar tak ada lagi kesalahpahaman yang menghantui satu sama lain selama dua puluh tahun.

"Dua puluh tahun yang lalu tepat setelah kau menggantikan aku untuk dipukuli dengan ikat pinggang, kau demam hebat. Tiga jam kau tidak sadarkan diri dan masuk ke satu jam berikutnya, tepat dua minggu kita diculik, seseorang datang menemukan kita berdua, itu ayahmu."

"Lalu apa yang terjadi? Kenapa Papa tidak membawamu ikut pergi."

"Karena dia memang hanya ingin menyelamatkan dirimu."

"tidak mungkin. Ayahku seorang detektif saat itu, tidak mungkin dia meninggalkan korban lain di tempat penculikan. Tidak mungkin dia-…."

"TAPI DIA MELAKUKANNYA!."

Luhan tersentak, tubuhnya gemetar dengan tangan yang tak bisa digerakkan karena terlalu lemas.

Entahlah.

Dia terlalu bingung karena mendapatkan cerita yang berbeda setelah dua puluh tahun.

Karena disaat ayahnya mengatakan tidak ada yang bertahan hidup selain dirinya maka disaat yang sama pula Doojoon bersikeras mengatakan bahwa ayahnya meninggalkan dia di gudang tua mengerikan di Beijing.

Membuat seluruh kejadian itu kembali terulang dan masih begitu terekam jelas diingatan Luhan, rasanya seperti kemarin.

"bagaimana mungkin?"

"Dia mengatakan akan membawamu ke rumah sakit lebih dulu, dia bilang akan kembali menjemputku setelahnya. Tapi kau tahu apa yang terjadi? Dia tidak pernah datang lagi, AYAHMU MENINGGALKAN AKU DENGAN BAJINGAN SIALAN ITU!"

"Kau pasti salah paham. Tunggu, aku akan menghubungi ayahku. Aku akan-…."

"LUHAN!"

Belum sempat Luhan mendapatkan ponselnya, kini terdengar lagi suara yang memanggilnya begitu ketakutan.

Baik Doojoon maupun Luhan sama-sama menoleh ke asal suara.

Keduanya juga memberikan respon berbeda.

Karena disaat suara berat itu memanggil Luhan, maka Doojoon secara refleks menggenggam jemari Luhan untuk membawa Luhan ke belakang tubuhnya, menjauhkan Luhan dari pria sialan yang merupakan kaki tangan Donghoon selain dirinya.

"Mundur."

"Seunghyun hyung?"

Yang dipanggil hyung oleh Luhan diam-diam menyeringai menatap Doojoon. Memberi tatapan seolah mengejek lalu kembali fokus untuk memprovokasi Luhan malam ini.

"LUHAN INI GAWAT!"

"Ada apa—arh!"

Entah mengapa genggaman tangan Doojoong begitu erat di pergelangan tangannya. Luhan bahkan harus meringis sakit sebelum pertanyaan "Apa kalian saling mengenal?" Luhan lontarkan hingga membuat Doojoon melepas tangannya dan membiarkan Luhan berbicara dengan Seunghyun, partner kejinya di organisasi.

"Dan kau hyung." Katanya menatap Seunghyun sedikit bingung. Bertanya-tanya darimana Seunghyun mengetahui keberadaannya sebelum bertanya langsung pada pegawai yang sudah bekerja sangat lama di toko roti ayahnya "Darimana kau tahu aku ada disini?"

"Tidak penting Luhan, ada sesuatu yang lebih gawat. Papamu, dia-…."

"Papa? Papa kenapa?"

"PAPAMU DI PENJARA!"

"a-apa yang kau katakan hyung?"

"JAKSA OH MENGAJUKAN BANDING KASUS DUA PULUH TAHUN LALU! DIA SECARA LANGSUNG MEMENJARAKAN AYAHMU LUHAN!"

Luhan kehabisan nafas

Pikirannya kosong.

Dia juga tidak bisa merespon

Karena saat Seunghyun mengatakan Jaksa Oh memenjarakan ayahnya, maka itu artinya, secara tidak langsung, dia benar-benar sedang berperang melawan ayah kandung kekasihnya.

"tidak mungkin."

.

.

.

.

.

.

.

Kantor pusat Kejaksaan agung, Seoul, 21.15 KST

.

.

"apa yang—APA YANG TERJADI? KENAPA AYAH BERADA DISINI? KENAPA—PAPA!"

Sementara nafas Sehun tersengal hebat, maka tatapan tak berdaya di tunjukkan semua orang di ruang yang berbeda. Tak ada yang berani membuka suara, semua hanya diam dan terlanjur bungkam membiarkan Sehun ketakutan dan begitu cemas melihat ayah kekasihnya diperlakukan seperti seorang kriminal.

"KENAPA KALIAN HANYA DIAM? EOMONI! HYUNG! MA! PA!—sial! KENAPA KALIAN HANYA DIAM?"

"Sehun."

Sehun panik, dia begitu ketakutan. Suara ayah Luhan begitu tenang disaat harusnya dia memberontak karena diperlakukan seperti seorang penjahat "Aboji tunggulah sebentar. Aku akan memanggil penjaga untukmu—PENJAGA! CEPAT LEPASKAN AYAHKU!"

"Sehun…"

"SIAPAPUN CEPAT DATANG DAN LEPASKAN BORGOL DARI TANGAN AYAHKU! PENJAGA!"

"Nak tenanglah."

"Tenang? LUHAN AKAN MENJERIT MELIHAT AYAHNYA DIPERLAKUKA SEPERTI SEORANG PENJAHAT. LUHAN AKAN-…."

"INI SEMUA UNTUK LUHAN!"

"huh?"

Entah apa maksud ucapan semua untuk Luhan yang baru saja diteriakkan ayah kandung calon istrinya. Bagaimana mungkin dengan tangan di borgol dan mengenakan pakaian seorang narapidana ditujukan untuk Luhan, Luhannya.

Sehun diam cukup lama, dia tak lagi berteriak dan mencoba berfikir. Detik berikutnya dia kembali melihat seluruh wajah di ruang kerja ayahnya, matanya kembali melihat ayah Luhan di ruang investigasi untuk menemukan fakta bahwa mereka semua terlalu tenang jika ini menyangkut kejahatan.

"Bagaimana mungkin ini untuk Luhan? Apa yang terjadi aboji?"

Pria paruh baya yang tangannya kini diborgol jelas tersenyum lega, dia juga menatap lembut satu-satunya pria yang bisa membahagiakan Luhan untuk memintanya masuk dan berbicara dengannya "Masuklah, ayah akan menceritakan semua padamu."

Sehun tertarik, perlahan dia menutup pintu ruang investigasi untuk berbicara berdua dengan ayah kandung dari calon istrinya

Klik…

Setelah pintu tertutup Sehun berjalan mendekat, dia segera menarik kursi di depan kursi terdakwa dan merasa begitu sesak karena tak tega dengan situasi mereka saat ini "Kenapa kita harus bicara disini aboji? Kenapa kita tidak bicara di restaurant mewah atau kedai kopi favoritmu, kenapa kita harus—hks.."

"Sehunna."

"Luhan akan menangis melihatmu disini, aku tidak bisa melihatnya menangis, sungguh."

"Nak."

Dan saat tangan ayah Luhan menggenggam lembut tangannya, Sehun diam.

Dia tetap menundukkan kepala, mencoba untuk mengendalikan diri namun rasanya begitu sulit.

"Kau begitu mencintai Luhan ya?"

Sehun menganngguk tanpa ragu, Chen bahkan melihat air mata Sehun turun membasahi wajahnya namun dihapusnya dengan cepat "Syukurlah. Setidaknya papa tahu ada yang menjaga Luhan selagi ayah mendekam di penjara."

Kali ini Sehun mengangkat wajahnya, dia begitu ketakutan dan memohon agar para orang dewasa menyudahi hal gila yang bisa membuatnya kehilangan Luhan dalam hitungan detik "Sebenarnya ada apa? kenapa Papa harus mendekam di penjara?"

Chen tersenyum kecil, walau sedikit kesulitan dia tetap mencoba menghapus air mata Sehun. Membuat Sehun terenyuh dan tak memiliki pilihan lain selain menatap wajah sendu ayah kekasihnya "Pa?"

"Sehunna. Apa kau tahu ayahmu ini adalah seorang mantan detektif?"

"y-Ya aku tahu."

"Lalu apa kau tahu detektif ini benar-benar hebat ketika masih aktif?"

"Aku tahu."

"Bagus."

Sehun mendesah frustasi, digenggamnya kuat tangan ayah Luhan lalu tak lama dia menuntut jawaban "Sebenarnya apa yang ingin Papa beritahu?"

Chen tersenyum semakin lirih. Awalnya dia enggan membuka luka lama, tapi mengingat Sehun adalah orang yang akan bertanggung jawab atas hidup putra kecilnya maka rasanya salah jika terus bungkam dan tidak memberitahu Sehun kebenarannya.

"Sampai saat ini, apa kau tahu alasan mengapa Luhan kita tidak pernah ingin kembali ke Beijing? Kenapa dia begitu membenci tanah kelahirannya? Dan alasan mengapa dia selalu sesak nafas jika melihat kerumunan pria berjubah hitam? Apa kau tahu?"

Sehun bingung, selama ini yang dia tahu kekasihnya tidak memiliki teman, kekasihnya terus di-bully hingga membuatnya begitu benci dengan Beijing "Karena tak ada satupun teman yang dia miliki."

"Kau salah."

Sehun tergelak, tangannya mencengkram kuat jemari ayah Luhan untuk bertanya "Apa maksud ayah?"

"Luhan memiliki begitu banyak teman di Beijing."

"Apa yang terjadi?"

Chen tertunduk beberapa saat, hatinya seolah enggan menceritakan kenangan pahit namun rasanya harus dilakukan jika ingin seluruh rencananya berjalan lancar "Luhan hampir kehilangan nyawanya sewaktu kecil."

DEG!

Kali ini Sehun yang tidak bernafas, kepalanya tiba-tiba kosong, dengan seluruh suaranya tercekat saat menangkap kebenaran gila yang kini diungkapkan ayah kekasihnya "a-apa yang ayah bicarakan?"

"Ceritanya begitu panjang. Tapi semua ini berkaitan dengan profesi ayah dan kakekmu. Semua bermula dari sana."

"Ceritakan padaku, semuanya."

"Sejauh mana yang kau tahu?" Chen bertanya balik mengingat Sehun sudah mengetahui kebenaran bahwa dia tak pernah terlibat tentang kematian sang kakek.

"Alasan mengapa kakek meminta bantuan ayah, fakta bahwa tak ada sedikitpun bukti yang memberatkan ayah karena memang kakekku dibunuh oleh orang lain. Hanya sejauh itu yang aku tahu."

"Namanya Ko Donghoon."

"huh?"

"Pembunuh kakekmu."

Sehun tertawa lirih, kurang dari waktu sepuluh menit dia seolah ditarik ke masa lalu. Di paksa untuk mengetahui banyak hal yang awalnya enggan untuk dia ketahui. Dia hanya ingin hidup bahagia, tapi rasanya sulit mengingat semua hal yang terjadi di masa lalu memaksa dirinya untuk ikut andil dan mengambil bagian.

"Aku dengar dia melarikan diri."

"Ya kau benar nak. Dan sialnya, dia sudah berada di Seoul. Dia berada sangat dekat dengan kita."

"sial!.." Sehun menjambak kuat rambutnya. Yang diinginkannya hanya kebenaran mengapa semua ini berkaitan dengan Luhan, Kenapa dengan Luhan. Membuat kepalanya begitu sakit untuk meminta langsung penjelasan pada sang ayah "Lalu kenapa semua itu berkaitan dengan Luhan?"

"Karena Donghoon hampir membunuh Luhan dua puluh tahun yang lalu."

"tidak mungkin."

Sekali lagi Sehun merasa begitu mual, rasanya dia ingin memuntahkan seluruh isi perutnya agar merasa lebih baik –tidak- dia juga begitu sesak. Kepalanya benar-benar sakit membayangkan bahwa dia tidak akan pernah mengenal Luhan jika dua puluh tahun lalu Luhan tak berhasil diselamatkan "a-apa yang terjadi?"

"Alasan mengapa Luhan begitu benci semua yang berkaitan dengan Beijing adalah karena Donghoon menculiknya dua puluh tahun lalu."

"mwo?"

Wajah Sehun pucat tapi hatinya berkobar panas. Bahkan sebelum diminta dia sudah bersumpah untuk membunuh siapapun pria bernama Donghoon ini dengan kedua tangannya sendiri.

"Sejak saat itu Luhan memiliki trauma yang begitu parah."

"sayang."

Sehun berusaha tenang, walau dua tangannya kini terkepal erat. Nafasnya sesak, dadanya dipenuhi kemurkaan sementara dirinya mati-matian mengendalikan diri untuk bertanya

"Berapa lama bajingan itu menyekap Luhan."

"Dua minggu dengan seluruh memar di tubuh kecil Luhanku saat itu."

"brengsek."

Ingin rasanya Sehun berlari memeluk pria mungilnya. Mendekapnya erat seraya meminta maaf karena tak pernah mengetahui apapun tentang trauma kekasihnya yang begitu dalam, tentang bagaimana dia bisa bertahan hidup yang tak mungkin dilakukan oleh anak berusia enam tahun kala itu.

"Dia benar-benar akan membunuh Luhan karena ayah menghancurkan rencananya saat itu. Dia begitu murka dan terus mencari keberadaan ayah, ayahmu serta Luhan hanya untuk membalas apa yang telah kami renggut dari hidupnya."

Jika saja dia bisa bertatapan langsung dengan pria bernama Donghoon ini, pastilah Sehun tanpa ragu akan menghabisinya. Bukan karena dia seorang kriminal kelas berat tapi karena bajingan ini pernah menculik dan menyakiti Luhan serta membuat trauma yang begitu hebat pada pria mungilnya.

Sehun bersumpah, jika dengan rencana dua ayahnya bisa membuatnya bertatapan langsung dengan bajingan bernama Donghoon ini, maka tanpa ragu dia akan melakukan segala cara untuk bertatapan langsung dengan bajingan yang hampir mengambil nyawa calon istrinya.

"Apa rencana ayah?"

Mendengar kalimat Sehun yang menyatakan dia bersedia untuk bekerjasama, Chen tersenyum. Pria paruh baya itu kemudian mengambil lagi tangan Sehun hanya untuk mengatakan seluruh rencananya

"Belum lama ini ayahmu menemukan bukti bahwa bajingan itu kembali mendekati Luhan. Dia bahkan menggunakan kaki tangannya untuk bertemu dengan adikmu dan mencari tahu tentang Luhan."

"Jaehyun?"

"Ya Jaehyun adikmu. Dari Jaehyun dia mencoba mencaritahu tentang Luhan. Kami juga masih mencari tahu tentang bajingan ini, sepertinya dia salah satu kerabat terdekat kita."

"Lalu apa rencana ayah? Kenapa memutuskan untuk berada di dalam penjara?"

"Karena ini tempat paling aman agar bajingan itu tidak bertemu dengan Luhan."

"huh?"

"Begini nak. Jika dia masih begitu mengincar Luhan, itu artinya dia masih sangat ingin bertemu dengan ayah. Karena hanya dari Luhan dia bisa bertemu langsung dengan ayah."

"Lalu?"

"Lalu nanti, jika pintu ruang investigasi ini terbuka untuk media. Mereka akan segera menyebarkannya dengan cepat, berita tentang ayah akan dimuat di seluruh media televisi, surat kabar maupun radio. Kita bisa menggunakan keuntungan media untuk memancing bajingan itu datang ke penjara."

"Kenapa ayah begitu yakin dia akan datang ke penjara? Bukankah ini bunuh diri?"

Chen tertawa pahit, nyatanya Sehun sama sekali tidak mengetahui tentang dunia gelap yang berdampingan dengan dunia yang selama ini dia jalani. Dunia yang memaksa seseorang melakukan hal senekat apapun hanya untuk melampiaskan dendam pada orang yang sangat dia benci.

Karena jika Chen adalah Donghoon, maka rasanya dia akan melakukan segala cara untuk membunuhnya walau harus masuk ke dalam penjara sekalipun. Donghoon pernah sekali kehilangan Chen, maka rasanya dia tidak akan pernah kehilangan dirinya untuk yang kedua kalinya.

"Karena seperti dia, maka ayah juga ingin sekali membunuhnya."

"Apa maksudnya?"

"Aku mengenal bajingan itu sepanjang karirku menjadi detektif. Aku tahu siapa dia, apa yang ada didalam otak sialannya serta apa yang akan dia lakukan jika mendengar keberadaan ayah. Yang perlu kau lakukan hanya percaya pada ayah, pada ayahmu dan berjanjilah satu hal pada ayah." Katanya menatap Sehun penuh harap seraya menggenggam lembut jemari masa depan putra kecilnya.

"Janji?"

"Ya Sehunna, maukah kau berjanji pada ayah?"

"Apa?"

"Apapun yang terjadi, bagaimanapun reaksi Luhan nanti, Papa mohon jangan pernah beritahu dia tentang kebenaran dibalik jeruji yang akan ayah jalani."

"tidakmungkin. Luhan harus diberitahu."

"Jika kita memberitahunya, akan lebih mudah bagi Donghoon untuk memanfaatkan ketakutan Luhan. Kau tahu Luhan cenderung gegabah jika sedang emosi, jadi bisakah kita memberitahukan kebenarannya nanti, di hari pernikahan kalian?"

"aboji."

Sehun terenyuh, hatinya yang sedari tadi berkobar penuh murka dipenuhi dengan kebahagiaan tak terucap. Buru-buru dia membalas genggaman jemari ayah Luhan untuk memastikan "Apa kau merestui kami?"

Chen tersenyum haru, dia menatap penuh rasa terimakasih pada putra kedua Insung seraya menghapus air mata bahagianya "Tentu saja nak. Terimakasih sudah menjaga Luhan selama ini, maaf membuat kalian harus terpisah jarak dan waktu begitu lama, maaf."

Kali ini Sehun yang menghapus air mata bahagianya, dia kemudian memeluk sekilas ayah kandung Luhan untuk mengutarakan kebahagiannya bisa mencintai Luhan meski jarak membuat keduanya terpisah "tidak aboji. Jarak itu hanya membuat cintaku bertambah menjadi lebih banyak untuk Luhan, terimakasih sudah membuat kami mengetahui sulitnya mempertahankan cinta, sesaknya memperjuangkan cinta tanpa restu. Apapun yang ayah dan ayahku lakukan, itu semua hanya membuat cinta kami bertambah kuat, cintaku."

"Kau benar-benar mencintai Luhan?"

"Aku mencintainya dengan hidupku. Aku sangat mencintainya."

Rasanya tugas Chen sudah benar-benar selesai sebagai seorang ayah, karena saat Sehun mengutarakan siapa Luhan untuk hidupnya dan bagaimana dia begitu mencintai Luhannya, maka hanya kebahagiaan dan rasa syukur yang diam-diam dia ucapkan karena Tuhan menciptakan pria bertanggung jawab di depannya untuk menjaga Luhan kecilnya seumur hidup.

"Berjanjilah apapun yang terjadi kau akan selalu mencintai Luhan, nak."

"Sekalipun dia membenciku atau bahkan ingin membunuhku sekalipun, aku akan tetap mencintai Luhan, menjaga putra kecilmu aboji. Itu janjiku."

Chen benar-benar bersyukur. Diraihnya lagi jemari Sehun untuk mengucapkan rasa terimakasih terbesar yang bisa dia berikan sebagai seorang ayah yang kebahagiaan anaknya sudah dijanjikan oleh pria yang begitu mencintai putra kecilnya "gomawo Sehunna."

"Aku yang berterimakasih pada ayah. Terimakasih sudah menyelamatkan Luhan dua puluh tahun yang lalu, aku tidak akan pernah melupakannya aboji."

"Itu tugasku sebagai seorang ayah."

"Dan akan menjadi tugasku kelak sebagai seorang suami."

"Aku benar-benar tidak sabar, aku ingin minggu depan cepat datang."

"Aku juga. Cepatlah keluar dari balik jeruji. Setelah semuanya selesai kita harus hidup bahagia selamanya."

Chen mengangguk lalu menyanggupi permintaan Sehun dengan mengatakan "Ayah akan segera keluar dari balik jeruji. Kau siap?"

Kali ini giliran Chen yang bertanya, dibalas anggukan oleh Sehun "Aku siap."

Dan tak lama Chen memberi ibu jari pada petugas yang memantau dia dan Sehun dari layar, memberi tanda bahwa dia sudah selesai berbicara agar bisa langsung bertemu dengan media "Anda siap?"

"Lakukan."

Sementara dua penjaga sipir membawa Chen dengan tangan yang diborgol maka Sehun hanya mengantar dalam bisu kepergian ayah Luhan, bibirnya kelu untuk bersuara. Dia hanya sesekali melirik untuk mendengar Chen mengatakan "Ayah akan segera keluar darisini, tunggulah sebentar."

Sehun tertunduk. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana Luhan setelah ini, yang dia lakukan hanya berfikir cara menjelaskan tanpa harus menyakiti kekasihnya

"Sehun?"

"hmmh."

Wajahnya terangkat. Lima detik sebelum Chen bertemu dengan wartawan dia berpesan "Jaga Luhan."

Sehun pun mengangguk dengan cepat, menghapus cepat air matanya untuk tersenyum menjawab "Aku akan menjaganya dengan hidupku."

"gomawo nak."

.

.

Sementara itu…

.

.

"tidaktidak…kenapa ramai sekali? Apa yang terjadi? Kenapa banyak media?"

Sementara janji telah disepakati, maka Luhan –putra kandung Li Chen- adalah satu-satunya orang yang tidak mengetahui rencana yang dibuat sang ayah.

Pria berperawakan mungil itu begitu ketakutan. Wajahnya pucat, bibirnya kelu dan yang paling parah dia begitu lemas karena beberapa kali harus mendengar kalimat detektif Xi atau Li Chen atau membunuh dari para media yang kini berkumpul di depan kantor jaksa pusat.

Dimana mantan detektif Xi? apa benar Xi Lichen membunuh Presdir Oh dua puluh tahun yang lalu?

DEG!

"tidak…Ayahku tidak membunuh."

Semakin Luhan berjalan mendekat maka ucapan Seunghyun semakin terbukti nyata. Ucapan yang mengatakan ayahmu dipenjara seolah benar terjadi tatkala seluruh media terus menyebutkan kasus yang terdengar familiar untuknya.

Kasus mengerikan yang membuatnya dan Doojoon merasa begitu ketakutan karena diculik dan harus merasakan pukulan balok kayu di tubuh kecilnya dua puluh tahun yang lalu

"Apa benar Jaksa Oh Insung, putra mendiang Presdir Oh Yunsoo yang mengajukan banding dan ingin kasus pembunuhan Presdir Oh kembali di investigasi ulang?"

Luhan jelas mendengar pertanyaan tentang jaksa Oh yang mengajukan banding, membuat lagi-lagi ucapan Seunghyun terbukti ketika dia mengatakan Jaksa Oh yang memenjarakan langsung ayahmu

"Jadi benar aboji yang melakukannya."

Kakinya hampir tak bisa lagi berjalan.

Seluruh tubuhnya lemas. Terlalu lemas sampai tak sengaja telinganya mendengar jeritan dari beberapa wartawan "ITU DIA DETEKTIF XI! MEREKA MEMBAWANYA KELUAR!"

DEG!

Buru-buru mata Luhan mencari dimana keberadaan sang ayah, berusaha untuk mengelak bahwa itu adalah Detektif Xi, ayahnya.

"tidak, itu bukan papa."

Namun saat dua penjaga mengiringi sosok ayahnya masuk kedalam mobil khusus terpidana, maka disaat yang sama pula sosok ayahnya yang begitu kelelahan terlihat.

Membuat Luhan secara refleks berlari mendekat untuk menjerit pilu tak terima melihat ayahnya diperlakukan seperti seorang penjahat

"PAPAAAAAA!"

"Luhan."

Sehun mendengarnya, dia tahu cepat atau lambat Luhan akan mengetahui kabar gila ini. Dia tahu Luhan akan mendengarnya dari media, tapi ini terlalu cepat, pikirnya dan secara refleks pula berlari menyusul sang kekasih yang kini menyeruak di kerumunan media.

"MINGGIR! PAPAAAAA!"

"PAAAAAA!"

"Hey jauhkan pemuda itu!"

"tidak—LEPAS! LEPASKAN AKU!"

Luhan meronta saat dua tangannya di cengkram paksa oleh petugas. Membuatnya terus menjerit hingga tanpa sadar sang ayah menoleh, mereka bertatapan. Yang satu menatap rindu pada putra kecilnya sementara Luhan menatap begitu ketakutan karena ketidakadilan yang sedang dialami ayahnya.

"Papajanganpergi—PAPA—AARGHH!"

"Papa baik nak. Jaga dirimu, kita akan segera bertemu."

Begitulah kiranya pesan yang ingin disampaikan Chen, dia kemudian memalingkan wajah untuk ikut masuk ke dalam mobil yang telah disiapkan untuknya "tidaktidak—PAPA JANGAN PERGI—LEPAS!"

Sret….

"JANGAN PERNAH MENYENTUH KEKASIHKU!"

"sehun.."

Luhan begitu familiar dengan lengan yang sedang mendekapnya, aroma yang begitu ia sukai kini bahkan seperti aroma therapy yang menenangkan. Jadi saat suara kekasihnya terdengar maka rasanya Tuhan begitu baik mengirimkan satu-satunya tempat yang bisa digunakannya untuk mengadu.

"sayang…"

Luhan melepas pelukan Sehun, tangannya menyatu erat seolah berdoa dan sangat memohon agar Sehun menolong ayahnya "Kumohon bantu aku, jangan biarkan mereka membawa papa. Sehun—hkss…Tolong aku sayang."

Tak tega, Sehun menitikkan air mata, dia begitu terdesak dengan keadaan, karena disaat dia harus menjaga janji dengan ayah kekasihnya maka disaat yang sama pula dia harus menyakiti hati dan mental kekasihnya sendiri.

"Sehunkumohonbantuaku—hks…Papa bukan pembunuh—PAPA!"

Bunyi sirine menandakan bahwa ayahnya telah dibawa menuju penjara kejakasaan. Hati Luhan hancur melihat tak ada satupun yang membantu papanya.

Tidak sang mama yang entah mengapa hanya berdiri disana.

Tidak Yunho

Tidak pula kekasihnya yang hanya diam dan terus menitikkan air mata sialannya!

"Kenapa kau hanya diam? Kenapa kau—OH SEHUN!"

"Luhan."

Buru-buru Sehun menarik lengan kekasihnya. Mendekapnya begitu erat seraya mengucapkan maaf karena menyakiti hatinya disaat lelah sudah sangat terlihat di wajah si mungil "Tenanglah Lu. Kita bicara esok pagi."

"LEPAS!"

Luhan mendorong kasar tubuh Sehun, dia tak butuh lagi perlindungan karena nyatanya Sehun juga tak bisa memberikan perlindungan padanya "Lu."

Refleks, Luhan mundur saat Sehun hendak memeluknya lagi. Sungguh, dia tidak mengerti apa yang terjadi malam ini. Yang dia tahu Sehun hanya diam dan tak melakukan apapun untuk membantunya. Yang dia lihat seluruh orang terdekatnya juga hanya diam dan membiarkan polisi membawa ayahnya ke penjara.

Itu menyakiti hatinya, sungguh.

Dan ketika kemarahan sedang dirasakan oleh satu-satunya putra Chen dan Baby, maka tak sengaja matanya menemukan sosok yang merupakan kunci dari semua malam mengerikan yang harus dihadapi ayahnya saat ini.

Sosok angkuh yang selalu bersembunyi dibalik kekuasaan jubah hitam-merahnya.

Mata Luhan terkunci pada sosok yang dulu begitu menyayanginya namun selama enam tahun terakhir ini sibuk membencinya. Sosok yang hingga kemarin masih dia kagumi namun malam ini rasa kagumnya berubah menjadi rasa benci yang berbalik pada ayah kandung kekasihnya, Oh Insung.

"sial!"

Jika ini cara ayah Sehun untuk membalasnya, maka sang jaksa menang.

Pernyataan perangnya dan Sehun kemarin malam nyatanya dibalas berkali-kali lebih kejam malam ini.

Luhan murka, terlalu murka.

Tangannya terkepal erat.

Matanya fokus pada sosok sang jaksa yang merupakan ayah kandung kekasihnya.

"Lu, sayangku."

Dia mengabaikan panggilan lirih pria yang minggu depan akan resmi menjadi kekasihnya. Entah pernikahan itu akan berlangsung atau tidak, Luhan tak peduli.

Yang dia pedulikan hanya berhadapan langsung dengan jaksa terhormat yang menggunakan kekuasaannya untuk membalas rasa benci terhadap dirinya "kenapa kau melakukan Ini padaku, aboji?"

Kemarahan Luhan sudah terkumpul di kepalan tangannya. Kakinya terus melangkah mendekat hingga tanpa sadar Luhan sudah berhadapan langsung dengan sosok yang dulu begitu ia kagumi.

Keduanya melempar pandangan yang berbeda.

Jika Luhan dipenuhi benci dan kemarahan

Maka sang jaksa menatapnya sendu, seolah meminta maaf dan menyesal karena malam mengerikan yang harus Luhan alami saat ini.

"nak."

Kali ini Luhan mengabaikan panggilan lembut ibunya, yang dia lakukan hanya terus menatap murka pada sang jaksa. Tak mempedulikan apapun selain menyuarkan hancurnya hati seorang anak melihat ayahnya disakiti dan diperlakukan layaknya seorang pembunuh.

"ANDA KETRLALUAN JAKSA OH!"

.

.

.

.

.

.


tobencontinued

.


.

.

.

.

.

Jengjeng! Ini masih ada kemungkinan kewong kok minggu depan, mudah2an :""

.

Ah ya, yang nanya Doojoon siapa, yang belum tahu doi siapa, dia mantan anggota Beast sekarang nama B-bandnya jadi Highlight,
Ganteng ga? POL gantengnya. Tipe cucok buat selingkuh mah wkwkwk

.

Terus yang selalu berdoa biar luhan ga dinistakan dan gantian Sehun yang gue "aniaya" karaktenya, Cuma di JTV adanya :"..

Deal-dealan ga maki2 Luhan loh ya klo nanti kedepannya dia jadi keji bin sarap.

Karena biasanya klo uke dibuat jahat itu GATAU KENAPA HATERSNYA lebih banyak dari SEME SIALAN TUKANG SELINGKUH *pengalamanshay.

Jangan najisun Luhan pokoknya!

Soale chap depan bener2 TENSIN SIAP2 NAEK DARAH DUH! :"

.

.

.

Oke,oke ketemu soon lah ya.

Oh ya lagi, JANGAN PERNAH MINTA GUE BUAT FF SELAIN HUNHAN! READ BIO GUE BIAR GA KENA SEMPROT CEM WANGI KESTURI :"

,

GA ADA HUNBAEK APALAGI HUNSOO.

ADANYA CUMA HUNHAN feat KAISOO-CHANBAEK dan OTP YANG NGETOP CEM YUNJAE dkk :p

GARA2 AFB BANYAK YANG REQ ANEH-ANEH -_-

.

-sekian-

.

DAN SELAMAT MENUNGGU MV KOKOBOP

.

:*